Disdag NTB Kembali Gelar Pasar Murah di Mataram

Tanaman cabai anjlok dan banyak petani beralih menanam tanaman lainnya. Namun, Selly optimis akhir Agustus nanti harga cabai akan kembali normal karena telah masuk masa panen

lombokjournal.com  —

MATARAM  ;   Ratusan masyarakat antusias mengunjungi pasar murah yang digelar Dnas Perdagangan (Disdag) Nusa Tenggara Barat, agar masyarakat terbantu memenuhi bahan pokok.

Kali ini pasar murah digelar di Karang Seraya, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Selasa, 30 Juli 2019, masyarakat setepat   menikmati kebutuhan pokok yang harganya jauh lebih murah dari harga umumnya.

Hadir di kegiatan tersebut, Kepala Disdag NTB, Hj. Putu Selly Andayani dan Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Perdagangan Jasa, Lasminingsih.

Selly menjelaskan, kegiatan pasar murah tersebut digelar dalam rangka perayaan keagamaan bagi umat Hindu, yaitu Kuningan. Ke depan, perayaan keagamaan umat Muslim akan digelar serupa, untuk membantu masyarakat.

“Kita juga menyediakan daging ayam, di pasar murah ini, tapi memang permintaan masyarakat kebanyakan daging kerbau. Kebetulan distributor menyiapkan ayam,” ujarnya.

Meskipun demikian, masyarakat antusias berbondong-bondong membeli sembako dan peralatan dapur lainnya.

Selly juga mengungkapkan belakangan ini di NTB, harga cabai mengalami kenaikan. Di tingkat petani harga berkisar Rp55 ribu hingga Rp60 ribu, sehingga sampai pasar harga Rp80 per kilo.

Penyebabnya,  tanaman cabai anjlok dan banyak petani beralih menanam tanaman lainnya. Namun, Selly optimis akhir Agustus nanti harga cabai akan kembali normal karena telah masuk masa panen.

“NTB adalah sentra cabai terutama Lombok Timur, karena cabai dikirim ke Jakarta. Akhir Agustus insyaallah akan panen,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi adanya kenaikan harga, Selly menjelaskan Disdag NTB tetap melakukan sidak pasar dan pasar murah, khususnya saat hari besar keagamaan nasional atau HBKN.

Pasar murah tidak hanya digelar di Lombok, namun hingga Sumbawa. Harga sembako dan lainnya dijual murah, seperti minyak Rp10,9 ribu atau beras Rp8,3 ribu per kilogram.

Selain itu, di pasar murah tadi, sebanyak 50 warga kurang mampu diberikan sembako dengan hanya bermodal KTP.

Mereka juga dapat merasakan indahnya hari keagamaan dengan sembako yang cukup.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Perdagangan Jasa, Lasminingsih, mengatakan kenaikan harga cabai di NTB memang karena belum masa panen saat ini.

“(Soal) Cabe ini kita lari ke petaninya memang belum masanya jadi itulah dinamikanya untuk harga kesediaan produk-produk hortikultura ya seperti yang kita lihat,  nanti kalau pada masanya untuk bulan-bulan berikutnya musim panen, nah diharapkan nanti bulan Agustus  akhir ini kita sudah mulai sudah mulai punya persediaan yang banyak,” ungkapnya pada koranntbcom.

Yati seorang pembeli mengaku terbantu dengan adanya pasar murah tersebut. Dia membeli banyak kebutuhan pokok untuk kebutuhan dapur.

“Ya syukur ada pasar murah, karena masyarakat dapat terbantu. Harga di sini lebih murah dari harga di pasar pada umumnya,” ucapnya.

Me




Sempat Menghilang, PT ESL Siap Lanjutkan Investasi di Lombok

Sebagai bukti kesungguhannya berinvestasi, PT ESL juga menunjukkan konsep eco resort yang ingin dibangun dengan mengundang pihak terkait ke Swedia

lombokjournal.com —

MATARAM ;   PT Eco Solution Lombok (ESL) akan melanjutkan investasi di Tanjung Ringgit, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, dengan mengembangkan lahan seluas 339 hektar.

Konsep investasi PT ESL di Tanjung Ringgit dengan pembangunan eco resort berupa medical tourism.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Lalu Gita Ariyadi, mengatakan itu, Kamis (25/07/19).

“Konsepnya nanti eco resort berupa medical tourism, yang melestarikan lingkungan alam dan mengembangkan potensi ekonomi lokal,” ujar  Lalu Gita.

Sehari sebelumnys, Rabu  (24/07/19), Direktur Eco Regions Group, John Higson didampingi direktur hukum, Sri Bima Putra dan beberapa local staff, mengunjungi DPMPTSP NTB.

“Mereka hadir untuk menyampaikan komitmennya berinvestasi serta mengkonfirmasi berbagai hal untuk kelancaran proses investasi selanjutnya,” jelasnya.

Lalu Gita menyambut baik rencana investasi tersebut. Dia menjelaskan PT ESL sejak 2010 lalu mulai merintis investasinya di NTB.

Perusahaan tersebut telah mendapatkan dukungan Bupati Lombok Timur Sukiman Azmi, Gubernur NTB kala itu, M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) maupun dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang kala itu dijabat Mari Elka Pangestu.

Untuk menunjukkan komitmen berinvestasi, PT ESL telah berupaya mengatasi berbagai kendala di lapangan meski belum seluruhnya tuntas.

Kendala yang dihadapi berupa status lahan yang belum clear and clean karena ada sertifikat hak milik, permasalahan dengan penduduk lokal yang menggembala ternak dan lainnya.

Sebagai bukti kesungguhannya berinvestasi, PT ESL juga menunjukkan konsep eco resort yang ingin dibangun dengan mengundang pihak terkait ke Swedia.

Lalu Gita berharap agar perusahaan tersebut lebih serius melanjutkan investasi dan harus memenuhi kewajiban membayar iuran Ijin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) maupun Ijin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA)

“Ya, jika serius berinvestasi tunjukkan komitmen dengan memenuhi kewajiban membayar IUPJWA dan IUPSWA,” ungkap Kadis DPMPTSP NTB.

Pada Kamis (25/07/19), jajaran PT ESL yang diwakili Komisaris Eco Region Group, I Gusti Putu Ekadana, Direktur Hukum, Local Staff dan didampingi Kadis PM-PTSP NTB, melakukan audiensi dengan Bupati Lombok Timur, Sukiman Azmi.

Setali tiga uang dengan Lalu Gia, Sukiman dengan tegas meminta lebih serius terhadap investasinya dan harus melakukan aksi di lapangan untuk membuktikan komitmennya.

Kini bola ada di tangan PT ESL untuk serius merealisasikan rencana investasinya. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berjanji memberikan dukungan terhadap investasi tersebut

Pemerintah Provinsi NTB yang akan membentuk Tim Percepatan Pembangunan Eco Resort di Kawasan Tanjung Ringgit.

Me(*)




NTB  Raiih Penghargaan TPID Terbaik

Inflasi dapat menyebabkan daya beli masyarakat naik atau turun. Dan daya beli yang menurun dapat memicu bertambahnya angka pengangguran dan kemiskinan

MATARAM.lombokjournal.com — Provinsi NTB yang dipimpin Gubernur, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah ini dianugerahi penghargaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terbaik dan berprestasi.

Selain TPID NTB, Kota Mataram juga dinobatkan sebagai TPID kota terbaik dan TPID Lombok Barat sebagai TPID kabupaten berprestasi.

Penghargaan itu diterima Kepala Biro Perekonomian Setda NTB, Drs. H. Wirajaya Kusuma, MH., yang mewakili Gubernur.

Sedangkan Kota Mataram diterima secara langsung oleh Walikota Mataram, TGH Ahyar Abduh dan untuk Kabupaten Lombok Barat diterima oleh Bupatinya, H. Fauzan Khalid, S.Ag, M.Si.

Penyerahan penghargaan digelsr pada Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi yang ke-10 (Rakornas X) tahun 2019, di Jakarta, Kamis (25/07) 2019. Temanya, Sinergi dan Inovasi Pengendalian Inflasi untuk Penguatan Ekonomi yang Inklusif.

NTB, Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat dinilai mampu mengendalikan inflasi daerah. Sebab, inflasi merupakan salah satu indikator ekonomi kesuksesan suatu daerah dalam pembangunan.

Dampaknya-pun akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat karena harga komoditas yang stabil akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, ketersediaan pasokan bahan pangan akan menjamin ketahanan pangan suatu daerah.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla saat menyampaikan sambutan mengungkapkan,  dalam mengukur kemajuan bangsa terdapat beberapa indikator penting, seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Inflasi dapat menyebabkan daya beli masyarakat naik atau turun. Dan daya beli yang menurun dapat memicu bertambahnya angka pengangguran dan kemiskinan.

Sedangkan Perry Warjiyo mengungkapkan, beberapa daerah telah menggunakan teknologi sebagai salah satu cara mengendalikan inflasi.

Kepala Perwakilan BI NTB, Achris Sarwani, Wakil Ketua TPID NTB, mengungkapkan penghargaan ini tentunya  merupakan hasil kerja keras, soliditas, dan sinergi yang baik antara pemerintah daerah, OPD terkait yang merupakan anggota TPID, dan pihak terkait lainnya seperti Bulog Divre NTB dan Satgas Pangan Polda NTB dalam stabilisasi harga pangan.

Berbagai faktor dilihat dalam penilaian TPID kali ini, seperti pencapaian inflasi IHK, inflasi pangan, kerjasama perdagangan antar daerah, penguatan kelembagaan, dukungan kepala daerah dan inovasi daerah dalam pengendalian harga.

Semoga ikhitar TPID NTB yang berbuah penghargaan dalam Rakornas Pengendalian Inflasi X tahun 2019 yang disampaikan Wakil Presiden RI secara langsung ini menambah semangat bagi TPID NTB baik provinsi maupun kota/kabupaten untuk terus bekerja mengendalikan inflasi di daerah.

Hadir juga saat itu,  Perry Warjiyo, Gubernur BI; Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK; Darmin Nasution, Menko Perekonomian; Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan; Bambang Brodjonegoro, Menteri PPN/Bappenas; dan Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika.

AYA/Hms NTB

 




Produk Mesin PT GNE Mulai Ramai Orderan, Gubernur Zul Ingatkan OPD Jalin Kerjasama

Semua OPD mestinya juga bisa melakukan servis rutin kendaraan dinas di Bengkel PT. GNE

MATARAM.lombokjournal.com —  Industrialisasi memang  harus dimulai dari hadirnya industri permesinan. Karena dengan mesin, memungkinkan produktivitas kita meningkat di berbagai sektor.

Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah mengutarakan itu saat mengunjungi kantor pemasaran PT. GNE, di Cakranegara, Selasa (23/7-2019).

Ia mengaku sangat senang menyaksikan Badan Usaha Daerah ( BUMD) milik Pemerintah Provinsi NTB sudah mulai mendapat pesanan produk-produk permesinan dari masyarakat dan para pelanggan.

“Semua bisa kita buat asal ada kemauan dan tekad yang kuat,” katanya.

Menurut Gubernur Zul, tugas Pemerintah Daerah,  adalah membuka akses pasar bahkan menciptakan pasar buat produk-produk mesin karya masyarakat dan anak-anak muda NTB.

Diingatkan  jajarannya, terutama organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi NTB untuk mulai membangun kerjasama dengan PT.GNE.

Misalnya menjadi pasar bagi BUMD itu untuk pemenuhan barang-barang kebutuhan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan perangkat daerah yang bersangkutan.

Di antaranya, pengadaan marka Jalan dan petunjuk arah di Dinas Perhubungan. Alsintan, perlengkapan alat-alat pertanian lainnya, mesin pengolahan, pengeringan, alat pasca panen di Dinas Pertanian dan Perkebunan.

Demikian juga di Dinas Perdagangan, Doktor Zul menyebut pengadaan terop, gerobak UKM, dan peralatan lain untuk bantuan kepada para pedagang mestinya bisa diadakan lewat BUMD, atau mengutamakan produk-produk lokal dari anak-anak NTB.

Juga Dinas LHK untuk mesin pengolahan sampah, Bak sampah, karoseri dump truk dan lain-lain.

Di Dinas Perindustrian seperti pengadaan mesin-mesin pengolahan untuk IKM serta paving blok, kanstin, alat berat, Mesin Bor dan peralatan lainnya yang dibutuhkan oleh Dinas PU dan Dinas Perumahan Pemukiman.

Sementara di Dinas Sosial, pengadaan mesin pengolahan untuk bantuan ke masyarakat.

Bahkan semua OPD mestinya juga bisa melakukan servis rutin kendaraan dinas di Bengkel PT. GNE, kata Gubernur Zul.

AYA/HmsNTB




Wagub Minta Peran Pemuda Dalam Wirausaha Dimaksimalkan

Dipertanyakan,  Bagaimana eksekusi dari program kewirausahaan dinas terkait ke depan

 MATARAM.lombokjournal.com — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd menggelar Rapat Koordinasi Terkait Kewirausahaan Pemuda bertempat di Ruang Rapat Wakil Gubernur, Jumat (19/7/2019).

Ia meminta agar potensi-potensi pemuda NTB  dimaksimalkan dalam bidang kewirausahaan. Ia  menekankan pentingnya peran perusahaan daerah dalam menyukseskan program wirausaha tersebut.

“Banyak hal-hal yang kita perlu lakukan dari segi inovasi, sinergikan semua potensi, sehingga semua terlibat sesuai porsi masing-masing,” jelas Hj. Rohmi.

Koordinasi antar dinas, terutama Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Koperasi UKM, Dinas Perindustrian dan Dinas Perdagangan diharapkan berjalan optimal, sehingga program-program Kewirausahaan pemuda di NTB dapat berhasil.

“Bagaimana eksekusi dari program kewirausahaan kita ke depan, tugas kita untuk membuka pasar-pasar dan jalan bagi para pemuda,” jelasnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTB,  Hj. Husnanidiaty Nurdin menyampaikan beberapa poin-poin yang menjadi tujuan utama kewirausahaan pemuda.

Pertama, mengembangkan minat dan motivasi pemuda untuk terjun ke dunia usaha. Kedua, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan tata kelola usaha, produksi, pasar dan jejaring. Terakhir, mengembangkan kemampuan wirausaha pemuda.

“Kewirausahaan ini sudah masuk dalam RPJM dan Renstra kami, kami harap kerjasama, sinergi dan bantuan dari dinas terkait dalam menyukseskan program ini,” harap Husnanidiaty.

Rakor diikuti oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda NTB, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB, Kepala Dinas Perindustrian NTB, Kepala Dinas Perdagangan NTB dan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTB.

AYA/Hms NTB




Dinas Perdagangan Gelar  Pasar Murah Sambut Galungan

Acara pasar murah di Karang Kubu ini juga di sertai dengan pemberin sembako gratis yang dilakukan Dinas Perdagangan NTB kepada 50 orang Lansia (Lanjut usia)

MATARAM.lombokjournal.com — Dinas Perdagangan Provinsi NTB menggelar pasar murah yang berpusat di Karang Kubu, Cakranegara.

Penyelenggaraan pasar murah itu dihajatkan untuk menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) umat Hindu yang akan melaksanakan Hari raya Galungan,

“Dinas Perdagangan NTB dan Kota Mataram mengadakan pasar murah untuk menyambut Hari raya Galungan yang akan di laksanakn Umat Hindu yang ada di Mataram,” ujar Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj.Putu Selly Andayani saat melihat situasi pasar murah, hari Jumat (19/07) 2019.

Selly mengatakan, ada dua puluh distributor  yang dilibatkan dalam Acara pasar murah ini, serta ada toko jejaring (Supermarket) yang dalam acara ini memberikan  promosinya. Jadi harganyA lebih murah dari harga biasa.

“Penurunan Harga bisa mencapai  10 persen dari harga biasanya, cabai kita hadirkan dengan harga 10 ribu/250gr skilo 40 ribu, beras 44.000 /5 kilo,” kata Selly.

Kebutuhan lainnya yang juga murah, seperti harga telur 40 ribu/ terai, minyak 20.500  per dua lite, mie instan 10.000 /5 Bungkus, gula 11.000/kg , daging sapi beku 80.000/kg, daging ayam beku paha 42.000/kg.

Ditemui terpisah, salah satu pengunjung pasar murah I Ketut Gede menyatakan, sangat terbantu sekali dengan hadirnya pasar murah ini.

“Lebih murah dari di luar, Sangat terbantu dengan adanya pasar murah semoga semua bisa seterusnya akan diakan pasar murah lagi,” ujarnya .

Acara pasar murah di Karang Kubu ini juga di sertai dengan pemberin sembako gratis yang dilakukan Dinas Perdagangan NTB kepada 50 orang Lansia (Lanjut usia) umat Hindu yang berada di sekitar  wilayah Karang Kubu Cakranegara.

AYA (*)




Teknologi Tepat Guna Karya Anak-anak NTB, Tak Kalah Dengan Produk Dari Luar

Diingatkan, karya teknologi anak-anak NTB yang luar biasa itu, jangan sebatas gelar atau dipamerkan saja

LOTIM.lombokjournal.com – Produk teknologi tepat guna seperti  alat filter air hujan, alat pengolah sampah plastik dan sisa makanan anak-anak NTB, layak diproduksi massal.

Demikian juga alat pompa hidraulik yang tidak membutuhkan power karena energinya cukup menggunakan energi potensial di sungai atau danau saja, juga alat pengering padi, alat pipil jagung dan beragam karya teknologi tepat guna inovatif lainnya perlu dipromosikan lebih masif.

Wakil Gubernur NTB, Dr.Hj.Siti Rohmi Djalilah, M.Pd mengatakan itu pada pembukaan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) di lapangan Tugu Selong Lombok Timur (18/07) 2019.

Dikatakannya, saat ini telah begitu banyak peralatan-peralatan praktis dan  murah yang bisa digunakan, sebagai hasil karya anak-anak NTB.

“Kualitasnya-pun tidak kalah dari produk-produk teknologi dari luar lainnya,” ungkap Wagub.

Umi Rohmi s mengajak seluruh masyarakat untuk mulai menggunakan produk teknologi buatan NTB itu sebagai peralatan utama dalam proses industrialisasi dan pembangunan ekonomi yang sedang digiatkan bersama.

“Mari kita kembangkan terus karya inovasi teknologi ini. Dengan cara memanfaatkan dan mempromosikannya secara lebih masif,” ajak Wagub.

Wagub juga mengingatkan agar karya teknologi anak-anak NTB yang luar biasa itu, tidak sebatas gelar atau dipamerkan saja. Tetapi yang penting adalah terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendukung proses pembangunan.

Untuk itu,  Wagub Umi Rohmi meminta Dinas BPMPD mengidentifikasi dan komunikasikannya dengan dinas perindustrian dan STIP untuk pengembangan dan pemanfaatannya dalam mendukung industrialisasi di NTB

“Menjadi sebuah keniscayaan, apabila produksi massal atau Industrialisasi hasil Teknologi Tepat Guna (TTG) ini diapresiasi serta dipromosikan secara masif,” ujarnya. Namun perlu dilakukan secara bertahap.

Industri pengolahan

Sebelumnya Bupati Lombok Timur Sukiman Azmi sedikit menyinggung dan mempertanyakan tentang Program industrialisasi yang gencar digaungkan  Pemprov NTB.

Ummi Rohmi menegaskan, industralisasi yang dijalankan adalah industri pengolahan yang bertumpu pada sektor pertanian, pariwisata dan industri kerakyatan lainnya.

Seperti pengolahan produk peternakan, perikanan dan kelautan, perkebunan, hasil hutan bukan kayu, kerajinan rakyat serta usaha kecil menengah lainnya, termasuk industri pengolahan sampah.

Menurut Wagub NTB, untuk menciptakan daerah industri tidak cukup hanya menyiapkan lahan atau ruang (Geospasial) saja, tetapi harus dibarengi dengan sumber daya manusia yang mumpuni.

Disamping itu, dibutuhkan peran aktif semua pihak terkait untuk bersama sama mendukung dan bersinergi mewujudkan program industralisasi tersebut, terang Wagub Umi Rohmi.

Dalam hal ini kolaborasi dari pemerintah kabupaten/kota sangat diperlukan.

“Harus saling menyelaraskan, saling melengkapi dan bersinergi dalam menyukseskan program industrialisasi ini,” ungkapnya.

Terkait dengan dukungan sumber daya manusia, Umi Rohmi menjelaskan strategi jitu yang sedang diupayakanya.

Yakni pendirian beberapa Lembaga Pendidikan Vokasi seperti Balai Latihan  Kerja berskala Internasional serta memperbanyak Sekolah Kejuruan, dimana lulusannya diharapkan mampu berinovasi mendukung program industrialisasi dan seluruh program pembangunan lainnya.

AYA/Hms NTB




Pelatihan 300 Pemuda NTB Dipersiapkan Sebagai Race Official MotoGP, Dilatih Di Sepang Malaysia

Pengiriman dilkukan bertahap, dan Batch 1 akan dikirim ke Malaysia mulai bulan Oktober tahun ini

MATARAM.lombokjournal.com  —   ITDC akan melibatkan masyarakat lokal dalam pembangunan ITDC serta perhelatan Moto GP di kawasan Mandalika.

Kesepakatan itu terjadi setelah Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah hari ini, Selasa (16/7),  menerima Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer dan berdiskusi terkait persiapan perhelatan ajang balap motor terakbar sedunia Moto GP.

Ajang balap motor terakbar itu akan digelar pada tahun 2021 di kawasan Mandalika, Lombok Tengah.

Agar memiliki keahlian dan kualifikasi, Pemprov NTB dan ITDC menyepakati akan melatih 300 anak muda NTB untuk menjadi Race officials MotoGP dan akan dikirim berlatih di Sirkuit Sepang Malaysia, dan semua biaya selama pelatihan akan ditangung oleh ITDC.

“Semua pelatihan selama berada di Sepang akan dibiayai pihak ITDC. Kami akan prioritaskan 150 dari Loteng dan sisa 150 dari daerah NTB yg lain,” ujar gubernur.

Pelatihan ini akan dikirim bertahap dan Batch 1 akan dikirim ke Malaysia mulai bulan Oktober tahun ini. Detail teknis dan pendaftarannya nanti akan disampaikan oleh ITDC secara resmi.

“Kalau anak anak muda kita sukses mereka bisa berpartisipasi menjadi race officials di berbagai event motogp yg di selenggarakan di berbagai negara,” pungkas gubernur.

AYA




Harga Cabai Merah Tak Bisa Ditebak, Kini Melesat Rp60 Ribu Per Kilo

Diperkirakan, Agustus- September harganya sudah mulai turun,  karena petani sudah mulai panen cabai

Hj. Putu Selly Andayani

MATARAM.lombokjournal.com –  Saniat, penjual cabai di Pasar Kebon Roek, Mataram, ,Jumat (12/07) 2019 mengatakan, hargai cabai merah memang tak bisa di tebak.

Sekitar seminggu lalu harganya Rp35 ribu per kilogram, kini Harga cabai merah melesat jadi Rp60 ribu per kilo.

Harga normal sebelumnya yakni Rp 35 ribu per kilogram.

“(Cabai) merah sekarang Rp 60.00 per kilo, biasanya Rp 35.000 per kilo. Jika yang (cabai) jumbo merah sekarang juga Rp 60.000 per kilo juga,” katanya.

Penjual cabai dan sayuran itu menambahkan, kenaikan harga cabai sudah berlangsung selama satu minggu. Saniati yang berpengalaman menghadapi gejolak harga cabai itu mengungkapkan, harga cabai tidak pernah bisa ditebak karena banyak faktor yang bisa membuat harganya naik atau turun.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Putu Selly Andayani menyatakan, memang benar harga cabai di asaran mencapai 60 ribu per kilonya.

Ia menjelaskann, salah satu factor yang membuat harga cabai melonjak di pasar, karena saat ini stok cabai sedang kurang karena petani sedang menanam.

“Harga cabai saat ini sudah mencapai 60 ribu, kemarin tim perdagangan sudah turun ke sentra cabai di Lombok Timur. Dan memang saat ini sedang musim tanam cabai. Nanti bulan Agustus/September panen 20 hektare,” jelas Putu Selly.

Selly menambahkan jika cabai merupakan  tanaman musiman, jadi harus menunggu panen dulu untuk mengisi stoknya.

“Saat ini kemarau panjang, saya juga sudah minta ke Jawa Timur dan Sulawesi,  disana juga langka. Justru lebih mahal  harga cabai di sana daripada di Lombok,” jegasnya.

Saat ini  Lombok timur mampu  produksi sampai 1 Ton dan itu yang diedarkan di NTB tidak diedarkan keluar.

Selly memprediksikan kenaikan ini tidak akan berlangsung lama, karena di bulan Agustus dan September  adalah musim panen,  jadi stok akan melimpah.

Prediksi kenaikan ini hanya di bulan ini saja, Agustus- September sudah mulai turun,  karena ini murni akibat cuaca, katanya.

AYA




NTB Ramah Investasi, Mulai Kemudahan Ijin Hingga Fasilitasi Pasar Ekspor

Pengusaha nasional dan lokal hingga saat ini memang belum banyak mengetahui peluang-peluang, kebijakan dan insentif investasi di negara tujuan outward investment

Ir. Wisnu Wijaya Sudibyo, MM

MATARAM.lombokjournal.com – Para investor yang berkomitmen mengembangkan bisnis di NTB diberi kemudahan dan fasilitas investasi hingga pemasaran.

Lebih dari itu, juga penyediaan fasilitas Outward Investment Bagi para investor termasuk  pengusaha Lokal dan Pengrajin UMKM, untuk permodalan dan perluasan jaringan pemasaran memasuki pangsa pasar ekspor.

Kepala Dinas DPMPTS, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si mengungkapkan ruang investasi dan kemudahan disediakan bagi investor itu, Rabu (11/07) 2019.

Diungkapkannya, kini Pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia bekerjasama dengan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB, menyediakan fasilitas green field investment, merger, akuisisi dan/atau perluasan fasilitas asing yang sudah ada.

Sehingga memudahkan para investor dan perusahaan lokal untuk memperluas jaringan usahanya hingga ke luar negeri.

NTB Ramah Investasi  itu merupakan program unggulan dalam RPJMD-NTB tahun 2019-2023 di bidang ekonomi yang diusung pasangan Gubernur, Dr.H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah.

Lalu Gita menjelaskan, penguasaha lokal  dan UMKM di NTB, selama ini sudah seringkali menerima pesanan hasil produk usahanya dari luar daerah NTB. Bahkan dari luar negeri pun seringkali meminta produk usaha UMKM dari NTB.

Namun karena kendala permodalan dan masih lemahnya pengetahuan mekanisme atau dokumen cara pengiriman produk keluar negeri, sehingga pengusaha lokal belum begitu banyak dapat memanfaatkan pasar ekspor tersebut.

Dijelaskanya, kehadiran Forum Fasilitasi Mint Outward Investment yang menghadirkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank lembaga Pembiyaaan Ekspor Indonesia, para pengusaha dan pelaku UMKM menemukan titik terang, ujarnya

Penyediaan Pembiayaan Ekspor

Direktur kerjasama penanaman Modal Luar Negeri BKPM RI Ir. Wisnu Wijaya Sudibyo, MM meyakinkan para Pengusaha Nasional dan pengusaha lokal maupun UMKM, agar tidak cemas.

Pemerintah melalui BKPM RI terus memperhatikan kemudahan pelaku usaha yang ingin mengekspor produk usahanya ke luar negeri.

Berbagai informasi yang diperlukan mengenai negara-negara yang menjadi tujuan expor, akan difasilitasinya.

“Kami juga telah menggandeng LPI dan lembaga pembiayaan ekspor Indonesia atau eximbank, untuk bekerja sama dalam penyediaan pembiayaan ekspor maupun juga pembiayaan investasi,” terangnya.

Dikatakannya, untuk menunjang kebijakan ekspor tersebut, pemerintah dapat mengeluarkan program National Interest Account (NIA). Sehingga memihak pada pengusaha lokal maupun nasional, jelasnya.

“Bila ada pelaku usaha di NTB yang sudah mampu memenuhi standar untuk expor atau ada permintaan pasaran luar negeri seperti di Malaysia, Singapura, Thailand atau Korea akan kami fasilitasi dengan mengusulkan produk usahanya ,” tambah Nanda Asyrian, Manajer Departemen Devisi Penugasan Khusus dan Pengembangan Bisnis LPEI.

Diakuinya, pengusaha nasional dan lokal hingga saat ini memang belum banyak mengetahui peluang-peluang, kebijakan dan insentif investasi di negara tujuan outward investment.

Kata Nanda, penyebabnya karena keterbatasan akses informasi dan jejaring kerja. Juga  kurangnya kesiapan (readiness) perusahaan nasional untuk memasuki pasar global.

Ini juga karena minimnya pengetahuan tentang ekspor impor hingga kendala kepabeanan yang sering dihadapi.

AYA/Hms NTB