Monumen Bahari Kini Dimiliki NTB

Menunjukkan sebuah memorial upaya TNI angkatan laut bersama pemerintah daerah NTB dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia

MATARAM.lombokjournal.com — Nusa Tenggara Barat (NTB) kini memiliki monumen bahari dan dodokan yang diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Ade Supandi, Minggu (06/05).

Peresmian monumen yang berlokasi di depan Stadion Malomba, Kota Mataram itu rangkaian kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2018. Hadir juga saat itu Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Ir. Rosyadi H. Sayuti, M. Sc, Ph. D.

Monumen itu dibangun TNI sebagai ikon event berskala internasional Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) tahun 2018 sekaligus menunjukkan sebuah memorial upaya TNI angkatan laut bersama pemerintah daerah NTB dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, serta aktualisasi kemitraan maritim dengan berbagai negara di belahan dunia.

Peresmian Monumen Bahari yang terdiri dari bangunan tugu mercusuar setinggi 11,28 berbentuk segi lima bermahkota lumbung, rumah adat suku Sasak  mercusuar. Di sebelah barat monumen Bahari berdiri tank Amfibi PT-76 milik Marinir TNI AL yang merupakan produksi Uni Soviet Tahun 1954.

Kendaraan tempur milik TNI AL itu adalah bukti sejarahnya TNI dalam pelaksanaan operasi kampanye militer terbesar, yaitu Operasi Jayawijaya, yang digelar dalam rangka pembebasan Irian Barat.

Selain di Taman Malomba, di wilayah Lembar, Kabupaten Lombok Barat dibangun Monumen Dodokan 2018. Monumen Bahari Mataram dan Monumen Dodokan, diresmikan dengan penandatangan di atas batu plakat oleh KASAL, disaksikan oleh Sekda NTB dan Plt. Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, S.Sos., MH.

AYA




Ratusan Mahasiswa Gedor Kantor Dikpora NTB

Mahasiswa menyoal komersialisasi pendidikan mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi

MATARAM.lombokjournal.com  —  Kantor Dinas Pendidikan Provinsi NTB pada Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari  Rabu (02/05), jadi sasaran aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Untuk Pendidikan (ARP).

Mahasiswa yanng berunjuk rasa dari berbagai organisasi seperti PMII Cabang Mataram dan belasan organisasi Mahasiswa lainnya.

Dalam orasinya, dipertanyakan nasib guru honorer dan guru swasta yang tidak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah. Mereka menilai selama ini pemerintah masih menganak tirikan guru honor baik dari segi gaji maupun perekrutan.

Selain itu, mereka meminta pemerintah lebih memperhatikan nasib para guru honorer tersebut.

Selain itu massa aksi juga menyoal komersialisasi pendidikan mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Mahasiswa menilai pendidikan saat ini sudah menjadi ajang bisnis. Mereka mencontohkan biaya pendidikan di TK yang melambung tinggi, bahkan komersialisasi hingga perguruan tinggi yang membutuhkan biaya tinggi.

Mahasiswa menuntut, agar pemerintah khsusnya Dikpora NTB mencabut regulasi pendidikan yang memperdagangkan pendidikan. Mereka juga menuntut penghapusan pungutan liar. Sementara dari PC PMII Kota Mataram menuntut agar pemprov NTB mengakomodir semua guru honorer baik negeri maupun swasta.

Massa PMII juga meminta pihak sekolah untuk tidak memberikan doktrin radikalisasi, serta meminta agar sekolah terbebas dari politisasi pendidikan dan menuntut pemerintah peningkatan sarana dan prasarana di sekolah swasta.

Sementara dari pihak Dikpora NTB di wakili oleh Sekretaris Dinas, Sukron yang menerima perwakilan massa menyatakan semua aspirasi yang disampaikan mahasiswa akan diteruskan ke Kepala Dinas. Pasalnya Kadisdikpora NTB tidak berada di tempat.

Usai menggelar orasi ratusan mahasiswa ini membubarkan diri dengan tertib.  Namun mereka mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar bila tuntutan mereka tidak dilaksanakan.

 




Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Digelar Samalas Institute

Jumlah penduduk yang masuk prevalensi terpapar penyalahgunaan narkoba di Kota Mataram sebanyak 5.754 penyalahguna atau pecandu

MATARAM.lombokjournal.com  — Kepala BNN Kota Mataram, Drs. Nur Rachmat mengatakan, tingkat prevalensi keterpaparan penyalahgunaan narkoba di NTB, termasuk di Kota Mataram, berdasarkan data yang dimiliki BNN dan Universitas Indonesia sebesar 1,8 persen dari jumlah penduduk yang rentan.

Hal itu dikatakan Nur Rachmat saat mengisi kegiatan sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba yang digelar Samalas Institute, Selasa (24/4) di aula PSSB MAN 2 Mataram.

Kegiatan yang diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa itu juga dirangkai dengan aksi pembagian stiker dan poster ke pengendara jalan.

Lebih jauh dikatakan Nur Rachmat, total jumlah penduduk Kota Mataram sekitar 450 ribu jiwa. Sementara penduduk yang berada di usia rentan antara 10-59 tahun dengan jumlah 319 ribu jiwa.

Artinya jumlah penduduk yang masuk prevalensi terpapar penyalahgunaan narkoba di Kota Mataram sebanyak 5.754 penyalahguna atau pecandu.

Sementara tingkat prevalensi di Kota Mataram sebanyak 56,5 persen dari jumlah yang terpapar narkoba itu adalah masuk dalam kategori coba pakai.

Rata-rata usia muda antara 11-29 tahun. Karena itu, salah satu upaya yang dilakukan untuk memberantas kasus penyalahguna narkoba yaitu mengurangi suplai dengan memotong jalur suplai barang haram tersebut.

Melihat data di atas, pihaknya merasa sedih lantaran banyak penyalahguna narkoba berasal dari pelajar dan mahasiswa. Hal itu berarti ancaman nyata bagi perkembangan bangsa di masa mendatang.

“Saya sangat konsen pada pelajar dan mahasiswa karena kalian adalah generasi penerus bangsa jangan sampai menyalahgunakan narkoba,” ungkapnya

Harusnya sebagai pelajar dan pemuda adalah sebagai tulang punggung bangsa. Sehingga dengan demikian, apapun bentuknya, apapun rayuannya narkoba harus tolak dalam kehiduoan para remaja dan pelajar.

“Jadilah pemuda tangguh dan bermental baja,” imbuhnya.

Sementara itu, Akademisi Unram Ahmad Zuhairi, SH., MH., menyebut para pemuda dan mahasiswa sebagai tulang punggung bangsa harus mulai berpikir serius, merekalah yang akan menjadi generasi penerus nantinya.

Di satu sisi, mereka kini adalah pelaku sejarah. Dimana dalam setiap perkembangan sejarah bangsa Indonesia, ada peran pemuda di dalamnya.

Mereka harus sadar, mereka memiliki peran besar dalam setiap proses perubahan. Sehingga dengan demikian, narkoba harus dijauhi dari hidup mereka sebagai bagian pengemban moral sejarah bangsa.

Direktur Samalas Institute, Darsono Yusin Sali, menilai perlu ada upaya bersama semua pihak memberantas narkoba. Mengingat narkoba merupakan kejahatan luar biasa yang membutuhkan penanganan ekstra.

Terlebih kini narkoba sudah beredar hingga ke dusun-dusun. Tentu ini ancaman super serius bagi keberlangsungan generasi di masa depan.

“Apalagi bonus demografi dengan potensi kaum muda mencapai lebih dari 60 persen, harus dirawat agar jangan sampai terpapar narkoba”.

AYA (*)




Dr Zul; Lulusan SMK AL- Al-Kahfi KAHFI Harus Bisa Terbang Tinggi

Hadir untuk mencetak siswa yang tidak hanya pandai mengaji tetapi juga hebat dalam bidang matematika dan bahasa asingnya

lombokjournal.com —

SUMBAWA BESAR :  Pendiri Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Dr. H. Zulkieflimansyah melepas puluhan lulusan SMK Al-Kahfi Angkatan ke-II tahun 2017-2018 di Pondok Modern Al-Kahfi Sumbawa, Jum’at (20/04).

Sekolah yang diresmikan pada 2014 ini meluluskan 32 siswa, 20 di antaranya perempuan dan sisanya 12 laki-laki. Di hadapan para lulusan dan orang tua siswa yang mendampingi, Doktor Zul menyampaikan misi besar didirikannya Al-Kahfi.

SMK berbasis pesantren dan pelaku industri ini didirikan melihat banyaknya sekolah islam atau pesantren di NTB mempunyai banyak siswa yang pandai mengaji, tapi alergi dengan pelajaran matematika.

Al-Kahfi hadir untuk mencetak siswa yang tidak hanya pandai mengaji tetapi juga hebat dalam bidang matematika dan bahasa asingnya.

Sejak didirikan 2014 lalu, Al-Kahfi telah banyak melakukan terobosan, seperti mengembangkan Kawasan Ekonomi Masyarakat di pegunungan di Batu Alang, sudah mempunyai koperasi, dan sudah mulai mengelola Air Siap Minim (Arsinum) RO Al-Kahfi. Al-Kahfi akan terus berinovasi, walaupun kebanyakan orang tidak percaya, Al-Kahfi mampu membuktikan.

“Insya Allah, dengan pertolongan Allah yang tidak mungkin menurut orang lain menjadi mungkin. Where there’s a will there’s a way,” ungkapnya.

Selanjutnya, Doktor Zul berpesan agar jangan sampai ada anak-anak Sumbawa yang putus sekolah. Jangan karena kendala biaya, terpaksa berhenti sekolah dan tidak melanjutkan kuliah. Ia mendirikan perguruan tinggi agar anak-anak yang punya kemauan keras untuk menuntut ilmu namun terkendala biaya mendapatkan tempat melanjutkan sekolahnya.

“Sekolah terus, jangan sampai ada anak Sumbawa yang tidak melanjutkan kuliah karena tidak mampu. Kita siapkan UTS, IISBUD, dan AKOM, sebagai tempatnya. Jangan sampai lulus di Al-Kahfi tidak melanjutkan sekolah. Teruslah kuliah hingga ke luar negeri. Dari Al-Kahfi teruslah terbang tinggi,” Jelasnya.

Ia menyemangati para lulusan agar jangan mudah menyerah. Untuk menjadi pemenang, butuh perjuangan. Untuk berubah harus berkorban. Kondisi Al-Kahfi yang penuh tantangan justru akan membuat siswa semakin hebat.

Mereka yang sekolah di Al-Kahfi akan menjadi calon-calon pemimpin tidak hanya buat daerah tapi juga buat negeri ini.

“Perjalanan panjang selalu dimulai dengan langkah pertama. Para pemenang berbeda denga orang biasa. Pemenang sejati adalah orang yang selalu mencari jalan yang jarang ditempuh oleh kebanyakan orang untuk mencapai kemenangan. Kalau lolos di Al-Kahfi, Insya Allah akan lolos di segala ujian dalam kehidupan,”.tutupnya.

Me (*)




Optimisme Remaja Binaan di Balai Sosial Karya Mandiri

Para remaja tinggal selama 10 bulan, dua bulan sisanya akan praktik di luar BSBR Karya Mandiri. Selama tinggal, para remaja akan diberikan bimbingan fisik, mental, sosial, dan keterampilan

 LOMBOK BARAT.lombokjournal.com —  Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Sosial memberikan perhatian terhadap remaja terlantar, putus sekolah, dan rentan akan permasalahan sosial.

Salah satunya dengan menyediakan tempat binaan Balai Sosial Bina Remaja (BSBR) Karya Mandiri di Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat.

Kepala BSBR Karya Mandiri, Wahyu Hidayat, mengatakan, remaja merupakan tulang punggung bagi kemajuan bangsa dan daerah. BSBR Karya Mandiri merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di bawah Dinas Sosial Provinsi NTB dan memiliki luas sekitar 2,5 hektare.

BSBR Karya Mandiri mempunyai berbagai fasilitas untuk menunjang keterampilan para remaja, mulai dari peralatan perbengkelan, otomotif, tata boga, tata rias, dan tata busana.

“Untuk tahun ini, ada 65 remaja berusia antara 16 tahun hingga 21 tahun yang tinggal di sini,” ujar Wahyu di BSBR Karya Mandiri, Labuapi, Lombok Barat, NTB, Jumat (20/04).

Kata Wahyu, para remaja tinggal di sini selama 10 bulan, sedangkan dua bulan sisanya akan praktik di luar BSBR Karya Mandiri. Selama di sini, para remaja akan diberikan bimbingan fisik, mental, sosial, dan keterampilan.

Selain itu, para remaja juga mendapatkan asupan makanan selama tiga kali sehari, dan makanan ringan dua kali sehari dengan menu yang bervariasi. Kondisi ini berbeda jauh bagi para remaja sebelum berada di sini.

“Memang membina remaja dengan latar belakang yang putus sekolah, terlantar, maupun rawan permasalahan sosial tentu tidak mudah, tapi di situlah menjadi tantangannya,” ucap Wahyu.

Agar tidak membosankan, BSBR Karya Mandiri, kata Wahyu, mencoba menciptakan suasana kekeluargaan agar para remaja bisa menikmati dan belajar dengan gembira.

Selain pembinaan yang bersifat keterampilan, BSBR Karya Mandiri juga mengedepankan aspek spiritualitas. Hal ini penting agar para remaja memiliki karakter yang baik dan berintegritas ke depan.

“Agenda remaja binaan kita mulai dengan shalat shubuh berjamaah, sarapan bersama, apel pagi, dan shalat Dhuha yang diiringi pembekalan materi agama melalui Majelis Taklim,” ucap Wahyu.

Wahyu mengaku gembira melihat kesuksesan para remaja usai menempuh pembinaan di BSBR Karya Mandiri. Kata Wahyu, 85 persen dari remaja binaan BSBR Karya Mandiri dapat dikatakan berhasil lantaran mampu diterima kerja usai menjalani praktik magang.

Wahyu menceritakan, aspek spiritualitas yang ditekankan mampu mengantarkan para remaja BSBR Karya Mandiri menjadi pribadi yang memiliki karakter penuh kejujuran.

Wahyu mencontohkan, seorang remaja binaan BSBR Karya Mandiri yang sedang menjalani praktik magang di bengkel menemukan uang Rp 1.000 dan langsung ia berikan ke pemilik bengkel.

“Karena dinilai jujur, si remaja ini langsung dipekerjakan si pemilik bengkel tersebut. Ini yang selalu kita tekankan agar keterampilan dengan relijiusitas harus berjalan seiring bersama,” kisah Wahyu.

Menurut Wahyu, remaja memiliki peran penting dalam pembangunan dan kemajuan NTB yang sedang gencar mengembangkan sektor pariwisata. Wahyu berharap, para remaja juga bisa menempati sektor lapangan kerja di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika.

Seorang remaja binaan asal asal Sakra, Lombok Timur, Alan (19), mengaku senang bisa berada di BSBR Karya Mandiri. Meski awalnya mengaku bingung dan ragu, Alan pada akhirnya mendapat banyak pengalaman selama di sini. Alan sendiri berkeinginan melanjutkan pendidikannya di universitas usai lulus SMK.

Namun, kendala perekonomian keluarga menjadi kendala bagi Alan untuk kuliah. Alan yang belum memiliki pekerjaan kemudian diminta bibinya untuk masuk di BSBR Karya Mandiri dan menimba ilmu di sana.

“Awalnya memang sangat canggung karena tidak kenal sama sekali, apalagi beda-beda suku dan bahasa, tapi lama kelamaan malah sudah seperti saudara dan keluarga sendiri,” kata Alan.

Selain Alan, ada Muhammad Ridwan yang juga menjadi remaja binaan BSBR Karya Mandiri. Ridwan (20) yang berasal dari Kabupaten Sumbawa mengungkapkan kekhawatiran yang sama saat baru pertama kali berada di BSBR Karya

AYA




Sekda Pantau Hari Kedua UNBK Dipastikan Lancar

Kualitas UNBK dari waktu ke waktu terus dievaluasi dan dilakukan perbaikan dan peningkatan kualitas,  mMulai daya listrik dan IT, sehingga kendala-kendala sekecil apa pun dapat diminimalisir

MATARAM.lombokjournal.com — -Guna memastikan lancarnya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Sekertaris Daerah (Sekda)  NTB. Rosiadi Sayuti bersama jajaran Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, melakukan pemantauan langsung hari kedua jalannya UNBK tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di SMK 4 Mataram.

“Kalau kita lihat sejak kemarin ujiannya berjalan kondusif, lancar, dan baik, tidak ada keluahan,” ujarnya saat melakukan kunjungan ke SMK 4 Mataram, Selasa (3/4).

Ia menuturkan, dari hasil pemantauan yang dilakukan sejak hari pertama UNBK di sejumlah SMK se-NTB, secara umum berjalan dengan baik dan lancar.  Walaupun ada kendala yang terjadi di salah satu SMK karena persoalan teknis. Mamun hal tersebut sudah dapat diatasi dan akan dilakukan ujian susulan.

“Secara umum UNBK untuk tingkat SMK di NTB berjalan dengan tertib dan lancar, walaupun ada satu SMK yang mengalami kendala teknis, namun sudah dapat diatasi dan akan dilakukan ujian susulan,” ungkapnya.

Rosiadi mengungkapkan, awalnya yang ia takutkan adalah masalah jaringan internet. Karena jaringan sering sekali tidak begitu baik. Namun dia bersyukur karena dari beberapa sekolah ini, belum ada keluhan dan belum ada laporan masalah server atau jaringannya.

Bukan hanya masalah jaringan tapi juga khawatirkan masalah listrik yang bisa saja padam secara tiba-tiba dan jaringan error.

“Tapi Alhamdulillah sudah semua dipersiapkan dengan baik,” ucap Rosiadi.

Ia menghimbau. Ke depan kualitas UNBK di semua jenjang pendidikan dapat terus ditingkatkan, mulai dari koordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti ketersediaan daya listrik yang aman agar tidak terjadi pemadaman pada saat proses ujian, dan sisitem Information technology (IT) yang betul-betul matang.

Dengan demikian ia berharap kendala-kendala teknis yang terjadi sekecil apapun di lapangan dapat diminimalisir.

“Ke depan, kualitas UNBK dari waktu ke waktu terus dievaluasi untuk dilakukan perbaikan dan peningkatan kualitas.  Mulai dari daya listrik dan IT, sehingga kendala-kendala sekecil apa pun yang terjadi di lapangan dapat diminimalisir,” serunya.

Ia berharap, dengan ujian nasional berbasis komputer ini, segala proses yang dilakukan benar-benar berjalan dengan penuh kejujuran. Sehingga proses ini akan melahirkan calon generasi-generasi emas NTB yang kredibel dan berintegritas di masa-masa yang akan datang.

Sementara itu Kepala sekolah SMKN 4 Mataram, Bakriyanto mengatakan dari awal pihaknya melakukan koordinaai dengam PLN jangan sampai servernya bermaslaah.

“Dan Alhamdulillah  di setiap sekolah ada tehnisi apabila ada yang urgent sudah ada yang antisipasi,” ujarnya.

Ia mengaku kecurangan dan integritaas sangat-sangat bisa di minimalisir oleh pihak sekolah maupun Dikbud.

Tidak mungkin para siswa-siswi akan bekerja sama kecuali kalau gurunya membiarkan. Selama gurunya sesuai dengan aturan tidak membantu siswanya bekerjasama ia meyakini hasil ujian Siswa-siswi ini akan murni.

“Karena tokennya ini dirilis 10 menit sebelum mulai baru kita  bisa mengetahui soalnya. Jadi Guru pun tidak mungkin tahu soalnya. sehingga dengan sistem ini apa yang menjadi kekahwatiaran ini bisa di minimalisir,” imbuhya

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Muhammad Suruji menyebutkan Total peserta  sebanyak 19,539 siswa dari 275 SMK Negeri dan Swasta di NTB yang ikut sebagai peserta UNBK.

“Alhamdulillah 100 persen ikut UNBK semua, meski ada puluhan SMK yang gabung dulu,” ujarnya.

Sedangkan untuk 60 SMK swasta harus  menumpang  melaksanakan UNBK di SMK negeri terdekat. Lantaran tidak memiliki fasilitas yang memadai seperti Komputer dan Jaringan internet.

AYA




Perawat Tidak Diterima Kerja, Gara-Gara Belum Punya STR

Perawat lulusan D III ataupun S I tidak bisa diterima kerja hanya karena belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR), itu tidak adil

LOMBOKUTARA.lombokjournal.com — Masih banyaknya lulusan tenaga perawat di Lombok Utara, yang belum dapat kesempatan bekerja di RSUD maupun Puskesmas hanya karena belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR), mendapat sorotan Bupati KLU. H. Najmul Akhayar.

“Banyak tenaga perawat, baik yang lulusan D III ataupun S I saat ini tidak bisa diterima kerja hanya karena belum memiliki STR. Rasanya ini tidak adil,” kata Najmul, dalam peringatan hari jadi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) 2018 di halaman kantor Bupati KLU. Rabu (21/3).

Ditambahkan Najmul, pengurus PPNI di daerah hingga pusat, diharapkan agar membantu anggotanya yang hingga kini masih belum mendapatkan STR.

“Kasihan mereka, sudah sekolah 4 tahun tapi belun cukup untuk bisa diterima bekerja. Secara keilmuan mereka saya rasa layak diberikan kesempatan bekerja,” Tukasnya.

Dalam kesempatan itu juga, Najmul meminta kepada lembaga pendidikan pencetak tenaga perawat agar STR bisa dipaketkan menjadi satu dengan ijajah.

“Tahun ini kita juga sudah melakukan penilaian kepada tenaga kesehatan teladan. Inshaallah akan diumumkan pada HUT KLU mendatang. Hadiahnya 1 Unit motor,” terangnya.

Tak sampai disana, Najmul yang bertindak selaku pemimpin upacara, juga berjanji akan memprioritaskan tenaga perawat honorer untuk diangkat menjadi CPNS.

“Saya sudah koordinasi dengan BKD, agar nama-nama yang sudah direkomendasikan ke pusat itu segera diprioritaskan,” tukas Najmul, disambut tepuk tangan seluruh perawat yang hadir.

Ketua DPD PPNI Lombok Utara. Sukamto, mengatakan ada 370 anggota yang saat ini terakomodir di PPNI dan sudah mengantongi Nomor Induk Registrasi Anggota (Nira).

“Perawat mandiri, artinya temen-temen perawat dianjurkan praktik atau memberikan pelayanan dirumah, tentu dengan mekanisme dan prosedur yang ada, sperti sudah memiliki STR dan SIPP,” cetusnya.

Seusai Upacara, DPD PPNI KLU juga mengadakan beberapa kegiatan lainnya, di antaranya donor darah bekerjasama dengan PMI, dan pengobatan gratis.

DNU




Seleksi Guru Dan Pegawai Honorer Berbasis Komputer

Tes menggunakan komputer tidak bisa bohong, karena komputer tidak bisa disogok

MATARAM.lombokjournal.com —  Untuk memastikan proses seleksi guru dan pegawai honorer, mulai tanggal 24 Maret, berlangsung secara jujur dan transparan, proses seleksi melalui tes akan dilakukan dengan menggunakan komputer

“Agar proses seleksinya nanti bisa berlangsung transparan, maka tes dilakukan dengan menggunakan komputer,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Muhammad Suruji di Mataram, Selasa (20/3) saat melakukan jumpa pers dengan media di Kantor Gubernur NTB.

Ia menyatakan dengan menggunakan komputer, tidak ada peluang terjadinya praktik kecurangan, layaknya proses Ujian Nasional Berbasis  Komputer (UNBK) yang dilakukan siswa

Melalui proses seleksi berbasis komputer, semua peserta juga bisa melihat secara langsung berapa nilai yang didapatkan usai tes dilaksanakan

“Kalau tes menggunakan komputer kan tidak bisa bohong, kalau jawaban dan nilainya memang tinggi, pasti akan  terlihat nanti, sebab komputer tidak bisa disogok, tapi kalau mau sogok silahkan saja,” tegasnya

Pilihan tes menggunakan komputer lebih dipilih dan meniadakan tes wawancara langsung termasuk praktikum, untuk menghindari terjadinya praktik nepotisme diantara panitia seleksi dengan guru honorer,” tambah Suruji.

AYA




#SantriBicara #KSPMendengar, Di Ponpes Nurul Haramain NW Mataram

Sistem pendidikan di Ponpes Nurul Haramaian ini dikembangkan, untuk melatih anak-anak siap menghadapi kehidupan yang mengglobal

lombokjournal.com —

NARMADA:

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku terkagum-kagum dengan kehidupan, filosofi, motto, dan sistem pengembangan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Haramain, Narmada, Mataram, ketika ia mengunjungi pondok tersebut, Jumat, (09/03).

Moeldoko mengatakan itu di hadapan lebih dari lima ribu santri pondok pesantren yang telah menungguinya sejak selepas sholat Jumat.

Moeldoko mendapatkan penjelasan panjang lebar dari pengasuh pondok Tuan Guru Haji Hasanain Juaini, tentang bagaimana sistem pendidikan di pondok ini dikembangkan, untuk melatih anak-anak siap menghadapi kehidupan yang mengglobal.

“Mereka kita didik, kita ajari, supaya apa yang mereka kuasai kompatibel dengan globalisasi,” ujar TGH Hasanain.

Salah satu bentuk kompatibilitas dengan dunia global, santri-santri yang sudah memenuhi syarat diharuskan juga memiliki paspor, sehingga mereka sudah siap menjadi penduduk global.

Ponpes Nurul Haramain ini juga menjadi salah satu pelopor Ujian Nasional Berbasis Komputer.

“Sebelum diterapkan secara nasional, kami yang lebih dahulu memulainya pada tahun 2000,” ujar Tuan Guru Hasanain.

Jauh sebelum orang bicara tentang perpustakaan digital, pondok pesantren ini sudah mendigitalisasikan buku-buku yang mereka punyai.

“Kami scan satu per satu. Pada waktu itu jumlahnya sekitar 58 ribu judul buku,” terang penerima Ramon Magsaysay Award tahun 2011 itu.

Berwawasan Lingkungan

“Di sini, anak-anak juga kita ajari untuk mengolah sampah sendiri. Tiap bulan, sampah-sampah ini juga menghasilkan uang, sehingga dari sampah ini, biaya untuk membayar tenaga pengolah sampah dapat tertutupi,” jelas Tuan Guru Hasanain.

Anak-anak juga diajar mandiri, mengemudi mobil, berkebun, karena semua lulusan pondok ini disiapkan untuk menjawab tantangan dunia. Istilahnya, “Nurul Haramain for the world.” Mereka juga memiliki stasiun radio sendiri, yang dikelola oleh para santri.

Ketika pondok pesantren ini akan dianugerahi sebagai pondok pesantren berwawasan lingkungan, Tuan Guru menolaknya.

“Karena seharusnya semua pondok harus berwawasan lingkungan, harus peduli kepada alam,” kata Tuan Guru. Dengan jumlah santri lebih dari 10 ribu siswa yang tinggal dalam asrama, dapat dibayangkan bagaimana manajemen pondok ini dikelola. Tanpa pemanfaatan teknologi, sudah pasti manajemennya akan ruwet.

Sebelumnya, dalam sholat Jumat di Masjid Nurul Mu’min, Lembuak, Narmada, Moeldoko menyampaikan bahwa masjid dan pesantren dapat menjadi pusat pemberdayaan bagi masyarakat, selain sebagai tempat ibadah.

“Masjid bukanlah tempat yang tepat untuk membangun faksi-faksi dan memperjuangkan kepentingan politik praktis,” kata Moeldoko.

Ia pun punya catatan baik tentang masjid di seluruh NTB, yang menurut data yang dipunyainya berjumlah 5.371 buah.

“NTB ini dikaruniai oleh Tuhan potensi alam yang luar biasa, sehingga kita harus bisa menjaga dan memanfaatkannya dengan baik untuk kepentingan masyarakat luas. Saya datang ke NTB ini, salah satunya untuk mengawal program strategis nasional, memeriksa apakah ada yang kurang atau ada yang dibutuhkan koordinasi lebih jauh. Apakah ada program yang memerlukan percepatan, sekaligus menampung masukan-masukan, kritik, dan usulan dari berbagai pihak,” kata Moeldoko.

#SantriBicara

Dalam dialog di pondok pesantren itu, Kepala Staf Kepresidenan antusias dalam menampung dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh para santri. Ia juga memberikan gemblengan motivasi kepada anak-anak muda ini.

“Sebagai anak muda, kalian harus bersifat optimis. Nanti tahun 2045, ketika negara ini berumur 100 tahun, nasibnya berada di tangan kalian. Mudah-mudahan dari pondok pesantren ini, lahir banyak orang-orang besar, mulai dari bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden,” kata mantan Panglima TNI tersebut.

Apa saja yang disampaikan dan/atau ditanyakan para santri di pondok tersebut, sebagian dapat diunduh di akun Twitter resmi Kantor Staf Presiden yakni @kspgoid, atau dapat dicari melalui tagar #santribicara.

Me

 




Tidak Kuorum, Rapat Pansus Raperda Hukum Adat DPRD KLU Ditunda

Beberapa hal yang akan dibahas Pansus menyangkut mekanisme pembentukan kelembagaan dan hak-hak adat apa saja yang akan diakomodir

Ardianto.(Foto: DAN/Lombok Journal)

LOMBOKUTARA.lombokjournal.com– Rapat pertama Panitia Khusus (Pansus) Raperda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat DPRD KLU harus tertunda. Pasalnya, dari 15 anggota Pansus, hanya 6 orang yang terlihat hadir di ruang sidang DPRD KLU, Senin (5/3).

“Rapat kita tunda sampai besok, karena anggota tidak korum. Harusnya yang hadir 7-8 orang jika dilihat dari jumlah anggota,” kata Ketua Pansus Hukum Adat DPRD KLU, Ardianto, Senin (5/3).

Jika nanti dalam prosesnya, kata Ardianto, tetap tidak korum dalam tiga kali rapat, maka rapat akan dilanjutkan berapa pun anggota yang hadir.

“Kalau sampai tiga kali tidak korum, maka tetap dilanjutkan meski hanya dua orang yang hadir. Itu sesuai amanat undang-undang,” tukasnya.

Ada beberapa hal yang akan dibahas Pansus. Salah satunya menurut Ardianto, menyangkut mekanisme pembentukan kelembagaan dan hak-hak adat apa saja yang akan diakomodir.

“Regulasi yang mendelegasikan untuk dibentuknya Perda ini juga kita coba dalami,” paparnya.

Meski kecewa dengan sikap anggotanya yang tidak hadir, namun Ardianto, menargetkan Pansus bisa selesai dalam dua bulan ke depan.

DNU