Mahasiswa harus Bawa Rahmah Bagi Lingkungannya

Terkait wisata halal, agama  lain diharapkan juga membuat terobosan sesuai keyakinan masing-masing asalkan kemanfaatnnya dirasakan oleh semua masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com — Sebagai agen perubahan masa depan

Gubernur NTB, Dr.TGH.M.Zainul Majdi berpesan,  mahasiswa harus membawa rahmah bagi alam semesta dan sesama manusia saat hadir di lingkungan sekitarnya.

“Mari membangun karakter yang baik untuk menjaga Bumi Pertiwi tetap tegak berdiri,” ujarnya. Bersikap Egoisme akan membuat hancur, katanya. Ibaratnya, lebih besar semangat menebang dan merusak lingkungan dari pada semangat menanam.

Gubernur NTB yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) menegaskan itu saat menjadi Pemateri dalam acara Seminar Nasional dengan Tema “Mengungkap Kearifan Lokal Indonesia Timur Melalui Pariwisata Halal Negeri Seribu Masjid” yang digelar Temu Ilmiah Mahasiswa Bidikmisi (TIMDiksi) Nasional 2017 di Aula Auditorium Abubakar Universitas Mataram, Kamis, (16/11).

Terkait dengan wisata halal, TGB mengatakan Indonesia termasuk lambat dalam pengembangan konsep wisata halal tersebut.

“Kita kalah dari Negara Malaysia dan Thailand yang ternyata lebih dahulu dalam pengembangan wisata halal, padahal mayoritas penduduk muslim terbesar ada di Idonesia. Itulah sebabnya NTB menjadi salah satu provinsi pertama yang mendeklarasikan konsep wisata halal di Indonesia”, katanya.

TGB menambahkan, Ruh dari Wisata Muslim Friendly adalah nilai-nilai islami, seperti sertifikasi halal tempat-tempat kuliner yang ada, tersedianya fasilitas-fasilitas penunjang yang ada di Hotel maupun destinasi wisata, seperti Al-Qur’an, tempat bersuci, arah kiblat dan Sujadah untuk sholat, dan untuk agama-agama lain juga tersedia.

Itulah sebabnya  manfaat dari konsep Wisata Muslim Friendly dapat dirasakan semua di NTB.. “Saya persilahkan agama-agama yang lain juga membuat terobosan sesuai dengan keyakinan masing-masing asalkan kemanfaatnnya dirasakan oleh semua masyarakat yang ada di NTB,” ujarmnya.

Mahasiswa sebagai calon-calon dari pemimpin masa depan, harus memiliki perspektif global dan nasional, bukan hanya perspektif kedaerahan atau lokal saja.

Bahkan harus mampu memasuki ruang-ruang penting dan mengambil bagian di dalamnya serta mampu menjadi agen-agen perubahan dalam mewujudkan masyarakat yang berkeadilan. “Adik-adik mahasiswa harus memahami dimana posisi saat ini berada dalam proses perubahan itu, apakah sebagai pelaku yang produktif, atau sebaliknya justru hanya pelaku konsumtif,” kata TGB

Gubernur yang juga Cucu Pahlawan Nasional Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tersebut, berharap mahasiswa memahami dinamika yang sedang berjalan. Seperti sistem perpolitikan dan juga sistem perekonomian dunia yang sedang bergerak  sangat kencang.

Namun di antara kedua sistem itu, TGB  mengingatkan pentingnya menjaga  dan merawat sistem kebudayaan dan karakter bangsa dari pengaruh budaya asing yang  bertentangan.

Sebagai generasi yang hidup di era globalisasi, menurut TGB, hanya mahasiswa dengan kemampuan analisis itulah yang akan dapat bersaing dan menjadi bagian dari perkembangan aspek-apek tersebut

AYA/Hms




TGB Harapkan Pemuda Jadi Pengawal Pancasila dan NKRI.

TGB menegaskan tidak ada negara di dunia ini yang memiliki keberagaman seperti Indonesia, dan masih tetap eksis sebagai sebuah negara

lombokjournal.com —

Gubernur NTB, Dr.TGH.M. Zainul Majdi mengatakan, pemuda merupakan kekuatan bangsa (power of nation), yang berperan sangat strategis dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pemudalah yang mempelopori kemerdekaan Indonesia, juga penggerak sumpah pemuda.

“Inilah bukti nyata peran penting pemuda secara konstruktif sebagai sendi dari kekuatan Republik Indonesia,” kata Tuan Guru Bajang (TGB) sapaan akrab Gubernur NTB saat memberi kuliah umum di Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan Sumatera Utara, Selasa (14/11) dengan tema “Peranan Pemuda dan Institusi Pendidikan dan Mengilhami Perjuangan Pahlawan”.

Kegiatan ini dilaksanakan Universitas HKBP Nommensen sebagai rangkaian kegiatan peringatan Hari pahlawan ke 72 Tahun 2017.

Nama Universitas HKBP Nommensen (UHN) yang terkemuka di Sumut tersebut diambil dari Nama tokoh pendidikan “Nommensen” kelahiran Jerman.

Kepada ratusan mahasiswa, TGB berpesan agar pemuda dan seluruh mahasiswa menjadikan diri sebagai pengawal konsesus kebangsaan yaitu Pancasila dan NKRI.

Anak muda dimintanya berjuang dan berkontribusi bagi masyarakat dunia, dengan mengedepankan idealisme dan karakter bangsa yang penuh legacy, tradisi dan sejarah panjang sebagai suatu bangsa.

“Kepahlawanan secara universal, adalah kemampuan untuk berkontribusi secara konsisten kepada masyarakat,” tegas TGB.

Jika dikaitkan hakekat dan tujuan penciptaan manusia  yang menempati ruang dan waktu, maka ruang itu adalah NKRI yang kaya akan keanekaragaman suku, bangsa, agama dan adat istiadat.  Sedangkan,  waktu itu adalah masa sekarang dan  masa yang akan datang.

“Tugas kita adalah menjaga dan membangun bumi Indonesia dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Di hadapan Rektor UHN, Dr. Ir. Sabam Malau dan Pengelola Yayasan, Pendeta Pintor Sitanggang serta segenap civitas akdemika yang hadir, TGB menegaskan tidak ada negara di dunia ini yang memiliki keberagaman seperti Indonesia, dan masih tetap eksis sebagai sebuah negara.

Beberapa negara lain yang didirikan hampir bersamaan dengan Indonesia, seperti  Yugoslavia yang didirikan oleh Joseph Brozz Tito, tokoh yang tidak kalah besar pengaruhnya di dunia jika  dibandingkan Gamal Abdul Nasser, Ir. Soekarno, Jawaharlal Nehru dan tokoh-tokoh lainnya, namun kini Yugoslavia terpecah belah.

TGB meyakini, dengan populasi yang banyak secara kuantitas dipadukan  dengan kualitas SDM yang tangguh, suatu saat nanti Indonesia akan menjadi bangsa pemimpin dunia.

Kepahlawanan, menurutnya, dapat dilakukan oleh siapa pun sepanjang mampu berkontribusi nyata kepada masyarakat dalam bidang apa pun, baik pendidikan, politik, sosial, ekonomi dan budaya. Contohnya sosok Nommensen.

Meski merupakan tokoh kelahiran Jerman, namun namanya dikenang bahkan melekat menjadi nama universitas terkemuka di Sumatera Utara ini.

“Kalau Nommensen saja yang lahir jauh dari Indonesia, tapi mau berkorban dan berjuang bagi pendidikan Indonesia apalagi kita sebagai putra putri bangsa ini,” pungkasnya.

Dalam sambutan singkatnya Rektor Universitas HKBP Nommensen, Dr. Ir. Sabam Malau mengapresiasi kehadiran Gubernur NTB memenuhi undangan universitas.

“Sungguh luar biasa, beliau berkenan datang dari jauh untuk berbagi ilmu dengan kita. Terutama berbagi pengalaman dan keberhasilan memimpin NTB selama dua periode,” ujar Sabam Malau.

AYA/Hms




Gelar Pahlawan Nasional, Jadi Inspirasi Agar Indonesia Jadi Lebih Baik

Maulana Syeikh pernah memimpin dan berjuang mengangkat senjata serta perjuangan politik untuk merebut, mempertahankan, mengisi kemerdekaan, dan mewujudkan persatuan dan kesatuan.

Ucapan terima kasih bagi para veteran

MATARAM.lombokjournal.com –  Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional jadi simbol, masyarakat NTB punya kontribusi yang tidak kalah dengan anak bangsa lainnya, baik masa awal kemerdekaan maupun dalam mengisi kemerdekaan.

Penetapan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau Maulana Syaikh sebagai Pahlawan Nasional diharapkan jadi inspirasi luar biasa bagi generasi sekarang. Maulana Syeikh berjuang dalam suasana yang penuh keterbatasan. Intimidasi penjajah yang luar biasa ketika mendirikan perjuangan 1937, dapat menjadi inspirasi yang kuat sekali.

Gubernur NTB, TGH M Zainul majid yang akrab disapa TGB (Tuan Guru Bajang), cucu  dari Pahlawan Nasional, Maulana Syaikh tersebut menyampaikan hal itu saat bertindak selaku Inspektur Upacara peringatan Hari Pahlawan ke 72 Tahun 2017 di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB, Jum’at (10/11) pagi.

Menteri Sosial dalam sambutan yang dibacakan TGB  juga berharap, adanya para pahlawan, termasuk TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, dapat menjadi sesuatu yang lebih baik itu tetap menyala di hati masyarakat NTB, agar Indonesia akan lebih baik di masa depan.

TGB mengucapkan syukur serta penghargaan yang setinggi-tingginya secara khusus kepada Presiden RI, Bapak Ir.H.Joko Widodo yang resmi  menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Maulana Syaikh

“Penganugerahan tersebut merupakan kado  istimewa dan kebahagiaan terindah bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat,” kata TGB.

TGB juga berterima kasih kepada masyarakat NTB yang berkontribusi dalam ikhtiar perjuangan, sehingga penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau Maulana Syaikh oleh Presiden RI, Joko Widodo telah dilaksanakan di Istana Negara Jakarta, Kamis (9/11) lalu.

Apresiasi tinggi disampaikannya kepada para tokoh agama, para veteran, para tokoh adat, organisasi-organisasi lintas agama, lintas etnis, lintas profesi, seluruh lapisan masyarakat, FKPD Provinsi NTB, para Bupati/Walikota, generasi muda NTB yang telah menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.

“Sehingga apa yang kita ikhtiarkan dan cita-citakan bersama dapat  terwujud,” kata Gubernur.

Dikutip dari daftar riwayat hidup TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang dibacakan saat upacara, Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepada Maulana Syaikh karena dedikasi dan jasanya yang besar bagi bangsa Indonesia.

Maulana Syeikh pernah memimpin dan berjuang mengangkat senjata serta perjuangan politik untuk merebut, mempertahankan, mengisi kemerdekaan, dan mewujudkan persatuan dan kesatuan.

Maulana Syeikh dinilai tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan, mengabdi dan berjuang sepanjang hidupnya bahkan melebihi tugas yang diembannya. Ia juga pernah melahirkan pemikiran besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Usai upacara, Gubernur dan seluruh Kepala OPD lingkup Pemerintah Provinsi NTB berziarah ke makam TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, di Pancor, Lombok Timur.

AYA/Hms

 




Sejarawan Sebut Maulana Syaikh Pahlawan Hebat

Bukan hanya berhasil membangun dan menciptakan manusia beragama, Maulana Syaikh juga berhasil membentuk manusia berakal budi dan cinta tanah air

Prof. Dr. Anhar Gonggong

MATARAM.lombokjournal.com — Wakil Ketua Tim Pengkaji dan peniliti Gelar Nasional (TP2GN), Prof. Dr. Anhar Gonggong yang juga seorang sejarawan Indonesia, menilai Pahlawan Nasional TGKH. Zainuddin Abdul Madjid yang lebih dikenal sebagai Maulana Syaikh adalah sosok pahlawan yang sangat hebat.

Kehebatan itu dilihat dari garis perjuangan Maulana Syaikh di bidang pendidikan dan membentuk  karakter yang baik sebagai modal terpenting bagi sebuah bangsa dan masyarakat.

Selain  membangun banyak pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, sepanjang hidupnya terus berjuang memberikan bekal pendidikan kepada anak anak muda pada jamannya.

“Kehebatan luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang lain,” kata ahli sejarah itu kepada sejumlah awak media saat acara penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional  kepada Maulana Syaikh TGKH Zainuddin Abdul Madjid oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, Kamis (9/11).

Maulana Syaikh memiliki keperdulian yang tinggi kepada masyarakat untuk bisa keluar dari kebodohan dan keterbelakangan. Inilah nilai nilai kepahlawanan yang terpenting dan sesungguhnya, tegasnya.

“Maulana Syaikh berhasil membangun dan menciptakan manusia yang tidak hanya beragama, tetapi juga berakal budi dan cinta tanah air, itulah nilai- nilai kepahlawanan yang paling utama,” ujar

Dengan ditetapkannya Maulana Syaikh sebagai Pahlawan Nasional, maka nilai nilai yang harus diteladani ke depan, menurutnya, generasi muda NTB harus terus memperkuat dan menyiapkan diri dengan pendidikan. Berusaha menguasai teknologi serta menyiapkan diri untuk mampu bersaing sekaligus mampu menyiapkan untuk pandai bekerja sama.

Ia mengatakan, kesalahan terbesar selama ini, orang cenderung hanya menggembar-gemborkan untuk bekerja dan bersaing, tetapi bersaing belum tentu bisa bekerja sama.

“Jika hanya bersaing dan tidak mampu bekerja sama, bagaimana mungkin bisa mencapai hasil yang maksimal,” tegasnya.

Persepsi yang keliru ini harus dihentikan. Tetapi  seharusnya kita tidak hanya pandai bersaing, namun juga pandai bekerja sama, pungkasnya.

AYA/Hms

BACA JUGA : Maulana Syaikh, Pahlawan Nasional




Maulana Syaikh, Pahlawan Nasional

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada Maulana Syaikh dihadiri ahli warisnya, Umi Hj. Sitti Rauhun didampingi adiknya Umi Hj. Sitti Raihanun

lombokjournal.com –

TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang lebih dikenal sebagai Maulana Syaikh resmi dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional.

Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo menyerahkan anugerah gelar Pahlawan Nasional tersebut kepada ahli waris Maulana Syaikh, Ummi Hj. Sitti Rauhun didampingi adik beliau  Ummi Hj. Sitti Raihanun, di Istana Negara Jakarta, Kamis, (9/11)

Hadir juga pihak keluarga lainnya, yakni putri putri Ahli Waris yang merupakan para  cucu dari Maulana Syaikh, di antaranya Dr. Hj. Sitti Rohmi, Ir. H. Samsul Luthfi bersama istri serta Gubernur NTB,  Dr. TGH. M. Zainul Majdi didampingi istri Hj.Erica Zainul Majdi.

Ummi Hj. Sitti Raihanun hadir bersama  putra beliau H. Lalu Gde Wire Sakti Amir Murni, dan sejumlah keluarga/kerabat lainnya. Dari unsur Pemerintah Daerah, hadir Gubernur NTB didampingi Sekda NTB, Ir.H.Rosiady Sayuti, M.Sc.P.hD, Kadis Sosial, H.Ahsanul Khalik, Karo Humas dan Protokol, H.Irnadi Kusuma beserta jajarannya dan sejumlah tokoh NTB lainnya.

Penganugerahan gelar pahlawan tersebut disambut suka cita oleh segenap masyarakat NTB dan suasana haru bercampur kebahagiaan-pun tampak menyelimuti perasaan para ahli waris saat Presiden RI, Joko Widodo tepat pada pukul 11.00 WIB menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Maulana Syaikh, dalam upacara kenegaraan yang berlangsung hidmat.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh.

Selain (alm) TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari NTB, (alm) Laksamana Malahayati dari Aceh,  (alm) Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepri, dan Lafran Pane dari DI Yogyakarta. Penganugerahan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2017.

Penganugerahan memperhatikan Petunjuk Presiden RI kepada Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan berkenaan dengan Hasil Sidang III Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan pada 19 Oktober 2017, sesuai usulan dari Kementerian Sosial RI tentang Permohonan pemberian Gelar Pahlawan Nasional.

Maulana Syaikh dinilai berdedikasi dan berjasa besar bagi bangsa, termasuk pernah memimpin dan berjuang dengan mengangkat senjata atau perjuangan politik untuk merebut, mempertahankan, mengisi kemerdekaan, dan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Maulana Syeikh dan ketiga pahlawan nasional lain di atas juga dinilai tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan, mengabdi dan berjuang sepanjang hidupnya bahkan melebihi tugas yang diembannya.

Selain itu, melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara, pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Hadir dalam acara penganugerahan tersebut, selain keluarga para ahli waris keempat tokoh dan pejabat pemerintahan daerah dari  daerah asal para pahlawan, juga dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Kerja, dan para pejabat MPR RI, Ketua DPD Oesman Sapta dan pejabat lainnya.

AYA/Hms

BACA JUGA : Sejarawan Sebut Maulana Syaikh Pahlawan Hebat




Tim Pengkaji Gelar Pahlawan Maulana Syeikh Bertemu Gubernur

Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan Pusat (TP2GP), ingin melihat langsung antusiasme masyarakat Nusa tenggara Barat (NTB) yang berharap Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepada Maulana Syeikh, TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid.

MATARAM.lombokjournal.com — Kunjungan tim peneliti, Senin (30/10)  dipimpin  ketua rombongan, Dr. Sudarmanto, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama dua pejabat Direktorat Kepahlawanan Kemensos RI, Daniel Saleeha dan Luberto Azis.

Mereka diterima Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi di ruang kerjanya didampingi Sekda NTB, Ir. H. Rosiady Sayuti, Ph.D., Kadis Sosial, H. Aksanul Khalik dan Karo Humas dan Protokol Setda NTB, H. Irnadi Kusuma.

Tuan Guru Bajang (TGB) sapaan Gubernur NTB yang sekaligus cucu Maulana Syeikh saat menerima tim tersebut meminta doa dan dukungan kepada semua pihak, terutama masyarakat NTB agar Maulana Syeikh segera ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

TGB menegaskan, hanya NTB yang belum memiliki pahlawan nasional yang ditetapkan oleh pemerintah. Karena itu, perjuangan dan dedikasi Maulana Syeikh sebagai putra terbaik NTB selama hidupnya menurut TGB, layak untuk diberikan gelar pahlawan nasional.

“Ini juga merupakan do’a dan harapan yang sudah lama dinantikan oleh seluruh masyarakat NTB,” katanya.

Kepada Tim tersebut, TGB menceritakan, Maulana Syeikh telah menjadi sosok kebanggaan masyarakat NTB. Tidak hanya pada masa hidupnya, namun sampai dengan saat ini Ilmu dan pengabdian beliau tetap menjadi pedoman bagi generasi NTB.

Maulana Syeikh, lanjut TGB, berhasil membangun dan merintis kebersamaan, tidak hanya bagi masyarakat NTB tetapi juga bagi masyarakat Indonesia.

“Beliau membangun daerah dan bangsa ini dengan merangkul semua komponen masyarakat melalui pendekatan agama,” tegas TGB saat itu.

TGB berharap kepada seluruh anak bangsa agar dapat menyerap dan menjadikan inspirasi konsep dan pendekatan yang dilakukan Maulana Syeikh sebagai modal membangun bangsa dan negara.

Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Dr. Sudarmanto menyampaikan kehadirannya di NTB, termasuk bersilaturrahim dengan Gubernur NTB untuk melihat dan merasakan langsung antusiasme masyarakat NTB menyambut penetepan Maulana Syeikh sebagai pahlawan nasional.

Ia mengaku senang dengan doa, harapan dan antusiasme masyarakat NTB kepada Maulana Syeikh.

“Itulah tujuan kami ke sini. Ingin melihat lebih dekat dan juga merasakan antusiasme masyarakat NTB,” Ungkapnya di hadapan Gubernur.

AYA




Kata TGB, Interaksi Manusia Semangatnya Harus Mendamaikan

Optimisme dan interaksi yang mendamaikan merupakan kekuatan Islam

lombokjournal.com

Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang lebih akrab dengan sapaan Tuan Guru Bajang  (TGB)  mengajak seluruh umat Islam untuk membangun optimisme dalam setiap berinteraksi dengan siapa pun. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, ketika membangun Kota Madinah.

Disamping optimisme, interaksi sesama manusia menurut TGB juga harus dibangun dengan semangat islah, yaitu mendamaikan.

TGB menguraikan hal itu dalam tausiyahnya usai menunaikan sholat subuh berjama’ah di Masjid Jami’ Darussalam Kota Wisata, Bogor Provinsi Jawa Barat, Sabtu (28/10).  Gubernur hadir memenuhi undangan Tablig Akbar yang digelar pengurus masjid setempat.

Lebih lanjut diuraikannya terkait interaksi itu. Menurut TGB,  interaksi itu kalau digambarkan dalam bentuk piramida, maka tahapan pertama, adalah interaksi yang dilandasi dengan kesamaan latar belakang.

Kedua interkasi yang dibangun atas fondasi  kesamaan visi, lalu pertautan hati, hati yang bersih dengan memahami kekurangan masing masing atau saling mengisi dan memaafkan.

Terakhir adalah interksi yang dilandasi mawaddah, yaitu interksi yang dibangun atas landasan kepentingan orang banyak. Kasih sayang satu sama lain yang tidak terbatas.

Di hadapan sekitar 600 jama’ah, TGB  menegaskan bahwa optimisme dan interaksi yang mendamaikan itulah sesungguhnya letak kekuatan Islam.

TGB menguraikan dua ayat dalam Surah Al-Hujurat, yaitu ayat 9 dan 10. Ayat 9 Allah manyampaikan kalau dua kelompok beriman berperang, maka islahkan (damikian). Ayat ini dalam skala besar, membahas perselisihan antara dua kelompok.

Sedangkan Ayat 10, Allah menjelaskan sesunggunya orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah. Dua ayat tersebut perlu ditadaburi dan menjadi bahan renungan dalam setiap interaksi dengan orang lain. Terutama, bagaimana membangun interkasi yang mendamaikan.

“Kalau dua ayat ini diletakkan dalam kaca, maka pertanyaannya adalah kapan kita sudah mendamaikan orang,” katanya.

Karena dua ayat ini tidak hanya berbicara soal kesholehan pribadi , tetapi persoalan mendamaikan orang lain. Orang sholeh hanya membangun kepribadian diri, namun Islah diminta dan diperintahkan untuk Islah untuk orang lain.

“Tugas kita adalah bagaimana mendamaikan. Bukan sebaliknya,” ungkap TGB

Kalau tidak ada langkah-langkah untuk mendamaikan perselisihan, maka akan merusak apa-apa yang baik dalam diri umat Islam.

Apa kebaikan itu? Yaitu kebaikan yang sudah disebarkan oleh Allah SWT di atas permukaan bumi ini. Sebagaimana air hujan yang menyirami tanah tandus, yang kita tidak bisa bedakan tetesan yang mana yang menumbuhkan.

Ini merupakan pengingat bagi kita, kebaikan itu sudah disebarkan oleh Allah di seluruh permukaan bumi. Sehingga, kebaikan itu menggambarkan bahwa tidak ada ruang bagi ulama untuk tidak menerima kebenaran dari orang lain.

“Kalau terjadi sesuatu dalam umat, mari kita belajar untuk mendamaikan. Sebagaiman risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW,” ajaknya.

Namun, diingatkannya mendamiakan itu tidak selamanya berbanding lurus dengan ketinggian ilmu seseorang. Kadang kondisi itu, dapat menghilangkan keobjektifan seseorang dalam memutuskan sesuatu. Sebagaimana yang terjadi pada sahabat-sahabat Nabi.

Karena itu, TGB mengajak seluruh jam’ah untuk menumbuhkan semangat menyelesaiakn persoalan di tengah masyarakat, sekecil apapun persoalan dan perselisihan itu.

“Perselisihan yang besar sering kali dimulai oleh perselisihan yang kecil,” ungkapnya, yang melanjutkan tTausyiah tersebut dengan dialog interaktif.

AYA/Hms




Ini Pesan TGB Di hari Sumpah Pemuda

Pemuda diajak untuk terus menguatkan dan mewujudkan komitmen dalam kebaikan

lombokjournal.com —

Pemuda adalah sosok yang identik dengan ide-ide cemerlang dan selalu punya spirit kuat untuk berkontribusi bagi masyarakat, agama dan bangsa. Jika selama ini, ada oknum tertentu yang melempar wacana bahwa pemuda adalah sumber masalah, maka perlu diwaspadai.

“Jangan-jangan ini merupakan cara orang-orang yang tidak suka pada masyarakat itu, agar potensi pemuda yang ada daerah itu termajinalkan, sehingga  pemuda-pemuda itu kehilangan kepercayaan,” kata Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengungkapkannya saat Tablig Khusus Sumpah Pemuda di Masjid Raya Bintaro Jaya, Tangeran Selatan, Sabtu (28/10).

Gubernur NTB yang akrab dengan sapaan  Tuan Guru Bajang (TGB) itu mengatakan, salah satu cara mereduksi pandangan oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut, adalah dengan senantiasa meningkatkan kemampuan pemuda dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain itu tak kalah pentingnya bagi pemuda untuk mengokohkan karakter yang baik.  Diiringi pula upaya menularkan kebaikan-kebaikan itu untuk berkontribusi dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat dan NKRI tercinta ini.

Kepada ratusan anak muda yang antusias mengikuti Tablig Akbar di hari sumpah pemuda ini, Gubernur TGB yang juga ahli tfsir Qur’an tersebut mengajak seluruh pemuda untuk terus untuk menguatkan dan mewujudkan komitmen dalam hal kebaikan.

“Menanamkan kebaikan pada diri sendiri dan  selalu menularkan kebaikan-kebaikan itu kepada orang lain, adalah salah satu cara untuk menghargai diri pemuda itu sendiri,”, tutur Tuan Guru Bajang.

Menurut TGB, hanya pada pundak pemuda- pemuda yang hebat dan generasi yang berkarakter baiklah yang mampu mengemban kewajiban dan tanggung jawab yang tinggi untuk mengawal keutuhan NKRI menjadi bangsa yang  maju dan kuat.

Guna memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas, Gubernur TGB  berpesan kepada para pemuda agar terus mengasah diri dengan  ilmu pengetahuan, memperluas wawasan dan pengalaman serta skill yang tinggi disertai upaya  mengokohkan karakter yang baik dan moralitas yang kuat.

Juga mengajak masyarakat untuk memberikan kepercayaan kepada pemuda-pemuda hebat yang dimiliki negeri ini untuk berkontribusi, membangun masyarakat dan bangsa. Tentunya dengan cara-cara yang baik dan mengokohkan persatuan.

Lebih lanjut, TGB menjelaskan bahwa berbicara soal pemuda adalah berbicara soal bagaimana memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat.

Karena dalam Islam, konsep pemuda selalu diletakkan pada posisi yang tinggi dan luas, mengingat peran dan kontribusinya pada agama. Sebagaimana peran pemuda-pemuda pada zaman rasulullah yang memperjuangkan tegaknya Agama Islam.

Pemuda juga tidak identik dengan seberapa besar umur seseorang atau seberapa kecil umur yang melekat pada diri seseorang. Bisa saja, umur yang lebih dewasa tidak memiliki obsesi individual dan yang ada dalam benaknya adalah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan.

Atau bisa juga, umur yang lebih muda memiliki konsep yang matang serta mengorbankan waktu dan tenaga untuk berkontribus lebih bagi masyarakat. Pemuda sesungguhnya adalah bagaimana berkontribusi positif bagi kepentingan yang lebih luas, ungkap Gubernur TGB.

AYA/Hms




TGB Bicara Kejujuran, Agama dan Karakter Pancasila di Universitas Kristen

Kata TGB, Pancasila itu adalah kemanusiaan yang berketuhanan

lombokjournal.com

Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) menegaskan, kejujuran merupakan pondasi atau sumbu yang menentukan kadar integritas sesorang.

Sedangkan integritas atau karakter yang baik merupakan modal utama mewujudkan bangsa yang kuat dan maju. Dengan kejujuran, seseorang memiliki integritas.

Gubernur TGB memaparkan itu saat memenuhi undangan Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI), Dr. Maruarar Siahaan, SH.MH sebagai narasumber pada kuliah umum mahasiswa  UKI, di Kampus UKI di Jakarta, Jum’at (27/10), dengan tema “Pendidikan Wawasan Kebangsaan Pada Generasi Milenial”.

Menurut TGB, untuk mencapai kemajuan yang besar disegala bidang, bangsa  ini harus didukung dan dibangun oleh generasi muda berkarakter kuat. Yakni generasi muda yang memiliki integritas pribadi dan sosial yang baik, moralitas yang kuat serta kejujuran yang tinggi.

Di hadapan sekitar 200 mahasiswa, TGB mengungkapkan pandangannya tentang agama dan hubungannya dengan Pancasila. Tuan Guru Bajang memaknakan Pancasila  sebagai ” Kemanusiaan  yang Berketuhanan Yang Maha Esa”.

Menurutnya, agama merupakan modal terpenting dan utama dalam membangun bangsa. Dan nilai nilai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat didalam wadah NKRI ini, termasuk Pancasila bersumber dari norma dasar dan meta norma  yang diambil dari nilai nilai ajaran agama.

“Pancasila adalah modal penting membangun bangsa,” kata TGB.

Tidak ada  satu pun nilai Pancasila sebagai dasar negara yang bertentangan dengan agama. Bahkan, nilai-nilai tersebut sangat fundamen dalam kehidupan manusia.

Karena itu, TGB mengajak para pemuda untuk membangun karakter yang kuat untuk membangun bangsa Indonesia yang lebih baik.  Terlebih pancasila ini merupakan hasil kesepakatan para pendiri bangsa sebagai modal sosial bagi warga negara.

Dengan modal ini, bangsa Indonesia akan lebih maju seiring semakin cerdasnya para pemuda memandang dan mencermati modal sosial tersebut.

“Maka, ketika ada yang bertanya kepada saya, Tuan Guru, kalau dalam satu kalimat menurut Tuan Guru, Pancasila itu apa? Saya sampaikan, kalau dalam satu kalimat bagi saya, pancasila itu adalah kemanusiaan yang berketuhanan,” ungkap Gubernur Alumni Al-Azhar tersebut.

Menurut TGB, dari lima sila yang ada di pancasila tersebut, empat diantaranya berbicara tentang kemanusiaan dan satunya berbicara tentang ketuhanan.

Sebagai modal sosial dan hasil konsensus para pendiri bangsa, TGB mengajak  seluruh mahasiswa yang hadir untuk betul-betul menghiasi ranah kehidupan dengan nilai-nilai baik yang ada dalam Pancasila.

Termasuk, jika suatu saat nanti para mahasiswa terjun ke dunia politik dan mengemban tugas besar untuk memperbaiki bangsa.

Praktik-praktik politik yang baik harus ditradisikan mulai saat ini, ajaknya. Generasi muda juga perlu mambangun karakter yang baik sejak dini dengan menjalankan ajaran agama,” tegas TGB.

Apalagi saat ini, generasi muda sudah masuk ke era milenial, dimana seluruh informasi yang terjadi di belahan dunia dapat diakses oleh siapa pun.  Era milenial tidak perlu dilawan atau dijadikan ancaman. Justru momentum itu harus dijadikan peluang untuk menyebar dan berbagi informasi tentang pengalam-pengalaman hebat kita.

“Generasi milenial merupakan generasi yang membangun kebersamaan melalui persahabatan dan pertemanan.,” katanya.

Sebelumnya Rektor UKI, Dr. Maruarar Siahaan mengapresiasi TGB yang menghadiri undangan sekaligus berbagi pengalaman dan wawasan kepada seluruh mahasiswanya. Kehadiran TGB tersebut harus dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa untuk menyerap dengan baik ilmu dan pengalaman yang disampaikan TGB.

Ia berharap, Pengalaman TGB yang sukses memimpin NTB serta wawasan kebangsaan yang dimilikinya, dijadikan modal bagi para mahasiswa jika suatu saat menjadi pemimpin di negeri ini.

Hadir juga saat itu Warek I, Dr. Wilson Rajaguguk Warek III, Dr Dhaniswara Harjono, Wakil Dekan Kerdid Simbolon dan ratusan mahasiswa UKI dan umum

AYA/Hms




TGB Apresasi Pihak Yang Perjuangkan Maulanasyeikh Jadi Pahlawan Nasional

Pemberian gelar nasional ini menegaskan, keterlibatan para ulama dalam memperjuangkan maupun mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau lebih dikenal Maulanasyeikh

MATARAM.lombokjournal.com — Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) mengapresiasi semua pihak yang ikut memperjuangkan  agar TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau lebih dikenal Maulanasyeikh mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Kabar terakhir, Maulanasyeikh masuk nominasi 5 tokoh pejuang nasional yang akan mendapat gelar pahlawan nasional. Pengumuman  secara resmi oleh pemerintah tanggal 10 November 2017 bertepatan dengan Peringatan Hari Pahlawan tahun ini.

TGB yang juga cucu Maulanasyeikh menyatakan bersyukur dan berterima kasih. Menurut TGB, memperjuangkan untuk meraih gelar pahlawan nasional bukanlah pekerjaan sederhana, tetapi cukup berat dan berliku.

“Saya fikir ini adalah bentuk kerja dan ikhtiar dari semua pihak. Dan perjuangan ini tidaklah sederhana tetapi berat dan cukup berliku,” ungkapnya, Jumat, (27/20).

Masyarakat memberikan  dukungan dan do’a, maka pengusulan ini bisa rampung dan hasilnya baik.

Pemberian gelar pahlawan nasional kepada TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menegaskan keterlibatan para ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekaligus memperlihatkan keterlibatan tokoh-tokoh NTB.

Tak banyak orang tahu, bagaimana perjuangan masyarakat, terutama para keluarga besar Maulanasyech saling bahu membahu melengkapi berbagai dokumen dan data yang dibutuhkan, dalam pengusulan gelar kepahlawanan bagi Tuan Guru Pancor.

Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB menjelaskan, setelah pengusulan pertama yang oleh Kementerian Sosial melalui TP2GP,  pihaknya diminta melengkapi berbagai kekurangan yang ada dalam pengusulan. Ditambah begitu banyaknya tahapan dan proses yang  harus dilalui dan  dilakukan.

Untuk mengetahui kronologis tersebut, secara umum pengusulan gelar kepahlawanan dibagi menjadi tiga tahapan.

Pertama, gagasan pemberian gelar ini muncul pertama kali dari keluarga besar yang kemudian mendapat dukungan dari banyak pihak masyarakat NTB, termasuk semua organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU serta organisasi lainnya, termasuk perguruan tinggi seperti UNRAM dan UIN Mataram serta Perguruan tinggi swasta lainnya.

Dan dalam pengusulan kali ini semua bupati/walikota juga menberikan dukungannya dalam bentuk surat pernyataan resmi yang kesemua dukungan tersebut menjadi satu kesatuan dalam dokumen usulan.

Kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan penggalian dari berbagai sumber, mulai dari kalangan internal Nahdatul Wathon, para sahabat Maulanasyeikh, para santri dan tokoh-tokoh di luar NW. Semua rata-rata menyampaikan, almarhum TGKH Zainuddin Abdul Madjid kalau dilihat dari jasa jasanya, baik saat memperjuangkan kemerdekaan, maupun jasa jasanya dalam menyatukan umat Islam untuk menerima ideologi negara Pancasila, memperlihatkan semangat kebangsaan dan ke-Islaman berjalan seiring sejalan.

Maka sangat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

Pemerintah Provinsi NTB melalui  Dinas Sosial melakukan kajian-kajian mulai dari diskusi, seminar dan penelusuran berbagai dokumen baik di perpustakaan dan arsip nasional ataupu pun di MUI pusat dan bahkan sampai Makasar dan Sumatera.

Kedua, ide ini kemudian diperkuat dengan membentuk Tim Pengkajian yang terdiri dari tiga tim.

Tim pertama, melakukan kajian dan pembuatan naskah akademik dalam bidang perjuangan kebangsaan. Tim kedua, melakukan kajian dan pembuatan naskah akademik dalam bidang pendidikan. Kemudian tim ketiga melakukan kajian, dan pembuatan naskah akademik tentang karya-karya maulanasyech maupun karya org lain tentang Maulanasyeikh.

Semua itu melalui proses yang tidak mudah karena juga harus melibatkan banyak pihak untuk mendapat hasil kajian berdasarkan fakta-fakta, dokumen dan sumber.

AYA/Hms