Vaksinasi Goes to Campus, Cegah Generasi Muda Terpapar Covid

Vaksinasi massal digelar di kampus itu penting, selain mencegah mahasiswa terpapar Covid-19, juga agar aktivitas dan proses perkuliahan terjaga.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gubernur Zulkieflimansyah, mengatakan hal tersebut saat membuka kegiatan Vaksinasi Goes to Campus yang digelar oleh Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Barat (NTB) di kampus Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Selasa (3/8/).

Vaksinasi
H. Zulkieflimansyah

Menurut gubernur, tantangan dalam menghadapi pandemi covid-19 bukan hanya mengutamakan vaksinasi terhadap tenaga kesehatan, tapi sudah saatnya kini para mahasiswa-mahasiswi juga mendapat prioritas.

“Namun harus tetap menjaga prokes,” pesan Zulkieflimansyah, saat menutup sambutannya.

Sementara itu, Kepala Polda NTB, Irjen. Pol. Muhammad Iqbal, menuturkan bahwa penting sejak dini mencegah generasi muda terpapar Covid-19, sebab mahasiswa adalah penerus masa depan bangsa.

Dalam menyambut HUT RI ke-76, dengan vaksinasi masal yang bertema “Presisi Merdeka, Sinergitas Polda NTB Bersama Ummat Mataram”, Muhammad Iqbal berharap kota Mataram sebagai wilayah yang padat  beserta aktivitasnya, perlahan-lahan dapat kembali normal dari status PPKM level 4 ini. Prokes dan vaksinasi merupakan cara dan strategi guna memutus transmisi Covid-19.

BACA JUGABEM dan OKP NTB Siap Kolaborasi Tangani Pandemi Covid-19

Sedangkan, Rektor Ummat, Dr. H. Arsyad Abd Gani, menyambut baik ikhtiar Polda dan Pemerintah NTB dalam memutus mata rantai Covid-19 dengan menggelar vaksinasi massal di lingkungan kampus.

“Ada seribu mahasiswa dan civitas akademika yang melakukan vaksinasi hari ini. Terima kasih pak Gubernur dan Kapolda,” ucap Arsyad Gani.

edy




BEM dan OKP NTB Siap Kolaborasi Tangani Pandemi Covid-19

BEM dan OKP akan memperkuat sinergitas untuk mengedukasi masyarakat tentang disiplin menggunakan Prokes

MATARAM.lombokjournal.com ~ Sejumlah BEM dan OKP di NTB menyatakan kesiapannya untuk bersama Pemrov NTB maupun Kabupaten/Kota berkolaborasi tangani pandemi Covid-19.

BEM Siap kolaborasi
Gubernur Zulkielimansyah

Hal tersebut disampaikannya kepada Gubernur Dr.H. Zulkieflimansyah, SE., M.Sc., pada saat silahturahmi Ketua BEM dan OKP dalam rangka sinergitas penanganan Covid-19, Senin (02/08/21) di Ruang Rapat Utama, Kantor Gubernur.

Mewakili Ketua BEM Unram, Noli Aditia menyambut baik pertemuan dan silaturahmi yang digagas Gubernur NTB. Ia berharap sinergi melawan Covid harus diperkuat dengan peran gerakan mahasiswa hingga tingkat desa.

BACA JUGA:

KoLABORASI Tangani Pandemi Covid-19, Ajakan Bang Zul pada BEM dam OKP

“Kami siap bersama pemerintah untuk terus mengedukasi masyarakat tentang disiplin menggunakan Prokes,” katanya.

Menyoroti pemberlakuan PPKM ia berharap pemerintah mengatur para PKL atau pedagang ruang untuk tetap bedagang hingga lebih pukul 20.00 malam hari.

Karena dari berdagang ini ekonomi mereka tetap hidup. Menurutnya yang menjadi masalah berkerumun itu, bukan penjual akan tetapi pembeli.

“Ini yang harus diatur, agar pembeli selain mengikuti prokes juga menjaga kerumunanan,”tutupnya.

Sedangkan PW Himmah NW Zainul Hadi mengatakan bahwa masyarakat saat ini resah mendengar tentang Covid, apalagi terkait dengan vaksinasi.

“Mereka masih menerima informasi terkait bahwa vaksinasi ini dapat membunuh,” katanya.

Informasi seperti ini harus ditangkal dengan masif. Mempergunakan narasi-narasi dan bahasa lokal, sehingga masyarakat paham.

Pengurus Ikatan Mahasiswa dan BEM Fakultas Hukum Muhammadiyah, Dimas  menyampaikan, pihaknya juga memiliki Satgas Covid. Sejak awal sudah cukup serius ikut membantu melawan wabah ini.

BACA JUGA: Pandemi Covid-19, Era Baru Yang Mesti Diadaptasi Organisasi

“Namun persoalan ekonomi juga harus diperhatikan, bantuan Pemerintah pusat maupun Pemda sangat membantu,” ungkapnya.

Ia mengajak rekan-rekan Mahasiswanya untuk bersama berkolaborasi membantu mengedukasi dan sosialisasi yang masif tentang Prokes dan vaksinasi.

“Karena hanya ini cara untuk memutus matarantai Covid,”tutupnya didepan beberapa Kepala OPD lingkup Pemrov. NTB.

Hadir perwakilan BEM dan OKP seperti BEM Bumigora, UNU, NW, UIN, HMI, Semmi, Perisai,GMKI, Kammi NTB.

edy




Kolaborasi Tangani Pandemi Covid-19, Ajakan Bang Zul pada BEM dan OKP

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah ajak kolaborasi Ketua BEM dan OKP dengan memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyatakat tentang bahaya Covid

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gubernur Dr.H. Zulkieflimansyah, SE., M.Sc., mengajak mahasiswa se-NTB turut serta berpartisipasi dan berperan serta bersama pemerintah menangani pandemi Covid-19.

Kolaborasi tangani pandemi Covid-19
Gubernur Zulkielimansyah

“Saat ini kita butuh tindakan nyata dan konkrit dari adik-adik mahasiswa,” kata Gubernur Zulkiflimansyah yang akrab disapa Bang Zul.

Ia menyampaikan itu saat silahturahmi dengan Ketua BEM dan OKP dalam rangka sinergritas penanganan Covid-19, Senin (02/08/21) di Ruang Rapat Utama, Kantor Gubernur.

Menurut Doktor Zul, saat ini yang dibutuhkan adalah program  yang dapat mengatasi berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Lebih-lebih berbuat untuk daerah di tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi.

“Apalagi keberadaan mahasiswa tersebar dimana-mana di wilayah NTB, maka punya sumberdaya untuk bergerak,” tutur mantan anggota DPR RI ini.

BACA JUGA: Bendera Putih Dikibarkan, PKL Bangsal Ampenan Dapat Bantuan

Perdebatan panjang dan kritik boleh saja, namun harus ada forum tertentu. Tapi melihat keadaan dan kondisi masyarakat, ia mengajak agar lebih baik ikut memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyatakat tentang bahaya Covid, penerapan prokes, vaksin dan PPKM.

Hal-hal seperti di atas masih banyak masyarakat yang salah kaprah dan termakan hoaks. Sehingga berkembang pemahaman yang liar di tengah masyarakat.

“Nah saya ajak adik-adik ini apa yang bisa kita perbuat bersama untuk bersinergi, kalau punya gagasan dan ide kita kerjakan,”ajak Gubernur.

Karena saat ini selain persoalan kesehatan dan ekonomi, yang tidak kalah penting tugas pemerintah membangun kesadaran masyarakat.

Mahasiswa yang terdiri dari Ketua BEM dan OKP ini dapat membantu memberikan edukasi dan sosialisasi tentang percepatan vaksin, pemahaman tentang PPKM sehingga Covid cepat berlalu dan ekonomi kembali bergeliat.

“Bukan hanya di Provinsi, mahasiswa juga harus ikut membantu Kabupaten/Kota, untuk bersinergi tangani Covid,” kata gubernur mantan ketua BEM UI ini, di depan perwakilan BEM dan OKP seperti BEM Bumigora, UNRAM, UNU, NW, UIN, HMI, Semmi, Perisai,GMKI, Kammi NTB.

BACA JUGA: BEM dan OKP Siap Kolaborasi Tangani Pademi Covid-19

Turut dampingi Gubernur Asisten I, Kaban Bakesbangpoldagri, Kadis Kesehatan, Dirut RSUP, Kaban BPBD dan Kasat Pol PP Provinsi NTB.

edy




Covid-19 di NTB Tetap Terkendali, Tapi Jumlah Kasus Meningkat

Pemerintah sudah berdaya upaya menangani Covid-19, tapi masyarakat perlu meningkatkan  gotong royong menegakkan protokol kesehatan

MATARAM.lombokjournal.com ~  ESPE Syndicate menggelar diskusi mingguan virtual, Kamis (29/07/21) sore hingga petang.

Kali ini mengangkat Tema yang diangkat dalam diskusi virtual ini “Menggagas Pondok Isolasi Mandiri dan Gerakan Vaksinasi. Peran Organisasi Keagamaan Melawan Covid-19”, dengan pembicara utama, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah menjadi pembicara utama.

Hadir pula para tokoh lintas agama, akademisi, tenaga medis, dan para pemangku kepentingan dari beragam profesi.

BACA JUGA: Bansos Polda NTB di Tengah Pandemi, Gubernur Beri Apresiasi

Founder ESPE Syndicate Sirra Prayuna mengatakan, pihaknya menggagas diskusi ini sebagai bagian dari upaya memastikan. sinergitas Pemerintah Daerah dengan para pemangku kepentingan di tengah situasi Covid-19 NTB yang terus naik.

“Pemerintah menyiapkan skema PPKM yang sebetulnya masih cukup baik. Namun, bagi sebagian masyarakat ini belum memiliki dampak,” kata Sirra.

Saat ini, kata dia, perhatian ada pada sektor kesehatan dan ekonomi. Namun, tidak semua warga NTB saat ini merupakan kelas menengan sehingga manakala mereka terpapar Covid-19 bisa menjalankan isolasi mandiri secara memadai.

Karena mereka yang terinfeksi Covid-19 butuh alat, butuh obat, butuh asupan yang baik termasuk multivitamin.

“Karena itu, kita melihat di sini pentingnya peran organsiasi kemasyarakatan. Sehingga diskusi ini ingin sama-sama mencoba menggagas “Jihad Kemanusiaan” untuk membantu masyarakat terutama dalam hal menyiapkan fasilitas isolasi,” katanya.

Ahmad, Direktur Publik Institut yang memandu diskusi kemudian mempersilakan Wakil Gubernur Hj Sitti Rohmi Djalilah menyampaikan pemaparan.

Orang nomor dua di NTB ini menegaskan, Covid-19 di NTB dalam keadaan terkendali.

“Kondisi NTB masih aman. Tapi dalam arti, kini kita berada pada titik waspada,” katanya.

Wagub menjelaskan, keterisian tempat tidur ruang perawatan intensif pasien Covid-19 di seluruh rumah sakit di Kota Mataram kini sudah mencapai 81 persen.

Sementara kondisi lebih buruk lagi ada di Lombok Barat. Seluruh rumah sakit di Lobar ruang ICU pasien Covid-19 kini sudah terisi 90 persen.

Sementara untuk angka kematian, delapan daerah berada pada zona merah. Kondisi paling buruk ada di Lombok Tengah. Dengan angka kematian 5,3 persen dari seluruh penderita Covid-19 di daerah tersebut.

Wagub menjelaskan, di tengah kondisi seperti ini, NTB sedang tidak punya pilihan. NTB harus memutuskan untuk hidup aman tapi tetap produktif. Karena itu, mutlak bagi seluruh masyarakat di NTB untuk hidup dengan mengedepankan protokol kesehatan.

BACA JUGA: Pandemi Covid-19 Picu Penurunan PAD Kabupaten Lombok Utara

“Tidak ada pilihan lain. Kalau kita tidak menjalankan prokes, kita kolaps. Kita tidak bisa memilih,” tandas Wagub.

Memang kata dia, kondisi Covid-19 di saat NTB terkendali. Namun harus diakui, akhir-akhir ini jumlah kasus memang terus melonjak. Kemarin, kasus harian di NTB kembali di atas 200 orang.

Di sisi lain kata Wagub, angka kesembuhan di NTB juga terus menurun. Jika sebelumya angka kesembuhan di NTB berada di atas 90 persen. Maka kini kondisi angka kesembuhan berada pada posisi 85,6 persen.

Lonjakan Kasus

Wagub menjelaskan, lonjakan kasus di NTB mengalami kenaikan yang sangat tinggi setelah perayaan Hari Raya Idul Adha. Padahal saat bersamaan, Kota Mataram sedang menjalani PPKM Darurat.

Sementara kabupaten/kota yang lain di NTB menjalani PPKM Mikro.

Belakangan kata Wagub, kondisi kian menkhawatirkan. Sebab, kebutuhan oksigen yang terus naik. Sementara pasokan juga memerlukan waktu untuk memenuhi seluruh permintaan.

Kabar gembiranya, kemarin NTB sudah mendapat bantuan 19 ton oksigen.

Ditegaskannya, penanganan Covid-19 ini akan terlalu berat jika diserahkan sepenuhnya pada pemerintah sendiri. Karena itu, Wagub menegaskan, seluruh komponen di NTB butuh kerja sama.

“Kita harus gotong royong. Gotong royong tegakkan prokes di seluruh lini kehidupan. Sepele. Tapi banyak orang yang anggap enteng,” tandasnya.

Mengandalkan penanganan pandemi Covid-19 hanya dari sisi kuratif belaka, sudah pasti kata Wagub tak akan mampu mengatasi persoalan.

Sebab, seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah pasti ada batasnya.

Dia mencontohkan, menyiapkan satu orang tenaga kesehatan saja butuh puluhan tahun.

Karena itu, pilihan terbaik yang dimiliki NTB saat ini adalah mengedepankan tindakan preventif. NTB punya peluang besar dalam hal tindakan preventif ini.

Kuncinya kata Wagub, asal kita semua mau menjalankannya.

Itu sebabnya, dia menegaskan pentingnya peran masyarakat yang sangat besar, dan inilah yang kini menjadi PR besar.

Bagaimana meyakinkan masyarakat agar bersatu sehingga dalam seluruh aktivitas yang dijalani, bisa semuanya mematuhi protkol kesehatan.

Diakuinya, selama ini, masih ada fokus yang terbelah pada hal-hal yang tidak esensial. Karena itu, saatnya kini fokus dikembalikan pada upaya-upaya untuk memastikan masyarakat mematuhi protokol kesehatan.

Mereka yang abai harus sadar sepenuhnya, bahwa mereka bisa menjadi pembunuh bagi orang lain.

Ditekankannya, upaya pemerintah sebetulnya sudah mengerahkan seua daya upaya. Ada yang kurang saat ini di NTB, yakni gotong royong menegakkan protokol kesehatan.

Namun begitu, Wagub mengingatkan agar jangan lagi ada saling menyalahkan.

“Dari pada saling menyalahkan, mengapa kita tidak disiplin bersama-sama menegakkan protokol kesehatan,” katanya.

Sementara itu, terkait capaian vaksinasi, untuk NTB sebetulnya sudah sangat baik. Di seluruh NTB total sudah 593.323 orang telah menerima suntikan dosis pertama.

Sementara 226.025 orang sudah menerima suntikan kedua. Angka ini memang masih jauh dari jumlah warga NTB yang harus divaksinasi yang jumlahnya mencapai 3,6 juta orang.

Karena itu, kata Wagub, NTB butuh peran tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mendorong mayarakat agar mau divaksin.

Wagub bersyukur, saat ini, animo masyarakat untuk divaksin sudah baik.

“Kita di NTB, berapa vaksin yang datang, segitu vaksin yang habis,” ungkapnya.

Masalahnya, ketersediaan vaksin memang terbatas. Pemprov NTB sendiri bukannya berpangku tangan.

Permintaan agar kuota vaksin untuk NTB ditambah terus dilayangkan ke Pemerintah Pusat.

Sejauh ini, Pemerintah Pusat menyampaikan, penambahan itu akan tergantung pada keseriusan kasus Covid-19 di suatu daerah terlebih dahulu. Sehingga saat ini, daerah dengan kondisi kasus yang lebih serius masih didahulukan.

“Karena itu, di tengah keterbatasan vaksin, kuncinya saat ini adalah pentingnya protokol kesehatan,” katanya.

Inilah cara penanganan pandemi yang mudah dan murah. Tapi, memang, hal yang murah dan mudah tersebut rupanya tidak mudah pula kita lakukan.

“Sekali lagi, ini PR besar kita di NTB,” tandasnya.

Ormas Siap Bersinergi

Terkait isolasi terpadu ini, Ketua PW NWDI NTB TGH Mahally Fikri menegaskan, NWDI memiliki komitmen tinggi bersama-sama pemerintah untuk bisa mengendalikan Covid-19 ini.

Ketua Umum Dewan Tanfidz PB NWDI TGB HM Zainul Majdi telah mengeluarkan perintah untuk hal tersebut.

“Covid-19 ini sangat luar biasa bahayanya. Harus serius untuk ditangani. Karena kalau tidak, ini tidak akan menguntungkan kita semua,” kata Anggota DPRD NTB ini.

Karena itu, saat ini butuh persepsi yang sama dari kita semua. Agar semua pihak bisa ambil bagian. Dan PW NWDI siap untuk ambil bagian tersebut.

Karena itu, manakala NWDI diminta ambil peran untuk menyiapkan ruang isolasi terpadu, TGH Mahally menyebut ide tersebut sangat bagus. Pondok Pesantren bisa menjadi lokasi isolasi secara terpusat.

Diakui Mahalli, memang di waktu awal, masyarakat sangat percaya dengan Covid-19 ini. Sehingga tahun lalu misalnya masyarakat patuh untuk tidak tarawih berjamaah.

Tidak menjalankan Salat Jumat berjamaah dalam kurun waktu yang panjang. Namun, belakangan, hal tersebut menjadi sulit untuk kita jalankan kembali.

“Entah karena apa. Apakah karena ada sesuatu yang salah atau bagaimana. Jadi kesannya seperti saat ini masyarakat nggak percaya lagi,” katanya.

Disebutnya, beredarnya hoax yang sangat banyak bisa jadi menjadi salah satu andil. Informasi tersebut menyesatkan dan tidak bertanggung jawab.

Karena itu, pihaknya sangat setuju kalau tokoh agama dan tokoh masyarakat harus berada di garis depan untuk kembali meyakinkan masyarakat, betapa Covid-19 ini berbahaya.

Terkait vaksinasi, NWDI sudah turun sosialisasi ke masyarakat. Cuma memang pihaknya memahami, vaksin kini memang lagi kurang di NTB.

Dia memberi contoh di Pondok Pesantren miliknya, Al Kamal, vaksinasi belum bisa dilakukan. Sebanyak 70 persen guru belum divaksin hingga saat ini.

Sementara itu, akademisi UIN Mataram DR Jamaluddin mengatakan, saat ini masih banyak hal yang belum sampai secara menyeluruh pada masyarakat.

Misalnya terkait bagaimana masyarakat belum percaya betul tentang penanganan jenazah pasien Covid-19.

Yang sampai ke masyarakat justru jenazah tidak dimandikan dengan baik. Sehingga manakala ada jenazah yang sudah ditangani dengan prosedur Covid-19 oleh petugas kesehatan, masyarakat ada yang ramai-ramai ingin membuka peti jenasah.

“Ini butuh penjelasan sampai ke masyarakat bawah,” katanya.

Sementara itu, Ida Made Santi Adnya, Ketua PHDI NTB menegaskan, pihaknya siap dukung program pemerintah untuk tangani Covid-19.

“Kita memang saat ini harus memulai kolaborasi semua pihak,” katanya.

Terkait dengan fasiltias isolasi secara terpusat, dia meyampaikan gagasan untuk memanfaatkan lahan-lahan yang dimiliki pure-pure besar di NTB.

Lahan-lahan itu berada pada posisi yang strategis. Memiliki akses dan bisa dijangkau. Ada jaringan listrik pula.

Hanya saja, di atasnya butuh dibangun tempat semi permanen. Yang tentu bisa dibangun oleh pemerintah untuk menjadi pusat isolasi.

Lahan ini juga berada di daerah yang sangat alami. Memiliki udara yang sangat bersih. Sehingga sangat bagus untuk meningkatkan imun.

Tapi untuk mewujudkan ini, butuh komunikasi antara pemerintah dengan Parisade dan juga Kramapure.

Me




Komisi V DPRD NTB Soroti Keterbatasan Persediaan Oksigen

Saat Dengan Pendapat, Komisi V DPRD NTB sampaikan sorotan serius terkait dengan ketersediaan oksigen yang masih sangat kurang dibandingkan dengan kebutuhan

MATARAM.lombokjournal.com ~ Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasannya terhadap penanganan Pandemi Covid-19,  memanggil Dinas Kesehatan dan pihak Rumah Sakit Umum Provinsi NTB untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP), Selasa, (27/07/21).

RDP tersebut digelar karena melihat penyebaran Covid-19 di Provinsi NTB terus menunjukkan tren peningkatan. Padahal telah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasinya, termasuk dengan menggelontorkan anggaran yang cukup besar.

BACA JUGA: Distribusi Oksigen Harus Merata dan Selektif Penggunaannya

“Pemerintah sudah bekerja maksimal, tapi memang tingkat Pandemi ini terus naik, dan ini belum puncaknya. Sementara di satu sisi kita punya keterbatasan untuk menanganinya,” ujar Ketua Komisi V DPRD NTB, TGH. Mahalli Fikri.

Melihat lonjakan kasus Covid-19 di NTB, Komisi V kemudian memberikan saran kepada pemerintah untuk mengambil sejumlah kebijakan strategis. Diantaranya penanganan pasien Covid-19 supaya dilakukan dengan terpusat.

“Kita tawarkan solusi agar rumah sakit swasta itu untuk menangani penyakit bukan Covid-19. Tapi rumah sakit milik pemerintah khusus menangani pasien Covid-19 agar tidak campur aduk,” ungkapnya.

Kemudian itu hal yang menjadi sorotan cukup serius Komisi V yakni terkait dengan ketersediaan oksigen yang masih sangat kurang dibandingkan dengan kebutuhan.

“Masalah oksigen ini jelas kita sangat kurang tapi sedang diupayakan cara-cara yang luar biasa untuk pengadaannya. Kami minta dalam situasi seperti ini tidak bisa kita pakai cara normal, harus ada cara cerdas. Karena kondisi Covid-19 di daerah kita ini memerlukan kerja keras,” tegasnya.

Dari pantauan Dewan, disadari bahwa pemerintah memiliki keterbatasan hampir pada semua lini dalam penanganan Covid-19 ini. Namun demikian, ia mengharapkan supaya pemerintah daerah tidak menyerah begitu saja.

BACA JJUGA: Oksigen dan Obat Dijamin Tersedia, Masyarakat Jangan Cemas

“Kalau kita baratkan kondisi kita saat inu yang serba terbatas, ibarat pakai selimut, kaki ditutup kepala kelihatan, kepala ditutup, kaki kelihatan. Begitulah kondisinya kita dalam menghadapi Covid-19 ini,” jelasnya.

Ast

 




Distribusi Oksigen Harus Merata dan Selektif Penggunaannya

Distribusi oksigen ke seluruh Kabupaten/Kota harus dibagi secara merata dan juga lebih selektif dalam penggunaanya.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalillah mengungkapkan hal ini saat mengunjungi ketersediaan oksigen di PT. Bayu Bangun Sakti (BBS) berlokasi di Loang Balok, Mataram dan PT. Samabayu Mandala yang berlokasi di Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Senin (26/07/21).

Distribusi Oksigen“Pendistribusian oksigen harus secara merata di kabupaten/kota,” tutur Sitti Rohmi yang didampingi Asisten I , dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB

Siti Rohmi juga menegaskan agar seluruh fasilitas kesehatan dapat lebih selektif dalam menggunakan oksigen.

“Saya harus mengantisipasi dan menyakinkan betul agar bagaimana caranya efektivitas penggunaan oksigen di NTB dapat maksimal,” ujarnya.

Untuk diketahui, bahwa ketersediaan oksigen di PT. BBS kapasitas maksimal 220 ton/bulan. Menurut Max, owner PT. BBS, mengatakan, sudah saatnya seluruh fasilitas kesehatan mengurangi atau meminimalisir penggunaan alat Nasal Kanul, sehingga lebih efisien dalam pemanfaatan oksigen.

“Kebijakan Nasal Kanul yang begitu masif, meminimalisir menggunakan alat, sehingga untuk keperluan yang perlu-perlu saja dalam penggunaan alat,” jelasnya.

BACA JUGA:

Sementara itu, Kepala Filling Pengisian Oksigen PT. Samabayu Mandala, Yasim, mengungkapkan, dengan kondisi lonjakan Covid-19 yang cukup tinggi, maka membutuhkan pembagian pendistribusian.

PT. Samabayu Mandala menghasilkan sebanyak 300-400 tabung per-hari dan liquid oksigen yang dapat menghasilkan oksigen dalam bentuk tabung.

“Kami melakukan pembagian suplay kepada beberapa rumah sakit (RS), seperti RS HK, RS. Siloam, RS UNRAM, RS Bhayangkara, dan RS Yatofa, sehingga dapat secara merata,” ujarnya.

ser




Nakes Puskesmas Santong Positif Covid-19, Layanan Dipindahkan

Nakes atau tenaga kesehatan di Puskesmas Desa Santong termasuk dokter terpapar Covid-19, pelayanan keehatan dipindahkan

SANTONG,KLU.lombokjournal.com ~ Pelayanan kesehatan di Puskesmas Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Lomok Utara, sementara akan dialihkan ke Poskesdes, Pustu maupun Puskesmas terdekat.

Pengalihan itu terpaksa dilakukan, menyusul adanya tenaga kesehatan (Nakes) termasuk beberapa dokter yang tekonfirmasi positif positif Covid-19 di Desa Santong.

Kepala Puskesmas Desa Santong, H. Subari, S. Kep., Ners selaku  menjelaskan, pengalihan pelayanan kesehatan ke Poskesdes, Pustu atau Puskesmas terdekat itu akan dilakukan selama tiga hari. Terhitung dari hari senin tanggal 26 Juli hingga hari Rabu tanggal 28 juli.

BACA JUGA: Pemda KLU Hrus Aktifkan Kembali Satgas Covid-19 Satu Pintu

Menurutnya, saat ini ada beberapa nakes di Puskesmas Desa Santong setekah dilakukan tes hasil tesnya positif Covid-19, dan saat ini sedang menjalani isolasi mandiri dan karantina.

“Tapi pelayanan kesehatan tetap berjalan tapi dialihkan sementara ke Poskesdes, Pustu maupun Puskesmas terdekat.” kata Subari

Saat ini layanan kesehatan akan dilakukan sementara di luar gedung utama, demi menjaga pelayanan kesehatan tetap berjalan bagi masyarakat di Desa Santong secara umum.

Dijelaskan, penanganan utama yang dilakukan pihak Puskesmas Desa Santong dimulai dari internal, seperti sterilisasi seluruh ruangan yang ada di Puskesmas.

Subari mengatakan, penting bagi seluruh masyarakat Desa Santong untuk tetap mentaati protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus Covid-19 lebih luas di Desa Santong.

Pencegahan penyebaran penularan virus Covid-19 perlu dukungan dan kesadaran dari masyarakat Desa Santong secara umum.

BACA JUGA: Oksigen untuk Terapi Pasien Covid-19, Stoknya Masih Aman

“Kami menghimbau kepada masyarakat desa Santong khususnya, untuk tetap mentaati protokol kesehatan dimana pun berada. Karena kami yang tenaga kesehatan saja bisa terpapar Covid-19 apa lagi yang lain.” kata Subari.

Han




Oksigen dan Obat Dijamin Tersedia, Masyarakat Jangan Cemas

Gubernur meminta masyarakat tidak cemas dan panik, sebab pemerintah menjamin ketersediaan oksigen dan obat-obatan untuk pasien Covid-19.

MATARAM.lombok.com ~ Untuk memastikan ketersediaan oksigen aman dan tercukupi di masa pandemi Covid-19, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Zulkieflimansyah, mengunjungi 2 lokasi produsen oksigen, Jumat (23/7).

Oksigen“Masyarakat diharapkan tenang. Insya Allah di NTB tidak ada kelangkaan oksigen,” ujar Zulkieflimansyah, saat melihat pengemasan dan persiapan proses pengiriman oksigen ke pulau Sumbawa, oleh CV. Bayu Bangun Sakti (BBS Oxygen), di Jalan Lingkar Selatan, Mataram.

Pada kesempatan itu gubernur menegaskan, demi menjaga stok yang aman di NTB, hasil produksi oksigen sepenuhnya guna memenuhi kebutuhan daerah, sehingga untuk sementara perusahaan tidak memenuhi permintaan dari provinsi lain.

“Ketersediaan oksigen yang diproduksi oleh CV. Bayu Bangun Sakti Mataram dan PT. Samator Gas di Gerung, Lombok Barat, sangat cukup. Bahkan permintaan dari provinsi lain tidak dilayani, demi menjaga stok yang aman bagi NTB,” jelasnya.

BACA JUGAPemda KLU Harus Aktifkan Kembali Satgas Covid-19 Satu Pintu 

Sementara itu, owner CV. Bayu Bangun Sakti, Max Suparta, mengaku bahwa stok oksigen untuk provinsi NTB, aman dan terkendali. Saat ini kapasitas produksi bulanannya sebanyak 220 ton oksigen, sedangkan kebutuhan sebelum pandemi hanya 80 ton oksigen.

“Artinya ada peningkatan hingga 50 persen,” kata Max.

Terkait adanya isu kelangkaan oksigen di Pulau Sumbawa, Max membantah bukan karena tidak ada stok oksigen, tetapi sebab proses pendistribusiannya. Pengiriman oksigen ke Bima, Dompu dan Sumbawa membutuhkan waktu tempuh yang agak lama.

BACA JUGAOksigen Untuk Terapi Pasien Covid-19, Stoknya Masih Aman

Menurut Max, hingga kini harga oksigen tetap stabil, tidak ada kenaikan, masih dengan harga Rp. 16.500/kg. Untuk Rumah Sakit (RS) yang menggunakan liquid tidak terjadi kelangkaan, karena kontinuitas stoknya terjaga, terutama di Pulau Lombok.

Guna menjaga ketersediaan pasokan di RSUD se-Pulau Sumbawa, pihaknya juga akan memasang tangki penyimpan oksigen Microbulk sistem oksigen cair di RS H.L. Manambai Abdulkadir yang berkapasitas 3 ton, RSUD Kota Bima 1 ton, dan RSUD Asy-Syifa 2 ton.

diskominfotikntb




Pemda KLU Harus Aktifkan Kembali Satgas Covid-19 Satu Pintu

Penulis: JAHARUDIN

Kabupaten Lombok Utara (KLU) termasuk salah satu wilayah zona orange, karena itu Pemda KLU harus mengaktifkan kembali Satgas penanganan Covid-19 sistem satu pintu

lombokjournal.com ~ Komitmen Pemerintah Daerah dalam mengatasi masyarakat terdampak Covid 19 di Kabupaten Lombok Utara, harus menciptakan suasana kondisi yang bebas. Atau setidaknya menurunkan zona orange Covid-19 yang kecendrungannya meningkat.

Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Lombok Utara untuk menggerakkan kembali tim Satgas Covid 19 satu pintu, agar bekerja lebih maksimal dan tidak cukup hanya oleh satu atau dua OPD saja.

BACA JUGA: Masyarakat Sembalun Musyawarahkan Awiq-awiq Kearifan Lokal

Pemda KLU harus aktifkan Satgas

Lombok Utara saat ini telah masuk dalam fase orange. Bukan saja karena menurunnya ekonomi masyarakat, dan pula karena bertambahnya penduduk miskin. Situasi kritis yang dialami pemerintah, karena harus berjibaku melawan penyebaran virus Corona jenis baru atau dikenal dengan sebutan Novel Coronavirus.

Secara resmi virus ini oleh World Health Organization (WHO) disebut sebagai Covid-19 yang berarti “Covid” singkatan dari Corona Virus Disease, sedangkan angka “19” menunjukkan tahun munculnya virus tersebut.

Pemerintahan Kabupaten Lombok Utara sudah mengeluarkan kebijakan penanganan, seperti lockdown dilakukan untuk mencegah masyarakat berkumpul dan berkerumun di tempat-tempat publik sehingga penularan menjadi lebih berisiko. Melakukan rapid test dan Vaksin kepada seluruh penduduk.

Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mendeteksi dan menguji seluruh penduduk yang berisiko terpapar Covid-19 sehingga mudah untuk penanganan segera.

Faktanya Lombok Utara termasuk salah satu wilayah zona orange, yang belum juga menurun serta menghawatirkan dan harus berjibaku dengan segala kekuatan untuk bertanding cepat dengan Covid-19.

Virus ini melaju dengan cepat, menginfeksi siapa saja yang melakukan kontak dengan orang yang suspect. Diibaratkan jaringan sosial, infeksi orang pertama akan menyebabkan orang-orang lain terinfeksi, selama mereka melakukan kontak langsung seperti bersalaman.

Pola penularan virus ini tergolong unik, dengan masuk melalui mata, hidung, telinga, dan mulut.

Pemda KLU harus aktikan Satgas

Kian hari, kasus Covid-19 semakin masif, (lihat gambar) yang diperoleh penulis sebagian bersumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara per tanggal 23 Juli 2021.

Adanya peningkatan itu mengisyaratkan untuk mengaktifkan kembali tim Covid-19 sistem satu pintu lewat Satgas. Tim Satgas Penanganan Covid-19 yang sudah di SK-kan sudah berakhir sejak 2020.

BACA JUGA: Tugu Sembalun 7 Summits Dipasang di Puncak Gunung Anak Dara

Sejak bulan Januari 2021 hingga saat ini terkesan kurang efektif. Sistim satu pintu dengan melibatkan OPD maupun unsur yang lainnya.

Selain itu pihak RSUD lebih inten lagi membuka informasi (update) data terkinian sebagai bagian dari antisipasi dan penyebaran informasi melalui media.

@ng




Oksigen Untuk Terapi Pasien Covid-19, Stoknya Masih Aman

Masalah muncul lebih pada pendistribusian oksigen ke kabupaten/kota di luar Pulau Lombok yang membutuhkan waktu, jadi bukan stoknya mengalami kelangkaan.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Informasi kelangkaan oksigen muncul dan menjadi pembahasan dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Penanganan Covid-19 Provinsi NTB, di Gedung Graha Bakti Praja, Kamis (22/7).

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Zulkieflimansyah, dalam rapat tersebut menegaskan bahwa ketersediaan dan stok oksigen untuk kebutuhan terapi pasien Covid-19 di Provinsi NTB masih aman.

“Saya baru cek ketersediaan oksigen, Insya Allah tersedia cukup. Kita tidak kekurangan,” ujar Zulkieflimansyah.

Menurutnya, persoalan pendistribusian ke wilayah Kabupaten/Kota terutama yang berada di pulau Sumbawa sedikit membutuhkan waktu.

“Ini semata bukan karena kelangkaan, tapi karena persoalan distribusi yang memerlukan waktu, karena jarak tempuhnya,” tegas gubernur.

Misalnya untuk mendistribusikan tabung oksigen dari kota Mataram ke kabupaten Bima, kota Bima, Dompu, Sumbawa dan Sumbawa Barat, cukup memakan waktu. Selain itu, juga adanya keterbatasan sumber daya manusia atau tenaga terampil yang bisa melakukan pengisian tabung oksigen.

Untuk itu diharapkan bupati dan walikota, beserta tim satgas termasuk TNI/Polri harus terus memonitoring, mengawasi pasokan dan ketersediaan oksigen maupun obat-obatan medis di masa PPKM untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Masyarakat diharapkan tenang, tetap ikuti prokes dan jaga kesehatan,” tutur gubernur.

BACA JUGAKesehatan dan Ekonomi Masyarakat Diutamakan di Masa PPKM

edy