Art Comunity Exibition 2020;  Ajang Mengukur Perkembangan Komunitas Seni Rupa

Untuk penyelenggaraan mendatang, akan ditunjuk lebih dari satu kurator. Beberapa kurator yang ditunjuk akan membentuk satu panel diskusi guna merumuskan tema dan menentukan seniman mana yang karyanya bisa ditampilkan

MATARAM.lombokjournal.com –

Tanggal 15-19 September jadi catatan sejarah tersendiri bagi pelaku seni khususnya yang tergabung dalam beberapa komunitas seni rupa di NTB, khususya bagi yang mengikuti pameran bertajuk Art Comunity Exibition 2020, di Taman Budaya NTB.

Dengan melibatkan puluhan komunitas seni rupa dan menampilkan 70 karya rupa, gelaran tersebut sekaligus jadi barometer melihat sejauh mana komunitas seni rupa mempengaruhi medan seni rupa NTB.

Andi Afihan

Majas Pribadi

Kepada lombokjournal.com, penyelenggara pameran Majas Pribadi menyampaikan, komunitas seni dipilih sebagai objek pameran berangkat dari catatan penyelenggaraan pameran tahun sebelumnya.

Kala itu, banyak perupa yang mempersoalkan pola berpameran ya ia selenggarakan. Salah satu yang dipersoalkan adalah bagaimana proses kurator melakukan kurasi terhadap karya yang ditampilkan.

Majas melihat, banyak perupa NTB yang terlibat saat itu belum membuka diri dengan memberi kepercayaan penuh pada kurator, dalam memilih karya mana yang layak dan tidak untuk dipamerkan.

“Misalnya 2019 dipertanyakan, kriterianya apa sih sebenarnya orang bisa ikut eksibisi ini. Niatnya kan nampak tilas perupa perintis ke perupa teranyar hari ini. Tapi itu juga debateble, dipersoalkan, dipertanyakan, kita kok nggak diajak dan sebagainya. Maka hari ini agar tidak terjadi banyak kesalahpahaman dalam kriteria karya maka kita bicara komunitas,” jelasnya. Minggu (20/09/20).

Hal lain yang disinggung Majas kaitannya dengan pola pengelolaan pameran tahun lalu dengan tahun ini.

Untuk Art Community Exhibition 2020, pihaknya lebih menekankan independensi kurator dengan memberi kurator kuasa penuh menentukan komunitas mana yang akan dilibatkan.

Hal tersebut dilakukan agar semua perangkat pameran mulai dari penyelenggara, pemilik galeri (Taman Budaya), kurator dan seniman bisa menjalankan fungsi masing-masing dengan maksimal.

“Soal komunitas, karya apa pun saya tidak mau terlibat. Bahkan sampai display saja saya tidak mau terlibat. Kita nggak mau ikut-ikut. Di banding 2019 jauh. Saya hanya menyiapkan space, hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk eksibisi ini jadi tanggung jawab saya. Yang berkaitan dengan komunitas dan pemilihan karya saya nggak ikut-ikut,” jelasnya.

Lebih jauh, pameran kali ini diinisiasi untuk menyongsong penyelenggaraan pameran tahun depan.

Untuk penyelenggaraan pameran tahun mendatang, Majas berencana menunjuk lebih dari satu kurator. Beberapa kurator yang ditunjuk akan membentuk satu panel diskusi guna merumuskan tema dan menentukan seniman mana yang karyanya bisa ditampilkan di dalam pameran. Termasuk menunjuk satu kritikus seni rupa.

“Jadi begini, kurator menurut saya tidak bisa berdiri sendiri. Ia butuh kritik seni. Jadi kemudian ia (kurator) tidak bisa memonopoli gagasan. Maka panel itu nanti, yang saya sebut tiga atau lima orang itu, salah satunya adalah kritikus seni,” paparnya.

Penyangga geliat seni rupa

Terpisah, kurator pameran Sasih Gunalan menyampaikan peran komunitas-komunitas seni rupa jadi penyangga geliat seni rupa di NTB. Hal yang menurutnya menarik untuk ditelaah lebih jauh.

“Sangat menarik. Kalau di NTB geliat komunitas pada tahun 90-an dikuasai Lombok Timur dengan Sanggar Berugak. Memasuki tahun 2000-an ini sudah terpecah,” katanya.

Sasih juga menyampaikan, pada pameran kali ini pihaknya tidak menerapkan pola kuratorial ketat sebagaimana umumnya kurator bekerja.

Ia lebih menitikberatkan pada penentuan komunitas mana yang akan terlibat.

Sementara Sasih, Andi Aftihan selaku Ketua Panitia pameran menyebut tingginya animo masyarakat yang mengunjungi pameran di luar ekspektasinya.

Banyaknya pengunjung yang datang dilihat Andi sebagai respon masyarakat NTB yang sangat merindukan kegiatan-kegiatan hiburan, salah satunya kegiatan kesenian berupa pameran seni rupa.

“Hari pertama pembukaan saja itu ratusan yang datang. Masyarakat butuh hiburan,” ujarnya.

Terlepas dari itu, pihaknya selaku panitia menegaskan kegiatan pameran tetap menjadikan protokol Covid-19 sebagai acuan  pameran.

Untuk diketahui, Art Community Exhibition 2020 melibatkan 14 komunitas seni di NTB dengan menampilkan 70 karya rupa berupa lukisan, patung dan instalasi.

Selain pameran penyelengga juga mengadakan diskusi, tur galeri Instagram, seniman berkarya di tempat, dan beberapa kegiatan lain yang berkaitan dengan pengembangan seni rupa di NTB.

Ast




Lombok Utara, Daerah yang Komunitas Seni Rupanya Paling Bergeliat

Komunitas seni rupa jadi penyangga geliat seni rupa Kabupaten Lombok Utara

MATARAM.lombokjournal.com

Pada periode 90-an, Kabupaten Lombok Timur jadi daerah yang geliat komunitas seni rupanya paling maju, dengan komunitas Sanggar Berugak sebagai motor penggerak.

Memasuki periode 2000-an, Kabupaten Lombok Utara menggeser Lombok Timur dan memunculkan diri sebagai daerah yang komunitas seni rupanya paling bergeliat.

“Tahun 2000-an ini Lombok Utara cukup kuat,” kata Sasih Gunalan, seorang kurator seni rupa kepada lombokjournal.com. Kamis, (17/09/20).

Fakta tersebut disampaikan Sasih Gunalan selaku kurator pameran bertajuk Art Comunity Exibition 2020 setelah melakukan penelitian sebelum pameran digelar Taman Budaya NTB, mulai 15-19 September 2020.

Dalam pemaparannya, Sasih mengatakan peran komunitas-komunitas seni rupa jadi penyangga geliat seni rupa Kabupaten Lombok Utara. Hal yang menurutnya menarik untuk ditelaah lebih jauh.

“Sangat menarik. Kalau di NTB geliat komunitas pada tahun 90-an dikuasai Lombok Timur dengan Sanggar Berugak. Memasuki tahun 2000-an ini sudah terpecah saya melihat yang saat ini cukup kuat Lombok Utara. Pendatang baru,” terangnya.

Lombok Tengah Kompetitor Baru

Selain Lombok Utara, daerah lain yang disebut Sasih jadi kompetitor dalam geliat seni rupa NTB baru-baru ini adalah Kabupaten Lombok Tengah.

Menariknya, dominasi Kabupaten Lombok Utara sebagai daerah dengan komunitas seni rupa paling bergeliat bisa digeser Kabupaten Lombok Tengah.

Selain karena dibukanya ruang pamer baru, posisi Lombok Tengah diuntungkan sebab menjadi Kabupaten dengan status daerah wisata super prioritas.

“Tapi gini, sejak dibukanya Sakart Art Space di Lombok Tengah sekarang, ini juga kompetitor baru dengan momen yang tepat karena ada tim akselerasi seni rupa yang digagas di Mandalika itu juga akan menarik wacana seni rupa di Lombok Tengah dengan event sandingan itu,” jelasnya.

Pameran Art Comunity Exibition 2020 sendiri  mewajibkan karya seni yang dipajang bersumber dari karya seniman yang tergabung dalam komunitas seni rupa.

Untuk tema karya yang dipamerkan, Sasih tak membuat batasan sebagaimana pola kerja kuratorial umumnya.

Yang jadi fokus kerja kuratorial Sasih adalah ingin melihat khasanah seni rupa sesuai dengan latar belakang daerah di mana komunitas berasal.

Ast




Art Exibition 2020, Lombok Barat Tidak Memiliki Komunitas Seni Rupa

Dua kabupaten yang kemunculan komunitasnya mencuri perhatian publik seni rupa NTB adalah Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Tengah

MATARAM.lombokjournal.com –

Gelaran pameran seni rupa bertajuk Art Exibition 2020 di Taman Budaya NTB yang berlangsung dari tanggal 15-19 September 2020, diikuti beberapa komunitas seni rupa yang tersebar di beberapa daerah di NTB.

Dari penjelasan kurator pameran Sasih Gunalan kepada lombokjournal.com, didapati satu fakta menarik, dari semua Kabupaten/kota di NTB hanya Kabupaten Lombok Barat yang tidak memiliki satu pun komunitas seni rupa.

“Ini yang menarik. Saya juga menekuni data base yang kemarin, Lombok Barat tidak satupun komunitas di situ,” ujarnya. Rabu, (16/09/20).

Fakta tersebut jadi temuan Sasih ketika melakukan penelitian kaitannya dengan sebaran komunitas seni rupa di NTB sebelum pameran digelar.

Komunitas seni rupa jadi basis kegiatan pameran. Karenanya, semua karya rupa yang ditampilkan berangkat dari karya perupa yang tergabung dalam komunitas seni rupa di daerah.

Dari semua Kabupaten/Kota di NTB, Kabupaten Lombok Timur jadi daerah dengan sejarah panjang geliat perupa berbasis komunitas.

Baru beberapa tahun belakangan, mulai muncul banyak komunitas di daerah lain. Dua kabupaten yang kemunculan komunitasnya mencuri perhatian publik seni rupa NTB adalah Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Tengah.

“Dari tahun 90-an geliat komunitas seni rupa dikuasai oleh Lombok Timur. Memasuki tahun 2000-an ini sudah terpecah karena saat ini saya melihat yang cukup kuat itu adalah Lombok Utara. Sejak dibukanya Sakart Art Sapce di Lombok Tengah juga jadi kompetitor baru,” terangnya.

BACA JUGA;

Pameran di Masa Pandemi, Taman Budaya NTB Terapkan Protokol Covid-19

Kota Mataram tidak termasuk ke dalam kompetitor geliat komunitas seni rupa karena dijadikan penyangga aktivitas seni rupa di NTB dengan fasilitas penunjangnya berupa galeri yang dikelola pemerintah.

“Kalau Kota Mataram basisnya sebagai penyedia ruang. Karena pusatnya di sini,” ungkapnya.

Ast




Pameran di Masa Pandemi, Taman Budaya NTB Terapkan Protokol Covid-19

Pameran berlangsung lima hari, mulai 14-19 September 2020, melibatkan beberapa komunitas seni rupa yang tersebar di seluruh NTB

MATARAM.lombokjournal.com

Pameran Seni Rupa bertajuk Art Comunity Exibition 2020 menjadi pameran seni rupa perdana yang diadakan Taman Budaya NTB di masa pandemi Covid-19.

Karenanya, protokol Covid-19 menjadi acuan wajib yang diterapkan pengelola pameran guna menjaga semua yang terlibat terhindar dari paparan virus Covid-19.

“Kita menerapkan protokol Covid,” ujar kurator pameran Sasih Gunalan kepada lombokjournal.com. Rabu, (16/09/20).

Dikatakan, jarak satu pengunjung dengan pengunjung lain pun diatur sedemikian rupa mengikuti protokol Covid-19. Termasuk memberi jarak dalam meletakkan satu karya dengan karya yang lain.

“Wajib berjarak satu setengah meter,” terangnya.

Kegiatan pameran juga melibatkan tim medis dari Fakultas Kedokteran Universitas Mataram guna mengawasi jalannya kegiatan pameran.

“Ini baru kita coba dan ini kerjasama dengan pemerintah termasuk tim medis dari Unram (Universitas Mataram),” katanya.

BACA JUGA;

Art Exibition 2020, Lombok Barat Tidak Memiliki Komunitas Seni Rupa

Untuk diketahui pameran berlangsung lima hari mulai 14-19 September 2020 dengan melibatkan beberapa komunitas seni rupa yang tersebar di seluruh NTB.

Materi pameran sendiri terdiri dari seni lukis, patung dan instalasi.

Ast




Komunitas Pararupa Lombok Utara, Ajak Anak-anak Memahami Seni Rupa

KLU.lombokjournal.com

Pararupa adalah salah satu komunitas seni rupa di Kabupaten Lombok Utara yang beralamat di Desa Sigar Pinjalin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Imam Hujatul Islam

Selain terus aktif memproduksi karya, komunitas ini juga membuka kelas menggambar gratis guna menyebar luaskan pemahaman tentang seni rupa di kalangan anak-anak.

Kegiatan sendiri rutin digelar seminggu sekali dengan melibatkan beberapa pemateri   yang tak melulu anggota komunitas Pararupa.

“Program rutinnya Minggu sore untuk sketch classnya, program lainnya kondisional aja,” ujar Direktur Komunitas Pararupa, Bagus Esa kepada lombokjournal.com. Rabu, (11/09/2020).

Dijelaskan, aktivitas tersebut sama sekali tidak menarik biaya. Peserta hanya diminta membawa sendiri alat-alat menggambar berupa pensil dan kertas gambarnya.

Pararupa sendiri merupakan komunitas seni rupa yang baru terbentuk 2019 lalu atas inisiatif Bagus Esa dan perupa muda Lombok Utara Imam Hujatul Islam.

Dua orang yang mengaku memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama gelisah mengembangkan wacana seni rupa di Kabupaten Lombok Utara.

Selain Pararupa, Imam Hujatul Islam sebelumnya mendirikan komunitas seni rupa bernama Pondok Pitamin yang beralamat di Desa Pemenang.

Berdirinya komunitas Pararupa sendiri memiliki kaitan yang erat dengan Pondok Pitamin.

Jika Pondok Pitamin diniatkan sebagai wadah para perupa di Kecamatan Pemenang, Pararupa diharapkan bisa menjadi wadah pelaku seni rupa di Kecamatan Tanjung.

“Biar banyak aja,” seloroh Imam saat ditanya alasannya ikut membidani kelahiran Komunitas Pararupa.

Perlu diketahui, terkait geliat komunitas seni rupa, sebelumnya, salah seorang kurator muda NTB Sasih Gunalan menyampaikan jika saat ini, Kabupaten Lombok Utara menjadi Kabupaten yang komunitas seni rupanya paling bergeliat.

Dikatakan, Lombok Utara jauh meninggalkan kabupaten seniornya seperti Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur.

Pada periode 90-an, Kabupaten Lombok Timur jadi daerah yang geliat komunitas seni rupanya paling maju dengan komunitas Sanggar Berugak sebagai motor penggerak.

Namun memasuki periode 2000-an, Kabupaten Lombok Utara menggeser Lombok Timur dan memunculkan diri sebagai daerah yang komunitas seni rupanya paling bergeliat.

“Tahun 2000-an ini Lombok Utara cukup kuat,” katanya kepada lombokjournal.com beberapa waktu lalu.

Fakta tersebut disampaikan Sasih berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya.

Saat ini peran komunitas seni rupa jadi penyangga geliat seni rupa Kabupaten Lombok Utara. Hal yang menurutnya menarik  ditelaah lebih jauh.

“Sangat menarik. Kalau di NTB geliat komunitas pada tahun 90-an dikuasai Lombok Timur dengan Sanggar Berugak. Memasuki tahun 2000-an ini sudah terpecah saya melihat yang saat ini cukup kuat Lombok Utara. Pendatang baru,” terangnya.

Ast




Kelompok Seni Tradisi Rudat Setia Budi di KLU, Bertahan Karena Cinta

KLU.lombokjournal.com

Kelompok Seni Tradisi Rudat Setia Budi Dusun Terengan, Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara, membuktikan diri ke khalayak seni tradisi di NTB, yang mampu mempertahankan eksisensinya di pusaran perkmbangan jaman.

Kemampuan bertahan itu karena kecintaan terhadap seni tradisi Rudat, dan membuat kelompok mereka tetap bertahan melewati beberapa zaman.

Zakaria

Sebagai kelompok seni tradisi,  merupakan prestasi tersendiri  Seni Rudat di Terenga itu bisa tetap bertahan ketika sebagian besar masyarakat telah berpaling kepada kesenian modern.

Dibutuhkan kecintaan yang dalam, kerelaan berkorban waktu dan tenaga, serta visi besar menyongsong masa depan untuk seni tradisi guna merealisasikannya.

“Jika tidak begitu, seni tradisi komedi rudat Setia Budi Terengan tidak akan mampu bertahan untuk terus menelaah zaman. Bersaing bersama seni modern. Dengan seni tradisi ini kita bercerita  kepada generasi saat ini mengenai peristiwa yang terjadi di masa silam, melalui lakon-lakon yang dimainkan,” tutur Zakaria, pimpinan Seni Tradisi Rudat Setia Budi, Terengan, Lombok Utara, Rabu, (11/09/20).

Selain itu, Bagi Zakaria, kekaguman terhadap kekayaaan budaya leluhur, jadi salah satu pemicu untuk terus maju menantang zaman.

Zakaria, dalam percakapan dengan lombokjournal.com memaparkan perkembangan seni Rudat yang dipimpinnya dari masa ke masa.  Pengaaman yang panjang menggeluti seni Rudat, dengan pahit getir yang dialami, membuat kelompoknya tetap bisa bertahan hingga saat ini.

Zakarian menjelaskan, perasaan cinta pada seni tradisi Rudat itu juga membuat kelompoknya merasa bertanggung jawab untuk terus melestarikan seni tradisi warisan leluhur tersebut.

Banyak nilai positif yang bisa jadi bekal hidup di dunia yang ada di dalam pertunjukan seni tradisi rudat.

“Khususnya untuk kami pribadi di Terengan. Berasal dari sana, kami mengajak segenap generasi muda untuk belajar dan melestarikan seni tradisi komedi rudat ini,” ujarnya.

Lebih jauh, pria yang akrab disapa Pak Jek itu menjelaskan, tentang kandungan makna filosofis yang terdapat pada hampir semua dimensi seni tradisi Rudat.

Mulai dari pola urutan tarian di dalam rudat yang dibagi menjadi tiga babak sebagai gambaran tiga fase kehidupan yang nantinya dilalui umat manusia sebelum menghadap ke sang pencipta.

Termasuk salam yang harus diucapkan sebelum memulai pertunjukan pun memiliki kandungan makna filosofis yang dalam. Tak terkecuali dengan pola baris-berbarisnya. Semuanya memiliki kandungan makna filosofis yang dalam.

“Dalam permainan juga dimulai dengan syair selamat datang, itu menandakan bahwa seharusnya kita ucap salam atau mendahulukan salam. Kemudian baris-berbaris yang bermakna apapun yang akan kita lakukan di muka bumi ini, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan-persiapan, itu filosofinya,” tuturnya.

Perlu diketahui, pada 2017 yang lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan Pak Jack sebagai salah satu maestro kesenian tradisi Rudat.

Gelar kehormatan tersebut didapatnya karena dinilai telah berdedikasi menjaga dan mengembangkan kesenian tradisi rudat di provinsi NTB.

Tepatnya 11-24 Juli 2017 silam, 20 siswa terpilih dari seluruh Indonesia setelah melewati seleksi bersama ratusan siswa lainnya juga datang ke Kabupaten Lombok Utara guna belajar Tari Rudat bersama Pak Jek.

20 siswa tersebut datang dalam rangka mengikuti program Belajar Bersama Maestro (BBM) oleh Direktorat Jenderal Kebuduayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tujuannya, agar para siswa bisa melihat dan merasakan secara langsung seperti apa kehidupan sehari-hari seorang maestro.

Bagaimana maestro Rudat asal Lombok Utara tersebut tetap bertahan menggeluti keyakinannya di bidang seni sehingga menjadi seorang maestro seperti saat ini.

Ast

 




Wagub Mendorong Permainan Tradisional Tetap Dilestarikan

Permainan tradisional yang kita miliki tidak boleh hilang

LOTIM.lombokjournal.com — Dalam rangka HUT yang ke-55 SMAN 1 Selong, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB menggelar acara Pojok Ekspresi. Kegiatan berlangsung di SMAN 1 Selong, Lombok Timur, Sabtu (29/08/20).

Pojok Ekspresi menjadi ruang kreativitas dan inovasi bagi sekolah dalam bidang pendidikan dan kebudayaan yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB.

Dengan mematuhi protokol kesehatan, siswa-siswi SMAN 1 Selong terlihat asyik memainkan aneka permainan tradisional seperti presean, permainan dedengklak, begasingan, lompat tali, hingga pertunjukan ketongkek.

“Melalui Pojok Ekspresi, kita berbagi cerita, berbagi pengalaman, saling mendukung, serta menambah pengetahuan,” kata Wakil Gubernur NTB, Dr.Hj.Sitti Rohmi Djalillah yang hadir pada kesempatan tersebut.

Permainan tradisional lanjut Wagub, harus tetap dilestarikan, tidak boleh kalah dengan gadget.

Untuk saat ini, dalam melakukan aktifitas apapun, semua orang dituntut untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, termasuk dalam bermain.

“Budaya hingga permainan tradisional yang kita miliki tidak boleh hilang, apalagi sampai kalah dengan gadget,” tambah Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi tersebut.

Keberadaan Pojok Ekpresi ini katanya menjadi warna baru dan semangat baru untuk sekolah yang ada di NTB.

Melalui kegiatan tersebut, kita semua bisa kembali bermain, kembali mengingat serta bertukar pikiran tentang permainan dan kebudayaan yang ada di Provinsi NTB.

“Alhamdulillah, Pojok Ekpresi mampu mengingatkan serta memperkenalkan kembali budaya yang ada di daerah kita tercinta,” tambah Umi Rohmi.

Di hadapan tamu undangan dan siswa-siswi SMAN 1 Selong, Wagub menyampaikan selamat ulang tahun untuk SMAN 1 Selong, ia berharap, SMAN 1 Selong bisa semakin jaya, serta mampu melahirkan pemimpin dan generasi-generasi emas untuk bangsa dan negara.

“Selamat ulang tahun yang ke 55, semoga semakin Jaya dan banyak melahirkan generasi hebat untuk bangsa kita tercinta,” harap Umi Rohmi.

AYA/HmsNTB




Bunda Niken Dukung Lombok Care, Bangkitkan Lagu-Lagu Anak

Konser ini dapat menjadi terapi bagi anak-anak yang kemungkinan dapat mengalami stres ketika berada di rumah saja selama masa Pandemi Covid-19

MATARAM.lombokjournal.com —  Ketua Tim Penggerak-PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah menyambut hangat kedatangan tim Lombok Care di Pendopo Gubernur, Selasa (11/08/20).

Kedatangan Lombok Care bersama empat orang penyanyi ciliknya, mengundang Hj. Niken untuk menonton kegiatan Charity Konser yang akan digelar pada hari Sabtu, 15 Agustus mendatang secara online.

Bunda Niken memberikan dukungan penuh kepada Lombok Care. Selain akan menonton konser tersebut, ia juga akan membantu mempublikasi acara Charity Konser agar dapat menjangkau khalayak sesuai yang diharapkan.

“Yang bisa saya bantu mungkin mempublikasikan ya, nanti saya juga akan nonton,” jelas Bunda Niken.

Saat itu ia meminta para penyanyi cilik menyanyikan beberapa lagu yang mereka ciptakan. Penampilan secara akustik dibawakan oleh Om Apip, Nekia, Nazis, Kevin dan Bintang. Penampilan mereka mendapatkan pujian langsung dari Bunda Niken.

“Lagunya bagus-bagus, seneng saya dengernya,” pujinya.

Nindi, pengelola Yayasan Lombok Care menjelaskan, agenda Charity Konser ini dalam rangka menjangkau khalayak yang lebih luas dalam mendengarkan kembali lagu-lagu anak.

Mengingat banyaknya anak saat ini yang justru lebih mengenal dan lebih tertarik dengan lagu-lagu dewasa.

“Harapannya, bunda dapat menonton secara online, tidak perlu datang langsung,” ungkapnya.

Om Apip salah seorang komposer lagu anak-anak yang turut hadir dalam silaturahim tersebut, juga mengatakan, konser ini dapat menjadi terapi bagi anak-anak yang kemungkinan dapat mengalami stres ketika berada di rumah saja selama masa Pandemi Covid-19 ini.

“Kondisi anak di rumah saat ini sangat memprihatinkan, terlebih untuk orang tua yang masih awam akan kesusahan untuk memberikan terapi anak. Jadi tujuannya membantu orang tua untuk menerapi anaknya,” jelasnya.

AYA/HmsNTB




CHATASTROPE : Menengok Ulang Penyebab Ketertekanan Komunal yang Dihadapi Manusia

Lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd

MATARAM.lombokjournal.com —

TETAR LHO INDONESIA mementaskan pertunjukan ‘Chatastrope’ karya pengarang Irlandia, Samuel Beckett, dengan sutradaranya R. Eko Wahono, Jumat (24/07/20).

Pertunjukan yang dihadiri tidak banyak penonton karena aturan protokol kesehatan Covid-19 tersebut, menjadi pertunjukan ke-dua yang diselenggarakan Taman Budaya NTB pasca mewabahnya Covid-19.

Sebelumnya Taman Budaya NTB menghelat pertunjukan berjudul Sandiwara Merah Jambu dari kelompok Teater Kamar Indonesia, Minggu, (26/07/20).

Chatastrope merupakan naskah pendek Becket, bercerita tentang sebuah kelompok teater yang tengah melangsungkan latihan terakhir jelang pertunjukan.

Dimainkan oleh empat aktor: Sutradara (Achdiyat Kurniawan), Asisten Sutradara (Gilang Pratama) Aktor Utama (Ahmad Doom Rosyidi) dan Penata Lampu (Zulhadi), Chatastrope oleh Teater Lho Indonesia sebagaimana pengantar sutradaranya R. Eko Wahono, diniatkan sebagai refleksi dan representasi ketertekanan komunal masyarakat NTB dan dunia karena pandemi virus Covid-19 yang tengah mewabah.

Properti yang minim: hanya kursi, trap dan satu gantungan tempat costum, mampu membuat panggung hidup. Hal itu semakin terasa manakala tokoh sutradara dan asistennya terus berdialog tentang bagaimana seharusnya aktor berlaku di atas panggung.

Adegan demi adegan yang memperlihatkan bagaimana sosok sutradara begitu kuasa (diktator), terhadap asisten dan aktornya menjadi perlambang bagaimana kuasa-bisa berbentuk apa saja termasuk virus Covid-19, membuat seseorang mampu melakukan apa pun yang menjadi kehendaknya.

Dalam sesi diskusi seusai pertunjukan, banyak catatan menarik yang dilontarkan oleh beberapa penonton. Dalam hal ini diwakili beberapa teaterawan senior NTB seperti Majas Pribadi, Kongso Sukoco, Saipullah Sapturi, pun Wing Sentot Irawan.

Majas Pribadi dalam paparannya selain menyinggung sekilas tentang absurditas dari sisi teori, secara samar juga menyatakan bagaimana sutradara, R. Eko Wahono terkesan memaksakan para aktornya untuk memainkan naskah yang sebetulnya belum mampu mereka pahami.

Ada tahapan proses secara organis yang harus dilalui seorang aktor untuk sampai pada pemahaman tentang teater absurd. Proses organis tersebut dinilainya penting guna menghindari pemahaman instan yang saat ini gampang diperoleh seseorang melalui “artifisial intelegensia”.

Kesimpulan pemahaman aktor yang belum sampai pada tatanan organis itu, dijelaskan Majas dengan menyampaikan bagaimana ketegangan nuansa pertunjukan yang ingin diwakili tokoh aktor (diperankan Ahmad Dhoom Rosyidi) tidak diimbangi dua tokoh lain (sutradara dan asisten sutradara).

“Saya melihat, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang. Jadi dalam seni rupa, sebelum bicata surealis ngomong realis dulu. Kenyataan kita berada dalam kehidupan  asrtificial intelegensia, bahwa orang bisa belajar darimana saja, tapi tahapan-tahapan pematangan itu memang tidak bisa menjadi sangat instan. Saya nggak percaya. Saya melihat secara visual lumayan, ending bagus. Saya belum melihat bahwa Dhoom itu berdiri aja itu sudah bagus, dia gigil, dia nggak ngomong, tapi tidak diimbangi oleh dua pemeran yang lain,” paparnya.

Hal lain yang disampaikan Majas adalah tentang bagaimana semestinya pertunjukan tidak perlu terlalu dijelas-jelaskan. Penonton memiliki hak untuk menilai sendiri maksud pertunjukan sesuai kadar pemahamannya.

Hal itu penting dilakukan agar ketegangan yang dialami penonton murni ketegangan yang ditransfer oleh nuansa pertunjukan, bukan ketegangan personal penggarap pertunjukan. Transfer ketegangan nuansa pertunjukan kepada penonton akan sampai ketika pemerannya memiliki pemahaman yang cukup mengenai teater absurd.

“Bahwa pertunjukan ini tidak perlu dijelas-jelaskan. Bahwa dialog di pertunjukan ini tidak terlalu penting dalam pikiran-pikiran Samuel Becket. Tapi dijelaskan oleh bloking, moving itu ya, seluruh elemen yang ada di dalam. Saya melihat bahwa, memang absurditas itu bukan persoalan yang gampang,” terangnya.

Sementara Majas lebih menitik beratkan pada bagaimana pentingnya menilai kesiapan semua perangkat pertunjukan sebelum memilih naskah atau genre pertunjukan, Kongso Sukoco dalam memulai diskusinya berangkat dari pernyataan bahwa naskah-naskah Becket selalu berangkat dari realitas sosial.

Dari pernyataan tersebut, ia kemudian mengajukanpertanyaan apakah Sutradara R. Eko Wahono dalam menafsirkan naskah Chatasrtrope atau dalam bahasanya Kongso disebut malapetaka itu berangkat dari ketegangan psikologi manusia menghadapi pandemi Covid-19 yang dialami dunia saat ini?

Atau malapetaka itu muncul oleh sikap diktator para penguasa? Pertanyaan tersebut dilontarkan Kongso karena melihat malapetaka yang ditampilkan di dalam pertunjukan digambarkan dalam citra kediktatoran sutradara terhadap aktornya sementara dalam pengantar diskusi oleh sutradara R. Eko Wahono, diktatornya sutradara memiliki asosiasi dengan Covid-19.

“Becket selalu mengasosiasikan teaternya itu dengan situasi sosial. Saya tidak tahu apakah pementasan malapetaka ini yang seperti pengantar sutradara tadi juga berbicara situasi terakhir, situasi pandemi Covid-19? Yang kita itu jadi bodoh, kita ditakut-takuti, itu saya pikir bisa diasosiasikan dengan situasi sosial saat ini. Saya tidak tahu apakah Mas Eko Wahono tadi menafsirkan Chatasrope?” tanyanya.

Tidak begitu berbeda dengan Majas Pribadi dan Kongso Sukoco, pernyataan dua penanya lain dalam hal ini Saepullah Sapturi dan Wing Sentot Irawan juga menyatakan bagaimana absurditas belum sampai pada pemahaman para pemerannya di atas panggung. Sentot bahkan memberikan nasehat kepada R. Eko Wahono agar sebaiknya menjadi penulis ketimbang menyutradarai pertunjukan.

“Saya selalu bilang ke Eko, sebaiknya menulis saja,” katanya.

Sementara itu, R. Eko Wahono selaku sutradara menyampaikan jika pada dasarnya setuju dengan beberapa pernyataan yang dilontarkan. Akan tetapi, dalam praktik penyutradaraannya, Eko cenderung tidak tertarik dengan genre naskah. Sebab ia menganggap bahwa semua genre naskah pada dasarnya bisa disebut realis.

“Saya membaca naskah segelap Waiting for Godot saja, saya membaca dialog-dialognya sangat realis. Jadi sebenarnya yang absurd itu ya, cara berpikirnya saja,” ungkapnya.

Di luar itu, Eko pun mengapresiasi semua yang hadir pada pertunjukan tersebut. Hal yang menurut Eko membuatnya bahagia. Sebab momen pertunjukan bagi para pelaku teater tak ubahnya seperti momen lebaran di mana para pelaku teater bisa bertemu, berkumpul dan bertukar gagasan.

Untuk diketahui lakon Chatastrope merupakan drama pendek Samuel Becket selain Come and Go dan beberapa naskah lain. Oleh para kritisi teater, naskah-naskah Becket masuk pada genre teater Absurd.

Absurdisme sendiri adalah jenis teater yang dengan sengaja melanggar atau meninggalkan konvensi alur, penokohan, dan tema-tema yang umum dijumpai di dalam naskah teater beraliran realis.

Meskipun secara sekilas naskah absurd menunjukkan ketidaksingkronan antar adegan, jika dinikmati lebih dalam maka penonton yang awam pun bisa menemukan benang merah yang menghubungkan adegan per adegan di dalam naskah.

Asta




SANDIWARA MERAH JAMBU, Pertunjukan Teater Perdana di NTB Sejak Pandemi Covid-19

Teater Kamar Indonesia mementaskan pertunjukan teater dengan judul Sandiwara Merah Jambu karya sastrawan NTB Imtihan Taufan dengan sutradara Kongso Sukoco, hari Senin (06/07/20) lalu

MATARAM.lombokjournal.com

Pertunjukan Sandiwara Merah Jambu menjadi pertunjukan teater pertama di Provinsi NTB setelah wabah virus Corona (Covid-19).

Pertunjukan yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit itu berlangsung di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB. Pertunjukan yang dibuka Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Manan itu dihadiri penonton terbatas sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Menyiasati terbatasnya penonton yang hadir, pihak Taman Budaya dan pimpinan produksi Teater Kamar Indonesia, Nanik I. Taufan mencoba memanjakan penggemar yang tak bisa menonton secara langsung dengan menyiarkan pertunjukan Sandiwara Merah Jambu melalui tayangan langsung menggunakan media sosial.

Pada sambutannya, Lalu Manan menyampaikan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada Teater Kamar Indonsesia yang tetap ngotot melangsungkan pertunjukan meski di tengah pandemi atau wabah virus Corona. Hanya penonton yang jumlahnya terbatas yang menonton secara langsung.

Selain mendukung proses kreatif Teater Kamar Indonesia, Lalu Manan pada kesempatan tersebut juga menyampaikan perihal protokol kesehatan Covid-19 yang telah disiapkan pihak Taman Budaya untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan pertunjukan.

Sandiwara Merah Jambu merupakan pertunjukan yang digarap mandiri oleh Teater Kamar Indonesia untuk tetap menjaga semangat proses kreatif teater tetap maksimal. Maksimal yang dimaksud tidak hanya pada ranah artistik berupa pengemasan pertunjukan oleh sutradara dan aktor, tapi juga maksimal mempersiapkan pra produksi, produksi dan pasca produksi.

Persiapan pertunjukan Sandiwara Merah Jambu sendiri dimulai sejak bulan September 2019 tahun lalu. Kalau merunut tanggal dimulainya proses penggarapan sampai pertunjukan yang berlangsung 6 Juni kemarin, prosesnya telah memakan waktu 10 bulan.

Sebelum pertunjukan 6 Juli kemarin, pada bulan Maret yang lalu, Teater Kamar Indonesia membawa pertunjukan Sandiwara Merah Jambu menyeberang ke negeri jiran Malaysia untuk pertunjukan di dua titik lokasi.

Lokasi pertama di Petaling Jaya negeri Selangor dan yang ke dua, di  Gedung Pertunjukan Fakultas Seni Musik dan Seni Persembahan Universitas Pendidikan Sultan Idris Negeri Perak, Malaysia.

Namun karena kedatangan pandemi Corona yang di Malaysia, pihak kampus Universitas Pendidikan Sultan Idris mengambil kebijakan pembatalan semua kegiatan yang mengumpulkan masa dalam jumlah besar, termasuk pembatalan pertunjukan teater.

Karena itu, Teater Kamar Indonesia hanya bisa mementaskan pertunjukan Sandiwara Merah Jambu di satu lokasi yakni di Petaling Jaya, Selangor.

Sementara untuk pertunjukan di Taman Budaya seyogyanya dilaksanakan pada bulan April sepulang dari pertunjukan di Malaysia.

Tapi kebijaksanaan pemerintah Indonesia yang sama dengan pemerintah Malaysia yang melarang kerumunan masa dalam jumlah banyak, guna menghindarkan masyarakatnya terpapar virus Corona. Akhirnya, pertunjukan diundur sampai waktu yang tidak bisa ditetapkan.

Teater Kamar Indonesia

Baru hari Senin tanggal hari, 6 Juli  pertunjukan bisa dilangsungkan.

Salah satu yang menarik dari pertunjukan Sandiwara Merah Jambu hari Senin (06/07/2020) adalah respon penonton saat diskusi di akhir pertunjukan.

Salah seorang penonton yang juga seniman teater senior NTB. Majas Pribadi menyampaikan, apresiasi pada pertunjukan teater tak hanya selesai pada ranah menikmati suguhan pertunjukan, tetapi juga meliputi apresiasi pada ranah kritik pertunjukan.

Menurut Majas, pertunjukan yang bagus harus juga memantik penonton agar bertanya.

Dalam penyampaiannya, Majas menyebutkan dirinya menangkap kesan ragu-ragu dan setengah hati para pemain dalam berlakon. Hal yang juga terjadi pada suguhan musik pengiring dan penataan artistik panggung.

Menurut Majas, ada ketidaktegasan sutradara menentukan pilihan dramaturgi yang ingin dipakai sebagai pemandu menentukan warna pertunjukan.

Misanya, ditunjukkan Majas, pada keputusan memilih panggung prosenium sebagai tempat pertunjukan. Hal yang mengakibatkan para aktor menjadi tidak leluasa dalam melibatkan penonton agar ikut menjadi bagian pertunjukan.

Majas menjelaskan, pertunjukan teater seperti Sandiwara Merah Jambu harusnya menjadi perayaan bersama antara pemain dan penonton. Hal itu hanya mungkin terjadi jika pertunjukan Sandiwara Merah Jambu dilangsungkan di lapangan atau di panggung teater arena.

Karena hanya di tempat terbuka seperti tanah lapang dan di panggung teater arena lah yang paling memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara pemain dengan penonton.

“Teater hadir tidak dari ruang hampa. Ia selalu punya relasi dengan lingkungan sosial. Pertunjukan seperti ini menurut saya, idealnya memiliki relasi yang nyata dengan penonton,” ujarnya.

Meski demikian, Majas mengapresiasi, karena pertunjukan ini bisa dikritik. Kalau pertunjukan bisa dikritik maka itu artinya benar-benar sudah menjadi ‘pertunjukan’.

“Kalau pertunjukan itu tidak bisa dikritik dia belum berupa pertunjukan menurut saya. Sekali lagi selamat, anda saya kritik karena saya peduli, dan anda layak dikritik,” tambahnya.

Menjawab kritik Majas, Kongso Sukoco selaku sutradara menyatakan bahwa hadirnya penonton kritis seperti Majas Pribadi dibutuhkan oleh seni teater.

Terkait dengan pilihan pemanggungan dan keputusan memilih panggung prosenium menjadi tempat pentas yang dikritik Majas, Kongso menjawab dengan terlebih dahulu mengemukakan beberapa pemikiran tokoh teater eksperimental Erofpa seperti Jerzy Grotowsky atau kelompok Alfred Jerry Theater di mana tokoh teater eksperimental Francis Antoin Artaud menjadi bagian di dalamnya.

Kongso menjelaskan, di Eropa pada masanya Grotowsky maupun pada masanya Artaud mengalami kegelisahan mempertanyakan ulang pertunjukan teater di panggung proscenium. Menurut dua tokoh tersebut, panggung prosenium adalah simbol feodalisme dan simbol pengekangan kebebasan ekspresi seniman teater.

Berbeda dengan di EroPa pada masa dua tokoh tersebut, lanjut Kongso, teater tradisi di Indonesia justru sebaliknya, ia tidak hadir dari panggung prosenium.

Dan kegelisahan sebagaimana yang dialami tokoh-tokoh teater di Eropa tidak menghinggapi mereka.

Kongso membandingkan dua kenyataan teater tersebut untuk menyatakan, pilihan bentuk panggung pada pertunjukan teater hari ini tidaklah terlalu penting.

Dan teater seperti Sandiwara Merah Jambu yang bernuansa tradisi pun tidak perlu menghambat untuk pentas di panggung prosenium.

Selain itu, Kongso juga menegaskan, pertunjukan Sandiwara Merah Jambu yang bernuansa tradisi tidak bisa serta-merta disebut sebagai pertunjukan teater tradisi. Kendati nuansa pertunjukannya tradisional tetapi pilihan pemanggungan, sikap mental para aktor dan segenap pendukung yang terlibat berangkat dari pemahaman pemanggungan teater moderen.

“Ya itu masukan yang sangat bagus. Itu Grotowsky, itu pemainnya itu, dia tidak di prosenium, karena prosenium dianggap membuat jarak dengan penonton. Jadi panggung itu (dianggap) peninggalan lama. Zaman Yunani itu ada proseniumnya yang kemudian selama pertunjukan tidak ada komunikasi. Grotowsky menganggap panggung prosenium itu mewakili keYunanian, feodalisme yang mengintervensi diri, itu Grotowsky, atau Alfred Jerry, kelompok Avant Garde, jadi dia ingin merubah, jadi ada ideologi di situ, ada realitas sosial yang ingin dibongkar,” terangnya.

Terkait perbedaan persepsi dalam melihat panggung dan pertunjukan, Kongso menyampaikan bahwa itu hal yang wajar dan bagus untuk lebih mematangkan proses berkesenian di masa yang akan datang.

“Ini akan selalu menimbulkan diskusi, ada yang suka ada yang tidak suka, ada yang setuju ada yang tidak setuju, seperti juga ideologi sosial,” katanya.

Ast