Menjadi Peserta JKN-KIS, Meski Amir Gagal Ginjal Tak Berarti Gagal Hidup

“sejak pertama kali disarankan cuci darah, saya langsung mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Selama 4 tahun ini pun saya tidak pernah mengeluarkan biaya lebih dari 51 ribu tiap bulannya”

lombokjournal.om —

SELONG   ;  Hemodialisa umumnya diperuntukkan bagi pasien gagal ginjal dan beberapa orang dengan peradangan ginjal kronik atau disebut dengan pielonefritis.

Seperti yang dialami oleh Amir (37),  pria asal Desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik ini sudah 4 tahun lamanya  melakukan cuci darah ke RSUD dr. R. Soedjono Selong akibat pielonefritis.

Awalnya, Amir berpikir itu sakit pinggang biasa, jadi dibiarkan saja. Istirahat sebentar juga sembuh. Tapi, semakin lama jadi semakin sakit. Ketika buang air kecil rasanya sakit sekali.  Badan semakin lemah, cepat lelah padahal tidak melakukan pekerjaan berat.

“Sampai suatu ketika, saya tiba – tiba pingsan karena tidak kuat menahan nyeri dan pusing yang luar biasa. Ketika sadar, saya sudah ada di rumah sakit. Saat itu juga, saya akhirnya tahu bahwa ginjal saya sudah infeksi parah,” ungkapnya.

Pielonefritis adalah peradangan pada ginjal yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Infeksi ini dapat terjadi berulang kali hingga akhirnya dapat merusak ginjal secara permanen dan menyebabkan gagal ginjal.

Transplantasi atau donor ginjal dapat menjadi pilihan penderitanya untuk sembuh. Namun keberhasilannya sangat kecil sekali,  dan itu tergantung dari kondisi dan tingkat keparahan pasiennya.

Amir adalah salah satunya. Karena kondisi ginjalnya memang sudah rusak, jika melakukan operasi, maka akan membahayakan jiwanya. Akhirnya cuci darah menjadi jalan satu – satunya bagi Amir untuk bertahan hidup.

“Cuci darah itu kan ada yang akut dan kronik. Akut itu membantu fungsi ginjal untuk kembali normal. Kalo udah normal ya berhenti cuci darahnya. Nah kalau saya ini yang kronik. Ginjal nya sudah tidak ada fungsinya, jadi harus mengandalkan alat cuci darah seumur hidup,” ungkap pria 3 orang anak ini ketika ditemui tim Jamkesnews, Sabtu (13/04) siang.

Akhirnya Amir hanya bisa pasrah saja. Sudah ratusan kali dipasang selang bermacam – macam di tangan juga sudah tidak terasa sakit.

“Alhamdulillah, saya ikhlas. Masalah biaya? saya tidak khawatir, sejak pertama kali disarankan cuci darah, saya langsung mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Selama 4 tahun ini pun saya tidak pernah mengeluarkan biaya perawatan lebih dari 51 ribu setiap bulannya,” tutur salah satu Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) ini.

Amir juga mengungkapkan pelayanan kesehatan yang diterimanya sangatlah baik. Perawat – perawat  di ruang Hemodialisa RSUD Selong tersebut pun sangat ramah dan dia merasa betah walaupun harus berbaring berjam – jam.

“Kami di sini semuanya pengguna BPJS Kesehatan. Jadi tidak ada yang dibeda – bedakan. Jika ada pasien umum pun, akan tetap dilayani dengan adil tanpa pilih kasih. Kami semua ada sekitar 11 orang, rasanya sudah seperti keluarga yang sama – sama sedang berjuang bertahan hidup. Saling menguatkan dan saling mensupport,” kata Amir.

ay/hf/Jamkesnews

Narasumber : Amir




Bersama BPJS Kesehatan, Gotong Royong Mengayomi Kesehatan Seluruh Masyarakat

“Saya merasa bangga bisa berkontribusi dalam program – program pemerintah tersebut. Sama – sama bertujuan menjadikan Indonesia yang lebih sehat”

lombokjournal.com —

SELONG   :    Dewi Maracandra Kirana (53), Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sudah 2 tahun terakhir ini ditunjuk sebagai instruktur senam Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Labuhan Haji.

Selain menjadi instruktur senam ia pun kerap kali memberikan penyuluhan di tiga Puskesmas yang berbeda setiap minggunya.

Tentang senam itu Dewi mengatakan, bentuk senamnya yaitu senam bugar lansia, termasuk senam untuk penderita hipertensi, diabetes, osteoporosis, dan sebagainya.

“Setelah senam, peserta akan diberikan edukasi tentang berbagai macam penyakit kronis. Saya mengisi kegiatan tersebut pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, tergantung dari jadwal yang diberikan oleh puskesmasnya,” ujar Dewi yang ditemui oleh tim Jamkesnews Minggu (14/04) pagi bersama salah satu teman instrukturnya, Atik (35).

Wanita yang bekerja di kantor BKKBN Lombok Timur ini juga mengungkapkan, program yang diusung oleh pemerintah tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan derajat kesehatan bagi masyarakat khususnya bagi lansia yang memiliki riwayat atau resiko penyakit hipertensi, diabetes, asam urat, maupun hiperkolesterol.

Selain aktif sebagai instruktur senam prolanis, wanita yang selalu tampak bugar ini juga menjadi salah satu pengurus Klub Jantung Sehat yang merupakan program dari Yayasan Jantung Indonesia.

Lembaga tersebut adalah lembaga yang fokus pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Selain Prolanis ada namanya program senam jantung sehat. Kedua program tersebut saling bersinergi untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat. Prolanis merupakan program BPJS Kesehatan, sedangkan senam jantung sehat merupakan program Yayasan Jantung Indonesia.

“Saya merasa bangga bisa berkontribusi dalam program – program pemerintah tersebut. Sama – sama bertujuan menjadikan Indonesia yang lebih sehat,” ungkap Dewi.

Sebagai PNS, ia terbilang jarang menggunakan kartu JKN – KIS miliknya. Suaminya yang merupakan pekerja swasta pun juga hampir tidak pernah menggunakannya. Namun walaupun begitu ia merasa berkewajiban untuk selalu rutin membayar iuran bulanan.

“JKN – KIS itu wajib dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, dan sebagai warga negara yang baik, ya harus patuh sama aturan yang dibuat pemerintah,” kata Dewi.

Ia mengaku, ekeluarga memang jarang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Walaupun gajinya dan gaji suamiya tetap dipotong untuk iuran per bulannya, Dewi tetap tidak keberatan.  Sebab iuran yang dikeluarkan bisa membantu peserta – peserta JKN – KIS yang lain yang membutuhkan.

“ Saling membantu dengan sistem gotong royong. Benar-benar program yang luar biasa besar manfaatnya,” kata Dewi.

ay/hf/Jamkesnews

 

 




Belasan Tahun Supardi Dampingi Putrinya Melawan Epilepsi, Untung Ada JKN – KIS  

Sebagian besar jenis epilepsi pada anak membutuhkan pengobatan sampai bertahun–tahun.  Sementara itu, penderitanya harus terus menerus minum Obat Anti Epilepsi (OAE) yang telah diresepkan oleh dokter

lombokjournal.com —

SELONG   ;   Ayan atau epilepsi merupakan penyakit saraf kronis yang cukup banyak diderita anak – anak. Penderita epilepsi membutuhkan waktu lama untuk sembuh dari penyakit ini, dan dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.

Ini dialami oleh Baiq Indramayanti (22), warga Desa Padamara Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur.

Di antara hiruk pikuknya pasien yang mengantri di Poli Saraf RSUD dr. R Soedjono, ia tampak menarik perhatian orang–orang sekitar karena terduduk di atas kursi roda yang diikat kain berwarna merah di bagian depannya.

“Kain merah ini sebagai pengaman. Sengaja saya ikatkan di sini, takut nantinya ia jatuh tersungkur ketika kejang-kejangnya kambuh,” ungkap Lalu Supardi (45), yang ditemui oleh tim Jamkesnews, yang tengah mendampingi anaknya untuk kontrol berobat, Sabtu (20/04) pagi.

Ternyata, Baiq Indramayanti gadis belia yang akrab disapa Maya itu adalah penderita epilepsi.

Orang tua tunggal Maya, Lalu Supardi menceritakan, penyakit ini sudah dialami anaknya sejak ia masih  berusia 3 tahun. Hal itu pun berdampak pada pertumbuhan anaknya secara fisik maupun mental.

Walaupun umurnya sekarang sudah beranjak dewasa, namun tingkah laku Maya tampak seperti anak kecil. Tidak bisa berbicara dan hanya dapat duduk di atas kursi roda. Supardi pun bersedia menceritakan kisah anak semata wayangnya tersebut.

Menurut penuturan Supardi, awalnya penyakit anaknya itu hanyalah kejang demam biasa. Karena beberapa hari setelah minum obat di Puskesmas ia dinyatakan sembuh oleh dokter.

“Namun hal itu berlanjut ketika ia sudah sekolah dan duduk di kelas 1 SD, ia jadi sering kejang – kejang dan pingsan tanpa sebab. Kemudian dirujuk ke rumah sakit, dan akhirnya dari situlah saya tahu kalau Maya sakit epilepsi,” cerita Supardi.

Sebagian besar jenis epilepsi pada anak membutuhkan pengobatan sampai bertahun–tahun.  Sementara itu, penderitanya harus terus menerus minum Obat Anti Epilepsi (OAE) yang telah diresepkan oleh dokter.

Tidak hanya satu jenis obat, namun bisa bermacam–macam tergantung keparahan penyakitnya. Karena hal itulah, Supardi akhirnya memutuskan untuk langsung mendaftarkan keluarganya menjadi peserta JKN – KIS tahun 2015 lalu.

“Saya tidak menyangka, hanya dengan uang 25.500 rupiah per bulannya, Maya bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal sampai saat ini. Alhamdulillah sejak rutin minum obat, gejalanya sudah jarang kambuh. Saya sangat bersyukur sekali karena sekarang kehidupannya sudah jauh lebih baik. Walaupun saya hanya kerja jadi buruh serabutan, saya sanggup untuk bayar iuran rutin perbulannya, agar anak saya tetap terus mendapatkan perawatan yang bagus,” tutur Supardi.

Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBU) ini pun mengungkapkan rasa syukurnya karena selama menerima perawatan, anaknya dilayani dengan baik oleh petugas–petugas kesehatan di puskesmas maupun di rumah sakit.

Supardi pun berharap dengan adanya JKN – KIS ini, masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya perlindungan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap warga baik yang sehat maupun yang sakit.

ay/hf/Jamkesnews

Narasumber : Baiq Indramayanti dan Lalu Supardi

 




Royyan Yang Didiagnosa ADHD, Kini Bisa Tersenyum Kembali Berkat JKN–KIS

“Terima kasih JKN-KIS, sekarang Royyan bisa kembali tersenyum dan bermain dengan bebas tanpa dibatasi oleh kondisinya

lombokjournal.com —

SELONG  ;  Ini pengalaman yang dituturkan Rita Purnawati (30), peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN asal Aikmel, Lombok Timur. Rita adalah seorang ibu yang harus berjuang sendiri membesarkan seorang anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD).

Ia mengungkapkan, dengan menjadi peserta Program JKN–KIS, anaknya akhirnya bisa menjalani perawatan di rumah sakit tanpa harus dipusingkan dengan masalah biaya yang besar.

Jadi program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat  (JKN–KIS) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan terbukti memberikan perlindungan dan meringankan beban finansial bagi masyarakat yang sakit. Khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu.

Rita menuturkan, anaknya didiagnosa ADHD sejak ia berumur 3 tahun. Tingkah lakunya memang tidak seperti anak seusianya. Sangat hiperaktif dan susah dikontrol.

“Badannya seperti dikendalikan oleh mesin dan tidak punya rasa lelah. Ia juga masih belum bisa mengucapkan kata dengan benar, padahal seumurannya itu paling tidak harusnya sudah bisa menyusun satu atau dua kata,” ceritanya kala diwawancarai oleh tim Jamkesnews, Selasa (30/04) 2019.

Rita mengungkapkan, gangguan yang dialami oleh anaknya, M. Royyan Adrian Pratama (10) sekarang sudah mulai berkurang semenjak menerima berbagai macam perawatan dan terapi di RSUD Provinsi Mataram.

“Sebelumnya Royyan dapat rujukan dari RSUD Selong untuk dilakukan pemeriksaan CT Scan di RSUD Provinsi Mataram untuk mengetahui perkembangan kondisinya. Setelah diperiksa oleh dokter spesialis, akhirnya dilakukan terapi khusus untuk anak-anak penderita ADHD. Setiap 2 kali seminggu, Royyan rutin ikut terapi bermain dan fisioterapi untuk melatih mental, perilaku, dan cara berkomunikasinya,” tutur Rita.

Pasca mengikuti terapi selama kurang lebih setahun lamanya, kondisi Royyan sudah jauh lebih baik. Perilakunya sudah lebih terkendali dan dapat dikontrol. Ia pun sudah mulai mahir berhitung dan membaca buku, walaupun untuk berkomunikasi dengan orang lain secara langsung, ia harus dibantu oleh ibu atau bibinya.

“Alhamdulilllah, saya bersyukur sekali. Saya dan Royyan benar-benar merasa tertolong karena mendapat bantuan dari pemerintah dengan menjadi peserta JKN – KIS. Apalagi biaya pengobatan dan perawatannya yang lama  pastinya sangat mahal. Dihitung – hitung bisa sampai belasan juta rupiah. Kalau saya bayar sendiri, rasanya tidak mungkin,” ungkap ibu dua anak tersebut.

Manfaat besar dari Program JKN – KIS telah membantu meringankan beban Rita sebagai orang tua tunggal, yang bekerja hanya sebagi buruh lepas untuk menghidupi anak-anaknya. Ia tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena dengan program BPJS Kesehatan, anaknya kini bisa kembali bersekolah dan dapat bermain layaknya anak–anak seusianya.

“Terima kasih JKN-KIS, sekarang Royyan bisa kembali tersenyum dan bermain dengan bebas tanpa dibatasi oleh kondisinya. Saya harap ia dapat tumbuh besar dengan baik dan pintar seiring dengan Program JKN – KIS yang akan semakin baik dan terus memberikan perlindungan bagi masyarakat,” tutupnya.

ay/hf/Jamkesnews

Narasumber ; Rita Purnawati




Kegiatan Hapus Tato, 2 Ribu Warga Sudah Mendaftar

Direncanakan kegiatan hapus tato akan berlangsung selama 15 hari, hingga pada tanggal 10 November 2019

MATARAM.lombokjournal.com  —

Kegiatan ‘Hapus Tato’ yang digelar Yayasan Berdayakan Sesama (YBS), mendapat tanggapan antusias masyarakat

Kerjasama YBS dengan Islamic Medical Service (IMS) Pusat Jakarta dan bersinergi dengan Komunitas Lima Waktu Creative Studio, merupakan kegiatan hapus tato perdana dalam rangkaian roadshow hapus tato se Nusa Tenggara Barat.

“Alhamdulillah, hari ini kita resmi memulai program hapus tato, masyarakat begitu antusias karena ini adalah kegiatan yang sangat mereka tunggu-tunggu, dua tahun lebih lamanya,” terang Direktur Utama YBS, M. Fahrurrozi, Sabtu (26/10) 2019 di Mataram.

Kegiatan hapus tato dilaksanakan di Graha Bhakti Praja komplek Kantor Gubernur, hari Sabtu 26 Oktober 2019. Kemudian Kedai Kamila Gomong Mataram Ahad 27 Oktober 2019. Dan, Gedung Balai Islamic Center Mataram Depan Kantor BAZNAS Provinsi NTB Senin 28 Oktober 2019.

Panitia mencatat, warga yang telah mendaftarkan diri secara online mencapai 2.000 lebih.

“Tentu ini adalah angka yang sangat fantastis bagi kami sebagai penyelenggara. Khusus Kota Mataram mencapai 800 lebih peserta,” imbuh Fahrurrozi.

Direncanakan kegiatan hapus tato akan berlangsung selama 15 hari, hingga pada tanggal 10 November 2019.

Sisi yang membedakan rangkaian hapus tato di Jawa dan Bali, yakni adanya kegiatan Inspirasi Kuatkan Sahabat Hijrah.

Menurut Fahrurrozi, Inspirasi Kuatkan Sahabat Hijrah dimaksudkan untuk memberikan motivasi dan support moral terhadap sahabat hijrah. Sehingga tidak saja mereka semangat hari ini dengan menghapus tatonya, tapi juga termotivasi untuk hidup lebih baik.

“Acara ini dimeriahkan dengan kehadiran Kang Agus Idward dari Jakarta, Naja Hudia dari Mataram, seorang hafizd cilik Indonesia dan juga dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam hal ini adalah Gubernur NTB,” jelas Fahrurrozi.

Secara keseluruhan Program Hapus Tato YBS ini didukung banyak pihak, ada Bank Muammalat Indonesia, Baznaz Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten Kota se-Lombok, MTT Foundation, Baitul Maal Hidayatullah, dan Baitul Maal Muamalat.

AYA




Menkes Terawan Serahkan Gaji Pertamanya untuk BPJS Kesehatan

Tidak menutup kemungkinan langkah tersebut akan diikuti secara masif oleh karyawan di Kementerian Kesehatan

lombokjournal.com —

MATARAM   ;  Gaji pertama dan tunjangan kinerja Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan

Menteri Kesehatan Terawan menyatakan akan menyerahkan.gaji dan tunjangan kinerja itu usai kunjungannya ke Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jumat (25/10) 2019.

Langkah tersebut adalah inisiatif pribadinya untuk membantu kondisi keuangan BPJS Kesehatan.

Menurut Terawan langkah menyerahkan gaji pertama dan tunjangan kinerja (tunkin) kepada BPJS Kesehatan tersebut merupakan pelaksanaan dari Gerakan Moral, program yang diusung Kementerian Kesehatan untuk mengatasi defisit BPJS Kesehatan.

“Kementerian Kesehatan akan mengawalinya untuk membantu defisit ini, pribadi saya, saya akan serahkan gaji pertama saya sebagai menteri dan tunjangan kinerja [tunkin] saya, Pak Sekretaris Jenderal [Sekjen Kementerian Kesehatan] juga menyetujuinya,” ujar Terawan.

Terawan pun menjelaskan, tidak menutup kemungkinan langkah tersebut akan diikuti secara masif oleh karyawan di Kementerian Kesehatan.

Para karyawan diperbolehkan secara sukarela menyerahkan gajinya kepada BPJS Kesehatan.

Terkait langkah tersebut, Terawan menjelaskan bahwa pihak BPJS Kesehatan akan meninjau pemberian ‘bantuan’ tersebut apakah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dia menegaskan, langkah tersebut merupakan inisiatif pribadi dan bukan institusional, sehingga perlu ditinjau lebih lanjut.

“Mungkin kalau dihitung enggak banyak, tapi enggak tahu karena ukuran banyak dan tidak itu kan angka. Nanti kalau BPJS Kesehatan apakah ikut gerakan moral ini, Bapak Fachmi Idris [Direktur Utama BPJS Kesehatan] bisa menjawabnya,” ujar Terawan.

Pada hari kedua masa kerjanya, Terawan mengunjungi Kantor Pusat BPJS Kesehatan dan melakukan rapat tertutup dengan badan tersebut.

Fachmi menjelaskan bahwa kunjungan Menteri Kesehatan tersebut merupakan bentuk pelaksanaan tugas khusus dari presiden untuk menyelesaikan masalah BPJS Kesehatan.

Tugas khusus tersebut terdiri dari penyelesaian masalah stunting, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan, harga obat yang masih tinggi, dan rendahnya penggunaan alat kesehatan dalam negeri.

Isu BPJS Kesehatan menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat memanggil Terawan ke istana,  Selasa (22/10) 2019).

Keesokan harinya, Terawan dinobatkan sebagai Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Maju.

Rr (sumber ; Bisnis.com)




JKN–KIS, Menyalurkan Semangat Dan Menebar Manfaat Bagi Sesama

“Jumlah iurannya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat besar yang kami dapatkan selama ini. Terimakasih JKN–kIS”

lombokjournal.com —

SELONG   ;     Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tampaknya hal itu sangat dirasakan oleh Siti Aisyah (40).

Tiga tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2016, ia harus menahan pahitnya kehidupan karena harus ditinggal oleh suaminya yang meninggal karena komplikasi penyakit diabetes.

Sudah sejak lama, suaminya H. Idham (55) menderita penyakit Diabetes Mellitus. Penyakit yang ditandai oleh tingginya kadar gula dalam darah ini membuat H. Idham harus bolak–balik opname ke rumah sakit.

Ia menuturkan, Sudah sejak dulu suaminya sakit gula. Mungkin sejak 10 tahun yang lalu. Satu jari kakinya bahkan sempat diamputasi karena penyakitnya itu.

“Awalnya cuma luka kecil, tapi lama – lama kok jadi tambah parah, tidak kunjung sembuh bahkan sampai ada baunya. Karena dikhawatirkan akan menyebar ke bagian kaki yang lain, akhirnya dokter memutuskan untuk mengamputasi jari kelingking kaki kanannya,” cerita Siti yang ditemui di warung tempatnya berjualan, Senin (18/03).

Saat itu, Siti dan keluarganya belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Ketika itu penghasilan dari pekerjaan H. Idham sebagai kontraktor tidak memberatkan mereka untuk membayar seluruh biaya pengobatan.

Namun lama kelamaan seiring waktu berjalan, penyakit yang diderita suaminya semakin parah hingga berdampak merusak organ – organ tubuhnya yang lain. Uang yang mereka habiskan untuk berobat pun semakin lama semakin besar. A

Akhirnya atas saran anggota keluarganya, Siti Aisyah memutuskan untuk mendaftarkan keluarganya ke BPJS Kesehatan.

Siti Aisyah mengenang, tahun 2016 ia bersama keluarganya mulai terdaftar sebagai peserta JKN – KIS. Gaji suaminya sudah habis untuk biaya perawatan yang hampir ratusan juta.

“ Bersyukur sekali rasanya kala itu beban kami diringankan oleh BPJS Kesehatan. Namun, selang beberapa minggu setelahnya, suami saya meninggal dunia karena sakit jantung. Kata dokter itu karena komplikasi dari penyakit diabetesnya,” kenang wanita 3 orang anak ini.

Takdir memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Setelah suaminya meninggal, ia harus banting tulang untuk menghidupi 3 orang anaknya dengan berjualan di warung.

Namun, hal itu tidak membuatnya untuk menyerah. Dengan kondisi tubuhnya yang masih sehat, ia masih mampu untuk bekerja mencari nafkah.

“Kejadian itu terus membuat saya berpikir, entah akan seperti apa nasib kami, jika sampai sekarang belum mempunyai kartu JKN – KIS. Setelah ayahnya meninggal, anak kedua saya Linda (11) sering sakit – sakitan dan harus beberapa kali menginap di rumah sakit. Alhamdulillah, sekarang saya tidak perlu khawatir, kan sudah ada yang menanggung,” ungkap Siti sambil menunjukkan kartu JKN – KIS miliknya.

Di akhir pertemuannya dengan tim Jamkesnews, Siti Aisyah mengungkapkan akan terus rutin memenuhi kewajibannya untuk membayar iuran.

Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Demi menyiapkan diri dan keluarganya dari hal – hal yang tidak diinginkan jika terjadi kelak.

“Walaupun saya hanya berjualan di warung saya masih mampu untuk tetap rutin membayar iuran kami berempat. Saya tidak mau menunggak, nanti repot ketika sakit. Jumlah iurannya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat besar yang telah kami dapatkan selama ini. Terimakasih JKN – KIS,” kata Siti.

ay/hd/Jamkesnews

Narasumber : Siti Aisyah




Salmin Menggunakan Kartu Sakti JKN-KIS, Untuk Tangkal Hipertensi

Kartu JKN – KIS yang telah didapatkan Salmin sejak tahun 2016 tersebut membuat ia dan keluarga kecilnya selalu tenang  tanpa khawatir apabila sakit, karena sudah memiliki perlindungan kesehatan

lombokjournal.com —

SELONG   ;    Salmin (43), pekerja wiraswasta asal Desa Jerowaru ini memang sudah lama menderita hipertensi. Pekerjaan yang dilakukannya terkadang membuatnya sering merasa kelelahan dan jarang memperhatikan kondisi tubuhnya.

Namun semenjak Salmin dirawat di rumah sakit akibat kelelahan dan tekanan darah yang tinggi, membuatnya harus mengutamakan kesehatannya.

Darah tinggi atau hipertensi adalah penyakit yang mayoritas diderita oleh masyarakat Indonesia, khususnya pada kalangan usia dewasa sampai lanjut usia.

Seseorang dikatakan memiliki tekanan darah tinggi ketika hasil pemeriksaan tekanan darahnya mencapai 140 mmHg atau lebih pada tekanan sistolik, dan 90 mmHg atau lebih pada tekanan diastolik.

Hal itu bisa disertai dengan munculnya gejala nyeri pada bagian tengkuk atau leher, sakit kepala yang parah disertai mual, nyeri dada hingga sulit bernapas.

Menurut Salmin, sebelumnya ia tidak tahu kalau punya tekanan darah tinggi. Mungkin karena iabekerja terlalu berat, sehingga drop, kemudian masuk rumah sakit.

“Saya jadi tahu kalau selama ini tekanan darah saya tinggi sekali, waktu itu 170/100 mmHg. Pantas saja saya sering pusing, nyeri dada, dan merasa nyeri di bagian tengkuk, seperti ada beban berat menimpa leher saya,” tuturnya.

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, bapak satu anak ini pun lantas harus mulai rutin kontrol ke puskesmas atau rumah sakit dan minum obat penurun tekanan darah setiap harinya. Makanan dan aktivitas yang dilakukannya sehari – hari pun harus mulai terkontrol.

Salmin tidak boleh merokok, mengurangi makanan – makanan yang bersantan dan yang asin – asin. Bahkan harus rutin olahraga, paling sedikit 1 kali seminggu. Obatnya juga harus diminum setiap hari, tidak boleh terlewat sehari.

“Syukur ada istri saya yang selalu mengingatkan. Yang utama sih, saya tidak khawatir masalah uang yang harus saya keluarkan setiap kontrol ke dokter. Sudah punya kartu JKN – KIS. Semuanya gratis. Saya tidak keluar biaya sedikitpun sejak dirawat di rumah sakit sampai kontrol dan obat rutin setiap bulannya,” cerita Salmin, peserta JKN – KIS yang termasuk dalam segmen PBPU.

Di tengah wawancaranya dengan tim jamkesnews, Salmin mengungkapkan sangat bersyukur karena dapat menjadi bagian dari program BPJS Kesehatan.

Kartu JKN – KIS yang telah didapatkannya sejak tahun 2016 tersebut membuat ia dan keluarga kecilnya selalu tenang  tanpa khawatir apabila sakit, karena sudah memiliki perlindungan kesehatan.

“Saya harap, program yang sangat baik ini akan terus berlanjut untuk memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat dengan prinsip gotong royongnya. Sekali lagi terima kasih JKN – KIS,” tutup Salmin.

ay/hd/Jamkesnews

Narasumber : Salmin




Mery Menggunakan Fitur Mobile JKN-KIS, Memudahkan Transaksi Pelayanan

“Cara mudah dan praktis untuk deteksi dini penyakit kronis, keren sekali. Besok saya ajak teman–teman saya untuk ikut menggunakan aplikasi ini”

 lombokjournal.com —

SELONG   ;    Mar Atun Sholihah (18), mahasiswa Universitas Mataram, yang menjadi salah satu pengguna aplikasi Mobile JKN.

Aplikasi Mobile JKN mempermudah peserta JKN–KIS melakukan beberapa transaksi pelayanan, tanpa harus datang dan mengantri ke kantor BPJS Kesehatan.

Kesibukan Mery, sapaan akrabnya, dengan kegiatan di kampus maupun luar kampus, membuat gadis asal Selong, Lombok Timur ini tidak mau kerepotan apabila harus ke kantor BPJS Kesehatan dan mengantri berjam–jam.

Aplikasi ini dapat digunakan oleh peserta dimana dan kapan pun tanpa batasan waktu.

Caranya pun mudah, dengan hanya mengunduh aplikasi Mobile JKN secara gratis di playstore atau appstore bagi pengguna smartphone, lalu melakukan registrasi. Setelah itu langsung dapat menikmati fitur–fitur yang tersedia.

“Sekarang kan ada mobile JKN, aplikasi ini memudahkan saya melakukan perubahan data dan perubahan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Bisa kapanpun dan dimanapun. Semuanya praktis berkat aplikasi ini,” kata Mery, ketika ditemui di kediamannya, Minggu (24/03) 2019.

Mery adalah anak dari Peserta JKN – KIS yang masuk dalam segmen Pekerja Penerima Upah (PPU). Orang tuanya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ia mengungkapkan, ayahnya rutin mengikuti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) setiap minggunya. Ketika diwawancarai mengenai JKN – KIS, Mery tidak merasa kesulitan karena sudah familiar dengan program yang dikelola BPJS Kesehatan tersebut.

Banyak informasi yang bisa diperoleh dari aplikasi ini, cek status kepesertaan, perubahan data, dan fitur KIS digital yang tidak dapat ditemukan di kartu KIS yang berbentuk fisik.

Tidak hanya itu, mobile JKN juga menyediakan fitur skrining kesehatan yang dapat dinikmati oleh setiap penggunanya. Fitur skrining ini bertujuan untuk mendeteksi gejala penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal kronik, dan jantung koroner.

“Saya sudah mencoba fitur skriningnya. Sangat menarik! Hanya dengan menjawab beberapa pertanyaan saya bisa melihat langsung hasilnya. Cara mudah dan praktis untuk deteksi dini penyakit kronis, keren sekali. Besok saya akan ajak teman – teman saya untuk ikut menggunakan aplikasi ini,” ungkapnya.

Adapun dengan adanya fitur skrining kesehatan tersebut, penggunanya dapat mengetahui hasilnya secara langsung.

Apabila hasilnya adalah risiko rendah maka peserta JKN – KIS akan diingatkan untuk tetap menjaga pola hidup sehat dan melakukan akrivitas fisik rutin minimal 30 menit/hari.

Namun apabila hasilnya adalah resiko sedang atau tinggi maka peserta akan dihimbau untuk konsultasi ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk mendapatkan penjelasan terhadap hasil skrining riwayat kesehatan.

“Kita sebagai generasi muda harus pintar – pintar memperhatikan kondisi tubuh kita. Mumpung masih muda dan masih sehat, yuk cek kesehatan dari sekarang. Deteksi dini penyakit jadi lebih mudah dengan skrining kesehatan di Mobile JKN,” ungkap Mery.

ay/hd/Jamkesnews

 

 




Program JKN–KIS Mengembalikan Keceriaan Lalu Rafinza

“Saya sangat bersyukur karena telah menjadi peserta Program JKN–KIS. Saya benar–benar merasa terbantu”

lombokjournal.com —

SELONG   ;    Program JKN–KIS terbukti mampu memberikan perlindungan dan meringankan beban finansial masyarakat.

Terutama masyarakat yang menderita penyakit yang berat dan membutuhkan pengobatan jangka panjang.

Pengalaman Yanti (42) dan anaknya Lalu Rafinza (10), yang merupakan peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) asal Desa Rarang, Kecamatan Terara.

Lalu Rafinza atau yang akrab dipanggil Finza adalah anak kedua Yanti yang sekarang sedang duduk di kelas 4 SD. Pada usia 8 tahun, Finza pernah didiagnosis menderita Tuberkulosis Kutis Verukosa atau biasa disebut dengan TBC Kulit.

Sebagian besar kasus Tuberculosis (TBC) memang terjadi pada paru–paru, tetapi bakteri penyebab TBC yaitu Mycobacterium Tuberculosis juga dapat menyerang bagian tubuh lainnya, termasuk kulit.

Gejala penyakit ini berupa munculnya beruntus di kulit dan berwarna kemerahan. Sering ditemukan pada bagian lutut, tungkai, dan kaki penderitanya.

Saat bertemu dengan Tim Jamkesnews Minggu sore (30/03), Ibu yang merupakan penggiat kegiatan posyandu di desanya ini menceritakan kisah anaknya dalam menjalani pengobatan penyakit yang terbilang jarang terjadi ini.

“Awalnya Finza sempat demam beberapa hari, setelah itu muncul bisul – bisul kecil di bagian lutut kanannya dan pergelangan tangannya. Semakin lama semakin banyak, seperti luka borok. Saya tidak pernah terpikir kalau itu penyakit TB kulit. Setelah diperiksa ke rumah sakit baru saya percaya,” Ccerita Yanti.

Saat itu Finza harus dirujuk ke RSUD Kota Mataram. Selama 4 hari dan ia harus menerima perawatan intensif di ruang isolasi. Setelah keluar dari rumah sakit pun, Finza harus terus – menerus mengkonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kurang lebih selama 6 bulan penuh.

Yanti mengungkapkan kesedihannya, ketika mengingat kejadian itu. Penyakit tersebut menyebabkan pertumbuhan Finza menjadi terganggu.

Untuk anak seusianya, seharusnya Finza memiliki bobot tubuh yang normal. Nyatanya tubuh Finza menjadi lebih kurus dan lebih kecil dibandingkan dengan teman – temannya yang lain.

Namun, ia tetap bersyukur karena sekarang Finza dapat sembuh total dari penyakitnya.

“Alhamdulillah, sekarang Finza sudah sembuh dan sehat kembali. Saya sangat bersyukur karena telah menjadi peserta Program JKN–KIS. Saya benar – benar merasa terbantu. Apalagi biaya pengobatannya tidak terbilang murah dan butuh waktu lama untuk sembuh.  Saya sangat lega, Finza bisa menjalani pengobatan tanpa harus dipusingkan dengan masalah biaya yang besar,” ungkap ibu tiga anak tersebut.

Yanti mengucapkan terima kasih kepada program JKN–KIS yang sudah menanggung semua biaya pengobatan anaknya.

Dikatakannya, kalau tidak ada JKN – KIS, mungkin sekarang anaknya tidak bisa sekolah dan tidak bisa melakukan kegiatan kesukaannya. Finza suka main bola, ia sering ikut pertandingan sepak bola. Minggu lalu, ia dan timnya bahkan menang turnamen antar sekolah.

“Bangga sekali rasanya melihat ia kembali sehat dan aktif seperti anak – anak lainnya. Berkat program JKN – KIS yang baik ini, Finza bisa sembuh dan kembali bersemangat menjalani aktivitasnya,” tutur Yanti di akhir pembicaraannya dengan Tim Jamkesnews.

ay/hf/Jamkesnews

Narasumber : Yanti