H Rusman Mundur Sebagai Kadis Dikbud NTB,  Aidy Furqon Jadi Plt Kadis

Hingga kini belum diketahui alasan pasti pengunduran H Rusman sebagai Kadis Dikbud NTB

MATARAMlombokjurnal.com — Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dikbud NTB, H. Aidy Furqon, resmi ditunjuk menjadi pelaksana tugas (Plt)  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB.

Ditunjuknya Aidy Furqon sebagai Plt Kadis untuk mengisi kekosongan jabatan,  pasca mundurnya H.Rusman sebagai kadis dikbud NTB.

Surat Perintah tugas yang ditandatangani Sekretaris Daerah NTB,  Lalu Gita Aryadi, tertanggal 13 januari 2020, menetapkan H.Aidy Furqon sebagai Plt Kadis Dinas Dikbud NTB

Aidy Furqon yang dikonfirmasi  menegaskan tugas sebagai Plt Kadis secara amanah dan penuh integritas.

Ia mengatakan,  meski hanya bersatus sebagai pelaksana tugas  namun dirinya berkomitmen untuk menjawab kepercayaan ini  dengan berupaya memajukan dunia pendidikan di NTB.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, ia  berharap mendapat dukungan penuh dari semua pihak  terutama dukungan dari para Pengawas Pendidikan,  Kepala Sekolah serta seluruh tenaga pendidik dan kependidikan di NTB.

Untuk diketahui  jabatan Kepala dinas pendidikan dan kebudayaan NTB saat ini tengah lowong ,

Jabatan Kadis Dikbud lowong karena mundurnya H Rusman mengundurkan diri, yang hingga kini belum diketahui alasan pasti pengunduran dirinya.

sempt tersiar kabar, H Rusman tidak mengundurkan diri sebagai Kadis Dikbud NTB  melainkan diberhentikan oleh Gubernur NTB selaku pejabat pembina kepegawaian.

AYA




Sektor Pendidikan Jadi Laporan Tertinggi, Ini Catatan Ombudsman NTB

karena sektor pendidikan menjadi isu yang masih dikaitkan dengan pendekatan politik

MATARAM.Lombokjournal.com — Sepanjang tahun 2019 Sektor pendidikan menjadi kasus yang paling  banyak dilaporkan masyarakat sepanjang tahun 2019.

Selain itu, sektor pertanahan, kepolisian, kesehatan serta kepegawaian juga masuk dalam substansi laporan tertinggi dalam catatan Ombudsman RI Perwakilan NTB.

Kepala Ombudsman RI, Adhar Hakim menjelaskan, sepanjang tahun 2019 Ombudsman RI perwakilan NTB mencatat lima substansi laporan tertinggi yang ditangani Ombudsman RI perwakilan NTB.

Lima substansi laporan tertinggi itu adalah sektor pendidikan sebanyak 40 laporan,  sektor pertanahan sebanyak 13 laporan, kepolisian 13 laporan, sektor kesehatan 12 laporan, dan sektor kepegawaian sebanyak 10 laporan,” ujar Adhar Hakim, Jum’at (03/01/2019).

Masih tingginya laporan di sektor pendidikan masih dilihat sebagai sebuah obyek yang menguntungkan secara personal maupun kelembagaan.

Menurut Adhar, hal itu disebabkan faktor keterbatasan mindset yang tidak berubah. Masih tingginya laporan di sektor pendidikan, karena sektor pendidikan menjadi isu yang masih dikaitkan dengan pendekatan politik.

Memang jumlah laporan pada sektor pendidikan turun dari tahun 2018 yang sebelumnya berjumlah 70 laporan turun menjadi 40 laporan pada tahun 2019, tapi tetap menduduki peringkat pertama dengan laporan terbanyak yang berkaitan dengan pungutan liar.

Seperti pemotongan beasiswa bidik misi, pemotongan beasiswa perogram Indonesia pintar pungutan uang prakerin serta uang komite.

“Selain itu pungutan liar yang juga kerap dilakukan pihak sekolah yakni pelaksanaan PPDB penahanan ijazah di sejumlah sekolah serta penjualan buku oleh guru atau sekolah,” ungkapnya.

AYA




Training Nasional Smart Reading 4.0, Untuk Pelajar Dan Mahasiswa

“Kita harapkan seluruh sekolah dapat mengirimkan delegasinya, karena akan diajarkan langsung oleh foundernya”

MATARAM.lombokjournal.com — Training Nasional Smart Reading 4.0 bagi para peserta yang berasal dari SMA dan mahasiwa di NTB, akan diseleggarakan Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) NTB dan Yayasan Islam Lentera Hati, di Aula BP PAUDNI NTB tanggal 29 Desember 2019.

Rencana penyelenggaraan Training Nasional Smart Reading 4.0 itu diungkapkan Sekretaris Panitia dari GARBI NTB, Muhammad Robbi Setiawan, usai menghadap dan melaksanakan audien dengan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah, di Kantor Gubernur NTB di Mataram, Jumat (13/12/2019).

Ia menghadap Wagub yang akrab Umi Rohmi, melaporkan sekaligus memaparkan tujuan penyelenggaraan training  guna membangkitkan semangat milenial di NTB untuk gemar membaca.

Menurut Setiawan, promosi untuk training ini sendiri sudah dilaksanakan sejak bulan November lalu melalui social media.

Surat undangan juga sudah disebarkan ke berbagai sekolah baik di Kota Mataram maupun di Kabupaten/Kota se-pulau Lombok.

Biaya pendaftarannya pun menurut Roby Setiawan cukup terjangkau, hanya Rp50.000 bagi siswa dan Rp100.000 bagi mahasiswa.

“Kita harapkan seluruh sekolah dapat mengirimkan delegasinya, karena akan diajarkan langsung oleh foundernya,” pungkasnya

Smart Reading 4.0 adalah metode khatam cepat, yakni penggabungan dari teknik membaca cepat, memahami lebih dalam, sekaligus menguasai secara detail isi dari sebuah buku atau bacaan yang ingin dipahami dengan mengkombinasikan antara kemampuan baca cepat dengan smartphone.

Metode ini sendiri ditemukan oleh Irwan, S.T, dari Makassar dan telah teruji kemanfaatannya.

Dengan menggunakan smart reading 4.0, Mantan politikus DPRD Makassar itu berhasil menamatkan 100 buku dalam waktu hanya 100 hari.

Meningkatkan minat baca

Wagub Umi Rohmi  menyambut baik rencana peyelenggaraan kegiatan  tersebut. Di tengah masih minimnya budaya literasi di NTB, kata Wagub acara itu dapat menjadi terobosan untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Mantan Rektor Universitas Hamzanwadi Lombok Timur tersebut bahkan mengaku tertarik mengikuti trainingnya.

“Budaya literasi kita kan masih sangat kurang. Orang-orang seringkali lebih tertarik , hanya melihat gambar dan mendengarkan dari pada membaca. Dengan smart reading 4.0 ini mungkin bisa jadi solusinya untuk membuat masyarakat khususnya kaum milenial gemar membaca,” tuturnya

Terlebih penguatan literasi media dan literasi digital menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi NTB, yang salah satu kunci suksesnya adalah membangkitkan kembali semangat milenial untuk gemar membaca.

“Mengatasi kondisi itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Tetapi dibutuhkan kerjasama semua pihak, termasuk lembaga non pemerintah,” ujar Wagub.

AYA

 

(




Kualitas Sama Dengan STP, Masuk Poltekpar Lombok Lebih Murah

Sejak didirikan pada 2016, Poltekpar Lombok yang merupakan Sekolah Tinggi Pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata menerima sektar 118 orang Mahasiswa dari 190 orang yang mendaftar

LOTENG.lombokjournal.com —  Direktur Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Dr. Hamsu Hanafi mengatakan,  animo masyarakat mendaftar di Poltekpar tiap tahun meningkat, Senin (09/12/2019).

Menurutnya, di samping kualitas SDM pengajar yang handal terus ditingkatkan, biaya di Polektar  termasuk murah.

“Karena disubsidi pemerintah dengan uang persemester dua jutaan dan uang praktik sekitar empat jutaan,  bayangkan saja di Universitas Trisakti untuk jurusan pariwisata uang masuknya saja sampai empatpuluh juta,” terang Hamsu.

Hamsu tak merinci biaya masuk Poltekpar tapi menegaskan, dengan kualitas pendidikan pariwisata yang sama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, dan STP yang ada Poltekpar lebih murah.

Dalam kegiatan Forum Kehumasan, di Poltekpar Lombok itu Hamsu menjelaskan, saat ini Poltekpar Lombok menyediakan 4 Program Studi, yakni Prodi D4 Usaha Perjalanan Wisata, Prodi D3 Seni Kuliner, Prodi D3 Tata Hidang, dan Prodi D3 Divisi Kamar.

Untuk menambah Prodi lainnya, seperti Prodi MICE dan Manajemen Destinasi Pariwisata, Poltekpar masih harus memenuhi beberapa persyaratan dari Dirjen Pendidikan Tinggi. Salah satunya mensyaratkan minimal enam orang Dosen di satu Prodi harus S2 kepariwisataan.

“Sehingga, saat ini sejumlah tenaga pengajar kami kirim keluar untuk ambil S2 Vokasi,” kata Hamsu.

Ia memperkirakan Prodi baru akan bisa dimulai paling cepat 2021 mendatang.

Hamsu menjelaskan, animo masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di Poltekpar Lombok meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir.

Sejak didirikan pada 2016, Poltekpar Lombok yang merupakan Sekolah Tinggi Pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata menerima sektar 118 orang Mahasiswa dari 190 orang yang mendaftar.

Sementara di tahun kedua, Poltekpar Lombok menerima 370 mahasiswa dari 500 orang pendaftar.

Jumlah tersebut meningkat signifikan di tahun 2018, jumlah pendaftar mencapai 1.200 orang, dan Poltekpar menerima sekitar 343 mahasiswa.

“Tahun 2019, jumlah pendaftar juga cukup banyak sekitar 1.200 lebih, dan kami terima 310 orang mahasiswa,” katanya.

Hamsu memaparkan, dari jumlah pendaftar setiap tahun, bisa dilihat animo masyarakat cukup tinggi.

Bahkan jumlah pendaftar di Poltekpar Lombok, bisa melampaui jumlah pendaftar di Poltekpar Medan yang lebih dulu berdiri.

“Saat ini dari jumlah mahasiswa Poltekpar 1.144 orang tersisa 1119 karena ada yang gugur dalam perjalanan. Insya Allah para mahasiswa ini akan menjadi profesional di bidang kepariwisataan nantinya,” katanya.

Poltekpar Lombok merupakan salah satu dari enam Sekolah Tinggi Pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata RI. Lima lainnya antara lain Poltepar Bandung, STP Nusa Dua Bali yang kini menjadi Poltekpar Bali, Poltekpar Medan, Poltekpar Makassar, dan Poltekpar Palembang.

Sekda Lombok Tengah, H Muhammad Nursiah MSi mengapresiasi kiprah Poltekpar Lombok dalam beberapa tahun terakhir.

“Lokasinya memang di Lombok Tengah menjadi kebanggaan kami. Tetapi kiprah kinerja Poltekpar ini untuk NTB, memajukan SDM di sektor pariwisata Lombok dan NTB secara umum,” katanya.

Kegiatan Forum Kehumasan dihadiri Sekda Lombok Tengah, H Muhammad Nusiah MSi, Kepala Bidang Dokumentasi Humas Pemprov NTB, Heri Agustiadi, serta sejumlah wartawan pariwisata cetak dan elektronik.

AYA




STIPark Adakan Lomba Karya Ilmiah, Untuk Kembangkan Kreativitas Pelajar Di Bidang Industri

“Kita tidak menyangka banyak sekali potensi-potensi anak-anak kita yang bisa dikatakan luar biasa. Karya-karya dari lomba ini akan dikembangkan secara sempurna dan direncanakan akan diproduksi”

LOBAR.lombokjournal.com —   Untuk mengembangkan kreativitas pelajar NTB di bidang industri, Science Technology and Industrial Park (STIPark) mengadakan Lomba Karya Ilmiah STIPark 2019 yang pertama kalinya di kantor STIPark, Senin (09/12/2019).

“Kita ingin ide-ide kreatif dalam bidang industrialisasi termasuk industri permesinan, pengolahan makanan, pengolahan sampah hingga pariwisata lahir dari sekolah-sekolah tingkat SMA/SMK,” ungkap Direktur STIPark M. Khaerul Ihwan, MT.

Menurutnya, selama ini ide-ide kreatif yang dimiliki oleh anak-anak tingkat SMA/SMK ini kurang terfasilitasi dengan baik. Karenanya, STIPark memberikan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan anak-anak NTB untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Peserta yang mendaftarkan diri pada kegiatan ini sebanyak 57 orang yang berasal dari SMA, SMK, Madrasah Aliyah baik Negeri maupun Swasta di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat.  Peserta yang mengirimkan berkas untuk 4 dan kategori lomba.

Di antara 4 kategori tersebut, sebanyak 32 orang dengan masing-masing di antaranya Kategori Olahan Pangan sebanyak 13 Peserta, Kategori Mesin Pengolahan sebanyak 4 Peserta, Kategori Pengolahan Sampah sebanyak 7 Peserta dan Kategori Pariwisata sebanyak 8 Peserta.

“Kita tidak menyangka banyak sekali potensi-potensi anak-anak kita yang bisa dikatakan luar biasa. Karya-karya dari lomba ini akan dikembangkan secara sempurna dan direncanakan akan diproduksi,” terang Ikhwan.

Dikatakannya, Pemerintah Provinsi NTB akan membantu pengembangan hasil karya industri ini, hingga dapat diproduksi masal yang kemudian akan didistribusikan kepada masyarakat, sehingga tidak bergantung lagi dengan produk luar.

“Ke depan mungkin dari anak-anak kita, selain lahir inovasi baru, lahir juga pengusaha baru. Kalaupun mereka melanjutkan ke jenjang S1, S2 dan seterusnya, kita harapkan mereka menjadi agen-agen yang akan membawa perubahan di masa yang akan datang,” harapnya.

Salah satu Juri dalam lomba ini, Prof. Ir. H. Muhammad Sarjan mengungkapkan, penilaian yang dilakukan adalah penilaian standar baku dari LIPI yang sering digunakan dalam tiap lomba.

Kriteria yang dinilai antara lain penyajian materi meliputi isi, sistematika, penyajian materi, desain presentasi, alat bantu. Cara penyampaian meliputi bahasa yang komunikatif dan gesture tubuh saat presentasi serta kemampuan berargumentasi.

Siswa-siswi yang menjadi pemenang dalam kategori mesin yaitu Hilman Syarif dari SMK Ondak Jaya sebagai juara 1, Muhamad Zakiudin dari SMKN 2 Kuripan sebagai juara 2, Ma’ratul Mufarrihah dari SMAN 1 Bolo sebagai juara 3.

Pemenang lomba kategori pengolahan makanan antara lain, Yumna Aulia Hani SMAN 1 Selong sebagai juara satu, Tasya Putri Aulia Azahra SMAN 1 Bolo sebagai juara 2, Rachmania Ulwani SMAN 1 Selong sebagai juara 3.

Kategori pengelolaan sampah dimenangkan oleh  Dinda Liya Zafirah SMAN 1 Selong sebagai juara 1, Laili Fitri SMAN 2 Selong sebagai juara 2, I Gede Mantra SMKN 2 Kuripan sebagai juara 3.

Untuk kategori industri pariwisata dimenangkan oleh Adila Rizki Batari MAN 2 Mataram sebagai juara 1, Andri Cahaya Putra SMAN 1 Seteluk sebagai juara 2, Ilham Saputra SMA Muhammadiyah Alas sebagai juara 3.

AYA/HmsNTB




Meski Baru Terbentuk, Pangkalan SWBB BPPAUD Dan Dikmas NTB Meraih Prestasi Kepramukaan

Setelah melalui proses seleksi, akhirnya mampu berprestasi sebagai juara harapan 3 dari perwakilan ke 33 provinsi di Indonesia

MATARAM.ombokjournal.com — Meskipun belum lama terbentuk, Pangkalan Saka Widya Budaya Bakti (SWBB) di Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (BPPAUD) dan Pendidikan  Masyarakat (Dikmas)  Nusa Tenggara Barat, mampu meraih prestasi di bidang kepramukaan.

Prestasi itu membanggakan, mengingat pangkalan SWBB belum lama terbentuk.

Hal ini disampaikan salah satu Pamong Saka puteri Tri Sari Wijayanti, S.Pd, M.Pd, saat mengikuti ajang  bergengsi Lomba Pangkalan Saka Berprestasi (Pasasi) Widya Budaya Bakti Tingkat Nasional Tahun 2019 di Yogyakarta, tanggal 2-4 Desember 2019, bersama instruktur saka H. M. Irfan, S.Pd, MM dan ketua dewan saka M. Erwin.

Pangkalan SWBB BPPAUD dan Dikmas Nusa  Tenggara Barat, sudah mampu mengembangkan 5 krida dan mengajak 5 kwartir cabang di Kabupaten dan Kota di Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, juga mengajak 8 gugus depan di 8 sekolah SMA & SMK di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat untuk  bergabung di Saka Widya Budaya Bakti (SWBB)  secara offline maupun online.

Keberhasilan SWBB pangkalan BPPAUD dan Dikmas Nusa Tenggara Barat tak luput berkat dukungan dan bantuan Kepala BPPAUD & Dikmas NTB, Drs. H. Suka, M.Pd, Mabisaka Hizbul Maududi, SS, Kwartir Daerah Nusa Tenggara Barat dan Kwartir Cabang Kota Mataram.

Kedua sangat mendukung dalam persiapan dan pelaksanaan lomba pangkalan sampai akhirnya mewakili Nusa Tenggara Barat di perhelatan nasional.

Setelah melalui proses seleksi, akhirnya mampu berprestasi sebagai juara harapan 3 dari perwakilan ke 33 provinsi di Indonesia.

“Hasil ini sungguh menggembirakan karena baru pertama kali NTB mengikuti perlombaan dan mampu mengalahkan beberapa provinsi besar yang tentunya sudah berpengalaman,” ujar Tri sari.

Hasil ini sekaligus memberikan motivasi ke depan untuk meraih prestasi yang lebih maksimal.

AYA




Peringatan Hari Guru 2019, Bupati Ingatkan Pentingnya Literasi Digital Bagi Guru

“Mari kita bangun kesadaran bersama, ruang kelas bukan lagi satu-satunya ruang untuk belajar. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan”

TANJUNG.lombokjournal.com —  Memperingati hari ulang tahun (HUT) KORPRI, PGRI, dan Hari Guru Nasional (HGN) masing-masing ke-48 dan ke-74 di Kabupaten Lombok Utara (KLU), digelar di lapangan Tioq Tata Tunaq Tanjung., Jum’at (29/11/2019).

Penyerahan Piagam Purna Bhakti PNS KLU

Peringatan HUT KORPRI, PGRI dan HGN itu dirangkaikan dengan upacara paripurna bulanan Pemerintah Daerah Lombok Utara, dengan inspektur upacara Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH.

Membacakan amanat Ketua Umum PB PGRI, Bupati Najmul meyampaikan, seluruh elemen bangsa perlu mendefragmentasi ingatan kolektif guna mengenang kembali spirit dan niat mulia para guru di seluruh tanah air.

Pada tanggal 25 november 1945, puluhan organisasi guru yang berbeda faham dan golongan sepakat melebur menjadi satu kemudian melahirkan wadah persatuan guru republik indonesia (PGRI).

Dengan dijiwai semangat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, PGRI hadir sebagai wadah perjuangan guru, pendidik dan tenaga kependidikan, memperjuangkan kedaulatan NKRI, berperang melawan kebodohan dan keterbelakangan, serta berkhidmat dalam memajukan pendidikan nasional.

Bupati Njml Akhyar  menyampaikan terima kasih yang tulus kepada pemerintah Indonesia yang memberikan penghargaan terhadap perjuangan para guru, pendidik formal/non formal, dan tenaga kependidikan dengan menetapkan tanggal 25 November sebagai hari guru nasional.

Ditambahkan, setelah 74 tahun Indonesia merdeka, jati diri PGRI sebagai organisasi profesi yang independen, unitaristik dan non partisan mesti selalu dijaga dan melekat di dada pengurus, pejuang aktivis dan para guru sebagai rumah besar perjuangan guru, pendidik dan tenaga kependidikan.

“PGRI harus terus bergerak, mengabdi dan memperbarui diri agar bisa adaptif dan responsif terhadap setiap dinamika perubahan,” kata bupati.

Kemajuan teknologi informaso membawa dampak positif dan negatif, berirama secara beriringan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, tidak terkecuali dalam proses pembelajaran di sekolah.

PGRI harus tetap berkomitmen terhadap pentingnya literasi, utamanya literasi digital bagi guru, siswa dan orang tua.

“Mari kita bangun kesadaran bersama, ruang kelas bukan lagi satu-satunya ruang untuk belajar. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan,” ajak bupati.

Guru profesional dan berintegritas

Dikatakan, pergeseran peran guru di era digital sebagai fasilitator pembelajaran, menantang rasa ingin tahu siswa, sehingga terdorong menjadikan proses pembelajaran mandiri sepanjang hayat.

“Formula ini yang harus terus-menerus kita tanamkan. Mesti jadi kesadaran bagi guru dalam menjalankan tugas utama sebagai pendidik dan pengajar,” pesan bupati..

Betapa pun majunya teknologi dengan segala turunannya, tapi sejatinya guru tidak pernah dapat digantikan oleh teknologi.

Hal itu mengandung makna, guru profesional dan berintegritas akan terus menjadi isu global dan perhatian dunia tak terkecuali Indonesia.

“Guru yang mencintai pekerjaannya, mengabdikan dirinya bagi kemajuan peserta didik, memperbaiki kualitas diri dan terus berinovasi guna memperoleh praktek terbaik dalam melaksanakan tugasnya. Menjadikan ilmunya sebagai penerang hati dan kemanusiaan. Sadar sepenuhnya bahwa perilakunya dijadikan contoh bagi siswanya,” terangnya.

Najmul mengharapkan para pemangku pembangunan daerah agar responsif atas permasalahan guru yang diperjuangkan PGRI di KLU.

“Suatu hal yang wajar apabila berbagai pihak memberikan atensi serius terhadap kesehjateraan dan peningkatan kualitas guru,” katanya.

Saat ini masih banyak pekerjaan rumah yang diperjuangkan PGRI terutama di KLU. Bupati Najmul lantas berharap pengurus PGRI KLU agar bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas, menjadi contoh dalam pendidikan karakter dan tidak mudah meninggalkan kelas.

“Saya minta agar para pengurus PGRI di berbagai tingkatan mulai dari pengurus kabupaten hingga ranting bekerja keras, bertungkus lumus dan berlintang pukang mengawal perjuangan dan aspirasi anggotanya,” pintanya.

Usai upacara dilanjutkan dengan penyerahan Piagam Purna Bhakti PNS KLU yang memasuki batas usia pensiun 1 Januari 2020 oleh Bupati Najmul kepada Zainul Idrus, SH Inspektur Inspektorat KLU dan H.M. Thohir, S.Sos Camat Kayangan.

Hadir dalam upacara bendera ini, antara lain Wakil Ketua DPRD Lombok Utara H. Burhan M. Nur, SH, Kapolres Lombok Utara AKBP Herman Suriyono, SIK, MH, Pabung Kodim 1606/Lobar Mayor Inf R. Sugondo, Sekda KLU Drs. H. Suardi, MH, pejabat teras lingkup Pemda KLU, para ASN dan para Guru.

Upacara berlangsung khidmat dengan komandan Abdur Rais, Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Pol PP dan Damkar KLU.

sta/humaspro




Bupati Najmul Akhyar Buka Temu Publik dan Pameran Tenun Lombok

“Harapan saya untuk penenun, supaya bisa berkolaborasi dengan penenun lain. Intinya, bagaimana perkakas budaya bisa bermanfaat tak hanya pada aspek sosial tetapi juga aspek ekonomi”

TANJUNG.lombokjournal.com — Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH, membuka Temu Publik dan Pameran Program Pemulihan Pascagempa bagi Penenun Lombok, Kamis (28/11/2019).

Kegiatan tersebut diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Bappeda berkerja sama dengan Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Bidang Sosial dan Budaya (UNESCO).

Bupati Najmul mengatakan, perlunya para pihak berbicara masalah tenun secara holistik dalam konteks ruang yang lebih luas dan bukan hanya di Lombok Utara.

Hal ini perlu dipahami secara komprehensif lantaran pihaknya tidak memandang para pengrajin tenun hanya dalam koridor pelaku ekonomi semata, tetapi lebih sebagai pahlawan.

“Kami lihat beliau-beliau bukan hanya jadi pelaku ekonomi tetapi kami menganggap mereka sebagai pahlawan sehingga Pemda KLU memberikan suport kepada mereka,” kata Bupati Najmul.

Menurutnya, diskusi publik tersebut dipandang sangat strategis dan punya makna penting sehingga diharapkan bisa berdampak pada peningkatan ekonomi.

“Khusus kami di Lombok Utara, Kepala Dinas kami punya kebijakan hari Kamis harus menggunakan pakaian adat. Kebijakan ini berdampak pada pelaku usaha tenun dan penenun,” Jelas bupati.

Pengaturan kebijakan penggunaan pakaian adat bagi aparatur Pemda KLU akan diatur melalui peraturan bupati (Perbup). Saat ini, Pemda KLU melalui OPD leading sektor sedang menggodok ragangan Perbup dimaksud.

Di samping itu, bupati juga berencana mengundang para kepala OPD dan Kepala Sekolah untuk menandatangani MoU penggunaan tenun agar bisa berdampak langsung terhadap para penenun.

Ekspektasinya, kain tenun ini tidak hanya menjadi pakaian formal saja tetapi juga bisa dipakai oleh para milienial sehingga bisa membangkitkan semangat anak muda untuk menggunakan tenun.

“Harapan saya untuk penenun, supaya bisa berkolaborasi dengan penenun lain. Intinya, bagaimana perkakas budaya bisa bermanfaat tak hanya pada aspek sosial tetapi juga aspek ekonomi,” harap bupati.

Nilai-nilai kultural

Ketua BPMB Bali I Made Darma Suteja, SS, M.Si di hadapan Bupati Lombok Utara dan peserta pertemuan mengharapkan, kehadiran para desainer dari Jakarta dapat membantu sekaligus mengangkat ekonomi penenun dan pelaku usaha tenun Lombok Utara.

Menurut Suteja, kain tenun merupakan prouduk yang dekat dengan manusia sehingga ketika seseorang berbicara tenun pada hahekatnya tidak hanya berbicara ekonomi tetapi ada nilai-nilai kultural yang memiliki makna penting dan perlu dipelajari dengan pendekatan kultural.

“Berbicara fashion kita sangat bangga karena kain tenun Pringgasela telah jadi warisan budaya Indonesia. Semoga kehadiran UNESCO bisa membawa kain tenun menjadi kekayaan dunia,” katanya.

Ditambahkannya, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tradisi lisan yaitu manuscrif, adat istiadat, situs, teknologi tradisional dan rumah adat yang perlu diidentifikasi secara bersama-sama. Perkakas budaya bukan hanya berupa benda saja tetapi mencakup pellbagai unsur kebudayaan.

Dicontohkan, bilamana seseorang mengenakan kain londong abang berarti ia boleh ikut melakanakan ritual adat. Pun dalam konteks teknologi juga ada teknologi tradisional untuk tools pembuatan beragam produk tenun.

Kain tenun ini tak hanya berfaedah untuk pembungkus badan, tetapi punya simbol tersendiri terkait dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

“Harapan kami agar tidak ada klaim mengklaim sehingga kita harus menginventarisirnya,” harap Suteja.

Kepala Unit Bidang Budaya UNESCO, Moe Chiba menjawab pertanyaan wartawan terkait tenun Bayan mengatakan, dalam otoritasnya sebagai Kepala Unit Kebudayaan UNESCO, setiap kali mendampingi penenun dari seluruh dunia, ia selalu tertarik dengan tekstil tradisional atau kain tenun tradisional.

Banyak hal yang dapat diilhami seperti budaya, selera, cara membuat dan ritualnya dan nilai-nilai kearifan lokal lainnya.

“Terkait harapan supaya penenun Bayan perlu meneruskan kepandaian dan ide-idenya, UNESCO tidak bisa melanjutkan pendampiangan dan berharap amitra-mitra yang lain untuk membantu,” ujar Diana Setiawati, Project Coordinator UNESCO Jakarta.

Kaban Bappeda Heriyanto, SP yang juga Panitia Penyelenggara melaporkan, pascagempa bumi meratakan Lombok Utara, sejak saat itu pula konsentrasi pemerintah daerah, relawan dan masyarakat beralih pada recovery baik itu fisik, ekonomi dan juga budaya.

Diceritakan Heryanto, Januari 2011 datang kunjungan dari UNESCO untuk memberi dukungan khususnya recovery ekonomi dan budaya. Kegiatan UNESCO, mendapatkan dukungan pendanaan dari berbagai pihak, sehingga  pada bulan Maret UNESCO memberikan bantuan alat tenun, los kerja serta pelatihan desain di Jogja. Selain itu juga, digelar lokakarya dan pameran di Francis.

“Dalam kesempatan yang baik ini kami sampaikan terima kasih kepada UNESCO dan BPMB. Saya harap tetap ada dukungan untuk KLU sampai bisa mandiriM,” kata Heryanto.

Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kantor Bupati Lombok Utara tersebut juga ditampilkan fashion show kolaborasi tenun Bayan dan tenun Pringgasela, pameran tenun penenun Pringgasela dan Bayan serta diisi talkshow program disampaikan oleh Moe Chiba.

Kegiatan tersebut dihadiri para Kepala OPD, Tokoh Adat, Budayawan, Pengrajin Tenun dan pihak UNESCO.

sta/humaspro




Nelayan Adalah Pejuang Optimistis

Kepala Museum Negeri NTB, Zubair Muslim mengungkapkan, peran nelayan sangat optimis dan luar biasa untuk kehidupan di masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com — Nelayan adalah sosok yang memiliki pekerjaan yang tidak berhenti untuk optimis, meski mereka tidak tahu apa yang akan didapatkannya hari ini atau esok.

Rusman

“Tapi mereka terus mencari cara untuk bisa mendapat ikan yang banyak, tetapi karena optimis maka semangat hidupnya terus berkembang,” tutur Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB Rusman, SH., MH.

Rusman menyampaikan itu dalam pembukaan Pameran Kontemporer Alat Penangkapan Ikan Di Laut yang bertajuk “Perkembangan Teknologi Alat Penangkapan Ikan Pada Nelayan Pesisir Pulau Lombok” yang berlangsung di Museum Negeri NTB, Rabu (27/11/2019).

Ia berharap adanya cara, praktek dan inovasi baru yang dapat dipersembahkan Museum Negeri agar dapat menjadi Museum hebat.

“Terus ikhtiarkan agar museum dapat terus berkembang , ada acara– cara baik, dan inovasi baik yang membuat orang mengatakan bahwa ternyata memang museum ini memang hebat,” jelasnya.

Kepala Museum Negeri NTB, Zubair Muslim mengungkapkan, peran nelayan sangat optimis dan luar biasa untuk kehidupan di masyarakat.

“Hal ini juga didukung dengan fasilitas sarana yang dulu seadanya, namun semakin maju zaman maka semakin maju fasilitas yang digunakannya” tuturnya.

Selain itu, sebanyak 7.695 Koleksi warisan budaya yang terdapat di Museum Negeri NTB, sekitar 2 persen koleksi yang dikeluarkan dalam Pameran kontemporer Alat Penangkapan Ikan Di Laut.

Zubair menjelaskan, pengumpulan koleksi yang ada di Pameran didapat dari berbagai penjuru.

“Alat – alat yang ada disini sebagian didapat dari warisan nenek moyang, ada juga dari nelayan yang memberikan langsung alat yang mereka punya” jelasnya.

Zubair menegaskan, museum memiliki tugas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat adanya benda – benda penginggalan pada zaman dahulu agar dapat diketahui oleh masyarakat pada masa kini.

“Kebesaran nilai usaha orang dulu sangat luar biasa dan patut dihargai,  Itu merupakan kearifan budaya zaman dahulu. Masyarakat sekarang harus tahu agar dapat menegtahui bagaimana perjuangan mancing dapat menangkap ikan dengan alat sedehrana,” jelasnya.

AYA

 

 




Masyarakat Lombok Utara Diajak Gemar Makan Ikan

Sosialisasi gemar makan ikan dilaksanakan di PAUD-PAUD karena di PAUD terdapat generasi-generasi masa depan bangsa yang sedang menimba ilmu dasar

KLU.lombokjournal.com —  Salah satu tantangan di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini adalah peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

Untuk meningkatkan SDM, tentunya perlu asupan gizi yang tinggi. Ketua TP-PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati, M.Sc meminta kepada masyarakat untuk terus meningkatkan konsumsi ikan yang memiliki protein tinggi.

“Mulai sekarang, kita akan lebih banyak memberikan pengetahuan tentang pentingnya mengonsumsi ikan kepada anak-anak dan orang tua yang ada di PAUD,” kata Hj. Niken saat Road Show TP-PKK Provinsi NTB terakhir di Desa Medana Kabupaten Lombok Utara, Selasa (26/11) 2019.

Alasan mengapa sosialisasi gemar makan ikan dilaksanakan di PAUD-PAUD adalah, karena di PAUD terdapat generasi-generasi masa depan bangsa yang sedang menimba ilmu dasar.

“Perhatian PAUD adalah sangat penting, dan kita akan terus meningkatkan kualitas guru-guru PAUD kita, agar mereka lebih baik, lebih cerdas, dan lebih memahami bagaimana mendidik anak PAUD hingga mereka berkembang menjadi anak-anak yang baik,” terang Bunda Niken yang baru saja meraih penghargaan Bunda PAUD terbaik se-Indonesia.

Mengingat Kabupaten Lombok Utara adalah kabupaten yang memiliki jumlah PAUD terbanyak di NTB, dengan jumlah PAUD yang banyak ini, pastilah memerlukan perhatian yang lebih dari segi kualitas.

“Saya meminta kepada PKK Lombok Utara untuk terus ikut berperan dalam meningkatkan kualitas PAUD yang ada di Lombok Utara ini,” tambah Bunda Niken.

Di akhir penyampaiannya, ia berpesan kepada masyarakat agar menjalankan program revitalisasi Posyandu.

“Dalam PKK ada Pokja 4 yang turut mendukung program revitalisasi Posyandu, yaitu menjadikan Posyandu bukah hanya sebagai tempat pemeriksaan ibu hamil dan Balita, melainkan menjadi Posyandu yang dapat melayani keluarga,” tuturnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, Asisten 1 Kabupaten Lombok Utara, Kawit Sasmita SH, Ketua TP-PKK Lombok Utara, Hj. Rohani Najmul Akhyar, Kepala Dinas P2KBPMD Lombok Utara, Drs. H Holidi, Camat Tanjung, Syamsul Bahri, Sos, MM.

AYA/HmsNTB