Gubernur Zul Mengigatkan, Kita Tertinggal Kalau Abaikan Pendidikan

Gubernur mengucapkan terima kasih kepada Tim Media Grup yang telah membantu membangun sekolah dan fasilitas kesehatan di KLU, Lobar, Lotim dan di daerah lain yang terkena bencana

Sekolaah yang sebelumnya roboh

LOMBOK UTARA.lombokjurnal.com – Perasaan bahagia diungkapkan Gubernur NTB, DR Zulkieflimansyah saat menyaksikan anak anak NTB di sekolah korban bencana gempa bumi, kini mulai bangkit dan bersemangat untuk belajar di sekolah barunya.

Gubernur Zul mengungkapkannya saat meresmikan 6 (enam) unit sekolah yang dibangun dari donasi masyarakat untuk Gempa Lombok NTB sebesar Rp12 miliar lebih, melalui Dompet Kemanusiaan Media Group, Rabu (18/09) 2019.

Masyarakat diingatkan pentingnya pendidikan.

“Kita akan tetap tertinggal kalau kita mengabaikan pendidikan,” tegas Gubernur yang lebih akrab disapa doktor Zul.

Menurutnya,  perhatian masyarakat internasional, pemerintah pusat dan kita semua yang Luar biasa terhadap NTB, membuatnya semakin optimis bahwa rakyat NTB segera bangkit dan maju.

“NTB ini memang milik kita bersama dan dengan kebersamaan itu kita siap bangkit untuk lebih baik di masa yang akan datang”, tegasnya.

Enam sekolah yang dibangun tersebut yakni, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ishlaul Ummah Desa Paok Rempek, SD Negeri 1 Sigar Penjalin, dan SD Negeri 3 Pemenang, ketiganya berada di Kabupaten Lombok Utara.

Berikutnya MI At-Tahzib di Desa Kekait Lombok Barat, SD Negeri 2 Kekait  Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat serta SD Negeri 5 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.

Sekolah-sekolah tersebut sebelumnya porak poranda akibat diterjang gempa bumi pada Juli dan Agustus tahun lalu, sehingga selama ini siswa-siswi belajar di sekolah darurat. Sekarang, sekolah-sekolah tersebut telah terbangun kembali, dengan kondisi jauh lebih baik dari sebelum gempa.

Dilengkapi delapan ruangan ukuran 9×7,8m dan selasar lebar 1,8 meter. Serta 6 ruang belajar, ditambah satu ruang guru dan ruang Kepala Sekolah, berikut ruang serba guna yang dapat digunakan untuk ruang perpustakaan dan UKS (usaha kesehatan sekolah).

Selain itu juga dilengkapi gudang, sejumlah toilet yang terpisah antara putra dan putri.

Setiap ruangan dilengkapi jendela dan ventilasi udara yang cukup membuat sirkulasi udara dalam ruangan menjadi lancar dan terasa sejuk sehingga anak-anak dapat belajar dengan baik.

Begitu pula dengan penerangan listrik  masing-masing ruangan terdapat empat titik lampu.

Ketua Yayasan Pendidikan At – Tahzib, Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Tuan Guru Haji Zaini, mengaku sangat bersyukur dibangunnya kembali MI At-Tahzib oleh Media Group.

Bangunan lama yang dirintis sejak 1952 lalu dan hancur akibat gempa kini telah terbangun kembali.

Terkait donasi Gempa Lombok, terkumpul Rp.12 miliar atau tepatnya Rp12.144.868.902 yang masuk ke Dompet Kemanusiaan Media Group.

Saldo donasi terbagi dalam tiga rekening, yakni rekening BCA sebesar Rp4.749.274.785, rekening Bank Mandiri sebanyak Rp5.315.467.641 dan sebanyak Rp2.080.126.476 di Bank BRI.

Penggunaan donasi tersebut akan dipertanggungjawabkan melalui proses audit yang salah satunya untuk pembangunan enam unit sekolah.

Gubernur mengucapkan terima kasih kepada Tim Media Grup yang telah membantu membangun sekolah dan fasilitas kesehatan di KLU, Lobar, Lotim dan di daerah lain yang terkena bencana.

AYA/HmsNTB




Gubernur Zul Mengigatkan, Kita Tertinggal Kalau Abaikan Pendidikan

Gubernur mengucapkan terima kasih kepada Tim Media Grup yang telah membantu membangun sekolah dan fasilitas kesehatan di KLU, Lobar, Lotim dan di daerah lain yang terkena bencana

LOMBOK UTARA.lombokjurnal.com – Perasaan bahagia diungkapkan Gubernur NTB, DR Zulkieflimansyah saat menyaksikan anak anak NTB di sekolah korban bencana gempa bumi, kini mulai bangkit dan bersemangat untuk belajar di sekolah barunya.

Gubernur Zul mengungkapkannya saat meresmikan 6 (enam) unit sekolah yang dibangun dari donasi masyarakat untuk Gempa Lombok NTB sebesar Rp12 miliar lebih, melalui Dompet Kemanusiaan Media Group, Rabu (18/09) 2019.

Masyarakat diingatkan pentingnya pendidikan.

“Kita akan tetap tertinggal kalau kita mengabaikan pendidikan,” tegas Gubernur yang lebih akrab disapa doktor Zul.

Menurutnya,  perhatian masyarakat internasional, pemerintah pusat dan kita semua yang Luar biasa terhadap NTB, membuatnya semakin optimis bahwa rakyat NTB segera bangkit dan maju.

“NTB ini memang milik kita bersama dan dengan kebersamaan itu kita siap bangkit untuk lebih baik di masa yang akan datang”, tegasnya.

Enam sekolah yang dibangun tersebut yakni, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ishlaul Ummah Desa Paok Rempek, SD Negeri 1 Sigar Penjalin, dan SD Negeri 3 Pemenang, ketiganya berada di Kabupaten Lombok Utara.

Berikutnya MI At-Tahzib di Desa Kekait Lombok Barat, SD Negeri 2 Kekait  Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat serta SD Negeri 5 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.

Sekolah-sekolah tersebut sebelumnya porak poranda akibat diterjang gempa bumi pada Juli dan Agustus tahun lalu, sehingga selama ini siswa-siswi belajar di sekolah darurat. Sekarang, sekolah-sekolah tersebut telah terbangun kembali, dengan kondisi jauh lebih baik dari sebelum gempa.

Dilengkapi delapan ruangan ukuran 9×7,8m dan selasar lebar 1,8 meter. Serta 6 ruang belajar, ditambah satu ruang guru dan ruang Kepala Sekolah, berikut ruang serba guna yang dapat digunakan untuk ruang perpustakaan dan UKS (usaha kesehatan sekolah).

Selain itu juga dilengkapi gudang, sejumlah toilet yang terpisah antara putra dan putri.

Setiap ruangan dilengkapi jendela dan ventilasi udara yang cukup membuat sirkulasi udara dalam ruangan menjadi lancar dan terasa sejuk sehingga anak-anak dapat belajar dengan baik.

Begitu pula dengan penerangan listrik  masing-masing ruangan terdapat empat titik lampu.

Ketua Yayasan Pendidikan At – Tahzib, Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Tuan Guru Haji Zaini, mengaku sangat bersyukur dibangunnya kembali MI At-Tahzib oleh Media Group.

Bangunan lama yang dirintis sejak 1952 lalu dan hancur akibat gempa kini telah terbangun kembali.

Terkait donasi Gempa Lombok, terkumpul Rp.12 miliar atau tepatnya Rp12.144.868.902 yang masuk ke Dompet Kemanusiaan Media Group.

Saldo donasi terbagi dalam tiga rekening, yakni rekening BCA sebesar Rp4.749.274.785, rekening Bank Mandiri sebanyak Rp5.315.467.641 dan sebanyak Rp2.080.126.476 di Bank BRI.

Penggunaan donasi tersebut akan dipertanggungjawabkan melalui proses audit yang salah satunya untuk pembangunan enam unit sekolah.

Gubernur mengucapkan terima kasih kepada Tim Media Grup yang telah membantu membangun sekolah dan fasilitas kesehatan di KLU, Lobar, Lotim dan di daerah lain yang terkena bencana.

AYA/HmsNTB




Gubernur Zul;  Aktivitas Budaya dan Tradisi Merupakan Aset Budaya

Tahun 2020, diharapkan Pemerintah Daerah punya museum untuk melestarikan keragaman adat dan tradisi yang ada di masyarakat

Gubernur Zulkieflimansyah

LOTIM.lombokjournal.om —  Pariwisata tidak selalu identik dengan laut dan gunung saja.  Berbagai aktivitas seni budaya dan tradisi juga merupakan aset wisata daerah, yang perlu terus diperkaya dan dilestarikan.

Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah menegaskan, NTB  kaya dengan warna warni seni budaya dan tradisi rakyat.

“Hampir di tiap desa wisata tersimpan potensi seni budaya dan tradisi, termasuk kerajinan tenun dan busana yang perlu dieksplore lebih lanjut,” kata Gubernur yang akrab disapa Doktor Zul, saat menutup Event Kesenian & Budaya Pringgasela, di Kecamatan Pringgasela Lombok Timur, Senin (16/09)2019.

“Prosesi Boteng Tunggul ini yang sudah berusia 8 abad adalah warisan budaya yang luar biasa, harus tetap dijaga,” kata gubernur.

Boteng Tunggul adalah tradisi sakral yang biasa  digelar masyarakat desa Pringgasela Kabupaten Lombok Timur NTB mengiringi upacara adat Gawe Desa.

Boteng berarti berdiri dan Tunggul adalah kain tenun  yang dibuat pertama kali oleh tokoh tenun setempat, yaitu Lebai Nursini.

Kini tunggul tersebut telah berumur ± 850 tahun, yang berarti sudah berada di tangan generasi pewaris ke – 17. Tradisi ini sebagai cermin sejarah perjalanan tenun Pringgasela.

Dalam prosesi adat  Boteng Tunggul adalah kain tenun (Tunggul) yang diikatkan pada sebuah pohon bambu petung, sehingga tampak seperti umbul-umbul.

Kain tunggul itu dipercaya memiliki nilai kesakralan tinggi, sehingga ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi ketika akan mengibarkan dalam suatu kegiatan adat gawe desa.

Demikian juga Bambu petung sebagai tiang Tunggul, selain harus diambil utuh mulai dari bagian akar sampai ujungnya. Orang yang mengikatkan kain itu hanyalah oleh pewaris tradisi, diiringi dengan seni tradisional sasak yaitu Gendang Belek dan kesenian Rantok.

Ketua Panitia Alunan Budaya Desa Pringgasela, Ahmad Feriawan mengatakan, masyarakat Pringgasela menganggap Tunggul ini adalah tenun Pringgasela.

Dan mereka sadar, bahwa mereka dilahirkan dengan tenun. Sehingga harus dijaga sampai kapan pun.

Tunggul ini juga sering digunakan sebagai media pengobatan dengan memanjatkan do’a dan salawat.

Ia menceritakan, Tunggul terakhir kali dikibarkan pada tahun 1979 silam, ketika pewaris dari kain ini menikah. Sejak saat itu, masyarakat sudah tidak pernah melihat tunggul dikibarkan.

 

Seluruh tradisi budaya yang dimiliki masyarakat, harus dilestarikan dan pelestarian itu ada di Kebudayaan.

Karena itu tahun 2020, ia berharap pemerintah daerah punya museum untuk melestarikan keragaman adat dan tradisi yang ada di masyarakat. Terlebih Tunggul yang berusia delapan abad tersebut.

Hal senada dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan KebudayaanNTB, Rusman, SH, MH. Dia mengatakan pelestarian budaya adalah bagian yang harus menjadi perhatian. Budaya sebagai cermin dari masyarakat.

“Ini menjadi perhatian kami di Dinas Dikbud, bagaimana ke depan kita bisa mencari format yang baik sehingga budaya yang dimiliki betul betul lestari dan menjadi asset yang berharga,” ujarnya.

Dikatakan, di sekolah kekayaan budaya NTB sudah mulai masuk sebagai pelajaran muatan lokal. Bahkan khusus untuk tenun, SMK 2 Selong membuka jurusan khusus terkait kerajinan Tenun.

Ini menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di masyarakat.

Selain upacara adat Boteng Tunggul, Alunan Budaya Desa Pringgasela, juga  menampilkan beragam atraksi seni seperti fashion show kain tenun, Pameran UKM dan Tari Tenun.

Kerajinan tenun sendiri menjadi khas Pringgasela. Produk tenun yang dihasilkan tak hanya beredar di Nusantara, tapi mulai menembus pasar dunia.

AYA/Diskominfotik




Ungkapan Haru dan Bangga Terima Beasiswa Ke Luar Negeri

“Harapan saya terhadap beasiswa NTB ini bisa meningkatakan sumber daya pendidikan dan berorientasi membangun NTB”

MATARAM.lombokjournal.com — Orang tua penerima beasiswa tujuan Polandia dan Malaysia mengungkapkan rasa bangganya, karena anak-anak mereka bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri atas beasiswa Pemerintah Provinsi NTB.

Ungkapan itu disampaikan orang tua usai Gubernur Zulkieflimnsyah melepas 176 mahasiswa penerima beasiswa yang akan belajar di Polandia dan Malaysia, di Gedung Graha Bhakti Praja, Senin (16/09)2019.

Siti Rukaya, orang tua dari Lesti Aseliasa, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Gubernur Zul yang memberi harapan NTB ke depan akan  lebih maju.

“ Harapan saya semoga program beasiswa ini terus berlanjut dan saya sangat terharu serta bangga sebagai orangtua,” ungkap wanita asal Bima tersebut.

Hal yang sama diungkapkan Abu Amin, orang tua dari Yadi Satriadi. Pria asal Sumbawa itu menyampaikan program beasiswa ini sangat membantu, apalagi dirinya berasal dari keluarga yang kurang mampu.

“Saya harap beasiswa NTB ini berlanjut untuk membantu masyarakat yang kurang mampu. Saya bangga dan bersyukur atas lolosnya anak saya di beasiswa NTB ini,” harapnya.

Muhammad Zubair, orang tua salah satu penerima beasiswa menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTB yang telah menyediakan program beasiswa ke luar negeri.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTB dan ini merupakan hadiah terbesar bagi kami dan anak-anak kami. Harapan kami ke depannya semoga ditambahkan kuota untuk penerima beasiswa NTB ini dan bukan hanya ke Polandia tapi banyak juga masyarakat yang ingin kuliah di wilayah Timur Tengah,” tuturnya.

Salah satu penerima beasiswa, Firdaus, mengungkapkan rasa bahagianya bisa melanjutkan pedidikan ke luar negeri. Bahkan dia merasa terharu dan tidak menyangka dirinya bisa bersaing dengan ribuan anak NTB yang akan belajar di luar negeri. Apalagi ia berasal dari keluarga yang kurang mampu.

“Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata karena saya sangat bahagia, bisa melanjutkan studi di luar negeri, apalagi penerima beasiswa seperti saya yang termasuk orang yang ekonominya menengah ke bawah. Harapan saya terhadap beasiswa NTB ini bisa meningkatakan sumber daya pendidikan dan berorientasi membangun NTB,” jelasnya saat diwawancarai.

Rasa bangga dan haru juga dirasakan oleh Arini Salsabila Putri, penerima beasiswa  S2 tujuan Malaysia. Menurutnya beasiswa ini merupakan program yang bagus dan bermanfaat bagi anak-anak NTB. Apalagi negara tujuan beasiswa ini seluruhnya di luar negeri.

BACA JUGA  ;  Pelepasan 176 Penerima Beasiswa Tujuan Polandia dan Malaysia

“Harapan saya beasiswa ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat dari semua kalangan. Alhamdulillah saya sangat bersyukur dan sangat berterima kasih karena ini merupakan salah satu langkah kami untuk membanggakan orang tua dan juga sebagai langkah kita untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” harapnya.

AYA/HmsNTB

 

 




Pelepasan 176 Penerima Beasiswa Tujuan Polandia dan Malaysia

“Teman-teman mahasiswa yang dipilih ini bukan hanya pintar, tapi saya yakin teman-teman punya mental yang kuat untuk berjuang, meretas jalan baru yang pernah dilakukan oleh para pahlawan”

Gubernur Zulkieflimansyah

MATARAM.lombokjournal.com  – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc. melepas 176 mahasiswa penerima beasiswa tujuan Polandia dan Malaysia di Gedung Graha Bhakti Praja NTB, Senin (16/09)2019.

Dari 176 penerima beasiswa tersebut, sebanyak 28 orang akan melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi di Polandia, 148 lainnya akan melanjutkan studi di sejumlah perguruan tinggi di Malaysia.

Program pengiriman anak-anak NTB ke Luar Negeri merupakan program yang diinisiasi Gubernur bersama Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah untuk mewujudkan NTB Gemilang.

Seluruh penerima beasiswa tersebut merupakan anak-anak terbaik NTB yang telah diseleksi oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB.

Mereka berasal dari 10 kabupaten/kota se-NTB. Bahkan, mereka telah mendapatkan pembekalan terkait studi yang akan mereka laksanakan di dua negara tersebut.

Saat melepas, Gubernur NTB berpesan untuk memperhatikan segala hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk keberangkatan.

Gubernur yang akrab disapa Bang Zul itu berharap mereka dapat menjadi inspirasi pemuda lainnya yang ada di NTB. Sehingga semakin banyak mahasiswa-mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri demi tercapainya NTB yang gemilang.

“Teman-teman mahasiswa yang dipilih ini bukan hanya pintar, tapi saya yakin teman-teman punya mental yang kuat untuk berjuang, meretas jalan baru yang pernah dilakukan oleh para pahlawan,” ujar Gubernur Zul.

Diharapkan mahasiswa senatiasa menjaga nama baik daerah di Polandia maupun Malaysia, sehingga dapat tercipta jembatan pengertian dengan banyak negara dan dapat mengharumkan nama baik NTB di kancah internasional.

Direktur Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP), Irwan Rahadi, M.Sc., berpesan agar mahasiswa selalu menjaga diri dan menjaga nama baik NTB di Polandia dan Malaysia.

BACA JUGA ; Ungkapan Haru dan Bangga Terima Beasiswa Ke Luar Negeri

“Kami mengirim teman-teman semua untuk berprestasi di luar sana, selalu jaga nama baik daerah NTB, dan jangan sampai melupakan dari mana kalian berasal,” katanya.

AYA/HmsNTB




Pemprov NTB Bahas Peluang Beasiswa Bersama Dubes Rusia

Kerja sama tidak hanya terbatas mengirimkan mahasiswa NTB belajar di Rusia. Bisa saja melalui pertukaran belajar mengajar antara pelajar, dosen, hingga profesor Rusia dan NTB

lombokjournal.com —

JAKARTA   ;   Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, mewakili Gubernur NTB bersama rombongan tim beasiswa Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB, melakukan pertemuan dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, YM Lyudmila Georgievna Vorobieva, di Wisma Kedubes Rusia, Jl. Karet Pedurenan 1 Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (12/09) 2019.

Dalam brunch meeting tersebut, Hj. Niken dan Dubes Rusia mendiskusikan beragam potensi kerja sama antara Provinsi NTB dengan Rusia.

Mulai dari kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, hingga peluang kerja sama kota kembar (sister city).

Dubes Rusia mendapat penjelasan dari Hj Niken, Pemprov NTB punya program beasiswa pendidikan anak-anak NTB, ke banyak negara di dunia.

NTB sudah mengirimkan 237 mahasiswa-mahasiswi S1 hingga S3 ke sejumlah negara seperti Polandia, Cina dan Malaysia per September ini. Dan ke depan, akan terus menyusul lebih banyaka.

“Karenanya dari pertemuan ini, saya pikir sebuah peluang besar untuk bisa menjajaki potensi beasiswa ke Rusia,” ujar Hj. Niken, mengawali perbincangan dengan Dubes Rusia.

Menurut Hj. Niken, kuantitas dan kualitas universitas di Rusia yang tinggi, jadi alasan mengapa tim beasiswa LPP NTB tertarik mengirim anak-anak NTB ke negeri Beruang Merah itu.

“Banyaknya kampus berkualitas di Rusia, dikenal telah melahirkan inventor-inventor di berbagai bidang teknologi kelas dunia, menjadi daya tarik bagi kami. Selain itu juga terkait disiplin ilmu pertanian dan kebudayaan yang cukup maju dan bagus di sejumlah kampus ternama di Rusia. Kami semakin yakin untuk membuka jalan kerjasama di banyak bidang, selain pendidikan,” terang Hj Niken.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, YM Lyudmila mengaku merasa tersanjung, rombongan dari Provinsi NTB tahu begitu banyak soal Rusia, terutama terkait pendidikan, pertanian dan kebudayaannya.

“Saya merasa terkejut sekaligus tersanjung bahwa Rusia begitu dikenal di NTB, terutama di bidang pendidikan,” katanya.

Lyudmila mengatakan, memang banyak universitas di Rusia yang menerima mahasiswa-mahasiswi dari berbagai negara lain, termasuk dari Asia.

Contohnya pelajar dari Malaysia ada sekitar tiga ribu orang yang sedang belajar, di berbagai kampus di Rusia, berbasis skema komersial.

Sementara untuk Indonesia, sejauh ini, terdapat kuota sekitar 100 mahasiswa berbasis beasiswa yang belajar di Rusia.

“Dalam konteks program beasiswa NTB, peluang dan kesempatan untuk NTB sangat terbuka lebar,” ujar Dubes Lyudmila.

Dubes Lyudmila mengatakan, kerja sama tidak hanya terbatas mengirimkan mahasiswa NTB belajar di Rusia. Bisa saja melalui pertukaran belajar mengajar antara pelajar, dosen, hingga profesor Rusia dan NTB.

Termasuk kerja sama bidang penelitian antar kampus. Potensi kerjasama di multisektor mulai dari bidang akademik, kebudayaan hingga pertanian.

Dikkatakannya,  ada mahasiswa-mahasiswi dari Kuba yang belajar pertanian di banyak kampus di Rusia. Dari sana, potensi pertukaran kebudayaan pun terjadi sehingga turunan dari bidang pendidikan begitu banyak.

“Kesempatan-kesempatan seperti itu sangat realistis untuk kita buka juga dengan NTB. Tidak ada yang tak mungkin,” kata Glinkin Vitaly, Counsellor Kedubes Rusia sekaligus Direktur Pusat Ilmu dan Kebudayaan Rusia di Jakarta yang juga hadir dalam pertemuan.

Sekretaris LPP NTB, Sri Hastuti N.A.S mengatakan, dari pertemuan awal itu akan ditindaklanjuti secepatnya.

LPP NTB akan segera berkoordinasi dengan Pusat Ilmu dan Kebudayaan Rusia di Jakarta, untuk menentukan mekanisme kerja sama dan juga seleksi kampus-kampus di Rusia, yang memiliki potensi menjadi tujuan belajar para penerima beasiswa NTB.

Sri Hastuti berharap, melalui sistem, skema dan mekanisme yang tepat, resmi dan ideal dapat segera merealisasikan peluang kerja sama ini secepat mungkin.

Dubes Rusia dan jajarannya sangat terbuka terhadap niat dan rencana itu. Kampus-kampus di Rusia pun juga banyak yang menyediakan kuota beasiswa untuk pelajar asing, sebagaimana tadi disebutkan.

“Apalagi biaya hidup di Rusia termasuk relatif terjangkau. Kami optimis akan segera ada pelajar NTB yang kuliah mengambil tingkat S1 hingga Doktoral (S3) di Rusia,” terang Sri Hastuti.

AYA/HmsNTB

 




Tanamkan Toleransi Anak Lewat Lomba Video Pendek Keberagaman

Perlu ada upaya-upaya preventif dan edukatif untuk mengamputasi penyebaran radikalisme tersebut

Para pemenang

MATARAM.lombokjournal.com – Lembaga Perlindungan Anak Provinsi NTB bekerjasama dengan Dewan Anak Mataram menyelenggarakan kompetisi Film/Video Pendek bertema “Kita Beda Kita Bersaudara” tingkat pelajar.

Kompetisi ini bertujuan menanamkan bibit toleransi pada anak sejak di masa sekolah.  Pelajar berkompetisi membuat film atau video pendek yang bertema keberagaman.

“Semoga dengan lomba semacam ini dapat memupuk rasa toleransi adik-adik, sehingga ketika telah dewasa nanti dapat merawat budaya adik-adik serta kesatuan NKRI,” pesan Asisten III Setda Provinsi NTB, Hj. Hartinah, di Taman Budaya NTB, Rabu (11/09) 2019.

Hj. Hartinah menyampaikan itu saat memberikan sambutan acara penganugerahan pemenang Lomba tersebut,

Selain mengajarkan toleransi, Lomba ini juga diharapkan dapat menangkal radikalisme yang  ada  sekolah.

Dari hasil penelitian dan Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo, guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta. Penelitian yang dilakukannya pada Oktober 2010 hingga Januari 2011 mengungkapkan, hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal.

Sehingga perlu ada upaya-upaya preventif dan edukatif untuk mengamputasi penyebaran radikalisme tersebut.

“Ajang Lomba seperti ini juga bisa menjadi penangkal adanya paham radikalisme di dalam sekolah. Soalnya kan anak seusia saya cepet sekali terhasut ajakan orang lain,” ujar Gaung Alif, siswa SMAN 1 Mataram selaku panitia acara.

Pembelajaran toleransi memang sangat kental terlihat dalam acara tersebut. Diawali dengan penampilan Wayang Botol (Watol) dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) sebagai pembuka acara.

Kemudian kata-kata motivasi dari TGH. Hasanain, dan pemutaran film pendek bertema toleransi karya anak-anak NTB.

Pembelajaran toleransi yang tidak terkesan menggurui juga disuguhkan dalam penampilan lakon dari Teater Sanggar Budaya Pelangi SMAN 2 Mataram berkolaborasi dengan Teater Tereng SMAN 3 Mataram.

Lakon yang menceritakan tentang kegalauan, perundungan, dan perberbedaan anak remaja tersebut berhasil memukau para penonton.

Pemenang dalam Lomba tersebut sendiri di antaranya, Rival dan Kawan-Kawan sebagai juara 1, Team Z juara 2, dan Liat Family sebagai juara 3.

Untuk Juara Favorit The Iswae Generation sebagai favorit 1 dan SMANSAGA sebagai juara favorit 2. Kriteria pemenang dinilai berdasarkan Penyampaian Pesan, Originalitas Ide, dan Kualitas Video.

AYA/HmsNTB

 




Gubernur Nilai Temuan Ombudsman Wajar, Mungkin Belum Tahu Cerita Lengkapnya

Nggak ada niat misalnya untuk jual manusia, (Dugaan) human trafiking terlampau jauh. Kalau ada prosedur yang kurang benar kita perbaiki”

MATARAM.lombokjournal.com —  Temuan hasil investigasi Ombudsman RI Perwakilan NTB, terkait dugaan penyimpangan administrasi dalam pengiriman pelajar NTB ke Korea Selatan, ditanggapi Gubernur NTB, Zulkieflimansyah.

Terkait temuat tersebut, Gubernur Zul menganggapnya hal yang wajar, itu disebabkan kemungkinan Ombudsman tidak mengetahui cerita lengkapnya

“Mungkin Ombudsman tidak mengetahui kelengkapan ceritanya,” kata Gubernur membela diri pada Selasa (10/09) 2019.

Hasil investigasi Ombudsman pelaksanaan pengiriman peserta program pendidikan lanjutan tenaga kesehatan dari jenjang D3 ke S1 ke Universitas Chodang diikuti 18 calon mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di NTB.

Pengiriman calon mahasiswa ini direncanakan untuk mengikuti pendidikan medical management yang sebenarnya proses perkuliahannya baru akan dimulai pada September 2019.

Program pengiriman calon mahasiswa itu  ke Universitas Chodang, Korea Selatan yang terletak di Muan, Jeolla Selatan, baru berdasarkan Letter of Intent (LoI) antara Gubernur NTB dan President Univesrsity of Chodang yang ditandatangani di Mataram, 29 Januari 2019.

Namun faktanya meskipun belum terbit Perjanjian Kerjasama, 18 calon mahasiswa ini justru telah diberangkatkan ke Korea Selatan pada Maret 2019.

Padahal dalam skema jadwal kuliah, perkuliahan baru akan dimulai pada September 2019. Pemberangkatan lebih awal dimaksud bertujuan memberikan kesempatan kepada para calon mahasiswa untuk memperdalam bahasa Korea.

Apalagi beberapa calon mahasiswa mulai merasakan adanya perbedaan antara fakta dan janji dalam proses persiapan kuliah hingga perkuliahan.

Dari sinilah polemik dan kesimpangsiuran opini serta informasi di media massa berkembang.

Jangan takut salah

“Saya kira rekomendasi Ombudsman untuk lebih berhati-hati saya kira wajar saja dan kita memberikan apresiasi. Tapi kita  jangan takut salah juga,” jelas Gubernur.

Pengiriman beasiswa ke Korea sebenarnya tidak hanya keinginan mahasiswa kuliah keluar negeri, termasuk jika ada orang punya niat baik tentu Pemda menampung rencana kerja sama tersebut.

Jika dalam perjalanan ada yang tidak sesuai harapan dengan kenyataan, Pemprov NTB akan mencoba perbaiki meknisme selanjutnya melihat apa kekurangan.

“Nah yang konyol kalau kebetulan langsung dikaitkan dengan penjualan manusia itu terlalu jauh,” sesal gubernur.

Gubernur mengajak semua pihak menjaga konduksifitas daerah jangan sampai  membuat kesan satu tahun  kepemimpinan gubernur baru membuat gaduh. Padahal menurutnya itu masalah yang tidak besar.

“Nggak ada niat misalnya untuk jual manusia human trafiking terlampau jauh. Kalau ada prosedur yang kurang benar kita perbaiki,” jelasnya.

Menurut gubernur, temuan Ombudsman itu jadi masukan yang baik. Bukan hanya Ombudsman tapi yang lain akan disikapi dengan baik.

“Kita berterimakasih pada Ombusman mudahan masyarakat menyadari kita punya Ombusman,” tambahnya.

Gubernur menjelaskan, yang mengurus maupun yang diurus tidak punya pengalaman internasional, sehingga Pemprov NTB meminta Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) mem-back up.

Perjalanan beasiswa ke depannya akan diurus LPP. Gubernur mencontohkan orang yang tidak pernah keluar negeri pasti akan merasakan kebingungan awalnya.

Mahasiswa itu yang tadinya makan di kampus tetapi kampus di luar negeri tidak menyediakan kantin untuk makan.

“Itu namanya terlantar? Padahal kan musim panas disana kan libur,” ujar gubernur.

Pemprov menyayangkan jangan sampai nanti ada program bagus namun rasa takut berlebihan sehingga kapok,  padahal peluang yang tersedia begitu banyak.

“Jadi teman-teman media  membantu jangan sampai ketidak benaran kalau terus terus di grecokin orang lama lama malah percaya pada info yang tidak benar,” katanya.

Sebetulnya program pengiriman pelajar NTB sudah dilakukan dari dulu termasuk sebelum ia menjadi Gubernur NTB namun justru yang ribut hanya hari ini saja.

“Saya sebelum jadi gubernur ngirim orang sekolah sudah banyak. Yang perlu prosedurnya itu karena ada kata bekerjanya, perlu diperbaiki lah jangan jadi trauma jangan karena nilai setitik rusak susu sebelenggu,” tegaas gubernur.

AYA/HmsNTB




Program ‘Zero Waste’ Jadi Agenda Edukasi MABA Universitas Hamzanwadi

Diharapkan para mahasiswa baru sejak dini peduli terhadap lingkungan agar sampah berubah jadi berkah

MATARAM.lombokjournal.com —  PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) Universitas Hamzanawadi dimulai Hari Rabu, tanggal 4-8 September 2019, yang mengusung tema “The Energy of Hamzanwadi”.

Tema tersebut diambil sebagai bentuk penghayatan dan pengamalan dari spirit Hamzanwadi kepada mahasiswa baru.

Salah satu bentuk program tahunan yang diselenggarakan menjelang aktif proses perkuliahan adalah PKKMB, yang ber tujuan agar calon mahasiswa baru mengenal dunia kampus baik dari sisi kehidupan akademik di perguruan tinggi, wawasan kebangsaan,  kehidupan organisasi kampus, budaya santri,  tata tertib kampus serta aktivitas lainnya yang ada di kampus.

​Salah satu agenda khusus PKKMB tahun adalah edukasi program Zero waste. Program zaro waste merupakan salah satu program unggulan pemerintah provinsi NTB.

Dalam mendukung program zero waste, kehidupan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru dibekali pengetahuan tentang pengurangan penggunaan sampah anorganik dan pemanfaatan sampah organik.

Selama proses PKKMB calon mahasisawa baru dibiasakan tidak membawa air kemasan, tetapi diwajibkan membawa wadah sendiri, panitia  menyiapkan air galon.

Selain itu, mereka juga tidak diperkenankan menggunakan bungkus nasi plastik melainkkan menggantinya dengan bungkus nasi hijau.

Dalam pemantapan program zero waste ini, panitia mengundang praktisi sebagai narasumber memberikan pelatihan pembuatan ecobrick, kompos, dan pemanfaatan plastik.

Harapannya, para mahasiswa baru sejak dini peduli terhadap lingkungan agar sampah berubah jadi berkah.

Berkah yang dimaksud disini adalah sampah bisa mendatangkan uang karena sampah bisa dijual, bisa menjadi pupuk organik, bisa jadi ecobrick, dan pastinya bisa menjadi bidang usaha baru.

Semoga dengan pelatihan ini para mahasiswa baru, memberikan semangat baru kepada para mahasiswa untuk mencintai bumi dan bisa mengaplikasikan ilmunya di tempat tinggal masing-masing.

Sehingga lingkungannya tetap bersih yang akhirnya Zero Waste terwujud secara merata.

AYA




Nasib Mahasiswa Yang Dikirim Ke Korea, M16; Jangan Ada Dusta Atas Nasib Orang

“Ya, kayak kata pepatah lah, bangkai disimpan nanti tercium juga”

lombokjornal.com —

MATARAM   ;  Masalah pengiriman sekolah ke Korea menjadi perhatian publik, sebab peristiwa itu mengesankan kurang cermatnnya penanganan nasib mahasiswa NTB yang dikirim belajar ke negeri orang.

“Jangan ada dusta atas nasib orang,” kata Direkktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto di Mataram, Sabtu (07/09) 2109.

Seperti diketahui, muncul Kegaduhan publik soal pengiriman mahasiswa ke Chodang University, Korea Selatan. Dan hingga kini belum ada titik terang.

Lembaga Kajian Politik dan Publik Mi6 mendapati sejumlah informasi menyedihkan.

“Kalau kemarin itu ceritanya sebatas tak ada yang telantar. Semua baik-baik saja, semakin kesini kok malah kebalikannya,” kata Bambang Mei yang akrab disapa Didu.

Didu tampak kesal, sebab nasib 18 orang yang sudah dikirim tidak boleh dianggap sederhana. Masalahnya, mereka sudah mengorbankan pekerjaan dan diduga meminjam puluhan juta di bank daerah agar bisa ke Korea.

“Siapa yang tanggung jawab, pekerjaan orang sudah lepas. Belum lagi secara psikologis di mata keluarga dan lingkungan sekitar,” urainya.

Dikatakan, Mi6 mengikuti seluruh pemberitaan di media massa baik cetak maupun online. Yang muncul justru saling menghindar soal pertanggung jawaban. Disebut Universitas Mataram, ada juga Pemprov NTB, terakhir LPP yang disebut.

“Keributannya malah pembelaan diri, bukan telantar, bukan perdagangan orang, bukan salah ini, salah itu. Jadi kesannya tidak profesional, amatiran,” kata Didu dengan kesal.

Mestinya, sambung Didu, terbuka saja ke media secara kronologi, sampaikan proses pengiriman hingga nasib warga NTB yang telah ke Korea Selatan. Dalam era serba terbuka, sulit menutupi sesuatu. Apalagi hal tersebut diduga tak prosedural.

“Ya, kayak kata pepatah lah, bangkai disimpan nanti tercium juga,” tandasnya.

Didu menambahkan, Pemprov NTB punya kewajiban moral  bertanggung jawab secara utuh pada warga NTB yang sudah dikirim ke Korea Selatan. Kerugian materiil ataupun immateriil harus dihitung.

“Termasuk jelaskan itu dugaan bagaimana nasib pinjaman Rp 60 juta di bank. Beberapa dari mereka sudah berhenti kerja, jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga,” bebernya.

Terakhir, Didu mengaku penasaran dengan dugaan  proses pinjaman perbankan. Terkesan begitu mudah mencairkan pinjaman yang diduga untuk 28 orang dengan total 1.680.000.000, biasanya bank cermat dan tidak mau ambil resiko.

“Ini orang sudah berhenti kerja, masih mau kuliah dapat kerja lagi di Korea Selatan. Kok mudah sekali dapat pinjaman, sementara meminjam untuk usaha saja panjang lebar prosesnya,” katanya lagi.

Masalah Korea Selatan ini telah mendapat atensi dari banyak pihak, baik dewan dan ombudsman. Didu berharap, persoalan ini dikawal secara utuh.

Ia khawatir, nasib 18 orang yang saat ini di Korea Selatan diabaikan.

“Ini persoalan publik. Tak boleh disederhanakan, apalagi diremehkan,” tegasnya.

Program sederhana

Sementara itu Gubernur NTB H Zulkieflimansyah melalui akun facebook pribadinya menuliskan, ada yang mempermasalahkan tentang pengiriman  mahasiswa ke Korea bahkan mencurigai ini motif utk perdagangan manusia. Padahal ini program sederhana.

“Yang punya ide memberangkatkan anak NTB ke luar negeri bukan kami saja. Banyak orang dan tim lain,” tulisnya.

Zul melanjutkan, ini ada ide memberangkatkan lulusan D3 keperawatan dan melanjutkan S1 di Chodang University. Ide ini diinisiasi oleh Dr Hamsu dari Fakultas Kedokteran Unram.

Kata Dr Hamsu, NTB punya kelebihan perawat dan sambil sekolah anak NTB bisa bekerja membantu di bidang perawatan dan kesehatan di Korea dengan gaji yang lumayan.

“Menurut kami program ini bagus dan harus didukung  tapi kami meminta Prof Hamsu untuk mengecek kualitas dan Reputasi Chodang University sambil mengirimkan Kadis Kesehatan Kami Dr Eka dan Dirut RSUP dr Fikri untuk memastikan,bahwa apa yang di janjikan itu benar. Setelah semuanya oke baru berani kita kirimkan anak-anak kita ke sana,” lanjutnya.

Kalau kemudian ada hal-hal yang kenyataannya tidak sesuai dengan yang di janjikan tentu patut di sesali.

“Kita tinggal perbaiki kalau ada prosedur yang keliru atau ganti tempat studi ke tempat yang sesuai harapan. Tapi yang ada beritanya anak-anak kita terlantar di Korea,” tambahnya.

Seperti diketahui, pengiriman 18 warga NTB untuk belajar ke Chodang University untuk kuliah sembari bekerja tak berjalan mulus. Kondisi belasan orang di Korea Selatan itu pun tak menentu.

Direncanakan dalam waktu dekat, mereka akan kembali ke NTB. Sisanya akan kembali Desember mendatang.

Mereka ke Korea Selatan setelah mendapat pinjaman uang dari bank daerah sebesar Rp 60 juta.

Me