Virus Corona, Dinas Kesehatan NTB Evaluasi Hasil Posko Kewaspadaan

“Semua kab/kota itu punya ruang isolasi tapi jarang dipakai, makanya dalam rapat ini kita minta diaktifkan kembali”

MATARAM.lombokjournal.com — Dinas Kesehatan Provinsi menggelar Rapat guna mengevaluasi hasil Posko kewaspadaan Virus yang sudah satu bulan berjalan di masing-masing Kabupaten/kota yang ada di NTB.

Dari hasil rapat tersebut diketahui, ada berapa orang yang sudah diawasi berapa orang yang dipantau selama posko dibuka.

“Setidaknya dalam pantauan ada 2 orang diawasi, 82 orang dipantau, karena 110 ribu orang masuk ke NTB, melalui 3 bandara dan di 8 pelabuhan, itu dari sisi orang,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Nurhandini Ekawati, usai menggelar rapat, Selasa (03/03/20) di kantor Dinas Kesehatan NTB.

Rapat yang dihadiri oleh seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota, yang menyepakati beberapa hal yang harus dikerjakan oleh Dinas kabupaten kota.

“Kita menyepakati percepatan sosialisasi kepada banyak pihak, sekolah, organisasi masyarakat, pelaku pariwisata dan agen-agenya, kemudian juga kepada semuanya untuk memanfaatkan semua sarana yang ada seperti media cetak, tv, media sosial serta memakai tokoh-tokoh agama,” ujar Eka.

Menurutnya, selain hal tersebut perlu dilakukan prilaku hidup bersih dan sehat sesuai aturan, etika batuk, kalau sakit pasang masker.

Kendati  sekarang masker mulai langka, ia minta masyarakat jangan panik.

“Yang penting masker itu bagi yang sakit agat tidak menular kepada yang lain. Menghindari tempat-tempat yang banyak orangnya, terpaksa kalau berada di kerumunan pakai masker,” kata Eka.

Dalam melakukan pengawasan atau perawatan  rumah sakit, saat ini sudah ditunjuk rumah sakit utama yang akan mearawat pasien dalam pengawasan (PDP).

“Kita pakai RSUP Mataram dan RSUP NTB,” kata Eka.

Eka menghimbau kepada rumah sakit  daerah melihat kembali ruang isolasinya, dan menyesuaikan kembali ruang isolasinya degan aturan Permenkes.

BACA JUGA ; Diduga Terpapar Virus Corona, Pasien Dari Lotim Masih Diisolasi

“Semua kab/kota itu punya ruang isolasi tapi jarang dipakai, makanya dalam rapat ini kita minta diaktifkan kembali,” katanya.

AYA

 

 

 




Kapolsek Mataram Manfaatkan Kemudahan Layanan Kesehatan Melalui Aplikasi Mobile-JKN

Sebagai seorang aparatur negara yang merupakan peserta JKN-KIS yang terdaftar sejak era askes, Muhammad Yusuf merasakan banyak perubahan, terutama untuk pelayanan di fasilitas kesehatan

Narasumber : Muhammad Yusuf

lombokjournal.com —

MATARAM  ;  Pada era digital, kehidupan manusia diwarnai dengan berbagai kemudahan. Hal-hal yang terlihat sulit bahkan mungkin mustahil dilakukan pada masa sebelumnya, kini menjadi nyata.

Kemudahan-kemudahan itu diwujudkan oleh BPJS Kesehatan untuk Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) melalui Aplikasi Mobile-JKN.

Aplikasi Mobile JKN yang dapat di unduh melalui Playstore dan Appstore ini sangat membantu seluruh peserta JKN-KIS, khususnya bagi peserta yang tidak sempat untuk mengunjungi Kantor BPJS Kesehatan.

Muhammad Yusuf (56), Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Mataram, salah satu peserta progam JKN-KIS yang memanfaatkan kemudahan melalui Aplikasi Mobile-JKN.

Saat ditemui Tim Jamkesnews, Kepala Kepolisian Sektor Mataram ini memberikan apresiasi kepada BPJS Kesehatan yang telah menciptakan Aplikasi Mobile JKN yang sangat membantu dirinya dan anggota kepolisian lainnya.

Menurut Muhmmad Yusuf, Aplikasi Mobile-JKN sangat membantunya dan teman-teman anggota kepolisian lainnya.

Karena lewat aplikasi Mobile JKN ini, Yusuf mngaku  bisa merubah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di tempatnya bertugas.

“Sehingga saya tidak perlu antri di Kantor BPJS Kesehatan, cukup duduk saja di kantor atau di rumah saya bisa langsung pindahkan FKTP saya. Selain itu yang saya dengar dari sosialisasi yang diberikan oleh BPJS Kesehatan, sekarang makin banyak lagi fitur terbaru yang salah satunya adalah mengetahui ketersediaan tempat tidur dirumah sakit apabila akan rawat inap. Tapi semoga saja saya dan anggota keluarga sehat-sehat dan tidak menggunakan Kartu JKN-KIS,” ujar Yusuf sambil tersenyum.

Sebagai seorang aparatur negara yang merupakan peserta JKN-KIS yang terdaftar sejak era askes, ia merasakan banyak perubahan, terutama untuk pelayanan di fasilitas kesehatan.

Dukungan untuk BPJS Kesehatan pun tidak lupa ia sampaikan saat di wawancara, Kamis (23/01/20).

“Program JKN-KIS ini sangat dirasakan manfaatnya bagi semua golongan masyarakat terutama masyarakat yang kurang mampu, mengingat biaya pelayanan kesehatan dan berobat cukup mahal,” uangkp Yusuf.

Menurut Yusuf, agar program ini bisa memberikan manfaat yang berkelanjutan, masyarakat  harus sama-sama menjaga dan menyukseskan program pemerintah ini.

“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan jaminan kesehatan. Untuk itu kami sangat mendukung penuh program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan,” ungkap Yusuf.

 (ay/yn/Jamkesnews)




Kartu JKN-KIS Membantu Kemoterapi Miji, Penderita Kanker Nasofaring

Miji bekerja sebagai perawat di salah satu puskesmas di wilayah Lombok Tengah yang sehari-hari menangani pasien BPJS Kesehatan kini merasakan sendiri manfaat dari Program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan

Narasumber : Miji,Penderita Kanker Nasofaring

lombokjournal.com —

MATARAM   ;    Penyakit kanker sudah terkenal di kalangan masyarakat sebagai salah satu penyakit yang paling mematikan selain penyakit jantung, stroke, hypertensi dan diabetes. Namun, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan di dunia ini. Selama kita percaya bahwa kita bisa sembuh, maka kemungkinan untuk sehat kembali masih terbuka.

Seperti yang telah dirasakan oleh Miji seorang pria berusia 51 tahun ini merupakan salah satu Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS)  yang menderita kanker nasofaring. Kanker nasofaring sendiri adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut.

Miji bekerja sebagai perawat di salah satu puskesmas di wilayah Lombok Tengah yang sehari-hari menangani pasien BPJS Kesehatan kini merasakan sendiri manfaat dari Program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.

“Saya mengidap kanker nasofaring sejak tahun 2019, setelah dokter mendiagnosa penyakit saya, dokter menyarankan untuk melakukan kemoterapi sebanyak 8 kali. Saat dokter menyarankan seperti itu saya tidak langsung melakukan kemoterapi, karena saya tahu biaya kemoterapi sangat mahal, sehingga saya dan istri pun banyak meminta pendapat dari saudara maupun kerabat terdekat. Mereka pun menyarankan untuk menggunakan Kartu JKN-KIS karena pengalamannya yang di tanggung penuh oleh BPJS Kesehatan saat sakit.” ujarnya.

Akhirnya Ia memutuskan untuk melakukan kemoterapi dengan menggunakan Kartu JKN-KIS. untuk mendapatkan pelayanan kemoterapi ia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Nusa Tenggagara Barat. namun malang, pelayanan kemoterapi tahap ke-2 belum bisa di dapatkanya di karenakan ia mengalami gangguan hati akibat proses kemoterapi tahap pertama, yang mana pelayanannya juga di jaminkan oleh program JKN-KIS..

“Dari semua tindakan yang saya dapatkan, tidak ada satu rupiah pun saya mengeluarkan biaya,” ungkap Miji sambil berkaca-kaca saat ditemui di RSUD Provinsi NTB, pada Selasa (18/02/20).

Ungkapan syukur dan terima kasih pun terus diucapkan oleh miji yang sangat terbantu sekali oleh Program JKN-KIS.

“Kalau seandainya saya tidak memiliki kartu JKN-KIS mungkin saya tidak akan berani untuk melakukan kemoterapi ini, saya pasrahkan semua kepada Allah SWT. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BPJS Kesehatan yang telah banyak sekali menolong penderita kanker seperti saya, sehingga saya masih bertahan hidup sampai dengan sekarang,” tutup Miji.

 (dh/yn/Jamkesnews)




Kartu JKN-KIS Membantu Kemoterapi Miji, Penderita Kanker Nasofaring

Miji bekerja sebagai perawat di salah satu puskesmas di wilayah Lombok Tengah yang sehari-hari menangani pasien BPJS Kesehatan kini merasakan sendiri manfaat dari Program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan

Narasumber : Miji,Penderita Kanker Nasofaring

lombokjournal.com —

MATARAM   ;    Penyakit kanker sudah terkenal di kalangan masyarakat sebagai salah satu penyakit yang paling mematikan selain penyakit jantung, stroke, hypertensi dan diabetes.

Namun, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan di dunia ini. Selama kita percaya bahwa kita bisa sembuh, maka kemungkinan untuk sehat kembali masih terbuka.

Seperti yang telah dirasakan oleh Miji seorang pria berusia 51 tahun ini merupakan salah satu Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS)  yang menderita kanker nasofaring.

Kanker nasofaring sendiri adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut.

Miji bekerja sebagai perawat di salah satu puskesmas di wilayah Lombok Tengah yang sehari-hari menangani pasien BPJS Kesehatan kini merasakan sendiri manfaat dari Program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.

“Saya mengidap kanker nasofaring sejak tahun 2019, setelah dokter mendiagnosa penyakit saya, dokter menyarankan untuk melakukan kemoterapi sebanyak 8 kali. Saat dokter menyarankan seperti itu saya tidak langsung melakukan kemoterapi, karena saya tahu biaya kemoterapi sangat mahal, sehingga saya dan istri pun banyak meminta pendapat dari saudara maupun kerabat terdekat. Mereka pun menyarankan untuk menggunakan Kartu JKN-KIS karena pengalamannya yang di tanggung penuh oleh BPJS Kesehatan saat sakit.” ujarnya.

Akhirnya Ia memutuskan untuk melakukan kemoterapi dengan menggunakan Kartu JKN-KIS. untuk mendapatkan pelayanan kemoterapi ia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Nusa Tenggagara Barat.

Namun malang, pelayanan kemoterapi tahap ke-2 belum bisa di dapatkanya di karenakan ia mengalami gangguan hati akibat proses kemoterapi tahap pertama, yang mana pelayanannya juga di jaminkan oleh program JKN-KIS.

“Dari semua tindakan yang saya dapatkan, tidak ada satu rupiah pun saya mengeluarkan biaya,” ungkap Miji sambil berkaca-kaca saat ditemui di RSUD Provinsi NTB,  Selasa (18/02/20).

Ungkapan syukur dan terima kasih pun terus diucapkan oleh miji yang sangat terbantu sekali oleh Program JKN-KIS.

“Kalau seandainya saya tidak memiliki kartu JKN-KIS mungkin saya tidak akan berani untuk melakukan kemoterapi ini, saya pasrahkan semua kepada Allah SWT. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BPJS Kesehatan yang telah banyak sekali menolong penderita kanker seperti saya, sehingga saya masih bertahan hidup sampai dengan sekarang,” tutup Miji.

 (dh/yn/Jamkesnews)




Tata Kelola Kearsipan BPJS Kesehatan, Mendapat Predikat ‘Memuaskan’

“Di era keterbukaan informasi saat ini, perlu terus ditanamkan rasa kepedulian terhadap pengelolaan dokumen dan arsip yang baik. Hal tersebut juga harus dibarengi dengan inovasi dalam pelayanan informasi publik, karena menjadi salah satu modal dasar sebuah kesuksesan organisasi”

lombokjournal.com —

JAKARTA   —   Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) memberi predikat ‘memuaskan’ bagi BPJS Kesehatan dalam Anugerah Pegawasan Arsip Nasional Tahun 2019.

Penghargaa itu diberika untuk kategori lembaga tinggi negara, lembaga setingkat kementerian, lembaga non-struktural, dan lembaga penyiaran publik berdasarkan Hasil Pengawasan tahun 2019.

Muhammad Iqbal Anas Ma’ruf

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI, Tjahyo Kumolo, menyampaika lagsung peghargaaan itu yang diterima oleh Asisten Deputi Bidang Komunikasi Internal dan Administrasi Badan BPJS Kesehatan, Dewi Kurniawijayati, di Surakarta beberapa waktu lalu.

M Iqbal Anas Ma’ruf,  Kepala Humas BPJS Kesehatan menjelaskan, penghargaan ini diberikan berdasarkan nilai hasil pengawasan kearsipan pada kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Penghargaa itu diberikan sebagai salah satu upaya mengukur kesesuaian antara penerapan standar kearsipan di lingkungan pencipta arsip dengan peraturan perundang-undangan di bidang kearsipan.

“Sebanyak 23 kementerian dan 90 lembaga lainnya, menerima penghargaan tersebut salah satunya BPJS Kesehatan yang dinilai memiliki tata kelola arsip yang sangat baik dan telah memenuhi ketentuan di antaranya telah diimplementasikannya 5 pedoman kearsipan dalam penciptaan hingga penyusutan,” kata Iqbal dalam keterangan tertulis yang dikirim ke media, Jumat (28/02/2020).

Menurut Iqbal, dalam menjalankan pelayanan publik yang prima, juga perlu dibarengi dengan pengelolaan arsip yang tertib.Dengan demikian  dapat mewujudkan transparansi dan akuntabilitas yang baik.

Pengelolaan kearsipan yang baik menjadi salah satu indikator kinerja bagi lembaga pemerintah baik pusat maupun daerah dalam melaksanakan reformasi birokrasi.

Lebih jauh dijelaskan, salah satu upaya yang dilakukan pihak BPJS Kesehatan dalam menerapkan prinsip Good Governance salah satunya adalah melalui pengelolaan kearsipan yang sesuai dengan ketentuan.

“BPJS Kesehatan sebagai badan hukum publik yang memasuki tahun ke-7 dalam menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) terus mengembangkan inovasi terkait tata kelola kearsipan yang modern, transparan dan mengedepankan kecepatan sistem real time melalui Arsip Digital,” ucapnya.

Menurut pejelasan Iqbal, arsip digital sudah dikembangkan sejak awal BPJS Kesehatan beroperasi.

Selain dapat diakses pegawai melalui web service juga sudah dikembangkan melalui aplikasi yang dapat diunduh melalui Android Playstore.

“Di era keterbukaan informasi saat ini, perlu terus ditanamkan rasa kepedulian terhadap pengelolaan dokumen dan arsip yang baik. Hal tersebut juga harus dibarengi dengan inovasi dalam pelayanan informasi publik, karena menjadi salah satu modal dasar sebuah kesuksesan organisasi,” jelas Iqbal.

Rr/bpjs kesehatan




Hj. Niken Minta Orangtua, Guru Dan Masyarakat, Melek Isu Kesehatan Mental

Sesepuh organisasi NTB tersebut melanjutkan, 91 persen penderita depresi di Indonesia tidak mendapatkan perawatan

MATARAM.lombokjournal.com — Remaja yang masih berkembang dan belum mampu mengelola emosinya dengan baik, lebih rentan terhadap percobaan bunuh diri dibandingkan orang dewasa.

Menurut WHO, Bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab utama kedua kematian pada remaja di dunia.

Hal ini biasanya disebabkan oleh tingginya tekanan di sekitar akibat perundungan, kekerasan, ataupun ketidakharmonisan keluarga dan banyak faktor lainnya.

Ketua TP PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati menyapaikan itu pada Seminar Kesehatan Mental dalam Perspektif Agama, Medis, Psikologi, dan Budaya, di Gedung Rektorat Universitas Mataram, Minggu (29/02/2020).

Untuk mencegahnya, remaja perlu mendapat dukungan psikososial. Sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya dapat membantu mempromosikan kesehatan mental yang baik.

Selain itu, ikatan dengan keluarga perlu diperkuat. Ketahanan keluarga yang baik dapat menjadi salah satu solusi dalam mencegah maraknya kasus gangguan kejiwaan yang ada.

Dijelaskan, peran  orangtua, guru-guru di sekolah dan masyarakat yang harus melek dengan isu kesehatan mental.

Ia mengajak semua yang berperan tersebut bisa  melawan stigma negatif terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) maupun Orang Dengan Masalah Jiwa (ODM).

“Kita harus melawan stigma negatif orang dengan gangguan jiwa. Jangan ragu untuk berobat atau konsultasi dengan psikiater. Jika jiwa kita sehat maka kita akan menjadi lebih produktif dalam menjalani hidup” jelasnya.

Sesepuh organisasi NTB tersebut melanjutkan, 91 persen penderita depresi di Indonesia tidak mendapatkan perawatan.

Seharusnya penderita gangguan jiwa maupun keluarga yang anggotanya menderita gangguan kejiwaan tidak perlu malu untuk berobat ke Rumah Sakit Jiwa.

NTB sendiri memiliki Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma (RSJMS) yang merawat 980 ODGJ. RSJMS memiliki Psikiater sebanyak 5 orang, Psikolog sebanyak 3 orang, dan seorang spesialis perawatan jiwa.

Selain RSJMS, banyak rumah sakit juga yang telah menyediakan psikiater maupun psikolog, baik RS pemerintah maupun swasta.

Masyarakat NTB harus memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik, karena di Indonesia masih ada 8 provinsi yang belum memiliki rumah sakit jiwanya sendiri.

Masyarakat juga diminta untuk tidak memandang rendah orang dengan gangguan jiwa maupun orang dengan masalah kejiwaan. Hal tersebut merupakan penyakit yang dapat ditangani.

Posyandu keluarga

Lebih jauh ia juga menjelaskan tentang  program unggulan revitalisasi posyandu, dimana 7.207 posyandu yang ada di setiap dusun di NTB akan dipersiapkan menjadi posyandu keluarga.

Di dalam posyandu keluarga tersebut nantinya, tak hanya mengurus masalah kesehatan ibu dan balita tetapi juga memberikan perhatian terhadap masalah sosial dan isu kesehatan mental untuk seluruh anggota keluarga.

Posyandu keluarga diharapkan dapat menjadi wadah edukasi terkait isu kesehatan mental. Selain itu dengan adanya Posyandu keluarga di setiap dusun di NTB, diharapkan dapat menambah erat ketahanan keluarga.

Sehingga dapat menjegah terjadinya ODGJ dan ODMJ dalam anggotanya.

“Kita punya program unggulan Revitalisasi Posyandu. Yang mana merubah posyandu biasa menjadi posyandu keluarga. Melalui posyandu keluarga kita harap ketahanan keluarga di NTB semakin kuat,” ujar Bunda Niken.

Seminar tersebut juga menghadirkan pembicara yang kompeten dalam membahas isu kesehatan mental dalam perspektif Agama, Medis, Psikologi, dan Budaya.

Pembicara tersebut di antaranya, Prof. Dr. Lalu Wirasapta Karyadi Guru Besar Unram, dr. Agustine Mahardika Psikiater RS Unram, Dr. TGH. Lalu Ahmad Zaenuri Dosen UIN Mataram, dan Sri Helmi Hayati Psikolog RS Unram.

AYA/HmsNTB




Wapres Apresiasi Langkah Gubernur Cegah Stunting di NTB

Masalah stunting itu bukan hanya persoalan makanan, namun gubernur menilai stunting lebih disebabkan oleh cara pandang

LOTENG.lobokournal.com – – Wakil Presiden RI, Prof. Dr. (HC), KH. Ma’ruf Amin melkukan dialo bersama masyarakat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kamis (20/02/2020).

Dialog yag dipandu Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah tersebut digagas untuk mendengar dan membahas program pencegahan Stunting di NTB bersama Da’i Kesehatan dan stakeholder terkait.

Wapres didampingi istri, Hj. Wury Estu Handayani Ma’ruf Amin menyampaikan apresiasi terhadap program pencegahan stunting yang dijalankan Pemerintah Provinsi NTB.

Program Strategis tersebut, selain Revitalisasi Posyandu, adalah Minum Tablet Tambah Darah (TTD) dalam Kegiatan Aksi Bergizi, Sarapan Bersama, Generasi Emas NTB, Gerakan Buang Air Sembarangan Nol dan Da’i Kesehatan.

Wapres Ma’ruf Amin mengapresiasi langkah Gubernur Zul yang menginisiasi berbagai program untuk mencegah terjadinya stunting di NTB. Ia meminta program tersebut terus dilaksanakan dan digencarkan. Sehingga masyarakat mendapatkan pemahaman yang utuh tentang bahaya stunting.

program-program tersebut dapat menurunkan angka stunting di NTB, bahkan nasional. Angka stunting di NTB berdasarkan data tahun 2018 menyentuh 33 persen.

Sedangkan secara nasional, angka stunting mencapai 27 persen. Secara nasional, tahun 2024 angka stunting di Indonesia ditargetkan menurun hingga 14 persen.

Wapres mengingatkan, stunting atau kondisi tubuh yang tumbuh kerdil bisa dicegah sejak awal. Yaitu sejak seseorang berada pada masa pra nikah. Sebelum menikah katanya, calon ibu atau bapak ini harus siap. Baik secara mental maupun kemampuan untuk menjaga anak keturunan.

Perlu diberikan pemahaman bagaimana merawat dan menjaga Keluarga. Termasuk setelah menikah dan melahirkan anak katanya, harus diberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama dua tahun.

“Jangan pisahkan anak dengan ibunya dari ASI semasih umurnya dua tahun. Sebelum hamil juga harus dipahami, sebelum nikah sudah tau bagaimana menjaga kehamilan, menjaga anak agar sehat,” jelas wapres di hadapan masyarakat serta para Da’i kesehatan yang hadir.

Gubernur Bang Zul yang saat itu didampingi didampingi istri, Hj. Niken Saptarini Widyawati menyampaikan, masalah stunting itu bukan hanya persoalan makanan. Namun ia menilai stunting lebih disebabkan oleh cara pandang.

Sebagai contoh, NTB terkenal dengan penghasil lobster terbaik. Para petani lobster selalu memelihara, lalu kemudian dijual, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri.

Namun, para petani lobster ini katanya lebih memilih makanan lain yang kadar gizinya rendah ketimbang memakan lobster.

“Mudah-mudahan dengan kehadiran Bapak Wakil Presiden di NTB akan memberikan keberkahan dan mampu menurunkan angka stunting di NTB,” harap orang nomor satu di NTB itu.

AYA/HmsNTB

 




Komitmen Pemprov NTB,  Pelayanan Kesehatan Masyarakat Prioritas Utama

“Saya sangat yakin, karena komitmen kita di Provinsi NTB ini dari segi kesehatan adalah menjadi prioritas utama. Maka akreditasi ini bukan sesuatu yang luar biasa. Karena memang sesungguhnya ini hanya memberikan bukti saja, apa yang sudah dilakukan selama ini”

MATARAM.lombokjournal.com —  Pemerintah Provinsi NTB tidak main-main dengan pelayanan kesehatan masyarakat, dan pemprov berkomitmen menjadikan pelayanan kesehatan sebagai prioritas utama.

Komitmen ini sesuai dengan misi NTB sehat dan Cerdas.

Wagub Ummi Rohmi

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah smenegaskan ini saat menyampaikan arahan pada Survey Akreditasi Rumah Sakit Provinsi NTB, oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), di Aula Rinjani RSUD Provinsi NTB, Selasa (18/02/2020).

“Hari ini rumah sakit Provinsi NTB kembali ingin membuktikan bahwa rumah sakit ini adalah rumah sakit yang sungguh-sungguh ingin melayani masyarakat di Provinsi NTB dengan mutu yang terbaik,” ungkap Wagub yang akrab disapa Umi Rohmi.

Umi Rohmi mengimbau seluruh jajaran manajemen rumah sakit untuk tidak memaknai akreditasi ini sebagai kewajiban atau rutinitas.

Apalagi kalau segala sesuatu itu hanya dipersiapkan pada saat akreditasi.

Namun, harus menjadi kebutuhan yang bermuara pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

“Saya sangat yakin, karena komitmen kita di Provinsi NTB ini dari segi kesehatan adalah menjadi prioritas utama. Maka akreditasi ini bukan sesuatu yang luar biasa. Karena memang sesungguhnya ini hanya memberikan bukti saja, apa yang sudah dilakukan selama ini,” tegasnya.

Wagub yakin persiapan yang sudah dilakukan selama ini sangat baik. Karena rumah sakit umum provinsi berkomitmen tinggi untuk melayani masyarakat dengan kualitas terbaik.

Wagub meminta seluruh manajemen, mulai dari cleaning service hingga direktur rumah sakit untuk senantiasa menunjukkan wajah bahagia dan ceria kepada siapa pun.

Dan harus membuktikan kepada masyarakat, kita tidak main-main dari segi kesehatan.

Termasuk dalam hal yang paling penting adalah bagaimana melayani masyarakat NTB dan melayani visitor-visitor.

Sebagai daerah pariwisata, tentu akan banyak orang yang datang ke rumah sakit NTB, termasuk para wisatawan mancanegara. Sehingga, peningkatan standar kualitas pelayanan menjadi keharusan.

“Jangan pernah puas. Karena apa yang kita capai saat ini masih banyak orang yang jauh lebih baik. Itu harus tetap menjadi acuan kita. Apapun yang kita capai menjadi pemicu bagi kita untuk terus, minimal mempertahankan. Dan bagaimana secepatnya mencapai nilai akreditasi yang lebih baik di masa yang akan datang,” jelasnya.

Direktur RSUP NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM, M.Ars melaporkan dasar hukum akreditasi tersebut adalah UU Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Dalam UU tersebut diwajibkan bagi rumah sakit untuk melakukan akreditasi sekali dalam tiga tahun. Namun, setiap tahun tetap dilakukan evaluasi.

“Akreditasi ini adalah sebuah kebutuhan bagi rumah sakit, bagaimana melayani pesien,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, target jajarannya pada akreditasi ini adalah minimal mempertahankan bintang lima atau akreditasi paripurna.  Kalau berhasil, maka target selanjutnya adalah membawa RSUP menuju akreditasi internasional

Dukungan Gubernur dan Wakil Gubernur terhadap bidang kesehatan sangat besar. Termasuk program zero waste telah diterapkan di lingkungan rumah sakit.

Ia bersama seluruh jajaran rumah sakit sudah mulai menghijau halaman.

Termasuk termasuk Tidak ada lagi jajarannya yang membawa air kemasan plastic, Semua membawa Tumbler.

Survei akreditasi RSUP NTB tahun 2020 ini dipimpin oleh Dr. Ismojo Djati, M. Sc, dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Hadir juga sejumlah surveyor untuk Bidang Medis, Bidang Perawat serta Bidang Manajemen.

Para surveyor ini akan berada di RSUP hingga 22 Februari 2020 mendatang.

Selain survei lapangan, tim tersebut akan melakukan pertemuan serta wawancara dengan pihak terkait.

 

AYA/HmsNTB

 




Wagub Minta Generasi Muda Konsumsi Makanan Bergizi

Aksi bergizi HGN ini dilaksanakan di NTB oleh 145 puskesmas bersama 145 sekolah baik tingkat SMP maupun SMA, dilaksanakan secara serentak pada hari ini

MATARAM.lombokjournal.com —  Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Sitti Rohmi Djalilah memotivasi para siswa-siswi yang akan menjadi penerus bangsa, agar menjaga kesehatan dan tetap konsisten dalam mengonsumsi makanan yang bergizi.

“Kalian adalah calon pemimpin bangsa kedepan, harus berani bermimpi besar, dan calon pemimpin harus menjaga tubuh agar tetap sehat, menjaga pola makan. Tidak perlu mahal asalkan bergizi,” kata Wakil Gubernur saat menghadiri acara HGN di SMAN 1 Lembar Lombok Barat, Jumat (14/2/2020).

Wagub Ummi Rohmi menyebutkan beberapa makanan khas NTB yang bermanfaat bagi tubuh, di antaranya sayur bening, tahu, tempe, urap-urap, pelecing dan beberok.\ Selain menjaga gizi tubuh, hal ini juga sebagai bentuk pelestarian makanan khas NTB.

Selain itu, Ummi Rohmi juga menekankan agar generasi muda ini juga rutin sarapan pagi dan rutin mengonsumsi tablet penambah darah sesuai anjuran.

“Harus sarapan pagi, kemudian ditambah dengan tablet penambah darah, karena anak-anak di Indonesia banyak sekali yang terindikasi anemia,” ungkapnya.

Ummi Rohmi meminta agar siswa-siswi yang hadir ini untuk memiliki cita-cita tinggi sebagai generasi penerus bangsa. Pendidikan harus diutamakan agar memiliki ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia khususnya NTB.

“Ke depan kita butuh anak-anak yang pintar, karena dunia ini hanya bisa kita jalani dengan baik, kita kuasai dengan baik kalau kita memiliki ilmu,” tutur Ummi Rohmi.

Srikandi NTB ini berharap sekolah yang bersih dan sehat ini dapat terwujud dengan baik dan menjalankan program-program terukur dengan evaluasi-evaluasi yang jelas di bawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.

“Saya sangat berharap kepada kepala dinas kesehatan dan kepala dinas pendidikan, sekolah sehat dan bersih serta keterlibatan orang tua wajib kita sukseskan, evaluasinya harus bagus,” harapnya.

Kepala Dinas Kesehatan yang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan, aksi bergizi HGN ini dilaksanakan di NTB oleh 145 puskesmas bersama 145 sekolah baik tingkat SMP maupun SMA dilaksanakan secara serentak pada hari ini.

Ia mengungkapkan, program Aksi Bergizi ini adalah program yang ditetapkan sebagai program unggulan untuk meningkatkan gizi generasi muda di NTB ini.

Dalam program ini, ada beberapa kegiatan yang dilakukan, antara lain sarapan bersama, meminum tablet penambah darah sekali seminggu untuk menghindari anemia, dan acar literasi gizi agar generasi masa depan NTB mengetahui pentingnya gizi untuk kesehatan.

AYA/HmsNTB




Wagub Apresiasi Kegiatan BBTKLPP Surabaya di NTB

PemProv Nusa Tenggara Barat meletakkan kesehatan sabagai fokus utama dan jadi program unggulan

MATARAM.lombokjournal.com —  Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah membuka kegiatan Pertemuan Penguatan Jejaring Kerja Wilayah Layanan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya, di D’Max Hotel Praya, Lombok Tengah, Rabu (12/02/2020).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (tanggal 12 – 14 Februari) ini mengusung tema “Sinkronisasi dan Kolaborasi Kegiatan Pengendalian Penyakit Dalam Rangka Uji Kaji Solusi Masalah Kesehatan dan KLB.”

Ummi Rohmi sapaan akrab Wagub NTB menyambut baik kedatangan rombongan BBTKLPP Surabaya. Turut hadir pula Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, Dr. Anung Sugihantono, M. Kes.

Wagub menjelaskan, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat meletakkan kesehatan sabagai fokus utama dan juga menjadi program unggulan.

Disadari, kesehatan, menjadi hal yang terpenting di dalam kita membangun daerah dan membangun bangsa ini, selain pendidikan dan lain sebagainya.

“Alhamdulillah, kalau bicara pembangunan kesehatan di NTB sudah cukup baik peningkatannya walaupun kita masih punya banyak PR,” sambungnya.

Wagub kemudian menyampaikan rasa terima kasih kepada BBTKLPP Surabaya yang telah memilih NTB menjadi tuan rumah dalam kegiatan mereka.

“Terima kasih, NTB sudah dijadikan tempat pertemuan ini, tentunya harapannya pertemuan ini menghasilkan hal-hal yang produktif dan solutif,” ujar Ummi Rohmi.

AYA/HmsNTB