Inilah Enam Pengembangan Pariwisata Zul-Rohmi di NTB

MATARAM.lombokjournal.com — Dr H Zulkieflimansyah dan Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah yang dilantik19 September 2018 sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB masa bhakti 2018-2024, diihadapkan tantangan besar membangkitkan kembali NTB pascagempa 5 Agustus 2018 lalu.
Maka, sektor pariwisata menjadi program pertama dalam enam Program Super Prioritas NTB Gemilang.
Dalam pengembangan pariwisata andalan dan strategis NTB, sektor pariwisata memiliki peran strategis untuk mendorong peningkatan pendapatan daerah.
Di samping itu juga membuka lapangan kerja, serta menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkesinambungan, seimbang, dan inklusif bagi NTB.

Pengembangan pariwisata NTB ini sudah diatur dalam Perda NTB Nomor 7 tahun 2013 dan dalam Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPARDA) Tahun 2013-2028.
Terdapat 4 aspek pembangunan pariwisata daerah yang menjadi fokus dalam program prioritas Zul-Rohmi. Keempat aspek itu yakni destinasi pariwisata, pemasaran pariwisata, industri pariwisata, dan organisasi kepariwisataan.
Program ini meliputi pengembangan enam pariwisata strategis di NTB.
Pertama, pengembangan pariwisata pulau-pulau kecil (Gili) dan sekitarnya. Seperti Gili Matra (Meno, Air, dan Trawangan), Kawasan Gili Sulat ( Gili Sumut, Petelu, Lawang) dan sekitarnya, kawasan Teluk Ekas dan sekitarnya, Kawasan Gita Nada (Gili Tangkong, Nanggu, Sudak) dan sekitarnya.
Kemudian, Kawasan Alas Utan Poto Tano (Kenawa, Paserang) dan sekitarnya, Samota (Teluk Saleh,Moyo,Tambora), dan Kawasan Waworada Sape (Gili Banta, pulau Kelapa, dan Sangiang).
Kedua, pengembangan pariwisata Mandalika dan MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lombok Tengah. KEK pariwisata ini menghadirkan 26 ribu kamar hotel, dengan 5 pantai utama. Garis pantainya mencapai 16 kilometer yang dilengkapi dengan Marina atau dermaga untuk kapal mewah.
Dalam pengembangan pariwisata KEK ini, membutuhkan sejumlah dukungan infrastruktur. Mulai dari pembangunan jalan bypass BIL- KEK Mandalika sepanjang 17,8 kilometer. Peningkatan dan pengembangan jaringan jalan nasional BIL-Kuta sepanjang 15,5 kilometer.
Peningkatan dan pengembangan jalan yang menghubungkan pelabuhan Gili Mas-KEK Mandalika. Peningkatan dan pengembangan jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Bilelando-Awang-Kuta-Selong Belanak-Montong Ajan sepanjang 55 kilometer, dan dari Montong Ajan-Penujak sepanjang 31 kilometer.
Selain peningkatan akses jalan, juga dibutuhkan perpanjangan runaway Bandara Internasional Lombok sepanjang 3.300 meter. Pembangunan SPAM Regional Pulau Lombok, pembangunan RS Internasional, dan penataan lingkungan lingkungan sekitar.
Ketiga, pengembangan pariwisata lainnya yakni Rinjani UNESCO Global Geopark. Rinjani sudah ditetapkan sebagai UNESCO Gloabl Geopark sejak 12 April 2018 lalu. Saat ini, Geopark Rinjani telah sukses sebagai tuan rumah Simposium APGN 2019.
Geopark Rinjani memiliki warisan geologi secara vulkanik yang harus terus dijaga. Di samping itu, Rinjani juga merupakan sumber air di Pulau Lombok. Sehingga penting untuk terus dilakukan pemeliharaan dan pengembangan. Di antaranya dengan menumbuhkan partisipasi generasi muda dan masyarakat untuk menjaga Geopark.
Keempat, selain Rinjani, ada juga pengembangan Geopark Nasional Tambora di Pulau Sumbawa. Geopark ini memiliki integrasi yang kuat antara geologi, biologi, dan budaya. Masyarakat juga harus bisa merasakan manfaat dan menjaga kelestarian Geopark ini melalui kegiatan pariwisata.
Kelima, pengembangan wisata halal kelas dunia. Pada 2015 lalu, NTB berhasil mendapat predikat wisata halal dunia. Hingga saat ini, pariwisata NTB masih melekat dengan brand tersebut.
Mendukung ini, pemerintah NTB sudah menerbitkan Perda Nomor 2 tahun 2016 tentang pariwisata halal. Melingkupi destinasi, pemasaran dan promosi, industri, kelembagaan, pembinaan, pengawasan, dan pembiayaan.
Pengelolaan destinasi pariwisata halal harus membangun fasilitas umum yang mendukung wisata halal. Seperti tempat dan perlengkapan ibadah wisatawan Muslim, serta fasilitas bersuci yang memenuhi standar syariah.
Keenam, pengembangan pariwisata melalui 99 Desa Wisata. Ini merupakan konsep mengembangkan potensi alam, budaya, dan tradisi masyarakat yang didukung dan dijalankan langsung oleh masyarakat.
Pembentukan 99 Desa Wisata ini ditujukan agar menjadi sumber pendapatan masyarakat desa. Ini sekaligus membuka lapangan kerja dan meningkatkan keterampilan SDM warga desa. Selain itu juga meningkatkan perhatian masyarakat pada alam dan lingkungan.
Desa yang cukup berhasil mengembangkan pariwisata desanya yakni Desa Sade, Desa Setanggor, Desa Tete Batu, Pasar Pancingan, dan Kampung Kerujuk.
AYA