PUASA DAN TRANSISI LAKU

Drs Cukup Wibowo MMPd Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram

Puasa membuat siapapun yang menjalaninya akan memperoleh pengalaman transisional atas laku dirinya

PERUBAHAN BAGI MAHLUK HIDUP adalah sebuah keniscayaan. Ditandai oleh hal baru yang membedakan rupa suatu keadaan di fase awal ke fase berikutnya, perubahan menjadi tuntutan yang tak bisa dielakkan, apakah itu merupakan siklus alami atau kreasi yang dilandasi oleh kesadaran diri untuk menjadi lebih baik.

Sebagai penghuni kehidupan dengan realitasnya yang selalu berubah, kita tak bisa menghindar dari perubahan yang terjadi di luar kita. Penyesuaian kita tak hanya karena perubahan itu terjadi secara fisik, namun juga pada hal yang sifatnya nonfisik, yang oleh M. Azhar dalam tulisannya Perubahan sebagai ‘Sunatullah’, disebutkan meliputi hal-hal seperti paradigma, konsep, teori, pendekatan, metode, definisi, perspektif, wawasan, sistem, visi, misi, program dan sejenisnya.

Oleh alasan perubahan yang terjadi di luar kita itulah, penyesuaian harus kita lakukan dengan membangun kesadaran diri agar bisa kita petik kemanfaatan dari perubahan yang ada. Namun begitu, selain sisi positifnya, perubahan juga menghadirkan efek negatif bagi mereka yang gagal untuk mendapatkan kebaikan yang dikandung oleh perubahan itu. Karenanya, sekalipun perubahan itu merupakan keniscayaan, kita tak boleh membiarkan diri tanpa bekal ilmu pengetahuan dan agama yang baik agar kita tidak menjadi mangsa dari laju perubahan yang menyasar apa saja.

Ikhtiar untuk membekali diri dengan bekal pengetahuan agama tentu dimaksudkan agar kita bisa selamat dunia dan akherat dalam menghadapi keniscayaan yang tak bisa kita elakkan dalam hidup ini.

Nasehat akan hal ini juga telah disampaikan oleh Imam Syafi’i, “Dunia adalah tempat yang licin nan menggelincirkan, rumah yang hina, bangunan-bangunannya akan runtuh, penghuninya akan beralih ke kuburan, perpisahan dengannya adalah sesuatu keniscayaan, kekayaan di dunia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemiskinan, bermegah-megahan adalah suatu kerugian, maka memohonlah perlindungan Allah, terimalah dengan hati yang lapang segala karunia-Nya.”

Puasa adalah rangkaian ikhtiar untuk membuat siapapun yang menjalaninya akan memperoleh pengalaman transisional atas laku dirinya, yakni perubahan dari diri tanpa batas menjadi pribadi yang memiliki kepastian batas

Menjalankan ibadah puasa membuat kita terlatih berprilaku untuk makin tahu malu, tahu aturan, dan yang paling utama adalah tahu bagaimana menjalankan ketaatan kita kepada Allah dengan cara yang sebenar-benarnya. Perubahan (transisi) laku inilah yang menjadi salah satu hikmah kita berpuasa.

Semoga puasa kita di hari ke-28 ini membuat kita makin memiliki kesadaran untuk terus berikhtiar dalam perubahan diri agar menjadi lebih baik bagi diri sendiri maupun orang lain.***




 PUASA DAN KISAH TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH

Drs Cukup Wibowo MMPd Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram

Hal yang tampak ‘tidak mungkin’
dalam memperjuangkan kebenaran-Nya
akan menjadi ‘mungkin’ bagi hamba Allah yang beriman

Alkisah, seorang guru muda pendatang bernama Ibrahim harus terjebak di suatu kampung dengan berbagai masalah yang tak biasa. Berbagai kejanggalan yang terjadi tak hanya soal kebejatan moral yang justru dilakukan oleh orang paling kaya dan berpengaruh di kampung itu, yang bernama Harun, tapi juga oleh penolakan segelintir orang terhadap dirinya.

Oleh cintanya yang ditolak oleh Ibrahim, Jamilah yang tak lain adalah istri Harun kemudian memfitnahnya dengan mengatakan kalau dirinya diperkosa oleh Ibrahim. Dalam cerita yang menggambarkan niat Ibrahim untuk mengubah kampung itu lebih baik, ia justru harus berhadapan dengan banyak tokoh yang menghalang-halangi langkahnya.

Di antaranya guru agama di kampung itu yang bernama Sulaeman, yang banyak dipengaruhi oleh Harun. Juga seorang pemuda berandal bernama Arsad yang sangat tidak menyukai kehadirannya lantaran pernah kepergok oleh Ibrahim saat sedang memperkosa Halimah, gadis desa yang dianggap sakit jiwa.

Di tengah situasi yang tak mudah karena dirinya harus juga menghadapi hasutan yang membuat penduduk kampung akan menghukumnya, Ibrahim akhirnya bisa keluar dari kemelut dan berhasil menyadarkan penduduk kampung untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Begitulah sinopsis film yang berjudul Titian Serambut Dibelah Tujuh, yang dirilis tahun 1982 dengan sutradara Chaerul Umam dan aktor El Manik sebagai pemeran Ibrahim. Dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1983, Asrul Sani meraih penghargaan sebagai penulis skenario terbaik dalam film itu.

Apa yang bisa kita petik dari cerita film yang mengisahkan banyak kemunafikan yang terjadi di masyarakat itu?

Keteguhan dan keseimbangan diri adalah kunci dalam menghadapi terpaan badai. El Manik yang bermain sebagai Ibrahim dalam film itu dengan sangat bagusnya menunjukkan kepada penonton bagaimana seseorang yang sedang berjuang di jalan kebaikan tak akan pernah luput dari gempuran berbagai ujian. Tekanan mental oleh hujatan dan kebenciaan masyarakat yang tak menginginkan perubahan membuatnya serasa seperti sedang menyebrang titian serambut dibelah tujuh.

Hal yang tampak ‘tidak mungkin’ dalam memperjuangkan kebenaran-Nya akan menjadi ‘mungkin’ bagi hamba Allah yang beriman. Hanya dengan kesabaran, keteguhan hati serta keyakinan bahwa tidak ada yang bisa menolong kecuali Allah adalah modal utama seorang yang beriman dalam mengatasi setiap masalah yang dihadapinya.

Di dalam tindakan puasa, perjuangan diri untuk tidak mudah ditaklukkan oleh antagonisme yang bersemayam di dalam jiwa dan raga adalah, karena kuatnya kesabaran dan kokohnya keyakinan karena Allah. Ya, semua karena Allah.

Sejak dari ketika kita berniat, berproses hingga sampai titik selesainya puasa, semua semata-mata karena Allah, Sang Maha Benar dari segala kebenaran yang ada.

Semoga puasa kita di hari keduapuluh lima ini makin memantapkan keyakinan kita bahwa perjuangan melawan hawa nafsu menjadi mudah karena Allah memang memudahkan semua kesulitan kita.




PUASA DAN NARASI TENTANG KESETIAAN

 Drs Cukup Wibowo MMPd Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram

Kesetian untuk mengabdi pada kebaikan memang tak mudah, bila mengingat kecurangan itu juga bisa bermula dari diri sendiri. Puasalah yang bisa membuat kita tetap jujur dan tak berkhianat

Migrasi burung pada caranya melintasi waktu dalam pergantian musim yang berkepastian. bukanlah pengandaian untuk menggambarkan ketekunan yang berulang. Pergerakan burung dari satu wilayah ke wilayah lainnya itu adalah potret dari sebuah realitas di antara begitu banyak peristiwa yang sejenis.

Migrasi, sebagaimana siklus pergantian musim, adalah cara alam menetapkan ketentuannya. Seluruh penghuni bumi berada di dalam ketentuaan yang sama dimana kehidupan berproses sejak mula hingga akhirnya.

Dalam kesetiaan menjalani ketentuan itu selalu terselip harapan yang menjadi alasan utama kenapa semua proses itu berlangsung.
Kehidupan dan kematian adalah ketentuan yang tak bisa dielakkan oleh makhluk hidup dalam wujud apapun dirinya.

Manusia, hewan, tumbuhan, dan patikel hidup lainnya berada dalam siklus yang sama, yakni dari ada menjadi tiada. Kehidupan menjadi ruang pengabdian sebelum kematian menjemput dengan seluruh harapan yang disediakan usai kematian terjadi. Para pemilik keyakinan mempercayai bahwa ada janji kehidupan yang lebih abadi seusai kematian disediakan Yang Maha Kuasa atas dedikasi keimanan hamba-Nya semasa hidup.

Bila demikian, betapa singkatnya waktu yang harus ditempuh oleh manusia untuk seluruh pengabdian hidupnya sebelum apa yang dilakukannya usai. Hidup tak ubahnya berhenti dalam kesejenakan dengan ragam anjuran dan godaan yang datang silih berganti. Pilihannya hanya satu, bermanfaat atau sia-sia.

Godaan-godaan yang begitu memukau panca indera tak hanya sekedar melintas, lebih dari itu dengan pesonanya yang melenakan bisa membuat diri tak berkutik. Di tengah kesementaraan waktu yang memiliki batas yang amat singkat, godaan itu seperti hendak melucuti kesetiaan dan dedikasi keimanan kita.

Untuk apa hidup bila tak menikmati apa yang ditawarkannya? Bukankah tubuh memiliki hak untuk merasakan seluruh nikmat yang diinginkannya? Kenapa harus menunggu kematian bila tubuh kemudian jadi bangkai yang terbujur tanpa memiliki kesanggupan untuk menginginkan sesuatu yang paling remeh sekalipun?

Kesetian untuk mengabdi pada kebaikan memang tak mudah bila mengingat kecurangan itu juga bisa bermula dari diri sendiri. Hawa nafsulah yang jadi pemicu kecurangan, yang dengan lihainya mengubah keyakinan dengan penyesatan logika tentang waktu. Alih-alih menggunakan waktu untuk kebaikan, yang terjadi justru bagaimana waktu diposisikan untuk bisa memfasilitasi hasrat duniawi.

Puasa adalah contoh kesetiaan nyata pada kebaikan yang harus terus dijaga hingga pada waktunya. Godaan dan tekanan apapun tak boleh membuat kita lemah dan kalah, yang hanya membuat kita kehilangan kehormatan diri

Semoga di puasa keduapuluh tiga ini kita bisa merawat pikiran-pikiran baik tanpa ternodai oleh godaan apapun yang menjadi larangan.***




PUASA DAN SINERGI KEBAIKAN

DRS. Cukup Wibowo, M.Pd Sekretaris Dishub Kota Mataram

Kebersediaan adalah modal utamaketika sinergitas menjadi kebutuhan setiap unsur dalam kelompok. Tak ada yang lebih baik dari kebersediaan diri untuk bisa membuat kebaikan terwujud

Kita tak akan pernah bisa lepas dari himpunan. Sebagaimana tubuh yang berisi himpunan organ dengan fungsinya masing-masing. Satu sama lain tak bisa bekerja sendiri, melainkan saling terikat untuk kemudian saling menguatkan. Tubuh kita adalah pengandaian yang bisa dijadikan contoh untuk menggambarkan betapa tak ada yang bisa disebut paling penting bila masing-masing organ yang merupakan bagian dari himpunan itu senyatanya memiliki otoritas untuk menjadi penting dalam sistem kerja tubuh, yang diperlukan agar metabolisme tubuh terjaga fungsionalitas dan keteraturannya.

Praktek akan pentingnya peran setiap individu dalam kebutuhan himpunan berlaku dalam banyak urusan. Yang membedakan satu sama lain hanya pada porsi tanggung jawabnya. Sebuah tujuan kelompok akan terwujud manakala tanggung jawab bisa ditunaikan secara optimal oleh masing-masing anggota yang ada di dalam kelompok itu.

Namun begitu pengingkaran tak bisa dielakkan. Setiap kali rumusan ideal bagi tercapainya maksud dan tujuan terbentuk, setiap kali itu pula hambatan dan rintangan muncul  saat rumusan harus dipraktekkan. Sebuah urusan seringkali mengalami kesulitan untuk diwujudkan manakala ia  tak bisa dianggap mewakili kepentingan dan harapan setiap orang.

Cikal bakal akan munculnya friksi sering kali dipicu oleh kuatnya pikiran dalam pertarungan untuk memenangkan maksud. Dimulai dari kebutuhan akan tercapainya maksud itu, maka para pemilik maksud akan berkoalisi dengan pemilik maksud yang sama. Dalam keadaan seperti ini, cita-cita untuk mewujudkan tujuan secara bersama-sama tak ubahnya rumusan impian belaka.

Dalam keadaan ketika kemacetan terjadi, tak bisa kita pungkiri, ia hanya bisa terurai bila ada kebersediaan untuk masuk dalam keteraturan. Kebersediaan adalah modal utama ketika sebuah kerjasama semua unsur yang terlibat (sinergitas) bisa dirumuskan oleh masing-masing pihak. Tak ada yang lebih baik dari kebersediaan diri untuk bisa membuat kebaikan terwujud.

Puasa yang kita jalani adalah rumusan dan sekaligus tindakan kebaikan. Barangsiapa berpuasa sesungguhnya dia menjalani dua hal sekaligus, yakni teori dan praktek. Pertama adalah merancang niat. Dan niat itu serupa formula dalam menjalani kebaikan-kebaikan yang memang menjadi isi dari keharusan puasa. Yang kedua adalah mempraktekkan kebersedian dalam puasa, yaitu dengan jalan menahan hawa nafsu serta terus bersabar dalam memahami tindakan dan prilaku pihak lain.

Bila keduanya yakni antara niat dan praktek puasa bisa menjadikan diri kita pribadi yang tentram dan tak bergolak dengan diri sendiri, maka sesungguhnya itu memudahkan kita dalam menyesuaikan diri dengan orang lain dalam himpunan kebaikan yang sama.

Semoga puasa kita di hari keduapuluh dua ini kita makin membuat kita percaya bahwa kebaikan itu bukan sebuah keniscayaan, melainkan ikhtiar yang bersungguh. Dan puasa kita adalah kesungguhan untuk maksud itU.***




PUASA DAN MALAM PENUH KEMULIAAN

                                                                                                                                      “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka   jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukhari dan Muslim)                                                                                

Oleh Drs Cukup Wibowo MMPd Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Mataram

Bulan Ramadhan adalah sebuah kisah tentang waktu. Bulan dengan begitu banyak keberkahan yang terkandung di dalamnya. Tak heran bila kita menyaksikan bagaimana totalitas peribadatan umat Islam di bumi ini selama Ramadhan. Totalitas yang diiringi dengan kegembiraan hati itu menjelma dalam lantunan indah ayat-ayat Illahi yang mengudara dari berbagai penjuru bumi.

Bak orkestrasi dengan siratan kemerduaannya yang berkumandang tanpa henti, udara seperti dipenuhi oleh doa kebaikan dan harapan yang tertuju ke langit. Terlebih pada malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan, bumi seakan menanti tibanya keistimewaan sebuah malam yang dirindukan oleh setiap umat Islam, ialah Malam Lailatul Qadar.

Malam Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (yang dalam bahasa Arab disebut sebagai : لَيْلَةِ الْقَدْرِ, malam ketetapan) adalah satu malam yang begitu luar biasa terjadi di bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Malam yang kemudian diperingati oleh umat Islam sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an. Di keutamaan Lailatul Qadar itu Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadr: 1-5).

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”

Di riwayat lain juga dituliskan, Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan. Lailatul Qadar itu pada sembilan hari yang masih tersisa, tujuh yang masih tersisa, dan lima yang masih tersisa.”

Maksud dari sembilan hari yang masih tersisa, adalah tanggal dua puluh satu, tujuh hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh tiga, dan lima hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh lima.

Kita telah memasuki sepuluh hari terakhir puasa kita di bulan Ramadhan. Betapa berharganya waktu di sisa sepuluh hari terakhir ini untuk kita sia-siakan bila kita ingin bertemu dengan Lailatul Qadar. Tentu saja perjumpaan itu bersyarat bila kita ingin meraihnya, tapi dengan ridho dan keberkahan Allah SWT

semoga kita menjadi bagian dari “yang dikendaki Allah untuk menjumpai malam penuh kemuliaan” itu. Insyaallah.***




PUASA DAN SUNGSANGNYA AKAL SEHAT

OLEH ; CUKUP WIBOWO ; Sekretaris Dishub Kota Mataram

Kita harus terus menjaga dan merawat akal sehat kita agar tidak sungsang, yang membuat kita bisa keliru dan terbalik dalam menafsirkan kebaikan yang menjadi Kehendak-Nya

DUNIA DAN IS PERISTIWANYA sepenuhnya obyektif. Sebagaimana warna berkomposisi dalam rumusan warna primer, sekunder, maupun gabungan komposisi lainnya, semua menampakkan kealamian yang tak terbantahkan. Warna pohon, warna laut, warna langit, atau warna-warna yang kemudian berubah setelah sinar matahari meneroboskan cahayanya. Rangkaian warna dengan ragam sumber asalnya inilah yang menjadikan para seniman lukis memperoleh inspirasi untuk melukiskan keindahan sebuah obyek yang bisa membuat decak kagum yang menyaksikannya.

Tak hanya para pelukis, seniman dan pekerja seni lainnya juga begitu. Mereka berkreasi atas inspirasi pada apa yang secara obyektif ditampakkan oleh alam.

Para ilmuwan dan penemu berbagai fenomena alam yang hasil kerjanya begitu mencengangkan sesungguhnya adalah perumus dan penyimpul dari apa yang diciptakan Tuhan. Kerja keras mereka dengan kehebatan ilmu yang dimilikinya tak lebih dari sebuah kerja pembuktian atas apa yang mereka saksikan.

Rasa penasaran mereka atas sesuatu telah membuat mereka mencari cara dan alasan agar bisa dijadikan rumusan yang bisa membantu siapapun mengerti. Seperti yang dirumuskan oleh Isaac Newton, Bapak Ilmu Fisika, dalam bukunyanya Philosophiae Naturalis Principia yang dianggap paling berpengaruh sepanjang sejarah sains, ia memperkenalkan Teori Gravitasi yang membuat kita kemudian mengerti gerak benda di bumi dan benda-benda luar angkasa lainnya diatur oleh sekumpulan hukum-hukum alam yang sama. Tapi apakah setiap orang telah membaca rumusan Newton itu? Tentu jawabannya tidak semua orang.

Ilustrasi tentang Newton yang memiliki kontribusi besar dalam sains dalam kehidupan umat manusia di atas, sebenarnya hanya untuk membuat kita bisa memetik pada apa yang ada di alam kehidupan ini. Alam adalah sekolah terbaik dengan begitu banyak pelajaran obyektif yang tersaji bagi siapapun yang ingin mendapatkan dan sekaligus mendalami ilmu kehidupan.

Syarat untuk bisa berinteraksi dengan baik agar ilmu mudah terserap di pikiran adalah dengan terus mengasah akal sehat kita. Ya, akal pikiran kita adalah sendi utama dalam mengerti kebesaran Illahi dengan seluruh Ilmu-Nya yang Maha Luas. Itu sebabnya kita harus terus menjaga dan merawat akal sehat kita agar tidak sungsang, yang membuat kita justru bisa keliru dan terbalik menafsirkan kebaikan yang menjadi Kehendak-Nya.

Puasa adalah sebuah hubungan khas hamba dengan Tuhan-Nya. Di pikiran yang sehatlah hubungan itu selaksa jagat semesta kehidupan yang berisi Kebaikan dan Kebenaran Ilmu Allah dengan pembelajaran yang tak pernah usai.

Semoga ketekunan kita dalam berpuasa hingga hari kesembilan belas ini bisa membuat kita makin mendasarkan seluruh ibadah kita karena Kebaikan dan Kebenaran Ilmu-Nya.***




IBU SHINTA DAN ENERGI KEMAJEMUKAN BANGSA

Oleh ;  Cukup Wibowo

Ibu Dra Shinta Nuriyah M.Hum, datang di Mataram untuk berbuka bersama kelompok tuna netra, difabel, loper koran, masyarakat kampung, pondok pesantren dan anak-anak yatim dan terlantar menjadi penting di tengah situasi bangsa yang sedang diuji oleh pertikaian para elit politik.

Kehadiran istri dari Presiden RI Ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa dengan Gus Dur ke Islamic Center, Mataram,  Rabu, 22 Mei 2019, selain  dihadiri  Gubernur NTB Dr Zulkiflimansyah juga dari berbagai kalangan, mulai birokrat, politisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat, aktivis pemuda dan mahasiswa, wartawan, dan aktivis LSM,.

Acara yang diselenggarakan oleh Indonesia Tionghoa (INTI) NTB dan dipandu langsung oleh MC Indra Bekti dan Inaiyah, yang tak lain adalah putri bungsu dari Gus Dur itu bergeser dari penyampaian tausyah menjadi dialog antara Ibu Shinta dengan audince.

Dengan gayanya yang khas Ibu Shinta langsung menggiring persoalan menuju akar substansinya, yakni kemajemukan yang memang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Bagi Ibu Shinta, keberagaman bangsa ini merupakan keniscayaan yang membuat setiap orang memiliki hak sama dalam hidup dan kehidupannya, meskipun dalam soal keberuntungan hidup antara satu orang dengan lainnya tidak selalu sama.

Artinya, ada yang hidupnya beruntung karena memiliki kelebihan harta, pangkat dan jabatan. Sementara yang lainnya masih hidup susah dan malah termarjinalkan. Itu sebabnya Ibu Shinta lebih memilih untuk berbaur dengan kelompok yang belum beruntung. Yang menurutnya, menemani kelompok yang belum beruntung memberi satu kebahagiaan tersendiri.

Dalam menjabarkan keberuntungan dan ketidakberuntungan yang dialami oleh kelompok masyarakat inilah, Ibu Shinta kemudian mengaku bahwa yang dilaksanakan sejak ketika Gus Dur jadi Presiden adalah Sahur Keliling Bersama orang-orang miskin dan termarjinalkan.

Kenapa lebih memilih Sahur dibanding Berbuka?

Ibu Shinta menjelaskan secara filosofis, mereka yang bersahur itu sedang menyiapkan diri untuk berpuasa, sementara berbuka itu lebih pada selesainya rasa lapar. Maka bersahur dengan orang-orang yang sehari-harinya sudah hidup susah tentu berbeda bila mengingat esoknya mereka harus berpuasa.

Menurut Cukup Wibowo, Ketua Panitia dari kegiatan itu, menghayati apa yang disampaikan oleh Ibu Shinta dalam acara yang bertemakan “Dengan Berpuasa Kita Padamkan Kobaran Api Kebencian dan Hoaks”.

Acara ini setidaknya  membuka kesadaran yang hadir bahwa klaim diri sebagai yang paling baik dan kebencian satu kelompok atas kelompok lainnya hanya akan  merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa (NKRI).

Bangsa Indonesia yang memiliki kemajemukan atas suku, agama, ras, budaya, dan latar belakang perbedaan lainnya sesungguhnya bisa menjadikan semua itu sebagai energi bangsa yang luar biasa.

Jalan menuju cita-cita kebangsaan yang sama di keberagaman yang meniscaya itu landasannya adalah kesanggupan untuk terus saling mau memahami sekaligus mengerti bagaimana meletakkan perbedaan yang ada secara produktif, tidak malah destruktif yang justru membuat bangsa menjadi porak poranda.

Menurut Cukup, penyelenggaraan acara yang merupakan kerjasama antara Panitia INTI Pusat dan INTI NTB ini diharapkan bisa makin memperkenalkan kiprah Perhimpunan INTI di masyarakat yang belum mengetahuinya. S

Sebagai bagian dari keberadaan bangsa Indonesia, INTI akan terus mendorong dan membuka kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam urusan kebangsaan.***




Catatan Politik Akhir Tahun 2018 versi Mi6; Diprediksi Banyak Caleg Incumben Tumbang dijauhi Konstituen

Incumben jika tidak merubah pendekatan politiknya dan tetap konvensional akan dijauhi konstituennya, apalagi yang jarang turun dan merawat loyalisnya

lombokjournal.com —

Mataram   ;  Catatan Politik akhir tahun 2018 , Mi6 menilai kemenangan Zul Rohmi dalam pentas Pilgub NTB, menjadi Trigger dan Spirit di kalangan Caleg Pemula maupun muda untuk meraih sukses memenangi Pemilihan Legislatif , April 2019.

Zul Rohmi telah menjadi icon perubahan bagi Caleg Muda. Inspirasi inilah yang kemudian mendorong banyak Caleg Muda untuk meniru cara blusukan Zul Rohmi day by day menyapa warga.

Selain itu Mi6 memprediksi banyak caleg petahana akan tumbang dan dijauhi konstituen karena dianggap tidak memiliki visi dan semangat perubahan seiring dengan perubahan zaman. Dengan bertambahnya pemilih pemula Milineal , caleg muda yang bisa meraih simpati pemula akan mudah melenggang ke parlemen .

Demikian Catatan Politik Akhir Tahun 2018 versi Mi6 yang disampaikan ke media , Rabu ( 26/12) .

Mi6 menilai Pilleg 2019 merupakan era kebangkitan partisipasi politik pemilih Milenial dan kelas menengah yang sadar politik. Hal ini ditandai dengan intensnya keterlibatan orang orang muda dalam mengorganisir moment moment politik di wilayah nya.

“Politik tidak dipandang sebagai hal yang menakutkan tapi sudah menjadi bagian gaya hidup oleh kaum Milenial,” ungkap Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH sembari mengatakan kemenangan Zul Rohmi salah satu disokong oleh kepiawaian dalam mengintertain pemilih Milenial .

Selain itu Mi6 melihat caleg pemula/ muda diberbagai tempat di NTB sudah berani melawan arus mainstream yakni menjelajah wilayah yang diklaim basis incumben. Agresifitas Caleg Muda dalam melakukan penetrasi basis pemilih sedemikian masiv dan teratur dengan target tidak besar per TPS.

“kebanyakkan caleg muda minus logistik , menjauhi politik grosiran yg sulit diverifikasi dukungan riilnya , tetapi lebih mengedepankan manuver politik day by day dengan pendekatan TPS yang lebih presisi basis dukungan pemilihnya ,” ungkap Didu , panggilan akrab Direktur M16 .

Mi6 menambahkan Menyadari kelemahan dari sisi logistik , Caleg Muda mengambil pilihan taktik meniru gaya blusukan Zul Rohmi yang dimodifikasi menyesuaikan dengan sikon politik setempat.

“Semangat api perubahan yang diusung caleg muda lintas parpol rata-rata ter ilhami oleh sukses story  Zul Rohmi bahwa tak ada yang tidak mungkin dalam politik ,” lanjut Didu

Sementara itu aneka terobosan politik dalam meraih persepsi votter oleh caleg muda merupakan early warning bagi caleg incumben agar bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi. Caleg Incumben jika tidak merubah pendekatan politiknya dan tetap konvensional akan dijauhi konstituennya, apalagi yang jarang turun dan merawat loyalisnya.

“Pendek kata Pilleg 2019 mendatang akan banyak politisi  pemula/muda yang akan duduk di parlemen NTB  karena mampu menyakinkan rakyat dengan ide dan gagasan  perubahan yang Milenial,” pungkasnya .

Me




Jangan Abaikan Partisipasi Politik Perempuan dan Pemilih Milenial

Perempuan harus berani tampil terbuka memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Jumlah pemilih perempuan yang melebihi laki-laki,  harusnya menumbuhkan kepercayaan diri bagi perempuan

MATARAM.lombok journal.com — Regulasi telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi perempuan berpartisipasi dalam pemilu. Sesuai UU  7 tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum, tiap 3 (tiga) orang bakal calon terdapat paling sedikit 1 (satu) orang perempuan bakal calon.

Menurut Karman BM, mantan Ketua Umum GPII, meski perempuan telah mendapat kesempatan luas-dalam pemilu legislatif, namun masih terdapat problem terkait partisipasi perempuan itu.

Berdasarkan pengalaman, parpol masih kesulitan memenuhi representasi perempuan 30 persen sesuai UU. Hal itu seperti menggambarkan adanya something wrong dalam proses kaderisasi dan rekrutmen kaum perempuan.

“Mestinya, parpol (partai politik) tidak memperlakukan partisipasi perempuan dalam politik, semata-mata  memenuhi kewajiban 5 tahunan,” kata Karman,  Sabtu (28/07), dalam percakapan terkait partisipasi politik perempuan.

Menurutnya, hal itu merupapan pelajaran penting yang seharusnya menjadi refleksi parpol, khususnya di NTB.  Partisipasi perempuan merupakan elemen penting bagi sehatnya sistem demokrasi.

Selama ini, parpol dinillai kurang serius dan tidak maksimal mellibatkan perempuan dalam strategi pembangunan politik.

Apalagi masih kuatnya budaya patriarki di tengah masyarakat, hegemoni agama, struktur sosial dan kepartaian belum mendukung bagi masuknya gender secara kaffah dalam politik. Ditambah lagi, minimnya akses informasi tentang pemilu dan demokrasi bagi perempuan.

Padahal, representasi perempuan yang memadai dalam pemilu, akan mempengaruhi kulaitas partisipasi dengan meningkatkan partisipasi pemilih perempuan.

Perempuan harus makin berani mengambil peran penting dalam proses pemilu, selain menjadi calon kegislatif (caleg), atau penyelenggara pemilu, hingga pemilih yang cerdas.

Perempuan Harus Berani Tampil

Di pihak lain, Karman berharap kaum perempuan bisa memanfaatkan peluang itu. Sistem pemilu telah memberikan peluang cukup besar bagi partisipasi kaum perempuan terutama sebagai calon legislatif.

“Perempuan harus memanfaatkan peluang itu,” tegas Karman.

Seharusnya perempuan terus menerus berani tampil terbuka memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Jumlah pemilih perempuan yang melebihi laki-laki,  harusnya menumbuhkan kepercayaan diri bagi perempuan.

Karman yang kini maju menjadi bakal calon legislatif Partai Perindo dari Dapil 2 NTB itu menilai, sejauh ini parpol masih memperlakukan perempuan sebagai calon dadakan. Itu berarti, masih belum memandang perempuan dan laki-laki memiliki potensi sama dalam pembangunan politik.

Akses Medsos Generasi Milenial

Pemilih milenial (berusia 17-29 tahun) menjadi rebutan parpol, karena  jumlahnya mencapai  20 persen dari jumlah pemilih  nasional.  Mereka menjadi segmen baru pemilih di Indonesia yang berpandangan unik dibanding pemilih lainnya

Karakteristik pemilih milenial tak mudah ditebak, dan gampang bergeser dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Bahkan, bergeser dari satu partai ke partai lainnya.

Menurut Karman, dalam konteks pembangunan politik di Indonesia sentuhan pada pemilih milenial penting dilakukan. Sangat disayangkan kalau mereka justru dirusak praktik politik transaksional.

“Jangan jadikan mereka semata-mata sebagai obyek, tapi mereka merupakan subyek. Kami sendiri melakukan training yang memberdayakan,” kata Karman.

Seperti dikatahui, salah satu pembeda generasi milenial dari sebelumnya adalah akses mereka ke akun sosial media. 54 persen pemilih milenial mengaku mengakses media online tiap hari,  hanya 11,9 persen pemilih non milenial yang mengakses media online tiap hari.

81,7 persen pemilih milenial memiliki akun Facebook,  hanya 23,4 persen  pemilih non milenial (berusia di atas 30 tahun) yang berakun Facebook.

Perbedaan akses terhadap sosial media dan media online mempengaruhi cara milenial memandang politik,  sekaligus cara mereka menentukan pilihannya dalam pemilu.

Politik elektoral 2019, diperkirakan didominasi generasi milenial.

Me

 

 




TGB, Gentlement Secara Politik

TGB tentu sudah mengkalkulasi secara cerdik konsekwensi politik atas pilihan sikap yang diambilnya ini

Bambang Mei F (kanan)

MATARAM.lombokjournal.com — Mundurnya  TGB dari Demokrat merupakan cerminan sikap politik gentlement atau kesatria menyambut kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Ini sebagai konsekwensi politik rasional yang diperlihatkan TGB yang  tidak ingin terbelenggu ikatan politik yang bisa mengganggu ekpektasi politiknya.

TGB menyadari, apa yang  dilakukan hari ini haruslah terbebas dari kepentingan  politik yang tidak segaris dengan  cita-cita politiknya mewarnai ajang Pilpres 2019.

Penilaian itu disampaikan Direktur Lembaga Kajian sosial dan Politik Mi6, Bambang Mei F kepada media, Selasa (24/07)

Selain itu nawaitu politik TGB sebagai salah satu tokoh the rising star dari Sunda Kecil, ingin membuktikan komitmen moral dan politik kepada Jokowi harus memastikan bahwa  langkah politik yang dilakukan  paralel dengan kepentingan politik Jokowi.

TGB ingin pula  menghormati pilihan politik Demokrat,  seandainya kelak dalam pilpres 2019 Partai Demokrat tidak  beriringan jalan dengan Jokowi.

Menurut Bambang Mei yanf akrab disapa dodu, TGB tentu sudah mengkalkulasi secara cerdik konsekwensi politik atas pilihan sikap yang diambilnya ini.

“TGB tentu sudah berhitung secara matang plus minusnya dengan mendeklair mundur dari Demokrat,” ujar Didu., Selasa.

Dalam perspektif politik, lanjut Didu, TGB ingin memberikan pesan bahwa dirinya clear dan clean dari berbagai  kepentingan politik yang tidak sejalan pemerintahan Jokowi.”

“TGB sadar bahwa akan ada imbas politik, tentu  TGB sudah punya cara mengantisipasinya dengan elok,” lanjut Didu.

Didu menambahkan, salah satu antisipasi politik yang telah dilakukan TGB jauh hari sebelumnya  yakni dengan melakukan safari dakwah keliling nusantara dan mengunjungi tokoh tokoh penting nasional dalam kerangka memperkenalkan diri juga untuk memperkuat elektabilitas politik TGB dimata publik.

“Lewat safari dakwah dan silaturahmi dengan tokoh nasional, TGB ingin merangkul semua komponen bangsa mohon doa dan restu ,” ungkapnya.

Me