60 WNA Dideportasi Sepanjang Tahun 2017

Warga Negara Cina paling banyak dideportasikan

MATARAM.lombokjournal.com — Kantor Imigrasi Kelas I Mataram telah mendeportasi 60 warga Negara asing (WNA) selama 2017 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Ramdhani menjellaskan, kebanyakan kasus deportasi disebabkan penyalahgunaan dokumen ijin keimigrasian.

“WNA yang dideportasi didominasi dari Cina sebanyak 18 orang,” ujar Ramdhani di Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Jumat (13/10).

Selanjutnya, ada Malaysia sebanyak 11 orang, Australia (6 orang), Timor Leste (5), Perancis (4), Inggris (3), Korsel (2), dan Belgia, Jepang, Kanada, Swiss, Hungaria, Bulgaria, Jerman, Rusia, Bangladesh, Italia, serta Turki masing-masing satu orang.

Baru-baru ini, Kantor Imigrasi Kelas I Mataram juga berhasil mengamankan tiga WNA yang menyalahi dokumen keimigrasian. Dua warga Spanyol dan seorang warga Australia, menggunakan visa wisata ke Lombok, namun justru berbisnis di bidang properti di Senggigi, Lombok Barat dan jasa penginapan di Gili Air, Lombok Utara.

Tiga WNA ini terciduk tim pengawasan orang asing (timpora) yang berisikan Imigrasi Kelas I Mataram dan Polda NTB dalam operasi gabungan (opgab) terhadap orang asing di wilayah Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Barat pada Kamis (12/10).

Kepala Kasubid Ijin Tinggal dan Status Keimigrasian, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) NTB Sayid Zulkifli mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika melihat atau mendapatkan informasi terkait adanya dugaan penyalahgunaan ijin keimigrasian.

“Kami imbau warga yang dapatkan informasi untuk jangan ragu melaporkan ke kita,” kata Sayid.

AYA

 




Bupati dan Walikota di NTB Diminta Ajak Masyarakat Lakukan Perekaman E-KTP

Memberikan kemudahan dari sisi pelayanan proses perekaman, sehingga masyarakat mau melakukan perekaman

Agus Patria

MATARAM.lombokjournal.com —  Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) 2018 secara serentak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB),  masih banyak warga masyarakat yang belum melakukan perekaman e-KTP.

Padahal perekaman  merupakan persyaratan mutlak bagi masyarakat agar bisa menggunakan hak pilihnya.

“Untuk mendorong masyarakat yang belum melakukan perekaman e-KTP, aparatur pemerintahan mulai dari Dukcapil hingga aparatur pemerintahan tingkat kelurahan diharapkan bisa lebih maksimal bekerja,” kata Asisten l Pemprov NTB, Agus Patria di Mataram

Kepada Bupati dan Walikota di seluruh Kabupaten Kota, Agus juga meminta untuk bisa turun mengawal kerja aparaturnya. Mengajak dan mendorong masyarakat segera melakukan perekaman e-KTP.

“Karena bagaimana pun,  itu juga merupakan kepentingan mereka yang hendak mencalonkan diri,” kata Agus.

Artinya untuk mendorong kesadaran masyarakat, harus jemput bola dengan turun langsung. Termasuk dengan memberikan kemudahan dari sisi pelayanan proses perekaman, sehingga masyarakat mau melakukan perekaman

“Dengan cara tersebut, masyarakat bisa menggunakan hak pilihnya pada Pemilukada 2018 mendatang,” terang Agus

Meski demikian, Agus mengaku, dirinya belum sepenuhnya membaca secara  detail regulasi terkait e-KTP sebagai persyaratan memilih dari KPU. “Apakah ada alternatif lain atau tidak,” katanya.

AYA

 




Baiq Mariah Margani Muhammad binti Abdul Gani, Jamaah Haji Tertua Tiba di Lombok

Selama di Arab Saudi Papuq Mariah mendapat perlakuan yang istimewa dari Kerajaan Arab Saudi.

MATARAM.lombokjournal.com — Jamaah haji tertua asal Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Mariah Margani Muhammad binti Abdul Gani yang berumur 104, telah tiba di Asrama Haji NTB pada Jumat siang (6/10).

Papuq  Mariah demikian ia dipanggil, tiba sekitar pukul 14.00 Wita bersama kelompok terbang (kloter) 10 atau kloter terakhir jamaah haji asal NTB.

Rahmi (54), jamaah asal Gunung Sari, yang selalu mendampingi Papuq Mariah, mengatakan kondisi Papuq sehat wal afiat.  Selama di Tanah Suci, Papuq tidak mengalami kendala berarti. Pendengaran Papuq Mariah sendiri kurang baik, karenanya Rahmi kerap seperti orang berteriak ketika bertanya sesuatu kepada Papuq Mariah.

“Paling awal-awal pas tiba, karena banyak yang meliput jadi dia kaget, bahkan sempat meminta pulang karena stres,” ujar Rahmi di Asrama Haji NTB, Jalan Lingkar Selatan, NTB, Jumat (6/10).

Namun, hal itu hanya berlangsung selama sehari. Setelahnya prosesi ibadah berjalan dengan lancar. Terlebih selama di Arab Saudi, Rahmi mengatakan Papuq mendapat perlakuan yang istimewa dari Kerajaan Arab Saudi.

“Kita tidak tinggal di tenda, tapi di hotel, kemana-mana juga dijemput dan diantar dengan mobil,” lanjut Rahmi.

Perlakuan istimewa lain ialah barang-barang berupa tas milik Papuq maupun Rahmi selalu dibawakan para petugas. Pun dengan akses beribadah di Tanah Suci yang kerap mendapat perlakuan khusus.

Rahmi yang baru mengenal Papuq saat manasik haji mengaku bersyukur lantaran niat mulianya mendampingi Papuq dibalas kemudahan dari Allah SWT.

“Papuq betul-betul membawa keberkahan selama beribadah di Tanah Suci,” kata Rahmi menambahkan.

AYA

BACA JUGA :

Jamaah Haji 2017 Tercatat 19 Orang Meninggal,  2 orang Meninggal di NTB




Jamaah Haji Tahun 2017 Tercatat 19 Orang Meninggal, 2 orang Meninggal di NTB

Tiga jamaah haji yang masih dirawat di Arab Saudi akan dipulangkan setelah benar-benar sehat

MATARAM.lombokjournal.com  —  Dari total 4.501 jamaah asal NTB yang berangkat ke tanah suci, 19 jamaah meninggal dunia. Hal itu dikatakan  Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Nasaruddin mengatakan, Asrama Haji NTB, Jalan Lingkar Selatan, Mataram, NTB, Jumat (6/10).

Menurut Nasarudin, seluruh jamaah haji asal NTB kini telah kembali ke Tanah Air.

Dari 19 Jamaah yang meninggal dunia, 17 jamaah meninggal dunia di Mekah, Arab Saudi. Sedangkan, dua jamaah lainnya meninggal setelah sudah berada di NTB.

“Ada juga tiga jamaah yang masih berada di Tanah Suci karena mengalami sakit dan harus dirawat,” lanjut Nasaruddin.  Untuk kepulangan tiga jamaah yang dalam kondisi sakit masih menunggu perkembangan terbaru.

“Akan ditangani medis sampai benar-benar sehat dan dipantau terus sampai normal, sampai betul-betul total sehat,” kata Nasaruddin menambahkan.

Secara bertahap proses pemulangan jamaah haji berakhir pada Jumat (6/10), setelah kelompok terbang (kloter) 10 atau yang menjadi kloter terakhir tiba di Bandara Internasional Lombok, pada Jumat (6/10) siang.

Nasaruddin mengaku bersyukur prosesi pelayanan haji tahun ini berjalan cukup lancar, baik saat sebelum maupun setelah kepulangan.

Berbeda tahun-tahun sebelumnya, para jamaah haji dijemput di asrama haji masing-masing kabupaten/kota. Untuk musim haji 2017 ini, para jamaah dipusatkan di Asrama Haji NTB. Para keluarga bisa menjemput jamaah haji di Asrama Haji NTB dan langsung kembali ke rumah masing-masing.

AYA

BACA JUGA :

Baiq Mariah Margani Muhammad binti Abdul Gani, Jamaah Haji Tertua Tiba di Lombok




Alokasi Anggaran Pengungsi Menunggu Status Darurat Bencana Melalui SK Gubernur

Dengan ditetapkan status darurat bencana, memudahkan BPBD NTB memenuhi sejumlah sarana dan prasarana yang dibutuhkan bagi para pengungsi Gunung Agung.

MATARAM.lombokjournal.com —  Kepala BPBD NTB, Muhammad Rum mengatakan, jika terjadi erupsi Gunung Agung terjadi akan terjadi gelombang pengungsi yang cukup besar. Mereka masuk ke NTB, lewat jalur laut seperti Pelabuhan Lembar maupun Teluk Nara.

Status darurat bencana melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur merupakan hal yang sangat penting karena menyangkut alokasi anggaran. Dengan status darurat bencana ini, lanjut Rum, memudahkan BPBD NTB dalam mengokohkan sejumlah sarana dan prasarana yang dibutuhkan bagi para pengungsi.

Rum mengaku akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait persoalan ini.

Namun, hal ini belum bisa dilakukan lantaran lokasi kejadian bencana berada di Bali.

“Masa Pak Gubernur NTB yang keluarkan status. nanti akan konsultasi ke BNPB. Karena soal status itu merupakan hal penting dalam mengeksekusi anggaran,” kata Rum.

Terlepas dari persoalan tersebut, Rum menyampaikan gelombang pengungsi ke Lombok sudah terjadi, bahkan angkanya diperkirakan telah menyentuh 500 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah di Lombok.

“Terlepas masalah aturan itu, tetap semua yang terlibat dalam kebencanaan memastikan membantu pengungsi yang telah masuk ke Lombok. Bagaimana caranya agar mereka selama di sini dalam kondisi sehat wal afiat,” katanya.

BPBD NTB sendiri telah mendirikan tenda pengungsian di kawasan Batulayar, Lombok Barat. Namun, belum ada pengungsi yang tinggal di tenda tersebut. Para pengungsi lebih memilih tinggal di rumah keluarganya.

Rum menambahkan, para pengungsi juga bisa berobat gratis di RSUD NTB dengan didahului pemeriksaan di puskesmas terdekat dan dirujuk ke RSUD NTB.

Selain itu, mengingat keluarga penampung pengungsi juga berasal dari kalangan menengah ke bawah, BPBD NTB berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan NTB mengeluarkan cadangan beras untuk diberikan kepada keluarga penampung.

Bantuan sekolah sementara untuk anak-anak pengungsi juga diberikan, lengkap dengan alat perlengkapan sekolah berupa tas, buku, dan lain-lain.

“Kita juga bekerja sama dengan Dinas Perhubungan NTB untuk memberikan penyeberangan gratis bagi pengungsi yang mau kembali ke Bali,” tegas Rum

AYA

BACA JUGA : Pemprov Gelar Rakor Antisipasi Pengungsi Gunung Agung

 

 




Pemprov Gelar Rakor Antisipasi Pengungsi Gunung Agung

Belum meletus saja sudah banyak pengungsi, karena itu perlu kesiagaan stakeholder di NTB saat pengungsi akibat erupsi Gunung Agung masuk NTB

MATARAM.lombokjournal — Meningkatnya Status dari Gunung Agung Bali dan melonjaknya Pengungsi warga Bali ke NTB khususnya Lombok, membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menggelar Rapat Kordinasi (Rakor), Jum’at (06/10) dengan Stakeholder terkait erupsi Gunung Agung.

Rapat itu melibatkan BPBD NTB, Dinas Kesehatan NTB, Direktur RSUP NTB, BMKG, PoL PP NTB, dan Ketahanan Pangan NTB. Hadir selaku pembuka Acara  Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin.

Wagub mengatakan Rapat ini adalah  sebagai rasa peduli kita sama saudara-saudara kita, yang sudah jadi pengungsi   dikeluarganya dan ditempat yang disediakan .

Wagub meminta kepada Badan Penanggulangan Bencana daerah beserta yang terkait untuk memastikan, para pengungsi mendapat perlakuan baik, memenuhi kebutuhan-kebutuhannnya karena ini  bangsa Indonesia siapa pun dia, apalagi tetangga pulau.

“Belum meletus saja, masih dalam kondisi Awas, belum Erupsi, tapi sudah ada yang mengungsi. Inilah yang kita siapkan dengan baik,” katanya.

Wagub ingin memastikan semuanya siap, jangan sampai segala sesuatunya baru mulai saat terjadi letusan. Terang nanti akan lebih banyak pengungsi yang akan datang. “Jadi karena  itu saya perintahkan untk menyipkan segala sesuatunya  dengan baik, koordinasi juga dengan pemerintah daerah provinsi Bali,” cetusnya.

Wagub mengingatkan agar stakeholder terkait memperhatikan pendidikan anak-anak yang bersama  pengungsi.

Anak-anak pengungsi harus sekolah disini dulu, sampai waktu di Bali krmbali normal,” kata wagub.

Ditegaskan, kesiapan itu yang harus segera dirumuskan, agar mempermudah pengungsi mendapatkan pelayanan kebutuhannya. “Inilah tujuan dari rapat ini,” tegas wagub.

AYA

BACA JUGA :

Alokasi Anggaran Pengungsi Menunggu Status Darurat Bencana Melalui SK Gubernur

 

 




BPJS Kesehatan Sering Klarifikasi Informasi Tidak Benar

Informasi siampang siur – maksudnya tidak sesuai fakta – sering beredar di jejaring media sosial. Seolah-olah dipublikasikan BPJS Kesehatan, padahal informasi itu beredar tanpa sumber yang jelas

MATARAM.lombokjournal.com — Penting bagi pengguna media sosial (medsos) untuk melakukan pengecekan ulang bila mendapat informasi terkait pelayanan BPJS Kesehatan. Karena informasi itu sering merugikan masyarakat, khususya yang mengikuti program atau menjadi peserta JKN-KIS.

Di bawah ini, salah satu contoh informasi yang tidak sesuai fakta tersebut;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bukan hanya informasi yang menyangkut pelayanan BPJS Kesehatan yang sering merugikan itu. Bahkan sempat beredar juga informasi mengenai perekrutan pegawai, dalam surat yang menggunakan kop surat BPJS Kesehatan.

Masyarakat diharapkan tetap melakukan pengecekan, agar terhindar dari maksud penipuan yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab.

Sumber ; Media Info BPJS

 




Wakil Gubernur Minta Agar Pengungsi Gunung Agung Diperhatikan Maksimal

Pengungsi Gunung Agung di Lombok sudah mencapai 100 kepala keluarga (KK) dengan 354 jiwa.

MATARAM.lombokjournal.com — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H Muhammad Amin minta dinas yang terkait penanganan bencana, memberi perhatian lebih terhadap para pengungsi Gunung Agung, Bali yang menyeberanng ke Lombok.

Sebagai daerah terdekat Bali,  NTB harus membantu Pemerintah Provinsi Bali mengantisipasi dampak aktivitas Gunung Agung yang kini statusya Awas.

“Sebagai tetangga dekat, kita harus membantu semaksimal mungkin, ,” kata wagub.

Katanya, gelombang pengungsi yang ke Lombok kebanyakan karena memiliki keluarga. Namun, Amin minta untuk tetap mendata para pengungsi, agar memudahkan memberi bantuan dan kebutuhan para pengungsi.

Mengenai anggaran, Amin mengungkapkan, ada dinas-dinas yang memiliki alokasi anggaran terkait kebencanaan, misalnya Dinas Sosial NTB.

“Harus siapkan dan didata. Ini solidaritas kemanusiaan. Kalau NTB terkena bencana, pasti Bali sebagai daerah terdekat juga membantu, begitu pun sebaliknya,” tegasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Muhammad Rum mengatakan, hingga Selasa (3/10), jumlah pengungsi Gunung Agung di Lombok sudah mencapai 100 kepala keluarga (KK) dengan 354 jiwa.

Jumlah ini tersebar di beberapa titik di wilayah mulai Lombok Barat, Lombok Utara, hingga Kota Mataram. Angka ini merupakan hasil pendataan pos pemantau pengungsi di Pelabuhan Lembar. Diprediksi jumlah ini masih bisa meningkat, lantaran banyak pengungsi yang tidak atau enggan didata.

“BPBD NTB juga telah mendistribusikan bantuan kepada para pengungsi di Lombok,” jelas Rum.

Bantuan berupa makanan siap saji, selimut, perlengkapan sekolah, perlengkapan makanan, hingga family kit telah disalurkan kepada para pengungsi.

Rum menjelaskan, BPBD NTB membuka kantor selama 24 jam di Jalan Lingkar Selatan, Mataram, NTB. Bagi para pengungsi yang tinggal tak jauh dari kantor BPBD NTB untuk mengambil bantuan.

Bagi pengungsi yang tinggal cukup jauh dari Kantor, BPBD NTB mendatangi tempat tinggal sementara para pengungsi guna memberikan bantuan.

AYA




TGB Jadi Pembina Tim Pengawasan Orang Asing

Gubernur menyarakan agar Imigrasi Mataram mensosialisasikan pelayanannya saat Car Free Day yang berlangsung tiap hari Minggu di Mataram

Dudi Iskandar

MATARAM.lombokjournal.com —  Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH Muhammad Zainul Majdi didaulat sebagai pembina tim pengawasan orang asing (Timpora) Lombok. Hal ini dikatakan, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Dudi Iskandar.

Menurut Dudi, dalam waktu dekat, Timpora Lombok akan segera dikukuhkan.

“Kami akan bentuk Timpora secara keseluruhan, di mana Pak Gubenur (NTB) akan menjadi pembinanya,” ujar Dudi, Rabu (Kamis,29/09).

Dudi menjelaskan, sebelumnya Timpora Lombok memang sudah pernah dibentuk, namun belum diresmikan. Nantinya, Timpora Lombok akan diisi sejumlah perwakilan dari Kepolisian, TNI, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, serta dinas-dinas terkait lainnya.

Dudi menambahkan, sebagai daerah tujuan wisata, Lombok menjadi pilihan bagi banyak wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, singergitas antar instasi perlu diperkuat dalam memantau orang asing di Bumi Seribu Masjid.

“Kan di Lombok banyak wisatawan asing yang berlibur, dan ada juga yang bekerja,” katanya.

Dudi yang baru menjabat sebagai Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Mataram sejak Senin (25/9), juga menerima masukan dari Gubenur NTB terkait pentingnya mendekatkan diri kepada masyarakat.

“Beliau (Gubernur NTB) banyak memberi masukan kepada imigrasi, bagaimana meningkatkan pelayanan,” tuturnya,

Kepada Dudi, gubernur yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) menyarankan Kantor Imigrasi memanfaatkan momen “car free day” yang digelar setiap akhir pekan di Jalan Udayana, Mataram, untuk memberikan sosialisasi terkait pelayanan Kantor Imigrasi kepada masyarakat.

AYA

 




Pengungsi Dari Bali Ada Yang Enggan Didata

Ratusan pengungsi Gunung Agung terus berdatangan ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

MATARAM.lombokjournal.com — Berdasarkan pos pemantauan pengungsi Gunung Agung di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, NTB, jumlah pengungsi yang terdata tercatat sebanyak 62 Kepala Keluarga (KK) dengan 169 jiwa.

Angka itu diprediksi bisa meningkat lebih besar, mengingat banyak pengungsi yang tidak terdata saat menyeberang ke Lombok.

Ada pengungsi yang enggan didata saat tiba di Pelabuhan Lembar. Faktor memiliki keluarga di Lombok, menjadi salah satu alasan dari para pengungsi untuk tidak melapor ke pos pemantauan pengungsi.

Kebanyakan para pengungsi yang tiba di Lombok biasanya dijemput keluarga ataupun menggunakan kendaraan pribadi dari Bali.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Muhammad Rum mengimbau para pengungsi yang datang ke Lombok untuk tidak khawatir didata. Pasalnya, pendataan ini dimaksudkan untuk mengetahui keberadaan para pengungsi selama di Lombok.

“Kita sayangkan sikap sejumlah pengungsi yang enggak didata. Padahal ini demi kebaikan si pengungsi sendiri,” kata Rum

Rum menjelaskan, pendataan akan sangat berguna bagi Pemerintah Bali maupun Pemerintah NTB. Apabila, pengungsi tidak melaporkan kepada Pemda Bali dan NTB, bisa tergolong sebagai orang hilang.

“Jangan sampai kehilangan jejak, kalau di Bali, di desanya didata dia tidak ada. Terus di Lombok juga tidak melapor bisa bisa dibilang orang hilang dan buat cemas,” jelasnya.

Rum menyampaikan, dari hasil pendataan, para pengungsi di NTB juga bisa mendapatkan bantuan berupa makanan siap saji, sandang, alat perlengkapan makanan, tas sekolah lengkap dengan isinya, kidsware untuk balita, hingga makanan tambah gizi.

Para pengungsi yang tinggal di sekitar Mataram, bisa datang langsung ke Kantor BPBD NTB yang terletak di Jalan Lingkar Selatan, Mataram, yang buka selama 24 jam. Sedangkan, pengungsi yang tinggal di luar Mataram, BPBD NTB bekerja sama dengan Kepala Desa setempat untuk pendistribusian bantuan.

“Sudah ada beberapa kepala keluarga yang kita salurkan bantuan. Kalau yang tidak terdata kan susah juga,” ujar Rum.

Rum juga meminta BPBD kabupaten/kota yang ada di NTB untuk pro aktif melakukan pendataan pengungsi Gunung Agung di tingkat desa. BPBD NTB juga membantu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB dalam hal fasilitasi pengungsi yang berusia pelajar untuk bisa sekolah sementara di NTB.

Sejauh ini baru ada lima pelajar SD dari Bali yang telah dibantu pengurusan sekolah sementara di Mataram.  Syaratnya tinggal lapor ke BPBD, nanti dibantu fasilitasi ke sekolah-sekolah di NTB.

Selain membantu pengungsi di Lombok, BPBD NTB juga telah mendirikan dua unit dapur umum di Karangasem, Bali.

AYA