Harga Bawang Naik, Di Kisaran Harga Rp 28 ribu

Kenaikan bukan dipicu Maulid nabi Muhammad SAW, melainkan karena musim panen yang telah berakhir sehingga persediannya menipis

MATARAM.lombokjournal.com

Persedian kian menipis, Harga bawang merah mulai mengalami kenaikan meskipun belum melonjak.

Pasalnya, musim panen bawang merah terlebih di Bima mulai berakhir. Bahkan pada Desember hingga Januari mendatang tidak ada bawang.

“Bawang merah Rp 28-30 ribu perkilo naik harganya dari sebelumnya bulan September kemarin. Apalagi bulan 12 sampai bulan 1 itu tidak ada bawang,” ujar Inak Zaenap, seorang pedagang bawang merah di Pasar Induk Mandalika,Pada (26/10/20).

Saat ini bawang merah sudah mulai mengalami kenaikan. Bahkan di antaranya ada yang dikirim ke pulau Jawa. Nantinya jika persedian semakin menipis maka harganya bisa mencapai Rp 35-50 ribu per kilogram.

Kenaikan tersebut sama seperti tahun lalu di  mana harga bawang merah cukup tinggi.

“Apalagi masuk bawang Jawa, harga bawang Bima bisa lebih mahal lagi. Tapi kalau sekarang belum ada masuk bawang Jawa,” Ujarnya

Ia menilai, naiknya harga bawang merah saat ini bukan  karena maulid nabi Muhammad SAW. Melainkan karena musim panen yang telah berakhir sehingga persediannya pun mulai menipis.

“Panennya sudah tidak, sekarang orang (petani) lagi nunggu musim tanam,” ucapnya.

Hal senada juga dikatakan Nunung,  harga bawang merah saat ini mulai naik berkisaran di harga Rp 28 ribu.

Terjadi kenaikan tersebut sejak satu bulan lalu, sebelumnya sempat turun namun kembali naik. Kendati demikia untuk persedian masih terbilang cukup.

“Bawang merah sekarang persediaan biasa saja.  Tapi nanti Bulan 12-1 itu tidak ada bawang, apalagi bulan 3 juga tidak ada.  Mungkin bulan 12 baru masuk bawang Jawa,” ujarnya.

Ia mengatakan, bawang merah suplaynya memang kebanyakan dari Bima. Namun jika kondisi barang tidak ada, maka bawang dari Jawa akan masuk untuk menekan tingginya harga bawang merah.

Kendati demikian, memasuki masa maulid nabi permintaan akan bumbu-bumbuan justru sepi .

“Sehari bisa laku cuma Rp 300 ribu, kalau tidak ada ya tidak ada. Karena corona sepi tidak ada yang lewat sini,” tuturnya.

Menurutnya, sejak terjadinya wabah virus corona membuat penjualannya menurun. Ditambah dengan kondisi permintaan yang ikut menurun.

Padahal, jika memasuki hari besar keagamaan akan banyak permintaan karena banyak digunakan.

“Biasanya ramai permintaan kalau maulid, tapi tahun ini sepi sekali,” pungkasnya

Aya