Kadis LH Hadiri Pemakaman Rasidi

MATARAM.lombokjournal.com

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Perumahan dan Kawasan Pemukiman (LH dan Perkim) Kabupaten Lombok Utara, Muhammad Zaldi ST MT mewakili Bupati Lombok Utara, menghadiri pemakaman birokrat yang berhidmat di Dinas LH dan Perkim KLU, Senin (17/05/21).

(alm) Rasidi

ASN Rasidi ST meninggal hari Ahad  (16/05) di RSUD Provinsi NTB, setelah dirawat karena sakit ginjal. Pria kelahiran Lombok Tengah tahun 1969 itu, bermukim di Peneguk Pringgarata.  Terakhir mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Perumahan Pada Dinas LH dan Perkim, Pemda Kabupaten Lombok Utara.

Mewakili bupati, Kadis LH Muhammad Zaldi ST MT menyatakan pimpinan daerah beserta segenap jajaran Pemda KLU, berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas musibah itu.

Kadis LH, Muhammad Zaldi ST MT

“Saya mendengar kabar bahwa salah satu ASN Pemda KLU meninggal dunia di RSUD Provinsi NTB yaitu saudara Rasidi ST, karena sebelumnya mengalami sakit ginjal. Pimpinan dan jajaran Pemda KLU turut berbelasungkawa sedalam dalamnya atas telah berpulangnya saudara Rasidi ST pada usia 51 tahun, semua kita akan kembali pada Tuhan Robbul Jalil Allah SWT,” tuturnya.

Dikatakannya, pada saat kemarin ada yang meninggal, hari ini ada yang meninggal dan besok juga ada yang meninggal, begitu juga ada yang lahir. Semuanya adalah kehendak Allah SWT.

BACA JUGA:

Gubernur Minta ASN Fokus Bekerja

Karenanya, ia mengajak senantiasa berbuat kebaikan, menebar manfaat dan maslahat serta terus mengabdikan diri pada umat atau rakyat dengan profesi dan amanah yang diemban.

“Almarhum Rasidi dikenal pendiam, rendah hati dan pekerja tekun, semoga pengabdiannya kurang lebih 29 tahun menjadi amal kebaikan yang menghantarkan almarhum tenang, lapang dan mendapatkan balasan surga, insya Allah, aamiin,” kata Kadis LH dan Perkim itu.

Selanjutnya dikatakan, almarhum sebagai manusia biasa apabila terdapat salah, keliru, dalam berucap dan bersikap dimohonkan maaf dengan ikhlas, sembari agar dido’akan  tenang dan lapang menghadap keharibaan Allah SWT.

“Pemda Lombok Utara mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas pengabdian almarhum di Kabupaten Lombok Utara dengan segala kenangan yang ada. Saya bersaksi bahwa beliau orang baik,” tuturnya.

Dr TGH M Habibi MA dalam paparan tausiyahnya mengatakan, ketika ikhlas menjalani musibah, semoga Allah SWT mengampuni salah dan khilafnya, diterima segala amal sholehnya. Keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran, ketabahan dan keikhlasan.

“Semua akan meninggal, sehingga cukuplah peristiwa tersebut sebagai pelajaran, sehingga jika ada peluang hati berbuat maksiat, segeralah ingat kematian. Manusia dilahirkan dalam keadaan menangis, sementara orang bergembira karena kelahiran tersebut. Maka berusahalah jelang kematian dengan tersenyum gembira, pada saat orang-orang menangis,” urainya.

Menurutnya, banyak yang mengantarkan jenazah almarhum membuktikan bahwa almarhum orang baik. Semoga husnul khotimah, amin.

Acara berjalan lancar, hidmat dan diakhiri dengan pembacaan do’a. Selamat berpulvidang saudara Rasidi, semua mengenang kebaikan dan kiprah yang telah diabdikan.

BACA JUGA:

Tamasya Lebaran Topat di Masa Covid-19

Hadir pada pemakaman itu, di antaranya Kepala Dinas Sosial PPPA Drs M Faesol, Kabag Ortal Haerul Anwar SKom, Para Kabid dan Kasi beserta staf lingkup Dinas LH dan Perkim, Tuan Guru, Toga, Toma dan masyarakat mukim setempat.

wld




Tamasya Lebaran Topat di Masa Covid-19

KLU.lombokjournal.com

Lebaran Ketupat atau yang dalam istilah Bahasa Sasak disebut lebaran topat adalah perayaan lebaran seminggu paska Idul Fitri dan hanya dirayakan di Pulau Lombok.

Dalam praktiknya lebaran topat dirayakan dengan bertamasya ke tempat wisata. Biasanya, masyarakat akan membawa serta masakan, lengkap dengan ketupat ke tempat tujuan.

Untuk lebaran topat kali ini, tamasya masyarakat terbentur aturan pemerintah terkait protokol covid-19. Turunan dari penegakan aturan tersebut salah satunya menutup tempat-tempat wisata.

BACA JUGA:

Gubernur Minta ASN Fokus Bekerja

Tingginya animo masyarakat merayakan tradisi tahunan yang telah berlangsung turun-temurun jadi tantangan besar satgas Covid-19 dalam mencegah masyarakat berkerumun.

Dari pantauan langsung lombokjournal.com jelang lebaran topat, beberapa tempat wisata khususnya di wilayah pegunungan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) terlihat ramai pengunjung.

Banyaknya opsi sebagai pilihan tempat wisata di luar air terjun dan pantai semisal tempat pemandian umum dan sungai jadi tantangan lain dalam mencegah kerumunan masa.

Buruknya, himbauan untuk taat protokol kesehatan sering diabaikan masyarakat di tempat-tempat tersebut.

Jika Satgas Covid-19 gagal menjawab tantangan bukan mustahil tempat wisata jadi klaster baru penyebaran wabah Covid-19.

Rejeki Pedagang Kecil

Selain pengunjung, banyak pedagang kecil yang turut andil meramaikan tempat wisata. Hal tersebut disebabkan penghasilan pedagang kecil bertambah di hari-hari besar seperti lebaran topat.

Ditutupnya tempat wisata saat lebaran topat akan berimbas langsung pada perekonomian pedagang kecil yang berjualan di tempat wisata.

BACA JUGA:

Apa Kabar dengan Kuliah Daring?

Dilemanya, ketika tempat wisata dibuka peluang munculnya klaster baru penyebaran Covid-19 sangat terbuka.

Untuk itu pemerintah diharapkan segera menemukan solusi  sehingga pedagang kecil tetap bisa meraup penghasilan dan masyarakat tetap terhindar dari Covid-19.

Untuk diperhatikan, tempat-tempat wisata yang ramai pengunjung jelang lebaran topat kali ini tak hanya tempat wisata terkenal, tempat yang jarang terekspose media pun ramai dikunjungi wisatawan.

Han




Bahaya Pergaulan Bebas Generasi Baru

Widya Adi Prasetyo, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram

lombokjournal.com

Kehidupan remaja pada zaman sekarang memprihatinkan. dimulai dari gaya hidup yang menggambarkan moral orang dalam masyarakat, dan bagaimana cara orang tersebut hidup.

Banyak remaja sekarang yang menyalahgunakan gaya hidup mereka. Terlebih remaja-remaja yang tinggal di kota-kota besar atau kota metropolitan. Mereka banyak menggunakan trend mode yang bergaya kebarat-baratan.

Remaja zaman sekarang selalu dikaitkan dengan teknologi. Masa remaja adalah masa dimana seseorang sedang mencari jati dirinya. Dengan demikian remaja tersebut dapat dengan mudah untuk meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain.

Menurut saya, remaja adalah yang berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Seseorang di golongkan sebagai remaja jika orang tersebut sedang mengalami masa pubertas nya.

Masa  pada umur 18-22 tahun ini kerap membuat masyarakat resah terhadap tingkah lakunya. Contohnya, melakukan tauran sesama remaja  dan meminum minuman keras. terlebih melakukan hubungan yang terlarang yang di larang oleh agama (Islam).

Akhir-akhir ini, Indonesia berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Apa yang dikhawatirkan? Tidak dapat dipungkiri bila dikatakan, gaya hidup baru pribadi masyarakat Indonesia cenderung hedonisme (mencari kesenangan) seperti hura-hura, hal ini memicu perilaku seks bebas, khususnya di kalangan remaja.

Pergaulan bebas di Indonesia sering terjadi di kota-kota besar seperti JABODETABEK, dan sekitarnya tapi juga di berbagai kota kecil, banya remaja terkontaminasi pergaulan bebas.

Dampak Pergaulan Bebas

Siapa sih yang tidak tahu apa itu penyakit Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immunune Deficiency Syndrome atau yang lebih dikenal dengan sebutan HIV/AIDS? Nah, salah satu penyebab penyakit itu adalah pergaulan bebas yang memicu perilaku seks bebas.

Ada banyak penyebab remaja melakukan pergaulan bebas, khususnya kalangan pelajar. Penyebab tiap remaja mungkin berbeda, tetapi semuanya berakar pada penyebab kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan/agama, dan ketidakstabilan tingkat emosional.

Hal tersebut menyebabkan perilaku yang tak terkendali pada remaja, dan pola pikir rendah.

Sikap mental yang tidak sehat dan pola pikir yang salah, remaja merasa bangga terhadap pergaulan yang tidak sepantasnya. Mereka melakukannya hanya semata-mata untuk menyenangkan diri, dan tidak ingin dianggap rendah karena rasa gengsi yang berlebih.

Pelampiasan rasa kecewa, ketika remaja mengalami tekanan, karena kekecewaan terhadap orangtuanya, yang terlalu otoriter ataupun membebaskan, sekolah yang memberikan tekanan terus-menerus (banyaknya tugas dan menurunnya prestasi). Dan lingkungan masyarakat yang memberikan masalah sosialisasi memicu pola pikir negatif dan cenderung mengambil langkah salah untuk menghibur diri.

Majunya perkembangan zaman,globalisasi juga. Lagi-lagi globalisasi mempengaruhi pola pikir remaja, hanya karena ingin terlihat modernisasi atau bergaya, banyak diantaranya yang mengikuti beberapa budaya Barat yang tidak sesuai dengan nila Pancasila, misalnya bergaya pakaian sesuai artis-artis yang mengenakan pakaian kurang pantas. Coba kamu pikirkan lagi, menjadi diri sendiri tentu lebih menyenangkan, bergaya boleh saja asalkan tidak memaksakan diri dan tentunya sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

Perilaku Bebas, Pancasila dan Hukum

Tidak hanya penyakit HIV/AIDS dampak dari pergaulan bebas, terlebih seks bebas. Aborsi pun marak dilakukan di kalangan pelajar, tahukah kamu jika hal tersebut merupakan pelanggaran hukum dan HAM, serta penyelewenangan dari ideologi bangsa Indonesia?

Menurut UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, pada Pasal 9 ayat (1) mengenai Hak Hidup, “setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya”, pada 53 ayat (1) mengenai Hak Anak, “ setiap anak yang sejak dalam kandungan, berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya.” A

dapun tertera pada Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 28A, “setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya.” Sudah jelas tertera secara hukum tertulis bahwa aborsi merupakan tindakan pencabutan atau penghilangan nyawa seseorang atau hak hidup seseorang secara paksa yang termasuk dalam bentuk pelanggaran HAM.

Ada pepatah mengatakan “masuk ke kandang kambing tapi tidak seperti kambing” itu berarti kita menempatkan diri dalam suatu lingkungan tetapi kita bisa memilah mana hal positif yang menguntungkan untuk dilakukan dan tidak terjerumus kedalam hal negatif yang justru merugikan.

Bergaul bukan hanya untuk ketenaran dan kesenangan semata, tetapi jadikan itu sebagai wadah membentuk pribadi yang berjiwa kemasyarakatan dan menghargAi sesama. Jadilah diri sendiri agar tahu bagaimana orang disekitar nyaman berkomunikasi denganmu

Hmm… Cobalah memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam isi hatimu yaa.. jangan menyimpan perasaan dan permasalahamu seorang diri.***




Bahaya Bagi Pengguna Narkoba

Adhe Ningsih, mahasiswa Progran Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram

lombokjournal

Menurut organisasi Kesehatan Dunia (WHO, World Health Organization) Narkotika dan obat obatan terlarang atau biasa disingkat Narkoba, didefinisikan semua zat padat, cair, ataupun gas yang dimasukan ke dalam tubuh dan bisa mengubah fungsi dan struktur tubuh baik secara fisik ataupun psikis.

Di indonesia sendiri narkoba juga di kenal dengan sebutan NAPZA (Narkotika, Psikoptropika, dan Zat Adiktif)

Menurut WHO (1982) semua zat padat, cair maupun gas yang di masukan ke dalam tubuh yang dapat merubah fungsi dan struktur tubuh secara fisik maupun psikis, tidak termasuk makanan, air dan oksigen di mana dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal.

BACA JUGA: Pembelajaran Daring Saat Wabah Covid-19

Jenis-jenis Narkoba, yaitu di antaranya adalah :

  1. Narkotika adalah zat/ obat yang berasal dari tanaman atau sintetis maupun semi sintesis yang dapat menurunkan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan
  2. Psikotropika Zat/obat alamiah atau sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan prilaku

Zat adiktif adalah bahan lain bukan narkotika atau psikoptropika yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan baik psikologis atau fisik. Misalnya alkohol, rokok, cofein.

Salah satu dampak terbesar dari penyalahgunaan narkoba adalah bisa memengaruhi kesehatan seseorang. Di lihat dari fisik luarnya aja, pengguna narkoba sama sekali tidak menarik dengan badanya yang kurus karena pengguna narkoba kehilangan nafsu makan.

Selain itu, pengguna narkoba juga rentan terkena berbagai gangguan kulit contohnya infeksi Narkoba juga mengakibatkan gangguan syaraf contohnya kejang, berhalusinasi tinggi, hingga kehilangan kesadaran. Jangan terkeju jika pengguna narkoba akan kesulitan untuk mendapatkan keturunan di karenakan narkoba dapat mempengaruhi hormon reproduksi manusia.

BACA JUGA: Lebaran Tak Sempurna Tanpa Mudik

Tak hanya itu, pengguna narkoba juga rentan terkena penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS yang sampai sekarang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya.

  • Dalam pemakaian pada dosis yang sudah terlalu banyak bisa menyebabkan overdosis hingga kematian.
  • Psikologi, sering gelisah, kurang percaya diri, kesulitan bergaul dan sering di timbuli perasaan tertekan, stres serta depresi.
  • Lingkungan sosial, pengguna narkoba sering kali diabaikan oleh masyarakat, tidak ada yang bergaul dengan mereka. Sebaliknya pengguna narkoba justru mendapat celaan serta akan di jauhi. Akibatnya hubungan sosial dengan masyarakat pun terputus. ***



Media Sosial yang Membuat “Candu”

Yanti, mahasiswa Progran Studi Adminiistrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram

lombokjournal.com

Seiring dengan mudahnya masyarakat mengakses Internet, media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, Twitter, Youtube, Tik tok dan aplikasi lainnya, merupakan media yang paling sering digunakan oleh masyarkat untuk berbagai macam keperluan mulai dari pekerjaan hingga sebagai sarana untuk sekedar hiburan.

Semenjak adanya pandemi Covid-19 yang melanda dunia mengharuskan masyarakat untuk beraktivitas dari rumah. Aktivitas lain seperti berinteraksi sosial secara langsung juga harus terbatas tidak leluasa seperti dulu.

Tingkat penggunaan media sosial menjadi meningkat. Media sosial menjadi pilihan masyarakat sebagai solusi untuk sarana interaksi dan komunikasi di kala pandemi. Selain sebagai sarana komunikasi media sosial juga berperan sebagai sarana refresing pengusir penat dan rasa bosan setelah beraktivitas dari rumah seperti WFH, kuliah online, sekolah online maupun pekerjan-pekerjaan yang lainnya.

BACA JUGA: Gelombang Kedua Covid-19 di India

Saat ini, media sosial tentunya sudah menjadi bagian dari kehidupan mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur. Pengguna media sosialpun juga beragam mulai dari anak -anak hingga orang tua juga mulai menggunakan media sosial.

Media sosial menyuguhkan berbagai platfom yang dapat diakses melalu perangkat smartphone. Aplikasi media sosial tersebut menyuguhkan berbagai fitur yang menarik. Dalam media sosial kita bisa mencari berita yang sedang hangat, menonton bola, menonton video, berkomunikasi dan lainnya. Tak heran lagi, media sosial menjadi alat komunikasi teratas apalagi dikala pandemi seperti ini.

Namun dengan seringnya menggunakan media sosial, masyarakat menjadi “candu” terhadap sosial media. Mereka seperti enggan untuk jauh-jauh dari media sosial, kaoan dan dimanapun mereka berada masyarakat selalu mengakses internet.

Seperti ungkapan “menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh” seperti benar adanya. Karena saat ini, sebagai orang hanyut dalam keasikannya berselancar di media maya hingga lupa akan kehidupan nyata.

BACA JUGA: Menjadi Gelas Kosong, Tapi Kritis

Bahkan mereka menghiraukan bahwa disamping mereka ada teman, keluarga ataupun saudara. Mereka lebih aktif dimedia sosial ketimbang aktif didunia nyata.***




Lebaran Tak Sempurna Tanpa Mudik

Abdul Fisal, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram

lombokjournal.com

Bagi sebagian besar umat Islam, mudik di penghujung Ramadhan merupakan sebuah ritual penting nan sakral. Terutama bagi mereka yang berada nun jauh di perantauan.

Setelah lama berpisah dengan sanak keluarga dan handai tolan, tentunya ada kerinduan yang mengusik untuk bisa kembali berkumpul dengan sanak keluarga. Pertemuan jiwa dan raga yang penuh emosional antara anak dengan kedua orang tua dan anggota keluarga lainnya, diyakini bukan hanya pertemuan biasa.

Namun merupakan bagian dari keasadaran diri seseorang dalam mengimplementasikan makna mudik bagi kehidupan yang penuh dengan dinamika ini. Sejauh manapun burung terbang, sekali waktu ia pasti kembali rumahnya.

BACA JUGA: Arus Balik Idul Fitri di Masa Covid-19

Demikian sakralnya berlebaran bersama keluarga lewat tradisi mudik ini, sehingga para perantau telah jauh-jauh hari mempersiapkan bekal dan oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman.

Mudik juga bisa dimaknai sebagai kerinduan mencipi penganan tradisional seumpama geukarah dan thimpan, atau berziarah ke makam orangtua yang telah tiada. Bisa juga sebagai wadah merenda kembali tali silaturrahmi yang sempat terputus dengan saudara dan orang sekampung.

Meski untuk mudik dibutuhkan banyak pengorbanan, mulai dari mempersiapkan tiket moda angkutan yang harganya melonjak tinggi saat menjelang lebaran. Atau pun padatnya arus mudik jika pulang dengan kendaraan pribadi.

Namun semua pengorbanan itu terbayar lunas dan tidak bisa tergantikan harganya dengan nilai dengan apa pun−bila telah bersua kembali dengan orang-orang tercinta di kampong halaman.

Aroma desa yang khas dengan kekentalan kekerabatan yang masih alami dibandingkan kehidupan urban masyarakat kota yang penuh individualistik. Apalagi kala disambut tangis haru dan peluk cium dari sanak keluarga.

BACA JUGA: Pendidikan Daring di Masa Covid-19

Sejatinya mudik Idul Fitri sebagai implementasi dari kegembiraan dan jangan pula dirayakan secara berlebih-lebihan dan terkesan sombong.

Sebab ada juga sebagian para pemudik yang ketika pulang sengaja memamerkan kemewahan seperti mobil baru dan barang-barang bawaan lainnya yang terkadang bisa menimbulkan kecemburuan sosial dari warga desa.

Perjuangan pemudik menembus medan perjalanan yang berat, tajam, berkelok-kelok, dan terdapat tanjakan dan curam disertai macet.***




Reboisasi Mata Air Untuk Masa Depan KLU

TANJUNG.lombokjournal.com

Penanaman pohon untuk perlindungan sumber mata air dan pelestarian alam serta lingkungan, dilakukan di tiga titik sumber mata air di wilayah Desa Bentek Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Minggu (16/05/21).

Lokasi tiga sumber mata air penanaman pohon tersebut, yaitu Hutan Adat Baru Murmas, Hutan Adat Kalipucak Dusun Lonang dan Hutan Adat Dusun Buani, Desa Bentek Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Panitia Pelaksana Attasilani (Rohaniwan Perempuan), atas nama Organisai Astinda (Attasilani Therawada  Indonesia) mengucapkan terima kasih pula pada pihak yang bekerja sama dalam penanaman pohon tersebut.

Dalam reboisasi mata air itu Organisai Astinda bekerja sama dengan Organisasi Pemerhati Alam dan Lingkungan (OPAL -KLU), Perhimpunan Indonesia Tionghoa dan UPT Sahbandar Pamenang KLU yang telah turut serta langsung sejak kemarin mengantarkan bibit.

BACA JUGA: Tsunami Covid-19 Varian Baru di India

“Kami berharap ada kerja sama berikutnya dalam kegiatan lingkungan, sosial serta kegiatan kemanusiaan lainnya pada waktu yang berbeda tentunya,” tutur Attasilani.

Senada dengan itu, YM.Bhante (Saccadhammo), Selaku Ketua Vihara Buddhavangsa Lenek mengatakan peningnya penanaman pohon itu.

“Kegiatan reboisasi perlindungan sumber-sumber mata air di sekitaran kita penting dilakukan, karena menjamin kehidupan semua mahluk hidup sebagaimana yang di ajarkan Sang Budha Gautama, ” kata YM.Bhante, di depan umatnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu pelaksanaan kegiatan reboisasi yang diselenggarakan hari Minggu itu hingga berjalan baik.

BACA JUGA: Gelombang Kedua Covid-19 di India

Ketua Panitia Pelaksana Attasilani membagikan ratusan vibit yang terdiri dari bibit Durian, Lengkeng, Kedondondong, Rambutan, Nangka, Jambu Biji, untuk halaman masing-masing Vihara. Dan Bibit pohon Gaharu, Jati Putih Sengon dan Kenari ditanam di sumber sumber mata air di tiga lokasi berbeda.

ang




Wabup Danny ke Air Terjun Kalianjah

TANJUNG.lombokjournal.com

Wakil Bupati Lombok Utara, Danny Karter Febrianto R, ST.M.Eng, mengunjungi wisata Air Terjun Kalianjah, Minggu (16/05/21).

Kunjungan Wabup Danny itu didamping Kepala Dusun Lenggem Sari, bessrta pemuda pengelola Air Terjun Kalianjah, Dusun Lenggem Sari, Des. Sambil Elen Kec. Bayan Kab. Lombok Utara.

Dan kunjungan Wakil Bupati Lombok Utara kali ini, untuk meninjau potensi wisata Air terjun Kalianjah yang berlokasi di Dusun Lenggem Sari, sembari berdiskusi tentang bagaimana pengelolaan dalam memajukan pariwisata yang ada di Kab. Lombok Utara.

Dany berpesan kepada semua wisatawan untuk tidak berkunjung dulu ke tempat tempat wisata, termasuk wisata Air Terjun Kalianjah. Alasannya, karena semua objek wisata di wilayah Kabupaten Lombok Utara sedang ditutup sementara.

Jika tidak diperpanjang waktu penutupan sampai tanggl 21 Mei  2021, kemungkinan Pemerintah Daerah akan menyampaikan perkembangannya di kemudian hari, tutur Dany.

Ia mengajak semua masyarakat untuk patuh dan taat kepada peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kab. Lombok Utara.

“Mari kita sama-sama bersatu untuk bangkit mengembankan potensi pariwisata yang ada di daerah kita dan semoga pariwisata yang ada Lombok Utara dan Di seluruh indonesia semakin berkembang” ajak Dany memberi semangat kepada pemuda pemudi yang menyertainya.

ang




Bahasa Indonesia Mulai Terkikis

Zia Ulhaq, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram

lombokjournal.com

Bahasa Indonesia merupakan perwujudan atas kesadaran dan keunggulan yang dimiliki oleh bangsa yang bernama bangsa Indonesia.

Namun sayang, agaknya di era sekarang ini, kesadaran bangsa kita untuk terus membudayakan bahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari mulai terkikis, alias dilupakan oleh penutur aslinya (rakyat Indonesia). Ironisnya, yang penulis lihat saat ini malah menunjukkan bahwa bahasa asing seringkali kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, meskipun tidak ada yang melarangnya.

Padahal kalau kita kembali pada hakikat dari sumpah pemuda yang sudah diikrarkan pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 silam, pada kalimat ke-3 yang berbunyi “KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA” sudah menjadi titik terang bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan di Indonesia, negeri kita. Tetapi kini hakikat bahasa Indonesia sebagai persatuan antara bahasa Indonesia dengan kita seakan sudah tenggelam di lautan yang dalam.

Maka dari sinilah, penulis sangat “bersedih” ketika melihat nasib bahasa Indonesia di era sekarang ini. Alasan kesedihan penulist erdukung ketika penulis melihat di kehidupan sehari-hari, banyak kaum muda yang bangga menggunakan bahasa asing dibandingkan menggunakan  bahasa kita sendiri.

Bahkan tidak hanya itu, banyak para elit-elit negeri ini yang lebih suka berbahasa asing “inggris” daripada berbahasa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Begitu juga media-media komersial yang ada di tanah air inijuga seringkali memberikan kita “suplai makanan” bahasa dengan istilah asing dari pada mencari khazanah bahasa negeri kita sendiri.

BACA JUGA: Menyelamatkan Mata Air KLU

Kalau benar bahwa penggunaan bahasa Indonesia di negara Indonesia semakin hari semakin terkikis, maka  memang benar sebuah teori yang  disampaikan oleh Kloss, bahwa ada tipe utama kepunahan bahasa, salah satunya dikarenakan ada sebuah pergeseran Bahasa. Artinya, bahasa tersebut telah menyerah pada pertentangan budaya modern.

Mungkin saja bahasa Indonesia kini sudah mengalami pergeseran bahasa dengan budaya modern, karena bahasa adalah budaya. Artinya, bahasa Indonesia seakan sudah kalah dengan bahasa lain yang jauh lebih “modern” dari  bahasa Indonesia. Maka seumpama kita berandai-andai saja, dimana para bapak bangsa kita yang telah memperjuangkan bahasa Indonesia masih hidup, saya sangat yakin mereka akan sangat kecewa dengan kondisi ini.

Jika dikatakan pergesaran bahasa tentu sangat dekat dengan kondisi sekarang ini, karena di era sekarang ini mau tidak mau percaturan budaya (bahasa) sangat  luar biasa. Dan sangat memungkinan kalau bahasa Indonesia akan semakin mendekati kepunahan karena kalah dalam percaturan budaya.

Jika situasi ini terus berlanjut, maka jelas kebanggaan akan budaya (bahasa) sendiri akan tenggelam alias akan hilang dan musnah. Sebab kebudayaan dalam tulisan ini diwakili oleh bahasa.

Jika  untuk mengamalkanya dalam berkehidupan saja, masyarakat Indonesia enggan atau bahkan malu menggunakan bahasa Indonesia, maka tak ayal lagi, kebudayaan (bahasa) Indonesia tak kira sudah semakin terkikis.

Memang tidak bisa di pungkiri, keberadaan negara maju dengan kemajuan globalisasi dan tren akan semakin membawa budaya bahasanya di tanah air kita. Namun jangan lantas masyarakat Indonesia terjebak atas globalisasi tersebut sebagai proyek meratakan bahasa.

Karena itu di era globalisasi ini bahasa Indonesia selain harus berkembang juga harus dilestarikan oleh kita. Melestarikan, Menjaga dan Mencintai Bahasa Indonesia Dari masalah diatas, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap melestarikan, Menjaga dan mencintai bahasa Indonesia sampai kapanpun.

Maka menurut Muhibah (2009) bangsa kita perlu kembali pada fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, karena fungsi itu akan menghasilkan dua hal yaitu:

  1. Sikap kebanggaan bahasa; sikap bangga bahasa Indonesia akan muncul ketika ada perasaan yang mendukung bahwa Indonesia dapat mengungkapkan konsep rumit secara cermat dan isi hati yang sehalus-halusnya.
  2. Sikap kesetiaan bahasa: sikap kesetiaan terhadap bahasa Indonesia terlihat ketika sesorang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia saat melakukan berbagai kegiatan dan komunikasi dengan antar golongan, dan bersedia untuk menjaga bahasa Indonesia agar tidak terpengaruh dengan bahasa asing secara berlebihan.

Dari sikap kedua tersebut apabila dari masing-masing individu mampu menerapkan hal tersebut, maka akan dengan mudah kita menjaga bahasa yang kita miliki dan akan terkurangi juga resiko kepunahan dan terkikisnya bahasa Indonesia.

BACA JUGA: Cerita Hidup Anak Rantau

Tetapi yang jelas pentingnya sebuah keutuhan bahasa Indonesia dan lestarinya bahasa Indonesia tidak mungkin lepas dari peran masyarakat Indonesia. Mengingat hal ini merupakan sebuah manajemen untuk tetap melastarikan bahasa Indonesia sampai kapan pun.

Mengakhiri tulisan ini, kita perlu merenungi bahwa terkikisnya bahasa Indonesia sekarang ini di sebabkan karena kita telah terhipnotis dengan budaya modern (bahasa asing). Kalau tidak segera disadarkan, takutnya ini menjadi ancaman bagi keberadaan bahasa Indonesia kedapanya.

Sehingga perlu pembenahan sejak dini untuk menanamkan rasa cinta terhadap bahasa resmi negara kita yaitu bahasa Indonesia.

Demikian pula sebuah perlindungan terhadap Bahasa Nasional dengan langkah menertibkan undang-undang bahasa juga sangat diperlukan sekali, agar generasi muda tidak semakin meninggalkan bahasa tanah airnya.

Semoga dengan tulisan ini (kita) seluruh masyarakat Indonesia kembali menggunakan bahasa Indonesisa dengan benar, dan semakin mencintai bahasa Indonesia. Karena kita dan bahasa Indonesia adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.***




Menyelamatkan Mata Air di KLU

Vihara Astinda bekerja sama dengan Pemerhati Lingkungan serahkan bantuan bibit tanaman

TANJUNG.lombokjournal.com

Menyelamatkan sumber mata air merupakan hal paling utama dalam kehidupan, karena itu penting menjaga dan memeliharanya, salah satunya dengan melakukan penanaman bibit tanaman.

Hal itu dikatakan Attasilani (Rohaniwan Buddha Perempuan) asal Dusun Lonang dan bertugas di Vihara

Attasilani saat di temui wartawan mengatakan, kegiatan sosial penanaman bibit tanaman untuk penyelamatan mata air ini, dipusatkan di halamam Vihara, halaman masyarakan dan di beberapa lokasi perlindungan sumber mata air di sekitar hutan Lenek.

BACA JUGA: Aktivitas Manusia yang Merusak Lingkungan

Attasilani mengaku sudah beberapa kali melakukan kegiatan serupa bersama Organisai Astinda (Attasilani Therawada  Indonesia).

Senada dengan itu, Bante (Rohaniawan buddha laki-laki) menambahkan, kegiatan penanaman ini penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk perlindungan ketersediaan kebutuhan air untuk kehidupan semua mahluk, terangnya.

Ketersediaan bibit itu selain bantuan sukarela dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa dan UPT Sahbandar Pamenang, Opal KLU, dan UPT Danlanal Pamenang urunan secara swadaya.

Jenis bibit tanaman itu antara lain tanaman Beringin, Jati Putih dan Kenari yang peruntukannya untuk perlindungan mata air.

BACA JUGA: Warige dan Jangger Sasak Jangan Dilupakan

Selain itu juga tanaman lain yang bisa menjadi perlindungan mata air bibit tanaman buah buahan, seperti  Kedondong, Durian, Lengkeng, Jambu biji, Rambutan dan Durian yang akan ditanam di halaman di beberapa Vihara, Lenek, Baru Murmas, Buani dan Kr. Lendang, serta pekarangan rumah warga sekitarnya.

Penanaman biit tanaman itu akan dilaksanakan pada hari Minggu (16/05/21) pagi sekitar pukul 08.30 Wita.

Ang