Pandemi Covid, Masalah Kesehatan Makin Banyak dan Kompleks

Persoalan kesehatan yang semakin banyak dan kompleks di masa pandemi Covid-19 dibutuhkan strategi preventif berupa gaya hidup sehat.

LOTENG.Lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Sitti Rohmi Djalillah, menyampaikan hal tersebut ketika membuka Workshop Posyandu Keluarga yang digelar oleh Dinas Kesehatan kabupaten Lombok Tengah, di desa Batujai, Praya, Kamis (12/8).

Pandemi CovidMenurut Sitti Rohmi, belajar dari pandemi bahwa fasilitas kesehatan tak sanggup menangani kesehatan. Begitu pula dengan tenaga kesehatan yang sumber dayanya membutuhkan waktu untuk disiapkan. Artinya, tindakan kuratif itu terbatas sehingga dibutuhkan intervensi dari awal.

“Oleh karena itu penyelesaiannya harus dari hulu dengan strategi promotif dan preventif dengan gaya hidup sehat”, ujarnya.

Bentuk intervensi kepada posyandu menjadi Posyandu Keluarga hanya memperkaya konten pelayanan, dengan fitur edukasi masalah sosial dan lainnya, sebab hal itu terjadi di masyarakat paling bawah, yang justru harus diberikan pemahaman terlebih dahulu.

“Begitu juga dengan masalah kesehatan, seperti stunting, gizi, sanitasi dan masalah sosial lain yang bisa dicegah dari dusun melalui Posyandu Keluarga”, kata Sitti Rohmi.

Capaian ePPGBM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat elektronik) kabupaten Lombok Tengah (Loteng) juga masih di bawah 90 persen. Begitupula dengan angka stunting yang masih tinggi di angka 27,79 persen dari total 20 ribu kasus, berdasarkan data Rembuk Stunting pada Maret lalu.

Wagub mengingatkan, program pemerintah provinsi berbasis desa sejalan dengan 18 indikator SDGs yang menjadi target capaian desa.

BACA JUGAPosyandu Keluarga Mekarsari Bisa Jadi Contoh Buat Loteng

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Loteng, H. Omdah, SKM mengakui, target capaian beberapa indikator kesehatan masih tertinggal begitupula dengan capaian Posyandu Keluarga.

“Data terbaru sudah 60 persen dari 1600 posyandu yang ada. Mungkin belum dimasukkan ke Sistem Informasi Posyandu nanti dicek lagi”, ujarnya.

Omdah menjelaskan, kondisi pandemi membuat sangat sulit berkoordinasi karena semua stakeholder sedang fokus penanganan pandemi. Namun demikian, harapan agar tahun ini Loteng dapat seratus persen Posyandu Keluarga terus diupayakan bersama pemkab Loteng dan stakeholder lain.

“Karena tidak bisa dikerjakan sendiri oleh Dikes menyangkut layanan seperti literasi masalah sosial dan lain lain”, tuturnya.

jm




Posyandu Keluarga Mekarsari Bisa Jadi Contoh Buat Loteng

Posyandu Keluarga Mekarsari, Dusun Dahe, diharapkan menjadi contoh bagi posyandu lainnya yang ada di kabupaten Lombok Tengah.

LOTENG.lombokjournal.com ~ Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Sitti Rohmi Djalillah, dalam kunjungannya ke dusun Dahe, desa Mujur, kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Kamis (12/8).

Posyandu Keluarga“Karena Posyandu Keluarga di Lombok Tengah jumlahnya masih di bawah lima puluh persen”, ujar Wagub.

Sitti Rohmi berpesan bahwa kesehatan adalah kemewahan apalagi di tengah pandemi. Ia berharap warga terus memanfaatkan posyandu, serta kader harus tetap bersemangat dengan keterbatasan.

BACA JUGAPelatihan Pelaporan Perkembangan Covid dengan Aplikasi BLC

Posyandu Keluarga Mekarsari melayani 137 kepala keluarga (KK). Kepala posyandu yang juga Ketua Forum Posyandu Praya Timur, Nur Faizah, kunjungan posyandu selama 2021 terus meningkat dan mencapai seratus persen.

Posyandu yang melayani ibu hamil, balita, lansia dan remaja, itu meski belum sepenuhnya mengedukasi warga tentang masalah sosial lain seperti buruh migran, perkawinan anak dan narkoba atau bank sampah, namun banyak inovasi yang dilakukan. Salah satunya adalah pemberian makanan tambahan yang berlangsung setahun penuh yang dibiayai sendiri dari dana yang dikumpulkan masyarakat.

“Belum terintegrasi tapi layanan konseling yang selalu dimanfaatkan oleh remaja selain tentang kesehatan juga dibekali informasi tentang itu”, jelas Nur Faizah.

Khusus remaja, tercatat sedikitnya 95 orang berkunjung setiap bulan dengan kasus umum anemia dan reproduksi.

Faizah menambahkan, meningkatnya status Posyandu Mekarsari menjadi Posyandu Keluarga, yang ditandai dengan penyerahan sertifikat oleh Wagub, menumbuhkan semangat warga maupun kader.

“Walaupun dengan lima orang kader selama ini kami berbuat maksimal dibantu oleh nakes puskesmas juga”, tuturnya.

jm




Posyandu Keluarga Berkualitas, Ukuran Status Kesehatan Baik

Wagub Ummi Rohmi tekankan pentingnya untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi Posyandu Keluarga

MATARAM.lombokjournal.com ~ Pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat elektronik atau ePPGM NTB progress entrynya mencapai 87,5 persen.

Wakil Gubernur, Hj Sitti Rohmi Djalillah mengatakan, salah satu ukuran kesehatan masyarakat ini akan baik jika didukung Posyandu Keluarga berkualitas.

Wagub tekankan pentingnya monitoring posyandu keluarga

“Penting untuk terus monitoring dan evaluasi. Kalau harus turun ke lapangan, lakukan,” tegas Wakil Gubernur saat rapat kerja dengan Dinas Kesehatan di Pendopo Wagub, Selasa (10/08/21).

Sebagai program unggulan, Posyandu Keluarga harus tuntas seratus persen namun sejalan dengan kualitas.

BACA JUGA: Industrialisasi Bukan Identik Pabrik Penyebab Polusi

Kepala Dinas Kesehatan L. Hamzi Fikri menjelaskan, ePPBGM ditargetkan entry data seratus persen pada September tahun ini.

Selain sebagai program unggulan, Posyandu Keluarga dalam Lomba Inovasi Daerah oleh Litbang Kemendagri skornya  tinggi, sebagai salah satu dari 35 inovasi yang diusulkan.

“Itulah mengapa peran Posyandu Keluarga sangat penting karena bisa melakukan screening dan temuan kasus lebih awal mulai dari gizi, stunting sampai penyakit menular untuk catatan dan laporan,” jelas Fikri.

Dikes mengapresiasi strategi Wagub yang rajin turun ke lapangan sebagai bahan masukan perbaikan alur perbaikan Posyandu Keluarga.

Dikes juga merencanakan membuat Posyandu model yang kriterianya diusulkan sendiri oleh kabupaten/ kota.

Ke depan, akan ada penilaian strata dengan bintang satu sampai empat dalam hal alur pelayanan. Misalnya, jumlah kader tidak harus maksimal delapan sebagai standar pelayanan.

BACA JUGA: Eco Office Akan Diterapkan di Seluruh OPD Provinsi NTB

Dari 7.573 Posyandu, 5.493 diantaranya telah berstatus Posyandu Keluarga. Secara rata rata hampir semua kabupaten/ kota melampaui target limapuluh persen. Tinggal kota Mataram (40,6%) dan Loteng (40,36%).

“Kendalanya macam macam, sampai alasan terhenti karena PPKM tapi itulah tantangannya agar di masa pandemi indeks kesehatan tetap terjaga,” kata Fikri.

jm




Prokes NTB Harus Tetap Kencang, Ini Kata Danrem

Danrem 162 Wira Bhakti menekankan agar Kepala Daerah tetap menetapkan pelaksanaan prokes atau protokol kesehatan

MATARAM.lombokjournal.com ~ Dari 27 Provinsi PPKM Level 4 di luar Pulau Jawa dan Bali, Provinsi NTB merupakan provinsi terbaik ketiga dengan data paling sedikit kasus aktif Covid–19.

Hal ini disampaikan oleh Komandan Korem (Danrem) 162 Wira Bhakti (Danrem 162/WB) Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani saat mengikuti rapat koordinasi Satgas Oksigen yang berlangsung di Ruang Rapat Umum (RRU) Kantor Gubernur Provinsi NTB, Senin (09/08/21).

“Alhamdulillah, kita termasuk nomor 25 dalam artian yang paling jelek yang nomor paling atas, jadi kita terbaik ketiga. Hal ini membanggakan untuk kita semua. Ini yang disampaikan oleh Pak Luhut semalam,” kata Danrem.

Dalam keterangannya, Rizal mengatakan bahwa Provinsi NTB sedang dikepung oleh dua provinsi tetangga dengan tingkat kenaikan jumlah kasus aktif yang tinggi, yakni Bali dan NTT.

BACA JUGA: JPS Gotong Royong, Serap Produk Lokal Hingga 1 Miliar Rupiah

“Kalau kita tidak segera mengambil langkah-langkah progresif dan strategis maka kita akan segera seperti mereka. Saya himbau kepada kepala daerah intinya adalah protokol kesehatan harus tetap diterapkan,” tegas Danrem.

Selain itu, Komitmen Fokopimda mulai dari tingkat provinsi hingga tingkat desa harus memiliki komitmen yang sama.

BACA JUGA: Gubernur NTB Minta Efisiensi Dalam Penggunaan Oksigen

“Kalau selama Forkopimdanya kuat dan kompak maka bisa sama–sama menekan penyebaran Covid – 19,” tuturnya.

Ser




Gubernur NTB Minta Efisiensi Dalam Penggunaan Oksigen

Gubernur NTB (Nusa Tenggara Barat), H. Zulkieflimansyah, menegaskan kepada seluruh stakeholder agar terus berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk mengefisiensikan penggunaan oksigen.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Menurut Gubernur Zulkieflimansyah, hal ini dilakukan agar kebutuhan oksigen tetap dapat dikendalikan.

Gubernur NTB
H. Zulkieflimansyah

“Efisiensi oksigen harus segera dikoordinasikan agar optimal pemanfaatannya,” tegas Zulkieflimansyah, saat membuka Rapat Koordinasi Satgas Oksigen yang berlangsung di Ruang Rapat Utama (RRU) Kantor Gubernur, Senin (9/8).

Senada dengan gubernur, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, dr. H. Lalu Herman Mahaputra., menjelaskan pentingnya manajemen efisiensi oksigen.

“Seluruh Rumah Sakit harus dapat memahami bagaimana kebutuhan oksigen yang ada di Rumah Sakitnya masing-masing,” ujarnya.

Manajemen Efisiensi yang dimaksud dr. Herman, antara lain adalah melakukan koordinasi dengan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) untuk penyapihan pemberian oksigen pasien, mengoptimalkan penggunaan dan distribusi oksigen kosentrator, memonitor kebutuhan oksigen secara ketat, bila kondisi membaik segera hentikan pemberian dan melakukan skrining ketat di IGD untuk menentukan kriteria pasien butuh perawatan atau isoman.

“Kita Sudah melakukan itu di RSUD Provinsi NTB sebagai salah satu RS rujukan dan begitu banyak pasiennya. Saya pikir rumah sakit lain juga harus bisa,” ungkap dr. Herman.

BACA JUGAOnline Single Submission, Permudah Izin UMKM dan Investor

Kebutuhan oksigen di Provinsi NTB per-bulan terhitung 283.196 Kg atau 35.490 tabung besar, sementara ketersediaan tabung per-bulannya terhitung 220.000 Kg atau 27.500 tabung besar. Hal ini terus diatensi oleh pemerintah dengan menerapkan strategi, yakni efisiensi penggunaan, memastikan distribusi tepat waktu dan mengoptimalkan oksigen konsentrator atau oksigen generator.

Sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan NTB, H. Lalu Hamzi Fikri, bahwa efisiensi penggunaaan oksigen adalah cara terbaik dalam mengoptimalkan penggunaan.

“Seberapa jumlah oksigen yang ada, harus adanya manajemen efisiensi penggunaan oksigen,” tuturnya.

ser




Rakor PPKM Lombok Utara, Bupati: Perlu Koordinasi Satgas

Pada Rakor PPKM, Bupati Djohan Sjamsu tekankann koordinasi antara Satgas Desa Satgas Kecamatan, dan Satgas Kabupaten agar jelas langkah yang mesti dilakukan

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu SH menghadiri Rapat Koordinasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan Penerapan Isolasi Terpusat di Kabupaten Lombok Utara (05/08/21).

Hadir membersamai Bupati Lombok Utara, Kapolres Lotara AKBP Feri Jaya Satriansyah SH, Penjabat Sekda KLU Drs H Raden Nurjati, Asisten Bidang Pemerintahan Kawit Sasmita SH, Danramil Tanjung Kapten Zaenal, unsur pimpinan OPD, serta para tamu undangan yang mengikuti secara daring.

Bupati pimpin Rakor PPKM
H. Djohan Sjamsu

Pada kegiatan tersebut, disupervisi pula dari unsur Polda NTB. Dihadiri para camat, para Kapolsek, para Danramil, serta para Kades se-KLU.

Bupati Djohan menyampaikan hampir dua tahun Pandemi Covid-19 melanda, berbagai upaya telah dilakukan mengendalikan dan memutus mata rantai penularannya, semakin hari peningkatan kasus fluktuatif hingga jumlah yang meninggal.

Lanjut Bupati Djohan, upaya efektif yang dilakukan dengan menggencarkan pelaksanaan 5M yaitu memakai masker, menjaga jarak, sering mencuci tangan, mengurangi mobilitas, menjauhi kerumunan.

BACA JUGA: Festival Geopark 2021, Teguhkan Komitmen Lestarikan Alam

Selain tetap melakukan 3T, testing, tracing, traetment. Merujuk surat Gubernur NTB Nomor 360/600/Satgas/VII/2021 mengharuskan penerapan isolasi terpusat secara berjenjang dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota hingga provinsi.

“Pelaksanaan isolasi dapat berjalan dengan baik, perlu koordinasi yang baik antara Satgas Desa Satgas Kecamatan, dan Satgas Kabupaten agar ada kejelasan langkah apa yang mesti dilakukan. Kendati, keuangan daerah dalam kondisi terpuruk maka kepastian pembiayaan proses di masing-masing jenjang harus jelas sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang ada,” imbuhnya.

Dijelaskan Bupati Djohan, Kebutuhan pada tingkat desa dibebankan pada dana desa dan dapat didukung dari sumber lain dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), begitu selanjutnya secara berjenjang.

Bupati Djohan mengajak seluruh stakeholder bermitra bersama mencegah penularan Covid-19 dengan taat pada arahan pemerintah.

Selain itu, perlunya pembangunan posko masing-masing tingkatan, termasuk santunan sosial bagi para pasien isolasi mandiri.

Dalam pada itu, Pj Sekda KLU Drs H Raden Nurjati menyampaikan tanggal 5 Agustus 2021 tepat tiga tahun sudah gempa bumi melanda Lombok Utara yang menelan korban jiwa harta dan lainnya. Untuk itu pihaknya mengajak mengenang sembari berdo’a.

“Kesempatan yang baik ini, mari kita sama-sama merunduk sejenak, mendo’akan semua korban yang telah mendahului kita, pada peristiwa gempa tiga tahun silam,” tuturnya.

Adapun landasan pelaksanaan PPKM, merujuk pada Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 29 tahun 2021. Ditindaklanjuti dengan Edaran Bupati nomor 188.64/437/BPBD/2021 tentang PPKM.

BACA JUGA: Mahasiswa Pelopor Intelektual Gerakan Vaksinasi dan Prokes

Kini Lombok Utara masuk level 3 yang menetapkan tempat terpusat isolasi pada masing masing tingkatan.

“Untuk tingkat Kabupaten Lombok Utara, merencanakan RSUD sebagai tempat pelayanan terpusat. Bila ruangan tidak mencukupi, kami akan membangun ruangan darurat, begitu pula optimalisasi Puskesmas,” ujarnya.

Lanjut Pj Sekda, banyak hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan penerapan isolasi terpusat, termasuk dengan pendanaan yang cukup besar. Pada sisi lain, perencanaan JPS bagi yang melaksanakan isolasi mandiri.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari Kapolres Lombok Utara, Kadis Kesehatan, serta diskusi dari peserta Rakor, dengan tetap menerapkan Prokes Covid-19.

wld




Mahasiswa Pelopor Intelektual Gerakan Vaksinasi dan Prokes

Mahasiswa bisa menjadi pelopor intelektual dalam melakukan gerakan vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan (prokes) di masyarakat.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Sitti Rohmi Djalillah, menegaskan hal itu saat meninjau kegiatan Vaksinasi Presisi Merdeka “Goes To Campus”, Sinergitas TNI-Polri bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dan Cipayung Plus, di kampus UIN Mataram, Kamis (5/8).

Wagub menilai mahasiswa merupakan garda terdepan dalam melawan Covid dan meyakinkan masyarakat untuk tetap menjaga disiplin dalam prokes.

“Kami optimis, masa depan daerah dan bangsa ini tergantung apa yang dilakukan dan dicontohkan mahasiswa,” kata Sitti Rohmi.

Sehingga, lanjut Wagub, kehidupan masyarakat berjalan sesuai keinginan bersama. Aktifitas ekononi bergeliat, penyelenggaraan pendidikan berjalan dan suasana kehidupan kembali, dengan era menurut tatanan baru.

“Tidak ada lagi penyekatan, PPKM dan termasuk kuliah online dan lain sebagainya,” tuturnya.

Hal yang serupa disampaikan Kapolda NTB, Irjen. Pol. Muhammad Iqbal, yang mengatakan bahwa kenapa kampus jadi target vaksin, karena mahasiswa adalah agen of change. Mahasiswa membawa perubahan ke arah lebih baik ke depan, termasuk juga sebagai penjaga moral bangsa ini.

“Kalau adik-adik mahasiswa divaksin maka akan diikuti oleh masyarakat, ini point pentingnya,”ungkap Iqbal.

edy




Vaksinasi Mahasiswa Menyiapkan Calon Pemimpin yang Sehat

Vaksinasi bagi mahasiswa, selain menjadi contoh bagi masyarakat juga menyiapkan mereka sebagai calon pemimpin masa depan yang sehat.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah, mengungkapkan hal tersebut dalam kegiatan vaksinasi massal di lingkungan kampus yang bertema “Vaksinasi Presisi Merdeka”, di kampus Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma), Rabu (04/08).

Sitti Rohmi mengatakan, tugas mahasiswa jauh lebih ringan dari pada para tenaga kesehatan. Vaksinasi bagi mahasiswa, selain diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat juga mempersiapkan mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan yang sehat. Ummi Rohmi juga mengingatkan, .

Vaksinasi sebagai salah satu ikhtiar pemerintah dalam mengendalikan pandemi Covid-19. Jika prosedur kesehatan (prokes) tidak diterapkan dan kasus terpapar covid masih tetap tinggi maka sulit mengharapkan aktifitas kampus kembali normal.

“Oleh karena itu ayo berpartisipasi ikut vaksinasi massal di kampus agar bisa berkegiatan seperti dulu. Dan tetap patuhi prokes meski sudah divaksin”, himbau Sitti Rohmi.

Sementara itu, Rektor Undikma, Prof. Drs. Kusno, mengatakan, kegiatan vaksinasi yang terdaftar hari ini sudah melampaui target penyelenggara, yaitu 1000 dosis vaksin. Selain mahasiswa juga terdapat masyarakat umum yang mendaftar.

“Semua elemen sudah mencoba mulai pencegahan, pengobatan dan yang tersulit adalah pengendalian, sebab akhirnya yang dikendalikan adalah perilaku manusia bukan langsung penyakitnya”, tutur Prof. Kusno.

BACA JUGAPosyandu Keluarga Solusi Untuk Mencegah Stunting

Vaksinasi goes to campus yang digelar di sejumlah universitas di Mataram menargetkan sebanyak 3000 orang. Saat ini vaksinasi yang sudah dilakukan di NTB, dengan jumlah penduduknya lima juta, baru mencapai 16 persen.

jm




Posyandu Keluarga Solusi Untuk Mencegah Stunting

Posyandu Keluarga adalah solusi dari aneka permasalahan kesehatan di NTB, salah satunya mengedukasi masyarakat terkait pencegahan stunting.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalillah, mengatakan hal tersebut saat memberikan pemaparan tentang penanganan stunting di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam acara Pembekalan Program Kerja Kuliah Nyata Muhammadiyah-Aisyah (KKN MAs) Tahun 2021, yang berlangsung secara virtual, Rabu (4/8).

“Revitalisasi posyandu ini bertujuan untuk meningkatkan angka posyandu secara bertahap, menuju posyandu keluarga serta deteksi dini berbagai persoalan sosial, sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat berbasis dusun menuju pertahanan keluarga,” ujar Sitti Rohmi

Berdasarkan data dari Riskesdas jumlah stunting di Provinsi NTB dari tahun 2018 – Juli 2021 sebanyak 33.49%. Sitti Rohmi menilai bahwa setiap tahunnya dapat dilakukan rekapitulasi data dari seluruh posyandu dan puskesmas di NTB.

“Sehingga kita bisa mendapatkan by name by address, penanganan yang jauh lebih komprehensif dan efektif. Agar di NTB ini melihat posyandu menjadi sesuatu yang betul-betul harus diintervensi dengan baik,” jelasnya.

Sitti Rohmi menegaskan bahwa masalah stunting tidak hanya berbicara tentang bayi dan ibu hamil, tetapi juga bagaimana mengedukasi remaja kita sehingga dia nanti siap menjadi calon ibu serta memahami kesehatan reproduksi dan lain sebagainya.

“Kita juga harus mengedukasi masyarakat karena stunting juga sangat tergantung dari lingkungan. Sehingga kita harapkan penanganan stunting ini bisa sangat komprehensif, karena kita tahu penanganan stunting tidak hanya bicara tentang gizi tetapi sangat erat juga hubungannya dengan sanitiasi,” tuturnya.

ser




Mahasiswa yang Sudah Divaksin Bisa Menjadi Agen Informasi

Mahasiswa yang telah divaksin bisa menjadi agen informasi dalam mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat, pentingnya vaksinasi.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Hal ini dikatakan Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah, saat meninjau kegiatan Vaksinasi Goes to Campus yang digelar oleh Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Barat (NTB) di kampus Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Selasa (3/8/).

Gubernur menegaskan bahwa tidak mungkin pandemi ini berakhir tanpa vaksinasi dan tanpa penerapkan disiplin protokol kesehatan (prokes). Namun di sisi lain masih banyak tokoh agama, tokoh masyarakat yang masih percaya dengan isu dan berita hoaks.

“Setelah divaksin, mahasiswa dapat meyakinkan masyarakat di tempat asalnya bahwa aman dan halal,” ujar Zulkieflimansyah.

Vaksinasi Mahasiswa
H. Zulkieflimansyah

Ada juga masyarakat di desa-desa yang termakan berita dan informasi bohong, bahwa vaksin dapat mengakibatkan kematian. Lebih muda meyakinkan masyarakat setelah mahasiswa yang divaksin terlihat tetap sehat dan tambah awet muda, nampak bugar dan energik di tengah masyarakat.

“Berita dan informasi seperti itu yang harus diluruskan oleh mahasiswa, bahwa itu tidak benar,” pinta Zulkieflimanyah.

BACA JUGAVaksinasi Goes to Campus, Cegah Generasi Muda Terpapar Covid

Sementara itu, Kepala Polda NTB, Irjen. Pol. Muhammad Iqbal, mengatakan, mahasiswa adalah kaum terpelajar dan contoh bagi masyarakat, sehingga harapannya adik-adik mahasiswa turut membantu terus mengedukasi pentingnya vaksinasi guna memutus mata rantai covid-19

Mengenai perkembangan vaksinasi, Muhammad Iqbal memaparkan bahwa serapan vaksinasi sudah cukup bagus. Data menunjukan, serapan vaksinasi di Kota Mataram sudah 53 persen dari populasi 495 ribu penduduk.

“Beberapa hari ke depan, vaksinasi akan dilakukan di beberapa kampus juga. Targetnya sekitar 3.000 dosis,” tuturnya.

edy