Menonton “Unconscious”, Bunyi Menenggelamkan Kesadaran
Muncul kemungkinan pembacaan lain setelah menonton pertunjukan ini, tenggelamnya vokal bukan sekadar kelemahan, melainkan bagian dari strategi artistik
MATARAM.LombokJournal.com ~Menonton “Unconscious Theory” karya Mantra Ardhana – berturut-turut hari Jum’at dan Sabtu (3 – 4 April) di Taman Budaya NTB di Mataram — menghadirkan pengalaman yang tidak lazimdalam sebuah pertunjukan musik.
Nyra Maulida
Selama menonton kurang lebih satu jam, penonton tampak terpaku—bahkan terlambat menyadari bahwa pertunjukan telah usai.
Karya ini tidak bekerja sebagai konser musik dalam pengertian umum. Ia bergerak ke wilayah Seni Media Baru, di mana bunyi tidak lagi hadir semata-mata sebagai lagu. Tapi semata-mata melainkan sebagai material artistik yang membentuk pengalaman.
Pertunjukan itu tidak berdiri sendiri sebagai komposisi lagu. Menonton pertunjukan ini sebagai seni media pertunjukan itu melakukan pendekatan yang melibatkan visual/ruang. Bunyi sepanjang konser itu diperlakukan sebagai “material artistik”, bukan sekadar hiburan.
Mantra Ardhana menyebut pertunjukan ini sebagai ekspresi emosinya, yang berangkat dari wilayah bawah sadar. Dalam kerangka Psikoanalisis, wilayah ini bukan ruang yang rapi dan naratif, melainkan penuh fragmen, repetisi, dan ketidakteraturan. Hal itu terasa dalam komposisi bunyi yang tidak linear dan cenderung repetitif.
Namun, salah satu pengalaman paling mencolok justru terletak pada relasi antara vokal dan bunyi. Vokal Nyra Maulida, yang secara kualitas kuat dan ekspresif, kerap tenggelam dalam dominasi instrumen.
Pada awalnya, hal ini terasa seperti masalah teknis—ketidakseimbangan dalam pengolahan suara. Tetapi seiring berjalannya pertunjukan, dominasi bunyi tersebut berlangsung konsisten.
Di titik ini, muncul kemungkinan pembacaan lain setelah menonton pertunjukan ini, tenggelamnya vokal bukan sekadar kelemahan, melainkan bagian dari strategi artistik. Vokal—yang biasanya menjadi pusat dalam konser musik—justru dipinggirkan, seolah kehilangan ruang untuk hadir secara utuh.
Ini dapat dibaca sebagai metafora tentang kesadaran individu yang terdesak oleh “kebisingan” dunia luar. Individu tenggelam dalam lalu lintas dan hiruk pikuk keseharian.
Jika demikian, maka saya menangkapnya sebagai pertunjukan seni media baru, yang membuka kesadaran baru para penonton. Pertunjukan ini berhasil memindahkan fokus dari “apa yang didengar” menjadi “bagaimana mendengar”. Menonton pertunjukan ini tidak lagi mencari kejelasan lirik atau melodi, tetapi dipaksa masuk ke dalam pengalaman yang lebih instingtifdan bawah sadar.
Namun demikian, pertanyaan kritis tetap terbuka: apakah dominasi bunyi tersebut sepenuhnya terkelola sebagai pilihan artistik, atau sebagian masih menyisakan persoalan teknis?
Di sinilah karya ini berada dalam wilayah yang ambigu—antara keberhasilan konseptual dan potensi kelemahan eksekusi (persoalan tehnis).
Sebagai karya media baru, menonton “Unconscious Theory” tidak menawarkan keindahan yang mudah dicerna. Ia justru menghadirkan ketegangan, bahkan ketidaknyamanan. Tetapi justru melalui pengalaman itu, pertunjukan ini membuka kemungkinan lain dalam memahami hubungan antara bunyi, tubuh, dan kesadaran.
Apakah pertunjukan ini mewakili alam bawah sadar Mantra? Kehadiran “masa lalu” yang memberondong seperti simpang siur mimpi, tidak selalu logis tapi terasa “benar” secara emosional. kaes
Pertunjukan Media Baru, Mengapresiasi “Unconscious Theory”
Sebagai media baru, pertunjukan ini melibatkan visual (proyeksi, lukisan, atau video), serta eksperimen suara (noise, ambient, glitch)
MATARAM.LombokJournal.com ~ Konser musik yang disebut sebagai Pertunjukan Seni Media Barubertajuk “Unconscious Theory” akan digelar di Taman Budaya NTB, hari Jum’at- Sabtu (3-4 April 2026) malam. Komunitas Organic Mind yang digagas Mantra Ardhana, seperti biasa tidak semata-mata menyuguhkan komposisi musik.
Unconscious Theory (teori wilayah bawah sadar) pertunjukan media baru (yang membungkus konser musik) akan menarik karena pertunjukan itu tidak berdiri sebagai konser musik biasa. Pertunjukan tersebut lebih tepat dipahami sebagai persilanganantara seni rupa, bunyi, dan gagasan konseptual.
Mari kita mengulik secara jernih, upaya bisa melihat logika artistiknya, bukan hanya permukaannya. Dalam beberapa kali percakapan Mantra selalu menekankan, “Musik saya merupakan wujud seni rupa melalui bunyi,” begitu kira-kira ungkapnya.
Ketika Mantra Ardhana mengatakan bahwa musik adalah seni rupa melalui irama dan bunyi, ia sedang menggeser cara kita memahami pertunjukan musik.
Biasanya musik dinikmati melalui suara (didengar), sedang lukisan atau seni rupa dinikmati melalui wujud yang dipandang (dilihat). Maka dalam pendekatan Mantra memperlakukan bunyi seperti halnya kita menikmati garis, warna, dan tekstur
Ritme (= pola visua), Frekuensi suara (= warna) dan layer suara (= lapisan cat). Jadi Mantra bukan (laksana) sedang mendiptakan lagu tapi jutru sedang “melukis di ruang waktu” menggunakan suara.” Berarti penonton tidak hanya semata-mata menikmati bunyi, tapi menikmati komposisi seperti melihat lukisan yang hidup.
“Unconscious Theory” — Wilayah Bawah Sadar
Judul “Unconscious” merujuk pada wilayah bawah sadar—konsep yang kuat dalam psikologi, terutama dalam Psikoanalisa. Ini bisa ditafsirkan bahwa bunyi-bunyi yang muncul kemungkinan tidak linear, tidak naratif. Bisa repetitif, kacau, atau bahkan terasa “tidak selesai” Tujuannya bukan keindahan konvensional, tapi bunyi akan memicu respons batin
Ini seperti kehadiran “masa lalu” yang memberondong seperti mimpi, tidak selalu logis tapi terasa “benar” secara emosional
Ini paralel dengan banyak lukisan Mantra yang nyaris konsisten sebagai rupa simbolik, bayi bisa diartikan sebagai awal kehidupan, kesadaran yang belum terbentuk, kemurnian sekaligus kerentanan. Kalau dikaitkan dengan “Unconscious Theory”, bayi bisa dibaca sebagai representasimanusia sebelum dibentuk oleh bahasa, norma, dan sistem sosial.
Ini bisa diartikan, kira-kira musik yang diciptaka Mantra mencoba kembali ke bunyi primal, ritme tubuh, suara yang belum “terdidik” Ini bukan estetika yang rapi—ini estetika sebelum peradaban
Pertunjukan Media Baru: Bukan Sekadar Audio
Sebagai media baru, pertunjukan ini melibatkan visual (proyeksi, lukisan, atau video), serta eksperimen suara (noise, ambient, glitch), dan mesti dipahami kesadaran ruang sebagai bagian dari karya
Jadi penonton tidak duduk pasif seperti di tengah menonton pertunjukan konser musik. Tapi penonton diajak masuk ke dalam ruang pengalaman (immersive experience). Jadi karya seperti ini perlu pendekatan khusus karena mempunyai akar yang dalam. Pertunjukan Unconscious Theory sebagai seni konseptual : ide lebih penting dari bentuk, seni bunyi yakni suara sebagai medium visual/ruang, dan harus dipahami pertunjukan ini merupakan eksperimen lintas disiplin(musik dan rupa dan performans).
Baiklah, karya seperti ini dengan mindset “apakah ini enak didengar?”, jangan-jangan bisa mengeewakan. Tapi mari coba ubah pendekatan, dengarkan seperti membaca puisi, bukan lagu, rasakan tubuhmu, bukan hanya telinga, jangan lupa hubungan antara suara dan imaji
Apa yang muncul di pikiran saya? Apakah saya merasa tidak nyaman, kenapa? Apakah ada ingatan atau sensasi yang muncul? Ingat, tujuan karya ini bukan hiburan, tapi pengalaman kesadaran.
Karya seperti “Unconscious Theory” memang tidak mudah, bahkan bisa terasa membingungkan atau “tidak jelas”. Sebab seerti biasa, karya seperti ini menolak bentuk yang rapi, menolak makna tunggal, tapi mengajak kita masuk ke wilayah yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan
Bagi yang mendalami teater atau seni pertunjukan, pendekatan seperti ini penting, karena ini membuka kemungkinan baru tentang bagaimana tubuh, bunyi, dan makna bisa bekerja bersama di atas panggung.
Tapi percayalah, pertunjukan Unconscious Theory ini tetap menyisakan keindahan, kemerduan, dan harmoni. Sperti dalam karya lukisnya, Mantra condong bergaya surealis, tapi lebih sering membingkai “kemolekan”
Mantra Ardhana (director) akan tampil didamping nama yang tak asing Suradipa, dibantu Putu Sanjiwani dan Bustan Normagomedov, serta vokalis Nyra Maulida, yang selama ini dikenal sebagai pemain teater. Nyra Maulida akan menyanyikan 7 (tujuh) komposisi yang ditulis Mantra ; 1. A poem made of air 2. Kaliyuga 3. Menanam Rindu dalam sungai malam 4. Contemplation Childhood 5. Daun Djiwa 6. Oxygen poetry 7. Cosmic
OXYGEN POETRY
oh
oxygen poetry
oh
close your eyes
and let the world soften.
draw the breath inward,
let it shape you
gently,
slowly.
feel how the body listens,
how the soul unfurls
in the quiet.
you are a poem—
formless,
loving,
alive.
oh
organic mind
oh
kaes
Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan
Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan
MATARAM.LombokJournal.com ~ Tulisan-tulisan dalam buku ‘Catatan Perlawanan’ ditulis Prof Aba Du Wahid saat masih mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Arab (tamat 1994).
Prof Aba Du Wahid
Saat menulis catatan itu, Aba Du Wahid masih merasakan atmosfer kekuasaan rezimOrde Baru Soeharto. Sehingga catatan dalam tulisan itu merupakan semacam refleksi dari topik kekuasaan dan penindasan.
Tokoh yang dikenal sebagai oposisi penguasa represifOrde Baru, yaitu Arief Budiman memberi kata pengantar 16 catatan yang ditulis Aba Du Wahid, menyebutnya sebagai model ekspresicendekiawan, tipikal dunia batin dan realita generasi 80-90 an.
Arief Budiman menyebut ekspresi saat itu para cendekiawan tidak berteriak lantang. Ekspresi yang mengedepan hanyalah gerutuan dan bahkan gumaman. Seharusnya mereka bisa bicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Tapi yang keluar adalah eufemisme.
Meski demikian, “Sekalipun begitu, daya dobrak ekspresi seperti inii tidak kalah kuatnya,” tulis Arief Budiman.
Tapi demikianlah ekspresi dalam catatan-catatan yang ditulis Aba Du Wahid, perlawanan tidak selalu berteriak. Tulisan-tulisannya dalam Catatan Perlawanan ini justru sering berbisik. Dalam sejarah Indonesia, terutama pada masa Orde Baru, bisikan itu menjelma menjadi bahasa kebudayaan—sebuah cara bertahan sekaligus melawan ketika ruang politik dikunci rapat.
Pada masa Orde Baru, kekuasaan bekerja bukan hanya dengan aparat, tetapi juga dengan bahasa. Negara tidak sekadar mengatur tindakan, melainkan juga mengontrolcara berpikir dan berbicara. Kritik dibungkam, oposisi dilemahkan, dan wacana publik diseragamkan.
Dalam situasi seperti itu, bahasa resmi menjadi kaku, steril, dan penuh kepatuhan. Ia tidak lagi menjadi alat ekspresi, melainkan instrumen kekuasaan.
Para cendekiawan, termasuk mahasiswa, perlawanan tidak harus dengan cara frontalmelalui teriakan. Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan.
Bahasa Kebudayaan
Pada masa rezim Orde Baru, Aba Du Wahid menemukan cara lain untuk berbicara. Ia menulis catatan untuk tidak berhenti melawan dengan mengganti bahasanya.
Kebudayaan menjadi tempat persembunyian sekaligus medan perlawanan. Saat kritik politik dibungkam, panggung teater, puisi, dan humor menjelma menjadi ruang alternatif. Di sana, perlawanan tidak tampil sebagai slogan, melainkan narasi simbol.
Ia tidak berteriak, tetapi mengendap. Tokoh-tokoh dalam lakon tidak sekadar berperan, tetapi menyiratkan. Penonton pun tidak sekadar menyaksikan, tetapi membaca.
“Buku ini (Catatan Peralawanan, red) bukan karya sastra,” kata Aba Du Wahid.
Catatan-catatan yang ditulisnya diakuinya hanya cetusan begitu saja dari suatu pengalaman. Bisa jadi catatan ini memuat pesimisme dan optimisme serta kegamangan subyektifdalam menghadapi keadaan yang serba menindas (Pengatar Penulis).
Ada semacam kesepakatan diam-diam: yang tidak bisa dikatakan secara langsung, bisa dipahami bersama melalui tanda, perumpamaan, atau proyeksi. Inilah yang membuat perlawanan sebagai bahasa kebudayaan pada masa Orde Baru memiliki kedalaman yang khas.
Ia bukan hanya bentuk ekspresi, tetapi juga strategibertahan. Dalam tekanan, kebudayaan dipaksa menjadi cerdas. Sensor melahirkan kecanggihan simbolik. Represi, secara paradoks, memperkaya cara kita berbicara.
Dalam buku setebal 175 halaman (terbit tahun 2000) itu, Aba Du Wahid menulis catatan perjalanannya (mahasiswa era Rezim Orde Baru) dalam bahasa plastis, kisah-kisah dalam tanya jawab yang kritis.
Misalnya, ia memang berharap (pada masa Orde Baru) agar ‘kalau ada yang mau bicara apa pun jangan dibungkam’. Meski kemudian Wahid menyindir, (pada masa Orde Baru) bahwa ‘kritik boleh-boleh saja, protes sah-sah saja, tapi gue tetap tak mau dengar’.
“Mungkin kicau burung yang indah saja dikira auman harimau lalu mesti harus ditembak….” tulis Wahid (hal15)
Nasib Perlawanan Dalam akhir buku ini, Aba Du Wahid mengambil kisah simbolik Abu Dzar, yang dikenal sebagai sahabat Rasulullah, yang berani melakukan perlawanan frontal pada kekuasaan yang penuh kepalsuan dan menindas. Ini semacam proyeksi dari situasi pemerintah yang korup, penuh kepalsuan dan anti kritik yang dinilai sebagai perlawanan. Ia memimpin perlawanan dari kalangan tertindas
Abu Dzar datang sebagai sesama orang kecil yang menuntut hak-haknya, yang telah lama dirampas penguasa. Rakyat kecil kalau bicara mulutnya ditampar, Dan kalau bicara lagi nafkahnya diputus. Kalau tetap bandel akan dibredel dan dipenjara. Dan tujuh turunan akan dicap sebagai ‘anggota partai terlarang’.
Aba Du Wahid
Abu Dzar yang berani memimpin perlawanan bersama orang-orang tertindas, akhirnya dibuang ke daerah terpencil yang kering dan tandus. Ia bersama istri dan anaknya hidup dalam keadaan berat dan mengalami penderitaan yang tiada taranya.
Apakah kisah Abu Dzar merupakan proyeksidari nasib yang akan dialami para cendekiawan (yang hidup era rezim Orde Baru) yang berani frontal mengkritik penguasa?
Catatan Perlawanan buku reflektif Aba Du Wahid asyik dan layak dibaca untuk berkaca tentang situasi pada rezim Orde Baru yang menindas.***
Maestro Tari NTB, Mengangkat Tradisi Mampu Mendunia
Birokrat yang juga Maestro Tari ini menekankan pentingnya menghidupkan kreativitas, semangat menghasilkan karya=karya kreatif tak boleh padam
MATARAM.LombokJournal.com ~Lalu Suryadi Mulawarman, SSn. MM merupakan satu-satu seniman yang diakui sebagai Maestro taridari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Karya tarinya selain mengisi seremoni berbagai event nasional hingga internasional, hingga acara muhibah ke berbagai negara.
Ratusan karya tari sudah dihasilkan dan dipresentasikandengan SAK SAK DANCE, kelompok tari yang didirikan dan dipimpinnya sejak tahun 2001.
“Baru 24 karya tari yang mempunyai sertifikat hak cipta,” tutur sang Maestro, saat dijumpai di ruang kerjanya, Jum.at (27/03/26) siang.
Karya-karyanya mulai yang ditarikan kelompok anak-anak dalam lomba seni pelajar tingkat nasional, hingga pra penari yang diminta mengisi seremoniberbagai event tingkat nasional hingga internasional.
Baginya, pengakuan pemerintah yang menetapkannya sebagai Maestro bukan membuatnya menjadi tinggi hati. Justru menurut koreograferyang selalu hangat itu, ia menerima tanggung jawab besar untuk mendorong para seniman daerahnya agar terus berkarya dengan mengangkat khasanah tradisi NTB.
Dengan rendah hati ia mengakui, di NTB baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, selain kaya dengan khasanah seni tradisi. Selain itu, juga terdapat seniman-seniman pencipta seni tradisi yang layak mendapat apresiasi tinggi.
Para seniman sepuh itu memiliki dedikasi. Dan merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan karyanya menjadi warisan generasi penerus di daerahnya.
Contohnya, di seni tari ada Amaq Raya, di seni pedalangan ada dalang kondang Lalu Nasib, atau di seni teater tradisi Cupak Gurantang ada Amaq Yusuf, ketiganya sudah almarhum.
“Mereka itu semua merupakan maestro seni tradisi. Tapi untuk diakui pemerintah sebagai Maestro, mereka harus mempunyai portofolio karya-karyanya…,” tutur Surya
Mengikuti jejak para perintis pencipta seni tradisi di daerahnya, Surya menekankan pentingnya menghidupkan kreativitas. Semangat untuk menghasilkan karya=karya kreatif tak boleh padam.
Kreativitas merupakan api yang harus terus dihidupkan. Ini salah satu cara mengangkat khasanah seni tradisi NTB ke jenjang lebih tinggi dan luas.
Seni yang tumbuh dan hidup di lokal, harus diangkat agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan ke tingkat internasional (dunia).
“Kreativitas kita harus mengangkat khasanah lokal (tradisi) bisa mendunia,” tegas Surya.
Memilih Dunia Kreatif
Sejak muda, Lalu Suryadi Mulawarman, telah menekuni dunia tari. Semula ia belajar dari guru tari kondang di Lombok, yaitu H. Hamid. Dari guru tari yang piawai mengulik tari lokal itu, ia mulai banyak mengenal tari yang digali dari khasanah tari tradisi.
Namun minatnya yang besar di dunia tari, membuatnya terdorong belajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta.
Selesai belajar di IKJ tahun 2001, Surya memutuskan untuk kembali ke daerah di Lombok. Mendarmabaktikan ilmunya untuk kemajuan seni tradisi Sejak tahun 2001 ia mendirikan SAK SAK DANCE, tempat ia merekrutanak-anak muda berbakat, melatihnya, untuk menghasilkan karya seni tari yang berangkat dari khasanah seni tradisi.
“Setidaknya, terhitung setelah saya selesai di IKJ tahun 2001, berarti sudah 25 tahun saya intens mencipta di dunia kreatif,” tutur Surya.
Sejak itu pula ia mengajak anak asuhnya menggelar tarian di berbagai event. Tiap event penting, baik tingkat nasional maupun internasional yang berlangsung di NTB, selalu menampilkan kelompok tari SAK SAK DANCE. Harus diakui hanya kelompok tari ini yang siap untuk tampil di ajang event besar.
Dalam perayaan Hari Kemerdekaan tahun 2025, SAK SAK DANCE yang mewakili NTB untuk menampilkan tarian di Istana Kepresidenan.
Surya selama kuliah IKJ sUdah 3 kali tampil di Istana Kepresidenan. Meski bukan tampil yang pertama di Istana, tapi kebanggan tersendiri membawa rombongan tim kesenian NTB tampil di Istana..
Tim kesenian darr masing-masing Provinsi yang akan tampil di Istana Negara melalui kurasiyang ketat darr TIM Kepresidenan Sekretariat Negara. Mulai dari materi karya yang ditampilkan, kostum dan properti, semua harus sepengetahuan dan persetujuan dari Tim Kurator
“Penunjukan NTB juga Karena kesuksesan saat Opening Ceremony dalam pelaksanaan FORNAS VIII 2025 yang melibatkan 500 talent, inilah salah satu tonggak kami diundang,” cerita Surya
Kreativitas tari yang ditampilkan itu juga mengambil khasanah seni tradisi Sasak (Lombok).
Lalu Suryadi Mulawarman saat ini menjadi Kepala Taman Budaya NTB, dan maestro ini merupakan satu-satunya Kepala Taman Budaya yang berangkat sebagai pelaku seni.
Sehingga ia dalam tugasnya ia sangat dekat dengan seniman. Ia sangat memahami apa yang harus dilakukan, sesuai aspirasi seniman.
“Wilayah kerja Taman Budaya itu laboratorium seni, yaitu meningkatkan kualitas seni,” ujar Surya.
Karena itu ia sangat menikmati memimpin lembaga pemerintah yang bertugas meningkatkan kualitaskarya seniman.
“Saya tidak berambisi menduduki jabatan-jabatan yang membuat tenggelam dalam tugas-tugas, tapi menjauhkan saya dari dunia kreativitas seni. Sebab pilihan hidup saya di dunia kreatif,” tegas Surya. lbj
Puisi ke Nada: Perjalanan Lima Karya dalam “Ampenan Groove”
Beberapa puisi diolah dengan formasi full band, sementara yang lain cukup dengan piano atau instrumen sederhana
MATARAM.LombokJournal.com ~ Di sebuah ruang kreatif yang tidak selalu gaduh oleh tepuk tangan, puisi terkadang menemukan kehidupan keduanya, bukan lagi di halaman buku, melainkan di dalam nada.
“Ampenan Groove”
Dari ruang sunyi itulah lahir sebuah proyek musikalisasi puisibertajuk “Ampenan Groove”, yang meramu lima puisi dari buku Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil karya Agus K Saputra menjadi karya musikal yang bernapas baru.
Buku puisi yang terbit pada Maret 2020 itu awalnya hadir sebagai kumpulan refleksipersonal tentang kenangan, masa kecil, kehilangan, dan perjalanan batin.
Namun oleh musisi Pipiet Tripitaka, sejumlah puisi di dalamnya diterjemahkan kembali dalam bentuk musikalisasi. Lima puisi terpilih—Puspa, Terkoyak Ujung Mimpi, Kutulis Kata Maaf, Kereta Langit Sudah Datang, dan Selamat Jalan Kawan—disusun menjadi satu perjalanan musikal yang utuh.
Peracikan artistiknya berada di tangan kriszappa, yang bertindak sebagai produser sekaligus art director. Di tangannya, lima puisi tersebut dirangkai seperti alur cerita kehidupan, membentuk komposisi yang ia beri tajuk “Ampenan Groove”.
Sebuah nama yang tidak sekadar estetis, tetapi juga membawa suasana kontemplatif yang mengalir dari awal hingga akhir.
Kereta Langit Sudah Datang
Salah satu puisi yang paling memiliki jejak kenangan adalah Kereta Langit Sudah Datang. Puisi ini ditulis pada 6 Oktober 2014 dan judulnya terinspirasi dari cerita pendek karya Imtihan Taufan yang pernah terbit di surat kabar Suara NTB pada 4 Oktober 2014.
Bagi lingkar pertemanan kreatif di Mataram, nama Imtihan Taufan bukan sekadar penulis, melainkan bagian dari energi kesenian lokal.
Dalam catatan komunitas Akar Pohon, Imtihan dikenal sebagai penulis cerita pendek, novel, naskah lakon, hingga esai. Ia juga aktif di dunia teater bersama Teater Kamar Indonesia, terutama sebagai penulis naskah dan penata artistik.
Cerpennya Melawan Kucing-Kucing pernah terpilih sebagai cerpen terbaik Suara NTB 2014–2015. Kumpulan cerpennya Interior Nikolo bahkan diterbitkan secara anumerta pada 2015.
Kenangan terhadap Imtihan tidak hanya hidup di karya, tetapi juga dalam pertemanan sehari-hari. Bagi Agus K Saputra dan kriszappa, salah satu memori paling sederhana adalah berburu kaset-kaset lama.
Jika ada kabar tentang koleksi musik lawas di suatu tempat, mereka akan saling memberi tahu dan memburunya bersama.
Proyek “Ampenan Groove” sendiri rencananya akan dirilis pada 27 Maret 2026 di berbagai layanan streaming music populer antara lain Spotify, Apple Music, Youtube Music, setelah melewati proses kurasi dari pihak penerbit.
Namun di balik rencana rilis itu, yang menarik justru terletak pada proses penciptaannya.
Pipiet Tripitaka
Pipiet Tripitaka mengaku memilih puisi secara intuitif. Ia tidak membatasi komposisinya pada format tertentu.
Beberapa puisi diolah dengan formasi full band, sementara yang lain cukup dengan piano atau instrumen sederhana yang dianggap paling mampu menerjemahkan makna puisi.
Menurutnya, nada yang lahir merupakan interpretasi pribadi terhadap kata-kata penyair. Ia juga sengaja tidak mengurung karya tersebut dalam genre musik tertentu.
Bagi Pipiet, musik harus tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin menikmatinya, entah mereka menyebutnya jazz, pop kreatif, atau genre lain.
Dalam pandangannya, musikalisasi puisi adalah proses peleburan dua bahasa seni: kata dan nada. Ketika keduanya menyatu, publik bahkan mungkin tidak lagi menyadari bahwa yang mereka dengarkan berawal dari puisi.
Di titik itulah “Ampenan Groove” menemukan identitasnya sebagai karya otentik.
Dari lima puisi yang digarap, Pipiet mengaku memiliki kedekatan khusus dengan Kereta Langit Sudah Datang. Puisi itu baginya seperti cara yang menyenangkan untuk mengenang Imtihan Taufan.
Kenangan yang tidak selalu muram, tetapi tetap hangat dan hidup.
Karena itu, muncul pula gagasan spontan: mungkinkah album mini ini menjadi semacam penghormatan bagi Imtihan? Sebuah tribute yang lahir bukan dari rencana besar, melainkan dari pertemanan dan kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
kriszappa sendiri memaknai “Ampenan Groove” sebagai perjalanan batin manusia. Ia menggambarkannya seperti fase kehidupan yang berlapis.
Dimulai dari Puspa sebagai simbol harapan dan keindahan hidup. Lalu datang fase Terkoyak Ujung Mimpi, ketika realitas mulai menguji harapan.
Setelah itu muncul refleksi dalam Kutulis Kata Maaf, hingga kesadaran bahwa hidup terus berjalan bahkan ketika seseorang harus turun dari perjalanan, seperti dalam Kereta Langit Sudah Datang.
Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah satu kalimat sederhana: Selamat Jalan Kawan.
Di sanalah musik dan puisi bertemu, bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai cara manusia berdamaidengan waktu, kenangan, dan kehilangan.
Sebab kadang-kadang, sebuah puisi tidak selesai ketika ditulis. Ia baru benar-benar hidup ketika dinyanyikan. AKS
Kelokalan Lombok; Transformasi dari Antigone ke Dende Tamari (2)
Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM tidak hanya mengalihkan teks Sophocles, tapi juga melakukan “penanaman ulang makna”, bertransformasi dalam kelokalan Lombok
Catatan : Agus K. Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Transformasi Antigone ke dalam konteks Lombok bukan hanya tindakan artistik, melainkan juga tindakan politis yang mendalam.
Di tangan Bengkel Aktor Mataram (BAM) dan sutradara Kongso Sukoco, kisah klasik Yunani itu tidak lagi menjadi teks asing yang berdiri di atas menara Barat, melainkan tumbuh seperti benih yang menemukan tanah subur baru di tubuh budaya lokal, khususnya kelokalan Lombok.
Dari tanah itu, tragedi Yunani menumbuhkan bunga-bunga dengan aroma dan warna khas Nusantara: spiritualitas, adat, dan relasi sosial yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Lombok.
Kongso tidak sekadar menerjemahkan teks Sophocles. Ia melakukan sesuatu yang lebih mendasar: “penanaman ulang makna”, bertransformasi dalam kelokalan Lombok.
Ia menolak untuk tunduk pada pandangan kolonial yang sering menempatkan teks-teks Barat sebagai pusat. Sementara tradisi lokal, misalnya kelokalan Lombok, hanya berfungsi sebagai pelengkap eksotis.
Dalam Dende Tamari, yang universal menjadi lokal, dan kelokalan Lombok menjelma universal. Di situlah letak kekuatan adaptasi ini: ia tidak memuja sumbernya, melainkan berdialog dengan kritis.
Lakon ini menunjukkan bahwa teater bukan sekadar tiruan atau penerjemahan, tetapi bentuk negosiasi nilai budaya. Ketika Antigone berpindah dari tanah Thebes ke tanah Lombok, ia tidak kehilangan rohnya—ia justru mendapatkan kehidupan baru.
Dende Tamari, sang tokoh perempuan, bukan hanya pantulan Antigone, tetapi juga wujud nyata perempuan Lombok yang hidup di tengah adat, agama, dan kekuasaan patriarki.
Tragedi sebagai Cermin Sosial
Kongso memahami tragedi bukan sebagai kisah kehancuran, tetapi sebagai jalan menuju kesadaran. Dalam pandangannya, tragediselalu mengandung pertanyaan: sejauh mana manusia sanggup mempertahankan kemanusiaannya di tengah tekanan kekuasaan dan hukum yang kaku?
Ketika seseorang jatuh karena mempertahankan prinsipnya, ia sesungguhnya sedang menyingkapkan kemurnian manusia yang paling sejati.
Dalam Dende Tamari, tragedi menjadi cermin bagi masyarakat kita hari ini. Kita masih menyaksikan bagaimana kekuasaan bisa menentukan siapa yang hidup dan siapa yang harus dilenyapkan, siapa yang dimuliakan dan siapa yang dihapus dari sejarah. Kekuasaan yang kehilangan nurani selalu melahirkan penderitaan.
Di tengah kondisi seperti itu, Dende Tamari tampil sebagai simbol: ia melawan bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan keberanian moral.
Kehadiran lakon yang mengusung kelokalan Lombok ini, di tengah masyarakat Lombok menjadi relevan, karena ia memotret relasi kuasa yang hidup di antara hukum adat, agama, dan politik lokal.
Dende Tamari menolak tunduk pada tatanan yang semena-mena, tetapi ia tidak kehilangan kesantunan. Perlawanan yang ia lakukan bukan bentuk pemberontakan destruktif, melainkan ekspresi dari cinta dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan.
Kongso percaya bahwa setiap karya seni harus berpijak pada tanah di mana ia berdiri. Karena itu, Dende Tamari dihadirkan dalam kelokalan Lombok.
Tembang/nyanyian tradisi: suara penyanyi tradisi bukan hanya latar bunyi, tetapi jantung pertunjukan. Ia mengalun seperti doa, sekaligus jeritan, mengikat penonton pada akar leluhur mereka.
Kostum lokal: kain-kain tradisional menjadi penanda identitas, sekaligus simbol keberanian. Setiap lipatan kain menyimpan cerita, setiap warna merekam makna. Kostum tidak sekadar busana, melainkan bahasa visual yang menggemakan keanggunan sekaligus perlawanan.
Ruang tubuh & gestur: saya membiarkan aktor bergerak dengan bahasa tubuh yang berakar pada keseharian lokal, pada gestur yang lahir dari tradisi, bukan dari tiruan barat.
Dengan begitu, Dende Tamari bukan hanya terjemahan Antigone ke dalam bahasa Indonesia, tetapi sebuah transformasi yang menanam tragedi klasik di tanah Nusantara, lalu membiarkannya tumbuh dalam kelokalan Lombok..
Estetika Dende Tamari tidak lahir dari imitasiBarat. Sebaliknya, ia berakar dari tubuh dan ingatan masyarakat Lombok itu sendiri. Bahasa tubuh aktor, ritme gerak, hingga tembang yang mengiringi setiap adegan, semua menggali dari tradisi lokal. Ketika para aktor menunduk, menenun, atau melangkah di panggung, tubuh mereka memanggil kembali memori kolektif masyarakat yang nyaris hilang: tentang ibu, tentang tanah, tentang spiritualitas yang sederhana namun dalam.
Kongso menjadikan tubuh aktor sebagai wadah ingatan. Ia memperlakukan gerak bukan sebagai ekspresi formal, melainkan sebagai bentuk doa. Tembang tradisional yang mengalun dalam pertunjukan tidak sekadar menjadi latar bunyi, tetapi menjadi “napas” pertunjukan.
Kadang ia bergetar seperti ratapan, kadang mengalun seperti doa, menghadirkan suasana magis yang membuat penonton merasa sedang berada di antara dunia nyata dan dunia batin.
Dalam konteks ini, Dende Tamari menjadi ruang di mana estetika dan etika bertemu. Keindahan yang hadir di atas panggung bukan semata keindahan visual, melainkan keindahan moral: keindahan tentang keberanian, kejujuran, dan pengorbanan.
Dende Tamari bukan sekadar sebuah pertunjukan. Ia adalah pernyataan politik—sebuah kesaksian bahwa seni masih bisa menjadi ruang perlawanan yang indah. Di tengah dunia yang bising oleh propaganda, media sosial, dan kekuasaan yang saling berebut narasi, teater seperti ini menjadi ruang sunyi di mana manusia dapat kembali berdialog dengan nuraninya sendiri.
Kongso dan BAM menegaskan bahwa teater tidak boleh tunduk pada pasar atau sekadar menjadi hiburan. Ia harus menjadi ruang refleksi, ruang pendidikan batin, dan ruang kesadaran sosial. Panggung adalah tempat manusia menelanjangi dirinya, tempat di mana nilai-nilai diuji, dan tempat di mana kebenaran dipertaruhkan.
Ketika Dende Tamari memilih untuk tetap setia pada keyakinannya meskipun tahu konsekuensinya adalah kematian, ia sedang menunjukkan bentuk tertinggi dari keberanian moral. Ia membuktikan bahwa keindahan sejati tidak selalu terletak pada kemenangan, tetapi pada keteguhan hati untuk tetap berpegang pada nurani.
Tonggak Perjalanan Bengkel Aktor Mataram
Sebagai karya ke-63 dari perjalanan panjang Teater BAM, Dende Tamari menandai kedewasaan artistik dan konsistensi ideologis Bengkel Aktor Mataram. Sejak berdirinya, kelompok ini telah menjadi laboratorium kreatif yang berani menggali akar budaya lokal untuk berdialog dengan dunia.
Dalam setiap karyanya, mereka menunjukkan bahwa teater bukanlah ruang nostalgia, tetapi arena untuk memproduksi makna baru.
BAM tidak sekadar mementaskan lakon, tetapi membangun wacana terkait kelokalan Lombok. Mereka membuktikan bahwa teater bisa menjadi wadah bagi kritik sosial dan spiritualitas sekaligus.
Dalam Dende Tamari, segala elemen teater — naskah, tubuh, musik, dan ruang — disatukan dalam satu kesadaran artistik yang utuh.
Bagi generasi muda teater di Lombok, Dende Tamari adalah pelajaran yang tak ternilai. Ia mengajarkan bahwa teater bukan sekadar tempat bermain peran, melainkan ruang untuk meneguhkan keberpihakan pada manusia.
Ia juga mengingatkan bahwa kreativitas sejati tidak selalu berarti sesuatu yang baru, tetapi sesuatu yang jujur pada akar budaya dan konteksnya.
Kongso Sukoco (baju biru) saat menyutradarai adegan Dende Tamari dalam kelokalan Lombok / Foto : Ags
“Saya persembahkan karya ini untuk semua yang masih percaya bahwa panggung adalah tempat kita merawat kemanusiaan,” kata Kongso. Kalimat itu bukan sekadar penutup, melainkan manifesto: bahwa seni masih punya tempat di dunia yang kehilangan arah moral.
Penekanan kelokalan Lombok dalam lakon Dende Tamari, merupakan bukti bahwa tragedi tidak pernah benar-benar berakhir.
Ia terus hidup dalam tubuh-tubuh yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan, dan berkata “ya” pada kemanusiaan.
#Akuair–Ampenan, 24 Oktober 2025
Adaptasi Antigone dalam Kelokalan Lombok (1)
Maka dalam adaptasi lakon Dende Tamari bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal
Catatan : Agus K. Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Di tengah rutinitas kehidupan teater di Mataram, Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM kembali menghadirkan getaran yang khas. Pada 25 Oktober 2025, mereka mengumumkan pementasan ke-63, adaptasi lakon Antigone dengan judul Dende Tamari.
Di bawah arahan sutradara Kongso Sukoco, adaptasi lakon ini menjelma menjadi ruang baru bagi eksplorasi teater lokal—sebuah tafsir atas tragedi Yunani kuno Antigone karya Sophocles, yang kini ditanamkan ke dalam tanah budayaLombok.
Proses panjang BAM yang telah mencapai lebih dari enam puluh pementasan tentu bukan perjalanan yang singkat. Di setiap lakon, ada pergulatan ide dan bentuk, ada pertemuan antara yang klasik dan yang kontemporer, antara yang lokal dan yang universal.
Namun, Dende Tamari terasa istimewa karena ia tidak hanya menyentuh sisi dramatik, tetapi juga menyentuh kesadaran spiritual dan moral dari masyarakat tempat lakon ini tumbuh.
Kongso Sukoco, yang melakukan adatasi lakon ini dikenal tekun dalam proses, selalu menegaskan bahwa teater bukan sekadar tontonan. “Teater adalah ruang kesadaran,” ujarnya. Bagi Kongso, di atas panggung manusia belajar menjadi dirinya sendiri; ia bercermin kepada zaman, kepada luka dan keberanian yang dibawanya. Teater bukan tempat untuk bersembunyi di balik peran, tetapi justru untuk menyingkap lapisan terdalam dari kemanusiaan.
Maka adaptasi dalam lakon Dende Tamari lahir bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal.
Dalam teks asli Sophocles, Antigone adalah sosok perempuan muda yang menentang titah Raja Kreon, karena ia ingin memakamkan saudaranya, Polyneikes, dengan layak. Tindakan itu melahirkan tragedi, karena perlawanan Antigone bukan semata politik, melainkan moral dan spiritual.
Namun dalam adaptasi Kongso, Antigone menjelma menjadi Dende Tamari—seorang perempuan Lombok yang berakar pada tanah, adat, dan keyakinan masyarakatnya. Ia bukan hanya melawan karena cinta pada keluarga, melainkan karena ia ingin menegakkan martabat manusia yang tertindas oleh kekuasaan.
Dalam tubuh Dende Tamari, terkandung jejak ibu, suara tanah, dan keberanian menjaga nilai yang diyakini suci.
Perempuan di Pusat Tragedi dan Harapan
Mengapa perempuan? Pertanyaan ini menjadi jantung dari tafsir Kongso Sukoco.
Dalam masyarakat kita, perempuan kerap ditempatkan di pinggiran sejarah, tetapi justru dari sana mereka menyimpan kekuatan paling purba—kesetiaan pada kehidupan.
Dende Tamari bukanlah tokoh yang berteriak lantang, melainkan yang berdiri tegak dalam diamnya. Ia adalah wajah dari keberanian yang halus, yang menolak tunduk pada kekuasaan semena-mena. Dalam banyak lapisan masyarakat Lombok, perempuan sering menjadi penjaga moral keluarga dan adat, walau tidak selalu diberi tempat dalam ruang politik. Namun dari merekalah, sesungguhnya, kekuatan moral sebuah komunitas bertumpu.
Dalam interpretasi ini, Kongso memperlihatkan bagaimana tragedi tidak harus keras dan heroik seperti dalam versi Yunani. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lirih, dalam tubuh seorang perempuan yang berjalan pelan menuju kubur saudaranya, di tengah ancaman dan larangan. Dari gestur kecil itu, lahir perlawanan yang sangat manusiawi.
Dalam adaptasi lakon tragedi ini menemukan makna barunya: bukan semata kejatuhan tokoh besar, tetapi pergulatan batin manusia biasa. Dende Tamari menjadi kisah tentang benturan dua kebenaran—antara hukum yang dibuat manusia dan hukum yang berasal dari nurani. Kongso meyakini, ketika hukum kehilangan roh kemanusiaannya, maka tragedi pun lahir.
Tragedi itu bukan hanya milik panggung, melainkan milik kita semua, yang hidup di tengah tatanan sosial di mana kekuasaan sering kali menutup mata terhadap nurani.
Latihan lakon adaptasi Dende Tamari
Salah satu keunikan Dende Tamari terletak pada pencarian bahasa tubuh lokal. Dalam proses latihan, Kongso dan para aktornya tidak bergantung pada metode Stanislavski atau Brecht semata. Ia mengajak para pemainnya untuk menelusuri gerak yang tumbuh dari keseharian masyarakat Lombok.
Bahasa tubuh Dende Tamari bukan bahasa yang “dipelajari”, melainkan yang “ditemukan kembali.” Seorang aktor, misalnya, diminta mengamati cara seorang perempuan menenun, cara seorang ibu menunduk ketika berdoa, atau bagaimana seorang dukun tua berjalan ke sumber air. Semua gerak itu kemudian menjadi “materi tubuh”—bukan sekadar ilustrasi, tetapi kekuatan dramatik yang lahir dari akar kebudayaan.
Pendekatan ini membuat tubuh aktor menjadi arsip hidup, menyimpan pengalaman sosial masyarakat Lombok.
Ketika Dende Tamari bergerak di panggung, ia membawa seluruh ingatan itu bersamanya. Penonton pun melihat lebih dari sekadar kisah Antigone yang ditransformasikan; mereka melihat diri mereka sendiri, kebiasaan mereka, dan sejarah yang mereka warisi tanpa sadar.
Bagi Kongso, tubuh aktor adalah teks kedua. Ia membaca dunia, lalu menulis ulang pengalamannya dengan gestur, nafas, dan irama. Di sinilah letak “lokalitas” teater BAM: ia tidak sekadar menempelkan atribut lokal, tetapi menghidupkan kembali tubuh lokal sebagai pusat kesadaran estetik.
Tembang, Doa, dan Nyanyian Leluhur
Selain bahasa tubuh, tembang dan nyanyian tradisi menjadi jantung pertunjukan Dende Tamari. Dalam teater BAM, musik tradisi tidak berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai roh yang menuntun emosi dan ritme adegan.
Kongso menempatkan penyanyi tradisi sebagai bagian dari narasi. Ia tidak hanya menyanyikan lagu, tetapi juga “berbicara” kepada penonton dengan bahasa simbolik. Kadang suara itu terdengar seperti doa yang dipanjatkan kepada leluhur, kadang seperti jeritan yang datang dari masa lalu.
Tembang menjadi ruang di mana dunia spiritual dan dunia nyata saling berpapasan. Ia menandai momen-momen transenden di mana batas antara kehidupan dan kematian, antara sakral dan profan, menjadi kabur.
Ketika Dende Tamari menguburkan saudaranya, tembang itu menggema, seperti doa yang terbit dari tanah.
Melalui musik tradisi, Dende Tamari menyentuh lapisan terdalam pengalaman penonton. Ia bukan hanya mengisahkan tragedi moral, tetapi juga memanggil ingatan kolektif masyarakat Lombok — tentang ritus kematian, tentang kesetiaan keluarga, dan tentang keyakinan bahwa setiap jasad harus kembali ke bumi dengan hormat.
Dalam Dende Tamari, tragedi klasik Yunani menemukan rumah barunya di Lombok. Ia tidak kehilangan makna universalnya, justru menemukan kehidupan baru dalam konteks lokal.
Melalui adaptasi lakon tragedu Yunani itu Kongso berhasil menunjukkan bahwa karya besar dunia dapat bertumbuh di tanah Nusantara tanpa kehilangan akarnya.
Dengan memadukan tubuh lokal, nyanyian tradisi, dan nilai moral yang hidup di masyarakat, ia menanam Antigone di tanah sendiri — membiarkannya tumbuh menjadi Dende Tamari yang harum dan getir.
Melalui karya ini, BAM memperlihatkan bahwa teater bukan warisan barat, melainkan warisan manusia. Ia hidup di mana pun manusia berani berkata “tidak” terhadap kekuasaan yang menindas.
Dan di tengah dunia yang makin bising oleh propaganda, adaptasi lakon Dende Tamari seperti bisikan yang lembut namun tegas: bahwa kemanusiaan harus terus dirawat — di panggung, di tubuh, di hati kita.
#Akuair–Ampenan, 23 Oktober 2025
Koreografer Muda NTB yang Berprestasi Bermunculan
Para koreografer muda berbakat yang berprestasi internasional itu akan mengharumkan nama daerah
MATARAM.LombokJournal.com ~ Para koreografer muda Nusa Tenggara Barat yang menunjukkan karya-karya terbaiknya menyajikan karya-karyanya dalam tajuk “Yang Muda Yang Berkarya” di gedung tertutup Taman Budaya NTB, Sabtu (27/09/25) malam.
Tari MARING SEJIWE
Tujuh koreografer berbakat itu masing-masing Sella Ayu Aprilina, Alliya Andarin, Auliyah Azizah, Selly Ayu Aprilia, Ayu Laksmi Juliantari, I Gusti Ayu Agya Kirania, dan Ni Luh Putu Gek Mirah.
Karya tari yang disuguhkan malam itu bukan saja menuai decak kagum penonton. Bahkan para seniman menilai karya tari itu merupakan karya yang sarat pembaruhan yang mengolah semangat dan roh tradisi Lombok. Seni tradisi selain makin dinamis sekaligus menunjukkan daya kreatif besar dari para koreografer belia yang bicara kepedulian sosial.
Dalam karya Maring Sejiwe, koreografer Sella Aprilina mengangkat persahabatan di masa pandemi Covid Solidaritas ditampilkan dengan cara membuka kesempatam dan ruang untuk penyadang disabilitas agar berprestasi untuk indonesia maju.
Tujuh karya tari dari para koreografer muda itu mencatat prestasi mulai tingkat provinsi, nasional hingga dalam forum bergengsi internasional. Sebut saja karya tari ‘Maring Sejiwe’, selain karya tari ini menjadi juara 1 (medali emas) FLS2N tk Nasional th 2022 jenjang SMP. Juga meraih medali emas lomba Tari Internasional di Ceko th 2022 mewakili Indonesia.
“Para koreografer muda itu merupakan generasi emas dalam bidang seni, khususnya seni tari, yang akan mengharumkan nama NTB,” tutur Kepala Taman Budaya NTB, Suryadi Mulawarman di kantornya usai pergelaran tari.
Di tengah miskinnya prestasi karya seni modern NTB di level nasional dan internasional, karya yang disajikan para koreografer muda berbakat itu sungguh membanggakan. Menurut Surya, menilik prestasi menonjol koreografer muda berbakat itu, maka sudah selayaknya mereka diberi ruang untuk tampil di Taman Budaya..
“Bahkan Taman Budaya wajib memberi ruang seluasnya guna mendukung prestasi mereka,” ujar Surya sungguh-sungguh.
Mengangkat Taman Budaya
Kepala Taman Bufaya NTB, Suryadi Mulawarman
Sejak Surya Mulawarman, ASN yang juga yang juga dikenal sebagai koreografer, membuat lembaga Taman Budaya NTB terangkat pamornya. Baru-baru ini Taman Budaya NTB mengirim para penari profesional dalam perayaan Hari Ulang Tahun RI ke 80 di Istana Negara. Bersamaan dengan itu Surya juga mengajak Satpam, cleaning serivice dan beberapa pegawai Taman Budaya berangkat ke Istana Negara untuk menarikan tari Rudat Lombok.
“Saya berusaha meningkatkan pamor Taman Budaya yang selama ini tidak mengambil peran dalam event besar,” ujar Surya. Tahun ini para penari yang dikordinasikan Taman Budaya NTB juga berperanan menyemarakkan event MotoGP 2025 di Sirkuit Mandalika.
Meski demikian Surya sebagai Kepala Taman Budaya tak luput dari yang mengkritisi kiprahnya. Misalnya, upaya mengangkat para koreografer muda berbakat itu dicurigai nepotis, karena dinilai hanya menampilkan orang-orang di lingkarannya.
“Kalau saya memberi ruang pada koreografer yang berprestasi itu, mendorong mereka agar lebih berprestasi lagi, apa itu nepotis?“ kata Surya bertanya keheranan.
Diakuinya, Surya mengenal para koreografer itu tapi tidak serta merta ia melakukan praktik nepotisme. Sebab siapa pun yang berprestasi akan diberi kesempatan yang sama.
Surya menegaskan bahwa ia tidak alergi kritik, tapi sikap kritis yang dibebani tendensi tertentu justru terkesan menyerang pribadi.
“Kritik seniman seharusnya juga menimbang prestasi kesenian. Kalau tidak, itu akan mengeruhkan upaya kita untuk menumbuhkan iklim berkesenian yang sehat,” ujar Surya sambil tersenyum . rsy
Proses Kreatif Whyper di Acara Microfest-nya Akar Pohon
Perjalanan proses kreatif Whyper bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi purba itu bahwa imaji mendahului narasi
Catatan Agus K Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Menarik sekali menyaksikan perbincangan Tara Febriani Khaerunnisa dalam Perupa Bicara yang (antara lain) mengulik proses kreatif Lalu Wahyu Permana. Pada acara Microfest yang dihelat komunitas Akar Pohon Mataram, Jum’at (19/09/25) di Éclair Coffee.
Microfest tahun ini memasuki tahun ketujuh, sekaligus tahun ketiga festival yang berangkat dari tema hereditas atau warisan. Kali ini Akar Pohon mengambil tajuk “Silangan”.
Dengan empat buku yang terpilih: Taman Kate-Kate (Maria Dermout, 1988-1962), Manusia Bebas (Suwarsih Djojopuspito (1912-1977), Orang-Orang Bloomington (Budi Dharma, 1937-2021), dan Siklus (Mohammad Diponegoro, 1928-1982).
Jejak Awal: Menggambar Sebelum Menulis
Ada sesuatu yang filosofis dalam fakta, dalam proses kreatif Lalu Wahyu Permana, yang lebih dikenal dengan nama Whyper, belajar menggambar sebelum ia mampu menulis huruf. Bagi banyak orang, menulis adalah pintu masuk ke dunia simbol, representasi, dan bahasa. Tetapi bagi Whyper, dalam proses kreatif itu jalannya berbelok lebih awal: ia memasuki semesta ekspresi melalui visual. Sejak kecil ia telah akrab dengan gambar Dinosaurus, bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai cara menyusun dunia di dalam dirinya.
Fenomena ini mengingatkan kita pada sebuah pandangan dalam filsafat seni bahwa gambar, sebelum huruf, adalah bahasa pertama manusia. Gua-gua purba Lascaux di Prancis atau lukisan cadas di Sulawesi adalah bukti bahwa manusia lebih dahulu berbicara dengan gambar ketimbang kata. Dengan demikian, perjalanan proses kreatif Whyper bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi purba itu bahwa imaji mendahului narasi, dan visual sering kali lebih jujur daripada kata-kata.
Sejak SD hingga SMA, Whyper terus setia pada seni rupa, mengikuti lomba demi lomba. Media yang dipilihnya pun sederhana: crayon dan cat air. Kedua medium ini, dalam filsafat estetika, bisa dilihat sebagai bentuk medium yang “intim.” Crayon menuntut sentuhan langsung, kedekatan tangan dengan kertas. Cat air menuntut kelenturan, menerima aliran yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Seolah sejak awal Whyper telah berlatih berdamai dengan medium yang menuntut kerjasama antara kehendak manusia dan sifat materialnya.
Transformasi: Dari Medium Tradisional ke Digital
Tahun 2017 menjadi momen penting: Whyper beralih ke media digital. Bagi sebagian orang, peralihan dari medium tradisional ke digital hanyalah persoalan teknis, persoalan alat. Namun secara filosofis, ini adalah peralihan ontologis. Dunia digital menggeser batas antara realitas dan imajinasi. Dengan digital, karya seni tidak lagi tunduk sepenuhnya pada hukum material—kertas yang robek, cat yang luntur —tetapi pada hukum algoritma.
Langkah Whyper bisa dipahami sebagai bentuk kesadaran zaman. Seni rupa tidak pernah statis; ia selalu bergerak mengikuti denyut teknologi dan budaya.
Whyper melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menyesuaikan diri: ia menjadikan digital sebagai lahan baru untuk menyemaikan imaji-imaji lamanya. Apa yang sebelumnya dikerjakan dengan crayon dan cat air, kini menemukan wujud baru dalam layar, piksel, dan perangkat lunak.
Peralihan itu bukan sekadar langkah adaptif, melainkan langkah eksistensial.
Heidegger pernah menulis bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi cara mengungkapkan dunia. Dengan memasuki media digital, Whyper sedang mengungkapkan ulang dunianya. Dunia yang semula cair dan lembut melalui cat air, kini ditata ulang melalui kolase digital yang kompleks.
Menjadi Profesional: Seni sebagai Jalan Hidup
Pada tahun 2020, Whyper resmi menapaki jalan sebagai seniman visual profesional. Momen ini penting untuk dilihat secara filosofis. Profesi bukan hanya status sosial atau ekonomi, tetapi juga komitmen eksistensial.
Dengan menyatakan diri sebagai seniman profesional, Whyper menegaskan bahwa seni bukan sekadar hobi, bukan sekadar pelarian dari rutinitas, melainkan jalan hidup.
Dalam tradisi filsafat eksistensial, terutama Sartre, pilihan untuk menempuh jalan tertentu adalah peneggasan kebebasan.
Dengan menjadi seniman, Whyper tidak hanya memilih pekerjaan, tetapi memilih makna bagi keberadaannya. Proyek-proyek nasional maupun internasional yang ia ikuti adalah bukti bahwa kebebasan itu bertemu dengan tanggung jawab. Ia bukan lagi sekadar menggambar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi dunia yang lebih luas, dengan konsekuensi dan tantangan yang nyata.
Kolase sebagai Filosofi
Yang menarik, dalam karya digitalnya Whyper banyak menggunakan konsep kolase. Di sini, kita menemukan sisi filosofis yang lebih dalam. Kolase bukan sekadar teknik menyatukan potongan-potongan gambar.
Kolase adalah pernyataan ontologis bahwa realitas itu sendiri tersusun dari fragmen-fragmen. Dunia bukanlah totalitas yang bulat dan tunggal, melainkan serpihan-serpihan yang, ketika digabungkan, membentuk makna.
Dalam proses kreatif itu ,Whyper memasuki semesta ekspresi melalui visual
Ketika Whyper merespon cerpen-cerpen Budi Dharma dalam buku Orang-Orang Bloomington, ia memilih tiga cerita: Yorick, Orez, dan Nyonya Elberhart. Pilihan ini bukan kebetulan. Ia memilih berdasarkan resonansi emosional: kesebalan, keunikan, dan kesedihan. Tiga emosi ini kemudian divisualkan melalui kolase.
Filosofinya jelas: emosi manusia sendiri adalah kolase. Kita jarang mengalami emosi murni; marah bercampur dengan sedih, gembira bercampur dengan rindu.
Whyper pun tidak hanya menampilkan karakter utama, tetapi juga karakter sampingan, adegan kecil, detail minor. Semua itu dianggap penting.
Pandangan ini memiliki landasan filosofis yang mirip dengan pemikiran strukturalisme: tidak ada elemen yang sepenuhnya bisa dipahami secara terpisah. Sebuah cerita hanya bisa dimengerti melalui relasi antarbagian, dan setiap bagian, sekecil apa pun, menopang keseluruhan.
Dengan kata lain, kolase Whyper adalah bentuk visualisasi dari pandangan struktural: totalitas dibangun dari relasi fragmen.
Membaca Narasi, Menulis Visual
Proses kreatif Whyper dalam memvisualkan karya Budi Dharma menunjukkan hubungan yang intim antara teks dan gambar. Ia tidak menciptakan karakter-karakter secara bebas, melainkan berangkat dari deskripsi yang ditulis pengarang.
Yorick divisualkan seperti tengkorak, Orez dengan mata besar sebelah dan tubuh besar, Nyonya Elberhart dengan rambut putih dan ekspresi penyabar.
Dalam filsafat hermeneutika, seni adalah bentuk interpretasi. Membaca adalah menafsirkan, dan menggambar adalah menafsirkan ulang. Whyper menjalani proses hermeneutis ganda: ia membaca teks Budi Dharma, menafsirkan makna emosionalnya, lalu menuliskannya ulang dalam bahasa visual.
Dengan demikian, karya visualnya bukan sekadar ilustrasi, melainkan dialog. Ia membuka ruang percakapan antara literatur dan seni rupa, antara kata dan gambar, antara emosi dan bentuk.
Eksperimen dan Identitas
Proses kreatif Whyper tidak berhenti pada kolase saja. Ia terus mencoba teknik-teknik lain, style warna baru, tekstur yang beragam. Dari sini tampak kesadaran filosofis yang penting: identitas bukanlah sesuatu yang statis, melainkan proses yang terus berubah.
Identitas seorang seniman tidak ditentukan oleh satu teknik atau satu gaya, melainkan oleh keberanian untuk terus bereksperimen.
Namun, yang menarik, setelah membaca cerpen-cerpen Budi Dharma, ia justru merasa sepakat dengan dirinya sendiri untuk menggunakan kolase. Artinya, eksperimen yang luas justru membuatnya menemukan titik temu yang lebih jernih. Filosofinya mirip dengan dialektika
Hegelian: melalui proses negasi dan eksplorasi, akhirnya seseorang menemukan sintesis baru. Dalam hal ini, kolase bukan sekadar teknik pilihan, melainkan hasil permenungan panjang terhadap perjalanan estetikanya.
Warna dan Tekstur: Kesadaran Estetis
Whyper menyadari ada kemiripan dalam penggunaan warna di karyanya. Filosofisnya, kesadaran ini menunjukkan bahwa setiap seniman, meskipun berusaha bereksperimen, selalu membawa jejak identitas yang khas.
Warna adalah bahasa bawah sadar yang sering kali lebih jujur daripada konsep. Dalam setiap karya, warna yang dipilih seniman adalah semacam sidik jari estetik, tanda yang sulit dihapus meskipun teknik berganti.
Tekstur, bagi Whyper, juga menjadi ruang eksplorasi. Secara filosofis, tekstur adalah upaya untuk menghadirkan kedalaman dalam permukaan. Dunia tidak pernah hanya permukaan; selalu ada lapisan di bawahnya. Dengan mengutak-atik tekstur, Whyper seakan ingin mengatakan bahwa setiap realitas, termasuk realitas manusia, selalu berlapis dan kompleks.
Seni sebagai Kesadaran Diri dan Zaman
Akhirnya, proses kreatif Whyper bisa dipahami sebagai perjalanan kesadaran: kesadaran diri dan kesadaranzaman. Dari menggambar dinosaurus hingga proyek internasional, dari crayon ke digital, dari eksperimen luas hingga kolase yang reflektif. Ia menunjukkan bahwa seni adalah proses menemukan diri sekaligus menjawab tantangan zaman.
Seni, bagi Whyper, bukan hanya ekspresi personal, tetapi juga dialog dengan narasi besar manusia: literatur, teknologi, emosi, dan realitas. Dalam penemuan proses lreatif, ia meneguhkan pandangan filosofis, seni adalah jembatan antara individu dan dunia.
#Akuair-Ampenan, 20-09-2025
Pameran Visual Art Mantra Ardhana
Dalam Pameran Oxygen Poetry, terlihat jelas karya Bli Mantra tak hanya berhenti pada penampilan visual, tetapi bergerak lebih jauh ke ranah proses
Catatan Agus K Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Seniman Mantra Ardhana mangadakan pameran tunggal atau Solo Visual Art Exhibition bertajuk Oxygen Poetry di R-play Lombok, (07/09 lalu). Berikut pandangan Sutradara Teater dari Bengkel Aktor Mataram Kongso Sukoco, saat sesi Artist Talk, Senin (08/09/25).
Pertemuan antara seni dan teknologi adalah sebuah peristiwa kultural yang terus menantang cara kita memahami identitas seniman dan bentuk karya seni. Dalam konteks Nusa Tenggara Barat, Bli Mantra Ardhana dilihat sebagai salah satu perupa yang lebih maju dalam melibatkan kecerdasan buatan (AI) dalam proses kreatifnya dibandingkan banyak perupa lain di lingkungannya.
Keberanian Bli Mantra untuk menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses kreatif adalah sebuah langkah penting. Tapi di balik itu terdapat hal yang lebih mendasar,: persoalan identitas seniman.
Identitas seniman tidaklah statis, melainkan hasil dari serangkaian interaksi, pengalaman, dan faktor-faktor historis maupun kultural. Ia dibentuk oleh tradisi, pendidikan, ruang sosial, bahkan oleh teknologi yang diakrabi.
Dalam Pameran Oxygen Poetry, misalnya, terlihat jelas bagaimana karya Bli Mantra tidak hanya berhenti pada penampilan visual, tetapi bergerak lebih jauh ke ranah proses, mimpi, dan dialog dengan bawah sadar.
Karya-karyanya dalam pameran ini menghadirkan bentuk-bentuk bayi, bentuk organisme yang hidup. Semacam metafora atas proses kelahiran gagasan yang tak pernah final.
Identitas Seniman dan Jejak Teknologi
Jika kita menoleh ke masa lalu, pelukis surialis Salvador Dalimenciptakan karya-karya dengan imajinasi dan teknik manual murni, tanpa bantuan teknologi. Di sisi lain, Bli Mantra dalam pameran ini memilih melukis surialis figuratif dengan bantuan teknologi, khususnya AI. Pertanyaan yang muncul adalah: mana yang lebih baik?
Kongso Sukoco, “Mantra tidak berhenti pada penampilan visual, tetapi bergerak lebih jauh ke ranah proses,”
Jawabannya, barangkali, bukan soal lebih baik atau lebih buruk. Filsafat seni mengajarkan kita bahwa nilai karya tidak semata ditentukan oleh instrumen, melainkan oleh kediriannya—oleh kesadaran, intensi, dan pesan yang hendak dihadirkan seniman kepada publik. Teknologi hanyalah medium baru, sebagaimana kuas dan kanvas merupakan medium masa lalu. Yang menentukan tetaplah visi seniman, bagaimana ia mengolah teknologi menjadi bahasa visual yang khas.
Dengan demikian, kita tidak bisa menempatkan Dali di satu kutub dan Bli Mantra di kutub lain secara hierarkis. Mereka berdiri sejajar dalam jalur sejarah seni: Dali melahirkan bahasa visual dari keterampilan manual, sementara Bli Mantra melahirkan bentuk melalui simbiosis antara imajinasi manusia dan mesin.
Bentuk sebagai Proses, Bukan Produk Akhir
Sayangnya, diskusi seni sering kali berhenti pada produk akhir: bentuk rupa yang tampak oleh mata. Padahal, sebagaimana terlihat pada karya Bli Mantra, bentuk bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk ke sebuah proses.
Proses inilah yang penting: semangat pencarian, mimpi bawah sadar, bahkan dialog dengan organisme hidup yang tak bisa dipisahkan dari tubuh manusia. Bentuk bayi yang lahir dalam karya Bli Mantra, misalnya, bukan sekadar estetika visual, tetapi simbol dari sesuatu yang terus tumbuh, belum selesai, dan selalu terbuka bagi interpretasi.
Dalam kerangka filsafat fenomenologi, bentuk itu adalah fenomena yang menyingkap ada (being) di balik rupa, semacam peristiwa yang menuntut keterlibatan pembacanya.
Di titik ini, seni Bli Mantra menghadirkan sebuah tawaran filosofis: seni bukanlah barang mati, melainkan organisme hidup yang berdialog. Sebagaimana teater yang dipentaskan di panggung memiliki kualitas organisme hidup yang berbeda dari teater di video, begitu pula karya seni visual.
Dalam teknologi AI yang sering dituduh mengasingkan, Bli Mantra dalam pameran ini justru menghadirkan kembali vitalitas organisme.
Teknologi sebagai Tantangan Estetik
Dalam sastra, Putu Wijaya pernah menegaskan bahwa kemunculan teknologi adalah tantangan besar. Banyak penulis baru dengan bantuan teknologi tiba-tiba mampu melahirkan karya yang lebih maju dari generasi pendahulunya. Namun, yang sejatinya diuji bukanlah kecanggihan teknis, melainkan apa yang ingin disampaikan oleh karya itu.
Seni adalah dialog. Jika karya hanya berhenti pada kecanggihan teknis, ia akan jatuh menjadi simulasi belaka. Tapi jika teknologi dipadukan dengan visi, dengan kedalaman pengalaman, maka lahirlah sesuatu yang sophisticated, bukan karena rumit, melainkan karena berakar pada kesadaran. Kecanggihan sejati bukanlah efek, melainkan makna.
Dalam kerangka inilah saya membaca karya Bli Mantra. Sophistication dalam karyanya tidak sekadar karena ia menguasai AI, melainkan karena ia mampu menempatkan teknologi sebagai perpanjangan dari organ tubuh dan pikiran. Teknologi tidak menjadi mesin mati, tetapi bagian dari organisme hidup yang berdialog dengan penonton.
Puisi Visual, Musik Visual, dan Ranah Estetika Baru
Ketika Bli Mantra berbicara tentang organic mind, kita seperti diingatkan bahwa seni memiliki kapasitas untuk melampaui batas disiplin. Puisi visual, musik visual, hingga teater digital—semuanya berangkat dari ranah visual, tetapi sekaligus mencairkan sekat-sekat genre.
Filsafat seni kontemporer menyebut fenomena ini sebagai intermediality—persilangan medium yang melahirkan ruang estetik baru. Di sinilah letak keberanian Bli Mantra: ia tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami bahwa teknologi membuka ruang dialog lintas disiplin. Seni tidak lagi berada dalam kerangkeng genre, melainkan menjadi organisme cair yang terus tumbuh.
Refleksi Penutup: Seni sebagai Dialog Hidup
Pada akhirnya, karya Bli Mantra mengajarkan kita bahwa seni adalah organisme hidup yang bernafas, berdialog, dan menantang kita untuk berpikir ulang tentang identitas, bentuk, dan teknologi. Identitas seniman bukanlah sesuatu yang sudah jadi, tetapi proses yang terus dibentuk. Bentuk karya bukanlah tujuan akhir, tetapi cermin dari semangat pencarian. Teknologi bukanlah ancaman, melainkan kesempatan untuk memperluas kemungkinan dialog.
Sebagai pengagum Bli Mantra, saya melihat kelebihannya bukan sekadar pada penguasaan teknologi, melainkan pada kemampuannya menempatkan teknologi di dalam kerangka visi. Ia tidak hanya bisa, tetapi juga memahami.
Tidak hanya memanfaatkan, tetapi juga menghidupkan. Karya Bli Mantra tampak sophisticated: karena ia melahirkan organisme estetik yang berdialog dengan kita, para penikmat karya-karyanya