Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam di Lombok

Wayang Sasak diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Prapen yang merupakan anak cucu keturunan Sunan Giri, dan seni pewayangan mulai masuk ke Lombok bersamaan dengan penyebaran agama Islam di pulau ini. Penelusuran wayang Sasak yang ditulis Nanik I Taufan ini menguak pentingnya wayang dalam penyebaran Islam di Lombok

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gelak tawa penonton selalu mewarnai pertunjukan Wayang Sasak yang didalangi dalang Sasak senior, Lalu Nasib.

Puluhan tahun menjadi dalang, inovasi dan kreativitas Lalu Nasib tetap menarik minat masyarakat Lombok untuk tetap menonton wayang, di tengah gempuran tontonan-tontonan instan yang disajikan televisi dan media teknologi lainnya dengan segala kegemerlapannya.

Dalam wayang Sasak, pengiringnya di balik layar
Di balik kelir (layar)

Humor-humor segar yang merespon situasi terkini menjadi kekuatan Lalu Nasib dalam mendalang. Meskipun tidak lagi banyak digelar, seni pertunjukan Wayang Sasak masih digemari oleh masyarakat di Pulau Lombok terutama di pedesaan.

Sebagai dalang, Lalu Nasib menjadi barometer pewayangan di Pulau Lombok. Kekhasan humor dan penciptaan tokoh pewayangan menjadi kelebihan tersendiri baginya.

Ia juga mampu membawa pewayangan Sasak menembus situasi-situasi terkini, sehingga di anga dalang Lalu Nasib, cerita wayang Sasak tidak hanya melulu tentang Jayengrana seperti aslinya. Tapi bisa dijadikan sebagai penyampai pesan-pesan pembangunan, penyuluhan Keluarga Berencana, Pilkada dan lain-lain.

Wayang yang didalangi Lalu Nasib menggunakan Bahasa Sasak, sehingga pesan-pesan moral, kritikan, sindiran dan lainnya mudah diterima dan dimengerti masyarakat. Cerita intinya memang tetap pada pakem cerita Jayengrana, namun di sela-sela pergelaran, improvisasi Lalu Nasib bisa menjangkau hal-hal terkini.

BACA JUGA: Wayang Sasak, Lalu Nasib: Tontonan dan Tutunan Masyarakat

Namun begitu, Lalu Nasib akan selalu kembali pada cerita/lakon aslinya Jayengrana.

Sama halnya di beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa dan Bali, seni pertunjukan wayang juga hidup dan berkembang di Pulau Lombok sebagai hiburan rakyat. Seni pewayangan mulai masuk ke Lombok bersamaan dengan penyebaran agama Islam di pulau ini.

Hal ini bisa dilihat dalam sejarahnya wayang Sasak diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Prapen yang merupakan anak cucu dari keturunan Sunan Giri. Penyebaran Islam tidak dilakukan langsung pada masyarakat melainkan menggunakan media wayang.

Tokoh-tokoh Islam dahulu menyebarkan Islam dengan cara yang halus melalui seni dengan simbol-simbol (wayang) yang selalu menyesuaikan dengan tempat, kondisi geografi maupun latar belakang masyarakatnya.

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Wayang Sasak digelar kala itu untuk menarik perhatian masyarakat berkumpul sehingga mudah menyampaikan kisah-kisah berkaitan dengan agama Islam dalam lakon-lakon yang dimainkan. Sumber lakon wayang Sasak diambil dari Serat Menak yang isinya tentang perjuangan Amir Hamzah yang lebih dikenal dengan Prabu Jayengrana atau Raja Negeri Mekah atau Puser Bumi.

Jayengrana merupakan tokoh utama yang menyebarkan Agama Islam dalam dunia pewayangan Sasak.

Seni pertunjukan wayang di Pulau Lombok benar-benar beradaptasi dengan kondisi sosial   masyarakat di Pulau Lombok sejak wayang pertama kali masuk. Dalam wayang Sasak bahasa yang digunakan secara umum adalah Bahasa Sasak kecuali tokoh Raja, Tumenggung yang tetap memakai Bahasa Jawa Kuno (Kawi).

Dalam perkembangan wayang Sasak di Lombok, untuk memudahkan masyarakat memahami isi lakon, Lalu Nasib enciptakan tokoh-tokoh wayang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Sasak, seperti Amaq Ocong, Inaq Baok, Inaq Itet, Amaq Kesk dan Begol.

BACA JUGA: Festival Bau Nyale Spirit Kebahagiaan, Ini Kata Bang Zul

Sumbernya Serat Menak

Wayang Sasak bersumber dari Serat Menak
Rusmadi, S.Sn (kanan)

Dalang lulusan Institut Seni Indonesia(ISI) Surakarta, Rusmadi, S. Sn, yang sejak tahun 1998 tinggal di Lombok menuturkan, jika wayang Jawa lakon ceritanya bersumber dari Mahabarata/Ramayana,  sedang wayang Sasak sumber dari Serat Menak.

Sebanyak 9 tokoh utama dalam wayang Sasaka, terdiri dari 7 wayang kanan, yakni Jayengrana, Umarmaya, Umar Made, Raden Maktal, Serandil atau Alam Daur, Saptanus dan Tantanus.

Sedangkan sebelah kiri terdapat 2 tokoh wayang, yakni Prabu Nursiwan dan Patih Baktak.

“Selain itu ada wayang kanan dan kiri, ada pula yang disebut wayang sekutu dari Jayengrana  dan Raja Siwunegara yang merupakan sekutu Prabu Nursiwan,” ungkap.Rusmadi.,

Tokoh-tokoh ini memiliki karakter dan masing-masing. Prabu Nursiwan adalah tokoh yang tidak memiliki pendirian. Sedangkan tokoh Umarmaya dan Umar Made adalah tokoh yang bijaksana sebagai penasehat politik.

Mereka berdua merupakan punakawannya Prabu Jayengrana. Selandir adalah tokoh yang kuat dan keras sebagai pahlawan, yang merupakan tangan kanan Prabu Jayengrana. Sedangkan Raden Maktal adalah patih yang sering menjadi duta mewakili Prabu Jayengrana dalam berbagai kesempatan. Ia adalah tokoh yang arif dan bijaksana. Saptanus dan tamtanus merupakan prajurit yang berperan sebagai Senopati (Panglima Perang).

Masalah yang paling banyak dimainkan dalam wayang Sasak adalah sekutu-sekutu dari Prabu Nursiwan antara lain, Patih Baktak (tokoh penghasut berhati culas, licik tapi politikus ulung) yang selalu menentang Prabu Jayengrana dalam menyebarkan kebaikan dengan menebar hasutan-hasutan.

Bertahan dalam tradisi

Salah satu keunikan wayang Sasak adalah kukuh mempertahankan ketradisiannya pada adegan per adegan. Gending pengiringnya seperti Kabor, Janggelan, Flutur tidak bisa diubah sehingga mempengaruhi irama pertunjukan yang sama dari dulu sampai sekarang sehingga terkesan lamban.  Di samping itu, proses penciptaan bunyi iringan gamelannya asli.

BACA JUGA: Protein Tinggi dan Antimikroba pada Cacing Nyale

Bunyi yang diciptakan dari iringan gamelan wayang Sasak yang terdiri dari 2 gendang, lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan), suling besar dan panjang ukuran sekitar satu meter dengan diameter 5 cm, 1 knot, 1 kajar, 1 rincik dan 1 gong, asli Sasak tidak masuk pengaruh Jawa atau Bali atau daerah lainnya.

Keunikan lainnya, dalang Sasak dikenal bekerja lebih berat dan memiliki kemampuan yang lengkap dibandingkan dengan dalang dari daerah lain.

“Selain menjadi sutradara pergelaran, dalang Sasak piawai menjadi sinden karena dalam pertunjukan wayang  Sasak, tidak ada sinden seperti dalam wayang Jawa yang bisa menjadi selingan selama pertunjukan. Sehingga dalang memiliki kesempatan beristirahat sembari memikirkan cerita berikutnya,” lanjut Rusmadi yang juga Wakil Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Lombok.

Dalanglah yang melantunkan nyanyian sepanjang pertunjukan berlangsung. Inilah yang membuat tugas dalang Sasak menjadi berat. Dalang bertugas mendiskripsikan cerita, mengatur dialog antar tokoh hingga menyanyi tak henti-henti selama pertunjukan berlangsung.

Selain itu sistem pertunjukan wayang Sasak, dalang dan pengiring berada di balik layar. Ini berbeda dengan wayang Jawa dimana dalang, sinden dan seluruh pengirinya berada di depan layar sehingga dapat dilihat semua.

Pergelaran wayang Sasak

Dalam pertunjukan wayang Sasak hanya bisa dilihat dari balik kelir (layar). Ini disebabkan karena dalam masyarakat tradisi Sasak masih kuat anggapan bahwa yang disebut wayang adalah bayangannya sehingga penonton tidak dapat melihat dalang maupun pengirinya.

“Keunikan lain dalam wayang Sasak terbuka kemungkinan menciptakan tokoh-tokoh lain selain yang ada tersebut,” ujar dalang yang sehari-hari bertugas sebagai Tenaga Fungsional Pedalangan di Taman Budaya NTB ini.

Saat ini, wayang Sasak di Lombok yang menggunakan wayang kulit yang disebut wayang lendong mulai terbilang langka. Pertunjukan-pertunjukan yang digelar belum mampu kembali menarik minat masyarakat penontonnya dalam jumlah yang banyak seperti masa jayanya dahulu.

Meski begitu, dalam masyarakat pendukungnya, wayang Sasak masih merupakan hal yang dianggap sakral. Misalnya ketika ada masyarakat yang punya hajat perkawinan atau lainnya yang menggelar wayang Sasak, masih sangat menghindari lakon-lakon seperti Lampan Lahat (cerita tentang saat-saat menjelang kematian Jayengrana).

Pergelaran wayang Sasak

Cerita Lampan Lahat masih dianggap kisah yang angker dan tidak akan dipergelarkan mengisi hiburan-hiburan dalam kegiatan yang membahagiakan tersebut.

Lampan Lahat merupakan cerita yang angker bagi pertunjukan wayang Sasak yang hampir tidak pernah dimainkan oleh dalang-dalang di Pulau Lombok. ***

 




Wayang Sasak, Lalu Nasib; Tontonan dan Tuntunan Masyarakat

Seni tradisi Wayang sangat digemari di masyarakat Sasak, salah satunya karena kepiawaian dalang Lalu Nasib yang menjadikan wayang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lalu Nasib sukses menyesuaikan pertunjukan wayangnya dengan situasi terkini Ini wawancara Nanik I Taufan, yang menggali sisi lain dalang berusia lebih 72 tahun tapi tetap bersemangat itu 

MATARAM.lombokjournal.com ~ Lalu Nasib, dalang Wayang Sasak, namanya tersohor hingga ke pelosok desa di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Pulau Lombok. 

Kiprahnya sebagai seorang dalang terbilang fenomenal, sebab ia memiliki ciri khas sendiri. Lucu dan segar, setidaknya itulah suasana yang bisa dinikmati penonton tatkala Lalu Nasib memainkan wayang-wayangnya.

Dalang Wayang Sasak
Lalu Nasib

Lalu Nasib menggemari wayang sejak kanak-kanak. Kegemarannya menonton wayang ia lalu membuat dan memainkan wayang-wayangan dari kardus. Bermula dari kegemaran menonton dan memainkan wayang itu, Lalu Nasib akhirnya memilih menjadi seorang dalang sejak tahun 1965. 

Sejak itu ia menjadi dalang yang mampu membius para penonton. Meski kini usianya telah menginjak 72 tahun lebih, Lalu Nasib tetap bersemangat memainkan wayangnya dan tetap tampil dengan penuh percaya diri. 

“Saya memang sangat menyukai dan senang menonton wayang sejak masa kanak-kanak,” katanya.

Salah satu kelebihan Lalu Nasib sepanjang 55 tahun  memainkan wayangnya, adalah  mampu menyatu dengan penontonnya. Ia senantiasa sukses menyesuaikan pertunjukannya dengan situasi terkini, dengan ragam kisah yang up to date. Ia selalu menggunakan bahasa sehari-hari yang mewakili perasaan masyarakat kalangan bawah.

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Sebagai seorang dalang yang lebih dari setengah abad berkarya, Lalu Nasib memiliki kharisma yang mampu membius para penonton. Ia memiliki kemampuan menciptakan pakem, gaya, genre, dan falsafah tersendiri dalam dunia pewayangan Sasak (Lombok), sehingga ia diterima dan diakui semua orang yang menjadikannya seorang Maestro

Ia mampu mengikuti perkembangan zaman dengan tetap eksis dalam dunia pewayangan hingga saat ini.

Bagaimana tidak, meski tetap memperhatikan pakem asli pewayangan Sasak, ia berinisiatif memasukkan benda-benda modern dalam pagelarannya, seperti alat transportasi tradisional Sasak berupa Cidomo. Bahkan hingga pesawat antariksa Apollo ada dalam pertunjukan wayangnya. 

Awalnya modifikasi ini mengagetkan, namun secara tidak langsung ternyata mampu mewakili kebutuhan hiburan masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah sebagai komunitas pendukung wayang Sasak. Kreativitas Lal Nasib akhirnya diterima sebagai salah satu ciri khas dari inovasi dalang Sasak.

Tidak itu saja, pergaulannya yang luas membuat Lalu Nasib mampu menciptakan tokoh-tokoh yang mewakili kalangan bawah. Ia menciptakan sendiri tokoh-tokoh wayang Sasak yang mewakili kalangan bawah yakni Rerencek dan Punakawan. 

BACA JUGA: Event Sport Tourism, Lombok Jadi Incaran Para Pemacu Adrenalin

Lalu Nasib mampu menghadirkan tokoh tokoh wayangnya dengan karakter lokal, Inak Ocong, Amak Ocong, Amak Amat, Amak Baok, dan Inak Etet. Tokoh-tokoh ini sangat mewakili masyarakat kelas bawah. Tokoh-tokoh wayang ini kini sangat terkenal di Lombok khususnya, sebab memiliki karakter masing-masing yang mewakili kelas bawah baik karakter maupun caranya berkomunikasi.

“Saya bergaul dengan semua kalangan, dari berbagai suku bangsa,” ungkapnya.

Kecerdasan Lalu Nasib dalam menciptakan tokoh-tokoh lokal ini dilakukannya berdasarkan pengamatan lapangan. Bukan hanya pada orang Sasak Lombok, melainkan pengamatan menyeluruh pada berbagai karakter masyarakat di Nusa Tenggara Barat, yang memiliki tiga etnis besar, yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo. Termasuk tipikal karakter orang Jawa bahkan etnis lainnya yang bisa mengundang gelak tawa.

Naluri penciptaannya tak pernah mati. Lihat saja, di tengah gencarnya Pemerintah Provinsi NTB yang memfokuskan diri dalam bidang pariwisata dengan target jutaan wisatawan, Lalu Nasib juga akhirnya menciptakan tokoh wayang ‘bernuansa’ bule. 

Wayang Sasak jadi tontonan dan tuntunan masyarakat

Sebab itulah dalam memainkan wayangnya, Lalu Nasib senantiasa mengemas cerita dan memakai bahasa yang bisa merangkul ketiga etnis tersebut.  

Salah satu keahlian langka yang tidak dimiliki dalang lain di Lombok khususnya, adalah kepiawaian Lalu Nasib mempertontonkan pertunjukan wayang Sasak yang menawarkan celoteh jenaka dari Sang Maestro Lalu Nasib.

Ia tidak hanya memainkan wayang dengan kisah cerita, pakem dan tokoh aslinya, melainkan ia selalu merespon situasi terkini, topik yang tengah hangat di masyarakat, menjadi kekuatan petunjukan wayang Lalu Nasib. Ia paham memainkan wayangnya sebagaimana fenomena yang tengah berkembang. Untuk bisa menguasai materi pertunjukan, Lalu Nasib rajin membaca koran, mendengarkan radio dan  berbincang dengan banyak kalangan.

“Saya pelajari semua topik dan perkembangan informasi dari media massa dan pergaulan dengan banyak orang,” ujarnya.

Tak ayal, sepanjang pergelarannya ia mampu membuat penonton terhibur dengan gelak tawa yang garing. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dari Dalang Lalu Nasib adalah kemampuannya menguasai semua bidang, Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Ipoleksosbudkam) yang menjadi materi dalam setiap pertunjukannya. 

Ini menjadi nilai penting dari keberadaannya sebagai seorang dalang.  Sebab itu ia tetap mampu menjadikan pertunjukan Wayang Sasak sebagai tontonan dan tuntunan yang sesuai dengan masanya.

Itulah sebabnya Lalu Nasib menjadi dalang fenomenal yang langka milik Nusa Tenggara Barat. Sayangnya, perjalanan karir dan karyanya yang begitu panjang dalam dunia pewayangan Sasak tersebut, sejauh ini, tidak banyak terdokumentasi dengan lengkap. Padahal, nama dan kiprahnya di dunia seni pertunjukan pewayangan Sasak khususnya, dikenal hingga ke pelosok desa.

Bisa dikatakan bahwa dari tidak banyak lagi dalang wayang Sasak di Lombok (hanya sekitar 50-an dalang) saat ini, hanya nama Lalu Nasib yang masih dikenal luas dan tetap bertahan di hati masyarakat hingga hari ini. Kehadirannya dalam dunia seni pertunjukan tradisi pewayangan Sasak, tidak lekang oleh waktu, tak tergoyahkan oleh kemajuan zaman yang begitu pesat.

Ia tetap menjadi dalang idola yang pertunjukan-pertunjukannya selalu dinanti sebab ia mampu mampu mewakili kebutuhan masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah.

Tawaran tontonan televisi dan berkembangnya media sosial yang melintasi teknologi canggih yang semakin beragam, tidak mampu sepenuhnya ‘mematikan’ kecintaan masyarakat terhadap keberadaan pertunjukan wayang Lalu Nasib. 

Meski mengalami pergeseran pada soal waktu dan volume pertunjukan serta lainnya, pertunjukan wayang Lalu Nasib masih ditanggap hingga saat ini. Ia tetap bisa menghadirkan pertunjukan yang mampu menjadi tontonan dan tuntunan bagi penikmat wayang Sasak.

“Hanya satu yang selalu saya ingat, untuk menjadikan pertunjukan wayang sebagai tontonan dan tuntunan bagi masyarakat,” katanya.***

 




50 Tahun Teater Imago, dari Anak-anak Hingga Emak-emak Bahagia

Merayakan usia ke 50 tahun, Teater Imago mengajak emak-emak baca puisi, dan mereka mengekspresikan puisi dengan bahagia

MEDAN.lombokjournal.com ~ Ada 15 Emak-emak membaca puisi di gedung tari eks Taman Budaya Sumut.

Mereka berteriak, menangis, marah, bersorak dan tepuk tangan. Mereka terlihat bahagia saat berekspresi di acara 50 Tahun Teater Imago yang salah satu acaranya adalah “Emak-emak Baca Puisi”, Sabtu (15/01/22).

Acara heboh itu mampu menghipnotis para perempuan ini sehingga tetap duduk menyaksikan acara demi aca yang digelar dalam  acara bertajuk “Upah- upah” itu.

salah satu emak baca puisi dalam 50 tahun Teater Imago       Teater Imago merayakan 50 tahun

Di antara pembaca adalah Darmaila Wati yang menangis saat membacakan puisi “Luka Sungai” Karya Ayub Hamzah Fahreza. Juga ada Patia Rasima yang membawakan “Sunarti Gadis Tembung” karya Suratman Surazt.

Sebelumnya acara dimulai dengan mengarak tumpeng oleh anak-anak Teater Imago, Teater Sasude dan Teater Rumah Mata. Mereka mengelilingi TBSU dari jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Jasa Said, Jalan IAIN, Sutomo dan kembali ke TBSU.

Lalu anak-anak teater Imago bersama Ayub Badrin dan Dijah naik ke atas panggung. Di panggung terlihat dua benda dibalut perban tergantung. Seperti seperti mummi atau kepompong.

BACA JUGA: Ultah Teater Rumah Mata, Akun Medson dan Instalasi

Lalu akto-aktor cilik itu mulai membungkus dirinya atau kedua orang yang seperti “orangtua” itu yang melakukannya. Wajah mereka dibungkus perban.

Di saat itu pula, emak-emak membacakan puisinya. Wajah-wajah diperban, di belakang mereka mulai bergerak perlahan. Sesekali memainkan sarung.

Ayub Badri dalam akun FB nya menulis seperti ini :

50 Tahun Teater Imago, “Upah Upah”

Mengapa pilihan kami untuk merayakan 50 Tahun Teater Imago, “Upah-upah”? Padahal 50 tahun adalah perayaan emas. Benda yang dianggap gemerlap. Yah, Upah-upah adalah tradisi. Tradisi orang Melayu dan Mandailing.

 Kedua suku atau puak ini berada di Sumut, tempat kami tinggal, bernafas, hidup, berkelindan, jungkir balik berkesenian. Kami merasa saat ini Upah-upah lah yang paling dekat dengan situasi saat ini.

Kemerosotan nilai nilai, wabah, kematian yang terus mengintai, kepekaan yang kian tumpul, kebudayaan yang kian tergerus, kesenian yang dijepit, dianggap sampah dan harus disingkirkan, Gedung kesenian kita yang sekarat, dan seabrek persoalan yang perlu di upah-upah.

Upah-upah adalah tradisi dimana seseorang atau kelompok harus dipanggil, dikembalikan, dipulangkan semangatnya. Agar keburaman menjadi cerah kembali, agar kelesuan menjadi gairah kembali, agar aura yang redup kembali bercahaya.

 Imago adalah benih yang baru keluar dari cangkang kepompong. Benih yang sekian lama berada dalam cangkang, dalam rahim bumi, yang bergerak ingin keluar, ingin muncrat, ingin menyembul, ingin terus tumbuh hingga menjadi sesuatu.

 Seperti kepompong yang kemudian menjadi kupu-kupu, ingin bebas terbang, menghirup spora dan menyemai, menjadi sesuatu lagi, menjadi berguna juga tidak berguna tidaklah menjadi penting.

 Dia ada, siapa pun dia, Tuhan telah menciptakannya, telah memberkahinya dengan kehidupan, meniupkan ruh dan semangat yang menjadi modal untuk bergerak untuk mencari makna.

 Maka sesuatu yang baru keluar dari cangkang itu, benih itu, harus di upah-upah, agar menjadi benih yang baik, benih yang bening, benih yang akan menyemai kehidupan dengan benar dan akhirnya memberikan setitik kebahagiaan bagi mahkluk di dunia ini.

Itulah kami, Imago…

 Lantas apa relevansinya dengan anak-anak yang dibungkus perban? Jika pendekatannya adalah kepompong dan upah-upah. Boleh jadi anak yg diperban adalah Imago di dalam kepompong. Bergerak ingin keluar, ingin melihat cahaya dan terbang.

Pada adegan lain, seniman yang paling tua yakni Handono Hadi memotong tumpeng dan memberikannya pada serang “ibu”. Seorang ibu inilah yang kemudian menyuapi anak-anak.

BACA JUGA: Wagub NTB Launching Sekolah Sehat, Tanamkan Cinta Ligkungan

Juhendri Chaniago (Budayawan) mengatakan pemotongan tumpeng adalah tatacara adat dalam kebudayaan. Potong tumpeng tidak boleh dilakukan dengan tidak serius.

“Menyuapi nasi tumpeng pada anak-anak itu sebuah simbol yang mengandung makna agar anak-anak menjadi penerus kebudayaan yang serius dan baik,” ujar Hendrik.

Acara berakhir dengan diskusi Teater. Diskusi menyimpulkan perlunya Kota Medan atau Sumut memiliki gedung kesenian. (aba)

Berikut Adalah Nama – nama Emak-emak Baca Puisi.

-Ifeh Boreg

-Nana Marlina

-Ika Yovita

-Cory Marlia

-Lilis Tarigan

-Rosnani Lubis

-Dedek Wanti

-Darmaila Wati

-Atien Sukatendel

-Patia Rasima

– Seiska Handayani

– Yutha Nalurita

– Marina Novianti

– Lia Amri ***

 

 

 




Bupati Buka Pameran Pesona Bonsai Dayan Gunung

Pameran Pesona Bonsai Dayan Gunung yang dibuka Bupati Lombok Utara, Djohan Sjamsu berharap melahirkan pembonsai yang makin memperindah daerah

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Untuk menggali kreativitas dan inovasi dari  masyarakat pecinta Bonsai di Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Utara, Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) KLU menggelar Pameran dan Konteks Bonsai Lokal yang bertajuk ‘Pesona Bonsai Dayan Gunung’ yang berlangsung di Lapangan Umum Tioq Tata Tunaq Tanjung (07/01/21).

Pameran Bonsai yang dibuka Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu ini, dilanjutkan dengan pelantikan pengurus PPBI KLU, Loteng, Lobar, Lotim, KSB yang dilakukan Ketua PPBI Pusat H. Erwin Lismar.

Bupti Djohn membuka pameran pesona bonsai

Pembukaan Pameran Pesona Bonsai

Bupati Djohan mengatakan, dalam pameran bonsai banyak karya-karya yang diciptakan yang indah dipandang mata.

BACA JUGA: Dunia Penyiaran Ujung Tombak Revolusi Media Sosial

“Lewat kesempatan ini pula saya menyampaikan selamat mengemban amanah kepada pengurus PPBI yang baru saja dilantik oleh Ketua PPBI Pusat,” ucap bupati.

Dikatakan, pameran dan kontes bonsai ini akan melahirkan para pembonsai baru yang akan menambah keindahan daerah. Karya Bonsai yang indah, tidak semua orang yang bisa membuatnya, tapi banyak penggemarnya.

“Lewat kontes bonsai ini, doa kita supaya covid-19 juga harus berakhir ,” tuturnya.

Silaturrahmi sambil berkreasi

Ketua PPBI Pusat H. Erwin menyampaikan, lewat Pameran Bonsai tentu akan menjadi daya tarik tersendiri terhadap masyarakat penggemar bonsai untuk mempererat silaturahmi sembari berkreasi.

“Semoga kegiatan seperti ini bisa menjadi contoh bagi PPBI cabang di daerah lain untuk membuat pameran,”tuturnya

Lewat kegiatan pameran bonsai diharapkan banyak hal yang tercapai, seperti kerjasama dan dapat diwujudkan dalam program pameran dan kontes bersama guna mendukung program pemerintah di bidang pariwisata seni dan budaya.

“Dalam setiap acara yang diselenggarakan pameran bonsai saya menekankan kepada panitia, agar masyarakat dari semua golongan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengunjungi memperkenalkan seni bonsai kepada masyarakat terutama bagi para remaja,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Nasli SPd dalam laporannya menuturkan, kegiatan pameran dan konvensi diikuti oleh para penghias bonsai  yang ada di Pulau Lombok. Jumlah pohon yang dipamerkan sebanyak 400 pohon, terdiri dari dua kelas yaitu kelas prospek dengan jumlah 240 pohon dan kelas regional 160 pohon.

“Harapan besar kita pada Pemda beserta jajarannya yang telah memberikan support dan mendukung kegiatan ini, ke depan bisa menjadi agenda tahunan,” harapnya.

Kegiatan pameran pesona bonsai dayan gunung  dalam rangka mengakomodir kreativitas dan inovasi dari para pemuda yang ada di KLU dan Provinsi NTB pada umumnya.

“Semoga kreativitas dan inovasi dari para pemuda yang ada di KLU ini bisa kita akomodir dalam sebuah kegiatan pameran dan kontes bonsai,” katanya.

Kegiatan diakhiri dengan pemotongan pita sebagai tanda diresmikan pembukaannya Pesona Bonsai Dayan Gunung Tahun 2022, dilanjutkan dengan penancapan bendera pada bonsai terbaik oleh Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD KLU, dan Pj Sekda yang disaksikan undangan lainnya.

Tampak hadir dalam pameran Bonsai, antara lain Ketua DPRD KLU Nasrudin SHi,Wakil Bupati Danny Karter Febrianto R ST MEng, Ketua TP PKK KLU Hj.Galuh Nurdiyah Djohan Sjamsu,Pj. Sekda KLU Anding Duwi Cahyadi SSTP MM,Kapolsek Tanjung,Kepala OPD serta undangan lainnya.

@ng

 




Ultah Teater Rumah Mata, Akun Medsos dan Instalasi

Tema ‘tanpa pengeras suara’ membuka Ultah Teater Rumah Mata ke 17, upaya memahami sesuatu yang alami

MEDAN.lombokjournal.com ~ Ulang tahun Teater Rumah Mata dibuka hari ini, Minggu (02/01/22). Ulang tahun ini merupakan rangkaian dari sepekan acara Teater yang kini usianya 17 tahun.

Agus Susilo sebagai Ketua Teater Rumah Mata mengatakan Ultah TRM dibuka dengan tema “Tanpa Pengeras Suara”.

Ultah Teater Mata ke 17 yang sarat kreativias
Agus Susilo

“Ya Ultah Teater rumah mata ini dengan tema tanpa pengeras suara. Memang sengaja karena tempat ini, museum Kota Cina sangat alami, sehingga kita sesuaikan, tanpa pengeras suara, ” ujarnya.

Kemudian Agus juga membeberkan tentang lounching beberapa akun Medsos Teater Rumah Mata seperti Medsos Facebook, instagram dan youtube.

Ichwan Azhari sejarawan yang membangun museum di Situs Kota Cina ini mengatakan akan  lebih membuka diri untuk para seniman.

“Di luar negeri biasa museum bersinergi dengan para seniman. Oleh karenanya museum ini nantinya akan kita rehab. Jadi gedung bawah untuk gedung pertunjukan, atas museum, ” kata Ichwan Azhari.

BACA JUGA: Kasus Omicron Meningkat, Ahli Sarankan Ganti Masker

Hadir dalam acara pembukaan ini, YS, Rat, Rudi Pama, Hendra Mulyadi, Pelukis Farida Purba, Roy Zulian dan Mameks.

Acara ini juga diramaikan oleh berbagai komunitas seperti Sanggar Anak Sungai Deli (Sasude) dan masyarakat sekitar.

Selanjutnya acara spontanitas dari tamu untuk tamu, baca puisi, ucapan selamat dan visualisasi puisi dari Rumah KreatifKreatif, Sasude, Falanta.

Instalasi Seni Rupa

Sebelumnya Rudi Pama mendirikan instalasi. Rudi membuat instalasi dengan bahan bambu, plastik,  dan patung ikan yang dibungkus dengan plastik.

Dilihat sepintas Rudi ingin menyampaikan kondisi laut yang penuh dengan sampah pelastik terutama di Danau Siombak.

BACA JUGA: Sirkuit Mandalika Jadi Magnet Olahraga Balap Kelas Internasional

“Ya saya membebaskan penonton untuk menginterprestasikan karya instalasi saya. Cuma konsepnya plastik, ” ujarnya.***

Ayb 

 




Dekranasda Award Memotivasi Perajin Agar Terus Berkarya

Dekranasda Award diberkan pada perajin daerah agar jangan berhenti berkarya, terus meningkatkan kreativitas karyanya

MATARAM.lombokjournal.com ~ Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB menggelar Dekranasda Award 2021, untuk memberikan apresiasi kepada perajin daerah, atas hasil kreativitas dan inovasi dari karyanya.

“Dekranasda Award, sebagai apresiasi atas kreativitas perajin dalam berkarya dan mempromosikan potensi kerajinan (kriya) daerah,” kata Ketua Dekranasda NTB yang diwakili Hj. Lale Priyatni, M.Si.

acara penilaian Dekranasda Award karya-karya yang dinilai untuk Dekranasda Award

Hal itu disampaikannya pada acara pembukaan sekaligus penilaian Dekranasda Award 2021, Sabtu (04/12/21) di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB.

BACA JUGA: Selain Pariwisata, NTB Perlu Kembangkan Gastronomi

Wakil Ketua Umum Dekranasda NTB, Hj. Lale Priyatni, M. Si mengatakan, Dekranasda Award tahun 2021 diberikan agar memotivasi semangat para perajin, sehingga terus mengaupdate skillnya.

“Jangan berhenti berkarya, tingkatkan terus kemampuannya,” kata Ketua Persatuan Dharma Wanita NTB tersebut.

Menurutnya, di era sekarang, produk kerajinan bermunculan. Sehingga diharapkan juga acara ini dapat meningkatkan daya saing di pasar domestik atau pasar internasional.

Apalagi NTB sekarang menjadi pusat perhatian dunia, dengan berbagai event dan kegiatan Nasional hingga Internasional, ke depan akan banyak diselenggarakan di NTB.

“Termasuk MotoGP, akan menjadi magnet dikunjungi oleh ribuan orang, maka sebagai daerah pariwisata, kita harus siap,” terang istri Sekda NTB.

Dekranasda Award 2021 diikuti oleh 44 kriya atau pengrajin se NTB, mulai dari Bima, Sumbawa, Mataram dan Lombok. Menampilkan 51 karya perajin.

Juri pada penilian ini dari SMKN 5 Kota Mataram. Ada 3 juri yang spesifikasi kompetensinya menilai logam, kayu dan serat alam.

BACA JUGA: Banyaknya Even Internasional, NTB Harus Siapkan Infrastruktur

Kegiatan ini merupakan rangkian dari Lombok-Sumbawa Tenun Festival. Berlangsung sejak Oktober dan puncak acaranya  tanggal 11 Desember 2021.

Hasil kriya pemenang juga akan diikutkan pada pameran “Dekranas Award” dan pameran Internasional lainnya.

Hadir pada kegiatan tersebut, Ketua harian Dekranasda, Kadis Koperasi dan UMKM, Sekdis Perdagangan, pengurus Dekranasda NTB dan para perajin kriya NTB.

Nn

 




Seniman Mural NTB Berprestasi di Tingkat Nasional

Ini baru pertama kali, dua seniman mural asal NTB berhasil meraih prestasi dan menjadi salah satu yang terbaik setelah bersaing dengann 80 seniman mural terbaik dari seluruh Indonesia

MATARAM.lombokjournal.com ~ Seniman mural asal NTB berhasil meraih juara harapan 5 pada Festival Mural tingkat Nasional yang diselenggarakan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Dua seniman mural asal NTB, Dany Arya dan Abdul Azis, berhasil bersaing melawan 80 seniman mural terbaik dari seluruh Indonesia.

BACA JUGA: 

Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan Proyek UNDP di KLU Diresmikan Bupati

Pemprov NTB melalui Kepala Dinas Kominfotik NTB mengungkapkan rasa bangga dan syukur atas capaian tersebut.

Meski tim Mural NTB mendapat juara harapan 5 namun mereka sudah membuktikan bahwa nama NTB lagi-lagi mampu bersaing di tingkat Nasional.

“Alhamdulillah ini sebuah prestasi yang membanggakan. NTB lagi-lagi mampu membuktikan kita bisa bersaing di kancah Nasional,” ungkapnya

Mengangkat tema BERSAMA MENJAGA INDONESIA. Dany Arya dan Abdul Azis selain berhasil mengahrumkan nama NTB, juga berhasil mendapatkan apresiasi dari Polri sebagai penyelenggara berupa uang tunai sebesar 10 juta rupiah.

“Kami bangga dengan karya Dany, Lukisan Mural yang dibuatnya dapat mengharumkan nama Polda NTB khususnya, dan Nusa Tenggara Barat pada umumnya,” pungkas Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto S.I.K M.Si.

BACA JUGA: Strategi Mewujudkan NTB Gemilang, Ini Kata Wagub

Setelah menerima hadiah, Tim Mural NTB diminta untuk melanjutkan melukis mural di Flyover depan Mabes Polri yang dimulai dari tanggal 31 Oktober sampai dengan tanggal 2 November 2021.

“Semoga dapat menunjukkan hasil yang lebih bagus dari sebelumnya,” harap Kabid Humas Polda NTB.

diskominfotikntb




Membanggakan, NTB Peringkat Ke-9 STQ Nasional XXVI

Prestasi Provinsi NTB dalam STQ Nasional XXVI cukup membanggakan karena perjuangan berat telah menorehkan catatan penting meraih Peringkat Ke – 9

MALUKU.lombokjournal.com ~ Provinsi NTB berhasil meraih peringkat ke – 9 dari 34 Provinsi se – Indonesia yang mengikuti ajang Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional XXVI di Sofifi, Provinsi Maluku Utara.

Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah mengapresiasi seluruh peserta yang telah berjuang dan berhasil membawa harum nama NTB pada kancah nasional.

Prestasi membanggakan dilarih para Kafilah NTB di STQ Nasional di Maluku

“Luar biasa kontingen STQN kita mewakili NTB di Maluku Utara,” tutur Bang Zul pada postingan Facebooknya, Jum’at (22/10).

Senada dengan Gubernur NTB, Wakil Gubernur NTB, Dr. Sitti Rohmi Djalillah juga mengucapkan selamat kepada seluruh peserta dan mendoakan agar perjuangan seluruh peserta mendapatkan berkah dari Allah SWT.

BACA JUGA: Bunda PAUD Kecamatan dan Desa se Lombok Utara Dikukuhkan

“Alhamdulillah, selamat kepada Yuni Wulandari, Salah satu Qori’ah NTB, telah meraih juara satu pada Cabang Tilawah Golongan Dewasa di STQ Nasional Maluku Utara..InsyaAlloh berkah..,” ungkapnya.

Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Prov. NTB, Dra.Hj.Baiq Eva Nurcahyaningsih,M.Si selaku Ketua Rombongan Kafilah NTB mengucapkan terimakasih kepada Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah, Wakil Gubernur NTB, Dr. Sitti Rohmi Djalillah dan seluruh stakeholder serta masyarakat NTB yang telah mendukung dan mendoakan seluruh peserta STQ.

“Alhamdulillah, terimakasih atas semua dukungan dan do’anya, Provinsi NTB berhasil meraih peringkat ke 9,” tutur Bunda Eva.

STQ Nasional XXVI Tahun 2021, Kota Sofifi Prov. Maluku Utara yang berlangsung tanggal 16 – 25 Oktober 2021. Provinsi NTB berhasil meraih beberapa juara, di antaranya dari Cabang Tilawah Golongan Dewasa Putri, Provinsi NTB berhasil meraih Qoriah Terbaik 1 atas nama Yuni Wulandari dengan nilai 97,66.

Cabang Hifzhil Quran Golongan 5 Juz dan Tilawah diraih oleh  Hafidzah Harapan 1 atas nama Arfah Wulandari.

Cabang Hifzhil Quran Golongan 30 Juz Putra diraih oleh Hafidz Terbaik 3 atas nama L. Muh. Khairurrazzaq Al Hafizi  dengan nilai 95,50.

BACA JUGA: Bupati Djohan Terima Kunker Dirjen Kebudayaan Himar Farid

Cabang Hifzhil Quran Golongan 30 Juz Putri diraih oleh Hafidzah Harapan 3 atas nama Salwa Salsabila. Cabang Tafsir Golongan Bahasa Arab Putri diraih oleh Mufassirah Harapan 2 atas nama Annisa Maulida.

Diskominfotik




STQ Nasional di Maluku, Wulandari dan Khairurrazak Melaju

Dari 16 peserta asal Provinsi yang berangkat mengikuti STQ Nasional XXVI di kota Sofifi Maluku Utara, hanya 2 orang yang lolos melaju ke final

MALUKU.lombokjournal.com ~  Yuni Wulandari dan Lalu Muhammad Khairurrazak Al-Hafiz,  peserta STQ asal NTB, masing-masing dari cabang Tilawah Golongan Dewasa, dan Cabang Hifzil Quran Golongan 30 Juz,  melaju ke babak final.

Dua peserta NTB yang melaju ke final STQ Nasional di Maluku

Kafilah NTB yang berangkat mengikuti STQ Nasional XXVI di kota Sofifi Maluku Utara, sebanyak 16 orang. Mereka sudah berjuang menampilkan kemampuan terbaik dengan perjuangan yang luar biasa.

Peserta asal Provinsi NTB hanya menyisakan 2 orang, yang masuk final di Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional XXVI tahun 2021 di Kota Sofifi Provinsi Maluku Utara.

“Alhamdulillah terdapat dua peserta yang masuk final. babak final akan berlangsung hari ini,” jelas Kepala Biro Kesra Setda NTB, Drs. Sahnan M, Kamis (21/10/21)

BACA JUGA: Antara Marah dan Ramahnya Bu Risma

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan babak final hari bisa mengunjungi channel YouTube STQHN XXVI Malut 2021 hari ini.

Di tempat terpisah, Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah minta doa dari masyarakat NTB, agar kedua peserta yang melaju ke final itu mendapatkan hasil yang terbaik dan bisa mengharumkan nama NTB.

BACA JUGA: Keluarga Benteng Utama Pencegahan Bahaya Narkoba

“Mohon doa semua masyarakat NTB, semoga keduanya mendapatkan hasil yang terbaik,” harap gubernur di Mataram, hari Kamis.

Ikp

@diskominfotik).




Bupati Djohan Terima Kunker Dirjen Kebudayaan Hilman Farid

Bupati Djohan berharap, silaturahmi Dirjen dengan Pemda KLU dan masyarakat adat serta budayawan, ke depan akan berkelanjutan

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu SH menerima Kunjungan Kerja (Kunker) Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi RI Hilmar Farid PhD, di Pendopo Bupati Lombok Utara Gangga, Senin (18/10/21).

Kunker Dirjen disambut Bupati Lombok Utara
Dirjen Hilmar Farid

Dirjen dapat kehormatan diikatkan sapuq oleh bupati
Bupati mengikatkan sapuq

Hadir dalam pertemuan itu, para Kepala OPD, Tokoh Adat, serta beberapa budayawan Lombok Utara.

Bupati Djohan menyambut baik kunker Dirjen Kebudayaan, Hilman Farid di KLU. Diharapkan silaturahmi Dirjen dengan Pemda KLU dan masyarakat adat serta budayawan, ke depan akan berkelanjutan.

Dengan banyak suku, adat dan budaya yang berkembang di Indonesia termasuk di daerah kita serta mendapatkan pengakuan oleh negara.

“Komitmen kami di daerah terhadap adat-istiadat serta budaya diperkuat dengan Perda no 6 Tahun 2020, hal ini menunjukkan keberadaan adat istiadat tidak bisa dipisahkan dari daerah,” tutur Bupati Djhan.

BACA JUGA: Wabup Danny dan Kadis DKPPP Serap Aspirasi Petani Tegalan

Lombok Utara atau lebih dikenal dengan masyarakat Dayan Gunung memiliki ciri khas budaya tersendiri sedikit berbeda dengan daerah lainnya, dan adat budaya di daerah kita menjadi khasanah kekayaan budaya.

“Kuatnya tradisi adat masyarakat di Lombok Utara yang dipelihara oleh masyarakat adat secara utuh dan turun menurun hingga kini,” ungkapnya.

Dirjen diikatkan sapuq

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mendapatkan kehormatan dengan diikatkan sapuq (ikat kepala) sebagai tanda diterima sebagai warga masyarakat Lombok Utara atau dayan gunung ini.

“Kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama antara Pemerintah Daerah bersama masyarakat dalam upaya memajukan kebudayaan di daerah kita ini,” ungkap Hilmar.

Adat dan budaya memiliki peran penting di tengah masyarakat, terlebih di masa krisis yang kita hadapi saat ini, akibat gempa dan pandemi. Namun adat istiadat di masyarakat tetap utuh meskipun dengan banyak tantangan dari masa ke masa.

BACA JUGA: Workshop Kajian Resiko Bencana di Lombok Utara

“Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang paling tinggi di dunia, jika keduanya digabungkan maka akan menghasilkan suatu matrik yang luar biasa yaitu bio curtural,”jelasnya.

Acara dilanjutkan dengan presentasi hasil diskusi multipihak, revitalisasi dan transformasi pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah, dan strategi implementasi kemajuan kebudayaan dayan gunung.

@ng