JKN-KIS Penting Dan Bermanfaat  Untuk Segala Usia

Finna berharap Program JKN–KIS dapat terus berjalan, karena penting dan manfaat jaminan kesehatan bagi setiap orang, tidak peduli usia tua, muda atau bahkan anak-anak dan bayi yang baru lahir

lombokjournal.com –

JAMKESNEWS  ;  Semua orang tentu tidak ingin sakit, tak terkecuali bagi Islakhul Finna Yuristia (18) atau Finna sapaan akrabnya, seorang remaja yang harus hidup jauh dari orang tua ketika memutuskan kuliah di Kota Malang, Jawa Timur.

Tak ingin menambah beban orang tuanya mengingat kebutuhan kuliahnya sudah cukup mahal, Finna selalu berusaha untuk menjaga kesehatannya.

Namun ternyata datangnya sakit tak bisa dicegah dan tak bisa diduga. Suatu hari Finna mengalami sakit perut yang teramat sangat dan muntah-muntah. Nafsu makannya juga terus menurun.

Sadar akan kondisi tubuhnya yang semakin lemah,  maka berbekal Kartu JKN–KIS yang dimilikinya Finna segera pergi ke klinik. Dan hasilnya dokter mendiagnosa Finna terkena gejala usus buntu.

Gejala itu mulai dirasakannya sejak tinggal di Malang. Finna sering mual, muntah dan tak nafsu makan. Takut lebih parah, ia segera periksa dengan menggunakan kartu JKN-KIS.

”Dan ternyata dokter bilang ini gejala usus buntu. Saya sangat kaget dan langsung berpikir biaya yang harus dikeluarkan jika harus sampai operasi. Kasihan orang tua saya nanti harus mencari biaya lagi, untuk biaya kuliah saya saja mereka sudah melakukan segala upaya,” ujar Finna ketika ditemui di tempat kosnya.

Setelah dua kali menjalani pemeriksaan dan pengobatan, dokter memutuskan agar Finna segera dioperasi. Kekhawatiran yang Finna rasakan tempo hari akhirnya benar-benar terjadi. Ia harus menjalani operasi usus buntu.

“Saya kaget mendengar dokter memutuskan untuk operasi. Selain takut dioperasi, saya juga langsung memikirkan biayanya dan kesulitan orang tua seperti yang sebelumnya pernah saya khawatirkan.  Tapi akhirnya setelah berunding dengan orang tua dan melihat kondisi kesehatan saya, akhirnya saya mantap melakukan operasi menggunakan Kartu JKN–KIS,” terangnya.

Beberapa waktu setelah operasi selesai, Finna menanyakan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh orang tuanya. Setelah mendengar penjelasan orang tuanya, rasa haru dan lega menyelimuti perasaan Finna kala itu. Ia bersyukur karena biaya operasinya seluruhnya dijamin BPJS Kesehatan.

Setelah operasi, ia menanyakan soal biaya operasi kepada orang tuanya. Agak heran juga ketika menanyakan hal ini ia tak melihat wajah muram dari orang tua saya saat itu.

“Lantas orang tua saya  bercerita kalau biaya operasi saya mencapai sekitar 15 juta rupiah dan seluruhnya dijamin Program JKN–KIS  sehingga tidak ada biaya sepeser pun yang perlu dikeluarkan orang tua saya. Saya langsung merasa lega dan bersyukur sekali mendengar itu, ternyata JKN–KIS ini benar –  benar membantu. Saya tidak menyangka semuanya dijamin. Saya membayangkan jika biaya sebesar itu harus ditanggung oleh orang tua saya apa jadinya, memenuhi  keperluan sehari – hari dan keperluan kuliah saya saja sudah begitu banyak,” kenangnya.

Finna melanjutkan ceritanya tentang keikutsertaannya dalam program JKN-KIS. Ia ikut Program JKN–KIS ini dari bulan Juni 2017 mengikuti kepesertaan ayah  yang didaftarkan oleh perusahaannya sebagai peserta JKN-KIS segmen Pekerja Penerima Upah (PPU).

“Sekarang  saya jadi mengerti kalau ternyata program JKN-KIS memang menjamin biaya kesehatan pesertanya sehingga tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu jatuh sakit. Tapi yang utama kita harus selalu menjaga kesehatan supaya tidak sakit. Sakit itu kan sama sekali tidak enak walaupun biayanya terjamin oleh JKN-KIS,” imbuhnya.

Di akhir perbincangan, Finna berharap Program JKN–KIS dapat terus berjalan. Ia sadar akan penting dan manfaat jaminan kesehatan bagi setiap orang, tidak peduli usia tua, muda atau bahkan anak-anak dan bayi yang baru lahir. Oleh karenanya Finna mengajak siapapun untuk segera menjadi peserta JKN–KIS.

“Setelah merasakan betul manfaat JKN–KIS, saya harap program ini dapat terus berlangsung karena terbukti banyak sekali membantu pesertanya, salah satunya saya. Program yang benar – benar top. Terima kasih JKN–KIS,” tuturnya.

ar/ak/JAMKESNEWS

Narasumber : Islakhul Finna Yuristia (18)

 

 




Pakai JKN-KIS Berobat Di Rumah Sakit Swasta Tidak Ada Susahnya

Asal pasien mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku, tidak perlu khawatir karena bisa dijamin BPJS Kesehatan

lombokjournal.com —

JAMKESNEWS  ;    Kesehatan merupakan harta sangat berharga di dalam hidup. Ketika kesehatan itu pergi dan penyakit datang, apa saja akan dilakukan. Bukan tidak mungkin harta yang ada juga akan dihabiskan demi harga sebuah kesehatan.

Ketut Helmi Ardy (28), seorang peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) telah merasakan sendiri betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk mendapatkan nikmat sehat.

Pria yang terdaftar dalam kategori Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) ini mendadak mengalami nyeri dan sesak di dadanya. Begitu sakit akibat sesak yang ia rasakan sehingga saat itu juga ia segera dilarikan keluarganya ke Rumah Sakit Islam Siti Hajar di Kota Mataram.

“Rasanya sesak, panas, sampai lemas bahkan hampir tidak sadarkan diri. Hari itu juga tanpa pikir biaya, saya langsung dibawa ke IGD Rumah Sakit Islam Siti Hajar. Saya sudah setengah sadar waktu dibawa ke sini. Saya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat yang ada di Kota Mataram,” ujar Ketut ketika ditemui kala mendapat perawatan RS. Islam Siti Hajar, Kamis (31/01).

Ketut menceritakan kalau saat itu keluarganya sudah panik melihat kondisinya yang nyaris tak sadar. Keluarganya sudah tidak kepikiran apa-apa lagi. Berapa pun biayanya, dari mana pun nanti mengumpulkan biaya, yang penting sudah sampai di rumah sakit dulu.

“Untung saat itu istri saya teringat kalau kami sekeluarga sudah punya kartu JKN-KIS. Karena tidak pernah dipakai, jadi memang sempat terlupakan. Begitu ingat punya KIS, kami langsung merasa aman soal biaya. Jujur kami tidak tahu lagi kalau harus berobat umum berapa besar biaya yang harus kami keluarkan, apalagi Rumah Sakit tempat saya dirawat ini adalah rumah sakit swasta bukan milik pemerintah,” lanjutnya.

Dia juga menerangkan kalau keluarganya tidak mengalami kesulitan seperti banyak yang diisukan orang di luar sana. Menurutnya, asal pasien mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku, tidak perlu khawatir karena bisa dijamin BPJS Kesehatan.

“Saya juga heran susahnya dimana seperti yang orang bilang. Tidak ada susah-susahnya. Saya sudah buktikan sendiri. Dalam keadaan darurat dibawa ke IGD, setelah stabil di bawa ke ruang perawatan. Kalau ditanya nyaman apa tidak, ya harus dibuat nyaman. Namanya kita mendapatkan fasilitas umum. Harus bisa maklum dan sabar menunggu karena kan bukan milik pribadi. Yang penting bisa segera pulih,” ucap Ketut sambil tersenyum.

ay/yn/jamkesnews

Narasumber : Ketut Helmi Ardy

 




JKN-KIS Bermanfaat Untuk Diri Sendiri Sekaligus Bagi Orang Lain

Banyak peserta yang diselamatkan seperti biaya cuci darah, operasi jantung, kanker, pengobatan stroke, dan berbagai penyakit kronis berbiaya tinggi lainnya

lombokjournal.com —

JAMKESNEWS  ;   Ahmad Sukron (33) adalah seorang pekerja di salah satu badan usaha di Kota Mataram. Pria yang sering dipanggil Sukron ini sudah 5 tahun terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Sukron mengungkapkan, dirinya dan keluarga sangat terbantu dengan adanya program JKN-KIS. Saat ditemui oleh tim Jamkesnews di rumahnya, Sukron menceritakan pengalamannya yang dialaminya selama berobat menggunakan Kartu JKN-KIS.

Diceritakannya, pertama kali menggunakan kartu JKN-KIS di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) pada saat awal BPJS Kesehatan berdiri ia pernah ditarik biaya. Namun, memang dari awal ia sudah diingatkan oleh petugas rumah sakit karena tambahan vitamin yang dimintanya di luar tanggungan BPJS Kesehatan.

Bapak dua orang anak ini juga mengatakan, dirinya dan keluarga tidak merasa dibebani oleh biaya obat tersebut karena ia berfikir biaya pengobatan yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan sudah luar biasa bagus.

Menurutnya, harga obat yang ia beli tidak seberapa harganya dengan total biaya pengobatan yang di tanggung oleh BPJS Kesehatan.

“Setiap kali saya berobat saya selalu ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama terlebih dahulu, setelah itu saya mendapat rujukan ke rumah sakit,” tuturnya.

Ia bersyukur sekali , untuk pengobatannya bisa dilayani dengan gratis. Tidak seperti sebelum adanya BPJS Kesehatan, Ia bersama keluarga harus mengeluarkan biaya besar untuk hal tersebut.

“Alhamdulillah, semua biaya pengobat yang diperlukan selama ini selalu terpenuhi tanpa biaya sedikitpun baik di FKTP maupun di rumah sakit tentunya,” jelasnya seraya menunjukkan kartu JKN KIS miliknya.

Meskipun baru lima tahunan berjalan, namun BPJS Kesehatan sudah banyak membantu masyarakat dalam mengatasi risiko ekonomi karena sakit.

Banyak peserta yang diselamatkan seperti biaya cuci darah, operasi jantung, kanker, pengobatan stroke, dan berbagai penyakit kronis berbiaya tinggi lainnya. Termasuk dikarenakan adanya sistem gotong-royong yang ada di dalam BPJS Kesehatan.

“Bagi saya, memanfaatkan program JKN KIS ini bukan hanya menolong diri kita sendiri dan keluarga dekat, tapi juga bisa menolong orang lain,” ujar Sukron.

ay/yn/jamkesnews

Narasumber : Ahmad Sukron




Kartu JKN-KIS Menolong Penderita Hipertensi

Melalui JKN-KIS, banyak orang yang tertolong dan dibantu saat membutuhkan perawatan kesehatan tanpa memandang jenis penyakitnya termasuk penyakit hipertensi

lombokjournal.com —

JAMKESNEWS ;     Darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu jenis penyakit yang sering terjadi di kalangan masyarakat Indonesia.

Penyakit jenis ini dapat terjadi ketika tekanan darah yang mengalir di dalam tubuh kita menjadi lebih tinggi dan d atas tekanan darah normal yang dianjurkan.

Biasanya, tekanan darah yang normal pada manusia  berkisar pada angka 120–140 mmHg untuk kisaran besaran yang di atas (sistolik), dan 80–90 mmHg untuk kisaran besaran di bawahnya (diastolik).

Sunarti (70) adalah seorang istri pensiunan Pegawai Negeri Sipil yang tinggal di Kota Mataram. Ia menceritakan pengalamannya selama menjadi peserta JKN-KIS.

Kala ditemui di rumahnya, Sunarti mengatakan, dirinya sudah bertahun-tahun menderita penyakit hipertensi dan setiap bulannya  harus kembali ke Dokter Keluarga untuk mengambil obat.

Banyak pantangan makanan yang harus diikutinya, dan mengonsumsi obat yang telah diberikan dokter agar berobat jalan hasilnya tidak sia-sia. Alhamdulillahada program JKN-KIS sangat meringankan Sunarti.

”Selama menggunakan JKN-KIS tidak ada masalah dalam pelayanan dan biaya pengobatan, semua lancar-lancar saja, yang penting rajin bertanya dan ikuti prosedurnya. Program JKN-KIS ini memang banyak membantu dan memiliki manfaat yang sangat besar buat kita, karena program gotong-royongnya. Bagaimana jadinya kalau tidak ada JKN-KIS, karena biaya berobat saat ini pasti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sementara kalau menggunakan JKN-KIS, setiap berobat cukup dengan menunjukan kartu KIS, syukurnya tidak pernah repot, tidak pernah dipersulit, aman saja pokoknya. Obat diterima setiap bulannya dan antri di Dokter Keluarga pun nyaman, jadi nggak terasa capek,” ujar Sunarti

Sunarti selama ini banyak dengar berita tentang peserta JKN-KIS yang menunggak atau hanya membayar iuran saat sakit saja.

Ia sangat mendukung program JKN-KIS yang memberlakukan tidak aktif kepesertaannya ketika si peserta tidak rutin membayar iuran setiap bulannya, sebab kebanyakan dari peserta hanya membayar iuran di saat sakit saja dan di kala membutuhkan pertolongan kesehatan.

Sunarti sangat berterima kasih kepada BPJS Kesehatan. Melalui JKN-KIS, banyak orang yang tertolong dan dibantu saat membutuhkan perawatan kesehatan tanpa memandang jenis penyakitnya termasuk penyakit hipertensi seperti yang pernah dialaminya.

”Semoga program ini terus berjalan,” harap Sunarti.

ay/yn/jamkesnews

Narasumber : Sunarti

 

 




NTB Waspadai Meluasnya Kasus DBD

Warga terdampak gempa yang masih tinggal di lokasi pengungsian juga rentan terhadap penyakit DBD. Pasalnya, banyak warga terdampak gempa belum kembali ke rumah yang rusak akibat gempa

MATARAM.lombokjournal.com —  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Nurhandini Eka Dewi mengatakan, kasus demam berdarah dengue (DBD) pada Januari  mengalami peningkatan dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Eka menyebutkan, jumlah pasien yang diduga DBD di NTB pada Januari ini mencapai hampir 100 pasien yang tersebar di seluruh NTB. Eka membandingkan, jumlah kasus DBD pada 2018 mencapai 872 pasien.

“Status belum KLB karena akan nyatakan KLB kalau dia dua kali lipat dari tabun lalu, mungkin kalau angka di atas 1.600 pasien, kita berharap tidak terjadi,” ujar Eka  di Mataram, NTB, Senin (28/01).

Eka mengatakan, pasien suspect DBD di NTB telah menjalani perawatan. Dia menyampaikan, proses perawatan terhadap pasien suspect diberikan selayaknya pasien yang sudah dinyatakan positif DBD.

“Kalau sudah diduga DBD harus ada evaluasi pemeriksaan darah dua kali sehari minimal, dari situ kita lihat dia (positif) DBD atau bukan,” ujarnya.

Meski jumlah kasus DBD di NTB belum besar, Eka menilai, NTB tetap mewaspadai potensi meluasnya kasus DBD lantaran tahun ini menjadi puncak dari siklus 10 tahun kasus DBD.

Selain itu, lanjut dia, faktor cuaca juga berpengaruh terhadap meningkatnya penyebaran DBD. Hal ini terlihat dari jumlah kasus di Kabupaten Lombok Barat yang relatif lebih banyak dibandingkan kabupaten dan kota lain di NTB.

“Karena curah hujan tertinggi pada awal Januari ada di Lombok Barat, maka (kasus DBD) tertinggi di Lombok Barat, tapi kita lihat nanti pada akhir bulan kan saat ini hujannya sudah merata,” ucap Eka.

Eka melanjutkan, warga terdampak gempa yang masih tinggal di lokasi pengungsian juga rentan terhadap penyakit DBD. Pasalnya, banyak warga terdampak gempa belum kembali ke rumah yang rusak akibat gempa.

“Faktor lingkungan berubah, mereka tidur di luar, tidak di dalam rumah, DBD ini penyakit yang dipengaruhi situasi lingkungan, itu juga jadi kewaspadaan kita,” lanjut Eka.

Mengantisipasi meluasnya kasus DBD, Pemprov NTB telah dan akan melakukan fogging di wilayah yang rawan dan ada kasus DBD.

Selain itu, Eka juga mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan dengan tiga M plus.

Meliputi membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain; menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

“Kalau itu sudah dilakukan insya Allah jentik tidak ada tempat untuk nyamuk menaruh telur, tidak ada tempat untuk telur menetas,” kata Eka

AYA

 




Manfaat Program JKN-KIS Luar Biasa, Tak Rugi Dipotong Tiap Bulan

Sejak terdaftar sebagai peserta JKN-KIS tahun 2014, Dayat sudah merasakan beberapa kali pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKTL)

lombokjournal.com —

JAMKESNEWS  ;  Setiap orang menginginkan senantiasa dalam kondisi sehat. Bukan tak beralasan, tentunya agar semua aktivitas dapat dijalani dengan baik dan lancar.

Masalahnya, kita semua tidak pernah mengetahui kapan kita sakit, karena itulah kita semua membutuhkan perlindungan jaminan kesehatan.

Rachmad Hidayat (40) ayah dari Muhammad Bryant Hidayat (6) seorang Pegawai Badan Usaha di Kota Mataram mengaku sangat bersyukur dengan adanya Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Dayat telah mendaftarkan diri beserta anggota keluarganya menjadi peserta JKN-KIS sejak tahun 2014.

IA sangat senang dengan adanya JKN-KIS ini karena sangat membantu biaya pengobatannya dan keluarga ketika sakit. Karena ia tidak tahu kapan sakit itu datang.

“Kebetulan kemarin anak saya jatuh terpleset di rumah sehingga keningnya terluka, segera saya bawa ke UGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sesampainya di sana saya ditanyakan kartu JKN-KIS oleh petugas rumah sakit. Alhamdulillah saya tidak mengeluarkan uang sedikit pun saat itu,” ujar Dayat sembari tersenyum saat dijumpai Tim Jamkesnews, Jumat (18/01).

Sejak terdaftar sebagai peserta JKN-KIS tahun 2014, Dayat sudah merasakan beberapa kali pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKTL).

Menurutnya program JKN-KIS ini benar-benar membantu masyarakat sepertinya karena biaya kesehatan itu tidak bisa diduga besarannya.

“Saya tidak pernah dirugikan sama sekali dengan iuran yang dipotong setiap bulannya, karena iuran yang terpotong itu tidak seberapa besar jika dibandingkan dengan  biaya pelayanan kesehatan yang saya dapatkan selama menggunakan kartu JKN-KIS. Jadi hati saya tergerak untuk membantu menyosialisasikan program JKN-KIS ini kepada seluruh sanak saudara, tetangga, bahkan setiap orang yang saya temui  saya ingatkan untuk segera mendaftarkan diri dan anggota keluarganya. Bukan hanya itu saja, saya terkadang kesal mendengar apabila ada orang yang sudah memiliki kartu JKN-KIS dan merasakan manfaatnya tapi menunggak,” tambahnya.

Dayat juga berpesan kepada masyarakat untuk rutin membayar iuran. Baginya, iuran yang dibayarkan tiap bulan dapat menjadi pahala apabila tulus berniat membantu sesama melalui program ini. Untuk itu jangan malas membayar iuran dan jangan menunggu sakit untuk mendaftarkan diri dan anggota keluarganya.

“Ketika yang sehat membantu yang sakit, yang mampu membantu yang tidak mampu. Semua ikut bergotong-royong untuk saling tolong menolong. Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya,” kata Dayat.

ay/yn/jamkesnews

Narasumber : Rachmad Hidayat




BPJS Kesehatan Buka Anjungan Di Acara  Jumpa Bang Zul

Berbagai inovasi pun diciptakan BPJS Kesehatan untuk memberi kemudahan dan kepuasan bagi peserta, salah satunya adalah aplikasi Mobile JKN

lombokjournal.com —

JAMKESNEWS ;   Memberikan informasi terkait Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) kepada masyarakat luas merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan BPJS Kesehatan.

Dengan perkembangan teknologi di era milenial saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Kemajuan teknologi hadir untuk membantu dan memudahkan setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menunjang peningkatan kepuasan peserta, BPJS Kesehatan mempunyai aplikasi Mobile JKN yang sangat mudah dan bermanfaat sehingga harus diketahui oleh masyarakat.

Salah satu cara yang dilakukan BPJS Kesehatan Cabang Mataram agar manfaat Mobile JKN semakin diketahui oleh masyarakat luas yakni dengan membuka booth layanan khusus Mobile JKN pada saat Jumpa Bang Zul dan Umi Rochmi di Halaman Kantor Gubernur NTB, pada Jumat (25/01).

Dalam kesempatan itu Kepala Bidang Perluasan Peserta dan Kepatuhan BPJS Kesehatan Cabang Mataram Lalu Suryatna menjelaskan, BPJS Kesehatan senantiasa memberikan layanan yang prima bagi peserta JKN-KIS.

Berbagai inovasi pun diciptakan BPJS Kesehatan untuk memberi kemudahan dan kepuasan bagi peserta, salah satunya adalah aplikasi Mobile JKN.

“Dengan adanya anjungan ini dapat memberikan edukasi kepada peserta JKN-KIS tentang manfaat memiliki aplikasi Mobile JKN di handphone masing-masing peserta sehingga nantinya diharapkan peserta tidak perlu lagi datang mengantri lagi ke Kantor Cabang,” ujar Lalu Suryatna

Rina merupakan salah satu peserta yang merasa sangat senang dengan adanya booth layanan edukasi Mobile JKN ini. Awalnya ia mengira bakal susah dan ribet mendownload Aplikasi ini, ternyata dugaannya salah saat ia dilayani oleh petugas BPJS Kesehatan yang ada di booth layanan Mobile JKN, tidak butuh waktu lama ia langsung bisa login pada Aplikasi Mobile JKN.

“Saya puas dan senang dengan layanan Kantor Cabang Mataram. Apalagi dengan adanya booth layanan Mobile JKN ini. Sejujurnya, saya sama sekali belum tahu tentang adanya aplikasi Mobile JKN, tapi berkat layanan booth di sini saya jadi tahu manfaat dan kemudahan Mobile JKN. Betul-betul praktis ya, sesuai taglinenya, kini semua ada dalam genggaman,” ucap Rina sambil tersenyum.

ay/yn/JAMKESNEWS




 Anaknya Tertolong Saat Sakit, Giliran Sariani Bantu Peserta JKN-KIS Lain

Sarian mengimbau masyarakat jangan berhenti membayar iuran tiap bulannya, sebab iuran yang dibayarkan akan sangat membantu sesama yang sedang membutuhkan

lombojournal.com –

JAMKESNEWS  ;  Seorang ibu pasti akan menjaga keluarganya untuk tetap sehat. Hal ini yang dilakukan Sariani (43) warga Kelurahan Batu Urip, yang mengaku memanfaatkan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) ketika anaknya menderita sakit usus buntu.

Saat ditemui di warung tempat usahanya, Senin (28/01), Sariani yang terdaftar di kelas III ini awalnya tidak membayangkan akan menggunakan kartu JKN-KIS.

Awalnya ia mengaku ragu menggunakan BPJS Kesehatan. Tapi karena anaknya merasa kesakitan sejak tiga hari, Sariani jadi takut kalau terjadi sesuatu pada anaknya

“Jadi kami memberanikan diri menggunakan kartu itu untuk berobat. Memang sebelumnya kalau sakit biasa kami tahan jangan ke dokter. Kami takut biayanya besar,” ungkap Sariani.

Sariani mengaku tidak pernah merasakan menggunakan kartu JKN-KIS untuk berobat keluarganya. Ia hanya mendengar cerita dari orang lain di sekitarnya yang sudah menggunakan kartu tersebut.

Keluarganya baru menggunakan waktu anaknya sakit. Ketika menggunakan kartu JKN-KIS untuk berobat anaknya, barulah Sariani sadar pentingnya perlindungan jaminan kesehatan ini.

“Kalau boleh dibilang keberatan atau tidak, rasanya ya saya tidak keberaran untuk bayar Rp 150.000,- per bulan. Saya tidak keberatan karena keluarga kami sudah merasakan manfaatnya. Bayangkan saja kalau kami tidak terdaftar jadi peserta JKN-KIS yang dikelola BPJS kesehatan, pasti sudah jutaan yang harus kami bayarkan untuk berobat. Kalaupun tidak digunakan, saya ikhlas iuran saya untuk membantu orang yang sakit,” tutur Sariani yakin.

Ia pun mengimbau masyarakat jangan berhenti membayar iuran setiap bulannya. Sebab iuran yang dibayarkan akan sangat membantu sesama yang sedang membutuhkan.

Sariani sendiri awalnya mengaku agak malas membayar iuran setiap bulan. Dulu ia berpikir, kalau nggak sakit untuk apa dibayar.

“Tapi sejak anak saya sakit, barulah sayasadar ternyata iuran yang saya dan orang lain bayar akan berguna untuk yang sedang sakit. Kalau tidak sakit pasti akan ada yang membutuhkan bantuan iuran kami. Saya sudah dibantu oleh orang lain yang menjadi peserta JKN-KIS, kini giliran saya balik membantu mereka yang membutuhkan,” jelasnya.

Sembari menutup pembicaraan, Sariani berharap ke depannya pelayanan BPJS Kesehatan lebih baik, termasuk pelayanan di fasilitas kesehatan mitra BPJS Kesehatan.

“Walapun sekarang sudah bagus, semoga ke depan pelayanan BPJS Kesehatan bisa lebih bagus lagi,” harapnya.

RW/na/jamkesnews

Narasumber : Sariani

 




Setelah Masuk Rawat Inap, Baru Mulai Daftar JKN-KIS

Pentingnya Program JKN-KIS, di sinilah peran negara benar-benar nampak nyata dalam membantu masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik

lombokjournal.com —

JANKESNEWS ;  BPJS Kesehatan senantiasa melakukan segala upaya agar amanat menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), dapat terselenggara dengan baik.

Upaya yang diakukan BPJS Kesehtan antara lain, senantiasa berkoordinasi dengan mitra BPJS Kesehatan, baik dengan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), untuk memberikan pelayanan terbaik kepada peserta JKN-KIS.

Rohana (41) merupakan peserta JKN-KIS yang telah merasakan kebaikan Program JKN-KIS.

Ibu dari Inara Ayudia Taqinah Ramadhani (2) ini mengaku bersyukur dengan adanya Program JKN-KIS. Rohana merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sala satu Sekolah Menengah Pertama.

Semua anggota keluarganya merupakan peserta JKN-KIS dari sektor Peserta Penerima Upah

“Kemarin Inara demam tinggi, sampai kami panik. Langsung ke rumah sakit nggak pikir-pikir lagi. Yang penting masuk dulu, dapat perawatan dulu. Soal biaya nggak khawatir lagi kan ada JKN-KIS,” ujar Rohana.

Rohana menjelaskan, sebelumnya anaknya tiba-tiba demam tinggi hingga nyaris mencapai 40 derajat. Padahal sebelumnya tidak ada hal-hal aneh yang membuat anak bungsunya tersebut tiba-tiba terserang demam tinggi.

Bersama keluarga langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Siapa sangka jika ternyata Inara didiagnosa menderita infeksi paru yang menyebabkannya harus mendapatkan pelayanan rawat inap.

Rohana dan keluarga pun mengaku sempat shock dengan diagnosa atas putri bungsunya tersebut.

Awalnya Rohana juga nggak percaya waktu dokter bilang begitu, tapi bisa apa lagi. Jalan satu-satunya adalah dengan pengobatan.

”Dan syukurnya ada Program JKN-KIS. Kemarin saja setelah dari IGD langsung dapat ruangan. Ruangannya bagus dan nyaman. Jadi keluarga yang menjaga ataupun keluarga yang membesuk merasa nyaman. Dokternya juga rajin visit. Perawatnya juga ramah-ramah. Semua berkas-berkas administrasi yang dibutuhkan juga sudah bantu diurus sama perawat-perawatnya. Jadi kami nggak susah-susah lagi,” tutur Rohana..

Rohana menjelaskan, dia sadar akan pentingnya Program JKN-KIS ini. Menurutnya, di sinilah peran negara benar-benar nampak nyata dalam membantu masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik.

“Rasanya bersyukur sekali, jika dibandingkan dengan potongan gaji setiap bulan itu rasanya nggak akan cukup untuk membantu pengobatan Inara. Bagi peserta JKN-KIS, jangan lupa bayar iurannya ya, biar bisa bantu masyarakat yang membutuhkan. Siapa tahu besok-besok giliran kita yang perlu. Pokoknya jangan sampai sakit dulu, baru ingat daftar JKN-KIS,” tutur Rohana sambil tersenyum.

RW/ds/jamkesnews

Narasumber : Rohana

 

 




Sudah Dapat Layanan Enak, Bayar Iuran Jangan Nunggak

Agus menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk segera mendaftar menjadi peserta JKN-KIS jangan menunggu sakit dan jangan lupa selalu rutin membayar iuran

 lombokbokjournal.com —

JAMKESNEWS ;  Sudah lima tahun BPJS Kesehatan hadir untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat.

Sudah banyak masyarakat yang menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan, baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).

Seperti halnya dengan Agus Suparman (54) bersama dengan istri dan anaknya telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS sejak tahun 2015. Dia menyampaikan bahwa selama ini membayar iuran rutin setiap bulan sebelum tanggal sepuluh sejumlah 153.000 rupiah.

“Saya dan keluarga berupaya untuk selalu membayar secara rutin setiap bulan dan tidak pernah menunggak, karena saya selalu berpikir apabila nunggak akan memberatkan iuran bulan berikutnya. Apalagi sakit tidak bisa ditebak kapan datangnya,” kata Agus saat ditemui tim Jamkesnews, Minggu (27/01).

Agus menyampaikan, istrinya pernah sakit dan harus rawat inap di rumah sakit. Waktu itu malam hari badannya panas, kemudian dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) dan diterima dengan baik.

“Waktu istri saya dibawa ke UGD langsung ditangani oleh sejumlah perawat dan dokter, dan hari itu juga mondok di kelas II sesuai dengan kelas yang saya pilih,” katanya.

Selama dirawat Agus merasakan semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun.

Hal ini disebabkan karena KIS milik Agus dan keluarga selalu aktif. Dia menyampaikan bahwa banyak kabar bahwa pelayanan selama rawat inap katanya dibeda-bedakan tetapi dia tidak menemui hal tersebut.

“Pada saat datang di UGD sampai dengan selesai rawat inap semuanya lancar, proses administrasi tidak berbelit-belit. Selama rawat inap seluruh dokter dan perawat melayani dengan ramah dan cepat, tidak betul kalau antara pasien JKN-KIS yang dijamin BPJS Kesehatan dan pasien umum dibeda-bedakan. Saya sendiri telah merasakan pelayanan tersebut,” tambahnya.

Untuk itu Agus menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk segera mendaftar menjadi peserta JKN-KIS jangan menunggu sakit dan jangan lupa selalu rutin membayar iuran. Menurutnya, bagi masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan, segeralah mendaftar untuk menjadi peserta JKN-KIS.

“Karena dengan menjadi peserta JKN-KIS dapat membantu orang lain yang sedang sakit dan manfaatnya tidak terbatas. Selain itu, kalau sudah dapat layanan yang enak, ya jangan nunggak. Kasihan peserta lain yang membutuhkan. Manfaat JKN-KIS itu harus dirasakan bergantian secara adil,” tutup warga asal Kabupaten Magelang ini menutup pembicaraan.

ma/wt/jamkesnews

Narasumber : Agus Suparman