Pilkada Lobar: Izzul Islam Dirindu, Fauzan Dan Farin Berebut Suara Golkar

Tiga Pasangan Calon (Paslon) Bupati Lombok Barat akan membuat konstestasi Pilkada Lombok Barat  kian hangat. Ada tiga calon yang memiliki latar belakang sebagai kader partai Golkar,  Majunya Hj Sumiatun mendampingi Incumbent yang diusung Partai Golkar dan kolega membuktikan, secara resmi Golkar Mendukung Ketua DPD Golkar Lombok Barat tersebut

lombokjournal.com —

Lalu Athari Fathullah

Di sisi lain, ada Nauvar Farin dan H. Muamar Arafat yang juga merupakan Kader Golkar, maju dengan diusung Partai Gerindra, Hanura dan PKPI.

Sebagai calon dari kader Golkar,  Nauvar Farin merupakan putra mantan bupati, H. Zaini Arony yang juga Mantan Ketua DPD I Golkar NTB.  Sedangkan H. Muamar Arafat Anggota DPRD Provinsi NTB Dapil Lobar yang juga Kader Golkar,

Sekretaris Mi6, Lalu Athhar Fathullah mengatakan itu dalam pers release Mi6 yang disampaikan ke media, Jum’at (09/02).

Dikatakan Athari, dalam rivalitas memperebut dukungan Massa rakyat diprediksi suara rakyat loyalist  golkar akan pecah dengan dengan melihat komposisi tiga kader terbaik  Golkar yang maju di Bursa Pilkada Lombok Barat.

Kata Athar , di luar paslon  itu, saat ini ada sosok lain yang sedang dirindukan oleh masyarakat lombok Barat,  yakni H.M. Izzul Islam. Dimata sebagian warga lombok Barat , Cabup Lobar tersebut dikenal sebagai sosok Tokoh yang familiar dan peduli dengan rakyat.

“Paket Izzul Islam dan TGH Khudari Ibrahim merupakan resepentasi pasangan Religius Nasionalis,” ungkap Athar

Athar melihat sosok Izzul Islam sudah tidak asing baik bagi tokoh politisi di Lombok Barat,  Mantan Ketua DPW PPP NTB itu,  sekarang Ketua DPW Partai PERINDO NTB, dikenal merakyat dan low profile.

Sementara itu, calon wakil bupatinya TGH Khudari Ibrahim,  Ketua DPD Partai Kebangkitan Bangsa Lombok Barat,  tokoh agama representasi  dari kalangan Santri.

“Masyarakat mengenalnya sebgai Tuan Guru dari Keluarga Besar Ponpes Al Islahudiny Kediri,” jelas Athar.

Di mata Sekretaris Mi6, munculnya pasangan Zul-Khaer menjadi alternatif dan solusi untuk kemajuan Lombok Barat ke depan.

lanjut Athar, Fauzan yang saat ini menjabat bupati menggantikan Zaini Arony sosok tidak berafliasi ke partai mana pun, hanya pernah menjabat sebagai Ketua KPU NTB.

Lombok Barat dengan jumlah pemilih kurang lebih 450.000 ribu jiwa dengan 10 Kecamatan, akan membuat pilkada Lombok Barat makin seru. Tiga Calon Bupati yang akan berlaga sama-sama kental dengan Lombok Barat,  Izzul Islam Mantan Bupati,  Fauzan Incumbent dan Nauvar Farin anak mantan Bupati.

“Pilkada Lombok Barat ini seolah-olah pertarungan antara para jawara di tingkat kabupaten,” ucapnya

Terkait suara NW Lombok Barat, dengan tidak majunya TGH Hasanain Djuaini, Athar memprediksi kekuatan basis massa NW, dan juga Partai Demokrat, akan menjadi pembeda di balik kekuatan masing-masing calon yang ada.

Kalau kita melihat latar belakang masing-masing calon, sudah bareng tentu jama’ah NW akan mendukung kader dan alumninya. Izzul Islam yang merupakan alumni NW secara khusus, akan mendapatkan dukungan plus.

Sisi lain di balik Partai Koalisi, Fauzan yang di usung partai koalisi gemuk akan melawan Kaolisi Ramping Izzul Islam dan Farin yg di usung  lima partai saja demgan jumlah kursi pas pasan dan efektif.

“Dengan partai pengusung yang gemuk belum tentu menjamin kemenangan, bila mesin partai tidak bergerak secara optimal. Terlebih sosok Fauzan yang  tidak memiliki background partai politik,” pungkas Athar.

Me




Zul-Rohmi; Pertaruhan Prestise dan Truff Politik TGB

lombokjournal.com

Sejatinya daya tarik Pilgub NTB terletak pada paket Zul Rohmi yang kehadirannya melawan mainstream politik ( baca : Anomali ) serta terkesan ada hidden agenda dari sisi  kalkulasi politik. Direktur Mi6, Bambang Mei F mengungkapkan hal itu dalam pers realesenya, Kamis (08/02)

Direktur Mi6, Bambang Mei F

Suku minoritas diberi kepercayaan penuh tanpa reserve jadi papan satu. Sementara papan dua, seorang perempuan yang dalam sejarah pilkada langsung ataupun tidak, baru pertama  berlaga melawan kaum maskulin jawara politik

Bambang justru melihat disinilah kecerdikan politik yang mendesign paket Zul-Rohmi. Ada celah dan kesempatan yang hendak dimainkan on target di balik kemunculan paket Zul-Rohmi.

Agaknya  invisible hand  politik Zul Rohmi pasti memiliki kalkulasi yang kuat dan alasan pembenar mendobrak kelaziman politik konvensional. Semangat mendekonstruksi pola pikir lama sejatinya ingin ditampilkan dengan muncul nya Zul-Rohmi.

Zul-Rohmi dihajatkan sebagai antitesa melawan kecendrungan  dan pakem politik ortodok. Maka jangan heran, ibarat kuda pacu langkah dan manuver politik Zul-Rohmi dalam menggalang dukungan dan simpati rakyat sedemikian ofensif dan intensif.

“Dengan tim ramping plus mobilitas dengan daya jelajah  cepat  dan masif dari satu titik ke titik lain, makin sulit ditandingi,” kata Bambang

TGH M Zainul Majdi aliias Tuan Guru Bajang (TGB) yang diduga sebagai kreator politik Zul-Rohmi. Dalam perspektif politik ingin memainkan psikologi paslon lain, dengan memasang paket Zul Rohmi yang tidak populer, lemah sekaligus aneh.

“Tentu sebagai arsitek politik, TGB  punya hidden agenda yang belum.saatnya diungkap ,” kata Bambang Mei Finarwanto yang akrab dipanggil Didu

Sejatinya TGB mempertaruhkan segala nya di balik kreasi politiknya  Zul Rohmi. TGB sadar bahwa eksperimen paket Zul Rohmi akan berkonsekwensi effect domino yang luas dan dasyat jika mengalami turbulensi di luar prediksi.

“Sadar posisinya dipandang  underdog, Zul Rohmi justru menjawabnya dengan makin rapi bergerak dan seolah olah tanpa beban,”ujar mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB.

Kecepatan gerak Zul Rohmi dalam melakukan penetrasi dan membuka jejaring baru pemilih ini sebagai strategi taktis untuk menambah barisan loyalis vottersnya dintengah lambannya gerak Paslon lain.

“Celah ini yang kemudian dimanfaatkan Zul Rohmi masuk ke jantung pertahanan paslon dikala lengah ,” tambahnya .

Didu, panggilan karib Direktur Mi6 mengungkapkan, permainan politik yang ditampilkan dalam PilGub NTB ini akan menjadi pertaruhan prestise dan truff politik TGB. Hal ini tentu terkait bagaimana marwah kekuasaan politik di NTB tetap dipertahankan dan dipegang. TGB tidak ingin hasil PilGub NTB nanti out of control .

Meskipun demikian lanjut Didu , dengan empat Paslon yang tampil di PilGub NTB kekuatan politik dan dukungan semua calon berimbang.

“Tidak ada Matahari tunggal di PilGub NTB,” ujar Didu.

Bocoran info lembaga survey, konon  elektabilitas masing2 paslon tidak terpaut dan Zul Rohmi masuk urutan keempat elektabilitas nya.

Mesin Partai dan Relawan

Direktur Mi6 berharap agar  paket Zul Rohmi sebagai anti tesa politik  perlu menyakinkan ke publik yang masih meragukan ikhtiar dan kapasitasnya bisa menandingi kekuatan tiga jawara politik tersebut.

“Di kalangan kelas menengah lebih mudah diyakinkan persepsinya, tapi untuk masyarakat jelata perlu dibangun solidaritas dan empati sosial. Dan ini perlu pendekatan ekstra ordinary,” tandas Didu

Dalam pandangan Didu, belajar dari kemenangan TGB dalam pilkada 2008 silam yang menjadi paslon tak diunggulkan dibanding incumbent saat itu. Diprediksi  Zul Rohmi diarahkan seperti nostalgia politik TGB tahun 2008 yang berakhir dengan Happy ending tersebut.

“Saat itu di PilGub NTB tahun 2008, publik cenderung tidak mengunggulkan pasangan TGB Badrun Munir melawan incumbent paslon Serinata-Husni Jibril yang berakhir dengan kemenangan telak TGB BAM itu ,” ungkap Didu .

Gerakan dan manuver Zul-Rohmi mirip dengan apa yg dilakukan TGB dulu, yaitu mengandalkan kecepatan gerak dalam melakukan penetrasi step by step pada semua lini dan titik konsentrasi pemilih . Ciri lainnya adalah Zul Rohmi cenderung menguasai kantong-kantong pemilih di pinggiran atau akar rumput.

“Ini kemudian yang membentuk jaring jaring pemilih yang terintegrasi satu sama lain pada setiap kontak person di wilayah yang membentang dari Mataram sampai Bima,” lanjutnya.

Lebih jauh Didu mengulas, peran partai dan Relawan Zul Rohmi perlu diatensi dan diapresiasi dalam mendongkrak elektabilitas Zul Rohmi.  ”Mereka garda terdepan Zul Rohmi yang membukakan.semua akses masuk Zul Rohmi ke kantong pemilih yang strategis,” kata Didu.

Didu memprediksi, paska penetapan Paslon oleh KPU NTB tanggal 12 Februari 2018 mendatang, bisa jadi konstelasi PilGub NTB lebih dinamis. Hal ini terkait Paslon PilGub NTB akan melepaskan semua atribut yang melekat pada dirinya , baik sebagai bupati, walikota dan anggota parlemen.

“Justru disini menariknya  konstestasi PilGub NTB , ketika semua Paslon tersebut bertarung apa adanya,” lanjutnya .

Peta politik  pilkada serentak di NTB juga menyulitkan Paslon dan parpol untuk melakukan sinergitas kerja tim di basis pemilih, terkait tidak liniernya koalisi Paslon di propinsi dan kabupaten/kota.

“Ini tentunya secara psikologis politik akan berdampak pada kekompakan kerja teamwork jika tidak saling menjaga kepercayaan,” pungkasnya

Me




Pariwisata NTB Sebagai Destinasi Wisata Utama (primary destination) Indonesia *)

Bangga bisa berbagi pengalaman dan kiat-kiat membenahi serta mempercepat pembangunan pariwisata Nusa Tenggara Barat di Padang Sumatera Barat, bersama Bupati Banyuwangi Pak Azwar Anas dan Staf Ahli Bidang Keterpaduan Pembangunan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pak Adang Saf Ahmad.

Empat kunci pokok yang Saya pegang adalah Visi, Regulasi, Integrasi dan Inovasi.

Visi menjadikan NTB sebagai destinasi wisata utama (primary destination) Indonesia, bukan lagi pilihan kedua (secondary destination). Visi Saya adalah pencapaian target meningkatnya angka kunjungan wisatawan yang memenuhi destinasi-destinasi wisata di NTB setiap tahunnya.

Menggapai tujuan tanpa terlebih dulu membangun visi, bisa jadi tak akan memacu motivasi bekerja.

Strategi kedua adalah regulasi. Tidak mungkin sebuah industri bisa lari cepat tanpa dukungan regulasi yang kondusif. Oleh karenanya, demi akselerasi pariwisata NTB, Saya sampai membuat dua perda jamak (multiyears) yang memayungi segala fasilitas dan insentif yang memudahkan pembangunan sarana dan prasarana pariwisata, termasuk keberlanjutannya di masa pasca kepemimpinan Saya.

Begitu juga koordinasi yang baik dengan pemerintah pusat, sehingga dukungan terhadap regulasi lokal dapat berjalan baik.

Kunci ketiga adalah integrasi dengan pembangunan infrastruktur. Industri pariwisata akan jalan di tempat jika tak ada kemudahan akses transportasi, baik untuk mobilitas orang maupun barang yang efektif dan efisien. Mulai dari jalan, bandara, pelabuhan, hingga penginapan yang memadai, aman dan nyaman.

Dan kiat terakhir adalah kreativitas yang memunculkan inovasi. Jumlah wisatawan Muslim dunia yang akan meningkat di angka 170 juta pada 2020, dengan pengeluaran di atas 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.600 triliun, membuat Indonesia wajib mengembangkan wisata halal.

Hal inilah yang mendorong Saya fokus mengembangkannya di NTB, dan Lombok khususnya sebagai proyek percontohan pertama di Indonesia. Berkat kesungguhan kerja keras, pada akhirnya gelar World’s Best Halal Honeymoon Destination dan World’s Best Halal Tourism Destination, diraih Lombok di ajang World Halal Travel Summit 2015 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab. Mengungguli tuan rumah, Turki, Thailand dan Malaysia yang terlebih dulu mengembangkannya.

Dan Syukur Alhamdulillah berkat visi, strategi dan konsistensi bekerja bersama seluruh jajaran Pemprov, dari 500 ribuan wisatawan yang mengunjungi NTB pada tahun 2008, sudah meningkat hingga 3,5 jutaan wisatawan mancanegara dan domestik pada akhir 2017 lalu.

*) Pokok pikiran yanng disampaikan TGB




Catatan Perjalanan TGB ke Jajaran Redaksi Media Transcorp*)

Senang akhirnya bisa melakukan kunjungan balasan sekaligus silaturrahim dengan jajaran redaksi media Transcorp, setelah pada April 2017 dikunjungi dan diwawancara oleh program Insight bersama Desi Anwar bertema geliat pariwisata NTB.

lombokjournal.com

Sebuah kehormatan pada kunjungan perdana ini, Saya disambut oleh Pemimpin Redaksi sekaligus CEO CNN Indonesia dan Trans7, Titin Rosmasari, Pimred Detik.com, Iin Yumiyanti, beserta jajaran redaksi dan bisnis di menara Transcorp Jakarta Senin 5 Februari 2018.

Sesuai agenda kunjungan, saya memaparkan banyak hal terkait upaya-upaya dan kerja keras bersama jajaran Pemprov NTB untuk membenahi dan membangun Pulau Lombok dan Sumbawa.

Terutama potensi-potensi utama NTB, di bidang Pariwisata (Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Kawasan agro-maritim-ekowisata Saleh-Moyo-Tambora ), Pertanian (NTB sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional), hingga infrastruktur Global Hub Kayangan yang diproyeksikan menggantikan Selat Malaka.

Selain sosialisasi program kerja, obrolan yang santai dan akrab pun sempat bergeser ke persoalan politik terkini.

Suksesi kepemimpinan nasional menjadi bahan pertanyaan “nakal” awak redaksi, terutama menyikapi hasil survei terbaru salah satu lembaga survei nasional tentang para kandidat cawapres potensial di Pilpres 2019.

“Kita terus berikhtiar memberi yang terbaik. Bahwa ada harapan, ada aspirasi sebagian masyarakat, ya saya syukuri, berarti dipercaya oleh sebagian masyarakat, untuk terus berkontribusi, mungkin ke ranah yang lebih besar. Tantangan bagi saya, untuk menyiapkan diri lebih baik lagi.”

*) Merupakan catatan  perjalanan silaturrahim Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru bajang (TGB) ke Jajaran Redaksi Media Transcorp atau Trans TV




SRD Pemimpin Muda Perempuan NTB

Bernama lengkap Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah, M.Pd. SRD adalah salah satu perempuan terbaik yang dimiliki Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini. Kendati lahir dari kalangan keluarga pesantren namun beliau menempuh pendidikan dasar sampai lanjutan atas di Kota Mataram, hal demikian menjadikannya sosok yang sangat memahami kultur budaya NTB secara luas.

lombokjournal.com —

Dian Sandi Utama
Aliansi Pemuda NTB-Jakarta

Kuliah dari Strata-1 sampai mendapat gelar Doktor (S3) di Universitas yang berbeda-beda yang berada di kota besar Indonesia, menjadikannya figur dengan latar pendidikan yang sangat mumpuni. Kariernya-pun demikian gemilang, menjabat General Foreman pada PT. Newmont Nusa Tenggara selama 9 tahun, kemudian setelahnya terjun ke Dunia Politik beliau dipercaya masyarakat sebagai Ketua DPRD Kab. Lombok Timur selama satu Periode, sungguh betapa luas pengalaman yang pernah di lalui-nya.

Kemudian beliau kembali ke Dunia Pesantren, sebagai pendidik sekaligus Ketua STKIP Hamzanwadi Selong pada tahun 2012 dan selanjutnya menjabat Rektor pada Universitas Hamzanwadi pada tahun 2016 sampai hari ini, Beliau dikenal begitu konsisten mengembangkan nilai-nilai agama dan pemikiran dari Hadratussyekh Zainuddin Abdul Majid yang tak lain adalah Kakeknya sendiri, SRD adalah cucu perempuan dari Pahlawan Nasional kita, Maulana Syekh.

Dengan latar belakang seperti itu, tidaklah berlebihan jika penulis menyebutnya sebagai Pemimpin Muda Perempuan NTB dimasa yang akan datang. SRD adalah harapan.

***

Dengan jumlah penduduk NTB saat ini yang diperkirakan mencapai 5 juta jiwa, sungguh suatu peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan data penduduk pada tahun 1990 yang hanya berjumlah 1.6 juta jiwa. Sedangkan menurut kelompok umur, jumlah usia produktif (usia 15-64) mencapai 3.1 juta jiwa.

Jika melihat data yang di release BPS NTB yang di muat pada laman Tempo, menyatakan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan dengan penduduk laki-laki atau lebih besar 6% dengan rasio seks 94.11%.

Angka tersebut jelas berpengaruh pada DPT yang telah dimutakhirkan KPU NTB pada tahun 2018, dengan DPT sebanyak 3,9 juta, Potensi pemilih perempuan bisa mencapai angka sekitar 2 juta pemilih dan pemilih perempuan mendominasi di-10 kabupaten/kota.

Bonus demografi yang sedemikian tinggi tersebut harus dimanfaatkan dengan baik, kaum perempuan NTB membutuhkan pencerahan akan pentingnya keterwakilan gender dalam pemerintahan. Mereka (kaum perempuan) harus memahami bahwa ada sekian banyak problem terhadap perempuan yang membutuhkan penanganan yang tepat.

Karena bagi pemilih perempuan, Pemimpin perempuan tentunya akan lebih memahami isu-isu yang tengah dihadapi gender-nya, seperti; diskriminasi gender, kekerasan terhadap perempuan, akses perempuan terhadap pendidikan dan pekerjaan sampai pada kesetaraan partisipasi politik perempuan, dibandingkan dengan pemimpin laki-laki. Sehingga pemimpin perempuan diharapkan mampu untuk merubah tatanan kebijakan yang lebih memihak pada aspek fsikoligis perempuan serta lebih komprehensif dalam mengawal dan mencari solusi dari semua permasalahan tersebut.

Kendati SRD hadir dalam situasi sulit, ditengah kualitas demokrasi dan tingkat kesadaran perempuan akan keterwakilan gender yang belum membaik karena jika dilihat dari faktor sejarah, sampai saat ini tak ada satupun dari ‘kalangan perempuan’ yang pernah menjabat setingkat Gubernur maupun Wakil Gubernur di Nusa Tenggara Barat.

Namun hari ini SRD menegaskan dirinya untuk tampil menjadi satu-satunya kandidat pemimpin perempuan NTB yang maju mencalonkan diri. Tentu dengan harapan ‘ada kesadaran’ dari kaum perempuan, untuk menyambut dirinya dengan penuh suka-cita Sehingga SRD bisa mendapatkan suara mayoritas dari gender-nya.

SRD hadir mengobati kerinduan mereka terhadap kepemimpinan Perempuan di NTB.

Lombok, 5 Februari 2018




Jangan Lihat ‘Wisata Halal’ Pakai Sedotan

Negara-negara yang minoritas muslim saja seperti London, Tokyo, Korea dll sedang giat-giatnya mengembangkan konsep wisata halal mengejar prestasi kita (NTB

oleh : Dian Sandi Utama
Aliansi Pemuda NTB-Jakarta

Trend wisata halal mulai berkembang seiring dengan meningkatnya populasi Muslim dunia. Meningkatnya populasi Muslim yang berusia muda, berpendidikan dan memiliki jumlah pendapatan yang tinggi, membuat industri pariwisata internasional mulai menargetkan wisatawan Muslim sebagai target pasarnya.

Wisata halal sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wisata umumnya. Wisata halal merupakan konsep wisata yang memudahkan wisatawan Muslim untuk memenuhi kebutuhan berwisata mereka. Kebutuhan itu antara lain : adanya rumah makan bersertifikasi halal, tersedianya masjid/musholla di tempat umum, adanya fasilitas kolam renang terpisah antara pria dan wanita, dan lain-lain.

Adapun wisata syariah mengandung konsep yang lebih luas, yaitu  pariwisata yang keseluruhan aspeknya tidak bertentangan dengan syariah. Itu Point-nya!

Kalau saya membaca pernyataan salah seorang Cagub NTB, yang mengharamkan ‘Wisata Halal’ hanya karena mengartikan wisata sebagai ajang foya-foya, yang kemudian membandingkan dengan; pernah atau tidak itu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, saya rasa itu sangat tidak relevan dengan keadaan kita hari ini. Kondisinya jelas tidak sama sebab hari ini ‘berwisata’ sudah masuk kategori kebutuhan.

Pada jaman dahulu wisata itu sejenis tadabur alam; menikmati keindahan alam sebagai refleksi diri untuk terus mensyukuri keagungan Allah SWT akan alam semesta dan ciptaan-Nya. Namun, kalau yang dibandingkan adalah “Sikap foya-foyanya” dengan jaman dahulu, ya memang wisata pada saat itu tidak menyediakan tempat belanja-belanja seperti hari ini. Lagipula hari ini-pun tidak semua wisatawan bersifat foya-foya.

Sedangkan, kalau beliau kritik kesempurnaan dari konsep-nya, saya sependapat dengan beliau. Oleh karena itu kita harus terus mendorong pihak-pihak terkait dan yang memiliki otoritas untuk memperbaiki sistemnya, agar kemudian apa yang telah kita capai benar-benar menjadi sebuah kebanggaan.

Seperti hal-nya pada tahun 2015, Indonesia meraih penghargaan dari The World Halal Travel Summit & Exhibition 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Lombok itu terpilih sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia mengalahkan Malaysia, Abu Dhabi, Turki, Qatar, dan beberapa negara nominasi lainnya.

Bahkan negara-negara yang minoritas muslim saja seperti London, Tokyo, Korea dll sedang giat-giatnya mengembangkan konsep wisata halal mengejar prestasi kita (NTB).

Itu jelas sebuah prestasi dan pengakuan Dunia internasional terhadap kita. Makanya saya heran kalau ada tokoh yang mengkritik keras bahkan sampai ‘mengharamkan’ konsep itu.

Jelas itu adalah sebuah ‘dekadensi’ dalam berfikir menurut saya dan bagi saya itu cukup sebagai bukti bahwa selama ini beliau melihat konsep ‘wisata halal’ hanya menggunakan corong sedotan.

Lombok, 26 Januari 2018

 

 

 

 




Black Campaign Tanda Mundurnya Demokrasi

Aura pemilu legislatif dan pilpres terasa kuat dalam pilkada

Sirra Prajuna

MATARAM.lombokjournal.com — Momentum Pilkada serentak tahun 2018 akan berlangsung di 171 daerah di 17 propinsi, 19 kota dan 115 kabupaten dengan total 573 pasangan calon.

Suasana dinamika dan tarikan politik nasional dan daerah bergeliat secara  dinamis dan  kohesif dalam perspektif sosial dan budaya. Sirra Prayuna, SH, praktisi hukum dan politisi PDIP mengungkapkan itu melalui siaran persnya, Minggu (21/01).

Usai Pilkada serentak ini, tahun 2019 akan dilanjutkan dengan pemilihan legislatif  dan pemilihan presiden. “Aura pemilu legislatif dan pilpres terasa kuat dalam pilkada ini,” kata Sirra.

Dikatakannya, secara normatif esensi pilkada adalah perwujudan demokrasi dari, oleh dan untuk rakyat. Saatnya rakyat memilih calon pemimpin terbaik, yang mampu mengantarkan daerahnya maju adil makmur dan sejahtera.

“Disinilah pentingnya partisipasi politik aktif rakyat yang secara sadar dan cerdas menentukan pilihan calon Pemimpin Daerah di bilik suara nantinya,” kata Sirra .

Sebagai pemilik kedaulatan, rakyat antusias dalam mengekspresikan hak  konstitusionalnya. Rakyat dituntut arif dan bijaksana dalam mengarikulasikan hak politiknya secara baik dan taat aturan.

Sirra memaparkan, akhir akhir ini publik dibuat  tercengang dan miris melihat kecenderungan respon publik dalam mengekspresikan dukungannya.  Antusiasme kontestasi electoral belum dapat diartikulasikan secara bijaksana yang kaya gagasan.

“Namun yang muncul justru gambaran banyaknya bertebaran ujaran kebencian, fitnah, hoax, rasis, politik premordial dan politik identitas,” ungkapnya .

Pengacara dari Badan Bantuan  Hukum dan Advokasi DPP PDI Perjuangan ini menambahkan, ekspresi dukungan para  simpatisan di ruang publik kerap  ditemukan bermuatan negatif.

“Tanpa disadari,  pola black campaign atau  kampanye hitam sesungguhnya telah menuntun ke arah kemunduran berdemokrasi,” ujarnya. Lebih jauh, itu ikut berkontrubusi meruntuhkan demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Sirra menekankan, nalar sehat demokrasi elektoral sepertinya lumpuh terkena pengaruh virus  jaman Now yang kaya akan teknologi digital.

“Kita tahu era digital memang tak mengenal batas ruang dan waktu dalam berekspresi. Satu kali pencet ribuan viral menebar ke seantero bak virus melumpuhkan bahkan mematikan,” ujarnya.

Diungkapkannya, ‘dokter moral’ ternyata belum ampuh dalam mematikan virus ini. Demikian juga regulasi UU IT belum membuat para penebar takut atas ancaman hukuman pidananya relatif tinggi.

“Penyelenggara Pemilu KPU, Bawaslu dan Gagumdu aparat penegak hukum akan disibukan menagani kasus pidana hate speach oleh tangan tangan jahil penebar virus jaman Now,” tambahnya

Ditegaskan, tak ada jalan lain untuk melumpuhkan virus ini guna memulihkan kembali psykologi sosial masyarakat dan kontestan, yaitu dengan menindak tegas pelaku berdasarkan aturan hukum yang berlaku.

Sirra Prayuna berharap, agar konstituen  menggunakan nalar yang  sehat  dalam kontestasi pilkada ini. “Sehingga apa yang diyakini dapat diperjuangkan dengan benar dan bermartabat,” pungkasnya.

AYA (*)

 

 




Mutasi ‘Tanpa Pamrih’, Benarkah?

Setelah Tim Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap BUpati Klaten, Sri Hartini yang kesandung skandal suap terkait mutasi pejabat di akhir tahun 2016, Kepala Daerah yang terbiasa main dalam ‘mutasi haram’ di berbagai tempat di Indonesia mulai menangkap sinyal tanda bahaya. Tapi masih adakah penempatan jabatan, apalagi di posisi jabatan strategis, tanpa ‘kontribusi’ bagi Kepala Daerah?

lombokjournal.com

Ada ungkapan umum, korupsi atau suap dalam penempatan jabatan tercium baunya seperti kentut.  Dan seperti halnya kentut, meski baunya menyengat namun tak pernah jelas wujudnya.  Dugaan-dugaan pun berseliweran, meski dengan indikasi meyakinkan, tapi membuktikan siapa sumber bau kentut bukanlah mudah.

Dalam kasus suap jabatan, biasanya menggunakan seseorang yang menjadi perantara pengumpulan uang yang akan diberikan kepada Kepala Daerah agar yang bersangkutan mendapat jabatan yang diinginkan.  Di Kabupaten Klaten, putra Sri Hartini yang saat ini Ketua Komisi IV DPRD Klaten, Andi Purnomo, diduga menjadi perantara dan pengepul para pihak yang ingin mendapatkan jabatan ‘haram’.

Belum bisa dipastikan apa peranan Andi dalam kasus yang telah mentersangkakan ibunya itu. Meski demikian, Andi juga (diduga), selain sebagai penghubung, ia juga mengambil keuntungan dengan memesan proyek kepada pihak yang ‘membeli’ jabatan itu. Sekali mengayuh, keuntungan ganda langsung direngkuh.

Bupati Klaten, Sri Hartini – suaminya yang juga mantan Bupati Klaten juga kesandung korupsi – memang sedang kejatuhan sial. Sebab umumnya Kepala Daerah – mulai gubernur hingga bupati/walikota – di berbagai daerah banyak bersinggungan dengan pejabat yang ingin memuluskan posisinya dengan dengan jalan‎ menyuap. Sebagian besar Kepala Daerah itu hanya belum ketabrak nasib sial.

Tapi bau kentut itu sudah tercium. Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) menengarai ada kejanggalan dalam proses mutasi pejabat dalam penataan struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) berdasarkan PP No 18/2016 tentang Perangkat Daerah. Diduga kuat banyak terjadi di luar Jawa.

Penataan yang diharapkan merampingkan organisasi birokrasi daerah hingga 25 persen itu, dan itu menghemat belanja pegawai, membuat pejabat eselon II ingin bertahan di posisinya atau justru memburu jabatan-jabatan strategis.

Tapi pengakuan seorang yang pernah ditawari masuk eselon IV di satu kabupaten di provinsi NTB itu mengindikasikan, soal bayar uang jabatan itu sudah lama berlangsung. Bahkan dilingkungan birokrasi, hal itu malah dianggap sebagai kewajaran. “Masa untuk jadi kasubag saja harus setor sampai 15 juta, untuk apa. Dua tahun lagi saya juga pensiun,” cerita seorang aparatur yang sudah lebih 30 tahun mengabdi sebagai ASN di pemkab.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Lombok Utara, Ardianto, SH, kepada wartawan mengatakan, ia berharap KPK tidak hanya memantau Kabupaten Klaten tapi semua daerah yang menurutnya soal suap mutasi jabatan hal yang dianggap lumrah. Tentu ia tak secara langsung mengatakan, di KLU soal suap itu dianggap sebagai kewajaran.

Gubernur NTB, DR M Zainul Majdi, berharap tak ada transaksi  dalam mutasi di lingkungan birokrasi Provinsi NTB yang berlangsung, Selasa (3/1) lalu. Tak perlu berprasangka kalau gubernur hanya ‘berharap’ tapi tidak ‘memberi jaminan’ benar-benar tak ada suap.

Hal sama juga diungkapkan Wakil Walikota Mataram, Mohan Roliskana, setelah berlangsung mutasi 868 ASN di Pemkot Mataram (Jum,at, 30/12), “Saya sangat mengharamkan hal seperti itu,” kata Mohan.

Masyarakat mengerti bahwa transaksi langsung dalam proses mutasi merupakan tindakan ceroboh dan bebal. Sebab kasus Bupati Klaten, Sri Hartini, sudah mensinyalkan tanda bahaya bagi Kepala Daerah lain di seluruh Indonesia. Pihak KPK sendiri mengisyaratkan sudah memperoleh data tentang Kepala Daerah yang menjalankan mutasi haram.

Khusus di seluruh daerah NTB, kita berharap sudah saatnya praktik dagang jabatan itu diakhiri. Meski kita tak bisa menghindar, kepentingan politik selalu menyertai mutasi. Tentu yang dimaksud dalam kepentingan politik itu termasuk penguasaan sumber daya daerah.

Memang tak mudah berharap bahwa mjutasi jabatan benar-benar tanpa pamrih. Semata-mata mengutamakan profesionalisme birokrasi untuk meningkatkan pelayanan publik. Masyarakat hanya bisa berharap meski masih jauh panggang dari api.

REDAKSI

 

 

 

..

 

 




Hantu Muslim Gentayangan di Amerika

hamid Dabashi
Oleh Hamid Dabashi

 

Roh Muslim menghantui Amerika, yaitu roh Kapten Humayun Khan seorang tentara Amerika Serikat beragama Islam yang gugur di Irak. Itu memperangkap Trump, saat orang Tua Kapten Khan berpidato di Konvensi Partai Demokrat.

Itu perangkap sempurna, dan seperti kuda nil bodoh Donald Trump terperosok ke dalamnya. Dan ia terus menggali, yang makin menjerumuskannya lebih jauh ke dalam lubang.

Hillary Clinton mengisyarakan tanda bahaya  — saat menyampaikan pidato sambutan di Philadelphia – dengan mengatakan, “Seorang pria (maksudnya Trump,red) yang bisa terpancing (hanya) dengan tweet, bukan orang yang bisa dipercaya mengendalikan senjata nuklir.”

Menggigit Umpan
Umpan yang dilempar itu bukanlah cuitan di medsos, tapi Khizr Khan orang tua (dari Kapten Humayun Khan) yang berduka karena anaknya, seorang tentara Muslim, tewas tahun 2004 saat bertugas di Irak. Anaknya bertempur dalam keputusan perang oleh George W Bush — perang  yang sah tapi tidak bermoral — yang mengakibatkan kehancuran total suatu negara bangsa. Sekaligus membantu bangkitnya ‘geng pembunuh’ Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS).

Ceritanya bermula ketika Tuan dan Nyonya Khan, orang tua tentara Muslim Kapten Humayun Khan, muncul di panggung untuk berbagi kesedihannya dengan bangsa Amerika, sekaligus mengecam Donald Trump yang anti-Muslim.

Tuan Khan, yang pidatonya ditujukan untuk Trump, saat itu menyatakan: “Anda telah berkorban banyak, tapi itu tidak ada artinya.” Kemudian dengan emosional ditegaskan: “Donald Trump, Anda minta dipercayai untuk membangun masa depan Amerika? Mari saya tanya…. Apakah Anda pernah membaca konstitusi AS? Kalau belum, dengan senang hati saya pinjamkan fotokopinya.” Kemudian Khan mengeluarkan salinan konstitusi AS dari saku jasnya.

Itu pertunjukan drama yang sempurna, tayangan televisi yang sempurna, dan politik yang sempurna. Dan dengan segera, adegan itu menyebar di internet.

Trump terpancing, menyepelekan seorang tentara Muslim yang tewas untuk AS. Seperti biasa, Trump merespon dengan cara dangkal,  ceroboh, dan dengan lagak premanisme. Lebih bodoh lagi, ia justru menyasar Ghazala Khan atau Nyonya Khan yang tidak bicara sepatah pun saat mendampingi Tuan Khan pidato di panggung.

Tapi Trump menduga semaunya, ia diam karena memang dilarang bicara. Ia  diam menunjukkan seorang wanita Muslim yang lemah dan tertekan. Padahal Ghazala diam karena sedang berduka. Menurut pengakuannya, ia selalu tak bisa berkata apa pun bila sedang mmebicarakan kematian putranya. Itulah kesalahan Trump yang terperangkap kampanye buatan  Clinton.

Pers liberal Amerika seolah memihak Clinton, terus menekan dengan menghadirkan kalangan Muslim di berbagai program talk show, untuk mengecam Trump bahkan dengan bahasa yang lebih fasih.

Trump malah menanggapinya dengan cara yang lebih bodoh, justru memperlihatkan arogansinya, dan kelewat batas menghina keluarga seorang tentara AS yang gugur di medan perang

Runtuh patriotisme dalam militerisme                                                                          Klimaks dari drama ini, seorang pensiunan mayor jenderal tentara AS yang menjadi komandan brigade tempur Kapten Khan, Dana J H Pittard, menulis sebuah esai memori untuk menghormati dan membela keluarga Khan. Tidak diragukan, di masa depan sejarah akan mencatat, insiden Khan menjadi faktor penting jika Trump kalah dalam pemilihan ini.

Memperangkap Trump dengan orang tua prajurit AS yang mati dan membiarkan dia menggantung dirinya dengan tali sepatunya sendiri, merupakan hasil paling langsung dari insiden Khan.

Kampanye Clinton tujuannya setara atau bahkan lebih penting,menyaksikan tontonan ambruknya patriotisme dalam militerisme, sehingga membersihan peran Clinton yang dengan angkuh melancarkan perang Irak. Siapa pun yang mengkritiknya akan jadi mirip Trump yang akan berhadapan dengan orang tua yang berduka.

Muslim,hantuopini11Agustus2

ilustrasi : Mantra Ardhana

 

 

 

 

Kedua tujuan bertemu dengan presisi sempurna: dukungan Clinton untuk perang Irak yang sah tapi tidak bermoral sekarang dibungkus dalam bendera Amerika. Ditempatkan di bawah upacara salinan konstitusi AS, dilakukan secara terhormat oleh orang tua berkabung dari seorang “pahlawan Amerika” yang dimakamkan di pemakaman Arlington.

Mengekspos alur                                                                                                        Seperti semua plot sempurna lainnya, bagaimanapun, selalu ada petunjuk di tempat kejadian.
Sehari sebelum Khan muncul di panggung di Philadelphia, Bill Clinton secara khusus minta uji loyalitas semua Muslim Amerika.

“Jika Anda seorang Muslim, yang mencintai Amerika dan kebebasan, yang benci teror,” katanya, “tinggal di sini dan membantu kami menang dan membuat masa depan bersama-sama. Kami inginkan dukungan Anda.”

Sentimen Bill Clinton yang dinyatakan dalam kalimat itu, diramalkan akan munculnya  Khan ‘di panggung Konvensi Nasional Partai Demokrat, dan ‘prasangka rasis’ telah disiapkan atas kematian anaknya.

Ketika Kapten Khan yang pemberani, menurut laporan saksi, berjalan ke kematiannya menuju pembom bunuh diri yang mendekatinya, pada dasarnya ia berusaha meyakinkan Bill Clinton maupun Donald Trumps tentang tanah air angkatnya bahwa ia “mencintai Amerika dan kebebasan, benci teror” dan pantas untuk berada di sini.

Militerisme Tersembunyi Clinton                                                                               Selalu ada konsekuensi yang tidak diinginkan untuk rencana jahat. Kampanye Clinton berhasil mengekspos rasisme Trump bahkan menjeratnya, dan membuatnya kehilangan pemilu kali inii. Pada kenyataannya pembangunan militer AS dalam proses tersembunyi dalam momen semangat patriotik

Namun dalam prosesnya, komunitas Muslim di AS juga menemukan martabat, mengartikulasikan, dan beberapa hati untuk menata kembali pemilihan presiden ini, dan mewakili masyarakatnya yang banyak difitnah, karena mereka berani bersuara melawan transmutasi patriotisme ke dalam militarisme pihak yang berperang

Kehilangan seorang anak dalam perang tidak berarti bahwa Anda menjadi penghasut perang. Sebaliknya: Mr Khan sebenarnya kritis atas perang Irak. Sentimen anti-perang tersebar luas di kalangan veteran AS dan keluarga mereka.

Salinan konstitusi AS yang diacungkan Mr Khan untuk mengecam hasutan Trump akan kembali menghantui Clinton. Di saat berikutnya, acungan salinan konstitusi itu juga akan jadi teguran sebuah perang yang ilegal terhadap bangsa lain yang berdaulat.

Ed. Roman Emsyair

Sumber: Al Jazeera

 

 




Hari ini, Mimpi Penghuni Surga

ORAN, Aljazair –

Surga menguasai fantasi orang-orang Muslim di abad pertengahan. Ya, bukan hanya di abad pertengahan. Surga bagi umat Islam tetap merupakan fantasi hari ini. Tetap menjadi tema khotbah, dan sekaligus menjadi wacana politik. Surga menjadi tujuan bagi individu atau kelompok, yang secara bertahap menggantikan impian tentang pembangunan, stabilitas dan kemakmuran, yang dijanjikan oleh dekolonisasi pasca perang di dunia Arab.

Kamel Daoud, Aug, 2016

Hari ini, imajinasi kebahagiaan hanyalah tentang hari esok setelah kematian, bukan saat hidup di dunia.

“Kenikmatan surga bagi diri sendiri ,” renungan yang ditulis dalam editorial di sebuah surat kabar Islam di Aljazair, saat bulan Ramadhan.

Pernyataan itu diikuti dengan penjelasan tentang pesona, kenikmatan, kegembiraan yang setia menanti setelah kematian. Imajinasi tentang surga, digambarkan sebagai tempat berlimpah kenikmatan, dengan hidangan seks dan anggur, perhiasan emas dan pakaian sutra.

Ini  janji akan datangnya kenikmatan berlipat-lipat, kebalikan dari kehidupan duniawi yang penuh derita bagi kebanyakan orang Arab. Mereka berada dalam situasi frustrasi yang dialami (umumnya) negara-negara Arab yang menderita karena kegagalan ekonomi, perang dan kediktatoran berdarah.

ilustrasi; Mantra Ardhana

Surga dijanjikan oleh kitab suci Quran, makin seru dengan setumpuk uraian dalam literatur agama selama berabad-abad. Dalam beberapa tahun terakhir, surga menjadi negara impian orang miskin, pengangguran, tapi juga kaum beriman. Dan dengan jihad bisa mencapainya, seperti dipromosikan para tokoh agama saat merekrut para relawan.

 

Ilustrasi : Mantra Ardhana

Ini adalah pembaruan menarik dari konsep kebahagiaan, yang dominan setengah abad lalu. Saat itu, negara-negara Maghreb danTimur Tengah – yang ingin lepas dari belenggu kemiskinan dan kesengsaraan akibat penjajahan, harus berperang melawan pasukan pendudukan. Negara-negara itu menganjurkan jihad untuk visi masa depan berdasarkan kemerdekaan, egalitarianisme, pembangunan, kemakmuran, kesejahteraan, kreativitas, hidup berdampingan yang berkeadilan.

Visi utopia itu mudah dipahami banyak orang. Pada gilirannya diadopsi oleh elit sosialis atau komunis dan bahkan beberapa monarki, sebagai mimpi politik bersama. Itu memberi legitimasi kepada rezim-rezim baru. Dekolonisasi merupakan era dengan slogan besar tentang kemajuan bangsa dan modernisasi melalui proyek-proyek besar  infrastruktur.

Tapi mimpi itu berujung buruk. Terutama disebabkan pikiran berdarah dari rezim otoriter serta kegagalan politik kiri di dunia Arab. Hari ini, seseorang Muslim – dengan iman, budaya atau dimana pu berada – memasuki utopia Islamosphere yang beredar melalui internet dan media. Fantasi inilah yang saat ini memenuhi benak banyak orang, dalam pidato politik, lamunan kedai kopi dan keputus asaan generasi muda. surga telah datang kembali sebagai mode, dijelaskan rinci oleh pengkhotbah, imam, termasuk dalam fantasi sastra Islam

Nilai jual utama; kaum perempuan, dijanjikan dalam jumlahn banyak, sebagai hadiah bagi yang bertakwa. Para wanita dari surga, bidadari, cantik, penurut, perawan lembut. Bagaimana dengan jihadis perempuan, juga diizinkan masuk taman firdaus yang kekal itu? Jika laki-laki dapat memiliki puluhan perawan, bagaimana dengan para perempuan?

jawaban para pengkhotbah bisa lucu: imbalan surgawi bagi perempuan itu adalah menjadi istri yang membahagiakan suaminya dalam kehidupan kekal. Mereka berdua ditakdirkan untuk menikmati kebahagiaan suami-istri yang abadi, di usia simbolis 33 dan dalam kesehatan yang yang juga kekal.

Bagaimana bagi perempuan yang sudah tidak punya suami atau sudah bercerai? Seorang pengkhotbah menjawab, perempuan itu akan mendapatkan suami lagi dengan pria lain yang sudah bercerai semasa masih hidup di dunia.

Anehnya, impian ini dari surga Muslim berhadapan dengan idaman lain yang sekaligus antagonis: dunia Barat. Membangkitkan gairah atau kebencian bagi orang Islam pergi yang ke Barat, hidup atau mati di sana , sebagai migran atau martir, menaklukkan atau menghancurkannya.

Utopia Muslim yang baru itu menjadi soal di dunia Arab saat ini. Motivasi banyak orang lari dari keputusasaan dan keluar dari kesengsaraan,  tidak lagi dengan mewujudkan negara yang makmur kaya dan sejahtera, seperti terjadi pasca dekolonisasi. Yang terjadi hari ini adalah janji surga di akhirat. Imajinasi tentang ‘kebahagiaan kekal’ menyebabkan kegelisahan.

Banyak orang ingin mengabaikan ini. Namun faktanya, untuk masuk surga orang harus lebih dulu mati.

 

Kamel Daoud, kolumnis untuk Quotidien d’Oran, adalah penulis novel “The Meursault Investigation.” Esai ini diterjemahkan oleh John Cullen dari bahasa Prancis

(Judul asli dalam Bahasa Inggris : Paradise, The new Muslim Utopia)