Harga Cabai Merah Tak Bisa Ditebak, Kini Melesat Rp60 Ribu Per Kilo
Diperkirakan, Agustus- September harganya sudah mulai turun, karena petani sudah mulai panen cabai

MATARAM.lombokjournal.com – Saniat, penjual cabai di Pasar Kebon Roek, Mataram, ,Jumat (12/07) 2019 mengatakan, hargai cabai merah memang tak bisa di tebak.
Sekitar seminggu lalu harganya Rp35 ribu per kilogram, kini Harga cabai merah melesat jadi Rp60 ribu per kilo.
Harga normal sebelumnya yakni Rp 35 ribu per kilogram.
“(Cabai) merah sekarang Rp 60.00 per kilo, biasanya Rp 35.000 per kilo. Jika yang (cabai) jumbo merah sekarang juga Rp 60.000 per kilo juga,” katanya.
Penjual cabai dan sayuran itu menambahkan, kenaikan harga cabai sudah berlangsung selama satu minggu. Saniati yang berpengalaman menghadapi gejolak harga cabai itu mengungkapkan, harga cabai tidak pernah bisa ditebak karena banyak faktor yang bisa membuat harganya naik atau turun.
Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Putu Selly Andayani menyatakan, memang benar harga cabai di asaran mencapai 60 ribu per kilonya.
Ia menjelaskann, salah satu factor yang membuat harga cabai melonjak di pasar, karena saat ini stok cabai sedang kurang karena petani sedang menanam.
“Harga cabai saat ini sudah mencapai 60 ribu, kemarin tim perdagangan sudah turun ke sentra cabai di Lombok Timur. Dan memang saat ini sedang musim tanam cabai. Nanti bulan Agustus/September panen 20 hektare,” jelas Putu Selly.
Selly menambahkan jika cabai merupakan tanaman musiman, jadi harus menunggu panen dulu untuk mengisi stoknya.
“Saat ini kemarau panjang, saya juga sudah minta ke Jawa Timur dan Sulawesi, disana juga langka. Justru lebih mahal harga cabai di sana daripada di Lombok,” jegasnya.
Saat ini Lombok timur mampu produksi sampai 1 Ton dan itu yang diedarkan di NTB tidak diedarkan keluar.
Selly memprediksikan kenaikan ini tidak akan berlangsung lama, karena di bulan Agustus dan September adalah musim panen, jadi stok akan melimpah.
Prediksi kenaikan ini hanya di bulan ini saja, Agustus- September sudah mulai turun, karena ini murni akibat cuaca, katanya.
AYA