NTB Luncurkan Aplikasi Generasi Emas

Pemerintah Provinsi NTB bekerjasama dengan Summit Institute of Development (SID) menginisiasi program  Generasi Emas (GEN) NTB 2025.

MATARAM.lombokjournal.com – Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Ir Rosiady Sayuti Ph.D, Selasa (2/5) membuka sekaligus meresmikan peluncuran aplikasi pelaporan terintegrasi OpenSRP Program Generasi Emas (GEN) NTB 2025 yang dihadiri oleh jajaran Kepala SKPD Provinsi NTB, dan pihak Summit Institute of Development.

“Dengan kerjasama semua lembaga program ini nantinya dapat terlaksana sesuai harapan,” kata Rosiady.

Program GEN mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dan secara aktif membantu petugas kesehatan dan tenaga pendidik menyediakan semua layanan yang dibutuhkan, dari awal kehamilan sampai kelahiran hingga usia anak memasuki umur 5 tahun.

Pelayanan ini meliputi perawatan antenatal, perawatan persalinan, imunisasi, pemantauan pertumbuhan, dan pemantauan intervensi anak usia dini (PAUD) di tingkat Desa/Kelurahan.

GEN pada tahun 2017 ini memilih 100 desa yang dipilih oleh Dikes dengan pertimbangan yang dapat mewakili kondisi masyarakat. GEN merupakan program unggulan yang outpunya semacam real time public sistem, terkait kesehatan ibu hamil maupun balita yang ada di daerah.

Program ini akan mencakup distribusi PC tablet dengan aplikasi mobile yang disebut dengan OpenSRP. Aplikasi ini secara langsung terpasang pada PC tablet dalam mengembangkan sistem data terpadu dan terintegritasi yang membantu petugas kesehatan masyarakat meningkatkan tumbuh kembang anak.

Sistem data ini dikembangkan oleh tim THRIVE OpenSRP Indonesia dari Summit  Institute of Development.

Dlam kesempatan sama, Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj Erica Zainul Majdi mengaku pihaknya sangat mengapresiasi peluncuran program GEM ini.

Erica sangat berterimakasih dan sungguh-sungguh menghargai segala bentuk upaya yang berkontribusi terhadap peningkatan keadaan kesehatan khususnya bayi ibu dan anak,

“Bagaimana aplikasi ini nantinya mampu secara signifikan mampu berkontribusi  terhadap perbaikan kesehatan memberikan pelayanan kesehatan,” kata Erica, yang juga hadir dalam peluncuran aplikasi tersebut.

Thirive OpenSRP Indonesia untuk GEN 2025 mengembangkan 4 aplikasi yang terdiri dari OpenSRP untuk Bidan, petugas kesehatan, vaksinator, dan petugas anak usia dini.

Dengan adanya aplikasi ini diharapkan mampu mempermudah beban kerja tenaga kesehatan. Peluncuran teknologi ini akan dimulai pada tanggal 2 Mei 2017 dan dilanjutkan dengan pelatihan petugas kesehatan sampai dengan akhir Mei.

Secara nasional program ini hanya ada diindonesia yakni  NTB ditunjuk untuk mewakilinya, selain juga berada di Pakistan dan Bangladesh.

Program ini nantinya juga akan terus diperluas secara bertahap, yang dimulai dari 100 desa pada tahun 2017 ini. Akhirnya seluruh desa/kelurahan di Provinsi NTB dapat tersentuh oleh intervensi.

AYA

 




Kemiskinan Masih Menjadi Pemicu Gizi Buruk di NTB

Faktor kemiskinan masih menjadi salah satu pemicu kasus gizi buruk di Provinsi NTB, selain faktor pola asuh yang salah.

Nurhandini Eka Dewi (foto: AYA)

MATARAM.lombokjournal.com — Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Nurhandini Eka Dewi mengatakan,  pemicu gizi buruk itu ada faktor kemiskinan dan pola asuh yang kurang benar. “Namun faktor kemiskinan sebetulnya yang terbesar,” katanya, Jumat (28/4) di Mataram.

Ia mencontohkan, dalam beberapa kasus terjadi dimana banyak ibu yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKI demi memperbaiki perekonomian keluarga.

Akibatnya, anak-anak yang ditinggalkan diasuh oleh neneknya yang rata-rata tidak berpendidikan tinggi. “Sehingga seringkali terjadi kesalahan pola asuh,” katanya.

Di tahun 2016 lalu, papar Nurhandini, kasus gizi buruk di provinsi NTB tercatat sebanyak 348 kasus yang tersebar di 10 daerah Kabupaten/Kota di NTB.

Nurhandini mengatakan, untuk menekan angka kasus gizi buruk, Dinas Kesehatan akan terus mendorong dan mensukseskan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dilaunching oleh Menkes Nila Moeloek di NTB baru-baru ini.

“Pola Germas yang dilakukan akan langsung melalui pendekatan keluarga,”katanya.

Saat ini, tambahnya, tim kesehatan melalui Germas dan kader posyandu akan langsung mendatangi keluarga dari pintu ke pintu, untuk mengatasi masalah gizi.

Sehingga ke depan, kasus gizi buruk dan gizi kurang yang ditangani, bukan lagi yang disebabkan oleh kemiskinan dan salah pola asuh, tetapi gizi buruk yang disebabkan faktor penyakit bawaan.

“Upaya kita adalah mendatangi keluarga langsung ke rumahnya, dari pintu ke pintulah, agar kasus gizi buruk bisa diketauhi lebih dini lagi,” katanya.

AYA




Fenomena “Gunung Es” Penderita Kanker Serviks

Angka penderita kanker Serviks di Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk masih rendah. Tapi BPJS Kesehatan mengantisipasi, jangan-jangan rendahnya penderita kanker leher rahim di NTB itu merupakan “fenomena gunung es.”

dr Muhammad Ali, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Mataram (foto: Rr)

LOMBOK BARAT.lombokjournal.com —  Dalam percakapan dengan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Mataram, dr Muhammad Ali, wanita terjangkit kanker Serviks di NTB bisa dikatakan belum tinggi. Tapi masih perlu ditelaah, apakah para wanita NTB memang sehat. Atau bisa jadi ada kemungkinan lain.

Pihak BPJS Kesehatan Mataram perlu mengantisipasi, apakah angka penderita kanker itu rendah, atau sebab lain misalnya mereka malas memeriksa di puskesmas atau klinik.

“Jangan-jangan seperti fenomena gunung es, jumlah yang sedikit itu merupakan indikasi banyaknya penderita yang belum kita ketahui,” jelas Muhammad Ali kepada Lombok Journal, menjelang pencanangan pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks (leher rahim) di Puskesmas Gunung Sari  melalui IVA/Pap Smear, hari Jum’at (21/4).

Kekhawatiran itu beralasan, karena tak bisa menganggap sepele kanker leher rahim, kanker yang tumbuh dan berkembang di leher rahim wanita. Leher rahim atau serviks adalah bagian dari saluran reproduksi wanita yang menghubungkan vagina dengan rahim atau uter

Kematian akibat kanker Serviks ini menempati posisi ketiga setelah kanker payudara dan kanker kolorektal. Persentase kasusnya 14 persen dan persentase kematian 6,8 persen menunjukkan, jenis kanker ini sangat menakutkan, khususnya bagi wanita.

Di Indonesia, setidaknya muncul 40-45 kasus baru dan 20-25 di antaranya meninggal dunia tiap harinya. Angka kematian yang tinggi karena terlambatnya penanganan. Kanker serviks tidak dapat dikenali, dan tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Dikatakan Ali, berdasarkan Data WHO (World Health Organization) tahun 2014, dari 92 ribu kasus kematian kanker pada wanita Indonesia, sebanyak 10 persen akibat kanker Serviks. “Dari data Yayasan Kanker Indonesia, dari 40 kasus yang terdiagnosa Serviks, sebanyak 20 kasus meninggal dunia,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, penting melakukan pemeriksaan untuk melakukan deteksi dini. Mestinya tak ada alasan bagi wanita untuk tidak segera memeriksa diri. Sebab era JKN, pemeriksaan gratis peserta JKN melalui program pemeriksaan IVA/Pap Smear.

“Pemeriksaan IVA untuk mendeteksi awal, gejalanya normal atau tidak. Kalau ada gejala tidak normal bisa dirujuk. Pap Smear sebagai pemeriksaan mikrokospik merupakan tindak lanjut,” terang Ali.

Pencanangan yang berlangsung di Puskesmas Gunungsari hanya mengingatkan, tentang perlunya pemeriksaan untuk mendeteksi dini. Tapi pemeriksaan bisa dilakukan sepanjang tahun.

Resiko Daerah Wisata

Drs. Rochman Sahnan Putra, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat (foto: Rr)

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, Drs H Rohman Sahnan Putra membenarkan ‘fenomena gunung es’ penderita kanker Serviks.  Tahun 2016, di Lombok Barat dilakukan pemeriksaan terhadap 584 wanita, ternyata yang terdiagnosa positif sebanyak 7 orang.

Sampai bulan April tahun 2017, dari 17 puskesmas di Lombok Barat yang melakukan pemeriksaan IVA, ternyata hanya ditemukan 2 orang yang positif Serviks.

“Bisa jadi yang disebut fenomena gunung es itu benar, yang ditemukan tu sedikit tapi yang belum sempat ditemukan jangan-jangan memang banyak. Kalau ditemukan 5 orang terdiagnosa HIV, berarti kenyataan sebenarnya bisa lebih banyak,” kata Rochman.

Karena itu upaya melakukan pemeriksaan rutin penting dilakukan. Termasuk melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah, melalui pendidikan reproduksi.

“Sebab kelompok pasangan usia subur termasuk rentan,” jelas Rochman.

Menurutnya, di wilayah-wilayah yang mengembangkan pariwisata, seperti Batulayar dan Gunungsari termasuk rentan Serviks. Tahun 2016, dari 584 wanita yang diperiksa, ternyata bukan hanya terdiagnosa Serviks namun juga ditemukan HIV.

“Dalam pemeriksaan IVA terdiagnosa Infeksi mernular Seksual (IMS),” ungkapnya.

Rr




BPJS Kesehatan Mataram Mencanangkan Deteksi Dini Kanker Serviks

Pemeriksaan deteksi dini kanker Serviks melalui  IVA (Infeksi Visual Asetat) dan Pap Smear  dilakukan BPJS Kesehatan Cabang Mataram bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Lombok Barat, berlangsung di Puskesmas Gunung Sari, hari Jum’at (21/4).  Kegiatan BPJS Kesehatan untuk deteksi dini kanker Serviks(leher rahim)  itu juga berlangsung serentak di seluruh Indonesia bersamaan perayaan Hari Kartini

kepala BPJS Kesehatan Cabang Mataram, dr Muhammad Ali

LOMBOK BARAT.lombokjournal.com – Ketua Tim Penggerak PKK Lombok Barat.Hj Khaeratun Fauzan Khalid saat melakukan Pencanangan mengatakan, kegiatan tersebut tepat dilakukan di hari kartini sebagai simbol kebangkitan wanita.

“Kegiatan ini merupakan bagian upaya peningkatan kualitas kesehatan wanita,” katanya sebelum melakukan pencanangan dan meninjau ruang pemeriksaan di puskesmas.

Menurutnya, dengan kegiatan pemeriksaan untuk mendeteksi dini itu akan mengetahui penyakit perempuan. “Dengan demikian, bisa kita lakukan pencegahannya,” ujar Hj Khaeratun.

Di tingkat nasional, pada saat yang sama, sebagai perayaan Hari Kartini Organisasi Aksi Solidaritas ERA (OASE) Kabinet kerja bersinergi dengan BPJS Kesehatan juga juga meyelenggarakan pemeriksaan IVA/Pap Smear yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah

OASE Kabinet Kerja merupakan perkumpulan pendamping menteri dan eksekutif lain yang dipimpin oleh Ibu Negara Iriana Jokowi. Organisasi ini menjalankan serangkaian program tercapainya Nawacita Presiden salah satu programnya adalah peningkkatan pencegahan kanker seerviks

Kegiatan serupa untuk melakukan deteksi dini tersebut merupakan salah satu bentuk preventive promotif bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) – KIS untuk menekan jumlah penderita kanker pada perempuan di Indonesia mulai tahun 2015 hingga 2019.

DR Dino Ario, SPOG sebelum acara pencanangan itu pada ibu-ibu pemegang kartu JKN-KIS yang hadir menjelaskan, gejala timbulnya kanker Servik bisa menimpa tiap wanita yang pernah berhubungan intim. Sebab tiap hubungan intim bisa beresiko menimbulkan luka di leher rahim, yang menjadi penyebab awal mula timbulnya kanker Serviks.

Dino menyebutkan salah satu penyebab kanker Serviks yaitu Human Pappiloma Virus (HPV), kelompok yang terdiri dari 150 lebih jenis virus dan ditularkan melalui hubungan seksual baik secara vaginal maupun oral

“Resiko yang sering terjadi menimpa perempuan yang sudah menikah muda atau sebelum usia 15 tahun,” jelas Dino Ario yang mendapat perhatian antusias dari ibu-ibu yang siap mengikuti pemeriksaan.

Pencanangan Deteksi Dini Kanker Serviks ini, menurut Kepala BPJS Kesehatan Cabang Mataram, dr Muhammad Ali,  untuk mengingatkan kembali (reminding) bahwa saat ini ada program Pap Smear gratis bagi pemegang kartu JKN-KIS, Askes, Jamkesmas atau BPJS Kesehatan Mandiri.

BACA : Fenomena ‘Gunung Es’ Penderita Kanker Serviks

Berbeda dengan sebelum tahun 2015, program IVA/Pap Smear tidak termasuk yang dijamin alias harus membayar saat melakukan pemeriksaan dan pengobatan.

“Sekarang sebagai bagian dari program promotif preventif, program IVA/Pap Smear gratis. Karena itu ini kesempatan bagi masyarakat peserta JKN untuk melakukan pemeriksaan,” kata  Muhammad Ali saat memberi sambutan.

Dalam acara pencanangan itu, selain dihadiri lebih seratus ibu-ibu yang akan melakukan pemeriksaan, juga hadir Dan Ramil Gunung Sari dan Camat  Gunung Sari, Kepala Puskesmas Gunung Sari, Akmal Rosamali S Kep, Ns, serta Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat, Drs H Rochman Sahnan Putra, M Kes.

“Setelah acara ini, kita harapkan ibu-ibu segera melakukan pemeriksaan,” kata Rochman,

Rr




Pap Smear Kanker Serviks, BPJS Kesehatan Lakukan Deteksi Dini

Jarang disadari, kanker leher rahim atau yang dikenal  sebagai kanker Serviks tergolong pembunuh wanita nomor satu. Untuk  merayakan hari Kartini dan sekaligus peduli kesehatan wanita, BPJS Kesehatan se Indonesia menyelenggarakan program Pap Smear mendeteksi dini kanker Serviks di seluruh kabupaten/kota

MATARAM.lombokjournal.com – Pencanangan program pemeriksaan atau mendeteksi dini kanker Serviks oleh BPJS Kesehatan Cabang Mataram, dilakukan di Puskesmas Gunung Sari, Lombok Barat.  Kegiatan tersebut berlangsung sejak hari Kamis (20/4), dan dilanjutkan tepat saat perayaan Hari Kartini, hari Jum’at (21/4), yang sekaligus dilangsungkan Pencanangan Bulan Deteksi Dini Kanker Srviks.

Menurut Kepala Puskesmas Gunung Sari, Akmal Rosan, SKep,Ns, pada hari Kamis pihaknya sudah melakukan pemeriksaan pada hari Kamis. Dari 150 yang mendaftar, sampai  Kamis siang sudah diperiksa 84 orang pemegang kartus JKIN-KIS.

Pemeriksaan akan dilanjutkan pada hari Jum’at. Dari pemeriksaan hari pertama itu diperoleh keterangan, dua orang positif kena kanker serviks.

Akmal Rosan menjelaskan, di Puskesmas Gunung Sari sendiri pemeriksaan IVA (Infeksi  Visual Asrtat) sudah berlangsung tiap hari. “Sasarannya terutama pasangan usia subur, yang lagi hamil, atau kelompok beresiko,” jelanya.

Tapi beda dengan pemeriksaan IVA yang menggunakan asam asetat untuk mengetahui hasilnya.

Pprogram Pap Smear yang diselenggarakan BPJS Kesehatan untuk kanker Serviks,  merupakan tes skrining mencari sel-sel prakanker di leher rahim wanita. Dokter atau perawat mengambil sampel dari leher rahim serviks, lalu ditaruh ke slide kaca dan slide tersebut dibawa ke laboratorium untuk dikaji dengan mikroskopis

Di Indonesia kanker serviks disebut sebagai penyebab kematian wanita nomor satu. Di dunia, tiap dua menit satu wanita meninggal karena kanker Serviks

Masyarakat pemegang kartu JKN-KIS, Jamkesmas, Askes TNI-Polri maupun BPJS Mandiri, dapat memeriksa tanpa dipungut biaya.

Rr




Berobat Gratis Pakai Kartu BPJS; Dari ‘Kepala Besar’ Hingga Kemoterapi

Kehadiran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan banyak membantu pasien tidak mampu. Dengan menjadi peserta BPJS, penderita penyakit yang tergolong berbiaya tinggi pun dapat berobat tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun karena semua biaya pengobatan sudah dibayar oleh BPJS.  Berikut pengakuan (testimoni) pasien dari beberapa daerah

MATARAM.lombokjournal.com – Cerita mengharukan disampaikan Warga Labuhan Maringgai, Lampung Timur, Supriana, ibu dari bayi penderita penyakit hydrcepallus. Meski ia sudah terdaftar sebagai peserta dan mengantongi kartu BPJS, ia tak menyangka kalau pengobatan bayinya yang mengidap penyakit hydrocepallus (kepala membesar akibat cairan) tanpa biaya sama sekali alias gratis.

Kehadiran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sangat membantunya. Supriana membawa bayinya untuk  dirawat di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM) di Bandar Lampung.

“Saya berobat dengan menggunakan (kartu) BPJS. Saya terbantu karena biaya pengobatan anak saya gratis,” kata Supriana di RSUAM, Bandar Lampung.

Selama pengobatan bayi laki-laki nya yang berusia 40 hari itu dirawat di RSUAM. Benar-benar tak disangkanya, selama berobat Supriana sebagai pemegang kartu BPJS tersebut sama sekali tak perlu merisaukan berapa besar boayanya.

“Kalau tidak pakai BPJS saya tidak tahu harus membayar biaya pengobatan anak saya dengan apa,” ujar Supriana.

Dari pengalaman pribadinya itu ia pun berpendapat, program JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan merupakan program yang mulia. Dengan semangat gotong royong, biaya pelayanan kesehatan yang sangat mahal bisa diatasi. Supriana pun ikhlas membayar premi seumur hidup. “Apabila tidak digunaka, kan bisa dipakai oleh orang lain yang membutuhkan” ujarnya.

Kemoterapi pun Gratis
Pengalaman sama juga dialami HA, warga asal Pulogadung, Jakarta Timur,  yang mengakui sangat bersyukur dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan. Untuk menjadi peserta dan menjadi pemegang kartu BPJS sangat mudah.

“Saya banya perlu bawa semua berkas yang diperlukan, mulai dari KTP, KK, dan pasfoto ukuran 3×4. Prosesnya cepet kok, satu jam langsung jadi, tidak ribet,” tuturnya.

Bagi masyarakat yang hendak menjadi peserta BPJS (yang membayar iuran bulanan sangat ringan), bisa ke kantor layanan BPJS di kotanya masing-masing.

Untuk berobat lebih lanjut, HA dirujuk dari Puskesmas  ke rumah sakit karena terdapat indikasi medis yang memerlukan penanganan dokter spesialis. Saat itulah ia mengetahui bahwa dirinya menderita tumor.

“Di sana saya dirujuk ke dokter spesialis saraf. Penanganannya juga baik dan cepat. Mulai dari cek laboratorium, MRI, sampai kemoterapi, semuanya nggak dikenai biaya sama sekali,” paparnya.

Kemoterapi secara rutin masih dijalani, dan ia tak perlu mengeluarkan biaya apa-apa. Karena itu, ia pun menyarankan agar BPJS Kesehatan terus meningkatkan pelayanan dan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk para tenaga medis yang bekerja di rumah sakit agar pelaksanaan program JKN bisa berjalan makin baik.

Apa yang diutarakan dalam tulisan tentang dua peserta BPJS Kesehat penyakit hydrocepallus di atas, hanyalah contoh kecil tentang pentingnya menjadi peserta BPJS Kesehatan.  Masih banyak jenis penyakit lain yang butuh biaya besar, seperti cuci darah, jantung dan sebagainya.

Tapi dengan menjadi peserta BPJS,  seluruh biaya perawatan waku sakit sudah ada yang menanggung. Yang penting mengetahui prosedur berobat, mulai berobat ke faskes (fasilitas kesehatan) tingkat pertama, hingga rujukan yang memerlukan penanganan dokter spesialis.

Rr

 




Bayi Satu Badan Dua Kepala, Masih Dirawat di RSUD Provinsi NTB

Bayi langka lahir lagi. Seorang bayi laki-laki dengan kepala dua dan satu badan lahir di Sumbawa. Kini masih dirawat intensif di RSUD Provinsi NTB, di Mataram.

BAYI KEPALA DUA. Saat ini sedang diobservasi di RSUD Provinsi NTB (Foto: Dok.beritasumbawa.com)

MATARAM.lombokjournal.com —   Bayi laki-laki itu lahir di RSUD Sumbawa pada Senin pagi (10/4) sekitar  pukul 08.42 Wita melalui operasi caesar. Bayi laki-laki itu lahir hidup dengan kepala dua, leher dua, badan satu, tangan tiga, kaki dua di RSUD Sumbawa, dan langsung dirujuk ke RSUD Provinsi NTB

“Saat ini sedang kami tangani dalam observasi,” jelas Direktur RSUD Provinsi NTB, dr Lalu Hamzi Fikri, Selasa (11/4) di Mataram.

Bayi laki-laki seberat 3,5 Kg itu merupakan anak ketiga dari ibu berinisial Z, warga Dusun Genang Genis, Desa Kerato, Kecamatan Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa.

Pada wartawan Hamzi Fikri menjelaskan, kasus ini tergolong langka di NTB, dan saat ini masih ditangani intensif di RSUD Provinsi NTB.

“Masih diobservasi, ditangani spesialis anak di RSUD NTB,” katanya.

Di tempat terpisah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Naziruddin mengatakan, kasus bayi kembar siam itu merupakan kasus pertama yang terjadi di Kabupaten Sumbawa selama ini.

“Ini kasus pertama di Sumbawa, dan sudah dirujuk ke RSUD Provinsi NTB. Untuk biaya akan dibantu dengan BPJS, kita upayakan,” kata Naziruddin saat dihubungi via telepon dari Mataram, Selasa (11/4).

Menurutnya, pihak Dikes Sumbawa tengah mengumpulkan data-data medis riwayat kehamilan ibu Z yang melahirkan bayikembar siam itu.

“Kami masih kumpulkan datanya, sebab seharusnya ini bisa terdeteksi sejak dini,” katanya.

GRA




BPJS Kesehatan Perluas Kepesertaan dan Channel Pembayaran, Perkokoh Sinergi Dengan BNI

Tiga tahun lebih mengelola Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), BPJS Kesehatan selalu berupaya mengoptimalkan pelayanan peserta maupun stakeholders lainnya.

MATARAM.lombokjournal.com — Tahun 2019 menjadi target BPJS Kesehatan mewujudkan cita-cita universal health coverage. Melalui penandatanganan nota kesepahaman,BPJS Kesehatan pun siap memperkokoh sinerginya dengan BNI dalam hal pemanfaatan layanan keagenan BNI untuk mendukung program Kader JKN-KIS.

Kader JKN-KIS merupakan mitra BPJS Kesehatan untuk menjalankan sejumlah fungsi BPJS Kesehatan, antara lain fungsi pemasaran dan fungsi pengumpul iuran. Melalui kerja sama ini, BNI akan membuka pendaftaran Kader JKN-KIS menjadi Agen46, sehingga mereka dapat menampung pembayaran iuran JKN-KIS dari masyarakat melalui fasilitas perbankan BNI dalam aplikasi Agen46.

“Para Kader JKN-KIS yang menjadi Agen46 tersebut akan dibekali EDC mini ATM untuk sarana transaksi pembayaran iuran. Dengan adanya kemudahan ini, diharapkan animo masyarakat untuk membayar iuran tepat waktu dapat meningkat,” jelas Direktur Kepesertaan dan Pemasaran BPJS Kesehatan, Andayani Budi Lestari.

BPJS Kesehatan dan BNI siap bersinergi dalam hal pemasaran bersama,  dan pengintegrasian kanal pembayaran iuran.Penyediaan layanan jasa perbankan milik BNI diharapkan mempermudah masyarakat membayar iuran JKN-KIS.

Lestari berharap, tersedianya Deliver Channel, Payment Point Online Bank (PPOB), dan mitra BNI yang tersebar di berbagai daerah, kedisiplinan peserta JKN-KIS dalam membayar iuran meningkat. Sehingga sustainibilitas program JKN-KIS terus terjaga,” kata Andayani.

Direktur Hubungan Kelembagaan dan Transaksional Perbankan BNI Adi Sulistyowati menambahkan, pihaknya siap mendukung strategi BPJS Kesehatan dalam melakukan pembayaran. Serta mempermudah dan mempercepat proses kemitraan secara teknis operasional maupun administrasi.

“Kami berharap dapat membantu BPJS Kesehatan mencapai target 40.000.000 pembayar baru untuk masa 2 tahun mendatang,” ungkapnya.

Perluasan Chanel Pembayaran

Sejak Oktober 2015, BPJS Kesehatan telah memperluas channel pembayaran iuran pesertanya melalui sistem Payment Point Online Banking (PPOB). Hingga akhir Maret 2017, tercatat BPJS Kesehatan memiliki 422.700 channe lpembayaran PPOB, yang terdiri atas modern outlet, traditional outlet, maupun perbankan.

Rata-rata transaksi pembayaran iuran BPJS Kesehatan per bulan mencapai 5,8 juta transaksi pembayaran, yang mana 30%-nya bersumber dari PPOB dengan total iuran peserta JKN-KIS yang terkumpul lewat PPOB sebesar Rp 3,190 triliun.

Di sisi lain, BPJS Kesehatan dan BNI juga mempertegas kerja sama pembiayaan fasilitas kesehatan (faskes) mitra BPJS Kesehatan melalui pemberian Konfirmasi Faskes. Pemberian Konfirmasi Faskes oleh BPJS Kesehatan kepada BNI dimaksudkan untuk memperlancar pembiayaan pelayanan kesehatan peserta JKN-KIS yang ditawarkan BNI kepada faskes.

Dengan adanya percepatan dalam pembayaran tagihan tersebut, diharapkan faskes dapat menjaga kualitas pelayanan kesehatannya agar tetap prima.

Pada kesempatan sama, BPJS Kesehatan melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan sejumlah bank mitra BNI tentang pemasaran bersama dalam upaya perluasan kepesertaan BPJS Kesehatan. Serta penyediaan layanan perbankan milik perbankan.

Mitra perbankan BNI yang turut serta dalam penandatanganan nota kesepahaman tersebut adalah Bank Bukopin, Bank Nobu, Maybank Indonesia, Bank DKI, Bank Sumsel Babel, Bank Sinarmas, dan Bank Mega.

Rr

Informasi lebih lanjut hubungi:

Kantor Cabang Mataram Jl. Bung Karno Mataram                                                                   Telp. (0370) 640737, 638313 Fax. (0370) 623794                                                       Email : kc-mataram@bpjs-kesehatan.go.id Web : www.bpjs-kesehatan.go.id




Peserta BPJS Kesehatan, Melahirkan Melalui ‘Caesar’ pun Tak Perlu Bayar

 Biaya melahirkan melalui tindakan sectio caesaria (SC), bisa mencapai belasan juta rupiah. Banyak pasangan muda yang masih belum tahu dan paham, menjadi peserta BPJS Kesehatan biaya melahirkan sebesar itu tak perlu dibayar dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang mendesak.

MATARAM.lombokjournal.com —

Pasangan muda yang baru memperoleh momongan, matanya berbinar-binar. Putra pertama yang mereka nantikan lahir – meski melalui tindakan sectio caesaria (SC) atau yang dikenal umum dengan istilah ‘operasi sesar’ — selamat menghirup udara kehidupan. Meski harus mengeluarkan biaya di sebuah klinik persalinan swasta di Kota Mataram yang besarnya mencapai belasan juta rupiah, tak mengurangi kebahagiaan pasangan muda itu.

Natsir Al Ayubi, bapak muda yang berdomisili di Ampenan itu, ternyata belum menjadi peserta BPJS Kesehatan. Meski program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sudah masuk tahun ke 4 yang dikelola, banyak pasangan muda yang belum paham pentingnya menjadi peserta BPJS Kesehatan’.

Padahal menjadi peserta BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), jelas banyak manfaatnya. Setelah program ini memasuki tahun ke 4, BPJS Kesehatan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan yang berkesinambungan bagi masyarakat luas.

Di seantero negeri sudah banyak yang merasakan manfaatnya, tentu termasuk ibu-ibu yang melahirkan anaknya pun sangat tertolong dengan program ini. Sebelum diluncurkannya program JKN-KIS yang dikelola BPJS Kesehatan, melahirkan tidak hanya jadi ‘derita’ bagi ibu melahirkan, tetapi juga menjadi ‘derita’ keluarga karena biaya yang harus dikeluarkan untuk persalinan tidak sedikit.

Menjadi peserta BPJS Kesehatan, tidak perlu kagi mencemaskan tingginya biaya persalinan baik itu persalinan normal atau caesar. Semua ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Tidak sulit mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Apalagi di era digital seperti sekarang, untuk mendaftar cukup melalui handphone.

Banyak yang sudah merasakan manfaat menggunakan kartu JKN-KIS atau yang lebih dikenal dengan kartu BPJS Kesehatan saat melahirkan normal ataupun caesar di fasilitas kesehatan (faskes) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Andai Natsir Al Ayubi yang akrab dipanggil Nanang bersama keluarganya sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan, ia tak perlu pusing memikirkan biaya melahirkan istrinya. Apalagi ketika anak pertamanya posisi bayinya melintang dalam kandungan, sehingga dokter harus memutuskan melakukan tindakan caesar.

Melahirkan dengan BPJS Kesehatan prosesnya makin dipermudah. Apalagi saat ini pihak BPJS juga terus mendorong peningkatan pelayaan Faskes (fasilitas kesehatan) lanjutan. Dari pengalaman ibu yang melahirkan caesar tidak perlu membawa rujukan dari Faskes tingkat pertama. Ia cukup membawa pengantar dari Dokter Spesialis ke ruang bersalin, maka waktu operasinya pun langsung dijadwalkan. Dan tidak ada perbedaan perlakukan antara peserta BPJS Kesehatan dengan pasien umum.

Untuk menjadi peserta JKN KIS Mandiri Kelas 1 tiap bulannya hanya membayar iuran Rp 80.000. Tentu kelas 2 atau kelas 3 bayar lebih murah lagi. Bahkan yang tidak mampu pun bisa tetap menjadi peserta, dengan prosedur sesuai aturan yang ditetapkan.

Pendeknya, kehadiran BPSJ Kesehatan sangat membantu saat orang menjalani proses persalinan atau membutuhkan pengobatan. Sekarang, sudah saat semua pasangan suami istri, baik pasangan tua atau muda, untuk mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan

Rr




Data BPJS, Penyakit Tidak Menular (PTM) Lebih Banyak Ditangani

Beberapa tahun terakhir, dari data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang paling banyak ditangani adalah penyakit tidak menular (PTM)

MATARAM.lombokjournal.com – Menteri Kesehatan Nila Moeloek juga mengutip data BPJS tersebut dalam kunjungannya ke Mataram saat mencanangkan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) di Mataram, Rabu (29/3). “Penyakit tidak menular saat ini secara kuantitatif sudah bergeser menempati angka lebih tinggi dari penyakit menular,” ujar Menkes.

Termasuk dalam PTM yang banyak ditangani adalah hipertensi, jantung, diabetes, kencing manis, gagal ginjal dan kanker.

Menkes Nila Moeloek mengatakan, penanganan preventif  peningkatan PTM yaitu dengan mendorong pola hidup sehat di tengah masyarakat untuk menekan angka penyakit tidak menular (PTM).

Menurut dia, mengacu pada data Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKM) melalui BPJS, beberapa tahun terakhir, penyakit yang ditangani lebih banyak penyakit tidak menular (PTM) yang penyebabnya adalah pola hidup masyarakat dibanding penyakit menular.

Untuk hipertensi tercatat 25,8 persen atau  seperempat penduduk kita hipertensi, jadi tidak heran kalau BPJS teriak penyakit jantung nomor 1 pembiayaannya sampai Rp6,9 Triliun di tahun 2016, dan jantung ini juga akibat hipertensi.

Penyakit tidak menular itu, papar Nila, disebabkan pola makan yang tidak sehat, jarang aktivitas fisik, konsumsi gula dan garam berlebihan, kurang asupan sayur dan buah-buahan, dan rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan kesehatan rutin.

Melalui Germas, Menkes Nila berharap ada perubahan perilaku pola hidup yang lebih sehat di masyarakat. Pemerintah daerah juga bisa mengambil peran. Misalnya dengan menggiatkan kembali olahraga bersama setiap Jumat, di sekolah dan instansi – instansi pemerintah.

Germas juga menekankan agar pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas, bisa lebih aktif mengunjungi masyarakat.

Deteksi Dini PTM

Pihak BPJS Kesehatan Cabang Kota Mataram sendiri, untuk mendeteksi dini kecenderungan peningkatan PTM, sejak awal Februari lalu telah meluncurkan mobile skrining. Peluncuran mobile skrining tersebut, merupakan bagian dari upaya preventif.

Fitur tersebut sangat berguna membantu masyarakat mengetahui secara dini kecenderungan penyakit kronis.

AYA