Jurnalis Ikuti Pelatihan BPS

Para media diharapkan lebih paham lagi dengan data-data yang dibuat oleh BPS,

MATARAM.lombokjournal.com – 30 orang Jurnalis dari media cetak, online, televisi, mengikuti statistical capacity building (SCB) atau pelatihan untuk meningkatkan pemahaman para jurnalis tentang data-data statistik hasil survei lembaga Statistik.

Kegiatan yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat  (NTB) tersebut berlangsung di di Kantor BPS NTB di Mataram, Senin (13 /11). Kepala BPS NTB, Hj Endang Tri Wahyuningsih, serta seluruh  Pegawai di lingkup BPS NTB mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam sambutanya, Endang Tri Wahyuningsih berharap, melalui kegiatan pelatihan tersebut dapat meningkatkan pemahaman wartawan terkait kelembagaan sensus dan survei serta data yang dihasilkan BPS.

” Saya harapkan dengan adanya kegiatan ini para media akan lebih paham lagi dengan data-data yang dibuat oleh BPS,” katanya.

Ia menyatakan, pelatihan kepada wartawan perlu dilakukan secara berkelanjutan karena data hasil survei yang dilakukan BPS terus berkembang seiring kemajuan teknologi informasi dan ekonomi masyarakat.

Menurut Endang, data yang dihasilkan harus berkualitas dan sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan, yakni relevan, akurat, tepat waktu, mudah diakses, mudah diintepretasikan dan koherensi.

“Kegiatan yang seperti ini harus terus dilanjutkan terlebih media merupakan Partner BPS dalam memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat,” ujarnya.

Seperti diketahui, masyarakat saat ini makin maju dalam memahami statistik dan data, serta mampu mengaitkan dengan berbagai perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial.

Selain kegiatan pelatihan, selama ini BPS NTB selalu melakukan Rilis Data hasil survei  yang dilakukan setiap tanggal 1 dan 15 tiap bulannya, dengan mengundang semua media.  “Agar media bisa menyampaikan informasi yang tepat dan akurat,” tambah Endang.

AYA




Pra Munas NU di Menado; NU Dan Kebhinekaan Berbangsa Dan Bernegara

NU menyerap nilai-nilai positif kehidupan masyarakat Sulut,  sebagai nilai tambah bagi kehidupan masyarakat majemuk secara nasional PBNU sengaja mengambil tema: NU DAN KEBHINEKAAN.

Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) dikenal sebagai salah satu miniatur keberhasilan dari pelaksanaan toleransi kehidupan beragama dengan latar belakang budaya yang beragam. Saudara-saudara kita dari pemeluk Nasrani yang mayoritas punya sikap toleran dan empati yang tinggi terhadap masyarakat muslim yang minoritas, dan begitu pula sebaliknya. Masyarakat muslim tahu duduk soal dirinya: bagaimana bertindak dan berprilaku sebagai masyarakat yang minoritas.

Karena saling mengerti dan saling berempati inilah maka masyarakat di Sulut ini hidup dalam suasana damai. Tak terjadi gejolak seperti di tempat-tempat lain.

Gambaran positif inilah yang, antara lain, menjadi latar belakang: mengapa Pra-Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas Alim Ulama dan Konbe NU) ini dilaksanakan di Kota Manado ini.

Maksudnya, PBNU ingin menyerap nilai-nilai positif dari kehidupan masyarakat Sulut untuk dijadikan sebagai nilai tambah bagi kehidupan masyarakat majemuk secara nasional. Itulah sebabnya, kami dari PBNU sengaja mengambil tema: NU DAN KEBHINEKAAN.

Acara seminar yang akan dibuka oleh Gubernur Sulut, Olly Dondokambey SE di Hotel Aryaduta Manado, Sabtu 11 November ini, akan dihadiri dua pembicara utama, yaitu: Prof Dr. KH. Said Agil Siroj, MA (Ketua Umum PBNU) serta Mantan Presiden RI ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri. Seminar juga akan menerima masukan dari KH. Yahya Cholil Staquf (Katim ‘Aam Syuriyah PBNU) serta Pendeta AWB Sumakul (Ketua Sinode Gereja Injili Minahasa) dan Prof. Dr. Yong Ohoitimur (Rektor Universitas Delasale).

Kegiatan Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Menado ini rencananya diikuti oleh para utusan dari pengurus wilayah NU se-Indonesia Timur. Wilayah ini meliputi: Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara, NTT, Bali, Gorontalo, Sulsel, Sulteng, Sulbar dan Sultra, di samping Ormas dan FKUB se-Provinsi Sulut sendiri. Khusus untuk Sulut Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU juga melibatkan para utusan dari PCNU, Badan Otonom dan Lembaga NU se-Provinsi Sulut.

Menurut Ketua PBNU Robikin Emhas yang juga Ketua Panitia Munas Alim Ulama dan Konbes NU, rangkaian kegiatan Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU ini merupakan kegiatan yang ke-empat. Kegiatan pertama telah berlangsung di Zona Indonesia Tengah di Palangkaraya Kalimantan Tengah pada 20 Oktober 2017.

Kegiatan Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU kedua di Zona Indonesia Barat berlangsung di Lampung 3-4 November 2017. Manado sengaja dipilih, sambung Robikin, karena daerah ini dikenal sebagai miniatur keragaman di Indonesia.

Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU Zona Indonesia Timur di Manado ini secara bersamaan juga berlangsung di Jawa, tepatnya Purwakarta, Jawa Barat sebagai rangkaian kegiatan Pra-Munas Alim Ulama ketiga, khusus tema Bahtsul Masail.

Ditegaskan pula bahwa, Keragaman atau kebhinekaan adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Itu adalah karunia Tuhan yang harus kita pelihara. Jangan sebaliknya, kebhinekaan dirusak dan dijadikan alat mendestruksi harmoni sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” imbuh Robikin Emhas.

Amin Lasena, Ketua Panitia lokal Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Manado menyatakan, ada dua hal hingga acara kegiatan ini terselenggara di Manado. Pertama, katanya, ini adalah bentuk kepercayaan PBNU pada PWNU Sulut. Kedua, tambah Amin Lasena, karena huhungan baik NU dengan para pimpinan di Sulut. “PWNU dan Gubernur punya visi yang sama untuk terus mempertahankan Sulut sebagai miniatur kebhinekaan. Karena itu kami mendukung sepenuhnya kepemimpinan Gubernur,” ujar Ketua Panitia Lokal, AminLasena.

(sumber: Humas Munas dan Konbes  NU)

BACA JUGA :

Pra Munas NU di Purwokerto; Mencari Solusi Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama




Pra Munas NU Purwakarta, Mencari Solusi Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama

Di luar faktor ideologis dan propaganda keliru dari aspek agama, iming-iming kemapanan ekonomi menjadi magnet paling banyak menyedot massa radikal

lombokjournal.com

Solusi atau  jalan keluar atas kesenjangan ekonomi dan radikalisme agama secara mendalam dibahas pada Pra Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Pra Munas dan Konbes NU) di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (10/11).

“Seperti diketahui berbagai bentuk paparan virus radikal kian mengancam keutuhan NKRI. Sementara pada saat yang sama tren pertumbuhan ekonomi kita terus menurun. Faktanya, 2017 ini harga komoditas masih melemah, dan belanja konsumen menurun,” ujar Ketua Steering Committee (SC) Munas dan Konbes NU, KH Mustofa Aqil Siroj Siroj melalui siaran persnya

Tantangan bangsa Indonesia di era global makin kompleks. Problem ekonomi di antara warga bangsa semakin terihat menganga. Di sisi lain, paparan radikalisme agama semakin menguat.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyah diniyah ijtma’iyah) yang menjunjung tinggi moderatisme terus berupaya memberikan jalan keluar berbagai problem yang melilit bangsa Indonesia.

Menurutnya, radikalisme agama dan ekonomi  jika ditelusuri lebih jauh merupakan dua hal saling berkait. Kalau kondisi perekonomian warga tidak kuat tentu akan makin mudah disusupi virus radikal. Sebaliknya kalau perekonomian warga kuat, tentu tidak akan mudah terpapar propaganda radikal.

“Data menunjukkan, di luar faktor ideologis dan propaganda keliru dari aspek agama, iming-iming kemapanan ekonomi menjadi magnet paling banyak menyedot massa radikal,” kata Kiai Mustofa Aqil.

Tugas ideologis NU sebagai ormas berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bagaimana terus membentengi negeri ini dari rongrongan paham radikal, membumikan Pancasila, menjaga keutuhan NKRI, dan memperkuat perekonomian warga lewat sejumlah program pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Untuk membahas persoalan kesenjangan ekonomi dan radikalisme agama, PBNU menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di antaranya Kapolri Jenderal Pol M. Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, dan Prof Arief Anshory Yusuf.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan dihadiri oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, dan Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah.

Dalam kesempatan Pra Munas dan Konbes ini, PBNU juga menggelar forum Bahtsul Masail yang mengkaji perundang-undangan dan problem terkini bangsa Indonesia.

Hasil Pra Munas dan Konbes di Purwakarta ini akan dibawa ke Munas dan Konbes NU di Lombok pada 23-25 November 2017 mendatang.

AYA

(sumberHumas Munas dan Konbes  NU)

BACA JUGA : Pra Munas Menado; NU dan Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara




Listrik Mulai Terangi Desa Puncak Jeringo Di Kaki Rinjani

PLN bertekad terus meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan Nusa Terang Benderang. Dan tahun rasio elektrifikasi diharaokan mencapai 100 persen

LOMBOK TIMUR.lombokjournal.com —  Warga Desa Puncak Jeringo di kaki Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat tersenyum semringah saat listrik di rumahnya mulai menyala. Penantian panjang, akhirnya terwujud, sebanyak 80 warga kini telah menikmati listrik dari PLN.

Pelaksana Tugas Kepala Desa Puncak Jeringo, Hariyanto, menyampaikan kegembiraannya karena listrik sudah menerangi rumah warganya.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN karena listrik di Desa Kami telah menyala. Saat ini kalau malam kami tidak lagi gelap, kecelakaan di jalan desa saya yakin juga akan berkurang. Anak-anak juga bisa belajar malam, kalau dulu harus pakai dilecopok (lampu minyak),” ujar Hariyanto saat ditemui Jumat (10/11).

Dari pusat Kota Mataram, desa ini berjarak sekitar 95 kilometer, bisa ditempuh melalui jalur darat selama tiga jam. Diakhir perjalanan, jalan ke desa ini cukup terjal dan berbatu. Sulitnya medan inilah yang membuat PLN baru bisa menyambungkan aliran listrik untuk masyarakat setempat.

Tanah di Puncak Jeringo ini isinya batu, jadi ketika petugas PLN menggali tana pun sangat sulit. Apalagi medan menuju desa ini cukup berat, tanjakan belum beraspal.

“Apalagi ketika hujan, akan semakin sulit. Dalam satu hari, paling petugas hanya bisa menyelesaikan satu atau dua tiang,” cerita Manajer PLN Rayon Pringgabaya, Firmansyah.

Agar listrik masuk Desa Puncak Jeringo, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 3,79 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 3,31 kms, dan dua gardu distribusi masing-masing berkapasitas 50 kilo Volt Ampere (kVA).

Firmansyah menambahkan, dari hasil pendataan, saat ini terdapat sekitar 250 KK yang rumahnya belum ada listrik. Meskipun demikian, PLN telah menyatakan kesiapannya untuk menyambungkan listrik untuk seluruh warga Desa Puncak Jeringo.

“Banyak dari warga yang ingin melakukan penyambungan, namun menunggu hasil panen. Tapi dari sisi kesiapan jaringan dan pasokan daya, PLN siap.” kata Firmansyah.

General Manager PLN Wilayah NTB, Mukhtar menjelaskan, pembangunan infrastruktur kelistrikan di Desa Puncak Jeringo dilakukan melalui Program Listrik Desa.

“Ini merupakan komitmen PLN untuk menerangi seluruh negeri. Kami berusaha untuk terus meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan Nusa Terang Benderang. Saat ini, Puncak Jeringo sudah terlistriki, dusun atau desa terpencil lainnya.” jelas Mukhtar.

Hingga September 2017, rasio elektrifikasi di Provinsi NTB telah mencapai 82,79 persen, dari target tahun 2017 sebesar 80 persen. Untuk meningkatkan rasio elektrifikasi pada tahun 2018, melalui program listrik desa PLN berencana melistriki 77 dusun yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Harapannya, pada tahun 2020 rasio elektrifikasi telah mencapai 100 persen.

AYA/Hms




Puncak Hujan di NTB Terjadi Bulan Desember Hingga Februari 2018

Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan diminta waspada, mengingat sebagian kawasan hutan NTB kondisinya gundul dan rawan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor

Wakodim (foto: AYA/Lombok Journal)

MATARAM.lombokjournal.com — Prediksi puncak musim hujan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), akan terjadi pada bulan Desember hingga Februari 2017 dengan intensitas normal hingga di atas normal.

Masyarakat diminta senantiasa waspada terjadinya bencana terutama daerah yang selama ini rawan bencana.

Hal ini disampaikan oleh Kepala stasiun Klimatologi Kelas I Lombok Barat, Wakodim, Rabu (8/11) di Mataram.

“Musim hujan tahun ini intensitas hujan normal dan akan berlangsung di atas normal pada puncaknya, yaitu Desember hingga Februari,” terangnya

Ia menjelaskan , beberapa Kabupaten Kota yang rawan bencana banjir antara lain, Kabupaten Sumbawa, Kota Bima, Kabupaten Lombok Timur di kawasan Sambelie dan Belanting, serta Kota Mataram di Ampenan

Masyarakat Kabupaten lain juga diharapkan tetap waspada, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, mengingat sebagian kawasan hutan NTB sekarang kondisinya gundul dan rawan terjadinya bencana banjir maupun tanah longsor

“Masyrakat harus lebih Waspada terlebih masyarakat yang tinggal di Kawasan Hutan,” tegasnya

Untuk pergerakan angin selama musim hujan, akan berubah dari angin timur ke angin barat, di mana angin barat biasanya akan lebih kencang,” Wakodim menambahkan.

AYA

 

 

 




Ponpes Nurul Islam Di Sekarbela Siap Sambut Konbes Dan Munas Alim Ulama NU

Mulai penginapan dan MCK, fasilitas lain juga seperti ruang sidang, hingga pos kesehatan Ponpes dan ruang sekretariat termasuk media center.

Hj Wartiah (Foto: AYA/Lombok Journal)

MATARAM.lombokjournal.com —Panitia Munas Alim Ulama dan Konbes NU menetapkan lima pondok pesantren (Ponpes) yang menjadi lokasi pelaksanaan sejumlah agenda..

Salah satunya di Ponpes Nurul Islam di bawah bimbingan Hj. Wartiah. Sejumlah agenda akan di gelar di ponpes yang berlokasi di Sekarbela, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram.

“Persiapan di Ponpes Nurul Islam terus berjalan,” tutur Hj. Wartiah di Mataram, Senin (16/11). Sejumlah persiapan menyukseskan agenda besar para alim ulama ini pun mulai digenjot.

Untuk menyukseskan agenda ini sejumlah infrastruktur pun mulai dibenahi. Bahkan ponpes Nurul Islam telah menyediakan 12 kamar yang di bisa di manfaatkan peserta untuk menginap dan tiga lokal ruang kosong sebagai cadangan.

Selain kamar penginapan pihak ponpes juga menyediakan MCK sebanyak 26 buah yang sudah selesai direhab dan akan disiapkan 4 MCK lagi sebagai cadangan.

Selain penginapan dan MCK, sejumlah fasilitas lain juga dipersiapakan seperti ruang sidang untuk laziz dua tempat, pos kesehatan pondok pesantren, ruang sekretariat dan media center.

“Jadi kami sudah mempersiapkan semua yang menjadi kebutuhan peserta, baik dari penginapan ruang sidang, MCK hingga media center bagi teman-teman wartawan yang meliput kegiatan ini,” papar Wartiah.

Ponpes Nurul Islam sendiri mendapat jatah peserta sebanyak 99 orang, keamanan 25 orang dan sisanya dari santri yang ada di ponpes Nurul Islam.

Sementara salah satu agenda yang akan di gelar si ponpes Nurul Islam adalah sidang komisi organisasi.

Selain ponpes Nurul Islam ponpes lainnya yang menjadi lokasi acara adalah Ponpes Darul Falah dengan agenda Sidang Bas’ul Masail, Ponpes Darul Qur’an dengan agenda sidang komisi rekomendasi, Ponpes Al Halimy dengan agenda sidang program kerja.

Dan yang terakhir Ponpes Darul Hikmah sebagai posko panitia pusat. Serta sekretariat PW NU sebagai tempat registrasi seluruh peserta.

AYA

 




Maulanasyeikh (Hampir Pasti) Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Tahun ini, dari 3 tokoh yang akan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, salah satunya Tuan Guru Kyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

lombokjournal.com –

Kalau tahun 2016 satu-satu tokoh pejuang dari kalangan pesantren yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional adalah tokoh Nahdlatul Ulama Alm K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, tahun 2017 giliran tokoh NahdlatulWathan yakni Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang akrab dipanggil Maulanasyeikh.

Dikabarkan, ulama kharismatik asal NTB yang juga kakek Gubernur NTB TGB Zainul Majdi itu akan diberikan gelar pahlawan nasional oleh pemerintah bersama dua tokoh lainnya dari Riau dan Aceh.

Tahun lalu Presiden Joko Widodo tidak mau ngobral gelar kepahlawanan, karena itu hanya 1 orang yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Lalu kami katakan (tahun ini) jangan satu lagi lah pak, ya sudah, bisa tiga yang diputuskan,” kata Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu di lingkungan istana kepresidenan yang juga Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan di Jakarta, pekan lalu (Kamis, 26/10).

Dewan Gelar menerima usulan dari Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) di Kementerian Sosial yang mendapatkan usulan dari TP2GD dari daerah.

Penetapan gelar Pahlawan Nasional itu akan disampaikan 9 November, esok harinya 10 Nopember diperingati sebagai hari Pahlawan.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan  pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Provinsi NTB.

Dari Riau ada Sultan Mahmud Riayat Syah seorang tokoh yang gigih berperang melawan Belanda, serta Laksamana Malahayati, salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh.

Tahun 2017 ada 9 yang diusulkan sudah dirapatkan oleh Dewan Gelar. Penganugerahan Pahlawan Nasional merupakan bagian dari kesadaran nasional yang harus dipelihara dan saatnya membangkitkan kesadaran generasi penerus mengenai pahlawan dalam sejarah.

Sumber: Ant




Program Jaminan Sosial TKI Harus Disosialisasikan

Diusulkan agar semua majikan TKI Diundang, sosialisasi bisa dilakukan di KBRI

Kasdiono

MATARAM.lombokjournal.com  — Seiring berakhirnya asuransi TKI yang diselenggarakan Asuransi Konsorsium TKI serta pialang asuransi TKI bulan Juli lalu, harus segera dilakukan sosialisasi program perlindungan bagi TKI yang mulai berlaku per awal Agustus.

Desakan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Barat (DPRD), Kasdiono di Mataram, Jum’at (03/11).

Ia minta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Tenaga Kerja mensosialisasi secara masif di negara-negara penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI). Khususnya di Malaysia, dimana banyak TKI asal NTB yang bekerja di Negeri Jiran tersebut.

“Saya minta BPJS Tenaga Kerja segera sosialisasi ke negara penempatan, terutama Malaysia dan harus ada perwakilan BPJS di sana,” kata Kasdiono,

Kasdiono menegaskan, BPJS Tenagakerja harus benar-benar fokus dalam memberikan pelayanan tersebut, terutama bagi para TKI yang sedang perpanjang kontrak di luar negeri.

“Jangan sampai mereka (TKI) tidak tercover asuransi.Bukan karena mereka tidak mau bayar, tapi dia tidak tahu saluran ke mana,” katanya.

Menurut Kasdiono, BPJS harus melakukan sosialisi secara masif dan intens, tidak hanya kepada para TKI di luar negeri, melainkan juga para perusahaan dan majikan.

“BPJS tugasnya sosialisasi ke perusahaan dan majikan. Usul saya undang seluruh majikan dan beri sosialisasi di KBRI kita,” ujar Kasdiono.

Dijelaskannya, asuransi merupakan hal yang sangat penting dalam melindungi hak-hak para pahlawan devisa negara dan diharapkan mampu meminimalisir jumlah TKI prosedural.

Selama tahun ini, terdapat 44 TKI asal NTB meninggal dunia di luar negeri.

44 orang meninggal tahun ini, mayoritas ilegal dan banyak masalah hak-hak tidak bisa dipenuhi.

“Kalau legal kan hak-haknya bisa terpenuhi lewat program asuransi,” tegasnya.

AYA




Wisata Halal Dibahas Dalam Munas Dan Konbes Nahdlatul Ulama

NTB jadi pilihan tempat penyelenggaraan tak lepas dari branding wisata halal

MATARAM.lombokjournal — Wisata halal akan menjadi salah satu pembahasan dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2017 yang akan diselenggarakan di Islamic Center NTB pada 23-26 November mendatang.

Hal ini diungkapkan Ketua Panitia Munas dan Konbes NU Daerah, Lalu Winengan, usai rapat koordinasi bersama Wali Kota Mataram Ahyar Abduh di Kantor Wali Kota Mataram, Selasa (31/10).

Winengan mengatakan, wisata halal menjadi salah satu isu menarik, karena baru muncul pada beberapa tahun terakhir.

Pemilihan NTB sebagai tuan rumah Munas dan Konbes NU 2017 juga tidak bisa dilepaskan dari branding wisata halal yang menjadi prestasi dan t Sebagai tuan rumah yang baik, Pemkot Mataram mendukung penuh penyelenggaraan Munas nahdlatul Ulama 2017erobosan sektor pariwisata NTB, terutama Pulau Lombok.

“Kalau dulu tentang wisata tidak dibahas. Ini nanti dibahas, apa makna wisata halal yang jadi andalan kita,” ujar Winengan di Kantor Wali Kota Mataram, Selasa (31/10).

Selain itu, lanjut Winengan, Munas dan Konbes NU 2017 juga akan membahas kaidah-kaidah hukum, dan peraturan-peraturan dalam ajaran agama yang tidak hanya diperuntukan bagi warga NU, melainkan juga umat Islam.

Winengan menambahkan, penunjukan NTB sebagai tuan rumah Munas dan Konbes NU 2017 merupakan sebuah amanah yang harus dilaksanakan secara maksimal.

Pasalnya, NTB berhasil meyakinkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai tuan rumah, ketimbang delapan provinsi lain yang juga mengajukan diri sebagai tuan rumah Munas dan Konbes NU 2017.  Winengan menilai, citra NTB yang dikenal sebagai daerah bernuansa religius menjadi dasar utama pemilihan.

“NTB ini juga dikenal memiliki banyak pondok pesantren dan masjid, serta banyak warga NU juga di NTB,” lanjutnya.

Winengan berharap, Munas dan Konbes NU 2017 juga bermanfaat bagi masyarakat NTB, terutama para pelaku industri wisata seperti kerajinan tangan hingga kuliner.

Dampak positif Munas dan Konbes ini dinilai besar bagi pariwisata. ‘Tugas kita bersama-sama menyukseskan kegiatan ini. Kalau NTB aman dan kondusif tentu akan semakin bagus, dan investor akan  semakin tertarik,” kata Winengan.

AYA




OPD Kota Mataram Diminta Sukseskan Munas Dan Konbes Nahdlatul Ulama

Walikota akan kumpulkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk membahas kesiapan yang lebih detil

MATARAM.lombokjournal.com –  Walikota Mataram, Ahyar Abduh mengingatkan  OPD di Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram membantu panitia dalam menyukseskan pagelaran Musyawarah nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang baru pertamakali digelar di  Pulau lombok.

” Para OPD di mataram harus ikut serta, Bantu panitia agar acara Munas yang diadakan Nantinya bisa Sukses,” kata Ahyar Abduh.

Walikota menegaskan itu saat Pemkot Mataram menggelar rapat persiapan Munas dan Konbes NU 2017 bersama Pengurus Wilayah NU (PWNU) NTB di Kantor Wali Kota Mataram, Selasa (31/10).

Ia menyatakan akan mengumpulkan seluruh perangkat OPD untuk membahas kesiapan secara lebih detail mengenai apa yang dilakukan OPD dalam Munas dan Konbes NU.

“Nanti saya kan mengumpulkan semua OPD dimataram karena Ini tugas kita bersama dalam menyukseskan munas dan konbes NU 2017 di Mataram. Ini semua demi Nama Baik kita sebagai tuan rumah agar memberikan pelayanan dan memberikan kesan yang baik bagi peserta munas,” tegasnya.

Ahyar Abduh yang membuka rapat persiapan, meminta agar semua tim Panitia Munas dan Konbes NU 2017 fokus mempersiapkan diri, menyambut kedatangan warga NU dari seluruh penjuru Nusantara, 23 November mendatang.

“Rapat ini menjadi langkah bersama kita memantapkan persiapan penyelenggaraan munas dan konbes NU yang sudah sangat dekat,” ujar Ahyar dalam rapat persiapan bersama Ketua PWNU NTB TGH Taqiuddin.

Pemkot Mataram sangat  mendukung penuh penyelenggaraan Munas dan konbes NU yang mengambil lokasi di Islamic Center NTB.

Sementara itu Ketua Munas daerah Lalu Winengan menyatakan Sementara iru Ketua Panitia Munas dan Konbes NU Daerah, Lalu Winengan menyatakan Terpilihnya NTB sebagaI tuan rumah merupakan berkah. Sebelum NTB terpilih, sudah ada sembilan Provinsi yang mengajukan diri sebagai tuan rumah acara Munas ini.

” Suatu berkah NTB bisa terpilih, karena daerah lain di luar Jawa, NU terbesar ada di Lombok” Imbunnya

Winengan menyatakan, persiapan Munas hanya tinggal beberapa Fasilitas di Ponpes yang terus digenjot.

“Ada sekitar 1.200 peserta Munas akan tinggal di ponpes selama Munas Berlangsung,” katanya.

Pihaknya dengan Pemerintah Kota mataram mempersiapkan Semua hal dengan sebaik mungkin  mengenai Munas  yang akan diadakan pada 23 November mendatang, karena Presiden RI Jokowi akan menghadiri Munas tersebut.

“Kita siapkan semuanya, jadi tuan rumah yang baik dan memberikan kenyamanan itu tugas kami,” kata Winengan.

AYA