Nasib Seni Tradisi KLU di Masa Pandemi

KLU.lombokjournal.com

Nasib kesenian tradisional saat pandemi Covid-19 terbilang memperihatinkan.

Pelarangan berkerumun dan pembatasan aktivitas sosial membuat para pelaku seni tradisi alami dilema, mempertahankan eksistensi berkesenian atau menaati protokol kesehatan.

Pilihan membatasi kegiatan berkesenian sepertinya jadi opsi sementara yang musti segera menemukan solusi.

Itu terjadi pada sanggar Gendang Beleq ‘Erat Emas’ di Desa Pendua Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Meski mengaku belum ada tawaran mengisi acara, sanggar Erat Emas memilih tetap aktif melakukan latihan dengan protokol kesehatan ketat.

Abdianto, Ketua Gendang Beleq Erat Emas mengungkapkan, pandemi Covid-19 harusnya tak menghalangi pelestarian seni tradisi.

Dikatakan, kendati sulit sebenarya masih ada beberapa opsi yang bisa dilakukan. Hal tersebut sekaligus menjaga semangat tetap produktif para pelaku kesenian di masa pandemi.

“Alhamdulillah kami tetap aktif latihan, tapi kita kurangi jadwal latihan dan mengikuti protokol kesehatan. Jadwal latihan yang sempit itu berdampak pada komunikasi atau shering dengan setiap anggota juga menjadi terbatas, terlebih lagi job menjadi kurang karena tidak diizinkannya acara yang mengundang kerumunan,” Kata Abdianto yang juga akrab disapa Uken, saat ditemui lombokjournal.com di kediamannya. Jumat (07/05/21).

Lebih jauh, Uken berharap ada upaya pemerintah memberikan ruang bagi pelaku seni tradisi eksis di sektor pariwisata KLU.

Tak seperti yang dialami selama ini, kesenian tradisi hanya untuk upacara adat atau uapara ritual.

Selain membuat kesenian tradisi tetap eksis, sinergi tersebut sebagai upaya memberi peran kesenian tradisional KLU untuk dunia pariwisata.

“Kami berharap, Gendang Beleq tidak hanya untuk acara adat saja. Tapi kami juga ingin Gendang Beleq ini sebagai daya tarik untuk mendorong kemajuan pariwisata alam yang ada di KLU ini,” ungkapnya.

BACA JUGA: Sumber Air Santong dan Sesait Volumenya Menyusut

Selain itu diperlukan dukungan lebih dari pemerintah dalam memperhatikan keberlangsungan seni tradisi yang ada.

Hal tersebut sekaligus jadi motivasi pelaku seni tradisi tetap bergairah, khususnya di masa sulit seperti sekarang.

Uken menjelaskan, rangsang motivasi tersebut diharapkan mengalir pada diri pemuda.

Karena banyak generasi muda yang  dilihatnya tidak tertarik sebagai pelaku seni tradisi, salah satunya disebabkan kurangnya apresiasi pemerintah.

BACA JUGA: Mi6: Wayang Sasak Terancam Punah

“Kelompok Gendang Beleq ini kami pertahankan juga sebagai wujud kepedulian kami selaku pemuda dalam melestarikan budaya local. Selain itu kami juga berharap bahwa setiap generasi di KLU ini tetap semangat dalam melestarikan kesenian tradisional kita,” harapnya.

Han




Mi6: Wayang Sasak Terancam Punah

LOBAR.lombokjournal.com

Pria paruh baya menggunakan kemeja putih itu, menggenggam wayang kulit putihan. Wayang yang belum jadi dan belum dicat sesuai bentuknya.

Amaq Darwilis namanya. Dia adalah penatah atau pengrajin wayang kulit Sasak asal Gunung Malang, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.

Di balik keindahan wayang miliknya, menyimpan masalah cukup pelik. Dia mulai krisis generasi penerus yang dapat mempertahankan budaya dari leluhur ini.

Pria berkumis berusia 65 tahun itu begitu semangat saat didatangi Lembaga Kajian Sosial Politik, Mi6.

Dengan semangat dia memperkenalkan wayang Sasak pada Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto dan Kepala Divisi Litbang Mi6, M. Zainul Fahmi, Jumat sore,  7 Mei 2021.

Dengan suara serak, Amaq Darwilis bercerita kekhawatiran akan punahnya wayang Sasak. Dia tidak memiliki generasi penerus di saat umurnya sudah cukup tua.

“Dulu bapak saya jadi penatah. Kakak saya dalang. Sekarang tersisa saya, bahkan anak saya kerja di kantoran jadi tidak bisa fokus,” katanya.

Amaq Darwilis ingin sekali mengajar orang-orang untuk membuat wayang Sasak, namun generasi saat ini belum ada yang tertarik terhadap wayang Sasak.

Bahkan, bantuan dari pemerintah tidak pernah didapat. Padahal, NTB adalah daerah pariwisata, sementara wayang adalah bentuk atraksi pariwisata yang menarik bagi wisatawan.

“Bantuan tidak ada. Pemerintah belum pernah datang ke sini,” imbuhnya.

Tidak mudah untuk membuat  wayang kulit Sasak. Apalagi dia bekerja seorang diri. Butuh waktu seminggu hanya untuk membuat satu wayang dengan melalui sejumlah proses.

“Ada beberapa proses pembuatan, mulai dari ngencang, dijemur, direndam, dikerik,” ujar Darwilis.

BACA JUGA:

Ngencang adalah proses membentang kulit sapi mentah di alat pembentang yang berupa bingkai dari bambu atau kayu. Sisa daging pada kulit akan dibersihkan.

Kemudian masuk ke proses jemur agar kulit itu kering dan kuat. Proses jemur cukup lama, yaitu 15 hari agar kulit sapi semakin kuat.

Setelah dijemur, kulit akan direndam selama satu hari dalam air. Baru setelah itu memasuki proses amplas (dikerik) sehingga bulu pada kulit hilang dan bersih.

Setelah itu wayang akan dibentuk dan dipahat. Itu membutuhkan ketelitian yang serius agar wayang dapat rapi dan indah.

Amaq Darwilis menjelaskan, wayang Sasak terdiri dari bagian yaitu wayang kiri dan kanan. Wayang kiri identik dengan tokoh jahat (antagonis), sementara wayang kanan identitas dengan tokoh baik (protagonis).

Namun lebih sulit untuk membuat wayang kiri, karena tokoh antagonis pada wayang memiliki banyak corak dan warna. Berbeda dengan tokoh protagonis yang digambarkan pada wayang kanan, cukup sederhana.

“Tapi kalau orang luar negeri akan membeli wayang kiri, karena lebih banyak corak dan warna,” ujarnya.

Dia mengatakan, dahulunya beberapa wisatawan mancanegara ke Lombok akan membeli wayang miliknya. Para turis ini lebih tertarik dengan wayang kiri yang memiliki corak yang ramai dan aneka warna.

“Wayang kiri karena banyak mahkota. Kalau wayang kanan itu biasa tidak, banyak aksesoris,” katanya.

Amaq Darwilis kini terancam tidak dapat membuat wayang. Selain karena tidak adanya generasi penerus yang membantu, dia juga kekurangan dana untuk membeli bahan kulit. Padahal momentum idul fitri nanti adalah waktu yang mudah menemukan kulit sapi.

Dia mengatakan, sama sekali tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal, Amaq Darwilis sangat diapresiasi di luar daerah. Dia mendapatkan penghargaan Jakarta dan Bali.

Tapi justru tak digubris di daerah asalnya. Dia hanya mempertahan budaya leluhur yang menjadi harta berharga masyarakat Sasak.

“Saya dapat penghargaan dari Bali dan dari Museum Wayang Jakarta. Kalau di NTB belum ada bantuan,” ujarnya.

Padahal, Amaq Darwilis sejak tahun 1968 sudah menjadi penatah wayang kulit Sasak. Bahkan, dalang tersohor Lalu Nasib selalu membeli wayang miliknya.

Butuh Perhatian Pemerintah

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto yang kerap disapa Didu, mengatakan pemerintah harus lebih serius memperhatikan para penatah yang menjadi penjaga budaya Sasak.

NTB, kata Didu adalah daerah wisata, sehingga peran penatah wayang Sasak tidak terlepas dari bagian atraksi budaya.

Didu merasa khawatir, jika para penatah wayang kulit Sasak telah tiada, maka salah satu budaya leluhur Sasak tersohor ini akan sirna bersama mereka.

“Jangan sampai kita menyesal ketika wayang kulit Sasak akan punah seiring habisnya para penatah yang menjadi penjaga kebudayaan Sasak ini,” katanya.

Keping demi keping kebudayaan Sasak harus direkat dengan benang penyekat. Benang itu adalah bantuan pemerintah yang terus membuat wayang Sasak bereksistensi.

“Maka bantuan pemerintah yang dapat menyelamatkan wayang Sasak dari ancaman kepunahan. Mulai berikan permodalan bagi para penatah dan mulai memperkenalkan wayang Sasak pada generasi,” imbuhnya.

Setali tiga uang dengan Mi6, Ketua DPD Sahabat Pariwisata Nusantara (SAPANA) NTB, Lalu Puguh Mulawarman, mengatakan keprihatinannya terhadap kesenian tradisional yang mulai tidak mendapatkan tempat di hati generasi.

“Kami merasa prihatin karena kesenian tradisional terkesan semakin dijauhi oleh kalangan anak muda. Cobalah kita liat kondisi Amaq Darwilis yang merasa risau karena tidak punya generasi penerus,” imbuhnya.

Generasi masa kini katanya, telah larut terhadap perkembangan teknologi dan gawai, sehingga “para penjaga budaya” mulai sirna seiring zaman.

“Mari kita liat saja kenyataan bahwa anak anak lebih mengenal tokoh kartun asing ketimbang tokoh dalam budaya sendiri, Bahkan, ada beberapa anak yang tidak mengenal sama sekali kesenian tradisional. Ini kemungkinan terjadi akibat kurangnya informasi dan pengajaran terkait kesenian tradisional khususnya pewayangan,” ujarnya.

Dia meminta semua stakeholder berperan untuk menyelamatkan wayang Sasak dari ancaman kepunahan akibat tidak adanya generasi penerus.

“Untuk itu, kami mengharapkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten yang ada di Pulau Lombok , pegiat pariwisata, budayawan, akademisi besatu padu dan semua unsur terkait untuk bersatubpadu meningkatkan dan mengembangkan inovasi guna memperkenalkan kesenian wayang Sasak kepada kalangan milenial sehingga rasa cinta dan bangga bisa tumbuh di hati mereka,” imbaunya.

Dia berharap, pembuat kebijakan  agar kesenian wayang ini dapat diperkenalkan secara formal melalui sekolah sekolah dalam bentuk kegiatan ekstrakulikuler, sehingga kesenian wayang Sasak khususnya yang terkait dengan proses produksi wayang Sasak ini tidak punah.

“Kita sangat khawatir apabila tidak ada upaya nyata pemerintah dan masyarakat maka wayang sasak menjadi hilang, terlupakan dan tergerus zaman,” katanya.

“Padahal, kesenian dan alat-alat tradisional mempunyai nilai-nilai filosofis yang syarat akan makna dan pendidikan bagi pemuda dan juga masyarakat secara luas,” ucapnya.

Me




Puisi Bisa Meningkatkan Kesehatan

Bulan April lalu, tepatnya pada 7 April merupakan Hari Kesehatan Dunia. Kita terpacu  berpikir bagaimana meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan emosional kita. Rekomendasi yang umum dari para ahli — seperti makan sehat, berolahraga, dan bermeditasi — tapi tahukah bahwa membaca puisi juga salah satu yang bisa meningkatkan Kesehatan. Faktanya, sains memberitahu kita bahwa puisi dapat berpengaruh pada segala hal mulai dari ingatan hingga pola tidur kita

lombokjournal.com —

Meningkatkan Pemikiran kreatif dan stimulasi kognitif

Sederhananya, berpikir dengan cara yang berbeda – seperti kita temukan dalam puisi – memberi  manfaat bagi otak. Dengan banyaknya bentuk dan penggunaan bahasanya yang unik, puisi menuntut banyak pikiran kita — dan hasilnya signifikan. Menurut sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan di Frontiers in Psychology, peserta yang membaca puisi menunjukkan peningkatan kefasihan linguistik dan fleksibilitas mental.

Membantu mengatasi rasa sakit mental dan fisik kronis

Para ilmuwan pernah melakukan pengamatan pada 75 orang yang mengalami nyeri fisik dan emosional kronis selama tiga hari, untuk membuktikan apakah berbagai bentuk terapi seni, termasuk puisi dan musik, bisa meredakan gejala nyeri mereka. Peserta menilai tingkat rasa sakit dan depresi mereka pada Skala Analog Visual dan Inventaris Depresi Beck. Studi tersebut membuktikan bahwa puisi secara signifikan mengurangi tingkat rasa sakit dan depresi. Lebih jauh, orang lebih cenderung untuk menggambarkan diri mereka sebagai “berharap” setelah waktu yang dihabiskan untuk membaca atau mendengarkan puisi.

Meningkatkan kualitas tidur

Membaca sebelum tidur terbukti dapat mengurangi stres pada tingkat tinggi, merilekskan stres bahkan lebih dari bentuk perawatan diri lain seperti mendengarkan musik, minum teh, atau berolahraga. Sebuah studi dari University of Sussex menunjukkan, membaca dapat mengurangi stres hingga 68 persen, mempersiapkan tubuh untuk tidur nyenyak tanpa gangguan. Sebagai perbandingan, mendengarkan musik memiliki tingkat keberhasilan 61 persen  dan berjalan-jalan meningkatkan tingkat relaksasi sebesar 42 persen.

Membantu ingatan tetap utuh

Dari terapi musik hingga terapi hewan peliharaan, banyak teknik yang bertujuan untuk meningkatkan proses memori dan mengurangi gejala demensia. Di Pusat Memori New York dan di fasilitas perawatan memori lainnya di seluruh negeri, kata yang diungkapkan dalam puisi telah diterapkan sebagai bentuk pengobatan demensia.

BACA JUGA; Adakah Negara yang Membenci Indonesia

Memperpanjang umur Anda

Bagi orang yang sering membaca puisi, menurut penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Social Science & Medicine, membaca secara teratur merupakan prediktor umur panjang pada orang dewasa yang lebih tua.

Penulis: Kara Lewis

read poetry

 




Peran Pemda Penting dalam Menerapkan UU PK

lombokjournal.com

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, menegaskan pemerintah punya komitmen tinggi untuk memajukan kebudayaan.

Namun, ia mengakui proses di lapangan tak mudah sehingga peraturan pelaksanaannya belum terbentuk.

“Supaya UU bisa dilaksanakan maka perlu ada peraturan turunan berikutnya. Seperti ada Perpres (Peraturan Presiden), Perda (Peraturan Daerah).  Masukan ini akan saya tindak lanjuti. Kalau masih ada masalah pendanaan, kuncinya ada di Kementerian Keuangan,” tuturnya.

Menurutnya, implementasi (UU) sangat tidak mudah, sebagaimana Undang-undangnya juga sulit dilahirkan. Ini termasuk bayi yang sulit lahir, Undang-undangnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, mengatakan draf Peraturan Pemerintah sebagai turunan UU Pemajuan Kebudayaan sebetulnya telah disiapkan dan kini sudah masuk di Sekretariat Negara.

Adapun perihal Strategi Kebudayaan, meski belum disahkan Presiden, telah ditindaklanjuti Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan melansir kebijakan yang merujuk pada strategi tersebut.

Ia pun menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah dalam menerapkan UU Pemajuan Kebudayaan.

“Kebijakan di daerah tergantung pada pemerintah daerahnya. Saran saya, kita buat forum di tingkat kabupaten/kota soal ini. Saya kira Pak Menko punya komitmen untuk duduk Bersama dengan teman-teman di daerah,” ucapnya.

Dimoderatori oleh salah satu pendiri Rumata’ Artspace, Lily Yulianti Farid, webinar ini dibuka dengan penampilan komika Sakdiyah Ma’ruf.

“Kita mau nanya soal Dana Perwalian Kebudayaan Pak. Kita senang lho, janjinya 5 triliun. Eh, dapatnya 2 triliun. Itu kayak mau nikah, dijanjikan mahar,” ujarnya berseloroh. “Eh, maharnya setengah, sudah gitu bayarnya pakai utang!”

Webinar ini adalah rangkaian dari kegiatan jangka panjang Koalisi Seni untuk mengadvokasi pemajuan kebudayaan.

Rr

Baca hal:  / 2  /  3  /

Baca hal sebelum: Pak Jokowi, Indonesia Darurat Budaya, Mana Janjimu?




Presiden Belum Sahkan Strategi Kebudayaan

lombokjournal.com

Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan (UU PK) itu mengamanatkan pemerintah memfasilitasi inisiatif warga negara untuk memajukan kebudayaan.

Sayangnya, meski sudah empat tahun berlalu, belum banyak amanat UU PK yang terpenuhi.

Koalisi Seni memantau ada 17 hal dalam UU yang harus dibuat peraturan pelaksanaannya dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres), Peraturan Pemerintah (PP), dan Peraturan Menteri dalam 2 tahun.

Sejauh ini, Perpres sudah ditetapkan, sementara PP terganjal dalam tahap harmonisasi karena Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati belum bersedia memberi paraf persetujuan pada drafnya.

Terlebih lagi, koordinasi lintas Kementerian/Lembaga memakan waktu lama.

Selain itu, semestinya Presiden segera mengesahkan Strategi Kebudayaan hasil Kongres Kebudayaan Indonesia 2018.

Tetapi, hingga kini strategi itu belum juga ditandatangani Presiden, sehingga isi dokumen tersebut tak sepenuhnya masuk Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional hanya bisa memasukkan isu kebudayaan ke dalam RPJMN tanpa didukung dokumen Strategi Kebudayaan dan Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan.

Sementara itu, tahun 2018, Presiden mengucap janji Dana Perwalian Kebudayaan (DPK) akan mendapat anggaran Rp5 triliun. Nyatanya, alokasi DPK di APBN 2021 cuma Rp2 triliun – tak sampai separuh komitmen awal – dan Lembaga Pengelola DPK tak kunjung dibentuk.

Pendeknya, Presiden belum mampu memajukan kebudayaan yang ia sendiri sebut sebagai DNA bangsa Indonesia.

Untuk mengatasinya, Presiden Joko Widodo harus segera beraksi dan membuang keraguannya. Ada tiga hal yang disarankan Koalisi Seni.

“Pertama, Presiden harus memerintahkan semua kementerian yang terlibat segera merampungkan penyusunan RPP tentang Pelaksanaan UU Pemajuan Kebudayaan. Kedua, ia harus segera menandatangani Strategi Kebudayaan, memerintahkan jajarannya menyusun Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan, serta memasukkannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional. Ketiga, Presiden harus segera merampungkan pembentukan lembaga pengelola DPK agar anggarannya dalam APBN dapat didistribusikan kepada masyarakat yang memiliki inisiatif Pemajuan Kebudayaan,” ujar Manajer Advokasi Koalisi Seni, Hafez Gumay.

Baca hal:  /Peran Pemda Penting dalam Menerapkan UU PK

 

 




Pak Jokowi, Indonesia Darurat Budaya, Mana Janjimu?

lombokjournal.com

Para seniman dan pegiat budaya menagih janji Presiden Joko Widodo dalam memajukan kebudayaan Indonesia.

Empat tahun selepas Undang-undang Pemajuan Kebudayaan (UU PK) disahkan, belum ada perkembangan berarti.

Kusen Alipah Hadi, Ketua Pengurus Koalisi Seni, menyerukan itu dalam siaran pers Koalisi Seni Indonesia, Selasa (27/04/21).

Pesiden Jokowi

“Pak Jokowi, Indonesia sudah darurat budaya. Ayo segera jalankan amanat Undang-undang Pemajuan Kebudayaan!” seru Kusen.

Kusen tidak sendiri, ia menyerukannya bersama lebih dari seratus seniman dan pegiat budaya. Mereka kompak mengenakan pakaian abu-abu dan hitam, menyiratkan kemandekan budaya bakal membuat hidup suram.

Tuntutan tersebut disuarakan dalam webinar “Maju Terus, Pantang Ragu: Empat Tahun UU Pemajuan Kebudayaan” yang diselenggarakan Koalisi Seni, Selasa (27/04/21).

Direktur Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, ikut memprotes kelambatan tersebut, meski menolak menempatkan pegiat seni budaya sebagai korban.

“Kita bantu gotong-royong, menyusun strategi agar Bapak Presiden melihat. Ini strategi kebudayaan untuk memajukan bangsa yang besar. Kalau ini nggak segera kita lakukan bersama, pekerjaan di lapangan tidak akan maksimal,” kata Anggota Koalisi Seni itu.

Adapun musisi Nova Ruth berbagi pengalamannya mengarungi samudera dunia dengan kapal seni budaya Arka Kinari.

Inisiatif tersebut tak banyak disambut Pemerintah Daerah maupun mayoritas Kedutaan Besar Indonesia.

“Jangan-jangan, nenek moyangku seorang pelaut itu hanya ‘katanya’? lalu, apakah UU PK itu juga, ‘katanya’?” ujar perempuan yang juga merupakan Anggota Koalisi Seni tersebut.

“Kebudayaan menentukan ekosistem lingkungan kita. Darurat budaya adalah darurat iklim juga, bencana budaya adalah bencana iklim juga. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang hanya responsif terhadap bencana.”

Disahkan pada 2017, UU PK adalah salah satu produk hukum yang baik karena menempatkan pemerintah sebagai fasilitator, bukan tukang larang.

Baca hal:  /3  / Presiden Belum Sahkan Strategi Kebudayaan




Presiden RI Tinjau Vaksinasi Seniman dan Budayawan 

lombokjournal.com

JAKARTA : 

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menyaksikan pemberian vaksin Covid-19 kepada 500 orang seniman. Mereka terdiri dari unsur budayawan, sastrawan, pelaku perfilman, pelaku bidang tari, teater, musisi, dan fesyen.

Vaksinasi bagi seniman dan budayawan itu berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Senin (19/04/21) pagi.

Pesiden Jokowi

“Pagi ini alhamdulillah kita sama-sama dengan seniman, budayawan, artis, musisi, dari teater seni tradisi. Semua kumpul di sini untuk vaksinasi. Semoga beliau-beliau bisa terlindungi dan tidak terpapar oleh Covid-19 agar bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa,” kata  Presiden Joko Widodo sesaat setelah meninjau pemberian vaksin.

Kata presiden, pandemi Covid-19 masih ada dan nyata di negara kita. Oleh sebab itu kita tetap harus ingat dan waspada, tetap tidak boleh lengah, tidak boleh menyepelekan yang namanya Covid-19.

Vaksinasi pada seniman merupakan bentuk kepedulian pemerintah untuk menggeliatkan kembali sektor seni dan budaya Indonesia agar segera bangkit dan pulih dari pandemi.

“Vaksinasi bagi seniman dan budayawan adalah bentuk kepedulian Bapak Presiden RI yang ingin sektor seni dan budaya segera bangkit dan pulih dari pandemi,” ucap Mendikbud dikutip dari laman kemendikbud.go.id.

Lebih lanjut dikatakannya, Kemendikbud hadir melindungi para penggiat dan pelaku kebudayaan di masa pandemi.

Saat meninjau vaksinasi seniman itu Pesiden  didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno.

Hadir beberapa budayawan, pelaku musik dan komedian yang diberikan vaksin pada kesempatan ini di antaranya adalah aktor senior Slamet Rahardjo Jarot, komedian Barata Nugraha atau Polo Srimulat dan Lies Hartono atau Cak Lontong, musisi Bimbim Slank, penyanyi Widi Mulia AB3 dan Edo Kondologit, penulis Ayu Utami, perupa Hanafi, koreografer Hartati serta perwakilan kelompok budaya Wayang Orang Bharata dan perwakilan kelompok pertunjukan Miss Tjitjih.

BACA JUGA:

Slamet Rahardjo Jarot mengungkapkan terima kasihnya kepada pemerintah yang telah melindungi rakyatnya dari pandemi Covid-19.

“Kita harus menjadi pelaku seni yang pandai berterima kasih dan pemimpin kita memberi maka kita terima kasih Bapak Presiden karena kami akan berkreasi lebih baik,” kata Slamet Rahardjo.

Musisi Bimbim Slank juga sangat antusias menunggu giliran untuk diberikan vaksin Covid-19.

BACA JUGA: “Semua Kelahiran Selamat, Semua Bayi dan Anak Sehat”

Cc




Cerita Wastra NTB Siap Bertarung di Nasional

Lomba ini dapat meningkatkan kebanggaan pemakaian kain tradisional NTB 

MATARAM.lombokjournal.com

Provinsi Nusa Tenggara Barat sukses menggelar acara Lomba Cerita Wastra 2021.

Para juara terpilih selanjutnya akan melenggang ke tingkat Nasional dan diharapkan mampu memperkenalkan kecantikan dan keeksotisan wastra atau kain tradisonal khas NTB pada seluruh masyarakat Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dekranasda NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, saat menggelar acara sesi foto bersama pemenang di Ruang Kerja Gubernur pada Rabu, 14 April 2020.

Sesi foto bersama tersebut juga dihadiri oleh Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah.

“Alhamdulillah dengan diselenggarakannya lomba ini dapat meningkatkan kebanggaan pemakaian kain tradisional NTB dan memasyarakatkan kembali wastra daerah kita,” jelas Bunda Niken sapaan akrabnya.

BACA JUGA:

Ketua Dekranasda NTB yang juga sebagai Bunda PAUD Nasional tersebut memaparkan terkait Lomba Cerita Wastra 2021.

Lomba ini digelar oleh Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Lomba ini digelar di Tingkat Provinsi kemudian pemenangnya akan kembali bertarung di tingkat Nasional.

Kegiatan yang digelar secara daring ini bertujuan untuk memperkenalkan wastra (kain tradisional) dalam bentuk kompetisi foto daring kebaya dan kain tradisional yang kemudian dirangkaikan dengan narasi “aku dan kain”.

Para peserta harus menceritakan relasi pribadinya dengan kain tersebut, sejarah hingga proses pembuatannya agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat.

Provinsi NTB sendiri menyelenggarakan Lomba ini selama dua minggu dan diikuti oleh 50 peserta dari Pulau Lombok dan Sumbawa.

Baiq Dewi Septemi (tengah), juara 1 lomba cerita Wastra NTB

“Saya berbangga karena antusias masyarakat NTB cukup besar dalam mengikuti lomba ini. Dekranasda Kabupaten dan Kota ikut berpartisipasi bahkan diikuti selebgram lokal. Semoga ini bisa meningkatkan awarness masyarakat NTB,” turur Bunda Niken.

Pemenang Lomba Cerita Wastra Provinsi NTB ini di antaranya, juara 1 dimenangkan oleh Baiq Dewi Septemi. Perempuan yang menetap di Kediri Lombok Barat tersebut mengkreasikan Tenun khas Lombok Barat, dengan atasan lambung yang dikombinasikan dengan kain Tenun Mareje ditambahkan kain tile agar lebih milenial dan bawahan kain Tenun Gumise motif gerimis.

BACA JUGA:

“Busana ini bisa dipakai pada kegiatan sehari-hari. Kita ingin menasionalkan ini agar kain tenun bisa dipakai tidak hanya saat acara resmi saja tapi dapat juga digunakan untuk daily look atau busana sehari-hari,” jelas Temi sapaan akrabnya.

Perempuan yang berprofesi sebagai perawat tersebut juga menjelaskan, jika tenun tidak hanya digunakan pada acara resmi saja maka akan meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga UMKM yang memproduksi tenun bisa diberdayakan secara ekonomi.

“Kalau saya pengen tetap terus mempromosikan kain tradisional NTB. Lewat lomba ini, kita menceritakan apa sejarah dan proses dibalik kain ini. Yang mana peran UMKM juga dibaliknya, sehingga bisa memberdayakan ekonomi mereka,” harapnya.

Sementara itu, Juara 2 diraih oleh Silva Iza Azizah dengan menggandeng model Syarifah Aisyah. Duo asal Dompu ini membawakan Tenun Tembe Nggoli dan Munapa’a khas Dompu.

BACA JUGA:

Sedangkan juara 3 diraih oleh Sri Mila Hardiana. Melaui UKM Ana Tenun Sukarara, ia membawakan kain Motif songket lolo jagung khas Sukarara.

Serta juara Favorit Ina Pariska yang membawakan Kain Songket Kiping Jempiring khas Desa Sukarare Lombok Tengah.

novita, diskominfotikntb




Bunda Niken: Terus Angkat Potensi Seni dan Kasidah Kabupaten Bima

Pembinaan LASQI bukan sekedar lomba di tingkat kabupaten atau provinsi, bagaimana pembinaan dilakukan di tingkat kecamatan hingga desa

BIMA.lombokjournal.com

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (DPW LASQI) Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, menyampaikan harapannya agar Ketua dan pengurus DPW LASQI Kabupaten Bima, masa bakti 2021-2025, terus mengangkat dan mengembangkan potensi seni dan kasidah di Kabupaten Bima.

“Kabupaten Bima memiliki potensi yang sangat bagus di bidang seni dan kasidah. Bahkan kiprahnya sudah merambah tingkat Nasional, untuk mewakili provinsi NTB, dalam berbagai festival LASQI,”pesan Bunda Niken sapaan akrab Ketua DPW LASQI Provinsi NTB, saat melantik pengurus DPW LASQI Kabupaten Bima, Senin (12/4/2021) di kantor Bupati Bima Godo Kec. Woha.

Potensi ini harus di angkat dan dikembangkan. Agar bisa bersaing dengan Kabupaten yang ada di seluruh Indonesia.

Dalam pembinaan LASQI bukan hanya sekedar lomba di tingkat kabupaten atau provinsi, tapi juga bagaimana pembinaan dilakukan di tingkat kecamatan hingga desa.

Alangkah indahnya, apabila kesenian tradisional seni islam dan kasidah dapat diarahkan sebagai alternatif hiburan bagi masyarakat.

Sehingga anak-anak, remaja, hingga dewasa mencintai ini. Dan dapat dipentaskan pada kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

Disamping kasidah rebana, ada juga kasidah kolaborasi, yang menampilkan seniman tari, untuk ikut menampilkan performance yang indah dilihat dan didengar.

“Ini tanggungjawab LASQI, untuk terus perkenalkan seni islam dan kasidah,” harapnya.

Untuk itu, sinergi dan kerjasama antar pengurus yang memiliki potensi dan bakat dalam koreografer seni dan kasidah harus terus dibangun dan dijaga.

Ketua TP.PKK NTB ini juga mengapresiasi Ketua dan kepengurusan DPW LASQI Kabupaten Bima yang telah memiliki pengurus hingga tingkat kecamatan.

Terbukti hari ini, pelantikan pengurus DPW Kabupaten, juga sudah memiliki ketua DPW kecamatan.

“Ini tidak terlepas dari tangan dingin Ketua LASQI Kabupaten,” pujinya.

Dalam waktu dekat Provinsi NTB akan menjadi tuan rumah festival LASQI tingkat Nasional, yang direncanakan sekitar bulan Oktober 2021.

“Harapannya Kabupaten Bima, dapat menampilkan performance terbaiknya, dengan pengurus baru ini,” tutup istri Gubernur NTB.

Wakil Bupati Bima H. Dahlan M. Noer mengaku, terbentuknya LASQI ini dapat memberikan kemajuan bagi seni dan kasidah di kabupaten Bima.

Harus menjadi perhatian bersama, mulai bergesernya budaya lagu bernuansa religi dan seni islam di tengah masyarakat. Kegiatan sosial kemasyarakatan kini banyak di isi dengan lagu berirama dangdut campuran.

“Maka perlu diisi dengan seni budaya dan kasidah,” kata Wabup.

Tujuan lainnya adalah mendongkrak dunia pariwisata di Bima dan NTB pada umumnya.
“Apalagi kasidah ini sudah membumi di masyarakat Indonesia,” diingatkannya.

Sehingga semangat pengurus baru DPW LASQI Kabupaten Bima dapat memajukan dan meningkatkan seni dan kasidah di Bima.

Ketua DPW LASQI Kabupaten Bima Hj. Rostiati Dahlan, mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas keluangan waktu Ketua DPW LASQI Provinsi NTB, yang telah memberikan perhatian kepada pengurus baru.

“Terima kasih kepada Hj. Niken Saptarini, telah bersama kami hari ini,” kata ketua TP.PKK Kabupaten Bima.

Ia mengatakan akan terus berbenah dan membawa kepengurusan DPW LASQI Kabupaten Bima lebih baik lagi. Dan mensukseskan program pemerintah sesuai leading sektor lembaganya.

BACA JUGA:

Usai kegiatan tersebut, Ketua DPW LASQI NTB menyerahkan secara simbolis bantuan paket, untuk korban banjir di wilayah Kabupaten Bima, kepada ketua DPW LASQI Kabupaten Bima.

Pelantikan ini turut dihadiri Kepala Kemenag Kabupaten Bima, pengurus DPW LASQI Provinsi NTB dan Kabupaten Bima.

Edy
@diskominfotik_ntb)




Sukses Gelar Seni Nuansa Islam NTB, Pemanasan Jadi Tuan Rumah Lomba Qasidah Nasional 2021

NTB banyak pengalaman mensukseskan kegiatan berskala nasional

MATARAM.lombokjournal.com

Kesuksesan Pagelaran Seni Nuansa Islam Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di Taman Budaya NTB, adalah pemanasan bagi Provinsi NTB sebelum menjadi Tuan Rumah pada ajang Lomba Kasidah Nasional November 2021.

Ketua TP PKK NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah yang akrab disapa Bunda Niken mengungkapkan itu saat membuka acara pergelaran seni tersebut, Jum’at (09/04/21).

Ketua LASQI NTB ini menjelaskan, Bulan Oktober mendatang NTB akan jadi tuan rumah lomba kasidah nasional.

“Pagelaran Seni Nuansa Islam ini jadi pemanasan sebelum kita menjadi tuan rumah dan bersaing dengan penggiat kasidah se-Indonesia,” jelasnya.

Ibu kota Provinsi NTB , kota Mataram, terpilih menjadi tuan rumah Festival Qasidah Nasional, bagi 34 Provinsi pada November 2021 mendatang.

Bunda Niken menjelaskan, kota Mataram ini terpilih karena kesiapan fasilitas dan persiapan personel. NTB dinilai telah memiliki banyak pengalaman dalam mensukseskan kegiatan berskala nasional. Diharapkan kerja sama semua pihak untuk berkolaborasi dan bersinergi mensukseskan acara tersebut.

“Apakah kita sudah siap jadi tuan rumah dan menjadi salah satu juara? Perlu kerja sama semua pihak, kolaborasi dan sinergi di masa yang akan datang,” pesannya.

Seni di masa pandemi

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., pada kesempatan tersebut menjelaskan, Pagelaran seni nuansa Islam NTB ini merupakan moment untuk menampilkan seni di masa pandemi yang panjang ini.

Kata Furqan, secara umum masyarakat sudah lebih paham cara menghadapi Corona sampai seluruhnya mendapatkan vaksin dan kekebalan kelompok dapat tercapai nanti.

BACA JUGA:

Pergelaran seni bernuansa Islam NTB ini diisi berbagai penampil di antaranya, Grup LASQI FORSA Prov NTB, Grup LASQI Kemenag Kabupaten Lombok Timur, 3 vokalis solo LASQI FORSA Provinsi NTB, 2 vokalis LASQI FORSA Kota Mataram, Grup LASQI Anak-anak/remaja MTS Lotim, 3 Vokalis Solo LASQI KLU, 1 vokalis solo LASQI kabupaten Lobar, 2 vokalis Solo LASQI Kota Mataram.

Novita
diskominfotikntb