NURWATIN SAZWANI, 12 tahun, tiap detik meringis kesakitan. Anak dari pasangan Nurhabibah, 42, dan M Nasri, 56, asal Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur itu tiap detik harus meringis kesakitan karena penyakit infeksi usus yang dideritanya.
Setelah menjalani operasi usus di Rumah Sakit Selong, Lombok Timur bulan Nopember 2016 lalu, dan ususnya harus dipotong 30 cm, ternyata tak kunjung sembuh. Gadis kecil yang kini dirawat di ruang Gili Nanggu kamar 111 RSU Mataram tubuhnya makin susut. Kalau buang air besar melalui perutnya.
Kedua orang tuanya hanya mengandalkan pengobatan dengan KIS (Kartu Indonesia Sehat), tak bisa berbuat banyak kalau harus menebus obat yang harganya tak bisa terjangkau. “Banyak obat mahal yang tidak bisa saya ambil, karena tidak bisa ditebus dengan kartu sehat itu,” tutur Nurhabibah saat ditemui sedang menunggu anaknya.
Di tengah ketidakberdayaannya, kedua orang tua Nirfatin berharap ada dermawan yang bisa meringankan bantuan anaknya. Bagi yang tergerak untuk membantu bisa langsung menghubungi no hp orang tua Nurfatin: 085337349166.
Glg
Mayat Membusuk di Pantai Trawangan
GILI TRAWANGAN – lombokjournal@com
KTP yang ditemukan di dompetnya
Gili Trawangan hari Rabu pagi digegerkan penemuan mayat di pinggir pantai. Sosok mayat laki-kaki yang sudah membusuk itu ditemukan di pinggiran pantai gili yang paling diminati wisatawan di Kabupaten Lombok Utara.
Seluruh badan laki-laki itu melepuh yang menyebarkan bau menyengat. Dari dompet mayat tersebut ditemukan indentitas berupa KTP atas nama Abdul Muis, kelahiran Desa Karang Bedil (30/10/78). Alamat yang tercantum dalam indentitas tersebut Gubuk Batu Karang Desa, RT 007/002, beragama Islam, belum menikah dan tercantum pekerjaan swasta.
Pihak SATGAS setempat sudah menangani penemuan mayat tersebut. Sampai berita ini diturunkan, belum diperoleh penjelasan penyebab kematiannya.
Glg
Tanah di Lombok, Gurih Untuk Tepung Perkedel
Masha Ru, “tanah bisa jadi makanan pokok.”
LOMBOK UTARA – lombokjournal.com
Saat berlangsung konser ‘musisi gerilya’ Ary Juliant di satu kampung di Kecamatan Pemenang, (Minggu, 25/12/2016), Masha Ru dan beberapa anggota komunitas Pasir Putih, melakukan demo masak menu Pisang Goreng Tanak Ampan,Tahu Goreng Tanak Ampan, Perkedel Goreng Tanak Ampan dan Tempe Goreng Tanak Ampan untuk suguhan penonton. Yang disebut ‘Tanak Ampan’ adalah jenis tanah yang biasa dimakan penduduk di Dusun Bentek, Pemenang Barat Desa, Pemenang, Kabupaten Lombok Utara.
Demo masak itu menggunakan Tanak Ampan sebagai tepung mengganti tepung terigu. “Rasanya gurih. Paling disukai ternyata menu perkedel goreng tanak ampan,” tutur Muhammad Sibawaihi, anggota Pasir Putih yang baru pulang dari program residensi di Polandia. Yang menginspirasi menu dengan tepung tanak ampan tak lain adalah Masha Ru.
Masha Ru (32), lahir di Moscow, Rusia yang kini tinggal dan bekerja di Amsterdam, datang ke komunitas Pasir Putih di Pemenang, Jum’at (16/12/2016), semula mengenalkan kue tanah yang dibelinya dari pasar tradisional di Jawa, Ampo namanya. Tapi Masha bukanlah pelancong, perempuan bertubuh mungil itu pada tahun 2011 sudah mengantongi gelar doktor (PhD) di Eindhoven University of Technology, Belanda.
MASHA RU : “Tampak lebih muda karena makan tanah.”
Bukan hanya kali ini Masha melakukan demo masak dengan bahan tanah. Ia pernah bersama Konstantina Roussou alias Dina Roussou, seniman dan juru masak yang lahir di Athena, berkolaborasi memasak tanah liat. Tradisi ini diangkat dalam konteks kontemporer, merangsang dialog dengan budaya lain di mana makan tanah liat masih merupakan tradisi. Maka, dikembangkan dan disajikan souffle keju dicampur tanah liat merah, dan pai cokelat dicampur tanah liat hijau,.
“Saya tampak lebih muda karena makan tanah,” katanya bergurau waktu bercakap-cakap dengan lombokjournal.com. Masha mengaku, waktu kecil di kampung halamannya di Rusia, ia juga pernah makan tanah. Penglaman masa kecil itu yang membuatnya jadi terarik meriset tanah untuk dimakan.
Masha Ru demo masak tepung tanah
Hingga kini ia mempunyai banyak koleksi tentang tanah yang bisa dimakan dari seluruh dunia. Koleksi itu yang dipamerkannya di National Gallery (7 Desember 2016 sampai 22 Januari 2017) di Jakarta, dalam ajang Jakarta Ceramice Contemporary Bienale.
Menurutnya, di beberapa negara, seperti di Suriname, Nigeria, Tanzania, Ghana, juga Rusia dan banyak negara di Afrika ia mengaku menemukan tradisi makan tanah. Tapi di Barat, makan tanah dianggap gejala gangguan psikologis.
Padahal, ini menjadi tradisi berabad-abad di Eropah, tuturnya. Tradisi itu berlangsung sejak 2500 SM. “Ini tradisi lama yang sekarang banyak orang tidak tahu,” kata Masha yang pernah residensi di Jatiwangi Art Faftory (September-Desember 2016).
Beberapa artikel tentang penelitian ilmiah membuktikan kandungan zat mineral di tanah, termasuk tanah Jawa. Tanah memiliki daya serap terhadap racun. Ada beberapa elemen zat dalam tanah yang sangat dibutuhkan tubuh manusia, meski tak semua tanah seperti itu. Bahkan ada yang justru mengandung zat beracun berbahaya.
Masha Ru sempat memperlihatkan foto makanan dari tanah namanya Terra Sigillata, berbentuk tablet terbuat dari tanah suci dari Yunani. Biasanya menjadi hidangan sebagai makanan penutup. Konon, harga terbungkus tablet itu setara dengan emas.
Selain itu, ditunjukkan pula foto satu Gereja di Palestina dengan sebuah gua purba yang dipercaya Maryam pernah menyusui Isa, dan air susunya menetes di tanah di goa itu. Kabarnya, hingga kini tanah gua itu baik untuk perempuan yang mandul.
Apakah tanah bisa menjadi makanan pokok? Menurut Marsha, secara teori bisa meski beum pernah dipraktekkan. Sebab sepengetahuannya, beberapa penduduk di Amerika Latin memakan tanah sebagai makanan pokok, karena tidak ada makanan lain.
“Sangat mungkin, tanah bisa menjadi menjadi makanan pokok,” kata Masha.
Di Afrika, Amerika Selatan dan Asia makan tanah masih merupakan budaya umum, spiritual atau praktik penyembuhan. Ada tradisi kuno di Indonesia untuk makan tanah liat sebagai camilan atau obat. Geophagy atau praktek makan tanah masih dilakukan pemelitian ilmiah.
Bertemu Ina Jawariah
Inak Jawariah
Masha ke Indonesia memfokuskan risetnya mengenai tanah. Waktu datamg ke Lombok, ia mengunjungi Dusun Bentek, Pemenang Barat Desa, Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Di Bentek sempat bertamu di rumah Inak Jawariah. Perempuan tua itu menuturkan, di dusunnya Batu Ampan merupakan makanan tradisi.
Tanak Ampan disukai wanita hamil. Selain membantu mengatasi masalah perut, yang dimakan sebagai camilan. Rasa tanah Batu Ampan memiliki rasa yang sama seperti Ampo tanah liat tradisional dari Jawa yang dibeli di pasar budaya di Jakarta.
Tanak Ampan
Anak Inaq Jawariah, seorang atlit karate Herman Johdi, waktu masih kecil juga makan tanah. Herman menemani Masha menemukan Batu Ampan di atas bukit. Di bukit mereka mencicipi Batu Ampan yang rasanya tawar dan lembut.
Tradisi mengunyah tanah kapur, yang disebut Mamak, juga bagian tradisi makan tanah. Tradisi mengunyah sedikit kapur dengan Daun Lekoq (daun sirih]) selain membersihkan juga membuat gigi lebih kuat. Orang kampong biasanya menambahkan dengan mengunyah tembakau.
Menurut Inak Jawariah, camilan Tanak Ampan biasanya untuk menemani merokok. Ada yang membakarnya dan dicampur dengan gula. Tapi banyak yang makan Batu Ampan mentah-mentah. Waktu Masha mengingatkan, bisa kurang aman makan tanah mentah karena resiko adanya mikroba dalam tanah liat. Tapi Herman Johdi menimpali ,”Orang-orang di desa tidak peduli tentang apa yang dikatakan para ilmuwan,” katanya.
Pulang dari Bentek, Masha bertanya dalam hati, apa yang akan dilakukannya dengan dua kantong Tanak Ampan ; memasak sup, membuat patung atau hanya makan mentah-mentah untuk merasakan tradisi masyarakat setempat.
Akhirnya, dua kantung Batu Ampan itu sebagian menjadi tepung menu camilan gorengan. Pisang Goreng Tanak Ampan,Tahu Goreng Tanak Ampan, Perkedel Goreng Tanak Ampan dan Tempe Goreng Tanak Ampan itu dilahap habis penonton yang menikmati konser musik Ary Juliant.
Ka-eS
Gus Dur, Tahun Baru dan Islam yang Rahmatan lil ‘alamin
MATARAM – lombokjournal.com
Gus Dur (seperti) hidup lagi. Dalam acara haul ke 7 Gus Dur, sekaligus menyemarakkan Tahun Baru 2017, “Gus Durian Lombok” memperingatinya dengan jargon “I Love You Full, Gus Dur”. Nilai-nilai pemikiran Gus Dur relevan menjawab tantangan Indonesia saat ini.
“Nilai-nilai pemikiran Gus Dur tentang demokrasi, keberagaman dan tentang Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, perlu diperjuangkan generasi muda,” kata Fairuz Zabadi, Kordinator Gus Durian Lombok, di tengah acara tahun baruan di tempat parkir Taman Budaya NTB, Sabtu (31/12) malam.
Fairus Zabadi yang akrab disapa Abu Macel, yang juga Ketua PC NU Kota Mataram menjelaskan, pihaknya sudah memperingati Haul Gus Dur ke tiga kalinya. Di hampir provinsi seluruh Indonesia, haul serupa sudah berlangsung ke tujuh kalinya.
Tidak seperti peringatan Haul ulama besar umumnya, dalam haul yang diselenggarakan komunitas jaringan Gus Durian itu, berangsung santai dan bebas meski tetap kusyu’. Seniman musik, sastrawan dan aktor teater bebas mengekspresikan karya seninya. Mahasiswa Universitas NU (UNU) juga semat menggelar karya-karyanya.
Salah satu yang ikut meramaikan adalah seniman musik, Wing Sentot Irawan. Wing Sentot yang juga dikenal sebagai pernah bersepeda mengelilingi beberapa Negara Asia Tenggara itu, menyanyikan karya-karya musik dengan lirik yang sufistik.
“Nilai-nilai pemikiran Gus Dur yang diuraikan tokoh-tokoh yang bicara malam ini, seolah-olah menghidupkan lagi sosos Gus Dur,” kata Sentot mengomentari testimoni yang disampaikan Ketua KNPI NTB, Ketua ANSOR NTB, termasuk tokoh muda yang sempat dekat dengan Gus Dur, Ahmad SH alias Memet.
Tentu saja, penampilan Fairuz Zabadi alias Abu Macel malam itu sangat menarik. Seperti biasanya, Abu Macel tampil kocak dan menghibur. Tapi saat membaca puisi ‘Laba Untuk Rakyat’, yang membawa pesan religius sekaligus keberpihakan pada rakyat, memukau penonton yang memadati halaman parkir Taman Budaya dan jalan Majapahit malam itu.
“Para investor boleh menanamkan modalnya di Indonesia, tapi harus mengutamakan Laba Untuk rakyat,” seperti itu kata Fairuz. Saat mengucapkan ‘laba untuk rakyat’ itu, penonton serempak mengucapkan yang sama dengan teriakan bersemangat. Perayaan pergantian tahun menuju 2017 itu ditutup dengan pembacaan shalawat yang melibatkan seluruh yang hadir, tepat pada pukul 00.00 wita.
Perayaan tahun baru itu merupakan puncak Kemeriahaan haul Gus Dur ke tujuh yang diisi dengan berbagai kegatan. Selain sholat Subuh bersama, workshop digita yang berlangsung pagi hingga siang hari, yang melibatkan perwakilan santri seluruh Lombok.
Sore harinya di Taman Budaya juga berlangsung acara “Memoriam Gus Dur” yang dihadiri perwakilan lintas agama, salah satunya Pendeta Hasan (Kristen), Romo Meta (Budha), Ketua Matakin NTB, DR Abdun Nasir, tokoh Ahmadiyah, serta juga menghadirkan perewakilan Korem 162 Wirabhakti.
Di tempat terpisah, Ketua Lapesdam Mataram, Jayadi, mengatakan bahwa perayaan haul yang dirangkaikan dengan perayaan Tahun Baru itu juga tak tertutup kemungkinan mengundang kritik. “Tak ada yang salah, atau ada yang perlu disesalkan. Penyelenggaraan acara untuk menguatkan keberagaman,” katanya.
ks
Malam Tahun Baru, Non Stop Bersama Gus Dur
MATARAM – lombokjournal.com
Banyak cara merayakan pergantian tahun. Anak Muda NU Mataram Merayakan Malam Tahun Baru, menggelar kegiatan 24 jam suntuk memperingati Haul Gus Dur.
Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Kota Mataram menyelenggarakan serangkaian kegiatan mengambil tema 24 Jam bersama NU dan Gus Dur. Kegiatan ini dipusatkan di Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, mulai subuh tanggal 31 Desember 2016 hingga 1 januari 2017.
“Ini merupakan agenda tahunan rutin yang diperingati keluarga besar NU Mataram,” kata Ketua Panitia Haul Gus Dur, Hasan Basri, Kamis (29/12), dalam rilis yang dikirimkan ke lombokj0urnal@com.
Menurutnya, pergantian tahun baru tak perlu berhura-hura, dan mengahbiskan waktu dengan kegiatan buruk. “Lebih baik kita isi dengan serangkaian kegiatan positif,” katanya.
Dalam haul Gus Dur tahun ini, anak-anak muda NU Mataram menyiapkan serangkaian kegiatan mengisi detik-detik pergantian tahun, seperti “sholat subuh berjamaah, pelatihan santri digital, momeriam of Gusdur bersama tokoh lintas iman, istighosah dan doa bersama, refleksi akhir tahun, dan puncaknya akan dilaksanakan pagelaran musik, pembacaan puisi, teaterikal dan lain-lain yang bertajuk ‘Lailatul Art”, jelas Ketua Ansor Kota Mataram ini.
Pengorbanan Gus Dur
Terspisah Ketua Lakpesdam NU Mataram, Muhammad Jayadi, selaku Sekertaris Panitia menjelaskan, kegiatan ini merupakan upaya anak-anak muda NU Mataram mengingatkan publik jasa dan pengorbanan Gus Dur bagi bangsa Indonesia.
“Semangat dan fikiran Gus Dur harus terus ditransformasi ke masyarakat luas,” katanya Jayadi.
Harapannya, masyarakat bisa meneladani dan mengaplikasikan gagasan Gus Dur tentang kemanusiaan, solidaritas, pembelaan terhadap minoritas, serta pentingnya menjaga keutuhan NKRI.
Kegiatan Haul Gus Dur tahun ini, mengundang kelompok warga dari semua latar belakang, dari aktivis, budayawan, praktisi, professional, pelajar, mahasiswa, pesantren, tuan guru, petani, pedagang, agamawan dan lain-lain.
“Semua kita undang, bersama-sama mengenang almarhum Gus Dur, sekaligus sama-sama merayakan malam pergantian tahun dengan hal-hal yang positif,” ujar Jayadi, mantan ketua PMII Mataram ini.
Kegiatan akhir tahun itu juga diisi dengan Istighosan dan doa bersama bagi keselamatan bangsa dari semua tokoh agama dan semua umat. Dengan harapan, bangsa ini tetap damai dan maju.
Rr.
DUG DAG, Kaos Lombok ‘Cinta Rinjani’
MATARAM – lombokjournal.com
Kalau di Jogja ada kaos DAGADU, di Lombok juga punya kaos DUG DAG. “DUG DAG” merek kaos khas Lombok, sebab itu mengarahkan kita ke bunyi salah satu seni tradisi Lombok yang kondang Gendang Bele. Yang juga menarik, Kaos DUG DAG diproduksi dengan brand kekayaan alam Lombok, Rinjani.
Andi Haris
Seiring pesatnya perkembangan pariwisata di NTB, khususnya Lombok, produksi kaos Lombok sebagai salah satu ole-ole khas juga berkembang pesat. Di berbagai tempat, banyak dijual kaos bergambar Lombok namun umumnya diproduksi di luar daerah.
Berbeda dengan lainnya, kaos DUG DAG diproduksi di Kota Mataram, Lombok. Produksi kaos Lombok itu melengkapi kebutuhan wisatawan yang datang ke Lombok untuk membawa ole-ole khas. Di berbagai tempat di kota Mataram, termasuk di resor wisata, akan dijumpai produk DUG DAG dengan desain Gunung Rinjani.
“Saya cinta Rinjani, kaos yang saya produksi bermaksud menyebarluaskan simbol kekayaan alam Lombok, Gunung Rinjani,” kata Andi Haris, produsen kaos DUG DAG sejak tahun 2010, Kamis (27/10)
Andi Haris mengatakan, gagasan memproduksi kaos bergambar Rinjani karena gunung tersebut mempunyai arti sangat penting tidak hanya bagi Lombok, tapi juga memberi kebanggaan seluruh masyarakat NTB. “Wisatawan yang ingat Rinjani, juga akan ingat NTB, khususnya Lombok,” kata Haris.
Karenanya, menurut Andi Haris, Rinjani sebagai aset berharga harus benar-benar dijaga, khususnya kebersihan dan kelestarian lingkungan gunung tertinggi kedua di Indonesia itu. Selain pihak pemerintah yang berwenang, wisatawan maupun masyarakat Lombok yang memperoleh manfaat ekonomi. Tiap tamu yang datang dan mendaki Rinjani selalu mengagumi keindahaannya. Sayangnya, kebersihan Rinjani belum ditangani optimal.
Haris mengakui berkepentingan mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian Rinjani. Sebab dengan beredarnya kaos DUG DAG bergambar Rinjani yang dibawa ke luar daerah, makin banyak wisatawan datang dan berminat ke Rinjani. Secara berkala Haris banyak membantu mengorganisir kebutuhan wisatawan yang hendak mendaki Rinjani.
Jadi kalau berkunjung ke Lombok, jangan lupa bawa ole-ole kaos DUG DAG. Kalau di Mataram, bisa langsung kontak ANDI HARIS. Pasti dapat kaos dengan harga ‘bersahabat’. Soal kaos DUG DAG tak usah diragukan kualitasnya, sebab kaos tersebut didesain oleh lulusan Seni Rupa dari ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja. Pasti top.
Rr
KONTAK ANDI HARIS :
081805752211
MAPABA PMII Komisariat IKIP Mataram
MATARAM – lombokjournal.com
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) mengharapkapkan para anggota barunya mengetahui peran penting dan tanggung jawab sosialnya. “Agar mahasiswa menjadi bagian yang berperan bagi kemajuan bangsa,” ujar Ketua PMII Komisariat IKIP Mataram, Baharudin mengatakan, para anggota baru PMII, Minggu (16/10) malam.
Baharudin mengatakan itu saat menutup kegiatan MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru), yang diselenggarakan PMII Komisariat IKIP Mataram, yang diikuti 34 mahasiswa, di Ponpes Assulamy Desa Langko, Lingsar, Lombok Barat (14-16 oktober). Kegiatan tersebut sekaligus dimaksudkan untuk mensyiarkan Islam An Nahdliyah Ahlussunah wal Jamaah (NU) kepada anggota baru PMII.
Penyelenggaraan MAPABA di Ponpes Assulamy di Desa Langko itu juga diharapkan bisa membangun mentalitas mahasiswa, membentuk karakter serta kepribadian dan berilmu cakap. Selain itu, juga menguatkan ketaqwaan dan intelektualitas peserta, agar mahasiswa menjadi profesional dalam bidang yang digelutinya.
Secara terpisah Ponpes assulamy, TGH Zamhur mengatakan sangat mendukung kegiatan anak muda atau mahasiswa di bawah naungan NU. Kegiatan tersebut diakuinya murni program Komisariat PMII IKIP Mataram, tanpa muatan unsur politis. Selama kegiatan berlangsung, komunitas pengaman lingkungan Lang Lang Desa Langko berpartisipasi dalam pengamanan, mendampingi Banser NU Lombok Barat sebagai Badan otonom NU.
Dalam acara penutupan MAPABA tersebut dihadiri Pimpinan Yayasan Assulamy, TGH DRS. H Zamhur, Kepala Desa Langko, dan jajaran pengurus PC GP Ansor Lombok Barat. Selain itu juga tampak hadir para senior PMII Kota Mataram.
Emas Farosy
Inovasi Ibu Rumah Tangga di Pemenang Timur
Menyulap Sampah Jadi Produk Bermutu
LOMBOK UTARA – lombokjournal.com
Kelompok para perempuan yang terbilang kreatif dan sedikit inovatif ini cukup menginspirasi dengan aktivitas usaha yang mereka geluti. Aktifitas keseharian ibu-ibu rumah tangga ini dalam mengelola usahanya ternyata tidak memerlukan bahan yang mahal. Mereka manfaatkan bahan dari limbah sampah lalu menghasilkan aneka jenis produk menarik nan indah.
Dari sampah jadi produk nan indah
———
Kelompok Aneka Kerajinan di Dusun Karang Baru Desa Pemenang Timur Kecamatan Pemenang Lombok Utara ini, mempunyai anggota 10 orang. Berdiri sejak awal tahun 2012, dan hingga kini masih aktif dalam menjalankan usahanya menyulap limbah sampah menjadi tas, bunga, dompet, keranjang minuman dan alat-alat aksesoris lain yang berwarna-warni.
Terbilang kreatif, karena limbah sampah yang ada dapat mereka ubah jadi barang-barang bermanfaat dan indah merona. Panorama ini jarang kita lihat dan dengar di Lombok Utara yang bermotto bumi Tioq Tata Tunaq. Sampah yang selama ini kita anggap mengganggu dan merusak penglihatan kita, jorok dan juga kotor. Namun, kelompok perempuan bertangan kreatif ini, limbah sampah (bungkus kopi, botol minuman, serta bungkus-bungkus jajanan (snack) justru mendatangkan manfaat besar.
“Semua kerajinan yang kami hasilkan berbahan dari limbah sampah. Untuk mendapatkannya kami cari bersama-sama secara sendiri-sendiri. Terkadang, ketika sulit kami dapatkan, kami membeli dari para pemulung sampah,” ungkap Salamah, Ketua Kelompok Aneka Kerajinan.
Untuk membuat satu unit tas misalnya, cukup membutuhkan bahan dari limbah bungkus kopi disamping benang untuk mengikat sambungan satu bungkus kopi dengan bungkus yang lainnya. Pembuatan untuk satu unit tas saja misalnya tidak butuh waktu yang lama.
Mereka bisa menuntaskan pengerjaan satu unit tas hanya dalam waktu setengah hari. Pun halnya dengan produk lainnya seperti keranjang minuman dibuat dari bekas botol minuman, dompet, dan kembang bunga. Semuanya berbahan dari limbah sampah. Mereka mengerjakannya dalam waktu yang cukup cepat dan diracik oleh sentuhan tangan-tangan kreatif juga produktif.
Sudah lebih 4 tahun kelompok ini berdiri, tapi sayangnya, peralatan untuk membuat produk hingga kini masih memakai alat-alat manual karena belum memiliki alat modern untuk mempercepat proses penganyaman.
“Untuk membuat semua produk kerajinan kami menggunakan alat obeng, gunting, soder dan mesin jahit, sampah-sampah tersebut bisa tersulap jadi barang bermanfaat,” kata perempuan berjilbab ini.
Saat ini hasil kerajinan yang dibuat kelompoknya sudah mulai dipasarkan di pasar UMKM Lombok Utara depan Pasar Tradisional Tanjung. Di pasar ini, semua jenis karya perempuif an-perempuan kreatini dipajang. Tak hanya itu, barang hasil kerajinan mereka juga kerap ditampilkan dalam beberapa kegiatan seremonial pemerintah daerah, kecamatan dan desa. Semisal, pada musrenbang RKPD tahun 2017 di Hotel Bay Marina beberapa waktu lalu, hasil kerajinan mereka dipamerkan dalam ajang tersebut.
Dalam rangka memperluas jangkauan promosi, ibu-ibu rumah tangga ini banyak menitipkan produk mereka di hotel dan restoran yang ada di Kabupaten Lombok Utara. Promosi selain dimasudkan melebarkan jangkauan pangsa pasar, juga diharapkan dapat menyedot daya tarik tamu hotel dan restoran sehingga mereka saban waktu berinisiatif untuk membeli sebagai oleh-oleh ketika balik ke daerah/negara asalnya.
“Kami sangat mendambakan pasar seni yang ada di Gili Trawangan juga dapat kami akses sebagai lokasi memasarkan hasil-hasil kerajinan kami. Harapan tersebut telah kami usulkan kepada pemerintah daerah. Tapi, dari informasi yang kami peroleh, ijin bukan dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten tapi pemerintah provinsi selaku pemegang kuasa di tempat itu. Mudah-mudahan kedepan kami diijinkan menjual produk di lokasi itu,” cetusnya.
Cara lain yang ditempuh untuk memasarkan produk ialah mempromosikannya secara door to door dengan komunikasi tatap muka secara intensif bersama para pengusaha dan para guide yang ada di wilayah Pemenang dan sekitarnya. Cara ini dilakukan agar produk mereka bisa sampai kepada pengunjung.
“ Tidak jarang kami dikunjungi wisatawan langsung di lokasi produksi,” terangnya.
Keuntungan penjualan yang mereka dapat minimal 1 juta rupiah dalam sebulan. Penjualan tampak fantastis ketika musim high season. Mereka tidak mematok harga tetap untuk masing-masing produk, namun, pihak yakin akan adanya kesempatan lain. Menurut mereka, daripada pembeli tawa-menawar dengan harga lebih rendah dari harga standar yang mereka tawarkan.
Kanyataan ini kemudian membuat kelompok ini sadar, ternyata usaha mereka tak terbilang besar seperti produksi-produksi pengusaha besar. Untuk satu unit tas gandeng dijual pada kisaran harga 100 ribu keatas, keranjang minuman untuk ukuran terkecil dijual dengan kisaran 80 ribu, dompet 50 ribu serta bunga kembang 100 ribu.
Dengan usaha yang telah dibangun bersama, Salamah dapat sedikit mengurangi beban ekonomi para ibu rumah tangga yang ikut tergabung dalam kelompok. Setidaknya mereka bisa membantu menstabilkan ekonomi keluarga. Sebelum membentuk kelompok usaha ini, waktu lowong mereka banyak terbuang. Kini, waktu mereka terisi aktivitas yang mendatangkan penghasilan.
djn
Inspirasi dari Desa, MEMBANGUN PARTISIPASI DI TENGAH KEBERAGAMAN
LOMBOK UTARA — lombokjurnal.com
MEMIMPIN desa yang masyarakatnya heterogen, baik agama, suku, sosial budaya, adat-istiadat dan lainnya, seperti Desa Bentek Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, tentu memiliki kesulitan tersendiri. Namun sosok Warna Wijaya, Kepala Desa (Kades) Bentek, mampu membangun partisipasi dan keterlibatan lebih luas pada masyarakatnya di tengah semangat pluralitas. Dengan kebijakan dan regulasi yang demokratis, tak heran jika desa ini mampu meraih penghargaan hingga level provinsi bahkan nasional.
Desa Bentek dihuni beragam suku, Sasak, Mbojo, Bali, dan lainnya. Juga beragam agama, Islam, Budha, Hindu dan Kristen. Dengan jumlah penduduk 9.000 jiwa lebih yang tersebar di enam belas dusun (Kakong, Serungga, Batu Ringgit, Selelos, Senggaran Goa, San Baro, Dasan Bangket, Lowang Sawak, Todo Daya, Todo Lauk, Buani, Karang Lendang, Luk Pasiran, Lenek dan Baru Murmas).
Sebagian masyarakatnya bertani di lahan basah dan juga lahan kering sekitar bukit. Sebagian lagi warga yang tinggal berdekatan dengan laut sebagai nelayan. Sebagai daerah pinggiran kota, ada pula warganya yang berprofesi sebagai pedagang dan pelaku usaha.
Menyatukan masyarakat dalam perbedaan itulah yang justru menjadi rahmat sekaligus tantangan bagi Warna Wijaya dalam membangun Bentek. Membangun partisipasi sekaligus menggerakkan masyarakat melalui pendekatan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan tokoh pemuda. Ditunjang peran LPM, PKK hingga mengoptimalkan fungsi perangkat desa hingga ke tingkat RT/RW. Termasuk memberdayakan kelembagaan masyarakat desa lainnya seperti Karang Taruna, LPTQ, Remaja Masjid, Pemuda Budis, Teruna Dedare, Majelis Adat dan lembaga-lembaga yang lain.
“Kita merangkul semua elemen dan kita berdayakan masyarakat,” cetus Warna saat berbincang dengan lombokjurnal.com, Sabtu (20/08), tentang konsep sederhananya membangun partisipasi publik secara luas.
Pun, masyarakat juga dilibatkan secara aktif dalam pengambilan kebijakan desa secara demokratis. Terutama dalam penyusunan Peraturan Desa (Perdes). Contohnya Perdes APBDes, Perdes Sistem Pengelolaan Air Minum Desa, dan Perdes Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa). Sebelum disahkan BPD, Kades dan Tim Legislasi Desa turun menyerap aspirasi warga, meminta saran dan masukan dari masyarakat. Kemudian disosialisasikan, apakah layak atau tidak Perdes tersebut diterapkan di Bentek melalui uji publik atas rancangan peraturan desa yang dibuat.
Kalau layak, seperti apa sanksi yang diterapkan jika terjadi pelanggaran dikemudian hari. Sehingga Perdes yang dihasilkan benar-benar mendapatkan dukungan dan legitimasi dari warga masyarakat. “Termasuk kala sanksi diterapkan bagi mereka yang melanggar Perdes, juga tidak ada yang protes,” ujarnya.
Di Bentek juga terdapat Perdes yang mengatur Pembentukan dan Pengelolaan BUMDes, di dalamnya juga diatur usaha-usaha kecil dan menengah mulai dari usaha yang berskala rumah tangga hingga berbentuk usaha dagang. Termasuk usaha berjenis koperasi, kelompok pengusaha hasil bumi. Semuanya diatur. Intinya, mengatur lalu lintas pengusahaan perekonomian masyarakat desa. Tapi bukan pajak, karena bertentangan dengan aturan diatasnya. Bentuk kontribusi para pelaku usaha/pengusaha untuk ikut andil peran membangun desa.
Beberapa program unggulan juga diluncurkan dalam mengoptimalkan potensi desa. Mulai dari pertanian sebagai program prioritas. Terutama dengan hadirnya Kelompok Tani dan Kelompok Ternak yang mengelola ternak sapi dan kambing sejak dua tahun lalu didukung oleh instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan dan Perikanan.
Program unggulan lain adalah pengembangan usaha industri kecil dan rumah tangga seperti kelompok usaha batako, papin blok, kerajinan tangan, pertukangan, anyaman akar kelapa dan anyaman bambu dan pelbagai usaha sejenis. Dari kelompok inilah produk-produk kerajinan disebar ke wilayah lainnya di Lombok Utara. Produk-produk kerajinan ini telah diperjualbelikan di Pasar UKM kabupaten dan bahkan dipasarkan di wilayah-wilayah wisata di bumi Tioq Tata Tunaq, baik di gili matra maupun senggigi, luar daerah seperti Bali dan Jawa, bahkan mancanegara.
Saat ini, Pemerintah Desa sedang mendorong pembentukan dan pengembangan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di setiap dusun di Bentek. Fokus utamanya, wisata budaya dan wisata religi bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara. Memuluskan niat ini, ke depan rencananya akan menggandeng para pelaku wisata. Aksi nyata untuk mendukung obsesi ini, tahun depan pemerintah Desa Bentek berencana akan membangun kawasan wisata religi dan budaya di Buani, Baru Murmas, dan beberapa dusun lainnya di Bentek. Pasalnya Bentek termasuk salah satu desa di Lombok Utara yang kaya potensi destinasi wisata.
Tinggal bagaimana menggerakkan potensi itu untuk mendulum akselerasi pembangunan desa. Gebrakan ini telah dimasukkan dalam RKP Desa tahun 2015. “Ke depan, kita butuh dukungan Pemkab melalui SKPD terknis untuk Promosi Buani dan Baru Murmas masing-masing sebagai dusun wisata religi dan wisata budaya,” harap Warna.
Salah satu dusun yakni San Baro juga telah dicanangkan sebagai Kampung Pendidikan di Desa Bentek. Rencana inipun telah dikoordinasikan dengan SKPD terkait agar “dikepung” dengan program dan sebagian telah terealisasi sesuai harapan, seperti pendirian lembapa pendidikan anak usia dini (PAUD) Harapan Bangsa pada 2011. Berikutnya, pada 2014 gedung PAUD Harapan Bangsa pun dibangun melalu back up program nasional pemberdayaan masyarakat perdesaan (PNPM-MPd). Kemudian, pembangunan Mushalla Sekolah Dasar Negeri 5 Bentek 2013 dilanjutkan rehab gedung ditahun yang sama. Selanjutnya penembokan keliling halaman SDN 5 Bentek 2014.
Bantuan pembangunan fisik lembaga pendidikan pun “mengepung” Dusun San Baro seperti pentaludan areal Ponpes Aljariyah 2013 dan 2014, pembangunan gedung RKB MTs Aljariyah tahun 2015 serta pentaludan di sekitar gedung MTs tahun 2016 ini.
Di samping itu, bantuan-bantuan program lain pun ikut mengepung San Baro. Misalnya bantuan pupuk, MCK Umum, jamban keluarga, hingga program rumah kumuh serta sanitasi lingkungan dan air bersih lewat program Pamsimas. Potensi lain yang sedang digarap membentuk Lembaga Adat Desa dengan mencanangkan pembentukan Majelis Krama Desa. Berikutnya telah dicanangkan juga pembentukan kelengkapan pranata adat di aras dusun (Majelis Krama Adat Dusun) untuk mengembangkan, menegakkan dan sekaligus meneguhkan nilai-nilai adat-istiadat di tengah masyarakat sebagai upaya pelestarian terhadap warisan leluhur terdahulu agar tidak tergerus oleh kemajuan pesat budaya modern yang tak terbantahkan akibat efek arus globalisasi dunia.
Di bidang keagamaan misalnya, pemerintah Desa Bentek pada tahun 2013 telah membentuk LPTQ Desa Bentek – lembaga yang fokus pada fungsi mengembangkan dan memfasilitasi pembelajaran alquran kepada warga masyarakat terutama generasi muda muslim desa sesuai kaidah-kaidah ilmu tajwid dan ilmu-ilmu seni baca alquran. Berikutnya, Pemdes Bentek juga mendorong para aktivis LPTQ desa membentuk lembaga-lembaga TPQ di setiap dusun di Bentek – kepanjangan tangan LPTQ desa dalam memberdayakan serta memfasilitasi anak-anak di kampung dalam belajar dan menghayati alquran beserta makna yang terkandung di dalamnya.
Begitu banyak terobosan yang dibangun Kades dan masyarakatnya di Bentek diganjar dengan banyak penghargaan. Juara Umum MTQ Kecamatan Gangga empat kali berturut-turut (2011, 2012, 2013 & 2014). Juara II Lomba Desa Kabupaten Lombok Utara 2012. Juara I Permata Provinsi NTB (2013), Juara III Permata tingkat Nasional (2013) dan masih banyak penghargaan lainnya yang telah disabet. “Semua prestasi yang telah diraih ini diawali dengan memberi ruang yang luas kepada warga untuk ikut terlibat secara aktif dalam setiap program pembangunan. Kuncinya, semua dimulai dari membangun partisipasi masyarakat,” pungkasnya.
djn
Donald Trump Sebenarnya Ogah Jadi Presiden
Pembuat film dokumenter, Michael Moore mengatakan mendapat bocoran, Donald Trump sebenarnya tidak ingin menjadi Presiden Amerika Serikat. Kandidat Partai Republik itu justru menyabotase kampanye sendiri agar gagal menuju ‘Ruang Oval’ (Kantor Presiden di Gedung Putih).
Henry Barnes, 17 August 2016
Michael Moore, 17 Agustus 2016
Dalam artikel yang ditulis di The Huffington Post, Moore menyatakan, Trump hanya menjadikan masa berlangsungnya pemilihan presiden sebagai taktik bernegosiasi. Milyarder itu, berharap ia memanfaatkan momentum pilpres untuk minta bayaran tinggi dari NBC.
Trump sebelumnya pernah menjadi bintang reality show TV “The Apprentice”. Tapi acara dihentikan karena ia imigran Meksiko seagai “pengedar narkoba” dan “pemerkosa” pada awal kampanyenya.
Menurut Moore, tanpa menyebutkan sumbernya, Trump terus kampanyenya hanya untuk meningkatkan tarifnya dengan jaringan stasiun televisi lainnya.
Moore lebih jauh menulis, Trump jadi mabuk karena kampanyenya menjadi perhatian. Mungkin saja, siapa pun akan mengalami hal yang sama dengan perhatian besar dari publiknya. “Trump jatuh cinta lagi pada dirinya sendiri, dan ia melupakan misinya untuk mendapatkan kesepakatan yang baik untuk acara TV,” tulis Moore.
Serangkaian insiden dalam beberapa minggu belakangan, membuat popularitas Trump merosot. Serangan Trump pada keluarga Humayun Khan, seorang tentara Muslim Amerika yang tewas saat bertugas di Irak – termasuk pernyataannya yang menyerang Hillary Cllinton terkait “Amandemen Kedua” – merupakan perilaku aneh Trump untuk “bunuh diri”.
Namun krisis tiga minggu terakhir “bukanlak insiden”. “Bisa jadi semua itu semua itu bagian strategi yang justru untuk “segera keluar dari neraka kompetisi” sebab Trump tidak berharap meneruskan kampanyenya.”
Moore akhirnya mengisyaratkan, bahwa Trump hendak melepaskan pencalonannya sebagai kandidat Partai Republik daripada menderita karena kekalahannya.
“Percayalah, saya sudah bertemu Trump. Menghabiskan sore dengan dia, ” tulis Moore.
Trump malah lebih suka mengundang Clinton dan keluarga Obama untuk menghadiri pernikahannya dengan isteri berikutnya. Sebenarnya trump sudah membaca firasat kurang menguntungkan setelah jajak pendapat belakangan ini.