Balita Hilang Saat Bermain di Genangan Air

Tim Rescue Kantor SAR Mataram dan Pos SAR Kayangan diberangkatkan menuju lokasi hilangnya balita itu melakukan pencarian

MATARAM.LombokJournal.com ~ Balita bernama Muhammad Rafid Zaki warga Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur dilaporkan hilang.

Balita 2,5 tahun itu hilang sejak Minggu (08/03/26) pagi dan saat ini masih dalam pencarian.

BACA JUGA : Terseret AArrus Patan, Rustan Dtemukan Meninggal Dunia

Menurut Kepala Kantor SAR Mataram, Muhammad Hariyadi, melalui Koordinator Pos SAR Kayangan, M Darwis, korban sebelumnya bermain di depan rumah dan ditinggal ibunya di genangan air. 

Sekitar 30 menit kemudian saat ibunya kembali, korban sudah tidak berada di lokasi. 

BACA JUGA : Jenazah Tanpa Identitas Ditemukan di Pantai Kerandangan

Pihak keluarga bersama aparat setempat telah melakukan pencarian di sekitar rumah. Termasuk di aliran sungai yang berjarak sekitar 10 meter dari lokasi kejadian, namun korban belum ditemukan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Rescue Kantor SAR Mataram dan Pos SAR Kayangan diberangkatkan menuju lokasi hilangnya balita itu untuk melaksanakan pencarian. Setibanya di lokasi, tim langsung berkoordinasi dengan pihak terkait.

BACA JUGA : Mudik Gratis Bagi Pelajar dan Mahasiswa, Ayo Manfaatkan

Pencarian balita yang hilang itu, operasi SAR ini melibatkan Tim Rescue Kantor SAR Mataram, Pos SAR Kayangan, Polsek Sembalun, SAR Unit Lombok Timur, Damkarmat Lombok Timur, BPBD Lombok Timur, TSBK Bima, Pol PP, Tagana, serta masyarakat setempat.dan

 




Prediksi BMKG, Tahun 2026 Musim Kemarau Datang Lebih Awal

Prediksi BMKG,  Wilayah yang mengalami awal kemarau lebih awal meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan hingga Indonesia bagian timur

MATARAM.LombokJournal.com ~ Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya. 

Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Niño pada pertengahan tahun.

BACA JUGA : Balai Besar POM Mataram Terbitkan 202 NIE untuk UMKM

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan lebih lanjut terkait prediksi BMKG. Dari pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026. 

Namun demikian, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.

Peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau. 

BACA JUGA :  Tiga Bibit Siklon Penyebab Angin Kencang dan Cuaca Ekstrem

BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.  

Yakni mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa 184 ZOM (26,3%) menyusul masuk musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM (23,3%) pada Juni 2026. 

Berdasarkan data tersebut, Ardhasena menegaskan bahwa awal kemarau di 325 ZOM (46,5%) diprediksi MAJU atau terjadi lebih cepat dari biasanya, SAMA 173 ZOM (24,7%), dan MUNDUR 72 ZOM (10,3%).

BACA JUGA : Angin Puting Beliung Terjang Batukliang Lombok Tengah

“(prediksi BMKG) Wilayah yang mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujarnya. DAN

 




Angin Puting Beliung Rusak Atap Rumah di Sekotong

 Lokasi kejadian angin puting beliung  telah dipantau dan dilakukan asesmen awal oleh tim BPBD Kabupaten Lobar

MATARAM.LombokJournal.com ~ Angin puting beliung merusak atap rumah warga di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Terjangan angin puting beliung itu terjadi pada Kamis (05/03/26) sekitar pukul 03.30 WITA.

BACA JUGA : Prediksi BMKG, Tahun 2026 Musim Kemarau Datang Lebih Awal

Peristiwa ini dipicu oleh angin kencang yang disertai hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang melanda wilayah Kecamatan Sekotong pada waktu tersebut.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB tercatat 1 Kepala Keluarga (3 jiwa) terdampak, dengan 1 unit rumah mengalami kerusakan pada bagian atap rumah. 

Rumah yang terdampak merupakan milik warga bernama Jamiludin yang berdomisili di Dusun Batu Kumbung, Desa Sekotong Barat.

BACA JUGA :  Tiga Bibit Siklon Penyebab Angin Kencang dan Cuaca Ekstrem

Pemilik rumah untuk sementara mengungsi ke rumah tetangga guna menghindari risiko lanjutan.

BPBD NTB telah melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Barat serta stakeholder terkait. Penanganan kejadian angin puting beliung  ini melibatkan personel dari BPBD Kabupaten Lombok Barat, TNI/Polri, dan aparat desa setempat.

Adapun kebutuhan mendesak bagi warga terdampak saat ini meliputi terpal, selimut, dan makanan siap saji. 

Hingga saat ini lokasi kejadian angin puting beliung  telah dipantau dan dilakukan asesmen awal oleh tim BPBD Kabupaten Lombok Barat.

Masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Barat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat saat ini wilayah NTB masih berada pada periode musim hujan. 

Pada dasarian I Maret 2026 (1–10 Maret) terdapat peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 mm hingga lebih dari 100 mm per dasarian di beberapa wilayah NTB.

BACA JUGA : Puasa, Tak Peru Lagi Minum Obat Maag

Sehingga berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti angin puting beliung danangin kencang, banjir, dan tanah longsor yang dapat terjadi secara tiba-tiba. dan

 




Tiga Bibit Siklon Penyebab Angin Kencang dan Cuaca Ekstrem 

Kemunculan tiga bibit siklon ini meningkatkan gradien tekanan udara yang memperkuat kecepatan angin permukaan dan memicu pemusatan massa udara

MATARAM.LombokJournal.com ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi  kemunculan tiga bibit siklon tropis yang berada di sekitar wilayah Indonesia.

Keberadaan fenomena tiga bibit siklon tropis ini memicu potensi peningkatan curah hujan (cuaca ekstrem), angin kencang, hingga gelombang tinggi di sejumlah provinsi dalam beberapa hari ke depan.

BACA JUGA : Balita 4 Tahun yang Terseret Arus Sungai di Bima Ditemukan

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan berdasarkan pantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, ketiga bibit siklon yang saat ini aktif adalah Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Banten–Jawa Barat, Bibit Siklon Tropis 93S di sebelah barat laut daratan Australia, serta Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria sebelah selatan Papua Selatan.

Berdasarkan hasil analisis terkini, Bibit Siklon 90S memiliki peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-48 jam ke depan. 

BACA JUGA : Angin Puting Beliung Terjang Batukliang Lombok Tengah

Saktifnya tiga bibit siklon tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Sementara bibit lainnya, 93S dan 92P memiliki peluang rendah namun keseluruhannya tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan Indonesia.

Kemunculan tiga bibit siklon ini meningkatkan gradien tekanan udara yang memperkuat kecepatan angin permukaan serta memicu pemusatan massa udara. 

Kondisi ini diperkuat oleh suhu muka laut yang hangat di perairan selatan dan timur Indonesia, serta terbentuknya area pertemuan angin (konfluensi) di sepanjang Bali hingga Nusa Tenggara Timur.

BACA JUGA : Bencana Heidrometeorologi,  Banjir dan Longsor di Bima

Adapun dampak yang ditimbulkan dari aktifnya sistem dinamika atmosfer ini adalah terdapat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. 

Serta potensi angin kencang di Bali, DI Yogyakarta, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan pesisir selatan Papua Selatan.

Masyarakat perlu waspadai gelombang tinggi (2,5-4 meter) yang berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung, selatan Banten hingga Bali, Laut Sawu, selatan NTB dan NTT, serta Laut Arafura.

Dengan aktifnya tiga bibit siklon tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Serta mengantisipasi kemungkinan dampak hidrometeorologi seperti genangan, banjir, dan tanah longsor di wilayah rawan.dan




Angin Puting Beliung Terjang Batukliang Lombok Tengah

Langkah darurat merespon puting beliung telah diambil, mulai dari melakukan assessment (kaji cepat) di lokasi kejadian hingga himbauan waspada kepada masyarakat. 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Wilayah Kabupaten Lombok Tengah dilanda cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai angin puting beliung. Fenomena alam ini mulai terjadi pada Selasa (03/03/26), sekitar pukul 10.30 WITA dan mencapai puncaknya pada pukul 17.20 WITA. 

Akibat dari intensitas hujan yang tinggi dan terjangan angin puting beliung tersebut, sejumlah hunian warga dilaporkan mengalami kerusakan.

BACA JUGA : Balita 4 Tahun Hilang Tereret Arus Sungai di Bima

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, dampak paling signifikan terjadi di Desa Selebung, Kecamatan Batukliang. 

Tercatat sebanyak 25 Kepala Keluarga (KK) terdampak secara langsung oleh musibah ini. Tim di lapangan masih terus melakukan pendataan mendalam terkait tingkat kerusakan bangunan maupun kerugian materiil lainnya yang dialami oleh warga setempat.

Merespons kejadian angin puting beliung tersebut, BPBD NTB segera melakukan koordinasi intensif dengan BPBD Kabupaten Lombok Tengah beserta jajaran TNI, Polri, dan aparatur desa setempat. 

BACA JUGA : Ummi Dinda ke Dompu Tinjau Kemiskinan Ekstrem Warga

Langkah-langkah darurat merespon puting beling telah diambil, mulai dari melakukan assessment (kaji cepat) di lokasi kejadian, penyebaran informasi terkini, hingga memberikan himbauan waspada kepada masyarakat. 

Saat ini, bantuan tanggap darurat serta dukungan logistik dan peralatan (Logpal) menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak.

Mengingat wilayah NTB telah memasuki puncak musim hujan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. 

Berdasarkan prakiraan Dasarian I Maret 2026, terdapat peluang curah hujan sangat tinggi (lebih dari 100 mm) dengan probabilitas mencapai 80 persen hingga 90 persen khususnya untuk wilayah Lombok Tengah dan sekitarnya. 

BACA JUGA : Magnet Wisata Baru, NTB Tidak Jualan Pantai Itu itu Saja

Pemerintah berharap warga dapat mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi susulan selama periode peralihan musim ini. dan

 




Ummi Dinda ke Dompu Tinjau Kemiskinan Ekstrem Warga 

Menurut Ummi Dinda, penanganan kemiskinan ekstrem harus berjalan seiring penguatan ekonomi desa 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Indah Dhamayanti Putri yang akrab disapa Ummi Dinda meninjau empat kepala keluarga kategori miskin ekstrem di Desa Saneo, Dompu, Minggu (01/03/26).

Di sana, Ummi  Dinda menyerahkan bantuan sembako dan santunan sebagai bagian dari intervensi Program Desa Berdaya

BACA JUGA :  Magne Wisata Baru, NTB Tak Jualan Pantai Itu Itu Saja

“Kami ingin memastikan kehadiran pemerintah benar-benar dirasakan, menyapa warga satu per satu, mendengar kondisi mereka, serta mengupayakan perbaikan rumah agar lebih layak huni,” katanya.

Desa Saneo Kecamatan Woja merupakan salah satu “Desa Berdaya” di NTB. Ada banyak program yang bisa dilaksanakan di desa ini untuk memberantas kemiskinan

BACA JUGA : Jemaah Umrah Diminta Tunda Keberangkatan

Salah satunya yaitu dengan melakukan Bedah Rumah tidak layak huni.

Program “Desa Berdaya” bukan sekadar bantuan. Tapi upaya mendorong kemandirian, memperkuat ekonomi warga dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Kunjungan Ummi Dinda juga dilakukan di Kelurahan Kandai untuk meninjau pembangunan Koperasi Merah Putih dan menyerahkan dukungan operasional. 

“Bagi kami, penanganan kemiskinan ekstrem harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi desa dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Ummi Dinda, sapaan akrab Wagub NTB.

BACA JUGA : Bulan Puasa Dimanfaatkan Berhenti Merokok, Bisa Tidak?

Hal ini, lanjut Wagub, agar masyarakat tidak hanya terbantu hari ini, tetapi juga berdaya untuk masa depan.

Agenda Ummi Dinda  merupakan rangkaian Safari Ramadhan yang juga momentum mempererat silaturahmi sekaligus untuk memastikan program pemerintah berjalan tepat sasaran.dan

 




Ketangguhan Bencana Melalui Kolaborasi Multipihak

Kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam dalam memperkuat ketangguhan bencana

MATARAM.LombokJournal.com  ~ Posisi geografis NTB yang rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan bencana hidrometeorologi harus mewujudkan ketangguhan bencana.

Ketangguhan bencana menuntut penguatan sistem pengelolaan risiko bencana yang terencana dan berkelanjutan.. 

Pendekatan sistem menyeluruh terhadap upaya penanggulangan bencana memerlukan kolaborasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pelaku usaha, tokoh-tokoh masyarakat serta organisasi masyarakat sipil. 

BACA JUGA : Banjir di Pujut Lombok Tengah, 159 KK Terdampak 

Hal ini dilakukan dengan menyusun manajemen risiko bencana yang efektif dan berkelanjutan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, yang didukung oleh Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia Untuk Manajemen Risiko Bencana),.

Selalu menerapkan pendekatan sistem yang menyeluruh dalam upaya-upaya penanggulangan bencana yang dilakukan. 

Kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam dalam memperkuat ketangguhan bencana.

Sebagai langkah penguatan itu, dilaksanakan kegiatan kick off yang diselenggarakan pada Kamis (26/02/2026) di Kota Mataram. 

Kick off ini menandai secara resmi implementasi Rencana Kerja Tahunan (RKT) atau Annual Work Plan (AWP) untuk Tahun Anggaran 2026. 

BACA JUGA :  Bencana Hidrometeorologi, Banjir dan Tanah Longsor di Bima

“Kick off ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi ruang penting untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen bersama agar seluruh program selaras dengan prioritas pembangunan daerah,” kata Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin.

Acara ini menjadi momentum keberlanjutan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pelaksanaan sistem penanggulangan bencana  di wilayah NTB. 

Fokus utama program pada tahun 2026 adalah memperkuat sistem kelembagaan melalui optimalisasi kerja sama multipihak serta penyelarasan Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) di tingkat provinsi maupun di 3 kabupaten (Lombok Tengah, Lombok Utara, dan Sumbawa) dengan Program SIAP SIAGA.

Sadimin menegaskan, pengelolaan risiko bencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Karena itu, koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah akan terus diperkuat untuk memastikan dampak nyata bagi ketangguhan bencana masyarakat di lapangan. 

Melalui kick off ini, diharapkan terbentuk rencana aksi yang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan sepanjang tahun.

“Kolaborasi yang telah dibangun selama ini kita harapkan semakin kuat di tahun 2026 hingga akhir Program SIAP SIAGA,’’ kata Sadimin.

Jalinan kolaborasi yang dibangun telah melahirkan berbagai inisiatif. Pada Desember 2024 dilaunching Unit Layanan Disabilitas yang dalam setahun perjalannya berhasil melakukan pengolahan data terpilah penyandang disabilitas di tiga kabupaten. 

Di samping pelibatan berbagai sektor, peran aktif masyarakat juga diperlukan untuk mendukung resiliensi terhadap bencana. 

Melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) NTB dan Forum PRB Perguruan Tinggi dilakukan pendampingan pada desa melalui program KKN Tematik Destana. Selain itu, Forum PRB NTB telah Menyusun laporan kajian ketangguhan bencana pulau-pulau kecil di KLU dan Sumbawa. 

Sinergi Pemerintah Daerah dan Mitra Internasional

Kegiatan kick off ini dihadiri oleh pemangku kepentingan utama dari kedua negara. Mewakili Pemerintah Australia, hadir Catherine Meehan selaku First Secretary (Humanitarian) Kedutaan Besar Australia, dan Lucy Dickinson sebagai Team Leader Program SIAP SIAGA.

BACA JUGA : Dampak Cuaca Ekstrem di Lombok

Dari pihak Pemerintah Provinsi NTB, acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti. Turut hadir memberikan sambutan adalah Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, Sadimin. 

Kehadiran para pimpinan dalam upaya mewujudkan ketangguhan bencana ini,  menegaskan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menempatkan isu kebencanaan sebagai prioritas pembangunan.

“Program SIAP SIAGA awalnya dirancang sebagai inisiatif lima tahun (2019-2024), namun kini telah resmi diperpanjang hingga tahun 2028. Memasuki Fase II ini, program membawa mandat yang lebih tajam dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip GEDSI, penghidupan yang berkelanjutan serta adaptasi perubahan iklim’’ kata DRM Area Manager SIAP SIAGA NTB, Anggraeni Puspitasari.

Pada AWP 2026 terdapat tujuh program yang dilaksanakan secara kolaboratif. Pertama, peningkatan sistem dan strategi penanggulangan bencana. 

Dalam program ini dilakukan pendampingan teknis untuk penguatan Pembinaan dan Pengawasan (BINWAS) Standar Pelayanan Minimum (SPM) Sub-urusan Bencana di 10 kabupaten/kota di NTB. Selain itu, akan dilakukan pendampingan Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana).

Kedua, peningkatan strategi penanggulangan bencana.  Akan dilakukan pendampingan evaluasi RPB Provinsi NTB dan finalisasi RPB Lombok Tengah. Selain itu pendampingan teknis dan fasilitasi Musrenbang Tematik Kebencanaan dan Pembangunan Berketahanan Iklim di Provinsi dan 3 Kabupaten (KLU, Loteng dan Sumbawa). 

Dalam program ini juga akan menyusun Pergub Musrenbang Tematik Kebencanaan dan Pembangunan Berketahanan Iklim di Provinsi NTB.

Ketiga, pemetaan dan evaluasi risiko bencana. Akan dilakukan pendampingan teknis penyusunan dokumen KRB Kabupaten (KLU, Loteng dan Sumbawa) dan pendampingan teknis untuk pemantauan IKD/IRB Provinsi NTB.

Keempat, peningkatan layanan data dan komunikasi penanggulangan bencana. pendampingan teknis akselerasi pemanfaatan SIK Provinsi NTB di level daerah.

Serta pendampingan teknis untuk pengembangan lanjutan SIK (tahap 4) Provinsi NTB dan DESTANA yang inklusif dan integratif untuk mendukung sinergi dalam perencanaan dan pemantauan program desa (termasuk konvergensi antara API-PRB dan SDGs Desa).

Kelima, peningkatan dan pengembangan kebijakan dan peraturan untuk kesiapan bencana melalui penguatan kolaborasi pentahelix dan berbagi pengetahuan penanggulangan bencana.

Kegiatannya berupa pendampingan teknis koordinasi dan sinergi antara Forum PRB Provinsi NTB, Forum PRB Kab/Kota dan Forum Perguruan Tinggi untuk pengarusutamaan ketangguhan desa dan PRBBK melalui mekanisme KKN Pemberdayaan Desa. 

Memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan menyusun peta sebaran disabilitas di daerah rawan bencana. 

Program ini juga mendorong penyusunan media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang ramah terhadap kelompok rentan. 

Keenam, peningkatan kualitas kebijakan pemulihan pasca bencana melalui pendampingan teknis dan fasilitasi penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P).termasuk peningkatan kapasitas sektor RR untuk JITUPASNA. Ketujuh, peningkatan kapasitas logistik dan peralatan penanggulangan bencana lokal melalui pendampingan teknis penguatan klaster logistik Provinsi NTB.

“Fokus pelaksanaan Program SIAP SIAGA NTB di tahun 2026 adalah memperkuat sistem kelembagaan melalui optimalisasi kolaborasi dan kemitraan multi-pihak. Serta mendukung pengawasan, evaluasi, dan pembelajaran dari implementasi program-program Penanggulangan Bencana,” kata Angga. BPBD/Kominfotik.

 




Bencana Hidrometeorologi, Banjir dan Longsor di Bima

Usai bencana, saat ini genangan air sudah mulai surut dan warga bergotong-royong melakukan pembersihan sisa lumpur secara mandiri.

MATARAM.LombokJournal.com ~ Bencana hidrometeorologi mengakibatkan ratusan kepala keluarga (KK) terdampak dan sejumlah akses jalan antar-desa terganggu di wilayah Bima.

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Rabu (25/02/26) sore.

BACA JUGA : Banjir di [ujut Lombok Tengah, 150 KK Terdampak

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, banjir melanda Kecamatan Bolo dan Madapangga. 

Di Kecamatan Bolo, Desa Nggembe menjadi titik terparah dengan 204 KK terdampak dan 177 unit rumah terendam air setinggi 10 hingga 40 cm. Sedangkan di Desa Rato, banjir merendam 15 unit rumah.

Di Kecamatan Madapangga,bencana  banjir merendam puluhan rumah warga di Desa Monggo dan Ncandi. 

Luapan air juga menggenangi jalan lintas Bolo-Dena di Desa Rade. Selain banjir, curah hujan tinggi turut memicu tanah longsor di Desa Waworada, Kecamatan Langgudu.

BACA JUGA : Dampak Caca Esktrem di Lombok

Material longsor dilaporkan sempat menutupi jalan lintas Tente-Karumbu.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh aktifnya fenomena dinamika atmosfer seperti gelombang MJO, Kelvin, dan Low Frequency di wilayah NTB. 

Derasnya air dari kawasan pegunungan membuat kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air.

Kondisi usai bencana, saat ini genangan air sudah mulai surut dan warga bergotong-royong melakukan pembersihan sisa lumpur secara mandiri.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bima bersama TNI/Polri dan aparat desa telah dikerahkan ke lokasi bencana untuk penanganan dan asesmen

BACA JUGA : Olahraga Ini Yang Cocok Saat Puasa Ramadhan

Saat ini, kebutuhan paling mendesak bagi para korban meliputi logistik tanggap darurat, tenda, matras, selimut, serta makanan siap saji.(dan)




Banjir di Pujut Lombok Tengah, 150 KK Terdampak

Aparat terkait dalam [enanganan bencana dan aparatur desa segera melakukan assessment ke lokasi terdampak banjir

MATARAM,LombokJournal.com ~ Banjir melanda wilayah Kecamatan Pujut, tepatnya di Desa Tanak Awu, Dusun Tanak Awu 1, Kabupaten Lombok Tengah.

Peristiwa banjir ini dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat yang mengguyur wilayah Lombok Tengah dan sekitarnya sejak pagi hari. 

BACA JUGA : Dampak Cuaca Ekstrem di Lombok

Bencana banjir terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026 sekitar pukul 06.30 WITA. 

Dilansir Instagram BPBD NTB, akibat kejadian tersebut, sebanyak 150 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Tanak Awu 1 terdampak dan rumah warga sempat terendam banjir. 

Tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, warga mengalami gangguan aktivitas akibat genangan air yang masuk ke pemukiman.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktifnya gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, serta Low Frequency di wilayah NTB. Selain itu, adanya pertemuan angin (konvergensi), perlambatan kecepatan angin.

Serta kelembaban udara yang cenderung basah pada berbagai lapisan ketinggian turut mendukung terbentuknya hujan lebat yang menyebabkan meluapnya air dan merendam pemukiman warga.

BPBD Provinsi NTB telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Tengah. 

BACA JUGA : Bocah 4 Tahut Hanyut di Saluran Drainase

Tim Reaksi Cepat (TRC PB) BPBD Kabupaten Lombok Tengah bersama TNI/Babinsa dan aparatur desa segera melakukan assessment ke lokasi terdampak banjir. 

Selain itu, dilakukan pelaporan, penyebaran informasi kepada masyarakat, serta pemberian himbauan terkait potensi bencana yang dapat terjadi pada masa peralihan musim.

BACA JUGA : Dana Bantuan Madrasah Swasta Cair Sebelum Lebaran

Kebutuhan mendesak saat ini berupa pemenuhan logistik bagi warga terdampak.banjir 

Adapun kondisi terkini, banjir telah berangsur surut dan situasi di lokasi kejadian dalam keadaan relatif aman dan terkendali.(dan)

 




Dampak Cuaca Ekstrem di Lombok,

Di wilayah Kabupaten Lombok Barat dampak cuaca ekstem mengakibatkan tanah longsor. Longsor parah pada Senin (23/02)  

MATARAM, LombokJournal.com ~ Dampak cuaca ekstrem yang melanda Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat beberapa hari ini, menyebabkan bencana hidrometeorologi.

Dampak cuaca ekstrem itu berupa banjir, tanah longsor, dan ratusan rumah terendam melanda tiga kabupaten di Pulau Lombok, pada 23-24 Februari 2026. 

Cuaca kstrem ini juga mengakibatkan infrastruktur jalan terputus dan seorang anak dilaporkan hilang.

Berdasarkan laporan Pusdalops-PB BPBD Provinsi NTB, dampak terparah terjadi di Kabupaten Lombok Timur. 

Hujan lebat pada Selasa (24/02) merendam puluhan desa di Kecamatan Jerowaru, Keruak, Selong, dan Sakra Timur. 

Nahas, seorang anak berusia 4 tahun bernama Azril hilang terseret arus selokan di Kelurahan Selong dan masih dalam tahap pencarian. 

Luapan banjir ini bahkan turut merendam halaman Kantor Bupati Lombok Timur.

Di Kabupaten Lombok Tengah, dampak banjir merendam sedikitnya 675 Kepala Keluarga (KK) di Kecamatan Pujut, Praya Timur, dan Praya Barat. 

Selain itu, angin puting beliung merusak sejumlah rumah dan pertokoan di Kecamatan Batukliang Utara, Praya, dan Pujut.

Di wilayah Kabupaten Lombok Barat dampak cuaca ekstem mengakibatkan tanah longsor. Longsor parah pada Senin (23/02)  malam memutus jalan kabupaten sepanjang 75 meter di Sekotong. 

Sehari berselang, longsor dan banjir juga melanda Narmada dan Gerung, merendam 35 KK serta membuat sejumlah badan jalan amblas.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dipicu oleh aktifnya gelombang MJO, Kelvin, dan Low Frequency. 

Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI/Polri, dan Tagana saat ini telah dikerahkan ke lokasi untuk evakuasi dan mendistribusikan bantuan darurat seperti tenda dan logistik.

Masyarakat diimbau terus mewaspadai potensi bencana hidrometeorologis, mengingat NTB sedang memasuki puncak musim hujan pada dasarian III Februari 2026 ini.(dan)