Hafiz Wakil Indonesia di MTQ di Amerika Bertemu Gubernur NTB
Gubernur NTB ingin Hafiz wakil Indonesia di MTQ Amerika didampingi orang tuanya
MATARAM.lombokjournal.com ~ Hafiz asal NTB, Lalu Muhammad Khairurrazak Al Hafizi, diterima Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, di Pendopo Gubernur, Kamis (14/04/22)
Lalu Muhammad Khairurrazak Al Hafiz ditunjuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kementerian Agama RI, mewakili Indonesia di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional Amerika yang akan berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat.
MTQ Internasional akan berlangsung dari tanggal 14 hingga 21 Juni 2022 mendatang.
“Kita sering didatangi oleh masyarakat NTB. Kebetulan Hafiz kita ini mewakili Provinsi NTB sekaligus mewakili Indonesia untuk mengikuti MTQ Internasional di Washington DC, Amerika Serikat,” kata Bang Zul sapaan akrab Gubernur NTB.
Sebagai bentuk dukungan, Gubernur Zul ingin agar orang tuanya yang juga sekaligus menjadi pelatih ikut mendampingi.
Dengan didampingi orang tua, bisa fokus konsentrasi dengan tenang dan melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi kompetisi dengan baik.
“Dengan kehadiran orangtua apalagi ini sebagai pelatihnya langsung bahkan sekaligus sebagai pimpinan Pondok Pesantren, akan membuat Hafidz kita ini lebih nyaman dan bisa berkonsentrasi penuh. Dengan demikian akan mampu membawa bangsa menjadi lebih mantap,” kata Bang Zul memberikan semangat.
Selain mendampingi atau melatih, tugas orang tuanya juga bisa melihat negara lain terkait kebersihan, kedisiplinan, bagaimana bebas berekspresi dengan penuh tanggung jawab sambil belajar.
“Dengan belajar dari negara maju itu nanti bisa diceritakan ke para santri-santri disini bahwa jangan takut secara psikologis untuk datang ke barat, dan ternyata orang Islam itu banyak. Jangan dengan model mental kita menjadi sesuatu yang harus dihindari,” ujarnya.
Dengan pendampingan oleh orangtua akan diperoleh sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Dan dengan melihat hal-hal yang baru bisa diceritakan ke para santri-santri.
“Sehingga ke depan untuk mewakili Indonesia bukanlah satu orang tetapi mungkin puluhan, ratusan bahkan ribuan santri di NTB bisa melihat negara maju di masa yang akan dating,” tukasnya.
Sementara itu, Lalu Muhammad Khairurrazaq Al Hafizh mengaku, dalam menghadapi Musabaqoh di Amerika dirinya melakukan berbagai persiapan-persiapan dengan memperbanyak hafalan dan lain sebagainya.
“Dengan dukungan Pak Gubernur insyaallah akan memberangkatkan ibu dan bapak, tentu ini menjadi semangat serta makin memperkuat mental berkompetisi. Bukan hanya doa dari rumah melainkan langsung didampingi,” ujarnya.
Selain itu, ia berpesan kepada teman-teman yang menghafal Al-Qur’an baik yang sedang belajar Al-Qur’an maupun bagi remaja NTB untuk tetap semangat.
Apalagi Hafizh Al-Qur’an saat ini tengah membumi. Sehingga ini menjadi kesempatan dan memacu semangat untuk mensyiarkan Al-Quran.
“Apapun yang diminati, pekerjaan apa pun baik hobi dan pelajaran apapun akan lebih baiknya jangan lupakan agama dan Al-Qur’an,” pesan Hafiz yang pernah menjuarai berbagai event nasional dan internasional ini. ***
Dr. H.MS. Udin, MA; Makna Kalah Bagi Yang Berilmu
Ini kisah perjuangan Dr. H. MS. Udin, MA, yang mampu memberi makna kalah menjadi energi kreatif. Ia membangun pondok pesantren dengan dukungan warga desa, mendidik dan menghidupi anak yatim piatu penuh keikhlasan. Naniek I Taufan mengkisahkan ketekunan dan keikhlasan Tuan Guru Udin
MATARAM.lombokjournal.com ~Kalah dalam sebuah konstestasi politik bukanlah akhir dari segalanya, apalagi sampai terpuruk hingga mengakibatkan kondisi stress.
Bagi mereka yang berilmu, kalah bisa menjadi energi yang positif.
Hal inilah yang pernah terjadi pada DR. H.MS. Udin, MA., atau yang dikenal dengan Tuan Guru Udin.
Pernah ia mengalami kekalahan saat mengikuti Pemilihan Kepala Desa Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok Barat tahun 1983. Terpikir oleh Tuan Guru Udin, pimpinan Pondok Pesantren Ishlaah Al Ummah, Batu Mulik, Desa Gapuk, Gerung untuk membangun Pondok Pesantren bagi anak yatim dan anak-anak kurang mampu.
Kisahnya bermula, ketika itu ia masih mengemban tugas sebagai Guru SDN 4 Mataram, Tuan Guru Udin ikut Pilkades dan kalah. Pendukungnya sempat kecewa.
Meskipun kalah, namun pendukungnya di kampung itu terbilang cukup banyak. Ia pun berfikir apa yang bisa dilakukan bersama para pendukungnya, agar kekecewaan pendukungnya tidak berlanjut.
Setidaknya sesuatu yang bermanfaat harus dilakukan. Akhirnya energi pendukungnya diarahkan untuk membangun Madrasah yang kelak kemudian menjadi Pondok Pesantren bagi anak yatim dan anak tidak mampu.
Tuan Guru Udin
Bagi Tuan Guru Udin, kalah dalam pilkades justru memberikan keberkahan, bisa memelihara anak yatim dan anak tidak mampu. Tuan Guru Udin mengajarkan untuk menyikapi kekalahan dengan ilmu, sehingga kalah bisa menjadi terhormat.
Dua tahun kemudian, 1985, madrasah ini terbentuk dengan menerima tiga kelas pertama Tsanawiyah dengan sementara menumpang ruang belajar di SDN 2 Gapuk yang tidak jauh dari rumahnya.
Pada perkembangan selanjutnya warga pun, tidak hanya pendukungnya dalam Pilkades, melainkan hampir seluruh warga desa bergotong royong untuk mewujudkan gedung Pondok Pesantren di kampung ini. Hingga akhirnya sekolah ini memiliki tanah dan gedung.
Sejak awal pondok ini didirikan, Tuan Guru Udin yang dua kali mengikuti pendidikan S3 Sospol bidang Administrasi Publik di Untag Surabaya dan UIN Malik Ibrahim Malang bidang Manajemen Pendidikan Islam ini, memang sudah mengkhususkannya untuk anak-anak yatim dan anak kurang mampu.
Karena itu, saat sudah memiliki tanah dan mampu membangun gedung Ponpes yang dihasilkan sebagian besarnya dari urunan para pendukungnya itu, pondok ini didirikan. Karena pembangunan pondok dananya berasal dari urunan warga sekitar, maka diwacanakan, para santri dan santriwati direkrut dari warga sekitar dan seluruh keturunan pecahan atau warga desa ini yang setidaknya sudah membangun 18 masjid di tempat-tempat tinggal mereka yang baru.
Pondok ini mencari santri santriwatinya dari warga kampungnya yang sudah tinggal menyebar di desa lain seperti, Ketirik, Jembatan Kembar, Dasan Belo, Penimbung, Batu Timpang, Batu Samban, Lendang Jahe, Sempolok, Keselet, Sedengat, Jelateng Timur, Jelateng Barat, Kelape, Sayung, Pekemik, Pendem, Dasan Baru, Setenggar, Mpol, Pemegatan, Timbal Kelep, Lemer, Sepi, Belongas, Sauh, Seledong, di mana warga pecahan ini sudah mendirikan masjid sendiri-sendiri.
Anak cucu mereka inilah yang menjadi santri dan santriwati Pondok Pesantren Ishlaah Al Ummah saat ini.
Pelan tapi pasti, ponpes ini berkembang. Namun jangan berfikir bangunan pondok yang mewah seperti ponpes-ponpes lainnya. Sebab pondok ini membiayai penuh 400-an santri santriwatinya yang belajar secara gratis.
Tidak mudah bagi Tuan Guru Udin yang lahir dari orang tua petani ini untuk membiayai anak-anak yatim dan anak-anak kurang mampu belajar dan hidup di pondok secara gratis.
Keihlasannya untuk mengurus dan merawat mereka membuat dosen Universitas Islam Negeri Mataram ini harus putar otak mendapatkan biaya bagi mereka.
Selain biaya itu datang dari kantong pribadinya, ia bersyukur selama ini selalu saja ada bantuan yang datang, yang membuat kehidupan para santri santriwati serta proses belajar mengajar berjalan dengan baik.
Memang, makan dan minum mereka secukupnya, tidak ada yang berlebihan apalagi mewah. Tidak mudah memang membayangkan menghidupi 400 anak khususnya yang 115 penghuni asrama pondok. Pernah dan sering terjadi, pondok kehabisan beras dan makanan untuk santri santriwati bahkan pernah seminggu tak ada persediaan.
Tuan Guru Udin pun mengais persediaan keluarganya untuk bisa memberi makan anak-anak asrama. Sejauh ini ia bersyukur sebab ada saja yang membantu di saat sulit, termasuk selama ini warga sekitar juga kerap menyumbang untuk biaya makan anak-anak pondok.
Dana-dana dari donatur lebih banyak habis untuk biaya hidup para santri santriwati, sehingga tidak terpikirkan lebih jauh tentang bangunan gedung pondok maupun asrama yang lebih representatif.
Saat ini, selain gedung dengan 12 ruang belajar, ada dua asrama santri dan santriwati. Asrama ini bukan asrama yang ditempati satu kamar 2 santri melainkan mereka tidur beramai-ramai.
Para santri malah lebih sering tidur di masjid yang dibangun dari wakaf bangunan yang diberikan donatur dari Saudi Arabia beberapa tahun lalu.
Tuan Guru Udin yang alumni LEMHANNAS tahun 2017 ini mengaku tak sampai hati menarik uang SPP, Pembangunan dan lain-lain sebab ia tahu persis kondisi anak-anak yang belajar di pondok ini.
Seluruhnya anak tak mampu yang rata-rata yatim dengan keadaan yang menyedihkan. Tiap ajaran baru tiba, ia dan tim perekrut santri santriwati selalu turun bertemu para Kepala Dusun untuk mencari anak-anak yatim dan tidak mampu untuk belajar di pondok ini secara gratis.
“Saya harus menyelamatkan anak-anak ini,” ujarnya.
Kini ponpes ini telah memiliki PAUD hingga Aliyah yang berjalan dalam kesederhanaan. Pondok ini dijalankan oleh mantan Asisten 1 bidang Pemerintahan dan Kesra Pemkab Lombok Barat tersebut, berpegang benar-benar pada kehendak Allah SWT.
Sebab ia tidak memiliki dana yang besar apalagi tabungan yang pasti untuk membiayai 400 santri santriwati yang belajar gratis termasuk di dalamnya 115 yang tinggal di ponpes.
Kesabaran dan keikhlasan Tuan Guru Udin dan pengurus pondok lainnya serta yang utama adalah kehendak Sang Penciptalah yang membuat pondok ini, berjalan hingga 36 tahun. Kini, alumni pondok ini telah banyak menjadi orang yang berhasil dengan berbagai profesi. Itulah kebanggaan terbesar bagi Tuan Guru Udin yang baru-baru ini gelah mengikuti akselerasi Guru Besar UIN Surabaya ini, melihat mereka keluar dari kesulitan dan mampu membangun hidup yang lebih baik.***
Jokowi, Eksekutor Mandalika yang Sedikit Bicara
Mencetuskan mimpi berupa ide, gagasan dan cita-cita, itu pekerjaan yang mudah dan murah. Tetapi bagi Presiden Jokowi, bagaimana ‘mengeksekusinya’, mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan, ini butuh komitmen, konsistensi, kerja keras, dan tak kalah pentingnya adalah kemauan serta itikad membangun masa depan lebih baik. Naniek I Taufan menjelaskan tentang perkembangan pembangunan KEK Mandalika
MATARAM.lombokjournal.com ~ Itulah Mandalika yang mendunia hari ini. Butuh kesabaran dan kesungguhan, dan waktu puluhan tahun menjadikan Mandalika merekah bagai gadis cantik ranum yang mengundang perhatian. Bikin iri memang.
Pengembangan kawasan Mandalika menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pariwisata premium, sesungguhnya sudah direncanakan sejak tahun 1980-an yang dicetuskan pertama kali oleh Joop Ave (Dirjen Pariwisata Kementerian Pariwisata RI 1982) saat itu.
Ia berniat membuat ‘Bali baru’, dan pilihannya adalah Lombok. Masuk akal, sebab Lombok memiliki keindahan tak kalah dengan Bali. Namun rencana itu tidak semulus dalam angan-angani. Berbagai tantangan menyertainya. Terjadi tarik ulur, tersendat-sendat, naik turun, bahkan sempat lesu.
Rencana menjadikan Mandalika sebagai ‘Bali baru’ itu membuat investasi hotel sekelas Novotel mulai dibangun di tahun 1997. Tapi bersamaan dengan itu, krisis ekonomi melanda. Cita-cita KEK Mandalika pun pupus.
Hingga akhirnya, selama 25 tahun, hanya Novotel-lah yang menjadi satu-satunya brand hotel Internasional yang berdiri di sana. Dan menjadi andalan pendapatan asli daerah Lombok Tengah saat itu.
Kawasan Mandalika yang berada di bagian Selatan Pulau Lombok ini sempat kurang diperhatikan, sebab konsentrasi pembangunan pariwisata saat itu ada di bagian Utara yakni kawasan Senggigi yang sudah terlebih dahulu mendunia.
Sampai pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, KEK Mandalika kembali menjadi perhatian. Ide menyulap kawasan Mandalika itu menjadi wacana yang hangat dibicarakan, bersamaan dengan Lombok yang pariwisatanya mulai maju.
Ditambah lagi pembangunan bandara internasional yang berada di tengah-tengah Pulau Lombok, yang sangat dekat dengan Mandalika. Bandara Internasional Lombok (BIL), membuka pergerakan pembangunan pariwisata wilayah Lombok bagian selatan.
Visi Pariwisata Jokowi jelas arahnya
Groundbreaking kawasan KEK Mandalika pun dilakukan pada tahun 2019. Rajutan mimpi itu tersambung kembali. Tetapi tidak banyak kemajuan pembangunan di Mandalika. Novotel pun masih tetap kesepian tanpa kawan dan menjadi satu-satunya hotel berkelas yang ada di Mandalika.
Sampai akhirnya eksekutor itu datang dengan visi pariwisata yang jelas, KEK Mandalika pun dilanjutkan. Di Era Presiden Joko Widodo, Mandalika pun mekar merekah, sumringah dan berbunga-bunga.
Meski dalam dua kali Pilpres tahun 2014 dan 2019 Jokowi kalah telak di NTB, ia tidak peduli. Jokowi yang pintar dan berani itu, tetap mencurahkan segala perhatiannya bertubi-tubi ke Bumi Gora, salah satunya dengan mengeksekusi ide pendahulunya, wujud nyata KEK Mandalika.
Ia mempunyai target yang jelas, Kementerian Pariwisata RI mendorong kunjungan turis mancanegara ke Indonesia menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya. Kunjungan wisatawan ke Indonesia yang sebelumnya sejumlah 10 juta wisatawan di tahun 2014, menjadi 20 juta di tahun 2014-2019.
Salah satu pilihan, Mandalika menjadi target Presiden Jokowi untuk melipatgandakan kunjungan wisatawan.
Gubernur Zulkiefimansyah dengan latar belakang patung Jokowi
Sebab target jumlah Wisman 20 juta itu tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan Bali. Wisman harus punya tujuan destinasi internasional lainnya. Dan salah satunya Lombok. Mandalika Lombok masuk dalam program 10 destinasi unggulan, 5 destinasi super unggulan, selain fokus lainnya yakni Danau Toba, di Sumatera Utara, Candi Borobudur di Yogyakarta, Labuan Bajo dengan Pulau Komodo-nya di NTT, Cikupang Sulawesi Utara dan Mandalika Lombok.
Dari sinilah akhirnya mimpi itu benar-benar terwujud. Negara bukan hanya membangun kawasan pariwisata, melainkan lengkap dengan infrastrukturnya. Jalan baru yang lebar yang langsung menghubungkan Bandara Internasional Lombok dengan kawasan Mandalika, pun memperpendek waktu tempuh yang tadinya 45 menit, sekarang tinggal 10-15 menit saja.
NOVOTEL yang tadinya ‘kesepian’, kini tak sendiri lagi. Pullman Hotel bintang 5, menanam investasi sekitar Rp 700 Miliar dengan 10 ribu kamar hotel, berdiri di Kawasan Mandalika. Selain itu komitmen yang akan masuk ke Mandalika ditaksir senilai Rp 17 T yang akan datang mancanegara termasuk Timur Tengah, Qatar dan UEA.
Mandalika ke depan pasti akan ramai. Apalagi, di dekat Mandalika ini, dermaga Gili Mas sudah selesai dibangun. Dermaga yang mampu disandari kapal-kapal pesiar raksasa yang membawa turis-turis asing.
Sebagai bagian dari Nusa Tenggara Barat, Lombok memang disayang dan jadi ‘anak emas’ Jokowi. Buktinya, dalam banyak hal ia memberi perhatian yang besar untuk daerah ini. Selain itu, NTB termasuk dalam daerah yang paling banyak dikunjungi Presiden RI ke 7 itu.
Lalu, dari banyak daerah lain di nusantara yang notabene bisa dikatakan jauh lebih siap, Negara justru memilih kawasan Mandalika (dengan segala permasalahan yang sempat mengemuka) sebagai tempat dibangunnya Sirkuit MotoGP yang disebut-sebut sebagai yang terbaik dan terindah di dunia.
Dengan nama resmi Pertamina Mandalika International Street Circuit, yang lokasinya berada di Desa Kuta Kecamatan Pujut Lombok Tengah ini telah dijajal pertama kali oleh para pebalap Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) dan World Superbike (WSBK) pada bulan November 2021 lalu. Dan pada 18-20 Maret 2022 mendatang, balap motor bergengsi akan menghadirkan pebalap-pebalap dunia dalam MotoGP Mandalika 2022 telah siap digelar.
Kecantikan Lombok tereksplor
Dengan adanya sirkuit Mandalika, meski sudah lama dikenal, namun baru kini kecantikan Lombok tereksplor habis-habisan. Bagaimana tidak, pada sesi tes pramusim MotoGP 2022, 11-13 Februari 2022, para pebalap dunia itu sudah langsung menyebar foto-foto keseharian mereka selama berada di Lombok.
Adalah Marc Marquez yang fotonya pertama kali menghebohkan dunia maya. Begitu tiba di Bandara Internasional Lombok, pebalap asal Spanyol ini langsung melakukan selfie di depan landmark bertuliskan Lombok dengan warna merah menyala. The Baby Alien membagikan foto selfienya itu di depan landmark bertuliskan Lombok. “ID #lombok #indonesia,” tulis pembalap berusia 28 tahun ini.
Tampaknya ia jatuh hati pada keindahan Lombok yang ia unggah di instagram pribadinya yang memperlihatkan foto dirinya yang sedang menikmati pesona Pulau Lombok.
“(Saya) Jatuh cinta dengan tempat ini,” tulis Marc Marquez dalam unggahan akun Instagram pribadinya, @marcmarquez93, Rabu (09/02/22).
Tidak hanya Marquez yang menyebar foto-foto yang memperlihatkan keindahan Lombok, melainkan para pebalap MotoGP lainnya. Alex Rins, Jorge Martin, Fabio di Giannantonio, Johann Zarco dan Aleix Espargaro adalah beberapa pembalap yang sempat mencoba minum kelapa muda yang biasa disebut kenyamen atau komboq.
Ada pula pembalap tim Ducati, Francesco Bagnaia yang asik bermain voli pantai bersama kru tim. Yang tidak kalah hebatnya adalah pebalap Espargaro yang membeli kartu ponsel di kios pulsa milik warga sekitar Mandalika yang kemudian diikuti oleh Fabio Quartararo.
Tidak itu saja, ragam momen kocak yang mereka alami, seperti ketika Espargaro melihat ibu-ibu berboncengan dengan empat anaknya hingga Bastianini yang dibantu petugas hotel mengusir kelelawar yang masuk ke kamarnya. Dan semua ini terekspos di media massa.
Para pebalap MotoGP datang bukan semata untuk tes motor mereka, melainkan mereka mengekspos berbagai pemandangan indah Lombok di medsos masing-masing. Mereka semua memposting Lombok yang apa adanya. Postingan pantai Mandalika yang indah dengan segala kejadian di sekitarnya. Mereka menjadi buzzer gratis bagi Indonesia yang mempromosikan Mandalika, Lombok dengan segala apa adanya.
Mereka ini punya fans di seluruh dunia. Semua orang jadi tahu keindahan Lombok yang sesungguhnya dengan segala kearifan lokalnya. Seperti ada penonton yang pulang jumatan dan masih memakai sarung, menonton balapan dari balik pagar pembatas sirkuit, ada pula warga yang menonton dari atas perbukitan sekitar sirkuit Mandalika.
Ya tidak apa-apa. Itu unik dan memang inilah Lombok Indonesia, tempat di mana sirkuit bergengsi itu dibangun dengan begitu prestisiusnya. Begitu pula dengan ibu-ibu yang naik motor berboncengan dengan empat anaknya yang kemudian dipraktekkan oleh para pembalap MotoGP.
Itu momen langka, tidak hanya bagi Lombok melainkan bagi Indonesia.
Semua momentum baik itu adalah promosi gratis bagi Lombok. Kenapa mereka mau? Padahal mereka bisa minta bayar untuk itu. Tampaknya keindahan dan keunikan serta naturalnya Lombok membuat mereka pun secara spontan memposting berbagai aktivitasnya,
Indahnya pantai Mandalika memukau mereka, dan secara spontan mengabarkan pada dunia bahwa mereka ada di tempat yang indah. Tempat yang membuat mereka melupakan urusan bisnis promosi. Tempat itu adalah Lombok.
Mencermati bagaimana Negara menghadirkan Sirkuit Internasional itu di Lombok, tampaknya penting melihat strategi tersembunyi yang cerdas dari seorang Presiden Jokowi yang hingga kini tak banyak bicara.
Mengapa ia memilih Lombok sebagai tempat dibangunnya sirkuit bergengsi itu? Kalau bicara soal keindahan pantai, bukan hanya Lombok yang indah melainkan masih banyak tempat di Indonesia ini yang pantainya juga indah. Kenapa harus membangunnya di Lombok?
Ini kebetulan atau tidak, masyarakat dunia akhirnya jadi tahu bahwa Indonesia punya sirkuit baru dengan nama Mandalika, dan itu ada di Lombok. Lombok yang bersebelahan dengan Bali. Ini membuat orang percaya diri datang ke Lombok karena sudah tahu Bali. Tinggal menyeberang selat Lombok saja. Brilian.
Bayangkan, hari ini kita semua, media-media, masyarakat, netizen dan lainnya membicarakan tentang Lombok, MotoGP Mandalika, sirkuit hingga pebalapnya dengan begitu hangat. Di tengah riuhnya pembicaraan pada sirkuit ini, Jokowi yang membangun sirkuit malah tak banyak mengumbar bicara.
Ia lebih senang menonton dan tak banyak bicara. Setelah semua tercapai, ia diam tak berkomentar hanya melihat dari belakang. Ia membiarkan masyarakat memuji, mengevaluasi dan bicara apa saja tentang Mandalika.
Tidak perlu turun tangan untuk promosi lagi, karena para raiders top dunia itu semua sudah spontan mempromosikan Mandalika. Bagi Jokowi itu sudah cukup, tampaknya tidak perlu ikut lagi campur, cukup mereka. Strategi marketing yang tahu betul kapan ia harus muncul dan menikmati karya itu.
Namun sebelum para pebalap dunia itu mempromosikan Mandalika secara spontan, dengan motor customnya, Jokowi sudah terlebih dahulu turun langsung pada momen pertama kali Sirkuit Mandalika digunakan menjelang ajang World Superbike (WSBK) pada 19-21 November 2021 lalu.
Presiden Jokowi
Ia menjajal sendiri sirkuit ini sebelum resmi digunakan sebagai ajang balapan. Otomatis publikasi sirkuit kebanggan ini tak terbendung lagi. Semua media bahkan media internasional memberitahukan bahwa Indonesia punya sirkuit baru, Mandalika.
Tetapi diamnya Jokowi hanya pada tak banyak bicara. Ia terus bekerja. Sebelum gelaran pramusim MotoGP lalu, ia kembali turun ke desa-desa sekitar Mandalika untuk meninjau homestay-homestay di sana yang penataannya dibantu oleh Pemerintah Pusat. Warga diberi dana dan dibangunkan tempat yang layak sebagai tempat penginapan.
Dan konon, penginapan-penginapan ini sudah full booking untuk gelaran MotoGp 2022 yang akan berlangsung 18-20 Maret 2022.
Antusiasme menonton balapan MotoGP kelihatannya tinggi. Para penonton MotoGP yang sudah membeli tiket, tentu tidak hanya memikirkan tiket saja melainkan juga berpikir tentang hotel/penginapannya. Kalau sudah penuh lalu nginap di mana? S
Sebab penerbangan khususnya rute Jakarta Lombok misalnya, hanya sampai jam 3 sore. Ia membuat para penonton dipaksa menginap di Lombok. Tidak bisa berangkat pagi pulang malam, sebab gelaran MotoGP terjadwal hingga sore hari.
Bukan hanya hotel dan penginapan sekitar Mandalika yang penuh, penonton MotoGP yang diprediksi mencapai 60.000 orang itu juga menginap di kawasan wisata Senggigi Lombok Barat dan di tiga gili Lombok Utara, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Tidak ketinggalan juga di Mataram dan sekitarnya bahkan disiapkan pula penginapan hingga ke Sembalun.
Mereka ini, kelak akhirnya akan cerita tentang keindahan Lombok dan pengalaman baru menginap di Lombok. Bahwa ada pulau indah lainnya lain selain Bali, itulah Lombok.
Orang makin mengenal seluk beluk Lombok dan akhirnya terbiasa datang ke pulau ini. Mengenal keindahannya, mengetahui hotel dan penginapannya, tempat kuliner dan objek-objek wisata lainnya. Ini berarti Lombok akan semakin melejit dengan segala kearifan lokalnya.
“Memaksa” menginap di Lombok tentu akan semakin banyak uang yang ‘dibuang’ ke Lombok. Sirkuit Mandalika dan MotoGP, tampaknya sudah didesain untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi secara merata di nusantara.
Jadi ke depan, tidak hanya Jakarta dan kota-kota besarnya dengan geliat ekonomi yang luar biasa, tidak hanya Bali yang ekonominya menggelora dari pariwisata, melainkan Lombok (NTB) juga pantas berkembang yang dimulai dari gong besar kawasan KEK Mandalika dengan Sirkuit Internasional-nya.
Kini, Sirkuit Internasional Mandalika sudah semakin siap dan meriah dengan pemasangan patung Jokowi. Ini akan menjadi salah satu momentum paling fenomenal.
Patung Jokowi naik motor yang dibuat oleh seniman kesohor Nyoman Nuartha – yang juga mengerjakan monumen-monumen raksasa di Bali – itu mejeng di pintu masuk sirkuit Mandalika yang dibangun dengan dana APBN dari uang rakyat yang diwujudkan oleh Jokowi.
Kelak sirkuit ini akan dikenang sebagai karya dari seorang pemimpin yang berani, sang eksekutor yang memilih diam di tengah gegap gempita puja puji sirkuit yang mendunia itu. ***
Basri, Kakek yang Pantang Menyerah Meraih Sarjana
Kerut di wajah Basri tak membuat semangatnya pudar. Gairahnya tetap menyala ketika harus memacu sepeda motornya setiap hari menelusuri jalanan hutan Pusuk yang berkelok-kelok. lombokjournal.com ~ Tidak kurang dari 40 kilometer harus ditempuhnya demi menuntut ilmu. Bolak balik Tanjung Lombok Utara menuju Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram, tidak membuat Basri, kakek berusia 61 tahun menyerah.
Sejak tahun 2015 ia menjalani masa kuliahnya di Fakultas Agama Islam jurusan Komunikasi Penyiaran Islam dengan segala keterbatasannya. Dan di tahun 2020 lalu, ia lulus sebagai Sarjana tertua di kampus itu dengan predikat Mahasiswa Inspiratif Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) tahun 2019/2020.
Menarik mengulik semangat kakek yang tak kenal putus asa ini. Meskipun menjadi mahasiswa tertua di kampus itu, Basri yang lulus PGA tahun 1978, senantiasa berusaha keras mengikuti perkembangan dan menyesuaikan dirinya dengan rekan-rekan kampusnya yang nota bene masih muda.
Ia tak sedikit pun malu duduk bersama dengan mahasiswa lainnya bahkan dosen yang usianya jauh lebih muda dari dirinya. Memutuskan kuliah di usia senja tersebut baginya sederhana saja, agar ia bisa lancar berbahasa arab dan harapannya kelak ia bisa menjadi seorang pendakwah.
“Saya ingin sekali bisa berbahasa Arab dan ingin berdakwah,” ungkap Basri.
Ketika pertama kali mendaftar di kampus Universitas Muhammadiyah Mataram, Basri mengaku tidak minder. Ia santai saja berbaur dengan para mahasiswa baru yang seusia dengan anaknya atau bahkan usia cucunya.
Begitu juga ketika ia pertama kali masuk kelas dan menjalani kuliah untuk pertama kali, ia duduk bersama anak-anak muda meski ia mengaku awalnya tak punya bayangan tentang kuliah itu seperti apa.
Baginya, ia hanya ingin menuntut ilmu agama, tidak peduli bagaimana kesulitan-kesulitan yang akan ia hadapi saat menjalani kuliah itu hingga ia menjadi sarjana.
Ia berusaha keras menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus dengan cara alami saja. Basri bahkan mengaku tak terpikir tentang bagaimana menyesuaikan diri, ia beradaptasi dengan cepat.
Basri beruntung karena kawan-kawan kuliahnya menerima dengan sangat baik keberadaannya, menganggapknya sebagai rekan kuliah tanpa melihat usianya yang sudah sepuh. Mereka juga bersedia membantunya dalam banyak hal. Penuh semangat dan rajin kuliah, itulah ciri khasnya.
Di mata Yusron Hadi, ST., M.Pd., dosen pengajar yang juga pembimbing skripsinya, Basri adalah mahasiswa yang rajin dan bersungguh-sungguh dalam menempuh perkuliahan.
Jarak yang jauh – ia tinggal di Tanjung, Lombok Utara – yang harus ditempuhnya untuk bisa mengikuti kuliah di Mataram, membuatnya beberapa kali tertidur di kelas karena kelelahan. Dan ini dimaklumi oleh dosen dan juga rekan-rekan sesama mahasiswanya.
“Saya sering menemukannya tertidur di kelas karena kelelahan, namun kami memaklumi itu, sebab semangat kuliah Pak Basri sangat luar biasa. Ini yang harus menjadi contoh bagi kita semua,” ungkap Yusron Hadi.
Jarak yang jauh dan keterbatasan biaya untuk perjalanan menuju kampus, tidak membuat semangatnya lemah. Agar tidak absen kuliah, ia sering menginap di masjid-masjid yang ada di Mataram jika memang kuliahnya padat.
Ia tidak ingin melewatkan waktu sia-sia untuk beroleh ilmu. Kisah menginap di masjid juga bukan hanya karena padatnya jadwal kuliah melainkan ia sering tak memiliki uang untuk membeli bensin motor.
Meski ia mendapatkan keringanan dengan kuliah gratis di kampus UMMAT, Basri yang hanya seorang tukang (apa saja dikerjakanannya secara serabutan) ini harus mengeluarkan biaya untuk operasional lainnya. Ia membiayai sendiri semua itu dari hasil yang tidak seberapa sebagai tukang dan penjual bibit buah-buahan.
Basri terbilang gigih. Ia tak malu untuk bertanya pada rekan-rekannya termasuk kepada dosen jika ada yang tidak diketahuinya. Di dalam kelas, ia mahasiswa yang sangat aktif.
Nyaris tidak ada momen kuliah tanpa ia bertanya ketika dosen membuka sesi mahasiswa bertanya. Ia sangat ingin mengetahui hal-hal detil dari ilmu yang baru saja dipelajarinya.
“Pak Basri sosok yang sangat gigih dan tidak pernah malu untuk bertanya, baik kepada rekan-rekannya maupun kami sebagai dosen. Aktif bertanya jika ia tak pahami sesuatu,” kata Yusron.
Marbot masjid yang menjadi Ketua Forum Silaturrahmi Marbot Masjid se-Lombok Utara ini, merupakan tipe yang pantang menyerah. Meski tertinggal terutama dalam hal teknologi operasional komputer, ia beruntung memiliki banyak kawan yang bisa membantunya sehingga ia bisa menulis skripsi dengan judul “Peran Forum Silaturahmi Marbot Masjid Dalam Meningkatkan Suasana Ibadah” dan ia mampu menyelesaikannya hingga lulus ujian.
Kisah di balik perjuangannya menulis skripsi ini juga tidak mudah. Bukan hanya persoalan mengoperasionalkan komputer dan mencari materi serta konsultasi dengan dosen pembimbing, melainkan sebuah peristiwa kecelakaan pernah hampir membuatnya gagal menyelesaikan skripsinya.
Ia mengalami kecelakaan sepeda motor saat getol-getolnya menyusun skripsi. Tidak kurang dari enam hari, Basri tak sadarkan diri di rumah sakit akibat kecelakaan itu. Hal itu bahkan membuat Basri sempat kehilangan sebagian memorinya.
Ia banyak tidak mengingat apa isi skripsinya begitu juga dengan dosen-dosennya. Namun, bekal semangat pantang menyerah yang dimilikinya membuat Basri terus maju untuk menyelesaikan skripsi tersebut. Kehilangan ingatan ini membuat dosen pembimbingnya sempat kesulitan melanjutkan bimbingan skripsinya.
Akan tetapi, sekali lagi ia beruntung mendapatkan dosen pembimbing yang memahami kondisinya itu dan ingin melihat Basri bisa berdiri di podium wisuda sarjana.
“Membimbing skripsi Pak Basri setelah kecelakaan itu sangat tidak mudah, sebab Pak Basri banyak lupa dan tidak ingat pula dengan dosen-dosennya. Tapi ia tetap tak menyerah, kegigihannya mengalahkan tantangan yang dihadapi. Ini pelajaran penting untuk kita dari Pak Basri,” kata Yusron yang mengagumi kegigihan mahasiswanya itu.
Basri, S.Sos
Dan pada akhir Maret 2020 lalu, Basri benar-benar membuktikan dirinya sebagai ciptaan Allah SWT yang terlahir tanpa menyia-siakan waktu, ia sukses mengikuti prosesi wisuda sebagai wisudawan tertua Universitas Muhammadiyah Mataram.
Bagi Basri, S. Sos., Demi Masa, waktu tidaklah boleh dibuang percuma sebab itulah hal yang paling berharga dalam hidupnya. Ia pantang menyerah sebelum Sarjana. ***
Tuan Guru Bagu di RSUP, Kapolda NTB Langsung Berkunjung
Kapolda NTB Irjen Pol. Drs. Djoko Poerwanto menjenguk Tuan Guru Bagu yang terbaring sakit di RSUP sebagai kecintaan pada ulama
MATARAM.lombokjournal.com ~ Mendapat info kalau ulama sepuh Pulau Lombok TGH. Lalu Turmudzi Badruddin atau Tuan Guru Bagu sedang mendapat perawatan di RSUP NTB, Kapolda NTB Irjen Pol. Drs. Djoko Poerwanto, langsung menjenguk di RSUP, Selasa (04/01/22) siang,
Kujungan itu punya makna sendiri bagi Kapolda
Melalui siaran pers, Irjen Pol. Djoko kepada media menyampaikan, selain sebagai kewajiban sesama muslim, kunjungan tersebut juga sebagai teladan, ulama sebagai pewaris para Nabi, mutlak harus dihormati sebagai bentuk kecintaan.
“Walau saya baru beberapa hari tugas di NTB, tapi saya sudah banyak mendengar dan tahu siapa Tuan Guru Turmudzi Bagu. Beliau salah satu ulama sepuh NTB bahkan bangsa ini, yang arif dan bijaksana yang harus diteladani oleh kita semua,” ungkapnya dalam siaran pers melalui Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto S.I.K., M.Si.
“Saya mengunjungi beliau ini sebagai bentuk ta’zim kepada ulama, karena umara’ dan ulama harus bergandengan tangan,” tandas Irjen Pol. Djoko.
Jenderal Polisi Bintang Dua itu mengatakan, sejatinya ulama sebagai tokoh agama (toga) sekaligus tokoh masyarakat (toma), harus mampu menjadi teladan bagi umat.
“Beliau, Tuan Guru Turmudzi Bagu sudah kita tahu bersama sebagai seorang tokoh, sudah memberi contoh baik dalam bersikap dan berstatemen atau bertutur kata, menyampaikan sesuatu dengan santun penuh kearifan sebagai panutan,” katanya.
Menurut Irjen Djoko, ini harus dicontoh bersama, sehingga NTB tetap menjadi daerah yang damai dan harmoni serta sejuk tanpa gejolak.
Diungkapkannya, Tuan Guru Bagu selama di bangsal perawatan, memberi petuah atau wejangan pada mantan Direktur Tipidkor Bareskrim Polri itu.
Khususnya, Tuan Guru Bagu memberikan motivasi untuk terus kuat memimpin Polda NTB agar NTB tetap kondusif.
“Kita do’akan Tuan Guru segera pulih,” kta Djoko
Sementara istri Tuan Guru Bagu Hj. Aisyah Idayatul Aini, M.Pd.I. ditemui usai kunjungan, menyampaikan apresiasi kepada Kapolda NTB yang peduli atas kesehatan Tuan Guru Bagu.
“Alhamdulillah wa syukrulillah, atas nama keluarga besar almukarram dan Yayasan Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu, mengucapkan banyak terima kasih kepada Polda NTB, khususnya Kapolda Bapak Irjen Djoko Poerwanto yang telah berkunjung, bersilaturrahmi dan mendo’akan untuk kesembuhan almukarram,” ujar Aisyah Turmudzi.
Hj. Aisyah Turmudzi itu mengatakan, Tuan Guru Turmudzi mendoakan agar Kapolda NTB beserta jajarannya, diberikan kekuatan dalam menjaga keamanan dan ketertiban NTB.
“Almukarram juga mendoakan Bapak Kapolda agar diberikan kekuatan, dalam mengamankan dan mengkondusifkan wilayah NTB, sehingga riak-riak gejloak yang muncul atau timbul, bisa diatasi dan dicarikan jalan keluar terbaik,” tuturnya.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda NTB yang didampingi Direktur Intelkam Kombes Pol. Sutrisno, S.I.K., Kabid Humas Kombes Pol. Artanto, S.I.K., M.Si., di pintu bangsal perawatan Pantai Senggigi disambut Direktur Utama RSUP NTB dr. Lalu Herman Mahaputra, dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) langsung menuju bangsal perawatan VVIP-01, tempt Tuan Guru Bagu dirawat.***
Antara Marah dan Ramahnya Ibu Risma
Menteri Sosial, Tri Rismaharini, juga sempat marah di NTB, Tapi bandingkan antara kemarahannya dengan caranya “mentularkan virus positip untuk bekerja baik dalam melayani publik”
Oleh: Lalu Gita Aryadi (Sekda NTB)
MATARAM.lombokjournal.com~ Beberapa hari belakangan ini, berita Ibu Risma – Menteri Sosial Republik Indonesia, marah-marah, viral lagi. Diliput berbagai media cetak, elektronik, media sosial, baik lokal hingga nasional.
Saya tertarik menulisnya. Pertama karena lokus marahnya di NTB. Kedua, kebetulan 2 hari ikut mendampingi kunjungan kerja ibu Menteri ke lokasi tersebut. Apa sih yang sesungguhnya terjadi? Benarkah marah melulu?
Di Desa Tetebatu Lombok Timur, kemarahan Ibu Risma sesungguhnya diprovokasi oleh situasi. Sebut saja, ada oknum aktivis (pendemo) lebih dahulu marah kemudian memancing marahnya Ibu Risma.
Begitu Ibu Risma turun dari mobil, pendemo langsung protes dengan suara keras sambil tunjuk jari kearah Ibu Menteri. Dari orasi singkatnya, pendemo sesungguhnya menyampaikan hal yang sepele. Kenapa Ibu menteri memilih lokasi acara di tempat itu. Lokasi itu milik seorang supleyer. Kenapa tidak di tempat lain yang netral?
Saya menduga ada permasalahan domestik antara pendemo dengan supleyer. Atau mungkin menurut pendemo, pilihan lokasi itu adalah bentuk tindakan yang berbau kolutif. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Sekdanya, Taufik Juaini, sudah memberikan klarifikasi.
Pilihan lokasi bukan rekomendasi pemda. Tapi pilihan tim advance Kementerian Sosial. Bisa jadi Ibu Risma tidak tahu lokasi itu milik supleyer seperti ditudingkan.
Protes sudah kadung disampaikan dengan nada keras. Ibu Risma langsung muntab. Pendemo di-gass poll-balik. Ibu Risma tidak tinggal diam. Suara keras pendemo dibalas bentakan lebih keras lagi. Hikmah kejadian ini, ke depan tim advance Kementerian harus bijak pertimbangkan usul saran tuan rumah. Agar hal-hal sepele yang tidak perlu terjadi dapat diminimalkan.
Menyaksikan adegan itu, ada rekan wartawan disamping saya tersenyum seakan mendapat angle berita baik. Ibu Risma marah lagi. Publik ter-framing setiap kunjungan kerja Ibu Risma datang untuk marah-marah. Padahal adegan marah-marah berlangsung sesaat saja. Selebihnya sangat positip, produktif dan solutif. Suasana yang sangat humanis.
Ibu Risma di balik marahnya juga ramah. Sangat menjiwai tugasnya. Peduli pada anak yatim piatu, fakir miskin, para lansia, para penyandang disabilitas. Namun moment itu kalah porsi publikasi.
Kalaupun harus ada menu marah-marah, kemarahan Ibu Risma sesungguhnya tertuju ke pimpinan Cabang Bank plat merah yang dinilai tidak terbuka dan tidak empatik dalam menyalurkan dana bantuan sosial keluarga miskin. Ibu Risma datang dengan data. Tahu akar masalah dan siap berikan solusi.
Di Lombok Timur maupun di Sumbawa, Ibu Risma selalu konfirmasi data. Berapa BPNT dan PKH yang sudah disalurkan? Kenapa data salurnya belum banyak? Apa yang saudara lakukan untuk atasi masalah itu? Kenapa ada laporan KPM (Keluarga Penerima Manfaat) yang tidak pernah lakukan penarikan namun saldonya nol rupiah ?
Karena pertanyaan tersebut tidak dijawab dengan jelas dan tuntas, maka marahlah Ibu Risma. Sampai disini saya menganggap kemarahan Ibu Risma adalah sesuatu yang wajar. Kinerja perbankan penyalur di luar ekspektasinya.
Ibu Risma ingin kinerja bank penyalur lebih sigap dan solutif dalam menyalurkan bantuan sosial ke masyarakat. Pihak bank keluhkan kendala geografis dan status Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagai penyebab lambat salur.
Tri Rismaharini
Ibu Risma tidak suka dengan dalih klasik ini. Bank penyalur harusnya pro aktif dan cari solusi. Di Kabupaten Sumbawa, Ibu Risma dengan dibonceng sepeda motor akhirnya terjun langsung ke lapangan. Mencari alamat KPM yang harus dipenuhi haknya dan ketemu. Setelah sempat marah ke pimpinan bank penyalur, satu persatu KPM mendapatkan hak nya baik berupa uang tunai ditambah natura dalam bentuk telur, beras ada juga garam.
Untuk masyarakat yang ada di pulau terpencil dan di puncak gunung, Ibu Risma perintah agar pihak bank libatkan TNI dan Polisi mengantarkan uang tunai kepada rakyat miskin.
Ayo kerja lebih amanah. Kita digaji dari uang rakyat. Saya bela-belain blusukan seperti ini untuk memastikan kesepakatan kita di atas kertas terimplementasi di tingkat terbawah. Betapa zolimnya kita bila hak rakyat miskin apalagi untuk anak yatim piatu, fakir miskin, para lansia, para penyandang disabilitas tidak sampai sasaran.
Negara sudah menganggarkan dengan susah payah di tengah keterbatasan fiskal yang ada. Masak macet di bank oleh hal tehnis administratif. Ibu Risma dengan suara teduh dan mata berkaca-kaca, mohon kesadaran pimpinan bank penyalur di daerah untuk bersinergi yang baik dengan para pendamping sosial yang mendampingi masyarakat dalam pencairan bantuan sosial.
Ibu Risma sampaikan wejangan inspiratif itu dengan ekspresi yang sungguh-sungguh. Bisa jadi itu suara bathinnya yang sangat peduli nasib anak yatim piatu. Sejak kecil saya hidup dengan anak yatim piatu. Bapak saya angkat tidak kurang 80 orang anak yatim piatu menjadi saudara saya. Saya paham kehidupan dan kebutuhan mereka. Saya tidak mau masuk neraka gara-gara jadi menteri sosial yang telantarkan nasib anak yatim piatu.
Kemarahan Ibu Risma ke pimpinan bank penyalur, seakan oase yang sangat melegakan hati para petugas pendamping sosial. Kemarahan Ibu Risma adalah representasi dan refleksi kedongkolan kami yang tidak di hargai pihak bank. Terima kasih Ibu Risma. Kami sanggup bekerja lebih baik dan lebih keras lagi mendampingi rakyat miskin bila pihak bank mau bekerjasama yang baik dengan kami. Ungkap para pekerja pendamping sosial kegirangan.
Di sela-sela santap malam di Rumah Makan Me Cenggo Rempung, Lombok Timur maupun dialog di ruang tunggu Bandara Sultan Kaharuddin Sumbawa Besar, saya mendapatkan cerita lebih dalam tentang bagaimana perjuangan Ibu Risma menutup Komplek Lokalisasi Dolly. Bagaimana memperbaiki kualitas layanan publik. Bagaimana membuat Surabaya jadi bersih, indah dan berbunga-bunga. Kini Surabaya jadi rujukan nasional dan mendapat berbagai apresiasi internasional.
Ibu Risma bisa cekakakan cerita diteror preman waktu menutup Komplek Dolly. Kurang ajar, coba pak tiba-tiba mereka kirim gambar orang telanjang semua penuhi tv monitor saya. Saya tidak mundur walaupun pegiat HAM dan lainnya menekan saya. Ngeri pak kalo kita perhatikan dampak sosialnya. Anak-anak dijangkiti sex addicted. Setiap saya turun ke Dolly saya sudah titip pesan dan serahkan semua kunci-kunci ke keluarga saya. Lo Ibu mau kemana? Saya mau pergi mati. Nanti kalo saya mati dengan jalan ini, tidak boleh ada keluarga yang menggugat. Saya ikhlas. Kecuali ada aparat hukum menentukan lain, monggo ucapnya seakan bernostalgia sewaktu mengemban amanah sebagai Walikota Surabaya.
Kepergian Ibu Risma ke Jakarta sebagai Menteri Sosial, goreskan kesan mendalam di sanubari warganya. Ibu Risma-Alumni ITS yang kuasai ilmu tata kota dan tehnik lingkungan ini, sosok yang sangat Energik, Jujur, Polos, Workaholic. Semua lini bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya ingin diketahuinya secara detail. Ibu Risma tipe ibu perfeksionis.
Dalam berkomunikasi Ibu Risma kental gaya suroboyoan-nya yang terbuka, ceplas ceplos dan egaliter. Beliau memang vocal dan vulgar dalam berkomunikasi dengan anak buahnya. Kadang terkesan tempramental. Sebagai masyarakat kami mendoakan agar beliau selalu dalam Lindungan Tuhan. Beliau mengidap beberapa penyakit yang membahayakan.
Kata seorang teman di Surabaya yang konfirmasi Ibu Risma sedang marah di Lombok? Saya jawab ya. Ini saya sedang sama beliau. Saya katakan beliau tidak sedang marah tapi sedang tularkan virus positip untuk bekerja baik dalam melayani publik sebagaimana kebiasaannya di Surabaya.
Ibu Risma memang pekerja keras. Walau tampak tempramental, aku yakin hatinya selembut salju. Beliau bisa langsung sujud syukur tatkala membela anak jalanan yang bisa diterima bekerja pada sebuah Perusahaan. Ibu Risma sosok yang dicintai dan dirindukan Warga Surabaya karena ketegasan, komitmen dan konsistensinya.
Dengan ilmu dan pengalamannya beliau cekatan memperindah kota Surabaya dengan cepat dan tepat. Ibu Risma tidak malu bila ada kebakaran, membantu para pemadam kebakaran kerja di lapangan. Bila ada banjir, malam haripun beliau datangi lokasi banjir dan mencari penyebabnya.
Waktu Jalan Gubeng itu ambles, beliau nungguin sampai malam para pekerja nguruk tanah biar cepat selesai dan segera bisa dilewati. Sampah dan taman di Surabaya jadi percontohan nasional. Saya bangga dan Rindu Ibu Risma, kata teman saya seakan mewakili suara hati warga Surabaya lainnya terhadap Walikotanya.
Ternyata dibalik kemarahan itu tersimpan indah keramahan dan kebaikan yang sudah diperbuat Ibu Risma.
Hidup sekali mesti berarti. Meski mati, memori tidaklah pergi. Abadi dalam sanubari. 2 hari sungguh menginspirasi. Terima kasih Ibu Tri Rismaharini.***
Duta Petani Milenial KLU Diskusi dengan Wabup
Wakil Bupati Lombok Utara, Dani Karter mengunjungi Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan, untuk mita saran dan masukan dari kelompok tani
SANTONG,KLU.lombokjournal.com ~ Wakil Bupati Lombok Utara, Dani Karter Febrianto Ridawan, S.T., M. Eng. melakukan kunjungan dalam rangka berdiskusi dengan tim Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan (DPM – DPA) KLU, di Dusun Lokoq Tujan Desa Sesait, Senin (11/10/21).
Kunjungan sekaligus diskusi berlokasi di kediaman Ismu Ningrat, Koordinator Daerah DPM-DPA KLU yang telah dikukuhkan dan mendapatkan S.K langsung dari Kementerian Pertanian pada 6 Agustus 2021 lalu.
Ismu Ningrat menjelaskan bahwa agenda tersebut digelar dengan tujuan untuk memperkenalkan tentang Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan kepada pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara.
“Agenda kami hari ini dalam rangka memperkenalkan diri kepada pihak pemerintah kabupaten Lombok Utara dan juga kami sangat berharap bisa bersinergi dengan pihak Dinas Pertanian di kabupaten Lombok Utara ini.” jelas Ningrat.
Pihak DPM-DPA KLU menjelaskan juga, telah membentuk kelompok-kelompok binaan dari beberapa desa dengan pendanaan pembinaan masih swadaya atau hasil dari iuran masing-masing tim dari Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan (DPM-DPA) KLU.
“Tim kami yang masih berjumlah 7 orang ini rata-rata telah memiliki kelompok-kelompok binaan di wilayah masing-masing dan karena kami ini statusnya relawan jadi pendanaannya swadaya atau iuran,” kata Ningrat
Kemudian pada sesi diskusi, Wabup Dani Karter menjelaskan, pihak pemerintah telah mengupayakan agar pengembangan sektor pertanian di daerah Lombok Utara bisa mendapatkan perhatian dari dinas-dinas terkait maupun pihak lain di luar pemerintahan.
Namun Dani mengungkapkan bahwa pihak pemerintah juga sangat membutuhkan saran atau masukan dari masyarakat maupun kelompok-kelompok tani guna meningkatkan pengembangan pertanian di daerah Kabupaten Lombok Utara pada umumnya.
“Kami juga butuh masukan-masukan dari semua pihak, terkait bagaimana mengembangkan sektor pertanian kita di KLU ini,” kata Dany
Peningkatan dalam bidang pertanian, dijelaskan bahwa perlu juga adanya pendataan setiap aspek yang ada di sektor pertanian tersebut.
Pendataan dari tingkat desa haruslah benar-benar sesuai dengan keadaan dilapangan agar pihak pemerintah dapat melakukan pembenahan secara tepat sesuai data yang didapatkan.
“Sebagai langkah pembenahan, kami juga sangat menghimbau agar pihak-pihak pemerintahan yang bekerja pada lingkup desa untuk memberikan data – data yang valid agar nanti ketika membuat SOP terkait peningkatan pengembangan setiap sektor termasuk juga sektor pertanian bisa tepat sasaran,” tutup Dani.
Han
Senyum Abadi dari Sang ‘Smiling Politician’
Sang Politisi yang memiliki Senyum Abadi itu saat sudah tak lagi menjadi Wakil Gubernur tetap pandai mendengar dan selalu tersungging senyumnya yang khas
Lalu Gita Ariadi*)
MATARAM.lombokjournal.com ~ Tanggal 12 Juni 2021 lalu, hari terakhir saya berjumpa Bapak H. MUHAMMAD AMIN SH MSi – Wakil Gubernur ke 5 NTB.
Seakan sama-sama ingin melepas rindu, Pak Amin demikian kami biasa menyapanya, mengundang kami rombongan pejabat Pemprov NTB mampir ke kediamannya untuk santap siang.
Waktu itu kami ramai-ramai ke Sumbawa Besar hadiri acara pemakaman Almarhumah Hj. Siti Fatimah Ungang Dea Mas – ibunda Bapak Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah .
Dalam 3 jam reuni dadakan dan dialog, kami menangkap kesan kuat, tak ada yang berubah pada sosok Pak Amin. Masih sehat dan energik. Stylenya kala menjadi wakil gubernur tetap tak berubah. Pimpinan yang hangat, terbuka, bersahaja, tak berjarak, pandai mendengar dan selalu tersungging senyumnya yang khas. Sang Politisi yang murah senyum.
Kalo bertemu, lebih sering terdengar gelak tawa dibanding hening kernyitan dahi. Suasana diskusi di ruang kerja wagub, rapat di Pendopo Panji Tilar seakan berulang tiada beda dengan suasana sillaturrahmi terakhir di kediaman (villa) beliau di Raberas Sumbawa Besar itu.
Saya mengenal pak Amin diawal tahun 1990 an. Waktu itu, Pak Amin adalah pengacara Sumbawa yang hebat. Kami sering ngopi di kantornya di Brang Biji dekat Bandara Sultan Kaharudin Brang Biji. Kami sering ngobrol bersama.
Kami sama-sama aktif di KNPI Sumbawa era Bung AM Jihad (Ketua), juga bersama Bung Syamsun Asir, Bung Burhanudin Salengke, Bung Majid Abdullah, Bung Jeff, Abah Mang, Oni Pasirlaut, Towe dan lain2.
Meski sama2 aktivis, tapi sering kali kami berada pada sisi yang bersimpangan.
Perbedaan perspektif bisa jadi karena perbedaan posisi. Saya berada di lingkar kekuasaan (inner circle) sebagai staf juru bicara (humas) Pemkab Sumbawa di era Bupati Kolonel Jakob Koswara (almarhum).
Sedangkan pak Amin adalah outsider yang rajin mengkritisi pemerintah. Era ini saya juga kenal dengan Bung Nurdin Ranggabarani, M. Jabir dan lain lain yang sedang nakal-nakalnya jadi orator jalanan.
Perbedaan posisi dan perspektif, hasilkan dialektika yang cerdas dan dinamis. Berbeda tapi selalu merindu untuk bertemu. Perbedaan serius tidak membeku jadi batu sandungan yang mengganggu. Perbedaan selalu mencair karena kepintaran dan gaya humanis Pak Amin yang tetap senyum dalam membangun narasi.
Dalam sebuah momentum pilkada, saya menulis sebuah artikel berjudul: ‘Antara Bang dan Bung Amin’. Bang Amin kala itu adalah sebutan populer tokoh reformasi-personifikasi dari Prof Amin Rais. Politisi ulung yg memimpin gerakan reformasi, popularitas politiknya sedang hebat, tokoh sentral poros tengah tapi tidak maju jadi Presiden, dan justru memberikan kesempatan itu kepada Gus Dur dengan berbagai pertimbangan dan dinamika yang mengiringinya.
Sedangkan Bung Amin tak lain dan tak bukan adalah politisi lokal sumbawa yang juga hebat yang kelak jadi suksesor Pak De Jari Djaelani memimpin DPD II Golkar Sumbawa dan pimpinan di Gedung Dewan Sumbawa jalan RA Kartini.
Saya tulis artikel itu agar Bung Amin yang politisi muda itu jangan maju ikut pilkada. Tetap saja dulu di jalur politik. Biarkan senior Bapak Drs. H. Latief Madjid yang maju jadi Bupati. Waktu itu pemilihan kepala daerah masih dilakukan oleh DPRD. Prediksi banyak pihak, kalo Bung Amin serius maju dan sukses melakukan konsolidasi penggalangan fraksi internal dewan, maka kans Bung Amin menjadi Bupati sangat besar.
Seperti biasa, gara-gara artikel itu kami pun terlibat perdebatan. Tapi saya bersyukur Bung Amin tdk marah, tidak juga benci. Bung Amin justru tertawa. Saya senang Bung Amin akhirnya tidak maju. Sayapun senang Pak Latief Madjid terpilih jadi Bupati Sumbawa.
Tahun 1997, saya menulis artikel berjudul : Ketika Sumbawa Dibagi Dua. Lagi lagi kami terjebak dalam perdebatan panjang. Saya yakinkan basis analitik saya adalah ilmu pemerintahan dan administrasi negara, untuk percepatan dan memperpendek rentang kendali pelayanan publik. Bukan tafsir politik atau polarisasi budaya. Sepat tetap sepat, singang tetap singang, tak ada laksana tembok berlin sebagai pembatas. Yang ada, pemerintah hadir lebih dekat layani rakyat.
Tahun 2008, ketika Pak Amin duduk di Udayana sebagai wakil rakyat, kami bertemu kembali setelah lama tak jumpa. Dihadapan banyak kolega sambil ngobrol beliau sampaikan, Bung Gite ini musuh tapi dia saudara saya. Musuh karena sering menjadi lawan diskusi yang sering beda sudut pandang tapi kami tetap bersahabat katanya kala itu. Tak lupa Pak Amin juga cerita tentang polemik artikel cikal baksl terbentuknya Kabupaten Sumbawa Barat.
Tak diduga, 6 tahun setelah polemik, saya harus tanda tangan rekomendasi pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat. Waktu itu saya Ketua DPRD Sumbawa. Sesuai aturan pemekaran/pembentukan daerah otonomi baru, harus ada rekomendasi bupati dan ketua DPRD Kabupaten induk. Pada waktu saya akan tanda tangan rekomendasi, saya terbayang wajah Lalu Gite, katanya.
Hal ini kami bahas dan cerita ulang kembali ketika 5 hari mendampingi Wakil Gubernur H. Muhammad Amin SH MSi, tahun 2018 awal kunjungan kerja ke Ning Xia Tiongkok, sebuah provinsi yang penduduk muslimnya paling banyak di China. Selama di Ning Xia, banyak hal dibahas termasuk sikap dan persiapannya hadapi pilkada Gubernur tahun 2018.
Satu hal yang justru tak dibahas adalah dengan siapa akan berpasangan. Saya akan setia hingga akhir menunggu petunjuk Pak Gubernur TGB, katanya. Tapi apa pun nanti saya juga adalah pimpinan parpol yang pasti harus menentukan sendiri langkah politik yang akan saya tempuh, katanya.
Awal bulan Agustus ini kesehatan Pak Amin baru kami ketahui dalam kondisi yang kurang baik. Dirawat di RS Manambai Sumbawa Besar. Kami kaget, ketika viral di medsos, flayer urgen dari Sultan Kertapati bahwa Pak Amin butuh donor plasma konvalesen untuk golongan darah B.
Kamis 5 Agustus 2021 pukul 20.35, dr Eka Nurhandini Assisten 3 Setda ProVinsi NTB melaporkan kondisi kesehatan Pak Amin yang malam ini menurun. Jumat dinihari, 6 Agustus 2021, Pukul 04.18 Gubernur NTB – Dr. H. Zulkieflimansyah, share di WAG Forum OPD yang berisi pejabat utama Pemprov NTB, berita duka telah berpulangnya ke rakhmatullah Bapak H. Muhammad Amin SH MSi. Innalillahi waa innailaihirojiun.
Sewaktu menjadi wakil gubernur, saya bersaksi Pak Amin sangat loyal dan setia ke TGB. Pak Amin pemimpin baik yang kini pergi meninggalkan kita semua dengan segala kebaikannya.
Saya teringat senyumnya yang sangat bersahabat. Saya ingin membalas senyum itu untuk menghantar perjalanannya yang panjang. Saya janji tidak ingin menghantarnya dengan kesedihan, walau itu ternyata sulit. Tetap terselip rasa sedih dan haru.
Selamat jalan sahabat, selamat jalan sang pemimpin, selamat jalan smiling politician.
Semoga Allah SWT mengampuni salah khilafmu, menerima segala amal ibadahmu, menjadi ahli surga dan semua sanak keluarga tabah dan ihlas melepaskan kepulanganmu. Alfatehah. Aamiin. ***
*Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si adalah Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi NTB
100 Hari Kerja, Upaya KLU Atasi Dampak Gempa dan Pandemi
Capaian program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Lombok Utara, harus mengatasi persoalan-persoalan sebagai dampak gempa bumi dan pandemi Covid-19
TANJUNG.lombokjournal.com~ Dalam menyampaikan capaian program 100 Hari Kerja, Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH dan Wakil Bupati Danny Karter Febrianto ST. M.Eng menyampaikan, banyak persoalan harus segera diselesaikan mengawali pemerintahannya.
“Mengawali pemerintah sekarang ini, diharapkan segera menyelesaikan persoalan daerah,” kata Bupati Djohan Sjamsu dalam jumpa pers bersama para pewarta di Tanjung, Lombok Utara, di Aula Kantor Bupati, Rabu (30/06/21).
Namun, menurut Bupati Djohan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih dihadang banyak persoalan sebagai dampak gempa bumi dan pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksi kapan berakhir.
“Gempa meluluh lantakkan Lombok Utara, hingga sekarang banyak persoalan belum selesai. Banyak persoalan yang harus dipikirkan dan segera dikerjakan,” kata bupati.
Diungkapkan, saat ini pendapatan asli daerah (PAD) Lombok Utara mengalami penurunan tajam, dari yang semula 500 milyar kini merosot hingga 50 persen.
Menurut Bupati Djohan, di tengah banyak persoalan itu Pemerintah Daerah harus mengambil langkah untuk segera menyelesaikannya. Pemerintahannya mengemban tugas prioritas, sekaligus menjalankan visi-misi pemerintah.
“Terkait visi misi Lombok Utara bangkit, menuju Kabupaten Lombok Utara yang inovatif, sejahtera dan religius,” ucap bupati.
Jumpa pers yang juga dihadiri Wakil upati Danni Karter Febrianto itu, dipandu Penjabat Sekda, Drs H. Raden Nurjati. Hadir pula saat itu, Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KLU Evi Winarni, SP., M.Si, Kepala Bappeda Lombok Utara, Kapolres dan Kepala Bagian Humas Setda Lombok Utara, Mujaddid Muhas.
Program 100 Hari
Program 100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati ini merupakan wujud keberpihakan, suatu komitmen pemimpin daerah kepada masyarakat semata-mata.
Dalam program ini, yang diutamakan adalah memberi pedoman dalam mengkoordinasi, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program 100 hari setelah pelantikan pemimpin daerah.
“Sebagai upaya untuk memberikan solusi cepat terkait dengan permasalahan-permasalahan yang harus segera dituntaskan,” kata bupati.
Namun, berhasil atau tidaknya kegiatan ini relatif tidak mengganggu jalannya pemerintahan. Bila berhasil maka akan menjadi catatan positif tingginya kinerja Pemerintah Daerah di mata masyarakat.
Dalam program 100 Hari Kerja ini, ada empat hal yang telah dilakukan Bupati Djohan Sjamsu dan Wakil Bupati Danny Karter Febrianto. Empat hal itu, yakni pertama, Memarak (menyampaikan).
Program Memarak merupakan upaya merajut komunikasi dua arah, antara pihak Pemerintah Daerah dan masyarakat. Di satu pihak Pemda menyampaikan program-programnya, di pihak lain masyakat menyampaikan aspirasinya.
Dalam kegiatan Memarak, baik Bupati maupun Wakil Bupati melakukan kunjungan ke rumah ibadah dan bertemu kelompok-kelompok agama. Selain itu, juga mengunjungi pasar tradisional dan RS Daerah.
“Saat kegiatan memarak juga bertemu dengan petani, buruh serta pedagang kecil. Kami menyapa tokoh masyarakat, sekaligus dengan kalangan UMKM,” jelas bupati.
Kedua, Merikeq, yang dikonsentrasikan pada perbaikan data (verifikasi dan validasi). Khususnya data penerima dan usulan Rumah Tahan Gempa (RTG), bagi masyarakat yang rumahnya rusak akibat gempa bumi 5 Agustus 2018.
Selain itu, juga melakukan pendataan terkait perbaikan irigasi tersier di 24 titik di Tanjung, Gangga, Kayangan dan Bayan. Termasuk pembangunan embung.
“Ini bermaksud menjamin kelangsungan hidup masyarakat. Kalau UMKM terpuruk, kita harus memperbaiki sektor pertanian,” kata bupati.
Ketiga, Pelayanan Prima, yang berujuan mendorong semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melakukan inovasi untuk menghadirkan pelayanan prima, dengan menekankan perubahan sikap personil.
Bupati menjelaskan, adanya inovasi pelayanan elektronik di puskesmas, sehingga nantinya masyarakat bisa melakukan antrean secara elektronik. Selain itu ada administrasi kependudukan di Puskesmas.
“Puskesmas akan memberi pelayanan kependudukan. Akte kelahiran bisa diberikan di puskesmas, masyarakat tidak perlu lagi mengurus di kantor Dukcapil,” kata bupati sambil menambahkan ada stiker PKH bagi keluarga yang sudah sejahtera.
Kemudian yang keempat, Pariwisata KLU Bangkit. Pemerintah Daerah membangkitan kembali pariwisata Lombok Utara dengan terobosan inovatif. Menggandeng para pelaku pariwisata, masyarakat dan pemerintah.
“Bagaimana kita tetap bekerja keras di tengah pandemi Covid-19. Karena kita tidak boleh diam,” kata bupati.
Beberapa hal yang dilakukan, misalnya membuka forum pelaku pariwisata dan pemerintah, branding destinasi pariwisata prioritas, workshop dan Focus Group Discussion (FGD).
Sementara itu, Wakil Bupati Danny Karter Febrianto, yang bicara usai penjelasan bupati, lebih fokus pada penjelasan verifikasi data RTG.
“Bagaimana ketepatan sasaran, seperti pihak BNPB yang menekankan ketepatan sasaran,” jelas wabup.
Selama ini lebih ribuan masyarakat yang tecoret untuk memperoleh bantuan RTG. Sebab terdapat NIK (nomor induk keluarga) dan KK (kepala keluarga) yang tidak sesuai nama, jumlah sekitar 14 ribu.
Namun dijelaskan, sejauh ini sudah berlangsung koordinasi antara BNPB dan BPBD untuk mengeluarkan SK susulan tahap dua.
Wabup Dany Karter menjawab pertanyaan wartawan terkait RTG mengatakan, optimis bisa menyelesaikan tenggang waktu yang ditentukan, yaitu pada bulan Agustus 2021.
“Semua RTG akan terselesaikan,” kata Wabup Danny.
@ng
Wakil Rakyat Perlu Meningkatkan ‘Grade’-nya
MATARAM.lombokjournal.com –
Pemilu belum bisa menjamin semua calon terpilih benar-benar memiliki kapabilitas untuk duduk sebagai wakil rakyat atau anggota legislatif.
Mereka berhasil terpilih dan berhak duduk di kursi lembaga legislatif karena kemampuannya mengumpulkan suara terbanyak untuk perolehan kuota kursi. Dan seolah-olah hal itu merupakan satu-satunya syarat untuk menjadi anggota legislatif.
H. Didi Sumardi, Sh
H Didi Sumardi, SH, Ketua DPRD Kota Mataram, saat ditanya soal itu mengatakan, anggota yang bersangkutan tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Ia membenarkan, pemilihan legislatif yang kita jalanani produk sistem pemilu yang sudah disepakati bersama.
“Tentu ada kelemahan, sistem pemilu belum memberikan pemahaman kepada masyarakat agar melakukan pilihan secara rasional. Sebenarnya yang penting bagi para wakil rakyat, atau anggota legislatif harus terus menerus meningkatkan grade-nya,” katanya kepada lombokjournal.com saat berbincang di Kantor DPRD Mataram, Senin (18/01/21) siang.
Tentu yang dimaksud meningkatkan grade itu, bukan semata-mata masalah kualitas atau kemahiran dalam ilmu pengetahuan. Namun juga menyangkut intensitas dalam nilai tertentu, misalnya komitmen dalam memperjuangkan aspirasi rakyat, integritas, dan berikut soal kapabiltas dan semacamnya.
Ketua DPRD Mataram yang sudah melakoni sebagai wakil rakyat lima periode itu mengatakan, peningkatan kapabilitas angota legislatif memang mutlak.
Kapabilitas wakil rakyat
Diuraikan Didi, dalam menjalankan tugasnya para anggota legislatif harus menjalankan tiga fungsinya dengan baik.
Fungsi pertama, yakni menjalankan fungsi legislasi, sebagai perwujudan wakil rakyat di daerah yang memegang kekuasaan membentuk Peraturan Daerah (Perda). Fungsi kedua, yakni fungsi anggaran, dilaksanakan untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan Perda tentang APBD yang diajukan oleh Kepala Daerah.
Dan fungsi terakhir atau ketiga, yakni fungsi pengawasan yang melakukan pengawasan atas pelaksanaan Perda dan APBD.
“Dalam menjalankan ketiga fungsi ini, angota legislatif tidak bisa tidak dituntut memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai. Kalau tidak, ia tidak mungkin bisa menjalankan tugas dengan baik,” jelas Didi Sumardi.
Dicontohkan, dalam melaksanakan ketiga fungsi para anggota legislatif kerap berinteraksi dalam rapat-rapat dengan pihak eksekutif seperti Kepala Dinas beserta jajarannya. Rangkaian rapat diadakan misalnya untuk membahas Raperda, mengkritisi, dan mengontrol pelaksanaan APBD, serta mengecek dan mengontrol kesesuaian program Dinas-dinas dengan pelaksanaannya di lapangan.
“Ya, bagaimana mungkin para wakil rakyat, yang umumnya tiap lima tahun berganti dan berasal dari latar belakang beragam, mampu berhadapan dengan Kepala Dinas dan melakukan diskusi mendalam tentang suatu program,” katanya.
Menurutnya, para Kepala Dinas atau eksekutif lainnya telah bertahun-tahun meniti karir dan menekuni bidangnya dengan baik. Karena itu, tidak jarang anggota legislatif selalu kalah dalam penguasaan detil informasi dengan pihak eksekutif, serta lemah melakukan pengkajian.
“Seringkali terjadi ketimpangan dalam rapat-rapat itu,” tutur Didi.
Kalau wakil rakyat punya spesialisasi keilmuan yang sesuai dengan komisi di mana ia bertugas, mungkin tidak begitu sulit untuk beradaptasi. Tapi kalau bekal keilmuan tidak dimiliki, apalagi ia bukan seorang yang mau berupaya meningkatkan gradenya, dipastikan tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.
Jembatan kepentingan
Memang sebagai Ketua DPRD Kota Mataram, Didi Sumardi memegang amanah jabatan publik yang menjembatani kepentingan legislatif dengan eksekutif, dan legislatif dengan stakeholder lainnya, secara khusus untuk rakyat yang diwakilinya.
Didi mengaku perlu mengingatkan para anggota di lembaga legislatif yang dipimpinnya agar mampu meningkatkan kinerjanya. Ia diajukan oleh DPD Parai Golkar Kota Mataram karena ia merupakan kader partai yang mempunyai pengalaman dan kapasitas memimpin lembaga legislatif.
“Ini berkaitan dengan reputasi lembaga, dan citra partai yang saya wakili,” ujarnya.