Wagub Siti Rohmi, Ikut Bernyanyi di Pentas Musik Kebangsaan

Penampilan The datu menjadi sempurna, karena mampu mengajak Hj Siti Rohmi Djalilah untuk tampil menyanyi di atas panggung

Umi Rohmi
Wagub, Hj Siti Rohmi Djalilah tampil menyanyi

lombokjournal.com —

LOMBOK TIMUR  ;   Panggung berlatar bambu runcing, dipadu kain panjang berwarna merah putih terlihat megah. Jejeran bambu kuning yang  masih hidup beserta daunnya, dipadu logo dan foto, mengesankan suasana masalalu di masa-masa perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah.

Panggung artistik tersebut menjadi saksi tampilnya para musisi muda dalam gelaran Pentas Kebangsaan dan Pahlawan, Jumat  (26/07) 2019. Pentas kebangsaan yang berlangsung di Areal GOR Hamzanwadi berhasil menyedot ribuan penonton.

Habib Asgar misalnya. Ia datang jauh-jauh dari Terara untuk menyaksikan band kesayangannya The Datu, yang malam itu tampil.

“Saya suka The Datu. Penampilannya selalu heboh di panggung. Saya sengaja datang untuk menyaksikan penampilan mereka malam ini,” kata pria yang mengaku suka musik lokal ini.

Pentas kebangsaan ini dibuka dengan penampilan memukau TGH Soleh Sukarnawadi dan Alfian. Gesekan biola TGH Soleh diiringi kelembutan  saxophone Alfian, yang melantunkan tembang Ta’sis NWDI  serasa menyihir penonton.

Lagu Ta’sis NWDI atau lebih dikenal dengan Antiya Pancor, merupakan salah satu lagu perjuangan karya Almaghfurulahu Maulana Syaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid.

Selanjutnya sederet penampil lain, tak kalah menariknya. Band lain seperti E’ed & Friends, Tongkek, Our Class, Keroncong, dan Bale Langgak Band rata-rata tampil memukau penonton.

The Datu misalnya. Mereka tampil “memaksa” penonton untuk ikut bernyanyi. Itok sang vokalis, tampil sangat komunikatif. Para penonton terutama mereka yang berada di barisan depan, diajak untuk ikut bernyanyi dan bertepuk tangan.

Penampilan The datu menjadi sempurna, karena mampu mengajak Hj Siti Rohmi Djalilah untuk tampil menyanyi di atas panggung.

Dalam sambutannya Wagub Rohmi Jalilah tak lupa menyampaikan pesan NTB Zero Waste.

“Awas hati-hati  jangan buang sampah sembarangan,” katanya sebelum mulai bernyanyi.

Dikatakannya, generasi muda harus mengikuti keteladanan para pahlawan nasional kita,Maulana Syaikh. Mulana syaikh adalah sosok yang sangat gigih berjuang.

Anak muda harus kerja keras ndak boleh malas. Manfaatkan sisa hidup yang diberikan sebaik-baiknya. Kalau kita meneladani yang baik-baik maka hidup kita akan baik, kata Wagub NTB usai menyanyikan lagu Ya Maulana.

The Datu mengusung lagu-lagu mereka yang sudah familiar dan mampu merebut hati para fansnya seperti lagu berayen dengan dan Sasak bersahabat. Musik tongkek dipadu musik moderen dan tarian, juga tampil unik.

Begitu pula dengan band Bale Langgak dan kelompok musik keroncong, mereka menjajal panggung dengan keunikan masing-masing yang membuat para penonton bertahan dan menikmati aksi mereka hingga lagu-lagu berakhir dan ditutup oleh penampilan E’ed & Friend dengan lagu-lagu mereka seperti mase biru dan lain-lain.

Tak lupa mereka mengakhiri penampilannya dengan lagu-lagu karya Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Me




Komunitas Pegiat Film Lotim Ikuti Workshop Perfilman di Universitas Hamzanwadi

Pelatihan produksi perfilman ini disambut antusias oleh para peserta

lombokjournal.com —

LOMBOK TIMUR – ;  Ratusan peserta dari berbagai komunitas dan pegiat film lokal, Kamis (25/07) mengikuti kegiatan Workshop Perfilman, di Auditorium Universitas Hamzanwadi, Pancor, Lombok Timur.

Kegiatan tiga hari ini akan diisi pula dengan Lomba Karya Film Dokumenter, serta Nonton Bareng Film Dokumenter Pahlawan Nasional.

Hadir sebagai pemateri Ming Muslimin dan beberapa mentor yang memiliki pengalaman di bidang perfilman.

“Kegiatan ini akan berlansgung selama tiga hari, hari pertama para mentor akan menyampaikan teori dasar produksi film dokumenter,” kata Ming Muslimin.

Selanjutnya, tambah Ming, di hari kedua para peserta akan mulai mempraktekan teori, dan langsung turun lapangan untuk belajar produksi film.

“Hari berikutnya editing dan pemutaran hasil produksi para peserta. Hasil produksi ini akan dilombakan juga,” jelas Ming Muslimin.

Pelatihan produksi perfilman ini disambut antusias oleh para peserta.

Irul salah seorang peserta dari Ma’had darul Quran Wal Hadist, sangat senang dan antusias mengikuti penyampaian materi.

“Saya sangat senang mengikuti workshop ini, materinya sangat menarik dan tidak saya dapatkan di tempat lain, saya merasa beruntung bisa diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini,” kata Irul, di sela kegiatan.

Dijumpai terpisah, Kepala Taman Budaya NTB, Baiq Rahmayati M.Si menyampaikan penghargaannya kepada para peserta yang antusias mengikuti kegiatan workshop tersebut.

“Pemerintah akan terus mendorong kegiatan semacam ini. Rangkaian kegiatan workshop dan pemutaran film dokumenter ini kami harap memiliki dampak positif bagi perkembangan kreatifitas generasi muda serta menumbuhkan kesadaaran dan kecintaan terhadap jasa para pahlawan nasional,” kata Maya.

AYA (*)

 




Potensi Pelanggaran Lagu-lagu Berbahasa Sasambo Diseminarkan

Para produser diharapkan lebih berhati-hati dalam memilih bahasa yang akan dicantumkan dalam lagu

MATARAM.lombokjournal.com – KPID bersama FKIP Unram mengadakan seminar tentang “Kajian potensi pelanggaran lagu-lagu berbahasa sasambo di televisi dan radio”  di Kampus FKIP Unram Selasa, (02/07) 2019.

seminar meningkatkan kewaspadaan terhadap konten-konten yang berbahaya bagi masyarakat NTB khususnya disiarkan TV dan radio,

Ketua KPID Provinsi NTB Yusron Saudi, S.Pd.,M.Pd menerangkan seminar itu adalah amanat UU 32 tentang SSJ (Sistem Stasiun Jaringan). Salah satu ayatnya mengatur, Negara menguasai spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk penyelenggaraan penyiaran guna sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Menurut Yusron, pelanggaran-pelanggaran cenderung lebih banyak didapat pada lagu.  Masyarakat cenderung menikmati lagu namun tidak mempedulikan apa isi dari lagu tersebut.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para produser bisa lebih berhati-hati dalam memilih bahasa yang akan dicantumkan dalam lagu. KPID berkepentingan atau turut serta karena lagu-lagu tersebut disiarkan dengan melalui frekuensi yang ada.

Kegiatan-kegiatan seperti ini akan banyak dilakukan dan tentu saja akan menjadi awal untuk Sasambo tercinta dan tentu saja NTB Gemilang, sesuai tagline KPID, Siaran sehat untuk NTB Gemilang, tegasnya.

Dekan FKIP Unram Prof. Dr. H. A. Wahab Jufri, M.Sc. mengatakan kegiatan seperti ini akan menjadi awal dan tentu saja akan berlanjut.

Untuk mengkaji lagu-lagu dari Sasambo ini kita sudah menghadirkan oran-orang yang berkompeten dalam mengkaji lagu-lagu tersebut, harapnya.

Peran Media sangatlah penting di jaman ini, antara konten dengan bahasa pengantar informasi. Terkadang konten yang diberikan benar namun bahasa pengantar yang diberikan kurang tepat maka konten tersebut akan menjadi tidak benar/tidak baik.

Disinilah peran literasi diperlukan, kita bisa menyatukan makna antara konten, gambar dan bahasa.

Kaum Melinial Cinta Seni Daerah

Plt Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB I Gede Putu Aryadi, S.Sos., M.H. mewakili Gubernur menerangkan, saat ini kita dihadapkan perkembangan teknologi informasi yang pesat.

Sehingga sajian informasi sangat mudah didapatkan. Termasuk anak-anak usia belia sekali pun sudah sangat familier dengan  beragam informasi media sosial dan hiburan yang mudah diakses melalui mobile handphone dan fasilitas komunikasi lainnya.

Namun di tengah perkembangan teknologi digital yang cepat itu, menurut Aryadi media televisi dan radio masih menjadi salah satu media komunikasi dan informasi yang efektif. Radio dan TV banyak menyajikan hiburan dan entertaiment lainnya.

Menurutnya, satu hal yang patut disyukuri,  saat ini telah muncul kecintaan kaum melinial terhadap seni budaya daerah, termasuk lagu-lagu daerah (Sasambo).

Terbukti dengan makin banyaknya lagu-lagu sasambo yang digandrungi dan disiarkan di radio maupun TV lokal.

Ditengah semangat berkreativitas seni itu, kata Gde sapaan akrabnya, tentu terkadang muncul ekspresi atau kata-kata dan ungkapan dalam lagu dan seni  tersebut yang kurang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal, budaya dan agama.

Disinilah peran KPID yang bertugas nengawasi kontens penyiaran untuk mengingatkan lembaga penyiaran publik agar tidak menyiarkan kontens-kontens yang mengandung muatan dan potensi merusak karakter bangsa, tegas Aryadi

Tugas ini tentu tidak mudah, karena tiap daerah memiliki nilai kearifan lokal yang relatif berbeda, Misalnya pada masyarakat Mbojo, sebagai wujud penghormatan kepada orang tua atau orang yang dituakan, seringkali mengganti namanya.

Sebut saja misalnya nama Muhamad, akan lebih sopan di panggil memo. Namun sebaliknya bagi masyarakat di tempat lain, hal semacam itu malah dianggap tidak sopan.

Disinilah pentingnya peran para tokoh budayawan, akademi dan para cerdik pandai memberi kajian akademis dan masukan agar kontens-kontens yang disiarkan tidak menimbulkan konflik. Atau kesalahpahaman ditengah kehidupan masyakat budaya sasambo yang hiterogen, pungkas mantan Irbansus ini.

AYA




Lukisan Dari Barang Bekas Warga Biinaan Lapas Mataram

Gubernur hargai lukisan itu dan membelinya seharga Rp5 juta

Lukisan dari barang bekas

MATARAM.lombokjournal.com —  Gubernur Zulkieflimansyah berdecak kagum, menyaksikan lukisan yang dibuat dari baran-barang bekkas, karya Jhony Mardiansyah, salah seorang warga binaan Lapas Kelas II a Mataram.

Itu terjadi saat Gubernur dan Wakil Gubernur mengunjungi Lapas Mataram dalam acara ‘Jumpa Bang Zul dan UMMI Rohmi’ di lapas,Jum’at (05/04).

Pemuda bernama  Jhony Mardiansyah di lapas Kelas IIa Mataram ini, saat Jumpa Bang Zul Ummi Rohmi menghadiahi Gubernur dan istri sebuah lukisan indah. Lukisan hasil karya Jhony ini.

Lukisan itu mampu membuat Gubernur dan istri merasa kagum. Sebab, selain indah, lukisan ini dibuat dari barang-barang bekas.

Akhirnya, karya Jhony ini dibayar Gubernur Doktor Zul dengan harga 5 juta rupiah. Ini sebagai bentuk penghargaan atas karya yang tidak kalah hebatnya dengan lukisan-lukisan yang dipamerkan di tingkat nasional maupun internasional.

Tnetu saja pujian itu sangat membhagiakan JhOny

“Jangan lupa ajari teman-temanya yang lain,” pesan Gubernur Zul.

Selain karya Jhony, Gubernur dan Wakil Gubernur juga menyumbang dua meja tenis, alat masak dan tata boga bagi warga lapas.

Rr/Hms NTB




Caleg Gerindra Apresiasi Nobar Wayang Kulit, Puji HBK Bangkitkan Seni Tradisi Sasak

Sebagai bentuk kepedulian HBK dalam melakukan revitalisasi nilai nilai budaya lokal agar tidak tergerus oleh kemajuan jaman

lombokjournal.com  —

LOMBOK BARAT  ;   Menjelang gelaran Nonton Bareng Wayang Kulit Lalu Nasib di Dasan Tapen , Sabtu Malam (02/03) pukul 22.00 WITA, sejumlah Caleg Partai Gerindra memberikan Apresiasi.

Acara Nobar yg digagas HBK sebagai upaya melestarikan dan membangkitkan  kesenian tradisional suku Sasak  di tengah kemajuan teknologi .

Tunik Haryani , Caleg dapil 4 ( Narmada – Lingsar ) No urut 1 mengatakan, dirinya senang bisa menghadiri acara Nonton Bareng Wayang Kulit sebagai wahana untuk silaturahmi dan membangkitkan kembali kesenian tradisional khas Sasak yANg telah eksis di masyarakat .

“Apa yang dilakukan oleh HBK sebagai wujud kecintaan beliau dalam melestarikan seni tradisional sekaligus sebagai upaya memberikan hiburan kepada warga Lombok barat yang sebelumnya terkena bencana gempa bumi ,” katanya .

Sementara Haji Fathurohman , caleg dapil 5 ( Kediri – Labuapi ) No urut 4 mengatakan, dirinya sengaja menghadiri acara nonton bareng wayang kulit sebagai bentuk dukungannya terhadap HBK.

” Apa yang dilakukan Pak HBK malam ini sebagai hal positif untuk melestarikan kesenian wayang Sasak,” ungkapnya .

Terpisah Hajjah Nur Hidayah , Caleg dapil 3 ( Gunung Sari – Batu Layar ) No Urut 1 melihat acara nobar ini sebagai bentuk kepedulian HBK dalam melakukan revitalisasi nilai nilai budaya lokal agar tidak tergerus oleh kemajuan jaman.

“Dengan acara Nonton Bareng ini makin mendekatkan Gerindra di masyarakat karena ada interaksi langsung antara pengurus/ kader dengan konstituennya yang dikemas dalam bentuk seni hiburan  Wayang khas Sasak ,” ungkap Nur Hidayah yang juga Sekretaris DPC Partai Gerindra Lombok Barat.

Dilain pihak, Farin, caleg DPRD NTB dapil Lobar KLU No urut 4 yang ketempatan tuan rumah Nonton Bareng Wayang menginformasikan, dirinya melalui relawan Semeton Farin telah mengundang relawannya di 10 kecamatan di Lombok Barat agar memeriahkan acara Nonton Bareng ini .

“Dan yang terpenting adalah mendengarkan orasi HBK dalam membangkitkan spirit kemenangan buat Gerindra pada tanggal 17 April 2019 mendatang,” ungkapnya.

Me




Gebyar Seni di Lobar, Tahun Depan Mengundang  Kabupaten/Kota Se NTB

seni budaya merupakan salah satu metode mendidik karakter bangsa

Bupati Fauzan Khalid (kanan)

LOMBOK BARAT.lombokjournal.com — Penampilan puluhan pelajar dari 10 sekolah se-Lombok Barat (Lobar) sukses menghibur para tamu dan undangan yang memadati Gedung Budaya Narmada, Jum’at (16/11) malam.

Para siswa SD dan SMP tersebut menampilkan berbagai atraksi seperti seni tari,  pantomim, musik kreatif dan ansambel gitar pada Gebyar Seni Pelajar 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lobar.

Bupati Lobar H. Fauzan Khalid yang hadir dalam kesempatan itu berharap kegiatan seni semacam ini terus digalakkan dan ditingkatkan. Baginya seni budaya lokal merupakan cerminan perwujudan kenyaataan karakter masyarakat, sehingga harus terus dijaga dan dilestarikan.

Fauzan mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan dari tahun ke tahun. Dan pihakya terus berusaha meningkatkannya. Tahun 2017 acara inni dilakuka di Bencingah, dan tahun ini di Gedung Budaya Narmada.

”Dan Insya Allah, tahun depan kita bisa  mengundang kabupaten/kota di NTB untuk ikut menampilkan kebudayaan kabupaten/kotanya. Insya Allah apa yang kita lakukan ini menjadi kontribusi untuk bangsa dan negara kita,” harapnya.

Selain menampilkan kesenian dalam kegiatan ini juga dirangkai dengan pemberian penghargaan bagi siswa, guru dan sekolah yang berhasil meraih prestasi di tingkat provinsi dan nasional. Seorang Kepala Sekolah, 8 orang guru, 17 siswa, dan 13 sekolah menerima penghargaan karena berprestasi di bidang seni, sains, dan pembelajaran.

Fauzan mengapresiasi  kontribusi mereka, terutama para dalam pembangunan bangsa.

“Peran dari guru sangat luar biasa untuk pembangunan bangsa kita. Kalau gurunya semangat kemungkinan masa depan daerah kita akan cepat tercapi. Saya harap kepada guru dapat meningkatkan kapasitas masing-masing. Lombok Barat mungkin satu-satunya kabupaten selain Kota Mataram yang mewakili NTB untuk lomba seni dan tradisional,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB H.M. Suruji juga mengaku bangga dengan kegiatan ini.

Ia memberi tekanan pada seni budaya sebagai salah satu metode mendidik karakter bangsa.

“Tradisi adalah pendidikan karakter. Saya juga sudah berpesan kepada Kadis Dikbud Lombok Barat nanti video kegiatan ini bisa saya minta untuk disebarkuaskan. Karena kegiatan ini di NTB yang pertama oleh karena itu saya berharap kegiatan ini bisa menular dan bisa diikuti oleh kabupten/kota lainnya bahkan Provinsi,” ujarnya sambil meminta agar tahun depan acara ini bisa melibatkan para siswa tingkat SMA.

Ibu Cesilia yang ikut melatih anak-anak tersebut menyatakan punya kebanggaan terlibat di acara tersebut. Wanita yang bekerja sebagai staf pada bidang kebudayaan di Dinas Dikbud Lobar ini menganggap melatih seni bagi anak-anak memiliki tantangan tersendiri.

“Anak-anak sangat antusias. Memang sedikit susah mengarahkan karena anak-anak ini baru pertama mengikuti kegiatan ini. Tapi mereka sangat bersemangat dan hasil dari latihan selama dua minggu bisa kita saksikan malam ini,” ungkapnya bangga.

Harry




Lomba Marching Band dan Gendang Beleq, Mengasah Bakat Siswa

Lomba Gendang Beleq, Marching Band dan Drum Band antar pelajar tingkat SMA/SMK/MA, SMP/MTs dan SD/MI Tahun 2017, dijadikan medium pembinaan mengasah bakat dan minat pelajar dalam berseni-budaya.

Sekda NTB, H Rosiady Sayuti saat pembukaan lomba

MATARAM.lombokjournal.com — Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB, Ir. H. Rosiady Sayuti, Ph.D  membuka Lomba Gendang Bele’, Marching Band dan Drum Band Tingkat SMA/SMK/MA, SLTP/MTs dan SD/MI di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB, Kamis (24/08).

Lomba yang digelar itu bertujuan menumbuhsuburkan  semangat cinta tanah air dan membentuk generasi muda yang berkepribadian luhur dan berkarakter budaya.

Sekda menegaskan, berkompetisi tidak hanya untuk mencari juara. Namun, kompetisi  juga harus dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan bakat yang ada.

“Melalui kompetesi, seluruh bakat yang dimiliki seseorang, khususnya pelajar harus senantiasa diasah. Terlebih bakat yang dimiliki tersebut selalu mendapat pembinaan, baik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal,” katanya.

Sekda yang akrab disapa Pak Ros itu lebih lanjut mengatakan, bahwa lomba sangat perlu untuk melihat apakah kita sudah hebat atau masih jalan di tempat.

“Inilah tempat untuk mengetahui apakah kemampuan kita sudah memiliki kemajuan atau tidak,” tegas Sekda di hadapan ratusan peserta lomba yang hadir. Diharapkannya kemampuan yang dimiliki pelajar tersebut dapat berkembang terus sehingga dapat bersaing di tingkat nasional.

Sekda juga menjelaskan Gendang Beleq yang menjadi alat musik kebanggaan suku sasak tersebut merupakan warisan budaya yang harus tetap terjaga. Salah satu cara untuk menjaganya adalah dengan mewariskan kemampuan bermain Gendang Bele’ kepada pelajar.

“Ini adalah aset kita yang dapat menjadi salah satu daya tarik wisata kita,” pungkas Sekda.

Ketua Panitia Penyelenggara, Athar, SH. Melaporkan, penyelenggaraan lomba tersebut agar pembinaan kesenian Gendang Bele’ dan Marching Band dapat terlakasana secara terarah dan berkesinambungan.

Lomba itu digagas Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTB, melibatkan sekitar 40 group Gendang Bele’ dan Marching Band dari berbagai tingkatan pendidikan. Waktu efektif lomba itu berlangsung delapan hari. Namun, jadwal display dan penilaiannya akan berangsung empat bulan, yaitu Agustus sampai September 2017.

AYA/Hms

 




Kesenian Dipercaya Bisa Cegah Terorisme dan Paham Radikalisme

Karya seni bisa menyampaikan pesan-pesan penuh makna, sebagai sarana cegah terorisme dan berkembangnya pahan radikalisme

MATARAM.lombokjournal.com — Kesenian memiliki nilai kuat sebagai sarana sosialisasi pencegahan terorisme dan berkembangnya paham radikalisme.  Dengan melibatkan seniman dapat disampaikan pesan-pesan untuk mitigasi tindakan terorisme dan berkembangnya radikaslisme di masyarakat.

Wakil Gubernur NTB. H. Muh. Amin, SH., M.Si menegaskan itu saat membuka dialog pelibatan komunitas seni budaya dalam pencegahan terorisme dengan tema “Sastra cinta damai, cegah faham radikalisme”, di Hotel Grand Legi Mataram, Kamis, (3/8).

Hadir saat itu, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Dr. Hj. Andi Intang Dulung, tokoh agama, tokoh adat, para budayawan dan mahasiswa.

Di depan ratusan peserta tokoh agama, tokoh adat, budayawan dan mahasiswa, wagub menegaskan pentingnya kerjasama berkesinambungan semua pihak, melalui program-program strategis mencegah terorisme dan radikalisme.

“Kita jadikan perbedaan itu sebagai kekuatan untuk membangun negara dan daerah menjadi lebih maju dan kuat, bukan sebaliknya sebagai sumber perpecahan,”  ajak Wagub sambil mengingatkan  pentingnya mewaspadai adanya sel-sel tidur teroris yang siap bangun.

Pemerintah dan DPR diharapkan segera bersinergi membuat regulasi sebagai payung hukum meminimalisir atau men-zero-kan tindakan terorisme.

Sebelumnya, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Dr. Hj. Andi Intang Dulung menyampaikan, pelibatan komunitas seni budaya dalam pencegahan terorisme merupakan kegiatan sangat strategis dan perlu terus dilakukan.

Pendekatan seni budaya, akan menjadi strategi efektif mengeleminir masuknya faham radikalisme  di kalangan generasi muda. “Melibatkan mereka secara langsung, dan kesenian disenangi oleh banyak pihak,” katanya.

Mitigasi harus mulai dari generasi muda, karena mereka paling aktif berinteraksi dengan media sosial. Generasi muda paling rentan terpapar persoalan radikalisme.

Diharapkan peran tokoh agama dan tokoh adat mencegah tindakan terorisme dan faham radikal. “NTB sebagai daerah yang paling terkenal dengan kepatuhan masyarakatnya terhadap tokoh agama dan kearifan lokal yang ada,” kata Hj. Andi Intang Dulung.

AYA

 




Bersama Penulis “Novel Ayat-ayat Cinta”, TGB Jelaskan Perintah Al Qur’an Pentingnya Membaca dan Menulis

Tradisi membaca dan menulis merupakan tradisi penting untuk membangun peradaban. Perintah Al Qur’an sudah jelas tentang kewajiban membaca dan menulis

 

Dialog dalam acara “Meet and Great”, TGB bersama penulis novel “Ayat-ayat Cinnta” Habiburrahman El-Shirazy, di Ballroom Islamic Center di Mataram, Minggu (11/06).

MATARAM.lombokjournal.com — Banyak ulama dan penulis hebat di dunia berhasil membangun peradaban lewat membaca dan menulis. Itu ditegaskan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengungkapkan. pada acara  “Meet and Great” bersama penulis novel “Ayat=ayat Cinta” Habiburrahman El-Shirazy, di Ballroom Islamic Center di Mataram, Minggu (11/06).

Gubernur menjelaskan, perintah membaca dan menulis tersebut, tertera sangat jelas dalam Al-Qur’an. “Maknanya telah memberikan banyak inspirasi bagi umat manusia,” tutur TGB

Alquran itu dua diantaranya bersinggungan langsung dengan proses intelektualitas  kemanusiaan. Proses pembudayaan manusia adalah menulis dan membaca. Dengan demikian, manusia bisa melihat secara simbolik Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam kitab  suci-Nya.

“Inilah yang mendorong kita dan  memotivasi kita setinggi tingginya untuk terus-menerus menulis dan membaca,” tegas gubernur di hadapan ratusan peserta yang hadir.

Dijelaskannya, jadi proses membaca dan menulis ini, diinisiasi atau dimulai bukan oleh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rasul terakhir. Tetapi perintah langsung Allah. Tidak ada alasan bagi umat Islam malas menulis atau membaca.

Upaya meningkatkan minat membaca dan menulis anak-anak NTB, yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB adalah memfasilitasi mereka mendapatkan wawasan yang luas melalui membaca. Di antaranya dengan menambah dan melengkapi sarana sarana perpustakaan  di seluruh Nusa Tenggara Barat,.

“Kalau dulu perpustakaan  hanya ada di ibukota provinsi atau kabupaten/ kota saja, tetapi sekarang ini perpustakaan yang cukup bagus sudah dibangun di rumah rumah ibadah di seluruh pelosok desa di NTB,” ujarnya.

Lebih dari itu, Pemprov NTB memberikan insentif dalam bentuk program-program khusus kepada para penulis putra daerah yang menulis segala hal tentang NTB.

Di tempat sama, penulis novel “Ayat-ayat Cinta” Habiburrahman El-Shirazy memberi tips bagi yang ingin menggeluti dunia penulisan. Berdasarkan pengalamannya menulis Novel Ayat-Ayat Cinta, k menjadi penulis produktif harus dimulai dengan cinta dan menulis. Layaknya hobi-hobi lain, seperti pramuka dan traveling.

Penulis harus mempunyai target saat ingin melahirkan sebuah karya.  Dengan target tersebut, penulis dapat mengatur waktu dan menyesuaikan dengan agenda-agenda lain.

“Penulis juga perlu melakukan riset,” ungkapnya. Sering bergaul dan bertemu dengan penulis-penulis hebat merupakan salah satu kunci menjadi penulis produktif

Acara “Meet and Great” diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Pesona Khazanah Ramadhan 1438 Hijriyah di Bumi Seribu Masjid Provinsi Nusa Tenggara Barat.

AYA




Bob Dylan, Akhirnya Datang ke Stockholm Terima Nobel Sastra

Penyanyi gaek asal Amerika yang disebut “sopan” tapi “sombong” itu akhirnya datang ke Stockholm, menerima medali emas dan sertifikat Nobel dalam upacara yang dihadiri 12 anggota Akademi Swedia.

Lombokjournal.com Minggu, 2 April 2017 16.13 WIB

Bob Dylan muda

Berbulan-bulan pasca Akademi Swedia mengumumkan Bob Dylan, 75, sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra 2016, muncul ketidakpastian dan kontroversi. Akhirnya penyanyi gaek yang lirik-lirik lagunya penuh renungan dan bernada protes itu datang ke Stockholm, Swedia.

Dylan menerima Penghargaan Nobel 2016 di bidang sastra di sebuah upacara dibubuhi sampanye dalam suasana penuh canda, hari Sabtu (01/04) waktu setempat. Medali Nobel diserahkan kepada Dylan yang disebut sebuah “upacara pribadi di Stockholm” yang dihadiri 12 anggota akademi. Peristiwa itu diposting Sara Danius, sekretaris tetap akademi dalam sebuah blog.  Upacara dengan sampanye itu berlangsung dalam semangat tinggi.

Pemberian penghargaan itu berlangsung di lokasi rahasia sebelum konser pertama Dylan di Stockholm, rangkaian perjalanan tour pertamanya di Eropa yang direncanakan untuk album terbarunya. Konser kedua jatuh pada Minggu.

Dylan mendapat kehormatan “karena telah menciptakan kenaruan ekspresi puitis (melalui lirik-lirik lagunya) dalam tradisi lagu Amerika,” kata komite Nobel ketika penghargaan itu diumumkan Oktober lalu.

Namun, bahkan Dylan sendiri “meragukan” kemenangannya meraih Nobel. Ia berdiam diri berminggu-minggu setelah diumumkan sebagai pemenang, dan ia saat ditanya mengapa tidak menanggapi panggilan Academy, ia bereaksi apa adanya, “Yah, aku ada di sini,” katanya pada wartawan.

Reaksi misteriusnya memicu anggota Academy Per Wastberg menyebutnya sebagai orang yang “sopan” tapi “sombong”.

Mungkin saja Dylan memang merasa tak layak memenangkan Nobel di bidang Sastra.

“Aku sama sekali tidak pernah punya waktu untuk bertanya pada diri sendiri, apa lagu-lagu saya bernilai sastra ?’” kata Dylan dalam pidato ucapan terima kasih yang dibacakan Duta Besar AS untuk Swedia dalam upacara Nobel, bulan Desember di Stockholm.

Dia tak menghadiri acara tersebut, karena sedang terikat komitmen yang tak mungkin ditingglkan. Tapi Dylan belakangan minta maaf tak menghadiri perayaan itu. Sebab ia mengaku terkejut memperoleh kehormatan yang sama kepada tokoh besar sastra yang dikaguminya, seperti Ernest Hemingway dan Albert Camus.

“Jika ada yang pernah memberitahu saya, bahwa saya berkesempatan sedikit saja memenangkan Hadiah Nobel, saya harus berpikir sama tentang peluang seperti berdiri di bulan,” tambahnya.

Akademi Swedia mengakhiri spekulasi berkepanjangan mengenai kemenangan Nobel penyanyi 75 tahun itu. Dan menggunakan kesempatan persinggahan konser di Stockholm untuk memberikan medali emas dan sertifikat kepada Dylan.

Pihak Akademi Swedia menegaskan, tak sedikit waktu dihabiskan guna mencermati peraih medali emas Nobel, dengan gambar pria muda duduk di bawah pohon salam yang mendengarkan The Muse, yang diambil dari Aetneid-nya Virgil. Tertulis prasasti: ‘Inventas vitam iuvat excoluisse per artes.’ Tterjemahan bebasnya ‘Dan mereka menjadikan kehidupan di bumi  ini lebih layak dengan karya cipta yang baru ditemukannya.’

Bob Dylan muda

Bob Dylan merupakan musisi dan penulis lagu pertama yang menerima penghargaan bergengsi itu. Dylan disejajarkan dengan paraih nobel sastra sebelumnya termasuk Thomas Mann, Samuel Beckett, Gabriel Garcia Marquez dan Doris Lessing.

Dylan belum memberikan ‘ceramah’ sebagai bagian tradisi bagi penerima Nobel – salah satu persyaratan menerima delapan juta kronor (837.000 euro, $ 891.000) yang diberikan bersama penghargaan.

Ia punya waktu hingga 10 Juni mendatang untuk memberikan ceramahnya, bisa dalam bentuk  apapun dari pidato singkat prestasinya, melalui video atau sebuah lagu. Kalau itu tak berlangsung, ia akan kehilangan hadiah uang. “Akademy memiliki alasan untuk percaya, versi yang direkam akan dikirim di lain waktu,” kata Danius.

Beberapa anggota Academy, termasuk Danius, hadir di konser Dylan, yang mengenakan topi putih, bergaya Barat blazer hitam dan sepatu bot koboi, menampilkan Love Sick dan Full Moon dan Empty Arms, bagian dari playlist hit yang ditulisnya sendiri

Penampilannya mendapat sambutan meriah, penonton berulang kali menghormatinya dengan tepuk tangan berdiri (standing ovations), terutama saat ia bermain harmonika. Namun dalam penampilan itu, Dylan tidak mengatakan apapun tentang penghargaan Nobel.

Lars Sjoblom, 65 tahun teknisi suara dan cahaya, mengaku tumbuh dengan musik Dylan tetapi “sangat terkejut” bahwa Dylan tidak mengatakan apapun tentang Nobel. “Saya datang ke sini untuk mendengarkan apa yang dia katakan tentang Yayasan Nobel dan kepada orang-orang Swedia,” kata Sjoblom. “Saya pikir dia bisa menunjukkan rasa hormat bagi Swedia untuk mengatakan ‘terima kasih’.”

Roman Emsyair

(Sumber : The Guardian)