TGB Ajak Santri Nikmati Proses Menuntut Ilmu

Ibarat buah, tidak ada yang tumbuh langsung dinikmati, tapi butuh waktu hingga matang

MATARAM.lombokjournal.com – Gubernur NTB, Dr. TGH M. Zainul Majdi memovitasi para Santri di Asrama Santri Pondok Pesantren Nurul Jannah NW Kampung Banjar Ampenan, Senin (30/10).

“Jadi anak-anakku bersabarlah dalam belajar dan nikmatilah prosesnya,” ujarnya.

Tuan Guru Bajang (TGB) sapaan akrab Gubernur NTB dua periode ini menyampaikan pesan bijak tersebut usai peletakan batu pertama pembangunan gedung  lembaga pendidikan Ponpes NW yang berada di Kota Tua Ampenan tersebut.

Tidak ada buah yang tumbuh langsung bisa dinikmati rasanya, akan tetapi butuh waktu hingga matang. Begitu juga manusia kalau ingin jadi manusia yang komplit, butuh proses untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Kepada santri dan santriwati, Gubernur berpesan agar mereka  giat menuntut ilmu. “Masa depan yang akan kalian tempuh beberapa tahun mendatang akan dapat ditempuh dengan baik oleh orang-orang berilmu. Maka senjatailah diri kalian dengan ilmu yang baik dan bermanfaat, kemudian sebarkan ke masyarakat,” pesannya.

Saat itu, Gubernur juga mengingatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang berkembang pesat agar dimanfaatkan dengan baik. Gubernur berharap agar memanfaatkan alat-alat teknologi sebagai sarana tambahan dalam belajar dengan sebaik-baiknya. Pada masa kini kita belajar jauh lebih mudah daripada dulu.

“Jika dulu sarana belajar terbatas, tapi sekarang kita dapat memanfaatkan  sarana  komunikasi yang terhubung dengan internet. Gunakan sarana teknologi itu untuk hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, TGB kembali menekankan kepada para santri agar tetap istiqomah dalam menuntut ilmu.

“Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa dan selalu berbuat baik. Dan perbuatan baik yang bisa kalian anak-anakku lakukan adalah,  belajar dan menuntut ilmu setinggi tingginya. Seperti  pohon, apabila akarnya tidak kuat maka seluruh bagian dari pohon itu juga tidak akan kuat. Begitu juga dengan anak-anakku semua,  bulatkan tekad kita dalam menuntut ilmu untuk mewujudkan cita-cita,” pungkasnya

AYA

 




Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan ke-X di Mataram

Provinsi NTB baru pertamakali menjadi tuan rumah seminar yang rutin digelar setiap dua tahun sekali

MATARAM.lombokjournal.com  — Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyambut positif penyelenggaraan Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan ke-X di Mataram, NTB, pada Kamis (26/10) hingga Jumat (27/10).

Asisten I Budaya, Pemerintahan, dan SDM Pemerintah Kota Mataram, I Made Swastika mengatakan, tradisi lisan merupakan kekayaan bangsa yang tidak boleh hilang dan harus dilestarikan. Nilai-nilai budaya merupakan perekat dan juga menjadi sarana dalam menjaga keutuhan bangsa.

“Kita hidup dari budaya. Saat ini, tradisi lisan mulai terpinggirkan karena dunia modern,” ujar Swastika saat membuka seminar internasional Tradisi Lisan di Hotel Golden Palace, Mataram, NTB, Kamis (26/10).

Pemkot Mataram, mendukung seminar tentang tradisi lisan dalam upaya menjaga keberlangsungan budaya Indonesia. Swastika berharap, seminar ini memunculkan rekomendasi dan konsep yang kuat dalam upaya menjaga kelestarian tradisi lisan ke depan, baik untuk Kota Mataram, dan juga Indonesia.

“Meski masih ada yang masih terjaga (tradisi lisan). Ini seminar yang bagus dalam melestarikan budaya kita,” lanjut Swastika.

Provinsi NTB sendiri baru pertamakali menjadi tuan rumah seminar yang rutin digelar setiap dua tahun sekali. Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat Prudentia mengatakan, pemilihan Mataram sebagai tuan rumah tak lepas dari keinginan Pemerintah Kota Mataram yang mengajukan diri sebagai tuan rumah seminar.

“Mataram sudah dua tahun lalu mengajukan diri. Ini terobosan baru karena sebelumnya digelar di Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan,” pungkasnya

AYA




TGB Tinjau Kesiapan Konferensi Internasional Alumni Al-Azhar Mesir

400 Alumni Al-Azhar yang datang dari 25 negara akan hadiri Konferensi Internasional  “Moderasi Islam: Dimensi dan Orientasi” di Mataram

MATARAM.lombokjournal.com — Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang lebih dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) memimpin rapat persiapan sekaligus melakukan peninjauan lapangan, untuk memastikan kesiapan Kompleks Islamic Center NTB sebagai lokasi Konferensi Multaqa Nasional IV Alumni Al Azhar, Mesir, Senin (16/10).

Konferensi internasional  “Moderasi Islam: Dimensi dan Orientasi” tersebut diselenggarakan atas kerjasama organisasi International Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama empat hari, 17 hingga 20 Oktober,   di Islamic Center Nusa Tenggara Barat di Mataram.

Sedikitnya 400 Alumni Al-Azhar yang datang dari 25 negara akan menghadiri konferensi ini. Rencananya, konferensi ini juga akan dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam rapat persiapan yang langsung dilaksanakan di lokasi acara, TGB memberikan arahan kepada panitia dan pejabat instansi terkait untuk memaksimalkan penataan arena dan semua venue konferensi, termasuk keamanan dan kenyamanan lokasi serta akses peliputan oleh media massa.

Saat itu, Gubernur didampingi Wakil Gubernur, H. Muh Amin dan Sekda, Ir.H. Rosiady bersama Kepala OPD terkait mengecek dan meninjau satu persatu venue yang akan digunakan di area Islamic Centre dan sekitarnya. Kepada Panitya  penyelenggara Gubernur meminta  agar menyiapkan lokasi dan acara dengan sebaik baiknya serta berupaya memberikan pelayanan atau menjamu tamu dengan semaksimal mungkin.

AYA




Diskusi Buku; Wetu Telu Maknanya Bukan ‘Tiga Waktu’ Dalam Pelaksanaan Sholat

Masih banyak yang menyangkal dan meragukan eksistensi komunitas masyarakat Adat Bayan di Lombok Utara dalam menjalankan nilai-nilai Islam

Yusuf Tantowi (kiri), Raden Sawinggih dan Masnun Tahrir

MATARAM.lombokjournal.com – Bedah buku ‘Masyarakat Adat Bayan Dalam Bingkai Islam Nusantara’ yang berlangsung di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Sabtu (30/09), menjadi dialog menarik antara akdemisi, tokoh-tokoh adat dan mahasiswa.

Dua pembicara masing-masing tokoh muda Adat Bayan, Raden Sawinggih, dan Wakil Rektor I UIN, DR Masnun Tahrir,  menjelaskan tentang kesalahpahaman dalam menilai Adat Bayan.  Sawinggih misalnya, menyinggung soal ‘Wetu Telu’ yang pemaknaannya terlanjur tergiring menjadi waktu pelaksanaan sholat dalam Islam, yang jelas bertentangan  dengan sholat lima waktu.

“Wetu Telu sering diidentikkan dengan pelaksanaan sholat orang Bayan yang hanya tiga waktu,” kata Sawinggih.

Kesalapahaman itu membuat generasi muda Bayan enggan menjalankan adat.  Sebab kesalahpahaman itu menimbulkan stigma, orang Bayan hanya menjalankan sholat tiga waktu. “Karena itu, adat wetu telu dianggap sebagai Islam sesat,” kata Sawinggih.

Menurut Koordinator Badan pekerja SOMASI NTB, Ahyar Supriyadi, pelabelan komunitas yang berbeda dalam menjalankan praktik ritual keagamaan, berawal dari tafsir yang salah. “Wetu Telu dimaknai sebagai Tiga Waktu. Tafsir itu tidak seirama dengan pemaknaan dari komunitas adat Bayan sendiri,” katanya saat menyampaikan sambutan sebelum diskusi.

Salah seorang tokoh adat Bayan, Itrawadi, yang hadir dalam bedah buku itu menjelaskan makna ‘wetu telu’.  Menurutnya, makna Wetu Telu itu merupakan pembagian wewenang atau urusan dalam sistem kemasyarakatan. Khususnnya dalam urusan agama, pemerintahan dan adat.

Ditegaskan Sawinggih, Wetu Telu itu berarti Datu Telu, yakni Datu Agama, Datu Pemerintah dan Datu Adat.

Islam Nusantara

Buku berjudul ‘Dari Bayan Untuk Indonesia Inklusif’, 216 hal, diterbitkan SOMASI NTB, September 2016,  ditulis oleh enam penulis secara keseluruhan merupakan ‘pembelaan’ terhadap eksistensi komunitas adat.  Secara khusus di Bayan, selama ini masih ada kalangan meragukan eksistensi mereka  dalammenjalankan nilai-nilai Islam.

Salah seorang penulis buku itu, Yusuf Tantowi mengatakan, praktik ritual adat tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebab penyebaran Islam di Lombok tak bisa dilepaskan dari keberadaan masyarakat adat.

Munculnya istilah Islam Nusantara hakekatnya memberi ruang bagi komunitas adat menyampaikan nilai dan praktik ritual keagamaan. “Istilah Islam Nusantara bukanlah istilah baru. Gus Dur pernah bicara tentang pribumisasi Islam,” kata Yusuf Tantowi yang bertindak jadi moderator dalam bedah buku tersebut.

DR Masnun Tahrir secara tegas mengungkapkan, nilai-nilai seperti dipraktikkan dalam ritual adat bisa dijadikan hukum. Sebab syariat/fiq Islam bisa didiskusikan dengan hukum yang berlaku dalam komunitas adat atau masyarakat lokal.

“Tidak ada alasan memarjinalkan adat. Sebab komunitas masyarakat adat bukanlah second class,” kata Masnun Tahrir.

KS

 

 

 

 




Siswa Pengungsi Yang Bersekolah, NTB Siap Menampung

Siswa yang mengungsi akibat erupsi Gunung Agung, Siap ditampung di sekolah-sekolah di NTB

MATARAM.lombokjournal.com —  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membuka pintu bagi para pengungsi dari Bali untuk sekolah sementara di sekolah-sekolah yang ada di NTB.

Soal siswa penngungsi yang bersekolah, akan dibebaskan memilih sekolah dimana.  “Misalnya ada pengungsi usia sekolah, dia bebas mau ikut sekolah di mana. Tinggal dia ditumpangkan dan itu kita fasilitasi. Intinya NTB siap terima siswa pengungsi,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Muhammad Suruji di Mataram, Rabu (27/9).

Dalam kondisi darurat seperti ini, kegiatan belajar mengajar tetap harus berjalan, meski sifatnya sementara hingga kondisi di Bali kembali normal.

“Ini kan kondinya hanya sementara sampai semua kondusif,” terangnya

Suruji melanjutkan, para pengungsi yang berusia pelajar bisa bersekolah di sekolah-sekolah tempatnya mengungsi, semisal Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, maupun Lombok Utara.

Dalam kondisi kebencanaan, terdapat kelonggaran bagi para guru PNS yang terdampak untuk tidak menjalankan tugas.

“Sebagai PNS kan dia tidak harus melaksanakan tugas. Tapi, kalau siswa tidak boleh dia tidak belajar,” lanjut Suruji.

Gelombang kedatangan para pengungsi dari Bali ke Lombok terus terjadi dalam beberapa hari terakhir. Diperkirakan jumlah pengungsi yang ke Lombok mencapai ratusan orang. Dari jumlah ini, tidak sedikit yang berstatus pelajar.

AYA




TGB Uraikan Local Wisdom dan Konsensus Pancasila, Di Depan Purnawirawan Jendral TNI

Kearifan Lokal (local Wisdom) harus terus dirawat, dipahami dan dikembangkan untuk merawat  NKRI

 MATARAM.lombokjournal.com – Kekuatan bangsa Indonesia karena memiliki ribuan etnik, bahasa daerah dan tradisi serta kandungan kearifan lokal dalam keragaman budayanya.

Karena itu, kebudayaan di Indonesia menjadi instrumen relaksasi sosial. “Untuk mengurangi berbagai ketegangan di antara anak bangsa.  Sebab di dalamnya  terdapat nilai-nilai kultural yang  sangat besar untuk menyatukan masyarakat,” ungkap Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi di Senayan Room Residence 2 Lt.2 The Sultan Hotel Complex  di Jakarta, Selasa (19/9).

Gubernur NTB yang akrab disapa TGB (Tuan Guru Bajang) mengatakan itu  saat menjadi narasumber pada Forum Group Discussion (FGD) seri 4  & Simposium Nasional yang diselenggarakan oleh Badan  Pengkajian Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD).

FGD  itu dihadiri puluhan Jendral Purnawiran TNI, Sejumlah Perwira Tinggi dari Mabes TNI, FKPPI, termasuk Mantan Pangdam IX Udayana, Letjen TNI (Purn) Kiki Syanakri tersebut, Gubernur TGB menyampaikan materi “Pendayagunaan Kearifan Lokal Dalam Memperkuat Semangat Kebangsaan”.

Pengalamannya memimpin NTB dua periode, TGB menemukan banyak  permasalahan sosial dan konflik masyarakat yang sulit dituntaskan hanya mengadalkan instutusi penegak hukum. Lebih tepat  jika institusi adat diperankan dalam menyelesaikan konflik-konflik sosial.

Menurutnya, setiap local wisdom di komunitas mana pun  berada, selalu  terdapat 3 terminologi mendasar, yaitu kebijaksanaan (wisdom), pengetahuan (knowledge) dan kecerdasan (genious) yang dijadikan pedoman bersama .

“Kearifan lokal, berkaitan erat dengan cara pandang tentang kerukunan, kepatutan dan keselarasan dalam menjalani kehidupan bersama,” ungkapnya.

Karena itu, diperlukan tolak ukur cara pandang untuk dapat memahami betasan-batasan tentang hal-hal yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, positif atau negatif, beradab atau tidak beradab.

Dikatakan lebih lanjut, kearifan lokal mengandung tiga asas yang implementatif,  yakni asas rukun, patut, dan  laras.

Asas rukun, suatu pedoman yang diterapkan dalam menyelesaikan segala persoalan adat. Isinya berhubungan erat dengan pandangan dan sikap hidup bersama untuk mencapai hidup dalam suasana rasa aman, tentram, dan sejahtera.

Dalam Asas Patut, mengandung nilai-nilai etika dan tatakrama yang menjadi kesepakatan kolektif. Asas bermakna keselarasan sikap dan perilaku individu menjalani kehidupan bermasyarakat agar dapat diterima semua pihak.  “Nilai-nilai universal inilah yang harus terus dirawat, dipahami dan dikembangkan untuk merawat  NKRI,” kata TGB.

Kata TGB, nilai-nilai  luhur budaya lokal kemudian  mengkristal menjadi nilai-nilai Pancasila yang mengilhami pemikiran para pendiri bangsa (founding fathers) yang merumuskan konsensus nasional yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“Pancasila lahir sebagai konsensus, digali oleh para ulama dan pendiri negara secara mendalam dari nilai-nilai agama, nilai-nilai budaya dan nilai-nilai tradisi budaya lokal yang sangat beragam membentuk Nusantara dan Indonesia Jaya,” jelasnya.

AYA

 




SK Gubernur Untuk 5.200 Tenaga Honorer, Keluar Desember.

Tidak hanya tenaga honorer sekolah negeri yang diangkat, termasuk sekolah swasta dan pondok pesantren

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Suruji (Foto; AYA)

MATARAM.lombokjournal.com — Pemerintah Provinsi NTB akan mengakomodir Gaji Guru Non PNS (Honorer) yang direalisasikan tahun 2018.  Target anggaran yang akan digelontorkan sebanyak 120 miliar per tahun dengan jumlah 5.200 tenaga honorer.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  NTB, Suruji mengatakan, Selasa (12/09), SK Gubernur tersebut akan mulai berlaku Januari 2018.

“Harus bulan Desember SK terbit, dan aturannya Januari 2018 SK tersebut berlaku. Mudah-mudahan semuanya berjalan lurus,” ungkapnya

Kebutuhan sekolah Negeri hanya 3500 guru, namun dari jumlah 5200 tentu kemudian harus dilakukan seleksi mana yang diambil dari jumlah tersebut.

“Setelah  kita coba telaah di internal, dan kita dikusikan dengan lembaga- lembaga pendidikan swasta terutama yang berbasis pesantren juga akan ikut diakomodir,” tuturnya.

Suruji mengungkapkan SMA, SMK dan Sekolah Pesantren, terutama untuk pelajaran IPA yaitu Fisika, Kimia, Bologi dan Matematika itu. Tidak hanya sekolah negeri yang diangkat, tapi juga sekolah- sekolah swasta.  Sebab pondok-pondok pesantren mutunya tidak kalah dengan sekolah negeri.

“Mata pelajaran IPA itu mutunya tidak kalah dengan yang ada di SMA dan SMK negeri. Karena itu kita buat usulan, nantinya menyeleksi 5200 termasuk pegawai administrasi, laboratorium dan perpustakaan,” ungkapnya.

Bila SK  Gubernur mengangkat 5200 kemudian, membayar honornya sesuai UMP  yaitu Rp1,65 juta sebulan, maka setahun dibutuhkan 120 miliar tahun. “Sudah kita buat telaahnya, disposisi di gubernur sudah ACC,” tutur Suruji

Suruji juga mengaku  SK Gubernur tersebut sudah  sampai di TAPD, Sekda, Bappeda,  BPKAD, supaya di KUAPPS 2018 sudah masuk untuk dana guru honor dan administrasi non PNS.

Perkembangannya sampai kemarin, di draf KUAPPS sudah masuk. Tapi draf yang dibuàt oleh TAPD mungkin mulai dua minggu lagi.  Karena kemarin APBD perubahan baru selesai di Kemendagri, dan sekarang sedang proses SK Gubernur.

‘Masuklah  TAPD itu membahas KUAPPS 2018 dan kemudian oleh TAPD dan Banggar Legislatif itu  akan disepakati,” Jelasnya.

Apabila  sudah disepakati, maka  masuklah KUAPPS disetujui untuk APBD 2018. Begitu masuk maka BKD akan memproaes seleksinya.  “Harus Desember SK terbit itu dan akan berlaku januari 2018, ” ucap Suruji

Perekrutan guru Honorer oleh SK Gunernur melalui seleksai yang ketat, lantaran Guru honorer akan diberikan mata pelajaran sesuai kealihannya/Jurusannya. “Seleksinya ketat, untuk saat ini kita akan menaruh guru honor sesuai mata pelajaran bidangnya,”Katanya.

Tes yang akan diberikan kepada Guru Honorer berupa tes komputer untuk kompetensi dasar, lalu kemudian ada tes wawancara dan praktek untuk kompetensi bidang. Supaya kalau dibutuhkan Guru Biologi, jangan yang direkrut Guru Fisika

“Supaya pas nantinya,” jelas Suruji

Peserta yang ikut tes bukan merupakan honorer yang sidah lama, melainkan juga guru honorer yang baru pun bisa mrngikuti tes. “Kita kasih kesempatan siapapun itu, silahkan,”  tuturnya

Bagi yang ingin melamar, harus bisa melihat dengan jeli tenaga yang dibutuhkan, dan penempatannya. Jangan sampai setelah diterima, jadi menyesal bila ditempatkan di daerah yang tidak diinginkan.

“Jika diterima tapi tidak  ditempatkan di daerah yang tidak diinginkan, jadi mengundurkan diri,” pungkasnya.

AYA




Mahasiswa Tuntut Gubernur Wujudkan Pendidikan Gratis

Pemerintah Provinsi NTB akan mengundang seluruh Perguran Tinggi yang ada di NTB  melakukan rapat khusus guna merumuskan tuntutan dari mahasiswa.

MATARAM.lombokjournal —  Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Indonesia melakukan aksi demo di depan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat, Senin (11/9).

Mereka menuntut agar Gubernur Nusa Tenggara Barat mewujudkan pendidikan gratis bagi masyarakat tidak mampu. Aksi ini merupakan lanjutan dua minggu sebelumnya, para mahasiswa juga melakukan aksi serupa di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat.

Dalam orasinya, massa menuntut agar Gubernur TGH M Zainul Majdi memenuhi tuntutan dari aksi sebelumnya. “Gubernur harus melakukan intervensi ke perguruan tinggi untuk menghentikan aksi pungli serta Kenaikan SPP,” ungkap Taufik Akbar selaku Koordinator Aksi.

Sementara itu, Kepala biro Humas Setda Provinsi NTB Irnadi Kusuma, saat menemui massa aksi mengatakan, Pemprov NTB sedang melakukan upaya untuk merealisasi rekomendasi tuntutan dari mahasiswa.

“Kita selaku pemeritah akan tetap merekomendasikan tuntutan para mahasiswa. Tuntutan ini akan disampaikan ke Gubernur,” kata Irnadi.

Ia menyatakan, dalam waktu dekat Pemerintah Provinsi NTB akan mengundang seluruh Perguran Tinggi yang ada di NTB  melakukan rapat khusus guna merumuskan tuntutan dari mahasiswa.

Selanjutnya pihak pemprov akan membuat rekomendasi ke pemerintah pusat perihal hasil dari rumusan tersebut.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Kepala Biro Humas dan Protokol, massa aksi membubarkan diri dengan Tertib.

AYA

 

11/09/17, 15.00 – Yati LombokKini: IMG-20170911-WA0008.jpg (file terlampir)




Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) NTB, Juara Umum Olimpiade Siswa Nasional 2017

Dinas terkait diminta  terus meningkatkan pembinaan serta beri perhatian lebih kepada “anak-anak istimewa” itu.

MATARAM.lombokjournal.com —  NTB dinobatkan sebagai jawara Olimpiade Siswa Nasional 2017 kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), setelah berhasil menggondol 1 medali emas dan 1 medali perak, yang berlangsung di Provinsi Sumateta Utara, 3-7 September 2017 lalu.

Medali Emas didapat siswa dari SLB Ar-Rizky Pajo Dompu Lina, Mardiana pada Lomba Lari 100 Meter Putri SMPLB. Sedangkan medali perak diraih juga oleh siswa SLB Ar-Rizky Pajo asal Dompu, A. Kurnia pada mata Lomba Bocce Putri SDLB.

Kegiatan itu dihelat dan diikuti siswa berkebutuhan khusus mulai  jenjang SDLB, SMPLB dan SMALB se-Indonesia.

Gubernur NTB, H. Muh. Amin, SH. M.Si mengaku bangga atas prestasi yang diraih putra-putri NTB. Terlebih, anak-anak yang meraih prestasi  yang mengharumkan nama daerah tersebut merupakan anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Menurut Wagub, tiap anak memiliki keistimewaan masing-masing. “Termasuk anak-anak yang memiliki kekurangan, pasti di sisi lain punya kelebihan yang patut dibanggakan,” katanya saat menerima Rombongan Kontingen yang mewakili Provinsi NTB dalam ajang O2SN 2017, di Pendopo Wagub, Jumat (8/9).

Di tengah keterbatasan yang dimiliki, mereka justru menunjukkan prestasi luar biasa, karena mengharumkan nama daerah di tingkat Nasional. Wagub tampak membanggakan kehadiran rombongan, 9 orang siswa siswi peserta, 9 guru pendamping dan 1 orang pembina dari Pemerintah Provinsi NTB. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTB, Drs. H. Suruji ikut mendampingi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB H. M. Suruji melaporkan, Provinsi Nusa Tenggara Barat kembali meraih Juara Umum pada (O2SN), mengulang prestasi sama dua tahun silam.  Saat itu NTB juga meraih medali satu medali emas dan satu medali perak.

Pada O2SN jenjang SDLB tahun 2017, diperlombakan Lari 80 meter Putri, Bulu tangkis Putra dan Bocee Putri. Untuk jenjang SMPLB diperlombakan Lari 100 meter Putri, Balap Kursi Roda Putra, Bulu Tangkis Putra/i dan Bocee Putri.

Sementara jenjang SMALB  Lari 100 meter Putri, Balap Kursi Roda Putra, Bulu Tangkis Putra/i , dan Bocee Putri. Satu lomba yang menggabungkan tiga jenjang pendidikan antara SDLB, SMPLB, SMALB adalah Lomba Catur Putra dan Putri.

AYA

 




NTB Masih Butuh 558 Guru Produktif

Kekurangnya guru produktif yang mengajar di SMK ini, menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka pengangguran dari SMK

 MATARAM.lombokjournal.com – Dari 1.207 guru guru produktif yang dibutuhkan di Provinsi NTB, yang tersedia hanya 649 orang. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Privinsi NTB, Muhammad Suruji mengatakan itu hari Kamis (31/8).

“Dari 94 kompetensi keahlian yang ada di NTB, guru produktif baru 649 orang. Jumlah ini masih setengah dari yang kita butuhkan,” kata Suruji.

Untuk menutupi kekurangan guru produktif, pemerintah dalam hal ini Dikbud NTB terus berupaya mengatasinya, salah satunya dengan mengangkat guru honorer.

Namun, hambatannya pada minimnya guru honorer yang masuk dalam kriteria sebagai guru produktif.

“Jelas ada hambatannya, karena guru produktif itu tidak di cetak oleh semua perguruan tinggi, yang ada hanya beberapa perguruan tinggi saja,” jelasnya.

Ia meminta kepada pemerintah pusat, jika memang serius mengelola SMK, maka cukupkanlah kebutuhan guru produktif.

“Kalau bisa mereka diangkat menjadi PNS, penuhi seluruh kebutuhan guru produktif di sekolah negeri maupun swasta,” harapnya.

Kurangnya ketersediaan guru produktif juga menjadi salah satu faktor tingginya penyumbang pengangguran. Tingginya angka pengangguran dari kalangan SMK bukan hanya karena faktor jurusan atau kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dikatakan Suruji, kurangnya guru produktif yang mengajar di SMK menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka pengangguran dari SMK.

“Siswa SMK di NTB tidak betul-betul disiapkan untuk menjadi tenaga kerja siap terampil, karena tidak di dukung dengan ketersediaan guru produktif,” jelasnya.

AYA