Persaingan Bisnis, Dinamika Merebut Pelanggan 

Menghadapi persaingan bisnis, suatu perusahaan dapat bertahan jika memiliki keunggulan produk dan peningkatan pelayanan terhadap konsumen

persaingan bisnis adalah perseteruan atau rivalitas antara pelaku bisnis yang secara independen berusaha mendapatkan konsumen
Catatan manajemen : Agus K. Saputra

lombokjournal.com ~ Catatan sebelumnya di media ini menyinggung soal apa yang disebut perusahaan sukses. Perusahaan disebut sukses memasarkan produk, kalau produknya selalu dicari, dibeli, dan dikonsumsi secara rutin oleh konsumen. 

Kalau begitu, bagaimana membuat suatu produk agar sukses? 

BACA JUGA : Mega Planning Model; “Dunia Seperti Apa yang Kamu Inginkan?”

Jawabannya tergantung pada tiga aktor utama: pelanggan, pesaing, dan perusahaan itu sendiri. Ketiganya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.

Terkait hal itu, kali ini kita tambah bahasan soal persaingan bisnis. Mengutif Anindyadevi Aurellia (detikFinace Kamis, 22 Sept 2022 07.45WIB), Mudrajad Kuncoro di bukunya berjudul “Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif” menjelaskan, definisi persaingan berasal dari bahasa Inggris yaitu competition yang artinya persaingan itu sendiri atau kegiatan bersaing, pertandingan, dan kompetisi. 

Persaingan bisnis terjadi ketika organisasi atau perorangan berlomba untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti konsumen, pangsa pasar, peringkat survei, atau sumber daya yang dibutuhkan.

Sementara secara umum, persaingan bisnis adalah perseteruan atau rivalitas antara pelaku bisnis yang secara independen berusaha mendapatkan konsumen dengan menawarkan harga yang baik dengan kualitas barang atau jasa yang baik pula.

Dilansir dari buku “Dinamika Pemasaran Jelajahi Dan Rasakan Pemasaran” oleh M Taufik, suatu bisnis dinilai tidak akan pernah terlepas dari unsur persaingan. 

BACA JUGA : Prinsip 80/20; Tentang Efek (Hasil) dan Penyebabnya (Upaya)

Sebab apa pun itu inovasinya, sejatinya tidak mungkin ada suatu usaha yang murni menikmati penjualan dan keuntungan. Paling tidak, bukan untuk waktu yang lama untuk menikmati suatu usaha karena akan ada pesaing yang ingin turut menikmatinya.

Bentuk Persaingan Bisnis

Dalam dunia persaingan bisnis dikenal dengan dinamika persaingan dalam memperebutkan pelanggan. Maka, setiap perusahaan perlu memperhatikan dinamika pasar agar bisa mengikuti persaingan. Bentuk persaingan bisnisnya sebagai berikut:

  1. Persaingan Sehat (Healthy Competition)

Akhmad Mujahidin dalam buku ”Ekonomi Islam” menjelaskan bahwa persaingan sehat merupakan persaingan antar perusahaan atau pelaku bisnis, yang diyakini tidak akan melakukan tindakan yang tidak layak dan cenderung mengedepankan etika-etika bisnis

      2. Persaingan Tidak Sehat (Cut Throat Competition)

Persaingan ini merupakan bentuk persaingan yang tidak sehat atau fair, dimana terjadi perebutan pasar antara beberapa pihak yang melakukan usaha yang mengarah pada menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan, sehingga salah satu tersingkir dari pasar dan salah satunya menjual barang dibawah harga yang berlaku di pasar.

Aspek dalam Persaingan Bisnis

  1. Ancaman Masuknya Pendatang Baru

Masuknya sejumlah pendatang baru akan menimbulkan sejumlah implikasi bagi usaha bisnis yang sudah ada, misalnya kapasitas menjadi bertambah, terjadinya perebutan sumber daya produksi yang terbatas.

  1. Ancaman dari Produk Substitusi

Gumbira-Sa’id menjelaskan dalam buku Manajemen Strategis Perspektif Syariah, bahwa walaupun produk substitusi memiliki karakteristik yang berbeda, namun ia dapat memberikan fungsi atau jasa yang sama. Karenanya, produk substitusi yang berharga lebih rendah akan mengancam produk yang ada.

  1. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli

Pembeli mampu mempengaruhi penjual untuk memotong harga, untuk meningkatkan mutu dan servis serta mengadu perusahaan kompetitor melalui kekuatan yang mereka miliki. Beberapa kondisi yang memungkinkan hal tersebut, yakni saat pembeli membeli dalam jumlah yang besar dan produk perusahaan dipandang tidak terlalu penting bagi pembeli sehingga pembeli mudah berpaling pada produk substitusi.

  1. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok

Selain pembeli, pemasok juga dapat mempengaruhi industri melalui kemampuan mereka untuk menaikkan harga atau pengurangan kualitas produk. Pemasok akan kuat bila jumlah pemasok sedikit, produk yang ada unik, dan tidak ada produk substitusi.

Persaingan Bisnis yang Sehat

Suhasril dan Mohammad Taufik Makarao menjelaskan dalam buku “Hukum Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di Indonesia”, persaingan sehat memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Menjamin persaingan di pasar yang inheren dengan pencapaian efisiensi ekonomi di semua bidang kegiatan usaha dan perdagangan.
  2. Menjamin kesejahteraan konsumen serta melindungi kepentingan konsumen.

3.Membuka peluang pasar yang seluas luasnya dan menjaga agar tidak terjadi konsentrasi kekuatan ekonomi pada kelompok tertentu.

Dalam menghadapi persaingan, suatu perusahaan dapat bertahan jika memiliki keunggulan produk dan peningkatan pelayanan terhadap konsumen.

Alasan Mencintai Pesaing

Menurut Ippho Santoso dalam buku “Muhammad sebagai Pedagang” (2008 hal 73-81) ada banyak alasan untuk mencintai pesaing, yaitu:

Educating the customer

Pelopor positioning Al Ries pernah bilang, bersikap bersahabatlah terhadap pesaing. Contohnya, Coca Cola sebenarnya berutang budi pada Pepsi Cola. Karena perseteruan antara Coke dan Pepsi membuat konsumen semakin sadar akan keberadaan kola.

Ingat, konsumen selalu memiliki pilihan. Mengapa harus kola? Toh, konsumen bisa memesan air mineral, jus buah atau lainnya. Kalau bermain sendiri, Coke akan kelabakan mendidik atau mengedukasi konsumen untuk menyukai kola. Untunglah Pepsi muncul (walau kemudian Coke menyeret Pepsi ke pengadilan).

Gathering the customer

Hermawan Kartajaya mengumpamakan, pedagang martabak akan kelimpungan jika jualan sendirian. Ia akan sangat terbantu jika pedagang martabak yang ikut jualan di sampingnya. Begitu para pedagang martabak berkumpul, maka pastilah pembeli akan berbondong-bondong menghampiri tempat tersebut.

BACA JUGA : Pemantauan Pos Pengamanan Jelang Nataru

Expanding the market

Ibaratnya begini. Kalau makan kue sendirian bisa “enek”. Lebih nikmat kalau makan bareng-bareng. Selama ini kita khawatir, munculnya pesaing dapat memperkecil irisan kue (market share) yang selama ini kita nikmati. Padahal, saat waktu yang sama, hadirnya pesaing turut memperbesar ukuran kue (marker size). Inilah manfaat utama dari persaingan, yakni mengedukasi dan menghimpun konsumen, sehingga pada akhirnya memperluas pasar secara keseluruhan.

Impoving self-performance

Sesungguhnya, persaingan itu adalah anugerah, bukan musibah. Analoginya,”Apa gunanya jadi juara umum, kalau ternyata balap karung sendirian? Apa gunanya jadi juara dunia, kalau ternyata lawannya hanya anak TK?” Nah hal ini sangat gampang dipahami. Karena pesaing yang sedemikian akan menggedor potensi diri kita. Bukankah ini anugerah? 

Conducting benchmarking

Manfaat dari persaingan adalah sebagai kayu ukur. Maksudnya, apabila nyatanya pesaing lebih lihai dari kita, ya sudah, tiru saja. Inilah yang disebut benchmarking. Dalam bahasa Jawa dikenal dengan 5N, yaitu Niteni, Nitili, Niroake, Nambahi, Nempeli. Atau “bahasa gaulnya”: ATM, yaitu Amati, Tiru, Modifikasi.

Creating positive image

Umpamanya. Tidak sedikit nahkoda diberi penghargaan gara-gara adanya badai. Itu artinya, nahkoda butuh badai. Makanya, kalau perlu, pesaing itu diciptakan. Ingatlah: we are born to COMPLETE, not to COMPETE.

Sabda Nabi Muhammad, “Allah tidak akan berbelas kasih kepada seseorang, apabila orang itu tidak mengasihi sesamanya.” Dan Allah berfirman, “Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan rahmat bagi semesta alam.”

Sekali lagi, menjadi rahmat bagi semesta alam, tidak terkecuali terhadap pesaing.

#AkuAir-Perumnas, 24-12-2024

 

 




Investasi Diri Berdampak pada Perkembangan Karier 

Pentingnya investasi diri itu ditekankan Adi Pranajaya, yang harus dijaga melalui silaturahmi dengan kesetaraan

lombokjournal.com ~ Pentingnya investasi diri itu sempat ditekankan Adi Pranajaya, seorang anak Sumbawa yang berani hijrah ke Jakarta hingga menjadi sineas yang telah membuat lebih dari 90 judul film. 

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram, beberapa waktu lalu hari Kamis (28/11),  menyelenggarakan Kuliah Praktisi yang disampaikan oleh Adi Pranajaya. Materinya: Behind The Scene: Mengupas Tantangan Nyata dalam Industri Perfilman. Adi Pranajaya membagikan pengalaman hidupnya

BACA JUGA : Investasi ENergi Baru Terbarukan Ditawarkan di NTB

Investasi diri sering kali berdampak langsung pada perkembangan karier dan potensi penghasilan
Adi Pranajaya menekankan investasi diri

Dia juga mengisahkan bagaimana ia belajar pada tokoh-tokoh budayawan, mengikuti sekolah film, dan bekerja di bawah arahan sutradara legendaris Teguh Karya.

Beberapa hal dapat dipetik, yaitu pertama, apa pun bidang cita-cita, jangan berpindah jika terbentur halangan. Tetap fokus dan istiqomah. Imbangi dengan kemampuan untuk terus bergerak.

Kedua, keluar dari zona nyaman. Daripada jadi semut di daerah sendiri. Lebih baik jadi ekor gajah di kota lain (ibu kota). Banyak bergaul dengan orang-orang hebat.

Ketiga, setiap pekerjaan harus tetap ditekuni, berproses dan wujud dari pelaksanaan integritas. Ini menumbuhkan jiwa petarung.

“Sponsorship itu bisnis. Jangan minta (jika produk kita tidak mempunyai value added). Perhatikan pula nilai-nilai pengorbanan kita. Oleh karena itu, investasi diri adalah kredibilitas yang harus dijaga melalui silaturahmi dengan kesetaraan,” ujar Adi Pranajaya. 

Banyak orang menganggap investasi melulu soal modal, uang dan return. Namun sebagian dari mereka yang mengabaikan bahwa investasi untuk diri sendiri sering terlupakan. 

Investasi diri, disebut juga investasi leher ke atas, adalah istilah yang dipakai untuk menyebut serangkaian proses dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan kemampuan diri. 

Usia produktif 17-25 tahun adalah saat tepat untuk memulai. Dengan mencari passion yang disuka. Setelah ketemu, perdalam sehingga akhirnya menjadi jago dan ahli dengan cara menaikkan skill diri. 

BACA JUGA : Parade Budaya dan Expo Meriahkan HUT NTB ke 66

Dengan sendirinya kemampuan diri bakal meningkat dan setelahnya value pun turut terkerek naik. Karena hasil yang diinvestasikan di sini menghasilkan cuan juga. Money will follow value! (https://www.treasury.id/investasi 19 Oktober 2023)

Ada tujuh alasan utama mengapa investasi diri sangat penting untuk meningkatkan nilai diri (Rendy Firmansyah dalam https://www.idntimes.com 08 Dec 2024 / 20.01)

  1. Menambah pengetahuan dan keterampilan

Dalam dunia yang terus berkembang, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang relevan sangat penting. Ketika kamu berinvestasi dalam pendidikan atau pelatihan, kamu membuka pintu untuk kesempatan baru. Pengetahuan yang kamu peroleh bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah, menghadapi tantangan, atau bahkan menciptakan inovasi.

Dengan belajar secara terus-menerus, kamu juga akan lebih percaya diri menghadapi perubahan di lingkungan kerja atau kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, mengikuti kursus online, membaca buku, atau menghadiri seminar adalah bentuk investasi yang dapat meningkatkan wawasan kamu. Pengetahuan yang luas memberikan kamu keunggulan kompetitif di berbagai bidang.

  1. Meningkatkan karier dan potensi penghasilan

Investasi diri sering kali berdampak langsung pada perkembangan karier dan potensi penghasilan kamu. Mengikuti pelatihan profesional atau mendapatkan sertifikasi di bidang tertentu dapat meningkatkan kredibilitas dan keterampilan kamu di mata perusahaan. Dengan keahlian yang lebih baik, kamu memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan promosi atau pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.

Tidak hanya itu, berinvestasi pada pendidikan juga membuka peluang untuk masuk ke industri baru yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau. Selain itu dari sisi penghasilan, peningkatan karier ini memberikan kamu kepuasan emosional. Kamu merasa lebih dihargai atas kontribusi yang kamu berikan di tempat kerja. Dengan dukungan karier yang stabil, kamu pun dapat merencanakan masa depan finansial dengan lebih percaya diri.

  1. Meningkatkan kepercayaan diri

Saat kamu terus belajar dan berkembang, rasa percaya diri kamu juga akan meningkat. Ketika kamu merasa mampu menguasai keterampilan baru atau mengatasi tantangan tertentu, kepercayaan pada kemampuan diri kamu akan bertambah. Hal ini sangat penting karena rasa percaya diri adalah fondasi utama untuk mencapai tujuan apa pun dalam hidup.

Investasi dalam kepercayaan diri juga mencakup pemahaman mendalam tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Dengan mengenali potensi yang kamu miliki, kamu bisa mengarahkan energi ke arah yang lebih produktif. Hasilnya, kamu akan lebih menikmati perjalanan menuju kesuksesan.

  1. Membangun jaringan yang lebih luas

Investasi pribadi sering kali melibatkan berinteraksi dengan individu atau komunitas yang memiliki minat serupa. Dengan bergabung dalam program pelatihan, seminar, atau komunitas profesional, kamu dapat memperluas jaringan kamu. Jaringan ini bisa membuka peluang baru, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi.

Selain manfaat profesional, jaringan yang luas memberikan dampak positif pada kesehatan mental kamu. Dukungan dari komunitas yang memahami tantangan kamu dapat membantu mengurangi stres. Dengan hubungan yang baik, kamu juga akan merasa lebih termotivasi untuk terus berkembang.

  1. Menjaga keseimbangan fisik dan mental

Investasi diri tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan dan karier, tetapi juga mencakup aspek fisik dan mental. Menjaga kesehatan tubuh dengan berolahraga, makan sehat, atau mengikuti program mindfulness adalah bentuk investasi yang sangat penting. Dengan kondisi fisik dan mental yang baik, kamu dapat lebih produktif dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih positif.

Keseimbangan fisik membantu kamu menjaga energi sepanjang hari, sehingga kamu bisa fokus pada tugas-tugas penting. Selain itu, investasi dalam kesehatan juga mencakup waktu untuk istirahat dan relaksasi. Mengambil jeda dari rutinitas yang padat memungkinkan kamu mengisi ulang energi. Dengan tubuh dan pikiran yang segar, kamu akan lebih siap menghadapi hari-hari berikutnya.

  1. Mencapai tujuan hidup yang lebih besar

Dengan berinvestasi dalam diri sendiri, kamu bisa lebih fokus pada tujuan jangka panjang kamu. Ketika kamu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup, kamu akan lebih mudah merencanakan langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Investasi ini membantu kamu menemukan arah yang jelas dan tetap termotivasi untuk mencapainya.

Tujuan hidup yang jelas membuat kamu lebih disiplin dalam menjalani keseharian. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dan bagaimana mencapainya. Selain itu, dengan menetapkan prioritas, kamu bisa lebih bijaksana dalam mengalokasikan waktu dan energi. Dengan terus melangkah maju, kamu akan merasakan kebahagiaan sejati yang berasal dari pencapaian yang berarti.

  1. Memberikan kepuasan dan kebahagiaan

Investasi pribadi tidak hanya memberi manfaat secara materi, tetapi juga secara emosional. Ketika kamu melihat diri kamu berkembang, ada rasa kepuasan yang sulit digambarkan. Kamu merasa bahwa waktu, energi, dan uang yang kamu habiskan untuk belajar dan tumbuh tidak sia-sia.

Lebih dari itu, kebahagiaan yang kamu peroleh dari investasi diri pribadi bersifat jangka panjang. Setiap pencapaian kecil menjadi batu loncatan menuju tujuan yang lebih besar. Dengan terus berinvestasi pada diri sendiri, kamu memastikan bahwa hidup kamu selalu bergerak ke arah yang lebih baik.

BACA JUGA : Prinsip 80/20; Tentang Efek (Hasil) dan Penyebabnya (Upaya) 

Investasi diri pribadi adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan nilai diri kamu. Mulailah langkah kecil hari ini untuk menjadi versi terbaik dari diri kamu. Tidak ada kata terlambat untuk berkembang dan mencapai impian kamu! Jangan lupa, setiap keputusan yang kamu ambil untuk diri sendiri adalah investasi untuk masa depan yang lebih cerah.

Menjawab pertanyaan peserta Kuliah Praktisi, Adi Pranajaya mengingatkan bahwa menjadi pemimpin berkarakter pun membutuhkan integritas, kerja keras, dan konsistensi. 

“Jangan tergiur oleh rayuan uang kotor, percayalah pada diri sendiri, teruslah belajar, membaca, dan menulis. Semua itu adalah fondasi untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya sukses tetapi juga dihormati,” tegasnya. ***

AKUAIR-Perumnas Ampenan, 16-12-2024

 




Prinsip 80/20; Tentang Efek (Hasil)  dan Penyebabnya (Upaya)

Dengan mempraktekkan prinsip 80/20, kehidupan akan jadi lebih menyenangkan, berbahagia dan sehat, karena waktu yang kita pergunakan menghasilkan 80 persen lebih baik

Prinsip ini apabila kita praktikan dalam kehidupan maka kehidupan kita akan jadi lebih menyenangkan, lebih berbahagia dan lebih sehat
Catatan manajemen : Agus K. Saputra

lombokjournal.com ~ Prinsip 80/20  adalah konsep terkenal yang telah ada selama beberapa dekade, tetapi menjadi semakin relevan di dunia yang serba cepat dan terus berubah saat ini.

BACA JUGA : Perguruan Tinggi : From Passengers To Be Drivers

Konsep ini juga dikenal sebagai Prinsip Pareto dan menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, kira-kira 80 persen efeknya berasal dari 20 persen penyebabnya. 

Dengan kata lain, sebagian besar efek atau hasil dihasilkan oleh sebagian kecil upaya atau sumber daya. Konsep ini dapat diterapkan pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan dan bisnis hingga hubungan dan pengambilan keputusan.

Prinsip Pareto dikembangkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto, pada tahun 1896. Pareto mengamati bahwa 80 persen tanah di Italia hanya dimiliki oleh 20 persen populasi. Dia juga menyaksikan hal ini terjadi pada tanaman di kebunnya — 20 persen tanamannya menghasilkan 80 persen buah. 

Hubungan ini paling baik digambarkan secara matematis sebagai distribusi hukum pangkat antara dua besaran, di mana perubahan dalam satu besaran menghasilkan perubahan yang relevan ke besaran lainnya.

Fenomena ini juga menggunakan beberapa nama berbeda:

  • Prinsip Pareto.
  • Aturan 80/20 (paling umum).
  • Hukum beberapa vital.
  • Prinsip ketersebaran faktor.

Aturan 80/20 bukanlah persamaan matematika formal, tetapi lebih merupakan fenomena umum yang dapat diamati di bidang ekonomi, bisnis, manajemen waktu, dan bahkan olahraga (Dara Tientan Melati, dalam LookMedia: February 20,23)

BACA JUGA : Perubahan Radikal dalam Bisnis

Freddy Rangkuti (dalam bukunya “Keajaiban Teknik Selling Rasulullah”, 2012 hal. 144-147) memberi contoh. Pekerjaan sulit lama kelamaan akan menjadi mudah apabila dikerjakan. Sedangkan pekerjaan mudah lama kelamaan akan menjadi sulit apabila tidak dikerjakan. Artinya, jauh lebih mudah mengerjakan pekerjaan sulit, daripada tidak mengerjakan sama sekali pekerjaan yang mudah.

Karena terbiasa mengerjakan pekerjaan yang sulit, maka pekerjaan tersebut akan menjadi mudah. Sehingga hanya dengan 20 persen energi saja, kita akan memperoleh hasil 80 persen lebih banyak. Ini adalah prinsip 80/20. Itu sebabnya kemudahan selalu ada dibalik setiap kesulitan.

Prinsip ini apabila kita praktikan dalam kehidupan maka kehidupan kita akan jadi lebih menyenangkan, lebih berbahagia dan lebih sehat, karena dari waktu yang kita pergunakan akan menghasilkan 80 persen hasil yang lebih baik. Dengan menggunakan prinsip manajemen waktu seperti ini, kita tidak dikejar-kejar waktu. Sebanyak 80% sisa waktu kita dapat dipakai untuk mengerjakan pekerjaan lain yang kita sukai.

Ada dua pilihan:

1.Kita mengerjakan dengan 20 persen waktu kita, tetapi menghasilkan 80 persen lebih banyak, atau;

2.Kita mengerjakan dengan 80 persen waktu kita, tetapi hanya memperoleh 20 persen hasil saja.

Waktu tidak bergerak dengan kecepatan yang konstan. Waktu bergerak mengikuti pergerakan relatif emosi kita, perhatian kita, dan cara kita memanfaatkan waktu. 

Itu sebabnya, kadang kita merasa waktu seperti lama sekali atau tidak bergerak sama sekali. Sebaliknya kadang terasa cepat, tiba-tiba saja kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun tanpa menghasilkan apa-apa.

BACA JUGA : Presean Budaya Leluhur yang Harus Terus Disosialisasikan

Mengapa kita selalu merasa peristiwa yang sangat menyenangkan cepat sekali berlalu, sedangkan peristiwa yang sangat tidak menyenangkan itu lama sekali. Sekarang saatnya kita balik. Jadikan peristiwa yang sangat menyenangkan itu waktu yang lama sekali, dan peristiwa yang tidak menyenangkan itu hanya singkat saja. Dengan menerapkan prinsip 80/20.

Tanyakan kepada diri sendiri, apakah penggunaan waktu Anda selama ini telah membuat Anda bahagia? Kalau Anda belum merasa berbahagia maka penggunaan waktu Anda salah. Cepat perbaiki.

Bagaimana caranya dengan hanya menggunakan 20 persen waktu kita dapat menyelesaikan semua pekerjaan kita? Gunakan prinsip 80/20 karena kita dapat memperoleh hasil yang luar biasa dengan hanya menggunakan 20 persen energi yang kita miliki. Prinsip ini telah terbukti sukses dan kita akan menikmati kehidupan yang jauh lebih baik. 

Syaratnya kita harus fokus dan berkosentrasi ke dalam pekerjaan yang paling sulit dan paling penting, sehingga akan menghasilkan 80 persen pendapatan yang lebih besar dan berlimpah.

Sebagaimana telah dijelaskan, tulis Freddy Rangkuti, untuk membuka pintu rezeki dari Allah, minimal kita sedekahkan 10 persen pendapatan kita. Semakin besar jumlahnya akan semakin baik, karena Allah sendiri yang akan melipatgandakannya sampai 700 kali. 

Jadi dengan menggunakan prinsip 80/20 ini sebenarnya kita akan memperoleh hasil yang jauh lebih besar. Rezeki yang akan kita peroleh akan bernilai jauh lebih besar apabila dikeluarkan tanpa melihat kondisi kita, apakah pada waktu memiliki uang banyak atau saat memiliki uang sedikit. ***

AKUAIR – Perumnas Ampenan: 09-12-2024




Mega Planning Model; “Dunia Seperti Apa Kamu Inginkan”

Inilah model berpikir Mega Planning yang dimulai dengan menjangkau dunia, “yang kamu inginkan untuk anak-anakmu dan cucu-cucumu kelak?“

Model berpikir mega planning harus memiliki spirit of giving
Catatam Manajemen : Agus K. Saputra

lombokjournal.com ~ Adalah Roger Kaufman, seorang pakar Strategic Management, Profesor Emeritus di Florida State University dan Distinguished Professor di Sonora Institute of Technology yang telah membuat model untuk berpikir Mega (Mega Planning Model)

Kaufman berpendapat, perencanaan perusahaan seharusnya tidak dimulai dan diakhiri dengan indikator internal atau kinerja perusahaan semata. Akan tetapi harus mempertimbangkan nilai-nilai apa yang diberikan kepada community (society).

BACA JUGA : BCG Matrix, Mengelola Portofolio Bisnis yang Efisien dan Efektif

Mega Planning dimulai dengan pertanyaan : “Dunia seperti apa yang kamu inginkan untuk anak-anakmu dan cucu-cucumu kelak?“. 

Mega planning ini disebut juga “Mother’s Rule” karena serupa dengan apa yang dipikirkan oleh seorang ibu yang membayangkan dunia seperti apa yang terbaik bagi anak-anaknya. Mother’s rule tidak bicara tentang means (credentials of teachers, money spent) tetapi lebih kepada survival, kesehatan, dan kebahagiaan untuk anak-anaknya. (Wikipedia)

Menurut Kaufman, cara berpikir dan bertindak yang benar adalah : berpikirlah mulai dari level Mega, kemudian Makro, dan terakhir Mikro. 

Begitulah seharusnya orang berpikir. Sedangkan dalam bertindak, mulailah dari level Company, kemudian Customer, dan terakhir Community (Arief Yahya, Paradox Marketing: April 2013, hal. 205-208 > Buku “Paradox Marketing” tersebut dilandaskan pola berpikir Mega). 

Adapun tingkatan-tingkatan berpikirnya adalah :

Pertama, berpikir Mega. Artinya berpikir untuk level societal needs (kebutuhan masyarakat/community) yang akan memberikan outcomes, berpikir untuk kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia, atau bahkan berpikir bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil alamin). Untuk berpikir mega ini memerlukan pemikiran yang strategic.

Kedua, berpikir Makro. Artinya berpikir untuk level industrial needs (customer) yang akan mendapatkan outputs dan untuk ini memerlukan perencanaan tactical.

Ketiga, berpikir Mikro. Artinya berpikir untuk level professional needs (company) yang akan menghasilkan product dan memerlukan perencanaan yang sifatnya operasional.

BACA JUGA : Perubahan Radikal dalam Bisnis

Jika kita berpikir Makro, maka level Mikro dan level Makro akan kita peroleh. Contohnya jika kita berpikir untuk customer, maka kita akan mendapatkan kedua-duanya. Customer kita akan terpuaskan dan loyal, sekaligus company kita akan dapat menikmati keuntungan dari customer tersebut.

Dan jika kita berpikir Mega, maka level Mikro, level Makro dan level Mega akan kita peroleh semuanya. Contohnya adalah Google, Facebook, dan juga i-pad. Para pembuatnya kemungkinan besar memikirkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Steve Wozniak (co-founder Apple bersama Steve Jobs dan Ronald Wayne) menyampaikan bahwa i-pad dibuat dengan pemikiran agar umat manusia bisa lebih memanfaatkan panca indera yang dimilikinya. Dalam hal ini adalah indra peraba. 

Terbukti dengan cara berfikir Mega seperti itu, Apple bisa mendapatkan semuanya: company, customer dan community.

Untuk dapat berpikir Mega, kita harus memiliki spirit of giving. Melalui cara berpikir Mega berarti pula kita menerapkan konsep The More You Give, The More You Get. Seperti cara berpikir dan bertindak seorang ibu.

Mengapa kita harus berpikir Mega?  Menurut Kaufman setidaknya ada dua alasan. Pertama, sustainability. Perusahaan yang ingin memiliki masa depan, harus berpikir melampaui dirinya sendiri yaitu memikirkan masyarakat, bahkan dunia. 

Kedua, Engagement. Karyawan yang mengetahui mereka bekerja untuk perusahaan yang berkomitmen untuk melakukan hal-hal baik terhadap masyarakat, akan bekerja lebih antusias dan memiliki keterikatan yang lebih baik terhadap perusahaan.

Pun demikian, dalam hal kemungkinan perusahaan dalam posisi terancam, maka kemampuan leadership dipertanyakan. Oleh karena itu, Arief Yahya (dalam Marketeers, 22 April 2020) mengedepankan konsep leadership berbasis pemikiran yang strategis (strategic thinking). Yang terdiri dari Mikro, Makro dan Mega.

BACA JUGA : Perguruan Tunggi, From Passenger to Be Drivers

Seorang pemimpin dengan strategic thinking di level mikro hanya berpikir mengenai perusahaan dan produk. Pemikirannya hanya mengacu kepada “apa”, bukan mengenai “bagaimana” dan “mengapa”.

Sementara, seorang pemimpin dengan pemikiran makro, memiliki orientasi kepada customer (output). Secara sederhana, pola kerja mereka mengacu pada pemikiran “who wins the customer, wins the game”. Pemimpin dengan pemikiran makro cenderung mengedepankan customer, tanpa memikirkan perusahaan.

Seorang leader yang baik, menurut Arief Yahya harus memiliki kemampuan strategic thinking di level mega. Pasalnya, pemimpin di level ini, bukan lagi sekadar memikirkan perusahaan maupun customer, melainkan komunitas.

Ketika Facebook dibuat, Mark Zuckerberg tidak memikirkan diri sendiri atau pun perusahaan yang ia bangun. Lebih dari itu, ia berpikir ingin menciptakan kehidupan yang lebih baik dan mudah bagi setiap orang ketika Facebook hadir.

 Google pun demikian. Mereka bisa sebesar ini karena orientasi mereka untuk memberikan yang terbaik bagi komunitas.

BACA JUGA : Kemah Bisnis dan Outbond untuk Apresiasi Kinerja ASN

Mega thinking merupakan aspek yang harus dimiliki seorang leader. Mega thinking berdasarkan pada konsep spiritual, dan roh yang berbicara. Roh yang konon diciptakan dari cahaya selalu membawa kita ke arah yang tinggi sehingga mereka yang berpikir mega akan menciptakan sesuatu yang besar. Konsepnya, the more you give, the more you get,” jelas Arief Yahya. ***

#AKUAIR-Perumnas Ampenan, 02-12-2024

 

 




Guru yang ‘Ngangeni’, Mengenang Pendidik di Sekolah Dasar*)

Peranan guru di kelas harus diubah, bukan sebagai pemberi ceramah, namun mengutamakan kemampuan merencanakan, mengelola dan mengawasi pembelajaran. 

Guru harus membuka ruang hati seluas-luasnya bagi semua emosi siswanya
Penulis : DR Bajang Asrin*

lombokjournal.com ~ Kurang lebih 40 tahun yang lau, guru Pak Milkan (almarhum) bertugas di SDN 2 Ganti-Lombok Tengah. Selain Pak Milkan, juga ada guru-guruku seperti Pak Hasan, Pak Sunarjo, Pak Malik, Pak Abu Bakar, Ibu Hariati, dan Pak Tajudin. 

BACA JUGA : Perguruan Tinggi : From Passengers to be Drivers

Pak Milkan merupakan sosok Kepala Sekolah yang sangat rajin dan gigih. Ia sosok guru yang sangat memperhatikan anak didiknya. Pak Milkan, sebagai Kepala Sekolah selalu siapa menggantikan pendidik lainnya yang tidak hadir .Ia memberi tauladan kepada siswa dan koleganya. Sosok yang melekat pada memori, tutur bahasanya sangat halus, menyapa siswa sehari-harinya. Ia sangat akrab dengan semua pendidik dan siswanya. 

Suatu hari saya sakit tapi tetap masuk sekolah. Pak Milkan, saat masuk ruang kelas, melihat mata saya merah-merah lalu ia memanggil saya. “Mata mu mengapa merah-merah Rin?” sapanya. 

Waktu saya katakan sedang sakit, spontan Pak Mikan mengajak berobat ke Puskesmas.Pak Milkan sangat memperhatikan siswa didiknya, ia datang lebih awal di sekolah, lalu mengontrol siswa-siswa yang sedang menyapu di ruang kelas, dan mengajak siswa untuk memungut sampah di halaman sekolah. Sosok guru yang penuh ketauladanan. 

Pada tahun-tahun tersebut, masyarakat desa sangat menghargai guru sebagai pendidik di desa. Setiap hari para siswa membersihkan halamannya sendiri. Kehadiran para guru di desa telah membawa semangat perubahan untuk anak-anak sekitarnya.  

Sepenggal memori di atas, menjadi menarik kita refleksikan para pendidik memiliki komitmen moril untuk mendidik siswa-siswanya. Mereka yang telah memberikan semua energinya untuk melahirkan siswa yang disiplin dan memperhatikan kebersihan lingkungan sekitarnya. Dan memberikan darma baktinya untuk melahirkan siswa-siswa yang berkarakter kuat. 

Ketekunan pak Milkan untuk mendidik siswa-siswanya menjadikan sekolah ini mendapat kemajuan tinggi pada masanya. Sekolah ini telah hadir menjadi sekolah berkembang cukup maju di desa tersebut. 

Pak Milkan telah hadir di tengah sisiwa untuk memberikan pendidikan kepada siswa-siswanya di tengah keterbatasan fasilitas sekolah. Siswa-siswa pun memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti pendidikan, Siswa yang berdatangan dari berbagai kampung setiap paginya, melewati persawahan. Mereka berdatangan sekalipun hujan sedang turun dengan derasnya. 

BACA JUGA : Awardee Beasiswa Diharapkan Berkontribusi untuk NTB

Semangat sekolah para anak-anak desa sangat tinggi waktu itu. Prof.Sodjiarto (1989) bahkan menemukan bahwa peranan guru di kelas harus diubah, bukan sebagai pemberi ceramah, yaitu guru hendaknya lebih mengutamakan kemampuan merencanakan, mengelola dan mengawasi terjadinya pembelajaran. 

Bahkan model “pemberi cermah” ini pernah dikritik Paulo Friere, sebagai model pendidikan gaya bank, keranjang sampah, yang mengurangi  perkembangan potensi-potensi siswa secara lebih luas.   

Saat ini para pendidik menghadapi kehidupan sosial yang padat dengan media sosial. Dunia digital menjadikan semua serba sangat cepat dan sangat mudah mengaksesnya. Per-orang dapat mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan,teknologi dan budaya, kata Alfin Toffler ahli futurologi, semua orang jadi wartawan, pada bukunya, The Third Waves.

Semakin komplesknya perkembangan kehidupan masyarakat  membawa pengaruh terhadap lingkungan sekolah. Masalah-masalah peribadi siswa di keluarga atau di tengah masyarakat  memberi dampak pada pencapaian prestasi siswa. Sehingga siswa yang datang ke sekolah tidak lepas dari apa yang terjadi pada lingkungan keluarga atau pun pribadinya. 

Kondisi ini tentu merupakan bagian penting yang harus dipahami seorang guru terhadap diri  siswa. Untuk itulah  para pendidik dituntut untuk mengetahui latar belakang siswa agar dapat dibina potensinya secara maksimal. Guru tidak lagi memberikan informasi secara sepihak terhadap anak didik tetapi dituntut untuk menciptakan suasana agar anak dapat berkembang secara maksimal.

Guru Yang  “Ngangeni ”

John Goodlad (dlm. Prof.Suyanto, 2001) melakukan penelitian dengan publikasi penelitian Behind The Classroom Door menemukan bahwa kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh siapa pendidiknya,  manakala guru sudah memasuki ruang kelas serta pintu kelas tertutup, maka kehidupan kelas akan menjadi wewenang dan tanggung jawab  guru. 

Guru merupakan sosok penting yang mewarnai suasana keriangan sisawa di ruang kelas. Apakah guru merdidik siswa-siswa untuk bergembira atau tidak? Guru yang “Ngangeni” memberi ruang hati selalu ramah dengan pola tingkah laku siswa. Akrab dengan apa yang disenanginya di sekolah..

Guru yang “Ngangeni” menjadi tambatan hati siswa, yang lebih memerankan diri sebagai sahabat bermain di sekolah. Memberilan peran yang merasuk hati siswa untuk lebih dekat, lebih akrab pada jegiatan-kegiatan sekolah.  Guru menjadi idola para siswa  yang inspiratif dan memantulkan energi untuk berkegiatan di sekolah dengan penuh kegembiraan. 

BACA JUGA : Alat Peraga Kampenye Dibersihkan Jelang Pilkada

Pendidik  membuat siswa didiknya senang bertemu, ber sama-sama untuk mengurai permaian sekolah. Ia membawa irama siswa dalam emosi yang tidak menegangkan, tapi menarik siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang ngangeni, sehingga talenta-talenta  dasar  dapat tampak sejak  sekolah dasar.  

Guru yang “Ngangeni” yaitu guru yang mengembangkan pembelajaran yang  Deep Learning, guru menstimulasi agar siswa aktif pada pembelajarannya. Menciptakan suasana rekreatif sehingga siswa menajdi tumbuh berkembang kecerdasan, emosi dan kinestetiknya. 

Guru membuat mata pelajaran menjadi menyenangkan, joyfull and learning, dan anak didik merasa tanpa terbebani apapun dari gurunya. 

Pelajaran mengitung juga dikreasikan dalam permainan yang menarik emosinya dan motoriknya. Guru yang membuka ruang hati yang selaus-luasnya bagi semua emosi siswanya agar terbentuk menjadi karakter yang positif pada keidupan sehari-harinya. 

Mengapa guru yang “Ngangeni”? karena  melalui  respon inilah siswa menjadi bibit yang  tumbuh kembang pada ekosistem pembelajaran berdaya tarik tinggi serta memanamkan laku penjiwaan yang terkenang sepanjang masa, yang bisa mengaitkan diri siswa pada masa dewasanya kelak. Itulah sebabya saat dimana tokoh-tokoh dunia selalu bercerita tentang masa kecilnya, masa yang sangat menguatkan, “deep learning-deep memoriable”. 

Masa kecilnya Bung Karno, Bung Hatta, Nelson Mandela, Mahatma Ghandi dan Abraham Lincoln juga sangat intens dengan masa-masa usia sekolah dasarnya.  Guru yang  “Ngangeni” pasti dirindu siswanya dan banyak orang. Mencintai sepenuh jiwanya.

*)  Ketua Prodi Magister Pendidikan Dasar FKIP UNRAM dan Ketua ISMAPI NTB

 

 




Perguruan Tinggi : From Passengers To Be Drivers

Di berbagai perguruan tinggi tanpa disadari yang terjadi justru pembentukan manusia-manusia ‘passenger’

Perguruan tinggi harus menciptakan manusia-manusia berkarakter driver yang berkompetensi, namun juga cekatan, gesit, berinisiatif, dan kreatif
Catatan Manajemen ” Agus K. Saputra

lombokjournal.com ~ Perguruan tinggi atau universitas memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, perguruan tinggi bertanggung jawab menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. 

Selain itu, perguruan tinggi juga berperan sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang berkontribusi pada kemajuan masyarakat.

BACA JUGA : Cerita Rakyat Sebagai Sumber Inspirasi Puisi

Diskusi hangat pun muncul terkait luaran perguruan tinggi. Kubu yang satu beranggapan bahwa perguruan tinggi seharusnya menciptakan calon-calon peneliti. Di kubu lain beranggapan bahwa seharusnya menciptakan mahasiswa yang siap kerja.

Catatan berikutnya akan mengedepankan tentang visi perguruan tinggi. Utamanya dalam menciptakan mahasiswa yang siap kerja sebagaimana “diinginkan” dunia usaha. Sumber catatan ini berasal dari buku Rhenald Kasali berjudul “Self Driving” (2014, hal xi-xiii). 

Saya masih ingat di salah satu gedung, kolega saya mengajak kami merumuskan visi-visi universitas. Pada gilirannya, saya menjelaskan perbedaan antara driver dengan passenger untuk menjelaskan “seperti inilah rata-rata mahasiswa Indonesia” dan “seperti inilah yang ingin kita bangun”.

Maksud saya, dunia usaha menghendaki manusia-manusia berkarakter driver yang berkompetensi, namun juga cekatan, gesit, berinisiatif, dan kreatif. Namun, di berbagai perguruan tinggi tanpa disadari yang terjadi justru pembentukan manusia-manusia passenger. 

Kaum muda cenderung pandai, namun outputnya adalah manusia-manusia penumpang yang sering saya temui di dalam angkot atau bus kota. Fokusnya adalah buku teks, yaitu memindahkan pengetahuan dari buku teks ke kertas ujian. Jadi pintar itu adalah pintar kertas, dan sarjananya sangat mungkin menjadi sarjana kertas.

Ditambah dengan model pendidikan dasar yang membiasakan siswa menghafal sambil melipat tangan dan duduk manis di bangkunya, maka terbentuklah generasi pasif yang mengakibatkan mereka kalah dengan anak-anak muda yang tak bersekolah tinggi namun memilih merantau ke luar negeri menjadi buruh migran (TKI).

BACA JUGA : Downshifting atau Mengurangi Tingkat Konsumsi

 Anak-anak sekolah terisolasi dari lingkungannya yang dinamis. Sedangkan para TKI yang tak sekolah tinggi dipaksa lingkungan berpikir kritis menghadapi dunia baru yang sangat menuntut. Mereka melatih kegesitan, belajar dari kehidupan.

Akibat pendidikan yang demikian, kita melihat fenomena passenger yang sangat menonjol dalam kalangan terdidik. Lalu saat menjalani peran sebagai eksekutif muda, mereka menjalani kehidupan rutin sehingga dikendalikan oleh autopilot-nya yang terprogram rapi, cenderung menghindari risiko.

 Bahkan di bangku kehidupannya, mereka boleh mengantuk atau tertidur. Sementara bagi seorang manusia driver, jangankan tertidur, mengantuk saja tidak boleh.

Dari dialog itulah kemudian muncul visi universitas, yang kalimat akhirnya menjadi begini: “Creating graduates from ‘passengers’ to ‘drivers’ in their lives, organization, and new ventures”.

“I love that idea,” ujar salah satu utusan kampus Amerika itu. Untuk itulah visi-misi kami dihubungkan dengan pemikiran itu.

Saya jadi teringat dengan pidato saya di depan para wisudawan di University Pierre Mendez, Grenoble Prancis (28 Juni 2012) yang juga saya beri judul “Be A Driver”. Entah mengapa, setelah itu puluhan mahasiswa dari Tiongkok dan India berebutan foto dengan saya.

Saya menduga, tiba-tiba saja mereka tersentuh dari lamunan bahwa selama ini mereka dipersiapkan menjadi driver untuk memajukan perekonomian bangsanya.

 Bayangkan, tanpa diberi ruang untuk komplain, “bar” (atau target) mereka terus dinaikkan oleh atasan dan perusahaan mereka, sehingga tak ada waktu bagi mereka untuk duduk diam. Ibaratnya, kalau tak berenang, napas mereka ada di dalam air.

Mereka dipaksa berenang, mengayuh, dan berlari cepat. Persis seperti ucapan mendiang Syekh Mohammad Al-Mahtum yang meletakkan dasar-dasar perubahan di Dubai. “Kita ini seperti rusa di padang sabana yang dikelilingi harimau-harimau yang siap memangsa. Kalau tidak bisa lari lebih kencang, maka kita akan menjadi mangsa mereka.”

Tetapi mengubah mentalitas memang bukan perkara mudah. Namun, bukankah pendidikan diberikan untuk mengubah manusia? 

Maksud saya untuk menghidupkan simpul-simpul berpikir mereka agar kelak mampu berpikir dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan secara mandiri. Dan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari perguruan tinggi  hanya akan hidup kalau ditanam dalam jiwa-jiwa yang siap menghadapi tantangan.

Pertanyaannya, bagaimana melatihnya? Sudah tepatkah cara-cara yang dilakukan pusat-pusat pelatihan dan learning center yang dikelola perusahaan-perusahaan nasional? Apakah dengan memberikan ilmu berupa pengetahuan manajerial mereka otomatis akan mendapatkan kompetensi?

BACA JUGA : Alat Peraga Kampanye Dibersihkan Jelang Pilkada

 Memperbarui cara berpikir, melatih kembali SDM, membersihkannya dari benang-benang kusut, ini tentu tantangan besar bagi Indonesia yang kita cintai. Sebab ketika kita gagal mengemudikan “kendaraan” yang kita sebut sebagai “self” itu, bukan cuma satu dua orang akan menjadi beban bagi lainnya. Melainkan, pudarlah keunggulan daya saing bangsa ini.

Ketika negeri ini memanggil, maka sesungguhnya tak ada seorang pun yang boleh menolaknya. Kendati demikian, Indonesia membutuhkan figur-figur yang bukan cuma pandai di atas kertas, tetapi juga gesit, dan cepat bertindak. ***

#AKUAIR-Perumnas Ampenan, 25-11-2024

 

 

 




Downshifting atau Mengurangi Tingkat Konsumsi

Jadi downshifting adalah mengurangi tingkat konsumsi, meliputi jumlah (kuantitas atau frekwensi), kualitas (kandungan fisik, fungsi, kelengkapan, fitur), atau harga (lebih murah) 

 

DOWNSHIFTING : Saat krisis datang, segala sesuatu berubah, demikian juga dengan pasar, perilaku pembeli, daya beli, pola hubungan, dan sebagainya
Catatam Manajemen : Agus K. Saputra

lombokjournal.com ~ Di negara barat yang perekonomiannya sudah sangat maju, downshifting atau mengurangi tingkat konsumsi semula dilakukan orang bukan karena krisis ekonomi,  dilakukan secara sengaja untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih dengan bekerja lebih sedikit. 

Tindakan mengurangi tingkat konsumsi diambil sebagai respon terhadap hidup yang serba hiruk pikuk di saat ekonomi sedang mencapai puncaknya. Perekonomian memang bergerak mengikuti conjunctur seperti huruf S yang bergulung-gulung.

BACA JUGA : Perubahan Radikal Dalam Bisnis

Pada saat mencapai pertumbuhan, semua orang menikmati konsumsi yang lebih besar. Mereka membeli serta mengambil kredit untuk segala hal. Kredit sebenarnya tidak lain dari sebuah bentuk konsumsi hari ini yang dibiayai dari penghasilan hari esok.                                

Mengapa mereka begitu berani mengambil kredit? Benar! Jawabannya adalah karena mereka optimis terhadap hari esok. Pada saat itu, hidup dan perekonomian seakan-akan tidak ada masalah sama sekali.

Perasaan-perasaan masyarakat yang sedang berada di era yang tumbuh (bullish) adalah perasaan berkelimpahan (berlebih), cash mudah didapat, ringan mengeluarkan uang (spending) dan optimis.

Dan begitu perekonomian mencapai puncaknya, hampir semua orang tampak sibuk, mengejar peluang ekonomi yang memberi penghasilan besar. Uang dibutuhkan untuk membiayai konsumsi, mencicil utang, dan membiayai gaya hidup. 

BACA JUGA : Ite Begawe Fest, Ajang Promosi Produk Lokal NTB

Pekerjaan tak ada habisnya dan waktu terasa kurang. 

Tentu saja kesibukan dan tekanan materialisme ini ada biaya-biaya atau pengorbannya. Sebagian orang membayar dengan kehilangan hubungan sosial, penundaan perkawinan dan memiliki keturunan, bahkan perceraian, dan pertengkaran-pertengkaran.

Sekarang Anda tinggal berhitung, mana yang lebih besar untung ruginya. Sebagian orang merasa tidak ada masalah, ia merasakan untungnya masih lebih besar dan ia meneruskan gaya hidup yang workaholic dengan membayar semua konsekuensinya. 

Tetapi, sebagian lagi melakukan sebaliknya yaitu mengurangi tingkat konsumsi. Mereka merasa sia-sia bekerja keras kalau biaya yang dikorbankan lebih besar dari apa yang mereka terima.

“Orang-orang yang saya ceritakan terakhir tadi itulah yang membanting stirnya, memelopori apa yang disebut dengan )mengurangi tingkat konsumsi atau) downshifting,” tulis Rhenald Kasali dalam bukunya Marketing In Crisis (2009: hal. 181-183).

Dalam pengantarnya, Rhenald Kasali menyampaikan ia ingin membantu para pemilik usaha dan professional agar mampu mengambil manfaat dari ancaman krisis. Sebab, saat krisis datang, segala sesuatu berubah, demikian juga dengan pasar, perilaku pembeli, daya beli, pola hubungan, dan sebagainya.

Berbeda dengan pandangan kebanyakan pengamat yang sering menakut-nakuti dunia usaha bahwa krisis menghilangkan daya beli dan pasar, maka ia justru memperlihatkan adanya pasar yang tiba-tiba muncul dari krisis. 

Itulah antara lain yang ia istilahkan sebagai marketing therapy,  yaitu terapi terhadap fungsi pemasaran agar tim pemasaran memiliki keyakinan bukan hanya untuk survive di tengah kompetisi

Tapi juga untuk menemukan dan menciptakan pasar baru sehingga Perusahaan tetap bisa tumbuh bahkan di waktu krisis (hal. ix). 

Dalam krisis, ada tiga hal penting yang mengemuka (hal. 190-191):. 

Pertama, marketing downshifting berpendapat tidak 100 persen konsumen yang menghilang itu benar-benar menghilang.  

BACA JUGA : Gugus Tugas Bisnis dan HAM, Agar Produk NTB Mendunia 

Sebagian besar justru mengalami perpindahan, yaitu shift, ke tempat lain.

Artinya kalau sebelumnya mereka membeli mobil mewah (baru) 4 buah setahun, barang kali sekarang cukup dua saja, dan dua lagi dibelikan mobil SUV atau MPV untuk keluarga. Jadi, dua di antaranya pinda ke segmen yang berbeda. Itu artinya, logika pasar tiba-tiba hilang berbeda dengan pikiran dan kepercayaan umum.

Kedua, pasar yang tiba-tiba muncul itu terjadi karena pergeseran segmen-segmen di atas maupun di bawahnya. Konsumen yang cemas biasanya bukan mengurangi tingkat konsumsi , melainkan, menggeser produk-produk yang segmennya sedikit lebih rendah. 

Sedangkan pengusaha yang menerima tambahan segmen itu bida tiba-tiba menaikkan level konsumsinya pada segemen di atasnya. Jadi, pada masa transisi ini dapat ditemui pasar-pasar baru yang tiba-tiba muncul.

Ketiga, dalam mengepung pasar downshifting, dapat ditempuh cara-cara sebagai berikut:

1.Identifikasi Market Baru 

Identifikasi dengan meneropong perilaku downshifting pada individu-individu dan industri. Perbanyak dialog dengan pasar, dan tambahkanlah alternatif-alternatif baru.

2.Bidik Setingkat di Atas atau di Bawah Segmen Lama

Karena konsumen berpindah, dan mengalami down, bidiklah setingkat di atas segmen Anda, dan berikan pelayanan yang terbaik karena meraka masih merasa sebagai premium.

3.Gunakan Pendekatan-pendekatan Baru

Segmen-segmen baru yang mengalami krisis ekonomi itu dijangkau bukan dengan media-media konvensional. Oleh karena itu, Anda harus belajar membidik mereka di dunia maya dan dunia yang mobile. Pastikan Anda tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka.

4.Relaksasi Constraint

Selalu ciptakan ruang untuk membuat konsumen lebih merasa relax dengan aturan-aturan yang baku. Ciptakan rasa percaya dan rasa aman.

5.Tetap Berpromosi

Promosi di masa-masa sulit tetap diperlukan, namun pendekatannya harus diubah untuk menimbulkan simpati dan kepercayaan.

6.Kesan Efisien

Yang dikehendaki konsumen pada masa krisis adalah efisien, bukan gengsi dan bukan pula kemasan yang berlebih. Selalu carikan upaya-upaya baru yang mengesankan Anda peduli terhadap efisiensi.

7.Empati pada Downshifter

BACA JUGA : Monitoring dan Evaluasi, Hal Penting dalam Mengelola Bisnis

Orang yang mengurangi tingkat konsumsi atau downshifting adalah orang yang punya pilihan, mereka memilih keluarga, keseimbangan, aktualisasi diri, dan gaya hidup yang lebih sehat. Jadi, ciptakanlah hubungan yang membuat Anda diterima di pasar yang tiba-tiba muncul ini. ***

#AKUAIR-Perumnas Ampenan, 18-11-2024

 

 




Formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ,  Pedoman Menuju Growing Company

Dengan berpedoman Formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ, perusahaan bisa mencapai pangsa pasar tertentu, bahkan mencapai memiliki memiliki pangsa pasar terbesar (market leader

LombokJournal.com ~ Berikut ini kajian lama – yang masih relevan hingga saat ini- dari Istijanto Oei (2009, Marketing for Everyone, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, hal 1-119) yang memberi ulasan strategi dan taktik pemasaran dengan berpedoman pada formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ.

Formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ tersebut “ditelurkannya” untuk menjadi pedoman bagi para marketer atau bagian pemasaran.

BACA JUGA : Mitigasi Kekeringan, Pemprov NTB Distribusikan Air Bersih

Formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ untuk menjadi pedoman bagi para marketer atau bagian pemasaran
Catatan Manajemen : Agus K. Saputra

Marketing atau pemasaran seringkali dikatakan ujung tombak perusahaan. Karena, pemasaranlah yang membawa uang masuk ke perusahaan. Pemasaran telah membuat suatu merek menjadi dikenal, disukai, dibeli, dan direkomendasikan oleh pelanggan.

Hampir semua perusahaan memiliki kesamaan pola tujuan, yaitu menjadi perusahaan yang tumbuh (growing company) lebih besar, lebih cepat, dan lebih lama. Perusahaan dapat tumbuh karena mendapat pemasukan, yaitu uang yang berasal dari usahanya. 

Dengan uang yang masuk tersebut, perusahaan dapat beroperasi dengan lebih baik. Perusahaan dapat merekrut karyawan cerdas dan berdedikasi tinggi, membuka cabang baru, memberikan layanan prima, memuaskan pelanggan, dan sebagainya. 

Darimanakah datangnya uang masuk perusahaan? 

Jawabannya simpel yaitu dari penjualan produk. Kalau produk dibeli maka uang yang dibayar konsumen akan mengalir masuk ke kas perusahaan. 

Sebaliknya, kalau produk yang ditawarkan tidak laku, perusahaan akan mengalami kesulitan atau malah kebangkrutan. Di sinilah peranan utama marketing.

Jadi, apakah fungsi utama marketing di perusahaan? Ujung-ujungnya akan bermuara pada satu tujuan: menciptakan permintaan (demand) pada produk yang dipasarkan. 

BACA JUGA : Hari Pahlawan 2024, Pj Gubernur NTB Jadi Inspektur Upacara

Permintaan ini bisa diartikan dengan mencapai penjualan tertentu, meningkatkan penjualan, mencapai pangsa pasar tertentu, pertumbuhan pangsa pasar atau bahkan memiliki pangsa pasar terbesar (market leader). Dengan memahami serta mengetahui bagaimana mengimplementasikan Formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ

Berpedoman Formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ

Sekarang pertanyaannya: bagaimana pemasar bisa menciptakan permintaan? 

Untuk memasarkan kita harus berpedoman pada formula 3ᴾ-6ᴹ-5ᴮ. 

3ᴾ menunjukkan jumlah aktor utama yang terlibat dalam pemasaran yaitu Pelanggan, Pesaing, dan Perusahaan yang saling berinteraksi. 

Selanjutnya, 6ᴹ mengindikasikan jumlah sasaran marketing sebanyak enam dan diawali huruf “M” yaitu Memperoleh pembeli baru, Mempertahankan pelanggan lama, Membuat pelanggan membeli lebih banyak, Mendayagunakan pelanggan, Merebut pelanggan dan Menarik kembali mantan pelanggan. 

Terakhir, 5ᴮ merupakan tindakan dasar bagi pemasar yang meliputi: Bagi, Bidik, Bedakan, Benamkan, dan Barui.

Makna 3ᴾ

Perusahaan disebut sukses memasarkan produk kalau produknya selalu dicari, dibeli, dan dikonsumsi secara rutin oleh konsumen. Kalau begitu, bagaimana membuat suatu produk agar sukses? 

Jawabannya tergantung pada tiga aktor utama: pelanggan, pesaing, dan perusahaan itu sendiri. Ketiganya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.

Interaksi Perusahaan dan Pelanggan. Mengelola pelanggan menjadi fokus perhatian perusahaan. Maklum, pelangganlah yang “membawa” uang masuk ke perusahaan. Kalau tidak ada uang masuk, lambat atau cepat, perusahaan akan gulung tikar

BACA JUGA : Event Organzer, Harus Pelihara Karakter dan Jaga Kepercayaan 

Pelanggan hanya membeli produk kita kalau kita bila: 

(1) menawarkan barang yang sesuai kebutuhannya; 

(2) barang kita bernilai di matanya; 

(3) memberi tawaran lebih bagus dibanding pesaing; 

(4) memberi kepuasan pelanggan; dan 

(5) rutin menjalin hubungan (marketing relationship).

Interaksi Perusahaan dan Pesaing. Pesaing akan muncul jika ada peluang pasar. Terlebih lagi jika peluang pasarnya besar, banyak pemain yang siap memasuki. Keberadaan pesaing juga membantu edukasi atau menyadarkan pasar dan dampaknya adalah ukuran pasar semakin membesar.

Di sinilah peranan marketing untuk membuat suatu merek terus bertahan dan tumbuh. Untuk itu marketing harus mendata siapa pesaingnya, apa kelebihan dan kelemahan tawarannya. Sehingga perusahaan dapat memenangkan persaingan dan menjadi market leader.

Interaksi Pesaing dan Pelanggan. Perusahaan yang memiliki pelanggan paling besar dinamai market leader. Pesaing cenderung merebut pelanggan yang kita miliki. 

Pesaing akan menarik pelanggan kita dengan mengiming-imingi kelebihan tawarannya di atas kekurangan kita. Terhadap gerakan pesaing, kita perlu merespons secara bijak.

BACA JUGA : BCG Matrik, Mengelola Portofolio Bisnis Secara Efisien dan Efektif

Makna 6ᴹ

Memperoleh pembeli baru sebanyak mungkin. Pembeli baru adalah orang yang sebelumnya tidak pernah membeli. Mereka berprospek “membawa” uangnya pada kita jika membeli produk kita. 

Tugas kita mendorong mereka membeli produk kita pertama kali. 

Ini dilakukan dengan cara:

(1) mengenalkan merek kita; 

(2) menawarkan barang yang sesuai keinginannya; 

(3) mengedukasi pelanggan; serta 

(4) meningkatkan kemampuan dan keinginan membeli. 

Mempertahankan pelanggan lama supaya mereka membeli produk kita terus menerus selama hidupnya, tidak berpindah ke pesaing (pelanggan loyal atau setia). 

Ini dilakukan melalui cara:

(1) membuat mereka puas; 

(2) menjalin hubungan berkelanjutan; 

(3) memberi penghargaan kepada mereka, dan 

(4) mefasilitasi komunitas pelanggan.

Membuat pelanggan membeli lebih banyak. Dengan membeli lebih banyak, perusahaan kita cepat tembuh karena uang yang mereka bawa. Ini dilakukan dengan membuat mereka membeli lebih banyak (more buying) melalui 👍

(1) frekuensi pembelian lebih sering; 

(2) volume pembelian lebih besar; 

(3) manfaat baru; 

(4) produk pelengkap; dan 

(5) pembelian paket.

Mendayagunakan pelanggan untuk mendukung penjualan produk kita, merekomendasikan ke relasi, memberi kesaksian, mewariskan ke anak cucu, dan ikut menciptakan nilai bersama.

Merebut pelanggan pesaing berpindah ke kita. Dinamika pemasaran saat ini adalah kalau bukan pelanggan kita yang direbut, maka kitalah yang merebutnya. Ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu daya tarik dan daya tolak. 

Daya tolak adalah aspek negatif yang membuat pelanggan keluar dari produk sebelumnya, seperti harga mahal, boros, cepat rusak, layanan buruk, mutu jelek, merusak kesehatan, dan lain-lain. 

Daya tarik merupakan aspek positif kita yang menguntungkan bagi pelanggan pesaing dan membuat mereka “bernafsu” dengan produk kita seperti harga lebih murah, lebih awet, kinerja lebih cepat, lebih tahan lama, lebih bermutu, layanan lebih sopan, lebih aman, lebih sehat, dan lebih-lebih yang lain. 

Untuk merebut pelanggan maka marketer harus membongkar sisi lemah pesaing di hadapan pelanggan, lalu tawarkan kelebihan produk kita yang berbeda dari pesaing dan sangat bermanfaat bagi pelanggannya.

Menarik kembali mantan pelanggan kita yang berpindah ke pesaing kembali ke pangkuan kita. Mengapa pelanggan kita tidak lagi membeli dari kita atau berpindah ke pesaing? 

Pertama, mereka merasa kecewa setelah membeli dan merasakan produk kita. Kedua, kita kalah dibanding pesaing. Untuk menarik kembali mantan pelanggan dilakukan dengan cara:

 (1) melakukan strategi pemulihan; 

(2) melakukan balasan ke pesaing; dan 

(3) mengaktifkan ikatan pelanggan.

Makna 5ᴮ

Bagilah pasar (marketing segmentation) lebih dulu supaya kita bisa mengetahui perbedaan kebutuhan, masalah, dan keinginan tiap-tiap orang yang berbeda.  Selanjutnya, sesuaikan tawaran kita dengan tiap segmen.

Bidiklah segmen yang berprospek cerah. Bidikan (targetting) berguna untuk menentukan segmen mana yang paling baik dibidik oleh perusahaan.

Bedakan tawaran kita. Perbedaan (differentiation) menjadi daya tarik dalam pemasaran. Maklum, sesuatu yang sama atau “itu-itu saja” akan menjemukan dan tidak menarik. Jadi, berlombalah menawarkan pembeda atau diferensiasi marketing mix dari pesaing supaya produk kita menarik konsumen.

Benamkan pembeda kita ke pikiran konsumen. Karena diferensiasi kita dari pesaing tidak ada gunanya, kalau tidak diketahui pelanggan. Ini berarti kita harus “meneriakkan” perbedaan itu. Dengan mencekoki komunikasi yang berulang kali dan di mana-mana, pelanggan akan tahu perbedaan kita. Inilah yang dinamakan komunikasi pemasaran terpadu (integrated marketing communication). 

BACA JUGA : Donasi Sosial Sheraton Senggigi Beach untuk Murid Sekolah

Yang perlu diingat, kita tidak harus memilih media yang mahal tetapi pilihlah media yang efektif menjangkau audiens kita.

Barui lagi saat diperlukan. Dengan berubahnya keadaan, kondisi ekonomi, dan perubahan lainnya, marketing juga melakukan pembaruan. Maka 4ᴮ (Bagi, Bidik, Bedakan, dan Benamkan) juga dibarui. 

Memperbarui memang dibutuhkan supaya penerimaan (revenue) perusahaan dapat terus meningkat dan bertahan lama. ***

#AKUAIR-Perumnas Ampenan, 11-11-2024




BCG Matrix, Mengelola Portofolio Bisnis yang Efisien dan Efektif

Dengan  BCG Matrix, korporasi dapat dievaluasi dalam matriks untuk mengidentifikasi bisnis yang punya potensi pertumbuhan dan pangsa pasar yang tinggi

BCG Matrix juga memiliki kekurangan seperti verebisitas pengukuran, fokus terbatas, kurangnya detil, sifat statis, dan kesulitan dalam klasifikasi
Catatan Manajemen: Agus K Saputra

LombokJournal.com ~ Boston Consulting Group Matrix atau BCG Matrix adalah sebuah matriks yang memungkinkan bagi pemimpin perusahaan untuk mengelola portofolio atau kumpulan bisnis korporasi secara efisien dan efektif. 

BACA JUGA : Monitoring dan Evaluasi, Hal Penting dalam Mengelola Bisnis

Matriks ini pertama kali dikembangkan oleh Boston Consulting Group pada tahun 1970 oleh seorang konsultan bernama Bruce Henderson.

Idenya, menurut Hery (2016: hal 102-104), adalah setiap korporasi dapat dievaluasi dan diplot ke dalam sebuah matriks berukuran 2×2 untuk mengidentifikasi bisnis mana saja yang memiliki potensi pertumbuhan dan pangsa pasar yang tinggi.

Dimana, pertama, sumbu horizontal menggambarkan pangsa pasar. Yang dievaluasi sebagai rendah atau tinggi. Kedua, sumbu vertikal menggambarkan prediksi tinggat pertumbuhan pasar. Yang juga dievaluasi sebasgai rendah atau tinggi.

BACA JUGA : Komunikasi Profetik, Mata Kuliah Agus Purbathin Hadi

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, setiap bisnis korporasi dapat ditempatkan ke dalam salah satu dari empat kategori berikut:

  1. Sapi  perah atau  cash  cows (pertumbuhan  rendah,  pangsa  pasar  tinggi).  Bisnis  dalam    kategori  ini  menghasilkan  banyak  uang   tunai,   tetapi   prospek   pertumbuhan  di  masa

          mendatang terbatas.

  1. Bintang atau  stars (pertumbuhan  tinggi,  pangsa  pasar  tinggi).  Bisnis  dalam kategori ini berada  dalam  pasar  yang  pertumbuhannya  sangat   cepat  dan memiliki pangsa dominan

          dalam pasar tersebut.

     3. Tanda tanya atau question marks (pertumbuhan tinggi, pangsa pasar rendah). Bisnis dalam ketegori ini berada dalam industry yang menarik tetapi dalam pangsa pasar kecil.

  1. Mutu rendah atau dogs (pertumbuhan rendah, pangsa pasar rendah). Bisnis dalam kategori ini  menghasilkan  sedikit  uang  tunai dan mempunyai pangsa pasar rendah dalam industri

           dengan pertumbuhan rendah pula.

Implikasi Strategis 

Para pemimpin perusahaan harus memanfaatkan “sapi perah” sebanyak yang mereka mampu. Namun membatasi segala bentuk investasi baru dalam bisnis yang tergolong “sapi perah” tersebut.

 Mengingat prospek pertumbuhan di masa mendatang terbatas. Dan menggunakan sebagian besar uang tunai yang dihasilkan untuk berinvestasi pada bisnis korporasi yang tergolong sebagai bisnis “bintang” atas stars.

BACA JUGA : TGB Zainul Majdi Mundur dari Perindo, Fokus Persiapan Guru Besar 

Investasi besar pada bisnis korporasi tergolong sebagai bisnis “bintang” ini dimaksudkan untuk memanfaatkan pertumbuhan pasar tinggi. Dan membantu mempertahankan pangsa pasar tinggi pula. 

Bisnis “bintang” pada akhirnya akan berkembang menjadi bisnis “sapi perah” ketika pasar telah menjadi “dewasa” dengan pertumbuhan penjualan mulai melambat. Keputusan tersulit bagi pemimpin perusahaan adalah menyangkut bisnis korporasi yang tergolong bisnis “tanda tanya”.

Mengingat kategori bisnis ini memiliki pertumbuhan tinggi namun dengan pangsa pasar rendah. Biasanya, setelah melakukan analisis secara cermat dan hati-hati, beberapa bisnis korporasi tergolong bisnis “tanda tanya” akan dijual dan beberapa lainnya lagi untuk dapat berkembang menjadi bisnis “bintang”.

Sedangkan untuk bisnis korporasi tergolong sebagai bisnis “mutu rendah” harus dilikuidasi atau dijual. Karena bisnis ini memiliki pangsa pasar rendah dalam pasar dengan potensi pertumbuhan yang rendah pula.

Kesimpulan

Jadi, demikian catatan Cinthya (dalam accurate.id Nov 30, 2023), BCG Matrix adalah kerangka kerja analisis portofolio produk atau bisnis yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya termasuk penggunaan kerangka kerja yang sederhana, pengalokasian sumber daya yang efektif, identifikasi peluang dan ancaman, dan fokus pada pertumbuhan dan profitabilitas.

Namun, BCG Matrix juga memiliki kekurangan seperti verebisitas pengukuran, fokus terbatas, kurangnya detil, sifat statis, dan kesulitan dalam klasifikasi.

Oleh karena itu, penggunaan BCG Matrix harus dilakukan dengan pemahaman bahwa ini hanya alat analisis yang perlu dipertimbangkan bersama dengan informasi dan faktor-faktor lainnya.

Untuk pengambilan keputusan strategis yang lebih komprehensif, perusahaan harus melakukan analisis yang lebih mendalam, serta memperhatikan konteks dan dinamika pasar yang sedang dihadapi. ***

#AKUAIR-Perumnas Amnpenan, 04-11-2024




Perubahan Radikal dalam Bisnis

Memahami lanskap bisnis berarti mempersiapkan perusahaan beradaptasi dengan perubahan ini dengan cepat, memastikan relevansi dan daya saing

Mempersiapkan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan
Catatan Manajemen: Agus K Saputra

LombokJournal.com ~ Dalam iklim bisnis yang cepat dan kompetitif penuh perubahan tak terduga saat ini, memahami kompleksitas lanskap bisnis sangatlah penting. 

Lanskap bisnis mengacu pada berbagai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi operasi, strategi dan potensi keberhasilan perusahaan. 

BACA JUGA : Badan Publik Informatif di NTB Meningkat

Pentingnya memahami lanskap bisnis (sumber: https://azuramagazine.com) :

Pengambilan Keputusan Strategis: Dengan pemahaman yang jelas tentang lanskap bisnis, perusahaan dapat membuat keputusan strategis yang tepat yang selaras dengan realitas pasar dan tren masa depan. 

Pengetahuan ini memungkinkan bisnis untuk memposisikan diri secara menguntungkan di pasar, memanfaatkan peluang, dan mengurangi risiko.

Inovasi dan Diferensiasi: Di pasar yang ramai, inovasi dan diferensiasi sangat penting untuk menonjol . Perusahaan dapat mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi dan kesenjangan pasar dengan memahami lanskap bisnis secara menyeluruh. 

Pemahaman ini mengarah pada inovasi yang mengisi kekosongan ini dan membedakannya dari pesaing.

Kemampuan Beradaptasi terhadap Perubahan: Dinamika pasar selalu mengalami peribahan, didorong oleh perubahan selera konsumen, kemajuan teknologi, dan perubahan regulasi. 

Pemahaman mendalam tentang lanskap bisnis mempersiapkan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan ini dengan cepat, memastikan relevansi dan daya saing.

Operasi yang Dioptimalkan: Wawasan mengenai lanskap bisnis dapat membantu perusahaan menyederhanakan operasi mereka, menjadikannya lebih efisien dan hemat biaya . 

Ini dapat mencakup pengoptimalan rantai pasokan, peningkatan proses pengembangan produk, atau peningkatan strategi layanan pelanggan.

BACA JUGA : Keterbukaan Informasi Publik di NTB Modal Raih Kepercayaan Publik

Memahami nuansa lanskap bisnis dan lingkungan bisnis adalah perjalanan penemuan dan penyesuaian yang berkelanjutan, bukan usaha sekali jadi. 

Ini menyiapkan dasar untuk pengambilan keputusan yang tepat , mendorong inovasi, meningkatkan kemampuan beradaptasi, dan mengoptimalkan operasi.

Saat bisnis menjelajahi lanskap unik mereka, memahami lanskap bisnis menjadi landasan strategi, yang mendorong mereka menuju kesuksesan berkelanjutan di pasar yang terus mengalami peribahan. 

Dengan menerapkan pendekatan komprehensif ini , bisnis dapat bertahan dan berkembang, serta menciptakan keunggulan kompetitif yang mendorong maju.

Terkait pernyataan pasar yang terus berubah. Baiknya kita simak karya Rhenald Kasali: Tomorrow Is Today: Inilah Inovasi Perusahaan Indonesia dalam menghadapi ‘Lawan-Lawan Tak Kelihatan’, Oktober 2017, hal. 35-41.

Apa itu disruption? Menurut Rhenald Kasali, disruption adalah keadaan di mana sebuah proses yang tengah berjalan tiba-tiba saja harus terhenti, terganggu, mengalami interupsi, dan kekacauan karena sebab yang beragam. 

Di antaranya, karena hadirnya produk baru atau jasa baru, inovasi atau teknologi baru, atau perbaikan-perbaikan dalam proses bisnis dan tata kelola, dan lain sebagainya yang disruptive.

Sejatinya disruption adalah perubahan. 

Perubahan yang setiap hari dialami tapi ada bedanya. Dalam disruption perubahan berlangsung secara radikal dan revolusioner sehingga bisa memicu ketegangan di antara kita dan memicu kekacauan. 

Kondisi ini dalam sebutan Rhenald adalah 3S: sudden, speed dan surprise.

Fenomena semacam inilah yang terjadi di mana-mana. Bagaimana mungkin bisnis-bisnis raksasa, dengan brand yang kuat, dan jaringan yang sudah menyebar ke seluruh dunia, ditopang oleh fundamental keuangan yang solid, memiliki ribuan karyawan, asetnya di mana-mana tumbang begitu saja. 

Itu tidak terjadi dalam waktu puluhan tahun, tetapi sangat cepat. Bukan oleh kompetitornya yang berukuran raksasa, melainkan oleh “lawan-lawan yang tidak kelihatan”, oleh sekumpulan anak muda yang bekerja dari garasi-garasi rumahnya.

Persoalan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa tetap mengelola bisnis hari ini sambil mempersiapkan bisnis bagi masa depan. Dan, kita bisa melakukannya tanpa terjebak dengan keberhasilan pada masa silam. Bagaimana kita bisa melakukannya sekaligus?

Untuk itu menarik disimak gagasan Vijay Govindarajan dalam bukunya The Three-Box Solution: A Strategy for Leading Innovation, terbitan tahun 2016, sebagai jawabannya.

Gagasan Vijay dilandasi dari konsep Trimurti. Bahwa Brahma adalah Sang Pencipta (The Creator), Wisnu adalah Dewa Pemelihara (The Preservator) dan Siwa Dewa Perusak (The Destreyor). 

Berikut penjelasannya.

Pada boks 1, The Present, kita harus tetap mengelola kondisi pada saat ini. Kita terapkan strategi, taktik, dan berbagai pendekatan untuk membuat perusahaan bisa mencapai kinerja tertinggi dan beroperasi dengan tingkat efisiensi yang optimal. 

Di sini, kata VG, kita dituntut untuk bisa menyelaraskan apresiasi dan insentif dengan stratetegi. Pendekatan pada boks ini mirip dengan karakter Dewa Wisnu, bukan?

Pada titik ini pemimpin menetapkan target-target yang menantang agar setiap komponen dalam perusahaan bisa mencapai kinerja terbaiknya. Pemimpin mesti mampu menganalisis data agar bisa dengan cepat menemukan dan mengatasi perbedaan yang ada dan inefisiensi, serta mampu membangun budaya korporasi untuk selalu bekerja dengan lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih terjangkau harganya.

Pada boks 2, The Past, perusahaan dituntut untuk membangun masa depan dengan kondisi pada saat ini. Ide-ide yang nonlinier agar diciptakan. Dan tinggalkan cara-cara kerja, kebiasaan, dan sikap-sikap masa lalu. Ini adalah karakter Dewa Siwa, sang perusak.

VG mewanti-wanti, ada tantangan di sini. Di antaranya, resistensi dari mereka yang belum bisa melepaskan masa lalunya. Maka tugas pemimpin untuk menangkap adanya sinyal-sinyal lembut disruption, mendukung ide-ide dari para maverick – sosok dalam perusahaan yang kerap dianggap nyeleneh, tidak biasa cara berpikirnya, sering mengusulkan ide-ide yang out of the box, dan kerap bergerak di luar kebiasaan.

BACA JUGA : Jalin Persahabatan Lewat Olahraga Bersama Insan Pers

Meski begitu, VG menyarankan dalam kondisi seperti ini, pemimpin tetap dituntut untuk tidak memberikan toleransi terhadap berbagai pelanggaran. Bahkan, para pemimpin dituntut untuk bisa memberikan teladan.

Pada boks 3, The Future, kita dituntut untuk menciptakan masa depan yang baru, yang nonlinier. Masa depan ini hendaknya dibangun terutama melalui serangkaian percobaan yang menguji asumsi-asumsi yang kita bangun dan mampu menuntaskan ketidakkpastian

Di sini ada proses pembelajaran yang bisa saja memperkuat gagasan-gagasan baru, atau malah menyingkap adanya kelemahan.

Boks ini menawarkan konsep penciptaan, kreasi-kreasi baru. Mirip dengan karakter Dewa Brahma. Di sini, masa depan dari ide-ide baru kadang tak terlalu jelas. 

Maka, seorang pemimpin mesti berani mengukur keberhasilan penerapan ide-ide nonlinier tadi tidak hanya dari pendapatan, tetapi lebih pada kualitas dan pengalaman untuk berani menguji coba.

Banyak ide nonlinier sejatinya adalah embrio untuk pasar-pasar baru. Karena pasarnya masih terlalu kecil, penting untuk tidak sekedar menguji asumsi dari produknya, tetapi ujilah juga model bisnis dan perkembangan pasarnya. ***