Lapangan Kerja Bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Pesantren

Zoom Meeting membahas kebutuhan lapangan kerja, seorang muslim wajib memiliki etos kerja dan mentalitas profesional 

MATARAM.LombokJourmal.com ~ Tantangan dunia dan lapangan kerja yang semakin kompetitif di era modern dinilai menuntut mahasiswa perguruan tinggi pesantren untuk tidak hanya mengandalkan keilmuan agama. 

Tak kalah pentingnya juga membangun mentalitas, karakter kepemimpinan, dan kompetensi profesional yang kuat agar mampu bersaing di lapangan kerja.

BACA JUGA :  Hardiknas; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan

Pesan itu mengemuka dalam Webinar Nasional bertema “Leadership: Membangun Mentalitas Siap Kerja bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Pesantren dalam Memasuki Lapangan Kerja” yang digelar oleh STIS Darul Falah Pagutan, Mataram, NTB,  Sabtu (16/05/26) Via Zoomeeting Webinar Ilmiah . 

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa eksekutif STIS Darul Falah serta peserta umum dari berbagai daerah, dengan Kevin Era Azzura bertindak sebagai moderator.

Dr. Muhammad Arifin, M.Pd

Tampil sebagai Keynote Speaker, Dr. Muhammad Arifin, M.Pd, Wakil Ketua I STIS Darul Falah. Ditegaskannya, terkait lapangan kerja sebenarnya mahasiswa perguruan tinggi pesantren memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa dibanding lulusan perguruan tinggi pada umumnya.

“Nilai-nilai yang ditanamkan pesantren, kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, dan spiritualitas — adalah fondasi karakter pemimpin sejati yang justru paling dicari dunia kerja saat ini. Masalahnya, kita belum cukup percaya diri untuk menunjukkan itu,” ujarnya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 105:

اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ

“Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.”

BACA JUGA ;  Hardiknas; Gubernur Tekankan Kualitas Pendidikan

Menurutnya, ayat tersebut adalah landasan teologis yang paling kuat mengapa seorang muslim wajib memiliki etos kerja dan mentalitas profesional yang tinggi. Ini yang dibutuhkan dalam lapangan kerja

Bekerja dengan sungguh-sungguh, menurutnya, adalah bentuk ibadah yang disaksikan langsung oleh Allah SWT..

Mentalitas Siap Kerja

Dr. Muhammad Arifin juga memaparkan lima mentalitas siap kerja yang harus dibangun mahasiswa pesantren, yaitu growth mindset, akuntabilitas, resiliensi, komunikasi efektif, serta inisiatif dan proaktivitas. 

Ia menekankan bahwa sifat utama Rasulullah SAW, shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah adalah blueprint kepemimpinan paling sempurna yang relevan hingga hari ini.

“Jangan rendah diri dengan latar belakang pesantren kalian. Itu bukan kelemahan, itu keunggulan yang belum kalian sadari sepenuhnya,” tegasnya. 

Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Abdullah, M.Pd, Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton, Jawa Timur, sebagai Narasumber pertama. Ia menyoroti pentingnya penguatan kompetensi abad 21 bagi mahasiswa pesantren, khususnya kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kecerdasan emosional.

Menurutnya, kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan industri bukan semata soal kemampuan teknis, melainkan lebih banyak disebabkan oleh lemahnya soft skills dan kesiapan mental.

“Data menunjukkan bahwa mayoritas kegagalan di dunia kerja bukan karena tidak kompeten secara teknis, tetapi karena tidak mampu beradaptasi, tidak bisa bekerja dalam tim, dan mudah menyerah saat menghadapi tekanan,” paparnya.

Dr. Abdullah menegaskan bahwa mentalitas siap kerja dapat dibentuk melalui beberapa hal konkret, seperti meningkatkan keterampilan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, manajemen waktu, kerja tim, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan industri.

“Semua keterampilan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dilatih, diasah, dan dibiasakan sejak di bangku kuliah,” ujarnya.

Pesantren dan Kepemimpinan

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengalaman organisasi, pelatihan kepemimpinan, magang, dan kegiatan sosial juga memiliki peran yang sangat strategis dalam membantu mahasiswa memahami tantangan dunia kerja secara nyata bukan sekadar teori di dalam kelas.

“Mahasiswa yang aktif berorganisasi dan terlibat langsung dalam kegiatan sosial akan memiliki kepekaan, ketangguhan, dan kematangan yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang hanya duduk mendengarkan kuliah,” tegasnya.

BACA JUGA  ;  Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

Ia menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa dengan kemampuan leadership yang baik, mahasiswa perguruan tinggi pesantren diharapkan mampu menjadi pribadi yang profesional, percaya diri, mandiri, dan memiliki integritas tinggi.

Hal itu, menurutnya, akan membantu mereka lebih siap memasuki lapangan kerja serta mampu bersaing dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan dunia profesional.

“Pesantren sudah memberi kalian karakter. Kini tugas kalian adalah melengkapinya dengan kompetensi dan keberanian untuk tampil di panggung dunia,” pungkasnya.

Narasumber kedua, Dr. Fathorrahman, M.Pd, Direktur Pascasarjana Institut Kariman Wirayudha Madura, Jawa Timur, membawakan perspektif yang mendalam tentang hakikat manusia sebagai pemimpin di bumi dalam kaitannya dengan kesiapan memasuki dunia kerja.

Ia membuka pemaparannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Menurutnya, ayat ini adalah deklarasi Allah SWT atas kedudukan mulia manusia sebagai pemimpin di muka bumi. 

Bukan pemimpin dalam arti sempit yang hanya duduk di kursi jabatan, melainkan pemimpin dalam makna yang paling hakiki yaitu setiap manusia yang mampu mengelola dirinya, memberikan manfaat bagi lingkungannya, dan mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab.

“Sebelum memimpin orang lain, seorang khalifah harus mampu memimpin dirinya sendiri. Itulah inti dari mentalitas siap kerja yang sesungguhnya,” tegasnya.

Dr. Fathorrahman menjelaskan bahwa konsep khalifah mengandung tiga tanggung jawab besar yang sangat relevan dengan dunia kerja.

Pertama, tanggung jawab intelektual manusia dibekali akal untuk berpikir, memecahkan masalah, dan berinovasi. Kedua, tanggung jawab moral setiap pekerjaan dan keputusan harus dilandasi nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Ketiga, tanggung jawab sosial hasil kerja seorang khalifah harus memberi kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan pribadi.

“Mahasiswa pesantren adalah calon-calon khalifah yang paling siap. Kalian sudah ditempa ilmu agama, dilatih akhlak, dan dididik untuk melayani. Kini saatnya kalian melangkah ke dunia lapangan kerja dan buktikan bahwa khalifah yang sesungguhnya hadir dari rahim pesantren,” ujarnya dengan penuh semangat.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan pesantren dengan dunia industri dan pemerintahan guna membuka lebih banyak pintu peluang kerja bagi lulusan.

“Perguruan tinggi pesantren harus berani keluar dari zona nyaman dan membangun kemitraan strategis dengan berbagai sektor. Potensi jaringan alumni pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia adalah modal sosial yang luar biasa dan belum dioptimalkan secara maksimal,” pungkasnya.

Webinar ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembangkit semangat bagi para mahasiswa bahwa jalan menuju dunia kerja bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebuah medan pengabdian yang harus dimasuki dengan persiapan matang, mentalitas kuat, dan keyakinan penuh.

Melalui kegiatan ini, STIS Darul Falah Pagutan berharap dapat terus mendorong lahirnya generasi pemimpin muda dari rahim pesantren yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul, kompeten, dan berdaya saing tinggi dalam menghadapi tantangan zaman. AR

 




Peringatan Hardiknas; Gubernur Tekankan Kualitas Pendidikan

Peringatan Hardiknas 2026 ini, Gubernur NTB menyampaikan amanat nasional pendidikan dasar dan menengah dalam lima kebijakan strategis nasional. 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Dalam peringatan Hardiknas atau Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menekankan kualitas pendidikan dalam akses belajar, kompetensi dan kesejahteraan guru. 

BACA JUGA : Hardikns; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan 

Gubernur Lalu Muhammad Iqbal

Sebagai apresiasi dan perhatian kepada guru berstatus Pegawai Pemerintah Perjanjian Kerja Paruh Waktu (PPPK – PW), Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyiapkan anggaran untuk penghasilan tambahan minimal sebesar Rp 500 ribu bagi 1.759 guru mulai September mendatang.

“Khusus untuk guru P3K PW yang penghasilannya tergantung jam mengajar, kami berupaya di tengah keterbatasan fiskal untuk memberikan kesejahteraan yang lebih baik”, ucap Gubernur Dr. H.L.Muhamad Iqbal.

Hal itu disampaikannya dalam upacara peringatan Hardiknas di lapangan kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga di Mataram, Sabtu (02/05/26). 

Gubernur mengatakan, kebijakan bagi guru PPPK- PW ini dilakukan sebesar harapan daerah dalam memajukan dunia pendidikan. 

Gubernur menegaskan bahwa Dinas Dikpora sebagai pengampu utama pendidikan, fokus kepada pembanguan manusia bukan sekadar fisik agar kualitas pendidikan meningkat. 

BACA JUGA ;  Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

“Kualitas pendidikan artinya dinas, kepala sekolah dan guru mulai memikirkan agar seluruh anak memiliki akses pendidikan. Memastikan tidak ada anak putus sekolah, memastikan kualitas bahan ajar dan kualitas  guru,” tegasnya. 

Dalam upacara peringatan Hardiknas ini, Gubernur NTB menyampaikan amanat nasional pendidikan dasar dan menengah dalam lima kebijakan strategis nasional

Kebijakan strategis yang dimaksud yakni, revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi. Kemudian pemenuhan kualifikasi dan kompetensi guru sebagai teladan dan kesejahteraan dalam bentuk beasiswa kuliah bagi guru. Penguatan pendidikan karakter melalui budaya dan lingkungan sekolah.

Serta kualitas pembelajaran melalui gerakan literasi dan numerasi dalam science, technology, engineering and mathematics (STEM) dan tes kemampuan akademik termasuk olahraga dan kesenian.

Selain itu, kebijakan layanan pendidikan yang mudah, murah dan fleksibel untuk berbagai penyebab putus sekolah dengan sekolah satu atap, pembelajaran jarak jauh, komunitas belajar dan sekolah terbuka. 

Untuk mewujudkan pendidikan bermutu, empat ekosistem pendidikan dari sekolah, keluarga, masyarakat dan media diintegrasikan dalam regulasi dan kebijakan. 

BACA JUGA : Pertunjukan Media Baru, Mengapresiasi Unconscious Theory

Dalam upacara peringatan Hardiknas tersebut, Gubernur juga menyerahkan penghargaan Satya Lencana Karyasatya kepada tiga orang pengajar dari SMA Negeri 5 Mataram, Siti Nurhani, SLB Negeri 1 Mataram, Kamtono dan SMK Negeri 1 Mataram, Ahmad Quroni. (jmy/dinaskominfotikntb).

 

 




Hardiknas; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan 

Pada momentem Hardiknas, DR Muhammad Arifin menegaskan, pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang maju, kompetitif, dan inovatif

MATARAM.LombokJournal.comHari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei bukan sekadar seremoni tahunan untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara. 

Lebih dari itu, momentum Hardiknas merupakan alarm bagi bangsa Indonesia untuk terus menghidupkan api literasi dan karakter di tengah gempuran modernitas. 

BACA JUGA  :  Inovasi Mahasiswa, Bikin Mesin Pengiris Tempe Tenaga Surya

, Esensi filosofi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” sejatinya sedang diuji: sejauh mana institusi pendidikan mampu mencetak individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian sosial yang nyata.

Di tengah transformasi besar dunia pendidikan, muncul sosok-sosok inspiratif yang menjadi representasi nyata dari semangat Hardiknas tersebut. 

Salah satunya adalah Dr. Muhamad Arifin, S.Pd, M.Pd, seorang akademisi muda asal Banyumulek, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan hidupnya mencerminkan bahwa pendidikan adalah tangga eskalasi sosial yang inklusif. Memulai langkah dari SDN 05 Banyumulek hingga menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan Mataram, Arifin membuktikan bahwa latar belakang santri bukanlah penghalang untuk meraih puncak akademik. 

BACA JUGA : Anak-anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosial

Melalui program beasiswa 5000 Doktor dari Kementerian Agama Republik Indonesia, ia berhasil meraih gelar Doktor (S3) di IAIN Jember pada usia 30 tahun dengan predikat cumlaude, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa kerja keras dan dukungan negara dapat melahirkan intelektual muda yang mumpuni.

Namun, bagi pria kelahiran 31 Desember 1990 ini, gelar doktor bukanlah tujuan akhir, melainkan alat pengabdian. Sebagai Wakil Ketua I Bidang Akademik di STIS Darul Falah Pagutan Mataram, ia memegang teguh amanah gurunya, Al Mursyid Abuya TGH. Muammar Arafat, SH,MH, yang berpesan:

“Seberapapun tinggi ilmu yang kau raih dan seberapapun jauh langkahmu melangkah, jangan pernah lupakan akar yang telah menumbuhkanmu tetaplah mengabdi dan mengajar, walaupun hanya sebagai guru ngaji di TPQ, karena di sinilah keberkahan sesungguhnya” 

Nilai inilah yang ia ejawantahkan melalui pendirian Yayasan Ma’rifatul Falah pada 2017. Yayasan ini menjadi kawah candradimuka bagi masyarakat melalui berbagai lembaga seperti Madrasah Diniyyah, TK Berbasis Pesantren, Tahfiz al Quran, Majlis Ta’lim hingga Sekolah Literasi. Fokusnya jelas, Pendidikan sejatinya merupakan medan pengabdian yang berorientasi pada transformasi moral dan peningkatan kualitas spiritual umat. 

Sehingga setiap upaya edukatif yang dilakukan secara konsisten dan ikhlas akan berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter serta ketinggian akhlak generasi penerus bangsa.

Dedikasi Arifin tidak hanya berhenti pada ranah praktis, tetapi juga tertuang dalam berbagai karya tulis dan jurnal ilmiah. Sebagai akademisi produktif, ia telah melahirkan berbagai pemikiran yang menitikberatkan pada integrasi pendidikan Islam dan manajemen modern. 

Beberapa karya dan publikasinya meliputi kajian tentang manajemen pendidikan Islam, tentang kepemimpinan kiai pesantren, manajemen masjid, manajemen konflik dalam rumah tangga dan beberapa karya lainya. Kiprahnya sebagai invited speaker dan presenter di mancanegara seperti di UPM Malaysia, Fatoni University Thailand, hingga Kolej Islam Teknologi Antar Bangsa membuktikan bahwa pemikiran lokal berbasis pesantren mampu bersaing dan diakui di panggung internasional.

BACA JUGA : Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

Selain aktif menulis, doktor muda ini juga mengemban tanggung jawab strategis sebagai Asesor PPG Nasional Kemendikbudristek RI. Di organisasi, ia mengabdi sebagai Sekretaris harian Ikatan Alumni Darul Falah (IKADAFA), Ketua Tanfidziyah MWC NU Kediri Lombok Barat, serta Sekretaris Perkumpulan Dosen dan Peneliti Indonesia (PDPI) NTB. 

Sinergi antara literasi kitab kuning (kutubutturats) dan Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK) yang ia usung menjadi kunci bagi kemajuan hukum Islam di Indonesia.

Melalui refleksi Hardiknas ini, kita diingatkan bahwa masa depan pendidikan Indonesia terletak pada integrasi antara kecerdasan akademis dan ketulusan pengabdian. 

Harapan Dr. Muhamad Arifin agar STIS Darul Falah menjadi “mercusuar” di daerah pulau seribu masjid adalah simbol optimisme kolektif kita semua. Pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang maju, kompetitif, dan inovatif.

Namun tetap memiliki akar moral yang kuat untuk menyelamatkan umat di dunia dan akhirat. Inilah sejatinya makna kemerdekaan belajar: menjadi manusia yang berilmu, berdaya, dan bermanfaat bagi sesama.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026   

“Narasi Tanpa Batas”. (*)

 

 




Literasi Global, Ramadhan Menguatkan Kolaborasi Internasional

 China berhasil meningkatkan angka literasi dari di bawah 10 persen menjadi hampir menyeluruh melalui kerja keras para pengajar.

MATARAM.LombokJournal.com ~ ​Momentum bulan suci Ramadhan menjadi panggung penguatan kolaborasi internasional dalam memajukan literasi di Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia M Iqbal, bersama Konsul Jenderal (Konjen) Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Denpasar, Zhang Zhisheng, menegaskan komitmen bersama,membangun masa depan generasi muda melalui akses pengetahuan yang lebih luas.

BACA JUGA : NTB Jadi Daerah yang Business Friendly

​​Konjen RRT, Zhang Zhisheng, dalam sambutannya menekankan filosofi bahwa pengetahuan adalah “makanan” bagi akal yang mampu memutus rantai kemiskinan secara permanen

Ia berbagi pengalaman sejarah China yang berhasil meningkatkan angka literasi dari di bawah 10 persen menjadi hampir menyeluruh melalui kerja keras para pengajar.

Menurutnya, salah-satu cara membuat orang keluar dari kemiskinan adalah memberikan mereka pengetahuan. 

“Jika mereka memiliki uang, mereka memiliki makanan, tapi setelah uang habis mereka akan kesulitan lagi. Dengan pengetahuan, mereka bisa membangun hidup sendiri,” ujar Zhang Zhisheng. 

Ia juga menyoroti harmoni kehidupan 20 juta umat Muslim di China yang didukung oleh fasilitas lebih dari 40.000 masjid sebagai bentuk kedekatan budaya dengan masyarakat Indonesia.

​Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia M Iqbal, mengapresiasi kehadiran Konjen RRT sebagai bentuk dukungan moral bagi para relawan. 

BACA JUGA : Toleransi Diperkuat pada Perayaan Idhul Fitri – Nyepi 2026

Ia berharap kerjasama ini dapat berkembang ke arah yang lebih strategis, terutama dalam mendukung gerakan literasi yang dijalankan oleh anak-anak muda di NTB.

​”Harapannya, apa yang dibagikan dari teman-teman Konjen China di Denpasar ini bisa menambah keceriaan dan semangat kita untuk terus bergerak. Kita ingin menceritakan kepada Mr. Zhang apa gerakan yang kita lakukan di sini, siapa tahu ke depan kita bisa bekerja sama di bidang literasi karena masa depan ada di tangan teman-teman semua,” ungkap Sinta Agathia.

Kemah Listerasi

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Ashari, SH., MH., menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinan Bunda Literasi, NTB telah menunjukkan perkembangan signifikan.

  • NTB menjadi satu-satunya provinsi yang menyelenggarakan Kemah Literasi disertai pengukuhan Bunda Literasi Desa se-NTB untuk menggerakkan kreativitas hingga ke tingkat akar rumput.

​Selanjutnya pembagian paket buku secara simbolis untuk perwakilan dari 16 komunitas relawan literasi se-Pulau Lombok ini menjadi ajang diskusi mengenai potensi kolaborasi teknologi dan edukasi. 

Pihak Dinas Perpustakaan menyambut baik rencana bantuan dari Konsulat China untuk pengembangan Perpustakaan NTB ke depan. Hal itu akan meningkatkan minat baca masyarakat di seluruh provinsi.

BACA JUGA :  Angkutan Lebaran di Terminal Mandalika

Sinta Agathia juga berharap gerakan ini dapat terus meluas, tidak hanya di Pulau Lombok tetapi juga menjangkau rekan-rekan relawan di Pulau Sumbawa untuk menciptakan ekosistem literasi yang merata.san/diskominfotik)

 




Mudik Gratis Kuotanya Meningkat Dua Kali Lipat

Program Mudik Gratis ini sebagian besar diikuti oleh mahasiswa asal Pulau Sumbawa yang sedang menempuh pendidikan di Pulau Lombok

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menyelenggarakan program Mudik Gratis bagi masyarakat yang hendak pulang ke Pulau Sumbawa menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. 

Tahun ini, sebanyak 400 peserta diberangkatkan dari Pulau Lombok menuju berbagai daerah di Pulau Sumbawa, mulai dari Kabupaten Sumbawa Barat hingga Kota Bima. 

BACA JUGA : Desa Berdaya Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Program mudik gratis ini digagas sebagai bentuk pelayanan pemerintah dalam memastikan perjalanan mudik masyarakat berlangsung aman, nyaman, dan terjangkau.

Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal menyampaikan,jumlah peserta mudik gratis tahun ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. 

Peningkatan ini menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam memperluas pelayanan kepada masyarakat, khususnya mahasiswa dan warga Pulau Sumbawa yang berada di Pulau Lombok.

BACA JUGA :  Wagub NTB Buka Bazar Ramadhan BPR NTB

Tahun lalu Pemprov NTB bisa memberangkatkan 200 orang. 

“Tahun ini alhamdulillah kita bisa membe rangkatkan 400 orang untuk mudik gratis, mulai dari ujung barat Pulau Sumbawa sampai ujung timur Pulau Sumbawa, dari Kabupaten Sumbawa Barat sampai Bima,” ujar Gubernur Iqbal, saat melepas pemudik di depan Pendopo Gubernur NTB, Sabtu (14/03/26) Maret 2026.

Gubernur juga memastikan, kondisi jalur utama Trans Pulau Sumbawa dalam keadaan baik dan siap dilalui para pemudik. 

Sejumlah titik jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan telah diperbaiki oleh tim dari Dinas PUPR dan Balai Jalan sehingga tidak akan mengganggu kelancaran perjalanan.

“Tadi pagi saya baru saja tiba dari Pulau Sumbawa setelah Safari Ramadhan dan minggu lalu juga saya melintasi jalur utama dari Sumbawa Barat sampai Sape. Alhamdulillah kondisi jalur utama InsyaAllah sangat baik. Beberapa titik yang mengalami kerusakan sudah dipersiapkan dan diperbaiki oleh teman-teman dari PUPR dan Bale Jalan sehingga InsyaAllah perjalanan Trans Pulau Sumbawa akan berjalan lancar,” jelasnya.

BACA JUGA : Dokter Jack Selamat Jalan ~ Dokter Happy

Selain memastikan kesiapan infrastruktur, Pemprov NTB juga memberikan perlindungan tambahan bagi seluruh peserta mudik gratis melalui fasilitas asuransi perjalanan. 

Para peserta juga mendapatkan layanan konsumsi untuk berbuka puasa selama perjalanan agar tetap nyaman hingga tiba di daerah tujuan masing-masing.

Program Mudik Gratis ini sebagian besar diikuti oleh mahasiswa asal Pulau Sumbawa yang sedang menempuh pendidikan di Pulau Lombok. 

Ke depan, Pemerintah Provinsi NTB berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas pelayanan agar lebih banyak masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

“Semua yang ikut dalam bus mendapatkan asuransi, jadi tidak hanya terberkahi perjalanannya tetapi juga terlindungi. Kami berharap ke depan jumlah bus yang disediakan bisa lebih banyak sehingga bukan hanya mahasiswa, tetapi masyarakat umum juga bisa memanfaatkan program mudik gratis ini,” tutup Gubernur Iqbal. nov/her

 

 




Dana Guru Non ASN dan Honorer Madrasah Sudah Cair 

Dana BOS Madrasah dan BOP RA langsung disalurkan ke rekening masing-masing lembaga 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Dana untuk membayar gaji guru non-ASN atau guru honorer yang belum memiliki sertifikasi, mulai cair hari Senin (09/03/26)

Pencairan dana itu diambil dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Madrasah dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Raudhatul Athfal (RA). Kini dana tersebut sudah bisa dicairkan secara bertahap. 

BACA JUGA : Mudik Gratis Bagi Pelajar dan Mahasiswa, Ayo Manfaatkan

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno mengatakan, kebijakan pencairan dana ini menjadi salah satu langkah afirmatif pemerintah dalam mendukung kesejahteraan tenaga pendidik di madrasah swasta.

“Lembaga RA dan madrasah yang telah menuntaskan persyaratan administratif sudah dapat menerima dana BOP dan BOS. Proses ini akan terus berjalan secara progresif hingga seluruh lembaga penerima mendapatkan haknya,” ujar Amien Suyitno.

BACA JUGA : Buka Puasa Bersama Jadi Pemiu Banyak Penyakit 

Dia menjelaskan, peningkatan kesejahteraan guru tidak hanya melalui Tunjangan Profesi Guru (TPG). Dana BOS juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pembayaran honor guru non-ASN, khususnya yang belum mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Pada tahap pertama tahun anggaran 2026, pemerintah mengucurkan total dana sebesar Rp4,5 triliun untuk lebih dari 83.000 lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. 

Jumlah ini terdiri atas Rp4,1 triliun BOS Madrasah Swasta untuk sekitar 52.000 madrasah serta Rp428 miliar BOP untuk sekitar 31.000 lembaga RA.

Dana BOS Madrasah dan BOP RA langsung disalurkan ke rekening masing-masing lembaga sehingga dapat segera dimanfaatkan. 

BACA JUGA : Menteri Agama Soroti Kualitas Pengeras Suara di Masjid

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Nyayu Khodijah, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan bank penyalur agar proses pencairan berjalan lancar. 

Menurut Nyayu, seluruh madrasah dan RA yang telah mengunggah dokumen persyaratan melalui sistem DMRKAM dapat langsung mencairkan dana tersebut di bank penyalur. 

Bagi lembaga yang masih dalam proses pengunggahan data, Kementerian Agama memberikan perpanjangan waktu agar proses pencairan tetap dapat berjalan paralel.

Penggunaan dana BOS tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. Maksimal 60 persen dari total dana BOS dapat digunakan untuk pembayaran gaji guru.

Sementara sisanya dialokasikan untuk mendukung kebutuhan operasional dan peningkatan kualitas pembelajaran di madrasah.dan




Anak di Bawah 16 Tahun Tak Boleh Miliki Akun di Platform Digital

Pemerintah memastikan tanggung jawab perlindungan anak di bawah 16 tahun berada pada platform yang mengelola ruang digital

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemerintah mengambil satu langkah penting untuk masa depan anak di bawah 16 tahun.

Melalui Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 turunan dari PP TUNAS, pemerintah menetapkan bahwa anak di bawah 16 tahun tidak lagi dapat memiliki akun pada platform digital berisiko tinggi.

BACA JUGA : Menteri Agama Soroti Kualitas Pengeras Suara di Masjid

Mulai 28 Maret 2026, implementasi dilakukan secara bertahap, dimulai pada platform seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox.

Keputusan ini diambil karena ancaman di ruang digital bagi anak di bawah 16 tahun semakin nyata: pornografi, perundungan siber, penipuan online, hingga adiksi digital.

“Kami memahami langkah ini mungkin menimbulkan ketidaknyamanan di awal,” kata Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) RI Meutya Hafid.

BACA JUGA : Tiket ke Rinjani Bisa Dipesan, Pendakian Dibuka 1 April

Kata dia, pemerintah tidak bisa tinggal diam ketika masa depan anak-anak dipertaruhkan. 

Pemerintah memastikan tanggung jawab perlindungan anak di bawah 16 tahun berada pada platform yang mengelola ruang digital, sehingga orang tua tidak harus menghadapi tantangan ini sendirian.

“Teknologi harus memanusiakan manusia, bukan mengorbankan masa kecil anak-anak kita,” kata Meutya Hafid.

Dia pun beraudiensi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi untuk membahas implementasi PP TUNAS sebagai langkah penguatan perlindungan anak di ruang digital.

Pertemuan ini menyoroti kesiapan penyelenggara sistem elektronikdenga dalam menerapkan kebijakan tersebut, sekaligus pentingnya sosialisasi kepada orang tua dan satuan pendidikan agar implementasinya dapat berjalan bertahap, tepat sasaran, dan efektif.

BACA JUGA : Takbiran Bisa Saja Berbarengan dengan Hai Raya Nyepi

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di bawah 16 tahun bersama Kementerian Komunikasi dan Digital sepakat memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan kementerian/lembaga terkait serta satuan pendidikan dan




Inovasi Mahasiswa, Bikin Mesin Pengiris Tempe Tenaga Surya

Inovasi teknologi itu memungkinkan pengaturan ketebalan irisan tempe secara presisi dan konsisten sesuai kebutuhan produksi

MATARAM,LombokJournal.com – Inilah inovasi mahasiswa Fakultas Teknik dari Universitas Mataram (Unram). 

Inovasi mereka mencoba menciptakan mesin pengiris tempe menggunakan tenaga listrik dari surya. Ide ini dilontarkan setelah menyelesaikan kegiatan Praktik Kerja Lapangan/magang di BRIDA NTB pada Senin (02/03/26).

BACA JUGA : Ummi DindA ke Dompu Tinjau Keiskinan Ekstrem Warga

Melalui program magang tersebut, para mahasiswa berkesempatan untuk menyampaikan ide-ide inovatifnya dengan berbagai media. Salah satu inovasi unggulan yang dihasilkan adalah rancangan mesin pengiris tempe otomatis berbasis panel surya dan sistem kontrol otomatis.

Inovasi ini dirancang sebagai bentuk dukungan terhadap program MBG yang setiap harinya membutuhkan penyediaan sekitar 3.000 porsi. 

BACA JUGA : Magnet Pariwisata Baru, NTB Tak Jualan Pantai Iyi itu Saja

Mesin pengiris tempe ini memanfaatkan panel surya sebagai alternatif untuk menggerakkan motor listrik, sehingga lebih hemat energi dan ramah lingkungan. 

Dari sisi kapasitas produksi, mesin ini mampu mengiris tempe hingga 216 kilogram per jam, menjadikannya solusi efektif untuk skala produksi besar.

Secara teknis, mesin ini dirancang dengan sistem otomatisasi berbasis arduino, mikrokontroler, dan sensor ultrasonik. 

Inovasi teknologi itu memungkinkan pengaturan ketebalan irisan tempe secara presisi dan konsisten sesuai kebutuhan produksi.

BACA JUGA : Jemaah Umrah Diminta Tunda Keberangkatan

Koordinator Pokja Inovasi, Hilirisasi dan Kemitraan, Lale Ira Amrita Sari menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif serta mendukung penguatan ekosistem inovasi daerah.dan




Dana Bantuan Madrasah Swasta Cair Sebelum Lebaran

Jika sebelumnya dana bantuan disalurkan per triwulan, mulai 2026 mekanismenya dipadatkan menjadi dua tahap dalam setahun

MATARAM.LombokJournal.com ~ Dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Raudhatul Athfal (RA) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Madrasah Tahap I Tahun Anggaran 2026 ditargetkan sudah masuk ke rekening penerima Dana Bantuan sebelum lebaran.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, pencairan BOP RA dan BOS Madrasah menjadi momentum krusial menjelang hari raya.

BACA JUGA : Bocah 4 Tahun Hanyut di Saluran  Drainase

“Target kami jelas, sebelum Idul Fitri dana bantuan sudah terealisasi. Lembaga tidak boleh terganggu aktivitasnya,” ujar Menag Nasaruddin Umar, Selasa 24 Februari 2026. 

Menurutnya, anggaran yang akan dicairkan pada tahap I ini mencapai Rp4,5 triliun, terdiri atas: Rp428 miliar anggaran BOP RA dan Rp4,1 triliun anggaran BOS Madrasah. 

“Anggaran ini diperuntukkan bagi sekitar 31 ribu RA dan 52 ribu madrasah swasta,” katanya dilansir dari laman resmi Kemenag.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno menjelaskan, tahun ini, pemerintah mengubah pola distribusi anggaran BOP RA dan BOS Madrasah. Jika sebelumnya dana bantuan disalurkan per triwulan, mulai 2026 mekanismenya dipadatkan menjadi dua tahap dalam setahun—berbasis emester.

BACA JUGA : Kudapan Ini Banyak Disantap Saat Takjil

Menurut Amien Suyitno, skema baru ini disebut lebih adaptif terhadap kebutuhan riil madrasah dan RA, sekaligus menyederhanakan proses administrasi. 

Namun, percepatan itu juga menuntut kedisiplinan tinggi dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari operator lembaga hingga kantor wilayah di daerah. 

Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, memastikan seluruh proses pencairan dana BOP RA dan BOS Madrasah 2026 dilakukan secara digital melalui portal resmi Kementerian Agama. 

Menurut dia, digitalisasi bukan sekadar formalitas, melainkan upaya mempercepat verifikasi dan meminimalkan potensi kesalahan administratif.

Sejalan dengan itu, ada dua tahapan yang harus dicermati pengelola RA dan Madrasah. 

Pertama, pengajuan berkas mulai 22 Februari sampai 3 Maret 2026. 

Kedua, verifikasi berkas dari 22 Februari sampai 4 Maret 2026.

Nyayu Khodijah mengigatkan, kelalaian sekecil apa pun dalam pengunggahan dokumen dapat berdampak langsung pada jadwal pencairan dana bantuan itu. 

BACA JUGA : Hujan Lebat dan Angin Kencang Sampai 1 Maret 2026

“Pastikan seluruh dokumen lengkap dan diunggah tepat waktu. Jangan sampai keterlambatan administratif menghambat hak lembaga,” tutupnya.(*)

 




Anak-Anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosial

 Anak=anak dibatasi bermedia sosial ubtuk melindungi anak dari konten berbahaya, perundungan siber, dan eksploitasi

MATARAM, LombokJournal.com ~ Bermedia sosial dibatasi. Tapi khusus bagi anak-anak. Ya, anak di bawah 13 tahun dibatasi ketat. 

BACA JUGA : Kurma dari Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-oleh Haji

Sedangkan yang berusia 13 sampai 16 tahun dapat mengakses dengan syarat dan pendampingan orangtua. 

Kebijakan ini melindungi anak dari konten berbahaya, perundungan siber, dan eksploitasi.

BACA JUGA : Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

Peran orangtua dan kepatuhan platform digital menjadi kunci perlindungan anak di ruang digital.

Dikutip dari Instagram Komdigi, mulai Maret 2026, akses media sosial untuk anak-anak akan dibatasi demi menciptakan ruang digital yang lebih aman.

BACA JUGA : Cara Ajarkan Anak Agar Bisa Jaga Diri

Kebijakan ini bertujuan melindungi anak-anak dari konten berbahaya, perundungan siber, hingga potensi eksploitasi di dunia digital. (*)