Walikota Mohan Fokus Penanganan Covid-19

Mataram akan menggalakkan program kampung sehat

MATARAM.lombokjournal.com

Walikota Mataram terpilih, H. Mohan Roliskana menyebut anggaran Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram tahun 2021 terfokus pada penanganan pandemi Covid-19.

“Kita sembuh dulu lah. Anggaran kita (akan) lebih banyak terserap ke sana (penanganan Covid-19),” ujarnya kepada lombokjournal.com usai berpidato dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Mataram dalam rangka ‘Penyampaian Pidato Sambutan Sebagai Walikota Mataram Hasil Pilkada Serentak’ di  Hotel Grand Legi, Jumat (26/02/21) malam.

Untuk diketahui Rapat Paripurna tersebut jadi sidang pertama yang diikuti Mohan dan ia menyampaikan pidato perdananya setelah Jum’at pagi dilantik dan diambil sumpahnya  sebagai Walikota Mataram.terpilih dalam Pilkada Serentak 2020.

Dengan difokuskannya anggaran Pemkot Mataram untuk Covid-19, hal itu tentu berdampak tersendatnya upaya pemulihan ekonomi kota yang pertumbuhan ekonominya cenderung terpuruk.

“Situasi itu memang memperihatinkan ya. Tapi itulah, yang penting kita sehat dulu. Covid (diselesaikan) dulu, baru mempersiapkan rencana-rencana pembangunan ke depan,” katanya.

BACA JUGA:

Pidato Walikota Mataram, Ungkapkan Spirit Hadapi Tantangan Kota

Disinggung mengenai langkah kongkrit penanganan Covid-19 di Kota Mataram, pihaknya menyebut akan menggalakkan kembali program kampung sehat sebagai salah satu program unggulan.

“Menggerakkan lagi kampung sehat, saya kira itu bisa efektif,” jelasnya.

Ast




Pidato Walikota Mataram, Ungkapkan Spirit Hadapi Tantangan Kota

Tantangan besar yang kini dihadapi yaitu untuk survive di tengah pandemi Covid-19

MATARAM.lombokjournal.com

Sambutan Waikota Mataram, H Mohan Roliskana dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Mataram dalam rangka ‘Penyampaian Pidato Sambutan Sebagai Walikota Mataram Hasil Pilkada Serentak’, dinilai mempunyai spirit kuat membangun Kota Mataram.

H. Didi Sumardi

Penilaian itu disampaikan Ketua DPRD Kota Mataram, H Didi Sumardi, usai Rapat Paripurna DPRD Kota Mataram, di  Hotel Grand Legi, Jumat (26/02/21) malam.

Pidato Walikota Mataram dalam Rapat Paripurna itu menyampaikan beberapa hal spesifik, sebagai catatan apa yang akan dilakukan pemimpin kota ke depan. Selain itu, merupakan penegasan komitmen walikota.

“Dalam pidato pertama sebagai Walikota Mataram, disampaikan kecintaanya pada kota Mataram. Dalam pidato sambutan itu tersirat keinginan kuat untuk bangkit. Dan walikota akan bekerja all out untuk menghadapi tantangan besar yang saat ini dhadapi kota Mataram,” ujar Didi pada lombokjournal.com usai Rapat Paripurna.

Dijelaskan, tantangan besar yang kini dihadapi yaitu untuk survive di tengah pandemi Covid-19 yang tak bisa diprediksi kapan berakhirnya.  Kota Mataram yang masuk wiayah yang kategorinya zona belum aman, tidak ada aktifitas (ekonomi) yang berlangsung normal.

“Membangun ekonomi di tengah pandemi tidak mudah. Pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi sangat besar. Sangat sulit (tidak bisa) untuk mencapai target pertumbuhan yang ideal,” ungkap Didi.

Menurutnya, sebelum berkecamuk pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Mataram sangat tinggi yang bisa mencapai rata-rata 7 hingga 8 persen di tahun 2020.

Tapi di tengah pandemi saat ini, bila pertumbuhan ekonomi bisa mencapai setengah saja dari tahun sebelumnya dinilai Didi sudah luar biasa. Pertanyaannya, mampukah Pemerintah Kota Mataram mengejar pertumbuhan ekonomi setengah saja selama tahun 2021?

Diakuinya, tantangan yang dihadapi Walikota Mohan sangat besar. Sebab ia harus memimpin kota dengan keterbatasan tiNggi, pekerjaan rumah banyak, di pihak lain ekspektasi publik sangat besar, padahal anggaran serba terbatas.

“Karena itu dituntut kecermataan dalam mengelola keterbatasan,” ujarnya.

Displin Protokol Kesehatan

Didi Sumadi menyampaikan, di tengah situasi keidakpastian diharapkan semua pihak meningkakan disiplin melaksanakan protokol Kesehatan (prokes).

“Pelaksanaan prokes tidak sebatas 3M (Mmakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) tapi membuat standar sama tentang aturan yang dilakukan dalam semua aktifitas,” katanya.

Hal itu berarti tidak terbatas pada aktifitas masyarakat umum, tapi juga di kantor-kantor, yang kini cenderung menjadi klaster baru penularan Covid-19.

BACA JUGA: Walikota Mohan Fokus Penanganan Covid-19

Menurutnya, semua itu bagian dari upaya mengatasi pandemi, menuju masyarakat Mataram sehat. Sebab hal itu merupakan syarat untuk mulai mebangun ekonomi.

“Tapi di luar tantangan besar yang dihadapi, saya optimis, kepemimpin Mohan. Saya optimis karena dengan kapasitas, pengalaman, itegritas, ditambah dengan usia yang masih muda dan bersemangat. Itu jadi modal menjadi ebih akseetarif dan progresif,” ungkap Didi.

Rr




Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) dan Terminal Tipe B Siap Dibangun di Lotim

Rencana pembangunan KIHT ini akan dibangun di lahan eks Pasar Paok

MATARAM.lombokjournal.com

Pemerintah Provinsi NTB siap membangun Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di lahan eks Pasar Paok Motong, Kecamatan Masbagik Lombok Timur.

Selain itu,  Pemprov juga segera membangun Terminal angkutan tipe B, untuk angkutan antar kabupaten dalam propinsi. Kedua rencana pembangunan infrastruktur pada tahun ini dinilai sangat strategis untuk pengembangan ekonomi.

Lalu Gta Aryadi

Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah, HL Gita Ariadi terkait kepastian pembangunan kedua fasilitas ini,  prosesnya sedang dikerjakan bersama Pemkab Lotim.

“Tinggal menyelesaikan administrasi aset karena anggarannya sudah ada untuk KIHT,” ujar Sekda di Kantor Gubernur di Mataram, Kamis (25/02/21).

Pemkab Lotim melalui Kabid Aset Pemkab Lotim mengatakan, pihaknya mendukung pembangunan ini mengingat Lotim sebagai daerah penghasil tembakau terbesar penyumbang PAD. Dan lokasi penyeberangan Kayangan yang tepat berdampingan dengan Terminal tipe B.

Rencana semula terminal akan dibangun di Pringgabaya namun usulan agar dekat dengan pelabuhan Kayangan dapat dikembangkan menjadi pusat ekonomi terpadu di masa depan. Begitupula dengan pembangunan KIHT yang dapat meningkatkan produksi 41 UKM tembakau Lotim.

Rencana pembangunan KIHT ini akan dibangun di lahan eks Pasar Paok Motong yang dinilai berdampak baik untuk pendapatan daerah dan stabilitas pasar tembakau.

Asisten II, Ridwansyah menjelaskan, anggaran 15 miliar untuk KIHT tinggal digunakan dan harus terbangun tahap pertama tahun ini jika telah sesuai dengan aturan.

Terkait lokasi terminal, Ridwansyah menyarankan lokasi harus sesuai dengan manajemen transportasi agar termanfaatkan dengan maksimal.

jm




Industri NTB Akan Digaungkan Lewat Gernas BBI

UMKM yang akan mengikuti Gernas BBI agar dikurasi lebih teliti dan baik, sehingga kedepan bisa dipetakan rencana dari UMKM tersebut

MATARAM.lombokjournal.com

Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) menjadi wadah bagi pelaku UMKM di NTB untuk memperkenalkan kepada dunia bahwa pembangunan perekonomian NTB dapat terus berkembang dengan kemajuan industrialisasinya.

Seperti yang dikatakan Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah, Provinsi NTB bisa membuktikan bahwa program industrialisassi pada suatu daerah dapat mendorong pertumbuhan perekonomian.

Guberur Zul dan istri

Masyarakat mulai bergerak untuk membuat berbagai karya yang inovatif untuk kesejahteraan bersama. Berbagai industri terus menggeliat di Provinsi NTB yakni Industri pangan, Industri Hulu Agro, Industri Permesinan Alat, Industri Hasil Pertambangan, Industri Kosmetik, Farmasi Herbal dan Kimia dan Industri ekonomi kreatif

“Kita bisa tunjukan kepada semua bahwa NTB Bisa, kita punya banyak sekali UMKM mulai dari makanan kemasan seperti sate rembige yang sudah dikemas, ayam taliwang kemasan, ada juga motor listrik, coolstorage,” tutur Bang Zul sapaan akrabnya saat menemui Kepala Bank Indonesia perwakilan NTB di Pendopo Gubernur, Selasa (16/02).

Salah satu inovasi dari UMKM NTB yang memiliki manfaat luar biasa untuk berbagai sektor yaitu Cold storage.

“Cold storage ini dapat membantu petani menyimpan hasil pertanian, membantu nelayan dalam menyimpan hasil lautnya dengan jangka waktu yang lama. Apabila cold storage ada disetiap BUMDes tentu kesejahteraan petani mapun nelayan dapat terjamin” tuturnya.

Bang Zul juga mengharapkan agar UMKM yang akan mengikuti Gernas BBI agar dikurasi lebih teliti dan baik, sehingga kedepan bisa dipetakan rencana dari UMKM tersebut.

“Semisal Teh Kelor itu juga harus diperhatikan kedepannya akan membuat produk seperti apalagi, agar ada bisa dipetakan rencana – rencana ke depan,” jelas Bang Zul.

Opening Ceremony Gernas BBI yang  diadakan pada tanggal 03 Maret 2021 mendatang akan berlangsung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah. Sementara itu, untuk pameran UMKM akan dilangsungkan secara virtual dan offline selama satu bulan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Heru Saptaji mengungkapkan, lokasi berlangsung Gernas BBI di Mandilika karena menjadi salah satu destinasi pariwisata prioritas di Indonesia.

“Gernas BBI di NTB ini merupakan jadwal yang ketiga. Pertama di Bali, kemudian di Toba, dan sekarang di NTB, kita angkat Mandalika yang merupakan destinasi prioritas,” tuturnya.

Sebagai salah satu destinasi prioritas salah satunya KEK Mandalika. Harapannya  nama KEK Mandalika  dapat terus digaungkan Nasional maupun Internasional.

“Kita harap bahwa Mandalika dapat terus digaungkan dan merefresh kembali masyarakat dengan Mandalika, kita akan kenalkan Mandalika, selain itu juga akan diperlihatkan beberapa destinasi wisata yang eksotik di NTB” tuturnya

Dalam pertemuan ini didamping oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTB dan Ketua Dekranasda NTB.

Sher@DiskominfotikNTB

 




Bazar UMKM, Dukung Semangat ‘Bela Beli Produk Lokal’

Perbankan diajak membeli produk UMKM sebanyak-banyaknya

MATARAM.lombokjournal.com

Pemerintah Provinsi NTB mengembangkan dan meningkatkan kualitas UMKM, agar produk UMKM NTB siap menyambut dan mengisi potensi pasar dari perhelatan event internasional MotoGP 2021.

Lalu Gita Aryadi

Salah satunya melalui Bazar UMKM untuk pengenalan NTB Mall yang dirangkai dengan Window Shopping kalangan perbankan NTB, Sabtu, (06/02/21) di halaman Kantor Dinas Perdagangan Provinsi NTB.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si. mengungkapkan, kegiatan bazar dapat memantik UMKM lebih siap, baik dari segi kualitas dan kuantitas produk.

“Ajang ini merupakan pemanasan untuk melihat prodak-prodak UMKM kita, apakah layak tampil, memiliki daya saing dan siap untuk menyambut perhelatan besar MotoGP2021 atau tidak, sambil terus dievaluasi,” ungkap Miq Gite panggilan akrabnya saat membuka bazar.

Diingatkan Sekda, UMKM juga harus mau terus belajar meningkatkan kualitas dan hasil produk.

Menurutnya, tantangan UMKM adalah bagaimana bisa membaca potensi serta bisa memenuhi permintaan pasar dengan kualitas terbaik.

Miq Gite mengajak pihak perbankan, BUMN dan BUMD serta lembaga lain, bersama-sama dengan pemerintah juga dapat menunjukan keberpihakan dan dukungannya terhadap UMKM dengan membeli produk lokal NTB.

“Kegiatan ini sebagai wujud dari komitmen kita mendukung UMKM di daerah. Kita harus lakukan langkah-langkah progresif membantu UMKM. Sehingga spirit “Bela Beli Produk Lokal” dapat menggeliatkan ekonomi masyarakat di tengah wabah Covid-19,” ajak orang Miq Gite.

Perbankan belI produk UMKM

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTB, Heru Saptaji, mengatakan, perbankan yang tergabung dalam Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) NTB akan mendukung  program bela beli produk UMKM lokal yang dicanangkan Pemprov NTB.

“Inilah bentuk keberpihakan perbankan terhadap UMKM,” kata Heru.

Di tengah pandemi, dengan keberpihakan inilah dapat memberikan harapan UMKM untuk terus berkarya. Ia mengajak perbankan untuk membeli produk UMKM sebanyak-banyaknya.

“Karena di tengah pandemi, inilah bentuk empati, kepedulian dan perhatian kita semua untuk menjaga kondisi perekonomian agar bisa tumbuh dan segera pulih dari keterpurukan,” harap Heru.

Apalagi, Provinsi NTB telah ditunjuk sebagai salah satu daerah yang dipilih untuk penyelenggaraan gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia pada bulan Maret di Mandalika, Lombok Tengah

“Ini kesempatan bagi kita untuk menujukan produk buatan lokal, baik secara offline dan online kepada dunia,” kata Heru.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Drs. H. Fathurrahman, M,Si. Menjelaskan, kegiatan ini untuk pemulihan ekonomi masa pandemi Covid-19, dan sosialisasi keberadaan serta peran NTBMall.

Pemerintah Provinsi NTB, melalui Dinas Perdagangan bekerjasama dengan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) NTB pertama kali menyelenggarakan acara ini. Pengunjung yang dari gabungan perbankan langsung melakukan aksi beli produk di tempat.

“Ini merupakan salah satu cara kita mempromosikan UMKM NTB, karena tanpa aksi kita tidak maksimal,” kata Kadis Perdagangan.

Diakuinya, NTBMall sejak awal memang dihajatkan untuk mewadahi UMKM dengan berbagai varian produknya. Sehingga interaksi pelaku UMKM dan pembeli serta masyarakat pada umumnya lebih cepat dan mengetahui keberadaan Marketplace milik NTB.

“Dipastikan produk yang ada di NTBMall adalah asli hasil karya UMKM lokal di NTB,” tegasnya.

Begitu pun kualitas dan kuatitas produk sangat diperhatikan. Selama ini Dinas Perdagangan terus bersinergi dengan OPD dan lembaga lain untuk membina UMKM agar memiliki produk yang berdaya saing.

Bazar UMKM ini juga akan menghadirkan 161 UKM yang produknya telah ditampilkan di NTB Mall offline store, dan tambahan 23 UMKM yang menempati stand untuk display produk.

edy-fitrah@diskominfotik_ntb




NTB Tuan Rumah Gernas BBI 2021, 300 UMKM Ikut Memeriahkan

Produk – produk lokal NTB masih dalam proses pengemasan dan siap menyambut Gernas BBI

MATARAM.lombokjournal.com

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terpilih menjadi tuan rumah Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah pada tanggal 03 Maret 2021, bertepatan dengan Festival Bau Nyale mendatang.

Kepala Deputi Perwakilan Bank Indonesia, Iwan Kurniawan H. menjelaskan, selain Gernas BBI terdapat beberapa kegiatan yang tergabung seperti Bangga Berwisata Indonesia dan Gerakan Ekonomi Keuangan Digital Indonesia 2021.

“Provinsi NTB dapat menjadi tuan rumah dan sekaligus menjadi penyelenggara kegiatan yang sangat bergengsi ini. Di dalamnya digabungkan dengan Gerakan berwisata Indonesia dan Gerakan Digitalisasi Indonesia. Jadi dalam satu event besar akan ada tiga pertemuan yang tergabung di dalamnya,” tutur Iwan saat memimpin Rapat Koordinasi Pelaksanaan Gernas BBI di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. NTB, Jum’at (05/02/21).

Kegiatan Gernas BBI 2021 nanti tetap menerapkan protokol kesehatan Covid – 19 dan menerapkan 5M dengan ketat.

Rencananya rangkaian kegiatan tersebut dimulai dari opening ceremony, showcase, talkshow, on boarding UMKM, Business Matching, Perluasan Qris dan Kampanye BBI dan BWI.

“Kegiatan ini akan dilakukan secara hybrid ada yang secara offline dan secara virtual. Sehingga protokol kesehatan Covid-19 sangat diperhatikan,” tuturnya.

Sebanyak kurang lebih 300 UMKM yang berasal dari seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi NTB siap ikut serta memeriahkan Gernas 2021.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinisi NTB, Drs. H Wirajaya Kusuma, M.H., mengungkapkan,  beberapa karya putra daerah seperti motor listrik sudah saatnya untuk digaungkan di event ini.

“Seperti yang pernah disampaikan oleh Bapak Gubernur NTB, kalau bisa motor listrik dapat kita tampilkan sehingga pada saat kita melaunching Gernas BBI ini motor listrik dapat digaungkan dan menjadi prioritas. Di samping itu juga, beberapa kerajinan yang lain seperti tenun dan lain sebagainya, ” ungkap Wirajaya.

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE., ME., mengungkapkan, beberapa produk – produk lokal NTB masih dalam proses pengemasan dan siap menyambut Gernas BBI.

“Sudah ada beberapa produk yang siap untuk dikurasi, seperti kemasan pangan lokal seperti ayam rarang, sate dan ayam taliwang masih dipersiapkan, dan juga masih mempersiapkan proses izin edar dari BPOM sehingga layak untuk diekspose tingkat nasional,” jelasnya.

Dalam rapat tersebut dihadiri secara langsung dan virtual oleh beberapa instansi terkait yakni Dinas Koperasi dan UKM Prov. NTB, Dinas Perdagangan Prov. NTB, Dinas Perindustrian Prov. NTB, Dinas Pariwisata Prov.NTB, Dinas Pariwisata Kab. Lombok Tengah dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).

Sher@Diskominfotik




Nuryanti; Target Tahun 2021 Ekosistem  Industri Mulai Terbangun

Program industrialisasi yang dicanangkan oleh duet duo Doktor ini sudah mulai  menunjukan bukti dan terlihat wujud jati dirinya

MATARAM.lombokjournal.com

Kepala Dinas Perindustrian Pemerintah Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, SE, ME menjelaskan, tahun 2021 taget program industrialisasi yaitu membangun ekosisem industrialisasi.

Dicontohkan, di sektor Moslem Fashion Industry. sudah dilakukan pelatihan pelatihan pewarna alam untuk kain tenun,  bimbingan teknis (bimtek) tenun dengan menggunakan  alat tenun bukan mesin (ATBM).

“Juga sudah diselengarakan festival desainer tenun Lombok Sumbawa, fashion show tenun di tingkat nasional,” kata Nuryanti kepada sejumlah awak media di kantornya di Mataram, Rabu siang (27/01/2021).

Ekosistem yang terbangun, yang dimaksud adalah berkembangnya IKM-IKM yang menyediakan bahan-bahan untuk pewarna alam, berkembangnya IKM-IKM pembuat motif tenun.

Berkembangnya IKM tenun, kemudian berkembangnya pemasar-pemasar tenun. Belum lagi berkembangnya konveksi, desainer untuk pakaian-pakaian yang akan ditampilkan pada fashion show. Hingga jasa-jasa lain yang saling bertalian dalam ekosistemnya.

Nuryanti menambahkan bahwa untuk kerajinan, dikemvangkan pula industri penyamakan kulit sapi, pengolahan sampah plastik dan pengolahan limbah serabut kelapa,  IG mutiara dan IG ketak.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah memilih program industrialisasi untuk percepatan pembangunan NTB.

Menurut Nuryanti, industrialisasi yang dimaksud Gubernur bukan dalam konteks pembangunan pabrik-pabrik besar.

“Tapi disederhanakan, sebagai upaya melakukan hilirisasi/pengolahan seluruh bahan baku yang tersedia di NTB menjadi produk jadi,” tuturnya.

Dicontohkan, tomat diolah menjadi saos. Membuat kelor menjadi teh dan obat. Memanfaatkan kelapa, serabutnya jadi keset, hasil kerajinan lain. Airnya dibuat jadi sirup coconut dan lainnya. Isinya bisa dibuat jadi minyak goreng. Membuat permesinan tanpa harus membeli dari luar NTB.

‘’Sederhananya, kita tidak lagi menjual kelapa mentah ke pabrikan, tidak lagi jual tomat mentah ke pabrikan. Tidak lagi beli mesin-mesin pertanian dari luar NTB. Dari proses pengolahan bahan baku ini, banyak jasa yang terlibat. Satu dengan yang lainnya saling terkait dan saling bergerak. Saling menghidupkan dan mendapat nilai tambah lebih besar. Itulah industrialisasi yang dimaksudkan,” jelas   Nuryanti.

Enam sektor industri prioritas

Ia menjelaskan 6 (enam) sektor industri prioritas yang diusung dalam kepemimpinan Dr. Zul dan Umi Rohmi hingga 2023 mendatang.

Pertama, Industri Pangan, yang menurutnya pada tahun 2020 lalu telah menorehkan sejumlah capaian, meski baru dalam proses peletakan pondasi. Nuryanti menyebut sejumlah capaian industri pangan tersebut dimulai dari kegiatan standardisasi dan sertifikasi olahan pangan lokal (halal, merek, BPOM PIRT, dan Uji Laboratorium produk lainnya.

Kemudian pelibatan IKM NTB dalam penyediaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) “Gemilang” mengurangi dampak Covid-19.

Juga ada Bimtek dan pendampingan bersama  BPPOM untuk pangan lokal dalam kemasan/kaleng ayam Rarang, ayam Taliwang, sate Rembiga, sate pusut serta olahan hasil pertanian/perkebunan. Perikanan/kelautan dan peternakan juga hasil hutan bukan kayu lainnya.

Kedua, Industri Hulu Agro, capaiannya misalnya Industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti minyak atsiri, minyak cengkeh, minyak kayu putih dan lain-lain. Capaian yang kalah pentingnya dalam industri Agro ini, adalah Pembangunan pabrik pakan terbesar di NTB (Feedmill) berlokasi di STIPark Banyumulek.

Ketiga, adalah Industri Permesinan Alat Transportas, mencatatkan sejumlah hadil karya putra putri NTB.  Di antaranya pengembangan kendaraan listrik Le-Bui, Matric – B, dan ngebUTS.

Berkembangnya aneka mesin – mesin teknologi sederhana dari IKM untuk IKM. Prototype dan bimtek pembuatan mesin-mesin untuk mendukung program zero waste, kampung unggas (mesin pakan, penetas telur dll), mesin-mesin untuk pakan ternak (pencacah rumout dll untuk pakan), dan mesin olahan makanan maupun penyulingan essens oil.

Keempat adalah industri hasil pertambangan. Fokus dalam sektor ini, yakni menyiapkan segala sumber daya untuk program industri turunan smelter di Kabupaten Sumbawa Barat.

Kelima, Industri kosmetik, farmasi herbal dan kimia. Hasil yang dicapai pada industri ini antara lain; pengembangan industri kosmetik dan farmasi herbal (organik Lombok dan teh kelor).

Pendampingan pembuatan APD (Alat Pelindung Diri) buatan IKM,  standarisasi produk dan bantuan peralatan bagi  IKM kosmetik, farmasi herbal dan alat kesehatan (APD).

Dan keenam atau  terakhir adalah ekonomi kreatif. Kegiatan industri inipun sudah mulai menggeliat dan melibatkan kaum melinial sebagai motor penggeraknya.

Mulai terlihat wujudnya

Nuryanti menegaskan, program industrialisasi yang dicanangkan oleh duet duo Doktor ini sudah mulai  menunjukan bukti dan terlihat wujud jati dirinya.

Tahun 2021 ini, kata dia pondasi industrialisasi ditargetkan tuntas. Tahun 2019/2020 adalah membangun kerangka pendukung, misalnya peraturan-peraturan di daerah tentang industrialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang konsep industrialisasi.

Berdasarkan target Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD), tahun 2021 ini, capaian program industri dapat naik 1 persen, dari capaian terakhir tahun 2020.

‘’Satu persen ini adalah berkembangnya industrialisasi. Dan penyerapan tenaga kerjanya, serta jasa-jasa usaha ikutan dari masing-masing sektor,’’ imbuhnya.

Diungkapkan, ekosistem yang terbangun adalah berkembangnya IKM-IKM yang menyediakan bahan-bahan untuk pewarna alam, berkembangnya IKM-IKM pembuat motif tenun.

Berkembangnya IKM tenun, kemudian berkembangnya pemasar-pemasar tenun. Belum lagi berkembangnya konveksi, desainer untuk pakaian-pakaian yang akan ditampilkan pada fashion show. Hingga jasa-jasa lain yang saling bertalian dalam ekosistem.

Kemudian di sektor Industri Permesinan Alat Transportasi, capaiannya adalah dengan dikembangkan sepeda listrik dan kendaraan listrik. Sepeda listriknya adalah Le-Bui, Matric – B, dan ngebUTS.

Ekosistem yang akan dibangun dari produsen sepeda listrik ini saat permintaannya tinggi. Dengan sendirinya, produsen membutuhkan pasokan komponen- komponen dari IKM lainnya. Misalnya, IKM pembuat baut, IKM pembuat rangka, IKM pengelasan, IKM pengecatan. Semua IKM ini juga bertalian.

“Satu sepeda listrik ini, dapat mengembangkan banyak IKM lainnya. Kita targetkan tidak lagi mendatangkan komponen sepeda listrik dari luar. Mungkin hanya ban dan baterai yang tidak bisa dibuat langsung oleh IKM kita. Banyak yang hidup, tidak hanya produsen sepeda listrik saja. Inilah ekosistem itu, demikian juga yang lainnya,’’ jelas Nuryanti.

Tahun 2021 ini IKM-IKM yang menjadi pioner ini sudah terbentuk. Misalnya, IKM sepeda listrik, IKM kosmetik, IKM fashion. Dari masing-masing IKM ini akan berkembang IKM-IKM lain yang menjadi penyedia/pemasok atau produsen bahan baku lainnya untuk menghasilkan satu jenis produk.

‘’Kita bangun beberapa IKM, kita kawal kebutuhan dan standarisasinya kita dampingi sampai dia menjadi penghasil produk industri yang memenuhi standar,” kata Nuryanti.

IKM yang jadi inilah yang kemudian harus bermitra dengan IKM-IKM lainnya dalam satu ekosistem. Itulah pondasi yang kita maksudkan, dan tahu 2021 harus tuntas  pondasinya.

Bonus Demografi

Pemprov NTB menangkap peluang bonus demografi. Potensi generasi milenial yang jumlahnya cukup besar dapat dijadikan armada untuk program industrialisasi. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat jumlah penduduk NTB pada bulan September 2020 sebanyak 5,32 juta jiwa.

Didominasi oleh generasi Z ( lahir tahun 2017 ke atas) dan milenial (lahir 1981-1996). Proporsi generasi Z sebanyak 28,62 persen dari total populasi dan generasi milenial sebanyak 27,24 persen dari total populasi NTB. Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) terus meningkat sejak tahun 1971. Pada tahun 1971 proporsi penduduk usia produktif adalah sebesar 52,56 persen dari total populasi dan meningkat menjadi 69,77 persen di tahun 2020.

‘’Generasi milenial inilah yang akan kita dampingi dan gerakkan untuk masuk sebagai pelaku industrialisasi dengan unggulan daerah di enam sektor,’’kata Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB

Hj. Nuryanti, SE, ME.

Dari data yang dimilikinya, komposisi pelaku industri di NTB tercatat sebanyak 1.131 adalah pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) kecil, 113 IKM menengah, dan 11 IKM besar. 40 persen didalamnya adalah pelaku IKM generasi milenial.

Pemprov NTB akan membangun industrialisasi berbasis potensi generasi milenial. Karena dinilai lebih cepat menerima pembelajaran, lebih cepat menyesuaikan diri, dan lebih akrab dengan teknologi.

‘’Kita ajar sekali saja, sudah cepat nangkap. Bisa membuat produk industrialisasi, dan memasarkan produknya mereka sudah memanfaatkan IT dan media social,” katanya.

Karena itu kalangan milenial ini didorong belajar di STIP. Setelah itu, mereka bisa memilih di industri yang mana.

’Kita gas pol,’’ tegas Nuryanti.

Dinas Perindustrian NTB akan menghidupkan kembali pertemuan pekanan milenial. Dan membentuk kelompok-kelompok milenial penggerak industrialisasi. ‘

Tim@diskominfo




Wajib Rapid Antigen, Dikhawatirkan Bus Antar Provinsi Operasionalnya 0 Persen

  Penerapan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berpengaruh pada angkutan antar provinsi

MATARAM.lombokjournal.com

Penumpang moda transpotasi wajib melakukan rapid test antigen untuk antar daerah antar provinsi baik dengan perjalanan darat maupun penerbangan.

Karena kebijakan tersebut, pergerakan moda transportasi akan menurun. Terlebih dibarengi dengan kebijakan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di NTB.

“Untuk angkutan antar daerah provinsi yang akan berdampak, misalnya ke Bali atau ke Jawa itu kalau dari sisi transportasi angkutan daratnya yang kita harapkan tamu domestik pasti menurun drastis,” ujar Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi NTB, Antonius Z Mustafa Kamal.

Ia Mengatakan, menurunnya drastis karena memang dari pulau Jawa dan Bali banyak wisatawan yang datang.

Bahkan dengan adanya PPKM tersebut tentunya orang akan enggan untuk masuk ke NTB sehingga akan berpengaruh moda transportasi yang ada. Lantaran banyak persyaratan yang  harus dipenuhi penumpang.

“Bisa saja operasional kita 0 persen untuk antar kota antar provinsi (AKAP) terlebih kalau bicara pariwisata, jika dibandingkan antar kota dalam provinsi (AKDP) masih ada nafas untuk angkutan ini,” tuturnya.

Diakuinya, di tengah kondisi pandemi ini cukup berpengaruh pada kondisi moda transpotasi. Apalagi sebelumnya banyak pengusaha angkutan darat terpaksa tidak beroperasional dan berdampak pada sejumlah pekerja mereka.

Namun untuk saat ini kondisi sudah kembali pulih, hanya penerapan PPKM tersebut cukup berpengaruh pada angkutan antar provinsi.

“Kalau antara Lombok dan Sumbawa ini tidak diberlakukan transportasi AKDP, misalnya mereka mau ke Bima tidak berlakukan hal itu (rapid test antigen). Kalau kita berbicara dari sisi lokal oke tidak begitu banyak pengaruh, tapi kalau di luar itu cukup berpengaruh,” jelasnya.

Selama ini angkutan darat sangat bergantung dengan pariwisata, terlebih dari pulau Jawa dan Bali.

Hanya saja adanya penerapan PPKM di NTB dan diharuskan melakukan rapid test antigen operasional angkutan bisa terhenti kembali, terutama pada AKAP.

Sementara itu, kebijakan penerapan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diatur dalam  Surat Ederan Nomer 360/112/BPPD. NTB/I/2021. Di mana berlaku mulai  25 Januari pembatasan terhadap beberapa kegiatan masyarakat.

“Mudah-mudahan saja kebijakan ini tidak berlangsung lama, memang tujuan untuk mengurangi penyeberan Covid-19, dan kita juga harus mengikuti,” pungkasnya.

Aya




Dalam Diskusi Publik, Bang Zul Perkenalkan JPS Gemilang untuk Hidupkan UKM/IKM

UKM/IKM diharapkan terus memperbaiki kualitasnya sehingga mampu bersaing

MATARAM.lombokjournal.com

Di balik pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, ternyata juga memberi berkah.

Khusus di NTB, pandemi Covid-19 justru memacu kemajuan dan pengembangan sejumlah sektor, salah satunya UKM/IKM.

Hal inilah yang disampaikan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah saat menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan Diskusi Publik melalui virtual yang diselenggarakan oleh Center for Indonesian Reform (CIR), Komunitas Sahabat Depok (KSD) dan Viral Consulting, Jum’at (22/01/21).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Daerah Percontohan Pasca Pandemi Covid-19”.

Gubernur kemudian mengungkapkan apa saja upaya-upaya yang telah dilakukan Pemprov NTB selama masa pandemi berlangsung. Dua hal yang disebut menjadi fokus Pemprov NTB, yakni aspek kesehatan dan aspek perekonomian.

Bang Zul, sapaan akrab Gubernur menjelaskan akan pentingnya berbagi peran dalam penanganan pandemi Covid-19.

Seperti halnya yang dilakukan Pemprov NTB, dalam hal ini Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang dikatakan Bang Zul sangat serius dalam aspek  kesehatan sekaligus penanggulangan Covid-19 di NTB.

Bang Zul berfokus pada aspek perekonomian yang terpuruk selama pandemi. Menurutnya, wabah Covid-19  jangan sampai mematikan perekonomian masyarakat.

Salah satu upaya pemerintah dalam meringankan beban masyarakat adalah pemberian bantuan Jaring Pengaman Sosial.

Hal ini kemudian dijadikan peluang oleh Pemprov NTB sebagai langkah untuk menghidupkan UKM/IKM yang sempat terpuruk diawal pandemi Covid-19 mendera.

“Namanya Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang, jadi kami berikan kepada masyarakat itu komoditas, yakni langsung dalam bentuk-bentuk barang. Tapi dengan catatan, barang ini harus diproduksi dari lokal sendiri,” ujar Bang Zul.

Ia mengakui, saat ini produk lokal kerap dipandang sebelah mata dan kurang kompetitif, terlebih dengan harganya yang cenderung mahal dan kualitasnya yang masih kalah dibanding produk impor.

Namun Bang Zul mengungkapkan, ada nilai pembelajaran yang bisa didapatkan oleh UKM/IKM. Dengan hal ini, UKM/IKM diharapkan terus memperbaiki kualitasnya sehingga mampu bersaing dengan produk-produk yang sudah lebih dulu eksis dipasaran.

“Awalnya hanya 400 UKM yang terlibat, ketika kita kasih kesempatan, kita berikan modal, kemudian produk-produknya diambil oleh pemerintah, kemudian kita distribusikan ke masyarakat, pada bulan ketiga dari program JPS Gemilang ini, kita sudah melibatkan 5000 UKM,” ungkapnya.

Bang Zul bersyukur JPS Gemilang telah turut kembali menumbuhkan semangat dan geliat perekonomian masyarakat NTB. Melalui upaya ini pula, semangat membeli dan mencintai produk lokal diharapkan tumbuh di kalangan masyarakat.

“Mudah-mudahan semangat membeli produk lokal itu betul-betul menyebabkan UKM-UKM kita yang tadinya tidak punya kerja sekarang sibuk 24 jam di rumah menyiapkan produk-produknya yang akan disampaikan pada pemerintah melalui program ini,” tambah Bang Zul.

Ia berpesan agar pandemi Covid-19 tidak melulu dilihat sisi negatifnya. Bagaimana pun juga, hadirnya pandemi telah turut menghadirkan hal-hal baik yang patut untuk disyukuri.

“Tidak selamanya musibah seperti Corona ini mendatangkan petaka dan bencana, tapi kadang-kadang kalau disikapi dengan cara yang pas, Insya Allah ujian dari Allah ini justru mendatangkan keberkahan buat UKM-UKM kami,” kata Bang Zul.

Rr/BiroAdpim




Kunjungi Perusahaan Tenun Ikat,  Hj Niken Minta Usaha Ini Dilanjutkan

Perusaan tenun ikat Slamet Riady berharap motif-motif  tenun dan songket dipatenkan

MATARAM.lombokjournal.com

Dekranasda Provinsi NTB mendukung eksistensi dan pengembangan aneka industri kerajinan tangan. Salah satu kerajinan yang menjadi warisan budaya yaitu kerajinan tenun ikat.

Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengatakan itu saat mengunjungi Perusahaan Tenun Ikat Slamet Riady, di Jalan Tenun No 10 Cakranegara, Kota Mataram, Kamis (21/01/21).

Sat kunjungan itu, Hj. Niken didampingi Wakil Ketua Dekranasda NTB, Hj. Lale Prayatni Lalu Gita Ariadi, bersama jajarannya

Perusahaan tenun ikat Slamet Riady ini telah berdiri sejak tahun 1967 silam.  Ini merupakan industri kerajinan tenun ikat yang terkenal pada masanya dan merupakan salah satu tujuan berkunjung para wisatawan, terutama untuk pembelian souvenir.

Perusahaan ini memproduksi dua jenis kain tenun yakni tenun ikat dan kain tenun songket.

Bunda Niken melihat secara langsung alat dan tahapan dalam pembuatan sebuah kain tenun ikat. Ia berdiskusi dengan pengelola industri tenun ikat dan songket terkait  kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha tenun ini.

Bunda Niken berpesan, usaha tenun ikat ini harus tetap dilanjutkan meskipun dengan berbagai kendala dan persaingan di masa modern ini.

“Tenun ikat dan songket kita itu menjadi sebuah kebanggan Provinsi NTB karena berbagai motif yang cantik-cantik. Jadi harus tetap dilanjutkan” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, generasi penerus perusaan tenun ikat Slamet Riady mengutarakan harapannya terkait hak paten motif-motif  tenun dan songket yang ada di Provinsi NTB, agar tidak gampang dijiplak pihak lain.

“Kalau bisa motif-motif ini dipatenkan, kalau sudah dipatenkan, kami lega untuk berkarya” ujarnya.

Rr/BiroAdpim