Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan 

Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Tulisan-tulisan dalam buku ‘Catatan Perlawanan’ ditulis Prof Aba Du Wahid saat masih mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Arab (tamat 1994). 

Para cendekiawan, termasuk mahasiswa, perlawanan tidak harus dengan cara frontal melalui teriakan
Prof Aba Du Wahid

Saat menulis catatan itu, Aba Du Wahid masih merasakan atmosfer kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto. Sehingga catatan dalam tulisan itu merupakan semacam refleksi dari topik kekuasaan dan penindasan.

BACA JUGA :  Maestro Tari NTB, Mengangkat Tradisi Mampu Mendunia

Tokoh yang dikenal sebagai oposisi penguasa represif Orde Baru, yaitu Arief Budiman memberi kata pengantar 16 catatan yang ditulis Aba Du Wahid, menyebutnya sebagai model ekspresi cendekiawan, tipikal  dunia batin dan realita generasi 80-90 an. 

Arief Budiman menyebut ekspresi saat itu para cendekiawan tidak berteriak lantang. Ekspresi yang mengedepan hanyalah gerutuan dan bahkan gumaman. Seharusnya mereka bisa bicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Tapi yang keluar adalah eufemisme.

Meski demikian, “Sekalipun begitu, daya dobrak ekspresi seperti inii tidak kalah kuatnya,” tulis Arief Budiman.

Tapi demikianlah ekspresi dalam catatan-catatan yang ditulis Aba Du Wahid, perlawanan tidak selalu berteriak. Tulisan-tulisannya dalam Catatan Perlawanan ini justru sering berbisik. Dalam sejarah Indonesia, terutama pada masa Orde Baru, bisikan itu menjelma menjadi bahasa kebudayaan—sebuah cara bertahan sekaligus melawan ketika ruang politik dikunci rapat. 

Pada masa Orde Baru, kekuasaan bekerja bukan hanya dengan aparat, tetapi juga dengan bahasa. Negara tidak sekadar mengatur tindakan, melainkan juga mengontrol cara berpikir dan berbicara. Kritik dibungkam, oposisi dilemahkan, dan wacana publik diseragamkan.

Dalam situasi seperti itu, bahasa resmi menjadi kaku, steril, dan penuh kepatuhan. Ia tidak lagi menjadi alat ekspresi, melainkan instrumen kekuasaan.

BACA JUGA : Puisi ke Nada : Perjalanan Lima Karya dalam “Ampenan Groove”

Para cendekiawan, termasuk mahasiswa, perlawanan tidak harus dengan cara frontal melalui teriakan. Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan. 

Bahasa Kebudayaan

Pada masa rezim Orde Baru, Aba Du Wahid menemukan cara lain untuk berbicara. Ia menulis catatan untuk tidak berhenti melawan dengan mengganti bahasanya. 

Kebudayaan menjadi tempat persembunyian sekaligus medan perlawanan. Saat kritik politik dibungkam, panggung teater, puisi, dan humor menjelma menjadi ruang alternatif. Di sana, perlawanan tidak tampil sebagai slogan, melainkan narasi simbol

Ia tidak berteriak, tetapi mengendap. Tokoh-tokoh dalam lakon tidak sekadar berperan, tetapi menyiratkan. Penonton pun tidak sekadar menyaksikan, tetapi membaca.

“Buku ini (Catatan Peralawanan, red) bukan karya sastra,” kata Aba Du Wahid.

Catatan-catatan yang ditulisnya diakuinya hanya cetusan begitu saja dari suatu pengalaman. Bisa jadi catatan ini memuat pesimisme dan optimisme serta kegamangan subyektif dalam menghadapi keadaan yang serba menindas (Pengatar Penulis).                                                                                                                                                                       

Ada semacam kesepakatan diam-diam: yang tidak bisa dikatakan secara langsung, bisa dipahami bersama melalui tanda, perumpamaan, atau proyeksi.  Inilah yang membuat perlawanan sebagai bahasa kebudayaan pada masa Orde Baru memiliki kedalaman yang khas.

Ia bukan hanya bentuk ekspresi, tetapi juga strategi bertahan. Dalam tekanan, kebudayaan dipaksa menjadi cerdas. Sensor melahirkan kecanggihan simbolik. Represi, secara paradoks, memperkaya cara kita berbicara.                             

Dalam buku setebal 175 halaman (terbit tahun 2000) itu, Aba Du Wahid menulis catatan perjalanannya (mahasiswa era Rezim Orde Baru) dalam bahasa plastis, kisah-kisah dalam tanya jawab yang kritis.                                                       

Misalnya, ia memang berharap (pada masa Orde Baru) agar ‘kalau ada yang mau bicara apa pun jangan dibungkam’. Meski kemudian Wahid menyindir, (pada masa Orde Baru) bahwa ‘kritik boleh-boleh saja, protes sah-sah saja, tapi gue tetap tak mau dengar’.                                                                                                                                                         

“Mungkin kicau burung yang indah saja dikira auman harimau lalu mesti harus ditembak….” tulis Wahid (hal15)  

Nasib Perlawanan                                                                                                                                                                              Dalam akhir buku ini, Aba Du Wahid mengambil kisah simbolik Abu Dzar, yang dikenal sebagai sahabat Rasulullah, yang berani melakukan perlawanan frontal pada kekuasaan yang penuh kepalsuan dan menindas. Ini semacam proyeksi dari situasi pemerintah yang korup, penuh kepalsuan dan anti kritik yang dinilai sebagai perlawanan. Ia memimpin perlawanan dari kalangan tertindas                                                                                                                       

Abu Dzar datang sebagai sesama orang kecil yang menuntut hak-haknya, yang telah lama dirampas penguasa. Rakyat kecil kalau bicara mulutnya ditampar, Dan kalau bicara lagi nafkahnya diputus. Kalau tetap bandel akan dibredel dan dipenjara. Dan tujuh turunan akan dicap sebagai ‘anggota partai terlarang’.                                                                                                              

Aba Du Wahid

Abu Dzar yang berani memimpin perlawanan bersama orang-orang tertindas, akhirnya dibuang ke daerah terpencil yang kering dan tandus. Ia bersama istri dan anaknya hidup dalam keadaan berat dan mengalami penderitaan yang tiada taranya.

BACA JUGA : Toleransi Diperkuat Pada Perayaan dhul Ftri – Nyepi 2026

Apakah kisah Abu Dzar merupakan proyeksi dari nasib yang akan dialami para cendekiawan (yang hidup era rezim Orde Baru) yang berani frontal mengkritik penguasa?

Catatan Perlawanan buku reflektif Aba Du Wahid asyik dan layak dibaca untuk berkaca tentang situasi pada rezim Orde Baru yang menindas.***

 




Maestro Tari NTB, Mengangkat Tradisi Mampu Mendunia

Birokrat yang juga Maestro Tari ini menekankan pentingnya menghidupkan kreativitas, semangat menghasilkan karya=karya kreatif tak boleh padam

MATARAM.LombokJournal.com ~Lalu Suryadi Mulawarman, SSn. MM merupakan satu-satu seniman yang diakui sebagai Maestro tari dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Karya tarinya selain mengisi seremoni berbagai event nasional hingga internasional, hingga acara muhibah ke berbagai negara.

BACA JUGA : Puisi ke Nada, Perjalanan Karya dalam Ampenan Groove

Lalu Suryadi Mulawarman

Ratusan karya tari sudah dihasilkan dan dipresentasikan dengan SAK SAK DANCE, kelompok tari yang didirikan dan dipimpinnya sejak tahun 2001. 

“Baru 24 karya tari yang mempunyai sertifikat hak cipta,” tutur sang Maestro, saat dijumpai di ruang kerjanya, Jum.at (27/03/26) siang.

Karya-karyanya mulai yang ditarikan kelompok anak-anak dalam lomba seni pelajar tingkat nasional, hingga pra penari yang diminta mengisi seremoni berbagai event tingkat nasional hingga internasional.  

Baginya, pengakuan pemerintah yang menetapkannya sebagai Maestro bukan membuatnya menjadi tinggi hati. Justru menurut koreografer yang selalu hangat itu, ia menerima tanggung jawab besar untuk mendorong para seniman daerahnya agar terus berkarya dengan mengangkat khasanah tradisi NTB. 

Dengan rendah hati ia mengakui, di NTB baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, selain kaya dengan khasanah seni tradisi. Selain itu, juga terdapat seniman-seniman pencipta seni tradisi yang layak mendapat apresiasi tinggi. 

Para seniman sepuh itu memiliki dedikasi. Dan merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan karyanya menjadi warisan generasi penerus di daerahnya. 

BACA JUGA : Literasi Global, Ranadhan Menguatkan Kolaborasi Internasional

Contohnya, di seni tari ada Amaq Raya, di seni pedalangan ada dalang kondang Lalu Nasib, atau di seni teater tradisi Cupak Gurantang ada Amaq Yusuf, ketiganya sudah almarhum.

“Mereka itu semua merupakan maestro seni tradisi. Tapi untuk diakui pemerintah sebagai Maestro, mereka harus mempunyai portofolio karya-karyanya…,” tutur Surya

Mengikuti jejak para perintis pencipta seni tradisi di daerahnya, Surya menekankan pentingnya menghidupkan kreativitas. Semangat untuk menghasilkan karya=karya kreatif tak boleh padam. 

Kreativitas merupakan api yang harus terus dihidupkan. Ini salah satu cara mengangkat khasanah seni tradisi NTB ke jenjang lebih tinggi dan luas. 

Seni yang tumbuh dan hidup di lokal, harus diangkat agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan ke tingkat internasional (dunia).

“Kreativitas kita harus mengangkat khasanah lokal (tradisi) bisa mendunia,” tegas Surya.

Memilih Dunia Kreatif

Sejak muda, Lalu Suryadi Mulawarman, telah menekuni dunia tari. Semula ia belajar dari guru tari kondang di Lombok, yaitu H. Hamid. Dari guru tari yang piawai mengulik tari lokal itu, ia mulai banyak mengenal tari yang digali dari khasanah tari tradisi.

Namun minatnya yang besar di dunia tari, membuatnya terdorong belajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta.

Selesai belajar di IKJ tahun 2001, Surya memutuskan untuk kembali ke daerah di Lombok. Mendarmabaktikan ilmunya untuk kemajuan seni tradisi  Sejak tahun 2001 ia mendirikan SAK SAK DANCE, tempat ia merekrut anak-anak muda berbakat, melatihnya, untuk menghasilkan karya seni tari yang berangkat dari khasanah seni tradisi.

“Setidaknya, terhitung setelah saya selesai di IKJ tahun 2001, berarti sudah 25 tahun saya intens mencipta di dunia kreatif,” tutur Surya.

BACA JUGA : Toleransi Dipekuat Perayaan Idhul Fitri – Nyepi 2026

Sejak itu pula ia mengajak anak asuhnya menggelar tarian di berbagai event. Tiap event penting, baik tingkat nasional maupun internasional yang berlangsung di NTB, selalu menampilkan kelompok tari SAK SAK DANCE. Harus diakui hanya kelompok tari ini yang siap untuk tampil di ajang event besar. 

Dalam perayaan Hari Kemerdekaan tahun 2025, SAK SAK DANCE yang mewakili NTB untuk menampilkan tarian di Istana Kepresidenan. 

Surya selama kuliah IKJ sUdah 3 kali tampil di Istana Kepresidenan. Meski bukan tampil yang pertama di Istana, tapi kebanggan tersendiri membawa rombongan tim kesenian NTB tampil di Istana.. 

Tim kesenian darr masing-masing  Provinsi yang akan tampil di Istana Negara melalui kurasi yang ketat darr TIM Kepresidenan Sekretariat Negara. Mulai dari materi karya yang ditampilkan, kostum dan properti, semua harus sepengetahuan dan persetujuan dari Tim Kurator

“Penunjukan NTB juga Karena kesuksesan saat Opening Ceremony  dalam pelaksanaan FORNAS VIII 2025 yang melibatkan 500 talent, inilah salah satu tonggak kami diundang,” cerita Surya

Kreativitas tari yang ditampilkan itu juga mengambil khasanah seni tradisi Sasak (Lombok). 

Lalu Suryadi Mulawarman saat ini menjadi Kepala Taman Budaya NTB, dan maestro ini merupakan satu-satunya Kepala Taman Budaya yang berangkat sebagai pelaku seni.

Sehingga ia dalam tugasnya ia sangat dekat dengan seniman. Ia sangat memahami apa yang harus dilakukan, sesuai aspirasi seniman.

“Wilayah kerja Taman Budaya itu laboratorium seni, yaitu meningkatkan kualitas seni,” ujar Surya.

Karena itu ia sangat menikmati memimpin lembaga pemerintah yang bertugas meningkatkan kualitas karya seniman. 

“Saya tidak berambisi menduduki jabatan-jabatan yang membuat tenggelam dalam tugas-tugas, tapi menjauhkan saya dari dunia kreativitas seni. Sebab pilihan hidup saya di dunia kreatif,” tegas Surya. lbj




Puisi ke Nada: Perjalanan Lima Karya dalam “Ampenan Groove”

Beberapa puisi diolah dengan formasi full band, sementara yang lain cukup dengan piano atau instrumen sederhana 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Di sebuah ruang kreatif yang tidak selalu gaduh oleh tepuk tangan, puisi terkadang menemukan kehidupan keduanya, bukan lagi di halaman buku, melainkan di dalam nada. 

“Ampenan Groove”

Dari ruang sunyi itulah lahir sebuah proyek musikalisasi puisi bertajuk “Ampenan Groove”, yang meramu lima puisi dari buku Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil karya Agus K Saputra menjadi karya musikal yang bernapas baru.

Buku puisi yang terbit pada Maret 2020 itu awalnya hadir sebagai kumpulan refleksi personal tentang kenangan, masa kecil, kehilangan, dan perjalanan batin. 

Namun oleh musisi Pipiet Tripitaka, sejumlah puisi di dalamnya diterjemahkan kembali dalam bentuk musikalisasi. Lima puisi terpilih—Puspa, Terkoyak Ujung Mimpi, Kutulis Kata Maaf, Kereta Langit Sudah Datang, dan Selamat Jalan Kawan—disusun menjadi satu perjalanan musikal yang utuh.

BACA JUGA :  Literasi Global, Ramadhan Menciptakan Kolaborasi Internasional

Peracikan artistiknya berada di tangan kriszappa, yang bertindak sebagai produser sekaligus art director. Di tangannya, lima puisi tersebut dirangkai seperti alur cerita kehidupan, membentuk komposisi yang ia beri tajuk “Ampenan Groove”. 

Sebuah nama yang tidak sekadar estetis, tetapi juga membawa suasana kontemplatif yang mengalir dari awal hingga akhir.

Kereta Langit Sudah Datang

Salah satu puisi yang paling memiliki jejak kenangan adalah Kereta Langit Sudah Datang. Puisi ini ditulis pada 6 Oktober 2014 dan judulnya terinspirasi dari cerita pendek karya Imtihan Taufan yang pernah terbit di surat kabar Suara NTB pada 4 Oktober 2014. 

BACA JUGA : Koreografer Muda NTB yang Berprestasi Bermunculan

Bagi lingkar pertemanan kreatif di Mataram, nama Imtihan Taufan bukan sekadar penulis, melainkan bagian dari energi kesenian lokal.

Dalam catatan komunitas Akar Pohon, Imtihan dikenal sebagai penulis cerita pendek, novel, naskah lakon, hingga esai. Ia juga aktif di dunia teater bersama Teater Kamar Indonesia, terutama sebagai penulis naskah dan penata artistik. 

Cerpennya Melawan Kucing-Kucing pernah terpilih sebagai cerpen terbaik Suara NTB 2014–2015. Kumpulan cerpennya Interior Nikolo bahkan diterbitkan secara anumerta pada 2015.

Kenangan terhadap Imtihan tidak hanya hidup di karya, tetapi juga dalam pertemanan sehari-hari. Bagi Agus K Saputra dan kriszappa, salah satu memori paling sederhana adalah berburu kaset-kaset lama. 

Jika ada kabar tentang koleksi musik lawas di suatu tempat, mereka akan saling memberi tahu dan memburunya bersama.

Proyek “Ampenan Groove” sendiri rencananya akan dirilis pada 27 Maret 2026 di berbagai layanan streaming music populer antara lain Spotify, Apple Music, Youtube Music, setelah melewati proses kurasi dari pihak penerbit. 

Namun di balik rencana rilis itu, yang menarik justru terletak pada proses penciptaannya.

Pipiet Tripitaka

Pipiet Tripitaka mengaku memilih puisi secara intuitif. Ia tidak membatasi komposisinya pada format tertentu. 

Beberapa puisi diolah dengan formasi full band, sementara yang lain cukup dengan piano atau instrumen sederhana yang dianggap paling mampu menerjemahkan makna puisi.

Menurutnya, nada yang lahir merupakan interpretasi pribadi terhadap kata-kata penyair. Ia juga sengaja tidak mengurung karya tersebut dalam genre musik tertentu. 

Bagi Pipiet, musik harus tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin menikmatinya, entah mereka menyebutnya jazz, pop kreatif, atau genre lain.

Dalam pandangannya, musikalisasi puisi adalah proses peleburan dua bahasa seni: kata dan nada. Ketika keduanya menyatu, publik bahkan mungkin tidak lagi menyadari bahwa yang mereka dengarkan berawal dari puisi. 

Di titik itulah “Ampenan Groove” menemukan identitasnya sebagai karya otentik.

Dari lima puisi yang digarap, Pipiet mengaku memiliki kedekatan khusus dengan Kereta Langit Sudah Datang. Puisi itu baginya seperti cara yang menyenangkan untuk mengenang Imtihan Taufan. 

Kenangan yang tidak selalu muram, tetapi tetap hangat dan hidup.

Karena itu, muncul pula gagasan spontan: mungkinkah album mini ini menjadi semacam penghormatan bagi Imtihan? Sebuah tribute yang lahir bukan dari rencana besar, melainkan dari pertemanan dan kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

BACA JUGA : Desa Berdaya, Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

kriszappa sendiri memaknai “Ampenan Groove” sebagai perjalanan batin manusia. Ia menggambarkannya seperti fase kehidupan yang berlapis. 

Dimulai dari Puspa sebagai simbol harapan dan keindahan hidup. Lalu datang fase Terkoyak Ujung Mimpi, ketika realitas mulai menguji harapan. 

Setelah itu muncul refleksi dalam Kutulis Kata Maaf, hingga kesadaran bahwa hidup terus berjalan bahkan ketika seseorang harus turun dari perjalanan, seperti dalam Kereta Langit Sudah Datang.

Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah satu kalimat sederhana: Selamat Jalan Kawan.

Di sanalah musik dan puisi bertemu, bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai cara manusia berdamai dengan waktu, kenangan, dan kehilangan. 

Sebab kadang-kadang, sebuah puisi tidak selesai ketika ditulis. Ia baru benar-benar hidup ketika dinyanyikan. AKS

 




Kelokalan Lombok; Transformasi dari Antigone ke Dende Tamari (2)

Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM tidak hanya mengalihkan teks Sophocles, tapi juga melakukan “penanaman ulang makna”, bertransformasi dalam kelokalan Lombok 

 

Melalui karya adaptasi Frnfr Tamari, BAM memperlihatkan bahwa teater bukan warisan barat, melainkan warisan manusia
Catatan : Agus K. Saputra

MATARAM.LombokJournal.com ~ Transformasi Antigone ke dalam konteks Lombok bukan hanya tindakan artistik, melainkan juga tindakan politis yang mendalam. 

Di tangan Bengkel Aktor Mataram (BAM) dan sutradara Kongso Sukoco, kisah klasik Yunani itu tidak lagi menjadi teks asing yang berdiri di atas menara Barat, melainkan tumbuh seperti benih yang menemukan tanah subur baru di tubuh budaya lokal, khususnya kelokalan Lombok. 

Dari tanah itu, tragedi Yunani menumbuhkan bunga-bunga dengan aroma dan warna khas Nusantara: spiritualitas, adat, dan relasi sosial yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Lombok.

Kongso tidak sekadar menerjemahkan teks Sophocles. Ia melakukan sesuatu yang lebih mendasar: “penanaman ulang makna”, bertransformasi dalam kelokalan Lombok.

Ia menolak untuk tunduk pada pandangan kolonial yang sering menempatkan teks-teks Barat sebagai pusat. Sementara tradisi lokal, misalnya kelokalan Lombok,  hanya berfungsi sebagai pelengkap eksotis

Dalam Dende Tamari, yang universal menjadi lokal, dan kelokalan Lombok menjelma universal. Di situlah letak kekuatan adaptasi ini: ia tidak memuja sumbernya, melainkan berdialog dengan kritis.

Lakon ini menunjukkan bahwa teater bukan sekadar tiruan atau penerjemahan, tetapi bentuk negosiasi nilai budaya. Ketika Antigone berpindah dari tanah Thebes ke tanah Lombok, ia tidak kehilangan rohnya—ia justru mendapatkan kehidupan baru. 

Dende Tamari, sang tokoh perempuan, bukan hanya pantulan Antigone, tetapi juga wujud nyata perempuan Lombok yang hidup di tengah adat, agama, dan kekuasaan patriarki.

Tragedi sebagai Cermin Sosial

Kongso memahami tragedi bukan sebagai kisah kehancuran, tetapi sebagai jalan menuju kesadaran. Dalam pandangannya, tragedi selalu mengandung pertanyaan: sejauh mana manusia sanggup mempertahankan kemanusiaannya di tengah tekanan kekuasaan dan hukum yang kaku? 

Ketika seseorang jatuh karena mempertahankan prinsipnya, ia sesungguhnya sedang menyingkapkan kemurnian manusia yang paling sejati.

Dalam Dende Tamari, tragedi menjadi cermin bagi masyarakat kita hari ini. Kita masih menyaksikan bagaimana kekuasaan bisa menentukan siapa yang hidup dan siapa yang harus dilenyapkan, siapa yang dimuliakan dan siapa yang dihapus dari sejarah. Kekuasaan yang kehilangan nurani selalu melahirkan penderitaan. 

Di tengah kondisi seperti itu, Dende Tamari tampil sebagai simbol: ia melawan bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan keberanian moral.

Kehadiran lakon yang mengusung kelokalan Lombok ini, di tengah masyarakat Lombok menjadi relevan, karena ia memotret relasi kuasa yang hidup di antara hukum adat, agama, dan politik lokal. 

Dende Tamari menolak tunduk pada tatanan yang semena-mena, tetapi ia tidak kehilangan kesantunan. Perlawanan yang ia lakukan bukan bentuk pemberontakan destruktif, melainkan ekspresi dari cinta dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan.

Kongso percaya bahwa setiap karya seni harus berpijak pada tanah di mana ia berdiri. Karena itu, Dende Tamari dihadirkan dalam kelokalan Lombok.

  1. Tembang/nyanyian tradisi: suara penyanyi tradisi bukan hanya latar bunyi, tetapi jantung pertunjukan. Ia mengalun seperti doa, sekaligus jeritan, mengikat penonton pada akar leluhur mereka.
  2. Kostum lokal: kain-kain tradisional menjadi penanda identitas, sekaligus simbol keberanian. Setiap lipatan kain menyimpan cerita, setiap warna merekam makna. Kostum tidak sekadar busana, melainkan bahasa visual yang menggemakan keanggunan sekaligus perlawanan.
  3. Ruang tubuh & gestur: saya membiarkan aktor bergerak dengan bahasa tubuh yang berakar pada keseharian lokal, pada gestur yang lahir dari tradisi, bukan dari tiruan barat.

Dengan begitu, Dende Tamari bukan hanya terjemahan Antigone ke dalam bahasa Indonesia, tetapi sebuah transformasi yang menanam tragedi klasik di tanah Nusantara, lalu membiarkannya tumbuh dalam kelokalan Lombok..

Estetika Dende Tamari tidak lahir dari imitasi Barat. Sebaliknya, ia berakar dari tubuh dan ingatan masyarakat Lombok itu sendiri. Bahasa tubuh aktor, ritme gerak, hingga tembang yang mengiringi setiap adegan, semua menggali dari tradisi lokal. Ketika para aktor menunduk, menenun, atau melangkah di panggung, tubuh mereka memanggil kembali memori kolektif masyarakat yang nyaris hilang: tentang ibu, tentang tanah, tentang spiritualitas yang sederhana namun dalam.

Kongso menjadikan tubuh aktor sebagai wadah ingatan. Ia memperlakukan gerak bukan sebagai ekspresi formal, melainkan sebagai bentuk doa. Tembang tradisional yang mengalun dalam pertunjukan tidak sekadar menjadi latar bunyi, tetapi menjadi “napas” pertunjukan. 

Kadang ia bergetar seperti ratapan, kadang mengalun seperti doa, menghadirkan suasana magis yang membuat penonton merasa sedang berada di antara dunia nyata dan dunia batin.

Dalam konteks ini, Dende Tamari menjadi ruang di mana estetika dan etika bertemu. Keindahan yang hadir di atas panggung bukan semata keindahan visual, melainkan keindahan moral: keindahan tentang keberanian, kejujuran, dan pengorbanan.

Dende Tamari bukan sekadar sebuah pertunjukan. Ia adalah pernyataan politik—sebuah kesaksian bahwa seni masih bisa menjadi ruang perlawanan yang indah. Di tengah dunia yang bising oleh propaganda, media sosial, dan kekuasaan yang saling berebut narasi, teater seperti ini menjadi ruang sunyi di mana manusia dapat kembali berdialog dengan nuraninya sendiri.

Kongso dan BAM menegaskan bahwa teater tidak boleh tunduk pada pasar atau sekadar menjadi hiburan. Ia harus menjadi ruang refleksi, ruang pendidikan batin, dan ruang kesadaran sosial. Panggung adalah tempat manusia menelanjangi dirinya, tempat di mana nilai-nilai diuji, dan tempat di mana kebenaran dipertaruhkan.

Ketika Dende Tamari memilih untuk tetap setia pada keyakinannya meskipun tahu konsekuensinya adalah kematian, ia sedang menunjukkan bentuk tertinggi dari keberanian moral. Ia membuktikan bahwa keindahan sejati tidak selalu terletak pada kemenangan, tetapi pada keteguhan hati untuk tetap berpegang pada nurani.

Tonggak Perjalanan Bengkel Aktor Mataram

Sebagai karya ke-63 dari perjalanan panjang Teater BAM, Dende Tamari menandai kedewasaan artistik dan konsistensi ideologis Bengkel Aktor Mataram. Sejak berdirinya, kelompok ini telah menjadi laboratorium kreatif yang berani menggali akar budaya lokal untuk berdialog dengan dunia. 

Dalam setiap karyanya, mereka menunjukkan bahwa teater bukanlah ruang nostalgia, tetapi arena untuk memproduksi makna baru.

BAM tidak sekadar mementaskan lakon, tetapi membangun wacana terkait kelokalan Lombok. Mereka membuktikan bahwa teater bisa menjadi wadah bagi kritik sosial dan spiritualitas sekaligus. 

Dalam Dende Tamari, segala elemen teater — naskah, tubuh, musik, dan ruang — disatukan dalam satu kesadaran artistik yang utuh.

Bagi generasi muda teater di Lombok, Dende Tamari adalah pelajaran yang tak ternilai. Ia mengajarkan bahwa teater bukan sekadar tempat bermain peran, melainkan ruang untuk meneguhkan keberpihakan pada manusia. 

Ia juga mengingatkan bahwa kreativitas sejati tidak selalu berarti sesuatu yang baru, tetapi sesuatu yang jujur pada akar budaya dan konteksnya.

benih yang menemukan tanah subur dalam kelokalan Lombok
Kongso Sukoco (baju biru) saat menyutradarai adegan Dende Tamari dalam kelokalan Lombok / Foto : Ags

“Saya persembahkan karya ini untuk semua yang masih percaya bahwa panggung adalah tempat kita merawat kemanusiaan,” kata Kongso. Kalimat itu bukan sekadar penutup, melainkan manifesto: bahwa seni masih punya tempat di dunia yang kehilangan arah moral.

Penekanan kelokalan Lombok dalam lakon Dende Tamari, merupakan bukti bahwa tragedi tidak pernah benar-benar berakhir. 

Ia terus hidup dalam tubuh-tubuh yang berani berkata “tidak” pada ketidakadilan, dan berkata “ya” pada kemanusiaan.

#Akuair–Ampenan, 24 Oktober 2025

 

 




Adaptasi Antigone dalam Kelokalan Lombok (1)

Maka dalam adaptasi lakon Dende Tamari bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal

 

Melalui karya adaptasi Frnfr Tamari, BAM memperlihatkan bahwa teater bukan warisan barat, melainkan warisan manusia
Catatan : Agus K. Saputra

MATARAM.LombokJournal.com ~ Di tengah rutinitas kehidupan teater di Mataram, Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM kembali menghadirkan getaran yang khas. Pada 25 Oktober 2025, mereka mengumumkan pementasan ke-63, adaptasi lakon Antigone dengan judul Dende Tamari. 

Di bawah arahan sutradara Kongso Sukoco, adaptasi lakon ini menjelma menjadi ruang baru bagi eksplorasi teater lokal—sebuah tafsir atas tragedi Yunani kuno Antigone karya Sophocles, yang kini ditanamkan ke dalam tanah budaya Lombok.

Proses panjang BAM yang telah mencapai lebih dari enam puluh pementasan tentu bukan perjalanan yang singkat. Di setiap lakon, ada pergulatan ide dan bentuk, ada pertemuan antara yang klasik dan yang kontemporer, antara yang lokal dan yang universal. 

Namun, Dende Tamari terasa istimewa karena ia tidak hanya menyentuh sisi dramatik, tetapi juga menyentuh kesadaran spiritual dan moral dari masyarakat tempat lakon ini tumbuh.

Kongso Sukoco, yang melakukan adatasi lakon ini dikenal tekun dalam proses, selalu menegaskan bahwa teater bukan sekadar tontonan. “Teater adalah ruang kesadaran,” ujarnya. Bagi Kongso, di atas panggung manusia belajar menjadi dirinya sendiri; ia bercermin kepada zaman, kepada luka dan keberanian yang dibawanya. Teater bukan tempat untuk bersembunyi di balik peran, tetapi justru untuk menyingkap lapisan terdalam dari kemanusiaan.

Maka adaptasi dalam lakon Dende Tamari lahir bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal. 

Dalam teks asli Sophocles, Antigone adalah sosok perempuan muda yang menentang titah Raja Kreon, karena ia ingin memakamkan saudaranya, Polyneikes, dengan layak. Tindakan itu melahirkan tragedi, karena perlawanan Antigone bukan semata politik, melainkan moral dan spiritual.

Namun dalam adaptasi Kongso, Antigone menjelma menjadi Dende Tamari—seorang perempuan Lombok yang berakar pada tanah, adat, dan keyakinan masyarakatnya. Ia bukan hanya melawan karena cinta pada keluarga, melainkan karena ia ingin menegakkan martabat manusia yang tertindas oleh kekuasaan. 

Dalam tubuh Dende Tamari, terkandung jejak ibu, suara tanah, dan keberanian menjaga nilai yang diyakini suci.

Perempuan di Pusat Tragedi dan Harapan

Mengapa perempuan? Pertanyaan ini menjadi jantung dari tafsir Kongso Sukoco. 

Dalam masyarakat kita, perempuan kerap ditempatkan di pinggiran sejarah, tetapi justru dari sana mereka menyimpan kekuatan paling purba—kesetiaan pada kehidupan.

Dende Tamari bukanlah tokoh yang berteriak lantang, melainkan yang berdiri tegak dalam diamnya. Ia adalah wajah dari keberanian yang halus, yang menolak tunduk pada kekuasaan semena-mena. Dalam banyak lapisan masyarakat Lombok, perempuan sering menjadi penjaga moral keluarga dan adat, walau tidak selalu diberi tempat dalam ruang politik. Namun dari merekalah, sesungguhnya, kekuatan moral sebuah komunitas bertumpu.

Dalam interpretasi ini, Kongso memperlihatkan bagaimana tragedi tidak harus keras dan heroik seperti dalam versi Yunani. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lirih, dalam tubuh seorang perempuan yang berjalan pelan menuju kubur saudaranya, di tengah ancaman dan larangan. Dari gestur kecil itu, lahir perlawanan yang sangat manusiawi.

Dalam adaptasi lakon tragedi ini menemukan makna barunya: bukan semata kejatuhan tokoh besar, tetapi pergulatan batin manusia biasa. Dende Tamari menjadi kisah tentang benturan dua kebenaran—antara hukum yang dibuat manusia dan hukum yang berasal dari nurani. Kongso meyakini, ketika hukum kehilangan roh kemanusiaannya, maka tragedi pun lahir.

Tragedi itu bukan hanya milik panggung, melainkan milik kita semua, yang hidup di tengah tatanan sosial di mana kekuasaan sering kali menutup mata terhadap nurani.

Latihan lakon adaptasi Dende Tamari

Salah satu keunikan Dende Tamari terletak pada pencarian bahasa tubuh lokal. Dalam proses latihan, Kongso dan para aktornya tidak bergantung pada metode Stanislavski atau Brecht semata. Ia mengajak para pemainnya untuk menelusuri gerak yang tumbuh dari keseharian masyarakat Lombok.

Bahasa tubuh Dende Tamari bukan bahasa yang “dipelajari”, melainkan yang “ditemukan kembali.” Seorang aktor, misalnya, diminta mengamati cara seorang perempuan menenun, cara seorang ibu menunduk ketika berdoa, atau bagaimana seorang dukun tua berjalan ke sumber air. Semua gerak itu kemudian menjadi “materi tubuh”—bukan sekadar ilustrasi, tetapi kekuatan dramatik yang lahir dari akar kebudayaan.

Pendekatan ini membuat tubuh aktor menjadi arsip hidup, menyimpan pengalaman sosial masyarakat Lombok. 

Ketika Dende Tamari bergerak di panggung, ia membawa seluruh ingatan itu bersamanya. Penonton pun melihat lebih dari sekadar kisah Antigone yang ditransformasikan; mereka melihat diri mereka sendiri, kebiasaan mereka, dan sejarah yang mereka warisi tanpa sadar.

Bagi Kongso, tubuh aktor adalah teks kedua. Ia membaca dunia, lalu menulis ulang pengalamannya dengan gestur, nafas, dan irama. Di sinilah letak “lokalitas” teater BAM: ia tidak sekadar menempelkan atribut lokal, tetapi menghidupkan kembali tubuh lokal sebagai pusat kesadaran estetik.

Tembang, Doa, dan Nyanyian Leluhur

Selain bahasa tubuh, tembang dan nyanyian tradisi menjadi jantung pertunjukan Dende Tamari. Dalam teater BAM, musik tradisi tidak berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai roh yang menuntun emosi dan ritme adegan.

Kongso menempatkan penyanyi tradisi sebagai bagian dari narasi. Ia tidak hanya menyanyikan lagu, tetapi juga “berbicara” kepada penonton dengan bahasa simbolik. Kadang suara itu terdengar seperti doa yang dipanjatkan kepada leluhur, kadang seperti jeritan yang datang dari masa lalu.

Tembang menjadi ruang di mana dunia spiritual dan dunia nyata saling berpapasan. Ia menandai momen-momen transenden di mana batas antara kehidupan dan kematian, antara sakral dan profan, menjadi kabur. 

Ketika Dende Tamari menguburkan saudaranya, tembang itu menggema, seperti doa yang terbit dari tanah.

Melalui musik tradisi, Dende Tamari menyentuh lapisan terdalam pengalaman penonton. Ia bukan hanya mengisahkan tragedi moral, tetapi juga memanggil ingatan kolektif masyarakat Lombok — tentang ritus kematian, tentang kesetiaan keluarga, dan tentang keyakinan bahwa setiap jasad harus kembali ke bumi dengan hormat.

Dalam Dende Tamari, tragedi klasik Yunani menemukan rumah barunya di Lombok. Ia tidak kehilangan makna universalnya, justru menemukan kehidupan baru dalam konteks lokal.

Melalui adaptasi lakon tragedu Yunani itu Kongso berhasil menunjukkan bahwa karya besar dunia dapat bertumbuh di tanah Nusantara tanpa kehilangan akarnya. 

Dengan memadukan tubuh lokal, nyanyian tradisi, dan nilai moral yang hidup di masyarakat, ia menanam Antigone di tanah sendiri — membiarkannya tumbuh menjadi Dende Tamari yang harum dan getir.

Melalui karya ini, BAM memperlihatkan bahwa teater bukan warisan barat, melainkan warisan manusia. Ia hidup di mana pun manusia berani berkata “tidak” terhadap kekuasaan yang menindas.

Dan di tengah dunia yang makin bising oleh propaganda, adaptasi lakon Dende Tamari seperti bisikan yang lembut namun tegas: bahwa kemanusiaan harus terus dirawat — di panggung, di tubuh, di hati kita.

#Akuair–Ampenan, 23 Oktober 2025

 

 




Koreografer Muda NTB yang Berprestasi Bermunculan

Para koreografer muda berbakat yang berprestasi internasional itu akan mengharumkan nama daerah 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Para koreografer muda Nusa Tenggara Barat yang menunjukkan karya-karya terbaiknya menyajikan karya-karyanya dalam tajuk “Yang Muda Yang Berkarya” di gedung tertutup Taman Budaya NTB, Sabtu (27/09/25) malam.

Tari Maring Sejiwe,karya koreografer Sella Aprilina
Tari MARING SEJIWE

Tujuh koreografer berbakat itu masing-masing Sella Ayu Aprilina, Alliya Andarin, Auliyah Azizah, Selly Ayu Aprilia, Ayu Laksmi Juliantari, I Gusti Ayu Agya Kirania, dan Ni Luh Putu Gek Mirah. 

Karya tari yang disuguhkan malam itu bukan saja menuai decak kagum penonton. Bahkan para seniman menilai karya tari itu merupakan karya yang sarat pembaruhan yang mengolah semangat dan roh tradisi Lombok. Seni tradisi selain makin dinamis sekaligus menunjukkan daya kreatif besar dari para koreografer belia yang bicara kepedulian sosial. 

Dalam karya Maring Sejiwe, koreografer Sella Aprilina mengangkat persahabatan di masa pandemi Covid  Solidaritas ditampilkan dengan cara membuka kesempatam dan ruang untuk penyadang disabilitas agar berprestasi untuk indonesia maju.   

Tujuh karya tari dari para koreografer muda itu mencatat prestasi mulai tingkat provinsi, nasional hingga dalam forum bergengsi internasional. Sebut saja karya tari ‘Maring Sejiwe’, selain karya tari ini menjadi juara 1 (medali emas) FLS2N tk Nasional th 2022 jenjang SMP. Juga meraih medali emas lomba Tari Internasional di Ceko th 2022 mewakili Indonesia.

“Para koreografer muda itu merupakan generasi emas dalam bidang seni, khususnya seni tari, yang akan mengharumkan nama NTB,” tutur Kepala Taman Budaya NTB, Suryadi Mulawarman di kantornya usai pergelaran tari.

Di tengah miskinnya prestasi karya seni modern NTB di level nasional dan internasional, karya yang disajikan para koreografer muda berbakat itu sungguh membanggakan. Menurut Surya, menilik prestasi menonjol koreografer muda berbakat itu, maka sudah selayaknya mereka diberi ruang untuk tampil di Taman Budaya..

“Bahkan Taman Budaya wajib memberi ruang seluasnya guna mendukung prestasi mereka,” ujar Surya sungguh-sungguh.

Mengangkat Taman Budaya

Saya memberi ruang pada koreografer yang berprestasi
Kepala Taman Bufaya NTB, Suryadi Mulawarman

Sejak Surya Mulawarman, ASN yang juga yang juga dikenal sebagai koreografer, membuat lembaga Taman Budaya NTB terangkat pamornya. Baru-baru ini Taman Budaya NTB mengirim para penari profesional dalam perayaan Hari Ulang Tahun RI ke 80 di Istana Negara. Bersamaan dengan itu Surya juga mengajak Satpam, cleaning serivice dan beberapa pegawai Taman Budaya berangkat ke Istana Negara untuk menarikan tari Rudat Lombok.

“Saya berusaha meningkatkan pamor Taman Budaya yang selama ini tidak mengambil peran dalam event besar,” ujar Surya. Tahun ini para penari yang dikordinasikan Taman Budaya NTB juga berperanan menyemarakkan event MotoGP 2025 di Sirkuit Mandalika.

Meski demikian Surya sebagai Kepala Taman Budaya tak luput dari yang mengkritisi kiprahnya. Misalnya, upaya mengangkat para koreografer muda berbakat itu dicurigai nepotis, karena dinilai hanya menampilkan orang-orang di lingkarannya.

“Kalau saya memberi ruang pada koreografer yang berprestasi itu, mendorong mereka agar lebih berprestasi lagi, apa itu nepotis?“ kata Surya bertanya keheranan.

Diakuinya, Surya mengenal para koreografer itu tapi tidak serta merta ia melakukan praktik nepotisme. Sebab siapa pun yang berprestasi akan diberi kesempatan yang sama. 

Surya menegaskan bahwa ia tidak alergi kritik, tapi sikap kritis yang dibebani tendensi tertentu justru terkesan menyerang pribadi.

“Kritik seniman seharusnya juga menimbang prestasi kesenian. Kalau tidak, itu akan mengeruhkan upaya kita untuk menumbuhkan iklim berkesenian yang sehat,” ujar Surya sambil tersenyum . rsy 




Proses Kreatif Whyper di Acara Microfest-nya Akar Pohon

Perjalanan proses kreatif Whyper bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi purba itu bahwa imaji mendahului narasi

Proses kreatif Whyper dalam memvisualkan karya Budi Dharma menunjukkan hubungan yang intim antara teks dan gambar
Catatan Agus K Saputra

MATARAM.LombokJournal.com ~ Menarik sekali menyaksikan perbincangan Tara Febriani Khaerunnisa dalam Perupa Bicara yang (antara lain) mengulik proses kreatif Lalu Wahyu Permana. Pada acara Microfest yang dihelat komunitas Akar Pohon Mataram, Jum’at (19/09/25) di Éclair Coffee.

Microfest tahun ini memasuki tahun ketujuh, sekaligus tahun ketiga festival yang berangkat dari tema hereditas atau warisan. Kali ini Akar Pohon mengambil tajuk “Silangan”. 

Dengan empat buku yang terpilih: Taman Kate-Kate (Maria Dermout, 1988-1962), Manusia Bebas (Suwarsih Djojopuspito (1912-1977), Orang-Orang Bloomington (Budi Dharma, 1937-2021), dan Siklus (Mohammad Diponegoro, 1928-1982).

Jejak Awal: Menggambar Sebelum Menulis

Ada sesuatu yang filosofis dalam fakta, dalam proses kreatif Lalu Wahyu Permana, yang lebih dikenal dengan nama Whyper, belajar menggambar sebelum ia mampu menulis huruf. Bagi banyak orang, menulis adalah pintu masuk ke dunia simbol, representasi, dan bahasa. Tetapi bagi Whyper, dalam proses kreatif itu jalannya berbelok lebih awal: ia memasuki semesta ekspresi melalui visual. Sejak kecil ia telah akrab dengan gambar Dinosaurus, bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai cara menyusun dunia di dalam dirinya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada sebuah pandangan dalam filsafat seni bahwa gambar, sebelum huruf, adalah bahasa pertama manusia. Gua-gua purba Lascaux di Prancis atau lukisan cadas di Sulawesi adalah bukti bahwa manusia lebih dahulu berbicara dengan gambar ketimbang kata. Dengan demikian, perjalanan proses kreatif Whyper bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi purba itu bahwa imaji mendahului narasi, dan visual sering kali lebih jujur daripada kata-kata.

Sejak SD hingga SMA, Whyper terus setia pada seni rupa, mengikuti lomba demi lomba. Media yang dipilihnya pun sederhana: crayon dan cat air. Kedua medium ini, dalam filsafat estetika, bisa dilihat sebagai bentuk medium yang “intim.” Crayon menuntut sentuhan langsung, kedekatan tangan dengan kertas. Cat air menuntut kelenturan, menerima aliran yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Seolah sejak awal Whyper telah berlatih berdamai dengan medium yang menuntut kerjasama antara kehendak manusia dan sifat materialnya.

Transformasi: Dari Medium Tradisional ke Digital

Tahun 2017 menjadi momen penting: Whyper beralih ke media digital. Bagi sebagian orang, peralihan dari medium tradisional ke digital hanyalah persoalan teknis, persoalan alat. Namun secara filosofis, ini adalah peralihan ontologis. Dunia digital menggeser batas antara realitas dan imajinasi. Dengan digital, karya seni tidak lagi tunduk sepenuhnya pada hukum material—kertas yang robek, cat yang luntur —tetapi pada hukum algoritma.

Langkah Whyper bisa dipahami sebagai bentuk kesadaran zaman. Seni rupa tidak pernah statis; ia selalu bergerak mengikuti denyut teknologi dan budaya. 

Whyper melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menyesuaikan diri: ia menjadikan digital sebagai lahan baru untuk menyemaikan imaji-imaji lamanya. Apa yang sebelumnya dikerjakan dengan crayon dan cat air, kini menemukan wujud baru dalam layar, piksel, dan perangkat lunak.

Peralihan itu bukan sekadar langkah adaptif, melainkan langkah eksistensial. 

Heidegger pernah menulis bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi cara mengungkapkan dunia. Dengan memasuki media digital, Whyper sedang mengungkapkan ulang dunianya. Dunia yang semula cair dan lembut melalui cat air, kini ditata ulang melalui kolase digital yang kompleks.

Menjadi Profesional: Seni sebagai Jalan Hidup

Pada tahun 2020, Whyper resmi menapaki jalan sebagai seniman visual profesional. Momen ini penting untuk dilihat secara filosofis. Profesi bukan hanya status sosial atau ekonomi, tetapi juga komitmen eksistensial. 

Dengan menyatakan diri sebagai seniman profesional, Whyper menegaskan bahwa seni bukan sekadar hobi, bukan sekadar pelarian dari rutinitas, melainkan jalan hidup.

Dalam tradisi filsafat eksistensial, terutama Sartre, pilihan untuk menempuh jalan tertentu adalah peneggasan kebebasan. 

Dengan menjadi seniman, Whyper tidak hanya memilih pekerjaan, tetapi memilih makna bagi keberadaannya. Proyek-proyek nasional maupun internasional yang ia ikuti adalah bukti bahwa kebebasan itu bertemu dengan tanggung jawab. Ia bukan lagi sekadar menggambar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi dunia yang lebih luas, dengan konsekuensi dan tantangan yang nyata.

Kolase sebagai Filosofi

Yang menarik, dalam karya digitalnya Whyper banyak menggunakan konsep kolase. Di sini, kita menemukan sisi filosofis yang lebih dalam. Kolase bukan sekadar teknik menyatukan potongan-potongan gambar. 

Kolase adalah pernyataan ontologis bahwa realitas itu sendiri tersusun dari fragmen-fragmen. Dunia bukanlah totalitas yang bulat dan tunggal, melainkan serpihan-serpihan yang, ketika digabungkan, membentuk makna.

Dalam filsafat seni itu bahwa gambar, sebelum huruf, adalah bahasa pertama manusia
Dalam proses kreatif itu ,Whyper memasuki semesta ekspresi melalui visual

Ketika Whyper merespon cerpen-cerpen Budi Dharma dalam buku Orang-Orang Bloomington, ia memilih tiga cerita: Yorick, Orez, dan Nyonya Elberhart. Pilihan ini bukan kebetulan. Ia memilih berdasarkan resonansi emosional: kesebalan, keunikan, dan kesedihan. Tiga emosi ini kemudian divisualkan melalui kolase. 

Filosofinya jelas: emosi manusia sendiri adalah kolase. Kita jarang mengalami emosi murni; marah bercampur dengan sedih, gembira bercampur dengan rindu.

Whyper pun tidak hanya menampilkan karakter utama, tetapi juga karakter sampingan, adegan kecil, detail minor. Semua itu dianggap penting. 

Pandangan ini memiliki landasan filosofis yang mirip dengan pemikiran strukturalisme: tidak ada elemen yang sepenuhnya bisa dipahami secara terpisah. Sebuah cerita hanya bisa dimengerti melalui relasi antarbagian, dan setiap bagian, sekecil apa pun, menopang keseluruhan. 

Dengan kata lain, kolase Whyper adalah bentuk visualisasi dari pandangan struktural: totalitas dibangun dari relasi fragmen.

Membaca Narasi, Menulis Visual

Proses kreatif Whyper dalam memvisualkan karya Budi Dharma menunjukkan hubungan yang intim antara teks dan gambar. Ia tidak menciptakan karakter-karakter secara bebas, melainkan berangkat dari deskripsi yang ditulis pengarang. 

Yorick divisualkan seperti tengkorak, Orez dengan mata besar sebelah dan tubuh besar, Nyonya Elberhart dengan rambut putih dan ekspresi penyabar.

Dalam filsafat hermeneutika, seni adalah bentuk interpretasi. Membaca adalah menafsirkan, dan menggambar adalah menafsirkan ulang. Whyper menjalani proses hermeneutis ganda: ia membaca teks Budi Dharma, menafsirkan makna emosionalnya, lalu menuliskannya ulang dalam bahasa visual. 

Dengan demikian, karya visualnya bukan sekadar ilustrasi, melainkan dialog. Ia membuka ruang percakapan antara literatur dan seni rupa, antara kata dan gambar, antara emosi dan bentuk.

Eksperimen dan Identitas

Proses kreatif Whyper tidak berhenti pada kolase saja. Ia terus mencoba teknik-teknik lain, style warna baru, tekstur yang beragam. Dari sini tampak kesadaran filosofis yang penting: identitas bukanlah sesuatu yang statis, melainkan proses yang terus berubah. 

Identitas seorang seniman tidak ditentukan oleh satu teknik atau satu gaya, melainkan oleh keberanian untuk terus bereksperimen.

Namun, yang menarik, setelah membaca cerpen-cerpen Budi Dharma, ia justru merasa sepakat dengan dirinya sendiri untuk menggunakan kolase. Artinya, eksperimen yang luas justru membuatnya menemukan titik temu yang lebih jernih. Filosofinya mirip dengan dialektika

Hegelian: melalui proses negasi dan eksplorasi, akhirnya seseorang menemukan sintesis baru. Dalam hal ini, kolase bukan sekadar teknik pilihan, melainkan hasil permenungan panjang terhadap perjalanan estetikanya.

Warna dan Tekstur: Kesadaran Estetis

Whyper menyadari ada kemiripan dalam penggunaan warna di karyanya. Filosofisnya, kesadaran ini menunjukkan bahwa setiap seniman, meskipun berusaha bereksperimen, selalu membawa jejak identitas yang khas. 

Warna adalah bahasa bawah sadar yang sering kali lebih jujur daripada konsep. Dalam setiap karya, warna yang dipilih seniman adalah semacam sidik jari estetik, tanda yang sulit dihapus meskipun teknik berganti.

Tekstur, bagi Whyper, juga menjadi ruang eksplorasi. Secara filosofis, tekstur adalah upaya untuk menghadirkan kedalaman dalam permukaan. Dunia tidak pernah hanya permukaan; selalu ada lapisan di bawahnya. Dengan mengutak-atik tekstur, Whyper seakan ingin mengatakan bahwa setiap realitas, termasuk realitas manusia, selalu berlapis dan kompleks.

Seni sebagai Kesadaran Diri dan Zaman

Akhirnya, proses kreatif Whyper bisa dipahami sebagai perjalanan kesadaran: kesadaran diri dan kesadaran zaman. Dari menggambar dinosaurus hingga proyek internasional, dari crayon ke digital, dari eksperimen luas hingga kolase yang reflektif. Ia menunjukkan bahwa seni adalah proses menemukan diri sekaligus menjawab tantangan zaman.

Seni, bagi Whyper, bukan hanya ekspresi personal, tetapi juga dialog dengan narasi besar manusia: literatur, teknologi, emosi, dan realitas. Dalam penemuan proses lreatif, ia meneguhkan pandangan filosofis, seni adalah jembatan antara individu dan dunia.

#Akuair-Ampenan, 20-09-2025

 




Pameran Visual Art Mantra Ardhana

Dalam Pameran Oxygen Poetry, terlihat jelas karya Bli Mantra tak hanya berhenti pada penampilan visual, tetapi bergerak lebih jauh ke ranah proses

 

Karya visual Mantra dalam pameran ini tampak sophisticated
Catatan Agus K Saputra

MATARAM.LombokJournal.com ~ Seniman Mantra Ardhana mangadakan pameran tunggal atau Solo Visual Art Exhibition bertajuk Oxygen Poetry di R-play Lombok,  (07/09 lalu). Berikut pandangan Sutradara Teater dari Bengkel Aktor Mataram Kongso Sukoco, saat sesi Artist Talk, Senin (08/09/25).

Pertemuan antara seni dan teknologi adalah sebuah peristiwa kultural yang terus menantang cara kita memahami identitas seniman dan bentuk karya seni. Dalam konteks Nusa Tenggara Barat, Bli Mantra Ardhana dilihat sebagai salah satu perupa yang lebih maju dalam melibatkan kecerdasan buatan (AI) dalam proses kreatifnya dibandingkan banyak perupa lain di lingkungannya. 

Keberanian Bli Mantra untuk menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses kreatif adalah sebuah langkah penting. Tapi di balik itu terdapat hal yang lebih mendasar,: persoalan identitas seniman.

Identitas seniman tidaklah statis, melainkan hasil dari serangkaian interaksi, pengalaman, dan faktor-faktor historis maupun kultural. Ia dibentuk oleh tradisi, pendidikan, ruang sosial, bahkan oleh teknologi yang diakrabi. 

Dalam Pameran Oxygen Poetry, misalnya, terlihat jelas bagaimana karya Bli Mantra tidak hanya berhenti pada penampilan visual, tetapi bergerak lebih jauh ke ranah proses, mimpi, dan dialog dengan bawah sadar

Karya-karyanya dalam pameran ini menghadirkan bentuk-bentuk bayi, bentuk organisme yang hidup. Semacam metafora atas proses kelahiran gagasan yang tak pernah final.

  1. Identitas Seniman dan Jejak Teknologi

Jika kita menoleh ke masa lalu, pelukis surialis Salvador Dali menciptakan karya-karya dengan imajinasi dan teknik manual murni, tanpa bantuan teknologi. Di sisi lain, Bli Mantra dalam pameran ini memilih melukis surialis figuratif dengan bantuan teknologi, khususnya AI. Pertanyaan yang muncul adalah: mana yang lebih baik?

Pameran ini semacam metafora atas proses kelahiran gagasan yang tak pernah final
Kongso Sukoco, “Mantra tidak berhenti pada penampilan visual, tetapi bergerak lebih jauh ke ranah proses,”

Jawabannya, barangkali, bukan soal lebih baik atau lebih buruk. Filsafat seni mengajarkan kita bahwa nilai karya tidak semata ditentukan oleh instrumen, melainkan oleh kediriannya—oleh kesadaran, intensi, dan pesan yang hendak dihadirkan seniman kepada publik. Teknologi hanyalah medium baru, sebagaimana kuas dan kanvas merupakan medium masa lalu. Yang menentukan tetaplah visi seniman, bagaimana ia mengolah teknologi menjadi bahasa visual yang khas.

Dengan demikian, kita tidak bisa menempatkan Dali di satu kutub dan Bli Mantra di kutub lain secara hierarkis. Mereka berdiri sejajar dalam jalur sejarah seni: Dali melahirkan bahasa visual dari keterampilan manual, sementara Bli Mantra melahirkan bentuk melalui simbiosis antara imajinasi manusia dan mesin.

  1. Bentuk sebagai Proses, Bukan Produk Akhir

Sayangnya, diskusi seni sering kali berhenti pada produk akhir: bentuk rupa yang tampak oleh mata. Padahal, sebagaimana terlihat pada karya Bli Mantra, bentuk bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk ke sebuah proses.

Proses inilah yang penting: semangat pencarian, mimpi bawah sadar, bahkan dialog dengan organisme hidup yang tak bisa dipisahkan dari tubuh manusia. Bentuk bayi yang lahir dalam karya Bli Mantra, misalnya, bukan sekadar estetika visual, tetapi simbol dari sesuatu yang terus tumbuh, belum selesai, dan selalu terbuka bagi interpretasi. 

Dalam kerangka filsafat fenomenologi, bentuk itu adalah fenomena yang menyingkap ada (being) di balik rupa, semacam peristiwa yang menuntut keterlibatan pembacanya.

Di titik ini, seni Bli Mantra menghadirkan sebuah tawaran filosofis: seni bukanlah barang mati, melainkan organisme hidup yang berdialog. Sebagaimana teater yang dipentaskan di panggung memiliki kualitas organisme hidup yang berbeda dari teater di video, begitu pula karya seni visual. 

Dalam teknologi AI yang sering dituduh mengasingkan, Bli Mantra dalam pameran ini justru menghadirkan kembali vitalitas organisme.

  1. Teknologi sebagai Tantangan Estetik

Dalam sastra, Putu Wijaya pernah menegaskan bahwa kemunculan teknologi adalah tantangan besar. Banyak penulis baru dengan bantuan teknologi tiba-tiba mampu melahirkan karya yang lebih maju dari generasi pendahulunya. Namun, yang sejatinya diuji bukanlah kecanggihan teknis, melainkan apa yang ingin disampaikan oleh karya itu.

Seni adalah dialog. Jika karya hanya berhenti pada kecanggihan teknis, ia akan jatuh menjadi simulasi belaka. Tapi jika teknologi dipadukan dengan visi, dengan kedalaman pengalaman, maka lahirlah sesuatu yang sophisticated, bukan karena rumit, melainkan karena berakar pada kesadaran. Kecanggihan sejati bukanlah efek, melainkan makna.

Dalam kerangka inilah saya membaca karya Bli Mantra. Sophistication dalam karyanya tidak sekadar karena ia menguasai AI, melainkan karena ia mampu menempatkan teknologi sebagai perpanjangan dari organ tubuh dan pikiran. Teknologi tidak menjadi mesin mati, tetapi bagian dari organisme hidup yang berdialog dengan penonton.

  1. Puisi Visual, Musik Visual, dan Ranah Estetika Baru

Ketika Bli Mantra berbicara tentang organic mind, kita seperti diingatkan bahwa seni memiliki kapasitas untuk melampaui batas disiplin. Puisi visual, musik visual, hingga teater digital—semuanya berangkat dari ranah visual, tetapi sekaligus mencairkan sekat-sekat genre.

Filsafat seni kontemporer menyebut fenomena ini sebagai intermediality—persilangan medium yang melahirkan ruang estetik baru. Di sinilah letak keberanian Bli Mantra: ia tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami bahwa teknologi membuka ruang dialog lintas disiplin. Seni tidak lagi berada dalam kerangkeng genre, melainkan menjadi organisme cair yang terus tumbuh.

  1. Refleksi Penutup: Seni sebagai Dialog Hidup

Pada akhirnya, karya Bli Mantra mengajarkan kita bahwa seni adalah organisme hidup yang bernafas, berdialog, dan menantang kita untuk berpikir ulang tentang identitas, bentuk, dan teknologi. Identitas seniman bukanlah sesuatu yang sudah jadi, tetapi proses yang terus dibentuk. Bentuk karya bukanlah tujuan akhir, tetapi cermin dari semangat pencarian. Teknologi bukanlah ancaman, melainkan kesempatan untuk memperluas kemungkinan dialog.

Sebagai pengagum Bli Mantra, saya melihat kelebihannya bukan sekadar pada penguasaan teknologi, melainkan pada kemampuannya menempatkan teknologi di dalam kerangka visi. Ia tidak hanya bisa, tetapi juga memahami. 

Tidak hanya memanfaatkan, tetapi juga menghidupkan. Karya Bli Mantra tampak sophisticated: karena ia melahirkan organisme estetik yang berdialog dengan kita, para penikmat karya-karyanya

#Akuair-Ampenan, 16-09-2025

 




Performance dan Showcase Universitas Bumigora di Taman Budaya 

Performance dan Showcase menjadi wadah belajar di luar kelas, dan mahasiswa terlibat penuh, mulai dari konsep, produksi, hingga penyajian karya

MATARAM.LombokJournal.com ~ Fakultas Seni dan Desain Universitas Bumigora menggelar kegiatan Performance dan Showcase di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (12/8/2025). 

Acara ini menampilkan karya mahasiswa dari Program Studi Seni Pertunjukan dan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) dalam bentuk musik, teater, dan pameran visual.

Menurut penyelenggara, kegiatan Performance dan Showcase bertujuan mendorong mahasiswa berinteraksi langsung dengan dunia industri kreatif.

Acara Performance dan Showcase ini mendapat sambutan positif dari pihak kampus
Yoi Akustik

Selain itu, memperluas akses seni pertunjukan ke masyarakat, serta memberikan kontribusi pada pembangunan daerah melalui sektor budaya.

Performance dan Showcase ini menjadi wadah belajar di luar kelas. Mahasiswa terlibat penuh, mulai dari konsep, produksi, hingga penyajian karya,” ujar Baiq Larre Ginggit Sekar Wangi yang akrab disapa Ginggit, dosen Seni Pertunjukan sekaligus pimpinan produksi dalam acara tersebut.

Repertoar Musik dan Teater

Pertunjukan musik oleh grup Yoiakustik, yang membawakan tiga lagu balada hadir sebagai pembuka acara. Grup ini terdiri dari Wing Sentot Irawan, yang akrab disapa Mr. Yoi (vokal dan gitar), Gde Agus (cajon), dan Arif (biola). 

Aransemen musik mereka sederhana namun fokus pada kekuatan vokal dan nuansa akustik.

Segmen kedua adalah pementasan teater berjudul Panggung Pinangan Kocar-Kacir. 

Drama ini disutradarai oleh Lalu Guruh Virgiawan dan dimainkan oleh mahasiswa Program Studi Seni Pertunjukan. Empat pemeran utama adalah Andi sebagai Pak Rukmana, Vani sebagai Ratna, Daffa sebagai Agus Tubagus, dan Ferro sebagai Kang Mus.

Produksi teater ini dikerjakan sepenuhnya oleh tim mahasiswa, termasuk tata cahaya oleh Opik, tata suara oleh Ari, Rapi, dan Galih, tata rias oleh Jenny, penataan panggung oleh Wayan Dibiagi, serta tata busana oleh Ginggit. Lakon menampilkan cerita Pinangan yang berjalan tidak sesuai rencana, memadukan unsur drama dan komedi ringan.

Showcase arsip karya mahasiswa DKV. Pameran ini dikoordinasikan oleh Sasih Gunalan dan Banyu Lazuardi, menampilkan beragam karya visual seperti poster, desain grafis, dan dokumentasi kegiatan prodi ditampilakan di Loby utama Gedung teater tertutup Taman Budaya. Tujuannya adalah mempresentasikan perjalanan kreatif mahasiswa sekaligus membangun portofolio yang dapat diakses publik.

Kolaborasi Lintas Disiplin

Pimpinan produksi dalam keterangannya, menekankan bahwa acara ini adalah bentuk nyata kolaborasi lintas disiplin. 

“Kolaborasi antara Seni Pertunjukan dan Desain Komunikasi Visual memperkaya pengalaman mahasiswa. Mereka tidak hanya berkarya sesuai bidang masing-masing, tetapi juga memahami proses kerja kreatif secara menyeluruh,” ujarnya.

Kolaborasi ini dinilai penting untuk menyiapkan lulusan yang adaptif di industri kreatif, yang kerap menuntut keterampilan lintas bidang. Fakultas berharap acara serupa dapat menjadi agenda tahunan dan dikembangkan dalam skala lebih besar.

Universitas Bumigora, yang berlokasi di Kota Mataram, NTB, memiliki enam fakultas dengan total 15 program studi pada jenjang D3, S1, dan S2. Fakultas Seni dan Desain menaungi dua program studi: Seni Pertunjukan (S1) dan Desain Komunikasi Visual (S1).

Selain itu, universitas ini juga memiliki Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, serta Fakultas Ilmu Budaya. Masing-masing fakultas mengelola program studi sesuai bidangnya, mulai dari Ilmu Komputer, Teknologi Informasi, Gizi, Farmasi, Manajemen, Akuntansi, hingga Sastra Inggris.

Dalam konteks kegiatan ini, Fakultas Seni dan Desain menerapkan pendekatan experiential learning—metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan langsung mahasiswa dalam proses produksi karya. 

“Mahasiswa dilatih untuk mengelola karya dari tahap perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi. Ini bagian dari persiapan menghadapi tantangan industri kreatif,” kata salah satu dosen DKV yang terlibat.

Respons Peserta dan Penonton

Mahasiswa yang terlibat dalam acara ini menilai kegiatan tersebut sebagai pengalaman penting. Andy, mahasiswa Seni Pertunjukan yang memerankan tokoh Pak Rukmana. “Berbeda dengan latihan di kelas, tampil di hadapan penonton umum membuat kami belajar mengatur emosi, komunikasi, dan kerja tim di situasi nyata,” tuturnya.

Beberapa penonton yang hadir juga memberikan apresiasi. “Pertunjukannya menarik karena menampilkan karya dari berbagai disiplin. Harapannya, kegiatan seperti ini lebih sering digelar,” ujar salah satu pengunjung.

Pihak Taman Budaya NTB, sebagai tuan rumah acara, menyatakan dukungan terhadap kegiatan seni kampus yang membuka akses kepada publik. 

“Kami siap memfasilitasi kegiatan mahasiswa karena ini bagian dari pengembangan ekosistem seni di daerah,” kata perwakilan pengelola gedung.

Kegiatan ini selaras dengan arah pengembangan ekonomi kreatif di NTB, yang dalam beberapa tahun terakhir mulai menjadi salah satu fokus pemerintah daerah. Seni pertunjukan dan desain grafis termasuk subsektor yang memiliki potensi besar di wilayah ini, terutama karena keberagaman budaya lokal dan peluang pemasaran digital.

Dengan melibatkan mahasiswa secara langsung dalam produksi karya dan interaksi dengan publik, Universitas Bumigora berharap lulusan mereka tidak hanya siap bekerja di industri, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha sendiri di sektor kreatif.

“Banyak peluang di industri kreatif yang bisa diambil anak muda NTB. Kuncinya adalah kemampuan menghasilkan karya yang relevan, memiliki nilai jual, dan bisa dipasarkan secara luas,” ujar Ginggit.

Acara Performance dan Showcase ini mendapat sambutan positif dari pihak kampus, mahasiswa, dan masyarakat. Penyelenggara berencana untuk menjadikannya program tahunan, dengan format yang lebih beragam dan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk komunitas seni di luar kampus.

Dengan dukungan fasilitas seperti Taman Budaya NTB, diharapkan karya mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas, sekaligus mendorong pertumbuhan industri kreatif di daerah.

“Ini bukan sekadar acara hiburan. Ini adalah ruang belajar, ruang uji coba, dan ruang pertemuan antara karya akademik dengan publik. Dari sini, mahasiswa bisa melihat langsung respons audiens terhadap karya mereka,” tutup Ginggit. opik

 




Senandika, Kumpulan Puisi Esay Nurdin Ranggabarani

 Senandika itu sendiri adalah istilah dalam sastra dan teater yang merujuk pada monolog atau dialog yang dilakukan oleh seorang karakter dengan dirinya sendiri.

LombokJournal.com  –  Beberapa waktu lalu, seorang kawan semasa kuliah, tiga puluh delapan tahun berselang,  menghubungi dan meminta berjumpa. Maka hari itupun menjadi catatan tersendiri bagi saya.                                                                                                              “Di mana, bro? Ayo mampir ke Pagesangan Indah. Ada buku puisi untukmu.”                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             BACA JUGA ; Indeks Ketimpangan Gender

Dalam SENANDIKA, Nurdinn menjaga kepekaannuraninya
Catatan Agus K Saputra

                                                                                                                                                                                        Benar saja. Saya menerima buku: Kumpulan Puisi Essay Senandika (Cetakan Pertama, Mei 2025. Penerbit: Yayasan Sumbawa Bangkit) karya Nurdin Ranggabarani (NR). Ada sejumlah 107 puisi bertebaran di 132 halaman. Dalam rentang tahun 2006 hingga 2025.

Untuk posisi tiga besar pengkaryaan, maka pada tahun 2020 berada di tempat pertama dengan 26 puisi. Tahun 2019 di peringkat kedua dengan 19 puisi. Dan terakhir tahun 2024 dengan sejumlah 13 puisi.

Tak heran bila H. Dinullah Rayes, Penyair, Sastrawan dan Budayawan dari Tana Samawa, mengatakan Nurdin sebagai penulis otodidak yang tekun (hal. vii).

“Sejak belia, NR sering kali mengunjungi perpustakaan pribadi saya di Jl. Mawar 27, Sumbawa Besar. Ia betah di ruangan itu seharian. Membaca buku apa saja, utamanya buku-buku antologi puisi dan sastra, koleksi perpustakaan saya. Di usia yang sangat belia, NR telah membaca karya-karya sastrawan dan penyair besar di Indonesia, dan dunia,” tulis Rayes (hal. viii).

Tidak banyak orang, lanjut Dinullah, yang masih menyempatkan diri menulis, di tengah kesibukan kesehariannya sebagai pejabat dan politisi, dengan jadwal dan agenda kunjungan yang padat. Kecuali mereka, yang di dalam dirinya mengalir cahaya talenta, yang mampu menangkap getar resonansi sekitarnya, di sela waktu sesaat, dan menuangkannya bagai senarai yang apik, dalam imaji dan narasi puitis (hal. vii).

BACA JUGA ; Pengangguran Terbuka di Nusa Tenggara Barat                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     Pilihan diksi “senandika” menarik minat untuk ditelisik. Sebagaimana diketahui, senandika itu sendiri adalah istilah dalam sastra dan teater yang merujuk pada monolog atau dialog yang dilakukan oleh seorang karakter dengan dirinya sendiri. Dalam senandika, karakter mengungkapkan pikiran, perasaan, dan motivasi dirinya sendiri, seringkali tanpa ada orang lain yang mendengarnya.

Dengan demikian, senandika dapat digunakan untuk:

  • Mengungkapkan pikiran dan perasaan. Karakter dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya yang paling dalam, sehingga penonton dapat memahami motivasi dan konflik internalnya.
  • Membangun karakter. Senandika dapat membantu membangun karakter dan memperlihatkan sisi lain dari kepribadian karakter.
  • Meningkatkan tensi. Senandika dapat digunakan untuk meningkatkan tensi dan konflik dalam cerita, terutama jika karakter sedang mengalami kesulitan atau konflik internal.

Malah, dalam teater, senandika seringkali digunakan untuk memberikan wawasan tentang pikiran dan perasaan karakter, serta untuk membangun hubungan antara karakter dan penonton. Dalam sastra, senandika dapat digunakan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan karakter secara lebih mendalam dan kompleks.

NR sendiri mengungkap soal senandika, secara khusus dan bagi saya justru lebih mencerminkan karakter dirinya:

Katanya kita kawan

Nyatanya kalian memandangku lawan

Katanya kita sahabat

Nyatanya kalian menganggapku musuh

Katanya kita saling sayang

Nyatanya kalian menebar fitnah dan kebencian

…….

(Senandika – Mengenang Penyair Si Burung Merak, WS. Rendra: Jakarta, 01-10-2019, hal. 71-72).

Dugaan saya, karena hal inilah yang mengantarkan NR pada pilihan “puisi esai”. Merujuk Denny JA, konon sebagai penggagas, maka puisi esai memiliki struktur unik, dengan perpaduan antara bahasa puitis dan analisis yang mendalam.

Ciri khas lainnya adalah penggunaaan catatan kaki dan tema yang berfokus pada isu-isu sosial dan kemanusiaan, serta melibatkan pembaca secara lebih dekat.

Bagi Brotoseno, seiring perkembangan zaman, puisi esai sebagiamana yang ditulis NR, seringkali menjadi pilihan untuk menyuarakan ketidakpuasan sosial. Banyak penyair mengangkat isu-isu kritis, seperti ketidaksetaraan, ketidakadilan, penindasan, kesewenangan, kezaliman, pengangkangan demokrasi, pembungkaman, kekuasaan yang anti kritik, totaliter dan korup, serta pelanggaran hak azasi manusia, petaka kemanusiaan, penjarahan, perang, penjajahan, aneksasi, hingga pembantaian, dan genosida (hal. xii)

Namun demikian, lanjut Brotoseno, puisi esai yang baik, tidak saja kita akan mampu mengenali kondisi kejiwaan, psikologis, suasana kebathinan, arah keberpihakan, nilai-nilai, visi, dan norma yang diperjuangkan, oleh penyairnya, namun lebih dari itu, sebuah puisi dapat menjadi pisau bedah yang sangat tajam, untuk memahami dan menganalisis kondisi zaman dan lingkungan sekitar kita (hal. xiii).

Berikut berapa puisinya:

Lihatlah pohon itu

Juga alam dan lingkungan kita

Mereka tampak berunjukrasa

Protes keras dan mengirim petisi

Udara gerah, hawa panas

Banjir, lumpur, dan longsor

Mereka mogok dan tak sudi lagi kompromi

Karena saudara-saudara mereka

Dibabat, dibakar, diperkosa dan dibantai

Dengan syahwat kerakusan dan keserakahan

Melampaui ambang batas keseimbangan

(Amuk: Sumbawa Besar, 17-11-2009, hal. 123)

—–

Tak ada lautan tanpa karang dan gelombang

Tak ada gunung tanpa jurang dan ngarai

Tak ada jalan raya tanpa tanjakan dan kelokan

Tak ada peran tanpa resiko dan tanggungjawab

Yakinlah, tak ada ksatria yang gugur sia-sia

(Istiqomah – Mengenang Tuan Syaigh Ismail Dea Malela: Simon’s Town-Afrika Selatan, 15-05-2018, hal. 99)

—–

Aku menyaksikan meja-meja persidangan

Miring dan ambruk ditimpa kezaliman

Aku menyaksikan lampu-lampu ruang para pengadil

Padam, gelap disambar petir transaksi

—–

(Wajah Negeriku – Mengenang Dr. H. Adnan Buyung Nasution, SH: Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November Surabaya, 14-04-2022, hal. 30)

 —–

Atas nama daulat rakyat

Kuasa memangsa yang tanpa daya

Hukum rimba pilihan lazim

Tirani semakin menjulurkan taring purbanya!

(Sajak Negeri Para Tiran – Kepada Presiden ILC, Karni Ilyas: Sumbawa Besar, 15-12-2020, hal. 46-47)

Jadi ini memperjelas bahwa menggunakan puisi esai untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan tentang banyak hal: kehidupan, cinta, dan spiritual.

Mensitir Dinullah, goresan-goresan pena NR ini, sungguh-sungguh mewakili gambaran karakter kuat penulisnya. Pilihan diksi dan narasinya melesat bagai meteor api, di langit cakrawala. Menghentak, meledak dentum, bagai magma yang menggelegak aliran larva. Namun mengalir lugas, jujur, dan natural, dalam mengabarkan dan menggambarkan keadaan dan kondisi yang kita rasakan bersama (hal. viii).

Beberapa di antaranya:

—–

Inilah negeriku

Negeri tempat dimana para pengoplos berpesta

Mereka mabuk oplosan

Tertawa teroplos-oplos

Berjoget oplosan berjingkrak-jingkrak

Menghitung untung dari oplosan

Kita ditipu barang oplosan

Dicekoki dan diracuni oplosan

Dari selingkuh kongkalikong para pengoplos

Lahirkan aturan dan kebijakan oplosan

BACA JUGA ; Pejabat Fungsional Penting Jaga Huugan Baik dann Komunikasi

(Negeri Para Pengoplos: Mataram-Lombok, 10-03-2025, hal. 1)

—–

Pantai bulan Desember

Adalah gelung gelombang yang berkejaran

Melumat letih yang panjang

Ke pantaimu jua rindu ku hempas

(Pantai Bulan Desember – “Kepada kekasih hati belahan jiwa, Nurwahidah”: Tanjung Bira-Bontobahari Bulukumba, 23-12-2020, hal. 43)

Kepada Ocha

Adakah yang lebih menyakitkan

Dari terenggutnya kekasih hati

Adakah yang lebih menyesakkan 

Dari terhempasnya asa

Adakah yang lebih memilukan

Dari karamnya cinta

Adakah yang lebih perih

Dari terampasnya belahan jiwa

Adakah yang lebih menyanyat

Dari sirnanya sebuah harapan

 

Kekasih hatiku…

Kami rindu, kami cinta dan sangat sayang padamu

Namun nyatanya,

Dia Yang Maha, jauh lebih rindu

Dia Yang Maha, jauh lebih cinta

Dia Yang Maha, jauh lebih sayang padamu

Belahan jiwaku…

Duka dan perih ini

Bukanlah pertanda kami tak ikhlas melepasmu

Ia hanya bagian dari sayang dan cinta

Doa terbaik untukmu

Tunggu kami di pintu surga-Nya

Sumbawa Besar, 22-01-2019

(1 Tahun kepergian Ocha, hal. 95)

Tapi begitulah, NR dengan lantang menorehnya sebagai maklumat (hal. xvi), berikut ini:

“Maaf, Tulisan dalam buku ini bukan puisi, dan aku bukan penyair. Ini cuma goresan pena, tentang “Senandika”. Sebuah monolog terhadap diri sendiri. Sekedar menjaga resonansi kepekaan. Memelihara arus kesadaran pikiran dan akal sehat. Merawat keyakinan katahati, matahari, dan cinta. Yang terkadang aus tergerus pragmatisme kehidupan.”

Oleh karena itu, soal kelantangan NR, bukanlah hal baru bagi saya. Dia sudah memupuknya sejak awal. Hal ini semakin terasah ketika dia membentuk Mataram Forum dan meminta saya menjadi anggotanya, sekitar tahun 1993/1994.                                                                    Selepas kami menjadi Alumni Universitas Mataram. NR dari Fakultas Hukum dan saya “jebolan” Fakultas Ekonomi. Selain kami pernah “berkubang” bersama di Koran Kampus “Media” Unram.

#Akuair-Ampenan, 26-06-2025