JKN–KIS, Menyalurkan Semangat Dan Menebar Manfaat Bagi Sesama

“Jumlah iurannya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat besar yang kami dapatkan selama ini. Terimakasih JKN–kIS”

lombokjournal.com —

SELONG   ;     Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tampaknya hal itu sangat dirasakan oleh Siti Aisyah (40).

Tiga tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2016, ia harus menahan pahitnya kehidupan karena harus ditinggal oleh suaminya yang meninggal karena komplikasi penyakit diabetes.

Sudah sejak lama, suaminya H. Idham (55) menderita penyakit Diabetes Mellitus. Penyakit yang ditandai oleh tingginya kadar gula dalam darah ini membuat H. Idham harus bolak–balik opname ke rumah sakit.

Ia menuturkan, Sudah sejak dulu suaminya sakit gula. Mungkin sejak 10 tahun yang lalu. Satu jari kakinya bahkan sempat diamputasi karena penyakitnya itu.

“Awalnya cuma luka kecil, tapi lama – lama kok jadi tambah parah, tidak kunjung sembuh bahkan sampai ada baunya. Karena dikhawatirkan akan menyebar ke bagian kaki yang lain, akhirnya dokter memutuskan untuk mengamputasi jari kelingking kaki kanannya,” cerita Siti yang ditemui di warung tempatnya berjualan, Senin (18/03).

Saat itu, Siti dan keluarganya belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Ketika itu penghasilan dari pekerjaan H. Idham sebagai kontraktor tidak memberatkan mereka untuk membayar seluruh biaya pengobatan.

Namun lama kelamaan seiring waktu berjalan, penyakit yang diderita suaminya semakin parah hingga berdampak merusak organ – organ tubuhnya yang lain. Uang yang mereka habiskan untuk berobat pun semakin lama semakin besar. A

Akhirnya atas saran anggota keluarganya, Siti Aisyah memutuskan untuk mendaftarkan keluarganya ke BPJS Kesehatan.

Siti Aisyah mengenang, tahun 2016 ia bersama keluarganya mulai terdaftar sebagai peserta JKN – KIS. Gaji suaminya sudah habis untuk biaya perawatan yang hampir ratusan juta.

“ Bersyukur sekali rasanya kala itu beban kami diringankan oleh BPJS Kesehatan. Namun, selang beberapa minggu setelahnya, suami saya meninggal dunia karena sakit jantung. Kata dokter itu karena komplikasi dari penyakit diabetesnya,” kenang wanita 3 orang anak ini.

Takdir memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Setelah suaminya meninggal, ia harus banting tulang untuk menghidupi 3 orang anaknya dengan berjualan di warung.

Namun, hal itu tidak membuatnya untuk menyerah. Dengan kondisi tubuhnya yang masih sehat, ia masih mampu untuk bekerja mencari nafkah.

“Kejadian itu terus membuat saya berpikir, entah akan seperti apa nasib kami, jika sampai sekarang belum mempunyai kartu JKN – KIS. Setelah ayahnya meninggal, anak kedua saya Linda (11) sering sakit – sakitan dan harus beberapa kali menginap di rumah sakit. Alhamdulillah, sekarang saya tidak perlu khawatir, kan sudah ada yang menanggung,” ungkap Siti sambil menunjukkan kartu JKN – KIS miliknya.

Di akhir pertemuannya dengan tim Jamkesnews, Siti Aisyah mengungkapkan akan terus rutin memenuhi kewajibannya untuk membayar iuran.

Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Demi menyiapkan diri dan keluarganya dari hal – hal yang tidak diinginkan jika terjadi kelak.

“Walaupun saya hanya berjualan di warung saya masih mampu untuk tetap rutin membayar iuran kami berempat. Saya tidak mau menunggak, nanti repot ketika sakit. Jumlah iurannya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat besar yang telah kami dapatkan selama ini. Terimakasih JKN – KIS,” kata Siti.

ay/hd/Jamkesnews

Narasumber : Siti Aisyah