Pelepasan 176 Penerima Beasiswa Tujuan Polandia dan Malaysia

“Teman-teman mahasiswa yang dipilih ini bukan hanya pintar, tapi saya yakin teman-teman punya mental yang kuat untuk berjuang, meretas jalan baru yang pernah dilakukan oleh para pahlawan”

Gubernur Zulkieflimansyah

MATARAM.lombokjournal.com  – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc. melepas 176 mahasiswa penerima beasiswa tujuan Polandia dan Malaysia di Gedung Graha Bhakti Praja NTB, Senin (16/09)2019.

Dari 176 penerima beasiswa tersebut, sebanyak 28 orang akan melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi di Polandia, 148 lainnya akan melanjutkan studi di sejumlah perguruan tinggi di Malaysia.

Program pengiriman anak-anak NTB ke Luar Negeri merupakan program yang diinisiasi Gubernur bersama Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah untuk mewujudkan NTB Gemilang.

Seluruh penerima beasiswa tersebut merupakan anak-anak terbaik NTB yang telah diseleksi oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB.

Mereka berasal dari 10 kabupaten/kota se-NTB. Bahkan, mereka telah mendapatkan pembekalan terkait studi yang akan mereka laksanakan di dua negara tersebut.

Saat melepas, Gubernur NTB berpesan untuk memperhatikan segala hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk keberangkatan.

Gubernur yang akrab disapa Bang Zul itu berharap mereka dapat menjadi inspirasi pemuda lainnya yang ada di NTB. Sehingga semakin banyak mahasiswa-mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri demi tercapainya NTB yang gemilang.

“Teman-teman mahasiswa yang dipilih ini bukan hanya pintar, tapi saya yakin teman-teman punya mental yang kuat untuk berjuang, meretas jalan baru yang pernah dilakukan oleh para pahlawan,” ujar Gubernur Zul.

Diharapkan mahasiswa senatiasa menjaga nama baik daerah di Polandia maupun Malaysia, sehingga dapat tercipta jembatan pengertian dengan banyak negara dan dapat mengharumkan nama baik NTB di kancah internasional.

Direktur Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP), Irwan Rahadi, M.Sc., berpesan agar mahasiswa selalu menjaga diri dan menjaga nama baik NTB di Polandia dan Malaysia.

BACA JUGA ; Ungkapan Haru dan Bangga Terima Beasiswa Ke Luar Negeri

“Kami mengirim teman-teman semua untuk berprestasi di luar sana, selalu jaga nama baik daerah NTB, dan jangan sampai melupakan dari mana kalian berasal,” katanya.

AYA/HmsNTB




Pemprov NTB Bahas Peluang Beasiswa Bersama Dubes Rusia

Kerja sama tidak hanya terbatas mengirimkan mahasiswa NTB belajar di Rusia. Bisa saja melalui pertukaran belajar mengajar antara pelajar, dosen, hingga profesor Rusia dan NTB

lombokjournal.com —

JAKARTA   ;   Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, mewakili Gubernur NTB bersama rombongan tim beasiswa Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB, melakukan pertemuan dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, YM Lyudmila Georgievna Vorobieva, di Wisma Kedubes Rusia, Jl. Karet Pedurenan 1 Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (12/09) 2019.

Dalam brunch meeting tersebut, Hj. Niken dan Dubes Rusia mendiskusikan beragam potensi kerja sama antara Provinsi NTB dengan Rusia.

Mulai dari kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, hingga peluang kerja sama kota kembar (sister city).

Dubes Rusia mendapat penjelasan dari Hj Niken, Pemprov NTB punya program beasiswa pendidikan anak-anak NTB, ke banyak negara di dunia.

NTB sudah mengirimkan 237 mahasiswa-mahasiswi S1 hingga S3 ke sejumlah negara seperti Polandia, Cina dan Malaysia per September ini. Dan ke depan, akan terus menyusul lebih banyaka.

“Karenanya dari pertemuan ini, saya pikir sebuah peluang besar untuk bisa menjajaki potensi beasiswa ke Rusia,” ujar Hj. Niken, mengawali perbincangan dengan Dubes Rusia.

Menurut Hj. Niken, kuantitas dan kualitas universitas di Rusia yang tinggi, jadi alasan mengapa tim beasiswa LPP NTB tertarik mengirim anak-anak NTB ke negeri Beruang Merah itu.

“Banyaknya kampus berkualitas di Rusia, dikenal telah melahirkan inventor-inventor di berbagai bidang teknologi kelas dunia, menjadi daya tarik bagi kami. Selain itu juga terkait disiplin ilmu pertanian dan kebudayaan yang cukup maju dan bagus di sejumlah kampus ternama di Rusia. Kami semakin yakin untuk membuka jalan kerjasama di banyak bidang, selain pendidikan,” terang Hj Niken.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, YM Lyudmila mengaku merasa tersanjung, rombongan dari Provinsi NTB tahu begitu banyak soal Rusia, terutama terkait pendidikan, pertanian dan kebudayaannya.

“Saya merasa terkejut sekaligus tersanjung bahwa Rusia begitu dikenal di NTB, terutama di bidang pendidikan,” katanya.

Lyudmila mengatakan, memang banyak universitas di Rusia yang menerima mahasiswa-mahasiswi dari berbagai negara lain, termasuk dari Asia.

Contohnya pelajar dari Malaysia ada sekitar tiga ribu orang yang sedang belajar, di berbagai kampus di Rusia, berbasis skema komersial.

Sementara untuk Indonesia, sejauh ini, terdapat kuota sekitar 100 mahasiswa berbasis beasiswa yang belajar di Rusia.

“Dalam konteks program beasiswa NTB, peluang dan kesempatan untuk NTB sangat terbuka lebar,” ujar Dubes Lyudmila.

Dubes Lyudmila mengatakan, kerja sama tidak hanya terbatas mengirimkan mahasiswa NTB belajar di Rusia. Bisa saja melalui pertukaran belajar mengajar antara pelajar, dosen, hingga profesor Rusia dan NTB.

Termasuk kerja sama bidang penelitian antar kampus. Potensi kerjasama di multisektor mulai dari bidang akademik, kebudayaan hingga pertanian.

Dikkatakannya,  ada mahasiswa-mahasiswi dari Kuba yang belajar pertanian di banyak kampus di Rusia. Dari sana, potensi pertukaran kebudayaan pun terjadi sehingga turunan dari bidang pendidikan begitu banyak.

“Kesempatan-kesempatan seperti itu sangat realistis untuk kita buka juga dengan NTB. Tidak ada yang tak mungkin,” kata Glinkin Vitaly, Counsellor Kedubes Rusia sekaligus Direktur Pusat Ilmu dan Kebudayaan Rusia di Jakarta yang juga hadir dalam pertemuan.

Sekretaris LPP NTB, Sri Hastuti N.A.S mengatakan, dari pertemuan awal itu akan ditindaklanjuti secepatnya.

LPP NTB akan segera berkoordinasi dengan Pusat Ilmu dan Kebudayaan Rusia di Jakarta, untuk menentukan mekanisme kerja sama dan juga seleksi kampus-kampus di Rusia, yang memiliki potensi menjadi tujuan belajar para penerima beasiswa NTB.

Sri Hastuti berharap, melalui sistem, skema dan mekanisme yang tepat, resmi dan ideal dapat segera merealisasikan peluang kerja sama ini secepat mungkin.

Dubes Rusia dan jajarannya sangat terbuka terhadap niat dan rencana itu. Kampus-kampus di Rusia pun juga banyak yang menyediakan kuota beasiswa untuk pelajar asing, sebagaimana tadi disebutkan.

“Apalagi biaya hidup di Rusia termasuk relatif terjangkau. Kami optimis akan segera ada pelajar NTB yang kuliah mengambil tingkat S1 hingga Doktoral (S3) di Rusia,” terang Sri Hastuti.

AYA/HmsNTB

 




Tanamkan Toleransi Anak Lewat Lomba Video Pendek Keberagaman

Perlu ada upaya-upaya preventif dan edukatif untuk mengamputasi penyebaran radikalisme tersebut

Para pemenang

MATARAM.lombokjournal.com – Lembaga Perlindungan Anak Provinsi NTB bekerjasama dengan Dewan Anak Mataram menyelenggarakan kompetisi Film/Video Pendek bertema “Kita Beda Kita Bersaudara” tingkat pelajar.

Kompetisi ini bertujuan menanamkan bibit toleransi pada anak sejak di masa sekolah.  Pelajar berkompetisi membuat film atau video pendek yang bertema keberagaman.

“Semoga dengan lomba semacam ini dapat memupuk rasa toleransi adik-adik, sehingga ketika telah dewasa nanti dapat merawat budaya adik-adik serta kesatuan NKRI,” pesan Asisten III Setda Provinsi NTB, Hj. Hartinah, di Taman Budaya NTB, Rabu (11/09) 2019.

Hj. Hartinah menyampaikan itu saat memberikan sambutan acara penganugerahan pemenang Lomba tersebut,

Selain mengajarkan toleransi, Lomba ini juga diharapkan dapat menangkal radikalisme yang  ada  sekolah.

Dari hasil penelitian dan Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo, guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta. Penelitian yang dilakukannya pada Oktober 2010 hingga Januari 2011 mengungkapkan, hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal.

Sehingga perlu ada upaya-upaya preventif dan edukatif untuk mengamputasi penyebaran radikalisme tersebut.

“Ajang Lomba seperti ini juga bisa menjadi penangkal adanya paham radikalisme di dalam sekolah. Soalnya kan anak seusia saya cepet sekali terhasut ajakan orang lain,” ujar Gaung Alif, siswa SMAN 1 Mataram selaku panitia acara.

Pembelajaran toleransi memang sangat kental terlihat dalam acara tersebut. Diawali dengan penampilan Wayang Botol (Watol) dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) sebagai pembuka acara.

Kemudian kata-kata motivasi dari TGH. Hasanain, dan pemutaran film pendek bertema toleransi karya anak-anak NTB.

Pembelajaran toleransi yang tidak terkesan menggurui juga disuguhkan dalam penampilan lakon dari Teater Sanggar Budaya Pelangi SMAN 2 Mataram berkolaborasi dengan Teater Tereng SMAN 3 Mataram.

Lakon yang menceritakan tentang kegalauan, perundungan, dan perberbedaan anak remaja tersebut berhasil memukau para penonton.

Pemenang dalam Lomba tersebut sendiri di antaranya, Rival dan Kawan-Kawan sebagai juara 1, Team Z juara 2, dan Liat Family sebagai juara 3.

Untuk Juara Favorit The Iswae Generation sebagai favorit 1 dan SMANSAGA sebagai juara favorit 2. Kriteria pemenang dinilai berdasarkan Penyampaian Pesan, Originalitas Ide, dan Kualitas Video.

AYA/HmsNTB

 




Gubernur Nilai Temuan Ombudsman Wajar, Mungkin Belum Tahu Cerita Lengkapnya

Nggak ada niat misalnya untuk jual manusia, (Dugaan) human trafiking terlampau jauh. Kalau ada prosedur yang kurang benar kita perbaiki”

MATARAM.lombokjournal.com —  Temuan hasil investigasi Ombudsman RI Perwakilan NTB, terkait dugaan penyimpangan administrasi dalam pengiriman pelajar NTB ke Korea Selatan, ditanggapi Gubernur NTB, Zulkieflimansyah.

Terkait temuat tersebut, Gubernur Zul menganggapnya hal yang wajar, itu disebabkan kemungkinan Ombudsman tidak mengetahui cerita lengkapnya

“Mungkin Ombudsman tidak mengetahui kelengkapan ceritanya,” kata Gubernur membela diri pada Selasa (10/09) 2019.

Hasil investigasi Ombudsman pelaksanaan pengiriman peserta program pendidikan lanjutan tenaga kesehatan dari jenjang D3 ke S1 ke Universitas Chodang diikuti 18 calon mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di NTB.

Pengiriman calon mahasiswa ini direncanakan untuk mengikuti pendidikan medical management yang sebenarnya proses perkuliahannya baru akan dimulai pada September 2019.

Program pengiriman calon mahasiswa itu  ke Universitas Chodang, Korea Selatan yang terletak di Muan, Jeolla Selatan, baru berdasarkan Letter of Intent (LoI) antara Gubernur NTB dan President Univesrsity of Chodang yang ditandatangani di Mataram, 29 Januari 2019.

Namun faktanya meskipun belum terbit Perjanjian Kerjasama, 18 calon mahasiswa ini justru telah diberangkatkan ke Korea Selatan pada Maret 2019.

Padahal dalam skema jadwal kuliah, perkuliahan baru akan dimulai pada September 2019. Pemberangkatan lebih awal dimaksud bertujuan memberikan kesempatan kepada para calon mahasiswa untuk memperdalam bahasa Korea.

Apalagi beberapa calon mahasiswa mulai merasakan adanya perbedaan antara fakta dan janji dalam proses persiapan kuliah hingga perkuliahan.

Dari sinilah polemik dan kesimpangsiuran opini serta informasi di media massa berkembang.

Jangan takut salah

“Saya kira rekomendasi Ombudsman untuk lebih berhati-hati saya kira wajar saja dan kita memberikan apresiasi. Tapi kita  jangan takut salah juga,” jelas Gubernur.

Pengiriman beasiswa ke Korea sebenarnya tidak hanya keinginan mahasiswa kuliah keluar negeri, termasuk jika ada orang punya niat baik tentu Pemda menampung rencana kerja sama tersebut.

Jika dalam perjalanan ada yang tidak sesuai harapan dengan kenyataan, Pemprov NTB akan mencoba perbaiki meknisme selanjutnya melihat apa kekurangan.

“Nah yang konyol kalau kebetulan langsung dikaitkan dengan penjualan manusia itu terlalu jauh,” sesal gubernur.

Gubernur mengajak semua pihak menjaga konduksifitas daerah jangan sampai  membuat kesan satu tahun  kepemimpinan gubernur baru membuat gaduh. Padahal menurutnya itu masalah yang tidak besar.

“Nggak ada niat misalnya untuk jual manusia human trafiking terlampau jauh. Kalau ada prosedur yang kurang benar kita perbaiki,” jelasnya.

Menurut gubernur, temuan Ombudsman itu jadi masukan yang baik. Bukan hanya Ombudsman tapi yang lain akan disikapi dengan baik.

“Kita berterimakasih pada Ombusman mudahan masyarakat menyadari kita punya Ombusman,” tambahnya.

Gubernur menjelaskan, yang mengurus maupun yang diurus tidak punya pengalaman internasional, sehingga Pemprov NTB meminta Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) mem-back up.

Perjalanan beasiswa ke depannya akan diurus LPP. Gubernur mencontohkan orang yang tidak pernah keluar negeri pasti akan merasakan kebingungan awalnya.

Mahasiswa itu yang tadinya makan di kampus tetapi kampus di luar negeri tidak menyediakan kantin untuk makan.

“Itu namanya terlantar? Padahal kan musim panas disana kan libur,” ujar gubernur.

Pemprov menyayangkan jangan sampai nanti ada program bagus namun rasa takut berlebihan sehingga kapok,  padahal peluang yang tersedia begitu banyak.

“Jadi teman-teman media  membantu jangan sampai ketidak benaran kalau terus terus di grecokin orang lama lama malah percaya pada info yang tidak benar,” katanya.

Sebetulnya program pengiriman pelajar NTB sudah dilakukan dari dulu termasuk sebelum ia menjadi Gubernur NTB namun justru yang ribut hanya hari ini saja.

“Saya sebelum jadi gubernur ngirim orang sekolah sudah banyak. Yang perlu prosedurnya itu karena ada kata bekerjanya, perlu diperbaiki lah jangan jadi trauma jangan karena nilai setitik rusak susu sebelenggu,” tegaas gubernur.

AYA/HmsNTB




Program ‘Zero Waste’ Jadi Agenda Edukasi MABA Universitas Hamzanwadi

Diharapkan para mahasiswa baru sejak dini peduli terhadap lingkungan agar sampah berubah jadi berkah

MATARAM.lombokjournal.com —  PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) Universitas Hamzanawadi dimulai Hari Rabu, tanggal 4-8 September 2019, yang mengusung tema “The Energy of Hamzanwadi”.

Tema tersebut diambil sebagai bentuk penghayatan dan pengamalan dari spirit Hamzanwadi kepada mahasiswa baru.

Salah satu bentuk program tahunan yang diselenggarakan menjelang aktif proses perkuliahan adalah PKKMB, yang ber tujuan agar calon mahasiswa baru mengenal dunia kampus baik dari sisi kehidupan akademik di perguruan tinggi, wawasan kebangsaan,  kehidupan organisasi kampus, budaya santri,  tata tertib kampus serta aktivitas lainnya yang ada di kampus.

​Salah satu agenda khusus PKKMB tahun adalah edukasi program Zero waste. Program zaro waste merupakan salah satu program unggulan pemerintah provinsi NTB.

Dalam mendukung program zero waste, kehidupan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru dibekali pengetahuan tentang pengurangan penggunaan sampah anorganik dan pemanfaatan sampah organik.

Selama proses PKKMB calon mahasisawa baru dibiasakan tidak membawa air kemasan, tetapi diwajibkan membawa wadah sendiri, panitia  menyiapkan air galon.

Selain itu, mereka juga tidak diperkenankan menggunakan bungkus nasi plastik melainkkan menggantinya dengan bungkus nasi hijau.

Dalam pemantapan program zero waste ini, panitia mengundang praktisi sebagai narasumber memberikan pelatihan pembuatan ecobrick, kompos, dan pemanfaatan plastik.

Harapannya, para mahasiswa baru sejak dini peduli terhadap lingkungan agar sampah berubah jadi berkah.

Berkah yang dimaksud disini adalah sampah bisa mendatangkan uang karena sampah bisa dijual, bisa menjadi pupuk organik, bisa jadi ecobrick, dan pastinya bisa menjadi bidang usaha baru.

Semoga dengan pelatihan ini para mahasiswa baru, memberikan semangat baru kepada para mahasiswa untuk mencintai bumi dan bisa mengaplikasikan ilmunya di tempat tinggal masing-masing.

Sehingga lingkungannya tetap bersih yang akhirnya Zero Waste terwujud secara merata.

AYA




Nasib Mahasiswa Yang Dikirim Ke Korea, M16; Jangan Ada Dusta Atas Nasib Orang

“Ya, kayak kata pepatah lah, bangkai disimpan nanti tercium juga”

lombokjornal.com —

MATARAM   ;  Masalah pengiriman sekolah ke Korea menjadi perhatian publik, sebab peristiwa itu mengesankan kurang cermatnnya penanganan nasib mahasiswa NTB yang dikirim belajar ke negeri orang.

“Jangan ada dusta atas nasib orang,” kata Direkktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto di Mataram, Sabtu (07/09) 2109.

Seperti diketahui, muncul Kegaduhan publik soal pengiriman mahasiswa ke Chodang University, Korea Selatan. Dan hingga kini belum ada titik terang.

Lembaga Kajian Politik dan Publik Mi6 mendapati sejumlah informasi menyedihkan.

“Kalau kemarin itu ceritanya sebatas tak ada yang telantar. Semua baik-baik saja, semakin kesini kok malah kebalikannya,” kata Bambang Mei yang akrab disapa Didu.

Didu tampak kesal, sebab nasib 18 orang yang sudah dikirim tidak boleh dianggap sederhana. Masalahnya, mereka sudah mengorbankan pekerjaan dan diduga meminjam puluhan juta di bank daerah agar bisa ke Korea.

“Siapa yang tanggung jawab, pekerjaan orang sudah lepas. Belum lagi secara psikologis di mata keluarga dan lingkungan sekitar,” urainya.

Dikatakan, Mi6 mengikuti seluruh pemberitaan di media massa baik cetak maupun online. Yang muncul justru saling menghindar soal pertanggung jawaban. Disebut Universitas Mataram, ada juga Pemprov NTB, terakhir LPP yang disebut.

“Keributannya malah pembelaan diri, bukan telantar, bukan perdagangan orang, bukan salah ini, salah itu. Jadi kesannya tidak profesional, amatiran,” kata Didu dengan kesal.

Mestinya, sambung Didu, terbuka saja ke media secara kronologi, sampaikan proses pengiriman hingga nasib warga NTB yang telah ke Korea Selatan. Dalam era serba terbuka, sulit menutupi sesuatu. Apalagi hal tersebut diduga tak prosedural.

“Ya, kayak kata pepatah lah, bangkai disimpan nanti tercium juga,” tandasnya.

Didu menambahkan, Pemprov NTB punya kewajiban moral  bertanggung jawab secara utuh pada warga NTB yang sudah dikirim ke Korea Selatan. Kerugian materiil ataupun immateriil harus dihitung.

“Termasuk jelaskan itu dugaan bagaimana nasib pinjaman Rp 60 juta di bank. Beberapa dari mereka sudah berhenti kerja, jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga,” bebernya.

Terakhir, Didu mengaku penasaran dengan dugaan  proses pinjaman perbankan. Terkesan begitu mudah mencairkan pinjaman yang diduga untuk 28 orang dengan total 1.680.000.000, biasanya bank cermat dan tidak mau ambil resiko.

“Ini orang sudah berhenti kerja, masih mau kuliah dapat kerja lagi di Korea Selatan. Kok mudah sekali dapat pinjaman, sementara meminjam untuk usaha saja panjang lebar prosesnya,” katanya lagi.

Masalah Korea Selatan ini telah mendapat atensi dari banyak pihak, baik dewan dan ombudsman. Didu berharap, persoalan ini dikawal secara utuh.

Ia khawatir, nasib 18 orang yang saat ini di Korea Selatan diabaikan.

“Ini persoalan publik. Tak boleh disederhanakan, apalagi diremehkan,” tegasnya.

Program sederhana

Sementara itu Gubernur NTB H Zulkieflimansyah melalui akun facebook pribadinya menuliskan, ada yang mempermasalahkan tentang pengiriman  mahasiswa ke Korea bahkan mencurigai ini motif utk perdagangan manusia. Padahal ini program sederhana.

“Yang punya ide memberangkatkan anak NTB ke luar negeri bukan kami saja. Banyak orang dan tim lain,” tulisnya.

Zul melanjutkan, ini ada ide memberangkatkan lulusan D3 keperawatan dan melanjutkan S1 di Chodang University. Ide ini diinisiasi oleh Dr Hamsu dari Fakultas Kedokteran Unram.

Kata Dr Hamsu, NTB punya kelebihan perawat dan sambil sekolah anak NTB bisa bekerja membantu di bidang perawatan dan kesehatan di Korea dengan gaji yang lumayan.

“Menurut kami program ini bagus dan harus didukung  tapi kami meminta Prof Hamsu untuk mengecek kualitas dan Reputasi Chodang University sambil mengirimkan Kadis Kesehatan Kami Dr Eka dan Dirut RSUP dr Fikri untuk memastikan,bahwa apa yang di janjikan itu benar. Setelah semuanya oke baru berani kita kirimkan anak-anak kita ke sana,” lanjutnya.

Kalau kemudian ada hal-hal yang kenyataannya tidak sesuai dengan yang di janjikan tentu patut di sesali.

“Kita tinggal perbaiki kalau ada prosedur yang keliru atau ganti tempat studi ke tempat yang sesuai harapan. Tapi yang ada beritanya anak-anak kita terlantar di Korea,” tambahnya.

Seperti diketahui, pengiriman 18 warga NTB untuk belajar ke Chodang University untuk kuliah sembari bekerja tak berjalan mulus. Kondisi belasan orang di Korea Selatan itu pun tak menentu.

Direncanakan dalam waktu dekat, mereka akan kembali ke NTB. Sisanya akan kembali Desember mendatang.

Mereka ke Korea Selatan setelah mendapat pinjaman uang dari bank daerah sebesar Rp 60 juta.

Me




Pekan Risalah dan Ta’aruf Mahasiswa, Diikuti 823 Mahasiswa Baru UNW

MATARAM.lombbokjoural.com – Sebanyak 820 Mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Wathan Mataram mengikuti kegiatan Pekan Risalah dan Ta’aruf Mahasiswa (Pertama).

Kegiatan itu merupakan kegiatan peserta didik pada jenjang perguruan tinggi di Universitas Nahdlatul Wathan Mataram yang umumnya disebut Ospek, yang akan dilaksanakan selama 3 hari.

Kegiatan tersebut dibuka Rektor UNW Mataram TGH. Lalu Gede M. Aliwirasakti, Ma, di Aula Universitas Nahdlatul Wathan Mataram,  dan dihadiri seluruh civitas akademika dari seluruh Fakultas, Jumat (06/09) 2019.

Rektor UNW Mataram memberikan ucapan selamat datang  pada seluruh mahasiswa baru yang mengikuti PERTAMA. Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak Mahasiswa yang berkarakter, sehingga mampu memikirkan kemajuan Bangsa dan Negara.

Dikatakan, melalui kegiatan ini diharapkan mencetak  investasi sumber daya bangsa. Diharapkan mahasiswa baru mempunyai fikiran-fikiran ke depan, melakukan hal-hal yang menjadi kemaslahatan orang banyak.

“Tentu juga mampu berjuang untuk kemajuan Bangsa dan Negara, sebagaimana yang diamanatakan oleh pendiri-pendiri bangsa, juga titipan amanat untuk kita semua oleh pendiri Universitas Nahdlatul Mataram, Almaghfurlah Maulanasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, untuk terus memperjuangkan tatanan sosial kemasyarakatan yang baik,” katanya

Selain itu Gede Sakti (sapaan Akrabnya) menyampaikan pentingnya kegiatan Perkenalan Kampus, sesuai amanat direktur jenderal pembelajaran dan kemahasiswaan riset dikti, No 143/B/SE/VII/2019 tentang sistem pendidikan diindonesia, nilai dan norma kebudayaan, etika, serta Hak dan Kewajiban Mahasiswa selama menempuh perkuliahan di UNW.

Lebih lanjut Rektor UNW mengatakan,  ‘Pertama’  merupakan kegiatan awal pada jenjang perkuliahan, untuk memperkenalkan dunia akademik, Hak dan Kewajiban Mahasiswa dan lain sebagainya.

Hal ini sesuai yang tertera pada amanat Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Riset Dikti tahun 2019.

Turut hadir dan berbagi motivasi yaitu Wakil Rektor I, TGH. Lalu Muhyi Abidin, Ma. Ia berharap, mahasiswa mampu berbuat apa yang dikehendaki masyarakat. Mahasiswa dituntut tidak hanya mampu melaksanakan apa yang menjadi disiplin keilmuannya.

Terpisah, Ketua Panitia, M. Lukmanul Hakim menerangkan, kegiatan PERTAMA ini berjalan sesuai harapan.  Sesuai dengan kesepakatan, Lukman berarap, mahasiswa baru mampu memajukan UNW Mataram dan Nahdlatul Wathan (NW.

Kegiatan ditutup dengan bersama membaca do’a, dan diakhiri dengan foto bersama Rektor, juga seluruh Civitas akademika dengan Panitia Pelaksana.

Me




Beasiswa Luar Negeri Bukan Meniadakan Dalam Negeri

“Kalau di dalam negeri  kedaerahan tetap melekat. rasa NKRI pelajar  bisa tertanam di dunia Internasional”

MATARAM.lombokjourna.com — Program beasiswa keluar negeri bukan berarti meniadakan beasiswa pendidikan dalam negeri.

Malah jumlah beasiswa yang bisa dinikmati oleh pelajar NTB di dalam negeri lebih banyak termasuk pos anggarannya bisa masuk dalam nomenklatur Bantuan Sosial (Bansos) yang ada di Pemerintah sendiri.

Hanya saja pemberitaan program beasiswa dalam negeri tidak menjadi sesuatu yang menarik didengar bahkan bagi media sendiri tidak diangkat jadi sebuah berita yang seksi.

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah menjawab kegelisahan warga NTB yang sedang mengenyam bangku kuliah di dalam negeri dalam acara Leadership Talk yang berlangusng di Jakarta, sabtu (31/08)  2019.

Pemberian beasiswa di dalam negeri oleh pemerintah bukan sesuatu yang spesial diumumkan, bahkan dilihat gubernur sesuatu yang biasa.

Ini akan sangat berbeda dengan kesan adanya program beasiswa keluar negeri.

“Kalau orang NTB banyak ke Luar Negeri ia jadi berita, kalau orang NTB jadi TKI kan biasa,” kata gubernur.

Di NTB sendiri hampir merata ada program beasiwa yang disiapkan. Gubernur menyebutkan di Mataram terdapat di kampus Muhammadiyah, lalu di Sumbawa sendiri beasaiswa ada di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang sangat banyak hampir 1200 an dari segi jumlah.

“Dan itu bukan sesuatu yang wah. Itu biasa tapi ini kesannya pasti berbeda kalau beasiswa keluar negeri,” jelasnya.

“Bansos gubernur juga ada beasisawa untuk dalam negeri,” sebutnya.

Gubernur memastikan, beasiwa luar negeri itu biasa diakses oleh siapa saja. Jika pun dilihat banyak kekurangan tentu hal yang lumrah pasalanya perjalannya program itu oleh Pemprov NTB sendiri baru berjalan satu tahun.

Seiring dengan waktu banyak masukan yang bisa diakomodir oleh pemerintah sendiri demi perbaikan lebih baik.

1000 beasaiwa keluar negeri itu, lanjut gubernur bagIan dari difresnsiasi program (program yang berbeda) dari guberur sebelumnya bahkan program itu tidak semua daerah memiliknya.

Bang Zul sapaan gubernur itu menjelaskan pelajar NTB rata rata cerdas dan survive.

Sehingga akan sangat bagus ketika diperkenalkan dunia internasional. Belajar ke luar negeri tidak hanya akan mendapatkan ilmu pengetahuan dan gelar saja melainkan bagaimana menanamkan rasa NKRI di negera orang.

“Kalau di dalam negeri mental kedaerahan pasti tetap melekat. Nah yang kita harapkan rasa NKRI pelajar NTB bisa tertanama di dunia Internasional,” terang gubernur.

Gubernur juga menyampaikan tidak ada kewajiban bagi setiap pelajar yang dikirim untuk balik ke daerah sebab NTB diumpakan gubernur hanya kolam kecil, namun disisi ikan besar yang giginya tajam.

“Artinya biarkan kalau mereka sudah selesai menjadi warga dunia tidak harus ke daerah. Kalau bisa para pelajar hebat dari NTB ada disemua negara dengan berbagai profesi yang mereka jalani,” terangnya.

Diketahui dalam acara tersebut dua pelajar NTB mengajukan pertanyaan terkait program beasaiwa Pemprov NTB keluar negeri.

Tidak hanya itu mereka juga menanyakan target kontribusi yang diharapkan mereka setelah selesai harus seperti apa.

Kedua pelajar itu mahasiswa asal Bima, Yabani Ibnu Mahasiwa Univeristas Indonesia dan Muhammad Syaiful Mujab asal Lombok yang juga sebagai mahasiswa Universitas Indonesia.

AYA/HmsNTB




Gubernur Zulkieflimansyah; Mahasiswa Harus Berani Hadapi Tantangan Hidup

“Kalau kita sekedar jalan ternyata tidak sesuai dengan yang diprediksikan nggak enak juga. Harus punya target lima tahun kedepan saya itu seperti apa”

lombokjournal.com —

JAKARTA  ;   Gubernur NTB Zulkiflimansyah memotivasi puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta agar punya keberanian menghadapi tantangan hidup.

Motivasi tersebut disampaikan gubernur dalam kegiatan Leadership Talk yang difasilitasi Badan Penghubung Daerah (BPD) di Wisma NTB di Jakarta sabtu (31/08) 2019.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan, di antaranya mendorong puluhan Mahasiswa agar mampu melukis cerita hidup masing masing sesuai dengan latar belakang mereka.

Gubernur mengatakan setiap orang dihadapkan dengan dua pilihan yakni menulis cerita hidup sendiri atau menulis kisah cerita kehidupan orang lain.

Maka orang yang ingin hidup sukses itu tercermin dalam cerita hidup yang akan ia jalani. Cerita hidup itu, lanjut doktor Zul harus dilukiskan hingga akan menemukan ending cerita.

“Harus punya keberanian menulis cerita kehidupan sendiri. Kalau dalam ilmu managemen, kalau kita tidak punya kemampuan nulis cerita sendiri maka cerita kehidupan kita akan ditulis orang lain,” ungkap Gubernur.

“Itu yang pertama berani membuat cerita hidup,” tambah gubernur.

Kedua lanjutnya setiap orang harus menyusun Mental Picture (Gambaran hidup) berjenjang. Setiap orang harus memahami  Skenario kedepan lalu membuat langkah tertentu sehingga mengetahui andaikan apa yang diinginkan tidak tercapai.

“Kalau kita sekedar jalan ternyata tidak sesuai dengan yang diprediksikan nggak enak juga. Harus punya target lima tahun kedepan saya itu seperti apa. Ini masuk dalam potret skenario tadi,” terangnya.

Ketiga setiap orang harus mempunyai keahlian tersendiri. Ini didapatkan dengan menggali potensi diri yang berbeda dngan keahlian yang dimiliki orang lain.

“Pertajam potensi diri, kapasitas diri perlu diperkuat dengan kopetensi yang pas,” katanya.

Terakhir gubernur berpesan agar menikmati hidup dengan apa adanya. Setiap orang harus menyadari apa yang direncanakan tidak mesti tercapai. Meski berbagai usaha yang dilakukan namun apa yang didapatkan itu merupakan kehendak Sang Ilahi.

“Sadarilah setiap daun yang jatuh sudah ada yang ngatur sehingga apapun yang terjadi itulah kehendak yang diinginkan Yang Maha Kuasa kuasa. Jangan ada penyesalan,” terangnya.

Salah satu peserta Leadership Talk, Eriska Permatasari sangat mengaku kegiatan yang dihadiri gubernur NTB itu sangat memotivasi para mahasiswa untuk lebih giat dalam menghadapi tantangan hidup di tengah persaingan yang semakin ketat.

“Acaranya sangat bagus sekali, kita harus berani menulis masa depan kita seperti apa, dan kita juga harus berani mengambil kesimpulan tentang apa saja yang pernah kita lakukan dimasa lalu,” ungkap mahasiswi Universitas Indonesia.

Sementara itu Pembina Yayasan Asrama Pelajar Islam (YAPI) di Jakarta, Bahtiar Rahman mengatakan, kegiatan yang rutin  dilaksanakan satu kali dalam dua bulan ini bertujuan memberikan motivasi dan pengetahuan kepada para mahasiswa untuk menjadi seseorang yang tidak gampang berpuas diri atas apa yang diraih.

“Pemeran hidup ini adalah diri sendiri orang lain itu hanya sebatas hiburan. untuk itu tulislah rencana hidup kalian sesuai dengan yang kalian inginkan” katanya.

Bahtiar juga sangat mengapresiasi ide dan gagasan cemerlang yang dicetuskan gubernur NTB itu tidak mungkin disampaikan semuanya pada kegiatan ini. Dan jika para mahasiswa ingin lebih mengenal sosok sang gubernur ntb lebih jauh, mahasiswa diminta untuk mengikuti media sosial gubernur ntb agar dapat mengetahui setiap kegiatan yang dilakukan

AYA/HmsNTB




Tingkatkan SDM Melalui Pendidikan PAUD Yang Berkualitas

Diharapkan program PAUD HI berkualitas ini tidak hanya berhenti sampai disini saja, tetapi bisa terus berlanjut dan wilayah jangkauan program ini bisa terus bertambah

MATARAM.lombokjournal.com – Pendidikan PAUD membutuhkan perhatian bukan sekedarnya saja, tapi perhatian khusus dan sungguh-sungguh.

“Agar kita bisa menghadirkan pendidikan PAUD yang berkualitas,” kata Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sekaligus Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi NTB.

Hj Niken mengatakan itu, saat menggelar Rapat Evaluasi  Program PAUD Holistik Integratif (HI) Berkualitas NTB dan Diskusi Publik Beranda PSPK, di Aula Pendopo Timur Gubernur, Rabu (28/08) 2019.

Diketahui sebelumnya, Hj. Niken bersama dengan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), Kampus Guru Cikal, Yayasan Keluarga Kita dan Pengurus PKK Se-Kabupaten/Kota di Provinsi NTB membentuk program PAUD berkualitas di NTB.

Program ini sudah berjalan selama enam bulan di 50 desa tertinggal 10 Kabupaten/Kota se-NTB.

Program ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di NTB melalui peningkatan kualitas PAUD, khususnya mengintervensi dua kepentingan pemangku utama, yaitu guru dan orang tua serta anak didik.

Saat itu,  hadir juga pendiri dan peneliti dari PSPK Najelaa Shihab dan Direktur Pembinaan PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Dan pada kesempatan itu, Najelaa Shihab menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya bisa bekerjasama dengan PKK Pemprov NTB.

“Terima kasih kepada bu Niken, selalu senang hadir di Lombok dan bekerjasama dengan PKK Pemprov NTB.” Ujar Najela Shihab.

Ia memaparkan, sejak awal mengaku sangat  bersemangat dan InsyaAllah akan terus komit untuk bekerja dengan Ibu-Ibu PKK, Dinas Pendidikan dan sebagainya.

“Salah satu bagian yang terpenting pembangunan yang akan dilakukan di NTB ini adalah memperbaiki dan mempercepat proses-proses kualitas pendidikan.” kata Najela.

Di akhir acara, Hj. Niken berharap program PAUD HI berkualitas ini tidak hanya berhenti sampai disini saja, tetapi bisa terus berlanjut dan wilayah jangkauan program ini bisa terus bertambah.

Tujuannnya agar bisa melakukan pemerataan pendidikan di Provinsi NTB.

AYA/HmsNTB