Gagasan Makmur Said Mengoptimalkan Pemberdayaan Ekonomi Kawasan  Lingkar Selatan 

“Perlu optimalisasi dan pemberdayaan kawasan Lingkar Selatan sebagai pusat rekreasi dan kuliner”

lombokjournal.com —

MATaRAM    ;    Kawasan Lingkar Selatan di sudut Kota Mataram memiliki potensi besar tumbuh dan berkembang  sebagai salah satu destinasi  sarana rekreasi dan kuliner warga kota .

Di sana terdapat belasan lapak ikan bakar segar yang dijual warga.

Namun sayangnya lokasi tersebut belum terlalu populer di mata masyarakat Kota Mataram. Bahkan Lingkar Selatan masih menyandang sterotip atau image sebagai  ‘jalur buangan’ atau jalur yang tidak strategis.

  1. Makmur Said (HMS) yang bersiap maju sebagai calon Walikota Mataram dalam Pilkada 2020, memiliki keinginan besar untuk menata Kota Mataram lebih baik lagi.

Selain Taman Udayana, yang menjadi atensi ke depan adalah Lingkar Selatan.

“Potensi Lingkar Selatan sangat besar. Aneka kuliner laut dijual masyarakat di sana, tapi memang belum populer,” kata HMS.

Karena itu, pemerintah perlu hadir dan memberikan pemberdayaan ekonomi kepada pedagang kuliner agar lebih optimal dalam menjalankan bisnis kuliner lautnya.

HMS mengatakan, Dinas Perdagangan selain melakukan pendampingan dan pemberdayaan perlu juga melakukan terobosan kebijakan terkait pemberian bantuan ketrampilan maupun modal usaha melalui skema dana bergulir.

“Melalui skema tersebut para pedagang lapak kuliner memiliki spirit dan tanggungjawab dalam membesarkan usahanya ,” tandas Makmur Said, Minggu (15/09) 2019.

Lebih jauh Mantan Sekda Kota Mataram ini mengatakan, untuk mempopulerkan Lingkar Selatan perlu adanya penataan dan pembenahan  lapak-lapak pedagang yang terkesan kurang indah dipandang.

Terdapat beberapa pedagang  menggunakan trotoar sebagai tempat berdagang yang mengurangi estetika di kawasan itu.

HMS juga berharap, agar di Lingkar Selatan dapat disediakan lapak atau kedai kopi lebih banyak lagi, sehingga wilayah tersebut menjadi alternatif baru hiburan bagi masyarakat Kota Mataram.

“Jadi tidak hanya kuliner aja yang dapat dinikmati di sana, namun masyarakat dapat bersantai di kedai kopi,” ucapnya.

Dia menyarankan, jika di selatan wilayah Lingkar Selatan berderetan lapak ikan bakar, maka di utaranya perlu dibangun lapak-lapak kedai kopi.

Sehingga jalur tersebut akan semakin ramai. Karena jika hanya diisi oleh lapak ikan bakar, maka tidak setiap hari masyarakat akan berkunjung ke sana.

Maka untuk mempopulerkan Lingkar Selatan perlu adanya trobosan baru.

“Jika di selatan Lingkar Selatan terdapat lapak ikan maka di utara harus ada deretan kedai kopi atau kuliner lain. Sehingga masyarakat tidak bosan ke sana. Karena  selera orang tidak setiap hari makan ikan bakar,” katanya.

Sementara itu terkait perencanaan pengembangan lingkar selatan, HMS mengatakan konsep awalnya untuk pembebasan lahan dan pembangunan sekitar 8 hektar , tapi yang mampu dibebaskan hanya 3 hektar.

Kawasan lingkar selatan didesign menjadi pusat rekreasi dan kuliner seperti ‘Mini Ancol kota Mataram’.

“Saya tahu persis proses awal karena terlibat langsung dari sisi penyediaan anggaran mulai dari perencanaan, penyediaan anggaran sampai dengan pembangunannya ,” ungkap HMS.

Selain itu diharapkan, fasilitas penerangan dan keamanan di wilayah tersebut lebih dioptimalkan lagi. Itu agar Mataram memiliki wajah yang lebih nyaman, dan tentunya membawa keuntungan bagi pedagang sekitar.

“Perlu optimalisasi dan pemberdayaan kawasan Lingkar Selatan sebagai pusat rekreasi dan kuliner,” tandas HMS.

Sementara terkait progres pengumpulan KTP ,  HMS mengatakan saat ini Tim Relawan HMS masih melakukan proses verifikasi terhadap setiap dukungan KTP warga kota Mataram.

Me

 




Rohman Farly Tawarkan Perencanaan Tata Ruang Berbasis Zonasi Potensi

Di kawasan pendidikan dan perkantoran, tentu akan berbeda dengan kawasan perniagaan, pusat transportasi seperti terminal, dan lain sebagainya

lombokjournal.com —

MATARAM  ;   Perencanaan dan pembangunan tata ruang perkotaan Jika tak dikelola dengan baik, hal bisa menjadi faktor penghambat kemajuan, sekaligus memicu peningkatan angka kemiskinan perkotaan.

H Rohman Farly (HRF) mengatakan, pesatnya pertumbuhan penduduk dan gelombang urban ke perkotaan menjadi tantangan tersendiri, Fenomena ini terjadi di semua Kota besar.

“Ini juga bisa saja terjadi di Kota Mataram, di mana pertumbuhan penduduk dan tingkat urbanisasi tinggi, sementara ketersediaan lapangan kerja dan kesempatan sulit diraih,” kata H Rohman Farly, Rabu ( 11/9)

Pria kelahiran Rembige yang saat ini menjabat Sekda Lombok Timur  mengungkapkan, menangkap fenomena lazim pertumbuhan kota ini, perlu strategi perencanaan dan pembangunan rata ruang yang mengakomodir dan mengantisipasi potensi permasalahan.

Salah satu yang ditawarkan adalah konsep pembangunan tata ruang dan pembangunan kawasan berbasis potensi zonasi.

“Konsepnya terlihat sederhana, ya mirip One Village One Produck di beberapa Desa unggulan nasional. Apa salahnya jika dalam hal tertentu Kota belajar dari Desa?”  kata Rohman.

Dikatakannya, Kota Mataram dengan  6 Kecamatan yang masing-masing punya potensi dan permasalahannya sendiri-sendiri, perlu mencermati perencanaan pembangunan ke depan.

Ia mencontohkan, pendekatan pembangunan untuk kawasan di lingkar pesisir tentu jauh berbeda dengan kawasan di pusat perniagaan, juga sebaliknya.

Menurutnya, pembangunan berbasis potensi zonasi ini, memudahkan fokus pengembangan potensi yang ada di setiap zonasi kawasan itu sendiri.

Misalnya di pesisir masyarakat membutuhkan program yang berkaitan dengan Kelautan dan Perikanan,

“Kemudian yang punya potensi wisata juga bisa disuport dengan kepariwisataan. Sehingga setiap kawasan disentuh sesuai dengan apa yang benar-benar dibutuhkan. Stakeholders yang terkait dengan potensi kawasan juga bisa disinergikan dengan baik, terintegrasi pada akhirnya,” tambah HRF.

HRF menambahkan, dengan pola demikian diharapkan akan tumbuh peluang lapangan kerja di setiap zonasi yang tumbuh dari potensi lokal mereka sendiri.

Selain itu, dalam jangka menengah dan panjang, hal ini akan membantu meminimalisir terjadinya salah sasaran program pembangunan.

“Sehingga apa yang difasilitasi pemerintah itu tidak mubazir karena salah sasaran, dan bisa lebih fokus kepada pengembangan potensi yang ada di kawasan,” imbuhnya.

Pembangunan berbasis potensi zonasi, menurut HRF juga akan memudahkan pelaksanaan konsep penataan wilayah pada akhirnya.

Penyediaan fasilitas umum, ruang terbuka hijau, dan juga pusat-pusat industri UMKM bisa lebih ditata dan dimaksimalkan.

Di kawasan pendidikan dan perkantoran, tentu akan berbeda dengan kawasan perniagaan, pusat transportasi seperti terminal, dan lain sebagainya.

“Ke depan, ini juga akan menjadi ikon yang baik untuk Mataram. Jadi pengunjung domestik atau wisatawan luar yang datang bisa punya banyak pilihan,” katanya.

Me




Wagub  NTB Ungkap  Pesona Lombok & Air Awet Muda

Kegiatan Gala Dinner juga diisi dengan penyerahan mandat APGN tahun 2021, yang dilakukan Wagub NTB Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah kepada Koordinator APGN Prof Xiaochi Jin, untuk selanjutnya diserahkan kepada Wakil Gubernur Provinsi Satun, Thailand

Hj Sitti Rohmi Djalilah

LOBAR.lombokjournal.com —  Pesona Taman Narmada dan kasiat Air Awet Muda dipaparkan di hadapan Komite Asia Pasific Geopark Network (APGN) dan peserta Simposium Internasional APGN ke-6 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Wakil Gubernur NTB Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah memaparkan pesona Taman Narmada itu saat gala dinner APGN, Kamis (05/09) 2019 malam di Taman Narmada, Lombok Barat.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Komite APGN ke-6 untuk kegiatan luar biasa yang telah mereka lakukan (di Lombok) termasuk Gala Dinner  ini di Taman Narmada,” kata Wagub Ummi Rohmi, membuka sambutannya dalam

Hadir dalam Gala Dinner, Koordinator APGN Prof Xiaochi Jin,  Asisten Jejaring Inovasi Maritim Kemenko Maritim, Latif Nurbana, Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid, dan para peserta APGN dari 35 negara.

Wagub yang akrab disapa Ummi Rohmi, saat menyampaikan sambutannya dalam bahasa Inggris,  menjelaskan Taman Narmada merupakan replika dari Gunung Rinjani.

Setiap bagian taman telah dibangun dan ditata dengan sempurna berdasarkan lanskap Gunung Rinjani. Dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Anak Agung Ngurah Karangasem.

Wagub memaparkan, pada saat itu Raja terlalu tua untuk melakukan ritual pengorbanannya di Gunung Rinjani, sehingga ia memerintahkan semua arsitek kerajaan untuk membawa nuansa Gunung Rinjani ke Taman Narmada.

“Taman ini juga terkenal dengan mata air alami yang membuat semua orang yang meminumnya awet muda,” kata Ummi Rohmi.

Wagub Ummi Rohmi menegaskan, sebagai perwakilan masyarakat Nusa Tenggara Barat, ia menyampaikan rasa senang bahwa NTB menjadi tuan rumah APGN tahun 2019.

“Malam ini kita bisa merayakan keajaiban bumi ibu dan diingatkan betapa menakjubkannya planet ini,” katanya.

Ummi Rohmi kemudian memaparkan pesona Lombok dan Sumbawa.

“Provinsi kami terdiri dari hampir 300 pulau yang tersebar di provinsi ini dengan dua pulau besar utama yang disebut Lombok dan Sumbawa,” katanya.

Dipaparkan, NTB memiliki tiga suku utama yaitu Sasak, Samawa, dan Mbojo, kami kaya akan budaya dan sejarah.

Pantai indah terletak di setiap sudut provinsi, menawarkan pantai pasir putih dan air sebening kristal yang dilengkapi dengan terumbu karang yang indah bagi para pengunjung.

Dua gunung berapi bersejarah, Tambora dan Rinjani, menawarkan pemandangan indah serta peluang tak terbatas untuk belajar dan meneliti sejarah dunia ini.

Kerajinan tangan dan potongan kain tenun yang indah kaya akan filosofi dan budaya.

“Dan inilah alasan mengapa saya bangga menyebutnya RUMAH!. Saya berharap bahwa setelah acara ini, anda semua akan menghabiskan beberapa hari lagi untuk menikmati keindahan alam dan budaya di  provinsi kami, dari keaktifan Gili Trawangan hingga pantai-pantai eksotis di Mandalika, atau bahkan menikmati kesunyian dan ketenangan Desa Sade dan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari orang-orang di pulau ini,” katanya.

Kegiatan Gala Dinner juga diisi dengan penyerahan mandat APGN tahun 2021, yang dilakukan Wagub NTB Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah kepada Koordinator APGN Prof Xiaochi Jin, untuk selanjutnya diserahkan kepada Wakil Gubernur Provinsi Satun, Thailand.

Sementara itu, Koordinator APGN Prof Xiaochi Jin mengapresiasi Pemerintah Provinsi NTB dan masyarakat Lombok yang sudah menjadi tuan rumah yang baik bagi serangkaian kegiatan APGN 2019.

Menurutnya, menjadi sebuah pengalaman sangat berharga selama berkegiatan di Lombok, NTB, dengan panorama alam yang indah dan keberagaman seni budayanya.

“Kami mengapreasiasi NTB, pemerintah dan masyarakatnya yang sudah menyambut dan memberikan kehangatan dalam rangkaian APGN di Lombok ini,” katanya.

Simposium Internasional AGPN merupakan kegiatan dua tahunan dari UNESCO Global Geopark untuk wilayah Asia Pasific.

Prof Xiaochi Jin menjelaskan, APGN 2021 mendatang akan diselenggarakan di Geopark Satun, Thailand.

Ia berharap Dewan Geopark Rinjani Lombok bisa turut serta dalam pertemuan dua tahun mendatang di Thailand.

AYA/Diskominfotik




Dinas Sosial Salurkan Satu Juta Liter Air Bersih Ke Daerah Yang Alami Kekeringan

“Sebelumnya 298 desa, kini bertambah menjadi 302 desa yang alami kekeringan”

MATARAM.lombokjournak.com – Penyaluran air bersih terus dilakukan akibat kekeringan yang melanda beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Data semula terdapat 298 desa yang kekeringan akibat musim kemarau, tapi kini bertambah menjadi 302 kabupaten/kota.

Karena itu, upaya mengatasi dampak kekeringan di sejumlah wilayah di NTB itu, pihak Dinas Sosial Provinsi NTB telah menyalurkan lebih dari satu juta liter air bersih.

“Saat ini penyaluran air bersih masih terus dilakukan kekeringan akibat musim kemarau yang melanda NTB. Daerah yang dilada kekeringan makin meluas. Sebelumnya 298 desa, kini bertambah menjadi 302 desa. Kabupaten kota yang terdampak parah kekeringan terbanyak di kabupaten lombok tengah,” ujar Kepala Dinas Sosial, Wismaningsih Drajadiah, Selasa (10/09) 2019.

Wismaningsih  mengatakan, hingga bulan Agustus 2019 Dinas Sosial Provinsi NTB telah menyalurkan lebih dari satu juta liter air bersih kepada warga masyarakat yang terdampak kekeringan. Penyaluran ittu dilakukan bersama instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB.

Dijeaskannya, sumber air bersih itu dipasok dari wilayah Lingsar dan Narmada sebagai wilayah sumber air di NTB khususnya.

Seperti diketahui kekeringan yang terjadi pada tahun 2019 ini lebih luas jika dibandingkan tahun 2018 lalu, sebab kekeringan yang terjadi tahun ini jumlah masyarakat yang tedampak  lebih banyak.

Seperti yang terjadi di wilayah Lombok Timur, tepatnya di bagian selatan Lombok Timur sehingga berdampak terhadap kondisi pertanian masyarakat.

AYA




Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid di Labulia, Gubernur Serahkan Bantuan 100 Juta

Gubernur Zul menyerahkan bantuan awal secara simbolis berupa dana pembangunan Masjid sebesar Rp 100 juta dari Pemerintah Provinsi NTB

LOTENG.lombokjournal.com – Pembangunan masjid selalu mengingatkan pentingnya mengejar kebajikan, mengingat konsep hidup yang terus mengejar kebaikan adalah kebutuhan setiap orang.

Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. H. Zulkieflimansyah menegaskan itu saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Masjid Fastabiqul Khairat di Dusun Enjak, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Senin (09/09) 2019.

Dikatakannya, ia bahagia bisa menyapa, bersilaturahmi dan menyambangi masyarakat Desa Labulia, terlebih di acara yang sangat bagus seperti di peletakan batu pertama pembangunan Masjid.

“Perlu kita terus menyapa masyarakat dengan tulus, dengan segenap cinta yang ada, di dalam nurani dan batin kita,” ungkap Doktor Zul.

Gubernur Zul berharap, Masjid Fastabiqul Khairat kalau berdiri agar mampu menghadirkan ketenangan, kedamaian, menjinakkan pikiran, sehingga masyarakat kita, butuh hadir secara bersama-sama di dalamnya.

Di hadapan para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta masyarakat umum di Labulia, gubernur mengaku menyambut baik kegiatan pembangunan masjid.

Gubernur Zul menyerahkan bantuan awal secara simbolis berupa dana pembangunan Masjid sebesar Rp 100 juta dari Pemerintah Provinsi NTB.

“Kami sangat senang untuk menghadiri acara ini dan kami meminta do’anya, mudah-mudahan jalan kami ke depan dimudahkan oleh Allah SWT, dan pembangunan Masjid yang kita cintai ini, juga diberikan kemudahan oleh Allah SWT,” harapnya.

Gubernur berpesan, agar masyarakat terus menyiapkan diri menjadi tuan rumah di acara-acara yang besar di tahun-tahun yang akan datang.

“Di Lombok Barat dan Lombok Tengah sebentar lagi banyak acara-acara besar. Perlu kesiapan anak-anak kita untuk tumbuh, apapun kondisinya, jangan sampai anak-anak kita tidak sekolah,” katanya.

AYA/HmsNTB




Mengurai Kemacetan, Ini Gagasan HRF untuk Sistem Transportasi Mataram

“Memaksimalkan BRT bisa juga menjadi alternatif  menekan keluarnya kendaraan pribadi ”

lombokjournal.com —

MATARAM  ;    H Rohman Farly menekankan kebijakan dan program pemangku kebijakan terkait tata kota,  perlu  mengakomodir isu management sistem  transportasi, Sebab  masalah transportasi akan menjadi salah satu masalah yang pelik.

Kemacetan lalulintas, hanya satu dari sekian banyak masalah yang akan muncul nantinya.

Menurutnya, sistem transportasi menjadi satu bagian integral tak terpisahkan dalam penataan kota, terutama di kota-kota satelit yang menjadi ibukota sebuah wilayah termasuk Kota Mataram, ibukota NTB.

“Suka atau tidak suka, sistem transportasi ini menjadi bagian vital dalam penataan Kota, bukan saja di Mataram tapi juga semua Kota Besar di Indonesia bahkan di luar negeri,” kata H Rohman Farly, Minggu (08/09) 2019.

Berdasarkan data pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di NTB, maka tingkat kemacetan lalu lintas di Kota Mataram diprediksi akan semakin tinggi tiga sampai lima tahun ke depan.

Dalam catatan Direktorat Lalulintas Polda NTB setidaknya setiap bulan rata-rata 1.800 unit sepeda motor baru dan 200 unit mobil, masuk dan beroperasi di NTB, sebagian besar di Kota Mataram.

Jika sistem management transportasi  tidak dibenahi, HRF khawatir, Mataram akan menjadi Kota Menengah yang indah, namun terganggu kemacetan.

Kondisi jalanan macet, bahkan saat ini sudah menjadi pemandangan lumrah yang setiap saat bisa dilihat di sejumlah ruas jalan di Kota Mataram. Terutama di saat jam masuk/pulang sekolah, dan menjelang pulang perkantoran.

“Perlu ada pembenahan sistem. Pengaturan traffic lalulintas dan memaksimalkan pelayanan transportasi publik saya pikir bisa menjadi solusi,” kata HRF.

Pria asli Mataram yang juga Bakal Calon Walikota Mataram ini memaparkan, sistem transportasi harus disusun dengan cermat melibatkan seluruh stakeholders terkait, seperti Dinas Perhubungan, Kepolisian dalam hal ini Satuan Lalulintas, bahkan Dinas Pendidikan untuk mengubah mindset dan perilaku sejak dini.

Perubahan perilaku

HRF menekankan, sama seperti program pembangunan lainnya, dalam hal penataan sistem transportasi juga sangat diperlukan perubahan perilaku masyarakat yang akhirnya memunculkan partisipasi aktif mereka.

“Merubah persepsi  dan kesadaran masyarakat juga penting. Karena jalan raya ini kan yang menggunakan masyarakat, para pengendara. Budaya tertib lalulintas, kemudian bagaimana parkir yang baik, ini hal sepele saja, tapi tidak akan tercapai jika tanpa kesadaran,” tegas HRF.

HRF mengatakan, Mataram bisa mengambil contoh baik dari Kota Manado, ibukota Sulawesi Utara. Di Kota Bubur Manado itu, masyarakat sudah sangat terbiasa menggunakan transportasi publik, mikrolet atau yang di Mataram lebih dikenal dengan sebutan Bemo.

Hal ini turut membantu mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang beraktivitas, dan juga mengurangi risiko kemacetan.Mataram bisa mulai membenahi sarana transportasi publik.

Bemo, yang selama ini terkesan semakin terabaikan, kumuh, dan hanya menjadi sarana transportasi kelas dua perlu diberdayakan.

“Harus dicari sebabnya kenapa masyarakat kita enggan naik bemo di Mataram. Kemudian dicari solusi, saya pikir semua bisa dilakukan meski bertahap,” katanya.

Rute lintasan bemo di Mataram, tidak maksimal dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini membuat masyarakat yang hendak bepergian tak bisa langsung sampai ke tempat tujuan, kecuali di jalur-jalur utama.

Transportasi alternatif seperti ojek dan taksi, akhirnya jadi pilihan. Dan lebih banyak lagi masyarakat yang akhirnya memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Hal ini yang harus dicarikan solusi. HRF menilai sistem rute bemo bisa mulai dirumuskan kembali. Kondisi bemo sebagai sarana transportasi publik juga harus diperbarui untuk kenyamanan penumpang.

“Kalau bemo ini bersih dan nyaman, kemudian rutenya banyak pilihan maka bukan tidak mungkin masyarakat juga akan senang menggunakannya,” katanya.

Dengan ini, masyarakat terutama pengemudi bemo juga akan merasa mendapat perhatian. Sebab, mereka juga warga Kota yang selama ini nampak kurang mendapat perhatian.

Selain itu program Bus Rapit Transit (BRT) yang sempat digagas Kementerian Perhubungan, juga harus dimaksimalkan.

Program bersumber dana APBN yang cukup besar ini, menurut HRF akan sangat sayang jika menjadi program yang mubazir karena tidak terlaksana maksimal.

Apalagi, sejumlah halte bus BRT sudah tersedia di sejumlah lokasi di Kota Mataram.

“Memaksimalkan BRT bisa juga menjadi alternatif untuk menekan keluarnya kendaraan pribadi. Jadi untuk keperluan sekolah, kuliah atau ke kantor, masyarakat tidak harus menggunakan kendaraan pribadi karena ada sarana publik tersedia,” katanya.

Pembagian atau pola zonasi juga bisa diterapkan untuk mengatur rute transportasi publik ini. Di satu sisi pelayanan publik bisa lebih baik, dan kemacetan pun bisa terurai.

Pemanfaatan jalur pedistrian atau trotoar untuk pejalan kaki juga harus mulai ditingkatkan di Kota ini. Sehingga untuk tujuan bepergian yang dekat, masyarakat bisa lebih nyaman berjalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan.

HRF menekankan, untuk mengatasi masalah transportasi di Kota Mataram, tak cukup hanya dengan upaya pelebaran jalan atau membuat jalan baru. Sebab, seluas apapun jalan dan seberapa banyak pun jalan baru dibuat, pasti tak bisa menyelesaikan masalah selama sistem dan perilaku masyarakat tidak diubah.

“Untuk pelebaran jalan pun butuh sangat banyak biaya pembebasan lahan. Ini sangat sulit. Sehingga akan lebih baik merumuskan kembali sistem transportasinya dan juga mengubah mindset masyarakat kita,” tukasnya .

Me




Wabup Sarifudin Jadi Pembina Apel Penerimaan Pasukan Percepatan RTG

“Pemerintah Daerah berterima kasih sekali telah diberikan tambahan energi, 400 personel untuk percepatan RTG penanggulangan bencana”

Bayan, KLU.lombokjournal.com — Wakil Bupati Lombok Utara H. Sarifudin, SH. MH bertindak sebagai pembina apel penerimaan penanganan bencana percepatan Rumah Tahan Gempa, bersama Komandan Resort Militer 162/Wira Bhakti Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, di Lapangan Anyar, Jum’at (06/09) 2019.

Wabup Sarif mengatakan, Pemerintah Daerah berterima kasih sekali telah diberikan tambahan energi, 400 personel untuk percepatan RTG penanggulangan bencana.

“Adanya pasukan yang melancarkan penanganan bencana, khususnya percepatan RTG, menjadi penyemangat bagi kami di daerah untuk segera menyelesaikan rehab rekon RTG warga,” tutur wabup yang baru beberapa saat pulang dari ibadah haji itu, pada wartawan.

Usai apel, di hadapan awak media Wabup Sarif mengatakan, pemerintah memprioritaskan Kecamatan Kayangan dan Bayan, karena dari data ril lapangan, memang jauh sekali dari layanan publik dan perkembangan penanganan gempa.

“Mungkin ini salah satu cara, untuk mengejar ketertinggalan dari kecamatan lain,” katanya.

Danrem 162/Wira Bhakti Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani di hadapan prajurit TNI  berharap prajurit menghargai kultur budaya tempat ditugaskan dan berbuat baik untuk kemanusiaan.

“Seperti pepatah: dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jadi, hargai adat istiadat yang ada di wilayah bekerja, mendekati tokoh masyarakat, berkomunikasi yang baik. Jangan ada benturan fisik maupun apapun juga. Kalau ada kendala tolong nanti teman-teman Babinsa komunikasikan dengan masyarakat,” urai Danrem memberi semangat.

Danrem berpesan pula kepada fasilitator RTG Lombok Utara untuk tidak usah sungkan dan malu-malu untuk berkonsultasi dan berkoordinasi.

“Anggap prajurit adalah saudara-saudara kita, karena kita bekerja untuk membangun Lombok Utara. Kemudian yang terpenting sekali saya ingatkan, kita bertugas supaya lebih mudah, cepat dan lebih ringan, niatkan tugas kita ini adalah ibadah,” pesan danrem.

Ditambahkannya, Nusa Tenggara Barat ditarget hingga tanggal 31 Desember 2019.

Maka untuk mencapai target tersebut, khususnya di Lombok Utara yang masih perlu percepatan penanganan, ada tambahan 400 personel TNI untuk mencapai target percepatan pembangunan RTG warga.

“Mohon dengan hormat, kepada pak Wabup dan seluruh jajaran OPD serta masyarakat di Bayan dan Kayangan agar bersinergi dengan prajurit-prajurit kami. Dikomunikasikan dengan kepala desa maupun camat sehingga prajurit bekerja saling membantu,” pungkasnya.

Adanya kedatangan 400 personel TNI bisa mempercepat proses rehab rekon, sehingga sekuruhnya kini berjumlah 800 personel. Target 20 ribu rumah diharapkan segera terwujud.

Apel upacara diakhiri dengan pemberian ucapan selamat bertugas oleh Danrem, Wabup beserta tamu undangan.

Hadir dalam apel tersebut,  Plt. Kasat Pol PP dan Damkar Albayani, S.Sos, Asisten Bidang Pemerintahan Kawit Sasmita, SH., Camat Bayan Intiha, S. IP, Unsur Kodim 1606 Lobar, unsur Polres Lombok Utara, unsur BPBD, tokoh masyarakat, serta Para Prajurit Marinir dan Zeni Konstruksi (Zikon) 18.

sta/humaspro




Pemprov NTB Jalin Sinergitas Program Zero Waste Dengan Pemkot Mataram

“Isu sampah menjadi isu krusial karena hubungannya erat dengan kesehatan warga dan kebencanaan”

MATARAM,lombokjournal.com —  Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj Sitti Rohmi Djalilah memimpin rapat singkat dengan Pemkot Mataram terkait dengan penguatan komitmen kesepakatan bersama antara Pemprov NTB dengan Pemkot Mataram, Jum’at (06/09) 2019.

Rapat membahas penguatan komitmen kedua belah pihak terkait dengan pengelolaan  sampah atau program Zero Waste. Rapat berlangsung di ruang kerja Wakil Gubernur NTB.

Dalam rapat singkat tersebut, usai mendengarkan paparan program Zero Waste oleh Pemkot Mataram, Wagub NTB menyampaikan permasalahan sampah memang tidak ada habisnya.

Namun jika dikelola dengan baik, keberadaan sampah justru dapat mendatangkan manfaat.

“Masalah sampah jika dikelola dari rumah dan ada bank sampah, semuanya bisa jadi berkah”, ungkap Wagub.

Menurut Wagub, kota-kota di seluruh Indonesia saat ini sedang berlomba menerapkan konsep bebas sampah. Ada banyak manfaat positif yang diperoleh masyakat dari penerapan konsep tersebut,

“Sampah harus dijadikan prioritas. Isu sampah menjadi isu yang sangat krusial karena hubungannya erat dengan kesehatan warga dan kebencanaan,” tambah Hj. Rohmi.

Ia menegaskan, semua pihak harus bersinergi, bagaimana implementasi program yang sudah ada ini bisa berjalan baik.

Salah satunya dengan pelibatan komunitas lingkungan dan komunitas sosial lainnya terkait sampah. Tentunya hal ini harus didukung pula secara serius oleh pemerintah kota.

“Saat ini yang harus dipikirkan adalah bagaimana pengurangan sampah ini bisa dilaksanakan, sehingga di TPA (tempat pembuangan akhir) bisa berkurang dan tidak menimbulkan masalah baru. Kami pemerintah Provinsi sangat welcome dan mau membantu, mari kita lakukan yang terbaik untuk lingkungan dan sampah ini ke depan.” imbuhnya.

Lebih lanjut Wagub menekankan agar armada sampah juga harus diperhatikan untuk mengoptimalkan proses penanganan kebersihan. Ia mengingatkan agar sampah tidak tercecer di jalan saat proses pengangkutan.

“Selain itu, harus ada pemilahan sampah, semua penyedot tinja dimasukkan ke pengolahan, iuran atau retribusi disesuaikan dengan beban yang diterima dari hulu,” tambahnya.

Adanya edukasi terutama dari tingkat  Taman Kanak- Kanak sampai SMP juga penting dilakukan.

“Edukasi butuh waktu dan kesabaran, tetapi paling tidak semua sekolah di Kota Mataram mengelola sampah sendiri dengan baik, sehingga beban sampah akan berkurang dengan signifikan” pungkasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Irwan Rahadi menyampaikan, pihaknya telah menyusun regulasi tahun 2020 terkait instrumen penanganan sampah, mulai dari penanganan hingga pengurangan.

Saat ini, terkait program NTB Zero Waste, Dinas LHK telah memberi tanggung jawab dari tingkat PAUD hingga SMP untuk melakukan pengawalan di sekolah-sekolah.

AYA/HmsNTB

 




Wagub Ajak Masyarakat Sukseskan Clean Up Day

Jangan sampai ada sampah yang tidak diletakkan pada tempat yang seharusnya, untuk dikelola dengan baik”

MATARAM,lombokjournal.com —  Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, mengajak seluruh elemen masyarakat NTB, untuk ambil bagian dalam mensukseskan hari pembersihan dunia (clean up day), yang akan dilaksanakan pada tanggal 21 September 2019.

Ajakan tersebut disampaikan saat melakukan syuting video himbauan kepada masyarakat NTB, untuk mensukseskan acara tersebut, di Ruang Kerja Wakil Gubernur, Jum’at (06/09) 2019.

Moment clean up day ini harus dimanfaatkan oleh seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi NTB, untuk membangun kesadaran masyarakat NTB, untuk sama-sama bahu-membahu mensukseskan program unggulan Zero Waste, yang sedang gencar digalakkan Pemerintah Provinsi sebagai ikhtiar bersama mewujudkan NTB yang asri dan lestari.

Wagub mengajak masyarakat NTB, memanfaatkan momentum tersebut untuk menujukkan rasa kepedulian terhadap lingkungan, dengan berpartisipasi keluar rumah, melakukan kegiatan aksi bersih-bersih di lingkungan sekitar tempat tinggal masing-masing.

Ajakan untuk melakukan aksi tersebut, sebagai upaya menunjukkan kepada dunia, bahwa masyarakat NTB, sangat peduli dan cinta lingkungan, dan cinta terhadap Bumi.

Wujud dari rasa cinta itu, ditunjukkan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan memastikan semua sampah dapat dipilah dan diletakkan pada tempatnya, untuk kemudian dikelola dengan baik.

“Yuk..! kita sukseskan clean up day pada tanggal 21 september 2019. Semua kita keluar kita bersih-bersih, tunjukkan kepedulian kepada lingkungan, kita cintai lingkungan kita, kita cintai bumi ini. Jangan sampai ada sampah yang tidak diletakkan pada tempat yang seharusnya, untuk dikelola dengan baik,” imbuhnya.

Wagub menegaskan, bahwa sampah sesungguhnya bukanlah penyebab dari musibah, namun sampah merupakan sumber daya, selama kita memperlakukannya dengan baik.

“Sampah itu buka penyebab musibah, tapi sampah itu adalah sumber daya, selama kita bisa memperlakukanya dengan baik,” tegasnya.

AYA/HmsNTB




Simposium APGN di Lombok, Pembicara Ungkapkan Praktik Di Geoparknya Masing-masing

Untuk mencapai sebuah pariwisata yang berkelanjutan pada kawasan geoparknya, maka Pemerintah Provinsi Cao Bang menyusun sebuah strategi panduan pembangunan pariwisata

MATARAM.lombokjournal.com  — Tema  “UNESCO Global Geoparks Toward Sustaining Local Communities and Reducing Geohazard Risk” diangkat dalam simposium  The 6th Asia Pacific Geoparks Network (APGN) 2019 di Lombok Nusa Tenggara Barat.

Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah membuka  simposium yang dihadiri para geolog di kawasan Asia Pasifik itu, Selasa (03/09) 2019 di Rinjani Room Hotel Lombok Raya Mataram.

Mendampingi Gubbernur Zul bersama Presiden Global Geopark Network, Guy Martini,  Executive Chairman of Indonesian National Commission for UNESCO,  Prof. Dr. H. Arief Rachman, dan berbagai pihak terkait lainnya,

Selanjutnya, pembahasan materi yang dibagi ke dalam lima subtema, dan simposium akan berakhir pada tanggal 6 September 2019.

Kelima subtema yang dibahas itu, meliputi: Pertama,  “Empowering local socio-economic for sustainable development. Kemudian Materi kedua dengan subtema “Engaging Communities, geohazard risk and recovery”.

Ketiga membahas subtema “Popularizing scientific knowledge for public education. Keempat, Promoting aspiring global geoparks. Dan subtema yang kelima adalah Networking volcanic and karst landscape global geoparks.

Pada pembahasan subtema “Empowering local socio-economic for sustainable development, berlangsung di hari pertama di ruang Pejanggik Hall, Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat, menghadirkan (4) empat orang pembicara asal Cina, Vietnam, dan Korea Selatan.

Tiap-tiap pembicara menyampaikan praktik baik yang diterapkan pada geopark masing-masing, sesuai dengan tema.

Huang Wen selaku Komite Administratif Nasional dari UNESCO Global Geopark (UGG) Tianzhushan di Provinsi Anhui, Cina, menyampaikan, di kawasannya telah terbangun sebuah geotourism yang terstruktur melalui infrastruktur yang masih terus ditingkatkan hingga saat ini.

Selain itu untuk mencapai sebuah keberlanjutan (sustainability), Huang Wen menjelaskan bahwa Unesco Global Geopark (UGG) Tianzhushan telah menerapkan pendekatan berbasis pendidikan ilmiah dan pembangunan kapasitas yang berkelanjutan bagi komunitas dan masyarakat lokal disekitarnya.

Tidak jauh berbeda dengan itu, Vi Tran Thuy pembicara yang berasal Unesco Global Geopark  (UGG) Non Nuoc Cao Bang, Vietnam, menjelaskan,  untuk mencapai sebuah pariwisata yang berkelanjutan pada kawasan geoparknya, maka Pemerintah Provinsi Cao Bang menyusun sebuah strategi panduan pembangunan pariwisata.

Strategi itu dituangkannya kedalam 10 Program  Provinsi Cao Bang, terangnya.

Sedangkan Min Huh dari UGG Mudeungsan, Korea Selatan, mengungkap Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value/OUV) yang dimiliki kawasannya dan perjalanannya dalam meraih status geopark global.

Sementara Narasumber terakhir adalah Jihong Bao berasal dari UGG Shilin, Provinsi Yunan, Cina Barat Daya. Bao dalam paparannya banyak bercerita tentang kekayaan jenis batuan yang terdapat pada kawasan geoparknya.

Juga beragam program pariwisata yang diterapkannya, serta status sebagai geopark global telah memberikan banyak manfaat begi peningkatan sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan geopark, ujarnya.

Agenda simposium hari pertama diakhiri pada pukul 17:00 WITA untuk kemudian dilanjutkan dengan Mid-Simposium Excursion (Field Trip) ketiga destinasi berbeda, yaitu Jalur Utara (Desa Adat Gumantar dan Senaru), Jalur Tengah (Museum, Kemalik Lingsar dan Aik Berik), dan Jalur Timur (Sembalun) yang  dilaksanakan di hari ke-2.

Adapun sesi simposium untuk pembahasan subtema berikutnya akan dilanjutkan kembali di hari ke-3 dan ke-4 dengan melanjutkan bahasan pada kelima subtema yang sama.

AYA (Tim Media APGN)