JKN–KIS, Pahlawan Pelindung Kesehatan Suamiku

Pelayanan kesehatan yang diterima pun sangat memuaskan, dan tidak membeda-bedakan antara peserta yang membayar iuran maupun yang mendapatkan secara gratis dari pemerintah

lombokjournal.com —

SELONG  :   Seorang wanita paruh baya asal Desa Pringgajurang, Kecamatan Montong Gading ini tampak bahagia selepas mengurus perubahan nama suaminya yang keliru pada kartu JKN-KIS.

Herniwati (59) adalah seorang ibu rumah tangga yang hanya tinggal berdua dengan suaminya.

Ketika ditemui oleh tim jamkesnews pada Senin (25/02) 2019, Herniwati mengungkapkan rasa leganya, karena akhirnya dia bisa memanfaatkan kartu JKN-KIS untuk berobat.

Herniwati bersyukur ada JKN-KIS. Seingat dia, kartu ini didapatkannya  setahun yang lalu. Herniwati selalu menyimpannya tapi belum pernah digunakan.

“Tadi malam, tiba-tiba suami saya sesak napas dan batuk keras, kemudian dibawa ke Puskesmas Kotaraja. Ketika akan mengurus administrasi, saya pakai kartu JKN-KIS. Perawatnya bilang tetap bisa digunakan, tetapi harus memperbaiki nama suami saya karena berbeda dengan yang ada di Kartu Keluarga. Pihak puskesmas menganjurkan untuk mengurus ke Kantor BPJS Kesehatan Cabang Selong. ,” tutur Herniwati.

Alhamdulillah, ternyata  pelayanan kesehatan tetap diberikan oleh puskesmas meskipun ia masih harus mengurus nama suaminya yang berbeda.

Pelayanan di kantor BPJS juga ramah. Salah satu peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) ABPN ini menjelaskan, seharusnya dulu ketika dibagikan kartu ia mengecek identitas yang tertera pada kartu JKN-KIS terlebih dulu.

Apabila menemukan ada yang berbeda atau keliru, bisa langsung melapor ke kantor BPJS Kesehatan terdekat.

Bagi Herniwati ini merupakan pembelajaran baginyaua, mudah – mudahan tidak kejadian lagi.

“Kalau mengurus sejak awal pasti tidak akan repot jadinya, kalau sakit, kartu JKN-KIS langsung bisa dipakai tanpa perlu mengurus hal – hal yang lain lagi. Bersyukur saya masih diberi kesempatan untuk bisa mengurus ini. Mudah mudahan suami saya bisa cepat sembuh. Ini pertama kalinya dia sakit sampai rawat inap di puskesmas,” ungkap ibu 3 orang anak ini.

Hidup berdua hanya dengan suaminya, membuat Herniwati berusaha mandiri dalam mengurus segala hal tanpa merepotkan anak – anaknya, terutama ketika suaminya sakit.

“Awalnya, suami saya hanya batuk – batuk biasa. Tapi saat tengah malam, suami saya mengeluh sesak napas kemudian batuknya semakin keras. Apalagi napasnya jadi bersuara, ngik – ngik, begitu suaranya. Nah langsung saja saya bersama anak saya yang kebetulan menginap membawanya ke puskesmas, dan katanya suami saya menderita asma,” cerita Herniwati.

Asma yang paling umum diderita oleh kebanyakan orang adalah Asma Bronkial.

Penyakit ini ditandai dengan gejala susah bernapas, batuk keras, pusing, badan lemah, dan sertai dengan suara tambahan mengi atau napas yang berbunyi lirih ketika seseorang menghembuskan napasnya.

Suara ini timbul karena udara yang keluar dari paru – paru dipaksa keluar melalui saluran napas yang sempit.

Cara mencegah penyakit ini adalah dengan menghindari faktor alergi atau iritan seperti asap rokok, debu, polusi udara, udara dingin atau bahkan bulu binatang.

Selain itu bisa dengan cara meningkatkan sistem imun tubuh dengan menjaga pola aktivitas, makan, dan istirahat yang cukup. Mengenali dan menghindari berbagai penyebab asma adalah kunci utama untuk mencegah serangan asma.

Pada akhir pertemuannya dengan tim Jamkesnews, Herniwati mengungkapkan sangat terbantu dengan adanya program JKN-KIS ini.

Pelayanan kesehatan yang dia terima pun sangat memuaskan dan tidak membeda-bedakan antara peserta yang membayar iuran maupun yang mendapatkan secara gratis dari pemerintah.

ay/ys/Jemkesnews

Narasumber : Herniwati