CHATASTROPE : Menengok Ulang Penyebab Ketertekanan Komunal yang Dihadapi Manusia

Lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd

MATARAM.lombokjournal.com —

TETAR LHO INDONESIA mementaskan pertunjukan ‘Chatastrope’ karya pengarang Irlandia, Samuel Beckett, dengan sutradaranya R. Eko Wahono, Jumat (24/07/20).

Pertunjukan yang dihadiri tidak banyak penonton karena aturan protokol kesehatan Covid-19 tersebut, menjadi pertunjukan ke-dua yang diselenggarakan Taman Budaya NTB pasca mewabahnya Covid-19.

Sebelumnya Taman Budaya NTB menghelat pertunjukan berjudul Sandiwara Merah Jambu dari kelompok Teater Kamar Indonesia, Minggu, (26/07/20).

Chatastrope merupakan naskah pendek Becket, bercerita tentang sebuah kelompok teater yang tengah melangsungkan latihan terakhir jelang pertunjukan.

Dimainkan oleh empat aktor: Sutradara (Achdiyat Kurniawan), Asisten Sutradara (Gilang Pratama) Aktor Utama (Ahmad Doom Rosyidi) dan Penata Lampu (Zulhadi), Chatastrope oleh Teater Lho Indonesia sebagaimana pengantar sutradaranya R. Eko Wahono, diniatkan sebagai refleksi dan representasi ketertekanan komunal masyarakat NTB dan dunia karena pandemi virus Covid-19 yang tengah mewabah.

Properti yang minim: hanya kursi, trap dan satu gantungan tempat costum, mampu membuat panggung hidup. Hal itu semakin terasa manakala tokoh sutradara dan asistennya terus berdialog tentang bagaimana seharusnya aktor berlaku di atas panggung.

Adegan demi adegan yang memperlihatkan bagaimana sosok sutradara begitu kuasa (diktator), terhadap asisten dan aktornya menjadi perlambang bagaimana kuasa-bisa berbentuk apa saja termasuk virus Covid-19, membuat seseorang mampu melakukan apa pun yang menjadi kehendaknya.

Dalam sesi diskusi seusai pertunjukan, banyak catatan menarik yang dilontarkan oleh beberapa penonton. Dalam hal ini diwakili beberapa teaterawan senior NTB seperti Majas Pribadi, Kongso Sukoco, Saipullah Sapturi, pun Wing Sentot Irawan.

Majas Pribadi dalam paparannya selain menyinggung sekilas tentang absurditas dari sisi teori, secara samar juga menyatakan bagaimana sutradara, R. Eko Wahono terkesan memaksakan para aktornya untuk memainkan naskah yang sebetulnya belum mampu mereka pahami.

Ada tahapan proses secara organis yang harus dilalui seorang aktor untuk sampai pada pemahaman tentang teater absurd. Proses organis tersebut dinilainya penting guna menghindari pemahaman instan yang saat ini gampang diperoleh seseorang melalui “artifisial intelegensia”.

Kesimpulan pemahaman aktor yang belum sampai pada tatanan organis itu, dijelaskan Majas dengan menyampaikan bagaimana ketegangan nuansa pertunjukan yang ingin diwakili tokoh aktor (diperankan Ahmad Dhoom Rosyidi) tidak diimbangi dua tokoh lain (sutradara dan asisten sutradara).

“Saya melihat, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang. Jadi dalam seni rupa, sebelum bicata surealis ngomong realis dulu. Kenyataan kita berada dalam kehidupan  asrtificial intelegensia, bahwa orang bisa belajar darimana saja, tapi tahapan-tahapan pematangan itu memang tidak bisa menjadi sangat instan. Saya nggak percaya. Saya melihat secara visual lumayan, ending bagus. Saya belum melihat bahwa Dhoom itu berdiri aja itu sudah bagus, dia gigil, dia nggak ngomong, tapi tidak diimbangi oleh dua pemeran yang lain,” paparnya.

Hal lain yang disampaikan Majas adalah tentang bagaimana semestinya pertunjukan tidak perlu terlalu dijelas-jelaskan. Penonton memiliki hak untuk menilai sendiri maksud pertunjukan sesuai kadar pemahamannya.

Hal itu penting dilakukan agar ketegangan yang dialami penonton murni ketegangan yang ditransfer oleh nuansa pertunjukan, bukan ketegangan personal penggarap pertunjukan. Transfer ketegangan nuansa pertunjukan kepada penonton akan sampai ketika pemerannya memiliki pemahaman yang cukup mengenai teater absurd.

“Bahwa pertunjukan ini tidak perlu dijelas-jelaskan. Bahwa dialog di pertunjukan ini tidak terlalu penting dalam pikiran-pikiran Samuel Becket. Tapi dijelaskan oleh bloking, moving itu ya, seluruh elemen yang ada di dalam. Saya melihat bahwa, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang,” terangnya.

Sementara Majas lebih menitik beratkan pada bagaimana pentingnya menilai kesiapan semua perangkat pertunjukan sebelum memilih naskah atau genre pertunjukan, Kongso Sukoco dalam memulai diskusinya berangkat dari pernyataan bahwa naskah-naskah Becket selalu berangkat dari realitas sosial.

Dari pernyataan tersebut, ia kemudian mengajukanpertanyaan apakah Sutradara R. Eko Wahono dalam menafsirkan naskah Chatasrtrope atau dalam bahasanya Kongso disebut malapetaka itu berangkat dari ketegangan psikologi manusia menghadapi pandemi Covid-19 yang dialami dunia saat ini?

Atau malapetaka itu muncul oleh sikap diktator para penguasa? Pertanyaan tersebut dilontarkan Kongso karena melihat malapetaka yang ditampilkan di dalam pertunjukan digambarkan dalam citra kediktatoran sutradara terhadap aktornya sementara dalam pengantar diskusi oleh sutradara R. Eko Wahono, diktatornya sutradara memiliki asosiasi dengan Covid-19.

“Becket selalu mengasosiasikan teaternya itu dengan situasi sosial. Saya tidak tahu apakah pementasan malapetaka ini yang seperti pengantar sutradara tadi juga berbicara situasi terakhir, situasi pandemi Covid-19? Yang kita itu jadi bodoh, kita ditakut-takuti, itu saya pikir bisa diasosiasikan dengan situasi sosial saat ini. Saya tidak tahu apakah Mas Eko Wahono tadi menafsirkan Chatasrope?” tanyanya.

Tidak begitu berbeda dengan Majas Pribadi dan Kongso Sukoco, pernyataan dua penanya lain dalam hal ini Saepullah Sapturi dan Wing Sentot Irawan juga menyatakan bagaimana absurditas belum sampai pada pemahaman para pemerannya di atas panggung. Sentot bahkan memberikan nasehat kepada R. Eko Wahono agar sebaiknya menjadi penulis ketimbang menyutradarai pertunjukan.

“Saya selalu bilang ke Eko, sebaiknya menulis saja,” katanya.

Sementara itu, R. Eko Wahono selaku sutradara menyampaikan jika pada dasarnya setuju dengan beberapa pernyataan yang dilontarkan. Akan tetapi, dalam praktik penyutradaraannya, Eko cenderung tidak tertarik dengan genre naskah. Sebab ia menganggap bahwa semua genre naskah pada dasarnya bisa disebut realis.

“Saya membaca naskah segelap Waiting for Godot saja, saya membaca dialog-dialognya sangat realis. Jadi sebenarnya yang absurd itu ya, cara berpikirnya saja,” ungkapnya.

Di luar itu, Eko pun mengapresiasi semua yang hadir pada pertunjukan tersebut. Hal yang menurut Eko membuatnya bahagia. Sebab momen pertunjukan bagi para pelaku teater tak ubahnya seperti momen lebaran di mana para pelaku teater bisa bertemu, berkumpul dan bertukar gagasan.

Untuk diketahui lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd.

Absurdisme sendiri adalah jenis teater yang dengan sengaja melanggar atau meninggalkan konvensi alur, penokohan, dan tema-tema yang umum dijumpai di dalam naskah teater beraliran realis.

Meskipun secara sekilas naskah absurd menunjukkan ketidaksingkronan antar adegan, jika dinikmati lebih dalam maka penonton yang awam pun bisa menemukan benang merah yang menghubungkan adegan per adegan di dalam naskah.

Asta




SANDIWARA MERAH JAMBU, Pertunjukan Teater Perdana di NTB Sejak Pandemi Covid-19

Teater Kamar Indonesia mementaskan pertunjukan teater dengan judul Sandiwara Merah Jambu karya sastrawan NTB Imtihan Taufan dengan sutradara Kongso Sukoco, hari Senin (06/07/20) lalu

MATARAM.lombokjournal.com

Pertunjukan Sandiwara Merah Jambu menjadi pertunjukan teater pertama di Provinsi NTB setelah wabah virus Corona (Covid-19).

Pertunjukan yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit itu berlangsung di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB. Pertunjukan yang dibuka Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Manan itu dihadiri penonton terbatas sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Menyiasati terbatasnya penonton yang hadir, pihak Taman Budaya dan pimpinan produksi Teater Kamar Indonesia, Nanik I. Taufan mencoba memanjakan penggemar yang tak bisa menonton secara langsung dengan menyiarkan pertunjukan Sandiwara Merah Jambu melalui tayangan langsung menggunakan media sosial.

Pada sambutannya, Lalu Manan menyampaikan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada Teater Kamar Indonsesia yang tetap ngotot melangsungkan pertunjukan meski di tengah pandemi atau wabah virus Corona. Hanya penonton yang jumlahnya terbatas yang menonton secara langsung.

Selain mendukung proses kreatif Teater Kamar Indonesia, Lalu Manan pada kesempatan tersebut juga menyampaikan perihal protokol kesehatan Covid-19 yang telah disiapkan pihak Taman Budaya untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan pertunjukan.

Sandiwara Merah Jambu merupakan pertunjukan yang digarap mandiri oleh Teater Kamar Indonesia untuk tetap menjaga semangat proses kreatif teater tetap maksimal. Maksimal yang dimaksud tidak hanya pada ranah artistik berupa pengemasan pertunjukan oleh sutradara dan aktor, tapi juga maksimal mempersiapkan pra produksi, produksi dan pasca produksi.

Persiapan pertunjukan Sandiwara Merah Jambu sendiri dimulai sejak bulan September 2019 tahun lalu. Kalau merunut tanggal dimulainya proses penggarapan sampai pertunjukan yang berlangsung 6 Juni kemarin, prosesnya telah memakan waktu 10 bulan.

Sebelum pertunjukan 6 Juli kemarin, pada bulan Maret yang lalu, Teater Kamar Indonesia membawa pertunjukan Sandiwara Merah Jambu menyeberang ke negeri jiran Malaysia untuk pertunjukan di dua titik lokasi.

Lokasi pertama di Petaling Jaya negeri Selangor dan yang ke dua, di  Gedung Pertunjukan Fakultas Seni Musik dan Seni Persembahan Universitas Pendidikan Sultan Idris Negeri Perak, Malaysia.

Namun karena kedatangan pandemi Corona yang di Malaysia, pihak kampus Universitas Pendidikan Sultan Idris mengambil kebijakan pembatalan semua kegiatan yang mengumpulkan masa dalam jumlah besar, termasuk pembatalan pertunjukan teater.

Karena itu, Teater Kamar Indonesia hanya bisa mementaskan pertunjukan Sandiwara Merah Jambu di satu lokasi yakni di Petaling Jaya, Selangor.

Sementara untuk pertunjukan di Taman Budaya seyogyanya dilaksanakan pada bulan April sepulang dari pertunjukan di Malaysia.

Tapi kebijaksanaan pemerintah Indonesia yang sama dengan pemerintah Malaysia yang melarang kerumunan masa dalam jumlah banyak, guna menghindarkan masyarakatnya terpapar virus Corona. Akhirnya, pertunjukan diundur sampai waktu yang tidak bisa ditetapkan.

Teater Kamar Indonesia

Baru hari Senin tanggal hari, 6 Juli  pertunjukan bisa dilangsungkan.

Salah satu yang menarik dari pertunjukan Sandiwara Merah Jambu hari Senin (06/07/2020) adalah respon penonton saat diskusi di akhir pertunjukan.

Salah seorang penonton yang juga seniman teater senior NTB. Majas Pribadi menyampaikan, apresiasi pada pertunjukan teater tak hanya selesai pada ranah menikmati suguhan pertunjukan, tetapi juga meliputi apresiasi pada ranah kritik pertunjukan.

Menurut Majas, pertunjukan yang bagus harus juga memantik penonton agar bertanya.

Dalam penyampaiannya, Majas menyebutkan dirinya menangkap kesan ragu-ragu dan setengah hati para pemain dalam berlakon. Hal yang juga terjadi pada suguhan musik pengiring dan penataan artistik panggung.

Menurut Majas, ada ketidaktegasan sutradara menentukan pilihan dramaturgi yang ingin dipakai sebagai pemandu menentukan warna pertunjukan.

Misanya, ditunjukkan Majas, pada keputusan memilih panggung prosenium sebagai tempat pertunjukan. Hal yang mengakibatkan para aktor menjadi tidak leluasa dalam melibatkan penonton agar ikut menjadi bagian pertunjukan.

Majas menjelaskan, pertunjukan teater seperti Sandiwara Merah Jambu harusnya menjadi perayaan bersama antara pemain dan penonton. Hal itu hanya mungkin terjadi jika pertunjukan Sandiwara Merah Jambu dilangsungkan di lapangan atau di panggung teater arena.

Karena hanya di tempat terbuka seperti tanah lapang dan di panggung teater arena lah yang paling memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara pemain dengan penonton.

“Teater hadir tidak dari ruang hampa. Ia selalu punya relasi dengan lingkungan sosial. Pertunjukan seperti ini menurut saya, idealnya memiliki relasi yang nyata dengan penonton,” ujarnya.

Meski demikian, Majas mengapresiasi, karena pertunjukan ini bisa dikritik. Kalau pertunjukan bisa dikritik maka itu artinya benar-benar sudah menjadi ‘pertunjukan’.

“Kalau pertunjukan itu tidak bisa dikritik dia belum berupa pertunjukan menurut saya. Sekali lagi selamat, anda saya kritik karena saya peduli, dan anda layak dikritik,” tambahnya.

Menjawab kritik Majas, Kongso Sukoco selaku sutradara menyatakan bahwa hadirnya penonton kritis seperti Majas Pribadi dibutuhkan oleh seni teater.

Terkait dengan pilihan pemanggungan dan keputusan memilih panggung prosenium menjadi tempat pentas yang dikritik Majas, Kongso menjawab dengan terlebih dahulu mengemukakan beberapa pemikiran tokoh teater eksperimental Erofpa seperti Jerzy Grotowsky atau kelompok Alfred Jerry Theater di mana tokoh teater eksperimental Francis Antoin Artaud menjadi bagian di dalamnya.

Kongso menjelaskan, di Eropa pada masanya Grotowsky maupun pada masanya Artaud mengalami kegelisahan mempertanyakan ulang pertunjukan teater di panggung proscenium. Menurut dua tokoh tersebut, panggung prosenium adalah simbol feodalisme dan simbol pengekangan kebebasan ekspresi seniman teater.

Berbeda dengan di EroPa pada masa dua tokoh tersebut, lanjut Kongso, teater tradisi di Indonesia justru sebaliknya, ia tidak hadir dari panggung prosenium.

Dan kegelisahan sebagaimana yang dialami tokoh-tokoh teater di Eropa tidak menghinggapi mereka.

Kongso membandingkan dua kenyataan teater tersebut untuk menyatakan, pilihan bentuk panggung pada pertunjukan teater hari ini tidaklah terlalu penting.

Dan teater seperti Sandiwara Merah Jambu yang bernuansa tradisi pun tidak perlu menghambat untuk pentas di panggung prosenium.

Selain itu, Kongso juga menegaskan, pertunjukan Sandiwara Merah Jambu yang bernuansa tradisi tidak bisa serta-merta disebut sebagai pertunjukan teater tradisi. Kendati nuansa pertunjukannya tradisional tetapi pilihan pemanggungan, sikap mental para aktor dan segenap pendukung yang terlibat berangkat dari pemahaman pemanggungan teater moderen.

“Ya itu masukan yang sangat bagus. Itu Grotowsky, itu pemainnya itu, dia tidak di prosenium, karena prosenium dianggap membuat jarak dengan penonton. Jadi panggung itu (dianggap) peninggalan lama. Zaman Yunani itu ada proseniumnya yang kemudian selama pertunjukan tidak ada komunikasi. Grotowsky menganggap panggung prosenium itu mewakili keYunanian, feodalisme yang mengintervensi diri, itu Grotowsky, atau Alfred Jerry, kelompok Avant Garde, jadi dia ingin merubah, jadi ada ideologi di situ, ada realitas sosial yang ingin dibongkar,” terangnya.

Terkait perbedaan persepsi dalam melihat panggung dan pertunjukan, Kongso menyampaikan bahwa itu hal yang wajar dan bagus untuk lebih mematangkan proses berkesenian di masa yang akan datang.

“Ini akan selalu menimbulkan diskusi, ada yang suka ada yang tidak suka, ada yang setuju ada yang tidak setuju, seperti juga ideologi sosial,” katanya.

Ast




Dekranasda Bantu Sembako Pengrajin Terdampak Covid-19

Disarankan agar pengrajin memanfaatkan waktu selama pandemi Covid yang berlangsung kurang selama hampir empat bulan ini, untuk berkarya di rumah dan meningkatkan kualitas produk kerajinan

LOTIM.ombokjournal.com — Ketua TP-PKK Provinsi NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah yang juga Ketua Dekranasda Provinsi NTB, membantu sembako kepada pengrajin yang terdampak Covid-19 di Kantor Sekretariat Dekranasda Kabupaten Lombok Timur, Rabu (08/07/20).

Saat penyerahan bantuan itu, Hj Niken didampingi Pengurus Dekranasda Provinsi dan Pengurus Dekranasda Kabupaten Lombok Timur.

Hj. Niken mensemangati parapengrajin dan pelaku UMKM agar tetap memberikan dedikasi yang terbaik.

Diserukan, agar pengrajin memanfaatkan waktu selama pandemi Covid yang berlangsung kurang selama hampir empat bulan ini, untuk berkarya di rumah dan meningkatkan kualitas produk kerajinan.

“InsyaAllah setelah selesai Covid-19 pasti akan ada kebutuhan untuk kain yang lebih bagus, apalagi yang biasa menggunakan tenun seperti ASN dan kita harus memberikan barang yang kualitasnya bagus,” jelasnya.

Hj. Niken kemudian mengajak pengrajin dan pengurus Dekranasda tetap meningkatkan kualitasnya menjadi lebih baik, lewat pelatihan kepada pengrajin untuk membuat kemasan menarik.

“Barang-barang yang dijual keliatan lebih baik, bisa menjadi peluang untuk Dekranasda Kabupaten Lombok Timur berkerja sama dengan pengrajin kemasan agar sama-sama saling membantu,” tutur Hj. Niken.

Hj. Niken berharap pengrajin yang telah melebarkan sayapnya ke kancah nasional dapat mempertahankan pelanggannya.

Wakil Ketua II Dekranasda Kabupaten Lombok Timur, Hj. Nurhidayati, S.ST, M.PH, mengucapkan terima kasih kepada Dekranasda Provinsi NTB yang membantu kepada pengrajin Kabupaten Lombok Timur.

Ia juga memberi semangat kepada pengrajin untuk tetap berkarya dan berinovasi di tengah masa pandemi dimana sangat mempengaruhi perekonomian.

“Terima kasih kepada Dekranasda Provinsi NTB yang telah memberikan semangat kepada para pengrajin dan memberikan motivasi dalam bentuk paket sembako tersebut,” jelasnya.

AYA/HmsNTB




Bunda Niken Ajak Lestarikan Warisan Seni dan Budaya

Para pegiat seni dan budaya diajak agar kompak melestarikan dan memajukan kesenian yang sudah menjadi tradisi turun temurun di masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com —  Kesenian dan kebudayaan merupakan warisan nenek moyang yang melambangkan ciri dan khas suatu daerah.

Begitu pula dengan seni dan budaya Islam yang sudah begitu melekat di masyarakat.

Namun, di era modern seperti sekarang, semakin sulit dijumpai kesenian Islam seperti Qasidah dan Marawis yang dulunya selalu tampil di tiap acara besar.

Pelestarian nilai seni dan budaya kepada generasi penerus menjadi hal yang perlu dan harus dilakukan mulai dari sekarang.

Pesan itu yang diserukan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB yang sekaligus sebagai Ketua DPW Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi) Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah saat menyapa pegiat seni dan budaya di Kota Mataram di Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatul Ummah, Jum’at(03/07/20).

Kunjungan ini dirangkaikan dengan penyerahan bantuan akibat dampak pandemi Covid-19 kepada pegiat seni dan budaya di Kota Mataram.

“Alangkah baiknya jika kita terus majukan, kita pelihara, kita bina anak-anak dan generasi penerus kita, inilah bentuk dari penyaluran rasa seni yang sejalan dengan agama dan juga budaya kita,” ajak Bunda Niken.

Bunda Niken mengaku senang dapat bersilaturahim dengan pegiat seni dan budaya Kota Mataram.

Ke depan, Ia mengajak para pegiat seni dan budaya agar kompak melestarikan dan memajukan kesenian yang sudah menjadi tradisi turun temurun di masyarakat.

“Insya Allah Lasqi di NTB akan kita majukan kembali bersama-sama,” ujarnya.

Ia  kemudian menyinggung pandemi Covid-19 yang telah menghambat berbagai aktifitas di semua aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kesenian. Ia meminta agar masyarakat tetap sabar dalam menghadapi kesulitan di masa pandemi ini.

Menurutnya, kesulitan ini harus dihadapi dengan optimisme dan juga semangat, karena wabah corona sendiri telah memberikan banyak pelajaran dalam kehidupan.

“Mudah-mudahan pandemi ini tidak menghalangi para seniman untuk tetap bisa menghasilkan karya-karya yang nantinya bisa kita nikmati bersama,” harap Bunda Niken.

Ketua DPD Lasqi Kota Mataram, Hj. Noviani Danar Kinastri Mohan Roliskana mengapresiasi bantuan yang diberikan DPW Lasqi Provinsi NTB kepada para pegiat seni dan budaya yang ada di Kota Mataram.

“Mewakili teman-teman pelaku seni, kasidah dan marawis di Kota Mataram menghaturkan terima kasih dan apresiasi kepada Lasqi Provinsi NTB yang telah memberikan bantuan kepada kami di masa pandemi ini, semoga bantuan ini bermanfaat bagi kita semua,” ucapnya.

Adanya bantuan tersebut, diharapkan dapat menjadi penyemangat di situasi pandemi Covid-19. Ia pun berharap agar pandemi Covid-19 dapat segera berlalu, sehingga berbagai aktifitas, khususnya dalam bidang kesenian dapat berjalan seperti sediakala.

AYA/HmsNTB

 




Dekranasda NTB Serahkan 125 Paket Bantuan Kepada Pengrajin di Mataram

Para pengrajin memberikan kontribusinya dalam melestarikan kesenian, sebab hasil kerajinan bukan hanya bernilai materi saja

MATARAM.lombokjourna.com — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB menyerahkan sebanyak 125 paket bantuan kepada pengrajin UKM/IKM binaan Kota Mataram, di Pendopo Walikota Mataram, Jum’at (03/07/20).

Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengatakan,  pandemi Covid-19 begitu mempengaruhi perekonomian masyarakat, termasuk para pengrajin.

Masyarakat diajak tetap bersemangat menekuni usahanya dan mampu tetap berkarya meskipun di tengah situasi pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah, kita selalu diajarkan untuk bersikap optimis, bersikap positif, karena di balik semua kesulitan pasti ada kemudahan,” tuturnya.

Bunda Niken , memuji para pengrajin yang telah memberikan kontribusinya dalam melestarikan kesenian. Baginya, hasil kerajinan bukan hanya bernilai materi saja.

“Menurut saya, semua yang kita lakukan semata-mata bukan hanya untuk bisnis, namun kita juga melestarikan warisan nilai budaya dari nenek moyang kita. NTB memiliki kesenian dan kebudayaan yang luar biasa yang tercermin dalam kerajinan-kerajinannya,” jelasnya.

Bunda Niken yang juga merupakan Ketua TP PKK Provinsi NTB tersebut mengajak para pengrajin untuk ikut berkontribusi dalam memutus rantai penyebaran Covid-19. Hal ini dapat dimulai dari lingkungan sekitar tempat tinggal.

“Bapak ibu nantinya menyampaikan kembali kepada masyarakat di sekitar kita, bahwa dengan mengikuti protokol kesehatan, jaga jarak, menggunakan masker, cuci tangan, itu adalah cara kita agar badai ini cepat berlalu,” pintanya.

Sebelumnya, Ketua Dekranasda Kota Mataram, Hj. Suryani Ahyar Abduh menyambut baik kepedulian dan perhatian Dekranasda Provinsi NTB kepada UKM/IKM binaan Kota Mataram.

“Mudah-mudahan bermanfaat bagi bapak ibu semua yang akan menerima bantuan nanti dan saya berharap kepada UKM/IKM agar ini dapat menjadi penyemangat, motivasi dan spirit untuk bapak ibu tetap bertahan dan bersemangat dalam melawan Covid-19,” kata Suryani.

AYA/HmsNTB




Kenormalan Baru, Hj Niken Minta Pengrajin dan Seniman Kasidah Siap-siap

Lasqi Kabupaten Lombok Tengah sudah kembali menggeliat, bahkan sudah mengikuti banyak kegiatan dan lomba

MATARAM.lombokjournal.com — Ketua TP-PKK Provinsi NTB,  Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah yang juga Ketua Dekranasda Provinsi NTB dan Ketua Lembaga Seni Kasidah Indonesia (Lasqi NTB), menyalurkan bantuan sembako kepada pengrajin dan seniman kasidah yang terdampak Covid-19, di Pendopo Wakil Bupati Kabupaten Lombok Tengah, Kamis (02/07/20).

Hj. Niken yang mewakili dua organisasi tersebut menyampaikan, hampir empat bulan ini memang membatasi semua gerak. Tidak hanya dari segi kesehatan tapi juga berdampak pada segi sosial dan ekonomi.

Ia terus memberikan semangat kepada para pengrajin dengan menggunakan momen ini untuk berkarya di rumah.

“Sebagai pengrajin tentu saja sudah banyak mengalami naik dan turunnya dalam usaha, ini bisa dijadikan sebagai momen mempersiapkan diri dengan karya baru, desain baru, kualitas baru yang nantinya akan kita sajikan setelah new normal ini berlaku,” jelas Hj. Niken.

Hj. Niken mengaku senang karena Lasqi Kabupaten Lombok Tengah sudah kembali menggeliat, bahkan sudah mengikuti banyak kegiatan dan lomba. Diharapkan terus melakukan kegiatan-kegiatan agar seni kasidah terus berkembang.

“Masyarakat, di sekolah-sekolah semua memiliki kasidah dan marawis. Jadi kita tentu saja melestarikan hal ini sebagai sebuah saluran atau sebuah pengetahuan seni islam yang sudah kita miliki,” tutur Hj. Niken.

Ia ingin  agar Lasqi NTB tidak hanya secara tradisional saja tetapi berani untuk mengikuti lomba kasidah kolaborasi. Hal ini guna mengeksplorasi kearifan lokal dengan memadukan kesenian musik dan tari.

“Saya pikir NTB memiliki budaya seni musik dan tari yang bermacam-macam yang bisa digabungkan dalam sebuah kolaborasi kasidah,” harap Hj. Niken.

Disampaikan, agar semua pihak dapat bersinergi dan berkarya dengan bidang masing-masing untuk memajukan dan menghasilkan karya-karya yang lebih baik.

Ketua Dekranasda Kabupaten Lombok Tengah, Hj. Baiq Irma Budiani Suhaili menyampaikan rasa terima kasih dan semangatnya karena di tengah wabah pandemi Covid-19 ini para UMKM dan pengrajin tidak hanya berdiam diri saja.

“Walaupun tidak seperti sebeumnyya usahanya berjalan, kita ambil saja hikmahnya dulu. Siapa tahu setelah corona ini akan mencuat lagi kegiatan atau tamu-tamu yang datang di Kabupaten Lombok Tengah,” ucapnya.

Ketua Lasqi Kabupaten Lombok Tengah, Baiq Aini Pathul Bahri melaporkan, semenjak adanya Covid-19, kepengurusan Lasqi Kabupaten Lombok Tengah belum berjalan.

Namun kegiatan seperti kasidah, marawis dan hadra tetap berjalan khususnya di lingkungan sekolah, baik tingkat SMP maupun tingkat SMA.

“Alhamdulillah, di semua yayasan termasuk di sekolah-sekolah umum seperti SMP dan SMA masing-masing sudah punya marawis dan hadra,” katanya.

Setelah usai memberikan sambutan, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah memberikan tanda kasih kepada pengrajin dan seniman di Kabupaten Lombok Tengah.

AYA/HmsNTB




Sekda Lepas Kontingen KLU, Ikuti MTQ XXVIII Provinsi NTB 2019

“Maka kita harus punya mental juara,  karena ketika kita tidak mempunyai mental juara maka kita akan lemah sebelum berjuang. Bahasa laimnya mati sebelum berperang”

Drs. H. Suardi, MH

TANJUNG.lombokjournal.com – Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utara (KLU) Drs. H. Suardi, MH melepas 72 kontingen KLU untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2019, di Aula Bupati Lombok Utara, Rabu (02/10) 2019.

Hadir mendampingi Sekda di antaranya Para asisten dan Kepala OPD di lingkungan Pemda KLU.

Sebelum melepas para kafilah Sekda H. Suardi mewakili Bupati Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH, mengajak seluruh kafilah bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan sehingga para kafilah dapat menghadiri acara pelepasan kontingen KLU untuk mengikuti MTQ XXVIII tingkat Provinsi NTB tahun 2019 di Kabupaten Lombok Barat.

“Visi kita dalam kehidupan ini adalah visi akhirat. Tentu kita ingin surga, maka semua kegiatan kita terutama MTQ ini bertujuan mengharapkan ridho dari Allah SWT,” pesan Sekda.

Menurut H. Suardi, menyongsong pelaksanaan MTQ XXVIII 2019, Pemda KLU telah melaksanakan seleksi di tingkat kabupaten dengan cukup selektif.

Para peserta yang berhasil menjadi jawara dari proses seleksi itulah yang menjadi kafilah untuk mewakili Lombok Utara di ajang MTQ tingkat Provinsi NTB 2019.

Ia berpesan, agar seluruh kontingen KLU mempunyai mental juara, lantaran ketika seseorang tidak punya mental tersebut sama saja dengan lemah sebelum berjuang.

Mental juara itu terlihat saat  para kafilah tetap berlatih dengan giat, tidak merasa cepat puas, dan senantiasa mengitlkuti apa yang disampaikan guru.

Pemda KLU berharap, pada MTQ Provinsi NTB tahun 2019 semua cabang mata lomba bisa dijuarai oleh para kafilah dari KLU, dan sekaligus dapat mewakili NTB di tingkat Nasional

“Maka kita harus punya mental juara,  karena ketika kita tidak mempunyai mental juara maka kita akan lemah sebelum berjuang. Bahasa laimnya mati sebelum berperang,” kata  Suardi.

Ketua Kafilah yang juga  Asisten Bidang Pemerintahan Setda KLU, Kawit Sasmita, SH melaporkan cabang mata lomba yang diikuti oleh KLU.

Secara rinci dilaporkannya, peserta yang mengikuti MTQ XXVIII tingkat Provinsi NTB 2019 berjumlah 52 orang dan pelatih 27 orang dengan jumlah total 79 orang.

Seluruh peserta berasal dari setiap kecamatan di KLU. Cabang mata lomba yang dikompetisikan sebanyak 8 cabang lomba, terdiri dari tilawah dengan peserta 10 orang, qiro’ah 8 orang, tahfiz qur’an 9 orang, tafsir 3 orang, fahmil qur’an 6 orang, syarhil qur’an 6 orang, khatil qur’an 8 orang, serta cabang makalah karya tulis qur’an 2 orang.

“Pendaftaran peserta melalui online sehingga hari ini peserta harus daftar ulang dengan membawa KTP dan KK. Pembukaannya hari Kamis malam Jumat,” urai mantan Kadiskominfo ini.

Pelepasan kafilah ini diakhiri dengan pemberian ucapan selamat berkompetisi sebagai bentuk motivasi kepada kafilah Kabupaten Lombok Utara oleh Sekda diikuti tamu undangan yang hadir.

sta/humaspro

“Maka kita harus punya mental juara,  karena ketika kita tidak mempunyai mental juara maka kita akan lemah sebelum berjuang. Bahasa laimnya mati sebelum berperang”

TANJUNG.lombokjournal.com – Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utara (KLU) Drs. H. Suardi, MH melepas 72 kontingen KLU untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2019, di Aula Bupati Lombok Utara, Rabu (02/10) 2019.

Hadir mendampingi Sekda di antaranya Para asisten dan Kepala OPD di lingkungan Pemda KLU.

Sebelum melepas para kafilah Sekda H. Suardi mewakili Bupati Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH, mengajak seluruh kafilah bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan sehingga para kafilah dapat menghadiri acara pelepasan kontingen KLU untuk mengikuti MTQ XXVIII tingkat Provinsi NTB tahun 2019 di Kabupaten Lombok Barat.

“Visi kita dalam kehidupan ini adalah visi akhirat. Tentu kita ingin surga, maka semua kegiatan kita terutama MTQ ini bertujuan mengharapkan ridho dari Allah SWT,” pesan Sekda.

Menurut H. Suardi, menyongsong pelaksanaan MTQ XXVIII 2019, Pemda KLU telah melaksanakan seleksi di tingkat kabupaten dengan cukup selektif.

Para peserta yang berhasil menjadi jawara dari proses seleksi itulah yang menjadi kafilah untuk mewakili Lombok Utara di ajang MTQ tingkat Provinsi NTB 2019.

Ia berpesan, agar seluruh kontingen KLU mempunyai mental juara, lantaran ketika seseorang tidak punya mental tersebut sama saja dengan lemah sebelum berjuang.

Mental juara itu terlihat saat  para kafilah tetap berlatih dengan giat, tidak merasa cepat puas, dan senantiasa mengitlkuti apa yang disampaikan guru.

Pemda KLU berharap, pada MTQ Provinsi NTB tahun 2019 semua cabang mata lomba bisa dijuarai oleh para kafilah dari KLU, dan sekaligus dapat mewakili NTB di tingkat Nasional

“Maka kita harus punya mental juara,  karena ketika kita tidak mempunyai mental juara maka kita akan lemah sebelum berjuang. Bahasa laimnya mati sebelum berperang,” kata  Suardi.

Ketua Kafilah yang juga  Asisten Bidang Pemerintahan Setda KLU, Kawit Sasmita, SH melaporkan cabang mata lomba yang diikuti oleh KLU.

Secara rinci dilaporkannya, peserta yang mengikuti MTQ XXVIII tingkat Provinsi NTB 2019 berjumlah 52 orang dan pelatih 27 orang dengan jumlah total 79 orang.

Seluruh peserta berasal dari setiap kecamatan di KLU. Cabang mata lomba yang dikompetisikan sebanyak 8 cabang lomba, terdiri dari tilawah dengan peserta 10 orang, qiro’ah 8 orang, tahfiz qur’an 9 orang, tafsir 3 orang, fahmil qur’an 6 orang, syarhil qur’an 6 orang, khatil qur’an 8 orang, serta cabang makalah karya tulis qur’an 2 orang.

“Pendaftaran peserta melalui online sehingga hari ini peserta harus daftar ulang dengan membawa KTP dan KK. Pembukaannya hari Kamis malam Jumat,” urai mantan Kadiskominfo ini.

Pelepasan kafilah ini diakhiri dengan pemberian ucapan selamat berkompetisi sebagai bentuk motivasi kepada kafilah Kabupaten Lombok Utara oleh Sekda diikuti tamu undangan yang hadir.

sta/humaspro




Standing Applause Menggema di Pembukaan APGN 2019, Dengan Tarian Kolosal “3 Secrets of Rinjani”

Lalu Surya Wulawarman, sebagai kreator Tari “Tiga Rahasia Rinjani” itu mengaku bangga dan bahagia. Sebab ia tidak menyangka hasil karyanya itu mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para delegasi APGN

MaATARAM.lombokjournal.com  —   The 6th Asia Pasific Geopark Network Symposium resmi dibuka hari Senin (03/09) 2019.

Ratusan delegasi dari berbagai negara memenuhi Hall Rinjani Hotel Lombok Raya, Kota Mataram, untuk mengikuti Opening Ceremony oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah.

Sebagai tuan rumah, Pemerintah Provinsi NTB telah menyampaikan komitmennya untuk menyambut para tamu sebaik-baiknya.

Alhasil, komitmen yang lahir dari kerjasama apik berbagai kalangan mendapat standing applause dari ratusan delegasi yang hadir. Termasuk Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah dan Anggota FKPD Provinsi NTB.

Pembukaan APGN 2019 ini memberi kesan mendalam bagi para peserta. Bahkan, para delegasi yang telah hadir di NTB sejak 31 Agustus 2019, memberikan standing applause kepada pemerintah provinsi dan seluruh pihak  yang terlibat dalam event internasional itu.

Standing applause tersebut diberikan para peserta atas pembukaan acara yang berlangsung meriah dengan ditampilkannya sebuah tarian kolosal dengan judul “3 Secrets of Rinjani” Karya Sutradara dan Koreografer NTB, Lalu Surya Wulawarman dari Sasak Dance.

Salah satu delegasi APGN dari Alireza Amrikazemi dari Iran, merasa kagum dengan acara pembukaan itu. APGN Advisory Commitee itu merasa apa yang ditampilkan dalam acara itu sebagai sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka.

“Ini merupakan penampilan terbaik yang pernah saya lihat,” ungkapnya usai pembukaan sembari menyampaikan selamat kepada pemerintah provinsi dan seluruh jajaran yang telah menyelenggarakan acara tersebut.

‘Tiga Rahasia Rinjani’

Lalu Surya Wulawarman, sebagai kreator Tari “Tiga Rahasia Rinjani” itu mengaku bangga dan bahagia. Sebab ia tidak menyangka hasil karyanya itu mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para delegasi APGN.

Bahkan ia mengaku terharu, karena selama ini belum pernah mendapatkan standing applause panjang atas karyanya. Apalagi, bentuk penghargaan tertinggi di luar negeri adalah standing applause.

“Baru saya merasakan lagi di Indonesia, di daerah sendiri,  di tanah kelahiran, dari Peserta APGN dari 34 negara, memberikan standing applause. Dan standing applausenya panjang,” ungkapnya saat diwawancara di lokasi kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa NTB bisa menaklukkan dunia dengan menampilkan seluruh potensi dan kearifan lokal yang ada. Termasuk tradisi yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat, dapat ditampilkan dalam bentuk kekinian dengan tidak meninggalkan akar-akar tradisi yang ada.

“Ini penghargaan bagi NTB yang saat ini sedang menjadi tuan rumah APGN. Saya anggap NTB berhasil menjadi tuan rumah,” jelasnya

Ia juga menuturkan, Tarian “Tiga Rahasia Rinjani”, dengan lima adegan itu, menggambarkan masyarakat Sasak masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Dalam cerita itu, dikisahkan masyarakat Sasak yang senantiasa hidup bersanding dan bersahabat dengan alam sebagai sebuah kekuatan.

Mereka selalu mendaki Gunung Rinjani yang di dalamnya dipenuhi potensi dan keindahan alam yang luar biasa.

“Saya ingin mengangkat Rinjani ini dalam tiga prespektif,” jelasnya.

Pertama lanjutnya, Rinjani sebagai pusat energi bagi masyarakat. Ketika melihat Rinjani katanya, maka energi masyarakat itu langsung terbangun. Kedua adalah Rinjani sebagai pusat peradaban masyarakat. Yang ketiga lanjutnya adalah sebagai pusat vulkanologi.

“Kita ingin menunjukkan pada dunia bahwa Rinjani itu sangat luar biasa,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengungkapkan menjadi tuan rumah APGN sangat berarti bagi masyarakat NTB. Meski satu tahun lalu dilanda gempa bumi, namun menjadi energi untuk bangkit.

BACA JUGA  ;  

APGN Symposium, Agenda Bersejarah Bagi Masyarakat NTB

“Jatuh tujuh kali, namun bangkit delapan kali,” tutur orang nomor satu di NTB itu di hadapan Presiden Global Geopark Network,  Mr. Nicholas Zaucus, Koordinator APGN,  Xiochi Jin dan Executive Chairman of Indonesian National Commission for UNESCO,  Prof. Arif Rahman.

Ia menambahkan, menjadi tuan rumah APGN merupakan momentum untuk menunjukkan pada dunia bahwa masyarakat NTB itu kuat.

AYA/HmsNTB




Konser  SURADIPA – ARY JULIANT  ;  Menikmati ‘Konten Lokal’ Dan Rindu Kereta di Kota Mataram

lombokjournal.com –

Dua musisi pentolan di Mataram, Suradipa dan Ay Juliant, tampil dalam konser satu panggung, di Teater Tertutup Taman Budaya NTB, Sabtu (03/08/2019) malam.

Suradipa dengan konsep atau tema The Journey, mungkin hendak menampilkan jejak penjelajahan perjalanan musiknya.  Dan ia menimang khasanah lokal di bumi yang dipijaknya, tentu dalam perspektif jazz musician.

Sedang Ary Julliant, sang musisi ‘sesat’ karena gairah musikalnya terus bergerak, dan kita sebut saja ia sebagai penyanyi  balada, dengan Kereta Itu Dari Stasiun Kota Mataram mengangkat kerinduan susana stasiun kota. Ini juga impian tentang hadirnya moda transportasi kereta api dari Mataram. Romantisme suasana stasiun, seperti kenangan Ary tentang stasiun Tugu di Jogja, membuat lagu harapan hadirnya kereta api itu sebagai keinginan nostalgik.

Apa yang yang terjadi?

Penonton mendapat suguhan performance musik yang komplit.

Suradipa, yang kerap diidentikkan warna jazz, tampil tertata rapi, runut tapi menyentuh, meski terkesan ‘dingin’.   Lulusan jurusan musik Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja itu mengangkat apa yang disebutnya konten lokal (Sasak), menjadi wujud komposisi agar menjangkau (taste) publik lebih luas, melampaui lingkaran komunitas kelokalan.

Dan sungguh malam itu Suradipa mampu mengangkat kelokalan menjadi lebih ‘worldwide’.  Ia menegaskan dalam diskusi usai pertunjukan, jenis jazz saat ini bukanlah menjadi minat segmen tertentu. Jazz yang sejarahnya lahir dari lingkungan para budak, yang semula menjadi (seolah-olah) hanya bisa dinikmati kelas tertentu,  kini publiknya makin meluas.

Khasanah lokal bukan sesuatu yang asing bagi Suradipa, atau bukan karena ia terpukau sesuatu yang semata-mata eksotik. Ia bergelut di dalamnya, dan lokalitas itu menarik-narik kesadaran artistiknya.

Sedang Ary Juliant seperti biasanya, hangat menyapa, selalu ingin komunikatif dengan penonton. Dan seperti biasa pula, ia mempertontonkan ketrampilan memainkan berbagai instrumen musik.  Vokalnya yang kadang melengking seperti ingin lebih jauh menyentuh kesadaran lingkungan sosial.

Dan Ary selalu mengajak, ia mengundang seseorang yang diikuti kelompok anak-anak disabiitas bernyanyi bersama-sama. Juga diajaknya seseorang yang membaca tentang kereta api, dalam bahasa Belada.

Di akhir pertunjukannya ia juga mengajak Suradipa bermain bersamanya. Dan hasilnya, suasana musikal yang unk sekaligus menghibur, dari kolaborasi musisi ‘sesat’ dan instrumen Suradipa yang tertata.

Dengan gambar jalan kereta bumel  melalui layar LED yang menjadi backgorund , membuat pertunjukan musik itu sangat apik, dan mengaduk nostalgia.

Dan sayangnya,  pertunjukan itu dinilai penonton sangat singkat.

k-o-s  




Sang Trobador (baca; Baladeur) Tampil Di Taman Budaya

 

lombokjournal.com — 

MATARAM ;  Ary Juliant sering menyebut dirinya sebagai ‘gerilyawan’ musik. Apa maksudnya? “Sederhana, kita harus bisa mengatasi keterbatasan. Saya bisa  melakukan pertunjukan musik dimana saja. Di kampung, di pinggir air terjun, di komunitas pemuda di desa-desa, di kafe, di gedung pertunjukan, dimana-mana sama saja,” katanya.

Saya pernah menonton Ary yang tampil bersemangat dan memukau di ajang Senggigi Jazz & World music Festival 2016 yang berlangsung di pantai Senggigi. Sama besemangatnya waktu saya menontonnya tampil di satu komunitas di sebuah kampung di Lombok Utara, di ‘Warung(-nya pak) Jek’ yang tiap Selasa malam sering diisi musisi campur baur, atau di komunitas Rumah Kucing di Montong (RKM), kawasan Senggigi.  Ary selalu sederhana, bersemangat, ceria, menghibur, dan sering menyebut ‘sesat’ tentang musik yang dimainkannya.

Ary menetap di Lombok sejak 1995, hijrah dari Bandung. Dia mungkin termasuk jenis musisi Baladeur, istilah yang dipakai teman-teman Ary, mungkin maksudnya untuk tidak mengatakan ‘troubadour’.

Sebutan Troubadour hampir identik dengan ‘penyanyi’, meski  etimologi kata itu ada pengertian yang bervariasi. Troubadour dimulai di Occitania di akhir abad ke-11, kemudian gerakan seni itu menyebar  ke Itali dan Spanyol, bahkan di Jerman muncul gerakan-gerakan serupa, seperti Minnesang.  Dante menyebut lirik troubadour sebagai  fiksi retorik, musikal dan puitis, biasanya bertema ksatria dan cinta istana. Karena itu, pengikut seni troubadour  kadang mendapat sindiran sebagai para sosialis yang berkelakuan borjuis, atau sebaliknya seperti borjuis berkelakuan sosialis.

Tentu saja Ary Juliant bukan penyanyi pengikut seni troubadour.  Ia mungkin semacam baladeur atau penyanyi balada  yang selalu tampak humble, meski memiliki energi besar.  Ia pernah menolak musik industri, meski sekarang lebih arif. “Tidak masalah musik industri (atau industri musik), yang penting menghargai (juga mau berkompromi) dengan proses kreatif musisi,” kata Ary.

Ayo kita tonton konser Ary Julian bersama Suradipa di Taman Budaya NTB, hari Sabtu tanggal 3 Agustus 2019 jam 20.00 wita

Ka-eS