Wagub Tegaskan Keseriusan NTB Di Bidang Kependudukan

“Bila program KKB berhasil kita sukseskan maka IPM NTB tidak lagi akan terpuruk”

MATARAM.lombokjournal.com —  Melalui intervensi kegiatan secara reguler dan berkelanjutan, Wagub optimis kita bisa melakukan banyak hal untuk mendeteksi permasalahan di masyarakat.

Karena itu, pentingnya Posyandu. kegiatan yang wajib dilakukan di setiap dusun dalam suatu daerah.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menekankaan itu saat menjadi keynote speaker pada kegiatan Review Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Provinsi NTB Tahun 2019 di Hotel Grand Legi, Kamis (3/10/2019).

Disampaikan  sejumlah penekanan program unggulan yang membuktikan keseriusan NTB dalam bidang kependudukan.

Melalui Posyanddu, permasalahan yang bisa dideteksi tidak hanya soal kesehatan. Melainkan juga permasalahan sosial lainnya.

Wagub juga menambahkan, tujuan revitalisasi Posyandu adalah dapat menjadi Posyandu keluarga.

Posyandu keluarga adalah Posyandu yang terintegrasi, ada Posyandu ibu dan anak, Posbindu, dan Posyandu Lansia.

Dengan demikian, yang bisa datang ke Posyandu tidak lagi hanya balita atau anak-anak saja, tapi satu keluarga bisa datang ke Posyandu.

Namun, fenomena saat ini adalah, setiap pergantian Kepala Desa, maka kader Posyandu pun ikut diganti. Sehingga, pola yang sudah ada, akan dimulai lagi dari nol.

Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi ini berharap, nantinya para kader Posyandu akan diberikan sertifikat sebagai kader, sehingga sumber daya manusia dan kader harus diperkuat, supaya ilmu yang diterima terus diperbarui.

Dalam kesempatan tersebut, Umi Rohmi juga berharap dengan revitalisasi Posyandu ini pengetahuan yang dibagikan ke masyarakat itu sesuai dan juga masalah sosial di tiap dusun dapat sesuai sasaran.

“Tugas kabupaten dan provinsi adalah penguatan, dan memberikan sertifikasi kader training pembinaan, semoga revitalisasi Posyandu ini bisa berhasil,” tegasnya.

Selain itu, Umi Rohmi menambahkan NTB saat ini sedang menggalakkan Zero Waste.

“Sampah itu sumber daya. Jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah bisa jadi berkah. Sampah bisa bikin kita naik haji dan beli emas,” ungkap Wagub Hj Rohmi.

Kepala BKKBN RI, Dr. Hasto Wardoyo, SpOg (k), menyampaikan, tugas BKKBN adalah tugas tentang kependudukan, menjamin pertumbuhan penduduk seimbang.

Dengan adanya isu bonus demografi, yang paling menarik adalah adanya disparitas antara provinsi yang satu dan lainnya.

“NTB ini punya optimisme yang besar untuk masalah bonus demografi,” ungkapnya.

Masalah kependudukan menjadi masalah yang benar-benar serius untuk diperhatikan. Tokoh yang dua kali terpilih sebagai Bupati Kulonprogo ini juga mengatakan, tema kependudukan ini menjadi hal yang penting.

Struktur penduduk dari sisi kuantitas menentukan langkah arah pembangunan suatu daerah.

Mengenai program Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi, Hasto berharap KB jangan hanya diterjemahkan khusus membatasi anak. Tapi lebih kepada menyiapkan generasi berkualitas dan generasi unggul.

“Kesehatan reproduksi ini sebetulnya anak SMP harus sudah tahu, karena banyak hal penting yang tidak diketahui anak remaja, sebagai contoh sirkumsisi (sunat), ternyata setelah dijelaskan, sirkumsisi itu mencegah istri dari kanker mulut rahim, kesehatan reproduksi itu penting untuk disampaikan,” jelasnya.

Hasto Wardoyo menambahkan, anak-anak harus tahu pentingnya kesehatan reproduksi. Sebab tidak semata-mata tentang seks melainkan banyak hal.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, Dr. Drs Lalu Makripuddin M. Si, dalam sambutannya menyampaikan selamat datang kepada Kepala BKKBN RI.

“Ini merupakan kunjungan pertama sejak beliau dilantik menjadi Kepala BKKBN RI,” ungkapnya.

Kepala BKKBN NTB juga mengajak agar menjadikan momentum ini untuk menyatukan tekad dan semangat juang program BKKBN.

Karena program ini dapat meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak, dan pada akhirnya dapat meningkatkan IPM NTB yang masih memprihatinkan.

“Bila program KKB berhasil kita sukseskan maka IPM NTB tidak lagi akan terpuruk,” tutup Lalu Makripuddin.

AYA/HmsNTB

 




Dies Natalis Unram Ke-57, Undang Dirut BPJS Kesehatan Orasi Ilmiah Jamkesnas

Saat ini BPJS Kesehatan juga sudah melaksanakan kompetisi hackathon untuk mendapatkan masukan inovasi dari publik

lombokjournal.com —

MATARAM   ;  Universitas Mataram dalam peringatan Dies Natalisnya ke-57, menggelar acara Orasi Ilmiah dengan tema Jaminan Kesehatan Nasional di Era Revolusi Industri 4.0, dengan mengundang pembicara Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, Rabu (02/10) 2019.

Kegiatan yang diselenggarakan di Universitas Mataram dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat yang juga sebagai Dewan Pertimbangan Universitas Mataram, Dr. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., dan dihadiri oleh Rektor Universitas Mataram, Senat Universitas dan Guru Besar, unsur pimpinan daerah, dan seluruh Dosen Universitas Mataram serta Direktur Rumah Sakit se-Pulau Lombok.

Rektor Universitas Mataram, Lalu Husni dalam sambutannya menjelaskan kegiatan ini merupakan peringatan perjalanan Universitas Mataram yang sampai saat ini telah melahirkan para ilmuwan akademisi yang berkualitas.

“Semoga ke depannya Universitas Mataram dapat mempertahankan prestasi yang telah diraih dan melakukan perbaikan untuk menjadi lebih baik dalam hal peningkatan mutu akademisi sehingga terus menorehkan prestasi di kancah pendidikan baik nasional maupun internasional,” ujar Husni.

Dalam orasi ilmiahnya, Fachmi Idris memberikan gambaran perkembangan jaminan kesehatan nasional yang dilakukan BPJS Kesehatan di era revolusi industri 4.0 yaitu pengembangan ekosistem digital Jaminan Kesehatan Nasional, meliputi digitalisasi sistem pelayanan JKN, digitalisasi pengelolaan klaim, pengembangan metode dan saluran pembayaran, pengembangan aplikasi dan metode pendaftaran peserta, inovasi aplikasi Mobile JKN, dan banyak lagi.

Fachmi juga mengajak para mahasiswa untuk dapat Bersama-sama membuat inovasi baru yang applicable dan adaptive dalam bidang kesehatan. Saat ini BPJS Kesehatan juga sudah melaksanakan kompetisi hackathon untuk mendapatkan masukan inovasi dari publik.

Fachmi menekankan perlunya dukungan seluruh stakeholder agar program JKN-KIS terus berjalan.

Bentuk dukungan dari universitas dapat berupa pendaftaran kepesertaan mahasiswa dan civitas akademika ke dalam program JKN-KIS, melakukan edukasi kepada masyarakat untuk berperilaku hidup sehat, aktif memberikan masukan dan kajian untuk perbaikan program Jaminan Sosial, dan sebagainya.

Pada kesempatan yang sama, bentuk komitmen dukungan Universitas Mataram terhadap penyelenggaraan program JKN-KIS diwujudkan dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Optimalisasi Pendaftaran Peserta dalam Program Jaminan Kesehatan Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) oleh Kepala Cabang Mataram, Sarman Palipadang dengan Rektor Universitas Mataram, Lalu Husni.

Tak hanya itu, penandatangan perjanjian kerja sama juga dilakukan BPJS Kesehatan Cabang Mataram dengan Klinik Pratama Universitas Mataram tentang Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama bagi Peserta Program Jaminan Kesehatan yang disaksikan oleh Gubernur NTB dan Direktur Utama BPJS Kesehatan.

“Dengan ditandatanganinya kesepakatan bersama dan kerja sama pelayanan kesehatan ini diharapkan dapat memberikan kualitas pelayanan kesehatan yang optimal bagi peserta JKN-KIS, khususnya di Provinsi NTB,” tutup Sarman.

ay/yn/kamkesnews

 




Jokowi Pertimbangkan Tinjau Ulang Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Kelas III

Penyesuaian iuran BPJS Kesehatan masih menunggu hasil kebijakan Presiden melalui Peraturan Presiden (Perpres) terkait penyesuaian iuran untuk peserta jaminan kesehatan nasional atau JKN

lombokjournal.com  —

JAKARTA  ;   Presiden RI, Joko Widodo akan mempertimbangkan permintaan Serikat Pekerja untuk meninjau ulang kenaikan iuran BPJS Kesehatan Kelas III.

Hal itu diungkapkan Presiden Konfederasi Serikat Pekerjaan Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), usai bertemu Presiden Kokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (30/09) 2019.

“Kami minta pemerintah tinjau ulang kenaikan iuran BPJS Kesehatan kelas III karena berpengaruh terhadap buruh dan rakyat,” kata Andi Gani.

Said Iqbal menjelaskan, kenaikan iuran BPJS Kesehatan kelas III akan memberatkan rakyat dan bisa menurunkan daya beli masyarakat.

“Jadi kami usulkan pada beliau untuk mempertimbangkan agar iuran BPJS kelas III tidak dinaikkan,” ujar Said Iqbal.

Menanggapi usulan itu, presiden menegaskan keputusan soal iuran BPJS Kesehatan perlu dihitung dan dikalkulasi. Sebab, jika tidak dinaikkan, perusahaan BPJS Kesehatan juga akan mengalami defisit yang besar.

“Semuanya dihitung, dikalkulasi,” kata Jokowi.

Penyesuaian iuran BPJS Kesehatan masih menunggu hasil kebijakan Presiden melalui Peraturan Presiden (Perpres) terkait penyesuaian iuran untuk peserta jaminan kesehatan nasional atau JKN yang diusulkan naik.

Pemerintah berencana menaikkan iuran program JKN BPJS Kesehatan sebesar 100 persen untuk menutup defisit JKN. Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo mengatakan, rencananya, kenaikan iuran itu akan dilakukan mulai 1 Januari 2020.

Namun, hal ini berlaku hanya untuk kelas I dan II, dimana kelas I dari Rp 80 ribu menjadi Rp 160 ribu, dan kelas II dari Rp 51 ribu menjadi Rp 110 ribu. Untuk kelas III masih ditunda setelah rencana kenaikan ditolak Komisi IX dan XI DPR.

FR (sumber; Tempo.com)




Cara Bayar Autodebit Iuran BPJS Kesehatan Tanpa Rekening Bank

Dengan autodebit, peserta tidak perlu lagi khawatir lupa membayar iuran setiap bulan

llombokjournal.com —

MATARAM   ;     Pembayaran iuran peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), sejak 1 Januari 2019, dilakukan dengan sistem autodebit bagi segmen peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri.

Penerapan autodebit tidak hanya dilakukan melalui bank yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan (BNI, BRI, Mandiri, BCA) ataupun kartu kredit seperti Standar Chartered dan Citibank. Penerapan autodebit juga dapat dilakukan tanpa rekening bank.

Hal itu disampaikkan Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan, Kemal Imam Santoso.

“Kami memberi pilihan, jika menggunakan program ini peserta tidak perlu repot membuka rekening bank atau mendaftar autodebit di bank,” kata Kemal melalui keterangan tertulis pada Sabtu 21 September 2019.

Dikatakan, Autodebit iuran JKN-KIS tanpa rekening bank, dapat dilakukan melalui uang elektronik Mobile Cash.

Mobile Cash sendiri adalah rekening bayar iuran BPJS Kesehatan yang dikembangkan oleh PT Finnet Indonesia. Caranya, peserta dapat mendaftarkan autodebit iuran cukup dengan menggunakan telepon seluler 2G dan menekan *141*999# (khusus pengguna telkomsel dan indosat) dan memilih menu daftar.

Setelah mendaftar, peserta dapat langsung melakukan pembayaran/pengisian saldo iuran di Kantor Pos, Alfamart, transfer VA BRI, transfer VA Bank Mandiri, jejaring Apotek Sanafarma di seluruh Indonesia. Pembayaran dilakukan dengan menyebutkan nomor peserta dan nomor telepon.

Kemal menuturkan, kemudahan itu untuk menjadi solusi bagi sebagian penduduk Indonesia belum memiliki rekening bank.

Selain itu, masih ada peserta yang tempat tinggalnya jauh dari jangkauan bank atau tidak memiliki perangkat komunikasi canggih seperti telepon selular 3G atau 4G.

Kemal menambahkan peserta juga dapat mengisi saldo kapan pun sesuai dengan kemampuannya. Peserta bisa menyisihkan saldo setiap hari, dan sampai dengan saldo tagihan iuran mencukupi akan langsung otomatis terdebit.

Saat ini, jumlah peserta yang telah mendaftar autodebit tanpa rekening bank sebanyak 110.175 peserta. Dari data tersebut, antusiasme terlihat pada peserta PBPU kelas 3 sebagai komposisi terbesar peserta yang menggunakan autodebit tanpa rekening bank yaitu sebesar 67,55 persen.

Kemal berharap akan semakin banyak peserta PBPU yang menggunakan autodebit baik melalui bank ataupun non rekening bank.

Dengan autodebit, peserta tidak perlu lagi khawatir lupa membayar iuran setiap bulan. Oleh karena pembayarannya selalu tepat waktu, peserta pun terhindar dari risiko denda layanan yang bisa muncul jika terlambat membayar iuran, dan tidak terkendala saat memerlukan pelayaan kesehatan.

“Untuk peserta yang saat ini sudah terdaftar sebagai peserta PBPU namun masih belum menggunakan autodebit, bisa langsung ke bank untuk mendaftar. Sebagai pilihan kami juga siapkan autodebit tanpa rekening bank. Upaya ini kami lakukan untuk memudahkan peserta dalam membayar iuran secara tepat waktu, meningkatkan kepatuhan peserta, juga diharapkan dapat membantu meningkatkan sustainibilitas Program JKN-KIS,” ucap Kemal.

Direktur Utama Finnet Paulus Djatmiko menyampaikan optimisme solusi dari BPJS Kesehatan dan Finnet dapat memberikan dampak positif untuk seluruh lini masyarakat.

“Di sinilah Finnet bersama BPJS Kesehatan memberikan solusi kepada masyarakat. Keterbatasan jangkauan internet di pelosok daerah tidak menjadi hambatan. Dengan Mobile Cash, masyarakat yang belum terjangkau dengan produk bank tetap dapat membayar iuran JKN-KIS dengan menggunakan pilihan pembayaran autodebit. Cukup ingat *141*999#, ingat BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Rr

(sumber ; Tempo.com)

 

 




e-Dabu 4.2, Daftar Peserta JKN-KIS Tanpa Harus Datang Ke Kantor BPJS Kesehatan

Melalui e-Dabu 4.2, proses pendaftaran dan approval data pekerja beserta anggota keluarganya dapat dilakukan sendiri oleh PIC perusahaan secara realtime

lombokjournal.com –

MATARAM  ;   Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terus berinovasi dalam memudahkan pebisnis untuk mendaftarkan JKN-KIS para pekerjanya.

Di era digital, perusahaan dapat mendaftarkan pekerja menjadi peserta JKN-KIS tanpa harus datang ke Kantor BPJS Kesehatan.

Ada banyak kanal pendaftaran yang bisa Anda akses dari layar komputer Anda, yaitu Online Single Submission (OSS) melalui laman www.oss.go.id, website BPJS Kesehatan di www.bpjs-kesehatan.go.id, Portal Bersama BPJS pada laman www.bpjs.go.id, serta laman e-Dabu di https://edabu.bpjs-kesehatan.go.id/Edabu/.

Setelah mendaftarkan perusahaan melalui kanal yang dipilih, Anda akan menerima link aktivasi melalui email perusahaan.

Selanjutnya, klik link aktivasi tersebut sehingga Anda dapat menerima nomor Virtual Account (VA), username dan password e-Dabu untuk meng-input data pekerja dan anggota keluarganya di e-Dabu 4.2 melalui laman https://edabu.bpjs-kesehatan.go.id/Edabu/.

Siapkan data pekerja dan anggota keluarganya, dilengkapi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) berbasis KTP elektronik, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) mitra BPJS Kesehatan yang dipilih pekerja, nomor handphone dan alamat email.

Melalui e-Dabu 4.2, proses pendaftaran dan approval data pekerja beserta anggota keluarganya dapat dilakukan sendiri oleh PIC perusahaan secara realtime, sehingga setiap data yang dimasukkan haruslah akurat dan dilakukan secara tepat waktu.

Aplikasi e-Dabu 4.2 ini berisi menu Home, Peserta, Laporan dan Referensi. Menu Home berisi daftar tiket yang telah diproses oleh PIC perusahaan.

Sementara menu Peserta berisi proses penambahan pekerja baru yang belum menjadi peserta JKN-KIS melalui pencarian menggunakan NIK yang ada di Dukcapil, nomor JKN-KIS, nomor pegawai, atau nomor Kartu Keluarga (KK).

Selain itu menu Peserta juga digunakan untuk penambahan anggota keluarga, pengalihan pekerja, pengalihan anggota keluarga untuk menjadi pekerja yang didaftarkan oleh perusahaan, perubahan data gaji, pencetakan KIS Digital, detail informasi data peserta, reaktivasi pekerja, serta notifikasi data pekerja PHK.

Ada satu hal yang penting diperhatikan. Khusus PHK yang dimaksud dalam proses notifikasi yaitu pegawai PHK memperoleh hak Manfaat Jaminan Kesehatan paling lama 6 bulan sejak di PHK, tanpa membayar Iuran.

Pekerja yang di-PHK harus memenuhi kriteria dan kelengkapan dokumen yaitu sudah ada putusan pengadilan hubungan industrial yang dibuktikan dengan putusan/akta pengadilan hubungan industrial.

PHK karena penggabungan perusahaan yang dibuktikan dengan akta notaris, PHK karena perusahaan pailit atau mengalami kerugian yang dibuktikan dengan putusan kepailitan dari pengadilan, atau PHK karena Pekerja mengalami sakit yang berkepanjangan dan tidak mampu bekerja yang dibuktikan dengan surat dokter.

Dalam proses PHK, Perusahaan menyampaikan laporan permohonan penonaktifan PHK Pekerja yang dibuktikan dengan adanya putusan pengadilan ke kantor BPJS Kesehatan terdaftar. Apabila sudah diproses oleh BPJS Kesehatan, maka akan muncul notifikasi peserta PHK di aplikasi e-Dabu.

Selanjutnya, menu Laporan berguna untuk melakukan download tagihan dan rincian tagihan iuran perusahaan untuk bulan berjalan.

Sedangkan menu Referensi berisi informasi atau format file yang digunakan dalam pengoperasian aplikasi e-Dabu 4.2, antara lain formulir perubahan gaji, user manual aplikasi e-Dabu, FAQ seputar e-Dabu, dan video tutorial aplikasi Mobile JKN.

Keberadaan e-Dabu 4.2 semakin memudahkan perusahaan dalam mendaftarkan pekerja dan anggota keluarganya menjadi peserta JKN-KIS serta mengelola, dan mengupdate data kepesertaan JKN-KIS.

Jangan lupa, keikutsertaan Anda sebagai peserta JKN-KIS adalah wujud nyata menolong sesama. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi BPJS Kesehatan Care Center 1500 400.

Rr/ris




Pentingnya Edukasi Cegah Penyebaran Rabies

Diharapkan, Peringatan Nasional Hari Rabies Sedunia 2019 dapat berkontribusi dalam mencapai Indonesia bebas rabies tahun 2030

MATARAM.lombokjournal.com . ;  Untuk mencegah dan menghindari penyakit rabies di wilayah NTB, DITekankan pentingnya edukasi yang baik

Wakil Gubernur  menyampaikan itu saat memberi sambutan acara Peringatan Nasional Hari Rabies Sedunia 2019 yang berlangsung di Mataram, Sabtu (28/09) 2019.

Provinsi NTB dipilih sebagai lokasi terselenggaranya acara Peringatan Nasional Hari Rabies Sedunia 2019 ini menjadi suatu kebanggaan bagi pemerintah Provinsi NTB. Peringatan Nasional Hari Rabies Sedunia tahun ini bertajuk “Vaksinasi Tuntas Rabies Bebas”.

“Kami dari pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat, karena kami juga dipercayakan sebagai tempat merayakan hari rabies sedunia, tentunya kami berterima kasih dan memiliki tanggungjawab moral yang lebih lagi agar NTB bebas dari rabies,” ujar Wagub.

Wagub menyampaikan, Pemerintah Provinsi NTB menargetkan pada tahun 2022 mendatang, NTB akan bebas dari rabies. Untuk mencapai tujuan tersebut, harus ada sebuah kerjasama dari semua pihak.

“Butuh keberanian kita semua dan komitmen menempatkan nyawa manusia di atas segala-galanya,” tambahnya.

Tidak mungkin penyebaran rabies ini tuntas hanya dengan Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan saja. Diperlukan juga kerjasama dengan pihak lain seperti Balai Karantina, Dinas Pendidikan dan lainnya. Dinas Pendidikan dapat memberikan edukasi kepada anak-anak sejak kecil,  yang sesuai dengan umur mereka.

“Mari kita bergandeng tangan semua memberi edukasi itu, mulai dari TK hingga perguruan tinggi” tambah Wagub.

Edukasi juga dapat diberikan melalui program Revitalisasi Posyandu, yang juga merupakan salah satu program yang sedang diperjuangkan oleh Pemerintah Provinsi NTB.

Wagub berharap dengan diselenggarakannya Peringatan Nasional Hari Rabies Sedunia ini membuat langkah Pemprov NTB  semakin kencang lagi untuk memproteksi diri dari rabies dan juga potensi bencana-bencana lainnya.

Ketua Penyelenggara Peringatan Nasional Hari Rabies Sedunia 2019, Dr. Arief Wicaksono mengatakan, vaksinasi menjadi kunci utama dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit rabies.

Arief juga menyampaikan apresiasinya pada pada seluruh instansi yang terlibat.

“Kami selaku panitia pelaksana World Rabies Day menyampaikan apresiasi kepada seluruh instansi yang telah melaksakan tindakan pengendalian rabies di masing-masing wilayah,” ungkapnya.

Arief berharap Peringatan Nasional Hari Rabies Sedunia 2019 dapat berkontribusi dalam mencapai Indonesia bebas rabies tahun 2030.

Acara itu juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan, salah satunya gerak anti rabies oleh anak-anak dari sejumlah Sekolah Dasar di Kota Mataram.

AYA/HmsNTB

 




Yadi Tak Pernah Dipersulit, Pelayanan Bagi Peserta JKN-KIS  Sangat Baik

“Baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit Program JKN-KIS sangat bermanfaat. Pelayanannya juga sudah baik, petugas di fasilitas kesehatan ramah dan baik, prosedurnya juga gampang jadi kami tidak menemui kesulitan ketika berobat”

lombokjournal.com —

MATARAM  ;   Slamet Riyadi (32) merupakan seorang pekerja yang sehari-harinya bekerja di salah satu perusahaan swasta. Ia telah menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang ditanggung perusahaan tempatnya bekerja.

“Setiap bulan gaji saya dipotong untuk bayar iuran JKN-KIS. Buat saya, itu tidak masalah karena untuk perlindungan kesehatan  pekerja dan keluarga. Saya malah merasa jadi aman dan nyaman dalam bekerja, juga berarti perusahaan memang perhatian kepada karyawannya,” kata Yadi, pekan lalu

Sebelum menjadi peserta JKN-KIS dari segmen PPU, Yadi sekeluarga termasuk peserta PBI APBN yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah pusat. Namun ketika ia bekerja status kepesertaannya berubah menjadi Pekerja Penerima Upah (PPU).

Yadi mengaku selama ini ia bersyukur karena jarang sakit sehingga belum pernah mengakses pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.

Ia dan istriNYA memang belum pernah memakai Kartu Indonesia Sehat (KIS) karena alhamdulillah tidak pernah sakit yang membutuhkan perawatan dokter.

“Namun mbah saya sering memakai KIS ini. Mbah usianya sudah lanjut dan  terkena penyakit stroke yang mengharuskannya kontrol setiap bulan,” cerita Yadi.

Yadi mengatakan, selama mendampingi mbah berobat ia tidak pernah mendapatkan kesulitan. Mulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sampai rumah sakit, Yadi mendapatkan pelayanan yang baik dan tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk pelayanan yang telah didapatkan.

Petugas medis baik di Puskesmas maupun rumah sakit bersikap ramah dan sigap. Dokter di rumah sakit pun melayani dengan baik. Waktu ia mendampingi mbah kontrol, dokter menjelaskan penyakitnya beserta terapi apa saja yang harus dilakukan.

“Mbah usianya sudah 87 tahun tetapi ia mempunyai semangat hidup yang tinggi sehingga sedikit banyak berpengaruh positif terhadap kesembuhannya,” ujar Yadi.

Mengakhiri perbincangan dengan tim Jamkesnews, Yadi mengatakan bahwa program JKN-KIS ini besar sekali manfaatnya terutama terhadap warga kurang mampu. Ia pun berharap program ini akan tetap terus ada.

“Program JKN-KIS sangat bermanfaat. Pelayanannya juga sudah baik, petugas di fasilitas kesehatan ramah dan baik, prosedurnya juga gampang jadi kami tidak menemui kesulitan ketika berobat. Sekarang tinggal kesadaran masyarakat untuk terus  ikut bergotong royong menyukseskan program ini. Semoga program JKN-KIS tetap ada dan berjalan dengan baik,” ungkap Yadi.

ma/vo/jamkesnews




Bayar Iuran Peserta JKKN-KIS Secara Rutin,  Ada Saat Anda Peroleh Manfaat Besar

“Kalau sudah rawat inap seperti ini, gak lagi pusing cari biaya. Intinya jangan sampe menunda bayar iura”

lombokjournal.com —

MATARAM   ;    Pengalaman pahit tengah dirasakan Faizah (52). Pasalnnya, ia divonis diabetes sejak pertengahan tahun ini.

Banyak gejala yang ia rasakan sebelum akhirnya dokter menjatuhkan vonis tersebut.

“Sekitar Juli kemarin dokter memberi tahu kalau saya terkena diabetes. Sedih sekali rasanya karena gak menyangka ada penyakit yang sedang menggerogoti tubuh saya. Memang beberapa gejala sempat saya rasakan tapi saya pikir itu hanya gejala biasa untuk penyakit yang ringan,” ujar Faizah.

Dalam perjalanannya, Faizah sering merasakan buang air kecil meskipun sedang tak banyak minum. Ia jadi mudah letih sekalipun tak banyak beraktivitas.

Hal lain yang juga dirasakan adalah luka yang tak kunjung sembuh dari penyakit kutu airnya.

Dalam dunia medis, pemulihan luka yang lama memang jadi kaitan salah satu faktor diabetes saat ini. Akibat gejala tersebut, Faizah lantas dilarikan ke rumah sakit.

Dalam hal ini ia mengaku tenang lantaran sudah punya jaminan kesehatan.

Faizah sendiri menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sejak 2016 silam. Menurutnya, banyak kemudahan yang dirasakannya selama mengikuti program besutan BPJS Kesehatan.

Selama perawatan di rumah sakit, Faizah ditemani oleh seorang putranya. Dengan kondisi yang masih lemah, sang anak menjadi tumpuan dirinya dalam melakukan aktivitas kecil seperti makan hingga buang air.

“Sudah 4 hari ini ibu saya di sini (rumah sakit, red). Saya selalu berharap ada peningkatan kondisi sehingga ibu saya bisa lekas pulih. Dokter dan perawat di sini selalu memberi ibu saya motivasi. Saya senang dengan perhatian kecil seperti itu. Semoga ibu saya terdorong untuk bisa lekas pulih lebih cepat lagi,” ungkap sang anak dengan nama Mahrus Ali.

Selama berjuang melawan sakitnya, Faizah berbekal Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang ia punya. Sehingga, tak ada keraguan (soal biaya) yang ia rasakan selama masa perawatan. Ia yakin dengan segala manfaat yang bakal ia terima. Faizah mengaku jika ia selalu rutin membayar iuran.

“Dari awal gejala dulu saya dibawa ke rumah sakit. Kebetulan kondisi saya begitu drop saat itu. Di sini pelayanan enak, saya nyaman dengan segala tindakan medis yang diberikan. Seperti yang dibilang anak saya tadi, petugas di sini sering memberi saya motivasi. Saya lega dengan jadi peserta JKN-KIS sejak lama. Kalau sudah rawat inap seperti ini, gak lagi pusing cari biaya. Intinya jangan sampe menunda bayar iuran,” terangnya.

Dengan segala hal yang sudah dirasakan, Faizah dan Mahrus mengapresiasi program JKN-KIS yang sedang berjalan.

Menurut mereka, kebaikan yang dihadirkan begitu besar sehingga bisa dimanfaatkan oleh semua kalangan, terlebih lagi bagi orang-orang yang amat membutuhkan.

Tak lupa, rasa terima kasih juga mereka sampaikan kepada rumah sakit Graha Sehat. Bagi mereka, pelayanan yang diberikan begitu baik tanpa membedakan jenis pasien umum dengan pasien JKN-KIS.

“Terima kasih untuk program yang memberi kami keringanan dalam berobat. Semoga kebaikan yang kami terima juga dirasakan oleh banyak orang. Terima kasih juga untuk Graha Sehat. Semoga pelayanan seperti ini bisa terus dipertahankan,” tutur Ali.

Rr/JAMKESNEWS

 

 




Bayar Rutin Iuran JKN-KIS, Wendi Merasa Menjadi Pahlawan Bagi Sesama

“Bahagianya saya bisa menjadi pahlawan bagi sesama dengan rutin membayar iuran JKN-KIS. Di sinilah letak nyata prinsip gotong royong dari program JKN-KIS ini”

lombokjournal.com —

MATARAM   ;     Masyarakat dari kalangan menengah ke bawah,  merasakan beban  sangat berat bila harus membayar biaya pelayanan kesehatan dengan uang sendiri.

Karena itu, memiliki jaminan kesehatan sangat diperlukan di zaman yang serba mahal seperti saat ini.

Tiap orang tidak pernah tahu kapan sakit akan datang. Dan, jika sudah sakit dan harus mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan, biayanya tidaklah murah.

Seperti diakui Wendi Oktaviani, ia merasa sangat terlindungi karena telah menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Wendi, begitu sapaannya, mengungkapkan rasa bahagianya telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS.

“Jujur saya sangat lega telah terdartar sebagai peserta JKN-KIS, karena saya merasa terlindungi. Saya dan keluarga tidak perlu merasa khawatir lagi jika suatu saat nanti kami jatuh sakit dan memerlukan pelayanan di fasilitas kesehatan, karena saya tahu program pemerintah ini menjamin seluruh biaya pelayanan kesehatan tanpa iur biaya satu rupiah pun apabila sudah sesuai dengan prosedur,” tuturnya sambil menunjukkan kartu JKN-KIS yang dimiliki.

Selain merasa bahagia, Wendi juga tidak pernah merasa rugi telah rutin membayar iuran JKN-KIS

“Saya rutin membayar iuran setiap bulan, karena walaupun  saya dan keluarga jarang menggunakannya berarti iuran saya digunakan oleh peserta lain yang sakit dan membutuhkan biaya pelayanan kesehatan,” katanya.

Mengingat manfaatnya yang sangat besar, Wendi pun mengajak masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS agar segera mendaftarkan diri beserta anggota keluarga.

Wendi mengakku bangga telah menjadi peserta JKN-KIS. Ia  sangat mengapresiasi program mulia ini karena iuran setiap bulannya sangat terjangkau namun manfaatnya amat besar, dapat membiayai segala jenis penyakit.

“Saya mengajak seluruh masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS agar segera mendaftarkan diri. Jangan menunggu sakit terlebih dahulu baru mendaftarkan diri, dan apabila kita tidak pernah memakainya jangan pernah merasa rugi, itu berarti kita dan keluarga dalam keadaan sehat,” katanya.

Dikatakannya, selain untuk menjaga diri, menjadi peserta JKN-KIS sama halnya seperti menjadi pahlawan.

Wendi mendaftar sebagai peserta JKN-KIS bukan semata untuk melindungi diri dan keluarga saja, namun baginya menjadi peserta JKN-KIS yang selalu sehat, sama seperti menjadi pahlawan bagi peserta lain yang sedang sakit.

“Bahagianya saya bisa menjadi pahlawan bagi sesama dengan rutin membayar iuran JKN-KIS. Di sinilah letak nyata prinsip gotong royong dari program JKN-KIS ini,” tuturnya saat ditemui tim Jamkesnews di kediamannya, pecan lalu.

Ia dengan penuh semangat memberikan apresiasi terhadap BPJS Kesehatan.

Wendi sangat mengapresiasi program pemerintah ini, dan ia beserta keluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BPJS Kesehatan, karena kesehatannya bersama keluarga telah dijamin oleh program JKN-KIS.

“Saya tidak perlu khawatir lagi akan biaya pelayanan kesehatan jika suatu saat nanti saya dan keluarga membutuhkannya. Program ini begitu mulia dan pastinya sudah banyak nyawa tertolong berkat program JKN-KIS. Begitu besar manfaat dari program ini, semoga ke depannya, program JKN-KIS semakin dapat memberikan layanan terbaik kepada peserta dan masyarakat dan semoga program ini tetap ada,” katannya.

ay/dh/jamkesnews




  Selalu Ajak Warga Sadari Pentingnya JKN-KIS

lombokjournal.com –

MATARAM   ;   Lisa Amalia (39) merasakan betul manfaat dari adanya Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.

Selain mendapat manfaat memperoleh perlindungan jaminan kesehatan, sejak 2018 lalu Lisa mendaftarkan diri sebagai seorang Kader JKN.

Selama hampir satu tahun lebih tersebut ia memiliki cukup banyak cerita yang disampaikan kepada Jamkesnews ketika ditemui sesaat setelah mengikuti kegiatan evaluasi Kader JKN-BPJS Kesehatan.

“Awalnya saya tidak tahu Kader JKN itu apa. Setelah melihat berita di Koran waktu tahun 2018 baru tahu kalau Kader JKN itu apa dan langsung mendaftar saat itu juga. Saya seneng jadi Kader JKN, selain bisa nambah teman, jadi Kader JKN juga bisa membantu keuangan keluarga saya,” ungkap Lisa, Kamis (26/09).

Lisa saat ini merupakan Kader JKN. Suami Lisa merupakan seorang pekerja  di sebuah toko, dan ia sangat mendukung aktivitas yang dilakukan oleh istrinya tersebut.

Bahkan tak jarang ia sendiri yang sering mengantarkan istrinya tersebut berkunjung berkeliling ke rumah-rumah peserta binaannya.

“Kalau jadi Kader JKN kita bisa bantu masyarakat dengan cara berbagi informasi seputar JKN-KIS. Mereka yang sebelumnya tidak tahu jadi tahu. Seneng rasanya kalau ada peserta yang merasa terbantu adanya kita,” ucap Lisa.

Kader JKN merupakan salah satu mitra BPJS Kesehatan. Fungsi utama dari Kader JKN adalah sebagai pengingat dan pengumpul iuran peserta JKN-KIS.

Selain itu fungsi dari Kader JKN yaitu melakukan sosialisasi dan edukasi kepada peserta dan masyarakat, membantu proses pendaftaran sebagai peserta, memberikan informasi seputar JKN-KIS serta menerima keluhan sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan kepada peserta binaan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada BPJS Kesehatan, dan masyarakat.

Kepada Jamkesnews, Lisa berbagi tips saat akan melakukan kunjungan kepada peserta. Menurutnya dengan kunjungan yang dilakukan secara terus menerus serta dengan memperbanyak relasi, dapat membantu Lisa menjalankan tugasnya sebagai Kader JKN.

“Kalau kunjungan, kadang dijudesin, tapi kalau kita niatnya baik dan ingin silaturahmi, Insya Allah pasti ada jalan. Jangan langsung menyampaikan tentang iuran, tapi ingatkan akan pentingnya membayar iuran Program JKN-KIS tepat pada waktunya dan apa yang terjadi kalau kepesertaan JKN-KIS nonaktif. Nanti jadi kesulitan kalau berobat. Terus saya kasih tahu juga supaya jangan bayar iuran saat dibutuhkan saja, tapi bayar iurannya rutin setiap bulan karena iuran yang dibayarkan, membantu peserta lainnya yang membutuhkan,” jelas Lisa.

Selain berbagi pengalaman menjadi Kader JKN, Lisa juga berbagi cerita ketika menggunakan manfaat kartu JKN-KIS, yaitu ketika orang tuanya sakit lambung dan maag kronis.

Saat itu seluruh biaya pengobatan sakit yang diderita orang tua Lisa ditanggung sepenuhnya oleh JKN-KIS karena penggunaannya sudah sesuai prosedur.

Menurutnya, Program JKN-KIS ini telah berjalan dengan baik dan banyak masyarakat sangat terbantu dengan JKN-KIS.

Karenanya Lisa berharap Program JKN-KIS dapat dikelola secara berkesinambungan.

BS/bm/jamkesnews

Narasumber : Lisa Amalia (39)