Bima dan Kota Bima Kembali Dilanda Banjir

Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten dan Kota Bima, NTB, Minggu malam (26/3) akibat hujan deras sejak pukul 15.00 Wita.

MATARAM.lombokjournal —  Beberapa kelurahan di Kota Bima kebali dilanda banjir, seperti di Kelurahan Penatoi dan Sadia.  Di saat bersamaan beberapa Desa di Kecamatan Sape di Kabupaten Bima, juga dilanda banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Muhammad Rum mengungkapkan itu berdasarkan laporan yang diterima dari lapangan di wilayah Kabupaten dan Kota Bima.

“BPBD setempat sudah melakukan siap siaga dan tindakan evakuasi warga ke masjid dan lokasi yang lebih aman. BPBD Provinsi InsyaAllah malam ini menurunkan tim ke lokasi,” katanya.

Menurut Rum, BPBD di Bima dan BPBD Provonsi saat ini masih terus melakukan pendataan terhadap masyarakat yang terdampak.

AYA




Cegah Kepunahan Rusa, BKSDA NTB Akan Bangun Sanctuary Rusa

Menyusutnya populasi Rusa mendorong Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), akan membangun Sanctuary Rusa

Kepala BKSDA NTB, Ir Widada MM foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com — Populasi Rusa (Cervus Timorensis) yang merupakan hewan endemis sekaligus logo Pemerintah Provinsi NTB terus menurun dari tahun ke tahun.

Untuk mencegah kepunahan mamalia bertanduk eksotis ini, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), akan membangun Sanctuary Rusa seluas 1,5 hektare di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak, Lombok Tengah mulai tahun 2017 ini.

“Kami akan bangun Sanctuary Rusa, jadi sebuah kawasan konservasi yang khusus untuk species tertentu yakni Rusa. Akan dibangun di TWA Gunung Tunak, Lombok Tengah. Untuk Sanctuary ini kita akan tempatkan 20 hingga 30 ekor Rusa,”kata Kepala BKSDA NTB, Ir Widada MM, Senin (20/3) di Mataram.

Widada menjelaskan, populasi Rusa (Cervus Timorensis) terus menurun dari tahun ke tahun di NTB.

Saat ini BKSDA NTB memperkirakan penyebaran populasi Rusa liar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa hanya sekitar tidak lebih dari 2000 ekor.

Jumlah itu tersebar di hutan lepas di kawasan Gunung Rinjani Lombok sekitar 300-400 ekor, di kawasan Gunung Tambora Sumbawa sekitar 400 ekor, pulau Moyo 200 ekor, dan di kawasan hutan lindung Lombok dan Sumbawa sekitar 300 ekor, serta di penangkaran masyarakat sekitar 400 ekor.

“Saat ini ada sekitar 152 penangkaran Rusa milik masyarakat di Lombok dan Sumbawa. Itu jumlah populasinya sekitar 400 ekor,” katanya.

Data BKSDA NTB menyebutkan, pada survay populasi Rusa NTB tahun 2005 silam, jumlah populasi Rusa masih sekitar 6000 ekor tersebar di pulau Lombok dan Sumbawa.

Populasi Rusa itu menurun akibat masih terjadi perburuan liar, dan juga faktor terganggunya habitat Rusa akibat alih fungsi hutan dan perubahan iklim beberapa tahun terakhir.

Widada mengatakan, upaya konservasi Rusa itu dilakukan BKSDA NTB agar hewan yang menjadi maskot lambang daerah Provinsi NTB, itu tidak punah.

“Populasi Rusa terus menurun. Ya jangan sampai satwa yang menjadi maskot NTB itu tinggal di logo dan seragam saja,” katanya.

AYA




Pengendara Sepeda Motor Tewas Tertimpa Pohon

Seorang pengendara sepeda motor, tewas akibat tertimpa pohon tumbang di jalan Brawijaya tepatnya di depan SD Internasional, Seganteng, Cakranegara.

MATARAM .lombokjournal.com – Pengendara itu tak menduga, tiba-tiba pohon tumbang saat ia melintas dan tak bisa menghindar.  “Korban tertimpa pohon tumbang saat melintas di jalan Brawijaya. Meninggal di tempat kejadian,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, H Muhammad Rum, Selasa (7/2).

Kejadian itu sekitar pukul 10.37 Wita. Korban yang diidentifikasi sebagai Sapi’in (38), pedagang ayam, warga Kembang Kuning, Narmada, Lombok Barat mengendarai sepeda motor honda Kharisma melintas di lokasi kejadian saat pohon tumbang diterpa angin kencang.

“Jenasah korban langsung dibawa pihak kepolisian ke RS Bhayangkara,”katanya.

Angin kencang sejak Selasa pagi (7/2) di Kota Mataram menyebabkan sedikitnya delapan pohon besar di lokasi berbeda tumbang. Beberapa baliho ukuran besar juga tampak roboh di Jalan Pejanggik sekitar Islamic Center

Baliho besar roboh

Masyarakat khususnya di Kota Mataram agar berhati hati bila berada di luar rumah. Terutama jika melintasi jalan yang terdapat pohon besar.

Gra




Angin Kencang Tumbangkan Pohon Besar di Mataram, Pengendara Motor Tewas

Angin kencang sejak Selasa pagi (7/2) di Kota Mataram menyebabkan sedikitnya delapan pohon besar di lokasi berbeda, tumbang.

MATARAM.lombokjournal.com — Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB menyebutkan, hingga Selasa siang tercatat delapan pohon tumbang masing-masing di jalan lingkar selatan depan SMKN 9 Mataram, depan kantor Camat Cakra, depan Islamic Center, depan SDN 23 Mataram Karang Bedil, depan TK Internasional Seganteng, di belakang gedung Al Ikhsan Ampenan, di depan kantor Lurah Karang Pule, dan di depan lapangan sepak bola Babakan.

Pohon tumbang di depan Masjid Raya At Taqwa

Di depan kantor Inspektorat NTB di Jalan Pejanggik tampak petugas patroli BPBD Kota Mataram sedang bembersihan pohon tumbang. Untungnya pohon itu tumbang tidak ke jalan raya. Demikian juga di depan mesjid Raya At Taqwa , pohon tumbang menghalangi jalan.

Baliho tumbang

Tumbangnya pohon-pohon di musim angin ini menyebabkan tewasnya seorang pengendara sepeda motor yang melintasi Jalan Brawijaya Mataram

BACA : Pengendara Sepeda Motor Tewas Tertimpa Pohon

Selain itu, baliho berukuran besar di sekiitar Islamic Center juga tumbang. “Mestinya di musim angin besar, pemilik baliho itu tahu diri, kontrol  tu balihonya, kalau rubuh ke jalan raya bisa mencelakai orang,” kata seorang pengendara sepeda motor.

“Upaya yang telah dilakukan oleh tim BPBD Kota Mataram sudah melakukan pembersihan lokasi kejadian pohon tumbang sehingga dapat di lalui oleh kendaraan,” kata Kepala BPBD NTB, H Muhammad Rum, saatdihubungi di Mataram, Selasa (7/2) siang.

Rum mengimbau masyarakat, khususnya  warga di Kota Mataram agar berhati hati bila berada di luar rumah. Terutama jika melintasi jalan yang terdapat pohon besar.

Gra

 




Hujan Deras Timbulkan Bencana di Beberapa Kabupaten

Intensitas hujan yang tinggi dengan durasi lama beberapa hari terakhir, menyebabkan banjir terjadi di hampir seluruh Kabupaten dan Kota di NTB, kecuali Lombok Utara dan Dompu.

MATARAM.lombokjournal.com — Berdasarkan catatan BPBD NTB, akibat hujan deras dalam durasi lama telah menyebabkan banjir di Kota Bima dan Kabupaten Bima yang  melanda beberapa Kecamatan. Di Kabupaten Sumbawa tiga Kecamatan dilanda banjir.

Di Pulau Lombok, banjir juga terjadi di Lombok Tengah dengan tiga desa yang terdampak. Kemudian di Kota Mataram di daerak Mapak, Sekarbela, dan jalan lingkar selatan.

“Di KLU saya hanya dapat info kena angin puting beliung dan beberapa pohon tumbang akibat angin kencang,” Kepala BPBD NTB, H Muhammad Rum kepada Lombok Journal, Kamis (2/2) di Mataram

Sedang banjir yang terjadi di kabupaten Sumbawa Barat juga dinilainya serius. “Kemarin juga terjadi banjir sampai sekarang  di KSB.  Kami ada tim masih di KSB, rupanya agak cukup serius karena ada peningkatkan genangan air, kita dengar Sekotong Tengah di Lombok Barat banjir juga lumayan,” katanya.

BPBD sudah menyalurkan bantuan tanggap darurat banjir untuk sejumlah lokasi terdampak banjir di beberapa daerah Kota dan Kabupaten di wilayah NTB.

“Kami telah kirim logistik kepada masing masing Kabupaten Kota lebih awal, berupa mie masing masing 300 dus, 300 dus air mineral, selimut ke Kabupaten dan Kota yang ada pengungsian,” kata Muhammad Rum.

BPBD juga mengirimkan makanan siap saji 20 paket, kidswear, family kit 20 paket untuk mengantisipasi kebutah mendesak banyak warga yang terdampak.

Rum mengatakan, meski sebagian wilayah terlanda banjir namun antisipasi Pemda di masing-masing Kabupaten dan Kota sudah cukup baik dan sigap. Di tiap daerah sudah membentuk posko siaga bencana, bahkan beberapa Pemda sudah membuat SK tanggap darurat.

“Kemarin di Kabupaten Sumbawa mereka sudah menetapkan tanggap darurat selama tujuh hari, untuk antisipasi dan pertolongan pertama,”katanya.

gra




Ratusan Hektar Tambak Udang di Praya Timur Diterjang Banjir

PRAYA.lombokjournal.com — Banjir masih menggenangi Dusun Pasung, Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah. Sedikitnya 160 Kepala Keluarga, sejak Rabu (1/2), rumahnya digenangi air setelah hujan deras terus menerus.

Selain itu, diperkirakan sekitar 120 hektar tambak udang juga diterjang banjir. Kerugian akibat banjir tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta.

Banjir di Desa Kidang itu disebabkan hujan yang tak kunjung henti sejak hari Selasa  (31/1) sekitar pukul 18.00 wita, yang menyebabkan air sungai meluap dan menerjang Desa Kidang. Hingga sekarang rumah warga Dusun Pasung dan hektaran tambak masih digenangi air.

Saat ini pihak aparat kecamatan dan desa , serta aparat terkait sedang bverupaya membantu masyarakat yang ada di lokasi banjir.

hers.




Gotong Royong di Lombok Utara, Menarik Perhatian Mahasiswa Taiwan

LOMBOK UTARA – lombokjournal.com

Tiga aktor pantomim profesional Yao- Sun-Teck, Su-Ling dan Un, Lat-Hou dari L’Enfant Sauvage Theatre, Taiwan, berinteraksi dengan warga kampung Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Mereka bersama mahasiswa Chinan University, Taiwan, Jurusan Asia Tenggara,  tiba di Lombok 4 Agustus lalu, sempat mengikuti program ‘Be Young’ bersama komunitas Pasir Putih. Selama beberapa pekan di Pemenang mereka mengangkat isu lingkungan(environment), sampah plastik. 

TaiwanGotongRoyong, 22Agustus3TaiwanGotongRoyong, 22Agustus4

 

 

 

Yao, Sun-Teck, salah seorang aktor pantomim lulusan sekolah keaktoran di Paris, Prancis, di tengah kampung itu menggelar pertunjukan tentang ancaman bahaya sampah plastik. Akhir pertunjukan sekitar 25 menit hari Minggu (21/8) sore itu, Yao ‘tewas’ akibat polusi plastik. Warga yang menonton tampak tersentuh dan bertepuk tangan.  

Pertunjukan pantomim itu bagian dari program ‘kerja sosial’ para mahasiswa dari National ChiNan University, Taiwan, jurusan Asia Tenggara. Empat mahasiswa Taiwan masing-masing; Peng, Yi-Jia (S3) Lo, Sin-Yi (asisten), Hung, Kuo-Chan (S2) dan Hsiao, Jin-Yi, sudah sering bekerja sama dengan pemain pantomim itu.

“Sebelum ke Lombok (Indonesia) kami sudah pernah bekerja sama,” kata Hsiao yang menjadi kordinator mahasiswa itu.

Mahasiswa dari Chi-Nan University itu selain sudah melakukan program ‘kerja sosial’ di negaranya sendiri, juga beberapa negara di Eropah, Korea dan di Asia Tenggara. Menurut Hsiao, berkomunikasi melalu seni pantomim lebih cepat dipahami, sebab bahasa universal pantomim lebih mengesankan apalagi dengan orang yang berlainan budaya.

“Dari pengalaman saya di beberapa negara, pengalaman di Lombok sangat menarik,” katanya. Ia mengaku baru pertama ke Indonesia dan langsung ke Lombok. Menurut Hsiao, suasana di Lombok mirip seperti desa-desa di Taiwan.

Contohnya saat mereka mendiskusikan isu lingkungan, khususnya sampah plastik. Ternyata kalangan pelajar sudah kritis dan mereka mempunyai gagasan lebih banyak tentang recycle plastik. Karena itu mereka mengajak sharing tentang upaya-upaya mengatasi persoalan lingkungan.

Memang isu lingkungan menjadi fokus perhatian mereka.”Sebab masalah lingkungan itu vital bagi kelangsungan hidup manusia,” kata Lee Wooi Han, mahasiswa (program S3) Sociology, Macguarie University di Sidney Australia. Lee yang kini sedang melakukan riset sosial di Surabaya, membantu menerjemahkan penjelasan Hsiao dari bahasa Mandarin.

Mengenal Gotong Royong

Mahasiswa-mahasiswa Taiwan itu melakukan pendekatan kreatif untuk mempelajari situasi sosial setempat, dengan cara berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Misalnya, salah satu cara berinteraksi itu dengan mengadakan workshop pantomim selama dua hari, 19-21 Agustus, bersama siswa-siswi Madrasah Aliyah Al-Hikmah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU).

TaiwanGotongRoyong, 22Agustus1
Diskusi bersama Komunitas Pasir Putih; melihat isu sosial berdasarkan perspektif lokal Lombok Utara

Komunitas Pasir Putih mempertemukan mereka dengan pelopor Bank Sampah NTB, Aisyah Oldis, untuk mendiskusikan daur ulang sampah plastik. Mereka mengagumi cara mendaur ulang sampah plastik, yang seharusnya disingkirkan ke pembuangan sampah itu,  malah bisa menjadi barang-barang produktif.

“Saya juga banyak belajar dari masyarakat,” ujar Hsiao.

Hasil dari workshop itu kemudian mereka mengadakan pameran seni kerajinan dari bahan limbah plastik, pentas pantomim, dan pameran fotografi tentang kegiatan sehari-hari masyarakat kampung di Pemenang. Tema seluruh rangkaian kegiatan itu adalah ‘gotong royong’.

TaiwanGotongRoyong, 22Agustus5
Pameran Gotong Royong

Diakuinya, banyak hal-hal baru dipahaminya setelah melakukan pengamatan langsung selama dua minggu dan melakukan interaksi bersama masyarakat Pemenang. Hsiao dan kawan-kawannya menemukan tema ‘gotong royong’ dalam programnya itu, juga setelah melakukan serangkaian diskusi berbagi ide bersama Komunitas Pasir Putih, yang melihat isu sosial berdasarkan perspektif lokal Lombok Utara.

Mengenal kata ‘gotong royong’ membuka pemahaman tentang karakteristik maupun filsafat hidup masyarakat Indonesia. Bekerjasama untuk meraih hasil yang terkandung dalam gotong royong, juga menjadi semangat mereka menjalani proses interaksi warga Taiwan itu bersama masyarakat setempat.

Hsiao mengungkapkan, dari peretemuan awal ini diharapkannya bisa berlanjut kerjasama ke depan. Sebagai mahasiswa Jurusan Asia Tenggara mereka berharap bisa belajar banyak tentang Indonesia melalui Lombok, khususnya di Kecamatan Pemenang.

“Kegiatan ini memberikan efek positif, agar saling memahami antara budaya Taiwan dan Indonesi,” ujar Hsiao, Jin Yi.

Suk




Rinjani Makin Diminati, Soal Sampah Belum Teratasi

MATARAM – lombokjournal.com

Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang berjuang menjadi Uninesco Global Geopark –dan menjadi daya tarik utama pawisata  NTB – ternyata belum bisa mengatasi soal sampah. “Rinjani sudah sejak lima tahun lalu jadi program wisata, tapi lingkungan Rinjani salah satu ikon pariwisata NTB itu masih penuh sampah,” kata Haris Andi, salah seorang pengelola tracking tour Rinjani kepada Lombok Journal, Jum’at (19/8).

Grup wisatawan domestik yang melakukan pendakian ke Rinjani, tutur Haris, mengaku kecewa. Meski memuji keindahan Rinjani, namun romobongan wisatawan domestik dari Jawa Timur itu membenarkan bahwa Rinjani memang masih penuh sampah.

Rinjanipenuhsampah,19Agustus3
Haris Andi

“Saya kira berita selama ini dibesar-besarkan, ternyata memang Dinas Pariwisata atau pihak terkait tidak bisa mengurus asetnya,” ujar Eko seperti ditirukan Haris.

Eko mengaku baru pertama naik Rinjani, terpesona keindahan gunung di Lombok yang menurutnya punya banyak kisah menarik. Sayangnya, dibanding gunung lain yang pernah didakinya seperti Gununng Semeru, Pangrango, Merbabu, atau Merapi, lingkungan di Rinjani paling kotor.

“Dibanding gunung lainnya, Rinjani yang benar-benar jadi ikon pariwisata. Memang sebagai taman nasional ada pihak yang punya tanggung jawab. Tapi sebagai obyek wisata yang penting, mestinya Dinas Pariwisata jangan berlagak bego seperti itu,” ujar Haris Andi.

Pihak TNGR seperti diketahui, selama ini membebankan kebersihan itu pada para pendaki. Itu bisa saja, tapi tak cukup hanya menunggu seperti itu. Karena hanya pasif, survei yang pernah dilakukan Komunitas Sapu Gunung, di Taman Nasional Gunung Rinjani seluas 40 hektare yang terbentang di tiga kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini rata-rata sampah yang dihasilkan sebanyak 160,24 ton per tahun.

Meski demikian, termasuk kebanjiran pendaki. Puncaknya pada bulan Agustus, sedikitnya 100 orang yang naik ke Rinjani per hari. Atau lebih dari 36 ribu per tahunnya. Dengan tarif Rp150 ribu per hari untuk wisatawan mancanegara dan Rp5 ribu per hari untuk wisatawan domestik (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 12/2014), cukup banyak pemasukan dari Rinjani.

Haris mengatakan, selain tarif pendakian tentu dengan banyak wisatawan yang mendaki Rinjani, banyak sektor lain ikut menikmati, seperti transportasi, guide, porter atau penginapan. “Wisatawan dari Malaysia makin banyak yang berminat ke Rinjani, tapi mereka selalau mengeluh soal sampah itu,” cerita Haris Andi yang pengusaha garmen dan memproduksi kaos dengan desain Rinjani.

Pihak Kementerian Pariwisata sendiri juga mengaku prihatin soal sampah, atau kebersihan umumnya, di banyak destinasi wisata di NTB.  Misalnya, waktu Menteri Pariwisata Arif Yahya datang ke Mataram beberapa waktu lalu, sempat akan membantu tempat toilet contoh di beberapa resor di Lombok.

Itulah sebabnya daya saing pariwisata Indonesia, termasuk NTB, termasuk rendah,  berada di peringkat 135 dari 141 negara.  Ini termasuk indeks lingkungan di Rinjani juga sangat rendah.

Rer.




Illegal Logging di Lombok Utara, Mengeringkan Aliran Sungai

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Kejahatan menebang hutan (illegal loging) di beberapa kawasan hutan di Kecamatan Gangga langsung berdampak buruk bukan hanya bagi lingkungan setempat, bahkan seluruh Lombok Utara. Pasalnya, sungai-sungai mengalami kekeringan di musim kemarau. Sebelumnya, meski musim kemarau volume air  sungai tetap besar.

Kini di musim kemarau, kebanyakan sungai-sungai di Lombok Utara mengalirkan air sangat sedikit. Bahkan ada yang kering kerontang. Masih gencarnya aktivitas pembalakan liar jadi biang turun drastisnya debit air di hulu sungai.

Penebangan hutan secara membabi buta membuat daya tahan tanah dalam menampung air berkurang. Hulu sungai memiliki peran vital untuk menjaga keseimbangan air. “Serius mari kita lihat kondisi hutan di hulu-hulu sungai (kawasan hutan Kecamatan Gangga-red). Jika memang layak tentu tidak seperti ini, ” tutur Jakaria, Rabu (7/8), salah seorang warga Bentek menunjukkan beberapa hulu sungai yang mengering.

Menurut Jakaria, kekeringan pada beberapa daerah aliran sungai di wilayah di Kecamatan Gangga itu baru terjadi beberapa tahun terakhir. “Kekeringan di beberapa aliran sungai ini kan muncul setelah kayu-kayunya sudah habis, ” jelasnya.

Ia menuding, “mafia” hutan masih beroperasi hingga sekarang meskipun ia tidak menyebutkan orang-orangnya. Ada oknum-oknum yang ingin merusak vegetasi di Kecamatan Gangga. Beberapa minggu lalu sebagian pelakunya ditangkap, tapi bukan berarti oknum lainnya tidak ada lagi.

“Kalau pemerintah Kabupaten Lombok Utara mau perihatin atas kondisi yang sedang terjadi, mari kita tegas terhadap para pembalak,” tantangnya.

Ardhi, salah seorang tokoh masyarakat Bentek, menawarkan beberapa solusi bagi pemerintah daerah dan stakeholders terkait agar kekurangan debit air di Kecamatan Gangga tidak terulang kembali pada tahun-tahun mendatang.

Pertama, pemerintah Lombok Utara harus mengevaluasi kembali perlindungan hutan di Kecamatan Gangga khususnya dan Lombok Utara pada umumnya. Jika hasil evaluasi itu kemudian menemukan adanya mafia yang mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi, harus segera ditindak tegas, tanpa pandang bulu.

Kedua, pemerintah daerah harus punya upaya mengembalikan fungsi hutan. Cara yang perlu diambil diantaranya menggelar reboisasi atau penghijauan kembali di kawasan hutan yang sudah rusak. “Kembalikan fungsi hutan seperti semula terutama kawasan serapan air,” terangnya.

Yang penting harus ada upaya mencari solusi. “Jangan menyalahkan alam,  cari biang keladinya, dan tindak tegas,” kata Ardhi.

djn

 

 

 

 




Festival Makan Daging Anjing di China; Sekitar 10 ribu–15 ribu Anjing, Kucing atau Babi Disembelih

Lombokjournal.com

Bulan Juni mendatang, di daerah pedesaan Yulin, Provinsi Guangxi Zhuang, bagian selatan China, akan berlangsung The Lychee and Dog Meat Festival, yang biasa disebut sebagai Yulin Dog Meat Festival 2016. Festival yang dimulai tanggal 20 Juni hingga akhir bulan itu adalah acara tahunan yang akan membantai 10.000 – 15.000 anjing, kucing dan babi untuk jamuan menyambut musim panas.

Yulin-7Yulin-6

Masyarakat di wilayah pedesaan Yulin, China bagian Selatan, memiliki tradisi makan anjing.  Dan mereka membanggakan kepandaiannya memasak. Orang bagian lain negeri itu punya gurauan untuk orang Selatan itu: ‘Orang Selatan akan makan semua yang berkaki empat, kecuali kaki meja.  Mereka akan masak semua yang terbang, kecuali pesawat terbang’.

Yulin-7Yulin-1

Orang daerah Yulin yang makin makmur sejak tahun 1990, menghidupkan kebiasaan unik, yaitu mengadakan perjamuan dengan menu utama daging anjing untuk menandai datangnya musim panas. Para pendukung festival dan pemilik restoran menyatakan makan daging merupakan bagian tradisi orang Yulin. Festival itu mulai marak sekitar 20 tahun lalu, ketika masyarakat Yulin merasa perlu merayakan mulai terbitnya matahari di musim panas.

Tapi para pengkiritik mengatakan, tak ada unsur budaya dalam festival yang memperlakukan hewan dengan kejam. Sekitar 10-20 ribu anjing dibunuh untuk daging mereka tiap tahun di Cina. Namun pengkritik festival ini berpendapat, tidak ada nilai budaya dalam festival itu, kecuali dirancang hanya untuk mencari keuntungan uang.

Dog Days of Yulin.

Ya, hari yang berlimpah jamuan daging anjing. Bayangkan, di bagian dunia lain, anjing dianggap ‘teman baik’ manusia.  Jangan heran bila aktivis hak-hak binatang seluruh dunia, termasuk di China,  makin mengutuk Festival Daging Anjing. Mereka menyerukan, agar festival di Yulin dilarang. Perdagangan daging anjing dianggap ilegal, tidak diatur, dan kejam.

Yulin-4Yulin10

Sejak tahun 2013, Festival Daging Anjing di Yulin banyak mengundang berita negatif. Pemerintah daerah setempat menolak tradisi yang disebut makan daging anjing ‘saat matahari terbit di Musim Panas’ itu. Tapi penduduk setempat tak berhenti merayakannya.  Para aktivis mati-matian mencoba menyelamatkan anjing sebelum pembantaian.

Festival jamuan makan dengan menu utama daging anjing ini memang kontroversial. Aktivis pecinta hewan menyerukan penghentian Yulin Dog Meat Festival. Laporan terbaru Humane Society International (HSI) pembantaian berlanjut sepanjang tahun di Yulin, dengan perkiraan 300 kucing dan anjing yang disembelih tiap hari.

Orang marah karena menyembelih anjing yang umum di Cina, dipandang sebagai bentuk kekejaman. Menjelang festival, anjing dan kucing diangkut truk, berdesakan dalam kandang kecil tanpa makanan dan minuman, menempuh jarak ratusan mil. Di antara hewan itu adalah hewan peliharaan keluarga yang dicuri.

Di belahan dunia lainnya, anjing merupakan 'teman' yang disayangi
Di belahan bumi lainnya, anjing merupakan ‘teman’ yang disayangi

Yulin-3

Festival paling kontroversial di Cina itu makin marak sejak dua dekade terakhir.  Banyak yang cemas –sebagian besar penduduk dunia menganggap ‘anjing sebagai teman bukan makanan’ — puluhan ribu anjing disembelih dan dimakan tiap tahun dalam acara yang berlangsung di kota Yulin, Provinsi Guangxi. Pegiat pecinta binatang tak bisa tinggal diam, karena 10.000 anjing dibantai menjadi santapan akhir pekan.

Akhir tahun 2014, para aktivis hak-hak binatang di berbagai Negara demo di luar gedung Pemerintah Kota Yulin. Tapi aksi itu mengundang kemarahan penduduk. Beberapa spanduk dirobek penduduk setempat.  Terjadi baku mulut antara penduduk yang naik pitam dengan pengunjuk rasa. Aparat keamanan muncul membubarkan massa

Tapi pengunjuk rasa dari China masih bertahan, mengecam bagaimana moralitas masyarakat yang membantai anjing dan menjadi sajian di piring untuk para tamu. Tapi warga Yulin bersikukuh tidak akan menghentikan perjamuan dengan menu utama daging anjing itu. Malah dengan bangga sebagian penduduk mengtakan, acara itu akan membuat Yulin menjadi daerah yang makin terkenal.

“Anda tidak pernah protes Piala Dunia. Anda hanya meributkan tradisi kami, pada festival ini merupakan reputasi terbaik kami, punya masakan daging anjing terbaik di Cina. Di masa depan, Yulin akan menjadi lebih terkenal! ” teriak seorang penduduk.

Roman Emsyair