Masih Banyak Pekerjaan Rumah Di Sektor Pariwisata

Diharapkan, Dinas Pariwisata di tingkat kabupaten/kota juga memberikan perhatian lebih terkait penataan destinasi

MATARAM.lombokjournal.com – Masih banyak persoalan-persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah Sektor Pariwisata yang harus segera diselesaikan.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Muhammad Faozal mengungkapkan, meski Sektor Pariwisata tumbuh sangat signifikan bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) namun sejumlah pekerjaan rumah masih perlu menjadi perhatian bersama.

Yang menjadi sorotan pertama yaitu pembenahan tata kelola destinasi. Dicontohkan, adanya wisatawan yang tidak dapat menyeberang ke Gili Trawangan dari Pelabuhan Bangsal karena alasan cuaca.

Alasan cuaca buruk memang harus dipatuhi karena menyangkut keselamatan. Yang menjadi persoalan, tidak adanya kompensasi bagi wisatawan tersebut akibat pembatalan.

Pembenahan tata kelola juga dia harap dilakukan pada sejumlah Pura (tempat persembahyangan umat Hindhu, red) yang menyimpan nilai sejarah dan budaya, seperti Pura Narmada, Pura Suranadi, dan Pura Lingsar di Kabupaten Lombok Barat.

Seperti di Bali, Faozal memandang, sejumlah Pura yang ada di Lombok juga memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata.

“Namun kita lihat, apa parkirnya sudah tersedia, sentra kuliner, dan oleh-olehnya apakah sudah terpadu,” ujar Faozal saat membuka Rapat Koordinasi Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB bertajuk “Halal Tourism sebagai Strategi Mencapai Empat Juta Wisatawan di Hotel Astoria, Mataram, NTB”, Senin (23/07).

Dinas Pariwisata NTB mencoba beberapa kali untuk membenahi tata kelola Pura, namun belum menemukan kesepakatan dengan pengelola Pura. Faozal berharap, Dinas Pariwisata di tingkat kabupaten/kota juga memberikan perhatian lebih terkait penataan destinasi.

Poin kedua, terkait penguatan sumber daya manusia (SDM). Hal ini penting karena faktor ini bersentuhan langsung dengan sektor pariwisata.

Faozal menginginkan adanya revitalisasi paket agar lebih menarik, baik dari segi atraksi maupun budget. Memang, kendala terbesar dalam pariwisata, terutama untuk Pulau Sumbawa terletak pada aspek transportasi.

“Kemarin saya tanya sama salah satu agen travel, paket dua hari tiga malam ke Sumbawa itu Rp 6 juta. Paling tinggi cost-nya pada transportasi,” lanjutnya.

Poin ketiga ialah penguatan peran seluruh sektor, baik perangkat pemerintah maupun industri wisata. Ia meminta seluruh pihak juga bersama-sama memberikan pemahaman komprehensif kepada masyarakat di sekitar destinasi wisata dalam mendukung tata kelola destinasi.

AYA