Konjen Tiongkok Kunjungi Korban Gempa Lombok Bersama NU Peduli

Pasca kunjungan lapangan nanti akan dilakukan evaluasi terhadap bantuan dan donasi yang akan disalurkan selanjutnya

MATARAM.lombokjournal.com — Konsul Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Gou Haodong bersama rombongan Konsulat RRT Denpasar didampingi jajaran NU Peduli, Senin (10/9), mengunjungi sejumlah lokasi korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebelum kunjungan lapangan, Konjen RRT Gou Haodong juga menyalurkan donasi simbolik di Posko NU Peduli, di Universitas NU Mataram, di jalan Pendidikan, Kota Mataram.

“Kami datang untuk meninjau lokasi korban gempa di Lombok, untuk lebih mengetahui kondisi dan juga apa saja yang dibutuhkan,” kata Gou Haodong.

Sejak gempa bumi terjadi di Lombok, Pemerintah Tiongkok sudah memberikan bantuan logistik dan tanggap darurat melalui berbagai model distribusi.

Selain bantuan G to G, pihak swasta dan masyarakat Tiongkok juga terpanggi menyalurkan bantuan untuk para korban gempa Lombok, salah satunya melalui Posko NU Peduli.

Menurut Gou Haodong, pasca kunjungan lapangan nanti akan dilakukan evaluasi terhadap bantuan dan donasi yang akan disalurkan selanjutnya.

“Kami akan evaluasi apa saja kebutuhan korban gempa saat ini, agar bantuan bisa lebih tepat sesuai apa yang dibutuhkan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, perusahaan mobil cina, Sokon (DongFeng Sokon/ DFSK) memberikan bantuan satu unit mobil operasional untuk NU Peduli.

Belajar Dari Gempa Sichuan

Gou Haodong mengatakan, pemerintah dan masyarakat Tiongkok sangat peduli dengan korban gempa di Lombok, NTB.

Sebab, sebelumnya gempa bumi cukup besar juga pernah terjadi dan banyak memakan korban jiwa di Tiongkok pada tahun 2008.

“Tahun 2008 gempa bumi merenggut korban jiwa 80 ribu orang. Sehingga ketika ada gempa di Indonesia, Lombok, kami juga bisa merasakan bagaimana yang dirasakan para korban. Ini yang membuat masyarakat kami ikut peduli dan berusaha membantu semampunya,” katanya.

Ia mengatakan, untuk masa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, pihaknya berencana mengundang delegasi dari Universitas NU Mataram dan NU Peduli untuk berkunjung ke Provinsi Sichuan, Tiongkok.

Provinsi Sichuan merupakan kawasan terparah terdampak gempa 2008 di Tiongkok. Namun hanya butuh waktu tiga tahun untuk kawasan itu terbangun kembali.

Menurut Gou Haodong, karakter masyarakat Indonesia dan Tiongkok punya kesamaan dalam hal kegotongroyongan dan kebersamaan.

“Kami berharap delegasi bisa melihat dan belajar langsung di Sinchuan untuk kemudian menerapkannya di Lombok,” katanya.

Ketua Tim  NU Peduli, Baiq Mulianah mengatakan, sejauh ini bantuan dari Tiongkok sudah disalurkann NU Peduli ke sejumlah lokasi korban gempa di Lombok Utara, Lombok Timur, dan Lombok Barat.

“Pendekatan bantuan ini kami bagi menjadi enam klaster, mulai dari logistik penanganan pengungsi, kesehatan, pendidikan, sampai ke tahap trauma healing,” katanya.

Selain dari masyarakat, bantuan juga berasal dari 5 perusahaan di Tiongkok, termasuk dari Bank of China.

“Donasi dan bantuan dari pemerintah dan swasta di RRT sudah kami salurkan dan hari ini juga ada bantuan donasi yang diserahkan secara simbolik,” katanya.

“Menurutnya, total bantuan yang sudah disalurkan sekitar Rp500 juta. Namun secara keseluruhan bisa lebih karena bantuan berupa logistik seperti sembako, terpal, kebutuhan anak dan wanita, dan lain sebagainya.

Terpisah Sekretaris PW  NU NTB, HL Winengan, dalam kesempatan itu mengungkapkan, solidaritas warga Tionghoa sudah ditunjukkan sejak gempa pertama hari Minggu, tanggal 29 Juli. Selain memberikan donasi untuk NU Peduli, warga Tionghwa di Bali dan Lombok, langsung mengunjungi daerah yang terdampak gempa di Lombok Timur.

“Saat itu mereka mengirim bantuan logistik dan kebutuhan sehari-hari lainnya sebanyak tiga truk, ” ujar  Winengan.

Winengan mengapresiasi solidaritas warga Tionghwa yang terus memberi bantuan  pada masyarakat yang terdampak gempa di Lombok .

“Saya mengapresiasi warga Tionghwa yang terus memberi bantuan  untuk pengungsi tanpa kepentingan apa pun.  Sampai hari ini terus jalan, ” kata Winengan, sambil menambahkan baru-baru ini perkumpulan warga Tionghoa membantu 100 tenda untuk kegiatan belajar-mengajar siswa.

Me (*)




Komunitas Anggota Polri Bantu Sesama Anggota Yang Terdampak Gempa

Dana yang terkumpul ini merupakan sumbangsih dari semua anggota Bharaduta Nusantara se Indonesia yang dikumpulkan bersama

LOMBOK BARAT.lombokjournal.com — Komunitas anggota Polri di lingkup Polda NTB, Bharaduta  D’pandiga Nusantara (BDN), melakukan Kunjungan ke semua anggota Bharaduta yang rumah atau tempat tinggalnya mengalami kerusakan akibat Musibah gempa Lombok pada tanggal 5 Agustus Lalu.

Komunitas Bharaduta dan D’Pandiga Nusantara memberikan sebuah bingkisan serta sejumlah uang yang dikumpulkan kepada anggota yang mengalami musibah.

Bripka i Ketut suryadi, Ketua bharaduta Polda NTB mengatakan, komunitasnya tidak hanya memberikan sumbangan ke anggotanya saja, melainkan juga kepada masyarakat sekitar yang juga mengalami musibah bencana tersebut.

“Kita tidak hanya memberikan sumbangan kepada anggota yang terkena musibah saja, melainkan juga ke masyarakat yang Lain,” ujarnya, Minggu (09/09).

Suryadi juga mengatakan, dana yang terkumpul ini merupakan sumbangsih dari semua anggota Bharaduta Nusantara se Indonesia yang dikumpulkan bersama.

“Begitu kita mendapatkan informasi ada anggota yang rumahnya rusak akibat gempa kami langsung berinisiatif untuk mengumpulkan dana,” ungkapnya.

Sementara itu Bripka M. Muhlis badri Amin, korban gempa yang rumahnya hancur mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada semua anggota Bharaduta yang ikut serta meringankan beban dirinya dan istri.

“Terimakasih untuk semua para anggota Bharaduta dan D’Pandiga,bantuan ini sangat betmanfaat,” pungkasnya.

Bharaduta sendiri merupakan singkatan dari Bhayangkara Dua Tiga. Bharaduta julukan untuk polisi laki-laki anggota BDN.

Sedangkan untuk polisi wanita (polwan) dijuluki D’Pandiga yang merupakan singkatan dari Dua Delapan Dua Tiga.

AYA




Gempa 4,8 SR Kembali Guncang Lombok

Masyarakat Lombok masih mengalami trauma dan memilih tinggali di tenda pengungsian

LOMBOK.lombokjoutnal.com – Gempa susulan masih terus mengguncang Lombok, meski magnitude gempa cenderung mengecil .

Minggu (9/9) siang pukul 12.53 Wita, gempa berkekuatan 4,8 Skala Richter (SR) kembali mengguncang. wilayah Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, episenter gempa di laut 23 km timur laut Lombok Utara atau terletak di 8,13 Lintang Selatan (LS) dan 116,58 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 5 km.

Gempa yang bermagnitudo 4,8 ini berskala MMI III dirasakan Lombok Utara, Lombok Timur, serta dirasakan Lombok Barat dan Mataram. Namun tidak berpotensi sunami.

Sebagaimana diketahui, pasca gempa 7,0 SR yang terjadi di Pulau Lombok pada Minggu, 5 Agustus 2018, gempa baru dan susulan kian dirasakan warga NTB. Tercatat, lebih dari 2000 kali gempa susulan terjadi di Lombok hingga satu bulan terakhir.

Pasca dua gempa bumi berkekuatan besar di Lombok yakni 7,0 SR pada 5 Agustus 2018 dan 6,9 SR pada 19 Agustus 2018 lalu, masyarakat Lombok masih mengalami trauma dan memilih tinggali di tenda pengungsian.

Razak




Pulau Lombok Aman Dari Gempa Besar

Pasca gempa besar di Lombok Utara, dan Lombok pada umumnya, kini kondisi Lombok terbilang paling aman dari gempa besar seperti sebelumnya

MATARAM.lombokjournal.com – Peneliti Utama LIPI sekaligus Ahli Geologi dan Gempa Bumi, Dr. Danny Hilman Natawidjaja menjelaskan bahwa Pulau Lombok sudah aman dari potensi gempa besar.

Sejumlah segmen yang berpotensi gempa telah mengeluarkan energi saat gempa bermagnitudo 7,0 dan 6,9 beberapa pekan lalu.

“Kita lihat segmen tengah sudah lepas, timur, barat sudah lepas. Artinya tidak ada potensi gempa besar lagi,” ujarnya usai sholat jumat di Islamic Center,  Jumat, (07/09).

Pasca dua gempa bumi besar yang melanda Lombok beberapa Waktu lalu, membuat masyarakat hingga saat ini masih tidur di tenda pengungsian atau bahkan masyarakat lebih suka membuat tenda di depan Rumah masing- masing.

Memang saat ini masih ada gempa susulan yang trend magnitudonya mulai melemah. Itu terjadi untuk menstabilkan kembali sumber gempa tersebut.

Ia mengatakan, pengungsi sudah dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Masyarakat sudah bisa menepati  rumahnya bagi yang masih bagus kembali ke rumah saja. Kecuali kalau betah di tenda,” ucapnya.

Dia menjelaskan siklus gempa besar di Lombok khususnya Lombok Utara terjadi dalam kurun 50 hingga 100 tahun ke depan. Karena pergerakan lempeng yang menyentuh sesar tersebut penekanannya maksimal 2 cm per tahun.

“Proses penekanan itu sekitar 2 cm per tahun. Itu kita bisa hitung dari jaringan GPS di sini. Untuk menghasilkan gempa seperti sekarang magnitudo 7, butuh melenting satu sampai dua meter,” jelasnya.

“Kan bisa dihitung kalau melenting dua meter dibagi dengan kecepatan tekanan dua cm, artinya untuk memproduksi gempa yang sama butuh waktu 100 tahun. Kalau geraknya satu meter butuh waktu 50 tahun,” sambungnya.

Dia menjelaskan, pasca gempa besar di Lombok Utara, dan Lombok pada umumnya, kini kondisi Lombok terbilang paling aman dari gempa besar seperti sebelumnya.

“Dari bencana yang sudah terjadi wilayah Lombok Utara menjadi wilayah yang paling aman untuk 50 sampai 100 tahun ke depan. Bahkan kita bisa bilang di seluruh pesisir Lombok ini, Lombok Utara paling aman,” ungkapnya.

AYA




 Kata Kepala Dishub, Nama Bandara ZAM Tidak Bisa Dirubah Lagi

Mengenai adanya pertanyaan kenapa tidak menggunakan nama tokoh setempat, Kepala Dishub menjelaskan, masih banyak aset milik pemerintah yang cukup megah dan belum memiliki nama, seperti Pelabuhan Badas, Jalan Bypass, atau Pelabuhan Gilimas

Lalu Bayu Windya

MATARAM.lombokjournal.com — Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB, Lalu Bayu Windya menanggapi berbagai macam penolakan, terkait perubahan nama Bandara Lombok Internasional Airport (LIA) menjadi Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), nama pahlawan nasional asal NTB.

“Itu sudah sah, tidak bisa rubah lagi. Bagi yang menolak, apa alasan, silahkan tanya langsung kepada bersangkutan, ” ungkapnya di Mataram, Kamis (06/09).

Penamaan Bandar Udara itu sesuai Keputusan Menteri Perhubungan RI nomor KP 1421 tahun 2018. Penetapkan nama Bandar Udara Internasional Nasional Zainuddin Abdul Madjid, juga dengan  persetujuan dari DPRD NTB, Gubernur NTB, Majelis Adat Sasak (MAS), serta Keputusan Presiden nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang penganugerahan gelar pahlawan nasional.

“Inget itu putusan Menhub, yang prosesnya ada usulan dari daerah, Gubernur, DPRD, ada komunitas masyarakat termasuk Masyarakat Adat Sasak (MAS),” kata Bayu.

Bayu menjelaskan, saat pengusulan iitu yang diajukan hanya satu nama yakni TGKH Zainuddin Abdul Madjid.  Dan mestinya, masyarakat harus bangga memiliki pahlawan nasional.

“Kalau ada yang bilang tidak pernah sosialisasi, itu salah. Jelas kita pernah FGD soal usulan, kemudian sosialisasi dengan berbagai pihak, ada work shop juga libatkan masyarakat Lombok Tengah, ” jelasnya.

Mengenai  kode booking tidak ada yang beruban, tetap LOP.  Perubahan itu hanya nama saja, yang rencananya akan diresmikan pasca kegiatan Sail Moyo Tambora.

Mantan Kepala Bakesbagpoldagri NTB itu menjelaskan, adanya pertanyaan kenapa tidak menggunakan nama tokoh setempat.  Menurut Bayu, masih banyak aset milik pemerintah yang cukup megah dan belum memiliki nama, seperti Pelabuhan Badas, Jalan Bypass, Pelabuhan Gilimas.

Bayu menjelaskan, saat pengusulan hanya satu nama yakni TGKH Zainuddin Abdul Madjid.  Mestinya, masyarakat harus bangga memiliki pahlawan.

“Kalau ada yang bilang tidak pernah sosialisasi, itu salah. Jelas kita pernah FGD soal usulan, kemudian sosialisasi dengan berbagai pihak, ada work shop juga libatkan masyarakat Lombok Tengah, ” ujarnya.

Bagaimana dengan kode booking? Bayu menegaskan, tidak ada yang beruban alias tetap LOP,  yang berubah hanya nama saja. Kemungkinan, pasca kegiatan Sail Moyo Tambora akan diresmikan.

Mantan Kepala Bakesbagpoldagri NTB itu menambahkan, mengenai adanya pertanyaan kenapa tidak menggunakan nama tokoh setempat. Bagi dia, masih banyak aset milik pemerintah yang cukup megah dan belum memiliki nama, seperti Pelabuhan Badas, Jalan Bypass, atau Pelabuhan Gilimas

“Tinggal diusulkan nama saja, nanti akan diproses,” jelasnya.

Nama ZAM itu bukan Bandara di Lombo Tengah, tapi juga nama eks bandara Selaparang Mataram juga ZAM. Itu merupakan penghargaan dari Panglima TNI.

Bayu berharap, dengan disetujuinya  usulan nama tokoh pahlawan nasional asal NTB, berarti tidak menutup kemungkinan banyak pahlawan nasional ke depan karena sudah tahu caranya.

“Tapi itu kebijakan Disos,” tutupnya.

Sebelumnya Bupati, H Moh Sih FT tidak setuju terhadap pergantian nama bandara internasional itu. Sehingga berencana akan menggelar istigosah di Masjid Bandara bersama ASN dan masyarakat Lombok Tengah bentuk penolakan.

“Ini sepihak, saya secara pribadi dan masyarakat Lombok Tengah tidak setuju nama Bandara itu diganti. Ini juga sangat melecehkan masyarakat Lombok Tengah,” ungkap Suhaili, Kamis (06/09).

Suhaili mengatakan, mekanisme dan proses perubahan nama bandara dinilai tidak pro masyarakat, malah terkesan ini dipaksakan karena dari keputusan sepihak.

Pejabat Pemprov NTB tidak tidak pernah mensosialisasikannya apalagi mengajak berkomunikasi.

AYA




Sambangi Korban Gempa, Prabowo Urung Salat Berjamaah

Prabowo juga mengungkapkan akan memberikan bantuan, namun demikian sumbangan yang akan diberikan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh pihaknya saat ini

LOMBOK BARAT.lombokjournal.com — Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto,  datang menyambangi warga korban gempa di posko pengungsian Lombok Barat, Rabu (05/09).

Kedatangan Prabowo kali ini ke posko pengungsian di Dusun Dopang Tengah, Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat disambut antusias oleh warga setempat.

Prabowo bersama rombongan tiba di Desa Dopang sekitar pukul 12.30 Wita. Sebelumnya ia menyempatkan diri berkunjung ke desa sebelah di posko pengungsian Desa Guntur Macan.

“Kita datang untuk menyatakan rasa solidaritas dan rasa prihatin ingin berbuat untuk meringankan beban bapak ibu,” ungkap Prabowo di hadapan warga.

Prabowo juga mengungkapkan akan memberikan bantuan, namun demikian sumbangan yang akan diberikan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh pihaknya saat ini.

Setelah dari Desa Guntur Macan, Prabowo tiba di posko Desa Dopang di tenda halaman tenda Pondok Pesantren Ishlahussibyan.

Kehadirannya yang telah lama dinanti walaupun hanya sekadar singgah sebentar dan memberikan sambutan atas kedatangannya. Prabowo menyampaikan keprihatinannya atas kondisi warga yang dilanda bencana gempa bumi.

Seperti diketahui, Desa Dopang dan Guntur Macan merupakan dua desa yang sangat terdampak. Rumah warga banyak yang rusak akibat guncangan gempa bumi yang terus menerus terjadi sejak skala magnitudo 6,4 pada 29 Juli lalu.

“Sekitar 80 sampai 90 persen rumah warga di sini rusak. Saya kira Pak Prabowo akan lama di sini. Pas dia datang, saya sedang salat berjamaah di masjid darurat, Baiturrahman. Tapi pas saya selesai salat, ternyata Pak Prabowo sudah pergi,” tutur Abdullah (48) kepada Lombok Journal, Rabu.

Informasi yang disampaikan Master of Ceremony (MC) saat acara kedatangan Prabowo juga sempat diagendakan untuk ikut salat berjamaah. Namun urung dilakukan sebab kondisi warga yang kurang kondusif karena terlalu antusias menyambut kedatangannya.

Usai memberikan sambutan, bersama rombongan Prabowo pun pamit sambil menyalami warga dan beranjak masuk ke dalam mobil kemudian pergi meninggalkan lokasi.

Hari




Wakil Ketua DPRD Lobar Anggap Pemerintah Lamban Tangani Korban Gempa Lombok

BNPB selaku wakil Pemerintah Pusat dan pemangku kebijakan diminta lebih adil dan lebih cepat merespons  kebutuhan pengungsi

MATARAM.lombokjournal.com — Wakil Ketua DPRD Lombok Barat, Sulhan Mukhlis Ibrahim, menilai Pemerintah Pusat masih lamban menangani korban gempa Lombok.

“Sudah satu bulan lebih bencana gempa bumi melanda, masih banyak masyarakat yang belum mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat,” ungkap Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Lombok Barat itu, Selasa (04/09).

Sulhan menyoal data yang disampaikan pihak Pemkab Lombok Barat yang tidak segera direspons Pemerintah Pusat.

Seperti dimaklumi, kedatangan Jokowi ke Lombok untuk ke-3 kalinya kemarin adalah untuk melaunching bantuan rumah.  Sayangnya, dengan data rumah rusak yang lebih dari 57 ribu, Lombok Barat hanya kebagian 359 rumah.

“Tindak lanjut sisanya, kapan?” tanya Sulhan.

Bahkan menurutnya, skema dan besaran bantuan itu sendiri belum jelas sama sekali. Bagaimana proses verifikasinya, input datanya, dan skema penggunaan uangnya.

Sulhan mengaku pernah mengikuti Rapat Koordinasi tanggal 31 Agustus lalu, antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi NTB.

“Dalam rapat tersebut, pemerintah pusat belum memahami skema dan jumlah bantuan ke korban atau ke pemerintah kabupaten,” tuturnya.

Bagi dia, BNPB selaku wakil Pemerintah Pusat dan pemangku kebijakan juga harus lebih adil dan lebih cepat merespons  kebutuhan pengungsi.

Ia memberi contoh, kasus wabah malaria yang melanda pengungsi. Saat ini jumlah pengungsi yang terjangkit malaria sudah lebih dari 40 orang di satu wilayah kerja Puskesmas Penimbung Gunungsari.

“Apalagi kondisi sekarang mendekati musim hujan tentu kebutuhan masyarakat akan hunian sementara, tenda yang layak huni, maka BNPB harus segera meresponsnya untuk mengantisipasi dengan memberikan kelambu, selimut, penyediaan MCK, dan air bersih,” ujarnya.

Sulhan yakin tidak sendiri dalam pandangan semacam itu. Masih banyak lagi masyarakat Lombok Barat yang berharap agar para korban dapat ditangani dengan segera dan cepat.

Harapan tentang kedatangan Presiden Jokowi, mestinya kembali mendorong pihak berwenang untuk melakukan terobosan dan percepatan penanganan buat para korban.

 

Sebelumnya Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid menyuarakan harapannya, agar kedatangan Presiden Jokowi bisa mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.

“Alhamdulillah beliau menyempatkan diri hadir di pos pengungsian di wilayah Lobar. Semoga dengan kehadiran beliau, seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi bisa dipercepat. Tentu tidak hanya rumah-rumah yang rusak, tapi juga fasilitas umum, sosial, terutama destinasi wisata kita yang terkena imbas,” ujar Fauzan sesaat menyambut kedatangan Jokowi di Pos Pengungsian Desa Kekait,Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat..

Hari




Selain Bantuan Rutin, NU Peduli Mulai Bantu Penyediaan Sarana Layanan Kesehatan Dan Pendidikan

Untuk penanganan korban gempa, tim NU Peduli Lombok membuat enam klaster, meliputi klaster pendidikan, kesehatan, logistik, litbang, pengungsian dan perlindungan, serta sarana dan prasarana

MATARAMlombokjornal.com — Tim Nahdlatul Ulama (NU) Peduli Lombok melalukan sejumlah upaya penanganan bencana di Lombok, NTB. Selain rutin menyalurkan bantuan, NU Peduli juga mulai membantu penanganan pasca bencana termasuk penyediaan sarana layanan kesehatan dan pendidikan.

Koordinator NU Peduli Lombok, Baiq Mulyana, mengatakan, tim NU telah terjun ke lokasi sehari pascagempa pada Ahad (29/09), di sejumlah titik terparah yang ada di Kecamatan Sambelia dan Sembalun di Lombok Timur, serta Kecamatan Bayan di Lombok Utara.

“Masifnya kerusakan dan kondisi gempa yang terus bersusulan membuat NU mendirikan posko NU Peduli Lombok atas arahan PBNU pada 10 Agustus 2018,” kata Baiq Mulyana, dalam jumpa pers, Senin (3/9) di Posko NU Peduli, jalan Pendidikan, Kota Mataram.

Turut hadir dalam jumpa pers, Wakil Ketua PWNU NTB, Jumarin Umar Maya, Rurid  Rudianto (LPBI Pusat), Yulis Setianto (LPBI Pusat), Korlap NU Peduli, Yeq Agif Al Qadri, Bendahara NU Peduli, Solikhin.

Baiq Mul menjelaskan, Universitas NU NTB dipilih menjadi posko bagi tim NU Peduli Lombok dalam pengorganisasian logistik hingga perencanaan bantuan kepada korban gempa.

Dikatakan, bantuan yang didistribusikan kepada korban terdampak gempa berasal dari donasi warga Nahdliyin di seluruh Indonesia dan juga cabang NU di luar negeri. Donasi yang diterima tim NU Peduli Lombok bersifat uang, barang, hingga sumber daya manusia (SDM).

“Bantuan ada yang berbentuk uang, dan banyak juga yang barang, mungkin kalau ditetapkan sekitar Rp 3 miliar, dan masih akan terus bergerak,” jelasnya.

Untuk penanganan korban gempa, tim NU Peduli Lombok membuat enam klaster, meliputi klaster pendidikan, kesehatan, logistik, litbang, pengungsian dan perlindungan, serta sarana dan prasarana.

Untuk klaster pengungsian dan perlindungan, NU Peduli telah mendistribusikan kebutuhan mendesak seperti terpal, selimut, hingga tikar yang sangat dibutuhkan pada masa tanggap darurat.

Di klaster logistik, NU Peduli telah mendistribusikan berbagai sembako ke 150 titik di seluruh Pulau Lombok, dan juga Sumbawa Barat.

Sedangkan untuk aspek kesehatan, NU Peduli melakukan pelayanan kesehatan kepada 2.800 korban gempa oleh 52 tim medis.

“Namun, antarklaster ini juga saling berkaitan, semisal klaster pendidikan juga berkaitan dengan klaster sarana dan prasarana seperti pada pembangunan sekolah darurat,” katanya.

NU Peduli telah membangun lebih dari 20 mushala darurat dan delapan sekolah darurat lengkap dengan tim untuk melalukan trauma healing.

Bangun Rumah Hunian

Tim Nahdlatul Ulama (NU) Peduli Lombok juga akan membangun sedikitnya seribu hunian sementara (huntara) bagi korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia (LPBI) NU, Rurid Rudianto mengatakan, keberadaan huntara menjadi prioritas dalam penanganan korban gempa, mengingat masih banyaknya warga yang tinggal di pos pengungsian.

Sedangkan, bantuan rehabilitasi rumah dari pemerintah masih memerlukan waktu.

“Proses transisi enam bulan ada persoalan dari pengungsian, mereka mau tinggal di mana sebelum dibangun, jadi ini pekerjaan rumah lembaga nonpemerintah karena pemerintah tidak menyediakan (huntara),” katanya.

Ia menjelaskan, NU Peduli Lombok menargetkan seribu huntara, 100 MCK, 500 sekolah darurat, dan 100 masjid darurat yang ditargetkan rampung pada satu sampai dua bulan ke depan.

Nantinya, proses pembangunan huntara maupun fasilitas umum darurat akan melibatkan masyarakat terdampak.

“Ada dialog, warga maunya seperti apa, kan kondisi Lombok ada yang dataran rendah dan tinggi. Kita dorong juga warga memanfaatkan potensi lokal dengan sisa-sisa bangunan,” katanya.

Me (*)




Presiden Jokowi Minta Pembangunan Rumah Selesai Sebelum Musim Hujan

Jokowi juga akan memantau dan mengecek terus agar NTB segera normal kembali baik aktivitas ekonomi dan kehidupan dapat berjalan dengan baik

MATARAM.lombokjournal – Presiden RI, Ir H Joko Widodo berharap, pembangunan rumah warga yang rusak akibat gempa bumi,  dapat selesai sebelum musim hujan tiba.

Selain itu, Presiden RI sudah menegaskan rumah yang dibangun, adalah rumah tahan gempa, sebab NTB termasuk daerah dalam Ring Of Fire atau garis cincin api.

Arahan itu disampaikan Presiden Joko Widodo,saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi NTB, di Lapangan Sepakbola Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Senin (03/09) pagi.

Didampingi Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Presiden Jokowi saat menyampaikan arahan, meminta agar para relawan bekerja membantu proses percepatan rekonstruksi.

“Saya ingin titip kepada saudara semua agar masyarakat dibantu baik dalam pembersihan, dan pembangunan kembali karena kita berkejaran dengan waktu,” ungkap Jokowi.

Presiden mengingatkan, tahapan tanggap darurat telah berlalu. Maka, sekarang masuk pada tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Untuk itu, sejumlah tahapan yang nantinya akan ditempuh adalah pembangunan fasilitas publik seperti pasar, puskesmas, sekolah, masjid/mushalla sudah mulai dikerjakan.

Untuk memastikan semua tahapan berjalan lancar, Presiden mengatakan perlu terjun langsung ke lapangan. Termasuk menyerahkan bantuan bagi rumah rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan.

Meskipun baru 5.293 rumah yang telah diberikan, dari dari jumlah keseluruhan sekitar 71.000, Presiden menjanjikan akan bergerak cepat, meski membutuhkan waktu.

Terkait pembangunan rumah, nantinya akan didampingi dan dikawal oleh Kementerian PUPR yang dibantu ratusan insinyur muda dan mahasiswa teknik untuk membangun rumah anti gempa atau tahan gempa,

“Jika rumah itu nantinya oleh pemiliknya ingin rumah tembok ya silakan, kalau ingin memilih pake kayu silakan juga, kalau dr bambu juga silakan tapi diarahkan agar konstruksinya adalah konstruksi tahan gempa”, tambahnya.

Jokowi juga akan memantau dan mengecek terus agar NTB segera normal kembali baik aktivitas ekonomi dan kehidupan dapat berjalan dengan baik. Jokowi menyampaikan apresiasinya atas partisapasi seluruh masyarakat terhadap solidaritas untuk NTB.

Selain itu, Presiden juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah menyumbang tenaga dan pikirannya kepada saudara-saudara di NTB yang tertimpa musibah. Seperti, para relawan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pemerintah Daerah Provinsi NTB, serta jajaran Pegawai Negeri Sipil.

Sebelumnya, Menteri PUPR, Basuki Hadi Mulyono, menyampaikan apel siaga ini diikuti oleh pendamping dan pelaksana rehabilitasi rekonstruksi yang berjumlah 2.250 orang. Peserta terdiri dari unsur masyarakat NTB, TNI/POLRI, insinyur muda CPNS Kementerian PUPR, BNPB, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di NTB, BUMN Karya dan relawan.

Dalam rangka pelaksanaan Inpres Nomor  5 Tahun 2018, hingga saat ini sudah dilaksanakan verifikasi 261 bangunan dari 972 bangunan fasilitas publik yang mengalami kerusakan.

Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi telah dilaksanakan pada 56 unit, terdiri dari 41 unit sekolah, 4 unit rumah ibadah (masjid mushalla), 3 unit pasar, dan 8 unit rumah sakit dan puskesmas.

Untuk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga yang berjumlah 125.000 unit telah dilakukan verifikasi untuk 32.800 unit rumah yang terdiri atas 11.400 rumah rusak ringan, 3.600 rusak sedang, dan 17.800 rusak berat. U

nit rumah contoh dengan teknologi RISHA yang tahan gempa telah dibangun di 20 titik lokasi sebagai contoh bagi masyarakat.

Depo-depo bangunan di tingkat kecamatan akan segera dibuka untuk kemudahan distribusi material konstruksi sejak minggu ini dalam jumlah yang cukup banyak dan harga terjangkau yang dikoordinir oleh Kadin NTB.

Rehabilitasi dan rekonstruksi rumah ditargetkan akan selesai dalam waktu enam bulan ke depan, dengan cara swakelola bergotong royong, didampingi oleh para relawan dan fasilitator, insinyur muda dan mahasiswa teknik.

Sedangkan untuk fasilitas publik akan diserahkan dan dikerjakan oleh BUMN Karya bekerja sama dengan kontraktor lokal.

AYA




Fauzan Berharap, Kehadiran Presiden Percepat Rehabilitasi Dan Rekonstruksi

Dalam kondisi seperti sekarang saat musim hujan akan tiba dan rekonstruksi rumah warga belum dimulai, Pemerintah bisa membangunkan hunian sementara yang sederhana

MATARAM.lombokjournal.com – Bupati Lobar H. Fauzan Khalid yang ikut mendampingi kunjungan Presiden Joko Widodo di Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, Minggu (02/09) sore, mengaku sangat gembira menyambut kedatangan di lokasi pengungsian.

“Alhamdulillah beliau menyempatkan diri hadir di pos pengungsian di wilayah Lobar,” kata Fauzan.

Bupati Lobar itu berharap,  kehadiran Presiden akan mempercepat seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi. Tentu tidak hanya rumah-rumah yang rusak, tapi juga fasilitas umum, sosial, terutama destinasi wisata kita yang terkena imbas.

Ia beralasan, bagaimana pun pariwisata di NTB bukan lagi hanya andalan regional, tapi juga nasional.

“Senggigi, tiga gili dan destinasi lainnya harus segera direkonstruksi dan dipulihkan. Kita siapkan event untuk promosinya,” papar Fauzan.

Fauzan juga berharap, Jokowi bisa terbuka hatinya untuk menyetujui usulan Pemkab Lobar untuk pembangunan Huntara (hunian sementara).

Fauzan beralasan, dalam kondisi seperti sekarang saat musim hujan akan tiba dan rekonstruksi rumah warga belum dimulai, Pemerintah bisa membangunkan hunian sementara yang sederhana.

“Murah saja, toh bahan bakunya sangat banyak tersedia,” ujar Fauzan menyebutkan beberapa material sederhana yang sudah digunakan oleh para pengungsi.

Hunatara bisa saja menggunakan terpal yang sudah ada, bambu, dan bahan lainnya. Jadi sekaligus menghidupkan ekonomi masyarakat yang menyediakan bahan baku.

Sementara itu, dalam kunjungan di Desa Kekait, Jokowi tampak akrab bercengkrama bersama pengungsi. Sesudah bercengkrama dengan anak-anak, Jokowi pun beralih ke tanah lapang untuk menonton bersama pengungsi acara Penutupan Asian Games dari Stadion GBK Jakarta.

Prfesiden Jokowi tampak sangat menikmati berkumpul bersama warga pengungsi. Melalui layar televisi,  Jokowi menyapa para peserta Asian Games XVIII dan mengutarakan kegembiraannya atas prestasi atlet Indonesia pada event terbesar Benua Asia itu.

Hari