Inspirasi dari Desa, MEMBANGUN PARTISIPASI DI TENGAH KEBERAGAMAN

LOMBOK UTARA — lombokjurnal.com

MEMIMPIN desa yang masyarakatnya heterogen, baik agama, suku, sosial budaya, adat-istiadat dan lainnya, seperti Desa Bentek Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, tentu memiliki kesulitan tersendiri. Namun sosok Warna Wijaya, Kepala Desa (Kades) Bentek, mampu membangun partisipasi dan keterlibatan lebih luas pada masyarakatnya di tengah semangat pluralitas. Dengan kebijakan dan regulasi yang demokratis, tak heran jika desa ini mampu meraih penghargaan hingga level provinsi bahkan nasional.

Desa Bentek dihuni beragam suku, Sasak, Mbojo, Bali, dan lainnya. Juga beragam agama, Islam, Budha, Hindu dan Kristen. Dengan jumlah penduduk 9.000 jiwa lebih yang tersebar di enam belas dusun (Kakong, Serungga, Batu Ringgit, Selelos, Senggaran Goa, San Baro, Dasan Bangket, Lowang Sawak, Todo Daya, Todo Lauk, Buani, Karang Lendang, Luk Pasiran, Lenek dan Baru Murmas).

Sebagian masyarakatnya bertani di lahan basah dan juga lahan kering sekitar bukit. Sebagian lagi warga yang tinggal berdekatan dengan laut sebagai nelayan. Sebagai daerah pinggiran kota, ada pula warganya yang berprofesi sebagai pedagang dan pelaku usaha.

Menyatukan masyarakat dalam perbedaan itulah yang justru menjadi rahmat sekaligus tantangan bagi Warna Wijaya dalam membangun Bentek. Membangun partisipasi sekaligus menggerakkan masyarakat melalui pendekatan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan tokoh pemuda. Ditunjang peran LPM, PKK hingga mengoptimalkan fungsi perangkat desa hingga ke tingkat RT/RW. Termasuk memberdayakan kelembagaan masyarakat desa lainnya seperti Karang Taruna, LPTQ, Remaja Masjid, Pemuda Budis, Teruna Dedare, Majelis Adat dan lembaga-lembaga yang lain.

“Kita merangkul semua elemen dan kita berdayakan masyarakat,” cetus Warna saat berbincang dengan lombokjurnal.com, Sabtu (20/08), tentang konsep sederhananya membangun partisipasi publik secara luas.

Pun, masyarakat juga dilibatkan secara aktif dalam pengambilan kebijakan desa secara demokratis. Terutama dalam penyusunan Peraturan Desa (Perdes). Contohnya Perdes APBDes, Perdes Sistem Pengelolaan Air Minum Desa, dan Perdes Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa). Sebelum disahkan BPD, Kades dan Tim Legislasi Desa turun menyerap aspirasi warga, meminta saran dan masukan dari masyarakat. Kemudian disosialisasikan, apakah layak atau tidak Perdes tersebut diterapkan di Bentek melalui uji publik atas rancangan peraturan desa yang dibuat.

Kalau layak, seperti apa sanksi yang diterapkan jika terjadi pelanggaran dikemudian hari. Sehingga Perdes yang dihasilkan benar-benar mendapatkan dukungan dan legitimasi dari warga masyarakat. “Termasuk kala sanksi diterapkan bagi mereka yang melanggar Perdes, juga tidak ada yang protes,” ujarnya.

Di Bentek juga terdapat Perdes yang mengatur Pembentukan dan Pengelolaan BUMDes, di dalamnya juga diatur usaha-usaha kecil dan menengah mulai dari usaha yang berskala rumah tangga hingga berbentuk usaha dagang. Termasuk usaha berjenis koperasi, kelompok pengusaha hasil bumi. Semuanya diatur. Intinya, mengatur lalu lintas pengusahaan perekonomian masyarakat desa. Tapi bukan pajak, karena bertentangan dengan aturan diatasnya. Bentuk kontribusi para pelaku usaha/pengusaha untuk ikut andil peran membangun desa.

Beberapa program unggulan juga diluncurkan dalam mengoptimalkan potensi desa. Mulai dari pertanian sebagai program prioritas. Terutama dengan hadirnya Kelompok Tani dan Kelompok Ternak yang mengelola ternak sapi dan kambing sejak dua tahun lalu didukung oleh instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan dan Perikanan.

Program unggulan lain adalah pengembangan usaha industri kecil dan rumah tangga seperti kelompok usaha batako, papin blok, kerajinan tangan, pertukangan, anyaman akar kelapa dan anyaman bambu dan pelbagai usaha sejenis. Dari kelompok inilah produk-produk kerajinan disebar ke wilayah lainnya di Lombok Utara. Produk-produk kerajinan ini telah diperjualbelikan di Pasar UKM kabupaten dan bahkan dipasarkan di wilayah-wilayah wisata di bumi Tioq Tata Tunaq, baik di gili matra maupun senggigi, luar daerah seperti Bali dan Jawa, bahkan mancanegara.

Saat ini, Pemerintah Desa sedang mendorong pembentukan dan pengembangan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di setiap dusun di Bentek. Fokus utamanya, wisata budaya dan wisata religi bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara. Memuluskan niat ini, ke depan rencananya akan menggandeng para pelaku wisata. Aksi nyata untuk mendukung obsesi ini, tahun depan pemerintah Desa Bentek berencana akan membangun kawasan wisata religi dan budaya di Buani, Baru Murmas, dan beberapa dusun lainnya di Bentek. Pasalnya Bentek termasuk salah satu desa di Lombok Utara yang kaya potensi destinasi wisata.

Tinggal bagaimana menggerakkan potensi itu untuk mendulum akselerasi pembangunan desa. Gebrakan ini telah dimasukkan dalam RKP Desa tahun 2015. “Ke depan, kita butuh dukungan Pemkab melalui SKPD terknis untuk Promosi Buani dan Baru Murmas masing-masing sebagai dusun wisata religi dan wisata budaya,” harap Warna.

Salah satu dusun yakni San Baro juga telah dicanangkan sebagai Kampung Pendidikan di Desa Bentek. Rencana inipun telah dikoordinasikan dengan SKPD terkait agar “dikepung” dengan program dan sebagian telah terealisasi sesuai harapan, seperti pendirian lembapa pendidikan anak usia dini (PAUD) Harapan Bangsa pada 2011. Berikutnya, pada 2014 gedung PAUD Harapan Bangsa pun dibangun melalu back up program nasional pemberdayaan masyarakat perdesaan (PNPM-MPd). Kemudian, pembangunan Mushalla Sekolah Dasar Negeri 5 Bentek 2013 dilanjutkan rehab gedung ditahun yang sama. Selanjutnya penembokan keliling halaman SDN 5 Bentek 2014.

Bantuan pembangunan fisik lembaga pendidikan pun “mengepung” Dusun San Baro seperti pentaludan areal Ponpes Aljariyah 2013 dan 2014, pembangunan gedung RKB MTs Aljariyah tahun 2015 serta pentaludan di sekitar gedung MTs tahun 2016 ini.

Di samping itu, bantuan-bantuan program lain pun ikut mengepung San Baro. Misalnya bantuan pupuk, MCK Umum, jamban keluarga, hingga program rumah kumuh serta sanitasi lingkungan dan air bersih lewat program Pamsimas. Potensi lain yang sedang digarap membentuk Lembaga Adat Desa dengan mencanangkan pembentukan Majelis Krama Desa. Berikutnya telah dicanangkan juga pembentukan kelengkapan pranata adat di aras dusun (Majelis Krama Adat Dusun) untuk mengembangkan, menegakkan dan sekaligus meneguhkan nilai-nilai adat-istiadat di tengah masyarakat sebagai upaya pelestarian terhadap warisan leluhur terdahulu agar tidak tergerus oleh kemajuan pesat budaya modern yang tak terbantahkan akibat efek arus globalisasi dunia.

Di bidang keagamaan misalnya, pemerintah Desa Bentek pada tahun 2013 telah membentuk LPTQ Desa Bentek – lembaga yang fokus pada fungsi mengembangkan dan memfasilitasi pembelajaran alquran kepada warga masyarakat terutama generasi muda muslim desa sesuai kaidah-kaidah ilmu tajwid dan ilmu-ilmu seni baca alquran. Berikutnya, Pemdes Bentek juga mendorong para aktivis LPTQ desa membentuk lembaga-lembaga TPQ di setiap dusun di Bentek – kepanjangan tangan LPTQ desa dalam memberdayakan serta memfasilitasi anak-anak di kampung dalam belajar dan menghayati alquran beserta makna yang terkandung di dalamnya.

Begitu banyak terobosan yang dibangun Kades dan masyarakatnya di Bentek diganjar dengan banyak penghargaan. Juara Umum MTQ Kecamatan Gangga empat kali berturut-turut (2011, 2012, 2013 & 2014). Juara II Lomba Desa Kabupaten Lombok Utara 2012. Juara I Permata Provinsi NTB (2013), Juara III Permata tingkat Nasional (2013) dan masih banyak penghargaan lainnya yang telah disabet. “Semua prestasi yang telah diraih ini diawali dengan memberi ruang yang luas kepada warga untuk ikut terlibat secara aktif dalam setiap program pembangunan. Kuncinya, semua dimulai dari membangun partisipasi masyarakat,” pungkasnya.

djn

 

 




Jazz & World Music Festival; Bukan Sekedar Tuan Rumah

SENGGIGI – lombokjournal.com

Musisi juga perlu mendapat suntikan vitamin.  Kehadiran musisi kaliber dunia yang tampil dalam event “Pesona Senggigi Jazz & World Music Festival 2016” ibarat vitamin yang memberi gairah musisi Lombok. “Event Jazz & World Music ini penting dan sangat diperlukan untuk merangsang kreativitas musisi kita,” kata Ari Juliant, di tengah semaraknya hari kedua performing Jazz & World Music di Senggigi, Minggu (22/8) malam.

Sampai hari kedua, semua musisi dari mancanegara, seperti Log Sanskrit feat Banu (India), Cellomano (Venezuela), Danne The Riddim (Jepang) sudah mewarnai irama pantai Senggigi. Hanya Mark Heyward (Australia) yang urung datang. Tak ada penjelasan mengenai alasan ketidakhadirannya.

jazsenggigi,21Agustus2

IVAN NESTORMAN

 

Namun ketidakhadiran Heyward tak mengurangi kerennya hajadan berkumpulnya musisi kelas dunia di pantai Senggigi. Malam itu, sebut saja Bonita & The Hus Band –yang albumnya berjudul ‘Small Miracle’ tahun 2014 masuk dalam jajaran album terbaik versi majalah Rolling Stone – dengan powerfull suaranya mengusik energy positif penonton yang sebagian besar duduk di pasir pantai.

Waktu ia mengakhiri penampilannya dengan lagu nostalgik, penonton bertepuk tangan sambil berdiri. Penonton yang mengapresiasi performance putri dari Koes Hendratmo (artis dan presenter fenomenal yang hingga kini masih berpenampilan segar) itu sebagian besar adalah wisatawan bule.

Dan yang tak terlupakan, penampilan Ivan Nestorman, musisi di Flores-Nusa Tenggara Timur yang malam itu seperti biasa memadukan unsur (berbagai alat musik) etnik dalam irama Jazz yang dimainkannya. Misalnya malam itu, ditampilkan pemain musik warga Senegal yang piawai dengan instrumen tradisi Afrika. Ada juga instrumen angklung yang dimainkan dengan dinamis.

Memang banyak di antara penonton yang belum tahu siapa Ivan Nestorman. Padahal ia pernah menulis lagu yang kemudian dipopulerkan penyanyi Chrisye (alm).  Ia juga menggarap aransemen dan lirik untuk penyanyi seperti Glenn Fredly, Edo Kondologit, Franky Sahilatua, Black Sweet, Andre Hehanusa, dan banyak penyanyi lainnya.

Karyanya Nera  merupakan hasil kolaborasinya dengan penabuh drum kondang, Gilang Ramadhan. Bersama Dwiki Darmawan dan Dira Yulianti, menghasilkan karya world peace orchestra. Di antara musisi yang tampil hari kedua, hanya Ivan dengan irama Jazznya bisa mengajak sebagian besar penonton malam itu ‘bergoyang’.

Para alumni ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja malam itu dengan projek musik Subkultur Artificial (didirikan tahun 2013) membawa konsep bermusik yang unik. Seluruh pemainnya masing-masing membawakan alat musik tradisional dari daerah masing-masing.  Namun instrument tradisi itu dikawinkan dengan unsur musik. ‘dunia’.

Jadilah ramuan musik yang dibarengi pemikiran sosiologis.  Eksperimentasi musik yang dilakukan Enriko Gultom dan kawan-kawannya jebolan ISI itu, tidak menganggap musik berhenti sebagai musik.  Seperti seni lainnya, musik juga merepresentasikan masyarakatnya.

Karena itu mereka menganggap pertunjukannya sebagai dialektika desa-kota, lokal-internasional, dan tentu saja juga terjadi dialog Timur-Barat. Namun pertunjukan malam itu mendapat sambutan meriah dari penonton yang meskipun terasa agak ‘aneh’ tapi bisa menikmati musik eksperimentasi itu. Mereka melengkapi musisi nasional lainnya yang rata-rata tampil ciamik.

Bukan SekedarTuan Rumah

Untuk musisi luar negeri yang tampil dalam ‘Jazz & World Musik Festival’ itu tentu tak diragukan lagi mendapat apresiasi besar penontonnya. Tapi bagaimana dengan musisi Lombok(NTB), seperti Dipa & Friends, The Datu Band, Novee Nhavan, Keroncong Bandini, Pipiet Tripitaka & The Jazz Kidding dam lainnya termasuk yang tampil di hari pertama?

“Lombok tak kekurangan musisi berbakat. Mereka siap disandingkan dengan musisi nasional,” kata Ari Juliant mengomentari performance rekan-rekannya..

Seperti halnya hari pertama, pada pertunjukan hari kedua musisi tuan rumah juga tak kalah dengan musisi dari luar. Adanya event ‘Jazz & World Music Festival’ merupakan bagian menciptakan iklim dan atmosfer kreativitas musik di Lombok.

Musisi Lombok memang bisa belajar dari mana pun, tapi mereka juga mempunyai potensi dan bakat yang layak mendapat kesempatan tampil. Karena itu, menurut Ari, harus ada dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah, agar event semacam bisa berkelanjutan.

Imam Sofian
Imam Sofian

Imam Sofian, owner dari Bandini Koffee yang menjadi salah satu penggagas event ini, sependapat untuk menciptakan iklim lebih menggairahkan kreatifitas musisi, secara khusus musisi Jazz. “Event seperti ini untuk memperkuat komunitas Jazz NTB, dan harus berkelanjutan tiap tahun,” katanya.

Sebab ‘Jazz Pantai’ yang baru berlangsung tahun 2016, tentu akan menambah daya tarik Senggigi sebagai destinasi wisata. Karenanya diperlukan persiapan lebih matang, sehingga akan meningkatkan kualitas event.

“Baik sosal-soal teknis maupun materinya yang akan ditampilkan musisi Lombok juga harus disiapkan matang. Even seperti ini menjadi ajang peningkatan kualitas,” kata Iman.

Jadi ada dua tujuan sekaligus. Pertama, menguatkan destinasi wisata, itu berarti menjadikan even itu sebagai ikon yang jadi daya taris wisatawan. Dan kedua, dengan adanya even ini mendorong musisi Lombok tertantang meningkatkan kualitasnya.

“Kita tidak ingin sekedar jadi tuan rumah,” kata Imam.

Suk

 

 

 

 

 




Pesona Jazz Festival Memikat Wisatawan

SENGGIGI – lombokjournal.com

Lombok jadi ajang kiprah musisi Jazz dunia. Itulah sasaran yang dituju event “Pesona Senggigi International Jazz & World Music Festival 2016” yang mulai digelar hari Sabtu (20/8) sore sekitar pukul 17.00 wita hingga malam hari. Selain membuka kesempatan musisi lokal berbakat bermain satu panggung dengan musisi jazz internasional, event yang berlanjut hingga hari Minggu (sore sampai malam) itu diharapkan jadi pemikat wisatawan. “Ingat jazz, ingat Senggigi,” kata Ais M. Mashoud, project manager di event musik jazz itu.

P_20160820_173109

TOMSTONE

 

Jalan menuju pantai Senggigi yang sejalur jalan menuju Hotel Senggigi Beach, Sabtu sore sempat macet. Sepanjang jalan yang tak terlalu lebar itu dipenuhi deretan mobil yang diparkir, termasuk mobil Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid. Mulai jalan besar hingga mendekati pantai dipenuh mobil dan sepeda motor.

aismashoud
Ais M Mashoud

Ramainya kendaraan yang diparkir, tak lazim seperti hari-hari sebelumnya. Memang tak ada areal  parkir khusus bagi peminat musik jazz yang tampil di tiga stage yang disiapkan. Dua stage besar ada di pinggir pantai, yang satu di depan villa Senggigi.

Dua stage di pantai itu, sejak pembukaan langsung mencuri perhatian penonton. Di stage satu yang mengawali tampil adalah TOMSTONE. Talent lokal ini bisa dibilang terbaik yang ada di Lombok, sangat populer di kalangan ‘blues community’. Dan sore itu, Tomstone bisa berinteraksi dengan penonton yang sebagian besar wisatawan bule.

Juga Ari Juliant yang tampil di stage lainnya dengan “Bajigur Bluegress’-nya, tak perlu disangsikan kemampuan dan semangatnya berinteraksi. Musisi balada ini selalu menghibur audiennya, meski lirik lagu-lagunya banyak menyampaikan kritik sosial atau lingkungan. Itulah kesenian, menyentil tanpa menyakiti. “Ari hidup di daerah tapi bukan kelas lokal,” kata seorang wartawan.

Memang, kalau Ari Juliant tentu bukan – seperti yang dimaksud panitia — sebagai talenta lokal yang kurang mendapatkan kesempatan tampil di panggung nasional.  Ari dikenal sebagai ‘musisi gerilya’ yang sudah banyak menjelajah ke berbagai tempat. Bahkan ia pernah tampil di pelosok pedesaan di Austria dan Belanda.

ari2

BAJIGUR BLUEGRESS

 

Ari merupakan salah satu musisi yang konsisten menolak masuk dalam dunia industri. Panitia memang berharap event ini bisa menambah skill dan kepercayaan diri talent lokal,  yang akan berdampak pada industri musik lokal, tentu bukan dimaksudkan untuk Ari Juliant.

Meski berlabel ‘Jazz Festival’ namun hari pertama penyelenggara cukup jeli dengan menampilkan grup berakar tradisi tapi kreatif dari Rumah Budaya Paer Lenek (Lombok Timur). Selain itu juga tampil Bandini Koffe Jazzz Projet, Nissant Fortz, Rian Rusliansyah & Friend, Dipa & friends, Log Sanskrit dan Yura.

Waktu penyelenggaraan yang dimulai sore hari cukup menarik. Sebab menikmati musik di pantai sampai menjelang sunset juga memberi daya tersendiri.

Menurut Ais, menampilkan beberapa kelompok musik itu juga mempunyai motivasi menyatukan seniman yang selama ini sering bergerak sendiri-sendiri. “Mengajak seniman untuk bersinergi, itu juga sangat penting,” kata Ais.

Pilot Project

Ais Mashoud mengatakan, konsep event “Pesona Senggigi International Jazz & World Music Festival 2016” yang didukung Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan pertama digelar di Lombok ini, dianggap sebagai pilot project untuk penyelenggaraan event berikutnya.  Apa yang sudah dikerjakan hari ini akan menjadi evaluasi untuk perbaikan penyelenggaraan berikutnya.

Sebagai daerah wisata, NTB khususnya Lombok masih belum mempunyai event musik berskala internasional. Di berbagai tempat sudah lama berlangsung hajatan musik jaz, seperti Prambanan Jazz Festival, Dieng Jazz Festival, Ijen Jazz Festival atau Ubud Jazz Festival. “Mulai tahun 2016, di Senggigi mulai menggelar festival jazz dunia. Ini akan disusul tahun berikutnya, dan seterusnya,” ujar Ais.

Tekadnya itu bukan tanpa alasan kuat. Menurut Ais, Lombok mempunyai keindahan alam tidak kalah dengan daerah lain. Karena itu penyelenggaraan event ini makin menguatkan daya tarik Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan keyakinan akan kuatnya daya tarik Lombok, meski umumnnya penyelenggaraan festival jazz di berbagai tempat itu berlangsung bulan Agustus, di Lombok tetap berlangsung juga pada bulan Agustus tanpa khawatir kalah bersaing.

“Kita cari moment peak sesason, karena itu tahun berikkutnya tetap diselenggarakan bulan Agustus. Apa pun yang terjadi. The show must go on.. Tiap wisatawan akan mengenang event ini,” kata Ais. Ternyata pertunjukan hari pertama itu dibanjiri penonton, dan itu menjawab pesimisme orang sebelumnya, tambahnya

Bagaimana pun “Pesona Senggigi International Jazz & World Music Festival” tak lepas dari promosi Pesona Indonesia atau Wonderful Indonesia. Seperti diketahui, branding Pariwisata Indonesia untuk mencapai target 20 juta wisatawan tahun 2019 adalah pesona Indonesia atau “wonderful Indonesia”.

Kata  “Wonderful” atau “Pesona” merupakan janji tentang Indonesia yang selalu menakjubkan. Senggigi memiliki pesona yang luar biasa dari segi keindahan alamnya dan keramahan penduduknya, dengan event ini diharapkan makin meningkatkan pesona Senggigi untuk memikat wisatawan nusantara maupun mancanegara.

“Ingat jazz, ingat Semggigi,” tegas Ais.

Suk




Rinjani Makin Diminati, Soal Sampah Belum Teratasi

MATARAM – lombokjournal.com

Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang berjuang menjadi Uninesco Global Geopark –dan menjadi daya tarik utama pawisata  NTB – ternyata belum bisa mengatasi soal sampah. “Rinjani sudah sejak lima tahun lalu jadi program wisata, tapi lingkungan Rinjani salah satu ikon pariwisata NTB itu masih penuh sampah,” kata Haris Andi, salah seorang pengelola tracking tour Rinjani kepada Lombok Journal, Jum’at (19/8).

Grup wisatawan domestik yang melakukan pendakian ke Rinjani, tutur Haris, mengaku kecewa. Meski memuji keindahan Rinjani, namun romobongan wisatawan domestik dari Jawa Timur itu membenarkan bahwa Rinjani memang masih penuh sampah.

Rinjanipenuhsampah,19Agustus3
Haris Andi

“Saya kira berita selama ini dibesar-besarkan, ternyata memang Dinas Pariwisata atau pihak terkait tidak bisa mengurus asetnya,” ujar Eko seperti ditirukan Haris.

Eko mengaku baru pertama naik Rinjani, terpesona keindahan gunung di Lombok yang menurutnya punya banyak kisah menarik. Sayangnya, dibanding gunung lain yang pernah didakinya seperti Gununng Semeru, Pangrango, Merbabu, atau Merapi, lingkungan di Rinjani paling kotor.

“Dibanding gunung lainnya, Rinjani yang benar-benar jadi ikon pariwisata. Memang sebagai taman nasional ada pihak yang punya tanggung jawab. Tapi sebagai obyek wisata yang penting, mestinya Dinas Pariwisata jangan berlagak bego seperti itu,” ujar Haris Andi.

Pihak TNGR seperti diketahui, selama ini membebankan kebersihan itu pada para pendaki. Itu bisa saja, tapi tak cukup hanya menunggu seperti itu. Karena hanya pasif, survei yang pernah dilakukan Komunitas Sapu Gunung, di Taman Nasional Gunung Rinjani seluas 40 hektare yang terbentang di tiga kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini rata-rata sampah yang dihasilkan sebanyak 160,24 ton per tahun.

Meski demikian, termasuk kebanjiran pendaki. Puncaknya pada bulan Agustus, sedikitnya 100 orang yang naik ke Rinjani per hari. Atau lebih dari 36 ribu per tahunnya. Dengan tarif Rp150 ribu per hari untuk wisatawan mancanegara dan Rp5 ribu per hari untuk wisatawan domestik (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 12/2014), cukup banyak pemasukan dari Rinjani.

Haris mengatakan, selain tarif pendakian tentu dengan banyak wisatawan yang mendaki Rinjani, banyak sektor lain ikut menikmati, seperti transportasi, guide, porter atau penginapan. “Wisatawan dari Malaysia makin banyak yang berminat ke Rinjani, tapi mereka selalau mengeluh soal sampah itu,” cerita Haris Andi yang pengusaha garmen dan memproduksi kaos dengan desain Rinjani.

Pihak Kementerian Pariwisata sendiri juga mengaku prihatin soal sampah, atau kebersihan umumnya, di banyak destinasi wisata di NTB.  Misalnya, waktu Menteri Pariwisata Arif Yahya datang ke Mataram beberapa waktu lalu, sempat akan membantu tempat toilet contoh di beberapa resor di Lombok.

Itulah sebabnya daya saing pariwisata Indonesia, termasuk NTB, termasuk rendah,  berada di peringkat 135 dari 141 negara.  Ini termasuk indeks lingkungan di Rinjani juga sangat rendah.

Rer.




Donald Trump Sebenarnya Ogah Jadi Presiden

Pembuat film dokumenter, Michael Moore mengatakan mendapat bocoran, Donald Trump sebenarnya tidak ingin menjadi Presiden Amerika Serikat. Kandidat Partai Republik itu justru menyabotase kampanye sendiri agar gagal menuju ‘Ruang Oval’ (Kantor Presiden di Gedung Putih).

Henry Barnes, 17 August 2016

Michael Moore, 17 Agustus 2016
Michael Moore, 17 Agustus 2016

Dalam artikel yang ditulis di The Huffington Post, Moore menyatakan, Trump hanya menjadikan masa berlangsungnya pemilihan presiden sebagai taktik bernegosiasi. Milyarder itu, berharap ia memanfaatkan momentum pilpres untuk minta bayaran tinggi dari NBC.

Trump sebelumnya pernah menjadi bintang reality show TV “The Apprentice”. Tapi acara dihentikan karena ia imigran Meksiko seagai “pengedar narkoba” dan “pemerkosa” pada awal kampanyenya.

Menurut Moore, tanpa menyebutkan sumbernya, Trump terus kampanyenya hanya untuk meningkatkan tarifnya dengan jaringan stasiun televisi lainnya.

Moore lebih jauh menulis, Trump jadi mabuk karena kampanyenya menjadi perhatian. Mungkin saja, siapa pun akan mengalami hal yang sama dengan perhatian besar dari publiknya. “Trump jatuh cinta lagi pada dirinya sendiri, dan ia melupakan misinya untuk mendapatkan kesepakatan yang baik untuk acara TV,” tulis Moore.

Serangkaian insiden dalam beberapa minggu belakangan, membuat popularitas Trump merosot. Serangan Trump pada keluarga Humayun Khan, seorang tentara Muslim Amerika yang tewas saat bertugas di Irak – termasuk pernyataannya yang menyerang Hillary Cllinton terkait “Amandemen Kedua” – merupakan perilaku aneh Trump untuk “bunuh diri”.

Namun krisis tiga minggu terakhir “bukanlak insiden”. “Bisa jadi semua itu semua itu bagian strategi yang justru untuk “segera keluar dari neraka kompetisi” sebab Trump tidak berharap meneruskan kampanyenya.”

Moore akhirnya mengisyaratkan, bahwa Trump hendak melepaskan pencalonannya sebagai kandidat  Partai Republik daripada menderita karena kekalahannya.

“Percayalah, saya sudah bertemu Trump. Menghabiskan sore dengan dia, ” tulis Moore.

Trump malah lebih suka mengundang Clinton dan keluarga Obama untuk menghadiri pernikahannya dengan isteri berikutnya. Sebenarnya trump sudah membaca firasat kurang menguntungkan setelah jajak pendapat belakangan ini.

Ed. Roman Emsyair

Sumber: The Guardian

 




Kisa Batu “Tinggi Tinggang”, Bisa Mencapai Langit Ketujuh

LOMBOK UTARA — lombokjurnal.com

Masyarakat Dusun Lempenge dan Montong Pall di Desa Rempek Kecamatan Gangga, Lombok Utara, menganggap Batu Tinggi Tinggang (baca: Batu Tinggi Ramping) merupakan benda keramat dan bertuah. Masyarakat setempat menganggapnya benda peninggalan ‘zaman lama’ yang punya cerita menarik. Bayangkan, pada masa silam batu ini dikisahkan meninggi hingga mencapai langit lapisan ketujuh.

Batu tinggi,17Agustus1
BATU TINGGI TINGGANG; menjadi obyek wisata

Ceritanya sampai lombokjurnal.com berdasarkan cerita masyarakat setempat. Di zaman lama, hiduplah pasangan suami istri memiliki seorang anak perempuan berusia kurang lebih 4 tahun. Anak perempuan itu ikut serta menemani kedua orang tuanya menanam padi di ladang dengan cara mengoma (baca: menanam dengan sistem tegalan).

Agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya, sang ibu kemudian meninggalkan anaknya diatas batu tinggang. Anak itu memegang sebutir telur ayam yang berbentuk kursi. Saking asyiknya menanam, suami istri yang bekerja itu lupa meninggalkan anaknya sendirian di atas batu.

Anak perempuan kecil itu mulai ketakutan ditinggal sendiri.  Anak itu berulang kali memanggil kedua orang tuanya , karena takut batu itu tiba-tiba meninggi. Dia memanggil kedua orang tuanya sambil menangis , “Oh inakOh amakbatu ene sen tinggi tinggang”. (Ibu, bapak, batu ini meninggi (naik ke atas).

Rupanya suami istri ini keasyikan menanam, hingga tak menghiraukan teriakan anaknya. Kedua orang tuanya hanya sambil lalu menjawab panggilan anaknya , “Sabar sekedik anti semendak, masih kari sekedik ojak sawek menalet (Sabar, tunggu sebentar, kurang sedikit lagi selesai menanam). Sedang batu itu turun bergerak menjulang ke atas, membawa anak perempuan  itu.

Suara tangisan anak itu terdengar sayup-sayup, dan akhirnya hilanng sama sekali. Setelah suara anaknya tak terdengar lagi, barulah kedua orang tuanya tergerak melihat batu tempat anaknya ditinggalkan tadi. Ujung batu itu tidak kelihatan sedikitpun dari bumi. Sang ibu lalu menangis selama bertahun-tahun karena takut kehilangan buah hati selama-lamanya.

Pasangan suami istri itu terus berupaya agar bisa mengembalikan anaknya ke pangkuan mereka lagi. Banyak dukun dan orang berilmu, dari yang ilmunya biasa-biasa saja sampai dukun yang ajiannya atos/totos, sudah didatangi untuk meminta pertolongan agar batu itu mengembalikan anaknya.

Tak satu pun dari semua dukun itu, yang berhasil mengembalikan batu tersebut ke posisi semula. Sudah bertahun-tahun dan berbagai upaya dilakukan namun belum juga berhasil. Kedua pasangan suami istri ini hampir putus asa, berbagai upaya telah dilakukan tapi sia-sia belaka.

Selalu, haya takdir Tuhan bisa menentukan segalanya. Suatu hari, pertolongan itu justru datang dari nenek renta. Nenek itu kasihan melihat sang ibu menangis hingga kehabisan air mata. Lalu, sang nenek tua itu menawarkan jasa sanggup mengembalikan anaknya, dengan syarat kedua pasangan suami–istri harus menyediakan ampas beras satu karung besar.

Mendengar tawaran nenek tua itu, sang suami bersedia permintaan sang nenek asalkan si anak bisa kembali.  Alhasil, ampas beras pun terkumpul sebanyak satu karung. Kemudian, sang nenek memanggil burung bubut sebanyak 1000 ekor.

Lalu, si nenek tua melepas ampas beras mengitari batu itu dan menyuruh burung bubut tersebut mengelilingi batu tersebut. Burung bubut pun mulai beraksi mengelilingi batu tersebut sambil bernyanyi “But…But… Berik Bawak Marak Aku…”(kecil pendek seperti saya) sampai sekarung ampas beras itu habis.

Dan, batu itu pun sedikit demi sedikit merendah, sampai akhirnya kembali ke posisi semula. Ajaib, sang anak ternyata sudah besar atau sedang menanjak remaja, dan telur itu pun telah menjadi ayam jago. Walhasil, anak itu kembali ke pangkuan kedua orang tuanya.

Atas peristiwa bersejarah dan mistis itu, batu itu diabadikan oleh masyarakat Lempenge dan Montong Pall dengan nama “Batu Tinggi Tinggang” yang memiliki nilai mistis adi luhung.

Masyarakat kedua wilayah sepakat memelihara dan menjaga batu itu sampai sekarang, dan bahkan telah dibuatkan sebuah rumah tembok kecil. Setiap tahun masyarakat setempat mengunjungi batu itu seraya membawa sesajen sebagai penghormatan karena dianggap keramat dan bertuah.

Kini, batu itu dijadikan salah satu objek wisata religi oleh warga setempat dan masyarakat Kecamatan Gangga pada umumnya.

djn




Tradisi “Nyirih” Masyarakat Bayan

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Kebiasaan makan atau mengunyah sirih kadang tampak ‘kurang bersih’; karena gigi kelihatan merah,  dan meludahkan air sirih di sembarang tempat. Namun jarang yang tahu bahwa kegiatan Nyirih (nginang, Jawa) bisa menyehatkan gigi.

Ramai-ramau ngunyah sirih yu......
Ramai-ramau ngunyah sirih

Manula atau orang-orang jompo yang masih Nyirih, kebanyakan giginya tetap utuh dan kuat, bahkan masih bisa mengunyah biji-bijian yang keras seperti biji kedelai, asem, biji belinsak, dan lain-lain.

Sirih itu harus ‘ganjil’ baru menjadi ‘genap’, artinya bahan- bahannya itu harus pinang, gambir, kapur, tembakau dan daun sirih. Jumahnya bahannya lima macam, tapi orang-orang yang suka Nyirih menyebutnya genap. Bahan-bahan sudah genap (bahan-bahan sudah lengkap-red).

Hampir di semua desa di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, seperti Bayan Beleq, Loloan, Karang Bajo, Anyar dan desa-desa lainnya, kebiasaan Nyirih ini masih terpelihara kuat bahkan diwariskan dari generasi ke generasi. Di Bayan sebagian besar orang tua bahkan anak-anak muda terbiasa Nyirih.

Mereka tidak canggung melakukan kegiatan yang identik dengan orang tua itu. Namun, anak-anak muda ini Nyirih tidak tiap hari. “Saya Nyirih tak setiap hari. Jika ada acara baru saya Nyirih,” ucap Samsul, pemuda dari Sukadana.

Bahan-bahan untuk Nyirih itu menjadi hadiah yang amat istimewa bagi para orang tua di Sambik Bangkol dan Rempek. Di beberapa tempat misalnya, bahan-bahan Nyirih itu menjadi “upah” untuk dukun yang ngobati pasien desa. Selain itu, bahan-bahan Nyirih itu juga menjadi bahan yang disajikan dalam sesajen pada berbagai ritual keagamaan.

Kalau kalangan muda perokok, rokok menjadi bahan mengenalkan dan mempererat hubungan perkawanan, atau bahan untuk sosialisasi dan mengakrabkan diri kepada orang lain. Menawarkan rokok pada orang yang belum dikenal atau baru dikenal bisa membuat membuat lebih akrab.

Dengan kata lain, menawarkan rokok dapat menjadi medium pemelihara dan mempererat tali persahabatan. Bagi para orang tua yang masih Nyirih, menawarkan bahan-bahan Nyirih tersebut menjadi media memperkuat hubungan sosial mereka.

djn




Peringatan HUT RI ke 71, Gubernur Serahkan Hadiah Juara MTQ

Di Lapas IIA Mataram; ‘Cobaan di Penjara Akan Tingkatkan Derajat Seseorang’

MATARAM – lombokjournal.com

Usai peringatan Detik-Detik Proklamasi Republik Indonesia ke-71 tahun 2016, di Lapangan Bumi Gora, Kantor Pemprov NTB, Rabu (17/08), Gubernur NTB. TGH M Zainul Majdi didampingi Wakil Gubernur, H Muhammad Amin menyerahkan hadiah kepada putra-putri NTB yang berhasil mengharumkan nama daerah di ajang MTQ Nasional ke-26 pada awal bulan ini.

Gubernur mencium bendera sebelum diserahkan untuk dikibarkan
Gubernur mencium bendera sebelum diserahkan untuk dikibarkan

Gubernur menyerahkan hadiah uang tunai Rp100 juta untuk juara pertama, Rp75 juta untuk juara dua, dan Rp50 juta untuk juara tiga.  Untuk harapan satu, dua dan tiga juga mendapat hadiah uang tunai dari Gubernur NTB.

Sebelumnya, peringatan detik-detik proklamasi yang berlangsung khidmad, diawali penekanan tombol sirine oleh Inspektur upacara selama 60 detik. Dilanjutkan Pembacaan Naskah Proklamasi oleh Ketua DPRD Provinsi NTB, Hj. B. Isvi Rupaedah, MH.

Pada pengibaran bendera merah putih, Islatul Umairah dipercaya sebagai pembawa Baki bendera saat itu. Siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Bolo Kabupaten Bima tersebut dengan bangga mengayunkan langkah menuju mimbar Inspektur Upacara untuk menerima penyerahan bendera yang akan dikibarkan. Sesaat sebelum diserahkan, Gubernur Majdi mencium bendera sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan.

Hadir saat itu, Istri Gubernur, Hj. Erica Zainul Majdi, Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH.M.Si dan istri Hj. Syamsiah Muh. Amin. Ratusan unsur TNI/Polri, ASN Pelajar dan mahasiswa  turut ambil bagian pada peringatan yang dilaksanakan sekali setahun tersebut. Bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Mayor Sus S. Anggoro Jati, SH.

Remisi Narapidana

Masih dalam suasana peringatan HUT Kemerdekaan RI, Gubernur TGH M Zainul Majdi menerima laporan dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham Provinsi NTB Sevial Akmily, SH., MH saat upacara pemberian remisi di lapas IIA Mataram, Rabu (17/8).

gubernur,17Agustus4

Sebanyak 876 orang narapidana penghuni lembaga pemasyarakatan di seluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendapatkan remisi saat peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-71. Rincianya, 858 orang remisi sebagian, 18 orang remisi seluruhnya/langsung bebas, dan 13 orang remisi tambahan.

Di Lapas, Gubernur Majdi mengatakan pada narapidana, orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak pernah salah. “Jika memiliki kehendak kuat untuk memperbaiki diri, Insya Allah Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberikan bekal yang luar biasa untuk kehidupan kita selanjutnya,” katanya.

Cobaan di penjara, pada akhirnya akan meningkatkan derajat seseorang. “Oleh karena itu, saya mengajak kepada Warga Binaan Pemasyarakatan untuk memaknai keberadaan di tempat ini sebagai suatu kesempatan untuk menata masa depan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Rer




Aparat Diminta Tegas Larang Ormas Anti Pacasila

MATARAM – lombokjournal.com

 Gubernur NTB, Komandan Korem 162 Wira Bhakti, Kapolda NTB, Walikota Mataram dan Kapolres Mataram, didesak tidak memberi ijin kegiatan organisasi masyarakat (ormas) yang berpotensi memecah belah Pancasila dan NKRI.

AKSI GP ANSOR KOTA MATARAM
AKSI GP ANSOR KOTA MATARAM

“Organisasi masyarakat (ormas) apa pun yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan komitmen kebhinekaan bangsa, haruslah diambil sikap yang tegas sebagai langkah-langkah penertiban, pelarangan, sampai dengan pembubaran,” bunyi pernyataan sikap GP Ansor Kota Mataram yang dikirim ke Lombok Journal, tepat pada Peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2016.

Penegakan komitmen dan kesetiaan terhadap NKRI serta kebhinekaan bangsa, merupakan keharusan struktural, yang mengikat seluruh masyarakat. Lima butir pernyataan sikap GP Ansor Kota Mataram, selengkapnya;

Mendesak kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat, Komandan KOREM 162 Wira Bhakti, Kapolda Nusa Tenggara Barat, Walikota Mataram, Kapolres Mataram, untuk:

  1. Tidak memberikan ijin kegiatan ormas yang berpotensi memecah belah Pancasila dan NKRI
  2. Secara tegas melarang kegiatan organisasi kemasyarakatan yang tidak mengakui pancasila sebagai azas dan ideologi negara
  3. Secara tegas melarang organisasi kemasyarakatan yang anti Pancasila hidup dan tumbuh di Nusa Tenggara Barat
  4. Untuk mengambil langkah-langkah konkret berupa penertiban, pelarangan dan   pembubaran organisasi masyarakat (ormas) apapun dengan berbagai gerakannya yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan komitmen kebhinekaan bangsa.
  5. Kami Gerakan Pemuda Ansor Kota Mataran dan Satkorcab Banser Kota Mataram akan menurunkan spanduk atau tulisan yang tidak sejalan dengan Pancasila dan NKRI.

Pernyataan sikap itu ditandatangani Ketua Ansor Mataram, Hasan Basri dan Dansatkorcab Banser Muh Efendi, dimaksudkan menjaga kondusifitas, stabilitas dan menghindari konflik horinzontal di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Dalam peryataan itu juga ditegaskan, berbagai kasus yang terjadi di wilayah NTB terkait munculnya ormas yang mengusung tema Khilafah menimbulkan keresahan dan perpecahan umat. Kejadian tersebut sepenuhnya dapat dihindari jika sedari awal terdapat komitmen dan sikap yang tegas dari aparatur yang berwenang.

Rer




TRADISI “MUJA TAON-BALIT” MASYARAKAT DESA LENEK

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Masyarakat Lenek Desa Bentek Kecamatan Gangga masih mempertahankan tradisi selamatan sebelum dan setelah menggarap sawah mereka. Tradisi ini disebut Muja Taon (sebelum menggarap) dan Muja Balit (setelah memanen).

Ritual adat tiap tahun ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur warga. Mereka meyakini karunia Tuhan di alam semesta ini melimpah ruah dan manusia patut mensyukurinya. Tanah yang subur dan alam yang indah nan sejuk membawa keberkahan yang sungguh luar biasa.

Mereka yakin Tuhan akan memberi berkah kepada hamba-Nya bila selalu ingat atas segala karunia dan rahmat yang diberikan. Perayaan Muja Taon dan Muja Balit ini adalah pengejawantahan mereka atas segala macam karunia yang diberikan Tuhan di muka bumi.

Ritual ‘sebelum turun ke areal sawah pertanian’ itu dirayakan sebagai doa agar panen berlimpah ruah dan terbebas dari pelbagai macam hama penyakit. Sedang ritus adat yang digelar setelah panen itu sebagai bentuk ‘rasa syukur atas keberhasilan panen’.

Dua ritus adat dirayakan di waktu berbeda, bentuk pelaksanaannya hampir sama. Misalnya pada malam hari acara biasanya diisi dengan persiapan dulang (sesajen) yang berisi berbagai macam makanan.

Malam hari suasana kampung semakin ramai dengan tabuhan gamelan. Pada malam itu pula gamelan yang penduduknya seratus persen umat Budha, dikeluarkan dan ditabuh. Tabuhan gamelan tersebut diiringi dengan berbagai jenis tarian. Dan tarian itu biasanya dilakukan spontan oleh kaum hawa willayah, muda-mudi, anak-anak dan para tua di wilayah setempat.

Acara doa bersama dilakukan di salah satu makam leluhur. Biasanya makam yang dianggap keramat dan mendatangkan berkah bagi warga. Di kompleks makam itu seluruh jenis makanan dari pelbagai bahan yang disiapkan sehari sebelumnya, disajikan lalu dikumpulkan dengan susunan rapi, mirip tangga berundak. Kemudian makanan itu didoa kemudian dibagi dan dimakan secara bersama-sama.

Untuk ritual Muja Balit, puncak acara ditandai dengan pelbagai bentuk ketupat yang telah dihias dengan apik. Kemudian acara ditutup dengan perang tupat. Ketupat yang telah dikumpulkan dijadikan senjata. Dan, menariknya lagi cuma anak-anak saja yang boleh ikut perang topat ini.

djn