60 WNA Dideportasi Sepanjang Tahun 2017

Warga Negara Cina paling banyak dideportasikan

MATARAM.lombokjournal.com — Kantor Imigrasi Kelas I Mataram telah mendeportasi 60 warga Negara asing (WNA) selama 2017 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Ramdhani menjellaskan, kebanyakan kasus deportasi disebabkan penyalahgunaan dokumen ijin keimigrasian.

“WNA yang dideportasi didominasi dari Cina sebanyak 18 orang,” ujar Ramdhani di Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Jumat (13/10).

Selanjutnya, ada Malaysia sebanyak 11 orang, Australia (6 orang), Timor Leste (5), Perancis (4), Inggris (3), Korsel (2), dan Belgia, Jepang, Kanada, Swiss, Hungaria, Bulgaria, Jerman, Rusia, Bangladesh, Italia, serta Turki masing-masing satu orang.

Baru-baru ini, Kantor Imigrasi Kelas I Mataram juga berhasil mengamankan tiga WNA yang menyalahi dokumen keimigrasian. Dua warga Spanyol dan seorang warga Australia, menggunakan visa wisata ke Lombok, namun justru berbisnis di bidang properti di Senggigi, Lombok Barat dan jasa penginapan di Gili Air, Lombok Utara.

Tiga WNA ini terciduk tim pengawasan orang asing (timpora) yang berisikan Imigrasi Kelas I Mataram dan Polda NTB dalam operasi gabungan (opgab) terhadap orang asing di wilayah Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Barat pada Kamis (12/10).

Kepala Kasubid Ijin Tinggal dan Status Keimigrasian, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) NTB Sayid Zulkifli mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika melihat atau mendapatkan informasi terkait adanya dugaan penyalahgunaan ijin keimigrasian.

“Kami imbau warga yang dapatkan informasi untuk jangan ragu melaporkan ke kita,” kata Sayid.

AYA

BACA JUGA: Salah Gunakan Visa di Lombok, Warga Spanyol dan Australia Diciduk

 




TGB Ajak Jadikan Disporseni Ajang Berbagi Ilmu

Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi tuan rumah Disporseni yang diikuti 154 peserta

TGB menabuh ‘gendang beleq’

MATARAM.lombokjournal.com — Pekan Diskusi Ilmiah, Olahraga dan Seni (Disporseni) hendaknya tidak semata-mata ajang kompetisi. Lebih jauh harus dijadikan medium berbagi ilmu.

Gubernur NTB. Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyampaikan harapan itu, dalam  sambutan selamat datangnya pada Disporseni Universitas Terbuka (UT) Wilayah Timur Tahun 2017, di Asrama Haji NTB Mataram, Kamis (12/10).

Menurutnya, Disporseni  merupakan salah satu sarana mempererat silaturrahim, menggalang sinergitas serta ajang bertukar pikiran antar sesama  mahasiswa.

Tahun ini, Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi tuan rumah Disporseni UT, dengan peserta 154 orang. Pesertanya berasal dari mahasiswa UT Mataram, para mahasiswa UT wilayah timur , seperti Denpasar, Kupang, Majene, Kendari, Makassar, Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, dan Jayapura.

Di hadapan seluruh kontingen yang akan bertanding itu, secara khusus, Gubernur juga memberi motivasi kepada seluruh mahasiswa UT.

“Masa depan Republik Indonesia berada di tangan anak-anak muda. Boleh saja UT itu sistem belajarnya jarak jauh tapi bukan berarti kualitasnya tidak baik. UT memang biayanya murah tetapi kualitasnya tidak berarti murahan, UT adalah salah satu jalan negara untuk menjalankan amanahnya,” tutur Gubernur.

Gubernur yang akrab disapa TGB ini menambahkan, dengan metode belajarnya yang unik karena berlangsung jarak jauh, mahasiswa  UT terus diharapkan agar semangat membangun integritas, kejujuran dan disiplin, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai yang diyakini.

“Bagaimanapun, masa depan bangsa ada di tangan anak-anak muda,” tegas TGB.

Sebelumnya, Ketua Panitia Penyelenggara, Dra Ngadi Marsinah MPd menyampaikan, Disporseni akan berlangsung 11-14 Oktober mendatang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa di bidang diskusi ilmiah, cabang olahraga dan seni , termasuk untuk memotivasi mahasiswa dalam untuk berprestasi secara sehat.

Kesempatan yang sama, Rektor Rektor Universitas Terbuka , Prof. Drs. Ojat Darojat, M. Bus, PhD, juga menyampaikan harapannya, agar kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar, . Ia berharap, kontingen dapat berpartisipasi secara sportif serta melakukan yang terbaik, demi mengharumkan mama daerah masing-masing.

“Tunjukkan bakat dan prestasi anda tidak kalah dengan mahasiswa perguruan tinggi lain,” tutupnya.

AYA




Pembawa Sabu Yang Dimasukkan Tubuh Melalui Anus, Tertangkap Bea Cukai

Tersangka terancam hukuman penjara  lima Tahun, dan paling lama 20 tahun penjara

Barang bukti empat poket sabu, berat bersih 223,95 gram

MATARAM.lombokjournal.com — Bandar narkoba jenis sabu yang berusaha masuk ke NTB, ditangkap di bandara Lombok International Airport (LIA) sekitar pukul 15.00 Wita oleh petugas Bea Cukai, Selasa (10/10). Tersangka Nurdin alias Udin (46), warga Lhokseumawe Aceh.

Awalnya petugas Bea Cukai Bandara mencurigai gerak-gerik Udin saat masuk ke area bandara. Petugas berinisiatif memeriksa Nurdin alias Udin.

Akhirnya pada pukul 15.50  Wita, Udin diangkut ke Mataram untuk dilakukan pemeriksaan di Klinik Catur Warga. Tim Bea Cukai pun berkoordinasi dengan pihak BNN NTB.

Akhirnya diketahui modus bandar narkoba membawa sabu itu dengan memasukkan barang bukti narkoba jenis sabu ke dalam tubuh Swallowed melalui anus (dubur). Hal ini disampaikan Kepala BNN Provinsi, Pol .Drs.Imam Margono dalam jumpa pers di BNN Kota Mataram.

“Setelah kita lakukan pemeriksaan dan hasil ditemukan benda mencurigakan di dalam anusnya,” tutur imam Margono.

Di dalam anusnya terdapat empat buah benda berupa bungkusan yang berisi narkoba. “Petugas akhirnya memerintahkan agar benda itu dikeluarkan,” katanya.

Setelah berhasil dikeluarkan, ternyata ada empat poket sabu dengan berat bersih 223,95 gram.

Menurut pengakuan Tersangka, narkoba tersebut dibawanya dari Batam ke Lombok sudah dua kali disuruh oleh seseorag dari Batam dengan Imbalan Rp.5.000.000,-. Dari hasil pengungkapan kasus ini  diketahui, nilai barang Bukti lebih kurang seharga RP550 juta.

Dengan asumsi tiap satu gram dikonsumsi 10 orang, dengann demikian berhasil diselamatkan penerus bangsa dari pengaruh buruk narkotika jenis sabu sejumlah lebih kurang 2.240 orang.

Atas perbuatannya ini Tersangka Nurdin dapat dikenakan Undang- undang 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pasal 112 ayat ( 1 ).114 ayat ( 1 ) , 132 ayat (1). “Ancamannya hukuman penjara  lima Tahun dan paling lama 20 tahun penjara,” kata Imam.

AYA

 




1409 Penderita Gangguan Jiwa Dipasung Keluarganya

Penyakit “gila” bisa disembuhkan melalui pendekatan-pendekatan dengan penderita

MATARAM.lombokjournal.com — Penderita gangguan jiwa berat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masih cukup tinggi. Jumlahnya mencapai angka sembilan ribu delapan ratus orang atau 6,4 persen dari total penduduk NTB yang rata-rata di usia 15 Tahun.

Dari sembilan ribu delapan ratus orang itu ada gangguan jiwa berat, 1.409 dipasung oleh keluarga dengan berbagai alasan.

Pemasungan dikarenakan kekurangpahaman yang terjadi pada masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa berat. Selain itu, pemasungan dilakukan lantaran keluarga khawatir penderita gangguan jiwa bisa membahayakan orang lain.

“Padahal gangguan jiwa dalam status berat pun bisa disembuhkan. Pemasungan juga termasuk pelanggaran hak asasi,” kata Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Elly Rosila Wijaya saat konfrensi pers, Senin (10/10).

Dia mengatakan, dari 1.409 yang dipasung, pihaknya telah menemukan 571  (By name by adress) orang yang tersebar di 10 Kabupaten dan Kotamadya di NTB.

Sementara, lainnya belum terdeteksi keberadaannya.  Penderita gangguan jiwa berat yang sudah berhasil dilepas dalam bebera tahun terakhir, sudah sembuh dan bisa kembali aktif di masyarakat.

Ia mengatakan Jumlah gangguan jiwa yang dipasung tertinggi itu ada di kabupaten Bima disusul oleh Kabupaten Lombok Timur.

RSJ Mutiara Sukma bersama Dinas Kesehatan NTB, katanya, terus bergerak mencari kasus pemasungan penderita gangguan jiwa berat yang belum ditemukan dan dilaporkan.

Dia juga mengajak peran aktif masyarakat untuk segera melaporkan jika melihat ada kasus pemasungan bagi penderita gangguan jiwa berat.

“Silahkan lapor ke kami ( Dikes, puskesmas, RSJ) jika ada yang melihat orang  gila yang dipasung, nanti kami akan datangi langsung” ungkapnya

Elly menyatakan akan memberikan tindakan Langsung kepada penderita yang pasung, karena penyakit “gila” itu bisa disembuhkan dengan melakukan pendekatan-pendekatan dengan penderita.

Selain gangguan jiwa berat, jumlah penderita gangguan jiwa ringan diprediksikan mulai bertambah

“Potensi gangguan jiwa terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di NTB dan gangguan ini tidak mengenal siapapun,” kata Elly

AYA




Petani Sembalun Tetap Bertahan Hadapi Gelombang Bawang Putih Impor

Sejak dibuka impor bawang putih tahun 1998, harga bawang putih jatuh

LOMBOK TIMUR.lombokjournal.com —  Meski dihantam gelombang impor bawang putih sejak dibukanya impor tahun 1998, para petani bawang putih Sembalun masih bisa bertahan hingga kini, meski tidak mengalami keuntungan sebesar masa-masa sebelumnya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), Pending Dadih Permana mengungkapkan hal itu, saat berkunjung ke sentra bawang putih di Sembalun, Lombok Timur, NTB, Kamis (5/10),

“Setelah impor pada 1998 dibuka, harga (bawang putih) jatuh karena tidak bisa bersaing dengan yang impor,” ucap Dadih.

Meski demikian ia mensyukuri karena petani tetap bertahan. “Tapi alhamdulillah petani tetap bertahan,” ucap Dadih.

Kawasan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah lama dikenal sebagai pusat pertanian bawang putih di Tanah Air. Letak Sembalun yang berada di lereng Gunung Rinjani menjadi keunggulan tersendiri dalam pengembangan bawang putih.

Dijelaskan Dadih, pada tahun  ’80an (bawang putih) Sembalun pernah berjaya, bahkan mantan Presiden Soeharto sempat melakukan panen raya bawang putih Sembalun.

Namun, sektor pertanian bawang putih Sembalun mengalami keterpurukan saat terjadi krisis moneter dan peralihan kekuasaan terjadi. Pascareformasi, keran impor bawang putih dibuka yang membuat para petani bawang putih Sembalun kewalahan.

Dadih melanjutkan, penanaman bawang putih sudah menjadi tradisi sejak lama bagi para petani Sembalun. Hal ini juga yang membuat pengembangan bawang putih tak mati total meski dihantam gelombang impor.

Kementan memberikan sejumlah bantuan sarana dan prasarana untuk menunjang kebutuhan para petani bawang putih, mulai dari traktor, hingga pipa untuk pengairan.

“Kami terus mendorong bawang putih Sembalun bisa kembali berjaya, dan agar Sembalun jadi sumber benih bawang putih dalam negeri,” kata Dadih menambahkan.

AYA

BACA JUGA ; Mempercepat Korporasi Petani Di Sembalun

 

 




PKK NTB Boyong Prestasi Di Jambore Nasional

Tertib Administrasi, PKK Provinsi Juara 1 Tingkat Nasional, ungguli Jawa Timur dan Jawa Tengah

JAKARTA.lombokjournaal.com — Jambore PKk Nasional Tahun ini terasa istimewa, karena untuk pertama kalinya PKK Provinsi NTB meraih penghargaan Juara 1 tingkat Nasional.  Provinsi NTB memboyong tiga prestasi pada  Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-45 dan Jambore  Nasional 2017.

Penghargaan atas prestasi tersebut diterima langsung Ketua TP PKK NTB,Hj. Erica Zainul Majdi pda malam puncak acara HKG dan Jambore Nasional di ballroom hotel Mercure, Ancol Jakarta, Selasa (3/10).

PKK NTB berhasil membawa pulang Penghargaan Pakarti Utama 1 atas capaian desa Montong Are, Kabupaten Lombok Barat, sebagai juara 1 tingkat Nasional  Pelaksana terbaik  kategori Tertib Administrasi.

Dari 34 provinsi se-Indonesia, Provinsi NTB berhasil mengungguli Provinsi Jawa Tengah (Kab. Purbalingga) yang menduduki posisi juara 2  dan Provinsi Jawa Timur (Kab. Ngawi ) sebagai juara 3.

Piagam penghargaan dan hadiah berupa uang tunai senilai Rp.22 .000.000 secara simbolis diserahkan langsung oleh Ketua Umum PKK, Erni Guntarti Tjahyo Kumolo kepada Hj Erica Zainul Majdi bersama Ketua TP PKK Lombok Barat, Khairatun Fauzan Khalid.

Di samping kategori tertib administrasi itu, penampilan kontingen TP PKK NTB dengan baju adat dari tiga suku yang ada di NTB saat  Parade Budaya Nusantara juga berhasil meraih juara 1 kategori ketepatan waktu dan juara harapan 1 pada lomba make up.

Hj. Erica mengatakan, penghargaan ini adalah contoh kerjasama yang baik antara TP. PKK Propinsi NTB dengan TP. PKK Kabupaten Lombok Barat, yang patut ditiru dan diteladani.

Apresiasi khusus  dari Hj Erica disampaikan kepada TP. PKK Kabupaten Lombok Barat yang diketuai Ibu Khairatun Fauzan Khalid. Lobar tahun lalu juga berhasil mendapatkan juara harapan 2 lomba halaman asri, teratur indah dan nyaman (hatinya PKK) pada Jambore Nasional.

Kepada  Khairatun yang mendampinginya menerima penghargaan dari Ketua Umum PKK itu, Hj. Erica berpesan untuk bisa terus merawat hal-hal baik yang sudah dicapai.

Selain pengumuman lomba -lomba dan penyerahaan penghargaan, pada malam puncak jambore, Ketua Umum TP PKk Juga menyematkan Pin Penghargaan Adhi Bhakti bagi anggota TP PKK/kader PKK, yang secara terus menerus aktif dalam pengabdian pada Gerakan PKK selama 25 tahun, 15 tahun dan 10 tahun.

AYA/Hms




TGB Uraikan Kebhinekaan Di Tablig Akbar Yang Digelar Komunitas Muslim di Korsel

Indonesialah negeri paling cocok dimaksud Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 13

MATARAM.lombokjournal.com — Tablig Akbar diikuti lebih 3.500 orang dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi anggota komunitas muslim di Korea Selatan (Korsel). Mereka secara khusus mengundang Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang akrab disapa TGB di Universitas Gimpo, Korea Selatan tersebut, Selasa (03/10).

TGB  mulai dikenal oleh komunitas Muslim Indonesia di Korsel dan di belahan dunia lainnya. Gubernur NTB dua periode itu dikenal  sebagai sosok komplit ulama muda yang santun,  serta sosok Al Hafidz kharismatik.

Kehadiran TGB disambut antusias ribuan  jemaah dari berbagai sudut negeri ginseng tersebut. Mereka ingin bersilaturahmi dan  menyimak untaian kalimat suci Al Qur’an yang disampaikan TGB. Termasuk Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, menyambut dan mendampingi TGB.

Dalam tablig akbar itu, TGB antara mengupas Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 13 yang menegaskan, Allah SWT menciptakan manusia, laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa hanya untuk saling mengenal.

TGB mengatakan, kalau kandungan ayat ini diarahkan di sudut-sudut benua yang ada, maka Indonesialah negeri paling cocok dimaksud Ayat ini. Hanya Indonesia negara yang memiliki banyak suku, ras dan agama. Bandingkan negara-negara lain yang hanya memiliki satu ras dan suku.

“Maka nikmat ini harus kita syukuri,” ungkap TGB.

Kebaragaman itu harus disyukuri, berarti Allah melimpahkan bermiliaran nikmat. Namun, dari miliaran nikmat tidak semuanya disuruh mengingat secara khusus. Nikmat yang disuruh mengingatnya secara khusus, maka itu adalah keistimewaan.

Nikmat persaudaraan dan persatuan ini merupakan keistimewaan bagi Allah SWT. “Kita ini sebagai satu bangsa, diberi kerunia yang luar biasa, yaitu keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa,” Jelas TGB.

Riwayat Madinah

TGB juga menceritakan riwayat masyarakat Madinah yang dulu bernama Yastrib. Sebelum datang Rasulullah, tidak ada yang tahu wilayah Yastrib.  Desa kecil dan ditinggali satu kelompok saja serta memiliki kemampuan terbatas.

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah,  mulai terbentuklah beragam suku di daerah tersebut. Orang-orang Muhajrin, Anshor dan suku yang lain berasal dari Persia, Roma dan negara-negara lainnya berkumpul dan hidup menyatu dalam keberagaman.

“Jadi keberagaman itu modal untuk membangun,” katanya. Keberagaman itu warisan ulama, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Jamaah yang hadir diajak bersyukur,  merenungi Indonesia yang memiliki masyarakat Muslim terbesar di dunia, sekitar 210 juta jiwa. Jumlah itu lebih besar dibanding warga muslim di negara-negara Arab jika disatukan.

“Apakah ini kebetulan? Tidak ada yang kebetulan dalam penciptaan Allah SWT,” tegas TGB.

Allah memiliki bermaksud agar umat Islam Indonesia menjadi contoh terbaik bagi seluruh umat se-dunia. Bahkan bagi seluruh umat manusia tentang kebaikan dan kemuliaan Islam.

TGB menutup tablig tersebut dengan kunci keberkahan dalam mencari rezeki. Diantaranya, rezeki itu dikatakan berkah apabila yang diterima berasal dari yang baik. Rezeki itu dikatakan berkah apabila kita merasa gampang bila dibelanjakan pada kebaikan, namun berat untuk dibelanjakan kepada kemaksiatan.

Kunci keberkahan kedua adalah Juhud, yakni digambarkan dengan kalau kita dapat nikmat tidak berlebihan dalam kebahagiaan, dan tidak larut dalam kesedihan.

“Silahkan bekerja sekuat-kuatnya. Taruh What itu di tangan, bukan di hati. Karena hati itu merupakan tempat yang paling mulia dalam diri kita. Adapun dunia, entah itu jabatan, harta, maka letakkan itu di tangan bukan di hati,” pesan TGB.

AYA/Hms

 




Imunisasi pneumococcus vaccine (PCV), Mulai Dilaksanakan di Lombok Barat dan Lombok Timur

NTB daerah pionir yang pernah sukses sebagai pilot project imunisasi hepatitis di tahun 2000, dan imunisasi Hib di tahun 2013.

MATARAM.lombokjournal.com — Kementerian Kesehatan RI bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, mencanangkan program demonstrasi imunisasi pnemokokus konyigasi atau pneumococcus vaccine (PCV), yang mulai dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (03/10), di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat.

Program yang didukung oleh World Health Organization (WHO), Unicef dan Clinton Health Access Initiative (CHAI) akan direplikasi secara nasional untuk upaya pencegahan penyakit pneumonia pada bayi dan balita.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, hadirf bersama Mohammad Subuh, Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin, Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid, serta perwakilan World Health Organization (WHO), Unicef dan Clinton Health Access Initiative (CHAI).

Program demonstrasi imunisasi PCV di Lombok Barat dan Lombok Timur resmi dimulai hari ini, dan akan kota evaluasi enam bulan ke depan.

“Program akan direplikasi di seluruh daerah di NTB dan akan direplikasi menjadi program nasional,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, Mohammad Subuh.

Program imunisasi PCV itu dilaksanakan karena beban penyakit pneumonia di Indonesia cukup besar. Penyakit peneumonia menyebabkan kasus kematian bayi terbesar di Indonesia, setelah diare.

Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesda) tahun 2013 yang diulang di tahun 2017, prevalensi pneumonia atau radang paru-paru pada bayi di bawah tiga tahun (Batita) di Indonesia masih mencapai 21,7 persen.

“Bisa dibayangkan, kalau jumlah batita kita ada 10 juta, maka ada 2,1 juta yang menderita pneumonia. Kalau pneumonianya berat, maka kemungkinan kematian sangat tinggi. Ini yang kita cegah dengan imunisasi PCV,” katanya.

Menurutnya, provinsi NTB dipilih menjadi lokasi demontrasi atau pilot project imunisasi PCV ini bukan semata karena kasus pneumonia masih cukup tinggi di NTB.

Namun, NTB merupakan daerah pionir yang sudah pernah sukses sebagai pilot project imunisasi hepatitis di tahun 2000, dan imunisasi Hib di tahun 2013.

Subuh mengatakan, secara nasional imunisasi menjadi bagian penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit bagi masyarakat di suatu negara.

Indonesia saat ini hanya memiliki 9 jenis vaksin untuk imunisasi dasar nasional, sementara di Malaysia sudah 14 vaksin, dan di Amerika Serikat sudah ada 17 hingga 18 vaksin.

Imunisasi ini penting karena hanya ini proteksi spesifik. Tidak ada lagi program proteksi spesifik di kesehatan kecuali imunisasi. “Karena itu sampai tahun 2020 pemerintah menargetkan bisa menambah tiga sampai empat jenis imunisasi lagi selain sembilan yang sudah ada,” katanya.

Dijelaskan, dua imunisasi baru yang sudah mulai dikembangkan dan diujicoba adalah imunisasi MR dan PCV. Untuk MR, saat ini sudah berjalan di pulau Jawa dengan cakupan mencapai 98 persen.

Tahun depan imunisasi MR akan direplikasi juga ke luar pulau Jawa pada Agustus 2018.

Kemenkes juga tengah mengambangkan rencana imunisasi human papiloma virus (HPV) untuk penyakit CA servic, serta imunisasi japanese ensa valeptis untuk penyakit meningitis otak yang tahun depan akan dimulai di Bali.

Subuh menekankan, keberhasilan program imunisasi sebenarnya merupakan warisan, bukan hanya warisan program tetapi juga warisan sumber daya manusia (SDM).

Ia mencontohkan, Indonesia sudah mendapat tiga sertifikat bebas penyakit dari WHO, antara lain bebas Cacar, bebas Polio, dan bebas eliminasi neonatus tetanus.

Program imunisasi cacar dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada 1957 dan pada 1980 Indonesia mendapat sertifikasi bebas cacar dari WHO saat Presiden Soeharto.

Program imunisasi Polio dicanangkan di masa Presiden Soeharto sejak tahun 70-90an, dan pada 2014 Indonesia dinyatakan bebas polio di masa pemerintahan SBY.

Dan sertifikat eliminasi neonatus tetanus yang imunisasinya dicanangkan SBY, sertifikasinya didapatkan tahun 2017 ini di saat pemerintahan Presiden Jokowi.

“Jadi inilah warisan-warisan yang ada. Untuk SDM generasi penerus kita juga, ini kita mulai dari mereka nol bulan hingga berusia sekolah,” katanya.

AYA

BACA JUGA :

Imunisasi PCV Dilaksanakan Mulai Posyandu, Puskesmas dan RS di Lobar dan Lotim




Kualitas Poltekpar Lombok Harus Berstandar Internasional

Keberadaan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Negeri Lombok akan menjadi salah satu pintu masuk dari kemajuan pesat industri pariwisata NTB

LOTENG.lombokjournal.com —  Pembangunan Poltekpar selain harus mencerminkan kekhasan nilai-nilai agama dan budaya masyarakat, juga harus menekankan kualitasnya.  Mulai kualitas bangunannya sampai proses pendidikannya, benar-benar berjalan baik dan tempat pendidikan terbaik di NTB.

Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau TGB (Tuan Guru Bajang) menegaskan itu saat peletakan batu pertama pembangunan Poltekpar Negeri Lombok di Desa Puyung, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (02/10).

Lebih lanjut gubernur berharap, lembaga pendidikan pariwisata yang dibanngun sebagai sekolah berstandar Global atau Internasional.

“Dengan kualitas nomor satu,” katanya. Dan mahasiwa Poltekpar ini akan menjadi tulang punggung pembangunan pariwisata di NTB dan Indonesiado masa datang.

Menurutnya, Politeknik Pariwisata Negeri Lombok merupakan wujud perjuangan. Membangun daerah itu perlu kebersamaan. Dan mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan orang per orang.

“Selama ini banyak yang sudah kita lakukan bersama-sama, dan Poltekpar Negeri ini merupakan contoh hasil kerjasama dan perjuangan dari semua pihak,” tegas TGB.

Saat ini, katanya, Perlu membangun kebersamaan serta menyisihkan kepentingan-kepentingan jangka pendek dan beralih ke kepentingan jangka panjang. Meletakkan kepentingan anak cucu kita ke depan,  dengan mengimajinasikan pikiran kita tentang wajah NTB sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang.

“Jangan hanya kita berkutat melihat NTB sekarang saja, jangan kita berfikir sebatas hari ini dan esok saja. Tapi coba kita banyangkan dan imajinasikan bagaimana wajah NTB kedepan menjadi wajah yang terbaik, kita buat cita-cita yang paling tinggi,” ungkap Gubernur.

Wujud kesyukuran besar atas Pembangunan Poltekpar Negeri Lombok ini, pembangunan Poltekpar harus dijaga dengan baik.  Sebab banyak daerah-daerah lain di Indonesia ini yang menginginkan pembangunan Poltekpar ini di daerahnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kementri Pariwisata RI Prof. Ahmansyah, Forkompinda Kabupaten Lombok Tengah, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat, serta seluruh elemen yang ada Poltekpar Negeri Lombok Tengah.

AYA

BACA JUGA : TGB Ingatkan,  80 Persen di Poltekpar Lombok Harus Diisi Orang NTB




Lombok Barat dan Lombok Timur Jadi Uji Coba Imunisasi Penyakit Pneumonia

NTB termasuk daerah dengan sumbangan tertinggi kematian bayi akibat pneumonia

MATARAM.lombokjournalcom — Kementerian Kesehatan bersama World Health Organization (WHO) dan Clinton Health Access Initiative (CHAI) memilih Lombok sebagai pilot project progam ujicoba imunisasi Pneumococcal Vaccine (PVC) untuk pencegahan penyakit pneumonia.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Jane Soepardi mengatakan, dua kabupaten di Lombok, yakni Lombok Barat dan Lombok Timur menjadi proyek percontohan dalam program tersebut, yang dimulai bulan Oktober.

Jane menyebutkan, tren kematian bayi akibat penyakit pernafasan pneumonia terus mengalami peningkatan.

“Termasuk di Indonesia yang masuk dalam 10 negara terbesar dalam angka kematian bayi yang disebabkan pneumonia yang mencapai 15 persen pertahun,” ujar Jane saat memaparkan program imunisasi PCV di Kantor Gubernur NTB, Jalan Langko, Mataram, NTB, Senin (2/10).

Jane mengungkapkan alasan di balik pemilihan NTB sebagai proyek percontohan. Pasalnya, NTB termasuk daerah dengan sumbangan tertinggi kematian bayi akibat pneumonia di Indonesia. Ke depannya, program ini juga akan dilakukan di sejumlah kabupaten/kota lain di Tanah Air.

Sokongan dana untuk program yang akan berjalan selama tiga tahun di NTB berasal dari ABPN sebesar Rp 34,5 Miliar untuk vaksin PCV, Rp 1 Miliar untuk operasional, dan dukungan dana sebesar Rp 14,5 Miliar dari CHAI, sebuah NGO nirlaba berbasis di New York, AS. Jane menjelaskan, vaksin ini sudah diuji BPOM dan juga mendapat sertifikat halal dari Islamic Food and Nutrition Council of America (IFANCA), dan sudah pula mendapat rekomendasi MUI.

“Program ini menyasar sekitar 25.894 bayi usia 2 hingga 15 bulan di Lombok Barat, sedangkan 14.792 bayi terdapat di Lombok Timur,  sehingga jumlah total sasaran sekitar 40 ribu bayi,” ucap Jane.

Kepala Dinas Kesehatan NTB Nurhandini Eka Dewi menyampaikan pemberian vaksin PCV secara gratis ini akan dilakukan di pusat pelayanan kesehatan, seperti Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit akan dilayani di Lombok Barat dan Lombok Timur.

“Untuk masyarakat yang memiliki bayi bisa langsung saja datang ke pusat pelayanan terdekat untuk mendapatkan vaksin ini,” kata Nurhandini.

Nurhandini menambahkan, penyakit pneumonia memang masih menjadi penyebab terbesar angka kematian bayi dan balita di NTB, setelah diare. Pemilihan NTB sebagai proyek percontohan tak semata karena jumlah kasus yang cukup tinggi sekitar 15 persen kematian bayi dan balita karena pneumonia, atau sama dengan angka nasional.

“NTB juga dipilih karena Dinas Kesehatan NTB sudah sering melakukan penelitian terkait penyakit pnemonia ini sehingga punya data yang lebih lengkap dibanding daerah lain,”

Beberapa penelitian yang dilakukan dua tahun terakhir, Nurhandini menyebutkan, sekitar 50 persen anak bayi dan balita sehat di NTB ternyata memiliki kandungan bakteri pneumokokal pencetus pneumonia. Nurhandini menilai, sistem imunisasi yang didapat saat bayi belum sepenuhnya memproteksi dari pneumokokal.

AYA