RSUD KLU Sudah Memiliki UPL UKL, Termasuk IPAL

Meski sudah IPAL dengan teknologi baru, namun pengoperasinya di RSUD Tanjung masih menunggu Izin Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta

TANJUNG.lombokjournal.com ~ RSUD Tanjung, Kabupaten Lombok Utara sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baru. Rumah sakit milik Pemkab Lombok Utara ini menjadi satu-satunya rumah sakit yang sudah memiliki IPAL dengan teknologi baru.

Hanya saja pengoperasian IPAL ini masih menunggu Izin Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta.

Kelengkapan usulan mulai dari daerah Kabupaten Lombok Utara dan kelengkapan dari Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat sudah dikirim ke pihak berwenang di Pusat.

RSUD tANJUNG SUDAH PUNYA ipal
dr Made Suasa

“Kita masih menunggu izin itu,” tutur Direktur RSUD tanjung, dr I Made Suasa di ruang kerjanya, Jum’at (15/10/21).

Mengenai Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPKL-UPL) adalah Dokumen Lingkungan Hidup (DLH) yang harus disusun oleh pelaku usaha yang kegiatan usahanya tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup

BACA JUGA: 

Pembentukan Panitia Pilkades Samba, Sarjono: Sistem PAW Pertama di KLU

Menurut Made Suasa, RSUD Lombok Utara tidak serta merta mengoperasikan IPAL tanpa seizin yang berwenang.

Karena izin belum keluar dan harus mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP), tambah dr. Made Suasa, saat ditrmui wartawan media ini.

Direktur RSUD Tanjung ini saat ditanya soal hasil pengolahan air limbah jika sudah beroperasi dimanfaatkan untuk apa? Dikatakan, hasil pengolahannya akan digunakan untuk menyiram tanaman di beberapa titik yang ada di lingkungan RSUD dan sekitarnya.

“IPAL di RSUD ini akan ditangani oleh orang-orang yang ahli di bidangnya,” terang Made Suasa.

Dijelaskan lebih lanjut, RSUD Tanjung cukup banyak menghasilkan limbah, utamanya limbah cair.

Limbah cair RS adalah semua limbah cair yang berasal dari RS yang mengandung Mikro Organisme, bahkan bahan kimia beracun dan radioaktif.

“Sumber-sumber limbah cair berasal dari ruang rawat inap, ruang rawat jalan, Instalasi IGD, Instalasi Hemodialisa dan penunjang lainnya seperti Laboratorium, Farmasi, Gedung Administrasi, ruang kantor dan lain yang ada di RS saat ini,” paparnya.

Sarana IPAL masih bagus dan belum pernah dipakai sama sekali, sementara ini pihaknya sedang membenahi administrasi termasuk karyawannya.

“Saya tidak mungkin bisa bekerja sendiri kalau tidak didukung oleh petugas RSUD dan pihak pihak lain yang berkepentingan,” ungkapnya.

Terlebih ia baru saja diberi kepercayaan sebagai Direktur RSUD Tanjung oleh Bupati Lombok Utara, H Djohan Syamsu,SH. Karena baru bertugas, maka banyak hal yang harus dipelajarinya.

Ditambahkan, IPAL sebagai sistem membrane semua limbah yang ada akan terkondisi dengan baik. Dan dapat menurunkan zat organik dalam air limbah (BOD,COD) ammonia, padatan tersuspensi serta phosphate dan lainnya bisa turun secara signifikan.

Sehingga  output hasil dari proses IPAL dapat memenuhi peraturan yang disyaratkan pemerintah.

Tahap-tahap proses penyaluran air limbah menggunakan pipa. Penampungan air limbah masuk ke bak kontrol dan bak sampit.

BACA JUGA: Penyaluran Bantuan Pedagang K5 dan Warung, NTB Dinilai Terbaik

Air limbah dalam bak kontrol dan bak sampit dipompa ke bak Equalisasi/bak penampung, selanjutnya masuk ke bagian proses pengolahan dengan mesin dengan sistem Aerob dan Anaerob, setelah itu hasil outputnya masuk ke kolam yang ada.

Kembali dijelaskan oleh dr I Made Suasa, oprasional IPAL masih menunggu izin dari Kementerian LH Jakarta, pungkasnya.

@ng




Sumur Bor Mangkrak di Desa Sokong, Air Irigasi Jauh Lokasinya

Kelompok Tani Sokong Sari” bersurat ke BWS Provinsi NTB melalui PUPR KLU, agar bisa memanfaatkan Sumur Bor bantuan BWS NTB di belakang Pasar Tanjung.

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Sejumlah perwakilan kelompok dan petugas pengatur air desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara mendatangi Kantor Unit Pelayanan Terpadu UPTD Tanjung untuk mengadu nasip “Kelompok Tani Sokong Sari” kesulitan dengan air irigasi yang cukup jauh dari sumbernya.

Kelompok Tani akan memanfaatkan sumur bor yang ada di Tanjung

Tidak jarang mereka tidak bisa mengolah lahan secara bersamaan dalam mengikuti pola tanam di musim kemarau, lantaran kesulitan pembagian air untuk bisa menjangkau lokasi.

Nurtip selaku Ketua P3A Mekar dan Tigarto Ketua “Kelompok Sokong Sari” mengatakan pada wartawan media ini, Kamis (14/10/21).

Menurutnya, sudah bersurat ke BWS Provinsi Nusa Tenggara Barat melaui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Lombok Uatara pada tanggal 11 Mei 2021.

BACA JUGA: Fasilitas IPAL RSUD KLU, Mengolah Limbah Berbahaya

Namun hingga saat ini belum ada jawaban, padahal petani “Kelompok Sokong Sari” sangat membutuhkan untuk pengairan seluas 25 hektare.

Senada dengan I Wayan Sudanta, Bendahara Kelompok Sokong Sari. Ia prihatin dengan anggotanya terutama di musim kemarai seperti sekarang ini, tuturnya.

I Wayan Sudanta mengaku sudah mencoba juga menyedot air dari kali Sokong.  Namun karena keterbatasan sarana yang menunjang, kekuatan mesin tidak seimbang dengan luasan sawah yang diairi, sehingga usahanya kandas dan tidak maksimal.

Karena itu pula “Kelompok Tani Sokong Sari” bersurat ke BWS Provinsi NTB melalui PUPR KLU untuk diberikan memanfaatkan Sumur Bor bantuan BWS NTB yang berlokasi di belakang Pasar Tanjung.

Kepala UPTD Tanjung, Aki Suharti, S.Pt, sangat mendukung niat baik petani untuk bisa memanfaatkan Sumur Bor yang ada di seputaran persawahan Sokong Tanjung.

Daripada nganggur dan tidak di rawat, lebih baik berikan kepercayaan kepada kelompok tani untuk di manfaatkan di musim kesulitan air seperti ini, kata Aki Suharti.

BACA JUGA: Event HKEC 123k, Kegiatan Besar di Tengah Pandemi

“Saya juga bersyukur dengan cara mereka datang ke kantor untuk berdiskusi mengenai masalah mereka. Sayangnya hingga saat ini belum ada respon dari pihak BWS provinsi NTB, terkait pemanfaatan Sumur Bor ini untuk mengurangi beban petani kita disini,” ungkapnya.

@ng

 




Menanam Pohon Waru, Alternatif Cegah Abrasi

Dengan menanam pohon Waru, Wabup Danny berharap berdampak positif dan signifikan untuk kelestarian lingkungan di sepadan pantai Lombok Utara

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Wabup Lombok Utara, Danny Karter Fenrianto Ridawan ST MEng Tanam Pohon Waru di Pantai Penyambuan Desa Jenggala, Selasa (12/10/21).

Wabup usai menanam pohon waru

Hadir pada acara tersebut Kalaksa BPBD, M Zaldi Rahadian ST, Kepala Desa Jenggala, Fahruddin SPd, Danramil Tanjung, Kapten Inf zainul Fahri, Barisan Relawan Siaga encana serta undangan lainnya.

Wabup Danny menyampaikan, program pencegahan bencana harus memiliki management yang bagus.

Permasalahan serius terhadap sempadan pantai, dibutuhkan langkah strategis untuk mengantisipasinya salah satunya dengan penanaman pohon waru.

BACA JUGA: Lombok Utara Jadi Lokus Pertama Launching Ide Inovatif

“Ini akan menjadi komitmen kita bersama untuk menjaga kelestarian alam di beberapa titik yang ada di KLU. Tidak hanya menanam lalu di tinggalkan begitu saja, tapi bagaimana merawat apa yang kita tanam,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Wabup Danny, populasi manusia semakin meningkat sedangkan sumber mata air mulai berkurang,  yang disebabkan pemanasan global dan banyaknya menebangan pohon secara besar-besaran.

Sedangkan ketersediaan air bersih selalu di butuhkan oleh masyarakat, ke depan dibutuhkan langkah strategis untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Harapan saya dari kegiatan yang di laksanakan oleh BPBD nantinya dapat memberikan dampak positif dan signifikan untuk kelestarian lingkungan di sepadan pantai Lombok Utara,” harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kalaksa BPBD KLU Zaldi juga menambahkan, pihaknya akan melaksanakan penanaman bibit pohon waru di sepanjang pantai dari pemenang sampai Bayan.

“Kami sudah melaksanakan kegiatan ini dari hari Minggu kemarin, mulai dari pesisir Pantai wilayah pemenang dan hari ini penyambuan kemudian dilanjutkan ke pantai di wilayah Kayangan,” ungkapnya.

BACA JUGA: Menakjubkan, Tanah nonProduktif Disulap Jadi Kebun Sayur

Acara berjalan dengan lancar dan di akhiri dengan penanaman bibit pohon waru serta tetap menggunakan protokol kesehatan secara ketat.

@ng




Menakjubkan, Lahan nonProduktif Disulap Jadi Kebun Sayur

Semula jadi ejekan, tapi kerja keras dan keuletan Taufik dan kelompok taninya menakjubkan, yaitu mengubah tanah nonproduktif jadi kebun sayur yang meningkatkan pendapatan petani

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Lahan pertanian seluas sekitar 1.17 hektar yang semula dianggap nonproduktif, disulap jadi kebun sayuran segar.

Keberhasilan mengolah lahan di Dusun Batu Ampar, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara itu, tak lepas dari tekad dan kerja keras Taufik Hidayat dan kawan-kawannya di KelompoK Tani “Berkah Bersama”, di bawah binaan Kepala Kantor Unit Pelayanan Terpadu (UPTD) Tanjung, Aki Suharti, S.Pt dan PPL Desa Sokong Yody Cahyanto.

Hasil Cabe dari upaya Taufik yang menakjubka Tnaman sayuran lainnya yang menakjubkan dari lahan yang semula nonproduktif

Melihat lahan nonproduktif, Taufik dan kelompoknya menggagas untuk menanam sayur-sayuran, termasuk menanam cabe.

Alasannya, sayur-sayuran menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari dan bernilai ekonomi tinggi. Dan para petani pun punya perhatian menanam sayuran pada areal persawahan maupun perkebunan, karena bisa meningkatkan pendapatan.

Menggagas menanam sayur-sayuran akhirnya juga menyasar kebun kurang produktif di Dusun Sokong, yang merupakan salah satu program yang dikembangkan oleh UPTD Tanjung.

BACA JUGA: Lombok Utara Jadi Lokus Pertama Launching Ide inovasi

Semula Taufik menanam sayuran seluas kurang lebih 25 are sejak peristiwa gempa bumi 7,0 skr menimpa Lombok Utara.

Kemudian menanam sayuran dikembangkan lagi hingga 1,17 Ha, kerja sama dengan pemilik kebun warga setempat yang terletak di Dusun Batu Ampar, Tanjung yang jadi salah satu contoh gagasan Taufik Hidayat selaku Ketua Kelompok Tani “Berkah Bersama”.

Taufik sendiri bersama keluarga pernah ikut progeram transimigrasi ke Kalimantan Utara dan kembali ke tempat asalnya karena peristiwa Perang Sampit.

Tanah yang semula non produkrtif jadi kebun sayur yang menakjubkan

Ia termasuk petani ulet yang tidak gampang menyerah meski dalam kegiatannya pernah jadi gunjingan orang-orang di dusunnya.

Semula upaya menanam sayuran itu tak berjaan mulus, karena Taufik sering diejek dan diragukan keberhasilan. Namun Taufik dan kawan-kawanya tak putus asa, dan keuletan dan kerja keras itu merubah lahan yang tidak produktif menjadi produktif.

“Alhamduillah, akhirnya tanah yang tak produktif itu bisa bernilai ekonomi,” kata Taufik kepada lombokjournal.com yang sempat mewawancarinya, Selasa (12/10/21).

Modal 60 juta

Taufik menuturkan, modal sebanyak 60 juta rupiah disiapkan untuk memulai menanam sayur-sayuran. Mulai biaya pengembangan tanah nonproduktif itu. Dimulai dari pembersihan lokasi, pengolahan, pembibitan, penanaman hingga perawatan untuk tanaman sayuran.

“Ternyata dengan modal 60 jutaan dan hasilnya cukup bagus. Kami sudah jalani sejak September 2018,” tutur Taufik.

Manfaatnya sudah banyak dirasakan oleh warga setempat dan laku di pasar Tanjung. Karena banyak permintaan hingga ke luar daerah KLU, maka kami mencoba kerja sama dengan pemilik kebun sistim bagi hasil dan kerja kelompok, tuturnya.

BACA JUGA: Duta Petani Milenial KLU Diskusi dengan Wabup

“Sayurnya bagus, segar, tidak mengandung bahan kimia, serta harganya terjangkau bahkan lebih murah dibanding beli di pasar. Keuntungannya bisa metik sendiri, pilih sayur yang disukai sendiri dan juga bisa foto-foto sama keluarga,” ungkap Taufik Hidayat.

Taufik pun mengaku hingga saat ini belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah atas usaha bertani yang dilakukan bersama anggotanya. Ia berharap mendapatkan bantuan hand traktor dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, Perikanan (DKPPP – KLU).

Rencananya, pada panen perdana yang diperkirakan di awal bulan Januari 2022 akan mengundang Bupati dan OPD terkait, untuk bersama sama menyaksikan langsung usaha yang di lakukannya, tutur Taufik.

@ng

 




Rakor Gugus Tugas Reforma Agraria KLU Dibuka Bupati

Rapat koordinasi atau rakor Gugus Tugas Reforma Agraria Kabupaten Lombok Utara merumuskan banyak hal berkaitan tugas pokok gugus tugas reforma agraria

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH, membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pelaksanaan Kegiatan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Lombok Utara Tahun Anggaran 2021, di aula Kantor Bupati, Senin (11/10/21).

Kegiatan Rakor GTRA Kabupaten Lombok Utara

Hadir pula dalam rakor tersebut, Pj. Sekda KLU, Anding Dwi Cahyadi, S. STP, MM, Kepala BPN KLU, H. Supardi, SH, MH, para Kepala OPD, Camat Bayan Denda Peniwarni SE, serta para undangan.

Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu, SH, menyambut baik Rakor GTRA itu, salah satu tugas yang dilaksanakan oleh pemerintah atau lembaga terkait.

BACA JUGA: Ketua TP-PKK KLU Hadiri Lomba Kebun Gizi di Baya

“Sebagai kepala daerah tentu saya menyambut baik rapat koordinasi yang diagendakan hari ini, dalam rangka merumuskan banyak hal berkaitan dengan tugas pokok gugus tugas reforma agraria” ungkapnya.

Bupati mengingatkan, reforma agraria itu tugas yang penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui hal yang berkaitan dengan pertanahan.

Maka atas dasar itu, terangnya, telah dibentuk tim di seluruh lini pemerintah yang diselenggarakan oleh Badan Pertanahan Nasional.

“Melalui kegiatan ini kita bisa menghindari konflik masalah pertanahan yang sering terjadi,” jelas bupati.

Dijelaskan pula, Gugus Tugas Reforma Agraria tersebut menunjukkan kehadiran negara atas berbagai permasalahan terkait aspek agraria, sosial, ekonomi, politik maupun pertahanan dan keamanan, bertujuan menata aset dan akses

“Saya mengharapkan hasil dari kegiatan ini dapat dijadikan sebagai pedoman, di samping aturan yang berlaku mengingat masih banyaknya wilayah yang belum tersentuh oleh pensertifikatan lahan di KLU,” pungkasnya.

Semantata itu, Kepala BPN KLU H. Supriadi, SH, MH mengungkapkan, ada dua kegiatan besar GTRA yaitu legalisasi aset, dilaksanakan sejak tahun 2017 sampai sekarang

Dan telah menerbitkan sebanyak 28.807 bidang tanah bersertifikat dan ada 23.800 bidang tanah yang belum terdaftar atau bersertifikat sesuai data DHKP KLU tahun 2017.

“Dengan roadmap penyelesaiannya ditargetkan selesai pada tahun 2025, maka rata-rata penerbitan sertipikat per tahun sebanyak 5.950 bidang, sehingga seluruh bidang tanah yang ada di KLU sudah terdaftar seluruhnya,”pungkasnya.

BACA JUGA: Irigasi Tetes, dan Hamzah Emiter

Kegiatan lain, menurut Supriadi, penataan akses, melalui program pemberdayaan masyarakat dilakukan pada tahun 2018 di Desa Genggelang dengan komoditi durian Channe, pengembangan dan labeling bibit durian jenis unggulan lainnya, sehingga dapat dijadikan ikon Argowisata Lombok Utara kedepan.

@ng




Irigasi Tetes, dan Hamzah Emiter

Dengan EMITER, irigasi tetes dan program smart farming, ke depan bertani tidak hanya bisa dilakukan di lahan subur yang kaya air. Di lahan kering dan marginal, sektor pertanian dapat juga tumbuh dan berkembang.

Tulisan irigasi tetes yang sempat kontroversial
Oleh: Lalu Gita Aryadi, Sekda NTB

MATARAM.lombokjournal.com ~ Ketika  di medsos ramai pro-kontra, bahkan ada yang turun demo menyoal irigasi tetes,  saya teringat seorang teman kala di Bappeda Provinsi NTB.

Namanya Pak Hamzah. Pria kelahiran Jereweh tahun 1960. Kini sudah pensiun dengan pangkat IV/b. Jabatan terakhirnya sebagai Kepala BPTP Dinas Perbunan Provinsi NTB.

15 tahun lalu,  ketika menjadi Sekretaris Bappeda Provinsi NTB,  Saya mulai kenal Pak Hamzah ini. Pak Hamzah EMITER, begitu kami sering memanggilnya.

BACA JUGA: Klinik Pertanian Desa Jenggala, Wadah Konsultasi Petani

Pak Hamzah dalam kesehariannya hanyalah staff yang tampak biasa-biasa saja. Tapi cobalah ajak bicara EMITER, ia tiba-tiba berubah ‘tidak biasa-biasa saja’.  Mantan penyuluh pertanian, alumni SPMAN Mataram (1980), Alumni APP Malang (1991) dan alumni Universitas Muhammadiyah Mataram (2007) ini menjadi seseorang yang spesial. Ia tia-tiba berubah menjadi Staff yang luar biasa dengan  basis ilmu yang cukup mendukung.

Dia faham ilmu tanah, ilmu kimia juga ilmu pertanian.  Ditambah dengan kepeduliannya pada kondisi alam lingkungan. Ini yang membuat saya terkesan dengannya. Hingga kini.

Pak Hamzah, penemu dan tokoh penting dalam pengembangan EMITER. EMITER  akronim dari Evavorasi (penguapan di permukaan tanah), Material (bahan/media), Infirtrasi (hilang air ke bawah tanah), Transformasi (diteteskan dengan infus ), Evavotranspirasi (hilang air dari tanah  dan Resfirasi (pernapasan tanaman, perbandingan air dan udara dalam tanah).

EMITER merupakan  alat untuk menyalurkan nutrisi, air, hormon, dan protein carrier pada bagian batang tanaman dengan sistem diffusi (facilitated Diffusion). EMITER dipasang pada pipa lateral yang berfungsi mengatur keluarnya tetesan air pada durasi  dan  tekanan tertentu. EMITERnya Pak Hamzah tidak butuh tekanan air yang tinggi. Cukup dengan gravitasi saja. Rahasianya di komposisi bentonit (lumpur tanah liat) dengan bahan lain dan proses pembuatannya.

Bahan EMITER dibuat dari campuran liat serbuk dan tepung yang berasal dari bagian tanaman yang bersel hidup yang mempunyai kandungan asam abisat.

Dengan EMITER, tidak ada ketergantungan pada musim berbuah. Nilai jual hasil tanaman buah dapat meningkat. EMITER telah diuji coba dan dikembangkan diberbagai tempat untuk berbagai komoditi buah-buahan seperti: buah manggis, durian, rambutan, klengkeng, mangga, salak, jeruk, coklat, kelapa, cengkeh  juga mete. Kini melalui Yayasan Santiri sedang kerjasama dengan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB mengembangkan jahe merah menggunakan EMITER.

EMITER yang sudah dikembangkan dengan berbagai produk turunannya ini, diawali tahun 1991 di kecamatan Woha Kabupaten Bima. Dilakukan serangkaian uji coba selama 3 tahun. Tahun 1994 diaplikasikan di beberapa tempat, khususnya di lahan kering oleh GTZ. EMITER adalah sebuah inovasi dan solusi bertani di lahan kering. Efisien dalam penggunaan air – Drip Irigation, dapat merangsang pembuahan di luar musim, pengaturan panen (off session), pembibitan tanaman tahunan (media anti stress) serta perbaikan lingkungan dengan mikro organisme yang menguntungkan (bio aktivator).

BACA JUGA: Pusat Evakuasi Masyarakat Dibangun di Desa Santong Mulia

Tahun 2002 inovasi EMITER terdaftar dan diakui menjadi anggota Ashoka – sebuah lembaga yang concern pada inovasi untuk masyarakat. Ashoka berkedudukan di Arlington Virginia USA.

Pak Hamzah sebagai penemu tehnologi EMITER telah mendapatkan berbagai bentuk penghargaan dari dalam dan luar negeri. Sosok dan kiprahnya pernah menjadi bahan  liputan berbagai media cetak dan elektronik nasional. Dalam buku Leading social entrepreneurs (Ashoka, 2004, halaman 168-170), mengulas Pak Hamzah EMITER  sebagai sosok “changing the world“.

Pak Hamzah EMITER, kini sudah pensiun dengan tenang. Dari temuannya itu, Pak Hamzah EMITER sudah mendapatkan hak royalty sebagai kompensasi hasil kekayaan intelektualnya.

“Dari royalty itu saya  membangun laboratorium yang kini kemudian  menjadi rumah saya. Juga bisa  membeli lahan untuk tempat riset saya.  Waktu itu, Masih ada sisa uang  sebanyak Rp.48 juta. Saya bagikan ke semua teman-teman staff di Bappeda,” katanya dengan senyum sumringah ketika berkesempatan  bernostalgia dengan Pak Hamzah EMITER beberapa waktu lalu.

Dalam nostalgianya, Pak Hamzah tidak lupa menceritakan andil seorang temannya yang  membantu menghitung dan menyusun formula dalam riset-risetnya. Teman saya itu adalah Pak Ir. Muhammad Riadi MSc, yang kini diberi amanah sebagai Kadis Pertanian dan Perkebunan, katanya bangga.

Karenanya terkait pro kontra berita di medsos dan beberapa kali demo tentang irigasi tetes, saya sudah meminta  Kadis Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB  untuk atensi, memberi pencerahan dan memastikan pogram irigasi tetes sudah on the good track.

Seperti dilaporkan Kadis Pertanian dan Perkebunan ke Sekda NTB, secara tehnis irigasi tetes di areal lahan kering Desa Akar-akar Kabupaten Lombok Utara tetap berfungsi dan dimanfaatkan petani. Keberadaan jagung yang segera dipanen merupakan bukti berfungsinya irigasi tetes. Secara administrasi, mesin irigasi tetes telah diserahkan kepada kelompok tani penerima bantuan dengan berita acara serah terima barang yang lengkap.

Dari aspek pengadaan mesin irigasi tetes, sudah melalui mekanisme sesuai dengan peraturan yang ditentukan,  kata Kepala Biro Pengadaan Barang Jasa Setda NTB – Ir. H. Sadimin MM. Bapak Gubernur NTB – Dr. H. Zulkieflimansyah SE. MSc., melalui akun facebook-nya turut  memberikan respon  dengan mempersilahkan masyarakat mengadukan secara hukum bila menemukan ada hal-hal yang dirasakannya janggal.

Irigasi tetes dan inovasi dalam pertanian modern akan terus terjadi. Pada tanggal 30 Mei 2021, ketika  mewakili Gubernur NTB dalam acara penandatangan kerjasama ekonomi  dengan Gubernur Jawa Barat, Bapak Ridwan Kamil (Kang Emil), saya  berkesempatan menyaksikan Smart Farming di Desa Wanajaya Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut Jawa Barat. Sambil meninjau smart greenhouse yang menggunakan tehnologi hidroponik, Kang Emil saat itu sekaligus mencanangkan program petani milenial juara.

Dengan adanya EMITER, irigasi tetes dan program smart farming, ke depan bertani tidak hanya bisa dilakukan dilahan subur yang kaya air. Di lahan kering dan marginal, sektor pertanian dapat juga tumbuh dan berkembang. Bertani di lahan kering dengan menggunakan EMITER dan irigasi tetes, prinsipnya adalah memberi minum tumbuhan pada waktu yang dibutuhkan. Bukan memandikan dan merendam akar tumbuhan dengan grojokan air yang berlimpah yang akhirnya mubazir. Akar tumbuhan bila direndam air berlebihan yang tidak seimbang dengan kebutuhan oksigennya juga tidak baik. Akibatnya pohon bisa menguning lalu mati.

Dengan sentuhan tehnologi pertanian akan mendukung meningkatnya kesejahteraan petani kita. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. ***

Kail dan jala cukup menghidupimu.

Tiada badai tiada topan kau temui.

Ikan dan udang menghampiri dirimu.

Wassalam

 




Pramuka NTB Tanam Pohon dan Clean Up di Tetebatu

Kwarda Gerakan Pramuka NTB melakukan penghijauan atau penanaman pohon seta bersih-besih atau lazim disebut clean-up di Desa Wisata Tetebatu, Lombok Timur

LOTIM.lombokjournal.com ~ Desa Wisata Tete Batu Kabupaten Lombok Timur maju dalam lomba ajang Best Tourism Village yang diselenggarakan Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (UNWTO).

Kwartir Daerah (Kawarda) Gerakan Pramuka NTB mendukung penuh Desa Tetebatu.

Gerakan Pramuka akan tanam dan bersih-bersih di Tetebatu

Wujud dukungan itu, hari Sabtu (25/09/21), Ketua Kwarda Gerakan Pamuka NTB, Fathul Gani bersama para Andalan Daerah, DKD NTB, anggota Pramuka Penegak dan Pandega Lombok Timur termasuk Saka Wanabakti dan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, melakukan penghijauan atau penanaman pohon disertai kegiatan bersih-bersih atau yang kini akrab dengan sebutan clean up.

“Ini ikhtiar dan dukungan nyata gerakan pramuka untuk Desa Tetebatu yang mendunia,” ucap Fathul Gani saat ditemui di Ulem-ulem yang merupakan titik lokasi kegiatan.

Menurut Fathul, saatnya semua stakeholder bahu membahu, berkontribusi memberikan sumbangsih mendukung Desa Tetebatu yang mengikuti lomba dari UNWTO.

BACA JUGA: Vaksinasi untuk Anak adalah Investasi Kesehatan Jangka Panjang

Selain itu, penanaman dan bersih-bersih merupakan bentuk perhatian dan kepedulian pramuka dalam menjaga alam NTB.

“Kegiatan ini juga mendukung program NTB Hijau dan Zero Waste Pemerintah Provinsi NTB. Juga ikhtiar menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar kita yang indah ini,” tambah Kak Fathul sapaan akrabnya.

Jumlah bibit pohon yang ditanam sebanyak 300 bibit, rinciannya 200 bibit ditanam hari ini, dan 100 bibit diserahkan ke pihak desa dan Pokja Ulem-ulem.

BACA JUGA: Pilpres 2024, Siapa Kandidat Kuat yang Akan Maju

Bibit yang diserahkan itu akan dimanfaatkan sebagai bagian dari Kampanye NTB Hijau dan Cinta Lingkungan.

Nn




Mata Air di Lombok Utara Harus Segera Diselamatkan

Gerakan menanam pohon yang dilakukan untuk menyelamatkan mata air di Lombok Utara yang hanya tersisa belasan, sebelumnya jumlahnya lebih dari seratus sumber mata air

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Kabupaten Lombok Utara (KLU) sekitar sepuluh tahun silam memiliki 112 titik sumber mata air, tapi kini hanya tinggal belasan yang tersisa.

Penyelamatan belasan sisa sumber mata air ini tujuan gerakan penanaman pohon yang dilakukan oleh Organisasi Pemerhati Alam dan Lingkungan (OPAL) KLU bersama dengan Komunitas Tionghowa INTI – NTB dan didukung Pemda KLU dan masyarakat Desa Bentek Kecamatan Gangga, Kamis (23/09/21).

Upaya penyelamatan mata air  dengan gerakan menanam pohon Bupati serukan penyelamatan mata air dengan menanam pohon

Bahkan di tengah pandemi Covid-19 penanaman pohon dilaksanakan pada berbagai tempat, termasuk peremajaan kembali hutan adat Buani, Desa Bentek Kecamatan Gangga.

Memang, cukup banyak gerakan menanam pohon dalam upaya penyelamatan sumber mata air di Kabupaten Lombok Utara, seperti Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia yang diperingati setiap 10 Januari.

Ada Hari Menanam Pohon Nasional (HMPI) yang diperingati setiap 28 November yang dirangkai dengan Bulan Menanam Nasional (BMN).

BACA JUGA: Kejati NTB Tetapkan 12 Kasus Kasus Korupsi

Di luar itu, masih beragam aksi sejenis lainnya, termasuk di tingkat komunitas dan warga, sebagaimana yang dilakukan hari Kamis (23/09/21) di Hutan Adat Buani Desa Bentek Kecamatan Gangga.

Bupati Lombok Utara, H Djohan Syamsu, SH, yang hadir saat penanaman pohon berpesan, gerakan penanaman harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi iklim aspek-aspek keilmuan, mulai dari pemilihan jenis, penentuan lokasi, hingga pemeliharaan.

Djohan menyerukan seluruh masyarakat agar melakukan penanaman pohon baik di hutan, kebun milik sendiri atau di pekarangan.

Menurutnya, selain penyedia udara bersih, penanaman pohon juga merupakan salah satu upaya rehabilitasi hutan adat dan pemulihan lahan lahan kritis dan pekarangan, sebagai pelindung saat musim kemarau.

Begitu substansialnya pohon bagi kehidupan semesta alam, tahun sebelumnya OPAL KLU beserta masyarakat juga inten melakukan gerakan penanaman secara swadaya.

Dan di tahun 2021 OPAL KLU dan INTI NTB ini sudah di lakukan penanaman di Hutan Adat Baru Murmas, Bangsal Pamenang, Pantai Sedayu Lekok, dan pada hari ini di Hutan Adat Buani di Desa Bentek, Kecamatan Gangga.

Di kesempatan mendatang ada rencana penanaman di Pantai Himpos Karang Anyar, Tanjung.

Bupati menegaskan,  orang menanam pohon berarti juga menanam doa dan harapan untuk keberlanjutan generasi mendatang.

Selain memperbaiki lingkungan, menanam juga harus memberikan manfaat langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Program ini akan saya ikuti terus, kalau baik akan kita kembangkan di walayah Kabupaten Lombok Utara,” ungkap Bupati Djohan. .

Langkah mitigasi dengan penanaman pohon merupakan salah satu upaya mengurangi emisi karbon, untuk menahan laju kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 2 derajat Celcius atau sedapatnya menekan hingga 1,5 derajat Celcius.

Manfaat pohon bagi kehidupan bisa dirujuk dalam Petunjuk Teknis Penanaman Spesies Pohon Penyerap Polutan Udara, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dipenuhi pohon besar, dapat menghasilkan 0,6 ton oksigen untuk 1.500 penduduk/hari dan menyerap 2,5 ton karbon dioksida/tahun.

Kemampuan pohon untuk menyerap CO2 merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengatasi perubahan iklim.

Penyebab utama dari perubahan iklim adalah peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer bumi yang disebabkan oleh aktivitas manusia (antropogenik).

CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca utama pemicu perubahan iklim. Melalui proses fotosintesis, pohon menyerap CO2, menyimpan karbon dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh makhluk hidup.

“Saya Mengajak Warga Lombok Utara Untuk Melakukan Gerakan Penanaman Pohon di semua wilayah KLU,” kata bupati.

Perlu terus digaungkan kepada semua pihak untuk menanam DAN memelihara pohon yang sangat berarti bagi kehidupan.

Bahkan saat sedang pandemi COVID-19, yang tentu saja dibarengi dengan kewaspadaan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kegiatan OPAL tetap berjalan meskipun terdampak pandemi COVID-19.

Walau di rumah saja, masyarakat KLU bersama Bupati Djohan Syamsu dapat tetap berpartisipasi dalam aksi peduli lingkungan, caranya dengan menyumbangkan minimal satu bibit pohon.

BACA JUGA: Santong, Kerajaan Air Terjun di Lombok Utara

Bupati berharap semoga kalangan muda makin tergerak dan mencintai bumi.

Acara menanam pohon itu dihadiri Anggota DPRD NTB, Sudirsah Sujanto, tokoh agama dan rokoh adat, serta Mahasiswa Universitas Muhamadiyan Mataram, Universitas NW yang sedang KKN dan masyarakat Desa Buani.

@ng




Pabrik Pengolah Limbah Medis Wujudkan NTB Asri dan Lestari

Pabrik pengolah limbah medis Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) adalah impian dalam mewujudkan NTB Asri dan Lestari.

LOBAR.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sitti Rohmi Djalillah, mengungkapkan hal tersebut dalam kegiatan peresmian Pabrik Pengolah Limbah Medis di dusun Koal, desa Buwun Mas, kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Senin (13/9).

Pabrik“NTB termasuk memulai lebih awal untuk pengolahan limbah medis. Tanggungjawab kita adalah memastikan maintenance operasional dan manajemen pasokan limbah medis,” ujar Wagub.

Sitti Rohmi lebih jauh mengungkapkan bahwa program NTB Asri dan Lestari serta NTB Hijau bertujuan agar hidup bersih dan pengelolaan sampah serta limbah menjadi kesadaran kolektif masyarakat dalam indeks kualitas lingkungan hidup. Di hilir, pemerintah provinsi juga telah banyak menyiapkan strategi pengolahan dan pengurangan sampah seperti pabrik bahan bakar berteknologi pyrolisis, pabrik plastik brick dan lainnya yang berbasis industri.

BACA JUGA: Pabrik Pengolahan Limbah B3 HadiR di NTB

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 (PLB3), Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan, pabrik pengolah limbah medis ini juga berdampak signifikan dalam rangka penanganan pandemi.

“Selama pandemi saja, jumlah limbah medis Covid se-NTB sebesar 295 kilogram perhari. Semoga dengan hadirnya pabrik pengolah B3 semua limbah medis bisa diolah di sini,” tuturnya.

Karena itu, Rosa berharap pemerintah provinsi dapat berkoordinasi dengan baik terkait limbah Covid 19 di pelayanan kesehatan dengan kabupaten/kota agar penularan melalui limbah dapat dicegah.

jm




Desa Bentek Bangun Tempat Pengolahan Sampah, untuk Kurangi Sampah

Dalam upaya mengurangi volume sampah rumah tangga di Desa Bentek, setelah dibangun tempat pengolahan sampah maka masyarakat pun diajak memilah sampah

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Lombok Utara meresmikan Tempah Pengolahan Sampah TPS 3R (Reuse Reduce Resicyle) Gemaripah, sebagai upaya mengurangi volume sampah rumah tangga.

Tempat Pengolahan Sampah itu dibangun dengan anggaran Rp 600 juta dari Kementerian PU PR Pusat, melalui Pemda Provinsi Nusa Tenggara Barat TA-2021.

Peninjauan Bupati Djohan ke temmpat pengolahan sampah di Desa Bentek

Saat peressmian, Kepala Desa Bentek, Warna Wijaya, S.AP mengatakan, terus mendorong kesadaran masyarakat pentingnya kebersihan dan pengolahan sampah.

BACA JUGA: Pengurus MUI Lombok Utara Periode 2020-2025 Dikukuhkan

“Karena (persoalan) sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua,” ungkap Warna Wijaya.

Sejumlah program digalakkan dalam mengajak masyarakat berpartisipasi mengurangi sampah, salah satunya dengan memaksimalkan keberadaan Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce,  Resicyle (TPS-3R), yang dinilai sebagai solusi mengatasi krisis sampah.

Pekerjaan konstruksi TPS yang selesai pada tanggal 18 September 2021, menjadikan Desa Bentek satu satunya yang paling cepat di antara lima (5) tempat TPS 3R di NTB.

Hal itu disampaikan Wrna Wijaya di depan sejumlah undangan, yakni Bupati Lombok Utara, H Djohan Syamsu, Kepala Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Pemukiman Provinsi NTB, Aprialely Nirmala, ST, MT, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTB, Kepala Dinas Lingkungan Hidup KLU , Camat Gangga, BPD dan para Tokoh masyarakat Desa Bentek, Rabu (08/09/21).

Warna Wijaya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, sekaligus pada warganya yang antusias dalam pelaksanaan pembangunan sarana prasarana TPS 3R tersebut.

Ditempat sama, Kepala Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Pemukiman Provinsi NTB, Aprialely Nirmala, ST, MT mengatakan, lima Kabupaten yang mendapatkan bantuan anggaran TPS 3R masing masing mendapat bantuan Rp600 juta.

“Desa Bentek KLU yang pertama selesai,” kata Aprialely.

Ia juga merinci penggunaan anggaran, termasuk untuk kelengkapan sarana penunjang lainnya, hingga biaya transportasi roda tiga untuk pengangkutan sampah dari lima dusun yang ada di Desa Bentek.

Menurut Aprialely, melalui program ini terbukti efektif mampu mengurangi beban atau volume sampah rumah tangga, dan dapat mengurangi pembuangan yang terkirim di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Selain itu yang tidak kalah pentingnya, masyarakat tergugah kesadarannya dalam mengelola sampah,” tutup Aprialely.

Bernilai ekonomis

Bupati Lombok Utara, H Djohan Syamsu, SH, mengatakan, sampah berkonotasi kotor, busuk, bau dan mengundang penyakit.

“Padahal sampah bisa bernilai ekonomis, jika dikelola dengan baik,” kata bupati.

Djohan mencoba merubah paradigma berpikir masyarakat terkait sampah, agar tidak dibuang sembarangan dan bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk organik.

BACA JUGA; NTB Akan Menjadi Kawasan Pembangunan Industri Halal

Bupati juga menyinggung agar Dinas Lingkungan Hidup KLU harus lebih inten dan aktif memberikan penyuluhan dalam gerakan hidup bersih. Salah satunya pembinaan mengolah sampah menjadi pupuk organik, paparnya.

“Kalau sudah menjadi pupuk organik ini kan bisa dipasarkan alias dijual dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar desa masing masing, khususnya ke petani dan masyarakat untuk tanaman halaman rumah,” tutur Bupati Djohan.

Bupati menambahkan, gerakan pilah sampah dari rumah bisa mulai digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat memilah sampah rumah tangga.

Sampah organik dan yang bisa didaur ulang, yakni sampah yang sudah dipilah, akan dikumpulkan dan dibawa ketempat pengolahan ini, kata Bupati Djohan Sjamsu.

@ng