Bupati Lombok Tengah (Loteng) Tingkatkan Mutu Madrasah Untuk Filter Pariwisata
Pemkab Loteng Akan Tingkatkan Mutu Madrsah
Cara yang dianggap paling strategis untuk filter dan membentengi pengaruh pariwisata yakni meningkatkan mutu madrasah
LOTENG.lombokjournal.com — Bupati Lombok Tengah H. Moh. Suhaili FT bertekad makin berupaya meningkatkan mutu madrasah se Lombok Tengah, karena dianggap paling strategis membentengi pengaruh pariwisata.
Penegasan itu disampaikan Asisten II, saat menyampaikan sambutan Bupati Lombok Tengah dalam acara halal bil halal yang diselenggarakan Yayasan Marraqitta’limat Bakan di Halaman Madrasa Ibtidak Iyah, Senin, (10/7).
Menurut Asisten II, salah satu bentuk peningkatan mutu itu, yakni pihak Pemkab Loteng akan selalu mendukung pengembangan madrasah. “Kalau ada proposal dari madrasah, Pemkab Loteng akan memberikan bantuan kepada Madrasah,” ujarnya.
Halal bil halal yang diselenggarakan Yayasan Marraqitta’limat Bakan di Halaman Madrasa Ibtidak Iyah, Senin, (10/7).
Pada kesempatan sama, Kemenag Loteng, Drs. H. Nazri Anggara, sempat menguraikan tentang ‘Lima S’ dalam pariwisata Lombok. “Kelima S menjadi titk fokus dan PR semua Madrasah,” katanya
Menurutnya, pariwisata itu mengandung ‘Lima Unsus’ yaitu ‘Sin ‘ artinya pasir yang bersih jadi daya tarik yang luar biasa. Kemudian ‘Sea’, lautnya yang terbentang luas dengan deburan ombak yang membuka lebar peluang bagi para turis manca negara menikmatinya dengan olahraga surfing.
Selanjutnya ‘ Sun’ yakni matahari yang memberikan sinar hangat yang tidak didapat di tempat lain, selanjutnya ‘Souvenir’ yaitu aneka kerajinan yang bisa dibeli sebagai ole-ole.
Danan yang perlu mendapat filter atau dibentengi yaitu ‘S’ yang terakhir yakni ‘Sex’. Soal yang terakhir ini langsung berurusan dengan keimanan seseorang.
“Mau tidak mau, tanpa benteng yang kuat akan terjadi penyimpangan norma agama dalam perilaku sex, jika tidak mulai sedini mungkin kita bekali anak cucu kta dengan pengetahuan agama. Mereka akan terseret arus,” jelas Nazri saat memberikan kata sambutan singkat.
Acara halal bil halal ini dihadiri Kemenag Lombok Tengah, Drs. H. Nazri Anggare, Camat Janapria H. Mahlan, S. Sos, beberapa tokoh masyarakat, dan ratusan wali murid.
Camat Janapria sempat menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Desa Bakan atas terselenggaranya kegiatan ini.
GILANG
TGB Ingatkan, Bendera Merah Putih Simbol Perjuangan Para Ulama
Pengurus Pondok Pesantren di Bima diingatkan Tuan Guru Bajang (TGB), mengibarkan bendera merah putih sebagai simbol istiklal merdekanya kita, yakni kembali ke fitrah, kembali kepada kebaikan dan kembali kepada kebenaran.
BIMA.lombokjournal.com — Gubernur NTB, Dr.TGH. M. Zainul Majdi yang akrab disapa TGB mengajak pengurus dan para santri Pondok Pesantren Al Madinah Desa Bolo, Kecamatan Bolo, Kabupatem Bima mengibarkan bendera merah dan menghormati bendera yang merupakan simbul dari perjuangan para ulama kita.
“Ini simbol dari perjuangan para ulama pendahulu kita. Tidak ada sama sekali maksud untuk disembah, tauhid kita tetap kuat,” tegas TGB saat roadshow dan Kunjungan kerjanya di Kabupaten Bima, Minggu (9/7).
Pada masa perjuangan, para ulama berjuang bersama sama membentuk laskar laskar mengusir penjajah. Kepada Pendiri Ponpes Al Madinah, Ustadz Jabir dan para pendidiknya, usai melakukan peninjauan ruang kelas dan lingkungan asrama santri di Ponpes tersebut, menyebut merah putih sebagai simbol istiklal merdekanya kita, yakni kembali ke fitrah, kembali kepada kebaikan dan kembali kepada kebenaran.
Saat itu, TGB melihat tiang bendera yang terpasang di halaman Ponpes tanpa tali dan bendera. Itu menunjukkan, Ponpes tersebut selama ini belum mengibarkan bendera merah putih layaknya lembaga pendidikan. TGB langsung minta Ustadz Jabir mengibarkan bendera merah putih.
“Menghormati bendera merah putih bukan berarti kita mengkultuskan bendera, apalagi menyembahnya,” katanya.
Rasulullah SAW juga mengajak menghormati simbol simbol yang baik dan mengingat hal hal yang baik. Demikian pula ketika melihat bendera ini, insya Allah tidak ada lain hanya ingat perjuangan dan pengorbanan ulama.
TGB juga menguraikan, dulu Bung Tomo dalam perjuangan memimpin perang di Surabaya melawan kaum penjajah, satu satunya kalimat yang beliau teriakkan adalah Alahuakbar.
Jadi mengibarkan bendera dimaksudkan menghormati jasa para pejuang untuk kebaikan. Sebagaimana Agama juga mengajarkan umat manusia senantiasa menghormati kebaikan.
“Dan kebaikan itu berasal dari perjuangan para ulama terdahulu,” pungkasnya.
AYA
MOU Mengawal Isu Pendidikan dan Kesehatan
Pendandatangan MoU untuk mengawal isu pendidikan sekaligus isu kesehatan dilakukkan antara IKIP Mataram dan Endri’s Foundation (EF) di kampus IKIP Mataram
MATARAM. Lombokjournal.com — Menurut Endri, yang mewakili pihak EF mengatakan, pendandatanganan MoU tersebut, selain menguatkan silaturahmi antara EF dan IKIP Mataram, juga merupakan bagian kepedulian merespon masalah pendidikan dan kesehatan.
“Diharapkan kami bisa saling mengisi,” kata Endri, usai penandatangan MoU kampus IKIP mataram, Senin (3/7).
MOU dintandatangani Wakil Rektor I Bidang Akademik IKKIP Mataram, DR. Janaludin, MPD mewakili IKIP Mataram dan Endri Susanto dari EF atau Yayasan Endri’s. Penandatanganan itu disaksikan Sekertaris EF, Adam Tarpiin bersama Humas IKIP MATARAM . Ismail Marzuki SH. MH. serta Kepala BAAK IKIP MATARAM.
“Kia berharap Yayasan Endris bisa menjadi tempat pendaftaran mahasiswa baru IKIP MATARAM,” ujjar Endri.
Gilang
Merayakan Lebaran Topat, Jangan Lupa Pesan Orang Tua
Hanya mereka yang berpuasa, merasakan makna hari raya (lebaran) yakni mencapai kehidupan yang fitri. Sebulan puasa di bulan Ramadhan, akan merasakan makna Idhul Fitri. Setelah itu, sepekan berpuasa di bulan Syawal maka pada tanggal 8 Syawal kalender Hjriyah, akan menemukan kebahagiaan dalam perayaan Lebaran Topat, Minggu (2/7) mendatang.
Rame-rame bersantap ketupat di pantai (foto: IST)
MATARAM.lombokjournal.com –
Lebaran Topat mendapat tempat istimewa bagi masyarakat Sasak (Lombok). Mengapa demikian? Masyarakat Sasak menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT (Orang tua Sasak menyebutnya Neneq Kaji Saq Kuasa). Kemeriahan lebaran Topat hanya terjadi di Lombok.
Tentang simbol topat atau ketupat, menurut salah seorang tetua budaya Sasak, Lalu Anggawa Nuraksi, konon para wali dulu saat berdakwah mensyiarkan agama di pelosok Lombok selalu berbekal ketupat.
Namun ada yang mengatakan, ketupat berbentuk segi empat sebagai menu makan utamanya merupakan khasanah kearifan lokal untuk mengingatkan asal muasal manusia. Ketupat segi empat menunjukkan bahwa manusia terdiri dari air, tanah, api dan angin.
Di beberapa tempat di Lombok, orang tua atau sesepuh budaya atau adat menyebut Lebaran Idhul Fitri dan Lebaran Topat itu berpasangan. Idhul Fitri dikatakan sebagai Lebaran Mame (laki-laki/pria), sedang Lebaran Topat disebut sebagai Lebaran Nine (wanita/perempuan). Mungkin, yang terakir disebut lebaran Nine karena pada puasa bulan Syawal ini para wanita berkesempatan membayar beberapa puasanya yang batal selama puasa wajib di bulan Ramadhan. Entahlah.
Mestinya, perayaan Lebaran Topat dilakukan mereka yang berpuasa Syawal, selama sepekan pascaIdhul Fitri. Tapi tidak, semua bisa merayakannya, berkumpul bersama menyantap topat atau ketupat dengan menu khas Sasak seperti opor, urap-urap, dan panganan tradisional.
Dan secara tradisional, inti Lebaran Topat ungkapan rasa syukur yang dinyatakan dengan rasa hormatnya pada para wali penyebar Islam. Karena itu, ritual penting dalam lebaran ini adalah berziarah ke makam-makan keramat, atau kubur orang-orang suci yang berjasa mensyiarkan Islam sehingga masyarakat Lombok dikaruniahi keimanan dalam Islam.
Dan disitulah tampak nilai budaya atau kultural Lebaran Topat, sebagai ekspresi keislaman masyarakat Sasak. Di Kota Mataram, makam-makam yang biasa diziarahi masyarakat, yaitu Makam Bintaro di Ampenan, Makam Loang Baloq di Tanjung Karang, atau Makam Batu Layar (Lombok Barat).
Tiap Lebaran Ketupat, Makam Loang Baloq yang berseberangan jalan dengan Pantai Tanjung Karang, Mapak, sejak pagi penuh sesak oleh para peziarah dari berbagai tempat. Para peziarah itu berdoa, berebutan mencuci muka dan kepala dengan air di atas makam yang dianggap keramat. Demikian pula yang terjadi di Makam Bintaro dan di Batu Layar.
Di tempat lain, seperti di Lombok Tengah, masyarakat merayakannya dengan berziarah ke makam-makam keramat, yakni peristirahatan terakhir para wali yang berjasa berdakwah dan mensyiarkan Islam.
Ritual Pariwisata
Aspek sosial perayaan Lebaran Topat adalah rekreasi bersama keluarga dan handai taulan ke tempat atau obyek wisata. Tempat favorit adalah pantai. Tak heran kalau saat Lebaran Topat, pantai tertentu menjadi ramai pengunjung. Mereka bergerombol membawa bekal ketupat dan penganan tradisional lainnya untuk bersantap bersama-sama.
Pantai Senggigi di Lombok Barat termasuk paling favorit didatangi muda mudi, baik yang datang serndiri maupun bersama pasangannya. Polisi akan sibuk mengatur lalu lintas kendaraan yang datang maupun meninggalkan Senggigi..
Selain itu, seiring gencarnya promosi Lombok sebagai destinasi wisata, maka Lebaran Topat pun dijadikan salah satu event wisata untuk menarik kunjungan wisatawan. “Nuansa pariwisatanya lebih menonjol dari nuansa budaya maupun agamanya,” kata Anggawa.
Lebaran Topat sudah menjadi produk wisata. Pelaksanaan Lebaran Topat terkesan kehilangan roh budaya maupun religinya.
Tapi bagaimana pun, waktu terus berjalan dan berubah. Semula perayaan Lebaran Topat diisi dengan mengunjungi makam-makam para tokoh agama dan penyebar agama Islam di Lombok. Orang tua di Lombok dulu mengunjungi makam-makam para wali, tokoh penyebar agama Islam seperti makam Bintaro, makam Nyatuq, makam Selaparang dan lainnya.
Bolehlah muda mudi bergembira. Bolehlah pemerintah atau pelaku pariwisata mennjadikan Lebaran Topat sebagai produk wisata. Tapi ingat pesan orang tua, Lebaran Topat sesungguhnya momentum menumbuh suburkan syiar agama. Agama itu menyempurnakan tradisi. Bagi masyarakat sasak, tradisi mencerminkan nilai-nilai kebajikan agama.
Kata orang tua, Lebaran Topat dijadikan saat introspeksi mengenal kembali jati dirinya, seperti halnya seseorang yang menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.
“Dendek ipuh panthok gong (tak usah segan memukul/membunyikan gong),” kata pepatah Sasak yang mengingatkan manusia agar mengoreksi diri.
Rr
“Gema Takbir Malam 1000 Cahaya”, Takbir Keliling Peserta Terbanyak di Indonesia
Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi, Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin dan Wali Kota Mataram Ahyar Abduh bersama-sama memukul gendang beleq dan mengumandangkan lantunan takbir, setelah takbiran di Mataram tercatat rekor MURI sebagai takbir keliling dengan peserta terbanyak di Indonesia.
Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin, Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi, Walikota Mataram, H Ahyar Abduh dan Kapolres Mataram jelang pawai takbiran di Kantor Gubernur NTB, Sabtu (24/6) malam. (foto: IST)
MATARAM.lombokjournal.com – Perwakilan Museum Rekor Indonesia (MURI), Awan Rahargo yang menyaksikan takbiran di Kota Mataram menaksir, lebih 29 ribu orang yang mengikuti takbir keliling Kota Mataram. Dengan peserta sebanyak itu, takbiran di mataram berhasil memecahkan rekor MURI.
“Gema Takbir Malam 1.000 Cahaya berhasil catatkan pemecahan rekor MURI,” jelas Awan saat pembukaan Gema Takbir Malam 1.000 Cahaya di depan Kantor Gubernur NTB, Sabtu (24/6) malam.
Dengan jumlah sebanyak itu, peserta takbiran keliling di Kota Mataram mencapai lebih dua kali dari target panitia sejumlah 13 ribu peserta. Sebelumnya, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Mataram yang menjadi Panitia Takbiran Kota Mataram, menargetkan 13 ribu peserta untuk memecahkan rekor MURI.
Jumlah peserta itu berdasarkan taksiran, pawai takbiran 1 Syawal tahun 1438 Hijriah diikuti 65 kafilah, dengan target satu kafilah sekitar 200 orang. Pesertanya berasal seluruh lingkungan dari 6 Kecamatan Kota Mataram.
Memang takbiran di Mataram tahun ini dengan tema ‘gema Takbir Malam 1.000 Cahaya’ lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Malam takbiran yang dimasukkan rangkaian Pesona Khazanah Ramadan 2017 itu, finish di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB. Peserta diterima Wakil Gubernur NTB bersama Wakil Wali Kota Mataram.
Penyelenggaraan takbiran tahun ini merupakan pawai bersama oleh Pemprov NTB dan Pemkot Mataram. Kalau sebelumnya, biasanya pelepasan pawai dilakukan di lapangan umum Sangkareang atau depan Pendopo Kantor Walikota Mataram, kini pelepasannya pindah di Kantor Gubernur NTB.
Selain takbiran bersama, Pemprov NTB juga menjadwalkan kegiatan salat Idul Fitri 1438 Hijriah bersama di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center. Tidak ada lagi salat Idul Fitri di halaman Kantor Gubernur, di Tugu Bumi Gora atau di Lombok Epicentrum Mall, tapi disatukan di Islamic Center.
Halaman Islamic Center NTB bisa menampung sekitar 10.000 orang warga Mataram yang hendak menunaikan salat Idul Fitri.
Rr
Akhirnya, Sekolah 5 Hari Dalam Seminggu Dibatalkan Presiden
Setelah mendapat penolakan banyak pihak, program 8 jam belajar atau sering disebut sekolah 5 hari dalam seminggu, yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 23 Tahun 2017, akhirnya dibatalkan Presiden Jokowi
lombokjournal.com —
Keputusan untuk membatalkan sekolah 5 hari dalam seminggu itu, diambil presiden setekah memanggil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ma’ruf Amin ke istana, Jakarta hari Senin (19/6)
Ma’ruf Amin yang didampingi Muhadjir Effendy kepada wartawan mengatakan, Presiden Jokowi merespons aspirasi yang berkembang di masyarakat, dan memahami keinginan masyarakat dan ormas Islam.
“Oleh karena itu, presiden akan melakukan penataan ulang terhadap aturan itu,” kata Ma’ruf Amin menjelaskan pembatalan kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter yang digagas Menteri Pendidikan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan diganti dengan peraturan presiden.
Dikatakan, ormas Islam seperti MUI, PBNU dan Muhammadiyah akan diundang untuk dimintai masukan dalam menyusun aturan. Masalah-masalah yang krusial di dalam masyarakat akan ditampung dalam aturan yang akan dibuat itu.
Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter yang mengubah waktu sekolah menjadi 5 hari dan 8 jam per hari mendapatkan penolakan dari sejumlah kalangan, termasuk dari ormas PBNU.
Suara penolakan itu misalnya disuarakan kalangan pondok pesantren yang menilai kebijakan Menteri Muhadjir dinilai tidak cocok diterapkan di wilayah pedesaan. Kondisi di desa berbeda dengan di kota. Di desa, sepulang sekolah formal, anak- anak bisa langsung bertemu orang tuanya, dan melanjutkan pendidikan di madrasah diniyah.
Kalau di kota, kecendrungannya orang tua sibuk semua, sehingga anak-anak jarang bertemu usai pulang sekolah.
“Sehingga, wajar jika kebijakan itu didukung oleh orang tua di kota, karena mereka berpikir akan lebih baik, anaknya berada di sekolah dengan waktu yang lebih lama,” kata Ubaidillah Amin Mochammad, pengasuh Pondok Pesantren An Nuriyah di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, Jember, Jawa Timur, Sabtu.
Namun di wilayah pedesaan, mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan berdagang. Waktu mereka cukup banyak untuk membimbing langsung anak-anaknya. Karena itu diharapkan kebijakan itu dikaji ulang.
Sebelumnya, Bupati Tegal Ki Enthus Susmono juga mengatakan, Pemerintah Kabupaten Tegal menolak kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan perihal sekolah lima hari. Menurutnya, kebijakan itu akan mematikan pendidikan madrasah dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) karena siswa pulang sekolah lebih sore.
Terkait sikap penolakannya itu, Ki Enthus yang juga dikenal sebagai dalang kondang itu, mengaku siap mendapatkan hukuman apa pun kalau sikapnya dianggap salah.
Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi juga menyatakan sikapnnya untuk mengkaji terlebih dahulu kebijakan sekolah 5 hari itu. Kepada wartawan, beberapa waktu lalu, gubernur mengingatkan Pemerintah Pusat hati-hati menerapkan aturan yang bisa menimbulkan kontradiksi di daerah.
“Peningkatan kualitas pendidikan lebih penting daripada memangkas hari,” katanya.
Rr
Lima Hari Sekolah, Kata TGB Perlu Dikaji Ulang
Meski ketentuan 5 hari sekolah telah diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan, namun Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH M Zainnul Majdi mengatakan untuk NTB masih perlu dikaji ulang
Gubernur TGH M Zainul Majdi bersama Wakil Gubernur H Muhammad Amin dan Sekda NTB, Rosiady Sayuti (Foto: Dok. Humas NTB)
Mataram.lombokjournl.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy ternyata telah menandatangani Peraturan Menteri yang mengatur soal ketentuan sekolah 5 hari sepekan akan mulai berlaku bulan juli mendatang.
Terkait Peraturan Menteri tersebut, Gubernur Zainul Majdi menegaskan peraturan lima hari sekolah tersebut khusus untuk wilayah NTB masih perlu adanya pengkajian ulang.
“Perlu adanya pengkajian ulang, kan gak semua bisa diterima secara menyeluruh.,” tegas usai mengadakan rapat dengan Seluruh SKPD lingkup Pempprov NTB, Selasa (13/60
Gubernur menjelaskan, peraturan tersebut harus memberikan efek positif bagi siswa. Padala aturan tersebut dinilainya masih belum bisa di terapkan menyeluruh di NTB. Gubernur membandingkan dengan lima hari kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) saja masih belum maksimal di terapkan.
Pemerintah Pusat dimintanya lebih hati-hati dalam menerapkan aturan, sehingga nantinya tidak kontradiktif dengan situasi di daerah.
“Pemerintah harus hati-hati terlebih assesment regulasi di bidang pendidikan, kualitas pendidikan lebih penting ketimbang kita memangkas hari,” paparnya.
Hingga saat ini Hubernur Majdi belum menentukan kebijakan daerah, terkait dengan peraturan lima hari masuk sekolah ini. Peraturan lima hari masuk sekolah secara resmi diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, merupakan turunan dari Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2017
“Saya tidak bisa mengatakan setuju atau tidak setuju. Kami akan disusikan dulu, dan secepatnya akan memberikan masukan kepada Menteri Pendidikan,” kata gubernur kepada wartawan.
AYA
Bersama Penulis “Novel Ayat-ayat Cinta”, TGB Jelaskan Perintah Al Qur’an Pentingnya Membaca dan Menulis
Tradisi membaca dan menulis merupakan tradisi penting untuk membangun peradaban. Perintah Al Qur’an sudah jelas tentang kewajiban membaca dan menulis
Dialog dalam acara “Meet and Great”, TGB bersama penulis novel “Ayat-ayat Cinnta” Habiburrahman El-Shirazy, di Ballroom Islamic Center di Mataram, Minggu (11/06).
MATARAM.lombokjournal.com — Banyak ulama dan penulis hebat di dunia berhasil membangun peradaban lewat membaca dan menulis. Itu ditegaskan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengungkapkan. pada acara “Meet and Great” bersama penulis novel “Ayat=ayat Cinta” Habiburrahman El-Shirazy, di Ballroom Islamic Center di Mataram, Minggu (11/06).
Gubernur menjelaskan, perintah membaca dan menulis tersebut, tertera sangat jelas dalam Al-Qur’an. “Maknanya telah memberikan banyak inspirasi bagi umat manusia,” tutur TGB
Alquran itu dua diantaranya bersinggungan langsung dengan proses intelektualitas kemanusiaan. Proses pembudayaan manusia adalah menulis dan membaca. Dengan demikian, manusia bisa melihat secara simbolik Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam kitab suci-Nya.
“Inilah yang mendorong kita dan memotivasi kita setinggi tingginya untuk terus-menerus menulis dan membaca,” tegas gubernur di hadapan ratusan peserta yang hadir.
Dijelaskannya, jadi proses membaca dan menulis ini, diinisiasi atau dimulai bukan oleh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai rasul terakhir. Tetapi perintah langsung Allah. Tidak ada alasan bagi umat Islam malas menulis atau membaca.
Upaya meningkatkan minat membaca dan menulis anak-anak NTB, yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB adalah memfasilitasi mereka mendapatkan wawasan yang luas melalui membaca. Di antaranya dengan menambah dan melengkapi sarana sarana perpustakaan di seluruh Nusa Tenggara Barat,.
“Kalau dulu perpustakaan hanya ada di ibukota provinsi atau kabupaten/ kota saja, tetapi sekarang ini perpustakaan yang cukup bagus sudah dibangun di rumah rumah ibadah di seluruh pelosok desa di NTB,” ujarnya.
Lebih dari itu, Pemprov NTB memberikan insentif dalam bentuk program-program khusus kepada para penulis putra daerah yang menulis segala hal tentang NTB.
Di tempat sama, penulis novel “Ayat-ayat Cinta” Habiburrahman El-Shirazy memberi tips bagi yang ingin menggeluti dunia penulisan. Berdasarkan pengalamannya menulis Novel Ayat-Ayat Cinta, k menjadi penulis produktif harus dimulai dengan cinta dan menulis. Layaknya hobi-hobi lain, seperti pramuka dan traveling.
Penulis harus mempunyai target saat ingin melahirkan sebuah karya. Dengan target tersebut, penulis dapat mengatur waktu dan menyesuaikan dengan agenda-agenda lain.
“Penulis juga perlu melakukan riset,” ungkapnya. Sering bergaul dan bertemu dengan penulis-penulis hebat merupakan salah satu kunci menjadi penulis produktif
Acara “Meet and Great” diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Pesona Khazanah Ramadhan 1438 Hijriyah di Bumi Seribu Masjid Provinsi Nusa Tenggara Barat.
AYA
NTB Gelar Pameran Buku Islami Selama Ramadhan
Pameran buku Islami berlangsung di Ballroom Masjid Hubbul Wathan, Kompleks Islamic Center NTB selama bulan suci ramadhan.
MATARAM,lombokjournal.com – Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal mengatakan, pameran buku Islami diharapkan mampu mendorong minat budaya baca para generasi muda di NTB. “Pameran buku berkaitan dengan budaya baca. Pameran buku seperti ini diharapkan bisa mendorong budaya baca anak-anak muda di NTB,” ujar Faozal, Selasa (6/6) di Islamic Center NTB.
Menurutnya, di era modernisasi saat ini, generasi muda cenderung lebih dekat dengan gawai. Dengan adanya pameran buku seperti ini, Faozal berharap membuka mata anak-anak muda di NTB untuk lebih dekat dengan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Buku-buku Islami juga menjadi jendela dunia bagi para generasi muda untuk lebih mengenal tentang dunia Islam.
Faozal menilai, cukup banyak generasi muda saat ini yang kurang bijak dalam mengakses informasi dan kegemaran membaca buku.
Kebanyakan dari mereka cenderung lebih akrab dengan media sosial.
“Buku sendiri itu jadi urutan ke sekian untuk dibaca,” lanjut Faozal.
Menurut Faozal, banyak dari anak muda yang lebih erat menggenggam gawai sehingga kerapkali mengabaikan buku. Hal ini merupakan upaya Pemprov NTB untuk mengajak anak-anak muda untuk lebih dekat dengan buku.
Pameran buku Islami Pesona Khazanah Ramadhan sendiri berlangsung sejak 26 Mei hingga 25 Juni 2017 di Ballroom Masjid Hubbul Wathan, Kompleks Islamic Center NTB.
Aneka buku dari beragam penerbit turut memeriahkan bazar mulai dari buku anak, buka agama, novel, dan buku-buku referensi. Terdapat buku-buku dari sekitar 12 penerbit mulai dari Republika Penerbit, Penerbit Agro, dan Penerbit Diva yang bisa didapatkan pengunjung dengan potongan harga bervariasi selama bulan ramadhan.
Rencananya, penulis Habiburrahman El Shirazy akan membedah novel terbarunya Bidadari Bermata Bening dalam pameran buku Islami.
AYA
Dompu ‘Panen Uang’ Dari Jagung
DOMPU.lombokjournal.com — Kabupaten Dompu bisa menghasilkan hingga Rp2 Triliun dari hasil panen komoditi Jagung, yang terus dikembangkan secara masif di daerah itu.
Produktivitas Jagung yang meningkat dari rara-rata 8 Ton per hektare menjadi rata-rata 10 Ton perhektare, serta harga jual yang stabil di angka Rp3.500/Kg, membuat hasil panen kali ini disebut sebagai “Panen Uang” oleh Bupati Dompu, H Bambang HM Yasin.
“Dompu lagi “panen uang”. Masyarakat Dompu sedang menikmati hasil Jagung yang melimpah. Masyarakat Dompu saat ini bisa menghasilkan uang sekitar Rp2 Triliun, angka yang jauh melebihi APBD Kabupaten Dompu,”kata Bupati Bambang, Selasa petang (6/6), di Pendopo Bupati Dompu, saat berbuka puasa bersama Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin dan Danrem 162 Wirabhakti Mataram, Kolonel Inf. Farid bersama rombongan dalam kegiatan Safari Ramadhan Wakil Gubernur NTB ke wilayah Dompu.
Bupati Bambang mengatakan, program penanaman Jagung yang terus didorong di Dompu sejak beberapa tahun lalu diharapkan akan terus berkembang.
Program yang mendukung ikhtiar Pemprov NTB dalam pola Pijar (Sapi, Jagung, dan Rumput Laut), ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, menggerakan roda perekonomian daerah, menciptakan iklim investasi positif dan lapangan kerja, sekaligus menekan angka kemiskinan.
AYA
Kunjungi Asrama Mahasiswa di Bandung, TGB Motivasi Mahasiswa Asal NTB
Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi yang akrab dipanggil Tuan Guru Bajang (TGB) memberi dorongan moril dan motivasi ratusan mahasiswa asal NTB, yang saat ini menimba ilmu di Kota Kembang ituBandung, agar kelak berkarya bagi bangsa dan daerahnya
BANDUNG.lombokjournal.com — Dorongan moril itu disampaikan TGB pada para mahasiswa asal NTB, saat mengunjungi asrama mahasiswa NTB di jalan Jalak, Kota Bandung Jawa Barat, Minggu (4/6). Para mahasiswa itu dimotivasi untuk mengembangkan potensi diri agar kelak bisa berkarya untuk bangsa, khususnya bagi daerah NTB.
Kunjungan TGB ke asrama mahasiswa NTB bertepatan dengan 10 Ramadhan 1438 Hijriyah, yang dimanfaatkannya bersilaturahmi dan meotivasi mahasiswa sebagai generasi masa depan.
Lebih 400 orang mahasiwa dan mahasiswi asal NTB yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Sasambo Bandung (IMSB), sangat antusias mendapat kunjungan Gubernur NTB.
TGB melakukan kunjungan ke asrama mahasiswa NTB di Bandung, dalan rangkaian kunjungan kerjanya di Kota Bandung, Jawa Barat, saat memenuhi undangan sebagai narasumber dalam acara Inspirasi Ramadhan di Masjid Salman ITB, Bandung, Jawa Barat.