Ummi Dinda ke Dompu Tinjau Kemiskinan Ekstrem Warga 

Menurut Ummi Dinda, penanganan kemiskinan ekstrem harus berjalan seiring penguatan ekonomi desa 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Indah Dhamayanti Putri yang akrab disapa Ummi Dinda meninjau empat kepala keluarga kategori miskin ekstrem di Desa Saneo, Dompu, Minggu (01/03/26).

Di sana, Ummi  Dinda menyerahkan bantuan sembako dan santunan sebagai bagian dari intervensi Program Desa Berdaya

BACA JUGA :  Magne Wisata Baru, NTB Tak Jualan Pantai Itu Itu Saja

“Kami ingin memastikan kehadiran pemerintah benar-benar dirasakan, menyapa warga satu per satu, mendengar kondisi mereka, serta mengupayakan perbaikan rumah agar lebih layak huni,” katanya.

Desa Saneo Kecamatan Woja merupakan salah satu “Desa Berdaya” di NTB. Ada banyak program yang bisa dilaksanakan di desa ini untuk memberantas kemiskinan

BACA JUGA : Jemaah Umrah Diminta Tunda Keberangkatan

Salah satunya yaitu dengan melakukan Bedah Rumah tidak layak huni.

Program “Desa Berdaya” bukan sekadar bantuan. Tapi upaya mendorong kemandirian, memperkuat ekonomi warga dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Kunjungan Ummi Dinda juga dilakukan di Kelurahan Kandai untuk meninjau pembangunan Koperasi Merah Putih dan menyerahkan dukungan operasional. 

“Bagi kami, penanganan kemiskinan ekstrem harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi desa dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Ummi Dinda, sapaan akrab Wagub NTB.

BACA JUGA : Bulan Puasa Dimanfaatkan Berhenti Merokok, Bisa Tidak?

Hal ini, lanjut Wagub, agar masyarakat tidak hanya terbantu hari ini, tetapi juga berdaya untuk masa depan.

Agenda Ummi Dinda  merupakan rangkaian Safari Ramadhan yang juga momentum mempererat silaturahmi sekaligus untuk memastikan program pemerintah berjalan tepat sasaran.dan

 




Magnet Wisata Baru, NTB Tak Jualan Pantai Itu-itu Saja 

Dengan teknologi dan pengelolaan geografi yang cerdas, NTB akan menjadi magnet wisata provinsi kepulauan 

MATARAM.LombokJournal.com ~ NTB sedang membangun sejarah baru. Seaplane di Bendungan Batujai adalah simbol daerah ini siap menjadi Hub Konektivitas Kepulauan di Indonesia.

Mengapa ini penting? Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memberi penjelasan. Katanya, magnet wisata baru. 

BACA JUGA :  Jemaah Umrah Diminta Tunda Keberangkatan

“Kita nggak cuma jualan pantai yang itu-itu saja,” katanya dilansir dari Instagramnya, Minggu (01/03/26). 

Sekarang, jelas Gubernur Iqbal terkait magnet wisata baru, ratusan pulau kecil (gili) di Lombok dan Sumbawa jadi lebih mudah dijangkau. 

“Ini strategi high-value tourism—wisatawan datang lebih lama, belanja lebih banyak,” ujarnya lagi. Ia memprediksi ekonomi rakyat bergerak. 

BACA JUGA :  Antisipasi Lonjakan Penumpang, Menhub Temui Gubernur Iqbal

“Kalau turis mudah ke pulau terpencil, siapa yang untung? Warga lokal! Homestay bakal penuh, pemandu wisata laku, dan UMKM pesisir kita bakal hidup luar biasa,” ungkap Iqbal.

Tak hanya itu, logistik dan medis juga berpengaruh. 

“Bukan cuma buat turis, ini juga jalan tol udara untuk bawa hasil perikanan premium kita lebih cepat ke pasar, serta akses medis darurat buat warga di pulau,” lanjutnya.

“Pilihannya cuma satu. Kita mau jadi penonton atau jadi pemain utama di rumah sendiri?”

BACA JUGA : Hentikan Kebiasaan Minum Es Sirup Saat Buka Puasa

Dirinya mengaku optimistis dengan teknologi dan pengelolaan geografi yang cerdas, NTB akan menjadi magnet wisata provinsi kepulauan yang paling diperhitungkan di kancah nasional maupun internasional.dan

 




Antisipasi Lonjakan Penumpang, Menhub Temui Gubernur Iqbal 

Menhub menekankan antisipasi kesiapsiagaan armada, dermaga, serta pengaturan arus untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan dan pemudik 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menemui Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal, guna membahas antisipasi kesiapan Angkutan Lebaran 2026, lonjakan pemudik dan wisatawan.

Menhub menitikberatkan pembahasan pada penguatan angkutan penyeberangan, kesiapan pelabuhan, dan koordinasi antar pemangku kepentingan untuk antisipasi lonjakan arus mudik dan wisatawan.

BACA JUGA :  Gubernur Iqbal Janji Perbaiki Rumah Seorang Penjual Opak Opak

“Sebagai provinsi kepulauan, mobilitas masyarakat di NTB sangat bergantung pada angkutan penyeberangan dan transportasi udara, yang diperkuat oleh jalan nasional,” kata Menhub. 

NTB juga merupakan salah satu provinsi dengan destinasi pariwisata unggulan nasional, sehingga pada periode tertentu, termasuk Hari Libur Lebaran diprediksi akan terjadi peningkatan pergerakan tidak hanya untuk aktivitas mudik, tetapi juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berwisata.

Pelabuhan penyeberangan di NTB diperkirakan akan menjadi salah satu simpul tersibuk, khususnya Pelabuhan Lembar. 

BACA JUGA :  Zakat Tak Boleh Dipakai untuk Program Makan Bergizi Gratis

Pelabuhan Lembar termasuk ke dalam 3 terbesar pelabuhan penyeberangan tersibuk dengan total sekitar 1,1 juta penumpang yang diprediksi akan menggunakan pelabuhan ini pada masa Angkutan Lebaran.

Menhub menekankan pentingnya antisipasi kesiapsiagaan armada, dermaga, serta pengaturan arus untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan dan pemudik dari dan ke Nusa Tenggara Barat.

Gubernur Iqbal menyampaikan usulan dan permintaan krusial kepada Kemenhub terkait optimalisasi angkutan darat, laut, dan udara di wilayah NTB. 

“Tingginya antusiasme mudik tahun ini harus diimbangi dengan armada yang memadai, jadwal penyeberangan yang terukur, dan infrastruktur yang mendukung,” katanya.

BACA JUGA : Modus Flexing, Terihat Mewah Ternyata Tipuan

Survei Angkutan Lebaran Nasional memperkirakan pergerakan mencapai 146 juta orang pada Angkutan Lebaran 2026 ini. 

Prediksi pergerakan yang berasal dari Provinsi NTB sebagai provinsi asal pemudik tercatat sebesar 1,58 Juta orang dan Provinsi NTB sebagai provinsi tujuan diprediksi sebesar 1,22 juta.dan

 




Gubernur Iqbal Janji Perbaiki Rumah Penjual Opak-Opak

Tugas pemimpin adalah menjadi jembatan bagi harapan rakyatnya. tulisnya di akun instagramnya

MATARAM.LombokJournal.com ~ Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mempunyai janji pada penjual OPAK-OPAK di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Gubernur Iqbal menjanjikan memperbaiki rumah seorang penjual opak-opak di Sigar Penjalin,Tanjung, Lombok Utara.

BACA JUGA : Ketangguhan Bencana Melalaui Kolaborasi Multipihak

Pasalnya, Gubernur Iqbal mengaku kagum setelah menyaksikan kegigihan seorang ibu di Sigar Penjalin mengolah opak-opak di tengah keterbatasan tem[at tinggalnya. 

“Ini mengingatkan saya bahwa tugas pemimpin adalah menjadi jembatan bagi harapan rakyatnya,” ujar Gubernur Iqal dilansir dari Instagramnya. 

Bersama BAZNAS melalui program Program Rumah Layak Huni (MAHYANI) MAHYANI, Gubernur Iqbal mengatakan,pihaknya akan membedah rumah penjual Opak-Opak agar lebih layak dan produktif. 

BACA JUGA : Bencana Meteorologi, Banjir dan Tanah Longsor di Bima

Gubernur Iqbal mengapresiasi para Pendamping Desa Berdaya yang terus mengawal di garda terdepan. 

Bareh (nanti) Insya Allah mulai minggu depan setelah selesai surat-suratnya kita perbaikin rumahnya,” tulisnya.

Program Rumah Layak Huni (MAHYANI) BAZNAS adalah inisiatif sosial, khususnya di wilayah NTB, yang bertujuan merenovasi atau membangun kembali rumah masyarakat kurang mampu (mustahik) agar lebih aman dan nyaman.

BACA JUGA : Banjir di Pujut Lombok Tengah, 150 KK Terdampak

Sasarannya adalah masyarakat yang memiliki rumah tidak layak huni (rutilahu), seperti yang dilakukan di berbagai kecamatan.

Sumber dananya berasal dari dana zakat, seringkali berkolaborasi dengan Bank NTB Syariah dan pihak lainnya.dan

 




Ketangguhan Bencana Melalui Kolaborasi Multipihak

Kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam dalam memperkuat ketangguhan bencana

MATARAM.LombokJournal.com  ~ Posisi geografis NTB yang rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan bencana hidrometeorologi harus mewujudkan ketangguhan bencana.

Ketangguhan bencana menuntut penguatan sistem pengelolaan risiko bencana yang terencana dan berkelanjutan.. 

Pendekatan sistem menyeluruh terhadap upaya penanggulangan bencana memerlukan kolaborasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pelaku usaha, tokoh-tokoh masyarakat serta organisasi masyarakat sipil. 

BACA JUGA : Banjir di Pujut Lombok Tengah, 159 KK Terdampak 

Hal ini dilakukan dengan menyusun manajemen risiko bencana yang efektif dan berkelanjutan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, yang didukung oleh Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia Untuk Manajemen Risiko Bencana),.

Selalu menerapkan pendekatan sistem yang menyeluruh dalam upaya-upaya penanggulangan bencana yang dilakukan. 

Kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam dalam memperkuat ketangguhan bencana.

Sebagai langkah penguatan itu, dilaksanakan kegiatan kick off yang diselenggarakan pada Kamis (26/02/2026) di Kota Mataram. 

Kick off ini menandai secara resmi implementasi Rencana Kerja Tahunan (RKT) atau Annual Work Plan (AWP) untuk Tahun Anggaran 2026. 

BACA JUGA :  Bencana Hidrometeorologi, Banjir dan Tanah Longsor di Bima

“Kick off ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi ruang penting untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen bersama agar seluruh program selaras dengan prioritas pembangunan daerah,” kata Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin.

Acara ini menjadi momentum keberlanjutan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pelaksanaan sistem penanggulangan bencana  di wilayah NTB. 

Fokus utama program pada tahun 2026 adalah memperkuat sistem kelembagaan melalui optimalisasi kerja sama multipihak serta penyelarasan Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) di tingkat provinsi maupun di 3 kabupaten (Lombok Tengah, Lombok Utara, dan Sumbawa) dengan Program SIAP SIAGA.

Sadimin menegaskan, pengelolaan risiko bencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Karena itu, koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah akan terus diperkuat untuk memastikan dampak nyata bagi ketangguhan bencana masyarakat di lapangan. 

Melalui kick off ini, diharapkan terbentuk rencana aksi yang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan sepanjang tahun.

“Kolaborasi yang telah dibangun selama ini kita harapkan semakin kuat di tahun 2026 hingga akhir Program SIAP SIAGA,’’ kata Sadimin.

Jalinan kolaborasi yang dibangun telah melahirkan berbagai inisiatif. Pada Desember 2024 dilaunching Unit Layanan Disabilitas yang dalam setahun perjalannya berhasil melakukan pengolahan data terpilah penyandang disabilitas di tiga kabupaten. 

Di samping pelibatan berbagai sektor, peran aktif masyarakat juga diperlukan untuk mendukung resiliensi terhadap bencana. 

Melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) NTB dan Forum PRB Perguruan Tinggi dilakukan pendampingan pada desa melalui program KKN Tematik Destana. Selain itu, Forum PRB NTB telah Menyusun laporan kajian ketangguhan bencana pulau-pulau kecil di KLU dan Sumbawa. 

Sinergi Pemerintah Daerah dan Mitra Internasional

Kegiatan kick off ini dihadiri oleh pemangku kepentingan utama dari kedua negara. Mewakili Pemerintah Australia, hadir Catherine Meehan selaku First Secretary (Humanitarian) Kedutaan Besar Australia, dan Lucy Dickinson sebagai Team Leader Program SIAP SIAGA.

BACA JUGA : Dampak Cuaca Ekstrem di Lombok

Dari pihak Pemerintah Provinsi NTB, acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti. Turut hadir memberikan sambutan adalah Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, Sadimin. 

Kehadiran para pimpinan dalam upaya mewujudkan ketangguhan bencana ini,  menegaskan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menempatkan isu kebencanaan sebagai prioritas pembangunan.

“Program SIAP SIAGA awalnya dirancang sebagai inisiatif lima tahun (2019-2024), namun kini telah resmi diperpanjang hingga tahun 2028. Memasuki Fase II ini, program membawa mandat yang lebih tajam dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip GEDSI, penghidupan yang berkelanjutan serta adaptasi perubahan iklim’’ kata DRM Area Manager SIAP SIAGA NTB, Anggraeni Puspitasari.

Pada AWP 2026 terdapat tujuh program yang dilaksanakan secara kolaboratif. Pertama, peningkatan sistem dan strategi penanggulangan bencana. 

Dalam program ini dilakukan pendampingan teknis untuk penguatan Pembinaan dan Pengawasan (BINWAS) Standar Pelayanan Minimum (SPM) Sub-urusan Bencana di 10 kabupaten/kota di NTB. Selain itu, akan dilakukan pendampingan Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana).

Kedua, peningkatan strategi penanggulangan bencana.  Akan dilakukan pendampingan evaluasi RPB Provinsi NTB dan finalisasi RPB Lombok Tengah. Selain itu pendampingan teknis dan fasilitasi Musrenbang Tematik Kebencanaan dan Pembangunan Berketahanan Iklim di Provinsi dan 3 Kabupaten (KLU, Loteng dan Sumbawa). 

Dalam program ini juga akan menyusun Pergub Musrenbang Tematik Kebencanaan dan Pembangunan Berketahanan Iklim di Provinsi NTB.

Ketiga, pemetaan dan evaluasi risiko bencana. Akan dilakukan pendampingan teknis penyusunan dokumen KRB Kabupaten (KLU, Loteng dan Sumbawa) dan pendampingan teknis untuk pemantauan IKD/IRB Provinsi NTB.

Keempat, peningkatan layanan data dan komunikasi penanggulangan bencana. pendampingan teknis akselerasi pemanfaatan SIK Provinsi NTB di level daerah.

Serta pendampingan teknis untuk pengembangan lanjutan SIK (tahap 4) Provinsi NTB dan DESTANA yang inklusif dan integratif untuk mendukung sinergi dalam perencanaan dan pemantauan program desa (termasuk konvergensi antara API-PRB dan SDGs Desa).

Kelima, peningkatan dan pengembangan kebijakan dan peraturan untuk kesiapan bencana melalui penguatan kolaborasi pentahelix dan berbagi pengetahuan penanggulangan bencana.

Kegiatannya berupa pendampingan teknis koordinasi dan sinergi antara Forum PRB Provinsi NTB, Forum PRB Kab/Kota dan Forum Perguruan Tinggi untuk pengarusutamaan ketangguhan desa dan PRBBK melalui mekanisme KKN Pemberdayaan Desa. 

Memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan menyusun peta sebaran disabilitas di daerah rawan bencana. 

Program ini juga mendorong penyusunan media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang ramah terhadap kelompok rentan. 

Keenam, peningkatan kualitas kebijakan pemulihan pasca bencana melalui pendampingan teknis dan fasilitasi penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P).termasuk peningkatan kapasitas sektor RR untuk JITUPASNA. Ketujuh, peningkatan kapasitas logistik dan peralatan penanggulangan bencana lokal melalui pendampingan teknis penguatan klaster logistik Provinsi NTB.

“Fokus pelaksanaan Program SIAP SIAGA NTB di tahun 2026 adalah memperkuat sistem kelembagaan melalui optimalisasi kolaborasi dan kemitraan multi-pihak. Serta mendukung pengawasan, evaluasi, dan pembelajaran dari implementasi program-program Penanggulangan Bencana,” kata Angga. BPBD/Kominfotik.

 




Bocah 4 Tahun Hanyut di Saluran Drainase

Operasi pencarian bocah itu dilakukan dengan metode penyisiran sepanjang aliran drainase 

MATARAM, LombokJournal.com – Seorang bocah berusia 4 tahun diduga terseret arus saat bermain hujan di pinggiran drainase di depan SDN 1 Selong, Selasa (24/02/26)..

M Azril Filah Busairi, nama bocah itu, warga Lingkungan Karang Sukun, Kelurahan Selong, Lombok Timur.

BACA JUGA : Banjir di Tambora Bima, Ratusan Wrga Terdampak 

Arus air drainase yang deras menyeet bocah itu saat bermain hujan di pinggiran drainase depan SDN 1 Selong.

Kepala Kantor SAR Mataram melalui Koordinator Pos SAR Kayangan, M Darwis menjelaskan, Tim SAR Gabungan langsung diberangkatkan menuju lokasi kejadian pada pukul 10.49 WITA dan langsung berkoordinasi dengan unsur terkait.

BACA JUGA : Banjir di Kecamatan Sanggar Bima, Puluhan Rumah Terdampak

“Operasi pencarian bocah itu dilakukan dengan metode penyisiran sepanjang aliran drainase serta pemantauan di titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi korban tersangkut,” ungkap M Darwis

Hingga Selasa 24 Februari 2026 sore, hasil pencarian bocah itu masih nihil. OPS SAR dihentikan sementara karena kondisi cuaca hujan. Operasi SAR akan dilanjutkan pada Rabu (25/02/26).

Operasi SAR ini melibatkan berbagai unsur, antara lain Rescuer Pos SAR Kayangan

BACA JUGA :  Hujan Lebat dan Angin Kencang Hingga 1 Maret 2026

SAR Unit Lombok Timur, Babinsa Selong, Bhabinkamtibmas Selong, Damkarmat Lotim, BPBD Lotim, Polres Selong dan masyarakat setempat.(*)




Fondasi Transformasi Ekonomi NTB Sedang Dibangun

Fondasi transformasi berarti indikator-indikator awal perubahan struktural ekonomi mulai terbentuk

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) menanggapi sejumlah pandangan publik yang mempertanyakan klaim penguatan fondasi transformasi ekonomi dan sosial.

Muncul anggapan, fondasi transformasi ekonomi dan sosial belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

BACA JUGA : Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-oleh Haji

Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik menegaskan, persepsi tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih utuh, terutama dinamika ekonomi NTB sepanjang 2025.

Ahsanul Khalik menjelaskan, pertumbuhan ekonomi adalah indikator makro yang mencerminkan pergerakan mesin produksi daerah. Ini  meliputi aktivitas industri, perdagangan, investasi, dan konsumsi, bukan ukuran langsung atas kenyamanan hidup harian masyarakat.

“Karena itu wajar apabila masyarakat masih merasakan adanya tekanan biaya hidup, sementara indikator ekonomi makro mulai membaik. Ini bukan kontradiksi, tetapi jeda waktu antara pemulihan ekonomi dan dampaknya ke rumah tangga,” jelas Aka.

Ia menjelaskan, NTB memulai tahun 2025 dari kondisi yang tidak normal. Pada awal tahun, perekonomian daerah sempat terkontraksi hingga  minus 1,47 persen. Ini akibat persoalan teknis pada operasional smelter yang berdampak langsung pada sektor pertambangan.

BACA JUGA : Banjir di Obel-obel, Gubernur Perintahkan MItigasi Komprehensif

Salah satu kontributor terbesar PDRB NTB. Kondisi tersebut bukan disebabkan melemahnya daya beli masyarakat maupun lesunya sektor riil.

“Artinya, pemerintah daerah bekerja dari titik awal kontraksi, bukan dari situasi ekonomi yang stabil. Dalam kondisi seperti ini, prioritas utama adalah menghentikan penurunan, menormalkan kembali mesin ekonomi, menjaga daya beli, serta memastikan sektor-sektor produktif tetap bergerak,” ujar Ahsanul Khalik.

Hasilnya, hingga akhir 2025 pertumbuhan ekonomi NTB berhasil ditutup pada level positif sebesar 3,22 persen secara kumulatif. 

Jika dihitung dari titik terendah minus 1,47 persen, terjadi lonjakan pertumbuhan sebesar 4,69 poin hanya dalam satu tahun. 

Angka ini enam kali lipat lebih besar dibandingkan kenaikan yang dirancang dalam RPJMD 2025 yang hanya sekitar 0,70 poin.

“Ini menunjukkan bahwa tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda bukan sekedar menjaga ekonomi agar tidak jatuh lebih dalam, tetapi mampu membalik kontraksi menjadi pemulihan,” tegasnya.

Ahsanul juga menekankan bahwa kebangkitan ekonomi NTB tidak semata bertumpu pada sektor tambang, ini bukan kita mengabaikan tambang. 

Tapi ini sisi positif dari pertumbuhan ekonomi NTB, di tengah gangguan teknis pertambangan, di mana sektor non-tambang menunjukkan kinerja solid. 

Pertanian tumbuh positif didorong panen raya, perdagangan bergerak seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, jasa dan pariwisata mulai pulih, konsumsi rumah tangga tumbuh, pengangguran menurun, serta proporsi pekerja formal meningkat.

Bahkan, berdasarkan penjelasan Kepala Badan Pusat Statistik NTB dalam satu Podcast dengan Media Antara News NTB (09/02/26), apabila sektor tambang bijih logam dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai lebih dari 8 persen secara kumulatif dan di atas 13 persen secara tahunan. 

Hal ini menegaskan bahwa ekonomi rakyat yang bertumpu pada pertanian, perdagangan, jasa, dan konsumsi tetap berjalan dan menjadi penopang utama pemulihan.

Terkait istilah “fondasi transformasi ekonomi dan sosial”, Ahsanul meluruskan bahwa yang dimaksud bukanlah klaim bahwa masyarakat sudah sepenuhnya sejahtera. 

Fondasi transformasi berarti indikator-indikator awal perubahan struktural mulai terbentuk.

Industri pengolahan mulai beroperasi, sektor non-tambang menguat, lapangan kerja kembali terbuka, dan daya beli masyarakat terjaga.

“Ini adalah fase awal. Analogi sederhananya, fondasi rumah sudah dicor, tetapi bangunannya belum selesai. Tahun 2025 adalah tahun stabilisasi dan pemulihan, bukan tahun panen hasil,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan, tekanan yang dirasakan masyarakat saat ini banyak dipengaruhi oleh inflasi pangan nasional, seperti harga beras, cabai, daging ayam, dan tarif listrik, yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah daerah. 

Karena itu, tidak tepat jika seluruh beban biaya hidup langsung disimpulkan sebagai kegagalan pertumbuhan ekonomi NTB.

Lebih jauh ditegaskan ,capaian penting sepanjang 2025 justru terletak pada keberhasilan Pemerintah Daerah mencegah dampak sosial yang lebih berat. 

Dengan kontraksi besar di awal tahun, NTB sebenarnya berhadapan dengan risiko meningkatnya pengangguran, turunnya daya beli, hingga lonjakan kemiskinan. 

Namun yang terjadi justru sebaliknya: konsumsi rumah tangga tumbuh, pengangguran menurun, lapangan kerja bertambah, dan ekonomi kembali positif.

BACA JUGA : Jejak Digital Anak, Sekali Tersebar Tidak Bisa Terhapus

“Ini adalah kerja-kerja pencegahan krisis yang sering tidak terlihat, tetapi sangat menentukan. Kalau pemerintah gagal, indikator-indikator dasar itu justru akan memburuk,” ujar Ahsanul.

Menutup pernyataannya, ditegaskannya bahwa Pemerintah Provinsi NTB di bawah kepemimpinan Iqbal–Dinda saat ini sedang menata ulang arah pertumbuhan ekonomi. Agar lebih inklusif dan berbasis sektor padat karya, dengan penguatan pertanian, UMKM, industri pengolahan, dan pariwisata.

Menyebut fondasi transformasi ekonomi bukan berarti mengatakan rakyat sudah sejahtera. Artinya, NTB berhasil keluar dari kontraksi dan menyalakan kembali mesin ekonominya. Tahun 2025 adalah tahun penyelamatan dan pemulihan. 

“Ke depan, fokus kita memastikan pertumbuhan itu konsisten, memberi nilai tambah lokal, dan benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Ahsanul Khalik..Kominfotik

 




Banjir Bandang di Desa Muer dan Brang Kolong di Sumbawa

Penanganan banjir bandang ini melibatkan personel dari TNI/Polri, Damkar Plampang, Puskesmas Plampang, aparatur kecamatan/desa dan relawan

MATARAM, LombokJournal.com ~ Banjir bandang menerjang wilayah Kabupaten Sumbawa, Sabtu (21/02/26). 

Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Plampang dan sekitarnya sejak siang hari, penyebab banjir bandang.. 

BACA JUGA : Banjir di Obel-obel, Gubernur Perintahkan Mitigasi Komprehensif

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, luapan air mulai menggenangi pemukiman warga pada pukul 14.00 hingga 19.00 WITA. Mengakibatkan aktivitas masyarakat setempat lumpuh total selama beberapa jam.

Dampak banjir bandang ini terkonsentrasi di dua wilayah utama di Kecamatan Plampang, yaitu Desa Muer dan Desa Brang Kolong. 

Di Desa Muer, tercatat sebanyak 12 KK atau sekitar 40 jiwa terdampak. Sedangkan kondisi lebih parah terlihat di Desa Brang Kolong dengan jumlah terdampak mencapai 94 KK atau 253 jiwa. 

BACA JUGA : Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-oleh Haji

Meskipun air merendam pemukiman dengan cepat, dilaporkan bahwa pada saat ini kondisi banjir perlahan mulai surut.

BPBD NTB segera berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sumbawa beserta seluruh pemangku kepentingan terkait. Tim TRC-PB BPBD Kabupaten Sumbawa telah diterjunkan langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan asesmen serta mendistribusikan bantuan logistik awal. 

Upaya penanganan banjir bandang ini melibatkan personel dari TNI/Polri, Damkar Plampang, Puskesmas Plampang, aparatur kecamatan/desa, relawan, serta masyarakat setempat yang bahu-membahu melakukan evakuasi dan pendataan.

Kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh para korban meliputi bahan pangan seperti mie instan, telur, dan air mineral, serta perlengkapan tidur berupa matras. 

Mengingat wilayah NTB sedang berada di puncak musim hujan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Di beberapa wilayah di Sumbawa menjadi langganan banjir bandang saat puncak musim hujan. 

BACA JUGA : Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumput Dunia

Berdasarkan prakiraan cuaca Dasarian III Februari 2026, terdapat peluang curah hujan tinggi (>100 mm/dasarian) di sebagian wilayah Sumbawa. Sehingga potensi bencana hidrometeorologi susulan masih perlu diantisipasi secara serius.(*)

 




Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-Oleh Haji

Jemaah haji sebelum tiba di Tanah Air atau jelang berangkat sudah dapat memesan via online apakah kurma, kacang-kacangan atau tasbih

MATARAM, LombokJournal.com Iklim kering dan lahan tadah hujan di Kabupaten Lombok Utara sangat cocok bagi pertumbuhan dan pengembangan varietas Kurma.

BACA JUGA :  Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

Bahkan, Kurma dari Lombok Utara mendapat pengakuan dari Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan).

Dia datang ke Lombok Utara untuk memetakan potensi perkebunan kurma lokal sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi haji nasional.

Gus Irfan mengapresiasi keberhasilan budidaya kurma di Lombok Utara dan berharap wilayah ini dapat menjadi pelopor swasembada kurma di Indonesia.

Kabar baik untuk varietas kurma dari Lombok Utara. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah menyiapkan platform digital khusus untuk oleh-oleh haji. 

Tujuannya agar jemaah haji tidak lagi terbebani oleh barang bawaan saat kembali dari Tanah Suci.

BACA JUGA : Cara Ajarkan Anak Agar Bisa Jaga Diri

“Saya meminta Ditjen PPEH membuat platform oleh-oleh. Jadi jemaah haji sebelum tiba di Tanah Air atau menjelang berangkat sudah dapat memesan melalui gawai. Apakah itu kurma, kacang-kacangan, atau tasbih. Begitu jemaah sampai rumah, oleh-oleh sudah tiba,” ujar Gus Irfan, yang dikutip dari laman resmi Kementerian Haji dan Umrah.

Langkah ini diharapkan dapat memutar roda ekonomi di masyarakat. 

“Harapan kami jemaah tidak perlu lagi membeli kurma di Arab Saudi. Kita optimalkan produksi dari NTB atau provinsi lain, sehingga uangnya berputar di rakyat kita sendiri dan harganya pun lebih kompetitif,” tambahnya.

Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini sebagai peluang besar bagi petani lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok kebutuhan haji yang masif. 

Dengan adanya platform digital dan dukungan distribusi, kurma Lombok Utara diproyeksikan menjadi komoditas unggulan dalam ekosistem ekonomi haji di Indonesia.

BACA JUGA : Pencegahan Pencegahan Perkawinan Anak di NTB

“Semoga kurma Lombok Utara bisa mengambil peran besar. Inilah wujud nyata swasembada yang dimulai dari daerah untuk kepentingan nasional,” tutup Gus Irfan.(*)




Banjir di Obel-Obel, Gubernur Perintahkan Mitigasi Komprehensif

Guernur Iqbal menegaskan, banjir di Obel-obel merupakan kejadian dengan pola berulang hampir setiap tahun. 

LOTIM.LombokJournal.com ~ Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal meninjau lokasi banjir di Obel-obel, Lombok Timur, Jum’at (20/02/26)

Di sela peninjauan banjir di Obel-obel, Miq Iqbal menerima laporan darurat dari perwakilan warga Desa Madayin yang datang langsung ke lokasi.
Adanya sumbatan aliran sungai akibat tumbangnya beberapa pohon besar yang tersangkut di jembatan

Kunjungan itu memastikan keselamatan warga sekaligus memantau langsung proses pemulihan penghidupan masyarakat yang terdampak banjir Obel-obel pascabencana. 

BACA JUGA : Kurma Lombok Utara Disiapkan Jadi Oleh-oleh Haji

Dalam peninjauan di lokasi banjir di Obel-obel diidentifikasi, banjir tersebut dipicu sedimentasi lumpur dan batuan di alur sungai. 

Pendangkalan sungai membuat elevasi dasar sungai hampir sejajar dengan lahan sekitar. Saat debit air meningkat, luapan cepat masuk ke pemukiman warga.

Mitigasi mendesak, perlu dilakukan normalisasi sungai melalui pengerukan sedimen. Kemudian pengerukan dimanfaatkan untuk meninggikan tanggul kanan dan kiri sepanjang aliran sungai. 

Upaya ini diharapkan dapat mencegah luapan air kembali terjadi saat hujan deras.

Pemprov NTB melalui BPBD, Baznas, dan Dinas Sosial juga menyalurkan bantuan logistik tanggap darurat berupa paket sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar warga serta makanan ringan bagi anak-anak. 

Gubernur Miq Iqbal memberikan bantuan khusus berupa perbaikan tempat pengolahan tempe di Dusun Watumpak yang rusak akibat banjir.

BACA JUGA : Anak=anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosal

Selain itu Gubernur Iqbal memberi dukungan modal pembelian bahan baku kedelai guna membantu memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Di sela peninjauan banjir di Obel-obel, Miq Iqbal menerima laporan darurat dari perwakilan warga Desa Madayin yang datang langsung ke lokasi.

Warga melaporkan adanya sumbatan aliran sungai akibat tumbangnya beberapa pohon besar yang tersangkut di jembatan dan berpotensi memperparah banjir bila hujan kembali turun. Menindaklanjuti itu, BPBD Provinsi NTB segera menerjunkan tim ke Desa Madayin untuk melakukan pembersihan material kayu dan sampah, menggunakan gergaji mesin (genset chainsaw) agar aliran air kembali lancar.

Gubernur Iqbal menegaskan, banjir di Obel-obel merupakan kejadian dengan pola berulang hampir setiap tahun. 

BACA JUGA :  Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumpu Laut Dunia

Karena itu, ia memerintahkan BPBD dan perangkat daerah terkait untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur guna merumuskan solusi jangka menengah dan jangka panjang.

“Kita tidak bisa hanya menangani saat bencana terjadi. Harus ada langkah mitigasi yang lebih komprehensif, mulai dari normalisasi sungai, penguatan tanggul.

Dan harus ada penataan kawasan hulu

“Saya minta BPBD dan OPD terkait berkoordinasi erat dengan Pemkab Lombok Timur agar pencegahan ke depan lebih optimal,” tegas Gubernur Iqbal.

Diharapkan, melalui penanganan terpadu lintas sektor dan dukungan pemerintah kabupaten, risiko serupa banjir di Obel-obel dapat ditekan.

Sekaligus memastikan masyarakat memperoleh perlindungan dan pemulihan yang berkelanjutan.

Dalam meninjau banjir Obel-obel itu, Gubernur Iqbal didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Baznas NTB, serta Dinas Sosial turun ke lokasi terdampak banjir di Desa Obel-Obel, Kabupaten Lombok Timur.Komonfotik