Berkunjung Kampung Ekowisata Kerujuk, Destinasi Primadona Baru di Lombok Utara

Ide kreatif pemuda Kampung Kerujuk berhasil mengubah hamparan sawan dan tempat pemancingan menjadi kampung ekowisata yang menyajikan berbagai spot menarik.

LOMBOK UTARA.lombokjournal.com —

Lukmanul Hakim, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kerujuk Lestari

Ini contoh kekuatan ide dan kreatifikas para pemuda. Di kampung Kerujuk Desa Menggale Kecamatan Pemenang, berkat ide kreatifnya berhasil merubah kawasan yang semula hanya hamparan sawah dan tempat pemancingan, menjadi tempat wisata yang kini jadi primadona baru di Lombok Utara.

Menuju kawasan ekowisata Kerujuk, pengunjung harus melewati jalan setapak yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Di sepanjang perjalanan pengunjung disuguhkan pemandangan hamparan sawah serta gunung yang menjulang tinggi.

Sesampainya di lokasi, pengunjung akan disuguhkan dengan sejuknya pemandangan. Di tempat ini terdapat berbagai spot-spot menarik, yang menjadi primadona wisatawan untuk mengabadikan momen, seperti replika kupu-kupu berukuran 1, 5 meter dan terdapat “taman cinta” yang menjadi tempat favorit para wisatawan untuk mengabadikan momen.

Di lokasi ini terdapat rumah pohon, serta replika pesawat terbang yang terbuat dari kayu. Dan juga menarik, terdapat beberapa spot outbond yang cukup antimainstrem lainnya.

Lukmanul Hakim, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kerujuk Lestari, selaku pengelola menuturkan, kampung ekowisata tersebut merupakan kolam pemancingan. Kolam tersebut dibangun dari dana PNPM. Meski hanya kolam pemancingan, namun ternyata antusias pengunjung semakin tinggi.

“Akhirnya kami perkumpulan anak muda berdiskusi mencari kegiatan lain yang mendukung kolam pemancingan tersebut,” ujarnya.

Dirinya mengaku, Setelah melakukan pemetaan selama 6 bulan, akhirnya mulai terbentuk desain kampung ekowisata. Dirinya tak ingin seperti destinasi wisata kebanyakan lainnya yang hanya mengembangkan hiburan dan rekreasi. Kampung ekowisata Kerujuk juga mengembangkan wisata berbasis lingkungan dan budaya. Selain itu juga pengembangan ekonomi masyarakat lokal.

Pengembangan berbasis lingkungan yang dimaksud adalah pengunjung dapat membawa pohon dan menanamnya di lokasi ekowisata. Sementara budaya dengan melestarikan aneka permainan rakyat yang mulai memudar. Seperti permainan egrang, terompah, dan lainnya.

Sedangkan pengembangan ekonomi masyarakat lokal, di lokasi ini menyediakan aneka kuliner yang dijual masyarakat sekitar. “Ada beragam kuliner juga disediakan,” jelasnya.

Penghasilan dari ekowisata ini terbilang cukup besar. Hal ini dikarenakan pengunjungnya yang cukup banyak, terutama pada Sabtu dan Minggu.

Lukman mengaku, jika dirata-ratakan pengunjung sehari mendekati 100 orang untuk wisatawan lokal. Sementara wisatawan asing per hari bisa mencapai 10 orang.

Terkait pendapatan, ia mengaku pendapatan dari penjualan tiket masuk dan paket wisata yang ditawarkan bisa mencapai Rp 6 juta. Bila saat liburan panjang bisa meningkat dua kali lipatnya.

wisata yang ditawarkan di lokasi ini berupa permainan rakyat, makan, snack dan kopi.

“Sementara ini pendapatan belum masuk pades, tapi kedepannya akan mengarah kesana,” jelasnya.

AYA

 

 

 




“Barapan Ayam”, Permainan Tradisional Yang Jadi Event Wisata di KSB

Jika di lain tempat pertandingan ayam jago dilakukan dengan cara mengadu atau menyabung dua ayam jantan untuk saling bertarung, tapi di daerah Sumbawa Barat, NTB, juga jadi atraksi pariwisata yang menghibur.

SUMBAWA BARAT,lombokjournal.com — Pertandingan ayam jago di sini, justru menyatukan dua ayam jago untuk bisa bekerjasama. Mereka harus bisa berlari cepat, beriringan, dan harus tepat menyasar tujuan, dalam “Barapan Ayam”.

“Tidak. Disini ayam jago tidak diadu untuk bertarung, tapi diadu kecepatan lari. Namanya  Barapan Ayam atau Sampo Ayam,” kata Komaruddin (38), Ketua Panitia perlombaan Barapan Ayam, Kamis sore (6/4) di Desa Tambak Sari, Kecamatan Poto Tano, Sumbawa Barat, NTB.

Perlombaan Barapan Ayam di Desa Tambak Sari, digelar untuk mengisi rangkaian Festival Pesona Tambora 2017. Tapi di luar event Festival, tradisi Barapan Ayam bisa disaksikan setiap Minggu di Kota Taliwang, ibukota Sumbawa Barat.

Komaruddin menjelaskan, dalam Barapan Ayam, dua ekor ayam jantan akan disatukan dengan sebuah kayu yang secara lokal disebut Noga, yang kemudian ujungnya diikat pada masing-masing punggung ayam.

Dua ekor ayam yang sudah disatukan itu kemudian diarahkan oleh joki ayam menggunakan semacam pecut yang terbuat dari rotan yang ujungnya diberi bebunyian dari botol plastik bekas minuman yang disayat-sayat.

“Menggunakan pecut yang disini disebut Lutar, joki ayam harus mengarahkan ayamnya. Pasangan ayam harus berlari cepat dan harus bisa tepat menyentuh kayu Saka di garis finish,” katanya.

Suasana Barapan Ayam di Desa Tambak Sari nampak ramai dan riuh. Ratusan orang berkumpul di lapangan, dimana arena Barapan Ayam didirikan.

Sekitar 160 pasangan ayam akan berlomba di arena. Arena berukuran 20 kali 50 meter dikelilingi dengan kain jaring, agar ayam tidak lari keluar arena. Sementara penonton bisa menyaksikan dari luar arena.

Joki ayam yang dipanggil untuk masuk ke arena, akan membawa dua ayam yang sudah menyatu ke dalam arena.

Dengan kemampuan yang dimiliki, joki harus bisa mengarahkan ayam agar berlari cepat dengan jarak sekitar 50 meter menuju finish.

Sebatang kayu setinggi setengah meter atau disebut Saka, ditancapkan di garis finish. Pasangan ayam baru dinyatakan berhasil finish adalah yang berhasil menyentuh Saka.

“Tidak gampang mainnya, harus banyak latihan baik ayam maupun jokinya. Tapi ini seru, dan selalu bikin penasaran,” kata Muhamad Nursyamsi (28), warga Taliwang yang ikut lomba Barapan Ayam.

Syamsi mengatakan, percaya atau tidak,dalam Barapan Ayam juga diperlukan Sandro, atau dukun yang punya kemampuan khusus. Tugas mereka adalah mengelabui penglihatan ayam agar kayu Saka bisa terlihat mirip binatang buas, atau mahluk lain yang menakutkan.

“Kalau Sandronya hebat, pasti sangat jarang ayam yang bisa tepat menyentuh Saka, karena sudah takut duluan,” katanya.

Bupati Sumbawa Barat, HW Musyafirin mengatakan, Barapan Ayam merupakan tradisi masyarakat Sumbawa Barat yang hingga kini masih lestari.

Seperti juga Barapan Kebo, Barapan Ayam di Sumbawa Barat juga menjadi tradisi yang saat ini tengah dikemas sebagai salah satu event atraksi budaya untuk mendukung pariwisata di Kabupaten itu.

“Ya Barapan Ayam ini sangat unik, dan kami yakin ini hanya bisa disaksikan di Sumbawa Barat.Jadi tradisi ini bisa menjadi daya tarik wisata,” kata Musyafirin.

GRA

07/04/17, 13.04 – Jakarta P Panca: IMG-20170407-WA0001.jpg (file terlampir)

BARAPAN AYAM. Permainan tradisi barapan ayam di Sumbawa Barat, yang kini menjadi event pariwisata.(GRA)




Desa Setanggor, Jangan Dilewatkan Jika ke Lombok

Tamu Dijamu Makan Di Tengah Persawahan

Budaya agraris dan kearifan lokal masyarakat di sana Desa Setanggor di Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, bisa menjadi magnet yang menyedot kunjungan wisatawan.

LOGTENG.lombokjournal.com

Berjarak sekitar 9 Km dari Lombok International Airport (LIA), atau sekitar 15 menit perjalanan, Desa Setanggor dengan luas wilayah sekitar 650 hektare, menawarkan tidak kurang dari 10 spot wisata yang bisa dinikmati pengunjung.

Sanggar seni tradisional Desa Setanggor

Uniknya, semua spot wisata ini masih sangat alami dan berhubungan dengan kearifan lokal, kebiasaaan hidup masyarakat agraris di pedesaan. Pengunjung bisa berinteraksi dan terlibat kegiatan masyarakat setempat.

Mulai dari melihat aktivitas di kampung pusat tenun Sasak dan ikut belajar menenun, menyaksikan atraksi kesenian musik dan tari tradisonal, melihat aktivitas petani dan peternak lokal, hingga jamuan makan di tengah persawahan dengan menu lokal khas Lombok.

“Baru sekarang bisa merasakan nikmatnya makan di tengah persawahan,” kata Lala Haerul (23), mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang berkunjung ke Desa Setanggor.

Karena itu ia berpikir, Desa Setanggor harus dipromosikan. Lebih dari itu menurutnya, potensi ini harus didukung pemerintah. “Sebab bisa menjadi destinasi baru di Lombok,” kata Lala yang datang ke Desa Setanggor bersama empat orang temannya. Ia mengaku tergelitik untuk berkunjung ke Desa Setanggor setelah melihat video tentang Desa ini di situs Youtube.

Minggu siang itu, Lala dan rombongan dijamu makan siang oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Setanggor.

Menunya menu lokal, pelecing kangkung, pepes jamur, ayam santan Lombok, dan sambal terong. Tapi, bagi Lala dan teman-temannya, lokasi makannya yang luar biasa, di tengah persawahan yang menghijau.

Mereka menikmati hidangan itu di sebuah berugak (semacam gazebo tanpa dinding) yang terletak di lintasan pematang sawah desa.

“Semua tamu kami perlakukan sama, layaknya menjamu saudara yang datang dari jauh,” tutur Ida Wahyuni (29), pembina Pokdarwis Setanggor yang jiuga penggagas wisata desa Setanggor, Sabtu (4/2).

Lokasi untuk menjamu sengaja dipilih di tengah sawah, agar pengunjung biisa menikmati suasana alami pedesaan. Menurut Ida, makan di tengah persawahan merupakan salah satu spot wisata di Desa Setanggor yang paling diminati pengunjung.

“Terutama pengunjung domestik dari kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. Juga menjadi favorit wisatawan mancanegara,” tutur Ida.

“Pernah juga ada tamu dari Australia yang sangat senang bisa mengambil singkong dan membakarnya sendiri di spot perkebunan yang kami sediakan. Mungkin bagi mereka ini pengalaman yang baru,” katanya.

10 Spot Ditawarkan

Desa Seranggor sebagian besar penduduknya petani. Desa Setanggor menawarkan wisata persawahan dan perkebunan, sebagai lokasi wisata agro dan kuliner.

Selain menikmati hidangan di sawah atau kebun, pengunjung bisa juga menyaksikan langsung aktivitas petani termasuk memetik hasil perkebunan, sepertu buah Naga.

Untuk wisata budaya, sebuah sanggar musik dan tari tradisional disediakan bagi pengunjung untuk menyaksikan berbagai aktraksi budaya setempat.

Sanggar seni di Setanggor sudah lama berlangsung dan menjadi tradisi yang tetap hidup. Aktivitas budaya masyarakat masih marak sampai sekarang. “Banyak juga wisatawan yang senang karena bisa berlatih menari atau belajar main alat musik tradisional,” kata Ida.

Di Sanggar Seni Setanggor juga tersimpan sebuah Gong Tua berdiameter 1 Meter, yang diperkirakan dibuat pada tahun 1828 silam. Gong Tua disimpan dalam sebuah ruangan tertutup berukuran 1,5 X 1,5Meter. Gong ini bisa berbunyi sendiri pada saat-saat tertentu.

Ngaji Al Qur’an di tengah persawahan

“Ini erat kaitannya juga dengan makam Raden Kekah, salah satu ulama penyiar Islam di Lombok, yang letak makamnya tak jauh dari Sanggar. Ini juga sudah menjadi wisata religi,” kata Ida.

Di lokasi lain, perkampungan pusat kerajinan tenun juga menjadi spot andalan Desa Setanggor. Di sini, selain bisa membeli cindera mata, pengunjung bisa melihat langsung bagaimana sejumlah wanita merangkai benang menjadi kain tenun khas Lombok dengan berbagai corak lokal.

Sentra tenun di Desa Setanggor.

Menurut Sekretaris Desa Setanggor, Genam (56), hampir 90 persen kaum wanita di Desa Setanggor punya kemampuan menenun kain, berkat tradisi turun temurun.

Berdasarkan data Pemerintah Desa Setanggor, jumlah penduduk Setanggor saat ini sekitar 2.026 Keluarga terdiri dari 4.606 jiwa tersebar di 14 Dusun di wilayah Setanggor.

Sekitar 1.800 penduduk di sana tergolong wanita dewasa dan ibu rumah tangga.

“Tenun ini tradisi dari dulu, sehingga hampir 90 persen wanita di Desa ini bisa menenun,” kata Genam.

Hanya saja, sebelum pusat tenun ini dibentuk produk tenun Setanggor dijual ke pusat tenun desa lain yang lebih terkenal, seperti Desa Sukarara, Lombok Tengah.

Pusat tenun Setanggor baru saja dibentuk sekitar 4 bulan yang lalu, dan kini sudah bisa menyerap produk masyarakat setempat sekaligus sebagai tempat pemasarannya.

Aktivitas menennun saat ini mulai terasa dampak ekonomisnya bagi masyarakat Desa Setanggor. Terutama sejak ada konsep Desa Wisata yang digagas mbak Ida dan Pokdarwis.

“Kami berharap ada perhatian juga dari pemerintah,” kata Genam, salah seorang penduduk.

Gra




Indahnya Telaga di Air Terjun Tiu Pupus

Kalau air terjun Tiu Teja terletak di antara dua desa, yaitu Desa Gondang dan Desa Genggelang Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara. Jika masih ingat tulisan perjalanan saya ke air terjun Kerta Gangga, yang dalam satu lokasi terdapat tiga air terjun. Nah air terjun Tiu Pupus merupakan lanjutan dari aliran air terjun Kerta gangga tersebut. Sumber mata airnya berasal dari satu mata air, yaitu mata air Kakong (nama dusun).

tiupupusminggu4
Ada waduk penampungan air terjun

Perjalanan mencapai Tiu Pupus di Lombok Utara sangat mudah. Jika sebelumnya pernah ke Bayan (atau Senaru lokasi Air Terjun Sendang Gile) maka menuju Gangga hanya setengah perjalanan menuju Bayan. Setelah melewati Kecamatan Tanjung (kantor Bupati) maka kita akan memasuki wilayah Desa Gondang Kecamatan Gangga.

Sekitar 50 meter melewati Kantor Desa Gondang, kita akan menemukan jalur menikung di pertigaan dan menemukan gerbang yang sudah lusuh di makan usia bertuliskan “Selamat Datang di Tiu Pupus”.

Memasuki gerbang tersebut kita akan menyusuri jalan aspal yang terkelupas. Sepanjang jalan tersebut saya harus zigzag dengan kondisi jalan yang terkelupas sehingga melambatkan perjalanan. Sampai kemudian saya menemukan tulisan welcome to Tiu Pupus waterfall, sebelum jembatan, melewati Jembatan kita akan menemukan pertigaan dan penunjuk arah ke kanan menuju Tiu Pupus.Tidak sampai  50 meter kita akan menemukan parkir yang luas untuk perjalanan menuju Tiu Pupus.

Dari tempat parkir kita menuju ke bawah dan menemukan Waduk yang merupakan penampungan dari air terjun tersebut.  Berjalan selama  5-10  menit melalui jalan setapak dan jembatan kayu buatan warga, terlihatlah wajah air terjun yang cantik dengan telaga kehijauan yang luas di dasarnya. Terdapat pula berugak dengan tiang 6 berlantaikan keramik, sebagai tempat beristirahat para pengunjung.

Kelebihan dari air terjun Tiu Pupus adalah kolam di dasarnya yang luas memanjang dan dijadikan  sebagai bendungan untuk irigasi persawahan warga. Tempatnya yang teduh dan cukup luas untuk  bersantai dan bisa dijadikan tempat memancing.

Tiu Pupusminggu1
Bisa juga jadi tempat mancing

Kolam yang luas tersebut cukup dalam sehingga untuk mereka yang belum bisa renang sebaiknya selalu ditemani atau menggunakan pelampung pengaman.

Semoga informasi ini bermanfaat.  Happy travelling.

 

Nyi-ita




TIU NGUMBAK, Perjalanan Wisata Religi, Budaya dan Alam

LOMBOK UTARA – lombokjournal

Keunikan mengunjungi Desa Gumantar, selain alam yang indah juga memiliki tradisi asli yang masih dipertahankan. Di Desa ini terdapat Masjid Kuno yang terbuat dari dinding bambu dan atap ilalang, (sperti yang di Bayan) yang masih digunakan sampai hari ini untuk keperluan upacara adat maupun keagamaan.

Hampir tidak ada penunjuk arah yang menunjukkan lokasi
Hampir tidak ada penunjuk arah yang menunjukkan lokasi

Lokasi Tiu Ngumbak berada di Desa Gumantar di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Perjalanan menuju Desa Gumantar sejalan dengan jalur menuju Bayan. Melampaui pertigaan Kayangan Kita akan melewati deretan Pintu Gerbang Desa di sebelah kanan jalan.  Salah satu Gerbang tersebut tertulis “Selamat Datang Ke Desa Gumantar”.

Memasuki desa ini disambut dengan hamparan persawahan. Kebetulan saat saya mengunjungi Gumantar, sawah penuh jagung menguning. Pemandangan indah di sore hari.

Jalur persawahan kita temui sepanjang kurang dari 500 meter,  setelah itu memasuki perumahan penduduk sekitar 3,5 km melewati jalan aspal yang mulus. Dan terasa  hampir di penghujung  kampung akan  menemukan pertigaan dengan  papan penunjuk jalan yang kecil bertuliskan Tiu Ngumbak 3,5 km. Maka pilihlah jalur yang berbelok ke kiri mengikuti petunjuk tersebut memasuki jalan tanah menuju Hutan lindung dan kawasan Taman Nasional.

Belasan rumah. seluruhannya masih berupa rumah kuno dengan bahan bambu dan atap ilalang.
Belasan rumah. seluruhannya masih berupa rumah kuno dengan bahan bambu dan atap ilalang.

Desa Lestari

Di desa ini, selain masjid kuno terdapat juga komplek perumahan adat.  Seluruh komplek yang terdiri dari belasan rumah. seluruhannya masih berupa rumah kuno dengan bahan bambu dan atap ilalang. Tradisi masih bertahan. Menuju Air Terjun Tiu Ngumbak kita akan melewati tatanan yang masih dilestarikan itu. (Saya akan membahas tentang budaya yang dipertahankan ini pada tulisan berikutnya).

Memasuki Hutan Kemasyarakatan (HKm), di awal perjalanan akan menempuh jalur yang lebar dan masih bisa di lalui oleh kendaraan roda empat. Tetapi setengah perjalanan, akan sampai ke jalan menyempit.Selama perjalanan di hutan akan menemukan beberapa persimpangan, tetapi ikuti saja jalur utamanya yang lurus hingga menemukan sebuah papan penanda kecil bertuliskan Tiu Ngumbak 1,5 km. Harap diperhatikan papan ini cukup kecil dan menempel di pohon, kita harus jeli memperhatikan agar tidak terlampaui dan menjadi tersesat.

Di desa ini terdapat masjid kuno seperti yang ada di Bayan
Di desa ini terdapat masjid kuno seperti yang ada di Bayan

Karena di lokasi hutan jarang bertemu warga sehingga sulit mencari petunjuk arah yang benar.  Tentu, bagi para pemula, saya sarankan mencari teman warga lkcal yang siap mengantar.

Jalur akan terus menyempit melalui tanjankan dan menyeberangi sungai kecil, bahkan melingkari pohon yang tumbang. Medannya masih cukup di lewati kendaraan roda dua bahkan kendaraan matik sekalipun. Hampir tidak ada penunjuk arah yang menunjukkan lokasi tepat dari Tiu Ngumbak.

Hanya jalur yang kita lewati di penuhi dengan tanaman tumpangsari, yang menandakan wilayah tersebut masih HKm. Nah, setelah berada di penghujung HKm, motor kami parkir di lokasi yang cukup lapang, tetapi tidak ada penanda untuk tempat parkir. Ini adalah lokasi terlapang terakhir menuju Tiu Ngumbak.

Perbatasan antara HKm dengan Kawasan Taman Nasional, memasuki hutan tanpa ditandai adanya jenis tanamam warga. Jalan yang kita lewatipun setapak dan sempit, dengan turunan yang cukup tajam. Di beberapa titik bahkan kalian harus berhati-hati meniti tebing berbatu dengan jalan yang lebarnya  hanya muat setngah kaki saya. Selain itu tanjakan yang mencapai 80 derajat membuat perjalanan merayap lambat.

Anak-anak muda yang menemani perjalanan,  menyiapkan tali dari akar-akaran untuk berpegangan, karena jalur yang begitu terjal dan lumayan licin.  Perjalanan itu cukup pendek hanya 45 menit untuk turun menuju air terjun Ngumbak dan perjalanan naiknya lebih mudah hanya 30 menit saja. Tentu bagi yang lebih muda, mestinya bisa lebih cepat yaa.

Akhirnya Tiu Ngumbak mulai tampak. Suara deru airnya yang bergelombang di atas lorong batu sebelum terjun menyapa lebih dahulu sebelum melidat pemandangan fisiknya. Air terjun ini terdiri dari 3 tingkatan. Setiap tingkatan yang jatuh memiliki kolam yang luas dibawahnya.

Airnya yang segar menggoda untuk berendam.
Airnya yang segar menggoda untuk berendam.

Sayang pada saat saya berkunjung airnya sedang menyusut, sehingga terjunan kedua dan ketiga terlihat kecil. Tapi itu tidak mengurangi keindahan air terjun Tiu Ngumbak. Airnya yang segar menggoda untuk berendam.

Tapi harus hati-hati karena pernah ada pengalaman tenggelamnya dua orang mahasiswa di kolam Tiu Ngumbak. Sehingga belakangan ini setiap pengunjung harus mendapatkan ijin tetua desa. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan para tetua desa akan menggelar ritual agar kolam Tiu Ngumbak tak lagi memakan korban.

Harus mendapatkan ijin tetua desa
Harus mendapatkan ijin tetua desa

Selain itu masih ada gua kelelawar nun jauh di dalam hutan kawasan Taman Nasional. Gua itu hanya diketahui dan dikunjungi oleh beberapa orang warga saja, salah satunya Kadus Dasan Beleq yang berada di pintu hutan

Ah, inilah perjalanan yang paling menantang bagi pecinta amatiran seperti saya. Tapi masih ada daftar wilayah lain yang sedang menunggu untuk di kunjungi. Selamat mencoba perjalanan budaya dan religi ke Tiu Ngumbak.

Nyi – ita




TIU KELEP, Air Terjun Yang Terbang

?????

Lombok Utara – lombokjournal

Kali ini saya bercerita perjalanan menuju Desa Senaru Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, melihat Air Terjun Sendang Gile dan air terjun yang tersohor keindahannya yaitu Tiu Kelep . Dua Air Terjun yang berada dalam satu area yang di hubungkan dengan aliran sungai dengan jarak sekitar 1 km.

Perjalanan dari Mataram bisa ditempuh melalui dua jalur yaitu jalur senggigi  atau Pusuk. Kedua jalan ini bertemu di Pemenang.

Perjalanan dari Mataram menuju desa Senaru bisa mencapai  2-3 jam. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan pantai yang tenang dan persawahan yang hijau. Sesampainya di Desa Senaru, kita akan menemukan Gerbang di sebelah kiri jalan yang menunjukan jalur menuju Air Terjun.

Dari Gerbang air Terjun,  tiket masuk harganya Rp5 ribu per orang, dan hanya berjalan 15-20 menit untuk mencapai Air Terjun Sendang Gile,  air terjun pertama di Lombok Utara yang menjadi  destinasi wisatawan. Jalur menuju air terjun sudah sangat nyaman, karena berbentuk tangga  yang lebar dengan pegangan besi di sisi Jurang sebagai pengaman.

Di tengah perjalanan kita akan menemukan berugak  tempat beristirahat, sementara bagi yang merasa  terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan.

Air Terjun Sendang Gile

Air Terjun Sendang Gile ketinggiannya mencapai sekitar 40 meter,  air sangat deras, percikannya yang keras mencapai radius 10 meter. Walaupun kita duduk santai di atas batu, yang ada di atas kolam air terjun, kita masih bisa merasakan  percikan air. Kita selalu menikmati suasana kesejukan di seputaran air terjun Sendang Gile.

Airnya dingin dan jernih  membuat mandi terasa segar. Jika terlalu lama berendam, tubuh akan menggigil saking dinginnya. Selain di seputaran air terjun yang membentuk kolam, aliran sungainya juga jernih untuk tempat bermain anak-anak yang tidak berani berdekatan dengan air terjun.

Di Sekitar air Terjun Sendang Gile terdapat lapak-lapak berjualan makanan kecil dan minuman. Jadi takperlu kawatir kalau lupa membawa bekal.

Air Terjun Tiu Kelep

Setelah dari Sendang Gile, sekitar 20-30 anak tangga dari air terjun menuju ke gerbang, terdapat jalan kecil di sebelah kiri, mengikuti saluran air. Jalan inilah yang akan membawa kita menuju Air Terjun Tiu Kelep. Memang tidak ada penunjuk jalan menuju, karena itu banyak warga sekitar yang menawarkan jasanya menjadi pemandu menuju Tiu Kelep.

Jika merasa tidak perlu menyewa pemandu, yang ongkosnya kisaran 100-150 ribu, bisa  berjalan sendiri karena jalurnya cukup jelas, dan biasanya kita berpapasan dengan pengunjung yang menuju atau kembali dari Tiu Kelep.

tiu kelep2

Melewati jalan perkerasan batu, tangga dan menyusuri saluran air, kita disuguhi pemandangan hutan lindung  yang sejuk menyegarkan. Selain itu perjalanannya juga  meyeberangi sungai dengan ketinggian selutut atau kurang dari satu meter, sebanyak dua kali yang memberikan rasa yang cukup mendebarkan namun asyik.

Perjalanan kami yang mencapai  20 menit  dengan iringan  hujan deras terasa sebagai penjelajahan yang melelahkan, tetapi terbayar dengan pemandangan Tiu Kelep yang sudah tampak dari jarak sekitar 100 meter.

Air terjunnya sungguh terlihat anggun dengan ketinggian melebihi 40 an meter dimana. Lemparan air terjunnya menjauhi tebing sehingga terlihat seperti  air beterbangan (kelep). Ditambah lagi dengan banyaknya air terjun kecil yang menyertai di bawahnya. Kolam tempat mandinya terlihat lebar dengan bebatuan besar di tepian. Tetapi anda harus berhati-hati karena bebatuan di lokasi itu cukup licin.

Nah itu dia Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep, satu lokasi anda mendapatkan dua air terjun, dengan pemandangan yang menakjubkan.

Nyi -Ita




Air Terjun TIU TEJA, Si Kembar Yang Menawan

LOMBOK UTARA – lombokjournal

Tiu Teja merupakan air terjun yang terletak di Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.  Termasuk kawasan lembah Gunung Rinjani. Dalam satu wilayah desa kita menemukan dua air terjun: Air Terjun Tiu Teja dan Tiu Sekeper.

tiu teja1Perjalanannya sangat mudah. Kalau dari Mataram, jika anda pernah melalui jalur menuju Bayan (lokasi Air Terjun Sendang Gile), kita melewati Kecamatan Kayangan. Di pertigaan sebelum sampai ke Bayan, di kecamatan Kayangan kita menemukan pertigaan yang ditandai sebuah tugu batu.  Dari tugu itu (jalur lurus menuju Bayan) belok kanan akan terus paling atas kita akan sampai Desa Santong. Sekitar 30 menit menyusuri jalan beraspal mulus dengan banyaknya tanjakan , maka kita akan melihat plank nama kecil di sebelah kiri jalan yang bertuliskan Welcome to waterfall Tiu Teja dan Tiu Sekeper.

tiu teja6
Welcome to Waterfall Tiu Teja

Dengan membayar tiket sebesar 5 ribu per orang, kita melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan. Jika menggunakan mobil harus parkir sekitar 50 meter dari penurunan Air Terjun. Tetapi jika menggunakan roda dua bisa diparkir persis di atas tangga menuju Tiu Teja.  Di seputaran parkir disediakan berugak dan kursi-kursi kayu tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

tiu teja2
Hati-hati tangga tidak ada palang pegangan

Menuju air terjun Tiu Teja, memakan waktu sekitar 15 menit, perjalanan menurun tajam tetapi jalurnya cukup nyaman karena sudah berupa anak tangga terbuat dari campuran semen dan pasir. Tapi tetap harus berhati-hati karena tidak adanya palang pegangan di sepanjang tepi jurang. Bahkan di satu titik kami menemukan sebagian bahu jalan telah longsor.

Lagi-lagi saya menemui hujan sepanjang perjalanan, tetapi hujan tak menyurutkan langkah untuk mengintip si Kembara yang cantik. Tiu Teja merupakan air terjun kembar,  terlihat menawan dan unik. Di dasarnya terdapat kolam untuk mandi dan berendam dengan pantulan air air terjun laksana kepulan kabut.

Masih ada satu air terjun lagi yaitu Tiu Sekeper. Tapi menuju  air terjun Tiu Sekeper masih memerlukan perjalanan sekitar 2,5 km lagi, perjalanannya menempuh medan lumayan berat.  Sayang sekali, karena sudah sore ditambah dengan  hujan yang membuat jalur becek dan licin, kami terpaksan tidak melanjutkan perjalanan.

Nyi – Ita




Pantai Cemare, Pantai Hutan Bakau

hutan bakau1
Kita bisa berkeliling hutan bakau menggunakan perahu untuk mendapatkan lanskap memotret yang indah.

LEMBAR – lombokjournal

Dusun Cemare di Desa Lembar Selatan, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, merupakan pesisir pantai  yang ditumbuhi  tanaman mangrove atau bahasa lainnya. Bakau.  Perjalanan dari Mataram menuju Pantai Hutan Bakau Cemare  memakan waktu sekitar satu jam.

Dengan memacu kendaraan melalui jalan by pass (yang baru selesai dibangun), dari Pagesangan menuju Gerung. Sampai di Bundaran Gerung, belok ke kanan menuju arah Lembar. Setelah melewati Jembatan yang kembar (terdapat dua jembatan tetapi yang digunakan cuma satu), kita memasuki Desa Lembar. Kita belok ke kanan menyeberangi  jalan utama menuju jalan kecil beraspal, yang ditandai adanya pohon beringin di pinggir Jalan.

Sekitar 10 menit menyusuri jalan aspal, kita akan  menemukan POL AIRUD. Pantai hutan bakau Cemare terletak di belakangnya.

hutan bakau2
Warga melindungi pesisir pantai dengan menanam mangrove/bakau.

Sejak tahun 2012 warga dusun Cemare mulai tergerak melindungi pesisir pantai dengan menanam mangrove/bakau. Walau semula hanya diinisiasi beberapa orang , tapi kesungguhan, ketekunan dan kemauan keras menyelamatkan lingkungan dusunnya, perjuangan panjang tersebut akhirnya mulai bisa dinikmati manfaatnya.

Lahan-lahan tidak lagi terkikis, dan kehidupan lautnya dapat dimanfaatkan warga sebagai mata pencaharian. Dan satu lagi manfaat yang diperoleh yaitu Pante Cemare dengan hutan mangrove/bakaunya  menjadi salah satu alternatif destinasi wisata pilihan.

Sekarang dengan makin aktifnya pemda menggalakkan sektor pariwisata,  hutan mangrove Cemare mulai dijadikan destinasi wisata lokal yang dikelola oleh BUMDES Lembar.

Pemandangan Senja yang cantik di balik hutan bakau, Jembatan kayu selebar 1 meter memanjang sepanjang 50 meter  untuk melihat view yang menarik,  ditambah tersedianya perahu yang dapat disewa berkeliling menikmati pemandangan di sepanjang hutan bakau.

Jangan lupa untuk menyiapkan kameramu untuk selfie maupun foto panorama. Panorama yang menawan bisa kamu dapatkan dari berbagai sudut di Hutan Bakau Cemare.

Lokasi wisata tersebut terbilang kecil. Tempat parkir yang agak sempit yang terlihat berjejalan dengan pedagang kaki lima. Di bawah beberapa pohon besar yang rindang, kita bisa menikmati jagung bakar dan makanan kecil lainnya.

hutan bakkau4
Berpose ria di jembatan yang romantis

Hampir setiap sore tempat ini ramai dikunjungi, terutama para muda mudi sebagai tempat nongkrong atau salah satu view memotret.  Untuk memasuki Jembatan cukup membayar tiket masuk sebesar Rp. 2000 per orang.   Dan hanya dengan 10 ribu kita bisa berkeliling hutan bakau menggunakan perahu untuk mendapatkan lanskap  memotret yang indah.

Nah, selamat menikmati senja yang indah ….

Nyi-Ita




PANTAI TEBING, Berdiri Tegak Dari Butiran Pasir

Tebing di tepi pantai, yang terbentuk dari butiran pasir besar
Tebing di tepi pantai, yang terbentuk dari butiran pasir besar

lombokjournal

Jika ada yang menyebut pantai, maka terlintas di kepala saya pantai dengan  pasir putih, ada pohon Ketapang dan Kelapa memayungi pesisir, dan pantai sepanjang pesisir utara Pulau Lombok — mulai Senggigi hingga  Bayan — terasa teduh.  Namun, pantai satu ini memiliki lanskap berbeda dengan pantai-pantai yang lain.

Kawasan pantai ini berada di Desa Rempek, Lombok Utara, sungguh memberikan pemandangan yang unik. Perjalanan dari Mataram menuju pantai ini mencapai 1,5 jam, dengan jangkauan hingga 50 km. Jalur yang ditempuh melalui Pusuk atau Senggigi menuju Pemenang. Kemudian menyusuri jalan propinsi satu-satunya menuju kea rah Bayan.

pantai tebing2
Pantai dengan lanskap yang unik

Setelah 30 meter melalui Gerbang Desa Rempek, kita akan melihat Papan penanda Pantai Tebing di sebelah kiri (barat) jalan aspal.  Jalan yang ditunjuk menuju pantai  tebing merupakan jalan rabat dan tanah sepanjang 200 an meter. Jalan tersebut tidak lebar,  membuat kesulitan bila ada mobil berpapasan.

Sekitar 5-10 meter dari  bibir pantai terdapat tebing vertikal yang berdiri sepanjang 50 an meter dengan tinggi menjulang hingga 25 meter.  Konon, tebing ini terbentuk dari endapan hasil Tsunami akibat meletusmya Gunung Tambora yang dasyat tahun 1815. Lumpur laut yang terbawa tsunami menumpuk, ditambah endapan debu dan awan panas yang terbawa angin dari Pegunungan Tambora ke Pulau Lombok.

Ukiran gradasi warna dari setiap lapisan endapan yang menahun, memberikan lanskap yang unik.

Untuk menemukan pemandangan yang indah dan bernuansa sejuk, sebaiknya datang pada saat senja. Dengan latar belakang cahaya matahari jingga, memberikan warna yang berbeda menerpa dinding tebing yang berukir.

Tebing Butiran Pasir

Bentuk tebingnya tidak merupakan  susunan batu cadas yang keras.  Tebing itu terdiri dari butiran pasir agak besar, sehingga kalau kita berada di bawahnya akan merasakan butiran-butirannya berguguran. Karena itu ada kekhawatiran tebing itu akan  longsor. Pengunjung disarankan tak terlalu lama berada di bawah tebing. Walaupun,  belum ada catatan sejarah tebing itu pernah runtuh.

Jika siang hari pantai ini akan terasa panas, karena tidak ada tempat berteduh, hanya ada berugak di kebun2 warga yang berada di sisi utara pantai sekita 15-20  meter dari tebing. Pedagang yang berjualan air minum dan makanan kecil pun sedikit,, dan biasanya mereka berjualan saat musim libur.

Walaupun tersusun dari butiran pasir besar, belum ada catatan sejarah tebing itu pernah runtuh.
Walaupun tersusun dari butiran pasir besar, belum ada catatan sejarah tebing itu pernah runtuh.

Ombak yang kecil akan membuat anak-anak merasa aman untuk mandi.Sore hari saat matahari terbenam,  kita bisa menyaksikan keindahan panorama senja.

Nyi-Ita




Mendaki Gunung Sasak Yang Penuh Legenda

lombokjournal

Saya sudah mendaki Gunung Sasak.  Saya ingin menemukan sudut pandang yang Indah, di gunung yang masuk wilayah Kecamatan Kuripan, Lombok Barat. Mencapai puncaknya  kita memiliki 6 jalur terbuka,  bisa diakses  melalui 6 Desa yang mengelilinginya, antara lain Desa Kuripan, Desa Kuripan Selatan, Desa Giri Sasak, Tempos dan beberapa desa lagi.  

di atas kita bisa melihat pemadangan kota di bawahnya. Puncak Gunung Sasak, bisa melihat perkantoran Pemerintah Kabupaten Bupati Lombok Barat, kantor bupatinya dengan warna putihnya yang mentereng. Nun jauh disana terlihat Islamic Center, di Kota Mataram.
Puncak Gunung sasak, kita bisa melihat pemadangan kota di bawahnya. Termasuk bisa melihat perkantoran Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, kantor bupatinya dengan warna putih yang mentereng. Nun jauh disana terlihat Islamic Center, di Kota Mataram.

Semua jalur pendakian, tentu menghadiahkan keindahan  yang berbeda. Tapi konon, dari jalur mana pun, punggung gunung maupun lembahnya selalu terlihat sama. Unik, bukan?

Saya sempat bertemu Kepala Desa Kuripan Selatan, Zulfana, dan menyimak ceritanya. Dalam Babad Lombok disebutkan, Pulau Lombok mempunya tiga gunung yang memiliki hubungan mistis. Ketiga gunung yang dimaksud adalah Gunung Rinjani, Gunung Sasak dan Gunung Kedaro.

Mencapai puncak Gunung Sasak hanya memakan waktu hingga 1,5 jam
Mencapai puncak Gunung Sasak hanya memakan waktu hingga 1,5 jam

Dan berdasarkan teropong “orang pintar”, Gunung Sasak berada dalam satu garis lurus dengan Pura yang berada di Lingsar.  Tak heran, Gunung Sasak menjadi salah satu lokasi ketinggian yang stratgeis tumbuh dan berkembangnya budaya Sasaq masa lampau.

Suasana Mistis

Saya  mengikuti jalur dari Desa Kuripan Selatan, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat. Dari Mataram saya menggunakan jalur by pass menuju Gerung. Melanjutkan perjalanan melalui Jalur BIL, hingga berbelok memasuki Kecamatan Kuripan. Dari Jalur Bil kita melewati SMK Kuripan dan terus menuju Desa Kuripan Selatan.

Tentu saja, mendaki gunung ini jangan dibayangkan seperti mendaki  Rinjani yang tinggi menjulang. Mencapai puncak Gunung Sasak hanya memakan waktu hingga 1,5 jam. Ada dua jalur yang dapat ditempuh, yaitu Jalur melingkar yang lebih landai atau jalur yang terjal menanjak yang dapat dicapai lebih singkat, hanya kurang dari satu jam.

Saya memilih menggunakan jalur landai menuju puncak, tapi waktu turun memilih melalui jalur cepat. Sehingga saya bersama rombongan bisa memahami kedua jaur tersebut.

Pura yang hingga kini masih digunakan umat Hindu beribadah. Meski keadaannya tak terlalu terawat.
Pura yang hingga kini masih digunakan umat Hindu beribadah. Meski keadaannya tak terlalu terawat.

Pemandangannya sangat indah, di atas kita bisa melihat pemadangan kota di bawahnya. Dari atas kita bisa melihat perkantoran Pemerintah Kabupaten Bupati Lombok Barat, kantor bupatinya  dengan warna putihnya yang mentereng. Nun jauh disana terlihat Islamic Center, di Kota Mataram. Sayangnya jarak yang cukup jauh itu tak memungkinkan kamera yang bukan jenis kamera fotografer professional, tak  mungkin dapat menangkap pemandangan kota yang menawan itu.

Di Puncak Gunung terdapat Pura, yang hingga kini masih digunakan umat Hindu beridabah. Meski keadaannya tak terlalu terawat. Pada hari-hari tertentu, umat Hindu datang membawa sesajen untuk sembahyang di pura tersebut. Di sebelah kiri bangunan pura terdapat lantai sisa bangunan yang sudah tidak memiliki atap.

Menurut cerita, di tahun 70 an, warga Hindu dan warga muslim Sasak yang disebut Wetu Telu (secara harfiah, artinya Waktu Tiga) sering melakukan doa bersama. Para warga Hindu berdoa di Pura sedangkan warga muslim berdoa di sebelah kiri pura.

Di puncak Gunung Sasak, memandang bangunan Pura, saya menemukan suasana mistis dari bangunan yang kurang terawatt. Di sekeliling pura di tumbuhi pohon-pohon besar,  hingga menghalangi pandangan menuju lembah pegunungan. View yang indah kami dapatkan dari punggung yang berjarak 100 meter dari Puncak berada di perkebunan warga.

Tapi di tengah keindahan itu, ada situasi memprihatinkan. Gunung Sasak yang merupakan hutan Lindung, ternyata puncaknya sudah berubah menjadi lading dan persawahan warga. Tidak dijumpai lagi pepohonan besar sebagai penahan air dan tanah.

View yang indah kami dapatkan dari punggung yang berjarak 100 meter dari Puncak berada di perkebunan warga.
View yang indah kami dapatkan dari punggung yang berjarak 100 meter dari Puncak berada di perkebunan warga. (foto: nyi-ita)

Semoga  ada penyelesaian atas sengketa kepemilikan lahan tersebut. Saya bersama rombongan kecil pulang dibekali sayuran yang ditanami warga.  Pak  Kades Kuripan Selatan sangat baik, bersedia mengantar kami menuju puncak.

Nyimas Anita.