Atasi Hoax, Samalas Institute Gelar Diskusi Publik

Samalas Institute menggelar diskusi publik bertajuk “Peran Media menghadapi Hoax demi keutuhan NKRI”, Kamis (16/3) di Aula MAN 2 Mataram.

MATARAM.lombokjournal.com — Kegiatan yang melibatkan sejumlah pelajar, mahasiswa dan pelaku media itu, dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Gubernur, H Imhal.

“Masyarakat hendaknya mulai tanggap atas pemberitaan yang ada saat ini, untuk kita cek dan ricek atas kebenaran, keabsahan dan sumber yang jelas. Intinya bijak, untuk memilah mana berita yang jelas dan mana yang Hoax,” kata H Imhal, dalam sambutannya.

Menurut Imhal, dewasa ini berita hoax sudah  merambah ke semua kalangan masyarakat akibat kemajuan teknologi dan informasi yang sangat pesat.

Sehingga untuk menghindari hoax terasa tidak mungkin dilakukan, selain berupaya untuk lebih teliti dan bijak menyerap informasi, atau pun menyebarkan informasi ke publik.

“Mari kita berusaha menyebarkan berita kebaikan, informasi bermanfaat untuk melawan pemberitaan yang menyesatkan/hoax,” tukas Imhal.

Ketua IJTI NTB, Herman Zuhdi mengatakan, media massa selama ini juga terus berupaya melawan hoax.

“Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia telah serius dan berusaha menjalankan amanah ini sesuai koridor,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Dinas Komunikasi dan Informasi Statistik (Diskominfotik) NTB,  Tarmidzi S.Kom mengatakan, darisisi regulasi pemerintah Provinsi NTB sudah melakukan upaya pencegahan dan penangkalan berita Hoax melalui Surat Edaran Gubernur No 550/002/Kominfotik 2017 tentang Implementasi E-Government dan Penggunaan Medsos di lingkup Pemprov NTB.

SE itu mengatur tiap lembaga dinas dan instansi lingkup Pemprov, dan juga jajaran aparat sipil negara (ASN) di lingkup Pemprov NTB untuk menerapkan  email resmi Pemprov, memiliki akun Medsos.

Selain itu juga diminta menyebarkan informasi pembangunan, share ke web resmi Pemprov NTB,  wajib blokir konten negatif, tidak copas berita hoax dan semua kegiatan ini termasuk dalam laporan kinerja ASN,” kata Tarmidzi.

Tarmidzi mengajak semua audiens yang kebanyakan hadir dari kalangan pelajar dan mahasiswa itu untuk maju bersama memerangi Hoax.

“Mari selamatkan bangsa ini dan jaga kebersamaan demi NKRI, andalah generasi muda harapan bangsa ini yang mampu untuk itu,” katanya.

AYA




Ujian Nasional Lampu Padam, PLN Disorot

Pemadaman listrik PLN yang terjadi di pulau Lombok, Senin (13/3), saat ujian nasional berlangsung dikeluhkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB.

Belajar kelompok saat ujian nasional terganggu karena lampu padam dari PLN (foto : NET)

MATARAM.lombokjournal.com — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  NTB, HM Suruji mengatakan, pihaknya sudah meminta PLN agar kasus pemadaman listrik jangan sampai terjadi di saat masa ujian nasional tahun ini.

“Tentu kalau sampai ada pemadaman listrik akan berpengaruh ke pelaksanaan ujian karena tahun ini ujian mulai menggunakan sistem komputer,” kata Suruji, Selasa (14/3).

Menurutnya, pihaknya juga sudah menyampaikan masalah ini ke Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin.

“Pak Wagub sudah bersurat ke PLN dan pihak Telkom agar pada hari ujian tidak terjadi gangguan internet atau pemadaman listrik,” katanya. Pihak PLN dan Telkom, menurut Suruji, akan  berupaya semaksimal mungkin menghindari pemadaman listrik.

“Sebab,  kalau semua mati lampu kan gak bagus juga. Apalagi kalau internetnya terganggu kan jadi masalah. Karena kalau menggunakan jenset dikhawatirkan tidak mampu,” kata Suruji.

Seperti diketahui Ujiian Nasioanal akan diadakan pada tanggal 3 April untuk SMK dan 10 April untuk SMA sederajat.

 

AYA




Pelajar di NTB Dilarang Bawa HP, Mulai April

Pemerintah NTB akan memberlakukan larangan membawa handphone bagi pelajar SMP dan SMA sederajat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, HM Suruji

MATARAM.lombokjournal.com —  Per 1 April mendatang larangan ini akan mulai diberlakukan di Kota Mataram yang menjadi percontohan untuk 9 daerah Kabupaten dan Kota lainnya di NTB.

“Larangan ini akan mulai efektif 1 April, kita mulai dari sekolah-sekolah di Kota Mataram,” kata Gubernur NTB, TGH Muhammad Zainul Majdi, saat melakukan sidak di SMA Negeri 1 Mataram, Selasa (14/3).

Larangan membawa handphone di lingkungan sekolah akan diatur melalui Surat Edaran Gubernur. Larangan ini berlaku untuk semua sekolah SMP, SMA, SMK dan juga Madrasah Mts dan MA di msemua Kabupaten dan Kota di wilayah NTB.

Berdasarkan pantauan dan pengawasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) NTB, membawa handphone ke sekolah ternyata membuat daya konstentrasi peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar jadi menurun.

“Proses belajar mengajar juga menjadi tidak maksimal, artinya kalau HP ada di sekolah itu kan rentan digunakan untuk hal tidak baik, berinternet tidak sehat juga masih banyak,” katanya.

Selain itu, penggunaan HP di lingkungan sekolah juga akan mengurangi interaksi sosial sesama murid dan juga murid dengan guru.

Pelarangan membawa HP ke sekolah menurut Gubernur Majdi, juga dilakukan agar minat baca buku para pelajar di perpustakaan sekolah masing-masing bisa meningkat.

Untuk keperluan komunikasi dengan orang tua atau wali khususnya saat pulang sekolah. Maka di tiap sekolah akan difasilitasi dengan line telepon khusus yang bisa dihubungi wali murid.

Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi bersama jajaran Dinas P dan K NTB, Selasa (14/3) melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah SMA dan SMK di Kota Mataram sebagai persiapan penerapan larangan ini.

Kepala Dinas P dan K NTB, Muhammad Suruji mengatakan, larangan membawa HP ke sekolah ini akan efektif dilaksanakan 1 April mendatang.

“Efektif 1 April. Jadi sekolah-sekolah yang menerapkannya kita siapkan telepon khusus dan juga internet gratis, sehingga tidak ada lagi alasan siswa bawa HP ke sekolah,” katanya.

AYA




Bingkisan Seragam untuk Siswa Bima

Usai memberi bingkisan; (dari kiri) Ir Syamsudin, Kadis Ketahanan Pangan Kota Bima (Wakil ketua IKA Unram Kota BIMA), Drs H. Ramli Hakim, Ketua IKA Unram Kota Bima, Hj Raudah, Kepala SD 45 Pane, Drs Cukup Wibowo, MMPd, Sekjen IKA Unram, Lalu Athar F, SE, Wasekjen IKA Unram

Peduli pasca bencana banjir di Bima dilakukan Ikatan Alumni (IKA) Universitas Mataram. Siswa SD 45 Pane, Kota Bima menerima bingkisan  seragam sekolah.

BIMA  –  lombokjournal.com

Kepala Sekolah SD 45 Pane Kota Bima, Hj Raudah, S.Pd, hari Sabtu (21/1) pagi, tampak haru. Disaksikan orang tua siswa,pagi itu ia menerima bantuan seragam sekolah dari pengurus IKA Unram Kota Bima, H Ramli Hakim, MSi.

Kalau dinilai uang memang tak terlalu muluk. Namun perhatian dan empati para alumni Unram pasca Kota Bima diterjang banjir bandang yang meludeskan harta benda warga kota itu, membuat Hj Raudah tak bisa menahan haru.

Bagi para siswa-siswa SD 45 Pane bantuan seragam itu sangat berarti. Pasalnya, banjir bandang itu juga menghanyutkan peralatan sekolah termasuk seragam siswa.

“Saya sangat berterima kasih atas kepedulian rekan-rekan alumni Unram. Seragam sekolah ini sangat dibutuhkan para siswa,” kata Raudah.

Penyerahan bantuan seragam itu disaksikan Sekjen IKA Unram, Drs Cukup Wibowo MMPd, Wasekjen Lalu Athar F, SE serta jajaran pengurus lainnya.

Pada kesempatan itu,  Ramli Hakim mengucapkan apresiasinya pada bantuan semua pihak yang mempercayakan bantuannya pasca banjir Kota Bima melalui IKA Unram. IKA Unram juga telah menyalurkan bantuan sembako saat warga kota mengalami musibah banjir bandang.

Menurutnya, kehadiran IKA Unram ikut meringankan beban yang dirasakan warga Kota Bima. “Ke depan, kami akan selalu hadir di tengah-tengah masyarakat yang tertimpa bencana. Kegiatan serupa akan terus kami lakukan,” kata Ramli yang juga Kepala Inspektorat Kota Bima.  Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih mewakili Pemkot Bima atas komitmen yang ditunjukan jajara IKA Unram.

Sekjen IKA Unram, Cukup Wibowo, berharap bantuan tahap 4 yang merupakan bagian seluruh tahapan bantuan ini, diharapkan akan menguatkan keberadaan IKA Unram sebagai wadah alumni yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat. “Terutama saat masyarakat mengalami kesulitan,” katanya.

Rr

 




Hari Santri Nasional, PWNU NTB Napak Tilas Perjuangan Ulama

MATARAM – lombokjournal.com

Menandai peringatan Hari Santri Nasional, Jajaran PWNU NTB, termasuk Badan Otonom (Banom), secara serentak melakukan Kirab Tapak Tilas perjuangan para Ulama, Sabtu (22/10).  Kegiatan napak tilas itu dilepas di Kantor PWNU NTB di Mataram menuju Ponpes Abhariyah,  Pagutan (Mataram), Dari Pagutan dilanjutkan menuju makam Tuan Guru Shaleh Hambali di Ponpes Darul Qur’an Bengkel (Lobar).

harisantri22okt

Kirab tersebut diakhiri di Ponpes Al Ishlahuddiny, Kediri. Kedatangan rombongan kirab yang diikuti ratusan peserta tersebut diterima pimpinan Ponpes Al Ishlahuddiny, TGH Muhlis Ibrahim, yang didampingi Ketua PCNU Lombok Barat, DR Nazar Naami, dan Wakil Ketua DPRD Lobar, Sulhan Muhlis, ST. Selain itu, juga ikut menyambut Dewan Perguruan dan ribuan Santriwan dan Santriwati.

Tampak dalam penyambutan itu  Ormas Pemuda Pancasila Kecamatan Kediri, HMI Kediri, Karang Taruna dan Forum remaja Masjid se Kecamatan Kediri. Meski saat penyambutan berlangsung di tengah hujan lebat, namun tak mengurangi antusiasme para santri yang menyambut.

“Salut pada perjuangan tokoh-tokoh ulama dan pesantren, sehingga keluar keputusan pemerintah tentang penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional,” kata TGH Muhlis Ibrahim usai acara penyambutan.

Menurutnya, lahirnya Hari Santri Nasional merupakan hasil perjuangan tokoh-tokoh NU di pusat. Patut bagi santri dan pesantren seluruh Indonesia, sebagai tempat tumbuh dan  berkembangnya santri dan tafaqquh fiddin. menyambut dengan semarak peringatan Hari Samtri.  “Seperti roadshow yang juga dilakukan pengurus Cabang NU Lobar,” kata TGH Muhlis Ibrahim.

Emas Farosy.

 

 

 




Mendesak, Sekolah Seni di NTB

MATARAM – lombokjournal.com

Kekayaan khazanah seni di NTB sudah saatnya diikuti dengan adanya pendidikan formal yang  khusus menyelenggarakan kurikulum pengajaran kesenian. “Saya berharap sekolah seni bisa terwujud di NTB,” kata Direktur Kesenian Kementerian Depdikbud, Prof Endang Caturwati dalam percakapan dengan Lombok Journal di Mataram, Minggu (28/8).

Prof Endang Caturwati
Prof Endang Caturwati

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), baik di Pulau Sumbawa atau Lombok, memiliki kekayaan berbagai jenis seni tradisi, antara lain musik tradisi, tari atau sastra lisan. Banyak di antara seni tradisi itu – karena kecilnya perhatian pada konservasi seni tradisi itu – mulai dilupakan masyarakatnya.

Selama dua hari di Lombok, Profesor Endang banyak bertemu dengan guru-guru  di sekolah untuk mendiskusi seputar pendidikan seni di sekolah. Bukan hanya karena potensi khazanaah kesenian di NTB sangat kaya, tapi murid-murid sekolah sangat antusias mengikuti pelatihan kesenian. “Saya jadi bertanya-tanya, kenapa sih di NTB belum ada sekolah seni,” kata Endang.

Memang diakuinya, dampak langsung dari kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan Pemerintah, anggaran bantuan infrastruktur langsung untuk pendidikan seni jauh menurun. Kalau tahun sebelumnya, diberikan bantuan untuk laboratorium seni masing-masing sebesar Rp700 juta  dengan bangunan untuk 15 sekolah, untuk tahun ini jumlah bantuan itu dibatasi hanya untuk empat sekolah.

Meski demikian Endang menganggap penting dan mendesak adanya sekolah kesenian di NTB. Memang belum ada guru-guru yang langsung menyampaikan usulan tentang sekolah kesenian. Namun hasil bincang-bincang dengan para guru, Endang mulai berpikir adanya sekolah  kesenian,.

“Sekolah kesenian itu penting untuk konservasi dan inovasi,” tegas mantan Rektor STSI Bandung.

Dicontohkannya tentang seni Gendang Beleq. Musik tradisi yang sangat populer di Lombok itu sangat diminati siswa. Tapi saat anak didik itu ingin mempelajari Gendang Beleq menghadapi persoalan terbatasnya biaya untuk membeli alat-alat kesenian. Kadang-kadang karena keterbatasan alat-alat iu, anak-anak belajar dengan alat pengganti yang tidak sesuai.

Dengan adanya sekolah seni, antara lain akan mengatasi hambatan-hambatan seperti itu. ”Ini juga memotivasi anak agar bisa berkembang,” kata Endang yang sempat akan membicarakan itu dengan Bupati Lobar, Fauzan Khalid, namun urung karena ia harus segera kembali ke Jakarta.

Suk

 




TRADISI “MUJA TAON-BALIT” MASYARAKAT DESA LENEK

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Masyarakat Lenek Desa Bentek Kecamatan Gangga masih mempertahankan tradisi selamatan sebelum dan setelah menggarap sawah mereka. Tradisi ini disebut Muja Taon (sebelum menggarap) dan Muja Balit (setelah memanen).

Ritual adat tiap tahun ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur warga. Mereka meyakini karunia Tuhan di alam semesta ini melimpah ruah dan manusia patut mensyukurinya. Tanah yang subur dan alam yang indah nan sejuk membawa keberkahan yang sungguh luar biasa.

Mereka yakin Tuhan akan memberi berkah kepada hamba-Nya bila selalu ingat atas segala karunia dan rahmat yang diberikan. Perayaan Muja Taon dan Muja Balit ini adalah pengejawantahan mereka atas segala macam karunia yang diberikan Tuhan di muka bumi.

Ritual ‘sebelum turun ke areal sawah pertanian’ itu dirayakan sebagai doa agar panen berlimpah ruah dan terbebas dari pelbagai macam hama penyakit. Sedang ritus adat yang digelar setelah panen itu sebagai bentuk ‘rasa syukur atas keberhasilan panen’.

Dua ritus adat dirayakan di waktu berbeda, bentuk pelaksanaannya hampir sama. Misalnya pada malam hari acara biasanya diisi dengan persiapan dulang (sesajen) yang berisi berbagai macam makanan.

Malam hari suasana kampung semakin ramai dengan tabuhan gamelan. Pada malam itu pula gamelan yang penduduknya seratus persen umat Budha, dikeluarkan dan ditabuh. Tabuhan gamelan tersebut diiringi dengan berbagai jenis tarian. Dan tarian itu biasanya dilakukan spontan oleh kaum hawa willayah, muda-mudi, anak-anak dan para tua di wilayah setempat.

Acara doa bersama dilakukan di salah satu makam leluhur. Biasanya makam yang dianggap keramat dan mendatangkan berkah bagi warga. Di kompleks makam itu seluruh jenis makanan dari pelbagai bahan yang disiapkan sehari sebelumnya, disajikan lalu dikumpulkan dengan susunan rapi, mirip tangga berundak. Kemudian makanan itu didoa kemudian dibagi dan dimakan secara bersama-sama.

Untuk ritual Muja Balit, puncak acara ditandai dengan pelbagai bentuk ketupat yang telah dihias dengan apik. Kemudian acara ditutup dengan perang tupat. Ketupat yang telah dikumpulkan dijadikan senjata. Dan, menariknya lagi cuma anak-anak saja yang boleh ikut perang topat ini.

djn

 

 




Wayang Sasak Berdialog Soal Perdamaian, Ajak Penonton Menyanyikan Indonesia Raya

MATARAM – lombokjournal

Di tengah pertunjukan wayang di Pantai Ampenan,  Kapolsek Ampenan, Kompol Sujoko Aman, yang malam itu duduk di deretan penonton, dipanggil maju berdialog dengan tokoh-tokoh wayang. Kapolsek pun bicara soal perdamaian, yang menurutnya diawali dari diri masing-masing.  “Kalau kesadaran dalam diri sudah terbangun maka perdamaian bersama akan bisa kita wujudkan,kata Joko menjawab pertanyaan salah satu tokoh wayang, Amaq Ocong.

wayangsasak,13Agustus4

Juga Zulhakim, Pendiri Komunitas Semeton Ampenan, diajak berdialog. Zulhakim pun mengapresiasi Roah Ampenan, ” Kegiatan seperti ini kita butuhkan sebagai pengingat , perdamaian itu mutlak dibutuhkan untuk keharmonisan Ampenan.” katanya.

Dua dialog itu bagian dari pentas wayang perdamaian di taman eks Pelabuhan Ampenan, Sabtu, 13/8.  Pentas wayang itu, antara lain, menjawab kegelisahan makin renggangnya interaksi sosial warga Ampenan.

“Mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Seolah tak ada lagi waktu buat bercengkrama,” kata Abdul Latif Apriaman, penanggung jawab pentas wayang itu, dalam rilisnya yang dikirim ke Lombok Journal.

Menurutnya, sekarang banyak orang sibuk membangun dunianya masing-masing;  dunia maya dengan komunitas sosial maya, tegur sapa maya, senyum dan kesedihan maya termasuk solidaritas maya.

Roah Ampenan; Pentas Wayang Perdamaian, adalah bagian dari kerja Hibah Cipta Perdamaian Kelola 2016. “Roah Ampenan adalah perwujudan rasa syukur atas semua anugerah yang telah diberikan Tuhan kepda kita, terutama nikmat perdamaian,” kata Abdul Latif Apriaman, Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak saat membuka pentas malam itu.

Menurut Latif,  ide Roah Ampenan digagas bersama sejumlah komunitas masyarakat di Ampenan. Bersama kelompok Semeton Ampenan, ide itu digulirkan dengan mengajak perwakilan yang ada di Ampenan untuk berembuk, merancang pertunjukan yang partisipatif dan bisa diterima semua kalangan.

“Roah Ampenan ini adalah pengingat bagi kita, bahwa Ampenan ini adalah Indonesia Kecil yang di dalamnya ada beragam etnis, suku dan agama yang berbeda. Perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan, bersama kita bisa merayakannya.” Kata Latif.

Wayang Alternatif                                                                                                    Dalang Bayu Azmi–siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak— berinteraksi dengan penonton. Dalang tidak lagi bermonolog dan menjadi satu-satunya sumber “suara”, tapi penonton diajak berkomunikasi.

Pertunjukan malam itu juga diwarnai munculnya wayang-wayang berwarna.  Ada penari Rudat mengenakan pakaian warna-warni.  Ada naga berwarna yang meliuk-liuk mengikuti alunan musik Barongsae, bendera merah putih muncul di depan kelir.

Wayang-wayang berwarna itu terbuat dari plastik bekas air mineral yang dicat berwarna warni.  Model wayang berwarna dari bahan sampah plastik  ini ternyata mendapat respon positif penonton.

Pada akhir pertunjukan, penonton, berdiri bersama mengikuti  ajakan dalang, bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya, menyambut HUT RI ke 71.

Suk




Wayang Sasak, Pentas ‘Perdamaian’ di Pantai Ampenan

MATARAM – lombokjournal

Remaja yang diasah di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak  (SPWS) menggelar pertunjukan ‘Wayang Perdamaian’ di taman Pantai Ampenan, Sabtu (13/8). Tak hanya hendak menghibur, dalang remaja itu dengan pergelaran Wayang Sasak-nya malam itu juga membawa misi perdamaian. “Agar Ampenan tetap nyaman dan aman, hidup berdampingan dalam keberagaman,” kata Latif Apriaman, penanggung jawab program Roah Pentas wayang Perdamaian

wayangsasak,13Agustus2

Kalau banyak orang masih bicara melestarikan, tapi SPWS yang berdiri sejak 28 Mei 2015 sudah meloncat ke depan.  Dengan hajatan ‘Roah Ampenan’ di taman eks Pelabuhan Ampenan, 23 Juli-13 Agustus, pergelaran Wayang Sasak malam mingguan itu merupakan langkah memasuki ‘dunia baru’.

Merambah ke dunia baru itu berarti membuat pertunjukan Wayang Sasak tidak berjarak dengan persoalan kekinian penontonnya. Lebih jauh dan lebih ‘kontemporer’ untuk perjalanan seni tradisi ini yaitu menjalin interaksi dengan penonton.

Waktu menggelar pertunjukan beberapa waktu sebelumnya di Selagalas,  Mataram, dua orang siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) berdialog dengan tokoh-tokoh wayang. Dan dua siswa SLB itu sempat memberi masukan tentang topik pertunjukan.

Dalam pertunjukan Sabtu malam, Dalang remaja, Bayu Azmi, tak hanya terpaku mengantarkan jalan cerita dan dialog tokoh-tokoh wayangnya.  Selain menyindir remaja dan pelajar yang banyak disibukkan dengan telpon selularnya, Dalang itu masih sempat ‘menyutradarai’ pertunjukan gerak dan musik Diampenan Ansamble yang berlangsung di luar kelir/layar pewayangan,. Dalang pun mengajak penonton bertepuk tangan.

wayangsasak,13Agustus4

Dan penonton pun bertepuk tangan. Setidaknya, dari pertunjukan wayang sekitar dua jam itu, perjalanan seni wayang tadisi milik masyarakat Sasak itu tetap terlacak jejaknya.

“Kita punya harapan, sudah tumbuh generasi baru yang meneruskan tradisi Wayang Sasak. Kita harus mengapresiasi pihak yang bersusah payah menghidupkan dan merevitalisasi wayang sasak,” ujar salah seorang penonton di warung kopi pinggir pantai.

Suk   

 

 

 

 

 




Penyuluhan Ketertiban Lalu Lintas Siswa KLU

LOMBOK UTARA –  lombokjournal.com

Sebanyak 20 siswa pelajar sekolah menengah atas di Lombok Utara mengikuti sosialisasi atau Penyuluhan Ketertiban Lalu Lintas untuk peningkatkan pemahaman tertib lalu lintas, 10-12 Agustus. “Pelajar yang mengikuti sosialiasi akan menyebarkan informasi di lingkungannya,” kata kepala Dinas Dishubkominfo, Sinar Wurgoanto, jum’at (12/8)

 Penyuluhan Ketertiban Lalu Lintas Untuk Siswa,12Agustus1

Menurut Sinar Wurgianto, masing-masing pelajar yang mewakili sekolahnya mengikuti kegiatan ini rata rata juara di sekolahnya. “Duta-duta yang terpilih akan  diikutkan mewakili KLU ke tingkat provinsi. Pihak Dishub akan mem-back up wakil KLU agar bisa terus ke jenjang nasional,” katanya.

Dalam dialog sempat muncul pertanyaan dari siswa, kenapa di KLU belum ada traffic light. Pihak Dishubkominfo melalui Kabid Hubungam Darat, M Taufik mengatakan, yang pertama akan segera dipasang lokasinya di perempatan Pemenang menuju Bangsal.

“Supaya KLU tidak dikatakan gawah (daerah terpenccil, red), lampu rambu-rambu di perempatan itu segera dipasang,” kata Taufik sambil bercanda.

Selain kegiatan penyuluhan, dalam waktu yang sama sekaligus  diselenggarakan Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Transportasi Darat Tingkat Kabupaten Lombok Utara. Penyelenggaraan kegiatan tersebut diperlukan mengingat belum tertibnya perilaku kalangan pelajar di jalan raya.

“Yang paling menonjol, banyak pelajar berkendaraan tidak pakai helm. Padahal kalau terjadi kecelakaan, kita tidak punya nyawa cadangan,” kata Dodi Damara pelajar SMA 1 Kayangan peserta penyuluhan tersebut.

Peserta kegiatan penyuluhan dan penilaian itu diikuti Siswa SMKN 1 BAYAN,SMAN 1 BAYAN,SMAN 1 Kayangan, SMKN 1 Gangga, SMAN 1 Gangga, SMAN 1 dan 2 Tanjung, SMKN Tanjung, SMAN 1 Pemenang dan SMKN 1 Pemenang.
Emas F