Gratis Cuci Darah Seumur Hidup, Karena Mawardi Rutin Bayar Iuran JKS-KIS
“Seandainya tidak punya kartu JKN – KIS, saya berarti harus mengeluarkan uang sejuta lebih setiap minggunya”
lombokjournal.com —
SELONG ; Suara mesin pencuci darah terdengar di ruang hemodialisa RSUD dr. Soedjono Selong, Sabtu (06/04) 2019. Belasan orang tampak terbaring dengan berbagai macam selang yang mengalirkan darah dari tangan ke mesin pencuci darah di sampingnya.
Mawardi (68), adalah salah satu pasien yang rutin melakukan cuci darah setiap minggu. Ia selalu didampingi oleh anaknya, Uswatun (24).
Laki – laki yang dulunya bekerja sebagai buruh tani ini sekarang hanya hidup berdua dengan anak perempuannya setelah istrinya meninggal 4 tahun yang lalu.
“Setiap Sabtu bapak memang sudah jadwalnya ke sini. Tidak terasa sudah hampir 4 bulan, saya menemani bapak bolak–balik ke rumah sakit untuk cuci darah,” cerita Uswatun ketika ditemui oleh tim Jamkesnews.
Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) asal Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya ini sejak tahun 2018 sudah didiagnosa mengidap penyakit gagal ginjal kronik. Ia pun menceritakan awal gejala penyakitnya hingga melakukan cuci darah.
“Awalnya pinggang saya sering sakit, kemudian bengkak dan terasa panas di seluruh badan. Perut pun rasanya penuh, padahal hanya makan sedikit. Ditambah lagi tekanan darah saya yang memang tinggi. Saya lantas ke Puskesmas, di sana saya langsung dirujuk ke rumah sakit. Sempat dua kali di opname, sampai akhirnya diharuskan cuci darah rutin,” ungkap Mawardi.
Cuci darah atau hemodialisa (HD) adalah prosedur khusus yang harus dilakukan oleh penderita gagal ginjal kronik, sebagai pengganti ginjal yang sudah rusak.
Biaya untuk sekali cuci darah pun tidaklah murah, bisa mencapai jutaan rupiah.
“Saya juga tidak menyangka akan cuci darah seumur hidup. Seandainya tidak punya kartu JKN – KIS, saya berarti harus mengeluarkan uang sejuta lebih setiap minggunya, belum lagi untuk beli obat dan keperluan yang lain – lain. Sepertinya saya tidak akan sanggup,” tutur Mawardi.
Ia merasa bersyukur karena ada JKN –KIS. Kartu kecil yang dapat membiayai cuci darah bapaknya yang biayanya berjuta – juta.
“Jujur sampai sekarang saya masih takjub, iuran yang kami keluarkan per bulan hanya 51.000, tapi manfaatnya sangat jauh melebihi itu. Kartu ini bagaikan penyambung hidup bapak,” tambah Uswatun sambil menunjukkan kartu JKN – KIS miliknya dan Mawardi.
Meskipun ia harus tetap melakukan cuci darah, Mawardi tidak merasa terpuruk dengan kondisinya. Di ruang hemodialisa RSUD dr. R Soedjono Selong, ia bersama dengan pasien – pasien lainnya sudah merasa dekat karena setiap minggunya bertemu dan memiliki jadwal cuci darah yang sama. Mawardi juga merasa sangat puas dengan pelayanan yang dia terima selama melakukan cuci darah.
“Tidak hanya dengan pasien, dengan perawat di sini pun sudah saya anggap keluarga sendiri. Mereka sangat ramah. Pelayanannya pun sangat baik. Ruangan ini sudah jadi rumah kedua saya. Intinya saya tidak mengkhawatirkan apa–apa lagi. Dengan rutin bayar iuran JKN – KIS, cuci darah seumur hidup pun tetap gratis,” tandasnya.
ay/hf/Jamkesnews
Narasumber : Mawardi