Bunda Niken: Terus Angkat Potensi Seni dan Kasidah Kabupaten Bima

Pembinaan LASQI bukan sekedar lomba di tingkat kabupaten atau provinsi, bagaimana pembinaan dilakukan di tingkat kecamatan hingga desa

BIMA.lombokjournal.com

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (DPW LASQI) Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, menyampaikan harapannya agar Ketua dan pengurus DPW LASQI Kabupaten Bima, masa bakti 2021-2025, terus mengangkat dan mengembangkan potensi seni dan kasidah di Kabupaten Bima.

“Kabupaten Bima memiliki potensi yang sangat bagus di bidang seni dan kasidah. Bahkan kiprahnya sudah merambah tingkat Nasional, untuk mewakili provinsi NTB, dalam berbagai festival LASQI,”pesan Bunda Niken sapaan akrab Ketua DPW LASQI Provinsi NTB, saat melantik pengurus DPW LASQI Kabupaten Bima, Senin (12/4/2021) di kantor Bupati Bima Godo Kec. Woha.

Potensi ini harus di angkat dan dikembangkan. Agar bisa bersaing dengan Kabupaten yang ada di seluruh Indonesia.

Dalam pembinaan LASQI bukan hanya sekedar lomba di tingkat kabupaten atau provinsi, tapi juga bagaimana pembinaan dilakukan di tingkat kecamatan hingga desa.

Alangkah indahnya, apabila kesenian tradisional seni islam dan kasidah dapat diarahkan sebagai alternatif hiburan bagi masyarakat.

Sehingga anak-anak, remaja, hingga dewasa mencintai ini. Dan dapat dipentaskan pada kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

Disamping kasidah rebana, ada juga kasidah kolaborasi, yang menampilkan seniman tari, untuk ikut menampilkan performance yang indah dilihat dan didengar.

“Ini tanggungjawab LASQI, untuk terus perkenalkan seni islam dan kasidah,” harapnya.

Untuk itu, sinergi dan kerjasama antar pengurus yang memiliki potensi dan bakat dalam koreografer seni dan kasidah harus terus dibangun dan dijaga.

Ketua TP.PKK NTB ini juga mengapresiasi Ketua dan kepengurusan DPW LASQI Kabupaten Bima yang telah memiliki pengurus hingga tingkat kecamatan.

Terbukti hari ini, pelantikan pengurus DPW Kabupaten, juga sudah memiliki ketua DPW kecamatan.

“Ini tidak terlepas dari tangan dingin Ketua LASQI Kabupaten,” pujinya.

Dalam waktu dekat Provinsi NTB akan menjadi tuan rumah festival LASQI tingkat Nasional, yang direncanakan sekitar bulan Oktober 2021.

“Harapannya Kabupaten Bima, dapat menampilkan performance terbaiknya, dengan pengurus baru ini,” tutup istri Gubernur NTB.

Wakil Bupati Bima H. Dahlan M. Noer mengaku, terbentuknya LASQI ini dapat memberikan kemajuan bagi seni dan kasidah di kabupaten Bima.

Harus menjadi perhatian bersama, mulai bergesernya budaya lagu bernuansa religi dan seni islam di tengah masyarakat. Kegiatan sosial kemasyarakatan kini banyak di isi dengan lagu berirama dangdut campuran.

“Maka perlu diisi dengan seni budaya dan kasidah,” kata Wabup.

Tujuan lainnya adalah mendongkrak dunia pariwisata di Bima dan NTB pada umumnya.
“Apalagi kasidah ini sudah membumi di masyarakat Indonesia,” diingatkannya.

Sehingga semangat pengurus baru DPW LASQI Kabupaten Bima dapat memajukan dan meningkatkan seni dan kasidah di Bima.

Ketua DPW LASQI Kabupaten Bima Hj. Rostiati Dahlan, mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas keluangan waktu Ketua DPW LASQI Provinsi NTB, yang telah memberikan perhatian kepada pengurus baru.

“Terima kasih kepada Hj. Niken Saptarini, telah bersama kami hari ini,” kata ketua TP.PKK Kabupaten Bima.

Ia mengatakan akan terus berbenah dan membawa kepengurusan DPW LASQI Kabupaten Bima lebih baik lagi. Dan mensukseskan program pemerintah sesuai leading sektor lembaganya.

BACA JUGA:

Usai kegiatan tersebut, Ketua DPW LASQI NTB menyerahkan secara simbolis bantuan paket, untuk korban banjir di wilayah Kabupaten Bima, kepada ketua DPW LASQI Kabupaten Bima.

Pelantikan ini turut dihadiri Kepala Kemenag Kabupaten Bima, pengurus DPW LASQI Provinsi NTB dan Kabupaten Bima.

Edy
@diskominfotik_ntb)




Sukses Gelar Seni Nuansa Islam NTB, Pemanasan Jadi Tuan Rumah Lomba Qasidah Nasional 2021

NTB banyak pengalaman mensukseskan kegiatan berskala nasional

MATARAM.lombokjournal.com

Kesuksesan Pagelaran Seni Nuansa Islam Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di Taman Budaya NTB, adalah pemanasan bagi Provinsi NTB sebelum menjadi Tuan Rumah pada ajang Lomba Kasidah Nasional November 2021.

Ketua TP PKK NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah yang akrab disapa Bunda Niken mengungkapkan itu saat membuka acara pergelaran seni tersebut, Jum’at (09/04/21).

Ketua LASQI NTB ini menjelaskan, Bulan Oktober mendatang NTB akan jadi tuan rumah lomba kasidah nasional.

“Pagelaran Seni Nuansa Islam ini jadi pemanasan sebelum kita menjadi tuan rumah dan bersaing dengan penggiat kasidah se-Indonesia,” jelasnya.

Ibu kota Provinsi NTB , kota Mataram, terpilih menjadi tuan rumah Festival Qasidah Nasional, bagi 34 Provinsi pada November 2021 mendatang.

Bunda Niken menjelaskan, kota Mataram ini terpilih karena kesiapan fasilitas dan persiapan personel. NTB dinilai telah memiliki banyak pengalaman dalam mensukseskan kegiatan berskala nasional. Diharapkan kerja sama semua pihak untuk berkolaborasi dan bersinergi mensukseskan acara tersebut.

“Apakah kita sudah siap jadi tuan rumah dan menjadi salah satu juara? Perlu kerja sama semua pihak, kolaborasi dan sinergi di masa yang akan datang,” pesannya.

Seni di masa pandemi

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., pada kesempatan tersebut menjelaskan, Pagelaran seni nuansa Islam NTB ini merupakan moment untuk menampilkan seni di masa pandemi yang panjang ini.

Kata Furqan, secara umum masyarakat sudah lebih paham cara menghadapi Corona sampai seluruhnya mendapatkan vaksin dan kekebalan kelompok dapat tercapai nanti.

BACA JUGA:

Pergelaran seni bernuansa Islam NTB ini diisi berbagai penampil di antaranya, Grup LASQI FORSA Prov NTB, Grup LASQI Kemenag Kabupaten Lombok Timur, 3 vokalis solo LASQI FORSA Provinsi NTB, 2 vokalis LASQI FORSA Kota Mataram, Grup LASQI Anak-anak/remaja MTS Lotim, 3 Vokalis Solo LASQI KLU, 1 vokalis solo LASQI kabupaten Lobar, 2 vokalis Solo LASQI Kota Mataram.

Novita
diskominfotikntb




Maestro Sastra dan Mahaguru Puisi, Umbu Landu Paranggi, Wafat di Usia 77

MATARAM.lombokjournal.com

Sastrawan Umbu Landu Paranggi, yang dikenal menjadi guru puisi dan melahirkan banyak penyair ternama baik di Jogja maupun di Bali, telah berpulang. Kabar ini mengejutkan di kaangan sastrawan, khususnya penyair.

Tokoh sastra yang jarang muncul dipermukaan itu wafat di usia 77 tahun, di RS Bali Mandara sekitar pukul 03.55 Wita hari Selasa (06/04/21). Kesehatan Umbu melemah dan harus dirawat di rumah sakit sejak hari Sabtu (03/04).

Peyair muda Bali, Wayan Jengki Sunarta, menungguinya sejak Senin siang hingga Umbu menghembuskan nafas terakhirnya.

“Saya di sini dari kemarin siang. Sekarang masih menunggu kedatangan keluarganya,” kata Jengki.

Umbu yang lahir tanggal 10 Agustus 1943, di Desa Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur ini sejak di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah menunjukkan minatnya yang dalam di kesastraan. Dan ia menghabiskan masa produktifnya di Yogyakarta. Melalui puisi Solitude, Percakapan Selat, dan Melodia, ia menggambarkan sastra Yogya sebagai nostalgik, romantik, dan nyinyir.

Di Jogja Umbu pernah jadi pengurus Persada Studi Klub (PSK) ini juga dijuluki sebagai “Presiden Malioboro”.

Banyak pihak yang menceritakan, Umbu membimbing murid-muridnya di sanggar PSK Jogja, di antaranya yang menonjol yakni Emha Aiun Najib (Cak Nun), dan Linus Suryadi AG. Juga disebut Ragil Suwarno Pragolapati, hingga Iman Budhi Santoso.

Emha Ainun Najib mengenalkan kepada khalayak bahwa Umbu Landu Paraggi adalah gurunya. Bagi generasi masa kini sosok Umbu mungkin tak dikenal. Namun, anak-anak muda yang menjadi jamaah pengajian Maiyah-nya Emha Ainun Nadjib mengenalnya. Tapi yang pasti bagi mereka yang bergekut di dunia sastra pada dekade itu pasti tahu peran dan posisi dari Presiden Malioboro ini

Wartawan senior Bali Pos, Widminarko menceritakan, Umbu bergabung di Bali Post tahun 1979 dengan tugas khusus mengasuh rubrik puisi, di Pos Remaja tiap Sabtu dan Bali Post Minggu tiap Ahad.

Tentu saja Umbu datang tanpa membawa lamaran tertulis, tidak menyerahkan biodata, tidak ada yang tahu di mana ia bertempat tinggal. Dia datang langsung bergabung dengan Wayan Sayun, Made Taro, Putu Setia (menjelang pindah ke Tempo), Anom Ranuara, I Gusti Ketut Kaler, Cok Raka Pemayun, yang terlebih dahulu bergabung.

BACA JUGA:

“Umbu Landu Paranggi mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan apresiasi terhadap sastra, terutama puisi di kalangan generasi muda dan masyarakat luas,” tulis Widminarko di akun Faebook-nya.

Rr

 




Darurat Bencana Seni Pertunjukan di NTB

Pelaku teater belum relasi dengan penonton yang pada akhirnya, gagal menjadi cermin masyarakat untuk melihat dirinya

MATARAM.lombokjournal.com

Geliat seni pertunjukan, lebih spesifik lagi seni teater, di NTB sedang mengalami darurat multidimensi.

Oleh Teater Insomnia pimpinan Indra Putra Lesmana, gejala ini disebut bencana, karenanya dibutuhkan satu titik kumpul guna melakukan evakuasi, bergerak dari kesia-siaan menuju teater yang lebih kaya manfaat.

Dengan mengangkat tema ‘Titik Kumpul’, Teater Insomnia dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19, mengadakan kegiatan diskusi merumuskan ulang wajah teater NTB yang saat ini kesulitan mengidentifikasi dirinya.

Teater NTB kehilangan kekuatan dan kesadaran untuk merumuskan ideologi berkesenian, sunyi dari nuansa ‘puitika’ sebab tergoda oleh ‘teater dalam rangka’ yang lebih menjanjikan terjaminnya kebutuhan finansial.

Menghadirkan tiga narasumber, dua di antaranya pelaku teater senior yakni Kongso Sukoco dan Majas Pribadi. Kegiatan yang dihelat di cafe Bawah Pohon Kekalek Mataram cukup ramai dihadiri peserta–untuk ukuran kegiatan di masa pandemi.

Persoalan intrinsik dan ekstrinsik

Dalam paparannya, Kongso yang mendapat kesempatan pertama langsung mengajukan dua masalah teater NTB hari ini, yang pertama ‘masalah intrinsik’ dan yang ke dua ‘ekstrinsik’.

Dikatakan, persoalan intrinsik yang lekat dengan perdebatan sesama pelaku teater mengenai aspek estetika hanya terjadi di kalangan sesama pelaku.

Lain halnya dengan persoalan ekstrinsik berupa transaksi nilai pelaku teater melalui tontonan yang dibuat dengan masyarakat selaku penonton.

Untuk persoalan ke dua ini, banyak pelaku teater abai melihat kepentingan penonton dalam produksi pertunjukannya.

BACA JUGA:

Pelaku teater lebih asyik mengolah kegelisahan pribadi tanpa pusing merumuskan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Pelaku teater belum relasi dengan penonton yang pada akhirnya, gagal menjadi cermin masyarakat untuk melihat dirinya hari ini.

“Jadi kalau teater itu tidak ada yang mengapresiasi berarti tontonan itu dianggap tidak layak? Ini persoalan seni pertunjukan seperti halnya seni-seni lain ada dua. Ada persoalan intrinsik. Internal orang-orang teater sendiri, bagaimana dia punya konsep dan sebagainya yang semuanya berurusan dengan estetika. Kemudian ada elemen ekstrinsik di luar kelompok. Apakah tontonan terkait isu hangat,” terangnya. Minggu, (28/03/2021).

Selain dua persoalan di atas, Kongso juga menekankan perlunya pelaku teater membangun kepercayaan diri, memiliki kesadaran berproses dengan sungguh-sungguh. Sehingga menghasilkan tontonan yang tidak hanya disukai, tetapi juga membekas di benak masyarakat.

Alat perlawanan

Majas dengan latar belakang lulusan salah satu sekolah seni di Indonesia itu lebih menekankan pada persoalan ketakpekaan pelaku teater NTB kalau menengok embrio kemunculan awal teater di Indonesia.

Nash Ja’una

Ia memaparkan bagaimana para pegiat teater Indonesia awal lebih senang menggunakan istilah sandiwara ketimbang teater disebabkan makna sandiwara lebih dekat dengan psikologi masyarakat Indonesia.

Menurut Majas, embrio teater Indonesia bisa dirunut mulai dari zaman awal revolusi Indonesia, zaman orde lama, orde baru dan kemudian zaman reformasi sekarang ini.

Pada tiga fase awal, teater Indonesia memiliki tujuan lebih jelas, yakni menjadi alat melawan ketidakadilan penguasa.

Di zaman reformasi, hal tersebut hilang oleh terbukanya informasi yang begitu bebas. Karenanya, pelaku teater Indonesia harus kembali membaca ulang apakah keberadaan teater masih perlu? Jika pun perlu, siapa yang memerlukan?

Kaitan dengan banyak pegiat teater NTB yang sering mengeluhkan kurangnya dukungan finansial, Majas melihat itu sebagai ironi karena pada dasarnya, baik orang tua maupun bidan yang melahirkan teater Indonesia sama-sama berangkat dari semangat perlawanan.

Maka dari itu penting bagi pelaku teater memilih satu ideologi guna menguatkan diri dalam melawan ketidakadilan.

Hal senada disampaikan Novrizal Hamzah yang menjelaskan pelaku teater musti kembali menengok masyarakat penontonnya. Menurut Novrizal, menengok masyarakat bisa jadi bacaan awal pelaku teater NTB memulai gerak perjuangan kemanusiaan.

Ia meyakini hanya dengan menengok kembali ke masyarakat penontonnya, teater NTB bisa hadir sebagai bayangan ralitas terkini.

Selain diskusi, kegiatan juga dimeriahkan pertunjukan pantomim oleh Nas Jauna. Nomor pantomim yang dimainkan Nash tidak diberi judul, semata merespon tema diskusi. Kendati demikian, aksi memukau seniman asal Bima tersebut berhasil membuat penonton yang hadir terkesima.

Ast




Teater Insomnia Gelar Diskusi Seni Pertunjukan dengan Tema ‘Titik Kumpul’  

 Tanggapi Kondisi Darurat Seni Pertunjukan NTB

MATARAM.lombokjournal.com

Titik Kumpul dimaknai tempat pertemuan sementara (transit point) saat terjadi bencana atau keadaan darurat lain.

Saat ini, kondisi ‘darurat’ mulai menghinggapi seni pertunjukan. Setidaknya itu itu yang dimaknai kelmpok Teater Insomnia menanggapi detak kehidupan seni pertunjukan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hal ini ditandai oleh kesenjangan antara produk seni pertunjukan dan pasarnya. Karenanya, penting untuk membuat titik kumpul guna menjawab situasi darurat tersebut.

Teater Insomnia menghadirkan beberapa narasumber dari pegiat seni pertunjukan NTB seperti sutradara senior Kongso Sukoco, pegiat teater Majas Pribadi dan aktor muda Novrizal Hamzah.

Kegiatan sendiri akan dilangsungkan di cafe Bawah Pohon di Kekalek, Mataram pada hari Sabtu (27/03/21) pukul 20.00 WITA.

Selain bincang seni, kegiatan juga dimeriahkan pertunjukan pantomim oleh mimer kelahiran Bima, Nash Jauna.

Menurut Indra Putra Lesmana, pendiri Teater Insomnia, bincang seni Titik Kumpul diharapkan jadi titik pertemuan menemukan berbagai gagasan tentang seni pertunjukan menghadapi kondisi darurat seni pertunjukan saat ini.

Selain itu, untuk melihat sejauh mana posisi tawar seniman selaku penghasil produk di tengah-tengah masyarakat selaku pasar otonom seni pertunjukan.

Teater Insomnia ingin menegaskan, seni pertunjukan tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari realitas yang ada di tengah masyarakat. Karenanya penting untuk melihat ulang-alik hubungan karya para seniman dengan masyarakat penontonnya.

Ast

 




Mantra Ardhana, BERANI MELAWAN ‘KEKALAHAN’

Mantra Ardhana

MATARAM.lombokjournal.com

Bulan Agustus 2020, Nyoman Mantra Ardhana jatuh sakit, stroke. Sekitar dua minggu ia terbaring di rumah sakit, dan selama itu memorinya menguap. Tapi Mantra tidak menyerah, ia justru menyelami dengan intens dan mengungkapkan ‘masa gelap’ itu dalam karya-karyanya.

 

Dalam goresan cat air dengan media kertas gambar, jumlahnya mencapai ratusan, yang Sebagian besar sudah dipostingnya melalui akun Facebook, Mantra mengaku menjalani fase baru dalam ekspresi rupa.

Tidak seperti lazimnya (sebelumnya) ketika  ia berhadapan dengan media kanvas, ia selalu membua ruang jadi penuh. Seolah-olah hendak ditegaskan,  ekspresi itu baru disebut selesai saat media itu tak menyisakan ruang kosong.

Tapi di atas kertas, kita temui banyak ruang kosong. Tentu, bukan berarti ia membuat ‘corak’ baru. Siapa pun yang akrab dengan lukisan-lukisannya akan segera mengenali sosok, warna termasuk tipografi yang selalu muncul.

Melalui media kertas ia menyelami masa-masa ‘kekalahannya’, waktu jiwanya berontak dengan keinginan-keinginan, ternyata ia tidak mampu menunaikan hasrat itu. Tubuhnya tidak memenuhi keinginannya.

“(akhirnya) Saya kembali ke dasar, ke elemen-elemen sederhana, pikiran-pikiran sederhana, yang tidak bisa didefinisikan lagi,” kata Mantra.   

Seperti tipografi yang selalu muncul, ia hendak mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak memahaminya. Tipografi merupakan simbol yang menjadi tanda, yang mestinya mengantarkan pengertian, justru Mantra sendiri yang melukisnya tapi tak menangkap maknanya.

Bentuk huruf simbolis itu, seperti halnya bentuk, sosok dan warna lainnya, merupakan lukisan perasaan yang tidak dimengertinya.

“Saya merasakan perasaan tapi saya sendiri tidak tahu perasaan apa itu,” kata Mantra.

Daya hidup

NYOMAN MANTRA ARDHANA, lahir di Cakranegara 22 Agustus 1971, pernah mengalami masa pahit masa kecilnya. Ia lahir normal seperti bayi laki-laki lainnya. Saat beranjak besar, ia harus menghadapi kenyataan pahit, mengalami kelumpuhan kedua kakinya. Ia mengalami cacat kedua kaki, dan membuatnya harus selalu di kursi roda hingga kini.

Beranjak dewasa, Mantra mulai menemukan dirinya dan bisa mengatasi keterbatasannya.

“Saya tidak caat, saya hanya berbeda dengan orang lain,” kata Mantra tanpa perasaan inferior.

Mantra kerap mengatakan bahwa ia harus selalu bergerak, tumbuh dan ia bukan orang mati. Dalam  percakapan ia berterus terang tentang kekurangan tubuhnya, tapi ia yakin bisa mengatasinya.

Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lari, tapi bukan berarti ia tidak bisa bergerak maju. Mantra mengaku harus menemukan equal dari tindakan saat dihadapkan dengan keterbatasan.

Karena itu, Mantra tetap berkarya beberapa saat setelah sembuh dari sakitnya, dan menyelami memorinya yang sempat menghilang.

Mantra belajar banyak dari ayahnya, Wayan Pengsong, satu-satunya perupa Lombok yang mewarnai peta seni rupa nasional. Ayahnya mengajarkan perjuangan, keberanian menghadapi keterbatasan, ketegasan dalam sikap dan prinsip, dan tanggung jawab pada kehidupan termasuk keluarga.

Rr

 

 

 




Festival Qasidah Nasional Bulan November, Kota Mataram Siap Jadi Tuan Rumah

Dari segi fasilitas daerah dan kesiapan personil, Kota Mataram telah memiliki banyak pengalaman dalam mensukseskan kegiatan berskala nasional

MATARAM.lombokjournal.com

Pertemuan LASQI Kota Mataram dan LASQI Kabupaten Sumbawa Barat berlangsung di ruang tamu Pendopo Gubernur NTB, Selasa (19/01/21), penentuan tuan rumah Festival Qasidah tingkat nasional berskala kecil.

Pertemuan Yang digelar Ketua DPW Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah itu dihadiri oleh Ketua DPD LASQI Kota Mataram dan Ketua DPD LASQI Kabupaten Sumbawa Barat.

Festival Qasidah Nasional rencananya akan dilaksanakan di NTB bulan November 2021 mendatang.

Dalam pertemuan itu juga dibahas kesiapan anggaran maupun kesiapan fasilitas dan item yang dibutuhkan dalam perlombaan .

Bunda Niken menyampaikan, lomba dalam festivalitu akan diikuti sekitar 408 peserta dari 34 Provinsi. Kategori yang dinilai adalah bintang vokalis untuk kategori anak/remaja serta dewasa masing – masing putra/putri.

“Dengan adanya kegiatan festival ini semoga menjadikan kita lebih semangat dalam mengembangkan kesenian dan qasidah,” ungkap Bunda Niken.

Setelah diskusi berlangsung, akhirnya diputuskan Kota Mataram terpilih sebagai tuan rumah Festival Qasidah Nasional.

Karena dari segi fasilitas daerah dan kesiapan personil, Kota Mataram telah memiliki banyak pengalaman dalam mensukseskan kegiatan berskala nasional.

“Dari sisi fasilitas, personil dan dengan mempertimbangkan pengurus LASQI, InsyaAllah siap dan akan dilaksanakan di Mataram, dan pembahasan lebih lanjut akan dibahas pada pertemuan selanjutnya,” kata Bunda Niken.

Rr/BiroAdpim




The BADJIGUR BLUEGRASS Presentasi Lagu Album SEVENIUM PRE MILENIUM

Komunitas ER-KA-EM (Rumah Kucing Montong) yang dimotori Ary Juliant , selalu punya agenda yang perlu terus disimak. Selama tiga hari berturut-turut, dan berakhir hari Sabtu (16/01/21), menyelenggarakan Pekan ER-KA-EM, menggelar pemutaram film-film Iran, diskusi musik hingga presentasi album musik  

MATARAM.lombokjournal.com

Bertandang di komunitas ErKaEm selalu menangkap denyut semangat kreatif yang tak putus-putus. Ada nuansa saling memberi semangat, ada kepercayaan bahwa kreativitas (dalam kesenian) merupakan upaya memperbaiki kualitas hidup.

Itu juga yang tersirat dalam Pekan ErKaEm, Pada hari terakhir agenda Pekan ErKaEm itu didahului dengan pembacaan puisi oleh Julia Arungan, guru sekolah dasar di Nusa Alam yang saat mahasiswa dikenal aktif di Teater Putih FKIP Universitas Mataram.

Julia Arungan

Paris

Sabtu sore itu, pekan ErKaEm berakhir dengan presentasi musik Ary Juitant & The BADJIGUR BLUEGRASS yang hadir membawakan musiknya pada sesi musik kamar. Ary dan kawan-kawannya (Arif Prasojo, Wawan Wardaya dan Aditya) membawakan 7 lagu lama karya Ary Juliyant (1987 – 2006) yang diaransemen ulang di Studio ARIFTONE-nya Arif Prasojo.

Itu juga bagian dari progres garapan album baru nya SEVENIUM PRE MILENIUM  produksi FOLKOPI Rec AJ&F / ARIFTONE. Album itu berisi tujuh lagu; OVERHANG (Ary Juliyant),  DOWN IN TIMIKA ROADS ( Ary Juliyant), SALAM.KEPADA IKAN- IKAN.(Ary Juliyant),  AKU TIDAK TIDUR, MANIS (Ary J/ Kartawi/ Ammy K),  DELAPAN BARIS HUJAN GERIMIS (Ary Juliyant), KEPUNAHAN (Ary Juliyant), dan NYANYIAN DEWI (Ary Juliyant).

Oseng

Meski sore itu yang dipresentasikan hanya tiga lagu, antara lain Panjat Tebing, Delapan Baris Hujan Gerimis, dan satu lagu renungan tentang hutan di Papua, suara Ary dan musik The Badjigur Buegrass yang unik nyerempet keroncong menyentuh telinga dan rasa kemanusiaan penonton di ErKaEm sore itu..

Dan yang menarik dari Ary Juliyant adalah tetap konsisten dengan semangat gerilya keseniannya. Karena itu ia mengesampingkan dan menolak terjerumus dalam industri seni.

“Saya tidak menolak industri, tapi apakah mungkin misalnya industri musik membiarkan seniman tetap bebas dan utuh dengan ekspresi musiknya,” kata Ay Juliyan.

ka-es.




Film SAMOTA, Ungkap Kekayaan Alam dan Surga Pariwisata di Kawasan Timur NTB

MATARAM.lombokjournal.com

Film SAMOTA (teLuk SALEH, pulau MOYO dan kawasan gunung TAMBORA) dalam dua sesi merupakan film bergenre semi documenter, yang disutradarai sineas senior Indonesia, Adi Pranajaya.

Film tersebut diproduksi guna mengungkap dan menyampaikan ke dunia luar kekayaan alam dan budaya di kawasan bgia timur Provinsi Nusa Tenggra Barat (NTB).

Sutradara film Samota mengatakan,  meski durasi film Samota masing-masing 10 menit, film Samota dalam dua sesi menjadi film yang cukup menguras tenaga dan pikiran.

Bahkan disebut sebagai film ‘tersulit’ dari hampir ratusan film yang pernah digarapnya, sejak mulai berkarir sebagai sutradara film pada tahun 1994 silam.

Sesi pertama film Samota diberi sub-judul Perikanan, Pertanian, Perkebunan dan Kemaritiman. Pada film pertama ini, Adi mengupas potensi Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Gunung Tambora dari segi melimpahnya potensi alam dari mulai perikanan, pertanian, perkebunan dan kemaritiman.

Sesi ke dua dengan sub-judul Samota dalam bingkai Pariwisata mengupas jauh dan dalam kekayaan pantai dan laut Samota.

Dalam sesi dua film itu, Adi mendeskripsikan Kawasan Samota sebagai bakal surga yang menunggu sedikit polesan investor guna menjadi surganya pariwisata.

“Ini adalah persembahan untuk NTB kita yang lebih baik ke depan,” ungkap Adi dalam sambutannya.

Asisten II Setda Provinsi NTB H. Ridwansyah menyampaikan apresiasi tinggi untuk Adi Pranajaya yang dengan penuh kegigihan dan ketekunan berhasil menyelesaikan pembuatan film Samota.

Diharapkan, karya tersebut bisa jadi pintu masuk para pemerhati pariwisata dan kebudayaan untuk melebarkan sayapnya dengan berinvestasi di Samota.

“Kita berharap film ini semakin banyak ditonton, orang akan mengenal NTB bukan hanya Lombok, Mandalika, di timur ada Sumbawa. Ketika bicara Sumbawa, jawabannya adalah Samota,” kata Ridwansyah.

Ridwansyah menggambarkan pentingnya film sebagai media propaganda untuk kemajuan daerah. Ia menjadikan Bangka Belitung sebagai percontohan.

Pasca film Laskar Pelangi yang settingnya di Bangka Belitung, daerah tersebut menjadi tujuan banyak investor asing. Hal yang sama ia harapkan terjadi di NTB melalui film Samota.

“Kita ingin mengabarkan Samota ke dunia luar. Kalau tidak dikabarkan percuma. Pernah nonton Laskar Pelangi dan akhirnya Bangka Belitung mendunia. Tanpa banyak bicara, investor datang ke Belitung,” kata Ridwansyah.

Pemilihan gambar pada dua sesi film Samota banyak memperlihatkan keindahan bawah laut Teluk Saleh yang berair jernih tanpa polusi.

Di dalam laut diperlihatkan beragam spesies ikan dengan bermacam bentuk dan ukuran. Mulai dari ikan hias yang kecil-kecil hingga hiu paus berukuran besar yang ramah pada manusia.

Demikian halnya dengan Pulau Moyo dan Gunung Tambora yang digambarkan memiliki keindahan alam luar biasa yang patut untuk dikelola dan dijadikan objek wisata berkelas dunia.

Film Samota – diputar di Taman Budaya NTB, Rabu (16/12/20) — merupakan film ke tiga Adi Pranajaya yang semua kru-nya berasal dari NTB.

“Saya hanya membawa diri saya dari Jakarta. Semua dari NTB,” terang Adi Pranajaya dikenal banyak belajar film dari Teguh Karya.

Ast




Buka Pekan Budaya Daerah, Gubernur Dorong Sekolah Terus Berinovasi

Acara menarik ini diadakan guna memeriahkan Gelar Budaya tahun ini, di antaranya Gebyar SMK, Gebyar PK-PLK, Gebyar SMA, Pameran Pagelaran Seni, Gelar Seni Tari, Musyawarah Kebudayaan dan berbagai kegiatan lainnya

MATARAM.lombokjournal.com

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah membuka kegiatan Gelar Budaya yang berlangsung di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB, Senin (23/11/20).

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur mengapresiasi dan terkesan dengan berbagai terobosan yang dilakukan Dikbud Provinsi NTB, terlebih di masa pandemi seperti saat ini.

Hal ini diharapkan Gubernur dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi oleh jajaran Dikbud Provinsi NTB.

“Mudah-mudahan kekompakan ini bisa dijaga terus,” ucap Gubernur yang akrab disapa Bang Zul tersebut.

Ke depan, Bang Zul berharap Dikbud, Kepala Sekolah dan Sekolah-Sekolah yang ada di NTB dapat terus menghadirkan inovasi-inovasi demi kemajuan daerah. Sehingga, situasi pandemi Covid-19 tidak lantas menyurutkan semangat anak-anak muda NTB untuk tetap berkarya dan berprestasi.

“Selamat kepada para teman-teman Dikbud, yang dengan terobosan dan kreasinya yang luar biasa kita disuguhi hal-hal yang menarik. Saya begitu takjub dan terpesona oleh SMA dan SMK kita,” ungkap Bang Zul.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan melaporkan kegiatan Gelar Budaya merupakan rangkaian dari acara Pekan Kebudayaan Daerah, yang mulai berlaku diseluruh daerah di Indonesia mulai hari ini dan berlangsung pada bulan November.

“Karena dinas ini mengelola dua dimensi, pendidikan dan kebudayaan, maka kami menggabungkan dua dimensi itu, aktifitas kebudayaan dirangkaikan dengan ekspo untuk semester ini adalah ekspo pengolahan hasil bagi anak-anak SMK dan fokus konsentrasi di tata boga, kriya, tata busana dan sebagainya,” ujar Aidy.

Selain itu, Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan Gelar Budaya akan berlangsung selama satu minggu, tepatnya tanggal 23 sampai dengan 28 November 2020 ke depan.

Berbagai acara menarik diadakan guna memeriahkan Gelar Budaya tahun ini, di antaranya Gebyar SMK, Gebyar PK-PLK, Gebyar SMA, Pameran Pagelaran Seni, Gelar Seni Tari, Musyawarah Kebudayaan dan berbagai kegiatan lainnya.

“Oleh karena itu, rangkaian kegiatan kebudayaan ini berlangsung selama satu minggu dan nanti akan memperebutkan trofi Gubernur NTB bagi kabupaten/kota dan Insya Allah bupati/walikota yang hasil penilaian dari aktifitas kebudayaan selama satu tahun ini akan mendapatkan trofi Gubernur,” terangnya.

Rr/HmsNTB